Liputan/Berita Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/category/liputan-berita/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Wed, 26 Aug 2026 08:17:19 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 Eksplorasi Karya dan Literasi di Jakal Design Week  https://ugm.ac.id/id/berita/eksplorasi-karya-dan-literasi-di-jakal-design-week/ https://ugm.ac.id/id/berita/eksplorasi-karya-dan-literasi-di-jakal-design-week/#respond Wed, 26 Aug 2026 08:17:19 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96930 Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada kembali menghadirkan GIK Exhibition Series untuk edisi kedua pada 2026. Mengusung semangat kolaborasi lintas disiplin, rangkaian pameran ini yang berlangsung pada 21 agustus hingga 21 september mendatang di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Jakal Design Week (JDW). GIK Exhibition Series […]

Artikel Eksplorasi Karya dan Literasi di Jakal Design Week  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada kembali menghadirkan GIK Exhibition Series untuk edisi kedua pada 2026. Mengusung semangat kolaborasi lintas disiplin, rangkaian pameran ini yang berlangsung pada 21 agustus hingga 21 september mendatang di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Jakal Design Week (JDW).

GIK Exhibition Series kali ini menghadirkan pameran Escape Reloaded: Generations Numerique bersama Institut Francais, Artbuff: Concept Art Exhibition bersama Ortholab, International Postcard Exhibition bersama IAI, Arsitektur UGM, dan JDW.

Selain itu, ada pula rangkaian pameran Print Street: Street Furniture Showcase bersama YYAF dan Autoconz, Desingn: Dosa dan Kebisingan Industri bersama YYAF, Menaut Waktu dan Merekam Jejak bersama Jay Afrisando, KITLV, serta Semesta Buku Jogja: Book Festival bersama Semesta Buku Gramedia.

Jay Afrisando, seorang kurator dan seniman menjelaskan bahwa pameran kali ini salah satunya berangkat dari masih kuatnya stigma terhadap disabilitas. Menurutnya, disabilitas masih kerap dipandang sebagai sesuatu yang harus disembuhkan, diperbaiki, atau dikoreksi sebagai bagian dari perspektif kolonial. “Salah satunya karena disabilitas masih dipandang sebagai stigma, sebagai sesuatu yang harus disembuhkan, diperbaiki, atau dikoreksi sebagai bagian dari perspektif kolonial,” ujar Jay.

Alasan menghadirkan kembali sejarah disabilitas karena sampai kini masih kurang dikenali dan diteliti. Selain itu, acara yang dikemas lewat pameran arsip dan kontraarsip kolaboratif tersebut juga menjadi bagian dari upaya untuk melakukan mendekolonisasi disabilitas. Upaya tersebut, sambung Jay, dilakukan dengan melihat kembali bagaimana pengetahuan dan praktik mengenai disabilitas selama ini dibentuk melalui konsep normalitas dan tubuh normal. “Di sini, kami juga ingin menghadirkan sejarah disabilitas di Indonesia yang masih kurang dikenali dan kurang diteliti,” jelasnya.

Lalu pameran Menaut Waktu dan Merekam Jejak, menghadirkan acara bertajuk “Desingn: Dosa dan Kebisingan Industri” yang berkolaborasi dengan Yogyakarta Young Architects Forum (YYAF). Pameran yang berada di Selasar GYM Lantai 2, GIK UGM,  tersebut juga mencoba melihat kembali persoalan yang berada di balik praktik arsitektur, termasuk dampak dan persoalan yang kerap luput dari perhatian publik. Salah seorang kolaborator, Zul, menyebut bahwa karya yang dihadirkan berupaya merepresentasikan dosa yang berada di balik praktik pembangunan. “Suatu rumah, di baliknya selalu ada dosa yang tidak terlihat. Nah, ini kita cuma mau melihat itu dan merepresentasikan,” jelasnya.

Rangkaian pameran yang menggandeng sebelas mitra kolaborator dalam delapan pameran ini tidak berdiri sebagai kegiatan tunggal, melainkan menjadi bagian dari Jakal Design Week (JDW). Melalui rangkaian tersebut, berbagai praktik kreatif dan kolaborasi lintas disiplin dihadirkan untuk memperkuat ekosistem seni, desain, dan literasi. Kehadiran GIK Exhibition Series ini pun tidak sekadar menjadi ruang apresiasi karya, tetapi juga membuka ruang interaksi dan perjumpaan antara pelaku kreatif dengan publik.

Penulis : Agito Sitepu

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Salwa

Artikel Eksplorasi Karya dan Literasi di Jakal Design Week  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/eksplorasi-karya-dan-literasi-di-jakal-design-week/feed/ 0
Terpilih di Nuclear Innovation Bootcamp, Mahasiswa UGM Pelajari Pengembangan PLTN di Kanada https://ugm.ac.id/id/berita/terpilih-di-nuclear-innovation-bootcamp-mahasiswa-ugm-pelajari-pengembangan-pltn-di-kanada/ https://ugm.ac.id/id/berita/terpilih-di-nuclear-innovation-bootcamp-mahasiswa-ugm-pelajari-pengembangan-pltn-di-kanada/#respond Mon, 24 Aug 2026 02:59:14 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96876 Mahasiswa Program Studi Teknik Nuklir UGM, Marchelino Chrisrichy Cosmo Hutama, berhasil terpilih untuk mengikuti Nuclear Innovation Bootcamp (NIB) 2026 yang diselenggarakan oleh Nuclear Innovation Alliance pada 26 Juli – 8 Agustus 2026 di McMaster University, Hamilton, Ontario, Kanada. Marchelino merupakan satu-satunya peserta asal Indonesia di antara 26 peserta terpilih dari 13 negara yang berpartisipasi dalam […]

Artikel Terpilih di Nuclear Innovation Bootcamp, Mahasiswa UGM Pelajari Pengembangan PLTN di Kanada pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Mahasiswa Program Studi Teknik Nuklir UGM, Marchelino Chrisrichy Cosmo Hutama, berhasil terpilih untuk mengikuti Nuclear Innovation Bootcamp (NIB) 2026 yang diselenggarakan oleh Nuclear Innovation Alliance pada 26 Juli – 8 Agustus 2026 di McMaster University, Hamilton, Ontario, Kanada. Marchelino merupakan satu-satunya peserta asal Indonesia di antara 26 peserta terpilih dari 13 negara yang berpartisipasi dalam program ini.

Nuclear Innovation Bootcamp 2026 mengusung tema “Nuclear Excitation in Canada and Beyond” yang menangkap semangat pesatnya kemajuan sistem energi nuklir serta menantang para peserta untuk berinovasi di garis depan kebangkitan teknologi ini. Kegiatan ini bertujuan melatih keterampilan peserta secara komprehensif untuk berinovasi di bidang energi nuklir sambil melaksanakan proyek kelompok yang dibimbing langsung oleh para ahli. Nuclear Innovation Bootcamp tahun ini diikuti oleh 26 peserta dengan latar belakang yang beragam, terdiri atas 8 mahasiswa sarjana, 12 mahasiswa pascasarjana, dan 6 profesional muda.

Marcelino mengatakan keikutsertaannya dalam Nuclear Innovation Bootcamp ini, dirinya berkesempatan memperdalam keilmuannya di bidang teknik nuklir melalui sesi pembelajaran di kelas, perancangan proyek, dan kunjungan lapangan ke berbagai fasilitas nuklir di Ontario, Kanada. Dalam kunjungan lapangan, Marchelino mempelajari secara langsung sistem manajemen energi dan pemanfaatan reaktor riset di lingkungan kampus melalui kunjungan ke fasilitas reaktor nuklir riset dan laboratorium pemanenan energi McMaster University. “Kita mempelajari siklus bahan nuklir, sejarah, dan pemanfaatan reaktor Canada Deuterium Uranium dalam menghasilkan energi listrik di Kanada,” katanya, Senin (24/8).

Marchelino menuturkan, Kanada merupakan salah satu pemimpin global dalam teknologi nuklir berkat pengembangan reaktor. Reaktor ini memiliki karakteristik unik karena dapat menggunakan uranium alam sebagai bahan bakar dan deuterium oksida (air berat) sebagai moderator sehingga pengoperasiannya tidak bergantung pada pengayaan uranium seperti yang dibutuhkan oleh banyak desain reaktor lainnya.

Selain itu, Marchelino juga berkesempatan mengamati proses pembangunan Small Modular Reactor (SMR) di Darlington, yang merupakan proyek SMR pertama yang sedang dibangun di Kanada dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2030.

Tak hanya itu, Marchelino juga berkesempatan mempelajari desain dan sistem pengelolaan limbah nuklir melalui penyimpanan geologi dalam di Pusat Demonstrasi Pengelolaan Limbah Nuklir milik The Nuclear Waste Management Organization (NWMO) Kanada. Selanjutnya, Marchelino juga melakukan kunjungan ke fasilitas milik Westinghouse Canada yang menguji komponen eVinci, mikroreaktor nuklir generasi lanjut untuk aplikasi di lokasi terpencil. Di fasilitas ini, ia dikenalkan dengan berbagai komponen dan instrumen yang digunakan dalam perakitan reaktor nuklir.

“Mengikuti Nuclear Innovation Bootcamp menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya dan perjalanan karier saya. Mungkin selama kuliah saya lebih banyak mempelajari teori, tetapi di sini saya dapat mengamati dan mempelajari secara langsung bagaimana sistem energi nuklir diterapkan dalam kehidupan nyata,” ujarnya.

Selama bootcamp ini, Marchelino juga merancang proyek inovasi nuklir bersama dua rekannya, Mubin Hossain Omio dari Bangladesh dan Maxwell Patterson dari Amerika Serikat. Proyek yang mereka beri nama “RADIAVIS” ini merupakan sebuah platform deteksi radiasi yang ringkas, terjangkau, dan mudah digunakan, yang mengintegrasikan sistem deteksi radiasi canggih dengan perangkat lunak untuk memvisualisasikan radiasi secara real-time dalam bentuk 3D melalui teknologi AR/VR yang dapat diakses melalui gawai pengguna.

Proyek ini mereka kembangkan sejak minggu pertama bootcamp dan dipresentasikan pada hari terakhir dalam kompetisi pitching antarpeserta. Meskipun harus bersaing dengan tim-tim lainnya, RADIAVIS mendapatkan banyak apresiasi karena dinilai logis dan realistis untuk diterapkan, memiliki manfaat yang luas, serta menawarkan potensi pasar yang menjanjikan.“Inovasi ini sangat layak direalisasikan karena memiliki potensi pasar yang besar. Fasilitas nuklir dapat memanfaatkannya untuk memantau keselamatan dan keamanan sumber radioaktif, sekaligus mendukung upaya pencegahan proliferasi nuklir,” ujar Joe Zic, Chief Nuclear Officer, McMaster University.

Bagi Marchelino, pengalaman meninjau langsung pembangkit listrik tenaga nuklir di Kanada menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan akademik dan profesionalnya. Selain dapat memperdalam pengetahuan dan mengembangkan kemampuan di bidang nuklir, program ini juga membuka berbagai peluang baru bagi perjalanan kariernya di masa mendatang melalui bimbingan langsung dari para ahli dan jejaring yang kuat dengan sesama peserta dari berbagai negara.

Ia berharap pengalaman yang diperolehnya melalui NIB 2026 dapat menginspirasi mahasiswa Indonesia untuk terus berinovasi dan mengembangkan karya-karya kreatif demi mendukung kemajuan teknologi nuklir di Indonesia dan dunia.

Penulis : Jelita Agustine

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Marchelino

Artikel Terpilih di Nuclear Innovation Bootcamp, Mahasiswa UGM Pelajari Pengembangan PLTN di Kanada pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/terpilih-di-nuclear-innovation-bootcamp-mahasiswa-ugm-pelajari-pengembangan-pltn-di-kanada/feed/ 0
UGM dan ACU Sepakat Bangun Riset Kesejahteraan Manusia dan Etika AI https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-acu-sepakat-bangun-riset-kesejahteraan-manusia-dan-etika-ai/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-acu-sepakat-bangun-riset-kesejahteraan-manusia-dan-etika-ai/#respond Fri, 21 Aug 2026 06:16:18 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96829 Universitas Gadjah Mada dan Australian Catholic University (ACU) memperkuat kolaborasi pengembangan Human Flourishing Center atau Pusat Penelitian Kesejahteraan Manusia. Pengembangan pusat penelitian ini  diarahkan untuk menghasilkan riset, inovasi, serta solusi berbasis masyarakat yang dapat memberikan dampak sosial terukur. Dalam konteks pengembangan kecerdasan artifisial, UGM menekankan pentingnya memastikan teknologi tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. Hal itu […]

Artikel UGM dan ACU Sepakat Bangun Riset Kesejahteraan Manusia dan Etika AI pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada dan Australian Catholic University (ACU) memperkuat kolaborasi pengembangan Human Flourishing Center atau Pusat Penelitian Kesejahteraan Manusia. Pengembangan pusat penelitian ini  diarahkan untuk menghasilkan riset, inovasi, serta solusi berbasis masyarakat yang dapat memberikan dampak sosial terukur. Dalam konteks pengembangan kecerdasan artifisial, UGM menekankan pentingnya memastikan teknologi tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan.

Hal itu mengemuka dalam UGM–ACU Human Flourishing Dialogue dan Indonesia–Australia AI Roundtable di Balai Senat UGM, Kamis (20/8). Forum ini membahas pengembangan Human Flourishing Center sekaligus mendiskusikan peluang, risiko, etika, dan tata kelola kecerdasan artifisial yang berorientasi pada manusia. Dialog ini menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya dalam merumuskan agenda kolaborasi yang berdampak bagi masyarakat.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menyampaikan Human Flourishing Center menjadi platform yang menghubungkan pendidikan, penelitian, inovasi, pengabdian kepada masyarakat, dan kebijakan publik.Rektor menyinggung soal pengembangan AI dalam memperkuat kapasitas dan kompetensi manusia. Menurutnya, teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti penilaian maupun tanggung jawab manusia, melainkan sebagai instrumen untuk mendukung kehidupan manusia secara lebih baik. Indonesia dan Australia memiliki peluang untuk berkontribusi dalam membangun model pengembangan AI yang bertanggung jawab, etis, dan inklusif di kawasan. “AI yang berpusat pada manusia harus berfungsi untuk meningkatkan kemampuan manusia, bukan menggantikan penilaian manusia dan bukan pula mengurangi tanggung jawab manusia,” tegasnya.

Vice-Chancellor and President ACU, Prof. Zlatko Skrbis, mengajak peserta melihat human flourishing sebagai gagasan yang telah menjadi pertanyaan manusia selama ribuan tahun. Ia mengutip pemikiran filsuf Yunani, Socrates dan Aristoteles, tentang kehidupan yang baik serta pentingnya hubungan manusia dengan orang lain. Kehidupan yang berkembang secara utuh, menurut Zlatko, tidak dapat dilepaskan dari relasi, persahabatan, komunitas, serta kondisi material yang memungkinkan manusia menjalani kehidupan dengan baik. “Tidak ada satu model global tentang human flourishing yang dapat begitu saja diterapkan. Setiap tradisi dan setiap tempat membawa pemahamannya sendiri,” tuturnya.

Pengalaman Indonesia juga dinilai memberikan perspektif penting dalam memahami human flourishing. Zlatko menyoroti kuatnya relasi sosial dan rasa kebersamaan yang ia temukan ketika berkunjung ke Indonesia, dibandingkan kecenderungan individualisasi yang berkembang di sejumlah masyarakat Barat. Hubungan sosial, kepercayaan, dan koneksi antarmanusia menjadi bagian penting dalam menciptakan masyarakat yang stabil, kreatif, dan tangguh. Kolaborasi UGM dan ACU diharapkan menjadi ruang bagi kedua institusi untuk saling belajar mengenai faktor-faktor yang memungkinkan manusia dan masyarakat berkembang secara utuh.

Pembahasan human flourishing kemudian berlanjut pada pertanyaan mengenai posisi manusia di tengah perkembangan kecerdasan artifisial. Zlatko menilai AI tidak semata-mata merupakan persoalan teknologi, melainkan juga menyentuh cara manusia memahami dirinya sendiri serta bagaimana hubungan sosial dibentuk. Perkembangan AI membawa pertanyaan yang lebih mendasar mengenai tujuan dan peran manusia dalam dunia yang semakin dipengaruhi teknologi. “Yang menjadi inti persoalan bukan teknologinya, melainkan sisi antropologis dari integrasi teknologi,” jelasnya.

Perspektif tersebut diperkuat dalam diskusi akademik yang menghadirkan Prof. Michael Champion dari ACU. Pengembangan AI perlu ditempatkan dalam kerangka yang mempertimbangkan dampaknya terhadap pendidikan, institusi, dan kehidupan masyarakat. Diskusi juga menyoroti pentingnya melihat perubahan yang dibawa AI secara sistemik, termasuk bagaimana teknologi memengaruhi proses pengambilan keputusan dan hubungan manusia dengan institusi. Dalam forum tersebut, pengembangan AI ditempatkan sebagai bagian dari agenda yang lebih luas untuk memastikan teknologi memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.

Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, dalam penutupannya, menegaskan kembali pentingnya menempatkan manusia sebagai pusat pengembangan teknologi. AI dan teknologi perlu digunakan untuk mempermudah kehidupan manusia serta memperkuat kualitas hidup dan kesempatan yang setara. Dalam konteks Indonesia, nilai-nilai Pancasila dapat menjadi kompas moral dalam memastikan perkembangan AI tetap memperhatikan martabat manusia, tanggung jawab, partisipasi, dan keadilan sosial. “AI dan teknologi seharusnya membuat kehidupan manusia lebih mudah, bukan bersaing dengan atau menggantikan kemanusiaan,” ujarnya.

Forum tersebut selanjutnya mengarahkan pembahasan pada sejumlah agenda kolaborasi yang dapat dikembangkan UGM dan ACU. Beberapa bidang yang disebut dalam penutupan kegiatan meliputi kesehatan mental, smart farming, digital agriculture, serta pengembangan human-centred AI. Agenda tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan keahlian akademik dengan berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat. “Area-area ini memberikan kesempatan untuk menggabungkan keahlian akademik dengan tantangan sosial yang nyata dan menguji apakah kolaborasi kita dapat menghasilkan perubahan publik yang terukur,” kata Danang.

UGM–ACU Human Flourishing Dialogue dan Indonesia–Australia AI Roundtable menjadi bagian dari upaya memperkuat Human Flourishing Center sebagai platform kolaborasi lintas disiplin dan lintas sektor. Hasil forum diarahkan untuk ditindaklanjuti melalui pengembangan agenda pendidikan dan penelitian bersama, penguatan jejaring, serta identifikasi prioritas kolaborasi yang memiliki dampak nyata. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempertemukan perspektif akademik, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan organisasi keagamaan dalam menjawab tantangan perkembangan teknologi dan pembangunan manusia.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Donnie

 

Artikel UGM dan ACU Sepakat Bangun Riset Kesejahteraan Manusia dan Etika AI pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-acu-sepakat-bangun-riset-kesejahteraan-manusia-dan-etika-ai/feed/ 0
Peringati HUT ke-81 RI, UGM Teguhkan Semangat Merakyat, Mandiri, dan Berkelanjutan https://ugm.ac.id/id/berita/peringati-hut-ke-81-ri-ugm-teguhkan-semangat-merakyat-mandiri-dan-berkelanjutan/ https://ugm.ac.id/id/berita/peringati-hut-ke-81-ri-ugm-teguhkan-semangat-merakyat-mandiri-dan-berkelanjutan/#respond Mon, 17 Aug 2026 03:58:14 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96698 Universitas Gadjah Mada memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia melalui upacara bendera yang berlangsung pada Senin (17/8). Upacara tahun ini mengusung semangat refleksi atas makna kemerdekaan dengan tema nasional ‘Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur’. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi penanda dimulainya rangkaian Dies Natalis ke-77 UGM. Dalam upacara tersebut, UGM juga memberikan sejumlah […]

Artikel Peringati HUT ke-81 RI, UGM Teguhkan Semangat Merakyat, Mandiri, dan Berkelanjutan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia melalui upacara bendera yang berlangsung pada Senin (17/8). Upacara tahun ini mengusung semangat refleksi atas makna kemerdekaan dengan tema nasional ‘Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur’. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi penanda dimulainya rangkaian Dies Natalis ke-77 UGM. Dalam upacara tersebut, UGM juga memberikan sejumlah penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusi sivitas akademika serta mitra yang turut memperkuat kiprah universitas. Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D menyampaikan bahwa peringatan kemerdekaan menjadi ruang untuk kembali meneguhkan komitmen bersama dalam mengisi kemerdekaan melalui pembangunan yang berdaulat, berkeadilan, dan menyejahterakan masyarakat.

Kemerdekaan, menurut Rektor, merupakan gerbang baru bagi perjalanan bangsa yang perlu diisi dengan pembangunan yang berdaulat dan berkeadilan. Pembangunan tersebut perlu dilandasi semangat persatuan, gotong royong, dan toleransi sebagai bagian dari kehidupan kebangsaan. Kedaulatan juga menjadi fondasi bagi bangsa untuk mengoptimalkan kekuatan dan potensi yang dimiliki secara mandiri. Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk terus menghadirkan ilmu pengetahuan dan karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat. “Kemerdekaan merupakan pintu gerbang baru perjalanan bangsa yang wajib diisi dengan pembangunan berdaulat, berkeadilan dan dijiwai semangat persatuan, gotong-royong, serta toleransi kebangsaan,” ujar Rektor.

Rektor  menyampaikan bahwa UGM terus mengambil peran sebagai lokomotif perubahan dan transformasi sosial di tengah kompleksitas perkembangan nasional maupun global. Peran tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan tridarma perguruan tinggi yang diarahkan untuk menghasilkan dampak nyata bagi kesejahteraan rakyat. Nilai merakyat, mandiri, dan berkelanjutan menjadi semangat yang terus ditumbuhkembangkan dalam berbagai karya dan kontribusi UGM. Menurutnya, nilai tersebut sekaligus menjadi pijakan UGM dalam menghadirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa. “Kita semua patut bersyukur sebab UGM senantiasa menjadi lokomotif untuk perubahan dan transformasi sosial di tengah kompleksitas perkembangan ekosistem nasional dan global,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, UGM memberikan penghargaan kepada Hermawan Kartajaya atas kontribusinya dalam perumusan dan peneguhan semangat nilai ‘Merakyat, Mandiri, Berkelanjutan’ yang menjadi pesan penting bagi UGM. Hermawan Kartajaya dikenal sebagai sosok yang turut merumuskan tagline tersebut bagi UGM. Rektor menyampaikan apresiasi atas kecintaan dan kontribusinya terhadap UGM meskipun Hermawan bukan merupakan alumni UGM. Kontribusi tersebut dipandang menjadi bagian dari upaya memperkuat pesan bahwa UGM hadir untuk memberikan solusi dan dampak nyata bagi masyarakat. “Terkhusus kepada Bapak Hermawan Kartajaya, kami mengucapkan terima kasih,” tutur Rektor.

Penghargaan juga diberikan kepada para dosen dan tenaga kependidikan pegawai negeri sipil UGM yang menerima Satya Lancana Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan kepada mereka yang telah menunjukkan kesetiaan, kejujuran, kecakapan, dan kedisiplinan dalam menjalankan tugas dan pengabdian di lingkungan UGM. Sebanyak 53 orang menerima penghargaan tersebut, terdiri atas 18 penerima Satya Lancana Karya Satya 30 tahun, 15 penerima 20 tahun, dan 20 penerima 10 tahun. Rektor menyampaikan bahwa penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi dan kesungguhan sivitas akademika dalam menjalankan peran bagi universitas.

Penghargaan berikutnya diberikan kepada para penggagas Wanagama Nusantara di Ibu Kota Nusantara (IKN), yakni Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM Wawan Mas’udi, Ph.D., Dekan Fakultas Kehutanan UGM Ir. Sigit Sunarta, S.Hut., M.P., M.Sc., Ph.D., IPU., serta Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Fakultas Kehutanan UGM Prof. Ir. Widiyatno, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPM. Wanagama Nusantara dikembangkan sebagai pusat riset, inovasi, dan pengembangan berkelanjutan yang dipelopori UGM. Pengembangan kawasan tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung konsep Forest City sekaligus merespons tantangan perubahan iklim global. Inisiatif tersebut juga mencerminkan kontribusi UGM dalam mendorong kemandirian, kedaulatan, dan pembangunan berkelanjutan.

Wanagama Nusantara dikembangkan dari Hutan Pendidikan Wanagama dengan luasan 621 hektare sebagai living laboratory masa depan. Kawasan tersebut diarahkan menjadi ruang riset lintas disiplin yang mencakup berbagai bidang, antara lain lingkungan dan biodiversitas, green blue economy, future government, serta digital society, health and longevity. Pengembangan ini memperluas peran UGM dalam menghadirkan ekosistem riset dan inovasi yang relevan dengan tantangan masa depan. Bagi UGM, kontribusi tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi dalam menjaga keberlanjutan dan menghadirkan ilmu pengetahuan yang berdampak. “UGM terus mengembangkan isu-isu yang relevan di bidang pangan, energi, kesehatan, maupun bidang sains dan teknologi,” tutur Rektor.

Upacara peringatan HUT ke-81 RI tersebut sekaligus membuka rangkaian Dies Natalis ke-77 UGM yang mengusung tema ‘Tumbuh Bersama Berdampak Bersama’. Tema tersebut merefleksikan semangat sinergi dan kolaborasi dalam mengembangkan UGM melalui karya dan inovasi di bidang tridarma perguruan tinggi. Pembukaan rangkaian Dies Natalis menjadi momentum untuk memperkuat semangat kebersamaan seluruh sivitas universitas dan pemangku kepentingan UGM. Rektor berharap seluruh rangkaian kegiatan Dies Natalis nantinya dapat menjadi ruang untuk memperkuat kontribusi universitas dalam menjawab tantangan bangsa. “Momentum pembukaan rangkaian kegiatan Dies Natalis hari ini sekaligus menjadi perwujudan doa dan pengharapan bersama untuk kelancaran seluruh agenda dan menjadi pemantik semangat baru bagi kita semua, untuk terus berkarya serta berinovasi dengan penuh keteguhan sebagai bagian dari perjuangan misi kemerdekaan,” pungkas Rektor.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Firsto dan Donnie

Artikel Peringati HUT ke-81 RI, UGM Teguhkan Semangat Merakyat, Mandiri, dan Berkelanjutan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/peringati-hut-ke-81-ri-ugm-teguhkan-semangat-merakyat-mandiri-dan-berkelanjutan/feed/ 0
UGM Dorong Transformasi Sistem Pangan melalui Pendekatan Lintas Sektor https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dorong-transformasi-sistem-pangan-melalui-pendekatan-lintas-sektor/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dorong-transformasi-sistem-pangan-melalui-pendekatan-lintas-sektor/#respond Sat, 15 Aug 2026 02:37:05 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96651 Universitas Gadjah Mada melalui Pusat Unggulan Antar Perguruan Tinggi (PUAPT) Food Security menyelenggarakan Lokakarya Sistem Pangan untuk memperkuat pemahaman sivitas akademika mengenai sistem pangan dan pertanian serta strategi transformasinya. Kegiatan yang berlangsung Jumat (14/8) ini menjadi ruang pembelajaran mengenai prinsip dan pilar agri-food systems, tantangan pengembangan sistem pangan berkelanjutan, serta kebutuhan koordinasi lintas sektor dalam […]

Artikel UGM Dorong Transformasi Sistem Pangan melalui Pendekatan Lintas Sektor pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada melalui Pusat Unggulan Antar Perguruan Tinggi (PUAPT) Food Security menyelenggarakan Lokakarya Sistem Pangan untuk memperkuat pemahaman sivitas akademika mengenai sistem pangan dan pertanian serta strategi transformasinya. Kegiatan yang berlangsung Jumat (14/8) ini menjadi ruang pembelajaran mengenai prinsip dan pilar agri-food systems, tantangan pengembangan sistem pangan berkelanjutan, serta kebutuhan koordinasi lintas sektor dalam mendukung ketahanan pangan. Lokakarya diikuti sekitar 30 sivitas akademika UGM yang tergabung dalam PUAPT Working Group Food Security. Kegiatan juga dirancang untuk membekali peserta dengan kemampuan menganalisis persoalan sistem pangan secara lebih terintegrasi.

Kepala Biro Manajemen Strategis UGM, Dr. Wirastuti Widyatmanti, S.Si., Ph.D., mengatakan lokakarya tersebut merupakan tindak lanjut dari kegiatan PUAPT yang telah dilaksanakan sejak 2024. Menurutnya, aspek administratif maupun operasional tidak semestinya menghambat upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan sivitas dalam mengikuti perkembangan isu strategis. Ia berharap pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan dapat menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan dan peta jalan penelitian UGM, khususnya dalam bidang food security. “Harapannya setelah ada pelatihan ini kita bisa menggunakan pengetahuan yang kita dapatkan sebagai dasar semua kebijakan dan juga peta jalan penelitian kita, terutama dari aspek food security,” tuturnya.

Harapan tersebut kemudian diterjemahkan melalui pemaparan mengenai pendekatan sistem pangan yang disampaikan Dr. Ir. Ageng Setiawan Herianto, M.Sc., Assistant FAO Representative – Programme in Indonesia. Ia mengajak peserta melihat pangan melalui pendekatan sistem, bukan semata-mata dari sisi produksi. Menurutnya, food security merupakan tujuan akhir yang ingin dicapai, sedangkan pendekatan food system diperlukan untuk memastikan pangan tersedia dan dapat diakses masyarakat secara berkelanjutan. Pendekatan tersebut mencakup berbagai aspek mulai dari produksi, pengolahan, distribusi, akses fisik dan daya beli hingga konsumsi, food loss, dan food waste. “Food security ini itu ultimate objective. Apa yang kita inginkan itu food system, karena harusnya semua itu tersedia bagi setiap orang,” papar Ageng.

Ageng menjelaskan, transformasi sistem pangan diperlukan karena persoalan pangan berkaitan dengan berbagai faktor yang saling terhubung, mulai dari ekonomi, sosial, lingkungan, infrastruktur, kebijakan, teknologi, hingga demografi. Menurutnya, pendekatan yang hanya berfokus pada satu sektor berisiko mengabaikan keterkaitan persoalan pada sektor lain. Karena itu, sistem pangan perlu dipahami secara menyeluruh dengan melihat hubungan antara produksi, distribusi, konsumsi, serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Ia juga menekankan pentingnya perubahan orientasi dari sekadar memenuhi kuantitas pangan menuju penyediaan pangan yang bergizi dan mendukung pola konsumsi seimbang.

Paparan tersebut kemudian berkembang melalui sejumlah pertanyaan dan tanggapan peserta yang muncul di tengah sesi. Salah satunya menyoroti kompleksitas persoalan sistem pangan Indonesia ketika dilihat dalam skala makro. Peserta meminta contoh negara yang dinilai berhasil menerapkan program pangan secara individual sekaligus mengintegrasikannya dengan berbagai program lain. Menanggapi hal tersebut, Ageng menyebut Singapura sebagai salah satu contoh negara yang mampu membangun sistem pangan secara efisien meskipun memiliki keterbatasan lahan. Menurutnya, keberhasilan sistem pangan perlu dilihat dari kemampuan menyediakan pangan yang bergizi bagi masyarakat.

Pertanyaan lain mengemuka mengenai konektivitas dan distribusi pangan dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan. Peserta membagikan pengalaman penelitian mengenai konektivitas dan distribusi di sejumlah wilayah serta potensi kehilangan pangan dalam proses tersebut. Ageng kemudian menegaskan bahwa konektivitas merupakan salah satu faktor penting dalam sistem pangan. Kompleksitas konektivitas di Indonesia perlu menjadi perhatian karena sistem pangan tidak berhenti pada proses produksi, melainkan mencakup keterhubungan antardaerah hingga pangan dapat diakses oleh masyarakat. “Di dalam food system itu salah satu faktor terpentingnya adalah satu konektivitas, dan itu memang menjadi ukuran dari bagaimana food system itu sudah diterapkan atau belum,” jelas Ageng.

Ageng juga menyoroti persoalan food loss dan food waste sebagai bagian penting dalam transformasi sistem pangan. Ia menjelaskan bahwa kehilangan dan pemborosan pangan perlu dilihat sebagai persoalan sistem karena berkaitan dengan proses produksi, distribusi, hingga konsumsi. Dalam paparannya, ia menyampaikan bahwa pengurangan food loss dan food waste memiliki potensi besar dalam meningkatkan ketersediaan pangan bagi masyarakat. Karena itu, upaya mengurangi kehilangan dan pemborosan pangan perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi transformasi sistem pangan, bukan sebagai persoalan yang berdiri sendiri.

Persoalan lain yang dibahas adalah kecenderungan pengelolaan pangan yang masih berjalan secara sektoral ketika masing-masing sektor atau lembaga bekerja berdasarkan kepentingannya sendiri. Ageng menjelaskan bahwa pendekatan tersebut membuat penyelesaian persoalan pangan cenderung parsial dan baru direspons ketika masalah telah muncul. Ia mencontohkan koordinasi antarlembaga dalam pengembangan sistem pangan yang dapat terhambat oleh perbedaan kepentingan, pendekatan, hingga mekanisme pembiayaan. Menurutnya, transformasi sistem pangan membutuhkan tata kelola yang mampu menjembatani berbagai kepentingan dan mendorong kerja sama lintas sektor sejak awal. “Kita tidak ingin seperti itu lagi. Harusnya kita kemudian looking beyond market dan identify inter-connection,” ujarnya.

Dalam konteks tata kelola, Ageng menekankan bahwa transformasi sistem pangan juga perlu mempertimbangkan karakteristik setiap wilayah. Ia mengatakan pendekatan sistem pangan tidak cukup berhenti pada tingkat nasional, melainkan perlu diregionalisasi hingga menjangkau pelaku dan konsumen yang terdampak. Setiap provinsi memiliki karakter produksi, konsumsi, ketahanan, dan kebutuhan kesehatan yang berbeda sehingga kebijakan pangan perlu mengakomodasi keragaman tersebut. Pendekatan regional diperlukan agar intervensi yang dilakukan lebih sesuai dengan persoalan dan kebutuhan masyarakat setempat. “Harus ada regionalisasi, harus sampai kepada pelaku atau konsumen terdampak,” pesan Ageng.

Selain pemaparan materi dan diskusi, lokakarya juga dilengkapi dengan dua sesi studi kasus yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk menerapkan pendekatan agri-food systems dalam menganalisis persoalan pangan. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan presentasi kelompok sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas peserta dalam mengidentifikasi tantangan, peluang, dan strategi pengembangan sistem pangan berkelanjutan.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Donnie

Artikel UGM Dorong Transformasi Sistem Pangan melalui Pendekatan Lintas Sektor pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dorong-transformasi-sistem-pangan-melalui-pendekatan-lintas-sektor/feed/ 0
UGM Asah Kepedulian Mahasiswa Menyelami Realitas Sosial dan Lingkungan https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-asah-kepedulian-mahasiswa-menyelami-realitas-sosial-dan-lingkungan/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-asah-kepedulian-mahasiswa-menyelami-realitas-sosial-dan-lingkungan/#respond Wed, 12 Aug 2026 04:44:26 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96530 Ribuan mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada tengah melaksanakan Action Plan PIONIR bertema ‘Sinergi Gadjah Mada Muda, Srawung Wujudkan Aksi Nyata’. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan di 20 kelurahan/kalurahan, yang terdiri atas 6 kalurahan di Kabupaten Sleman dan 14 kelurahan di Kota Yogyakarta pada 9-14 Agustus mendatang. Kegiatan Action Plan ini menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk […]

Artikel UGM Asah Kepedulian Mahasiswa Menyelami Realitas Sosial dan Lingkungan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Ribuan mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada tengah melaksanakan Action Plan PIONIR bertema ‘Sinergi Gadjah Mada Muda, Srawung Wujudkan Aksi Nyata’. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan di 20 kelurahan/kalurahan, yang terdiri atas 6 kalurahan di Kabupaten Sleman dan 14 kelurahan di Kota Yogyakarta pada 9-14 Agustus mendatang. Kegiatan Action Plan ini menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk berkolaborasi, mengasah kepedulian sosial, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat sejak awal menjadi Gadjah Mada Muda, sebutan untuk mahasiswa baru UGM.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., melakukan monitoring dan evaluasi (monev) pelaksanaan Action Plan PIONIR Gadjah Mada di Padukuhan Blimbingsari dan Kalurahan Terban, Selasa (11/8). Dalam kesempatan itu, ia menyerahkan bibit pohon pepaya dan jambu di kedua lokasi. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari penguatan semangat Green Campus melalui aksi nyata yang dapat dirawat bersama masyarakat. “Kita mengajak mahasiswa baru mengenali lingkungan sosial di sekitar tempat mereka indekos selama menempuh pendidikan di UGM,” kata Arie.

Arie mengatakan mahasiswa baru yang tinggal di sekitar kawasan kampus perlu memahami tata cara hidup bertetangga serta menghormati masyarakat yang menjadi tuan rumah. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran yang melengkapi pengetahuan yang diperoleh mahasiswa di ruang kelas. Interaksi dengan warga juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar mengenai adab, toleransi, dan kehidupan sosial secara langsung. “Mahasiswa harus belajar bagaimana cara srawung dengan warga Yogyakarta, bagaimana bersikap rendah hati, toleransi, dan menghormati tuan rumah,” tutur Arie.

Arie mengingatkan mahasiswa perlu memahami bahwa menjadi pendatang di Yogyakarta berarti hadir sebagai bagian dari lingkungan yang memiliki karakter dan budaya tersendiri. Karena itu, mahasiswa didorong mengenali masyarakat secara lebih dekat, termasuk membangun komunikasi dengan ketua RT maupun warga di sekitar tempat tinggal mereka. Hubungan yang baik dengan lingkungan akan membantu mahasiswa beradaptasi sekaligus menumbuhkan rasa saling menghargai. Ia menyebut pengalaman tersebut sebagai bagian dari pembelajaran yang tidak diperoleh melalui perkuliahan di kelas. “Ilmu itu juga ada di masyarakat. Kalau kita bisa belajar pada masyarakat secara langsung, Anda nanti akan bisa menjadi sarjana yang punya karakter,” katanya.

Dukuh Blimbingsari Robert Purnomo menyampaikan apresiasi karena mahasiswa mendapat kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat melalui kegiatan Action Plan. Menurutnya, kehadiran mahasiswa membuka ruang kolaborasi antara warga dan UGM yang sebelumnya juga telah terjalin melalui sejumlah kegiatan bersama UGM. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat terus berkembang menjadi bentuk kerja sama yang memberikan manfaat bagi masyarakat. “Kami sangat bersyukur bisa membersamai mahasiswa dalam kegiatan ini dan berharap ke depan dapat bersinergi dalam kegiatan yang lebih baik,” harapnya.

Sementara itu, pelaksanaan Action Plan di Kalurahan Terban disambut Lurah Terban Indria Cahya, S.K.M., M.P.A. bersama perwakilan warga. Indria mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa baru untuk mengenal karakter masyarakat di wilayah yang berbatasan langsung dengan lingkungan UGM. Interaksi tersebut diharapkan membantu mahasiswa memahami kehidupan sosial sekaligus menjaga hubungan baik dengan masyarakat selama tinggal dan belajar di Yogyakarta. Ia juga mengajak mahasiswa berpartisipasi dalam menjaga kebersihan lingkungan, terutama melalui pengelolaan dan pemilahan sampah dari tempat tinggal masing-masing.

Indria menambahkan mahasiswa yang tinggal di kos maupun rumah warga memiliki peran dalam menjaga kebersihan lingkungan Kota Yogyakarta. Hal tersebut sejalan dengan upaya pemerintah kota mendorong masyarakat melakukan pemilahan sampah dari sumbernya. Mahasiswa diharapkan dapat menerapkan kebiasaan tersebut selama tinggal di lingkungan Terban dan kawasan lain di Yogyakarta. Kebiasaan menjaga lingkungan menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa sebagai pendatang sekaligus bagian dari masyarakat kota. “Diharapkan ke depannya adik-adik dapat melanjutkan kebersihan yang ada di Kota Yogyakarta dengan memilah sampah dari wilayah masing-masing,” tuturnya.

Setelah penyerahan bibit di Kalurahan Terban, Wakil Rektor UGM turut mengikuti kegiatan senam bersama warga Terban. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari suasana srawung yang dibangun melalui pelaksanaan Action Plan PIONIR. Kehadiran Arie Sujito dalam kegiatan bersama warga juga menunjukkan bahwa semangat kolaborasi dalam Action Plan dibangun melalui suasana yang dekat dan cair.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Donnie

Artikel UGM Asah Kepedulian Mahasiswa Menyelami Realitas Sosial dan Lingkungan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-asah-kepedulian-mahasiswa-menyelami-realitas-sosial-dan-lingkungan/feed/ 0
Rektor UGM Tinjau PIONIR, Pastikan Maba Menyambut Dunia Kampus dengan Nyaman https://ugm.ac.id/id/berita/rektor-ugm-tinjau-pionir-pastikan-maba-menyambut-dunia-kampus-dengan-nyaman/ https://ugm.ac.id/id/berita/rektor-ugm-tinjau-pionir-pastikan-maba-menyambut-dunia-kampus-dengan-nyaman/#respond Tue, 04 Aug 2026 07:51:54 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96243 Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., melakukan peninjauan pelaksanaan hari kedua PIONIR Gadjah Mada 2026 di sejumlah fakultas pada Selasa (4/8). Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian orientasi mahasiswa baru (maba) berjalan sesuai dengan tujuan yang telah dirancang, mulai dari penyampaian materi, kesiapan fasilitator, hingga dukungan fasilitas bagi mahasiswa. Di hari […]

Artikel Rektor UGM Tinjau PIONIR, Pastikan Maba Menyambut Dunia Kampus dengan Nyaman pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., melakukan peninjauan pelaksanaan hari kedua PIONIR Gadjah Mada 2026 di sejumlah fakultas pada Selasa (4/8). Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian orientasi mahasiswa baru (maba) berjalan sesuai dengan tujuan yang telah dirancang, mulai dari penyampaian materi, kesiapan fasilitator, hingga dukungan fasilitas bagi mahasiswa. Di hari kedua, mahasiswa baru mendapat berbagai materi soal ke-UGM-an, pengenalan organisasi kemahasiswaan, literasi keuangan, fasilitas kampus, serta penguatan konsep Safety, Health, Environment (SHE) dan Green Campus.

Ova Emilia mengatakan kegiatan monitoring dilakukan untuk melihat secara langsung pelaksanaan PIONIR di tingkat universitas sebelum mahasiswa mengikuti rangkaian kegiatan di masing-masing fakultas dan sekolah. Evaluasi tersebut menjadi bagian dari upaya UGM memastikan seluruh mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang nyaman dan bermakna sejak awal memasuki dunia perguruan tinggi. “Kami melihat bagaimana pelaksanaan di lapangan, apakah ada kendala terkait ruang, materi, fasilitator, maupun fasilitas lain yang diperlukan mahasiswa selama mengikuti PIONIR,” ujarnya.

Ova menjelaskan selama tiga hari pertama mahasiswa mengikuti orientasi tingkat universitas, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan yang diselenggarakan oleh fakultas dan sekolah. Selain itu, mahasiswa juga akan diterjunkan ke lingkungan sekitar kampus melalui Action Plan sebagai bagian dari proses pembelajaran yang memberi pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat. “Ada orientasi yang terkait dengan Action Plan. Mereka diterjunkan ke masyarakat di sekitar kampus untuk mengalami proses pembelajaran secara langsung, jelasnya.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., menuturkan PIONIR dirancang untuk membantu mahasiswa mengenali lingkungan kampus beserta berbagai layanan yang tersedia selama menjalani studi. Berbagai materi juga diberikan untuk memperkenalkan budaya akademik, relasi sehat, pencegahan kekerasan, hingga layanan pendukung yang dimiliki UGM. “Spirit PIONIR adalah non-violent. Kami mengenalkan berbagai layanan yang dimiliki UGM, termasuk Unit Antikekerasan, sehingga mahasiswa mengetahui lingkungan belajar yang aman dan nyaman sejak awal,” tuturnya.

Arie menambahkan penguatan karakter mahasiswa juga dilakukan melalui materi Green Campus dan pelaksanaan Action Plan. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diajak membangun kepedulian terhadap lingkungan sekaligus mengenal kehidupan sosial di sekitar kampus dengan berinteraksi bersama warga sejak awal menjadi bagian dari UGM. Mereka kami ajak mengenali lingkungan sekitar, berinteraksi dengan Pak RT, Ibu kos, bekerja sama, dan peduli terhadap persoalan sampah agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan tempat mereka tinggal, katanya.

Dalam monitoring di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK), Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA, turut meninjau pelaksanaan PIONIR bagi mahasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Menurutnya, mahasiswa RPL tetap mengikuti seluruh rangkaian PIONIR sebagai mahasiswa baru. Sebagian dari mereka yang telah berprofesi sebagai tenaga kesehatan bahkan turut mendukung pelaksanaan kegiatan sebagai tim kesehatan. “Mereka tetap ikut PIONIR sebagai mahasiswa baru. Bahkan ada yang sekaligus bertugas sebagai tim kesehatan karena memang memiliki latar belakang profesi di bidang kesehatan,” tuturnya.

Wening menjelaskan program RPL merupakan bagian dari implementasi lifelong learning education UGM yang memberi kesempatan kepada masyarakat untuk melanjutkan pendidikan tinggi melalui rekognisi atas pengalaman belajar maupun pengalaman profesional yang telah dimiliki sebelumnya. Saat ini, skema RPL telah diterapkan di hampir seluruh fakultas di UGM, dengan jumlah peserta terbanyak berasal dari bidang kesehatan. “Mereka tetap mengikuti PIONIR karena berstatus mahasiswa baru. Pengalaman belajar maupun pengalaman profesional yang telah dimiliki direkognisi, sehingga mereka melanjutkan kompetensi yang belum diperoleh, pungkasnya.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Firsto

Artikel Rektor UGM Tinjau PIONIR, Pastikan Maba Menyambut Dunia Kampus dengan Nyaman pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/rektor-ugm-tinjau-pionir-pastikan-maba-menyambut-dunia-kampus-dengan-nyaman/feed/ 0
Orang Tua Mahasiswa Baru UGM Diajak Perkuat Pendampingan Mahasiswa Sejak Hari Pertama https://ugm.ac.id/id/berita/orang-tua-mahasiswa-baru-ugm-diajak-perkuat-pendampingan-mahasiswa-sejak-hari-pertama/ https://ugm.ac.id/id/berita/orang-tua-mahasiswa-baru-ugm-diajak-perkuat-pendampingan-mahasiswa-sejak-hari-pertama/#respond Mon, 03 Aug 2026 08:32:58 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96218 Universitas Gadjah Mada menggelar acara Temu Orang Tua Mahasiswa Baru Program Sarjana dan Sarjana Terapan Tahun Akademik 2026/2027 yang diadakan di Grha Sabha Pramana, Senin (3/8). Kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi dan dialog antara universitas dengan orang tua dalam membangun kolaborasi untuk mendukung keberhasilan pendidikan mahasiswa sejak awal memasuki dunia perkuliahan. Rektor UGM, Prof. dr. […]

Artikel Orang Tua Mahasiswa Baru UGM Diajak Perkuat Pendampingan Mahasiswa Sejak Hari Pertama pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada menggelar acara Temu Orang Tua Mahasiswa Baru Program Sarjana dan Sarjana Terapan Tahun Akademik 2026/2027 yang diadakan di Grha Sabha Pramana, Senin (3/8). Kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi dan dialog antara universitas dengan orang tua dalam membangun kolaborasi untuk mendukung keberhasilan pendidikan mahasiswa sejak awal memasuki dunia perkuliahan.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menyambut hangat kehadiran ribuan orang tua mahasiswa baru UGM tahun 2026. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tinggi perlu kolaborasi erat antara universitas dengan para orang tua dalam membentuk ekosistem pembelajaran yang mendukung capaian prestasi terbaik bagi mahasiswa. “Kami percaya bahwa keberhasilan pendidikan mahasiswa bukan hanya kerja tunggal institusi pendidikan tinggi. Perlu kerja kolaboratif dari para orang tua agar dapat membentuk ekosistem pembelajaran yang saling menopang dalam mewujudkan prestasi akademik mahasiswa,” terangnya.

UGM terus menjalankan komitmen sebagai kampus inklusif yang terus membuka akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat. Selain menanamkan nilai toleransi, kebhinekaan, dan solidaritas, UGM juga berkomitmen dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dengan menjamin kampus bebas dari kekerasan seksual, perundungan, dan segala bentuk diskriminasi. Menurutnya, kesehatan mental dan fisik mahasiswa menjadi prasyarat penting dalam mendukung proses pembelajaran mahasiswa. “Kesehatan mental, anti diskriminasi, dan kampus inklusif menjadi komitmen kami dalam menjalankan mandat pendidikan bermartabat UGM. Adapun pelayanan kesehatan yang disediakan UGM seperti klinik dan rumah sakit, serta unit pelayanan untuk menjaga kesejahteraan, seperti Unit Layanan Kesehatan Mental dan Unit Layanan Disabilitas,” jelasnya.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Dr. Arie Sujito, M.Si., menegaskan bahwa UGM tidak hanya fokus mencetak lulusan unggul secara akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kepedulian sosial mahasiswa sebagai bekal menjadi pemimpin bangsa masa depan. “UGM menyelenggarakan pendidikan tinggi tidak hanya semata-mata untuk keunggulan akademik, tetapi juga beriringan dengan pembentukan karakter mahasiswa agar peduli secara sosial. UGM menjadi universitas berkelas dunia juga tetap berakar pada nilai-nilai budaya,” tuturnya.

Menurut Arie, dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia yang terus berubah, UGM memberikan ruang seluas-luasnya pada mahasiswa untuk terus mengembangkan kepemimpinan, literasi digital, hingga pengalaman nyata melalui berbagai kegiatan, seperti KKN, magang, pertukaran pelajar, kompetisi, hingga kewirausahaan. “Mahasiswa tidak cukup dibekali ilmu tetapi juga pengalaman dan jejaring. Upaya ini yang kita sebut sebagai menyiapkan kompetensi untuk para mahasiswa soal leadership, soft skill, literasi digital, AI, bahasa asing, maupun sertifikasi,” katanya.

Dalam acara temu orang tua ini juga diserahkan bantuan berupa laptop kepada 5 mahasiswa baru UGM yang mendapatkan UKT Subsidi 100 persen dan berasal dari berbagai jalur penerimaan. Adapun bantuan laptop diterima secara simbolis oleh ketiga orang tua mahasiswa baru, yakni Charoline Sihole, orang tua dari Walmer Zebaoth Siburian dari jalur SNBP; Meseri, orang tua dari Mahmudah dan Muzdrickah dari jalur PBUTM; dan Siti Rohani, orang tua dari Tiara Julianti dari jalur PBUB.

Siti Rohani, selaku perwakilan orang tua mahasiswa baru menyampaikan rasa syukur dan bangganya atas diterima putra putri mereka di UGM. Ia berharap mahasiswa dapat memanfaatkan masa studi sebagai proses pendewasaan dengan tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter, integritas, kepedulian sosial, serta semangat belajar sepanjang hayat. “Kami titipkan mereka pada bapak dan ibu sekalian untuk dibimbing menjadi insan yang berilmu, berkarakter, dan siap memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan kemanusiaan,” pungkas Siti.

Penulis : Cyntia Noviana

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Orang Tua Mahasiswa Baru UGM Diajak Perkuat Pendampingan Mahasiswa Sejak Hari Pertama pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/orang-tua-mahasiswa-baru-ugm-diajak-perkuat-pendampingan-mahasiswa-sejak-hari-pertama/feed/ 0
Sambut 11.099 Mahasiswa Baru, Rektor UGM Buka Rangkaian PIONIR https://ugm.ac.id/id/berita/sambut-11-099-mahasiswa-baru-rektor-ugm-buka-rangkaian-pionir/ https://ugm.ac.id/id/berita/sambut-11-099-mahasiswa-baru-rektor-ugm-buka-rangkaian-pionir/#respond Mon, 03 Aug 2026 05:05:51 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96170 Universitas Gadjah Mada resmi membuka rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PIONIR) Gadjah Mada 2026 melalui Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru Program Sarjana dan Sarjana Terapan Tahun Akademik 2026/2027 di Lapangan Pancasila UGM, Senin (3/8). Sebanyak 11.099 mahasiswa baru mengikuti kegiatan yang mengusung tema ‘Mengukir Jati Diri Gadjah Mada Muda, Berdikari Membangun Bangsa’ sebagai langkah […]

Artikel Sambut 11.099 Mahasiswa Baru, Rektor UGM Buka Rangkaian PIONIR pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada resmi membuka rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PIONIR) Gadjah Mada 2026 melalui Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru Program Sarjana dan Sarjana Terapan Tahun Akademik 2026/2027 di Lapangan Pancasila UGM, Senin (3/8). Sebanyak 11.099 mahasiswa baru mengikuti kegiatan yang mengusung tema ‘Mengukir Jati Diri Gadjah Mada Muda, Berdikari Membangun Bangsa’ sebagai langkah awal mengenali kehidupan kampus, membangun karakter, dan menginternalisasikan nilai-nilai ke-UGM-an.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menyampaikan selamat datang kepada seluruh Gadjah Mada Muda yang telah menjadi bagian dari keluarga besar UGM. Menurutnya, masa awal perkuliahan merupakan momentum penting bagi mahasiswa untuk mengenali potensi diri sekaligus mempersiapkan diri menjadi insan yang berintegritas, berdaya saing, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. “Gadjah Mada Muda diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang mampu mengembangkan potensi diri, menginternalisasikan nilai-nilai luhur dan jati diri Universitas Gadjah Mada, serta memberikan kontribusi yang berdampak, baik di tingkat lokal maupun global,” tuturnya.

Ova menuturkan PIONIR dirancang sebagai ruang pembelajaran awal bagi mahasiswa untuk mengenal kehidupan akademik sekaligus memperkuat karakter yang menjadi identitas lulusan UGM. Ia berharap seluruh mahasiswa mampu menjadi pelopor yang memiliki kepedulian, kepekaan, dan empati dalam menjawab berbagai tantangan di tengah masyarakat. “Melalui PIONIR, mahasiswa dibangun fondasi karakter agar menjadi pelopor dan inisiator, memiliki kepedulian, kepekaan, dan empati terhadap sesama serta lingkungan,” katanya.

Dalam laporannya, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., menyampaikan UGM menerima 11.099 mahasiswa baru pada Tahun Akademik 2026/2027. Jumlah tersebut terdiri atas 9.154 mahasiswa Program Sarjana dan 1.945 mahasiswa Program Sarjana Terapan, dengan komposisi 4.828 mahasiswa laki-laki dan 6.271 mahasiswa perempuan. Selain itu, terdapat 1.101 mahasiswa atau 9,92 persen penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), serta 54 mahasiswa asing yang mengikuti program sarjana maupun double degree. “Mahasiswa baru tahun ini berasal dari seluruh provinsi di Indonesia. Hal ini kembali menunjukkan peran UGM sebagai universitas nasional yang mempertemukan keberagaman anak bangsa,” jelasnya.

Arie menjelaskan tema PIONIR tahun ini dipilih untuk mendorong mahasiswa mengukir jati diri melalui semangat berdikari, kolaborasi, dan kepedulian terhadap sesama. Menurutnya, proses pembelajaran di UGM diharapkan mampu membentuk lulusan yang memiliki keunggulan akademik sekaligus kepekaan sosial dalam menghadapi dinamika masyarakat. “Melalui tema Mengukir Jati Diri Gadjah Mada Muda, Berdikari Membangun Bangsa, kami ingin mahasiswa mulai mengenali dirinya, memahami perannya, serta bertumbuh menjadi pribadi yang memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Sebagai bagian dari penguatan nilai keberlanjutan, PIONIR 2026 juga menghadirkan materi Green Campus yang diimplementasikan melalui Action Plan bertema ‘Sinergi Gadjah Mada Muda, Srawung Wujudkan Aksi Nyata’. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan di 20 kelurahan/kalurahan, yang terdiri atas 6 kalurahan di Kabupaten Sleman dan 14 kelurahan di Kota Yogyakarta. “Action Plan menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk berkolaborasi, mengasah kepedulian sosial, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat sejak awal menjadi Gadjah Mada Muda,” ungkapnya.

Arie berharap seluruh rangkaian PIONIR mampu menjadi awal yang baik bagi mahasiswa dalam membangun komitmen sebagai pembelajar sekaligus agen perubahan. Ia meyakini pengalaman belajar yang dipadukan dengan keterlibatan langsung di tengah masyarakat akan memperkuat karakter mahasiswa selama menempuh pendidikan di UGM. “Kami berharap mahasiswa memiliki kesadaran dan komitmen untuk menjadi bagian dari agen perubahan yang mampu mewujudkan kampus yang hijau, berkelanjutan, dan berdampak,” katanya.

Mewakili Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X menerima secara simbolis penyerahan mahasiswa baru UGM dari Rektor UGM. Penyerahan tersebut menjadi simbol diterimanya Gadjah Mada Muda sebagai bagian dari masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta yang akan tumbuh, belajar, dan berkarya selama menempuh pendidikan di UGM. “Saya berharap mahasiswa bisa merasakan semangat ini dan memanfaatkannya untuk berkembang menjadi generasi muda yang inklusif dan penuh kepedulian,” ujarnya.

Paku Alam X juga mengingatkan bahwa masa kuliah adalah waktu yang tepat untuk memperluas wawasan, memperkaya pengalaman, serta membangun karakter yang berlandaskan nilai keilmuan, kebudayaan, dan kebangsaan. “Semoga perjalanan ini membentuk Gadjah Mada Muda menjadi insan yang senantiasa berlandaskan pada nilai keilmuan, kebudayaan, dan kebangsaan,” pungkasnya.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Firsto

Artikel Sambut 11.099 Mahasiswa Baru, Rektor UGM Buka Rangkaian PIONIR pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/sambut-11-099-mahasiswa-baru-rektor-ugm-buka-rangkaian-pionir/feed/ 0
Jajaran Kantor Staf Presiden Kunjungi ULD dan GIK UGM, Apresiasi Kampus Inklusif Berbasis Inovasi https://ugm.ac.id/id/berita/jajaran-kantor-staf-presiden-kunjungi-uld-dan-gik-ugm-apresiasi-kampus-inklusif-berbasis-inovasi/ https://ugm.ac.id/id/berita/jajaran-kantor-staf-presiden-kunjungi-uld-dan-gik-ugm-apresiasi-kampus-inklusif-berbasis-inovasi/#respond Thu, 30 Jul 2026 13:01:31 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96074 Staf Khusus Kepala Staf Kepresidenan RI, Mayjen TNI (Purn) Prof. Dr. Budi Pramono, bersama jajaran Kantor Staf Presiden (KSP) mengunjungi Unit Layanan Disabilitas (ULD) Universitas Gadjah Mada, pada Kamis (30/7). Kunjungan ini menjadi ajang dialog tentang penguatan layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas sekaligus melihat langsung berbagai fasilitas bentuk pendampingan yang telah dikembangkan oleh ULD UGM […]

Artikel Jajaran Kantor Staf Presiden Kunjungi ULD dan GIK UGM, Apresiasi Kampus Inklusif Berbasis Inovasi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Staf Khusus Kepala Staf Kepresidenan RI, Mayjen TNI (Purn) Prof. Dr. Budi Pramono, bersama jajaran Kantor Staf Presiden (KSP) mengunjungi Unit Layanan Disabilitas (ULD) Universitas Gadjah Mada, pada Kamis (30/7). Kunjungan ini menjadi ajang dialog tentang penguatan layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas sekaligus melihat langsung berbagai fasilitas bentuk pendampingan yang telah dikembangkan oleh ULD UGM dalam mewujudkan kampus inklusif.

Budi Pramono mengapresiasi komitmen UGM dalam membangun layanan yang inklusif bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Menurutnya, keberadaan ULD menjadi bentuk nyata dukungan universitas dalam memastikan setiap mahasiswa memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang. Ia bahkan menyarankan agar kapasitas layanan ULD terus diperluas dan dikembangkan agar mampu menjangkau lebih banyak mahasiswa yang membutuhkan pendampingan. “Layanan seperti ini harus terus dikembangkan agar semakin banyak mahasiswa yang bisa memperoleh pendampingan,” tegasnya.

Di depan hadapan mahasiswa, Budi turut memberikan motivasi dan semangat agar senantiasa belajar dan tidak cepat merasa puas terhadap capaian yang telah diraih. Menurutnya, rasa jenuh dan kehilangan motivasi merupakan hal yang wajar dialami mahasiswa. Namun, ia mengingatkan agar kondisi tersebut disikapi dengan memperbanyak rasa syukur dan melihat bahwa masih banyak orang yang menghadapi kondisi lebih sulit. “Kalau kehilangan motivasi, rumusnya gampang. Jangan melihat ke atas. Masih banyak orang di bawah kita. Bersyukurlah, maka nikmat akan ditambahkan,” tuturnya.

Ketua Unit Layanan Disabilitas, Wuri Handayani, S.E., Ak., M.Si., M.A., Ph.D., menuturkan bahwa ULD UGM tidak hanya memberikan pendampingan kepada mahasiswa, tetapi juga melakukan advokasi kepada setiap fakultas agar dapat menyediakan akomodasi yang layak sesuai dengan kebutuhan mahasiswa penyandang disabilitas. Salah satunya adalah rekomendasi penambahan waktu saat ujian maupun pengumpulan tugas bagi mahasiswa. Selain itu, ULD juga memberikan rekomendasi penyesuaian ruang kuliah apabila gedung belum memiliki akses yang memadai. “Kami juga merekomendasikan apabila gedung belum memiliki lift, maka perkuliahan dipindahkan ke lantai bawah agar lebih mudah diakses,” jelasnya.

Selain layanan akademik, ULD UGM juga menyediakan berbagai fasilitas penunjang seperti mushola, dapur, serta ruang tenang yang dapat dimanfaatkan mahasiswa ketika mengalami kelelahan fisik maupun tekanan emosional. “Jadi kalau adik-adik mengalami kondisi panik, stres, atau teman-teman disabilitas fisik sedang kelelahan, mereka dapat beristirahat di sini,” ujarnya.

Usai berkunjung dari ULD UGM, Budi Pramono bersama jajaran Kantor Staf Presiden melanjutkan kunjungan ke Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM. Dalam kunjungan tersebut, Tim Pengelola GIK UGM menjelaskan bahwa GIK UGM menjadi ruang kolaborasi lintas disiplin yang menghubungkan perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan mitra internasional. Berbagai kerja sama telah dijalin dengan institusi global, seperti Uni Eropa, Australia, serta sejumlah universitas dunia untuk mengembangkan inovasi dan meningkatkan kompetensi mahasiswa. Pada tahun lalu, berbagai kegiatan yang diselenggarakan GIK UGM berhasil menjangkau sekitar 120 ribu peserta.

Budi mengapresiasi adanya konsep pegembangan GIK UGM yang tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknologi, tetapi juga mengedepankan nilai-nilai budaya dan kemanusiaan. Menurutnya, inovasi yang dibangun harus memiliki dasar riset yang kuat agar mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menilai GIK memiliki posisi strategis sebagai ruang tumbuhnya kreativitas generasi muda sekaligus pusat inovasi yang mampu menjawab kebutuhan bangsa. UGM bukan hanya menjadi pusat manajemen, tetapi juga pusat kebudayaan. Karena itu, inovasi yang lahir di sini harus mampu memberi manfaat bagi Indonesia,” tuturnya.

Budi pun mengingatkan agar pengembangan inovasi di perguruan tinggi tidak hanya mengikuti tren, tetapi mampu membaca kebutuhan masyarakat dan karakter generasi muda sehingga menghasilkan solusi yang relevan. “Universitas besar memang akan selalu menghasilkan karya. Namun yang lebih penting adalah mampu menciptakan sesuatu yang benar-benar baru. Kita harus menangkap kebutuhan pasar dan menjawabnya melalui inovasi,” pungkas Budi.

Penulis : Cyntia Noviana

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Jajaran Kantor Staf Presiden Kunjungi ULD dan GIK UGM, Apresiasi Kampus Inklusif Berbasis Inovasi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/jajaran-kantor-staf-presiden-kunjungi-uld-dan-gik-ugm-apresiasi-kampus-inklusif-berbasis-inovasi/feed/ 0