Lain-lain Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/category/lain-lain/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Fri, 28 Nov 2025 09:17:06 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 Teknologi Digital Membuka Kesempatan Menormalisasi Bentuk Perilaku Kekerasan https://ugm.ac.id/id/berita/teknologi-digital-membuka-kesempatan-menormalisasi-tindak-perilaku-kekerasan/ https://ugm.ac.id/id/berita/teknologi-digital-membuka-kesempatan-menormalisasi-tindak-perilaku-kekerasan/#respond Fri, 28 Nov 2025 09:08:59 +0000 https://ugm.ac.id/?p=87348 Fenomena anak dan remaja Indonesia terpapar radikalisme melalui platform digital kembali marak dan mendapat sorotan dari banyak pihak. Mengutip data media koran kompas, telah ditemukan 110 anak dari 23 provinsi di Indonesia teridentifikasi masuk dalam gerakan radikalisme. Bahkan lima diantaranya telah menjadi tersangka, dan  disebut berafiliasi ISIS. Penangkapan terhadap kelima tersangka menjadi fenomena mengejutkan, sekaligus […]

Artikel Teknologi Digital Membuka Kesempatan Menormalisasi Bentuk Perilaku Kekerasan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fenomena anak dan remaja Indonesia terpapar radikalisme melalui platform digital kembali marak dan mendapat sorotan dari banyak pihak. Mengutip data media koran kompas, telah ditemukan 110 anak dari 23 provinsi di Indonesia teridentifikasi masuk dalam gerakan radikalisme. Bahkan lima diantaranya telah menjadi tersangka, dan  disebut berafiliasi ISIS. Penangkapan terhadap kelima tersangka menjadi fenomena mengejutkan, sekaligus kontradiktif karena perekrutan dilakukan melalui melalui media populer seperti gim dan media sosial.

Fenomena inipun tak luput dari perhatian Hakimul Ikhwan, S.Sos., MA, Ph.D., selaku dosen Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada. Menurutnya, ditengah menurunnya isu global seperti perang Suriah dan lain-lain, isu radikalisme di akar rumput masih tetap saja terjadi. Fenomena saat ini, katanya, sungguh berbeda dengan isu radikalisme 5-10 tahun lalu, dimana isu radikalisme selalu terkait konteks global dan lain-lain. “Tapi kenyataan, hari ini fenomena radikalisme tetap saja tidak mengalami pengurangan atau terjadi pengenduran gerakan. Orang tetap saja bisa terpapar, bergabung, dan masuk ke dalam konstruk  berpikir radikal. Bagaimanapun situasinya kenyataan tidak ada indikasi pengurangan signifikan, dan tetap terjadi”, ungkapnya di Fisipol UGM, Jum’at (28/11).  

Paparan ideologi radikal, kata Hakimul Ikhwan, menjangkau di hampir semua usia. Bahkan anak-anak muda dengan usia 10-18 tahun, dan kasus terbaru terjadi di salah satu sekolah di Jakarta yang memuncak dengan menyerang dengan bom saat sembahyang hari Jum’at. 

Penyerangan ini, menurut Hakimul Ikhwan sebagai bentuk bagaimana ideologi radikal itu memengaruhi anak muda. Dilihat dari piramida radikalisasi yang terjadi, ia menjelaskan terdapat tiga tingkatan dalam radikalisasi. Pertama, tingkat puncak merupakan kelompok ideologis yang mana mereka bertindak karena paham yang mendalam. Kedua, tingkat tengah atau seekers merupakan kelompok pencari jati diri, dan mereka ini merupakan kelompok rentan yang dibentuk. Ketiga, merupakan kelompok paling bawah dengan jumlah terbanyak, dan mereka ini ikut karena lingkungan, rasa penasaran atau kesenangan. “Peran media digital tentunya sangat mempengaruhi anak-anak ini, karena mereka sebagai salah satu penggunanya,” jelas Hakimul. 

Tentu saja sangat memprihatinkan, karena begitu banyak ditemukan video game saat ini yang menormalisasi bentuk kekerasan, dan teknologi digital menyediakan ruang bagi internalisasi kekerasan dan pembelajaran untuk tindakan-tindakan berbahaya. Menurut Hakimul, normalisasi ini menjadi gerbang radikalisasi pada remaja yang sedang membangun identitas diri. “Teknologi digital, video game, segala instrumen teknologi ini memang dekat sekali dengan anak muda saat ini, dan tidak sedikit yang membuka ruang, kesempatan untuk mereka menormalisasi perilaku tindakan kekerasan”, tuturnya.

Hakimul menjelaskan algoritma di sosial media membentuk struktur berpikir yang sempit. Algoritma membombardir individu dengan konten sejenis sehingga menciptakan filter bubble, dan fenomena echo chamber terjadi akibat pengetahuan yang terbatas seperti kebenaran tunggal sehingga apa yang disediakan memantik sikap militan dan kebencian. Karena itu, guna menyikapi isu ini perlu adanya penanganan kolektif dari sekolah, pemerintah, keluarga, hingga masyarakat. “Radikalisasi anak melalui ruang digital adalah masalah nyata, kompleks, dan menuntut kerja bersama. Membangun masyarakat kritis merupakan perjalanan yang panjang. Karena itu, dengan kepedulian sosial kita bisa mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang nanti akan menjurus kepada tindakan yang ekstrim”, imbuhnya. 

Penulis: Jelita Agustine

Editor : Agung Nugroho

Foto : JurnalPost

Artikel Teknologi Digital Membuka Kesempatan Menormalisasi Bentuk Perilaku Kekerasan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/teknologi-digital-membuka-kesempatan-menormalisasi-tindak-perilaku-kekerasan/feed/ 0
Kemampuan Memahami informasi, Berpikir Kritis, dan Memanfaatkan Teknologi Kunci Literasi Remaja di Masa Depan https://ugm.ac.id/id/berita/kemampuan-memahami-informasi-berpikir-kritis-dan-memanfaatkan-teknologi-kunci-literasi-remaja-di-masa-depan/ https://ugm.ac.id/id/berita/kemampuan-memahami-informasi-berpikir-kritis-dan-memanfaatkan-teknologi-kunci-literasi-remaja-di-masa-depan/#respond Thu, 27 Nov 2025 02:58:17 +0000 https://ugm.ac.id/?p=87310 Media sosial ditengarai berkontribusi terhadap menurunnya minat baca masyarakat di Indonesia. Media sosial bahkan dinilai menjadi sumber distraksi utama, menggantikan kegiatan membaca buku dengan konten-konten yang lebih singkat dan visual. Belum lagi penggunaan bahasa yang santai dan kurang baku. Ironis memang, di tengah penurunan minat baca buku, sebagian besar masyarakat Indonesia justru menghabiskan waktu sangat […]

Artikel Kemampuan Memahami informasi, Berpikir Kritis, dan Memanfaatkan Teknologi Kunci Literasi Remaja di Masa Depan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Media sosial ditengarai berkontribusi terhadap menurunnya minat baca masyarakat di Indonesia. Media sosial bahkan dinilai menjadi sumber distraksi utama, menggantikan kegiatan membaca buku dengan konten-konten yang lebih singkat dan visual. Belum lagi penggunaan bahasa yang santai dan kurang baku. Ironis memang, di tengah penurunan minat baca buku, sebagian besar masyarakat Indonesia justru menghabiskan waktu sangat lama untuk menatap layar ponsel, dan mereka sering kali hanya untuk hiburan dan interaksi singkat di media sosial.

Guru Besar dan Pengamat Budaya Fakultas Ilmu Budaya UGM, Prof. Dr. Aprinus Salam, S.S., M.Hum menyatakan permasalahan menurunnya minat baca sesungguhnya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan keberadaan media sosial, namun lebih pada bagaimana cara generasi muda memanfaatkannya. Bagaimanapun media sosial memiliki potensi positif besar sepanjang dipergunakan secara tepat. “Pengaruhnya bisa baik, bisa kurang baik, tergantung bagaimana remaja memanfaatkannya. Minat baca masyarakat Indonesia memang rendah sejak dulu, dan itu bukan karena media sosial,” ujarnya di Kampus FIB UGM, Kamis (27/11).

Meski tidak sepenuhnya salah, upaya mengurangi penggunaan media sosial di kalangan remaja nampaknya perlu mendapat perhatian. Hanya saja, menurut Aprinus, pendekatannya tidak sesederhana dan semudah bisa dilakukan. Baginya, persoalan ini lebih berkaitan dengan strategi hidup, strategi sosial, dan strategi kebudayaan, dan perlu diperkuat dengan tradisi berpikir yang progresif dan prospektif baik pada generasi muda maupun generasi yang diatasnya (lebih dewasa). “Generasi yang lebih tua belum tentu juga cara berpikirnya lebih baik. Apalagi kalau tradisi berpikir yang kondusif tidak berhasil diwariskan, saya kira itu juga menunjukkan kegagalan generasi sebelumnya,” terangnya.  

Bagi Aprinus, dengan tradisi berpikir yang matang, media sosial justru dapat menjadi ruang dialog yang sehat, tempat berbagi gagasan, serta medium untuk memperkaya ilmu pengetahuan dan seni. Bahwa membaca tidak selalu berarti membuka buku fisik karena membaca sesungguhnya kegiatan memahami makna, informasi, dan fenomena. “Apapun medianya, karena menurutku yang terpenting bukan sekadar meningkatkan minat baca, tetapi membentuk kesadaran tentang apa yang dibaca dan bagaimana cara membacanya. Banyak hal penting ada di media sosial, dan banyak hal tidak penting justru ada di buku sehingga jelas persoalannya bukan tentang minat, tetapi cara membaca,” ungkapnya.

Aprinus pun terkadang mengaku heran banyak orang tua tidak memiliki tradisi membaca yang kuat, namun menuntut anak-anaknya untuk rajin membaca. Hal itu tentu menjadi tantangan, dan orang tua perlu untuk memperbaiki soal kebiasaan membacanya terlebih dahulu baru bisa menjadi teladan. “Memang beberapa sekolah saat ini mengembangkan strategi dan kurikulum yang mendorong siswa membaca secara rutin, namun pendekatan ini saya kira tetap tidak bisa mengesampingkan peran media sosial sebagai ruang belajar yang potensial. Sekolah justru perlu mengajarkan cara bagaimana memanfaatkan media sosial secara progresif dan produktif,” paparnya. 

Meski prihatin, kata Aprinus, pihak-pihak terkait mestinya tidak perlu mencemaskan karena setiap generasi memiliki tantangan dan cara penyelesaiannya sendiri-sendiri. Masing-masing generasi Alpha dan generasi setelahnya akan hidup dalam perkembangan teknologi yang jauh lebih kompleks, sementara pengalaman generasi sebelumnya dinilai tidak selalu relevan bagi masa depan mereka. Bahwa literasi remaja di masa depan tidak hanya diukur dari seberapa sering mereka membaca buku, tetapi dari kemampuan mereka memahami informasi, berpikir kritis, dan memanfaatkan teknologi untuk membangun peradaban yang lebih baik. “Saya kira tidak perlu terlalu berharap generasi yang lebih tua memberi pelajaran tentang masa depan. Masalah hidup mereka, dan apa yang akan dihadapi generasi mendatang jelas-jelas berbeda,” pungkasnya.

Penulis : Kezia Dwina Nathania

Editor : Agung Nugroho

Foto : Freepik.com

Artikel Kemampuan Memahami informasi, Berpikir Kritis, dan Memanfaatkan Teknologi Kunci Literasi Remaja di Masa Depan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kemampuan-memahami-informasi-berpikir-kritis-dan-memanfaatkan-teknologi-kunci-literasi-remaja-di-masa-depan/feed/ 0
Pakar UGM Menanggapi Soal Sikap Masyarakat Terhadap KUHAP Baru https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-menanggapi-soal-sikap-masyarakat-terhadap-kuhap-baru/ https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-menanggapi-soal-sikap-masyarakat-terhadap-kuhap-baru/#respond Wed, 26 Nov 2025 07:25:25 +0000 https://ugm.ac.id/?p=87259 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) telah resmi disahkan oleh DPR menjadi undang-undang. Selama proses pengesah, beragam respons dari masyarakat berdatangan. Tidak sedikit dari mereka merasa “was-was”  atas pengesahan ini, dan mereka menilai dengan pengesahan ini membuka ruang terhadap penyalahgunaan wewenang.  Dosen dan Pakar Hukum Pidana UGM, Dr. Sigid Riyanto, S.H., M.Si. turut merasakan kecemasan […]

Artikel Pakar UGM Menanggapi Soal Sikap Masyarakat Terhadap KUHAP Baru pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) telah resmi disahkan oleh DPR menjadi undang-undang. Selama proses pengesah, beragam respons dari masyarakat berdatangan. Tidak sedikit dari mereka merasa “was-was”  atas pengesahan ini, dan mereka menilai dengan pengesahan ini membuka ruang terhadap penyalahgunaan wewenang. 

Dosen dan Pakar Hukum Pidana UGM, Dr. Sigid Riyanto, S.H., M.Si. turut merasakan kecemasan terhadap pengesahan ini. Menurutnya segala hal baru harus selalu diwaspadai dan dipelajari. “Pertama, kita secara bersama menyiapkan diri, dan kita juga harus melihat bahwa yang namanya hukum itu tidak akan sempurna. Yang kedua, semua sudah ada mekanismenya, sehingga setiap kali ada pelanggaran hukum selalu ada mekanismenya” ungkapnya di Fakultas Hukum UGM, Rabu (26/11).  

Berbagai respons yang datang dari masyarakat perihal KUHAP baru ini, dalam pandangan Sigid, semua sebagai bagian dari proses demokrasi. Sebagai bagian dari sebuah proses demokrasi diharapkan ruang diskusi harus tetap dibuka untuk memberi kesempatan mereka melakukan kritik atau masukan. Secara pribadi, ia mengaku menghormati keduanya, baik para pembuat kebijakan maupun masyarakat. 

Para pihak terkait yang mengikuti proses pembuatan UU tersebut, dinilainya telah melakukan proses sesuai mekanisme hukum yang ada. Meski harus diakui segala bentuk produk hukum yang dihasilkan tidak selalu bisa memenuhi rasa puas masyarakat. Oleh karena itu, ia meyakini bahwa sikap yang harus dibangun dan dilakukan adalah tetap mengikuti prosesnya sembari tetap memberi kritik.

Terkait kemungkinan muncul celah terhadap penyalahgunaan kewenangan, Sigid menyebut ada tiga hal yang dapat mempengaruhi penegakan hukum di Indonesia, yaitu soal legal substance, legal culture, dan legal structure. Legal structure berbicara soal sumber daya manusia yang memiliki kemampuan intelektual, dan yang lebih penting lagi soal moralitas. Sementara itu, ia berharap ada perbaikan dari sisi budaya hukum. Ia sangat berharap masyarakat memperbaiki sikap agar bisa mematuhi hukum di saat Indonesia memiliki banyak persoalan. “Saya kira sumber daya manusia dari sisi moral lebih penting karena hukum sebaik apapun kalau dilaksanakan oleh orang yang tidak memiliki dedikasi secara hukum tidak ada gunanya,” ungkapnya. 

Menanggapi respons masyarakat terkait pasal karet yang tertuang dalam KUHAP baru, Sigid menyatakan undang-undang hukum pidana merupakan norma yang mengatur soal sesuatu yang diperbolehkan dan dilarang. Oleh karena itu, hukum yang berlaku telah jelas diatur dalam undang-undang. Jika melanggar tentu akan mendapat konsekuensinya. “Kalau tidak sesuai dengan aturan hukum kita punya hak untuk mempertahankan, supaya hak kita itu tetap dihitung. Kalaupun nanti prakteknya berbeda dengan teori, seperti saya katakan tadi, para penegak hukum diharapkan tidak mengabdi kepada penguasa, tapi mengabdi untuk kepentingan negara,” terangnya. 

Sementara itu, menanggapi soal kepercayaan masyarakat terkait peradilan pidana, Sigid menjelaskan langkah penggunaan asas diferensiasi fungsional untuk KUHAP sudah tepat. Sebab, melalui sistem tersebut diharapkan masing-masing lembaga memiliki kompetensi dan kewenangan yang sesuai dengan dengan apa yang diserahkan oleh negara kepada lembaga-lembaga yang bersangkutan. “Jadi memang, untuk negara yang maju seharusnya diferensiasi fungsional itu menjadi penting. Jangan sampai nanti ada suatu lembaga yang otoritasnya itu banyak sekali. Nah, agar tidak terjadi hal tersebut, masing-masing lembaga ditempatkan sesuai dengan kewenangan dari lembaga-lembaga masing-masing,” tuturnya. 

Penulis : Salwa

Editor : Agung Nugroho

Foto : Amnesty International Indonesia

Artikel Pakar UGM Menanggapi Soal Sikap Masyarakat Terhadap KUHAP Baru pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-menanggapi-soal-sikap-masyarakat-terhadap-kuhap-baru/feed/ 0
Pakar UGM: Lapisan Lempung Biru Picu Longsor Banjarnegara https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-lapisan-lempung-biru-picu-longsor-banjarnegara/ https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-lapisan-lempung-biru-picu-longsor-banjarnegara/#respond Sat, 22 Nov 2025 23:45:44 +0000 https://ugm.ac.id/?p=87115 Ancaman banjir bandang akibat terbentuknya bendung tanah (landslide dam) kini menjadi fokus utama peringatan Tim Geologi – Disaster Emergency Response  Unit UGM (DERU UGM). Hal tersebut diingatkan setelah bersama Tim Kodim dan BPBD menemukan beberapa  rekahan baru yang terus bergerak, dan sumber mata air berdebit besar (0.2 m /detik) di puncak bukit lokasi longsor di […]

Artikel Pakar UGM: Lapisan Lempung Biru Picu Longsor Banjarnegara pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Ancaman banjir bandang akibat terbentuknya bendung tanah (landslide dam) kini menjadi fokus utama peringatan Tim Geologi – Disaster Emergency Response  Unit UGM (DERU UGM). Hal tersebut diingatkan setelah bersama Tim Kodim dan BPBD menemukan beberapa  rekahan baru yang terus bergerak, dan sumber mata air berdebit besar (0.2 m /detik) di puncak bukit lokasi longsor di Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara. Kedua temuan ini menandakan bahwa tubuh lereng tengah mengalami kejenuhan air ekstrem yang dapat memicu pergerakan  massa tanah secara tiba-tiba.

Pakar Geologi UGM, Prof. Dwikorita Karnawati, menegaskan aliran air dari sumber mata air baru tersebut berpotensi terakumulasi di balik material longsor lama, membentuk kolam alami yang sewaktu-waktu bisa jebol. “Ancaman longsor susulan masih mengintai warga Desa Pandanarum, dan risiko banjir bandang kini meningkat secara signifikan,” ujarnya Minggu (23/11).

Rekahan baru yang muncul, menurut Dwikorita, mempercepat infiltrasi air hujan ke dalam massa tanah pada  lereng. Ketika tekanan air pori meningkat, material yang sebelumnya stabil dapat terdorong turun dan menutup alur sungai kecil di bawahnya. Kondisi ini merupakan skenario klasik terbentuknya bendung tanah yang rawan jebol. Apabila dinding bendung tersebut tidak mampu menahan volume air yang terus bertambah, pelepasan tiba-tiba bisa mengakibatkan arus bandang berkecepatan tinggi menuju permukiman di zona bawahnya. “Jika bendungan tanah itu jebol, alirannya tidak hanya membawa lumpur tetapi seluruh material  longsoran yang sebelumnya,” terangnya.

Jika ini terjadi, Dwikorita memperkirakan dampaknya bisa jauh lebih luas dan kuat dibanding longsor awal, karena dipicu oleh desakan air kolam seluas lapangan sepakbola dg kedalaman sekitar 1.5 m jelasnya. Bahaya ini semakin diperparah oleh keberadaan lapisan lempung biru (blue clay) yang miring ke arah luar lereng, yang ditemukan di bawah zona rekahan. Lapisan ini mengandung  mineral lempung seperti montmorillonite, smectite, dan illite, yang sangat sensitif untuk mengembang bila terkena air. Saat kering ia sekeras batu, namun ketika jenuh air berubah menjadi material mirip pasta gigi yang sangat licin. “Lempung biru ini dalam.terminologi geologi disebut serpih, membuat tumpukan  tanah di atasnya mudah bergerak  dan mempercepat terjadinya longsor berulang. Begitu jenuh air, kekuatan lempung tersebut hilang drastis,” jelas Dwikorita.

Keberadaan lapisan lempung biru inilah, menurut Dwikorita, yang menjadi penyebab gerakan tanah di Pandanarum tidak berhenti. Bahkan terus bertambah meskipun longsor besar telah terjadi, dan kombinasi antara rekahan baru, mata air berdebit besar, dan lapisan lempung biru menjadikan kondisi lereng sangat labil. Melihat situasi ini, Tim Geologi UGM menilai bahwa prioritas utama saat ini adalah mencegah bertambahnya volume air di balik material longsor. “Langkah darurat seperti pembuatan sudetan pada tumpukan endapan longsor ,sebagai drainase sementara sangat penting untuk mengurangi tekanan air. Jika tidak, risiko jebolnya bendung tanah akan semakinakultas besar,” tegas Dwikorita.

Ia juga meminta masyarakat tidak beraktivitas di dasar tebing, bantaran sungai kecil, lembah sempit, maupun jalur aliran air yang berpotensi menjadi lintasan banjir bandang. Dengan curah hujan tinggi beberapa hari terakhir, dan tingginya debit aliran mata air pada lereng mahkota longsoran, tekanan air pori di dalam lereng diperkirakan terus meningkat. “Keselamatan harus lebih diutamakan. Menghindarlah dari area bawah lereng dan segera laporkan jika muncul rekahan baru atau aliran air yang tidak biasa. Bahaya di Pandanarum bukan hanya longsor, tetapi juga kemungkinan banjir bandang yang dapat terjadi mendadak,” tutupnya.

Penulis : Agung Nugroho

Foto : Kompas

Artikel Pakar UGM: Lapisan Lempung Biru Picu Longsor Banjarnegara pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-lapisan-lempung-biru-picu-longsor-banjarnegara/feed/ 0
Perluas Pendidikan Gerontik, Upaya Meningkatkan Kompetensi Perawat Lansia https://ugm.ac.id/id/berita/perluas-pendidikan-gerontik-upaya-meningkatkan-kompetensi-perawat-lansia/ https://ugm.ac.id/id/berita/perluas-pendidikan-gerontik-upaya-meningkatkan-kompetensi-perawat-lansia/#respond Thu, 20 Nov 2025 08:54:45 +0000 https://ugm.ac.id/?p=87067 Angka lanjut usia atau lansia di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat.Peningkatan ini tentunya berdampak pada pemberian layanan kesehatan, termasuk kondisi para perawat lansia dan salah satunya menyangkut standar kompetensi  yang perlu mendapat perhatian. Wakil Ketua Umum Bidang Hukum dan Perlindungan Lansia Pengurus Besar Persatuan Wredatma RI (PWRI) Adhi Santika bahkan menyebut standar kompetensi […]

Artikel Perluas Pendidikan Gerontik, Upaya Meningkatkan Kompetensi Perawat Lansia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Angka lanjut usia atau lansia di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat.Peningkatan ini tentunya berdampak pada pemberian layanan kesehatan, termasuk kondisi para perawat lansia dan salah satunya menyangkut standar kompetensi  yang perlu mendapat perhatian. Wakil Ketua Umum Bidang Hukum dan Perlindungan Lansia Pengurus Besar Persatuan Wredatma RI (PWRI) Adhi Santika bahkan menyebut standar kompetensi perawat untuk usia lanjut di Indonesia saat ini masih menitikberatkan pada aspek kesehatan. Mereka belum sepenuhnya menjangkau aspek multidimensi. 

Dr. dr. Probosuseno, SpPD,K-Ger staf pengajar FKKMK UGM, dokter spesialis penyakit dalam subspesialis geriatri (lansia) sekaligus pakar kesehatan lansia UGM merasa prihatin dan turut berpendapat guna mengurai persoalan ini. Menurutnya hingga saat ini belum banyak perawat lansia yang kompeten, dan belum banyak yang memiliki pendidikan khusus. Karenanya, ia kerap kali mengadakan pelatihan untuk perawat lansia agar mereka lebih kompeten di bidangnya. “Ini memerlukan keterampilan khusus, dan mereka perlu mendapat bekal itu,” ucapnya di FKKMK UGM, Kamis (19/11). 

Probosuseno menyebut jika Indonesia terlambat memiliki perawat dengan standar yang kompeten akan berdampak pada kualitas kesehatan lansia. Sebagaimana hukum berlaku umum, jika pengetahuannya kurang dan keterampilan kurang berakibat tidak berkualitas. Begitu pun sebaliknya, jika perawat berkualitas maka kondisi lansia pun turut berkualitas. “Menyangkut standar kompetensi ini maka profesi perawat mengikuti ketentuan standar dari Ikatan Perawat Gerontik Indonesia (IPEGERI)), dimana disetiap tahunnya selalu meningkatkan mutu standar,” terangnya.  

Probosuseno merasa prihatin karena praktik di lapangan dalam konteks merawat lansia tidak sepenuhnya ditangani para lulusan program keperawatan. Bahkan Fakta memperlihatkan terkadang mereka yang merawat adalah para lulusan S1 atau S2 bidang ilmu sosial yang notabene tidak memiliki latar belakang ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Karena itu, ia mengusulkan agar pemerintah menggalakkan pendidikan terkait perawat gerontik serta memperluas jangkauan pendidikan tersebut guna meningkatkan mutu standar perawat lansia. “Lewat Menteri Kesehatan, lewat pendidikan, supaya keperawatan gerontik digalakkan, lalu diperluas dengan melibatkan organisasi profesi,” usulnya.  

Penulis : Salwa

Editor : Agung Nugroho

Foto : Freepik

Artikel Perluas Pendidikan Gerontik, Upaya Meningkatkan Kompetensi Perawat Lansia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/perluas-pendidikan-gerontik-upaya-meningkatkan-kompetensi-perawat-lansia/feed/ 0
Pengamat UGM: Insiden Ledakan SMAN 72 Jakarta Murni Reaksi Personal https://ugm.ac.id/id/berita/pengamat-ugm-insiden-ledakan-sman-72-jakarta-murni-reaksi-personal/ https://ugm.ac.id/id/berita/pengamat-ugm-insiden-ledakan-sman-72-jakarta-murni-reaksi-personal/#respond Fri, 14 Nov 2025 10:37:35 +0000 https://ugm.ac.id/?p=86839 Suasana khidmat ibadah Jum’at siang (7/11) di masjid sekolah SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara sontak berubah menjadi kekacauan setelah bom meledak di lokasi tersebut. Beberapa siswa yang tengah sembahyang pun terluka dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Tidak terlalu lama dari peristiwa, polisi telah mengantongi satu siswa sekolah tersebut sebagai tersangka pelaku, […]

Artikel Pengamat UGM: Insiden Ledakan SMAN 72 Jakarta Murni Reaksi Personal pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Suasana khidmat ibadah Jum’at siang (7/11) di masjid sekolah SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara sontak berubah menjadi kekacauan setelah bom meledak di lokasi tersebut. Beberapa siswa yang tengah sembahyang pun terluka dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Tidak terlalu lama dari peristiwa, polisi telah mengantongi satu siswa sekolah tersebut sebagai tersangka pelaku, dan penetapan sebagai pelaku berdasarkan hasil pemeriksaan sejumlah saksi dan temuan bukti yang dimiliki. 

Dunia pendidikan tentu dibuat terkejut atas peristiwa tersebut. Bahkan beberapa pihak lain dibuat heran dan bingung dengan tindakan ekstrem yang dilakukan seorang siswa SMA tersebut. Pertanyaan-pertanyaan pun bermunculan terkait hidup sang pelaku menyangkut kondisi sosial, psikologis, dan pendidikan yang dijalaninya selama ini. Ironis memang, karena sang pelaku adalah siswa bersekolah yang masih di bawah umur. Bahkan beberapa sumber informasi mengatakan pelaku peledakan diduga korban perundungan yang tak memiliki ruang aman untuk berlindung. Begitu tidak terbukanya terhadap permasalahan bullying yang dihadapinya, ia pada akhirnya mengalami repressing psikis yang menimbulkan perasaan dikeluarkan dari komunitas, tidak dihargai, dan dikucilkan.  

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, AB. Widyanta, S.Sos., M.,A menyatakan memandang kasus peledakan di SMA Negeri 72 Jakarta bisa dilakukan dengan dua sudut pandang yaitu perspektif sosiologis dan psikososial. Dalam pandangannya tekanan psikologis yang dialami seorang anak tidak muncul dari ruang hampa melainkan akumulasi dari persoalan sosial yang menumpuk dan terinternalisasi. Dampak daripada bullying, disebutnya, berimplikasi pada perasaan-perasaan individual dan perasaan personal yang sangat mendalam. “Sehingga yang dihidupi oleh dia itu rasa sakit hati, rasa ada amarah yang mendalam. Tetapi juga ada rasa keinginan untuk balas dendam. Implikasi yang bisa dilihat kan muncul agresivitas karena terstimulasi peristiwa bullying yang dialami sang anak,” ucap Widyanta di Fisipol UGM, Jum’at (14/11).

Sebagai pengamat, Widyanta menilai fenomena ini sebagai kasus pertama di Indonesia. Tindakan ekstrem yang dilakukan oleh anak, dinilainya murni tanpa ada kaitan dengan kelompok radikal atau ideologi tertentu. “Saya menilai ini murni reaksi personal terhadap kekerasan lingkungan, yang difasilitasi oleh teknologi digital,” terangnya. 

Ketidakmampuan keluarga memenuhi kebutuhan afeksi, sekolah yang terjebak dalam kompetisi pasar, serta negara yang gagal melindungi anak dari paparan digital berbahaya, dalam pendapat Widyanta sebagai faktor yang saling bertautan. Oleh karena itu, ia sangat berharap kehadiran dan peran keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara. “Anak ini korban, dan ia tumbuh dalam ekosistem yang mereproduksi kekerasan,” jelasnya. 

Terhadap kasus ini, Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia sudah seharusnya turut bertanggung jawab, dan agar tidak terulang kembali maka berbagai akses yang seharusnya tidak bisa diakses oleh anak-anak dibatasi. Bahkan jika perlu tidak dengan mudahnya bisa dibuka atau dikonsumsi oleh anak-anak. “Bagaimanapun Komdigi yang berwenangan mengatur soal ini yaitu tentang teknologi digital. Jangan lagi bertindak ceroboh dengan membiarkan anak-anak bisa mengakses link-link yang berbasis kekerasan, atau bahkan yang namanya judol, pinjol, dan segalanya. Jangan dibiarkan”, ungkapnya.

Widyanta menandaskan kasus ini semestinya menjadi peringatan keras bagi seluruh pemangku kepentingan untuk meninjau ulang sistem pendidikan dan struktur sosial yang ada. Menurutnya diperlukan pendekatan jangka panjang yang berfokus pada kesejahteraan keluarga, lingkungan belajar yang manusiawi, dan literasi digital kritis bagi generasi muda. “Dari kasus ini, anak ini adalah cermin dari sebuah cermin yang remuk, dan kita semua ini adalah cermin yang remuk juga”, tandasnya. 

Penulis: Jelita Agustine

Editor : Agung Nugroho

Foto : Hukumonline

Artikel Pengamat UGM: Insiden Ledakan SMAN 72 Jakarta Murni Reaksi Personal pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/pengamat-ugm-insiden-ledakan-sman-72-jakarta-murni-reaksi-personal/feed/ 0
UGM Dorong Peran Generasi Muda Hadapi Krisis Masa Depan Lewat Kompetisi Intelektual Upchance 2025 https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dorong-peran-generasi-muda-hadapi-krisis-masa-depan-lewat-kompetisi-intelektual-upchance-2025/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dorong-peran-generasi-muda-hadapi-krisis-masa-depan-lewat-kompetisi-intelektual-upchance-2025/#respond Thu, 24 Jul 2025 02:27:26 +0000 https://ugm.ac.id/?p=81104 Berbagai tantangan keberlanjutan global seperti krisis iklim, degradasi lingkungan, hingga ketimpangan sosial ekonomi kini tak bisa lagi dibiarkan tanpa respon nyata. Dunia memerlukan generasi baru yang berani berpikir kritis dan mampu menjawab persoalan lintas sektor dengan pendekatan yang berkelanjutan. Universitas Gadjah Mada menjawab tantangan ini melalui Upchance 2025, sebuah kompetisi nasional yang membuka ruang bagi […]

Artikel UGM Dorong Peran Generasi Muda Hadapi Krisis Masa Depan Lewat Kompetisi Intelektual Upchance 2025 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Berbagai tantangan keberlanjutan global seperti krisis iklim, degradasi lingkungan, hingga ketimpangan sosial ekonomi kini tak bisa lagi dibiarkan tanpa respon nyata. Dunia memerlukan generasi baru yang berani berpikir kritis dan mampu menjawab persoalan lintas sektor dengan pendekatan yang berkelanjutan. Universitas Gadjah Mada menjawab tantangan ini melalui Upchance 2025, sebuah kompetisi nasional yang membuka ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan solutif berbasis intelektualitas. Melalui kegiatan ini, UGM ingin mendorong partisipasi publik dalam membangun masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan.

Upchance 2025 diselenggarakan oleh Unit Penalaran Ilmiah Interdisipliner (UPII) UGM dan akan berlangsung dari 13 Juli hingga 13 September 2025. Kompetisi ini terbuka untuk siswa SMA, mahasiswa, dan masyarakat umum yang memiliki kepedulian terhadap isu-isu keberlanjutan. Mengusung tema ‘Integrasi Kajian Intelektual dalam Inklusi Sustainability: Peran Akademika Membentuk Fondasi Holistik Kini dan Nanti’, Upchance mengajak peserta untuk berkontribusi lewat analisis yang tajam dan perspektif lintas disiplin. Kompetisi ini menjadi wujud nyata komitmen UGM dalam mengembangkan ekosistem pengetahuan yang terlibat aktif menjawab tantangan zaman.

Tahun ini, Upchance 2025 menghadirkan empat kategori lomba utama, yaitu lomba orasi publik untuk masyarakat umum, esai untuk siswa SMA, esai untuk mahasiswa, dan lomba business plan berbasis pendekatan circular supply chain. Masing-masing kategori dirancang untuk menggali potensi intelektual dan kreativitas dari berbagai latar belakang peserta. Kompetisi ini tidak hanya menjadi panggung ekspresi gagasan, tetapi juga sarana membangun jejaring dan kolaborasi antargenerasi dan antarbidang ilmu. Dengan format yang terbuka dan inklusif, Upchance menjadi wadah strategis untuk menyuarakan ide keberlanjutan secara konkret.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, panitia juga menyiapkan sesi talkshow interdisipliner yang menghadirkan pembicara dari berbagai bidang keilmuan. Talkshow ini akan membahas beragam strategi keberlanjutan dari perspektif akademik hingga praktik lapangan. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkaya pemahaman peserta mengenai kompleksitas isu keberlanjutan serta membuka ruang dialog antar pemangku kepentingan. Acara puncak berupa grand final dan awarding akan diselenggarakan secara luring di Gedung GIK UGM pada 13 September 2025 sebagai bentuk apresiasi atas ide dan gagasan terbaik.

Pendaftaran kompetisi Upchance 2025 dibuka hingga 9 Agustus 2025 dan dapat diakses melalui tautan: bit.ly/PendaftaranUpchance2025. Seluruh peserta akan memperoleh e-sertifikat sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi aktif mereka dalam kompetisi ini. Pemenang dari masing-masing kategori akan mendapatkan hadiah menarik serta peluang eksposur di tingkat nasional. Informasi lengkap mengenai mekanisme lomba tersedia di guidebook resmi: bit.ly/GuidebookUpchance2025 atau melalui akun Instagram resmi: @upchance_ugm.


Penulis : Kezia Dwina Nathania
Foto : UPII UKM Penalaran dan Penelitian

Editor : Triya Andriyani

 

Artikel UGM Dorong Peran Generasi Muda Hadapi Krisis Masa Depan Lewat Kompetisi Intelektual Upchance 2025 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dorong-peran-generasi-muda-hadapi-krisis-masa-depan-lewat-kompetisi-intelektual-upchance-2025/feed/ 0
Guru Besar FTP UGM Prof. Supriyanto Meninggal Dunia https://ugm.ac.id/id/berita/guru-besar-ftp-ugm-prof-supriyanto-meninggal-dunia/ https://ugm.ac.id/id/berita/guru-besar-ftp-ugm-prof-supriyanto-meninggal-dunia/#respond Mon, 07 Oct 2024 08:57:21 +0000 https://ugm.ac.id/?p=71324 Sivitas akademika Universitas Gadjah Mada kembali berduka. Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM kehilangan salah satu guru besarnya, Prof. Dr. Ir. Supriyanto, M.S., pada Sabtu (5/10) pukul 20.27 WIB di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Almarhum dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga UGM di Sawitsari, Sleman, pada Minggu (6/10) siang setelah sebelumnya disemayamkan di Balairung, Gedung Pusat […]

Artikel Guru Besar FTP UGM Prof. Supriyanto Meninggal Dunia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sivitas akademika Universitas Gadjah Mada kembali berduka. Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM kehilangan salah satu guru besarnya, Prof. Dr. Ir. Supriyanto, M.S., pada Sabtu (5/10) pukul 20.27 WIB di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Almarhum dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga UGM di Sawitsari, Sleman, pada Minggu (6/10) siang setelah sebelumnya disemayamkan di Balairung, Gedung Pusat UGM.

“Kita telah kehilangan sosok yang menginspirasi dan berdedikasi, baik bagi FTP maupun UGM dan hari ini kita hadir di sini untuk menyampaikan penghormatan terakhir bagi beliau,” ucap Dekan FTP UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc. 

Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Dr. M. Baiquni, M.A. turut menyampaikan ucapan belasungkawa. Ia menyebut bahwa sosok yang sempat menjabat sebagai Kepala Laboratorium Rekayasa Proses FTP UGM tersebut dikenal sebagai sosok yang ramah dan sabar sehingga senantiasa memberikan kenyamanan bagi lingkungannya. 

Baiquni menjelaskan bahwa almarhum telah dikukuhkan bersama sang istri, Prof. Dr. Ir. Agnes Murdiati, M.S., sebagai guru besar FTP UGM, tepatnya pada 26 November 2019. Pada momentum yang bertepatan dengan peringatan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-41, almarhum menyampaikan pidato pengukuhan berjudul “Perkembangan Pengolahan Biji Kakao dan Perspektif Baru Hasil Olahan Kakao Sebagai Sumber Antioksidan Alami”. 

Dalam pidatonya tersebut, beliau menyebutkan biji kakao berpotensi sebagai sumber antioksidan alami sebab mengandung senyawa polifenol yang cukup tinggi. Meskipun demikian, Supriyanto menyebut bahwa kandungan polifenol itu dapat berkurang selama pengolahan biji kakao. Menurutnya, kehilangan total polifenol yang lebih besar terjadi pada proses penyangraian. Oleh sebab itu, untuk mempertahankan senyawa polifenol selama pengolahan biji kakao perlu diupayakan. 

“Pada kesempatan ini, saya mewakili keluarga UGM menyampaikan terima kasih mendalam bagi komitmen dan dedikasi beliau, utamanya dalam kelembagaan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Segenap amalan ilmu dan karya beliau, semoga menjadi pembuka jalan bagi pengembangan ilmu pengetahuan masa depan,” pungkasnya. 

Penulis : Lazuardi

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Guru Besar FTP UGM Prof. Supriyanto Meninggal Dunia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/guru-besar-ftp-ugm-prof-supriyanto-meninggal-dunia/feed/ 0
Guru Besar UGM Prof Moch. Sja’bani Berpulang https://ugm.ac.id/id/berita/guru-besar-ugm-prof-moch-sjabani-berpulang/ https://ugm.ac.id/id/berita/guru-besar-ugm-prof-moch-sjabani-berpulang/#respond Fri, 04 Oct 2024 12:28:11 +0000 https://ugm.ac.id/?p=71257 Duka mendalam kembali dirasakan keluarga besar Universitas Gadjah Mada. Salah satu guru besar terbaik di bidang penyakit dalam, Prof. Dr. dr. H. R. Mochammad Sja’bani Mardjopranoto, Sp.PD-KGH, M.Med.Sc, dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan meninggal dunia pada hari Rabu (2/10) pukul 11.49 WIB WIB dalam usia 78 tahun. Segenap keluarga dan puluhan civitas UGM […]

Artikel Guru Besar UGM Prof Moch. Sja’bani Berpulang pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Duka mendalam kembali dirasakan keluarga besar Universitas Gadjah Mada. Salah satu guru besar terbaik di bidang penyakit dalam, Prof. Dr. dr. H. R. Mochammad Sja’bani Mardjopranoto, Sp.PD-KGH, M.Med.Sc, dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan meninggal dunia pada hari Rabu (2/10) pukul 11.49 WIB WIB dalam usia 78 tahun.

Segenap keluarga dan puluhan civitas UGM melepas almarhum ke peristirahatan terakhir di Pemakaman Keluarga Universitas Gadjah Mada. Sejumlah pejabat dan pimpinan, dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa menyampaikan duka mendalam kepada keluarga saat disemayamkan di Balairung UGM, Kamis (3/10).

Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., menyampaikan kedukaan mendalam dan mengajak seluruh sivitas untuk memanjatkan doa dan penghormatan terakhir kepada almarhum. “Semoga Almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT serta diterima segala amal ibadahnya. Dan semoga keluarga yang ditinggalkan, senantiasa diberikan kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan,” ujarnya.

Baiquni turut mengenang Prof. Sja’bani sebagai pribadi yang ramah dan sabar sehingga senantiasa memberikan kenyamanan, baik di lingkungan akademis maupun lingkungan kerja sebagai dokter spesialis penyakit dalam ginjal. Beliau adalah sosok yang tekun dan gigih dalam memberikan kontribusinya terhadap bidang keilmuan yang ia dalami. 

Prof. Sja’bani diangkat sebagai guru besar pada Rapat Terbuka Universitas pada tanggal 14 April 2001 lalu. Pada kesempatan kala itu, beliau menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Pencegahan Kekambuhan Batu Ginjal Jenis Batu Kalsium Idiopatik”. Dalam pidato tersebut disampaikan kebiasaan-kebiasaan kecil, seperti menjaga pola makan dan minum, sangat berpengaruh bagi kesehatan ginjal. Kebiasaan tersebut ialah minum dua gelas air mineral yang dicampur dengan dua jeruk nipis sesudah makan malam dapat mengurangi risiko penyakit yang dialami oleh kantong kemih. Kebiasaan itu dapat meningkatkan nilai kadar dan total sitrat, peningkatan kadar dan total kalium, menurunkan rasio kalium terhadap sitrat dan meningkatkan volume air kemih malam dan 24 jam.

Selain itu, Sja’bani juga menyampaikan bahwa  kebiasaan makan bila telah lapar dan berhenti makan sebelum kenyang dan tidak mengkonsumsi protein secara berlebihan. Dengan melakukan dua kebiasaan tersebut, serta mengurangi konsumsi garam, mengonsumsi kalsium dengan jumlah yang cukup, dan mengonsumsi protein rendah fosfat, diharapkan dapat menurunkan atau mencegah kekambuhan batu ginjal kalium idiopatik.

Penulis : Tiefany

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

 

Artikel Guru Besar UGM Prof Moch. Sja’bani Berpulang pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/guru-besar-ugm-prof-moch-sjabani-berpulang/feed/ 0
Rektor UGM Periode 2007- 2012 Prof. Sudjarwadi Berpulang https://ugm.ac.id/id/berita/rektor-ugm-periode-2007-2012-prof-sudjarwadi-berpulang/ https://ugm.ac.id/id/berita/rektor-ugm-periode-2007-2012-prof-sudjarwadi-berpulang/#respond Sat, 10 Aug 2024 22:38:22 +0000 https://ugm.ac.id/?p=69217 Rektor Universitas Gadjah Mada periode 2007-2012 Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D., meninggal dunia pada hari Sabtu, 10 Agustus 2024 pada pukul 21.48 WIB di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM pada usia 77 tahun. Almarhum dimakamkan di pemakaman keluarga di Cawas, Klaten, pada hari Minggu (11/8) pada pukul 12.30 WIB. Sebelumnya, jenazah akan disemayamkan di Balairung Gedung  […]

Artikel Rektor UGM Periode 2007- 2012 Prof. Sudjarwadi Berpulang pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Rektor Universitas Gadjah Mada periode 2007-2012 Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D., meninggal dunia pada hari Sabtu, 10 Agustus 2024 pada pukul 21.48 WIB di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM pada usia 77 tahun.

Almarhum dimakamkan di pemakaman keluarga di Cawas, Klaten, pada hari Minggu (11/8) pada pukul 12.30 WIB. Sebelumnya, jenazah akan disemayamkan di Balairung Gedung  Pusat UGM pada pukul 08.00 hingga pukul 09.30 WIB untuk mendapatkan penghormatan terakhir dan pelepasan dari Keluarga Besar Universitas Gadjah Mada.

Prof. Sudjarwadi dikenal sebagai sosok yang berdedikasi tinggi dalam dunia pendidikan, terutama dalam upaya memajukan UGM sebagai universitas terkemuka. Selama masa jabatannya sebagai Rektor, beliau banyak memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan institusi, termasuk peningkatan mutu pendidikan dan penguatan jejaring internasional UGM. “Keluarga Besar Universitas Gadjah Mada mengucapkan turut berduka cita yang mendalam atas kepergian beliau. Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan serta ketabahan,” ungkap Rektor UGM Prof. Ova Emilia.

Selamat jalan, Prof. Sudjarwadi. Karya dan dedikasi Prof. Sudjarwadi akan selalu kami kenang dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.

Artikel Rektor UGM Periode 2007- 2012 Prof. Sudjarwadi Berpulang pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/rektor-ugm-periode-2007-2012-prof-sudjarwadi-berpulang/feed/ 0