Alumni Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/category/alumni-id/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Wed, 19 Aug 2026 00:22:44 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 Hadapi Era AI, Lulusan Perguruan Tinggi Didorong Perkuat Kompetensi dan Pengalaman Kerja https://ugm.ac.id/id/berita/hadapi-era-ai-lulusan-perguruan-tinggi-didorong-perkuat-kompetensi-dan-pengalaman-kerja/ https://ugm.ac.id/id/berita/hadapi-era-ai-lulusan-perguruan-tinggi-didorong-perkuat-kompetensi-dan-pengalaman-kerja/#respond Wed, 19 Aug 2026 00:22:44 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96759 Perkembangan kecerdasan artifisial, digitalisasi, transisi energi hijau, serta perubahan demografi membawa perubahan besar terhadap dunia kerja. Kondisi tersebut menuntut calon tenaga kerja untuk tidak hanya mengandalkan latar belakang pendidikan, tetapi juga memperkuat keterampilan dan pengalaman kerja. Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum IV PP KAGAMA, Prof. Drs. Anwar Sanusi, M.P.A., Ph.D., sekaligus Kepala Badan Perencanaan […]

Artikel Hadapi Era AI, Lulusan Perguruan Tinggi Didorong Perkuat Kompetensi dan Pengalaman Kerja pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Perkembangan kecerdasan artifisial, digitalisasi, transisi energi hijau, serta perubahan demografi membawa perubahan besar terhadap dunia kerja. Kondisi tersebut menuntut calon tenaga kerja untuk tidak hanya mengandalkan latar belakang pendidikan, tetapi juga memperkuat keterampilan dan pengalaman kerja.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum IV PP KAGAMA, Prof. Drs. Anwar Sanusi, M.P.A., Ph.D., sekaligus Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan (Barenbang) Kemnaker, dalam sesi talkshow Pembekalan ribuan Calon Wisudawan Sarjana dan Sarjana Terapan Periode IV 2026 mengenai tantangan memenangkan pasar kerja di era AI, Selasa (18/8) di Grha Sabha Pramana UGM.

Ia menyampaikan, berdasarkan data yang dipaparkan, jumlah penduduk bekerja di Indonesia saat ini mencapai sekitar 147 juta orang. Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka berada pada angka 4,68 persen atau sekitar 7,4 juta orang. “Sebagai bagian dari pemerintah, kami terus berupaya melakukan berbagai hal dalam rangka menekan tingkat pengangguran tersebut,” ujarnya.

Ia menjelaskan, jika dilihat berdasarkan tingkat pendidikan, kelompok lulusan SMA dan SMK menjadi penyumbang terbesar pengangguran, disusul lulusan perguruan tinggi. Di sisi lain, tingkat pendidikan juga berkorelasi dengan tingkat upah. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tinggi pula tingkat penggajian.

Menurutnya, terdapat setidaknya tiga faktor utama yang mendorong perubahan dunia kerja saat ini, yakni disrupsi AI dan digitalisasi, transisi energi hijau dan keberlanjutan, serta perubahan demografi dan pergeseran care economy. Perubahan tersebut akan menyebabkan sejumlah pekerjaan hilang, tetapi pada saat yang sama menciptakan berbagai jenis pekerjaan baru. Ia mengutip perhitungan World Economic Forum yang memperkirakan 92 juta pekerjaan akan hilang, sementara 170 juta pekerjaan baru akan muncul. “Adanya pekerjaan-pekerjaan baru tersebut membutuhkan sebuah modalitas, yaitu reskilling dan upskilling,” jelasnya.

Reskilling merupakan proses mengubah orientasi keterampilan dari keterampilan sebelumnya menuju keterampilan baru, sedangkan upskilling merupakan upaya meningkatkan keterampilan yang telah dimiliki. Perubahan tersebut juga terlihat dari munculnya berbagai profesi yang sebelumnya belum dikenal. Ia mencontohkan pekerjaan seperti social media manager, data scientist, dan AI engineer yang berkembang seiring perubahan teknologi.

Di tengah perubahan tersebut, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan keterampilan digital tenaga kerja. Ia menyebutkan bahwa jumlah pekerja yang memiliki keterampilan digital masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara lain. Indonesia berada pada peringkat 51 dari 69 negara dan peringkat 12 dari 14 negara di kawasan Asia Pasifik berdasarkan data yang dipaparkan. “PR besar kita adalah bagaimana kita meng-upgrade, meningkatkan digital skill kita dalam penguasaan AI, pengembangan teknologi, serta komersialisasi riset untuk mendukung transformasi Indonesia,” katanya.

Selain keterampilan digital, pola rekrutmen tenaga kerja juga mengalami perubahan. Perusahaan kini semakin mempertimbangkan kompetensi dibandingkan sekadar latar belakang pendidikan.

Ia mengingatkan para mahasiswa dan calon lulusan UGM agar tidak hanya mengandalkan reputasi almamater ketika memasuki dunia kerja. “Kita patut berbangga sebagai alumni dari universitas yang selalu menjadi yang terbaik di Indonesia. Tapi itu tidak cukup,” tegasnya.

Menurutnya, calon tenaga kerja perlu membekali diri dengan keterampilan yang relevan serta pengalaman kerja lapangan. Ia menyebut pengalaman kerja dan pengalaman di lapangan menjadi nilai tambah dalam proses memasuki pasar kerja.

Meskipun AI semakin banyak mengambil alih pekerjaan rutin, ia menekankan bahwa keterampilan manusia tetap menjadi pondasi penting dalam dunia kerja. Kemampuan seperti judgment, membangun hubungan, berpikir kritis, dan empati tetap menjadi keunggulan manusia yang tidak dapat begitu saja digantikan oleh AI. “Human skill sebagai fondasi tetap menjadi fondasi kemampuan AI. AI tidak bisa berkembang tanpa keterampilan manusia,” ujarnya.

Untuk menghadapi persaingan kerja, ia memperkenalkan konsep triple skilling yang terdiri atas tiga kesiapan utama, yakni technical skill readiness, human skill readiness, dan market entry readiness. Adapun technical skill readiness berkaitan dengan penguasaan kompetensi teknis sesuai bidang masing-masing. Sementara itu, human skill readiness mencakup kemampuan berbahasa, berkomunikasi, serta menyampaikan ide dan gagasan. Adapun market entry readiness merupakan kemampuan untuk memasuki dan beradaptasi dengan pasar kerja.

Salah satu cara untuk memperkuat pengalaman kerja adalah melalui program pemagangan yang disiapkan pemerintah bagi fresh graduate. Ia menyampaikan, pada 2026 pemerintah menargetkan perekrutan hingga 150 ribu peserta pemagangan. Program tersebut tidak hanya memberikan pengalaman kerja, tetapi juga menyediakan mentor dari perusahaan, industri, maupun instansi pemerintah. Peserta juga memperoleh uang saku setara upah minimum, perlindungan BPJS Ketenagakerjaan, serta kesempatan mengikuti uji kompetensi pada akhir program.

Ia menyebutkan, pada pelaksanaan sebelumnya terdapat sekitar 102 ribu peserta yang mengikuti program dari sekitar 500 ribu pendaftar. Sekitar 8.000 perusahaan dan instansi terlibat dalam program tersebut. Dari peserta yang mengikuti program, 66 persen dilaporkan mengalami peningkatan kompetensi, sedangkan sekitar 30 persen langsung direkrut menjadi karyawan tetap. “Kompetisi untuk mengikuti program ini tidak mudah. Namun, jika terpilih, ini menjadi pengalaman yang sangat berarti untuk merasakan bagaimana dunia kerja,” katanya.

Menutup paparannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi tiga pihak dalam membangun talenta tenaga kerja Indonesia, yaitu pemerintah, dunia usaha dan industri, serta perguruan tinggi. Pemerintah berperan menyediakan regulasi dan program, dunia usaha dan industri menyediakan kesempatan kerja serta mentoring, sedangkan perguruan tinggi berperan menyiapkan talenta yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. “Kalau tiga pilar ini betul-betul berkolaborasi, h kita bisa memanfaatkan bonus demografi yang saat ini terjadi untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik,” pungkasnya.

Penulis : Jelita Agustine

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Hadapi Era AI, Lulusan Perguruan Tinggi Didorong Perkuat Kompetensi dan Pengalaman Kerja pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/hadapi-era-ai-lulusan-perguruan-tinggi-didorong-perkuat-kompetensi-dan-pengalaman-kerja/feed/ 0
Direktur BTN Beri Wejangan ke Ribuan Calon Wisudawan UGM https://ugm.ac.id/id/berita/direktur-btn-beri-wejangan-ke-ribuan-calon-wisudawan-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/direktur-btn-beri-wejangan-ke-ribuan-calon-wisudawan-ugm/#respond Wed, 22 Jul 2026 02:34:25 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95719 Direktur Human Capital and Compliance PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., Eko Waluyo, memberikan wejangan ke  1.054 calon wisudawan Universitas Gadjah Mada yang mengikuti pembekalan dan gladi bersih wisuda program pascasarjana periode IV tahun akademik 2025/2026 pada Selasa (21/7), di lantai 2 Grha Sabha Pramana UGM. Pada kesempatan kali ini, Eko menyampaikan soal perbedaan antara […]

Artikel Direktur BTN Beri Wejangan ke Ribuan Calon Wisudawan UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Direktur Human Capital and Compliance PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., Eko Waluyo, memberikan wejangan ke  1.054 calon wisudawan Universitas Gadjah Mada yang mengikuti pembekalan dan gladi bersih wisuda program pascasarjana periode IV tahun akademik 2025/2026 pada Selasa (21/7), di lantai 2 Grha Sabha Pramana UGM.

Pada kesempatan kali ini, Eko menyampaikan soal perbedaan antara dunia kerja dan perkuliahan.Menurutnya, orientasi dunia kerja saat ini telah bergeser dari sekadar mengejar prestasi pribadi menuju kemampuan menciptakan dampak bagi tim dan organisasi. “Bagaimana meng-create impact, membawa pengaruh kepada tim, membangun teamwork, kolaborasi. Jadi, bukan diri sendiri lagi, tetapi kita bicaranya sebagai sebuah tim,” ujar alumnus MBA FEB UGM ini.

Eko menambahkan, setiap individu juga harus terus memberikan nilai tambah, baik bagi dirinya sendiri maupun institusi tempat bekerja. Oleh karena itu, ia menekankan pembelajaran tidak boleh berhenti meskipun seseorang telah memasuki dunia kerja. “Terlebih dalam perubahan yang semakin cepat membuat setiap orang dituntut untuk terus belajar sepanjang hayat,” katanya.

Dalam bidangnya, Eko menyatakan bahwa sebagian besar layanan perbankan kini telah beralih ke aplikasi digital. Ia menceritakan bahwa dulu semuanya dilayani dengan konter layanan yang hadir secara fisik. Namun, hari ini 70–80 persen transaksinya melalui mobile apps atau m-banking. “Ada kurang lebih 3.000 pegawai di tempat saya yang kemudian tidak lagi memiliki pekerjaan karena customer-nya sudah tidak dilayani dengan cara yang sama. Oleh karena itu, kami lakukan setiap tahun itu merelokasi 400an orang untuk pindah ke fungsi lain,” ujarnya.

Lebih lanjut, Eko menyinggung hasil studi CB Insight mengenai perusahaan yang masuk dalam indeks S&P 500. Ia menjelaskan bahwa usia perusahaan kini semakin pendek dibandingkan beberapa dekade lalu. Dulu rata-rata lifespan perusahaan di 60 tahun ke atas, tetapi kini hanya kisaran di belasan tahun. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan banyak yang gagal bertahan karena tidak mampu mengantisipasi perubahan karena faktor institusi dan internal SDM.

Oleh karenanya, ia menekankan kompetensi yang perlu dipelajari tidak lagi terbatas pada bidang keilmuan masing-masing. Berdasarkan data World Economic Forum, Eko menyebutkan kompetensi yang paling dibutuhkan didominasi oleh kemampuan di bidang teknologi. Disebutkannya bahwa beragam latar belakang pendidikan seseorang, kini tetap dituntut memahami perkembangan teknologi.

Eko mengibaratkan perjalanan karier sebagai lari maraton yang membutuhkan ketahanan dan konsistensi dalam jangka panjang. Ia menjelaskan bahwa setiap perusahaan pada umumnya memiliki nilai-nilai organisasi yang berbeda. Namun, memiliki tuntutan yang sama, yakni tidak pernah berhenti belajar, terbuka terhadap hal-hal baru, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja yang terus berubah. “Di 2030 itu mungkin sepertiga dari skill kita itu sudah tidak akan dipakai lagi. Kita harus harus meng-upgrade diri dengan skill baru dan kompetensi baru mulai dari sekarang,” tekannya.

Dijabarkan Eko terdapat empat kunci keberhasilan dalam dunia kerja, yaitu kompetensi, karakter, konsistensi, dan kontribusi. Ia menjelaskan bahwa kompetensi merupakan syarat dasar, tetapi tidak cukup apabila tidak diiringi karakter yang baik, konsistensi dalam bekerja, serta kontribusi nyata kepada organisasi. “Karakter dikalikan dengan kompetensi, dikalikan lagi dengan konsistensi, dikalikan lagi dengan kontribusi. Kalau ada satu di antara empat itu yang nilainya nol, maka itulah yang kita peroleh kembali ke nol juga,” katanya.

Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, menyampaikan kegiatan pembekalan menjadi momentum penting dalam upaya mempersiapkan calon wisudawan menghadapi dunia kerja. “Kita memberikan pembekalan modalitas dalam menapaki jenjang ke depan,” ujarnya.

Arie turut menyadarkan bahwa gelombang transformasi digital kini berlangsung cukup cepat. Menurutnya, jika perguruan tinggi tidak membangun komunikasi dengan para alumni yang telah bekerja dan memiliki pengalaman, maka hal ini bisa membuat perguruan tinggi ditinggalkan. Selain itu, universitas memiliki tanggung jawab yang bukan saja melahirkan sarjana, master, atau doktor. “Namun, juga punya tanggung jawab agar network kita yang dikerjakan selama ini mampu membuat jembatan penghubung agar bisa bekerja sesuai dengan yang diinginkan,” pungkasnya.

Beriringan juga sambutan oleh Ir. Eddy Praptono, M.Si., Ketua Pengcab kagama Gunungkidul, menyatakan bahwa menjadi bagian Kagama bukan sekedar identitas, tetapi juga sebuah hak dan kesempatan. Menurutnya, wadah ini bisa menjadi penghubung dengan ribuan alumni yang telah berkiprah di berbagai bidang serta kesempatan untuk belajar berkolaborasi dan terus berkembang. “Wisuda ini juga diamanahkan untuk membawa nama baik UGM mengukir prestasi dan berkontribusi positif bagi bangsa. Perbedaan pendapat, ideologi, kepentingan adalah suatu hal yang wajar,” pesannya.

Penulis : Hanifah

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Direktur BTN Beri Wejangan ke Ribuan Calon Wisudawan UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/direktur-btn-beri-wejangan-ke-ribuan-calon-wisudawan-ugm/feed/ 0
UGM Siapkan Langkah Hadapi Transformasi Sistem Akreditasi Nasional https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-siapkan-langkah-hadapi-transformasi-sistem-akreditasi-nasional/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-siapkan-langkah-hadapi-transformasi-sistem-akreditasi-nasional/#respond Tue, 30 Jun 2026 07:55:14 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95034 Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., mengatakan rata-rata masa tunggu lulusan UGM mendapatkan pekerjaan 2,9 bulan setelah lulus. Bahkan untuk lulusan rumpun kesehatan hanya membutuhkan waktu 1,9 bulan. “Berdasarkan hasil tracer study, rata-rata masa tunggu lulusan UGM memperoleh pekerjaan mencapai 2,9 bulan, sedangkan lulusan rumpun kesehatan hanya […]

Artikel UGM Siapkan Langkah Hadapi Transformasi Sistem Akreditasi Nasional pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., mengatakan rata-rata masa tunggu lulusan UGM mendapatkan pekerjaan 2,9 bulan setelah lulus. Bahkan untuk lulusan rumpun kesehatan hanya membutuhkan waktu 1,9 bulan. “Berdasarkan hasil tracer study, rata-rata masa tunggu lulusan UGM memperoleh pekerjaan mencapai 2,9 bulan, sedangkan lulusan rumpun kesehatan hanya membutuhkan waktu 1,9 bulan,” kata Wening dalam Workshop Sosialisasi Mekanisme Akreditasi Perguruan Tinggi dan Program Studi sesuai Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025 yang diadakan oleh Satuan Penjaminan Mutu dan Reputasi Universitas (SPMRU), Senin (29/6), di Gedung Pusat UGM.

Menurut Wening, masa tunggu kerja mencerminkan kualitas pendidikan tinggi yang tercermin dari capaian lulusan di dunia kerja. Selain itu, tingkat kesesuaian kerja dengan kompetensi lulusan juga menunjukkan sangat juga ikut mempengaruhi. Salah satunya, tingkat kesesuaian bidang kerja lulusan rumpun teknik dengan kompetensi yang dipelajari bahkan mencapai 87,7 persen. “Angka-angka itu tentu bukan muncul begitu saja. Di baliknya ada kerja keras fakultas, program studi, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa yang setiap hari menjaga kualitas tridarma UGM,” jelasnya.

Dikatakan Wening, reputasi lulusan di dunia kerja menjadi faktor penting dalam penilaian pemeringkatan reputasi universitas di tingkat global. Menurutnya, capaian UGM pada berbagai pemeringkatan internasional merupakan hasil dari komitmen seluruh sivitas universitas dalam membangun budaya mutu secara berkelanjutan. Tahun ini UGM berhasil naik 18 peringkat dalam QS World University Rankings dari posisi 224 menjadi 206. Dalam tiga tahun terakhir, UGM juga meningkat pada THE Impact Rankings dari peringkat 81 menjadi 41 sebagai wujud kontribusi universitas terhadap pembangunan berkelanjutan. “Capaian itu tentu membanggakan, tetapi yang lebih penting adalah kualitas yang melatarbelakanginya. Ranking menjadi refleksi dari bagaimana kita mengelola pendidikan, penelitian, pengabdian, hingga layanan kepada mahasiswa secara konsisten,” tutur Wening.

Untuk mendorong perbaikan kualitas pendidikan ini, kata Wening, Universitas Gadjah Mada mendukung upaya pemerintah dalam mendorong transformasi sistem akreditasi nasional yang akan diterapkan melalui regulasi baru. “UGM mendorong kesiapan seluruh unit dalam mengimplementasikan sistem penjaminan mutu yang adaptif terhadap perkembangan pendidikan tinggi,” katanya.

Kepala Satuan Penjaminan Mutu dan Reputasi Universitas UGM, Prof. Indra Wijaya Kusuma, M.B.A., Ph.D., yang memoderatori diskusi mengatakan workshop ini menjadi kesempatan penting bagi seluruh unit di UGM untuk memahami arah baru sistem akreditasi perguruan tinggi. Menurutnya, persiapan perlu dilakukan sejak dini mengingat UGM akan menghadapi akreditasi perguruan tinggi pada 2027 dengan instrumen terbaru. Saat ini sekitar 84 persen program studi di UGM telah meraih status akreditasi unggul atau A sehingga upaya peningkatan mutu terus dilakukan secara berkelanjutan. “Kami ingin seluruh ekosistem UGM memiliki pemahaman yang sama sehingga ketika instrumen baru diterapkan, yang kita siapkan bukan sekadar dokumen, tetapi sistem mutu yang benar-benar berjalan,” harapnya.

Direktur Dewan Eksekutif BAN-PT, Prof. Ari Purbayanto, Ph.D., menjelaskan Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025 menggantikan Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi sekaligus menjadi dasar penyempurnaan mekanisme akreditasi nasional. Perubahan tersebut diikuti penerapan Sistem Akreditasi Nasional (SAN) 2025 yang menyederhanakan instrumen penilaian dari sembilan kriteria menjadi empat kriteria utama, yakni budaya mutu, relevansi, akuntabilitas, dan diferensiasi misi. Selain itu, status akreditasi juga disederhanakan menjadi Terakreditasi, Terakreditasi Unggul, dan Tidak Terakreditasi sesuai tingkat ketercapaian Standar Nasional Pendidikan Tinggi. “Perubahan ini diakukan agar akreditasi benar-benar mengukur kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi, bukan sekadar kelengkapan administrasi,” ujarnya.

Ari menuturkan sistem akreditasi terbaru memberikan penekanan lebih besar pada efektivitas Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) yang dibangun perguruan tinggi. Penilaian tidak lagi bertumpu pada banyaknya dokumen yang disiapkan menjelang asesmen, melainkan pada konsistensi pelaksanaan tridarma serta dampaknya bagi masyarakat dan dunia industri. Menurutnya, perguruan tinggi juga dituntut memiliki arah pengembangan yang jelas sesuai karakter dan keunggulan masing-masing. “Yang kami lihat adalah apakah sistem mutu benar-benar hidup dalam keseharian perguruan tinggi dan menghasilkan dampak yang dapat dibuktikan,” kata Ari.

Ia menambahkan perubahan regulasi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa reputasi perguruan tinggi harus dibangun melalui peningkatan mutu yang berkelanjutan. Perguruan tinggi perlu terus beradaptasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kebutuhan masyarakat, dan dunia industri agar tetap memiliki daya saing. Karena itu, akreditasi diposisikan sebagai instrumen evaluasi sekaligus penguatan mutu institusi. “Kalau kita merasa yang sekarang sudah cukup baik lalu berhenti berbenah, kualitas maupun reputasi perguruan tinggi bisa mengalami penurunan,” pesannya.

Pada sesi berikutnya, Anggota Dewan Eksekutif BAN-PT, Prof. Dr. Slamet Wahyudi, S.T., M.T., memaparkan implementasi Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi (IAPT) 4.1 dan SAPTO 2.0 sebagai perangkat pelaksanaan sistem akreditasi baru. Ia menjelaskan seluruh indikator penilaian dirancang untuk memotret keterkaitan antara masukan, proses, luaran, hingga dampak penyelenggaraan tridarma. Sistem tersebut juga memanfaatkan data yang terintegrasi dari pangkalan data perguruan tinggi sehingga proses asesmen menjadi lebih objektif dan efisien.

Slamet menuturkan penilaian akreditasi kini berfokus pada empat kriteria utama, yaitu budaya mutu, relevansi, akuntabilitas, dan diferensiasi misi. Setiap perguruan tinggi perlu memiliki sistem informasi yang terintegrasi agar seluruh data akademik maupun nonakademik terdokumentasi secara konsisten. Data tersebut menjadi dasar dalam menilai efektivitas penyelenggaraan tridarma sekaligus kontribusi perguruan tinggi terhadap masyarakat. “Data yang baik bukan data yang disiapkan menjelang akreditasi, tetapi data yang terus dipelihara sebagai bagian dari budaya mutu institusi,” tegas Slamet.

Menutup paparannya, Slamet berharap perguruan tinggi memanfaatkan perubahan regulasi sebagai kesempatan untuk membangun sistem penjaminan mutu yang semakin matang. Ia meyakini budaya mutu yang tumbuh secara konsisten akan menghasilkan pengakuan publik, meningkatkan daya saing, sekaligus memperkuat reputasi institusi di tingkat nasional maupun internasional. Menurutnya, keberhasilan akreditasi merupakan konsekuensi dari kualitas yang dipelihara setiap hari. “Kalau budaya mutu sudah menjadi kebiasaan, proses akreditasi tidak lagi menjadi beban, melainkan menjadi cerminan dari kualitas perguruan tinggi itu sendiri,” pungkasnya.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Jessi

Artikel UGM Siapkan Langkah Hadapi Transformasi Sistem Akreditasi Nasional pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-siapkan-langkah-hadapi-transformasi-sistem-akreditasi-nasional/feed/ 0
Berawal dari 5 Ekor Domba, Mila Raup Omzet Ratusan Juta  https://ugm.ac.id/id/berita/berawal-dari-5-ekor-domba-mila-raup-omzet-ratusan-juta/ https://ugm.ac.id/id/berita/berawal-dari-5-ekor-domba-mila-raup-omzet-ratusan-juta/#respond Mon, 29 Jun 2026 09:01:59 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95029 Di usianya yang belum genap menginjak 28 tahun, alumnus Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) lulusan angkatan 2021 itu berhasil membangun usaha peternakan modern bernama Kerabat Ternak 1-3 yang kini dikenal luas hingga berbagai daerah di Jawa Timur. Di tengah adanya stigma bahwa dunia peternakan identik dengan pekerjaan laki-laki dan sulit menghadirkan kesejahteraan, Mila justru […]

Artikel Berawal dari 5 Ekor Domba, Mila Raup Omzet Ratusan Juta  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Di usianya yang belum genap menginjak 28 tahun, alumnus Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) lulusan angkatan 2021 itu berhasil membangun usaha peternakan modern bernama Kerabat Ternak 1-3 yang kini dikenal luas hingga berbagai daerah di Jawa Timur.

Di tengah adanya stigma bahwa dunia peternakan identik dengan pekerjaan laki-laki dan sulit menghadirkan kesejahteraan, Mila justru membuktikan sebaliknya. Bersama sang suami, Sahroni, ia mengembangkan usaha kambing dan domba yang kini memiliki berbagai lini bisnis, mulai dari penggemukan, pembibitan, ternak perah, hingga penjualan sarana produksi peternakan (sapronak). Dari usaha yang dahulu dimulai secara sederhana, kini perputaran omset Kerabat Ternak mampu mencapai ratusan juta rupiah. 

Perjalanan Mila tidak lepas dari berbagai macam tantangan. Saat memutuskan menempuh pendidikan di Fakultas Peternakan UGM, pilihannya sempat diragukan oleh keluarga. Namun, keraguan tersebut justru menjadi motivasi baginya untuk membuktikan bahwa peternakan dapat menjadi profesi yang menjanjikan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat. “Dulu keluarga sempat ragu ketika saya memilih kuliah peternakan,” kenang Mila saat ditemui di kandang Kerabat Ternak, Tuban, Jawa Timur, Senin (29/6).

Lahir pada 1 Januari 1999 dari keluarga sederhana, dengan ayah yang berprofesi sebagai pengusaha kayu dan ibu sebagai ibu rumah tangga, Mila tumbuh dengan karakter pekerja keras dan terbiasa hidup mandiri sejak kecil. Ketertarikannya pada dunia peternakan sudah muncul sejak remaja. Bahkan jauh sebelum menjadi mahasiswa, tepatnya saat masih duduk di bangku SMA kelas 2 pada 2014, ia mulai memelihara lima ekor domba sebagai langkah awal menekuni usaha yang kini telah berkembang pesat.

Usai menyelesaikan pendidikan di Fapet UGM pada 2020, Mila memutuskan untuk fokus menekuni usaha peternakan. Berbekal ilmu yang diperoleh selama kuliah menjadi pondasi penting dalam menjalankan bisnisnya. Baginya, proses pembelajaran di Fakultas Peternakan UGM tidak hanya menekankan pada aspek teori, melainkan juga praktik serta pengalaman lapangan yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha. “Di Fapet UGM kami diajarkan bukan hanya teori, tetapi juga praktik dan pengalaman lapangan. Itu yang sangat membantu ketika benar-benar terjun ke dunia usaha,” ujarnya.

Selama menempuh pendidikan tinggi, Mila aktif memperkaya pengetahuannya dengan belajar langsung melalui para dosen, praktisi, hingga peternak senior di berbagai daerah. Ia percaya bahwa keberhasilan peternakan lahir dari perpaduan ilmu pengetahuan dan pengalaman lapangan. “Teori itu penting, tapi tidak cukup. Harus turun langsung ke lapangan,” katanya.

Adapun perjalanan bisnisnya tidak selalu berjalan mulus. Mila pernah mengalami kerugian akibat kematian ternak yang ia pelihara. Meskipun begitu, setiap kejadian kematian hewan ternak selalu dijadikan bahan evaluasi melalui observasi sebagai bahan pembelajaran agar tidak terulang. Melalui pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami manajemen kesehatan ternak, mulai dari pneumonia akibat perubahan suhu hingga berbagai infeksi lain yang umum menyerang kambing dan domba.

Kini, Kerabat Ternak 1-3 berkembang menjadi usaha peternakan yang tidak hanya berfokus pada jumlah populasi, tetapi juga fokus menjaga kualitas ternak dan kenyamanan hewan. Selain menjaga kebersihan kandang, ia juga mengelola pakan secara  optimal dengan memanfaatkan lahan hijauan seluas sekitar 1,5 hektare yang dipadukan dengan pakan tambahan, seperti ampas tahu dan kangkung kering untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak. 

Alih-alih fokus mengejar jumlah populasi, Mila lebih menitikberatkan pada peningkatan kualitas dan genetika ternak. Strategi tersebut terbukti berhasil memberikan nilai tambah yang sangat signifikan. Untuk kambing kualitas unggul, harga jual bisa mencapai Rp16 juta hingga Rp23 juta per ekor, sementara untuk kambing lokal berkisar Rp3 juta hingga Rp5 juta. Selain menyediakan ternak untuk kebutuhan hewan kurban dan aqiqah, Kerabat Ternak juga mengembangkan usaha penjualan sapronak, mulai dari susu cempe, vitamin, hingga berbagai perlengkapan peternakan yang telah dipasarkan ke sejumlah wilayah di Jawa Timur. 

Momentum Iduladha menjadi salah satu puncak usaha mereka. Dalam dua bulan menjelang musim kurban tahun 2024, omzet Kerabat Ternak disebut mencapai Rp500 juta hingga Rp700 juta. Sementara pada hari biasa, usaha aqiqah, penjualan bibit, susu, dan sapronak menghasilkan perputaran sekitar Rp50 juta per bulan, ditambah bisnis sarana produksi ternak sekitar Rp75 juta. Jangkauan pemasarannya pun terus berkembang hingga Lamongan, Bojonegoro, dan berbagai wilayah lain di Jawa Timur.

Tidak hanya berhenti di usaha ternak saja, Mila juga aktif berbagi pengetahuan kepada masyarakat melalui media sosial sejak tahun 2023 melalui media sosial TikTok. Beragam konten edukatif yang diunggah menjadi media untuk memperkenalkan praktik peternakan modern sekaligus menunjukkan pentingnya penerapan ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola usaha peternakan. 

Di sisi lain, keberadaan Kerabat Ternak juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Saat ini, Mila dan suaminya mempekerjakan dua orang karyawan serta aktif membangun kelompok ternak bersama masyarakat. Salah satunya dirasakan oleh Erma, anggota kelompok ternak binaan. Menurutnya, keberadaan Kerabat Ternak sangat membantu peternak kecil, terutama dalam hal pemasaran susu kambing dan peningkatan pengetahuan mengenai peternakan. “Saya jadi tidak bingung soal penjualan susu. Selain itu juga bisa belajar banyak di kelompok ternak dan di Kerabat Ternak,” ujarnya.

Pengalaman serupa juga dirasakan Agung Setiawan, siswa Praktek Kerja Lapangan (PKL) dari SMK Negeri 4 Bojonegoro. Ia mengaku memperoleh banyak pengetahuan serta pengalaman selama menjalani PKL di Kerabat Ternak. “Banyak ilmu yang saya peroleh selama PKL di sini,” katanya.

Bagi Mila, keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan semata, melainkan juga dari kemampuan menghadirkan ruang belajar dalam memberdayakan masyarakat serta menciptakan sumber penghidupan berkelanjutan bagi masyarakat sekitar. Berawal dari lima ekor domba yang dipelihara semasa SMA, kini ia tumbuh menjadi salah satu peternak muda inspiratif yang membawa semangat peternakan modern berbasis ilmu pengetahuan, pengalaman lapangan, dan pemberdayaan masyarakat.

Keberanian menembus stigma masyarakat, ketekunan dalam menghadapi kegagalan, serta konsistensinya membangun usaha menjadikan Mila layak menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya perempuan. Ia menunjukkan bahwa sektor peternakan juga memiliki prospek yang menjanjikan sekaligus mampu menjadi ruang berkarya bagi perempuan. Di balik kandang-kandang ternaknya, tersimpan cerita tentang keberaniannya untuk bermimpi, ketangguhannya dalam menghadapi kegagalan, dan keyakinannya bahwa peternakan bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan pengabdian yang mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat luas.

Reportase : Satria/Humas Fakultas Peternakan

Penulis      : Cyntia Noviana

Editor        : Gusti Grehenson

Foto          : Dok. Humas Fakultas Peternakan

Artikel Berawal dari 5 Ekor Domba, Mila Raup Omzet Ratusan Juta  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/berawal-dari-5-ekor-domba-mila-raup-omzet-ratusan-juta/feed/ 0
Kisah Bellatrix, Alumnus UGM Berpartisipasi di Startup Grind Global Conference di Silicon Valley  https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-bellatrix-alumnus-ugm-berpartisipasi-di-startup-grind-global-conference-di-silicon-valley/ https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-bellatrix-alumnus-ugm-berpartisipasi-di-startup-grind-global-conference-di-silicon-valley/#respond Mon, 22 Jun 2026 04:27:59 +0000 https://ugm.ac.id/?p=94711 Bellatrix Gracia Antameng, alumnus Program Studi Teknik Biomedis dari Departemen Teknik Teknologi Informasi (DTETI) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada berhasil menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. CEO sekaligus pendiri PT Orionex Solusi Digital tersebut terpilih menjadi bagian dari delegasi resmi Indonesia pada Startup Grind Global Conference 2026, berlangsung pada 27-28 April 2026 di Fox Theatre, […]

Artikel Kisah Bellatrix, Alumnus UGM Berpartisipasi di Startup Grind Global Conference di Silicon Valley  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Bellatrix Gracia Antameng, alumnus Program Studi Teknik Biomedis dari Departemen Teknik Teknologi Informasi (DTETI) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada berhasil menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. CEO sekaligus pendiri PT Orionex Solusi Digital tersebut terpilih menjadi bagian dari delegasi resmi Indonesia pada Startup Grind Global Conference 2026, berlangsung pada 27-28 April 2026 di Fox Theatre, Redwood City, California, Amerika Serikat.

Startup Grind Global Conference merupakan salah satu ajang yang mempertemukan startup terkemuka di dunia, yang setiap tahunnya mengumpulkan para pendiri perusahaan rintisan, investor, dan inovator dari berbagai penjuru dunia. Pada tahun 2026, konferensi ini dihadiri oleh lebih dari 5.000 peserta, dengan keterlibatan lebih dari 400 firma modal ventura, 150 startup yang memamerkan produknya, serta terdapat 175 sesi diskusi seputar perkembangan ekosistem teknologi dan kewirausahaan global.

Keikutsertaan Bellatrix dalam forum tersebut merupakan bagian dari Overseas Program Pertamuda, sebuah program yang diberikan kepada tiga pemenang teratas Pertamuda Seed & Scale 2025. Dalam kesempatan ini, ia menjadi satu-satunya wakil dari Universitas Gadjah Mada yang hadir langsung di salah satu forum startup paling bergengsi di dunia.

Selama konferensi berlangsung, Bellatrix mengaku ia menjalankan peran sebagai delegasi resmi, peserta konferensi, sekaligus bagian dari startup yang berpameran melalui jalur Pertamuda. Salah satu pencapaian yang patut disorot adalah kesempatannya tampil dalam sesi One Minute Pitching di hadapan para investor global, dimana ia mempresentasikan inovasi yang dikembangkan Orionex kepada berbagai pemangku kepentingan internasional dan membuka jalan bagi potensi kerja sama lintas negara. Penampilan dalam sesi pitching tersebut menjadi langkah strategis untuk memperlihatkan kemampuan inovasi startup Indonesia di mata dunia. “Sejumlah pelaku industri dan investor internasional pun menunjukkan ketertarikan terhadap solusi yang dipresentasikan, termasuk perwakilan dari beberapa lembaga investasi yang turut hadir,” kata Bellatrix dalam keterangan yang dikirim Senin (22/6).

Di sela rangkaian kegiatan konferensi, Bellatrix bersama delegasi Indonesia juga menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di San Francisco. Pertemuan itu membahas berbagai peluang pengembangan startup Indonesia di pasar global, mencakup penguatan jaringan internasional, peluang kolaborasi antarnegara, serta dukungan diplomatik bagi perusahaan rintisan yang berminat melakukan ekspansi ke luar negeri.

Melalui partisipasinya, Bellatrix mengaku mendapat wawasan berharga tentang standar global dalam membangun startup teknologi, sekaligus memperluas jaringan profesional bersama investor, pelaku ekosistem, dan calon mitra strategis dari berbagai negara. “Relasi yang terjalin selama konferensi diharapkan dapat mendorong pertumbuhan PT Orionex Solusi Digital dan membuka lebih banyak peluang kolaborasi internasional kedepannya,” harapnya.

Kiprah Bellatrix di Startup Grind Global Conference 2026 membuktikan bahwa alumni DTETI UGM mampu bersaing dan berkontribusi dalam ekosistem inovasi global, sekaligus mengharumkan nama Indonesia di panggung kewirausahaan teknologi dunia. “Pencapaian ini diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan alumni untuk terus berkarya dan berinovasi dengan dampak nyata di tingkat internasional,” pungkasnya.

Reportase : Noor Rasya (DTETI)

Penulis : Cyntia Noviana

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Bellatrix

Artikel Kisah Bellatrix, Alumnus UGM Berpartisipasi di Startup Grind Global Conference di Silicon Valley  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-bellatrix-alumnus-ugm-berpartisipasi-di-startup-grind-global-conference-di-silicon-valley/feed/ 0
Anies Baswedan Ingatkan Wisudawan UGM untuk Selalu Menjaga Nama Baik https://ugm.ac.id/id/berita/anies-baswedan-ingatkan-wisudawan-ugm-untuk-selalu-menjaga-nama-baik/ https://ugm.ac.id/id/berita/anies-baswedan-ingatkan-wisudawan-ugm-untuk-selalu-menjaga-nama-baik/#respond Wed, 20 May 2026 07:37:39 +0000 https://ugm.ac.id/?p=93685 Di hadapan ribuan wisudawan Universitas Gadjah Mada, Anies Baswedan mengingatkan bahwa hari wisuda memang istimewa, tetapi perjalanan setelahnya akan dipenuhi hari-hari biasa. Menurutnya, justru pada hari-hari biasa itulah karakter seseorang benar-benar diuji. Anies menilai para lulusan tahun ini menghadapi situasi ekonomi dan pasar kerja yang tidak mudah dibandingkan generasi sebelumnya. Namun sejarah memperlihatkan bahwa generasi yang […]

Artikel Anies Baswedan Ingatkan Wisudawan UGM untuk Selalu Menjaga Nama Baik pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Di hadapan ribuan wisudawan Universitas Gadjah Mada, Anies Baswedan mengingatkan bahwa hari wisuda memang istimewa, tetapi perjalanan setelahnya akan dipenuhi hari-hari biasa. Menurutnya, justru pada hari-hari biasa itulah karakter seseorang benar-benar diuji. Anies menilai para lulusan tahun ini menghadapi situasi ekonomi dan pasar kerja yang tidak mudah dibandingkan generasi sebelumnya. Namun sejarah memperlihatkan bahwa generasi yang tumbuh di tengah masa sulit sering kali menjadi generasi paling tangguh. “Besok adalah hari biasa, dan ujian sesungguhnya bukan terjadi pada hari istimewa seperti hari ini, melainkan pada hari-hari biasa yang panjang setelahnya,” ujarnya dalam pidato mewakili Dewan Pakar PP Kagama, Rabu (20/5) di Grha Sabha Pramana.

Anies menjelaskan bahwa tantangan hidup akan selalu datang dan pergi dalam bentuk yang berbeda. Masa sulit maupun masa mudah, menurutnya, bukan faktor utama yang menentukan arah kehidupan seseorang. Yang paling menentukan justru kemampuan individu untuk belajar dan bertahan dalam setiap keadaan. Ia mengajak para lulusan untuk tidak takut menghadapi ketidakpastian karena setiap generasi memiliki tantangannya sendiri. “Generasi yang lulus di masa sulit sering kali justru menjadi generasi yang paling kuat karena mereka belajar bertahan dan menemukan jalan di tengah keterbatasan,” tuturnya.

Ia kemudian berbicara tentang pekerjaan pertama yang sering kali dipandang terlalu kecil atau kurang ideal oleh lulusan muda. Anies bertutur pekerjaan pertama bukanlah soal jabatan ataupun penghasilan besar, melainkan ruang pembentukan karakter. Dari pekerjaan pertama, seseorang belajar menjaga tanggung jawab, menepati janji, dan menyelesaikan tugas sederhana dengan sungguh-sungguh. Pengalaman kecil yang tampak sepele justru menjadi fondasi perjalanan karier jangka panjang. “Jangan menunggu pekerjaan sempurna untuk memberikan yang terbaik, karena karakter dibentuk justru dari hal-hal kecil yang dikerjakan dengan penuh tanggung jawab,” katanya.

Anies juga mengingatkan para lulusan tentang tantangan ketika memasuki institusi dan sistem kerja. Dalam lingkungan profesional, seseorang bisa perlahan kehilangan idealisme karena terbiasa mengikuti arus yang tidak sehat. Ia menilai penting bagi generasi muda untuk menjaga lingkar pertemanan, membiasakan membaca, dan terus mengingat alasan awal memilih jalan hidup tertentu. Menurutnya, prinsip hidup harus tetap dijaga meskipun posisi dan situasi terus berubah. “Posisi boleh berubah dari waktu ke waktu, tetapi prinsip harus tetap dijaga melintasi zaman,” pesan Anies.

Dalam pidatonya, Anies menekankan bahwa setiap lulusan UGM memiliki tanggung jawab sosial yang melekat setelah meninggalkan kampus. Ia menyebut UGM sejak awal dikenal sebagai kampus perjuangan yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat. Karena itu, lulusan UGM diharapkan hadir sebagai bagian dari solusi atas persoalan bangsa. Ia mengajak para wisudawan untuk tidak berhenti pada gagasan, tetapi berani terlibat langsung dalam kehidupan sosial. “Kalau orang baik memilih diam, maka masalah di negeri ini tidak akan pernah selesai,” ucapnya.

Anies kemudian membagikan pesan personal yang paling ia ingat dari ibunya. Menurutnya, hal paling berharga yang dimiliki seseorang dalam hidup adalah nama baik. Jabatan, kekayaan, maupun posisi dapat berubah sewaktu-waktu, tetapi nama baik akan selalu melekat pada diri seseorang. Anies menilai ukuran keberhasilan hidup bukan ditentukan oleh pujian, melainkan oleh seberapa besar manfaat yang diberikan kepada orang lain. “Yang kita punya sesungguhnya hanya nama baik, maka jagalah nama itu baik-baik,” katanya.

Menutup pidatonya, Anies mengajak para lulusan untuk menyadari bahwa masa depan dibangun melalui keputusan-keputusan kecil yang dilakukan setiap hari. Ia mengenang dirinya yang pernah duduk sebagai wisudawan di tempat yang sama tanpa mengetahui seperti apa perjalanan hidup yang akan dihadapi setelah lulus. Menurutnya, kehidupan seseorang bukan dibentuk oleh satu keputusan besar, melainkan akumulasi pilihan sederhana yang dilakukan secara konsisten dalam jangka panjang. “Selamat menyongsong masa depan, karena perjalanan hidup sesungguhnya dimulai dari keputusan-keputusan sederhana yang kalian ambil setelah meninggalkan kampus ini,” tutupnya.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Donnie

Artikel Anies Baswedan Ingatkan Wisudawan UGM untuk Selalu Menjaga Nama Baik pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/anies-baswedan-ingatkan-wisudawan-ugm-untuk-selalu-menjaga-nama-baik/feed/ 0
UGM Dorong Penguatan SDM dan Aplikasi Riset di Lampung https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dorong-penguatan-sdm-dan-aplikasi-riset-di-lampung/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dorong-penguatan-sdm-dan-aplikasi-riset-di-lampung/#respond Tue, 19 May 2026 08:38:24 +0000 https://ugm.ac.id/?p=93647 Universitas Gadjah Mada terus membangun kolaborasi dengan alami dan pemerintah daerah di Provinsi Lampung melalui  momen kunjungan kerja dan penandatangan sejumlah nota kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Provinsi Lampung, pemerintah kabupaten/kota, serta sejumlah perguruan tinggi di Lampung pada 15-16 Mei lalu di Kota Bandar Lampung. Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menyatakan bahwa kerja sama […]

Artikel UGM Dorong Penguatan SDM dan Aplikasi Riset di Lampung pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada terus membangun kolaborasi dengan alami dan pemerintah daerah di Provinsi Lampung melalui  momen kunjungan kerja dan penandatangan sejumlah nota kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Provinsi Lampung, pemerintah kabupaten/kota, serta sejumlah perguruan tinggi di Lampung pada 15-16 Mei lalu di Kota Bandar Lampung.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menyatakan bahwa kerja sama lintas sektor ini menjadi langkah nyata kampus dalam menyelaraskan potensi dari perguruan tinggi agar selaras dengan kebutuhan pembangunan riil di daerah.

Menurutnya, luasnya jejaring alumni UGM di berbagai bidang menjadi modal sosial besar guna mendorong kemajuan wilayah yang memiliki potensi besar tapi belum sepenuhnya teroptimalkan. “Jejaring alumni harus terus dirawat dan diarahkan agar memberikan manfaat nyata, baik melalui pendidikan, riset, maupun pengabdian kepada masyarakat. UGM sebagai kampus kerakyatan berkomitmen untuk selalu hadir membantu daerah melalui ketiga pilar tersebut,” ungkapnya.

Ova berharap melalui kerja sama ini terjadi penguatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan riset terapan, serta solusi atas berbagai persoalan pembangunan daerah. “Harapannya, kerja sama ini dapat menghasilkan kontribusi nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat,”ujarnya.

Wakil Bupati Lampung Selatan, M. Syaiful Anwar, S.T., M.Pd., menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi merupakan fondasi utama bagi pembangunan berbasis ilmu pengetahuan. Menurutnya, Lampung Selatan memiliki beragam potensi yang sangat terbuka untuk dikembangkan bersama. “Lampung Selatan memiliki beragam potensi yang bisa dikembangkan bersama. Kami berharap kerja sama ini dapat membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi masyarakat,” ungkapnya di Rumah Dinas Gubernur Lampung, Sabtu (16/5).

Ketua Pengda KAGAMA Lampung, Qodrotul Ikhwan Karyonagoro, menyoroti besarnya potensi Lampung sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Meskipun demikian, dalam pengamatannya potensi tersebut belum dapat sepenuhnya dioptimalkan. “Lampung adalah dapur bagi Pulau Jawa dan Sumatra, tetapi banyak potensi yang masih perlu dikembangkan melalui sentuhan teknologi dan inovasi,” ujarnya.

Melalui momentum ini, Qodratul juga mengajak seluruh alumni untuk memperkuat nilai guyub, rukun, dan migunani yang menjadi semangat Kagama. Menurutnya, sinergi yang kuat antara UGM dan Kagama akan semakin memperbesar kontribusi alumni bagi masyarakat. “Semakin kuat solidaritas yang dibangun, semakin besar pula energi untuk berkontribusi kepada masyarakat,” jelasnya.

Penulis : Aldi Firmansyah

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Kantor Alumni

Artikel UGM Dorong Penguatan SDM dan Aplikasi Riset di Lampung pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dorong-penguatan-sdm-dan-aplikasi-riset-di-lampung/feed/ 0
Soal Penutupan Prodi, Okky Madasari Sebut Bahasa dan Budaya justru Menggerakkan Roda Ekonomi https://ugm.ac.id/id/berita/soal-penutupan-prodi-okky-madasari-sebut-bahasa-dan-budaya-justru-menggerakkan-roda-ekonomi/ https://ugm.ac.id/id/berita/soal-penutupan-prodi-okky-madasari-sebut-bahasa-dan-budaya-justru-menggerakkan-roda-ekonomi/#respond Mon, 04 May 2026 08:53:50 +0000 https://ugm.ac.id/?p=93211 Wacana mengenai penutupan program studi yang tidak relevan dengan industri turut menyita perhatian sastrawan dan Sosiolog Okky Madasari. Pakar bahasa dan sastra itu menilai, wacana ini berpotensi mengancam kemampuan berpikir kritis dan fondasi sosial budaya generasi. Sebaliknya, budaya, bahasa, dan sastra justru harus diberikan ruang lebih untuk berekspresi, sehingga setiap perubahan sosial masyarakat dapat direkam […]

Artikel Soal Penutupan Prodi, Okky Madasari Sebut Bahasa dan Budaya justru Menggerakkan Roda Ekonomi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Wacana mengenai penutupan program studi yang tidak relevan dengan industri turut menyita perhatian sastrawan dan Sosiolog Okky Madasari. Pakar bahasa dan sastra itu menilai, wacana ini berpotensi mengancam kemampuan berpikir kritis dan fondasi sosial budaya generasi. Sebaliknya, budaya, bahasa, dan sastra justru harus diberikan ruang lebih untuk berekspresi, sehingga setiap perubahan sosial masyarakat dapat direkam dengan baik sebagai dinamika yang mendukung supremasi budaya Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Okky Madasari dalam Bincang Budaya Cultural Festival 15 yang diselenggarakan oleh UGM Residence di Grha Sabha Pramana bertepatan pada momen Hari Buruh pada Jumat (1/5) lalu.

Diskusi dengan tajuk “Bahasa dan Sastra sebagai Diplomasi Budaya” dibuka dengan pandangan Okky terkait kabar penutupan program studi seperti Sastra, Sejarah, dan Antropologi. Alumnus Sarjana Hubungan Internasional  UGM tersebut menilai bahwa program studi yang disebutkan justru sangat relevan dengan yang dibutuhkan oleh industri. Baginya, bahasa dan budaya memiliki potensi besar dalam menggerakkan roda perekonomian negara. Ia mengambil contoh konkret seperti budaya K-Pop, popularitas lagu Jawa, hingga lagu Timur Indonesia yang kini tengah naik daun.“Korea memiliki bargaining position sehingga banyak kajian dan program studi yang mempelajarinya, di UGM juga ada. K-Pop adalah salah satu contoh bagaimana distribusi dan promosi budaya berhasil menjadi penyokong utama ekonomi negara”imbuhnya.

Dari sini, sastra dan bahasa berperan penting dalam diplomasi yang menentukan posisi Indonesia di mata dunia. Produk budaya Indonesia sudah seharusnya memiliki potensi mengingatkan posisi strategis negara Indonesia dalam jalur perdagangan dunia. Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, Okky menyampaikan produk budaya Indonesia berpotensi mendorong perekonomian negara. Akan tetapi, pertanyaannya ada pada bagaimana produk budaya Indonesia diperkenalkan lebih luas.

Pada sesi tanya jawab, berbagai pertanyaan dilontarkan oleh mahasiswa dari beragam latar belakang. Salah satu pertanyaan yang mencuat adalah degradasi penggunaan bahasa baku di media sosial. Okky sendiri percaya bahwa bahasa tidak seharusnya dibakukan sebab jenis penggunaan bahasa dapat menjadi penanda dinamika sosial. Bagi Okky, bahasa tidak seharusnya diatur, melainkan penggunanya yang mengikuti tren hasil perkembangan teknologi.

“Bahasa di media sosial itu menggambarkan cara generasi hari ini berkomunikasi. KBBI harus terus merekam kosakata baru, terus memperbarui bahasa, termasuk istilah-istilah yang diciptakan di media sosial. Kebaruan itulah yang menjadi bagian dari kekayaan bahasa,” ujarnya.

Lebih lanjut, Okky turut menyampaikan bahwa bahasa sudah seharusnya dinamis dan dapat digunakan sesuai konteks. Bahasa Indonesia yang baku akan terasa aneh jika dipakai bukan sesuai dengan konteks. Keberadaan polisi bahasa justru akan menjauhkan informasi dari realitas. Para pengguna yang seharusnya menyesuaikan diri, bagaimana bahasa yang dipakai untuk menulis esai, cerpen, puisi, termasuk bahasa daerah untuk percakapan sehari-hari. “Kalau di media sosial, bahasa tidak harus baik dan benar. Setiap bahasa bisa dipakai di berbagai situasi dan kondisi, tergantung pada konteksnya,” tutup Okky.

Penulis : Ika Agustine

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Wikipedia dan Dok.UGM Residence

Artikel Soal Penutupan Prodi, Okky Madasari Sebut Bahasa dan Budaya justru Menggerakkan Roda Ekonomi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/soal-penutupan-prodi-okky-madasari-sebut-bahasa-dan-budaya-justru-menggerakkan-roda-ekonomi/feed/ 0
Komunikasi Informasi Sebaiknya Dikemas Lewat Visualisasi Data https://ugm.ac.id/id/berita/komunikasi-informasi-sebaiknya-dikemas-lewat-visualisasi-data/ https://ugm.ac.id/id/berita/komunikasi-informasi-sebaiknya-dikemas-lewat-visualisasi-data/#respond Wed, 22 Apr 2026 07:57:08 +0000 https://ugm.ac.id/?p=92740 Co-Founder dan CEO Katadata, Metta Dharmasaputra, memberikan pembekalan mengenai tantangan media di era digitalisasi kepada 1.638 calon wisudawan Pascasarjana UGM, Selasa (21/4), di  Grha Sabha Pramana. Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UGM ini juga menyoroti percepatan revolusi digital dalam mengubah cara pandang masyarakat dalam mengakses informasi. Membuka sesinya, ia menyoroti bahwa saat ini penetrasi […]

Artikel Komunikasi Informasi Sebaiknya Dikemas Lewat Visualisasi Data pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Co-Founder dan CEO Katadata, Metta Dharmasaputra, memberikan pembekalan mengenai tantangan media di era digitalisasi kepada 1.638 calon wisudawan Pascasarjana UGM, Selasa (21/4), di  Grha Sabha Pramana. Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UGM ini juga menyoroti percepatan revolusi digital dalam mengubah cara pandang masyarakat dalam mengakses informasi.

Membuka sesinya, ia menyoroti bahwa saat ini penetrasi internet dan penggunaan perangkat mobile di Indonesia menunjukkan angka yang sangat tinggi, bahkan melebihi jumlah penduduk. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat hidup dalam ekosistem digital yang sangat intens. Ia menambahkan bahwa perubahan tersebut turut menggeser sumber utama informasi publik dari media konvensional ke media sosial. “Saat ini sumber untuk mendapatkan informasi telah mengalami peralihan lebih banyak pada media sosial,” ujarnya.

Kondisi ini menurutnya menuntut setiap individu, khususnya pada setiap lulusan di perguruan tinggi untuk mampu terus beradaptasi dengan lanskap komunikasi digital. Data menunjukkan bahwa 90% informasi ditransmisikan ke otak melalui visual. Karena itu, ia menekankan pentingnya transformasi cara penyampaian informasi di era digital, dari berbasis teks menuju visual storytelling. “Kondisi inilah yang mau tidak mau menuntut individu untuk tidak lagi bergantung pada penyampaian informasi dalam bentuk teks panjang. Sebaliknya, informasi perlu dikemas secara visual agar lebih efektif dan mudah dipahami,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa transformasi digital telah menghadirkan berbagai bentuk otomatisasi dalam produksi dan distribusi konten. teknologi seperti speech-to-text, text-to-voice, hingga text-to-video kini semakin berkembang dan digunakan secara luas dalam industri media. Selain itu, distribusi konten juga telah mengalami personalisasi berbasis algoritma, di mana audiens akan menerima informasi yang sesuai dengan preferensi dan aktivitas mereka di ruang digital. “Fenomena ini membuat konten yang baru saja dibicarakan seseorang dapat dengan cepat muncul di linimasa media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem komunikasi digital saat ini tidak hanya cepat, tetapi juga sangat terpersonalisasi,” tuturnya.

Selain itu, ia menilai bahwa perkembangan AI tidak hanya berdampak pada industri media, tetapi juga pada struktur ekonomi, politik, hingga geopolitik global. Ia mencontohkan bagaimana teknologi komunikasi kini menjadi bagian dari strategi dalam konflik antarnegara. Namun demikian, ia menekankan bahwa di balik ancaman tersebut, AI juga membuka peluang besar dalam meningkatkan efisiensi dan inovasi di berbagai sektor.

Metta menekankan pentingnya data dalam era digital yang kini menjadi aset utama dalam pengambilan keputusan baik dalam bisnis, media, maupun politik. Tidak hanya sebagai pelengkap, data ini juga menjadi dasar dalam menghasilkan insight, memahami perilaku audiens, hingga menentukan arah kebijakan. “Indonesia memiliki potensi besar sebagai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, sehingga pemanfaatan data menjadi hal yang krusial agar tidak tertinggal dalam persaingan global,” jelasnya.

Pada akhir pemaparannya, ia menegaskan kembali bahwa lulusan baru perlu membekali diri dengan ‘senjata baru’ untuk menghadapi disrupsi teknologi yang tidak terelakkan. Menurutnya, ide-ide yang kompleks harus mampu dikemas secara ringkas dan kuat agar dapat dipahami dengan cepat, sekaligus relevan dengan kebutuhan industri yang semakin dinamis. Selain itu, ia juga menyampaikan pentingnya perubahan cara berpikir generasi muda, dari sekadar berorientasi pada solusi menjadi berorientasi pada dampak yang lebih luas.

Wakil Rektor UGM Bidang Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni, Dr. Arie Sujito, menyampaikan selamat kepada calon wisudawan Pascasarjana UGM yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ia berharap para calon keluarga besar alumni UGM ini kedepannya mampu berperan di berbagai sektor strategis di tengah tantangan dinamika global yang semakin kompleks. Ia juga mendorong alumni untuk terus menjaga sinergi dengan universitas serta berkontribusi dalam pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. “Alumni harus menjadi aktor strategis di manapun berkarya dan menjadikan profesionalisme sebagai tanggung jawab atas ilmu yang dimiliki. Mari kita jaga nama baik pribadi, keluarga, dan almamater, serta terus berkontribusi untuk transformasi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Departemen Olahraga dan Rekreasi PP Kagama, Agus Supriyo, S.Hut., M.Pd., memperkenalkan Kagama sebagai wadah besar alumni Universitas Gadjah Mada yang mengusung semboyan guyub rukun migunani. Ia menjelaskan bahwa nilai tersebut tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga pedoman bagi para lulusan dalam berkontribusi di masyarakat. “Jangan biarkan ilmu kita hanya berhenti di jurnal-jurnal. Mari kita terjemahkan menjadi kebijakan, teknologi aplikatif, atau solusi yang benar-benar menyentuh masyarakat,” tegasnya.

Penulis : Cyntia Noviana

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Komunikasi Informasi Sebaiknya Dikemas Lewat Visualisasi Data pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/komunikasi-informasi-sebaiknya-dikemas-lewat-visualisasi-data/feed/ 0
Mengubah Kecemasan Menjadi Energi Positif https://ugm.ac.id/id/berita/mengubah-kecemasan-menjadi-energi-positif/ https://ugm.ac.id/id/berita/mengubah-kecemasan-menjadi-energi-positif/#respond Mon, 13 Apr 2026 08:50:37 +0000 https://ugm.ac.id/?p=92383 Di tengah derasnya arus informasi global soal konflik di kawasan Timur Tengah, ancaman PHK, hingga menurunnya kemampuan daya beli, turut menjadi salah satu pemicu yang memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Salah satu yang kerap muncul adalah kecemasan personal yang dipicu oleh perkembangan situasi global. Konflik yang terjadi jauh dari kehidupan sehari-hari perlahan memengaruhi cara individu memandang […]

Artikel Mengubah Kecemasan Menjadi Energi Positif pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Di tengah derasnya arus informasi global soal konflik di kawasan Timur Tengah, ancaman PHK, hingga menurunnya kemampuan daya beli, turut menjadi salah satu pemicu yang memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Salah satu yang kerap muncul adalah kecemasan personal yang dipicu oleh perkembangan situasi global. Konflik yang terjadi jauh dari kehidupan sehari-hari perlahan memengaruhi cara individu memandang dunia. Bahkan paparan informasi yang terus mengalir membuat sebagian orang merasa kondisi dunia semakin tidak menentu. “Saat ini saya banyak menangani kecemasan yang muncul seiring konflik global, dan masyarakat secara tidak langsung terkondisikan untuk percaya bahwa dunia ini semakin tidak baik-baik saja,” ungkap Psikolog lulusan UGM, Pamela Andari Priyudha, M.Psi., Psikolog, Senin (13/4).

Lulusan Magister Psikologi Profesi Universitas Gadjah Mada pada 2016 silam ini mengaku dalam praktik psikolog di platform kesehatan mental ibunda.id, ia berhadapan dengan beragam cerita mulai dari kecemasan personal hingga tekanan akibat situasi eksternal. Menurut Pamela, paparan berita negatif yang berulang memicu respons emosional yang cukup intens. Dalam banyak kasus, muncul ketegangan fisik dan emosional sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan buruk di masa depan. Kondisi ini sering muncul pada individu dengan pengalaman hidup traumatis. Tubuh meningkatkan kewaspadaan sebagai bagian dari mekanisme pertahanan diri. “Paparan informasi negatif secara terus menerus ini bisa memunculkan acute anticipatory stress atau stres antisipatif, di mana tubuh bersiap untuk menghadapi sesuatu yang belum terjadi,” katanya.

Jika berlangsung terus-menerus, tekanan psikologis dapat berkembang menjadi kecemasan yang lebih luas. Pamela menuturkan, berbagai isu seperti ancaman konflik, ketidakpastian ekonomi, hingga berkurangnya lapangan pekerjaan memperkuat rasa tidak aman. Informasi yang tidak dikelola dengan baik akan memperbesar risiko munculnya kecemasan kolektif. Individu sering kali kesulitan membedakan antara ancaman nyata dan kemungkinan yang dibayangkan. “Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi stress berkepanjangan yang memicu kecemasan bahkan depresi secara kolektif,” jelas Pamela.

Dari Tekanan Menuju Pertumbuhan Psikologis

Di balik tekanan emosional, Pamela melihat adanya peluang individu untuk bertumbuh. Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki kapasitas untuk mengubah stres menjadi dorongan yang lebih adaptif. Dengan pengelolaan emosi yang tepat, tekanan dapat diarahkan menjadi energi positif. Konsep ini dikenal sebagai post-traumatic growth atau pertumbuhan pasca trauma. “Manusia dibekali kemampuan untuk mengubah stres menjadi eustress yang mendorong pertumbuhan diri dan peningkatan kualitas hidup,” tuturnya.

Post-traumatic growth menggambarkan perubahan psikologis positif yang muncul setelah seseorang berhasil melewati pengalaman yang menekan. Pamela menuturkan proses ini melibatkan perjuangan kognitif dan perenungan mendalam dalam menerima realitas. Namun tidak semua individu mengalami pertumbuhan ini, bahkan sebagian dapat mengalami gangguan seperti Post-traumatic stress disorder (PTSD). Dalam beberapa kasus, pertumbuhan dan luka psikologis dapat muncul secara bersamaan. “Post-traumatic growth bukan sekadar pulih, tetapi berkembang ke arah kualitas hidup yang lebih baik dari sebelumnya,” jelasnya.

Dalam praktiknya, Pamela menjumpai berbagai contoh individu yang mampu bertumbuh setelah menghadapi tekanan emosional. Salah satunya dialami oleh individu yang merasa cemas setelah mendengar kabar pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran. Kecemasan meningkat ketika rekan kerja mulai mengalami pemutusan kerja satu per satu. Kondisi ini memicu gejala fisik seperti mual, serangan panik, hingga tekanan untuk terus tampil optimal yang berujung pada kelelahan. “ Setelah mendapatkan bantuan psikologis, klien saya mulai memahami dirinya, menyusun kembali visi hidup, dan mempersiapkan langkah karier yang lebih sesuai,” paparnya.

Lebih lanjut, kemampuan untuk mencapai post-traumatic growth, menurut Pamela, dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Ketangguhan individu menjadi fondasi dalam menghadapi tekanan. Selain itu, karakter seperti optimisme, keterbukaan, dan kecerdasan emosional membantu proses pemaknaan pengalaman. Dukungan informasi dan lingkungan yang tepat turut memperkuat kemampuan individu dalam menghadapi situasi sulit. “Cara seseorang memaknai pengalaman dan proses berpikir dalam memahami situasi sangat menentukan apakah ia dapat bertumbuh,” ungkapnya.

Sebagai psikolog yang aktif berpraktik, Pamela tidak hanya berfokus pada penanganan individu secara klinis, ia turut berperan dalam meningkatkan literasi kesehatan mental di masyarakat. Melalui platform digital layanan psikologi, ia menjembatani kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan akses pendampingan yang lebih mudah dan relevan dengan dinamika kehidupan saat ini. Pengalaman menangani berbagai kasus membuatnya memahami bahwa tantangan kesehatan mental semakin kompleks seiring perubahan sosial dan derasnya arus informasi. Hal ini mendorongnya untuk terus mengembangkan pendekatan yang adaptif dan berorientasi pada kebutuhan individu.

Sebagai alumni Universitas Gadjah Mada, Pamela membawa perspektif yang menekankan pentingnya cara pandang dalam menghadapi kehidupan. Ia meyakini bahwa setiap peristiwa memiliki nilai yang ditentukan oleh bagaimana individu memaknainya. Cara pandang ini berpengaruh terhadap emosi dan respons yang muncul dalam diri seseorang. Dalam menghadapi arus informasi global, individu perlu mengelola konsumsi informasi serta menjaga keseimbangan emosi. “Kita tidak selalu memiliki kendali atas peristiwa di luar diri, tetapi kita memiliki kendali penuh atas bagaimana meresponsnya,” pungkasnya.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Freepik dan Dok. Pamela

Artikel Mengubah Kecemasan Menjadi Energi Positif pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mengubah-kecemasan-menjadi-energi-positif/feed/ 0