Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan aset strategis yang berperan dalam mendorong kesejahteraan rumah tangga sehingga perlu didukung melalui ekosistem yang inklusif dan memperkuat ketahanan ekonomi lokal. Oleh karena itu, upaya peningkatan daya saing UMKM perlu dilakukan melalui hilirisasi yang mencakup inovasi produk, pembiayaan, peningkatan kapasitas, digitalisasi, dan akses pasar. Di sisi lain, keberadaan koperasi didorong menjadi pusat hilirisasi produk unggulan dan pengembangan UMKM. Sebab, koperasi berperan menghubungkan produsen, konsumen, dan sektor swasta dalam ekosistem usaha yang terintegrasi guna meningkatkan daya saing, efisiensi rantai nilai, dan keberlanjutan ekonomi lokal.
Hal itu mengemuka dalam Workshop Nasional UMKM yang bertajuk “Potensi Produk Unggulan UMKM Mendukung Kekuatan Ekonomi Masyarakat melalui Koperasi”, Rabu (12/8), di auditorium Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM dalam rangka memperingati Hari UMKM Nasional sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis FTP UGM ke-63.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., menekankan pentingnya penguatan peran koperasi dalam mendukung perkembangan UMKM dan kesejahteraan masyarakat.“Koperasi perlu dipandang sebagai salah satu kekuatan ekonomi Indonesia dalam memperkuat UMKM dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FTP UGM, Prof. Dr. Yudi Pranoto, S.T.P., M.P., yang mewakili FTP UGM sebagai tempat pelaksanaan kegiatan, menilai sinergi antara UMKM, koperasi, dan pemerintah perlu terus diperkuat agar UMKM mampu berkembang dan meningkatkan daya saing.“UMKM memiliki potensi untuk berkembang menjadi usaha berskala besar dengan kontribusi ekonomi yang semakin signifikan. Karena itu, diperlukan upaya untuk leveling up UMKM melalui penguatan kapasitas, jejaring, dan ekosistem usaha,” jelas Yudi.
Ekonom UGM, Amirullah Setya Hardi, Ph.D. dari FEB UGM menyoroti perlunya transformasi koperasi agar tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga mampu mengintegrasikan berbagai kebutuhan pelaku UMKM. “Koperasi perlu bertransformasi dari sekadar lembaga administratif menjadi business hub yang mampu mengintegrasikan fungsi produksi, pemasaran, pembiayaan, pendampingan, serta inovasi bagi UMKM,” ungkap Amirullah.
Sementara pengembangan produk unggulan UMKM perlu didasarkan pada analisis kebutuhan pasar, pemanfaatan potensi sumber daya, dan uji pasar.
Selanjutnya, Dosen Fakultas Peternakan UGM, Dr. Muhsin Al Anas, membahas inovasi produk peternakan melalui penerapan sistem cage-free layer. Sistem tersebut tidak hanya memperhatikan kesejahteraan hewan, tetapi juga berpotensi meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk. Penguatan standar operasional, sertifikasi, keamanan pangan, serta strategi pemasaran melalui pendekatan Business to Business (B2B) dan Business to Consumer (B2C) menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha.
Tak hanya itu, Herdiana Dewi Utari dari CV. Dewi Makmur membagikan perspektif mengenai transformasi jamu sebagai produk modern berbasis budaya. Menurutnya, inovasi dapat dilakukan tanpa menghilangkan nilai kearifan lokal, contohnya pengembangan nilai jamu. Pengembangan produk tersebut, imbuh Herdiana, perlu didukung strategi pemasaran melalui media sosial, influencer, marketplace, dan penguatan branding untuk memperluas pasar hingga membuka peluang ekspor.
“Jamu memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai produk modern tanpa kehilangan nilai kearifan lokal. Inovasi formulasi, kemasan, serta pemanfaatan Design Thinking menjadi strategi penting dalam menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen,” jelas Herdiana.
Sementara itu, Juni Noor Hastuti dari Matahari Craft membagikan pengalaman mengolah limbah alam, khususnya klobot jagung, menjadi produk bernilai ekonomi. “Inovasi produk dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat melalui pelibatan ibu rumah tangga dalam proses produksi,” ungkap Juni Noor Hastuti.
Ia juga turut menambahkan jika keberhasilan UMKM juga ditentukan oleh konsistensi kualitas, legalitas usaha, pemasaran digital, pemahaman pasar, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan tren konsumen.
Pengalaman pengembangan UMKM kreatif yang disampaikan Lenny oleh Tursia Vristhina dari Evanz Store menekankan pentingnya produk inovatif dan berkualitas yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan melalui layanan custom. Diversifikasi produk, pemanfaatan marketplace dan media sosial, serta pengendalian kualitas menjadi strategi untuk mempertahankan daya saing. Baginya, selain aspek bisnis, UMKM juga memiliki potensi untuk memberikan dampak sosial melalui pelibatan berbagai kelompok masyarakat.“UMKM juga dapat memberikan dampak sosial melalui pemberdayaan ibu rumah tangga, penyandang disabilitas, pelajar, dan masyarakat sekitar sebagai bagian dari pengembangan bisnis yang inklusif,” jelasnya.
Pada sesi terakhir, Dr. Ir. Devi Yuni Susanti, S.TP., M.Sc., IPU., ASEAN Eng. dari FTP UGM membahas pentingnya standarisasi proses produksi melalui pemilihan alat dan mesin serta penerapan Good Manufacturing Practices (GMP). Peningkatan kapasitas produksi perlu disertai standar higienitas, penggunaan material food grade, dokumentasi operasional, kalibrasi, dan validasi mesin. Penerapan standar tersebut diperlukan untuk menghasilkan produk yang konsisten, aman, dan memenuhi standar mutu sekaligus meningkatkan daya saing UMKM di pasar nasional maupun internasional.
Reportase : Widodo, Ayyub Rizqullah, dan Sekar Ayu Anindiarani/DPkM UGM
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. DPkM
