Pengukuhan Guru Besar Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/category/pendidikan/pengukuhan-guru-besar/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Sat, 15 Aug 2026 03:03:27 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 Mitigasi Emisi Karbon, Lindungi Penghidupan Peternak  https://ugm.ac.id/id/berita/mitigasi-emisi-karbon-lindungi-penghidupan-peternak/ https://ugm.ac.id/id/berita/mitigasi-emisi-karbon-lindungi-penghidupan-peternak/#respond Sat, 15 Aug 2026 03:03:27 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96657 Sektor peternakan jadi penyumbang sekitar 14-16% emisi gas rumah kaca. Berbagai gas rumah kaca yang dihasilkan sektor peternakan, metana (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O) merupakan dua gas yang paling berpengaruh. Besarnya kontribusi Subsektor Peternakan terhadap emisi gas rumah kaca sekaligus menunjukkan bahwa sektor ini berada pada posisi yang unik. Di satu sisi  peternakan terdampak perubahan […]

Artikel Mitigasi Emisi Karbon, Lindungi Penghidupan Peternak  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sektor peternakan jadi penyumbang sekitar 14-16% emisi gas rumah kaca. Berbagai gas rumah kaca yang dihasilkan sektor peternakan, metana (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O) merupakan dua gas yang paling berpengaruh. Besarnya kontribusi Subsektor Peternakan terhadap emisi gas rumah kaca sekaligus menunjukkan bahwa sektor ini berada pada posisi yang unik. Di satu sisi  peternakan terdampak perubahan iklim akibat peningkatan suhu lingkungan menyebabkan stres panas yang berdampak pada penurunan konsumsi pakan, gangguan reproduksi, penurunan produksi susu dan daging, serta meningkatnya kerentanan ternak terhadap penyakit. Namun disisi lain juga memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam upaya mitigasi perubahan iklim melalui penerapan teknologi dan manajemen yang lebih berkelanjutan.

Dosen Fakultas Peternakan UGM, Prof. Dr. Ir. Siti Andarwati., S.Pt., MP., IPU., ASEAN Eng., dalam pidato pengukuhannya Guru Besar mengatakan implementasi mitigasi dan adaptasi yang terintegrasi tidak hanya berkontribusi terhadap pengendalian perubahan iklim, tetapi juga meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, ketahanan ekonomi rumah tangga peternak, dan keberlanjutan mata pencaharian.

Dalam sektor peternakan, strategi mitigasi diarahkan pada upaya penurunan emisi gas rumah kaca melalui peningkatan efisiensi produksi, perbaikan kualitas pakan, pemanfaatan teknologi pakan aditif, pengolahan limbah ternak menjadi biogas, serta penerapan sistem peternakan yang lebih ramah lingkungan. Di sisi lain, strategi adaptasi bertujuan meningkatkan kemampuan peternak dan ternak dalam menghadapi dampak perubahan iklim. “Kedua strategi tersebut perlu menjadi bagian penting dalam kebijakan pembangunan peternakan di tingkat nasional maupun regional,” ungkapnya.

Langkah yang dapat diambil yakni melalui penyesuaian sistem produksi dan manajemen mencakup penganekaragaman spesies hewan ternak dan tanaman, penggabungan sektor peternakan dengan pertanian dan kehutanan, serta pergeseran jadwal dan area operasional pertanian. Penganekaragaman komoditas ini diyakini mampu memperkuat ketahanan terhadap cuaca panas ekstrem dan kekeringan, sehingga produktivitas ternak tetap stabil meskipun menghadapi tekanan suhu dan curah hujan. Kemudian, Pencegahan penyakit pada hewan ternak dapat dilakukan melalui manajemen vaksinasi, dukungan kebijakan dan regulasi, inovasi adaptasi penyakit, dukungan finansial, dan peternakan yang berkelanjutan. Tidak hanya itu, pengembangan agroforestri dan integrasi tanaman ternak juga dapat membantu menjaga keseimbangan antara produksi pertanian, perlindungan lingkungan, dan penyerapan karbon untuk mengimbangi emisi dari sektor tersebut.

Selain itu, penting pula menerapkan tata laksana pemberian pakan yang lebih efisien sebagai wujud adaptasi yang  secara tidak langsung membantu mengoptimalkan tingkat produktivitas dan hasil ternak.

Terakhir, Ia menambahkan bahwa diperlukannya modifikasi dalam strategi pemuliaan guna meningkatkan daya tahan ternak terhadap suhu panas dan serangan penyakit. Dengan demikian, tantangan utamanya terletak pada upaya mendongkrak produktivitas ternak tanpa mengorbankan karakteristik adaptif penting yang dihasilkan dari metode pemuliaan. “Strategi tersebut meningkatkan ketahanan ternak terhadap tekanan lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi peternak melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha. Oleh karena itu, adaptasi yang terencana menjadi kunci dalam mendukung keberlanjutan sistem peternakan dan mata pencaharian peternak,” terangnya.

Dalam implementasinya, kendala utama dalam mensukseskan perubahan ini terletak pada persepsi dan kapasitas peternak dalam mengidentifikasi masalah. “Maka dari itu, analisis mendalam terkait persepsi petani terhadap upaya mitigasi dan adaptasi menjadi sangat esensial,” ungkapnya.

Kekuatan dinamika kelompok ternak juga menjadi salah satu kekuatan untuk kapasitas adaptif peternak. Akan tetapi, keberlanjutan mata pencaharian peternak tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meningkatkan produktivitas ternak, tetapi juga oleh kemampuan mereka dalam menghadapi berbagai resiko yang berasal dari perubahan iklim, globalisasi pasar, serta tantangan sosial-ekonomi dan kelembagaan. “Pembangunan peternakan ke depan perlu diarahkan pada penguatan aset penghidupan peternak secara terpadu agar tujuan sustainable livelihood atau mata pencaharian berkelanjutan dapat tercapai,” pungkasnya.

Penulis : Jelita Agustine

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie Tristan

Artikel Mitigasi Emisi Karbon, Lindungi Penghidupan Peternak  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mitigasi-emisi-karbon-lindungi-penghidupan-peternak/feed/ 0
Memahami Pohon, Menyelamatkan Ekosistem https://ugm.ac.id/id/berita/memahami-pohon-menyelamatkan-ekosistem/ https://ugm.ac.id/id/berita/memahami-pohon-menyelamatkan-ekosistem/#respond Thu, 13 Aug 2026 07:50:54 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96614 Pohon bagi masyarakat Papua adalah sebuah jantung yang menyatukan kompleksitas hubungan antara air dan tanah. Air membutuhkan tanah sebagai wadah, demikian tanah yang membutuhkan air agar dirinya tak menjadi debu mati. Filosofi tersebut tak hanya menjadi pegangan bagi masyarakat Papua untuk melihat besarnya peranan pohon bagi mereka. Namun, juga turut sejalan dengan berbagai rentetan pengamatan […]

Artikel Memahami Pohon, Menyelamatkan Ekosistem pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pohon bagi masyarakat Papua adalah sebuah jantung yang menyatukan kompleksitas hubungan antara air dan tanah. Air membutuhkan tanah sebagai wadah, demikian tanah yang membutuhkan air agar dirinya tak menjadi debu mati. Filosofi tersebut tak hanya menjadi pegangan bagi masyarakat Papua untuk melihat besarnya peranan pohon bagi mereka. Namun, juga turut sejalan dengan berbagai rentetan pengamatan manusia selama ribuan tahun lamanya, mengamati fenomena di alam semesta, tak terkecuali tumbuhan berkayu di sekelilingnya. Melalui pengamatan tersebut, sebuah fondasi yang krusial bagi ilmu Fisiologi Pohon dan Fisiologi Cekaman juga turut terbentuk. Pemahaman tersebut menjadi semakin relevan ketika perubahan lingkungan berlangsung semakin cepat akibat krisis iklim.

Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Prof. Ir. Eny Faridah, M.Sc.,  Ph.D., IPM, ASEAN Eng., menerangkan Fisiologi Pohon merupakan sebuah cabang ilmu yang berkaitan erat dengan proses dan fungsi organ tumbuhan sebagai respons terhadap perubahan lingkungan. “Perubahan lingkungan tersebut kemudian berinteraksi melalui proses dan kondisi fisiologis, menghasilkan tingkat pertumbuhan,” kata Eny dalam upacara pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar Bidang Fisiologi Pohon di Balai Senat UGM, Kamis (13/8)

Di tengah krisis iklim yang melanda manusia, kata Eny, cekaman perubahan lingkungan merupakan sebuah keniscayaan yang harus dihadapi oleh seluruh makhluk di muka bumi. “Di tengah-tengah krisis iklim seperti sekarang ini, cekaman perubahan lingkungan adalah keniscayaan yang harus dihadapi oleh siapapun, tidak terkecuali tumbuhan,” ujar

Menurutnya, kekeringan akibat krisis iklim adalah cekaman yang paling memengaruhi performa tanaman dan menjadi sebab penurunan pertumbuhan dan kematian sehingga turut berkontribusi sebagai salah satu faktor pembatas utama dalam keberhasilan rehabilitasi. Tanaman yang berada di dalam cekaman akan mengalami stres dan selanjutnya mengandalkan sistem detoksifikasi untuk mempertahankan keseimbangan air dan sel. Melalui pemahaman mekanisme tersebut, pengembangan tanaman varietas unggul di tengah kekeringan yang melonjak. Maka dari itu, Eny mengatakan hibridisasi sangat diperlukan. “Hibridisasi antar spesies dapat dikaji untuk meningkatkan toleransi para keturunan spesies yang rentan,” katanya.

Selain cekaman kekeringan, Eny kemudian mengungkapkan beberapa kondisi cekaman lainnya yang turut mengambil bagian di dalam kondisi fisiologis pohon, seperti cekaman peningkatan suhu yang mengakibatkan laju tumbuh tanaman terhambat; cekaman salinitas yang menghubungkan antara tingginya konsentrasi garam yang terlarut di tanah dan kondisi stres abiotik tanaman; cekaman penggenangan yang membuat tanaman akan tergenang dan melakukan perubahan pada proses dan kondisi fisiologisnya; dan cekaman hara serta kesuburan lahan yang membuat tanaman menghadapi kondisi kekurangan zat hara akibat beberapa proses eksternal.

Bagi Eny, studi fisiologi pohon memegang peran yang krusial untuk menentukan strategi dan pengembangannya dalam peningkatan keberhasilan rehabilitasi ekosistem hutan. Ia sempat menyinggung soal kebutuhan rehabilitasi lahan di Indonesia mencapai 12 juta hektar berbentuk lahan marjinal dengan berbagai karakteristiknya. Lalu, kondisi tersebut semakin berat sebab adanya perubahan iklim yang kian melanda dunia, terutama Indonesia.

Menurutnya, perubahan iklim tak hanya ditandai oleh sejumlah karakteristik suhu, tetapi juga produksi CO2 yang meningkat dari 310 ppm di tahun 1960 menjadi 432,5 ppm pada Mei 2026. Eny mengungkapkan, proses perubahan iklim tersebut direspon oleh tanaman lewat kondisi fisiologisnya “Gangguan tersebut direspon oleh tanaman lewat kondisi fisiologisnya,” katanya.

Eny mengatakan pengembangan dan pembangunan kehutanan nasional perlu mempertimbangkan hal-hal mendasar seperti dinamika fisiologi pohon akibat cekaman perubahan iklim. Eny turut menggambarkan dua kondisi pada proyek rehabilitasi ekosistem hutan, yang apabila tidak didukung oleh pemahaman mendalam, seperti ilmu fisiologi pohon, pasti akan berjalan rapuh. Lalu, sebaliknya, apabila tidak juga didukung oleh ilmu terapan serta kebijakan yang tepat, ilmu fisiologi pohon bisa dipastikan akan kehilangan arah. Oleh karena itu, Eny mengajak seluruh pihak untuk bekerja sama dengan harapan bahwa cekaman perubahan iklim bukanlah sebuah penghalang keberhasilan rehabilitasi ekosistem hutan. “Dengan jalinan kerja sama semacam ini, diharapkan di tengah-tengah cekaan perubahan iklim, rehabilitasi ekosistem hutan akan tetap bisa dilakukan dengan tingkat keberhasilan tinggi,” pungkasnya.

Melansir keterangan dari Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Panut Mulyono, Eny merupakan salah satu dari 539 Guru Besar aktif di UGM dan 18 Guru Besar aktif di Fakultas Kehutanan.

Penulis: Zabrina Kumara

Editor: Gusti Grehenson

Foto: Donnie

Artikel Memahami Pohon, Menyelamatkan Ekosistem pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/memahami-pohon-menyelamatkan-ekosistem/feed/ 0
75% Sampah Berakhir di TPA, Potensial Diolah Jadi Energi https://ugm.ac.id/id/berita/75-sampah-berakhir-di-tpa-potensial-diolah-jadi-energi/ https://ugm.ac.id/id/berita/75-sampah-berakhir-di-tpa-potensial-diolah-jadi-energi/#respond Wed, 12 Aug 2026 05:05:51 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96542 Sebagai negara agraris dan maritim, Indonesia menghasilkan biomassa dan limbah dalam jumlah yang sangat besar setiap tahunnya, baik dari sektor pertanian, perkebunan, maupun limbah perkotaan. Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional, timbulan sampah pada tahun 2025 mencapai sekitar 52,84 juta ton, dengan limbah rumah tangga sebagai penyumbang terbesar, yakni sebesar 58,58 persen, dan sampah […]

Artikel 75% Sampah Berakhir di TPA, Potensial Diolah Jadi Energi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sebagai negara agraris dan maritim, Indonesia menghasilkan biomassa dan limbah dalam jumlah yang sangat besar setiap tahunnya, baik dari sektor pertanian, perkebunan, maupun limbah perkotaan. Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional, timbulan sampah pada tahun 2025 mencapai sekitar 52,84 juta ton, dengan limbah rumah tangga sebagai penyumbang terbesar, yakni sebesar 58,58 persen, dan sampah organik atau sisa makanan merupakan komponen yang dominan, sekitar 39 persen.

“Tapi sayangnya, 75 persen dari sampah tersebut berakhir di TPA yang minim pengolahan dan minim pemanfaatan. Akibatnya, ya potensi kandungan energi dan material yang ada di dalam limbah dan biomassa tersebut belum dapat termanfaatkan secara optimal,” jelas Dosen Departemen Teknik Kimia UGM Prof. Ir. Rochim Bakti Cahyono, S.T., M.Sc., Ph.D., IPM., pada pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam Bidang Biomassa dan Sampah menjadi Energi, yang berlangsung di Balai Senat, Selasa (11/7).

Lewat pidato yang berjudul “Mengubah Limbah Menjadi Energi: Inovasi Teknologi Proses untuk Mendukung Transformasi Industri Nasional”, Rochim mengungkapkan bahwa sampah atau limbah sering dipandang sebagai konsekuensi yang tidak diinginkan dari sebuah proses produksi dan konsumsi. Paradigma seperti ini, sambung Rochim, mendorong masyarakat untuk melakukan pendekatan yang berorientasi pada pembuangan akhir atau end-of-pipe treatment. “Di satu sisi, timbulan sampah kita semakin besar. Di sisi lain, kebutuhan energi nasional kita terus meningkat karena pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk, sementara energi fosil masih mendominasi bauran energi nasional kita,” ujarnya.

Merespons permasalahan ini, Rochim bersama Departemen Teknik Kimia (DTK) UGM, meneliti bahwa biomassa dan limbah ternyata mempunyai peran yang unik. Berbeda dengan sumber energi terbarukan lainnya, kata Rochim, limbah dan biomassa tidak hanya menyediakan energi, tetapi juga bisa mengurangi timbunan sampah, meningkatkan efisiensi penggunaan, dan juga mengurangi emisi. “Pemanfaatan biomassa dan limbah memberikan manfaat ganda yang mencakup energi, lingkungan, dan ekonomi,” terangnya.

Rochim mengaku, potensi tersebut tidak akan memberikan manfaat atau nilai tambah apabila tidak didukung oleh inovasi teknologi proses yang tepat. Rochim juga menanyakan apakah saat ini Indonesia memiliki kemampuan untuk mengubah biomassa menjadi produk yang bernilai ekonomi. Dalam hasil risetnya, Rochim menawarkan konsep Resource Transformation Engineering, yakni sebuah pendekatan rekayasa yang menempatkan limbah dan biomassa sebagai sumber yang dapat ditransformasi menjadi energi, material, dan produk yang bernilai tinggi. “Resource Transformation Engineering mungkin masih jarang kita dengar. Ini merupakan konsep yang kita usulkan untuk lebih mendorong dan memperkuat perubahan paradigma dan menjamin pemanfaatan limbah dan biomassa atau disebut waste-to-energy,” paparnya.

Lebih jauh, Rochim menjelaskan bahwa konsep ini bertumpu pada 5 pilar utama, yakni sumber daya, teknologi transformasi, produk bernilai tambah atau value-added product, sistem industri berkelanjutan, dan dampak yang nyata bagi masyarakat. Lewat disiplin ilmu yang mempelajari transformasi material dan energi, Rochi mengungkapkan bahwa teknik kimia memiliki peran sentral dalam mewujudkan konsep tersebut. “Kekuatan utama rekayasa proses terletak pada kemampuan menghubungkan karakteristik bahan baku, desain proses, dan kebutuhan industri menjadi satu sistem yang efisien,” lanjutnya.

Meski demikian, Rochi mengatakan bahwa keberhasilan implementasi teknologi waste-to-energy sangat ditentukan oleh pemahaman terhadap karakteristik sampah lokal. Menurutnya, teknologi yang terverifikasi dan berhasil diterapkan di luar negeri belum tentu cocok dan berhasil saat diimplementasikan di Indonesia, sehingga membutuhkan pelbagai penyesuaian. “Kondisi ini lah yang menjadi tantangan pengembangan biogas untuk mendukung ketahanan energi dan meningkatkan nilai tambah limbah organik,” tutur Rochim.

Di akhir penjelasannya, Rochim mengutarakan kembali bahwa 75 persen sampah kota masih berakhir di TPA dengan minim pengolahan dan minim pemanfaatan, yang akhirnya akan menimbulkan permasalahan lingkungan, emisi gas rumah kaca, dan yang paling krusial adalah keterbatasan lahan. Meningkatnya timbulan sampah tersebut mendorongnya untuk mengembangkan teknologi waste-to-energy sebagai salah satu solusi untuk menjawab permasalahannya. “Agar tetap relevan dengan tantangan masa depan, arah penelitian terkait waste-to-energy harus terus diperbarui dan difokuskan pada pengembangan renewable carbon, biorefinery terintegrasi, serta pemanfaatan teknologi digital,” tutupnya.

Dalam keterangan yang dibacakan oleh Ketua Dewan Guru Besar, Prof. Panut Mulyono, menyebutkan bahwa Prof. Ir. Rochim Bakti Cahyono, S.T., M.Sc., Ph.D., IPM., merupakan salah satu dari 539 guru besar aktif di Universitas Gadjah Mada. Rochim juga tercatat sebagai salah satu dari 88 guru besar aktif di Fakultas Teknik UGM.

Penulis : Agito Sitepu

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel 75% Sampah Berakhir di TPA, Potensial Diolah Jadi Energi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/75-sampah-berakhir-di-tpa-potensial-diolah-jadi-energi/feed/ 0
Dorong Ketahanan Cadangan Mineral, Guru Besar UGM Tegaskan Pengelolaan Lintas Generasi https://ugm.ac.id/id/berita/dorong-ketahanan-cadangan-mineral-guru-besar-ugm-tegaskan-pengelolaan-lintas-generasi/ https://ugm.ac.id/id/berita/dorong-ketahanan-cadangan-mineral-guru-besar-ugm-tegaskan-pengelolaan-lintas-generasi/#respond Tue, 11 Aug 2026 08:06:02 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96505 Transisi energi menjadi agenda global yang diusung oleh berbagai negara sebagai bagian dari upaya menekan emisi karbon dan mencapai kondisi net zero. Pelaksanaan agenda tersebut didukung oleh sejumlah landasan hukum, salah satunya Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 yang selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Keberhasilan transisi energi juga tidak terlepas dari ketersediaan sumber […]

Artikel Dorong Ketahanan Cadangan Mineral, Guru Besar UGM Tegaskan Pengelolaan Lintas Generasi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Transisi energi menjadi agenda global yang diusung oleh berbagai negara sebagai bagian dari upaya menekan emisi karbon dan mencapai kondisi net zero. Pelaksanaan agenda tersebut didukung oleh sejumlah landasan hukum, salah satunya Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 yang selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Keberhasilan transisi energi juga tidak terlepas dari ketersediaan sumber daya mineral dan bahan baku yang dibutuhkan dalam pengembangan industri energi.

“Keberhasilan agenda strategis tersebut sangat bergantung pada ketersediaan sumberdaya mineral yang semuanya sebagian besar merupakan kategori mineral kritis, pasokannya didominasi oleh sedikit negara produsen, namun sangat dibutuhkan oleh negara-negara konsumen dalam industri teknologi hijau,” ujar Dosen Geologi UGM Prof. Dr.rer.nat. Ir. Arifudin Idrus, S.T., M.T., IPU, ASEAN Eng., pada pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam bidang Geologi Ekonomi Fakultas Teknik UGM, di Balai Senat, Selasa (11/8).

Ia menerangkan, sumber daya yang dikategorikan sebagai mineral kritis memiliki tingkat substitusi yang rendah dan ketersediaan produksi yang terbatas, sementara kebutuhannya terus meningkat seiring dengan perkembangan industri teknologi hijau di berbagai negara.

Sementara kekayaan sumber daya mineral di Indonesia terbentuk dari interaksi tektonik lempeng yang sangat kompleks. Konvergensi Lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik membentuk berbagai proses geologi yang menghasilkan endapan emas, tembaga, dan logam dasar di sejumlah wilayah Indonesia. “Indonesia memiliki kekayaan sumber daya mineral yang merupakan produk dari interaksi geologi yang sangat kompleks,” ujar Idrus.

Menurutnya, proses subduksi membentuk busur magmatik yang menjadi tempat terbentuknya berbagai endapan mineral, termasuk porfiri tembaga-emas seperti Batu Hijau dan Grasberg serta endapan emas epitermal seperti Martabe dan Pongkor. Selain busur magmatik, kompleks ofiolit dan batuan metamorf di Indonesia bagian timur juga menyimpan potensi mineral strategis. Berbagai proses geologi, termasuk metamorfisme, serpentinisasi, lateritisasi, dan sedimentasi, turut membentuk dan memperkaya endapan mineral seperti kromit, emas, dan mangan. “Keragaman tersebut menjadi modal penting Indonesia dalam mendukung kebutuhan mineral bagi transisi energi berkelanjutan,” paparnya.

Lebih lanjut, Idrus menjelaskan jika pada dasarnya Indonesia memiliki sumber daya mineral yang sangat besar mulai dari mineral logam, mineral bukan logam, dan batuan. Pengelolaan kekayaan yang kompleks tersebut diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang kemudian menjadi acuan pemerintah untuk merancang Neraca Sumber Daya dan Cadangan Nasional sebagai sarana perumusan kebijakan strategis hingga tata ruang nasional.

Namun, ketahanan mineral nasional saat ini menghadapi tantangan serius akibat laju produksi yang tidak sebanding dengan penemuan cadangan baru. Pada 2025, produksi bijih nikel mencapai 320,36 juta ton, terutama untuk memenuhi kebutuhan smelter domestik. Sementara itu, cadangan nikel saprolit dengan kadar lebih dari 1,5 persen diperkirakan hanya mampu bertahan dalam waktu terbatas apabila tidak segera ditemukan cadangan baru melalui eksplorasi masif. Bahkan komoditas tembaga juga memiliki estimasi umur cadangan sekitar 21 tahun dan diprediksi habis pada 2043 apabila tidak terdapat konversi sumber daya menjadi cadangan maupun penemuan cadangan baru. “Ketahanan cadangan mineral nasional terus ditingkatkan melalui verifikasi competent person untuk memberikan kepastian investasi,” ujar Idrus.

Hingga 2025, tingkat validasi cadangan mineral nasional melalui competent person telah mencapai 85,8 persen. Sementara itu, sejumlah komoditas seperti bauksit, nikel, timah, perak, dan emas primer masih belum mencapai tingkat validasi 100 persen. Di sektor mineral bukan logam, telah terdata 11 komoditas, di antaranya batu gamping dengan sumber daya 260,9 miliar ton dan cadangan 28,8 miliar ton yang menjadi salah satu bahan baku industri semen. Pasir kuarsa juga memiliki sumber daya sekitar 27 miliar ton yang berpotensi mendukung pengembangan industri sel surya dan semikonduktor. Sementara itu, sektor batuan telah mencatat 32 komoditas, salah satunya batuan andesit dengan sumber daya sekitar 75,6 miliar ton.

Pemerintah melalui Kementerian ESDM telah menetapkan dua regulasi terkait mineral kritis dan strategis. Kepmen ESDM Nomor 296 Tahun 2023 menetapkan 47 mineral kritis, dengan 20 unsur telah memiliki cadangan, tujuh memiliki sumber daya, dan 20 lainnya belum tercatat memiliki sumber daya maupun cadangan. Sementara itu, Kepmen ESDM Nomor 69 Tahun 2024 menetapkan 22 unsur mineral strategis, dengan 19 unsur telah memiliki cadangan dan tiga lainnya baru memiliki sumber daya.

Menurut Idrus, mineral kritis dan strategis memiliki peran penting dalam mendukung teknologi transisi energi. Pasir kuarsa, misalnya, dapat digunakan untuk produksi polisilikon, wafer silikon, dan sel surya. Sementara itu, tembaga menjadi salah satu material penting untuk kabel transmisi dan berbagai perangkat digital. “Pengelolaan mineral kritis dan mineral strategis bertujuan menjamin keamanan pasokan jangka panjang untuk mendukung kebijakan integrasi dari hulu ke hilir,” tutur Idrus.

Untuk memperkuat pengelolaan tersebut, sektor hulu diarahkan pada inventarisasi sumber daya mineral, eksplorasi secara ekstensif, karakterisasi mineral kritis hingga tahap geometalurgi, serta konservasi sumber daya menjadi cadangan. Sementara di sektor hilir, fokus diarahkan pada optimalisasi ekstraksi dengan tetap memperhatikan konservasi, pengembangan industri pengolahan, penguatan industri manufaktur, dan penerapan circular economy melalui pemanfaatan limbah serta residu proses.

Menutup pemaparannya, Idrus menegaskan bahwa kekayaan mineral Indonesia merupakan anugerah sekaligus tanggung jawab yang harus dikelola secara berkelanjutan dan lintas generasi. “Kekayaan mineral yang melimpah merupakan anugerah sekaligus tanggung jawab besar yang harus kita kelola secara kolektif. Hilirisasi, eksplorasi berkelanjutan, dan penguatan teknologi bukanlah sebuah pilihan, melainkan keniscayaan,” pungkasnya.

Melansir keterangan Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Emg, menyebutkan Arifudin Idrus merupakan salah satu dari 539 guru besar aktif yang dimiliki UGM, termasuk 88 guru besar aktif di Fakultas Teknik UGM.

Penulis : Zabrina Kumara

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Dorong Ketahanan Cadangan Mineral, Guru Besar UGM Tegaskan Pengelolaan Lintas Generasi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dorong-ketahanan-cadangan-mineral-guru-besar-ugm-tegaskan-pengelolaan-lintas-generasi/feed/ 0
Cegah Kematian akibat Penyakit Kardiovaskular, Guru Besar UGM Dorong Pelayanan Kesehatan Rehabilitasi https://ugm.ac.id/id/berita/cegah-kematian-akibat-penyakit-kardiovaskular-guru-besar-ugm-dorong-pelayanan-kesehatan-rehabilitasi/ https://ugm.ac.id/id/berita/cegah-kematian-akibat-penyakit-kardiovaskular-guru-besar-ugm-dorong-pelayanan-kesehatan-rehabilitasi/#respond Fri, 07 Aug 2026 06:43:26 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96405 Penyakit Kardiovaskular Aterosklerosis masih menjadi penyebab kesakitan dan kematian nomor satu di dunia termasuk Indonesia. Namun pelayanan kesehatan jantung dan pembuluh darah di Indonesia saat ini masih mendominasi aspek kuratif atau pengobatan di tahap akhir.  Penyakit ini meliputi penyakit arteri koroner, penyakit pembuluh darah otak atau stroke, dan penyakit arteri perifer. Rentang waktu yang panjang […]

Artikel Cegah Kematian akibat Penyakit Kardiovaskular, Guru Besar UGM Dorong Pelayanan Kesehatan Rehabilitasi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Penyakit Kardiovaskular Aterosklerosis masih menjadi penyebab kesakitan dan kematian nomor satu di dunia termasuk Indonesia. Namun pelayanan kesehatan jantung dan pembuluh darah di Indonesia saat ini masih mendominasi aspek kuratif atau pengobatan di tahap akhir.  Penyakit ini meliputi penyakit arteri koroner, penyakit pembuluh darah otak atau stroke, dan penyakit arteri perifer. Rentang waktu yang panjang dari faktor-faktor risiko, sampai dengan diagnosis klinis sebenarnya penyakit ini bisa dilakukan upaya pencegahan atau prevensi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

“Prevensi Kardiovaskular bukan lagi pilihan melainkan keharusan untuk melindungi generasi mendatang,” kata Dosen FK-KMK UGM Prof. dr. Anggoro Budi Hartopo, M.Sc., Sp.PD, KKV, Ph.D., Sp.JP(K)., dalam pidato pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar dalam Bidang Jantung dan Pembuluh Darah Prevensi dan Rehabilitasi Kardiovaskular, Kamis (6/8).

Dalam pidato pengukuhan yang berjudul “Prevensi dan Rehabilitasi Kardiovaskular Sebagai Daya Upaya Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat,” ia menyampaikan terdapat empat pilar pelayanan kesehatan yaitu promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, sebagai satu kesatuan untuk mendapatkan hasil berupa peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan penurunan penyakit kardiovaskular.

Upaya pencegahan penyakit kardiovaskuler ini harus dimulai sedini mungkin dengan mengidentifikasi faktor risiko seperti hipertensi, merokok, dan diabetes.  “Peran identifikasi faktor-faktor risiko penyakit ini pada individu penilaian stratifikasi risiko dan penurunan risiko sejak dini merupakan daya upaya besar yang harus terus dilakukan sebagai arus utama program prevensi primer,” tuturnya.

Selanjutnya, Ia menekankan salah satu komponen dalam Prevensi Sekunder yaitu rehabilitasi kardiovaskular dapat berperan dalam penurunan 25% angka kematian. Sedangkan upaya rehabilitasi diarahkan pada latihan fisik pada pasien gagal jantung terbukti aman untuk dilaksanakan, dan mampu meningkatkan kemampuan fisik dan kapasitas fungsional pasien. “Pada pasien-pasien gagal jantung di Rumah Sakit Dr. Sardjito, baik program Rehabilitasi Kardiovaskular di rumah sakit dengan supervisi ahli, maupun kombinasi dengan latihan fisik di rumah dengan supervisi jarak jauh telah terbukti manfaatnya meningkatkan kemampuan fisik dan menurunkan kadar NT-proBNP suatu tanda perbaikan klinik,” ungkapnya.

Meski demikian, pelayanan rehabilitasi kardiovaskular belum merata di Pusat Pelayanan Kesehatan di Indonesia, padahal pasien dengan penyakit kardiovaskuler terus bertambah jumlahnya. Ia mengharapkan kemajuan dan inovasi teknologi dapat mendekatkan pelayanan rehabilitasi kardiovaskular kepada masyarakat. Upaya tersebut bisa dilakukan dengan memperluas akses pelayanan, investasi pengembangan layanan dengan penelitian, dan pendidikan. “Hingga saat ini dengan berkembangnya teknologi, prevensi dan rehabilitasi kardiovaskular semakin besar perannya dalam upaya menurunkan angka kesakitan dan kematian,” pungkasnya.

Penulis: Jesi

Editor: Gusti Grehenson

Foto: Donnie

Artikel Cegah Kematian akibat Penyakit Kardiovaskular, Guru Besar UGM Dorong Pelayanan Kesehatan Rehabilitasi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/cegah-kematian-akibat-penyakit-kardiovaskular-guru-besar-ugm-dorong-pelayanan-kesehatan-rehabilitasi/feed/ 0
Resmi Jadi Guru Besar UGM, Prof. Sony Warsono Ungkap Kunci Pengembangan Akuntansi Era Digital https://ugm.ac.id/id/berita/resmi-jadi-guru-besar-ugm-prof-sony-warsono-ungkap-kunci-pengembangan-akuntansi-era-digital/ https://ugm.ac.id/id/berita/resmi-jadi-guru-besar-ugm-prof-sony-warsono-ungkap-kunci-pengembangan-akuntansi-era-digital/#respond Thu, 06 Aug 2026 08:27:57 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96342 Dosen Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada, Prof. Sony Warsono, MAFIS, Ph.D.,CA, Ak., dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Pendidikan Akuntansi, Kamis (6/8), di Balai Senat, Gedung Pusat UGM. Pidato pengukuhan yang berjudul “Pengembangan Akuntansi Sebagai Ilmu Transdisiplin Di Era Digital: Prinsip Dualitas”, Sony mengatakan terdapat polarisasi dalam domain keilmuan akuntansi […]

Artikel Resmi Jadi Guru Besar UGM, Prof. Sony Warsono Ungkap Kunci Pengembangan Akuntansi Era Digital pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Dosen Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada, Prof. Sony Warsono, MAFIS, Ph.D.,CA, Ak., dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Pendidikan Akuntansi, Kamis (6/8), di Balai Senat, Gedung Pusat UGM. Pidato pengukuhan yang berjudul “Pengembangan Akuntansi Sebagai Ilmu Transdisiplin Di Era Digital: Prinsip Dualitas”, Sony mengatakan terdapat polarisasi dalam domain keilmuan akuntansi terutama dalam bidang penelitian dan pendidikan akuntansi, Selain itu, terdapat perbedaan pandangan terkait peran akuntansi, yakni antara sekadar alat teknis pencatatan dan instrumen sosial-politik.

Ia menambahkan, di ranah pendidikan, perdebatan mengenai status akuntansi, apakah murni disiplin ilmu sosial atau bagian dari STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika), juga menjadi isu polarisasi kuat yang mendorong munculnya tuntutan reformasi di bidang tersebut. “Berbagai inisiatif telah dilakukan untuk memitigasi terjadinya polarisasi di akuntansi meskipun penyelesaiannya tidak semudah membalikkan telapak tangan,” imbuhnya.

Salah satu upaya untuk mengatasi polaritas ini adalah dengan menerapkan prinsip dualitas. Sony berharap prinsip ini juga dapat diterapkan sebagai pijakan dalam melanjutkan perjalanan hidup bermasyarakat dan juga pengembangan akuntansi di era digital.

Sony pun menyoroti bahwa konsep dualitas ini  ada dalam banyak sudut pandang keilmuan, seperti filosofis dan teologis, ilmu matematika, hukum, sampai akuntansi. “Dalam disiplin sendiri, dualitas melekat erat pada sistem pencatatan berpasangan (double-entry bookkeeping system) dan terwujud secara nyata melalui pengetahuan debit dan kredit yang tetap kokoh berlaku hingga saat ini, bahkan diprediksi akan terus andal dan relevan di masa mendatang,” jelasnya.

Debit dan kredit dalam dunia akuntansi, dinilai Sony, tak hanya perihal hapalan dan keseimbangan angka di atas kertas saja. Lebih jauh dari itu, debit dan kredit menjadi gambaran dari prinsip keseimbangan universal yang mengubah posisi kanan dan kiri menjadi sebuah timbangan integritas. “Dalam perspektif ini, ekuilibrium bukan sekadar target klerikal agar target seimbang. Melainkan manifestasi moral untuk menjaga keadilan dan transparansi,” ingatnya.

Sony pun mengharapkan bahwa dari perspektif transdisiplin, akuntansi dapat menyelesaikan permasalahan global yang super kompleks, yakni kesehatan keuangan yang menjadi kebutuhan mutlak bagi setiap lapisan masyarakat, baik yang miskin maupun yang kaya. Menurutnya, peran akuntansi tak lagi sekadar alat pencatat transaksi atau ilmu hitung belaka. Namun, akuntansi pun kini dituntut untuk hadir sebagai instrumen strategis lintas disiplin untuk menjaga kesehatan keuangan masyarakat dari berbagai kelas sosial.” Melalui kacamata psikologi perilaku, sosiologi, hingga teknologi, literasi akuntansi diharapkan mampu menyelamatkan masyarakat dari ancaman defisit, judi online dan jeratan pinjaman online,” ujarnya.

Meski berakar kuat sebagai ilmu sosial, esensi teknis akuntansi tetap menjadi fondasi utama. Sistem debit dan kredit diibaratkan sebagai “logika biner” yang rasional. Puncak keilmuan ini baru bisa tercapai ketika ketajaman teknis tersebut disinergikan dengan pemahaman lintas disiplin dan perspektif kemanusiaan, sehingga melahirkan inovasi teknologi informasi keuangan yang tidak hanya akurat, tetapi juga berdampak sosial.

Di sisi lain, pergeseran ini menjadi peringatan keras bagi dunia pendidikan akuntansi. Masa depan akademisi diprediksi akan suram jika mereka masih bertahan pada pendekatan konvensional dan aturan normatif yang statis. Oleh karena itu, transformasi ini menuntut akademisi untuk memposisikan kembali debit dan kredit bukan sekadar sebagai peninggalan intelektual yang akan usang ditelan dinamika zaman, melainkan sebagai algoritma dinamis yang siap dikembangkan menjadi fondasi teknologi informasi keuangan masa depan melalui riset dan pembelajaran yang lebih progresif,i.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., menyebutkan bahwa Prof. Sony merupakan salah satu dari 539 guru besar aktif di tingkat universitas dan di tingkat fakultas merupakan salah satu dari 32 guru besar aktif dari 51 guru besar yang pernah dimiliki oleh FEB UGM.

Penulis : Leony

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Resmi Jadi Guru Besar UGM, Prof. Sony Warsono Ungkap Kunci Pengembangan Akuntansi Era Digital pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/resmi-jadi-guru-besar-ugm-prof-sony-warsono-ungkap-kunci-pengembangan-akuntansi-era-digital/feed/ 0
Kebijakan Kehutanan RI Masih Bertumpu pada Interpretasi Tunggal  https://ugm.ac.id/id/berita/kebijakan-kehutanan-ri-masih-bertumpu-pada-interpretasi-tunggal/ https://ugm.ac.id/id/berita/kebijakan-kehutanan-ri-masih-bertumpu-pada-interpretasi-tunggal/#respond Thu, 16 Jul 2026 09:21:57 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95588 Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ahmad Maryudi, S.Hut., M.For., dikukuhkan sebagai Guru Besar UGM di bidang Kebijakan Kehutanan di Balai Senat UGM, Kamis (16/7). Pada upacara pengukuhan, ia menyampaikan pidato berjudul “Kebijakan Pengelolaan Hutan dalam Pusaran Politik Kepentingan.” Disebutkan Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Dr. Baiquni, M.A., bahwa Prof. Ahmad merupakan […]

Artikel Kebijakan Kehutanan RI Masih Bertumpu pada Interpretasi Tunggal  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ahmad Maryudi, S.Hut., M.For., dikukuhkan sebagai Guru Besar UGM di bidang Kebijakan Kehutanan di Balai Senat UGM, Kamis (16/7). Pada upacara pengukuhan, ia menyampaikan pidato berjudul “Kebijakan Pengelolaan Hutan dalam Pusaran Politik Kepentingan.” Disebutkan Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Dr. Baiquni, M.A., bahwa Prof. Ahmad merupakan 543 guru besar aktif di UGM. Termasuk ke dalam 19 guru besar aktif dari 33 guru besar yang dimiliki Fakultas Kehutanan.

Maryudi membuka pidato dengan menjelaskan bahwa ilmu kebijakan kehutanan termasuk cabang ilmu yang tergolong baru atau sekitar 50 tahun lalu. Ia menjelaskan ilmu ini awalnya berorientasi pada rumusan dan strategi penyelesaian suatu permasalahan. Ia menegaskan dengan menyebut mazhab ini sebagai ‘[forest] science for policy [making]’. “Karena perumusan kebijakan berpedoman pada ilmu kehutanan murni yang terobsesi untuk memberikan solusi teknokratis tanpa landasan ilmu kebijakan sama sekali,” jelasnya.

Idealnya, sebut Maryudi, kebijakan harus didasarkan pada kajian akademik yang mendalam atau evidence-based policy. Hal ini sejalan dengan pemaknaan good science for good policy. Namun, pengalamannya mengajarkan bahwa sebuah kebijakan tidak selalu beresonansi dengan logika akademik. Ia menyebutkan tidak jarang kebijakan justru kontradiktif dengan bukti ilmiah sehingga tidak selalu bermuara pada kebijakan.

Ia menjelaskan bahwa defisiensi mazhab “science for policy” mendorong genesis baru dalam ilmu kebijakan kehutanan menjadi “science of policy”. Menurutnya, mazhab baru ini menggugat gaya berpikir teknokratis tradisional yang lazim diadopsi selama ini. Fokusnya, sebutnya, tidak semata mengejar target, tetapi juga menekankan pemahaman fenomena kegagalan kebijakan, serta mengambil hikmah darinya. “Mazhab ini mulai muncul sekitar dekade 90-an dan bertumpu pada logika bagaimana politik bekerja dalam sebuah kebijakan,” jelasnya.

Maryudi menyebutkan mazhab baru mengadopsi pendekatan interdisipliner ilmu sosial, politik, kebijakan publik, hukum, bahkan hubungan internasional. Dalam 20 tahun terakhir, sebutnya, terjadi ledakan (big bang) kajian aspek sosial-politik kehutanan yang menjadikan kebijakan kehutanan sebagai sub disiplin keilmuan baru. Konteks ini disebutkan Maryudi bahwa ada konvergensi ilmu kehutanan dan ilmu kebijakan yang muaranya pada genesis ilmu kebijakan kehutanan yang baru.

Menilik pada permukaan makna hutan, Maryudi menjabarkan bagi para rimbawan, jawaban berkisar pada karakter ekologis-silvikultur seperti asosiasi tumbuhan pada luasan tertentu. Dilanjutkannya definisi tersebut kadangkala mengalami reduksi dan terfokus pada spesies komersial semata oleh sebagian pihak sebagai “kebun kayu”. Namun, Maryudi menambahkan bagi sebagian etnis di Indonesia, hutan dipersonifikasikan sebagai ibu yang memberi penghidupan. “Sangat mungkin juga ada yang memaknai hutan semata sebagai sumberdaya alam untuk mengeruk keuntungan besar,” ucapnya.

Ia menyebutkan di tengah kecemasan global atas ancaman bencana kemanusiaan akibat perubahan iklim, hutan diposisikan sebagai tumpuan harapan kolektif. Maryudi juga menyebutkan hutan tidak hanya diproyeksikan sebagai sistem penyangga ekologis melainkan menjadi ruang rekreasi masyarakat urban dari kejenuhan ritme kerja. Hal ini menegaskan kebijakan pengelolaan hutan tidak selalu berada dalam ruang netral.

Menurut Maryudi, kebijakan kehutanan di Indonesia masih bertumpu pada interpretasi tunggal mengenai penguasaan oleh negara. Hal ini cenderung menyederhanakan keragaman sejarah serta kekhasan sosial dan budaya di berbagai wilayah. Ia mengidentifikasi lebih banyak instrumen kebijakan yang mengarah ke konservasi. “Namun, tingkat koherensi tergolong lemah. Artinya, tekanan eksploitasi, cara pemanenan hasil hutan, degradasi ekologis, konflik tenurial, masih lebih dominan dibanding upaya membangun tata kelola keberlanjutan,” ungkapnya.

Maryudi kemudian merujuk pada pandangan Max Krott (2005). Ia menegaskan bahwa penyusunan kebijakan pada hakikatnya merupakan proses tawar-menawar sosial untuk mengatur ragam kepentingan. Oleh karenanya, kata Maryudi, karakter kebijakan kehutanan dibentuk oleh dinamika interaksi para aktor yang terus setia pada kepentingannya. Ia menekankan di titik ini perlu mengingat pentingnya investasi untuk mengintegrasikan sains dalam proses kebijakan.

Menurutnya, dosa akademisi dan peneliti adalah ketidakmampuan memahami logika politisi sebagai pembuat kebijakan. Ditekankan Maryudi, akademisi harus mampu memahami arena kebenaran yang diperebutkan. “Pengetahuan ilmiah harus diperjuangkan, diterjemahkan, dan di advokasikan agar dapat dipahami oleh para pengambil keputusan,” ujarnya.

Di akhir, Maryudi menyerukan haru karena pada kesempatannya berdiri di mimbar intelektual ini lahir dari perjalanan panjang. Ia menyebut pencapaiannya tidak lepas dari munajat jalur langit dan kerja keras seorang ibu yang bahkan tidak menamatkan SD dan bapak yang berhenti di bangku pendidikan SMP. Menurutnya, perjalanan ini meneguhkan bahwa pendidikan bukan soal asal-usul, melainkan keberanian menembus batas cita-cita. “Gelar guru besar ini adalah milik mereka, kemenangan sunyi dari kedua orang yang tak pernah bermimpi menapak di ruang akademik tertinggi ini, dan atau bahkan sekadar bermimpi melihat sang anak duduk di bangku universitas sekalipun,” ucapnya.

Penulis : Hanifah

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Kebijakan Kehutanan RI Masih Bertumpu pada Interpretasi Tunggal  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kebijakan-kehutanan-ri-masih-bertumpu-pada-interpretasi-tunggal/feed/ 0
80 % APBN Bersumber dari Pajak, Guru Besar UGM Dorong Perbaikan Tata Kelola Sistem Informasi Akuntansi https://ugm.ac.id/id/berita/80-apbn-bersumber-dari-pajak-guru-besar-ugm-dorong-perbaikan-tata-kelola-sistem-informasi-akuntansi/ https://ugm.ac.id/id/berita/80-apbn-bersumber-dari-pajak-guru-besar-ugm-dorong-perbaikan-tata-kelola-sistem-informasi-akuntansi/#respond Thu, 16 Jul 2026 08:27:20 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95578 Pajak merupakan pilar utama pendapatan negara dan amanah konstitusional. Hal ini tercerminkan dalam lima tahun terakhir, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar lebih dari 80% bersumber dari perpajakan. Pajak menghubungkan kewajiban warga negara dengan tanggung jawab negara dalam transparansi tata kelolanya. “Perpajakan bukan sekedar target penerimaan melainkan persoalan tata kelola,” katan Dosen Fakultas Ekonomika […]

Artikel 80 % APBN Bersumber dari Pajak, Guru Besar UGM Dorong Perbaikan Tata Kelola Sistem Informasi Akuntansi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pajak merupakan pilar utama pendapatan negara dan amanah konstitusional. Hal ini tercerminkan dalam lima tahun terakhir, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar lebih dari 80% bersumber dari perpajakan. Pajak menghubungkan kewajiban warga negara dengan tanggung jawab negara dalam transparansi tata kelolanya. “Perpajakan bukan sekedar target penerimaan melainkan persoalan tata kelola,” katan Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Eko Suwardi, M.Sc., dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam bidang Akuntansi yang digelar di Balai Senat UGM, Kamis (16/7).

Dalam pidato berjudul “Peran Akuntansi dalam Tata Kelola Wajib Pajak, Otoritas Pajak, dan Pengeluaran Publik”, Eko memaparkan bahwa dalam tata kelola pajak, akuntansi digunakan sebagai infrastruktur informasi dan akuntabilitas. Akuntansi merupakan fondasi tata kelola modern yang menyediakan data membuat aktivitas ekonomi terlihat, terukur, dan dapat diuji. Sistem akuntansi yang baik memungkinkan terciptanya transparansi akuntabilitas, pengawasan publik yang efektif, dan penggunaan sumber daya serta pengeluaran publik. Laporan keuangan yang kredibel, wajib pajak, otoritas pajak, maupun pemerintah akan meningkatkan kepercayaan dan kekuatan. “Dalam tata kelola wajib pajak, perusahaan harus mampu mengelola data dan mengintegrasikannya,” paparnya.

Sistem perpajakan modern bergantung pada informasi yang andal sehingga otoritas pajak akan mudah menilai kewajaran transaksi keuangan dan kemampuan ekonomi. Dalam praktiknya, informasi akuntansi dapat digunakan untuk kepatuhan wajib pajak dan juga dimanfaatkan secara strategis untuk manajemen pajak. Akuntansi memfasilitasi wajib pajak untuk melakukan tax planning. Dalam fenomena global, adanya pergeseran laba dari satu negara ke negara lain akan memicu perilaku perusahaan untuk menggeser laba. Upaya penghematan pajak yang agresif dapat berubah menjadi risiko pasar, reputasi, dan hukum. “Efisiensi pajak harus ditempatkan dalam kerangka tata kelola yang baik, risiko yang terukur dan bersifat legal,” ungkap Eko.

Untuk mewujudkan kepatuhan pajak, Eko mengungkapkan perlunya kombinasi sistem, pengawasan, dan etika profesional. Selain itu, Kualitas tata kelola juga dipengaruhi oleh norma sosial, independensi, dan integritas. “Kualitas dan integritas harus dimiliki dewan komisaris, komite dewan komisaris, audit independen, dan konsultan pajak,” tuturnya.

Pada tahun 2025, otoritas pajak indonesia berada dalam masa transformasi dari tradisional menjadi modern dengan menerapkan sistem Coretax untuk mengintegrasikan proses bisnis perpajakan dalam platform digital. Keberhasilan sistem coretax juga sangat tergantung dengan inputnya seperti data akuntansi yang disediakan oleh perusahaan. Akuntansi dapat memperkuat kapasitas otoritas pajak untuk melihat risiko yang tersembunyi karena adanya asimetri informasi wajib pajak dengan otoritas pajak. Namun, informasi akuntansi yang andal dengan terintegrasinya data akan memberikan solusi bagi otoritas pajak untuk melakukan pengawasan berbasis risiko. Dengan demikian, otoritas pajak dapat membangun profil risiko wajib pajak, mendeteksi anomali transaksi dan penghindaran pajak, menentukan prioritas pemeriksaan, dan mengurangi ruang manipulasi laba.

Lebih lanjut, Eko menekankan bahwa akuntansi memiliki peran penting dalam tata kelola pengeluaran publik. Legitimasi pajak ditentukan oleh penggunaan pajak melalui program pengeluaran publik yang harus bermanfaat bagi masyarakat agar meningkatkan kepercayaan masyarakat. Akuntansi sektor publik menghasilkan penggunaan dana pajak yang terlihat, terukur, dapat dievaluasi serta dipertanggungjawabkan. Dana publik yang lebih besar membutuhkan sistem akuntansi, audit, dan pengawasan yang lebih kuat. Oleh karena itu, akuntansi sektor publik harus mampu mendeteksi risiko, mencegah penyimpangan, dan menyediakan informasi untuk keputusan publik agar mengurasi risiko terjadinya korupsi. “Masa depan tata kelola perpajakan dan keuangan publik bergantung pada sistem akuntansi yang transparan, terintegrasi, berbasis teknologi, dan berlandaskan integritas,” pungkas Eko.

Penulis: Jesi

Editor: Gusti Grehenson

Foto: Firsto

Artikel 80 % APBN Bersumber dari Pajak, Guru Besar UGM Dorong Perbaikan Tata Kelola Sistem Informasi Akuntansi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/80-apbn-bersumber-dari-pajak-guru-besar-ugm-dorong-perbaikan-tata-kelola-sistem-informasi-akuntansi/feed/ 0
Guru Besar UGM Dorong Pengembangan Obat dari Makromolekul dan Senyawa Bioaktif https://ugm.ac.id/id/berita/guru-besar-ugm-dorong-pengembangan-obat-dari-makromolekul-dan-senyawa-bioaktif/ https://ugm.ac.id/id/berita/guru-besar-ugm-dorong-pengembangan-obat-dari-makromolekul-dan-senyawa-bioaktif/#respond Tue, 07 Jul 2026 09:04:41 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95251 Makromolekul telah berkembang sejak awal 1920-an ke dalam berbagai bidang, seperti ilmu kimia, biokimia, pangan, dan biologi molekuler, serta meluas konteksnya dalam bidang-bidang keilmuan tersebut. Secara umum, makromolekul dapat didefinisikan sebagai molekul berukuran besar yang tersusun dari unit-unit berulang atau struktur yang kompleks dengan energi relatif tinggi, baik yang berasal dari alam maupun yang sintetis. […]

Artikel Guru Besar UGM Dorong Pengembangan Obat dari Makromolekul dan Senyawa Bioaktif pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Makromolekul telah berkembang sejak awal 1920-an ke dalam berbagai bidang, seperti ilmu kimia, biokimia, pangan, dan biologi molekuler, serta meluas konteksnya dalam bidang-bidang keilmuan tersebut. Secara umum, makromolekul dapat didefinisikan sebagai molekul berukuran besar yang tersusun dari unit-unit berulang atau struktur yang kompleks dengan energi relatif tinggi, baik yang berasal dari alam maupun yang sintetis. Indonesia sendiri memiliki keanekaragaman sumber hayati yang melimpah dan beragam. Kekayaan ini dapat  menjadi sumber makromolekul baik dan  meliputi nabati, hewani, organisme laut, dan mikroorganisme.

Hal inilah yang dibahas dalam pidato pengukuhan Prof. Dr. apt. Rumiyati, MSi., sebagai Guru Besar dalam Bidang Rekayasa Farmasi Makromolekul Makanan pada Fakultas Farmasi UGM. Pidato yang bertajuk, “Pemanfaatan Makromolekul dan Senyawa Bioaktif dari Sumber Hayati untuk Pengembangan Produk Farmasi dan Nutrasetikal” ini dibacakan pada Selasa (7/7) di Balai Senat, Gedung Pusat UGM.

Rumiyati menyoroti tingginya permasalahan kesehatan global dan nasional seperti tingginya penyakit kardiovaskular (PKV), hipertensi, diabetes melitus, kanker, serta stunting di masyarakat. Ia menjelaskan bahwa pengembangan produk farmasi merupakan upaya pengobatan secara kuratif, sedangkan pengembangan produk nutrasetikal merupakan pendekatan secara preventif dan promotif. “Dengan tingginya permasalahan global maupun nasional tersebut, pemanfaatan makromolekul dan senyawa bioaktif terutama dari sumber biodiversitas hayati lokal Indonesia dalam pengembangan produk farmasi dan nutrisetikal sangat relevan untuk terus dilakukan,” ujarnya.

Pengembangan produk farmasi, pemanfaatan makromolekul terutama yang berasal dari protein dan asam nukleat dari sumber hayati telah berjalan pesat. Bahkan, pada tahun 2023, pada tingkat global, kelompok makromolekul protein menjadi salah satu dari produk farmasi dengan penjualan terbesar. Namun demikian, Rumiyati menjelaskan bahwa kelemahan utama dalam pengembangan obat makromolekul golongan protein adalah adanya ketidakstabilan, masalah penghantaran, risiko imunogenisitas, manufaktur yang kompleks, biaya yang mahal, tahapan yang panjang, dan waktu yang lebih lama.

Sejalan dengan pengembangan produk terapi, juga sangat penting untuk mengembangkan produk yang mendukung pendekatan preventif dan promotif. Salah satunya adalah melalui produk-produk nutrasetikal yang dikenal juga dengan istilah pangan fungsional. Umumnya, produk nutrasetikal dapat diartikan sebagai komponen pangan yang telah diisolasi atau dimurnikan dan disajikan dalam bentuk kapsul dan pil, sedangkan pangan fungsional disajikan sebagai bagian dari diet sehari-hari. “Sebagai contoh, produk nutrasetikal ini adalah kapsul minyak ikan, omega-3, atau tablet glukosamin, sedangkan produk pangan fungsional contohnya yoghurt, susu fortifikasi, roti, atau kue tinggi serat dan kaya antioksidan,” jelasnya.

Perkembangan bidang keilmuan sangat memungkinkan pengembangan produk ke arah personalized medicine dan personalized nutraceuticals. Namun demikian, berbagai tantangan dalam riset pemanfaatan makromolekul dan senyawa bioaktif masih harus dihadapi, antara lain karena banyak makromolekul dan senyawa bioaktif yang telah menunjukkan aktivitas secara in vitro, tetapi belum secara in vivo, preklinik dan klinik. “Riset ke depan perlu dilakukan untuk pembuktian mekanisme molekuler, uji keamanan, uji efektivitas, bioavailabilitas, stabilitas, serta interaksi antar komponen dalam formula yang dikembangkan,”terangnya.

Selain itu, Rumiyati juga menyebutkan bahwa beberapa jenis makromolekul memerlukan perlakuan khusus agar tidak mudah mengalami degradasi, denaturasi, atau kehilangan aktivitas selama produksi dan penyimpanan. Oleh sebab itu, teknologi seperti enkapsulasi nanoformulasi, edible coating, rekayasa protein, dan sistem pengantaran berbasis biopolimer sangat penting dikembangkan. Tak kalah penting, regulasi untuk mendukung hilirisasi produk nutrasetikal diperlukan, terlebih karena belum adanya kategori regulasi tersendiri untuk industri ini. “Harmonisasi antara pihak peneliti, regulator, industri, dan kebutuhan masyarakat menjadi sangat penting agar produk yang dikembangkan dapat bersifat ilmiah, legal, aman, dan dapat diterima pasar,”  ujarnya.

Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., menyebutkan Prof. Rumiyati merupakan salah satu dari 543 guru besar aktif di UGM dan di tingkat fakultas merupakan salah satu dari 23 guru besar aktif dari 349 guru besar yang pernah dimiliki oleh Fakultas Farmasi.

Penulis : Leony

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Guru Besar UGM Dorong Pengembangan Obat dari Makromolekul dan Senyawa Bioaktif pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/guru-besar-ugm-dorong-pengembangan-obat-dari-makromolekul-dan-senyawa-bioaktif/feed/ 0
Prof Hendry Saragih Dikukuhkan jadi Guru Besar UGM  https://ugm.ac.id/id/berita/prof-hendry-saragih-dikukuhkan-jadi-guru-besar-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/prof-hendry-saragih-dikukuhkan-jadi-guru-besar-ugm/#respond Thu, 02 Jul 2026 09:11:47 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95123 Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. med. vet. drh. Hendry T.S.S.G. Saragih, M.P., dikukuhkan sebagai Guru Besar UGM di bidang Struktur Perkembangan Hewan di Balai Senat UGM, Kamis (2/7). Pada upacara pengukuhan, ia menyampaikan pidato berjudul “Peran Ilmu Struktur Perkembangan Ayam di Bidang Biomedis dan Industri Perunggasan”. Hendry mengatakan Indonesia memiliki kekayaan plasma […]

Artikel Prof Hendry Saragih Dikukuhkan jadi Guru Besar UGM  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. med. vet. drh. Hendry T.S.S.G. Saragih, M.P., dikukuhkan sebagai Guru Besar UGM di bidang Struktur Perkembangan Hewan di Balai Senat UGM, Kamis (2/7). Pada upacara pengukuhan, ia menyampaikan pidato berjudul “Peran Ilmu Struktur Perkembangan Ayam di Bidang Biomedis dan Industri Perunggasan”.

Hendry mengatakan Indonesia memiliki kekayaan plasma nutfah ayam lokal yang sangat besar dan bernilai strategis. Namun, produktivitas ayam lokal masih menghadapi berbagai tantangan dengan seperti laju pertumbuhan yang relatif lambat, produktivitas reproduksi yang lebih rendah, serta sistem pemeliharaan yang masih didominasi pada pola tradisional,

Bidang ilmu perkembangan hewan menurut Hendry mampu mempelajari proses pertumbuhan ayam sejak fertilisasi hingga fase dewasa. Ia menyebutkan kajiannya mencakup pembelahan sel diferensiasi, morfogenesis, pertumbuhan, dan organogenesis. Gangguan pada salah satu tahapannya, sebutnya, dapat mempengaruhi pembentukan struktur dan fungsi tubuh. “Terlebih, ilmu ini erat kaitannya karena proses perkembangan embrio menjadi dasar dalam memahami penyakit dan kelainan kongenital pada hewan,” katanya.

Hendry menyebutkan penggunaan embrio ayam pada tahap perkembangan awal memberikan solusi terhadap tantangan etika biomedis modern. Hal ini dikarenakan belum dikategorikan sebagai organisme yang memiliki tingkat sensitivitas penuh. Ia menyebutkan sehingga sering dianggap memiliki tingkat etika yang lebih rendah dibandingkan vertebrata dewasa. “Pemanfaatan embrio ayam sangat sejalan dengan prinsip 3R (Replacement, Reduction, dan Refinement),” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, ia menyebutkan pentingnya penggunaan metode penelitian Chick Embryotoxicity Screening Test (CHEST) dan studi toksikologi perkembangan. Ia menjelaskan embrio yang efektif digunakan sebagai indikator awal untuk menguji efek embriotoksik maupun teratogenik. Terlebih dari senyawa farmakologis, bahan kosmetik, pengawet, dan kontaminan lingkungan sebelum pengujian dilanjutkan pada manusia.

Dalam penelitian biomedis farmakologi, sebut Hendry, embrio ayam merupakan model organisme klasik yang sangat penting dalam biologi perkembangan. Model ini memiliki persamaan mekanisme genetik serta sekuens genom yang kuat dengan vertebrata lain termasuk manusia. Ia menjelaskan bahwa keunggulan operasional embrio ayam terletak pada kemudahan manipulasi selama inkubasi. Langkah ini memudahkannya dalam membuka cangkang untuk mengamati organogenesis secara langsung. “Peneliti dapat mengisolasi efek langsung farmakologis terhadap sistem saraf, kardiovaskular, dan jaringan lainnya dalam waktu relatif singkat,” ungkapnya.

Selain faktor genetik, sebut Hendry, nutrisi merupakan komponen yang sangat menentukan keberhasilan pertumbuhan ayam. Ia menyebutkan bahan alami yang berasal dari sumber daya terestrial memiliki potensi besar sebagai sumber nutrisi dan senyawa biotik. Di samping itu, berbagai organisme akuatik juga memiliki potensi yang sangat menjanjikan sebagai bahan tambahan pakan unggas. Ia mencontohkan seperti makroalga, alga hijau, maupun hasil samping industri perikanan. “Itu mengandung protein, mineral, asam lemak, serta berbagai senyawa yang mampu mendukung perkembangan pernapasan dan jaringan otot,” sebutnya.

Menurutnya, pemanfaatan sumber daya akuatik ini tidak hanya meningkatkan performa pertumbuhan. Kendati demikian, juga memberikan alternatif bahan pakan yang lebih berkelanjutan dan bernilai ekonomis. Ia menyebutkan perbaikan morfologi usus halus, peningkatan perkembangan otot, serta optimalisasi fungsi berbagai organ merupakan bukti bahwa interferensi nutrisi bekerja melalui mekanisme biologis yang dapat diamati secara histologis dan anatomis.

Lebih lanjut, Hendry menyebutkan kajiannya memperkaya pemahaman dasar mengenai biologi perkembangan dan juga menghasilkan berbagai inovasi industri perunggasan modern. Melalui riset ini, katanya, dapat membangun sistem produksi unggas yang lebih produktif, efisien, berkelanjutan, serta mampu menjaga kelestarian sumber daya genetik unggas Indonesia. “Dengan cara inilah, ilmu struktur dan perkembangan hewan diharapkan dapat terus memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat industri perunggasan nasional sekaligus mendukung pemeliharaan pangan di masa depan,” lanjutnya.

Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., menyebutkan Prof. Hendry merupakan salah satu dari 545 guru besar aktif di UGM dan 16 guru besar aktif dari 30 guru besar yang sempat dimiliki oleh Fakultas Biologi.

Penulis : Hanifah

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Prof Hendry Saragih Dikukuhkan jadi Guru Besar UGM  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/prof-hendry-saragih-dikukuhkan-jadi-guru-besar-ugm/feed/ 0