Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada mengembangkan Smart Eco Bioproduction yang sering dikenal sebagai konsep pertanian pintar yang menggunakan sensor, kecerdasan buatan, robotika, atau teknologi digital. Konsep ini nantinya diarahkan menuju ke model pertanian regeneratif yang mampu mempertemukan beberapa elemen dasar seperti kecerdasan digital, kekuatan biologis, prinsip ekologis, dan tujuan produksi.
Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) UGM, Prof. Dr. Jaka Widada, mengatakan pengembangan Smart Eco Bioproduction sudah dilakukan lima tahun terakhir di Faperta dengan mengaplikasikannya ke dalam kurikulum, riset, pengabdian kepada masyarakat, serta pembangunan berbagai ekosistem pendukung di lingkungan Faperta UGM. “Telah dirancang sejak tahun 2017, gagasan tersebut terus berkembang melalui proses pembelajaran, penelitian, inovasi, dan implementas,” kata Jaka dalam keterangan yang dikirim ke wartawan, Rabu (12/8).
Menurutnya, pengembangan Smart Eco Bioproduction selaras dengan tantangan pertanian nasional dan global semakin kompleks, sehingga konsepnya perlu mengintegrasikan berbagai kekuatan keilmuan untuk mempercepat pertanian regeneratif berbasis holobiont. Implementasi dalam kurikulum, dilakukan dengan penguatan paradigma baru mulai diterjemahkan ke dalam pembelajaran yang semakin integratif, memperkenalkan mahasiswa pada pendekatan sistem, biologi, ekologi, teknologi digital, mikrobioma, dan pertanian regeneratif.
Sementara dalam riset dan pengembangan, semakin diarahkan pada persoalan lintas disiplin, termasuk kesehatan tanah, mikrobioma, interaksi tanaman–mikroba, digital phenotyping, multi-omics, AI, dan sistem produksi regeneratif. Sedangkan dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, diimplementasikan dengan konsep pengetahuan dan teknologi dibawa lebih dekat kepada petani dan masyarakat melalui pendampingan, penerapan teknologi tepat guna, penguatan kapasitas, dan pengembangan praktik pertanian yang lebih regeneratif.
Ia menegaskan, Fakultas Pertanian UGM ingin menjadi bagian dari gerakan yang membangun pertanian di tanah air bukan hanya sebagai sektor produksi, tetapi sebagai sistem kehidupan yang mampu meregenerasi dirinya sendiri. “Karena pada prinsipnya pertanian yang baik bukan hanya pertanian yang mampu memberi makan manusia, pertanian yang baik adalah pertanian yang juga mampu memberi kehidupan kepada bumi beserta isinya,” imbuhnya.
Sedangkan dalam konteks ekosistem pendukung, penerapan Smart Eco Bioproduction dengan pendekatan laboratorium, kebun percobaan, fasilitas penelitian, infrastruktur digital, jejaring kemitraan, serta kolaborasi dengan pemerintah, industri, dan masyarakat terus dikembangkan sebagai fondasi inovasi.
Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerja Sama di Fakultas Pertanian Prof. Dr. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D., menuturkan salah satu tantangan terbesar dunia akademik adalah kecenderungan ilmu berkembang dalam batas-batas disiplin yang kaku. Persoalan pertanian juga tidak dapat diselesaikan secara terpisah. Oleh karenanya Faperta UGM ingin bergerak from disciplines to systems. Prinsip dasarnya adalah dari ilmu yang terpisah menuju ekosistem pengetahuan, dari penelitian individual menuju inovasi kolaboratif, dari laboratorium menuju lapangan, dan dari publikasi menuju manfaat nyata.
Pada akhirnya, pertanian regeneratif bukan semata-mata agenda teknologi. Ia adalah pilihan moral dan tanggung jawab antar generasi. “Kita menerima tanah dari generasi sebelumnya. Kita menggunakan air yang bukan hanya milik kita. Kita menikmati biodiversitas yang terbentuk selama ribuan bahkan jutaan tahun. Dan karena itu, kita memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa apa yang kita tinggalkan kepada generasi berikutnya tidak lebih buruk daripada apa yang kita terima,” jelas Subejo.
Menurut Subejo, Faperta UGM mendorong kekuatan berbagai departemen untuk bergerak sebagai satu ekosistem keilmuan. Departemen Mikrobiologi Pertanian menjadi salah satu kekuatan penting dalam pengembangan microbiome dan holobiont engineering.
Ia menyebutkan, Departemen Budidaya Pertanian diarahkan mengembangkan regenerative cropping systems. Lalu, Departemen Ilmu Tanah memperkuat konsep living soil dan regenerative soil. Sedangkan Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan mengembangkan holobiont plant health.
Selanjutnya, Departemen Sosial Ekonomi Pertanian memastikan bahwa regenerasi ekologi berjalan bersama regenerasi ekonomi dan kesejahteraan petani. Departemen Perikanan memperluas paradigma regeneratif ke dalam sistem perairan melalui regenerative aquatic production.
Semua kekuatan tersebut diperkuat oleh Artificial Intelligence, sensor dan IoT, multi-omics, biotechnology, digital phenotyping, modelling, dan data science. “Inilah yang membuat Smart Eco Bioproduction bukan sekadar program teknologi, tetapi sebuah ekosistem pengetahuan dan inovasi,” jelasnya.
Penulis : Fatihah Salwa Rasyid
Editor : Gusti Grehenson
Foto: Magnific
