Tim KKN-PPM UGM Laskar Selasik berhasil menjuarai kompetisi pemberdayaan masyarakat yang bertajuk “Genera-Z Berbakti” yang diselenggarakan oleh BCA pada bulan Juli lalu. Kompetisi ini merupakan bentuk dari program pemberdayaan masyarakat yang berlokasi di desa binaan yang bekerja sama dengan BCA, yaitu Desa Wisata Kakaskasen Dua, Desa Wisata Situs Gunung Padang, Desa Wisata Patakbanteng, dan Desa Wisata Kreatif Terong yang bertempat di Kecamatan Sijuk, Belitung yang menjadi tim Laskar Selasik melakukan pengabdian. Melalui program kerja pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, tim Laskar Selasik berhasil mendapatkan dana pengabdian sebesar Rp108 juta untuk membantu menunjang program kerja di sub unit Desa Wisata Kreatif Terong.
Keikutsertaan Tim Laskar Selasik dalam kompetisi ini berawal dari kegagalan tim mereka mendapatkan pendanaan penuh dari kampus. Meskipun tim ini sudah berhasil mendapatkan sponsor dari beberapa perusahaan, tetapi dana untuk kebutuhan program kerja masih kurang. Oleh karena itu, Generasi-Z Berbakti menjadi upaya Laskar Selasik berusaha untuk mendapat dana sponsor tambahan. “Pada tanggal 1 April, kami mendapat informasi dari ketua tim Laskar Selasik tahun lalu, yaitu Mas Awan mengenai program Generasi Berbakti BCA yang membuka lowongan pengabdian di Desa Wisata Kreatif Terong. Lokasi desa tersebut tidak jauh dari Desa Batu Hitam yang menjadi target awal kami,” kata Fauzyah, salah satu perwakilan dari Tim Laskar Selasik, Senin (10/8).
Untuk meraih juara dan mendapatkan bantuan dana pemberdayaan tersebut, tim Laskar Selasik harus menjalani proses yang cukup panjang. Mereka harus menyusun proposal terkait program kerja selama kurang lebih 2 minggu untuk diseleksi oleh tim BCA. Fauziah mengaku terdapat ratusan tim lainnya dari berbagai universitas di Indonesia yang menjadi pesaing dalam kompetisi ini. “Dari UGM sendiri, kebetulan hanya tim KKN kami yang mendaftar karena lokasi desanya paling dekat dengan wilayah kerja tim kami,” ungkap Fauzyah.
Program kerja pengelolaan sampah yang dikemas dalam konsep ekonomi sirkular menjadi keunggulan dari tim ini. Terdapat tiga program kerja unggulan dari sub unit Desa Wisata Kreatif Terong, yaitu Terong Eco-Cycle dengan pembuatan rumah maggot, pembuatan rocket stove, dan lubang biopori untuk menyelesaikan masalah sampah dari hulu ke hilir di desa ini. Kemudian, Terong Xplore sebagai upaya untuk membantu meningkatkan kualitas UMKM dan Pariwisata di desa ini, serta Festival Fun Trail Run 7 km yang sebagai wadah perlombaan olahraga di masyarakat.
Fauzyah menceritakan berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh timnya. Dari masalah pendanaan di awal hingga rasa cemas atau overthinking dari masing-masing anggota tim, karena merasa program kerja tersebut terlalu sederhana. Selain itu juga, tekanan semakin kuat datang ketika tim Laskar Selasik dinyatakan lolos ke tahap final di Jakarta. Di final mereka harus menghadapi tim lawan yang memiliki persiapan yang lebih matang dengan rencana cadangan. “Ketika kami berangkat ke Jakarta untuk final, kami merasakan pressure yang luar biasa. Kami berpikir bahwa Ini adalah kesempatan terakhir kami untuk mendapatkan pendanaan. Jika gagal, kami bahkan bingung bagaimana cara pulang ke Yogyakarta karena keterbatasan dana,” terang Fauzyah.
Tantangan lain juga datang saat pelaksanaan program kerja. Tim Laskar Selasik di Subunit Desa Wisata Kreatif Terong harus melaksanakan tiga program kerja besar tersebut dalam waktu singkat. Meskipun demikian, di lapangan Fauzyah dan tim belajar banyak tentang dinamika dengan masyarakat berjalan. Ia mengaku bahwa kehidupan dengan masyarakat sangat berbeda dengan di kampus, yang mana sangat fleksibel dan dapat berubah-ubah. “Kami dituntut untuk cepat beradaptasi dengan perubahan tersebut,” ungkapnya.

Fauzyah berharap program kerja pengelolaan sampah tersebut dapat terus berjalan secara berkelanjutan. Ia juga berharap fasilitas fisik yang sudah berhasil dibangun tidak sekedar menjadi bangunan kosong, melainkan dapat menjadi wadah yang terus dikembangkan oleh pemerintah desa dan warga setempat agar menghasilkan nilai guna ekonomi. “Karena masa KKN kami sebentar dan tidak bisa mendampingi secara terus-menerus, kami sangat berharap warga desa memiliki kesadaran yang tinggi untuk merawat dan memanfaatkan fasilitas yang telah kami sediakan,” harapnya.
Penulis : Fatihah Salwa Rasyid
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. BCA dan Tim Laskar Selasik
