Universitas Gadjah Mada memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia melalui upacara bendera yang berlangsung pada Senin (17/8). Upacara tahun ini mengusung semangat refleksi atas makna kemerdekaan dengan tema nasional ‘Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur’. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi penanda dimulainya rangkaian Dies Natalis ke-77 UGM. Dalam upacara tersebut, UGM juga memberikan sejumlah penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusi sivitas akademika serta mitra yang turut memperkuat kiprah universitas. Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D menyampaikan bahwa peringatan kemerdekaan menjadi ruang untuk kembali meneguhkan komitmen bersama dalam mengisi kemerdekaan melalui pembangunan yang berdaulat, berkeadilan, dan menyejahterakan masyarakat.
Kemerdekaan, menurut Rektor, merupakan gerbang baru bagi perjalanan bangsa yang perlu diisi dengan pembangunan yang berdaulat dan berkeadilan. Pembangunan tersebut perlu dilandasi semangat persatuan, gotong royong, dan toleransi sebagai bagian dari kehidupan kebangsaan. Kedaulatan juga menjadi fondasi bagi bangsa untuk mengoptimalkan kekuatan dan potensi yang dimiliki secara mandiri. Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk terus menghadirkan ilmu pengetahuan dan karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat. “Kemerdekaan merupakan pintu gerbang baru perjalanan bangsa yang wajib diisi dengan pembangunan berdaulat, berkeadilan dan dijiwai semangat persatuan, gotong-royong, serta toleransi kebangsaan,” ujar Rektor.

Rektor menyampaikan bahwa UGM terus mengambil peran sebagai lokomotif perubahan dan transformasi sosial di tengah kompleksitas perkembangan nasional maupun global. Peran tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan tridarma perguruan tinggi yang diarahkan untuk menghasilkan dampak nyata bagi kesejahteraan rakyat. Nilai merakyat, mandiri, dan berkelanjutan menjadi semangat yang terus ditumbuhkembangkan dalam berbagai karya dan kontribusi UGM. Menurutnya, nilai tersebut sekaligus menjadi pijakan UGM dalam menghadirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa. “Kita semua patut bersyukur sebab UGM senantiasa menjadi lokomotif untuk perubahan dan transformasi sosial di tengah kompleksitas perkembangan ekosistem nasional dan global,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, UGM memberikan penghargaan kepada Hermawan Kartajaya atas kontribusinya dalam perumusan dan peneguhan semangat nilai ‘Merakyat, Mandiri, Berkelanjutan’ yang menjadi pesan penting bagi UGM. Hermawan Kartajaya dikenal sebagai sosok yang turut merumuskan tagline tersebut bagi UGM. Rektor menyampaikan apresiasi atas kecintaan dan kontribusinya terhadap UGM meskipun Hermawan bukan merupakan alumni UGM. Kontribusi tersebut dipandang menjadi bagian dari upaya memperkuat pesan bahwa UGM hadir untuk memberikan solusi dan dampak nyata bagi masyarakat. “Terkhusus kepada Bapak Hermawan Kartajaya, kami mengucapkan terima kasih,” tutur Rektor.

Penghargaan juga diberikan kepada para dosen dan tenaga kependidikan pegawai negeri sipil UGM yang menerima Satya Lancana Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan kepada mereka yang telah menunjukkan kesetiaan, kejujuran, kecakapan, dan kedisiplinan dalam menjalankan tugas dan pengabdian di lingkungan UGM. Sebanyak 53 orang menerima penghargaan tersebut, terdiri atas 18 penerima Satya Lancana Karya Satya 30 tahun, 15 penerima 20 tahun, dan 20 penerima 10 tahun. Rektor menyampaikan bahwa penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi dan kesungguhan sivitas akademika dalam menjalankan peran bagi universitas.
Penghargaan berikutnya diberikan kepada para penggagas Wanagama Nusantara di Ibu Kota Nusantara (IKN), yakni Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM Wawan Mas’udi, Ph.D., Dekan Fakultas Kehutanan UGM Ir. Sigit Sunarta, S.Hut., M.P., M.Sc., Ph.D., IPU., serta Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Fakultas Kehutanan UGM Prof. Ir. Widiyatno, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPM. Wanagama Nusantara dikembangkan sebagai pusat riset, inovasi, dan pengembangan berkelanjutan yang dipelopori UGM. Pengembangan kawasan tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung konsep Forest City sekaligus merespons tantangan perubahan iklim global. Inisiatif tersebut juga mencerminkan kontribusi UGM dalam mendorong kemandirian, kedaulatan, dan pembangunan berkelanjutan.

Wanagama Nusantara dikembangkan dari Hutan Pendidikan Wanagama dengan luasan 621 hektare sebagai living laboratory masa depan. Kawasan tersebut diarahkan menjadi ruang riset lintas disiplin yang mencakup berbagai bidang, antara lain lingkungan dan biodiversitas, green blue economy, future government, serta digital society, health and longevity. Pengembangan ini memperluas peran UGM dalam menghadirkan ekosistem riset dan inovasi yang relevan dengan tantangan masa depan. Bagi UGM, kontribusi tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi dalam menjaga keberlanjutan dan menghadirkan ilmu pengetahuan yang berdampak. “UGM terus mengembangkan isu-isu yang relevan di bidang pangan, energi, kesehatan, maupun bidang sains dan teknologi,” tutur Rektor.
Upacara peringatan HUT ke-81 RI tersebut sekaligus membuka rangkaian Dies Natalis ke-77 UGM yang mengusung tema ‘Tumbuh Bersama Berdampak Bersama’. Tema tersebut merefleksikan semangat sinergi dan kolaborasi dalam mengembangkan UGM melalui karya dan inovasi di bidang tridarma perguruan tinggi. Pembukaan rangkaian Dies Natalis menjadi momentum untuk memperkuat semangat kebersamaan seluruh sivitas universitas dan pemangku kepentingan UGM. Rektor berharap seluruh rangkaian kegiatan Dies Natalis nantinya dapat menjadi ruang untuk memperkuat kontribusi universitas dalam menjawab tantangan bangsa. “Momentum pembukaan rangkaian kegiatan Dies Natalis hari ini sekaligus menjadi perwujudan doa dan pengharapan bersama untuk kelancaran seluruh agenda dan menjadi pemantik semangat baru bagi kita semua, untuk terus berkarya serta berinovasi dengan penuh keteguhan sebagai bagian dari perjuangan misi kemerdekaan,” pungkas Rektor.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Firsto dan Donnie
