Beasiswa Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/category/beasiswa/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Thu, 13 Aug 2026 09:25:44 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 UGM dan Jardine Foundation Perkuat Kerja Sama Penyaluran Beasiswa https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-jardine-foundation-perkuat-kerja-sama-penyaluran-beasiswa/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-jardine-foundation-perkuat-kerja-sama-penyaluran-beasiswa/#respond Thu, 13 Aug 2026 09:21:17 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96640 Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan pengurus Jardine Foundation, Rabu (12/8), dalam upaya untuk memperkuat kolaborasi pemberian program beasiswa untuk jenjang sarjana maupun pascasarjana. Seperti diketahui, UGM dan Jardine telah melaksanakan beasiswa Jardine–UGM untuk program pascasarjana di University of Oxford dan University of Cambridge serta beasiswa Jardine untuk mahasiswa program sarjana UGM semenjak lebih dari satu […]

Artikel UGM dan Jardine Foundation Perkuat Kerja Sama Penyaluran Beasiswa pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan pengurus Jardine Foundation, Rabu (12/8), dalam upaya untuk memperkuat kolaborasi pemberian program beasiswa untuk jenjang sarjana maupun pascasarjana. Seperti diketahui, UGM dan Jardine telah melaksanakan beasiswa Jardine–UGM untuk program pascasarjana di University of Oxford dan University of Cambridge serta beasiswa Jardine untuk mahasiswa program sarjana UGM semenjak lebih dari satu dekade lalu.

Rombongan dari Jardine Foundation yang diwakili oleh Mantan Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, sebagai senior expert, bersama Christopher Ganis sebagai Head of Indonesia Jardine beserta jajaran diterima langsung oleh Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, bersama dengan Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, Direktur Kemitraan dan Relasi Global, Prof. Dr. Puji Astuti, beserta jajaran.

Retno Marsudi menegaskan Jardine berkomitmen untuk mendukung peningkatan pendidikan di Indonesia. Lebih lanjut, ia pun mengungkapkan pentingnya pendampingan yang intensif bagi para penerima beasiswa. “Ke depannya, yayasan akan lebih aktif melakukan pertemuan rutin dengan para mahasiswa untuk mendengarkan langsung kebutuhan mereka di lapangan,” kata Mantan Menlu RI ini.

Tak hanya itu, ia pun menambahkan pentingnya bagi para penerima beasiswa untuk menyebarluaskan semangat ini dan membuka wawasan terkait kesempatan magang (internship). “Kita ingin memberikan semangat agar mereka bisa lulus tepat waktu dan menjalani perkuliahan dengan baik. Melalui program mentorship, kesempatan mereka akan terbuka lebih luas. Ke depan, kita tidak hanya fokus membesarkan universitasnya, tetapi juga harus mengisi ruang krusial, yaitu educating the educators. Dampaknya akan terasa melalui dua hal, kerja sama lokal dan peningkatan kapasitas pendidik itu sendiri,” ungkapnya.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., turut menyampaikan apresiasi mendalam atas kerja sama dengan Jardine yang telah berjalan sejak tahun 2014. Dimulai dari pengiriman penerima beasiswa ke Oxford, kini inisiatif tersebut telah berkembang menjadi berbagai upaya beasiswa internal maupun eksternal. “Kehadiran Jardine membuka peluang yang luar biasa. Harapan kita, dari Jardine ini bisa lahir program double degree, tidak hanya dengan kampus di luar negeri, tetapi juga antaruniversitas di Indonesia untuk eskalasi pembelajaran. Ini adalah salah satu misi utama universitas,” paparnya.

Danang Sri Hadmoko mengatakan beasiswa ini bisa membantu mahasiswa agar bisa kuliah reguler namun juga mendapat nilai tambah dari program yang dijalankan. “Mereka harus bisa payback to society dan memiliki kemampuan storytelling yang baik. Dari sisi akademik, kita juga akan menghubungkan alumni-alumni yang kini menjadi dosen di kawasan Indonesia Timur dengan jejaring internasional yang kita miliki,” jelasnya.

Dukungan pengembangan sumber daya manusia ini juga diperkuat dari sisi ekosistem bisnis. Mewakili sektor industri dan bisnis, Christopher Ganis memaparkan pentingnya kesinambungan program pasca-kelulusan para awardee. “Kami akan memanfaatkan seluruh ekosistem bisnis Jardine. Targetnya adalah mencetak profesional-profesional Indonesia yang unggul, namun dengan syarat wajib bagi mereka kembali dan berkontribusi untuk Tanah Air,” tegasnya.

Penulis : Leony

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel UGM dan Jardine Foundation Perkuat Kerja Sama Penyaluran Beasiswa pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-jardine-foundation-perkuat-kerja-sama-penyaluran-beasiswa/feed/ 0
Separuh Mahasiswa Baru FEB UGM Peroleh Subsidi UKT https://ugm.ac.id/id/berita/separuh-mahasiswa-baru-feb-ugm-peroleh-subsidi-ukt-2/ https://ugm.ac.id/id/berita/separuh-mahasiswa-baru-feb-ugm-peroleh-subsidi-ukt-2/#respond Wed, 05 Aug 2026 08:58:52 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96299 Sebanyak 49,65% dari total 613 mahasiswa baru Program Sarjana Reguler Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) memperoleh subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) pada tahun akademik 2026/2027. Artinya, hampir separuh mahasiswa baru FEB UGM mendapatkan subsidi UKT. Dari jumlah tersebut, 14,02% di antaranya merupakan penerima subsidi UKT 100% atau UKT nol rupiah, sehingga […]

Artikel Separuh Mahasiswa Baru FEB UGM Peroleh Subsidi UKT pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sebanyak 49,65% dari total 613 mahasiswa baru Program Sarjana Reguler Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) memperoleh subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) pada tahun akademik 2026/2027. Artinya, hampir separuh mahasiswa baru FEB UGM mendapatkan subsidi UKT. Dari jumlah tersebut, 14,02% di antaranya merupakan penerima subsidi UKT 100% atau UKT nol rupiah, sehingga mereka dapat menempuh pendidikan tanpa dipungut biaya kuliah. Hal ini menunjukkan komitmen berkelanjutan FEB UGM dalam menghadirkan akses pendidikan tinggi yang inklusif dan berkeadilan.

Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Didi Achjari, M.Com., Ak., C.A., menyampaikan FEB UGM menjaga inklusivitas dengan memberikan kesempatan belajar yang adil bagi seluruh anak bangsa tanpa terkecuali. “Hampir separuh dari mahasiswa baru Program Sarjana Reguler tahun ini yaitu sebesar 49,65 persen menerima subsidi UKT, dengan 14,02% di antaranya mendapatkan subsidi UKT 100% atau bebas biaya kuliah,” tegasnya, Rabu (5/8) saat menyambut para mahasiswa baru dalam acara PIONIR SIMFONI 2026 di Plaza FEB UGM.

Didi menjelaskan pemberian subsidi UKT ini merupakan wujud nyata dari komitmen FEB UGM untuk memberikan akses pendidikan yang berkeadilan, menjangkau potensi unggul dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan geografis.
Kebijakan ini pun sejalan dengan prinsip keadilan yang diterapkan UGM melalui sistem UKT, sehingga calon mahasiswa yang memiliki potensi akademik tetap dapat mengakses pendidikan tinggi berkualitas tanpa terkendala kemampuan ekonomi.

Melalui kebijakan subsidi UKT yang konsisten diberikan setiap tahun, FEB UGM terus memperkuat perannya sebagai fakultas yang inklusif dan berorientasi pada pemerataan akses pendidikan. Dukungan ini diharapkan dapat memberikan kesempatan yang lebih luas bagi generasi muda Indonesia untuk mengembangkan potensi akademik dan menjadi pemimpin masa depan di bidang ekonomika dan bisnis.

Seperti diketahui, pada tahun 2026 FEB UGM menerima 613 mahasiswa baru Program Sarjana (S1), yang terdiri dari 432 mahasiswa reguler dan 181 mahasiswa International Undergraduate Program (IUP). Para mahasiswa tersebut berasal dari berbagai wilayah di Indonesia dengan latar belakang yang beraneka ragam. Sebelum memulai perjalanan akademik di FEB UGM, mereka mengikuti rangkaian acara pengenalan kampus melalui PIONIR SIMFONI 2026 pada 5—6 Agustus 2026.

Reportase : Kurnia Ekaptiningrum/Humas FEB

Penulis : Leony

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Humas FEB

Artikel Separuh Mahasiswa Baru FEB UGM Peroleh Subsidi UKT pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/separuh-mahasiswa-baru-feb-ugm-peroleh-subsidi-ukt-2/feed/ 0
Pernah Gagal Masuk Sekolah Favorit, Izzat kini Berhasil Menjadi Mahasiswa UGM https://ugm.ac.id/id/berita/pernah-gagal-masuk-sekolah-favorit-izzat-kini-berhasil-menjadi-mahasiswa-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/pernah-gagal-masuk-sekolah-favorit-izzat-kini-berhasil-menjadi-mahasiswa-ugm/#respond Thu, 30 Jul 2026 01:25:32 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95993 “Kubur saja mimpinya.” Kalimat itu masih diingat Izzat El Umam Setiadi (18) hingga sekarang. Saat berkonsultasi mengenai rencana melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, ia beberapa kali  diingatkan agar lebih realistis. Berasal dari sekolah yang alumninya hampir tidak pernah diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM), mengejar kampus impian itu dinilai terlalu tinggi. Namun, bagi Izzat, mimpi […]

Artikel Pernah Gagal Masuk Sekolah Favorit, Izzat kini Berhasil Menjadi Mahasiswa UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
“Kubur saja mimpinya.” Kalimat itu masih diingat Izzat El Umam Setiadi (18) hingga sekarang. Saat berkonsultasi mengenai rencana melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, ia beberapa kali  diingatkan agar lebih realistis. Berasal dari sekolah yang alumninya hampir tidak pernah diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM), mengejar kampus impian itu dinilai terlalu tinggi. Namun, bagi Izzat, mimpi bukan untuk dikubur, melainkan diperjuangkan. Keyakinan itulah yang akhirnya mengantarkannya menjadi mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian UGM sekaligus memperoleh UKT 0.

Perjalanan menuju UGM bukanlah kali pertama Izzat berhadapan dengan kegagalan. Sejak kecil, ia selalu berambisi menempuh pendidikan di tempat terbaik. Namun, keinginannya untuk masuk SMP dan SMA favorit di daerahnya tidak terwujud. Alih-alih membuatnya menyerah, pengalaman tersebut justru membentuk mental untuk terus mencoba. “Dari pengalaman itu saya belajar enggak apa-apa gagal, yang penting terus mencoba,” ujarnya, Rabu (29/7).

Keinginan untuk berkuliah di UGM mulai tumbuh ketika duduk di bangku kelas X SMA. Melalui media sosial, Izzat mulai mengenal berbagai aktivitas akademik dan kehidupan mahasiswa di UGM. Sejak saat itu, ia menetapkan satu tujuan besar dalam hidupnya. Meski menyadari peluang diterima melalui jalur prestasi cukup kecil karena berasal dari sekolah yang bukan langganan mengirim lulusan ke UGM, ia tetap mempersiapkan diri sebaik mungkin. Portofolio terus dibangun melalui berbagai kompetisi, sementara persiapan menghadapi SNBT mulai ia intensifkan sejak kelas XI.

Selama bersekolah di SMAN 1 Sampang, Cilacap, Izzat aktif mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Geografi hingga lolos ke tingkat provinsi dengan peringkat keempat di tingkat kabupaten. Ia juga berhasil menjuarai lomba Ekonomi Syariah yang diselenggarakan Universitas Jenderal Soedirman. Selain itu, ia aktif di English Club, mengikuti berbagai kompetisi bahasa inggris selama dua tahun, sekaligus turut mengelola dan mempromosikan kegiatan ekstrakurikuler kepada adik kelas. Bagi Izzat, setiap pengalaman menjadi bekal untuk membangun kemampuan, mentalitas, dan jejaring yang akan membantunya meraih cita-cita.

Seminggu menjelang pengumuman Ujian Mandiri UGM, kegelisahan mulai menyelimuti dirinya. Ia mengaku hampir setiap malam bangun untuk melaksanakan salat tahajud. Baginya, kesempatan tersebut terasa seperti pintu terakhir untuk mewujudkan impian berkuliah di UGM. Ketika pengumuman akhirnya dibuka dan namanya dinyatakan lolos, rasa syukur tak mampu dibendung. Ia segera menghubungi kedua orang tuanya, bersujud syukur, lalu memeluk mereka. “Saya langsung sujud syukur,” kenangnya.

Kebahagiaan keluarga semakin lengkap ketika Izzat mengetahui dirinya memperoleh UKT 0. Menurutnya, kebijakan tersebut bukan sekadar meringankan biaya pendidikan, tetapi membuka ruang baginya untuk terus mengembangkan diri selama kuliah. Dana yang semula disiapkan untuk biaya pendidikan dapat dialihkan untuk mengikuti seminar, pelatihan, maupun kegiatan pengembangan keterampilan yang akan mendukung persiapannya memasuki dunia kerja. “UKT nol ini benar-benar membantu. Saya jadi bisa fokus mengembangkan diri selama kuliah besok,” tuturnya.

Ketertarikan Izzat terhadap Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian berawal dari kebiasaannya mencari informasi mengenai berbagai program studi. Suatu hari, ia menemukan konten seorang mahasiswa Teknologi Pangan yang memperkenalkan inovasi kemasan mi instan berbahan gelatin yang dapat didaur ulang bahkan dikonsumsi. Dari situlah ia mulai mendalami isu food waste, sampah plastik, dan ketahanan pangan. Menurutnya, tantangan tersebut membutuhkan inovasi yang dapat memberi dampak nyata bagi masyarakat. Kelak, ia berharap dapat berkontribusi mengembangkan teknologi pangan yang mampu mengurangi limbah pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

Di balik semangat tersebut, Izzat tumbuh dalam keluarga yang selalu memberikan kebebasan untuk mengejar cita-citanya. Ayahnya, Khadik Setiadi, tidak pernah memaksakan pilihan perguruan tinggi maupun program studi. Sebaliknya, ia mendorong putranya berani mengejar kampus impian meski peluangnya tampak kecil. Dukungan itu terasa semakin bermakna karena sang ayah juga pernah mengalami kegagalan meraih kampus impiannya akibat kecelakaan yang terjadi sehari sebelum ujian masuk perguruan tinggi. Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa setiap anak berhak memperjuangkan mimpi yang dimilikinya.

“Biar dia mengejar cita-citanya. Orang tua tugasnya mendukung,” tutur Khadik, yang bekerja sebagai tenaga pendidik honorer di Ma’had Al Imam Malik, Purwokerto. Baginya, keberhasilan Izzat diterima di UGM menjadi anugerah yang patut disyukuri sekaligus bukti bahwa kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil. Saat mengetahui putranya memperoleh UKT 0, rasa syukur itu semakin besar karena dapat meringankan beban keluarga.

Bagi sang ibu, Tuti Yuli Suningsih, perjalanan Izzat adalah buah dari ketekunan yang dibangun sedikit demi sedikit sejak kecil. Sebagai orang tua, ia hanya berusaha mendampingi, mengingatkan, dan terus mendukung setiap langkah putranya. “Alhamdulillah UKT 0 ini sangat membantu. Berarti kami tinggal fokus memenuhi kebutuhan hidupnya selama kuliah,” ujarnya.

Sementara bagi Izzat sendiri, kedua orang tuanya merupakan alasan terbesar untuk terus berjuang. Ia bersyukur karena selalu diberi ruang untuk memilih jalan hidup sesuai minatnya serta tidak pernah diminta mengubur mimpi hanya karena terlihat sulit diraih.

Kini, kesempatan belajar di UGM dimaknai Izzat sebagai awal untuk mewujudkan kontribusi yang lebih besar. Selain ingin meraih prestasi akademik, aktif berorganisasi, dan lulus tepat waktu, ia juga berharap dapat mengembangkan inovasi di bidang pangan yang bermanfaat bagi masyarakat. Baginya, keberhasilan diterima di UGM bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal untuk menghadirkan solusi bagi persoalan pangan di Indonesia.

Jika suatu hari dapat kembali menemui dirinya yang pernah kecewa karena gagal masuk sekolah favorit, hanya ada satu kalimat yang ingin ia sampaikan.

“Jangan pernah kubur mimpi kamu.”

Sebab, menurut Izzat, kegagalan bukanlah hal yang paling menakutkan. Bahaya terbesar justru ketika seseorang memilih menurunkan mimpinya karena takut mencoba. “Semangat terus mengejar mimpi dan jangan pernah menguburnya. Selama kita terus mencoba, pasti akan ada jalannya,” pesannya.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Firsto

Artikel Pernah Gagal Masuk Sekolah Favorit, Izzat kini Berhasil Menjadi Mahasiswa UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/pernah-gagal-masuk-sekolah-favorit-izzat-kini-berhasil-menjadi-mahasiswa-ugm/feed/ 0
Raih Beasiswa BSI, Silvia Bisa Kuliah Gratis di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/raih-beasiswa-bsi-silvia-bisa-kuliah-gratis-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/raih-beasiswa-bsi-silvia-bisa-kuliah-gratis-di-ugm/#respond Tue, 28 Jul 2026 04:59:06 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95916 Awalnya, tak terbersit di benak Silvia Nuril Mala (18) untuk berkuliah di kampus yang jauh dari rumahnya yang berada di Desa Kuripan, Wonosobo, Jawa Tengah. Mulanya, ia ingin berkuliah di lokasi yang lebih dekat dan lebih terjangkau, namun saat melihat biaya pendidikannya yang tinggi, Silvia pun mengurungkan niatnya. Kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk mampu […]

Artikel Raih Beasiswa BSI, Silvia Bisa Kuliah Gratis di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Awalnya, tak terbersit di benak Silvia Nuril Mala (18) untuk berkuliah di kampus yang jauh dari rumahnya yang berada di Desa Kuripan, Wonosobo, Jawa Tengah. Mulanya, ia ingin berkuliah di lokasi yang lebih dekat dan lebih terjangkau, namun saat melihat biaya pendidikannya yang tinggi, Silvia pun mengurungkan niatnya. Kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk mampu membiayai kuliahnya hingga selesai.

Kedua orang tua Silvia, Syarifuddin (45) dan Mufati (45), tak lulus SMA. Tentunya besar keinginan mereka agar anak-anaknya dapat mencapai pendidikan yang lebih baik. Syarifuddin, yang merupakan petani, penghasilannya tak menentu karena bergantung pada cuaca dan hasil panen, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga. Meskipun hidup di tengah keterbatasan ekonomi dan berbagai tantangan keluarganya, Silvia tetap berpegang pada keyakinan bahwa pendidikan merupakan jalan untuk membuka masa depan yang lebih baik.

Semangatnya yang gigih dan rasa ingin tahu yang besar ini pun sudah terlihat jelas dari jejak prestasinya selama bersekolah. Selama duduk di bangku SMA Negeri 1 Wonosobo, Silvia menjaga konsistensi prestasi akademik hingga berhasil meraih Penghargaan Khusus OSN-K Bidang Kimia peringkat kedelapan dan menjadi lulusan terbaik ketiga di sekolahnya pada tahun 2026.

Dari SMP-nya, Silvia pernah menjuarai perlombaan LCC Islami juara 3 dan PBB juara 1 di kabupaten. Ia pun aktif dalam berorganisasi, terbukti dengan jejaknya sebagai koordinator di ekskul Pramuka. Saat SMA, ia pun pernah menjabat sebagai ketua koordinator Fraksi 2 dan juga ketua Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) di sekolahnya. Saat menjadi ketua PIK-R, ia menjadi juara satu sebagai PIK-R percontohan 1 Jawa Tengah.

Untuk membagi antara kegiatan organisasi dan akademiknya, Silvia memfokuskan energinya pada kegiatannya saat itu. Prestasinya ini tak lepas dari kontribusi lingkungan yang mendukungnya untuk terus melangkah. Lalu ia pun mengejar ketertinggalannya di kelas dengan belajar di rumah saat malam hari dan pada liburan. “Kebetulan kalau di sekolah saya itu dispensasinya mudah gitu ya, Kak. Dan gurunya itu mendukung kita kalau misal dispensasinya itu tentang hal yang positif gitu. Jadi saya juga merasa sangat beruntung karena bisa didukung oleh lingkungannya,” jelasnya, Selasa (28/7).

Gadis itu tak menyerah dan terus berusaha untuk mengupayakan mimpinya untuk berkuliah. Kedua orang tuanya pun mendukungnya dengan segenap hati. Meski dalam keterbatasan ekonomi, bukannya menyerah, gadis itu mencari informasi secara mandiri tentang beasiswa. Ia sempat bertanya kepada salah satu temannya yang juga merupakan penerima beasiswa Bank Syariah Indonesia (BSI) untuk pelajar. Pilihannya pun jatuh pada BSI Scholarship Unggulan karena beasiswa ini memenuhi kebutuhannya saat kuliah nanti, seperti laptop, uang saku bulanan, dan juga UKT, serta tak kalah penting juga menyediakan pengembangan diri dengan berbagai program leadership dan character building, dan juga kesempatan magang dan mentorship di industri ekonomi syariah.

Dengan semangat belajar, dukungan keluarga, serta kolaborasi berbagai pihak, ia berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada. Ia diterima di prodi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) melalui jalur SNBP.

Kini, menjadi calon sarjana pertama di keluarganya terasa bagaikan mimpi bagi Silvia. Ia pun berpesan kepada  semua teman-teman yang mungkin saat ini memiliki kondisi yang sama dengannya, bahwa mereka harus banyak mencari informasi, terlebih dengan kemudahan teknologi dan media sosial yang ada saat ini.

Menurutnya, banyak sumber pendanaan dari beasiswa yang mungkin masih tak banyak diketahui oleh masyarakat awam. Selain itu, ia pun mengingatkan untuk tak berpasrah pada keadaan. “Jangan pernah mengubur mimpimu sebelum bertarung habis-habisan. Menjadi generasi pertama yang kuliah memang berat karena harus membuka jalan sendiri. Namun, ketika kita mendahulukan keluarga dan melangkah dengan ikhlas, pintu yang semula terlihat tertutup dapat terbuka,” ujar Silvia.

Penulis : Leony

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Silvia

Artikel Raih Beasiswa BSI, Silvia Bisa Kuliah Gratis di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/raih-beasiswa-bsi-silvia-bisa-kuliah-gratis-di-ugm/feed/ 0
Putri Kembar Anak Buruh Serabutan Memilih Jalan Pendidikan untuk Mengubah Stereotip Desa https://ugm.ac.id/id/berita/putri-kembar-anak-buruh-serabutan-memilih-jalan-pendidikan-untuk-mengubah-stereotip-desa/ https://ugm.ac.id/id/berita/putri-kembar-anak-buruh-serabutan-memilih-jalan-pendidikan-untuk-mengubah-stereotip-desa/#respond Wed, 22 Jul 2026 04:27:17 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95743 Memasuki area persawahan Dukuh Klitik, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Ponorogo, jalan aspal berhenti. Berganti jadi jalan tanah berbatu dan berdebu. Rumah-rumah berdiri berjajar dengan wajah yang timpang, ada yang megah bertingkat dengan mobil terparkir di halaman karena kiriman anak, istri atau suami yang jadi buruh migran di negeri seberang dan ada yang lantai dan dindingnya […]

Artikel Putri Kembar Anak Buruh Serabutan Memilih Jalan Pendidikan untuk Mengubah Stereotip Desa pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Memasuki area persawahan Dukuh Klitik, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Ponorogo, jalan aspal berhenti. Berganti jadi jalan tanah berbatu dan berdebu. Rumah-rumah berdiri berjajar dengan wajah yang timpang, ada yang megah bertingkat dengan mobil terparkir di halaman karena kiriman anak, istri atau suami yang jadi buruh migran di negeri seberang dan ada yang lantai dan dindingnya masih bata ekspos belum diaci.

Desa ini pernah punya julukan yang menyakitkan untuk disebut: “kampung idiot,” julukan yang lahir dari isolasi geografis yang begitu lama akibat perkawinan sedarah antar penduduk yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan minim akses pendidikan yang meninggalkan luka panjang, berupa keterbelakangan mental pada sebagian anak-anaknya. Di kemudian hari, daerah ini berganti julukan menjadi “kampung TKI”. Banyak warga yang bekerja sebagai buruh di luar negeri. Uang dari luar negeri memang bisa membangun rumah bertingkat, tapi tidak selalu membangun jalan keluar yang berkelanjutan.

Dari rumah bata ekspos di ujung gang persawahan milik Meseri (48) dan Siti Rokhayati (43), dua anak kembar perempuannya bernama Mahmudah Lathif dan Muzdrickah Lathif (Rikah) lahir. Mereka tumbuh besar dan memilih jalan yang jarang ditempuh sebagian besar masyarakat di desanya, bukan merantau jadi buruh, melainkan memperjuangkan mimpi punya pendidikan tinggi di kampus yang namanya dulu hanya berani mereka ucapkan sambil bercanda.

Anak Buruh Serabutan 

Meseri, sang ayah, sehari-hari adalah buruh serabutan. Ia seringkali mencari nafkah dengan menawarkan jasa pertanian pada warga sekitar yang sedang menggarap sawah. Selain itu, kalau ada proyek bangunan, ia juga ikut mandor ke kota jadi buruh bangunan. “Yang penting ada pemasukan,” katanya, mengulang kalimat yang lebih terdengar seperti doa daripada rencana. Sedangkan Siti, istrinya, adalah ibu rumah tangga yang sesekali ikut ke sawah membantu suami mencari tambahan. Penghasilan mereka tidak pernah tetap, kadang ada, kadang tidak.

Saat pasangan buruh itu mendapati buah hatinya lahir kembar, mereka memutuskan cukup memiliki dua anak. Keputusan itu atas kesadaran penuh bahwa mereka ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya dan berharap anak-anaknya dapat memiliki nasib yang lebih baik. Dari keputusan itu lahir sebuah komitmen yang mereka pegang bertahun-tahun sebelum tahu akan berbuah apa. Sejak sebelum masuk TK, kedua anaknya sudah dikenalkan pada buku dan latihan menulis, ditanamkan tekad bahwa sekolah adalah jalan keluar dari nasib mencangkul yang mereka jalani sendiri. “Setidaknya jangan sampai seperti orang tua, tidak punya penghasilan tetap untuk menjamin kesejahteraan keluarga,” ujar Siti.

Mahmudah dan Rikah selalu satu sekolah sejak sekolah dasar, mereka bersekolah di SDN 3 Krebet, MTsN 5 Ponorogo, dan lulus dari SMAN 1 Badegan. Hal ini bukan kebetulan, tapi strategi. “Satu sekolah itu untuk mempermudah, dari segala kebutuhan, akomodasi, dan lain-lain,” kata Rikah.

Di sekolah mereka adalah murid berprestasi, keduanya adalah partner berkompetisi yang kompak. Dari SD keduanya selalu berada di peringkat tiga besar di kelas, sering berebut posisi ranking satu. Kombinasi kompetensi keduanya berhasil memanen puluhan prestasi. Terhitung 18 prestasi untuk Mahmudah, 14 untuk Rikah, mulai dari olimpiade tingkat karesidenan sampai juara esai dan poster tingkat nasional. Saat satu menang dan satu belum beruntung, keduanya menganggapnya giliran. “Dalam kompetisi memanglah kemenangan itu selalu ada, begitu juga dengan kekalahan,” kata Mahmudah.

Mimpi yang Disimpan 

Mimpi kuliah di UGM lahir diam-diam, dari dua arah yang tak saling tahu. Bagi Rikah, keinginan kuliah di UGM bermula dari seorang guru kelas 4 SD yang bercerita tentang muridnya yang berhasil kuliah di UGM lewat beasiswa. “Saya kan masih polos, jadi saya simpan sendiri aja. Saya nggak cerita juga ke Mahmudah,” kenangnya.

Bagi Mahmudah, ketertarikan itu tumbuh dari rasa penasaran begitu ia pertama kali mendengar nama Universitas Gadjah Mada. Setiap kali ada orang bertanya, “Mau kuliah ke mana?” Mahmudah selalu menjawab ke UGM. “Itu saya menjawabnya sambil bercanda,tapi diam-diam selalu ada harapan di dalam hati supaya bisa jadi kenyataan,” kenangnya.

Baru belakangan mereka sadar bahwa sedang menuju arah yang sama. Namun jalan untuk bisa diterima di UGM tidak mudah bagi keduanya. Keduanya sudah melalui kegagalan berulang kali untuk masuk perguruan tinggi negeri lewat berbagai jalur. Rikah menghitungnya tujuh kali. “Kami merasa down pastinya, tapi akhirnya kami bangkit. Kami yakin bahwa masih ada banyak jalan lain yang terbuka,” ungkapnya.

Keduanya sempat sama-sama gagal di SNBP, lalu sama-sama diterima di kampus di Malang. Keduanya merasa belum puas, karena itu bukan tujuan sebenarnya yang mereka kejar.

Satu kesempatan tersisa yang mereka pilih, jalur Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUTM)UGM. “Saat itu harapan saya itu tinggal kecil sekali. Saya sudah tidak berani terlalu berharap,” kenang Rikah.

Ketika pengumuman itu datang, dan keduanya dinyatakan lolos bersama dengan subsidi UKT 100 persen. Keduanya merasa senang dan bannga karena usaha tidak pernah menghianati hasil. “Setelah penantian yang panjang, perjuangan saya untuk banyak belajar dan prestasi yang saya kumpulkan, akhirnya itu membuahkan hasil”, kata Mahmudah bersyukur.

Mengetahui kedua buah hatinya diterima  di terima di Kampus UGM, Meseri merasa bersyukur dikaruniai anak yang berprestasi dan mampu membanggkan keluarga. Namun ia sempat gamang membayangkan anaknya pergi jauh ke Yogyakarta. “Saya mendengar itu, ya senanglah. Bersyukur, senang anak-anak bisa diterima di UGM,” katanya.

Mahmudah diterima di D4 Manajemen dan Penilaian Properti, Sekolah Volasi. Sedangkan Rikah di D4 Teknologi Veteriner, Sekolah Vokasi. Rikah sempat membayangkan jika suatu saat kelak setelah lulus akan membentuk komunitas penyuluhan ternak bagi warga desanya. Meski belum tahu bentuk pastinya, yakin ilmunya kelak juga harus kembali menolong masyarakat sekitar rumah.

Di desa yang mayoritas anak mudanya berhenti di SMK, selanjutnya kebanyakan memilih langsung bekerja atau merantau jauh sebagai buruh migran. Dua anak buruh serabutan ini memilih menempuh jalan yang lebih panjang dan lebih sunyi, demi menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi dan latar belakang desa terpencil bukan vonis akhir.”Terima kasih untuk tidak menyerah dan selalu mendukung saya,” ucap Rikah kepada kedua orang tuanya, di hadapan kamera yang merekam pertemuan itu.

Di sebuah desa yang selama ini lebih dikenal karena kisah pilunya, Mahmudah Lathif dan Muzdrickah Lathif sedang menulis cerita lain, bahwa dari rumah bata ekspos di ujung gang persawahan, mimpi tetap bisa melenting setinggi langit dan merawat harapan dapat pulang membawa terang untuk desa yang membesarkannya.

Penulis/Foto : Donnie Tristan

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Putri Kembar Anak Buruh Serabutan Memilih Jalan Pendidikan untuk Mengubah Stereotip Desa pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/putri-kembar-anak-buruh-serabutan-memilih-jalan-pendidikan-untuk-mengubah-stereotip-desa/feed/ 0
Kisah Ibu dari Cileungsi Hantarkan Anak Kuliah Gratis di UGM  https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-ibu-dari-cileungsi-hantarkan-anak-kuliah-gratis-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-ibu-dari-cileungsi-hantarkan-anak-kuliah-gratis-di-ugm/#respond Tue, 21 Jul 2026 08:42:59 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95707 Di sudut rumah kontrakan sederhana berukuran 4×6 meter persegi yang didominasi warna cat kuning, nampak berjejer tumpukan tabung gas dan galon air di depan pintu rumah. Usaha jual beli gas dan air ini menjadi mata pencaharian Charoline Sihole (52) bersama anaknya, Walmer Zebaoth Siburian (18). Semenjak sang suami, Wilmar Siburian (65), berpulang enam tahun lalu, […]

Artikel Kisah Ibu dari Cileungsi Hantarkan Anak Kuliah Gratis di UGM  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Di sudut rumah kontrakan sederhana berukuran 4×6 meter persegi yang didominasi warna cat kuning, nampak berjejer tumpukan tabung gas dan galon air di depan pintu rumah. Usaha jual beli gas dan air ini menjadi mata pencaharian Charoline Sihole (52) bersama anaknya, Walmer Zebaoth Siburian (18). Semenjak sang suami, Wilmar Siburian (65), berpulang enam tahun lalu, mama Charoline menggantungkan hidupnya dari usaha ini. Hasil  dari berjualan gas dan tabung air ini tidaklah menentu karena hanya mengandalkan pesanan dari tetangga sekitar. Bahkan hanya cukup untuk bayar kontrakan setiap bulannya.

“Setelah suami tidak ada, saya ikut kerja sama orang untuk menyelamati kontrakan setiap bulan. Kadang saya dikasih dikasih 1,5 kadang 2 juta. Kadang tidak mencukupi, apa saja saya lakuin, kadang ngojek, kadang jualan, yang penting bisa menghidupi kami berdua,” kata Mama Charoline saat ditemui di Kampung Bojongkaso,Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/7).

Charoline mengaku, ia dan suami sudah merantau 23 tahun di Kota Cileungsi. Awal pertemuan mereka berdua dari sama-sama penjual koran, majalah dan novel di sebuah gerobak kios di pinggir jalan kota Cileungsi. Setelah usaha ini meredup, sang suami mengajak pindah kontrakan dan memilih berjualan galon air dan gas. “Saya menikah tahun 2000, bapak sudah jualan koran, dulu saya jualan koran juga, dipersatukan sama-sama jualan koran,” kenangnya.

Meski menjadi orang tua tunggal, Charoline bersyukur bahwa kehidupan mereka berdua tetap berlanjut dengan banyak dibantu oleh teman-temannya dari sesama jemaat gereja. “Saya dapat bantuan dari gereja,  dapat beras dan untuk dia (walmer) dapat uang saku,” jelasnya.

Beruntung bagi Mama Chaoline yang memiliki anak yang mengerti keadaan kondisi ekonomi orang tuanya. Walmer termasuk siswa berprestasi di SMAN 1 Cileungsi. Sejak kelas 11 sudah langganan rangking 5 besar di kelas. “Di kelas 10 saya tidak dapat ranking tinggi. Untuk pelajaran bahasa saja, nilainya rendah. Baru di kelas 11, saya ketemu teman berprestasi secara angkatan. Melihat mereka saya termotivasi. Akhirnya di kelas 11 semester 2 saya bisa rangking 3, lalu konsisten berada  lima besar hingga lulus,” ujarnya.

Walmer mengaku mafhum tentang keadaan ekonomi keluarga yang hidup dari berjualan air dan gas serta bantuan dari sesama jemaat gereja. Ia pun tidak banyak meminta banyak di luar kebutuhan sekolah pada ibunya. Sejak SMP hingga SMA, ia sudah terbiasa membawa bekal sarapan siang dari rumah ke sekolah.

Sepulang dari sekolah, ia tidak segan-segan ia membantu ibunya mengantar tabung gas dan galon air ke rumah tetangga yang kebetulan memesan via  whatsapp.

Meski hidup dalam keterbatasan, tidak menyurutkan langkah Walmer untuk meraih mimpi kuliah di kampus terbaik. Namun begitu, ia sebenarnya tak kuasa meninggalkan sang ibu seorang diri jika ia harus kuliah jauh dari rumah. “Saat daftar ke UGM lewat SNBP, saya nggak bilang. Karena saya tahu Mama tidak mau ditinggalin. Biar nggak kepikiran, saya alihkan fokus belajar saja. Bahkan jelang malam pengumuman, masih liatin mama tidur, masa iya saya mau ninggalin? Ia yang sudah membesarkan saya seorang diri. Tapi saya harus memilih masa depan saya,” kata Walmer.

Saat di hari pengumuman tiba. Sejak pagi, ibunya tengah melayat ke rumah duka anggota jemaat yang meninggal dunia yang berada di daerah kecamatan Gunungputri. Di sore harinya, Walmer membuka ponselnya, dan ia girang bukan main karena dirinya lolos diterima kuliah di prodi Teknik Nuklir, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada. Ia ingin segera menyampaikan berita gembira ini pada ibunya. Saat ditelpon, ibunya tidak menjawab karena masih sibuk mengurusi anggota jemaat yang tengah berduka. Ia pun menulis pesan lewat ponsel.

“Ma, aku diterima di UGM,”

Pesan itu berlanjut,

“Ikut turut berduka cita ya, Ma,”

Charoline, nampak bingung dengan pesan berantai yang dikirim Walmer.

“Kamu kenapa?,” kata seorang sahabatnya.

“Nggak tahu, baca ini,”

“Anakmu diterima di UGM,” celetuk temannya.

“Apa itu UGM?”

“Anakmu diterima kuliah di UGM, di Jogja tahu,”

“Selamat ya,”

Sahabat Charoline beramai-ramai memeluk dirinya. Ia pun tak kuasa menahan haru setelah tahu Walmer diterima kuliah di UGM.

Tepat jam 5 sore, Mama Charoline pulang ke rumah. Di depan pintu Walmer sudah menunggunya dan keduanya berpelukan seraya menahan rasa haru dan bahagia. Air mata mereka pun tumpah.

“Aku nunggu sampai jam 5 sore, aku sudah siap depan pintu, langsung meluk mama. Aku tak tahu mau jelasin apa mau ngomong apa. Seperti menyampaikan selamat tinggal beberapa saat. Mama langsung menangis, malamnya kami berdoa,” kata Walmer mengingat momen itu.

Meski sudah diterima kuliah UGM. Charoline tetap berdoa agar kuliah anaknya nantinya dilancarkan dan mendapatkan bantuan beasiswa. Doanya dikabulkan. Beberapa hari kemudian saat Walmer menyampaikan informasi tersebut ketika ia tengah mengantarkan pesanan barang.

“Pas saya lagi mengantar barang, dia kasih tahu pengumuman, apa itu namanya, uang kuliah,”

“Terus saya pertama nggak ngeh itu, saya bilang, ‘Ini memang enggak bisa… enggak bisa berkurang, Bang?’ Uang kuliahnya mahal banget,”

“Mama bisa aku telepon?” kata Walmer.

“Mama, saya dapat gratis di UGM,”

Mendengar kabar bahagia ini, Mama Charoline tak kuasa menahan haru dan menangis. “Saya menangislah di rumah orang. Terus yang punya rumah itu ngasih ucapan selamat. ‘Selamat ya, Kak. Kakak hebat bisa bikin anak kita kuliah di UGM dan gratis. Itu luar biasa, kuasa Tuhan sama Kakak,” katanya.

Sebagai seorang Ibu, Charoline mengaku bersyukur atas karunia Tuhan berikan pada keluarga kecilnya. Apalagi sejak di bangku SMA, Walmer banyak dibantu. “Sedari kecil sampai SMA, saya antar jemput dia, apa kata orang, saya tidak peduli. Dia penyemangat diri saya,”ungkapnya haru.

Meski tahu bahwa kelak Walmer akan meninggalkan dirinya seorang diri di sudut kontrakan karena akan menetap di Yogyakarta menjalani studi. Namun Charoline berharap agar Walmer bisa menjalaninya hari-harinya dengan baik apalagi Walmer akan tinggal di Asrama Dharma Putra UGM. “Saya percaya, Tuhan beri yang terbaik untuk kami berdua. Semoga Walmer mencapai cita-cita dan mengangkat derajat keluarga,” harapnya.

Penulis : Gusti Grehenson

Foto : Zarodin

Artikel Kisah Ibu dari Cileungsi Hantarkan Anak Kuliah Gratis di UGM  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-ibu-dari-cileungsi-hantarkan-anak-kuliah-gratis-di-ugm/feed/ 0
Cerita Fecia, Anak Buruh Tani Asal Semanu Merajut Mimpi Kuliah di UGM   https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-fecia-anak-buruh-tani-asal-semanu-merajut-mimpi-kuliah-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-fecia-anak-buruh-tani-asal-semanu-merajut-mimpi-kuliah-di-ugm/#respond Mon, 20 Jul 2026 05:01:44 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95662 Hidup dalam kesederhanaan di selatan Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya du Padukuhan Tunggul Barat, Semanu, Gunungkidul, tak membuat Fecia Laura Revani (18) berhenti bermimpi untuk meraih cita-citanya bisa mengenyam bangku perguruan tinggi. Sang Ayah, Subyono (51), bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan tak menentu. Dalam sebulan, ia hanya bisa mengumpulkan penghasilan kurang lebih satu juta rupiah. […]

Artikel Cerita Fecia, Anak Buruh Tani Asal Semanu Merajut Mimpi Kuliah di UGM   pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Hidup dalam kesederhanaan di selatan Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya du Padukuhan Tunggul Barat, Semanu, Gunungkidul, tak membuat Fecia Laura Revani (18) berhenti bermimpi untuk meraih cita-citanya bisa mengenyam bangku perguruan tinggi. Sang Ayah, Subyono (51), bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan tak menentu. Dalam sebulan, ia hanya bisa mengumpulkan penghasilan kurang lebih satu juta rupiah. Sementara sang ibu, Puji (46), sehari-hari sebagai ibu rumah tangga yang hanya mengandalkan penghasilan dari suaminya untuk memenuhi kebutuhan. Meskipun demikian, kedua orang tuanya sangat mendukung penuh cita-cita Fecia untuk meraih cita-citanya.

Bungsu dari dua bersaudara ini aktif dalam berbagai kegiatan di sekolahnya, SMAN 1 Wonosari Gunungkidul. Ia aktif di organisasi Patroli Keamanan Sekolah hingga menjadi vokalis band sekolah yang mengantarkannya langganan juara. Kesibukannya ini cukup membuat Fecia kewalahan dalam mengatur waktu dengan mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi. Namun, ia tetap berusaha semaksimal mungkin untuk memprioritaskan kegiatan akademiknya. “Jika di sekolah sedang ada ujian, saya mengutamakan ujian sekolah terlebih dahulu. Setelah itu, jika ada waktu luang setelah pulang sekolah, saya usahakan mencicil belajar sedikit demi sedikit untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi,” jelasnya, Senin (20/7).

Mimpi yang begitu besar untuk melanjutkan pendidikan tinggi tertanam kuat dalam diri Fecia. Sudah sejak lama, memiliki tekad untuk berkuliah dengan jurusan pertanian. Ia sempat mendaftar lewat jalur SNBP dan SNBT namun belum diterima. Meskipun ia sempat mengalami beberapa kali kegagalan, ia tidak menyerah begitu saja. Dengan rain belajar dan senantiasa terus berdoa, Fecia akhirnya diterima menjadi mahasiswa Agronomi UGM melalui jalur ujian mandiri UGM atau UM UGM CBT.

Pada mulanya, Fecia mengaku tak percaya berhasil lolos seleksi ujian mandiri UGM. Ia merasa sangat senang dapat diterima di jurusan impiannya. Sejak awal, ia sudah tertarik untuk mempelajari lebih dalam bidang pertanian, khususnya budidaya tanaman. Minatnya tersebut didukung penuh oleh kedua orang tuanya, yang paham betul bahwa Fecia tertarik pada dunia pertanian. “Dari awal tertariknya, ke pertanian untuk membudidaya tanaman. Karena suka menanam tanaman, jadi ingin tahu lebih banyak lagi tentang tanaman-tanaman,”kata sang Ibu, Puji.

Sempat khawatir soal biaya, namun Puji percaya bahwa anaknya memiliki rezekinya sendiri. “Memang secara hitung-hitungan penghasilannya cuma segini, tapi dari awal kan insya Allah anak saya itu kan memiliki rezeki sendiri gitu,” ungkap Puji.

Berkat doa orang tua dan kegigihan Puji yang mengajukan beasiswa subsidi Uang Kuliah Tunggal dari pihak Kampus, ia pun berhasil mendapatkan Beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100% atau biaya UKT 0.

Fecia mengaku bersyukur bisa diterima kuliah gratis di UGM dan diterima di prodi yang sesuai dengan minatnya. Ia berterus terang bahwa kedua orang tuanyalah yang menjadi sosok inspiratifnya dalam meraih mimpi. Merekalah menjadi alasan bagi Fecia untuk terus berjuang,  tidak mudah menyerah dan terus berusaha untuk mendapatkan yang terbaik. “Mereka sudah berjuang banyak buat aku, sudah ngorbanin semuanya buat aku sampai apa ya cari uang ke mana-mana gitu,” terangnya.

Keberhasilan Fecia lolos kuliah di UGM ini disambut hangat oleh kedua orang tuanya. Puji berharap agar Fecia bisa menjalankan kuliah dengan lancar. Ia dan suaminya selalu memberikan dukungan. “Kami selalu mengajarkan Fecia untuk  selalu banyak berdoa, berusaha secara maksimal semampunya, dan memasrahkan hasil akhirnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” terang Puji.

Fecia berpesan kepada teman-teman seperjuangan, untuk tetap semangat dan optimis dalam meraih mimpi. Ia selalu percaya bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil. “Meskipun saya sendiri memiliki banyak kekurangan dan belajar kurang maksimal, saya percaya bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil,” pungkasnya.

Penulis/Foto : Fatihah Salwa Rasyid

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Cerita Fecia, Anak Buruh Tani Asal Semanu Merajut Mimpi Kuliah di UGM   pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-fecia-anak-buruh-tani-asal-semanu-merajut-mimpi-kuliah-di-ugm/feed/ 0
Sarat Prestasi, Anak Pedagang Ikan Keliling Wujudkan Mimpi Kuliah di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/sarat-prestasi-anak-pedagang-ikan-keliling-wujudkan-mimpi-kuliah-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/sarat-prestasi-anak-pedagang-ikan-keliling-wujudkan-mimpi-kuliah-di-ugm/#respond Fri, 17 Jul 2026 06:33:18 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95615 Impian ternyata tidak cukup hanya cukup disimpan dalam hati dan pikiran, namun harus dirawat dan diwujudkan menjadi kenyataan melalui kerja keras. Itulah yang dilakukan oleh Rofi Arif Robbani. Saat duduk di bangku SMA Negeri 1 Maos, Cilacap, Jawa Tengah,  ia mengisi hari-harinya dengan belajar, berorganisasi, melakukan penelitian, dan mengikuti berbagai kompetisi. Baginya, setiap tanggung jawab […]

Artikel Sarat Prestasi, Anak Pedagang Ikan Keliling Wujudkan Mimpi Kuliah di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Impian ternyata tidak cukup hanya cukup disimpan dalam hati dan pikiran, namun harus dirawat dan diwujudkan menjadi kenyataan melalui kerja keras. Itulah yang dilakukan oleh Rofi Arif Robbani. Saat duduk di bangku SMA Negeri 1 Maos, Cilacap, Jawa Tengah,  ia mengisi hari-harinya dengan belajar, berorganisasi, melakukan penelitian, dan mengikuti berbagai kompetisi. Baginya, setiap tanggung jawab harus diselesaikan dengan sebaik mungkin melalui skala prioritas yang jelas. Ketika harus menyelesaikan penelitian untuk Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) di tengah persiapan ujian akhir sekolah, ia memilih menuntaskan penelitian tersebut sebagai bentuk komitmen terhadap apa yang telah dimulai.

Kerja keras itu membuahkan hasil. Rofi berhasil mengoleksi delapan penghargaan mulai dari tingkat kabupaten, nasional, hingga internasional. Prestasi tersebut meliputi Juara Harapan 1 Tour Guide Competition Cilacap English Festival 2025, Juara 2 KRENOVA Masyarakat Kabupaten Cilacap, Juara Harapan 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah Pelita Fair 2023 Universitas Tidar, Juara 1 Festival ELINS FMIPA UGM 2024, Silver Medal Indonesia International Applied Science Project Olympiad (I2ASPO) 2023, serta Bronze Medal International Science and Invention Fair (ISIF) 2023, Youth International Science Fair (YISF) 2024, dan International Youth Business Competition (IYBC) 2024. Selain aktif mengikuti kompetisi, ia juga memimpin Duta Literasi Perpustakaan Griya Pasinaon dan menjadi anggota Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) di sekolahnya.

Di antara seluruh pencapaian tersebut, ada satu pengalaman yang paling membekas dalam ingatan Rofi. Jauh sebelum mengenakan jaket almamater UGM, ia lebih dulu menginjakkan kaki di kampus itu sebagai finalis Festival Elektronika dan Instrumentasi (ELINS) FMIPA UGM 2024. Saat berdiri di lingkungan kampus, ia berulang kali berkata dalam hati bahwa suatu hari nanti harus kembali ke tempat itu, bukan lagi sebagai peserta lomba, melainkan sebagai mahasiswa. Tekad tersebut semakin kuat ketika timnya berhasil meraih Juara 1. “Waktu datang ke FMIPA UGM saya benar-benar bilang ke diri sendiri, pokoknya saya harus keterima UGM bagaimana pun caranya,” tuturnya ketika ditemui Tim Pemberitaan Humas UGM,  Jumat (17/7).

Banyak teman sekolahnya mengira Rofi akan melanjutkan langkahnya di bidang sains atau rekayasa. Namun, ia justru memilih jalan yang berbeda. Ketertarikannya pada Psikologi lahir dari keinginan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental. Menurutnya, kesadaran mengenai kesehatan mental memang mulai tumbuh di kalangan generasi muda, tetapi masih diperlukan pemahaman yang lebih luas agar dapat diterima lintas generasi. Karena itu, selepas lulus nanti ia bercita-cita melanjutkan pendidikan profesi psikolog atau studi magister agar dapat berkontribusi meningkatkan mental health awareness dan membantu mengurangi konflik yang sering muncul akibat perbedaan cara pandang dalam keluarga.

Hingga pada suatu sore di rumahnya di Adipala, Cilacap. Sebelum membuka pengumuman SNBP, ia sengaja meminta ibunya segera pulang agar mereka dapat melihat hasilnya bersama. Di ruang tamu rumahnya, rasa cemas lebih dulu mengalahkan rasa percaya diri. Bahkan sebelum laman pengumuman terbuka, air matanya sudah mengalir karena membayangkan kemungkinan tidak diterima. Kekhawatiran itu seketika berubah menjadi haru saat layar menampilkan tulisan bahwa dirinya diterima di Fakultas Psikologi UGM. Yang pertama saya bilang waktu itu cuma, ‘Hah, keterima’,” kenang Rofi

Mimpinya sejak kecil untuk kuliah di UGM akhirnya kesampaian, ia dinyatakan diterima di Fakultas Psikologi UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Beberapa waktu setelah dinyatakan diterima di UGM, kebahagiaan keluarga kembali bertambah ketika Rofi mengetahui dirinya memperoleh UKT 0. Saat itu ia sedang berkumpul bersama teman-temannya dan sempat dibuat bingung ketika melihat nominal subsidi yang diberikan UGM. Setelah memastikan bahwa biaya kuliahnya benar-benar menjadi nol rupiah, ia langsung menghubungi ibunya melalui panggilan video. “Itu benar-benar sebuah berkah bagi kami. Saya jadi bisa kuliah dengan lebih tenang tanpa harus terlalu memikirkan biaya,” ucapnya.

Di balik perjalanan tersebut, ada sosok Hasan Ismail, ayah dari Rofi, yang setiap pagi berkeliling dari rumah ke rumah membawa dagangan ikan di wilayah Cilacap. Ada hari ketika dagangannya habis terjual, ada pula hari ketika sebagian harus dibawa pulang. Namun, ia tidak pernah berhenti berangkat. Baginya, bekerja adalah ikhtiar untuk memastikan anak-anaknya memperoleh kesempatan pendidikan yang lebih baik. “Yang penting saya usaha. Berapa pun hasilnya, itu rezeki kami,” katanya.

Hasan mengaku sempat heran ketika putranya yang masih kecil bercita-cita kuliah di UGM. Meski demikian, ia memilih mendukung mimpi tersebut sepenuh hati. Baginya, pendidikan merupakan jalan yang dapat membuka kesempatan lebih luas bagi masa depan anak-anaknya. Karena itu, rasa haru tak terbendung ketika mengetahui Rofi benar-benar diterima di kampus impiannya. “Saya tidak menyangka anak saya bisa diterima di UGM. Harapan saya, Rofi bisa kuliah dengan baik, terus berprestasi, dan memiliki masa depan yang lebih baik,” ungkapnya.

Perjalanan Rofi juga tidak lepas dari peran Suharti yang selama ini menjadi tempat pertama bagi putranya untuk berbagi cerita. Dukungan emosional yang diberikan sang ibu membuat Rofi mampu bangkit setiap kali menghadapi tekanan saat belajar maupun mengikuti kompetisi. Karena itu, ketika mengetahui putranya memperoleh subsidi UKT 100%, rasa syukur yang ia rasakan bukan semata karena terbantu secara finansial, melainkan karena Rofi dapat melangkah lebih tenang mengejar cita-citanya. “Saya sangat bersyukur, terima kasih UGM. UKT nol ini sangat membantu sehingga Rofi bisa lebih fokus belajar,” ujarnya.

Kini, kesempatan belajar di UGM dimaknai Rofi sebagai awal dari perjalanan baru. Ia ingin aktif mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan, memperluas jejaring, sekaligus menemukan cara terbaik agar ilmu yang dipelajarinya dapat memberi manfaat bagi masyarakat. Baginya, kuliah bukan sekadar mengejar gelar, tetapi kesempatan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang mampu membawa dampak positif bagi orang lain.

Dua belas tahun lalu, seorang anak kelas satu SD pernah mengucapkan kalimat sederhana tanpa benar-benar memahami maknanya. Hari ini, kalimat itu bukan lagi sekadar mimpi. Bagi Rofi, UGM menjadi bukti bahwa mimpi tidak pernah ditentukan oleh latar belakang keluarga, melainkan oleh keberanian untuk menjaganya tetap hidup. Karena itu, kepada anak-anak muda yang masih ragu mengejar cita-cita, ia menitipkan satu pesan. “Jangan pernah merasa mimpi kalian ketinggian. Jangan pernah merasa tidak punya kesempatan. Kesempatan itu akan selalu ada selama kita mau berusaha. Apa pun tantangannya, mulai saja dulu. Insyaallah apa yang dimulai dengan niat baik pasti akan mendapatkan hasil yang baik juga,” tutup Rofi.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Firsto

Artikel Sarat Prestasi, Anak Pedagang Ikan Keliling Wujudkan Mimpi Kuliah di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/sarat-prestasi-anak-pedagang-ikan-keliling-wujudkan-mimpi-kuliah-di-ugm/feed/ 0
Tak Menyerah pada Keterbatasan, Alifia Diterima Kuliah Gratis di UGM Lewat Beasiswa Paragon https://ugm.ac.id/id/berita/tak-menyerah-pada-keterbatasan-alifia-diterima-kuliah-gratis-di-ugm-lewat-beasiswa-paragon/ https://ugm.ac.id/id/berita/tak-menyerah-pada-keterbatasan-alifia-diterima-kuliah-gratis-di-ugm-lewat-beasiswa-paragon/#respond Fri, 17 Jul 2026 04:44:52 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95600 Menjadi anak sulung di dalam keluarga mengajarkan arti bertumbuh bersama harapan dan kesempatan untuk terus berkembang. Semangat itulah yang mengiringi perjalanan Alifia Citra Ayuningtyas hingga diterima sebagai mahasiswa baru Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Sejak kepergian sang ayah pada 2014, gadis yang kerap disapa Fia ini tumbuh bersama  ibunya yang membesarkannya dan […]

Artikel Tak Menyerah pada Keterbatasan, Alifia Diterima Kuliah Gratis di UGM Lewat Beasiswa Paragon pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Menjadi anak sulung di dalam keluarga mengajarkan arti bertumbuh bersama harapan dan kesempatan untuk terus berkembang. Semangat itulah yang mengiringi perjalanan Alifia Citra Ayuningtyas hingga diterima sebagai mahasiswa baru Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Sejak kepergian sang ayah pada 2014, gadis yang kerap disapa Fia ini tumbuh bersama  ibunya yang membesarkannya dan dua orang adiknya sebagai orang tua tunggal.

Sejak duduk di bangku sekolah, Fia memahami bahwa pendidikan menjadi salah satu cara untuk membuka lebih banyak peluang bagi dirinya dan keluarga. Tekad Fia untuk terus melanjutkan pendidikan membuka jalan bagi berbagai kesempatan. Salah satunya adalah beasiswa penuh yang ia peroleh saat diterima sebagai siswi SMA Unggulan CT ARSA Foundation. Tak hanya berhasil memperoleh beasiswa penuh, Fia juga aktif mengembangkan diri melalui berbagai kegiatan di sekolah. Ia terlibat dalam organisasi jurnalistik dan Dewan Ambalan VI Gudep SMA Unggulan CT ARSA Foundation, serta dipercaya menjadi English Ambassador SMA Unggulan CT ARSA Foundation. Selain aktif berorganisasi, Fia juga menorehkan prestasi dengan meraih Juara III Lomba Business Model Canvas.

Berbagai pengalaman selama menempuh pendidikan di SMA semakin memantapkan langkah Fia untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Berbekal prestasi akademik, pengalaman organisasi, serta semangat untuk terus berkembang, Fia memutuskan untuk melanjutkan studinya di UGM. Keberaniannya bermula dari SNBP, Fia mengambil bidang studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian di Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Meski belum berhasil lolos pada jalur tersebut, Fia tidak menjadikan penolakan itu sebagai akhir dari perjuangannya. Setelah melalui malam-malam yang diisi dengan belajar dan mempersiapkan diri, Fia kembali mencoba peruntungannya melalui jalur SNBT, dirinya dinyatakan lolos sebagai mahasiswa Agronomi Faperta UGM.

“Saya ingat, Jam 3 sore. Yang membukakan pengumuman saat itu adik saya, adik saya teriak ‘lolos kak, alhamdulillah!’. Bersyukur, saya lolos di pilihan agronomi,” ujarnya, Jumat (17/7).

Fia mengungkapkan salah satu alasan memilih UGM adalah pertimbangan kondisi ekonomi keluarganya. Menurutnya, berkuliah di Yogyakarta menjadi pilihan yang lebih terjangkau dibandingkan harus melanjutkan studi di luar daerah yang membutuhkan biaya tempat tinggal tambahan. Selain itu, UGM juga menawarkan berbagai program beasiswa yang dapat mendukung keberlanjutan pendidikannya.

Keberhasilan Fia menembus kuliah di UGM menjadi kebanggaan sekaligus rasa syukur bagi sang ibu, Martini. Sebagai orang tua tunggal, Martini mengaku perjalanan pendidikan kedua anaknya tidak selalu mudah. Dengan penghasilan yang terbatas dari pekerjaannya sebagai buruh lepas dan asisten rumah tangga, ia berupaya memberikan dukungan terbaik agar anak-anaknya dapat terus mengenyam pendidikan.

Martini mengatakan, kesempatan yang diperoleh Fia untuk bersekolah di SMA Unggulan CT ARSA Foundation hingga melanjutkan pendidikan ke UGM melalui dukungan beasiswa menjadi anugerah yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Menurutnya, berbagai bantuan tersebut telah membuka jalan bagi putrinya untuk terus mengejar cita-cita tanpa harus terbebani oleh kondisi ekonomi keluarga.

“Saya sangat bersyukur. Saya yang hanya bekerja sebagai buruh lepas dan asisten rumah tangga dengan penghasilan yang sangat terbatas. Alhamdulillah sekarang Fia bisa sampai di titik ini, diterima di UGM, masih mendapat dukungan, dan diperkenalkan dengan Paragon. Semoga Allah membalas semua kebaikan beliau-beliau,” tutur Martini dengan berderai air mata haru.

Meski beasiswa telah membuka jalan bagi Fia untuk melanjutkan pendidikan di UGM, Martini mengakui masih ada berbagai kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi. Biaya transportasi hingga kebutuhan selama perkuliahan menjadi hal yang masih dipikirkan keluarga. Namun, di tengah berbagai keterbatasan tersebut, ia memilih untuk tetap optimistis dan percaya bahwa akan selalu ada jalan.

“Kadang aduh gimana ya besok. Mungkin untuk beasiswanya dapat, untuk biayanya ya dari beasiswa, tetapi untuk kebutuhan sehari-hari seperti transportasi dari rumah, kan motornya cuma satu. Kalau mau ngekos pun harus ada biaya. Tapi bismillah saja dulu, bagaimana nanti Tuhan kasih jalan,” ujar Martini.

Bagi Martini, pendidikan selalu menjadi harapan terbesar yang ingin ia titipkan kepada anak-anaknya. Di tengah keterbatasan ekonomi yang dihadapi keluarga, ia berusaha memastikan bahwa keadaan tersebut tidak menghalangi mereka untuk memiliki cita-cita dan terus mengembangkan potensi diri. Menurutnya, pendidikan merupakan bekal penting yang dapat membuka lebih banyak kesempatan di masa depan.

Sebagai seorang ibu, Martini mengaku belum dapat memberikan fasilitas terbaik bagi anak-anaknya. Namun, ia selalu berusaha memberikan dukungan, doa, dan keyakinan bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menemukan jalannya. Ia juga kerap mengingatkan Fia untuk tidak menyerah hanya karena keadaan keluarga. Ia berharap Fia dapat meraih masa depan yang lebih baik melalui pendidikan. “Pokoknya harus punya mimpi untuk pendidikan yang lebih baik. Apa pun keadaan keluargamu, jangan pernah mematahkan mimpimu. Teruslah belajar dan mengejar apa yang kamu inginkan, apa yang kamu mimpikan,” ujar Martini.

Menutup ceritanya, Fia membagikan pesan kepada pelajar lain yang tengah berjuang meraih pendidikan tinggi. Ia berharap keterbatasan ekonomi tidak menjadi alasan untuk mengubur mimpi. Menurutnya, selalu ada kesempatan yang dapat diraih selama seseorang berani berusaha, membuka diri terhadap berbagai peluang, dan tidak takut untuk mencoba.”Keterbatasan ekonomi bukan berarti teman-teman harus membatasi impian. Tetap semangat dan jangan menyerah. Teman-teman masih punya banyak jalan dan akan bertemu dengan banyak orang baik yang bisa membantu, memberikan arahan, atau membuka kesempatan yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya,” ujar Fia.

Ia juga mengajak para pelajar untuk berani mengambil setiap kesempatan yang datang, meskipun hasilnya belum tentu sesuai harapan. Baginya, setiap pengalaman akan selalu membawa pelajaran yang berharga.

“Jangan takut untuk mencoba semua hal. Meskipun kita belum tahu hasilnya seperti apa, suatu hari nanti pengalaman itu akan menjadi cerita, penyemangat, atau membentuk karakter kita menjadi lebih kuat. Jadi, jangan takut bermimpi setinggi apa pun, karena selalu ada jalan bagi mereka yang terus berusaha,” tutupnya.

Kerja keras, ketekunan, dan tawakal yang dijalani Fia bersama sang ibu akhirnya membuahkan hasil. Selain berhasil diterima di UGM, Fia juga memperoleh beasiswa dari ParagonCorp melalui kolaborasinya dengan Universitas Gadjah Mada, Fia menerima bantuan dana awal sebesar Rp5 juta, laptop, pembiayaan uang kuliah hingga lulus, serta kesempatan mengikuti berbagai program pengembangan kepemimpinan.

Mewakili pimpinan universitas, Sekretaris Universitas (SU) UGM, Dr. Andi Sandi Antonius Tabusassa Tonralipu, menyampaikan apresiasi atas perjuangan Fia dan keluarganya. Menurutnya, kisah Fia menjadi bukti bahwa mimpi dapat diraih selama seseorang terus berusaha memperjuangkannya.”If you have a dream, you can fight for it. Kami mengucapkan selamat kepada Fia dan Ibu. Karena Fia adalah anak sulung, jangan jadikan itu sebagai beban, tetapi jadikan sebagai motivasi untuk menjadi teladan. Jangan pernah berkecil hati karena setiap orang memiliki talenta masing-masing. Sekarang jalannya sudah terbuka, tetapi ini bukan akhir dari perjuangan, melainkan titik tengah dari perjalanan yang masih panjang,” pungkas Andi.

Penulis : Zabrina Kumara

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Agito

Artikel Tak Menyerah pada Keterbatasan, Alifia Diterima Kuliah Gratis di UGM Lewat Beasiswa Paragon pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/tak-menyerah-pada-keterbatasan-alifia-diterima-kuliah-gratis-di-ugm-lewat-beasiswa-paragon/feed/ 0
Gigih Berjuang, Anak Petani Asal Pandowoharjo Tembus Teknik Kimia UGM https://ugm.ac.id/id/berita/gigih-berjuang-anak-petani-asal-pandowoharjo-tembus-teknik-kimia-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/gigih-berjuang-anak-petani-asal-pandowoharjo-tembus-teknik-kimia-ugm/#respond Wed, 15 Jul 2026 05:19:12 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95560 Siang itu, Prananingrum Hanondaru Wigaringtyas (18) berlari menuju sawah tempat ibunya bekerja. Perempuan yang akrab disapa Hanon itu membawa kabar yang telah lama dinantikan keluarganya. Ia lulus di terima kuliah di Program Studi Teknik Kimia UGM lewat jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Tidak hanya itu, Universitas Gadjah Mada memberikan subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) […]

Artikel Gigih Berjuang, Anak Petani Asal Pandowoharjo Tembus Teknik Kimia UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Siang itu, Prananingrum Hanondaru Wigaringtyas (18) berlari menuju sawah tempat ibunya bekerja. Perempuan yang akrab disapa Hanon itu membawa kabar yang telah lama dinantikan keluarganya. Ia lulus di terima kuliah di Program Studi Teknik Kimia UGM lewat jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Tidak hanya itu, Universitas Gadjah Mada memberikan subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar 100 persen sehingga ia dapat berkuliah tanpa sibuk memikirkan biaya UKT.

Hanon menceritakan, perjalanan menuju bangku kuliah tidak sepenuhnya mulus. Pasalnya, sejak sang ayah meninggal pada 2021, Hanon dibesarkan oleh sang ibu, Tri Andayani (53), yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. “Awalnya saya mendapat subsidi UKT sebesar 75 persen. Jadi waktu itu UKT saya berkisar Rp3.375.000. Jujur, jumlah itu masih berat bagi kami,” tutur Hanon, saat ditemui Tim Pemberitaan UGM di Dusun Toino, Pandowoharjo, Sleman, Rabu (15/7).

Meski telah memperoleh keringanan, biaya kuliah yang masih harus dibayarkan tetap terasa berat bagi keluarganya. Hanon tak pantang menyerah. Ditemani sang kakak, Pranasakti Yogaswara (30), ia mendatangi Departemen Teknik Kimia UGM untuk menanyakan kemungkinan aju banding UKT. Upaya tersebut akhirnya berbuah manis. Beberapa hari setelahnya, pihak universitas mengabulkan permohonan banding mereka. “Alhamdulillah hasilnya UKT saya turun menjadi 100 persen atau jadi gratis. Saat itu saya langsung lari mengunjungi ibu ke sawah dan bilang kalau UKT saya jadi nol rupiah,” kenang Hanon sembari menahan haru.

Di balik kabar yang dibawanya ke sawah siang itu, tersimpan perjalanan panjang yang telah dimulai Hanon sejak duduk di bangku SMA. Saat mengenyam pendidikan di SMAN 9 Yogyakarta, ia tak pernah membayangkan akan melanjutkan studi di Program Studi Teknik Kimia UGM. Kala itu, Hanon justru sempat melirik jurusan lain. Namun, pandangan Hanon perlahan kian berubah setelah ia berdiskusi dengan sang kakak, Pranasakti Yogaswara atau yang akrab disapa Yoga.

Berbeda dengan sebagian besar teman-temannya, menjelang SNBT, Hanon memilih belajar secara mandiri. Ia tidak pernah mengikuti bimbel atau les di luar karena tak ingin membebani ibunya dengan biaya tambahan. Sebagai gantinya, ia mengandalkan pendalaman materi di sekolah, belajar melalui YouTube, mengerjakan latihan soal dari internet, hingga berdiskusi dengan teman-temannya. “Kalau mau les juga kasihan sama ibu, biayanya mahal. Jadi saya mengandalkan pembelajaran di sekolah, nonton YouTube, cari soal di internet, atau nimbrung sama teman-teman yang lagi bahas soal,” kenang Hanon.

Meski tidak ikut bimbel, Hanon berhasil diterima di Program Studi Teknik Kimia UGM melalui jalur SNBT dengan skor rata-rata 730. Pada subtes Penalaran Matematika dan Pengetahuan Kuantitatif, ia bahkan meraih skor masing-masing 800.

Mengetahui putrinya diterima di UGM, Tri tak mampu menyembunyikan rasa haru. Ia menceritakan, setiap kali mengantar Hanon ke sekolah dan melintasi jalan yang memperlihatkan gedung UGM dari kejauhan, ia selalu memanjatkan doa agar kelak putrinya dapat menempuh pendidikan di kampus tersebut. Baginya, di tengah keterbatasannya sebagai orang tua tunggal, doa menjadi satu-satunya ikhtiar yang selalu ia panjatkan demi mendampingi perjuangan putrinya. “Saya tidak bisa membantu dia belajar atau membiayai bimbel di luar. Yang bisa saya lakukan hanya berdoa. Setiap mengantar sekolah, saya selalu berdoa semoga Hanon bisa kuliah di UGM. Alhamdulillah, sekarang doa kami dikabulkan,” ujar Triya sembari menyeka air mata.

Tak lupa, Tri berharap putrinya dapat memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Ia ingin agar putrinya dapat menjalani perkuliahan dengan tekun dan menyelesaikan pendidikannya hingga lulus. “UGM sudah memberi kemudahan kepada kami. Sekarang tinggal bagaimana dia membalasnya dengan prestasi. Semoga Hanon bisa memberikan hasil yang terbaik,” harap Triya.

Senada dengan sang ibu, bagi Hanon, keberhasilan diterima di UGM dan memperoleh subsidi UKT 100 persen bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Ia bertekad menjalani perkuliahan dengan sungguh-sungguh dan menyelesaikan studinya tepat waktu sebagai bentuk balas budi atas doa dan pengorbanan keluarga sekaligus pihak universitas yang telah memberikan keringanan. “Saya merasa ini adalah tanggung jawab. Saya sudah diberi kesempatan kuliah di UGM dan dibantu UKT sampai 100 persen, jadi saya harus benar-benar serius menjalani kuliah dan lulus tepat waktu,” tutupnya.

Penulis : Agito Sitepu

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Hanifah

Artikel Gigih Berjuang, Anak Petani Asal Pandowoharjo Tembus Teknik Kimia UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/gigih-berjuang-anak-petani-asal-pandowoharjo-tembus-teknik-kimia-ugm/feed/ 0