Pendidikan Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/category/pendidikan/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Fri, 28 Aug 2026 09:30:34 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 Kisah Ayyub Rizqullah, Lulus Sarjana Terapan UGM di Usia 20 Tahun  https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-ayyub-rizqullah-lulus-sarjana-terapan-ugm-di-usia-20-tahun/ https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-ayyub-rizqullah-lulus-sarjana-terapan-ugm-di-usia-20-tahun/#respond Thu, 27 Aug 2026 07:45:25 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96992 Usianya baru 20 tahun 3 bulan 10 hari ketika Ayyub Rizqullah menyabet gelar Sarjana Terapan dari Program Studi Perbankan, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada (UGM). Pada usia tersebut, ia tercatat sebagai lulusan termuda di antara 672 lulusan program Sarjana Terapan yang diwisuda pada Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM, Rabu […]

Artikel Kisah Ayyub Rizqullah, Lulus Sarjana Terapan UGM di Usia 20 Tahun  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Usianya baru 20 tahun 3 bulan 10 hari ketika Ayyub Rizqullah menyabet gelar Sarjana Terapan dari Program Studi Perbankan, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada (UGM). Pada usia tersebut, ia tercatat sebagai lulusan termuda di antara 672 lulusan program Sarjana Terapan yang diwisuda pada Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM, Rabu (19/8). Padahal usia rata-rata lulusan Program Sarjana Terapan yang diwisuda kalli ini adalah 22 tahun 6 bulan 15 hari

Ayyub, panggilan akrabnya, menceritakan bahwa capaian tersebut merupakan buah dari komitmen dan motivasi yang ia pegang selama duduk di bangku perkuliahan. Baginya, dukungan penuh dari keluarga menjadi salah satu dorongan terbesarnya demi memberikan yang terbaik selama menjalani studi di Prodi Perbankan UGM.

Berkat dorongan orang tua, Ayyub berusaha menentukan prioritas selama kuliah. Meski ia paham betul bahwa perjalanan perkuliahannya tak selalu berjalan mulus. Ada kalanya ia menghadapi berbagai tantangan dan merasa kewalahan, terutama saat menyusun tugas akhir. Ayyub menceritakan, ia bahkan mulai mencari referensi lebih awal agar memiliki gambaran mengenai tahapan yang perlu dilalui dalam penyusunan tugas akhir. “Aku tahu tujuan awalku. Aku mau lulus tepat waktu, jadi aku harus dedikasikan waktuku lebih, khususnya dalam penyusunan tugas akhir,” katanya, Kamis (27/8).

Meski menargetkan lulus tepat waktu, Ayyub tak lantas membatasi dirinya berkutat hanya pada kegiatan di ruang kuliah. Ketertarikannya pada bidang finansial juga membawanya bergabung dengan Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) di Departemen Ekonomika dan Bisnis SV UGM. Tak hanya itu, ia juga mengambil pekerjaan paruh waktu di Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) dan bergabung pada divisi yang berfokus pada pemberdayaan UMKM.

Tak berhenti di situ, Ayyub juga sempat mengikuti Trading Competition yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2023. Bersama seorang rekannya, ia berhasil meraih juara tiga dalam kompetisi tersebut. “Selama bangku perkuliahan, kita kan hanya mendapat teori. Lewat ikut kegiatan-kegiatan seperti ini, aku bisa mendapat pengalaman praktis,” kenangnya.

Kini, setelah menyelesaikan pendidikan di Program Studi Perbankan, Ayyub ingin segera terjun ke dunia kerja untuk merasakan pengalaman bekerja secara langsung, khususnya di bidang perpajakan. Ketertarikannya pada bidang tersebut turut didukung oleh sertifikasi perpajakan yang telah ia ambil sebelum lulus. Berbekal pengetahuan yang diperoleh selama bangku kuliah serta sertifikasi tersebut, Ayyub mantap mendaftar pekerjaan yang berkaitan dengan bidang perpajakan. “Sekarang, aku ingin mencoba pengalaman bekerja di bidang perpajakan secara langsung terlebih dahulu,” sambungnya.

Di akhir wawancara, Ayyub berpesan kepada mahasiswa yang masih menjalani studi agar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang dimiliki selama berkuliah. Baginya, kesempatan menempuh pendidikan di UGM merupakan sebuah privilege lantaran tidak banyak orang yang berpeluang untuk studi di UGM.  Karena itu, waktu yang ada semestinya dimanfaatkan sebaik mungkin, termasuk dengan memilih lingkungan pertemanan yang mendukung sekaligus tetap menikmati proses perkuliahan. “Jangan sia-siakan waktu yang berharga ini. Pandai-pandai pilih teman, gunakan waktu sebaik mungkin, dan juga nikmati perkuliahannya,” pesannya.

Penulis : Agito Sitepu

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Ayyub

Artikel Kisah Ayyub Rizqullah, Lulus Sarjana Terapan UGM di Usia 20 Tahun  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-ayyub-rizqullah-lulus-sarjana-terapan-ugm-di-usia-20-tahun/feed/ 0
Ratusan Mahasiswa Asing dari 53 Negara Ikuti Orientasi PIONEER UGM https://ugm.ac.id/id/berita/ratusan-mahasiswa-asing-dari-53-negara-ikuti-orientasi-pioneer-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/ratusan-mahasiswa-asing-dari-53-negara-ikuti-orientasi-pioneer-ugm/#respond Thu, 27 Aug 2026 01:46:56 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96966 Sebanyak 424 mahasiswa internasional dari belahan 53 negara yang tengah menempuh studi di kampus UGM mengikuti rangkaian PIONEER (Program for International Orientation and New-student Empowerment to Enhance Readiness). Rangkaian ini merupakan orientasi bagi mahasiswa internasional baru dalam mengenal kampus UGM. Kegiatan PIONEER resmi dibuka pada Rabu (26/8) di Grha Sabha Pramana UGM. Wakil Rektor UGM […]

Artikel Ratusan Mahasiswa Asing dari 53 Negara Ikuti Orientasi PIONEER UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sebanyak 424 mahasiswa internasional dari belahan 53 negara yang tengah menempuh studi di kampus UGM mengikuti rangkaian PIONEER (Program for International Orientation and New-student Empowerment to Enhance Readiness). Rangkaian ini merupakan orientasi bagi mahasiswa internasional baru dalam mengenal kampus UGM. Kegiatan PIONEER resmi dibuka pada Rabu (26/8) di Grha Sabha Pramana UGM.

Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., menyampaikan bahwa salah satu kekuatan dari UGM adalah program internasionalnya. Ia menyebutkan adanya mahasiswa dari berbagai belahan dunia dan kebudayaan yang berbeda akan memperkaya lingkungan akademik yang ada. “Mahasiswa asing membawa perspektif baru, pengalaman, ide-ide, dan pertemanan yang membuat kampus semakin terhubung secara global,” ujarnya pada saat sambutan.

Ia menjabarkan peserta PIONEER di antaranya datang dari program gelar dan non-gelar karena terdiri dari tingkat Sarjana, Magister, dan Doktoral. Selain itu, Wening mengenalkan bahwa adanya pertukaran mahasiswa internasional serta program Indonesian Language and Culture Learning Service (INCULS). Ia menyebutkan dari beragamnya mahasiswa asing, kegiatan PIONEER ini menjadi salah satu fasilitas untuk mengenalkan lingkungan kampus UGM. “Harapannya, waktu kalian di UGM bermakna di ranah akademik, pribadi, serta berkesan secara budaya. Selamat datang di keluarga besar UGM, semoga kalian mendapat pengalaman luar biasa dan meraih sukses dalam perjalanan ke depan,” pesannya.

Dalam sesi selanjutnya, dosen UGM, I Made Andi Arsana, Ph.D., menyampaikan materi terkait ke-UGM-an dan pemahaman lintas budaya. Ia menyambut mahasiswa internasional baru di UGM dan mengenalkan Yogyakarta sebagai daerah istimewa yang memiliki berbagai keunikan. Ia menjelaskan bahwa Yogyakarta merupakan daerah dengan Sumbu Filosofis Yogyakarta yang menggambarkan perjalanan kehidupan manusia. Selain itu, ia juga mengenalkan mahasiswa baru terkait dengan tempat wisata dan bersejarah lainnya.

Lebih lanjut, Andi mengenalkan nilai-nilai UGM yang terdiri atas lima identitas, yaitu universitas perjuangan, universitas nasional, universitas Pancasila, universitas kerakyatan, dan pusat kebudayaan. Ia menjelaskan bahwa UGM sebagai universitas perjuangan memiliki sejarah dalam perjalanan bangsa dan menjadi ruang bagi sivitas akademika untuk menyampaikan pendapat. “Di UGM kebebasan berpendapat diperbolehkan seperti adanya gerakan demonstrasi selama dilaksanakan sesuai aturan,” sebutnya.

Andi kemudian menjelaskan UGM sebagai universitas Pancasila yang mengedepankan keberagaman. Ia mengenalkan keberadaan pusat-pusat keagamaan bagi berbagai agama di lingkungan UGM sebagai salah satu bentuk penghargaan terhadap keberagaman. Menurutnya, keberadaan berbagai pusat keagamaan tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa dari latar belakang yang berbeda dapat hidup dan belajar bersama di lingkungan UGM.

Selanjutnya, ia mengenalkan UGM sebagai universitas kerakyatan melalui program pengabdian kepada masyarakat. Ia menjelaskan bahwa sejak awal berdirinya, UGM telah mengirimkan mahasiswa ke berbagai daerah di Indonesia untuk membantu masyarakat. Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi program KKN yang mewajibkan mahasiswa untuk tinggal dan belajar bersama masyarakat, sekaligus memahami dan memberdayakan masyarakat.

Ia juga menekankan bahwa salah satu hal terpenting dari UGM adalah mahasiswa. Menurut Andi, berbagai fasilitas, gedung, dan simbol yang ada di kampus memang penting, tetapi mahasiswa merupakan bagian paling penting karena sivitas akademika ini yang nantinya membawa nilai-nilai UGM ke masyarakat dan dunia. “Ini bukan hanya tentang pembelajaran, tetapi dampak nyata terhadap dunia. Hal terpenting adalah tentang kesuksesan diri sendiri dan juga bersama,” ujarnya.

Salah satu peserta asal Lithuania, Eropa, Rapolas, menyatakan bahwa kesempatan belajar di UGM merupakan hal yang sangat menyenangkan. Ia menilai UGM sebagai universitas yang sangat terbuka, maju, dan ramah bagi mahasiswa asing. Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, Rapolas mengaku sangat penasaran dengan mata kuliah yang berkaitan dengan perfilman. Meski demikian, ia meyakini bahwa proses belajar akan terasa jauh lebih menyenangkan jika dibersamai oleh pembawaan dosen yang interaktif.

Sebagai pendatang, ia juga menyampaikan antusiasmenya untuk menjelajahi berbagai tempat di Indonesia. Setelah menyelesaikan studi, Rapolas bermimpi untuk membawa pulang seluruh ilmu yang didapatkan ke negara asalnya. Ia berharap dapat mempraktikkan pengetahuan tersebut demi berkontribusi langsung pada perkembangan dan pertumbuhan negaranya. “Harapannya ingin kembali dengan membawa perubahan dan pertumbuhan baik ke negara asal,” ucapnya.

Penulis : Hanifah

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Ratusan Mahasiswa Asing dari 53 Negara Ikuti Orientasi PIONEER UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ratusan-mahasiswa-asing-dari-53-negara-ikuti-orientasi-pioneer-ugm/feed/ 0
Kuliah Double Degree di UGM dan University of Leeds, Kezia Uenike Teliti Mutasi Protein Kanker Ovarium https://ugm.ac.id/id/berita/kuliah-double-degree-di-ugm-dan-university-of-leeds-kezia-uineke-teliti-mutasi-protein-kanker-ovarium/ https://ugm.ac.id/id/berita/kuliah-double-degree-di-ugm-dan-university-of-leeds-kezia-uineke-teliti-mutasi-protein-kanker-ovarium/#respond Thu, 27 Aug 2026 01:00:33 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96955 Sebanyak 129 mahasiswa dari Fakultas Biologi mengikuti upacara Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan UGM pada Rabu (19/8) lalu di Grha  Sabha Pramana. Dari 129 lulusan sarjana tersebut, 6 diantaranya lulusan dari Program Double Degree S1 IUP Biologi UGM dengan Leeds University, Inggris. Kezia  Uenike salah satu wisudawan yang memperoleh gelar ganda. Bagi Kezia, menempuh […]

Artikel Kuliah Double Degree di UGM dan University of Leeds, Kezia Uenike Teliti Mutasi Protein Kanker Ovarium pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sebanyak 129 mahasiswa dari Fakultas Biologi mengikuti upacara Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan UGM pada Rabu (19/8) lalu di Grha  Sabha Pramana. Dari 129 lulusan sarjana tersebut, 6 diantaranya lulusan dari Program Double Degree S1 IUP Biologi UGM dengan Leeds University, Inggris.

Kezia  Uenike salah satu wisudawan yang memperoleh gelar ganda. Bagi Kezia, menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada dan University of Leeds, Inggris, bukan sekadar kesempatan untuk belajar di dua negara. Namun menjadi ajang untuk bisa belajar lebih mandiri, hingga membentuk cara pandangnya terhadap ilmu dan rencana pendidikan yang akan ditempuhnya.

Ia mengaku bersyukur bisa menyelesaikan program gelar ganda ini. Ketertarikan Kezia untuk mengikuti program double degree sudah ada sebelum dirinya menjadi mahasiswa UGM. Saat mencari informasi mengenai UGM, ia menemukan berbagai kerja sama dengan universitas di luar negeri dan sejak saat itu mulai mengincar kesempatan untuk mengikuti program itu. “Aku dari sebelum masuk UGM sudah merencanakan dan memang mengincar double degree-nya,” ujar Kezia, Kamis (27/8).

Ketertarikannya semakin kuat karena minat Kezia pada bidang bioteknologi. Menurutnya, bioteknologi memiliki banyak hal yang masih dapat dikembangkan, terutama untuk menghasilkan penerapan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. “Aku memang minatnya sebenarnya dari awal itu di biotek. Dan kebetulan waktu itu ada pilihan Biotech with Enterprise. Berarti kan ada biologinya, bioteknya, sama ada segi bisnisnya juga,” jelasnya.

Menurut Kezia, perpaduan antara ilmu biologi, bioteknologi, dan bisnis memberikan perspektif baru mengenai bagaimana ilmu pengetahuan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih aplikatif.

Menemukan Cara Belajar yang Berbeda

Selama menjalani studi di University of Leeds, Kezia menemukan perbedaan dalam sistem pembelajaran yang ia jalani di UGM. Salah satu perbedaan paling terasa adalah kegiatan laboratorium. Jika di UGM praktikum dapat berlangsung dalam beberapa sesi pada berbagai mata kuliah, di Leeds kegiatan laboratorium cenderung lebih terfokus. Mahasiswa diberikan waktu lebih panjang untuk mengembangkan eksperimen dan menentukan sendiri bagian yang ingin mereka dalami. “Kalau di sana itu semuanya fokus. Cuma ada satu atau dua lab tergantung mata kuliahnya ada lab atau enggak. Dan dari situ dikasih waktu biasanya satu bulan karena benar-benar kita disuruh mikir sendiri,” katanya.

Menurutnya, pembelajaran di Leeds tidak hanya berfokus pada pengetahuan atau aspek kognitif. Mahasiswa juga dilatih untuk mengembangkan berbagai keterampilan yang mendukung proses penelitian, seperti melakukan eksperimen, membuat tulisan ilmiah, serta mempresentasikan hasil penelitian. Ia juga mendapatkan pengalaman untuk belajar bagaimana menjelaskan penelitian dengan bahasa yang dapat dipahami oleh masyarakat luas. “Yang dipelajarin di situ bukan cuma yang kognitifnya, tapi juga skills-nya,” tuturnya.

Bagi Kezia, pengalaman tinggal di Leeds juga memberikan kesenangan sederhana. Ia menikmati lingkungan kota yang memungkinkan dirinya berjalan kaki dan mengamati perubahan musim. Ia mengaku senang melihat perubahan tumbuhan sepanjang tahun, termasuk ketika bunga mulai bermekaran dan lingkungan berubah mengikuti musim. “Musim dan tumbuhan yang berubah itu menarik banget untuk dilihat,” ungkapnya.

Skripsi Berbasis Penelitian 

Pengalaman akademik di Leeds kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan skripsi Kezia. Di kampus University of Leeds memilih supervisor yang telah memiliki laboratorium dan penelitian yang sedang berjalan. “Kalau di sana sistemnya kita milih supervisor. Jadi nanti dari supervisor itu, dia yang nentuin kita penelitiannya apa,” jelasnya.

Setiap dosen di Leeds, menurut Kezia, memiliki laboratorium dengan penelitian yang sedang berlangsung. Mahasiswa kemudian bergabung dalam penelitian itu. Meskipun topik penelitian ditentukan oleh supervisor, proses penelitian dan penulisannya tetap dikerjakan oleh mahasiswa. “Makanya mereka yang langsung keluarkan topiknya apa, tapi keseluruhannya seperti riset dan penulisannya itu kita yang ngelakuin,” katanya.

Melalui sistem itu, Kezia mengerjakan skripsi berjudul Bioinformatics Analysis of AHNAK2 and PIK3CA Protein Mutations in Ovarian Cancer. Skripsinya dikerjakan berbasis penelitian di University of Leeds, menggunakan pendekatan bioinformatika untuk mempelajari mutasi protein yang berkaitan dengan kanker ovarium. Penelitian itu berangkat dari sebuah dataset yang memuat sejumlah protein yang mengalami mutasi pada kanker ovarium. Kezia kemudian memilih dua protein untuk dianalisis, yakni AHNAK2 dan PIK3CA.

Secara sederhana, ia membandingkan sekuens protein normal dengan sekuens yang mengalami mutasi. Dari perbandingan itu, ia mengamati perubahan yang terjadi, mulai dari lokasi mutasi, perubahan struktur protein, hingga kemungkinan dampaknya terhadap fungsi protein. “Intinya aku melihat perubahan di situ dan aku melihat dari strukturnya juga, kira-kira berubahnya bagaimana,” jelasnya.

Meski harus beradaptasi dengan lingkungan baru, Kezia tetap merasakan dukungan dari lingkungan UGM. Ia menyebut para dosen di UGM memberikan perhatian dan bantuan selama menjalani program double degree. Hubungan itu, menurutnya, terasa lebih dekat dibandingkan dengan hubungan mahasiswa dan dosen di Leeds yang cenderung lebih formal. Mulai dari sistem administrasi hingga kendala akademik, Kezia menuturkan jika dosen dan tendik UGM sangat terbuka kepadanya. “Dosen-dosen yang di UGM benar-benar supportive dan siap membantu kapanpun,” ujarnya.

Setelah menyelesaikan program double degree, Kezia berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Ia merasa pengalaman belajar di UGM dan University of Leeds justru saling melengkapi. Pengetahuan yang diperoleh di UGM menjadi dasar akademik, sedangkan pengalaman di Leeds memberinya keterampilan untuk berpikir dan melakukan penelitian secara lebih mandiri.

Bagi Kezia, kesempatan menjalani pendidikan di dua negara memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar tambahan pengalaman akademik. Ia memperoleh kesempatan untuk melihat bagaimana sistem pendidikan yang berbeda bekerja dan kemudian membandingkannya secara langsung. “Menurutku, bisa merasakan dua-duanya di waktu yang sama itu hal yang pastinya bantu aku buat berkembang banget,” ungkapnya.

Kezia mendorong mahasiswa yang memiliki kesempatan untuk mengikuti program double degree agar tidak ragu mencobanya.Menurutnya, pengalaman semacam ini membuka perspektif baru mengenai pendidikan sekaligus kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya belum terpikirkan.“Itu tidak cuma membuka perspektif baru, tapi juga kesempatan baru,” pungkas Kezia.

Penulis : Zabrina Kumara

Editor   : Gusti Grehenson

Foto     : Dok. Kezia

Artikel Kuliah Double Degree di UGM dan University of Leeds, Kezia Uenike Teliti Mutasi Protein Kanker Ovarium pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kuliah-double-degree-di-ugm-dan-university-of-leeds-kezia-uineke-teliti-mutasi-protein-kanker-ovarium/feed/ 0
Cerita Ramzy Membagi Waktu di Dua Kampus hingga Sabet IPK Tertinggi https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-ramzy-membagi-waktu-di-dua-kampus-hingga-sabet-ipk-tertinggi/ https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-ramzy-membagi-waktu-di-dua-kampus-hingga-sabet-ipk-tertinggi/#respond Mon, 24 Aug 2026 09:33:01 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96917 Ramzy Izza Wardhana, wisudawan program studi S1 Ilmu Komputer FMIPA UGM dinobatkan menjadi lulusan terbaik pada penghelatan wisuda program Sarjana dan Sarjana Terapan UGM yang berlangsung di Grha Sabha Pramana UGM, Jumat (21/8). Ramzy berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi yakni 3,99. Sementara  IPK rata-rata 3.193 wisudawan program sarjana adalah 3,57. Ramzi mengaku merasa […]

Artikel Cerita Ramzy Membagi Waktu di Dua Kampus hingga Sabet IPK Tertinggi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Ramzy Izza Wardhana, wisudawan program studi S1 Ilmu Komputer FMIPA UGM dinobatkan menjadi lulusan terbaik pada penghelatan wisuda program Sarjana dan Sarjana Terapan UGM yang berlangsung di Grha Sabha Pramana UGM, Jumat (21/8). Ramzy berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi yakni 3,99. Sementara  IPK rata-rata 3.193 wisudawan program sarjana adalah 3,57.

Ramzi mengaku merasa terkejut sekaligus bersyukur karena awalnya tidak mengetahui bahwa dirinya menjadi salah satu lulusan dengan IPK tertinggi. Ia justru mengetahui kabar tersebut setelah namanya disebut saat penghelatan wisuda. “Saya merasa campur aduk. Ada rasa kaget, sekaligus bersyukur karena ternyata pencapaian itu benar-benar saya raih, ” ungkapnya bahagia, Senin (24/8).

Ramzy merupakan mahasiswa International Undergraduate Program (IUP) di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE) FMIPA UGM yang juga melakukan international exposure di program studi Artificial Intelligence and Computer Science, University of Birmingham, Inggris.

Alih-alih menempuh studi dalam empat tahun seperti jalur reguler, Ramzy menghabiskan lima tahun dalam perjalanan pendidikan sarjananya. Tambahan satu tahun tersebut menjadi bagian dari program extension yang memungkinkannya menjalani pengalaman akademik di luar negeri. Selama periode itu, ia membagi masa studinya antara UGM dan Inggris.“Saya sebenarnya tiga tahun di Inggris, dua tahun kuliah dan satu tahun kerja. Satu tahun kerja itu namanya industrial placement, yang bisa dijalankan bersamaan dengan program MBKM di sini dan dikonversikan menjadi SKS,” jelasnya.

Selama kuliah, Ramzi tidak hanya berfokus pada perkuliahan. Ia aktif di sejumlah organisasi, antara lain Omah TI, KOMATIK, HIMAKOM, dan Google Developer Program on Campus UGM. Pengalaman organisasi memberinya kesempatan bertemu praktisi industri dari berbagai perusahaan dan memperluas wawasan mengenai dunia profesional.

Ramzy membagi fokus kuliahnya berdasarkan tahapan. Pada tahun-tahun awal, ia lebih banyak membangun soft skill, pengalaman organisasi, volunteering, dan networking, sementara pada tahun ketiga dan keempat ia mulai meningkatkan kompetensi teknis dan mempersiapkan karier profesional. “Karena itu, ketika sampai di Inggris, alokasi waktu saya lebih banyak untuk belajar teknikal, mengikuti perkuliahan, sekaligus mempersiapkan diri untuk magang di sana. Saya memberikan waktu sekitar dua sampai tiga jam setiap hari untuk belajar. Yang penting konsisten.” tuturnya

Ia mengungkapkan cara belajar yang berbeda dengan ketika mulai menjalani perkuliahan. Memasuki dunia kuliah, khususnya pada mata kuliah yang bersifat teknis, ia mulai lebih banyak mengandalkan latihan dan pemahaman materi. “Cara belajar saya juga berubah-ubah. Waktu SMA mungkin saya masih banyak menghafal, kemudian ketika kuliah mulai lebih banyak latihan soal dan memahami konsep. Ketika di Inggris, karena sistemnya lebih banyak self-study, saya harus lebih mandiri mengatur bagaimana saya belajar.” ungkapnya.

Di balik pencapaiannya, Ramzy mengakui ada kompromi yang harus dilakukan. Pada fase tertentu, ia harus mengurangi porsi waktu untuk kehidupan sosial dan aktivitas lain demi mengejar target akademik maupun profesional.  “Pasti selalu ada kompromi di sini kalau kita pengen achieve semuanya. Kita sendiri lah itu adalah choice (pilihan). Orang memilih apa yang kita inginkan. Dan memang dalam periode-periode tertentu saya juga harus mengendalikan social life saya. Saya sendiri pribadi suka berteman. Saya di situ juga berteman. Cuman di kala-kala waktu saya harus fokus, misalnya mau ujian atau mau ada interview, di situ saya lebih sering berteman dengan diri sendiri,”  kata Ramzy.

Bagi Ramzy, lima tahun masa perkuliahan bukan sekadar perjalanan menuju gelar dan IPK tertinggi. “Life changing,” katanya singkat. Pengalaman merantau, belajar di dua negara, hidup mandiri, hingga mengenal dunia profesional menjadi bagian yang membentuk dirinya hari ini. Namun, perjalanan itu tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Ia berharap pengalaman yang diperolehnya dapat menjadi bekal untuk ikut memperbaiki persoalan di Indonesia.

“Saya berharap pengalaman dan kesempatan yang saya dapatkan di luar negeri bisa saya gunakan untuk memperbaiki gap yang masih ada di Indonesia. Kita bisa belajar dari negara-negara yang sudah berhasil menyelesaikan berbagai persoalan, seperti sustainability, korupsi, dan tata lingkungan. Pada akhirnya, semua itu membutuhkan kontribusi kolektif dari banyak orang. Karena by the end of the day, ya, kita yang bakal meneruskan pemerintah.” pungkasnya.

Penulis : M. Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Ramzi

Artikel Cerita Ramzy Membagi Waktu di Dua Kampus hingga Sabet IPK Tertinggi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-ramzy-membagi-waktu-di-dua-kampus-hingga-sabet-ipk-tertinggi/feed/ 0
Lebih Unggul dan Tangguh, Persilangan Sapi Jaliteng Perkuat Mutu Genetik Sapi Bali https://ugm.ac.id/id/berita/lebih-unggul-dan-tangguh-persilangan-sapi-jaliteng-perkuat-mutu-genetik-sapi-bali/ https://ugm.ac.id/id/berita/lebih-unggul-dan-tangguh-persilangan-sapi-jaliteng-perkuat-mutu-genetik-sapi-bali/#respond Mon, 24 Aug 2026 08:57:07 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96913 Pemanfaatan sapi Jaliteng sebagai sumber genetik alternatif berpotensi meningkatkan produktivitas sapi Bali. Sebagai informasi, sapi Jaliteng merupakan hasil perkawinan antara sapi Bali dan banteng Jawa. Program perkawinan tersebut mulai dilakukan pada 2011 oleh Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur bersama Taman Safari Indonesia II Prigen-Pasuruan. Program tersebut kemudian menghasilkan keturunan yang dikenal sebagai sapi Jaliteng. Seiring […]

Artikel Lebih Unggul dan Tangguh, Persilangan Sapi Jaliteng Perkuat Mutu Genetik Sapi Bali pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pemanfaatan sapi Jaliteng sebagai sumber genetik alternatif berpotensi meningkatkan produktivitas sapi Bali. Sebagai informasi, sapi Jaliteng merupakan hasil perkawinan antara sapi Bali dan banteng Jawa. Program perkawinan tersebut mulai dilakukan pada 2011 oleh Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur bersama Taman Safari Indonesia II Prigen-Pasuruan. Program tersebut kemudian menghasilkan keturunan yang dikenal sebagai sapi Jaliteng. Seiring perkembangannya, semen beku dari pejantan Jaliteng dikembangkan untuk mendukung program inseminasi buatan. 

Dari hasil penelitian menunjukkan penggunaan semen Jaliteng pada induk sapi Bali menghasilkan conception rate (CR) sebesar 95,50 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan penggunaan semen sapi Bali yang menghasilkan CR sebesar 70 persen. Selain itu, nilai service per conception juga tercatat lebih rendah pada kelompok yang menggunakan semen Jaliteng.

Hal itu disampaikan  mahasiswa Program Doktor Ilmu Peternakan, Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Adi Tiya Warman, melalui disertasinya berjudul “Peningkatan Produktivitas Sapi Bali Melalui Perkawinan dengan Sapi Jaliteng di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat”. 

Disertasi tersebut dipertahankan dalam sidang ujian tertutup pada Jumat (21/8). Bertindak sebagai promotor Prof. Ir. Panjono, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., ASEAN Eng, serta Prof. Ir. Tri Satya Mastuti Widi, S.Pt., M.P., M.Sc., Ph.D., ASEAN Eng dan Prof. Dr. Ir. Sigit Bintara, M.Si., IPU., ASEAN Eng sebagai ko-promotor.

Adi menuturkan, penelitian yang dilakukannya di Lombok Tengah dan Jawa Timur tersebut membandingkan produktivitas sapi Bali dengan sapi hasil perkawinan sapi Bali dan Jaliteng melalui metode inseminasi buatan. Selain dari sisi performa reproduksi, potensi lainnya pada pertumbuhan pedet hasil persilangan. Pedet hasil perkawinan Jaliteng dan sapi Bali diketahui memiliki sejumlah ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan pedet Bali murni. Saat sapih, panjang badan pedet dari hasil persilangan Jaliteng dan Bali mencapai rata-rata 88,15 cm, sedangkan pedet Bali memiliki rata-rata panjang badan 82,59 cm.

Di sisi lain, persilangan tersebut tetap mempertahankan sebagian besar karakter fenotipik khas sapi Bali. Beberapa karakter tersebut antara lain warna kaus kaki putih, cermin pantat putih, dan garis punggung hitam. Tentu, hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan sapi Jaliteng sebagai sumber genetik alternatif tetap memungkinkan dipertahankannya sejumlah karakteristik khas sapi Bali. “Sapi Jaliteng potensial menjadi pejantan alternatif dalam program pembibitan sapi Bali, terutama melalui pemanfaatan semen beku dalam program inseminasi buatan,”kata Adi.

Meski menunjukkan hasil yang menjanjikan, Adi menekankan perlunya penelitian lanjutan untuk melihat performa keturunan hasil persilangan setelah melewati masa sapih hingga mencapai usia dewasa. Kajian tersebut diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai produktivitas dan karakteristik keturunan sapi hasil perkawinan Jaliteng dan Sapi Bali.

Reportase : Satria/Humas Fapet

Penulis.     : Zabrina Kumara

Editor        : Gusti Grehenson
Foto.         : Detik dan Dok. Tim Pascasarjana Fapet

Artikel Lebih Unggul dan Tangguh, Persilangan Sapi Jaliteng Perkuat Mutu Genetik Sapi Bali pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/lebih-unggul-dan-tangguh-persilangan-sapi-jaliteng-perkuat-mutu-genetik-sapi-bali/feed/ 0
Tempuh Beragam Jalur Karier, Lulusan UGM Diminta Tetap Jaga Integritas https://ugm.ac.id/id/berita/tempuh-beragam-jalur-karier-lulusan-ugm-diminta-tetap-jaga-integritas/ https://ugm.ac.id/id/berita/tempuh-beragam-jalur-karier-lulusan-ugm-diminta-tetap-jaga-integritas/#respond Fri, 21 Aug 2026 06:37:01 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96836 Universitas Gadjah Mada meluluskan sebanyak 3.865 wisudawan dan wisudawati pada periode ini, dengan 952 lulusan diantaranya mengikuti prosesi wisuda hari ketiga dari Fakultas Geografi, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Jumat (21/8). Dari jumlah tersebut, 37,88% merupakan wisudawan dan 62,12% merupakan wisudawati. Lebih dari sekadar […]

Artikel Tempuh Beragam Jalur Karier, Lulusan UGM Diminta Tetap Jaga Integritas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada meluluskan sebanyak 3.865 wisudawan dan wisudawati pada periode ini, dengan 952 lulusan diantaranya mengikuti prosesi wisuda hari ketiga dari Fakultas Geografi, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Jumat (21/8). Dari jumlah tersebut, 37,88% merupakan wisudawan dan 62,12% merupakan wisudawati.

Lebih dari sekadar seremoni penanda berakhirnya masa studi, wisuda menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang yang telah dilalui sekaligus meneguhkan tanggung jawab lulusan setelah kembali ke tengah masyarakat. Semangat tersebut turut tercermin dalam pesan yang disampaikan Anissa Dini Kamila, wisudawan Fakultas Ilmu Budaya, saat mewakili para wisudawan menyampaikan sambutan.

Di hadapan pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, orang tua, serta sesama wisudawan, Anissa mengajak para lulusan untuk memaknai gelar yang diperoleh bukan semata sebagai pencapaian pribadi, melainkan sebagai buah dari perjuangan dan pengorbanan yang turut melibatkan keluarga. “Gelar ini seutuhnya adalah milik ayah dan ibu,” ujar Anissa.

Ia menuturkan, bagi sebagian mahasiswa, bertahan dan menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi bukanlah hal yang mudah. Menurutnya, berbagai pengorbanan orang tua menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan para wisudawan. Ia pun menyampaikan apresiasi kepada orang tua yang terus mendukung anak-anak mereka, bahkan dalam kondisi penuh keterbatasan.“Di Universitas Gadjah Mada, kita selalu menggaungkan semboyan kampus kerakyatan. Tapi kawan-kawan, rakyat yang paling nyata menderita demi pendidikan kita adalah orang tua kita sendiri,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Anissa mengingatkan jika perjalanan para lulusan tidak berhenti setelah prosesi wisuda. Para lulusan UGM nantinya akan menempuh beragam jalur profesi, mulai dari akademisi, pengusaha, birokrat, hingga pemangku kebijakan di tingkat nasional dan internasional. Keragaman pilihan tersebut, menurutnya, perlu diiringi dengan komitmen untuk tetap memahami persoalan masyarakat dan menjunjung tinggi integritas. “Kita butuh orang-orang yang pernah merasakan kelaparan, di tengah memperjuangkan pendidikan, yang mengerti penderitaan rakyat kecil untuk merancang kebijakan di negeri ini. Tapi dengan satu syarat mutlak, yaitu jangan pernah tinggalkan integritas,” tegasnya.

Ia juga berpesan agar para lulusan tidak menggunakan pengetahuan dan posisi yang kelak diperoleh untuk menciptakan bentuk penindasan baru. Bagi Annisa, kekuasaan dan materi tidak semestinya menggeser nilai-nilai yang telah dibangun selama menempuh pendidikan. “Jangan menjadi mesin penindas yang baru. Jika suatu saat nanti kekuasaan dan setumpuk uang mencoba menyuap nurani kalian, ingatlah bahwa kita lahir dari rahim Universitas Gadjah Mada,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Anissa juga mengajak para lulusan untuk mempertahankan nalar kritis sebagai bagian dari identitas mereka setelah meninggalkan kampus. Ia menilai, pendidikan di perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan dengan kompetensi akademik, tetapi juga individu yang mampu melihat persoalan secara kritis dan memiliki kepedulian terhadap kehidupan masyarakat.

Amalia Susilowati, alumni UGM tahun 1987 yang juga merupakan Ketua Departemen Kemitraan dan Bisnis PP KAGAMA, menyampaikan penghormatan kepada para orang tua yang telah mendampingi perjalanan para wisudawan hingga hari ini. Ia menilai, di balik setiap pencapaian wisudawan, terdapat pengorbanan, kekhawatiran, dan dukungan orang tua yang kerap diberikan tanpa terlihat. “Saya yakin, semua orang tua hanya ingin anaknya melihat harapan, bukan kesulitan,” ungkap Amalia.

Amalia juga mengingatkan para wisudawan bahwa kelulusan menjadi awal dari perjalanan baru sebagai bagian dari keluarga besar KAGAMA. “Mulai hari ini, nama Universitas Gadjah Mada akan selalu melekat di belakang perjalanan kalian semua,” tuturnya.

Ia mengajak para alumni memanfaatkan jejaring KAGAMA untuk belajar, berkolaborasi, dan membuka kesempatan bersama, bukan untuk mencari jalan pintas maupun keistimewaan. Lebih lanjut, Amalia memperkenalkan tiga nilai yang menjadi napas KAGAMA, yakni Guyub, Rukun, dan Migunani. “Guyub berarti kita tidak berjalan sendiri. Rukun berarti kita mampu menjaga persaudaraan di tengah perbedaan. Migunani berarti keberadaan kita harus memberikan manfaat bagi orang lain, negara, dan Ibu Pertiwi,” jelasnya.

Ia berharap para wisudawan kelak mampu menjadi profesional yang berintegritas, ilmuwan yang menghadirkan terobosan, serta pemimpin yang amanah dan memberikan solusi bagi masyarakat dan bangsa.

Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, mengucapkan selamat kepada para wisudawan yang telah menyelesaikan pendidikan sarjana dan meraih berbagai prestasi. Ia mendorong para lulusan menjadikan kelulusan sebagai awal untuk melangkah ke dunia profesional dengan penuh keyakinan. “Jadikan kelulusan dari program Sarjana ini sebagai point of departure untuk terjun ke dunia profesional dengan penuh percaya diri,” tuturnya.

Wening juga mengingatkan para lulusan untuk membawa keberanian dan keuletan dalam menapaki perjalanan setelah lulus. Menurutnya, para wisudawan telah memiliki bekal yang kuat sebagai lulusan universitas berkelas dunia sekaligus perguruan tinggi kerakyatan yang dikenal rendah hati dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat. “Kalian harus memiliki audacity, keberanian, dan keuletan karena kalian telah memiliki bekal yang sangat lengkap dan kuat sebagai seorang Sarjana yang lulus dari Universitas berkelas dunia,” ujarnya.

Lebih lanjut, Wening mendorong para wisudawan memanfaatkan reputasi dan jejaring sosial yang dimiliki UGM sebagai modal untuk memasuki dunia yang mereka cita-citakan. “Gunakanlah social capital ini sebagai pintu masuk ke dunia yang kalian cita-citakan,” pesannya.

Penulis : Zabrina Kumara

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Tempuh Beragam Jalur Karier, Lulusan UGM Diminta Tetap Jaga Integritas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/tempuh-beragam-jalur-karier-lulusan-ugm-diminta-tetap-jaga-integritas/feed/ 0
Rektor UGM Ajak Lulusan Jadi Pribadi Berkarakter dan Berdampak https://ugm.ac.id/id/berita/rektor-ugm-ajak-lulusan-jadi-pribadi-berkarakter-dan-berdampak/ https://ugm.ac.id/id/berita/rektor-ugm-ajak-lulusan-jadi-pribadi-berkarakter-dan-berdampak/#respond Thu, 20 Aug 2026 08:54:14 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96821 Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 untuk hari kedua, pada Kamis (20/8) di Grha Sabha Pramana UGM. Pada periode ini, UGM mewisuda 3.865 mahasiswa yang terdiri atas 3.193 lulusan program sarjana, 672 lulusan program sarjana terapan, dan 5 lulusan warga negara asing. Sebanyak 1.486 lulusan […]

Artikel Rektor UGM Ajak Lulusan Jadi Pribadi Berkarakter dan Berdampak pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 untuk hari kedua, pada Kamis (20/8) di Grha Sabha Pramana UGM. Pada periode ini, UGM mewisuda 3.865 mahasiswa yang terdiri atas 3.193 lulusan program sarjana, 672 lulusan program sarjana terapan, dan 5 lulusan warga negara asing. Sebanyak 1.486 lulusan mengikuti prosesi wisuda hari kedua yang berasal dari tujuh fakultas, yakni Fakultas Farmasi, Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Filsafat, Fakultas Hukum, dan Fakultas Teknik.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menyampaikan selamat kepada para wisudawan yang telah menyelesaikan pendidikan di UGM. Ia berharap, ilmu dan pengalaman yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan dapat menjadi bekal bagi para lulusan untuk terus menghasilkan inovasi dan karya yang dapat memberikan dampak bagi masyarakat luas. “Perjuangan panjang tapi yang jelas tidak sia-sia. Perjuangan itu menjadi bekal yang telah didapatkan, tentunya harapannya dapat menghasilkan karya-karya dan inovasi yang nyata untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berdampak bagi bangsa,” tuturnya.

Ova juga menekankan pentingnya kesiapan lulusan dalam menghadapi perubahan dan perkembangan teknologi. Ia menyebut, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan bangsa, terutama melalui pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI). Sejak tahun 2023, kata Ova, UGM terus mengoptimalkan pemanfaatan AI dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Upaya tersebut juga terwujud dalam pengembangan UGM AI Society, serta pembukaan UGM Indosat NVIDIA AI Technology Center. “Pengembangan ekosistem AI di UGM merupakan upaya yang terus dilakukan dalam meningkatkan pengembangan keilmuan dan inovasi, serta mengembangkan talenta berbasis AI dalam menjawab persoalan bangsa,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mendorong para lulusan untuk dapat memperluas peluang kerja, serta memiliki keberanian dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Adapun penguatan karakter kewirausahaan, memperkuat jejaring kolaborasi dengan industri, hingga pengembangan industri kreatif dinilai penting dalam mendukung kemandirian bangsa. Sehingga, ia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari diperolehnya ijazah maupun pekerjaan ketika lulus. Para lulusan juga diharapkan memiliki karakter dan mampu memberikan kontribusi nyata. “Menjadi lulusan UGM tidak hanya sekadar mengantongi ijazah dan sukses mendapat pekerjaan. Tetapi, perlu juga menjadi pribadi yang berkarakter serta berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.

Ova turut mengajak para lulusan untuk meningkatkan kompetensi dan keahlian setelah menyelesaikan pendidikan. Menurutnya, pendidikan merupakan proses yang terus membuka cakrawala pengetahuan, sehingga lulusan diharapkan mampu memetakan persoalan sekaligus menemukan solusi tepat. Setelah resmi menjadi alumni UGM, Ova berharap lulusan dapat terus membangun jejaring melalui KAGAMA serta berkolaborasi dengan almamater dalam berbagai kegiatan. “Dengan syukur dan rasa bangga, saya turut mendoakan semoga seluruh lulusan UGM yang diwisuda hari ini menjadi pribadi yang memiliki integritas, karakter, dan berdaya saing dalam menjawab tantangan masa depan,” harap Ova.

Senada dengan Rektor UGM, Ketua Departemen Kerjasama Kementerian atau Lembaga Pengurus Pusat KAGAMA, Dr. Ir. Arnanto Nurprabowo, M.P., mengajak para wisudawan untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia kerja di tengah pesatnya perkembangan AI. Menurutnya, AI kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan dapat membawa perubahan besar terhadap kebutuhan tenaga kerja. Walaupun begitu, ia menuturkan meskipun puluhan juta pekerjaan rutin dan administratif diproyeksikan rentan tergantikan otomatisasi menjelang 2030, pada saat yang sama akan muncul lapangan pekerjaan baru di bidang big data, fintech, AI, dan software development. “Sekarang kita sudah masuk pada zaman di mana AI sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, ia mendorong agar perubahan tersebut dapat direspons dengan peningkatan kompetensi dan kemampuan berkolaborasi dengan teknologi. Adapun inovasi AI Technology Center yang telah diluncurkan UGM bersama Indosat dan NVIDIA dapat menjadi fasilitas yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan talenta dalam bidang AI. Ia juga mengajak para wisudawan memanfaatkan berbagai program upskilling digital gratis yang disediakan pemerintah serta berkontribusi melalui KAGAMA setelah menyelesaikan studi.

Perwakilan wisudawan dari Fakultas Teknik, Kayla Zahra Ramadhany, menyadari bahwa perjuangan dan perjalanan dalam menempuh masa studi selama empat tahun kebelakang ini tidak semata hanya berakhir mendapatkan gelar. Banyak pembelajaran yang jauh lebih besar tidak hanya melalui teori, buku, dan ujian di kelas. Lebih dari itu, ia menuturkan bahwa pembelajaran bisa diperoleh di mana saja, seperti melalui kuliah kerja nyata, bertemu dengan orang lain dengan sudut pandang berbeda, hingga dari pengalaman akan kegagalan. “Karena pada akhirnya, ilmu yang kita dapatkan di UGM tidak seharusnya berhenti di ruang kelas, ilmu itu akan kita bawa keluar. Disanalah perjalanan belajar yang sebenarnya akan kita mulai,” pungkas Kayla.

Penulis : Cyntia Noviana

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie Tristan

Artikel Rektor UGM Ajak Lulusan Jadi Pribadi Berkarakter dan Berdampak pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/rektor-ugm-ajak-lulusan-jadi-pribadi-berkarakter-dan-berdampak/feed/ 0
UGM Wisuda 3.865 Lulusan, Terbanyak Sepanjang Sejarah Kampus https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-wisuda-3-865-lulusan-terbanyak-sepanjang-sejarah-kampus/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-wisuda-3-865-lulusan-terbanyak-sepanjang-sejarah-kampus/#respond Wed, 19 Aug 2026 08:06:36 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96770 Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 pada Rabu (19/8) yang diikuti 3.865 lulusan. Jumlah tersebut menjadi periode wisuda sarjana dan sarjana terapan terbesar dalam sejarah UGM, terdiri atas 3.193 lulusan program sarjana dan 672 lulusan program sarjana terapan. Prosesi dilaksanakan selama tiga hari, dengan hari pertama […]

Artikel UGM Wisuda 3.865 Lulusan, Terbanyak Sepanjang Sejarah Kampus pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 pada Rabu (19/8) yang diikuti 3.865 lulusan. Jumlah tersebut menjadi periode wisuda sarjana dan sarjana terapan terbesar dalam sejarah UGM, terdiri atas 3.193 lulusan program sarjana dan 672 lulusan program sarjana terapan. Prosesi dilaksanakan selama tiga hari, dengan hari pertama diikuti 1.427 lulusan dari Fakultas Peternakan, Fakultas Kehutanan, Fakultas Kedokteran Hewan, FKKMK, Fakultas Biologi, Fakultas Psikologi, serta Sekolah Vokasi. Dari keseluruhan lulusan, 62,12 persen merupakan perempuan dan 37,8 persen laki-laki. Pada program sarjana, rerata masa studi tercatat 4 tahun 1 bulan dengan IPK rata-rata 3,57, sementara program sarjana terapan memiliki rerata masa studi 4 tahun dan IPK rata-rata 3,7.

Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D. menyampaikan bahwa perjalanan akademik para lulusan perlu dilanjutkan dengan kontribusi setelah mereka meninggalkan kampus. Pendidikan yang ditempuh di UGM diharapkan memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi persoalan sekaligus membaca peluang yang hadir di tengah perubahan. Ia menekankan pentingnya mengubah bekal akademik menjadi karya yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Bagi UGM, capaian pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan upaya menghadirkan pembangunan yang berkelanjutan dan berdampak. “Saya meyakini bahwa lulusan UGM senantiasa memiliki perspektif sebagai calon pemimpin, memiliki paradigma dan perubahan baru, juga memiliki ide serta karya inovasi yang mampu mengoptimalkan potensi diri dalam lingkup profesi yang ditekuni,” ungkap Rektor.

Momentum kelulusan juga dimanfaatkan Rektor untuk menyampaikan simpati kepada masyarakat yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus. UGM bersama jejaring alumni telah berkoordinasi untuk mengambil bagian dalam gerakan solidaritas selama masa tanggap darurat. Upaya tersebut mencakup penanganan terpadu, pemetaan dampak, serta penyaluran dukungan bagi mahasiswa dan alumni UGM yang terdampak bencana. Rektor menempatkan kepedulian terhadap masyarakat sebagai bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi yang perlu terus dihidupkan melalui jejaring dan kolaborasi. “Bersama alumni, UGM sudah berkoordinasi untuk segera menjadi bagian dari gerakan solidaritas untuk membantu saudara kita yang terdampak dalam masa tanggap darurat,” ujarnya.

Upaya merespons persoalan masyarakat juga berjalan melalui pengembangan teknologi di lingkungan UGM. Sejak 2023, UGM mengoptimalkan pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian melalui UGM AI Society sebagai wadah kolaborasi lintas disiplin. Pengembangan AI Technology Center di GIK UGM kemudian memperluas ruang pemanfaatan teknologi untuk kebutuhan masyarakat, termasuk melalui AI Technology for Disaster. Teknologi tersebut telah digunakan sejak hari pertama bencana untuk membantu memetakan kebutuhan di lapangan dan terhubung dengan BNPB serta BPBD. “AI Technology for Disaster telah membantu sejak hari pertama kejadian bencana yang berfungsi untuk memetakan kebutuhan di lapangan,” jelas Rektor.

Sejalan dengan itu, Wakil Ketua Umum IV Pengurus Pusat KAGAMA Prof. Anwar Sanusi, M.Sc., Ph.D. mengingatkan para lulusan bahwa hari kelulusan menjadi awal dari perjalanan baru di dunia kerja dan pengabdian. Perubahan teknologi, kecerdasan artifisial, transisi hijau, serta dinamika demografi akan mengubah jenis pekerjaan sekaligus kompetensi yang dibutuhkan. Ia menyebut proyeksi World Economic Forum hingga 2030 memperkirakan 92 juta pekerjaan akan terdampak atau tergantikan, sementara 170 juta pekerjaan baru diproyeksikan tercipta. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa lulusan perlu terus mengembangkan kompetensi agar mampu mengambil peluang dalam pasar kerja yang semakin terbuka. “Tantangannya adalah apakah kita memiliki kompetensi untuk mengisi peluang tersebut dan apakah kita bisa memenangkan persaingan dalam pasar kerja yang terbuka dan kompetitif,” jelasnya.

Anwar kemudian mengajak lulusan menjadikan proses belajar sebagai kebiasaan yang terus berlangsung setelah memperoleh ijazah. Ia melihat bonus demografi Indonesia dapat menjadi kekuatan pembangunan apabila diiringi sumber daya manusia yang kompeten, adaptif, produktif, dan berkarakter. Pengetahuan yang diperoleh di perguruan tinggi perlu dibawa ke berbagai ruang pengabdian, baik di industri, pemerintahan, pendidikan, penelitian, maupun kewirausahaan. Di setiap bidang, integritas dan nilai yang menjadi bekal selama berada di UGM perlu tetap dijaga. “Jadilah pembelajar sepanjang hayat, adaptif terhadap perubahan tetapi teguh pada nilai dan prinsip,” tuturnya.

Bagi Faradila Azzahra Destriyanti, wakil wisudawan dari Fakultas Kedokteran Hewan, perjalanan menuju hari kelulusan juga menjadi proses untuk mengenali dan mengembangkan keberanian dalam diri. Ia mengenang masa awal kuliah ketika berbicara di depan banyak orang masih menjadi hal yang membuatnya berpikir berulang kali. Berbagai kesempatan di UGM kemudian membawanya keluar dari zona nyaman melalui kegiatan kampus, pengalaman berbicara di depan publik, serta tanggung jawab yang sebelumnya belum pernah ia bayangkan. Kegagalan dan kekurangan yang ditemui sepanjang perjalanan ia terima sebagai bagian dari proses pembentukan diri. “Saya yakin teman-teman di ruangan ini juga memiliki ceritanya masing-masing tentang hal-hal yang dulu terasa sulit, kemudian kita beranikan diri untuk mencoba,” ungkap Faradila.

Faradila juga mengajak para lulusan untuk menghargai setiap orang yang telah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan mereka. Ia menyampaikan apresiasi kepada orang tua, keluarga, dosen, tenaga kependidikan, serta seluruh pihak yang memberikan dukungan hingga para lulusan mencapai hari kelulusan. Setelah meninggalkan kampus, para lulusan akan menempuh jalan yang berbeda, baik melanjutkan pendidikan, bekerja, menjalani pendidikan profesi, maupun menentukan langkah berikutnya. Perbedaan pilihan dan waktu pencapaian tidak perlu menjadi alasan untuk membandingkan perjalanan satu sama lain. “Semoga setelah hari ini langkah kita selalu membawa kebermanfaatan, membanggakan orang-orang yang telah mendukung kita, dan membawa nama baik almamater yang kita cintai,” tutupnya.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Donnie

Artikel UGM Wisuda 3.865 Lulusan, Terbanyak Sepanjang Sejarah Kampus pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-wisuda-3-865-lulusan-terbanyak-sepanjang-sejarah-kampus/feed/ 0
Mitigasi Emisi Karbon, Lindungi Penghidupan Peternak  https://ugm.ac.id/id/berita/mitigasi-emisi-karbon-lindungi-penghidupan-peternak/ https://ugm.ac.id/id/berita/mitigasi-emisi-karbon-lindungi-penghidupan-peternak/#respond Sat, 15 Aug 2026 03:03:27 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96657 Sektor peternakan jadi penyumbang sekitar 14-16% emisi gas rumah kaca. Berbagai gas rumah kaca yang dihasilkan sektor peternakan, metana (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O) merupakan dua gas yang paling berpengaruh. Besarnya kontribusi Subsektor Peternakan terhadap emisi gas rumah kaca sekaligus menunjukkan bahwa sektor ini berada pada posisi yang unik. Di satu sisi  peternakan terdampak perubahan […]

Artikel Mitigasi Emisi Karbon, Lindungi Penghidupan Peternak  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sektor peternakan jadi penyumbang sekitar 14-16% emisi gas rumah kaca. Berbagai gas rumah kaca yang dihasilkan sektor peternakan, metana (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O) merupakan dua gas yang paling berpengaruh. Besarnya kontribusi Subsektor Peternakan terhadap emisi gas rumah kaca sekaligus menunjukkan bahwa sektor ini berada pada posisi yang unik. Di satu sisi  peternakan terdampak perubahan iklim akibat peningkatan suhu lingkungan menyebabkan stres panas yang berdampak pada penurunan konsumsi pakan, gangguan reproduksi, penurunan produksi susu dan daging, serta meningkatnya kerentanan ternak terhadap penyakit. Namun disisi lain juga memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam upaya mitigasi perubahan iklim melalui penerapan teknologi dan manajemen yang lebih berkelanjutan.

Dosen Fakultas Peternakan UGM, Prof. Dr. Ir. Siti Andarwati., S.Pt., MP., IPU., ASEAN Eng., dalam pidato pengukuhannya Guru Besar mengatakan implementasi mitigasi dan adaptasi yang terintegrasi tidak hanya berkontribusi terhadap pengendalian perubahan iklim, tetapi juga meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, ketahanan ekonomi rumah tangga peternak, dan keberlanjutan mata pencaharian.

Dalam sektor peternakan, strategi mitigasi diarahkan pada upaya penurunan emisi gas rumah kaca melalui peningkatan efisiensi produksi, perbaikan kualitas pakan, pemanfaatan teknologi pakan aditif, pengolahan limbah ternak menjadi biogas, serta penerapan sistem peternakan yang lebih ramah lingkungan. Di sisi lain, strategi adaptasi bertujuan meningkatkan kemampuan peternak dan ternak dalam menghadapi dampak perubahan iklim. “Kedua strategi tersebut perlu menjadi bagian penting dalam kebijakan pembangunan peternakan di tingkat nasional maupun regional,” ungkapnya.

Langkah yang dapat diambil yakni melalui penyesuaian sistem produksi dan manajemen mencakup penganekaragaman spesies hewan ternak dan tanaman, penggabungan sektor peternakan dengan pertanian dan kehutanan, serta pergeseran jadwal dan area operasional pertanian. Penganekaragaman komoditas ini diyakini mampu memperkuat ketahanan terhadap cuaca panas ekstrem dan kekeringan, sehingga produktivitas ternak tetap stabil meskipun menghadapi tekanan suhu dan curah hujan. Kemudian, Pencegahan penyakit pada hewan ternak dapat dilakukan melalui manajemen vaksinasi, dukungan kebijakan dan regulasi, inovasi adaptasi penyakit, dukungan finansial, dan peternakan yang berkelanjutan. Tidak hanya itu, pengembangan agroforestri dan integrasi tanaman ternak juga dapat membantu menjaga keseimbangan antara produksi pertanian, perlindungan lingkungan, dan penyerapan karbon untuk mengimbangi emisi dari sektor tersebut.

Selain itu, penting pula menerapkan tata laksana pemberian pakan yang lebih efisien sebagai wujud adaptasi yang  secara tidak langsung membantu mengoptimalkan tingkat produktivitas dan hasil ternak.

Terakhir, Ia menambahkan bahwa diperlukannya modifikasi dalam strategi pemuliaan guna meningkatkan daya tahan ternak terhadap suhu panas dan serangan penyakit. Dengan demikian, tantangan utamanya terletak pada upaya mendongkrak produktivitas ternak tanpa mengorbankan karakteristik adaptif penting yang dihasilkan dari metode pemuliaan. “Strategi tersebut meningkatkan ketahanan ternak terhadap tekanan lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi peternak melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha. Oleh karena itu, adaptasi yang terencana menjadi kunci dalam mendukung keberlanjutan sistem peternakan dan mata pencaharian peternak,” terangnya.

Dalam implementasinya, kendala utama dalam mensukseskan perubahan ini terletak pada persepsi dan kapasitas peternak dalam mengidentifikasi masalah. “Maka dari itu, analisis mendalam terkait persepsi petani terhadap upaya mitigasi dan adaptasi menjadi sangat esensial,” ungkapnya.

Kekuatan dinamika kelompok ternak juga menjadi salah satu kekuatan untuk kapasitas adaptif peternak. Akan tetapi, keberlanjutan mata pencaharian peternak tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meningkatkan produktivitas ternak, tetapi juga oleh kemampuan mereka dalam menghadapi berbagai resiko yang berasal dari perubahan iklim, globalisasi pasar, serta tantangan sosial-ekonomi dan kelembagaan. “Pembangunan peternakan ke depan perlu diarahkan pada penguatan aset penghidupan peternak secara terpadu agar tujuan sustainable livelihood atau mata pencaharian berkelanjutan dapat tercapai,” pungkasnya.

Penulis : Jelita Agustine

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie Tristan

Artikel Mitigasi Emisi Karbon, Lindungi Penghidupan Peternak  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mitigasi-emisi-karbon-lindungi-penghidupan-peternak/feed/ 0
Memahami Pohon, Menyelamatkan Ekosistem https://ugm.ac.id/id/berita/memahami-pohon-menyelamatkan-ekosistem/ https://ugm.ac.id/id/berita/memahami-pohon-menyelamatkan-ekosistem/#respond Thu, 13 Aug 2026 07:50:54 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96614 Pohon bagi masyarakat Papua adalah sebuah jantung yang menyatukan kompleksitas hubungan antara air dan tanah. Air membutuhkan tanah sebagai wadah, demikian tanah yang membutuhkan air agar dirinya tak menjadi debu mati. Filosofi tersebut tak hanya menjadi pegangan bagi masyarakat Papua untuk melihat besarnya peranan pohon bagi mereka. Namun, juga turut sejalan dengan berbagai rentetan pengamatan […]

Artikel Memahami Pohon, Menyelamatkan Ekosistem pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pohon bagi masyarakat Papua adalah sebuah jantung yang menyatukan kompleksitas hubungan antara air dan tanah. Air membutuhkan tanah sebagai wadah, demikian tanah yang membutuhkan air agar dirinya tak menjadi debu mati. Filosofi tersebut tak hanya menjadi pegangan bagi masyarakat Papua untuk melihat besarnya peranan pohon bagi mereka. Namun, juga turut sejalan dengan berbagai rentetan pengamatan manusia selama ribuan tahun lamanya, mengamati fenomena di alam semesta, tak terkecuali tumbuhan berkayu di sekelilingnya. Melalui pengamatan tersebut, sebuah fondasi yang krusial bagi ilmu Fisiologi Pohon dan Fisiologi Cekaman juga turut terbentuk. Pemahaman tersebut menjadi semakin relevan ketika perubahan lingkungan berlangsung semakin cepat akibat krisis iklim.

Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Prof. Ir. Eny Faridah, M.Sc.,  Ph.D., IPM, ASEAN Eng., menerangkan Fisiologi Pohon merupakan sebuah cabang ilmu yang berkaitan erat dengan proses dan fungsi organ tumbuhan sebagai respons terhadap perubahan lingkungan. “Perubahan lingkungan tersebut kemudian berinteraksi melalui proses dan kondisi fisiologis, menghasilkan tingkat pertumbuhan,” kata Eny dalam upacara pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar Bidang Fisiologi Pohon di Balai Senat UGM, Kamis (13/8)

Di tengah krisis iklim yang melanda manusia, kata Eny, cekaman perubahan lingkungan merupakan sebuah keniscayaan yang harus dihadapi oleh seluruh makhluk di muka bumi. “Di tengah-tengah krisis iklim seperti sekarang ini, cekaman perubahan lingkungan adalah keniscayaan yang harus dihadapi oleh siapapun, tidak terkecuali tumbuhan,” ujar

Menurutnya, kekeringan akibat krisis iklim adalah cekaman yang paling memengaruhi performa tanaman dan menjadi sebab penurunan pertumbuhan dan kematian sehingga turut berkontribusi sebagai salah satu faktor pembatas utama dalam keberhasilan rehabilitasi. Tanaman yang berada di dalam cekaman akan mengalami stres dan selanjutnya mengandalkan sistem detoksifikasi untuk mempertahankan keseimbangan air dan sel. Melalui pemahaman mekanisme tersebut, pengembangan tanaman varietas unggul di tengah kekeringan yang melonjak. Maka dari itu, Eny mengatakan hibridisasi sangat diperlukan. “Hibridisasi antar spesies dapat dikaji untuk meningkatkan toleransi para keturunan spesies yang rentan,” katanya.

Selain cekaman kekeringan, Eny kemudian mengungkapkan beberapa kondisi cekaman lainnya yang turut mengambil bagian di dalam kondisi fisiologis pohon, seperti cekaman peningkatan suhu yang mengakibatkan laju tumbuh tanaman terhambat; cekaman salinitas yang menghubungkan antara tingginya konsentrasi garam yang terlarut di tanah dan kondisi stres abiotik tanaman; cekaman penggenangan yang membuat tanaman akan tergenang dan melakukan perubahan pada proses dan kondisi fisiologisnya; dan cekaman hara serta kesuburan lahan yang membuat tanaman menghadapi kondisi kekurangan zat hara akibat beberapa proses eksternal.

Bagi Eny, studi fisiologi pohon memegang peran yang krusial untuk menentukan strategi dan pengembangannya dalam peningkatan keberhasilan rehabilitasi ekosistem hutan. Ia sempat menyinggung soal kebutuhan rehabilitasi lahan di Indonesia mencapai 12 juta hektar berbentuk lahan marjinal dengan berbagai karakteristiknya. Lalu, kondisi tersebut semakin berat sebab adanya perubahan iklim yang kian melanda dunia, terutama Indonesia.

Menurutnya, perubahan iklim tak hanya ditandai oleh sejumlah karakteristik suhu, tetapi juga produksi CO2 yang meningkat dari 310 ppm di tahun 1960 menjadi 432,5 ppm pada Mei 2026. Eny mengungkapkan, proses perubahan iklim tersebut direspon oleh tanaman lewat kondisi fisiologisnya “Gangguan tersebut direspon oleh tanaman lewat kondisi fisiologisnya,” katanya.

Eny mengatakan pengembangan dan pembangunan kehutanan nasional perlu mempertimbangkan hal-hal mendasar seperti dinamika fisiologi pohon akibat cekaman perubahan iklim. Eny turut menggambarkan dua kondisi pada proyek rehabilitasi ekosistem hutan, yang apabila tidak didukung oleh pemahaman mendalam, seperti ilmu fisiologi pohon, pasti akan berjalan rapuh. Lalu, sebaliknya, apabila tidak juga didukung oleh ilmu terapan serta kebijakan yang tepat, ilmu fisiologi pohon bisa dipastikan akan kehilangan arah. Oleh karena itu, Eny mengajak seluruh pihak untuk bekerja sama dengan harapan bahwa cekaman perubahan iklim bukanlah sebuah penghalang keberhasilan rehabilitasi ekosistem hutan. “Dengan jalinan kerja sama semacam ini, diharapkan di tengah-tengah cekaan perubahan iklim, rehabilitasi ekosistem hutan akan tetap bisa dilakukan dengan tingkat keberhasilan tinggi,” pungkasnya.

Melansir keterangan dari Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Panut Mulyono, Eny merupakan salah satu dari 539 Guru Besar aktif di UGM dan 18 Guru Besar aktif di Fakultas Kehutanan.

Penulis: Zabrina Kumara

Editor: Gusti Grehenson

Foto: Donnie

Artikel Memahami Pohon, Menyelamatkan Ekosistem pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/memahami-pohon-menyelamatkan-ekosistem/feed/ 0