Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 untuk hari kedua, pada Kamis (20/8) di Grha Sabha Pramana UGM. Pada periode ini, UGM mewisuda 3.865 mahasiswa yang terdiri atas 3.193 lulusan program sarjana, 672 lulusan program sarjana terapan, dan 5 lulusan warga negara asing. Sebanyak 1.486 lulusan mengikuti prosesi wisuda hari kedua yang berasal dari tujuh fakultas, yakni Fakultas Farmasi, Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Filsafat, Fakultas Hukum, dan Fakultas Teknik.
Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menyampaikan selamat kepada para wisudawan yang telah menyelesaikan pendidikan di UGM. Ia berharap, ilmu dan pengalaman yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan dapat menjadi bekal bagi para lulusan untuk terus menghasilkan inovasi dan karya yang dapat memberikan dampak bagi masyarakat luas. “Perjuangan panjang tapi yang jelas tidak sia-sia. Perjuangan itu menjadi bekal yang telah didapatkan, tentunya harapannya dapat menghasilkan karya-karya dan inovasi yang nyata untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berdampak bagi bangsa,” tuturnya.
Ova juga menekankan pentingnya kesiapan lulusan dalam menghadapi perubahan dan perkembangan teknologi. Ia menyebut, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan bangsa, terutama melalui pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI). Sejak tahun 2023, kata Ova, UGM terus mengoptimalkan pemanfaatan AI dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Upaya tersebut juga terwujud dalam pengembangan UGM AI Society, serta pembukaan UGM Indosat NVIDIA AI Technology Center. “Pengembangan ekosistem AI di UGM merupakan upaya yang terus dilakukan dalam meningkatkan pengembangan keilmuan dan inovasi, serta mengembangkan talenta berbasis AI dalam menjawab persoalan bangsa,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mendorong para lulusan untuk dapat memperluas peluang kerja, serta memiliki keberanian dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Adapun penguatan karakter kewirausahaan, memperkuat jejaring kolaborasi dengan industri, hingga pengembangan industri kreatif dinilai penting dalam mendukung kemandirian bangsa. Sehingga, ia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari diperolehnya ijazah maupun pekerjaan ketika lulus. Para lulusan juga diharapkan memiliki karakter dan mampu memberikan kontribusi nyata. “Menjadi lulusan UGM tidak hanya sekadar mengantongi ijazah dan sukses mendapat pekerjaan. Tetapi, perlu juga menjadi pribadi yang berkarakter serta berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.
Ova turut mengajak para lulusan untuk meningkatkan kompetensi dan keahlian setelah menyelesaikan pendidikan. Menurutnya, pendidikan merupakan proses yang terus membuka cakrawala pengetahuan, sehingga lulusan diharapkan mampu memetakan persoalan sekaligus menemukan solusi tepat. Setelah resmi menjadi alumni UGM, Ova berharap lulusan dapat terus membangun jejaring melalui KAGAMA serta berkolaborasi dengan almamater dalam berbagai kegiatan. “Dengan syukur dan rasa bangga, saya turut mendoakan semoga seluruh lulusan UGM yang diwisuda hari ini menjadi pribadi yang memiliki integritas, karakter, dan berdaya saing dalam menjawab tantangan masa depan,” harap Ova.
Senada dengan Rektor UGM, Ketua Departemen Kerjasama Kementerian atau Lembaga Pengurus Pusat KAGAMA, Dr. Ir. Arnanto Nurprabowo, M.P., mengajak para wisudawan untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia kerja di tengah pesatnya perkembangan AI. Menurutnya, AI kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan dapat membawa perubahan besar terhadap kebutuhan tenaga kerja. Walaupun begitu, ia menuturkan meskipun puluhan juta pekerjaan rutin dan administratif diproyeksikan rentan tergantikan otomatisasi menjelang 2030, pada saat yang sama akan muncul lapangan pekerjaan baru di bidang big data, fintech, AI, dan software development. “Sekarang kita sudah masuk pada zaman di mana AI sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, ia mendorong agar perubahan tersebut dapat direspons dengan peningkatan kompetensi dan kemampuan berkolaborasi dengan teknologi. Adapun inovasi AI Technology Center yang telah diluncurkan UGM bersama Indosat dan NVIDIA dapat menjadi fasilitas yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan talenta dalam bidang AI. Ia juga mengajak para wisudawan memanfaatkan berbagai program upskilling digital gratis yang disediakan pemerintah serta berkontribusi melalui KAGAMA setelah menyelesaikan studi.
Perwakilan wisudawan dari Fakultas Teknik, Kayla Zahra Ramadhany, menyadari bahwa perjuangan dan perjalanan dalam menempuh masa studi selama empat tahun kebelakang ini tidak semata hanya berakhir mendapatkan gelar. Banyak pembelajaran yang jauh lebih besar tidak hanya melalui teori, buku, dan ujian di kelas. Lebih dari itu, ia menuturkan bahwa pembelajaran bisa diperoleh di mana saja, seperti melalui kuliah kerja nyata, bertemu dengan orang lain dengan sudut pandang berbeda, hingga dari pengalaman akan kegagalan. “Karena pada akhirnya, ilmu yang kita dapatkan di UGM tidak seharusnya berhenti di ruang kelas, ilmu itu akan kita bawa keluar. Disanalah perjalanan belajar yang sebenarnya akan kita mulai,” pungkas Kayla.
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie Tristan
