Sektor peternakan jadi penyumbang sekitar 14-16% emisi gas rumah kaca. Berbagai gas rumah kaca yang dihasilkan sektor peternakan, metana (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O) merupakan dua gas yang paling berpengaruh. Besarnya kontribusi Subsektor Peternakan terhadap emisi gas rumah kaca sekaligus menunjukkan bahwa sektor ini berada pada posisi yang unik. Di satu sisi peternakan terdampak perubahan iklim akibat peningkatan suhu lingkungan menyebabkan stres panas yang berdampak pada penurunan konsumsi pakan, gangguan reproduksi, penurunan produksi susu dan daging, serta meningkatnya kerentanan ternak terhadap penyakit. Namun disisi lain juga memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam upaya mitigasi perubahan iklim melalui penerapan teknologi dan manajemen yang lebih berkelanjutan.
Dosen Fakultas Peternakan UGM, Prof. Dr. Ir. Siti Andarwati., S.Pt., MP., IPU., ASEAN Eng., dalam pidato pengukuhannya Guru Besar mengatakan implementasi mitigasi dan adaptasi yang terintegrasi tidak hanya berkontribusi terhadap pengendalian perubahan iklim, tetapi juga meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, ketahanan ekonomi rumah tangga peternak, dan keberlanjutan mata pencaharian.
Dalam sektor peternakan, strategi mitigasi diarahkan pada upaya penurunan emisi gas rumah kaca melalui peningkatan efisiensi produksi, perbaikan kualitas pakan, pemanfaatan teknologi pakan aditif, pengolahan limbah ternak menjadi biogas, serta penerapan sistem peternakan yang lebih ramah lingkungan. Di sisi lain, strategi adaptasi bertujuan meningkatkan kemampuan peternak dan ternak dalam menghadapi dampak perubahan iklim. “Kedua strategi tersebut perlu menjadi bagian penting dalam kebijakan pembangunan peternakan di tingkat nasional maupun regional,” ungkapnya.
Langkah yang dapat diambil yakni melalui penyesuaian sistem produksi dan manajemen mencakup penganekaragaman spesies hewan ternak dan tanaman, penggabungan sektor peternakan dengan pertanian dan kehutanan, serta pergeseran jadwal dan area operasional pertanian. Penganekaragaman komoditas ini diyakini mampu memperkuat ketahanan terhadap cuaca panas ekstrem dan kekeringan, sehingga produktivitas ternak tetap stabil meskipun menghadapi tekanan suhu dan curah hujan. Kemudian, Pencegahan penyakit pada hewan ternak dapat dilakukan melalui manajemen vaksinasi, dukungan kebijakan dan regulasi, inovasi adaptasi penyakit, dukungan finansial, dan peternakan yang berkelanjutan. Tidak hanya itu, pengembangan agroforestri dan integrasi tanaman ternak juga dapat membantu menjaga keseimbangan antara produksi pertanian, perlindungan lingkungan, dan penyerapan karbon untuk mengimbangi emisi dari sektor tersebut.
Selain itu, penting pula menerapkan tata laksana pemberian pakan yang lebih efisien sebagai wujud adaptasi yang secara tidak langsung membantu mengoptimalkan tingkat produktivitas dan hasil ternak.
Terakhir, Ia menambahkan bahwa diperlukannya modifikasi dalam strategi pemuliaan guna meningkatkan daya tahan ternak terhadap suhu panas dan serangan penyakit. Dengan demikian, tantangan utamanya terletak pada upaya mendongkrak produktivitas ternak tanpa mengorbankan karakteristik adaptif penting yang dihasilkan dari metode pemuliaan. “Strategi tersebut meningkatkan ketahanan ternak terhadap tekanan lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi peternak melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha. Oleh karena itu, adaptasi yang terencana menjadi kunci dalam mendukung keberlanjutan sistem peternakan dan mata pencaharian peternak,” terangnya.
Dalam implementasinya, kendala utama dalam mensukseskan perubahan ini terletak pada persepsi dan kapasitas peternak dalam mengidentifikasi masalah. “Maka dari itu, analisis mendalam terkait persepsi petani terhadap upaya mitigasi dan adaptasi menjadi sangat esensial,” ungkapnya.
Kekuatan dinamika kelompok ternak juga menjadi salah satu kekuatan untuk kapasitas adaptif peternak. Akan tetapi, keberlanjutan mata pencaharian peternak tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meningkatkan produktivitas ternak, tetapi juga oleh kemampuan mereka dalam menghadapi berbagai resiko yang berasal dari perubahan iklim, globalisasi pasar, serta tantangan sosial-ekonomi dan kelembagaan. “Pembangunan peternakan ke depan perlu diarahkan pada penguatan aset penghidupan peternak secara terpadu agar tujuan sustainable livelihood atau mata pencaharian berkelanjutan dapat tercapai,” pungkasnya.
Penulis : Jelita Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie Tristan
