Sebanyak enam mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengikuti Asian Undergraduate Symposium (AUS) 2026 yang diselenggarakan oleh NUS College di National University of Singapore (NUS) pada 6–18 Juli 2026. Program dua pekan ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara Asia untuk berkolaborasi menyelesaikan isu sosial dan keberlanjutan. Dari program tersebut, tiga proyek yang melibatkan mahasiswa UGM berhasil meraih Seed Grant untuk merealisasikan ide yang telah mereka kembangkan.
Delegasi UGM terdiri atas Clairina Elvina Indriani, Fazmi Rizki Al Ghifari, dan Jovita Melinda Susanti dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB); Dhio Amirul Muqsith Fajriyan dan Elizabeth Tyasayu Auradina dari Fakultas Psikologi; serta Zalfa Syahira dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB).
Selama dua pekan, keenam mahasiswa ini bersama peserta dari berbagai negara Asia mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari diskusi, pembelajaran langsung bersama komunitas, hingga pengembangan proyek yang berfokus pada isu sosial dan keberlanjutan.
Dhio menuturkan, salah satu pengalaman paling berkesan sekaligus mengubah cara pandangnya selama AUS adalah rangkaian kegiatan learning journey–sesi belajar bersama komunitas–yang dijalani bersama peserta lain. “Saya jadi lebih memahami bahwa meskipun pemerintah punya peran yang krusial bagi kemajuan bangsa, kekuatan komunitas juga sama pentingnya. Jadi, kita tidak selalu harus menunggu pemerintah bergerak, tapi bisa untuk mengambil inisiatif dan berkontribusi untuk lingkungan sekitar ” ujarnya, Kamis (27/8).
AUS 2026 mengusung tema Communities in Action dengan tiga subtema, yakni Sustainability and Innovation, Inclusivity and Resilience, serta Heritage and Culture. Para peserta mengikuti sesi diskusi akademik, lokakarya, kunjungan lapangan, hingga interaksi langsung dengan komunitas.
Peserta mengunjungi sejumlah komunitas di Singapura, seperti CREUSE, Vidacity, Skillseed, Growthbeans, dan Orang Laut SG, untuk memperoleh wawasan mengenai praktik keberlanjutan, pelestarian budaya, serta pemberdayaan masyarakat. Berbekal pengalaman tersebut, peserta kemudian membentuk kelompok berisi mahasiswa dari berbagai negara dan latar belakang studi untuk mengembangkan proyek berbasis komunitas. Setiap proyek disempurnakan melalui bimbingan mentor NUSC dan sesi Project World Cafe, sebelum tim melakukan kunjungan lapangan untuk memastikan kesediaan mitra dan relevansi proyek dengan kebutuhan komunitas.
Dari 15 proyek yang memperoleh Seed Grant sebesar SG$5.000, tiga di antaranya melibatkan mahasiswa UGM. Fazmi Rizki Al Ghifari tergabung dalam tim AlirCita yang memberdayakan komunitas di Majalaya untuk menangani permasalahan banjir dan kesiapsiagaannya. Elizabeth Tyasayu Auradina tergabung dalam tim E-MOTION, yang mengembangkan board game interaktif berbasis social-emotional learning bagi anak usia 9–12 tahun di Filipina untuk membantu mereka mengenali emosi serta mengurangi stigma terhadap kesehatan mental. Adapun Clairina Elvina Indriani tergabung dalam tim Piring Ijo yang mengolah pelepah pinang dari Riau menjadi piring biodegradable dan kerajinan budaya sebagai pengganti plastik sekali pakai di Yogyakarta, sekaligus memberdayakan warga Mendungan melalui pelatihan produksi dan pengelolaan usaha.
Clairina berharap, tim Piring Ijo dapat menciptakan peluang kerja dan sumber pendapatan tambahan bagi komunitas sasaran, khususnya ibu-ibu PKK, petani, dan pemuda lokal. “Selain memberikan manfaat ekonomi, proyek ini juga diharapkan dapat meningkatkan keterampilan masyarakat dalam proses produksi, pengelolaan usaha, dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan. Masyarakat juga bisa melihat bahwa material yang selama ini dianggap sampah, seperti pelepah pinang, sebenarnya memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.
Dalam jangka panjang, ia berharap Piring Ijo mampu menumbuhkan kesadaran lingkungan, memperkuat kemandirian komunitas, serta mendorong terbentuknya ekonomi sirkular yang manfaatnya kembali kepada masyarakat. Pendanaan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk mewujudkan ide-ide proyek yang telah dikembangkan selama program berlangsung. “Keikutsertaan keenam mahasiswa UGM dalam AUS 2026 menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa UGM dalam kolaborasi internasional dan penyelesaian isu sosial serta keberlanjutan lintas negara,” pungkasnya.
Penulis : Jelita Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok Tim
