Promosi Doktor Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/category/pendidikan/promosi-doktor/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Mon, 24 Aug 2026 08:57:07 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 Lebih Unggul dan Tangguh, Persilangan Sapi Jaliteng Perkuat Mutu Genetik Sapi Bali https://ugm.ac.id/id/berita/lebih-unggul-dan-tangguh-persilangan-sapi-jaliteng-perkuat-mutu-genetik-sapi-bali/ https://ugm.ac.id/id/berita/lebih-unggul-dan-tangguh-persilangan-sapi-jaliteng-perkuat-mutu-genetik-sapi-bali/#respond Mon, 24 Aug 2026 08:57:07 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96913 Pemanfaatan sapi Jaliteng sebagai sumber genetik alternatif berpotensi meningkatkan produktivitas sapi Bali. Sebagai informasi, sapi Jaliteng merupakan hasil perkawinan antara sapi Bali dan banteng Jawa. Program perkawinan tersebut mulai dilakukan pada 2011 oleh Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur bersama Taman Safari Indonesia II Prigen-Pasuruan. Program tersebut kemudian menghasilkan keturunan yang dikenal sebagai sapi Jaliteng. Seiring […]

Artikel Lebih Unggul dan Tangguh, Persilangan Sapi Jaliteng Perkuat Mutu Genetik Sapi Bali pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pemanfaatan sapi Jaliteng sebagai sumber genetik alternatif berpotensi meningkatkan produktivitas sapi Bali. Sebagai informasi, sapi Jaliteng merupakan hasil perkawinan antara sapi Bali dan banteng Jawa. Program perkawinan tersebut mulai dilakukan pada 2011 oleh Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur bersama Taman Safari Indonesia II Prigen-Pasuruan. Program tersebut kemudian menghasilkan keturunan yang dikenal sebagai sapi Jaliteng. Seiring perkembangannya, semen beku dari pejantan Jaliteng dikembangkan untuk mendukung program inseminasi buatan. 

Dari hasil penelitian menunjukkan penggunaan semen Jaliteng pada induk sapi Bali menghasilkan conception rate (CR) sebesar 95,50 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan penggunaan semen sapi Bali yang menghasilkan CR sebesar 70 persen. Selain itu, nilai service per conception juga tercatat lebih rendah pada kelompok yang menggunakan semen Jaliteng.

Hal itu disampaikan  mahasiswa Program Doktor Ilmu Peternakan, Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Adi Tiya Warman, melalui disertasinya berjudul “Peningkatan Produktivitas Sapi Bali Melalui Perkawinan dengan Sapi Jaliteng di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat”. 

Disertasi tersebut dipertahankan dalam sidang ujian tertutup pada Jumat (21/8). Bertindak sebagai promotor Prof. Ir. Panjono, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., ASEAN Eng, serta Prof. Ir. Tri Satya Mastuti Widi, S.Pt., M.P., M.Sc., Ph.D., ASEAN Eng dan Prof. Dr. Ir. Sigit Bintara, M.Si., IPU., ASEAN Eng sebagai ko-promotor.

Adi menuturkan, penelitian yang dilakukannya di Lombok Tengah dan Jawa Timur tersebut membandingkan produktivitas sapi Bali dengan sapi hasil perkawinan sapi Bali dan Jaliteng melalui metode inseminasi buatan. Selain dari sisi performa reproduksi, potensi lainnya pada pertumbuhan pedet hasil persilangan. Pedet hasil perkawinan Jaliteng dan sapi Bali diketahui memiliki sejumlah ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan pedet Bali murni. Saat sapih, panjang badan pedet dari hasil persilangan Jaliteng dan Bali mencapai rata-rata 88,15 cm, sedangkan pedet Bali memiliki rata-rata panjang badan 82,59 cm.

Di sisi lain, persilangan tersebut tetap mempertahankan sebagian besar karakter fenotipik khas sapi Bali. Beberapa karakter tersebut antara lain warna kaus kaki putih, cermin pantat putih, dan garis punggung hitam. Tentu, hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan sapi Jaliteng sebagai sumber genetik alternatif tetap memungkinkan dipertahankannya sejumlah karakteristik khas sapi Bali. “Sapi Jaliteng potensial menjadi pejantan alternatif dalam program pembibitan sapi Bali, terutama melalui pemanfaatan semen beku dalam program inseminasi buatan,”kata Adi.

Meski menunjukkan hasil yang menjanjikan, Adi menekankan perlunya penelitian lanjutan untuk melihat performa keturunan hasil persilangan setelah melewati masa sapih hingga mencapai usia dewasa. Kajian tersebut diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai produktivitas dan karakteristik keturunan sapi hasil perkawinan Jaliteng dan Sapi Bali.

Reportase : Satria/Humas Fapet

Penulis.     : Zabrina Kumara

Editor        : Gusti Grehenson
Foto.         : Detik dan Dok. Tim Pascasarjana Fapet

Artikel Lebih Unggul dan Tangguh, Persilangan Sapi Jaliteng Perkuat Mutu Genetik Sapi Bali pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/lebih-unggul-dan-tangguh-persilangan-sapi-jaliteng-perkuat-mutu-genetik-sapi-bali/feed/ 0
Luka yang Tak Terlihat, Pola Pengasuhan Kasar Mengubah Struktur Otak Anak https://ugm.ac.id/id/berita/luka-yang-tak-terlihat-pola-pengasuhan-kasar-mengubah-struktur-otak-anak/ https://ugm.ac.id/id/berita/luka-yang-tak-terlihat-pola-pengasuhan-kasar-mengubah-struktur-otak-anak/#respond Tue, 11 Aug 2026 08:48:47 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96513 Pola pengasuhan yang kasar (abusive) terhadap anak dapat berpengaruh terhadap perkembangan struktur otak. Sebab, orang tua yang dulunya mengalami trauma seperti dipukul, dikunci berhari-hari dapat memperlakukan anaknya dengan cara yang sama dan mewajarkannya. Sebaliknya, apabila orang tua yang mampu berefleksi ternyata akan mampu memutus cara asuh yang dulu didapatkannya. Hal itu mengemuka dalam hasil riset […]

Artikel Luka yang Tak Terlihat, Pola Pengasuhan Kasar Mengubah Struktur Otak Anak pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Pola pengasuhan yang kasar (abusive) terhadap anak dapat berpengaruh terhadap perkembangan struktur otak. Sebab, orang tua yang dulunya mengalami trauma seperti dipukul, dikunci berhari-hari dapat memperlakukan anaknya dengan cara yang sama dan mewajarkannya. Sebaliknya, apabila orang tua yang mampu berefleksi ternyata akan mampu memutus cara asuh yang dulu didapatkannya.

Hal itu mengemuka dalam hasil riset mahasiswa S3 Fakultas psikologi UGM, Radhiatul Fitri, S.Psi., M.Psi., Psikolog dalam ujian mempertahankan disertasi berjudul “Trauma Masa Kanak-Kanak dan Pengasuhan Ibu: Peran Reflective Functioning Spesifik Trauma (RF-T) pada Pemrosesan Neural Emosi Anak dan Kompetensi Pengasuhan” di Fakultas Psikologi UGM, Jumat (8/8). Bertindak sebagai promotor, Supra Wimbarti, M.Sc., Ph.D., Psikolog dan ko-promotor Dr. Nita Handayani, S.Si., M.Si., dari Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dari hasil penelitian Fitri, berdasarkan pemetaan konektivitas fungsionalnya, orang tua yang fungsi refleksinya terhadap trauma rendah, maka mereka akan terlalu waspada terhadap ekspresi emosi yang muncul dari anak-anak. “Kemampuan orang tua ini dalam meregulasi emosinya mengalami pelemahan,” ujarnya.

Sebaliknya, orang tua yang fungsi refleksinya tinggi itu justru memperlihatkan fleksibilitas neural yang lebih bagus. Sehingga dalam merespon rangsangan dari anak lebih fleksibel sehingga lebih mampu meregulasi emosi. “Trauma itu tidak serta-merta langsung membuat seseorang itu tidak kompeten dalam mengasuh anak. Reflective functioning trauma inilah yang menjadi mediator terhadap kemampuan dia dalam mengasuh anak,” ungkap Fitri.

Menurutnya, diperlukan variabel yang menjadi pemotong siklus trauma antar generasi yaitu fungsi refleksi spesifik trauma. Untuk membuktikannya, terdapat tiga upaya yang dilakukan yaitu adaptasi dan validasi psikometri dari failure to mentalize trauma (FMTQ), pengembangan dan validasi AI generated Indonesian child facial expression khususnya berusia 2 sampai dengan 8 tahun, terakhir eksperimen elektrofisiologis dengan analisis event-related potentials (ERP) dan functional connectivity EEG dengan matriks koherensi dan WPLI. “FMTQ ini bisa secara valid digunakan untuk mengukur apakah tingkat seseorang mampu move on atau berefleksi terhadap traumanya ataupun tidak,” paparnya.

Melalui penelitian ini, Fitri menyatakan bahwa ketika trauma anak-anak dihubungkan langsung dengan kompetensi pengasuhan menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Namun, ketika variabel fungsi refleksi traumanya dimasukkan menjadi signifikan.

Ia berkesimpulan bahwa orang tua yang dulunya mengalami trauma seperti dipukul, dikunci berhari-hari dapat memperlakukan anaknya dengan cara yang sama dan mewajarkannya. Sebaliknya, orang tua yang mampu berefleksi akan mampu memutus cara asuh yang dulu didapatkannya.

Penulis/Foto : Jesi

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Luka yang Tak Terlihat, Pola Pengasuhan Kasar Mengubah Struktur Otak Anak pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/luka-yang-tak-terlihat-pola-pengasuhan-kasar-mengubah-struktur-otak-anak/feed/ 0
Membran Amnion dengan Kandungan Riboflavin dan Moxifloxacin Potensial Terapi Penanganan Ulkus Kornea Infeksi https://ugm.ac.id/id/berita/membran-amnion-dengan-kandungan-riboflavin-dan-moxifloxacin-potensial-terapi-penanganan-ulkus-kornea-infeksi/ https://ugm.ac.id/id/berita/membran-amnion-dengan-kandungan-riboflavin-dan-moxifloxacin-potensial-terapi-penanganan-ulkus-kornea-infeksi/#respond Fri, 12 Jun 2026 05:25:45 +0000 https://ugm.ac.id/?p=94471 Dokter spesialis mata sekaligus dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), dr. Reny Setyowati, Sp.M., berhasil mengembangkan membran amnion yang diperkaya riboflavin dan moxifloxacin sebagai terapi adjuvan pada penanganan ulkus kornea infeksi. Inovasi tersebut dipaparkan dalam ujian terbuka Program Doktor yang meneliti efektivitas kombinasi membran amnion dan metode Photoactivated Chromophore […]

Artikel Membran Amnion dengan Kandungan Riboflavin dan Moxifloxacin Potensial Terapi Penanganan Ulkus Kornea Infeksi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Dokter spesialis mata sekaligus dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), dr. Reny Setyowati, Sp.M., berhasil mengembangkan membran amnion yang diperkaya riboflavin dan moxifloxacin sebagai terapi adjuvan pada penanganan ulkus kornea infeksi. Inovasi tersebut dipaparkan dalam ujian terbuka Program Doktor yang meneliti efektivitas kombinasi membran amnion dan metode Photoactivated Chromophore for Keratitis-Corneal Cross Linking (PACK-CXL) untuk mempercepat penyembuhan infeksi kornea.

Reny menjelaskan bahwa moxifloxacin merupakan antibiotik golongan fluorokuinolon generasi keempat yang memiliki kemampuan penetrasi kornea yang baik. Selain itu, sebutnya, antibiotik spektrum luas ini dianggap mampu menangani patogen gram positif maupun gram negatif. “Moxifloxacin juga memiliki pengaruh pada ulkus kornea jamur. Pada isolat jamur dilakukan penelitian berbagai studi menunjukkan kemampuan penanganannya ini menangani patogen jamur tersebut khususnya Fusarium,” jelasnya dalam ujian terbuka promosi doktor di kampus FK-KMK UGM, Kamis (11/6).

Dikatakan Reny, salah satu keterbatasan membran amnion konvensional adalah masa degradasi yang relatif singkat, sekitar satu hingga dua minggu. Disebutkannya, melalui kombinasi dengan riboflavin dan terapi cross-linking, masa degradasi membran amnion dapat diperpanjang sehingga lebih sesuai dengan kebutuhan penyembuhan ulkus kornea infeksi yang sering kali berlangsung hingga empat minggu atau lebih. “Membran amnion yang telah diperkaya obat juga dapat berfungsi sebagai depot atau slow release system sehingga akan terdapat keuntungan pada ulkus kornea infeksi untuk mendapatkan terapi antibiotik secara terus-menerus dan konsisten,” ujarnya.

Pada penelitian fase hewan coba, Reny menggunakan model ulkus kornea infeksi derajat berat. Kesempatan ini ia menggunakan kelinci yang diinduksi patogen Staphylococcus aureus dengan standar departemen mikrobiologi klinis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang mendapatkan intervensi membran amnion mengandung riboflavin dan moxifloxacin disertai PACK-CXL mengalami perbaikan klinis lebih cepat dibanding kelompok kontrol.

Lebih lanjut, temuan tersebut diperkuat oleh pemeriksaan histopatologi (analisis jaringan tubuh). Reny memaparkan pada kelompok intervensi ditemukan proses reepitelisasi (fase penyembuhan ketika sel-sel kulit) yang lebih baik, susunan stroma yang lebih teratur, serta jumlah sel radang yang lebih sedikit dibandingkan kelompok kontrol. “Pada kelompok intervensi, lapisan epitel kornea telah terbentuk lebih teratur dengan ketebalan yang baik, stroma juga sudah baik, dan sangat minim sel radang,” jelasnya saat menjawab pertanyaan promotor.

Penelitian ini juga mengevaluasi berbagai penanda inflamasi atau sitokin pada pasien ulkus kornea infeksi. Reny menemukan bahwa peningkatan dan penurunan kadar sitokin seperti interleukin-6 dan interleukin-1 beta sejalan dengan perbaikan klinis pasien. Temuan tersebut membuka peluang penggunaan sitokin sebagai suatu parameter keberhasilan terapi maupun indikator perburukan penyakit.

Menurutnya, pengembangan berikutnya dapat mencakup penggunaan obat lain sesuai jenis patogen penyebab infeksi, perluasan uji keamanan, hingga penerapan pada kasus penyakit kornea lainnya. Di bidang teknologi PACK-CXL, Reny juga melihat peluang modifikasi terlebih untuk konteks terapi ulkus kornea infeksi berat. Ia menjelaskan bahwa pengembangan terapi dapat dilakukan dengan mempersingkat waktu penyinaran ultraviolet dari 30 menit menjadi 10 menit melalui modifikasi protokol radiasi.

Selain itu, penelitian lanjutan juga dapat mengeksplorasi penggunaan fotosensitizer lain selain riboflavin, seperti rose bengal, meskipun hingga saat ini riboflavin masih menjadi pilihan utama karena didukung banyak penelitian “Harapannya memang ini dapat memiliki layanan terapi CXL yang lebih luas. Di Indonesia memiliki sistem asuransi nasional sehingga terapi ini bisa menjadi salah satu layanan yang ditanggung layanan nasional tersebut,” sebutnya.

Selain membahas hasil penelitian, Reny juga memaparkan rencana pengembangan produk ke depan. Ia menjelaskan bahwa teknologi pembuatan membran amnion yang digunakan tergolong mudah dan dapat dikerjakan oleh berbagai laboratorium yang memenuhi standar. Saat ini, tim peneliti telah memperoleh sertifikasi paten dan menjalin kerja sama dengan sejumlah institusi, termasuk BRIN atau BATAN, untuk mendukung pengembangan lebih lanjut.

Reny membawa judul disertasi, “Sediaan Membran Amnion yang Mengandung Riboflavin dan Moxifloxacin sebagai Adjuvan Terapi Photo Activated Chromophore Keratitis–Corneal Cross Linking (PACK-CXL) : Pengembangan Sediaan, Uji Preklinik dan Uji Klinik.” Ujian terbuka promosi doktor ini menjadi tahap akhir perjalanan akademiknya dalam menempuh pendidikan doktoral di FK-KMK UGM. Dalam sidang tersebut, ia dinyatakan lulus Cumlaude dan berhak menyandang gelar doktor. Pada ujian terbuka ini, bertindak sebagai tim pembimbing adalah Prof. Dr. dr. Agus Supartoto, Sp.M (K)., dr. Supanji, Sp.M(K), Ph.D., dan Dr. Eng. Apt. Khadijah, M.Si. Selain itu, sidang juga dihadiri oleh tim penguji internal maupun eksternal yang memberikan masukan terhadap pengembangan penelitian terkait terapi ulkus kornea infeksi.

Penulis/Foto : Hanifah

Editor            : Gusti Grehenson

Artikel Membran Amnion dengan Kandungan Riboflavin dan Moxifloxacin Potensial Terapi Penanganan Ulkus Kornea Infeksi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/membran-amnion-dengan-kandungan-riboflavin-dan-moxifloxacin-potensial-terapi-penanganan-ulkus-kornea-infeksi/feed/ 0
Pasien Stroke Membutuhkan Perencanaan Perawatan Lanjutan  https://ugm.ac.id/id/berita/pasien-stroke-membutuhkan-perencanaan-perawatan-lanjutan/ https://ugm.ac.id/id/berita/pasien-stroke-membutuhkan-perencanaan-perawatan-lanjutan/#respond Wed, 10 Jun 2026 10:45:45 +0000 https://ugm.ac.id/?p=94403 Stroke menjadi penyakit nomor 2 di dunia yang menyebabkan kecacatan dan sebanyak 6,5 juta jiwa kematian disebabkan oleh penyakit tersebut. Ketidakpastian perawatan menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi pasien saat mengalami stroke. Ketidakpastian ini akan semakin meningkat ketika pasien atau keluarga memiliki pengetahuan yang terbatas tentang stroke, kurang mendapatkan dukungan perawatan, komunikasi yang buruk dengan […]

Artikel Pasien Stroke Membutuhkan Perencanaan Perawatan Lanjutan  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Stroke menjadi penyakit nomor 2 di dunia yang menyebabkan kecacatan dan sebanyak 6,5 juta jiwa kematian disebabkan oleh penyakit tersebut. Ketidakpastian perawatan menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi pasien saat mengalami stroke. Ketidakpastian ini akan semakin meningkat ketika pasien atau keluarga memiliki pengetahuan yang terbatas tentang stroke, kurang mendapatkan dukungan perawatan, komunikasi yang buruk dengan tenaga kesehatan dan kurangnya kesiapan keluarga untuk merawat pasien saat kembali ke rumah.

Mahasiswa program doktoral dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM,  Margareta Hesti Rahayu, Ns., M.Kep, melalui penelitiannya mengembangkan intervensi Advance Care Planning (ACP) atau perencanaan perawatan lanjutan dapat membantu memastikan bahwa pasien memperoleh perawatan sesuai keinginannya. Ia menjelaskan ACP memberikan kontribusi positif tidak hanya bagi pasien, tetapi juga bagi para keluarga pasien. “ACP mampu berkontribusi dalam menurunkan ketidakpastian, stres, kecemasan, dan depresi pada pasien; memperkuat keterlibatan pasien dalam pengambilan keputusan; menurunkan konflik keluarga; serta memperbaiki kualitas perawatan akhir kehidupan pasien,” jelasnya Margareta dalam ujian terbuka promosi doktor di kampus FK-KMK UGM, Selasa (9/6).

Dalam disertasinya tersebut, Margareta menggunakan pendekatan kualitatif kuantitatif (mixed methods research) dengan desain exploratory sequential mixed method yang dari dua tahapan penelitian. Tahap pertama merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kebutuhan perencanaan perawatan lanjutan pada pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan. Tahap kedua yaitu implementasi program ACP stroke dengan memberikan intervensi ACP pada pasien stroke dengan melibatkan keluarga. Penelitian dilakukan di RSUP dr. Sardjito, RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono, dan Rumah Sakit Panti Rapih pada tahun 2024-2025 yang melibatkan 33 partisipan yang terdiri dari pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan.

Margareta menjelaskan bahwa hasil penelitian yang dilakukan dengan wawancara dan FGD berhasil mendapat empat tema. Tiga tema menggambarkan tentang pengalaman pasien dengan stroke dan keluarga, yaitu permasalahan pasien dengan stroke, kebutuhan informasi dan edukasi pasien dan keluarga, pentingnya dukungan emosional. Tema yang keempat adalah kebutuhan perencanaan perawatan lanjutan pada pasien, keluarga dan tenaga kesehatan. Berdasarkan consensus para ahli menggunakan metode Delphi berhasil didapatkan 48 butir pernyataan yang valid yang terbagi dalam 19 domain dan tiga kategori.

Penyusunan modul menghasilkan dua modul ACP stroke. Modul ACP stroke untuk tenaga kesehatan meliputi konsep ACP, komunikasi dalam ACP dan panduan pelaksanaan ACP pada pasien dengan stroke. Sementara modul ACP stroke bagi pasien dan keluarga adalah konsep ACP untuk pasien dan keluarga, penyakit stroke, perawatan stroke di rumah, diet untuk pasien dengan stroke, latihan untuk pasien dengan stroke dan penggunaan obat-obatan. “Keseluruhan topik di atas merupakan rangkuman dari masukkan dan saran dari pasien, keluarga dan tenaga kesehatan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Margareta menjelaskan bahwa dalam hasil penelitian tahap kedua ditemukan bahwa intervensi ACP tersebut berhasil menurunkan ketidakpastian pasien dalam penyakit, meningkatkan pengetahuan keluarga dalam perawatan stroke dengan, efikasi diri keluarga dalam pengambilan keputusan, dan kesiapan keluarga untuk melakukan perawatan di rumah. Margareta turut menjelaskan bahwa ACP dapat membantu individu untuk memperjelas keinginan dan prioritas perawatan dalam menghadapi ketidakpastian di masa depan. Keterlibatan tenaga kesehatan dari multidisiplin ilmu memberikan kesempatan pada pasien dan keluarga untuk melakukan diskusi interaktif yang lebih komprehensif. “Intervensi ini juga menjadi strategi dalam menurunkan ketidakpastian,” tegasnya.

Ujian terbuka doktoral ini menjadi langkah dari Margareta dalam mencapai gelar doktornya. Ia berhasil menyelesaikan studi doktoralnya dengan predikat cumlaude. Pada ujian terbuka ini, bertindak sebagai tim Promotor yang terdiri dari Prof. Dr. dr. Sri Sutarni, Sp.S(K). sebagai promotor dan Dr. Heny Suseani Pangastuti, S.Kp., M.Kes. sebagai ko-promotor.

Penulis/Foto : Fatihah Salwa Rasyid

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Pasien Stroke Membutuhkan Perencanaan Perawatan Lanjutan  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/pasien-stroke-membutuhkan-perencanaan-perawatan-lanjutan/feed/ 0
Fenomena PK Tanpa Lewat Banding dan Kasasi, Hakim Agung Jupriyadi Sebut Kesalahan Penerapan Hukum https://ugm.ac.id/id/berita/fenomena-pk-tanpa-lewat-banding-dan-kasasi-hakim-agung-jupriyadi-sebut-kesalahan-penerapan-hukum/ https://ugm.ac.id/id/berita/fenomena-pk-tanpa-lewat-banding-dan-kasasi-hakim-agung-jupriyadi-sebut-kesalahan-penerapan-hukum/#respond Sat, 11 Apr 2026 07:48:24 +0000 https://ugm.ac.id/?p=92344 Fenomena upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) di tingkat Mahkamah Agung (MA) RI cenderung bergeser fungsi menjadi ‘peradilan tingkat kedua’  atau hanya sekadar upaya hukum biasa. Selama periode 2020 hingga 2024, rata-rata 61,31% permohonan PK diajukan langsung dari putusan pengadilan tingkat pertama yang telah berkekuatan hukum tetap, tanpa melalui upaya hukum banding maupun kasasi. “Saya menyoroti […]

Artikel Fenomena PK Tanpa Lewat Banding dan Kasasi, Hakim Agung Jupriyadi Sebut Kesalahan Penerapan Hukum pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fenomena upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) di tingkat Mahkamah Agung (MA) RI cenderung bergeser fungsi menjadi ‘peradilan tingkat kedua’  atau hanya sekadar upaya hukum biasa. Selama periode 2020 hingga 2024, rata-rata 61,31% permohonan PK diajukan langsung dari putusan pengadilan tingkat pertama yang telah berkekuatan hukum tetap, tanpa melalui upaya hukum banding maupun kasasi. “Saya menyoroti adanya titik singgung antara kesalahan penerapan hukum sebagai alasan kasasi dengan kekhilafan atau kekeliruan nyata sebagai alasan Peninjauan Kembali” ucap Hakim Agung RU Jupriyadi dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor pada prodi S3 Ilmu Hukum, Fakultas  Hukum (FH) Universitas Gadjah Mada, Jumat (10/4), di Auditorium Gedung B FH UGM.

Bertindak sebagai promotor adalah Prof. Dr. Marcus Priyo Gunarto, S.H., M.Hum., dan Ko-Promotor Dr. Dra. Dani Krisnawati, S.H., M.Hum. Sedangkan tim penguji terdiri dari Dr. Supriyadi, S.H., M.Hum., Sri Wiyanti Eddyono, S.H., LL.M.(HR)., Ph.D., Prof. Dr. Sunarto, S.H., M.H., Binziad Kadafi, S.H., LL.M., Ph.D.

Penelitian disertasinya yang berjudul “Reformulasi Pengaturan Peninjauan Kembali sebagai Upaya Hukum Luar Biasa Perkara Pidana dalam Praktik Peradilan di Indonesia”. Jupriyadi mengusulkan perlunya parameter yang jelas mengenai kriteria ‘kekhilafan hakim’ atau ‘kekeliruan yang nyata’ untuk membedakannya dengan alasan kasasi. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir subjektivitas hakim dan mencegah terjadinya titik singgung penerapan hukum yang tumpang tindih, sehingga proses peradilan dapat berjalan lebih konsisten, memberikan kepastian hukum, sekaligus menjamin keadilan bagi pemohon.

Menanggapi pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Baru (UU Nomor 20 Tahun 2025) yang tetap mencantumkan klausul kekhilafan hakim, Jupriadi secara tegas mendorong Mahkamah Agung untuk segera menerbitkan Peraturan Mahkamah Agung (Perma) sebagai petunjuk pelaksanaan teknis. Ia menekankan bahwa standarisasi kriteria ini merupakan langkah penting untuk menjaga integritas institusi peradilan tertinggi. “Saya menyarankan supaya parameter atau kriteria kekhilafan hakim atau kekeliruan yang nyata ini diwujudkan dalam bentuk Perma  atau SEMA (Surat Edaran Mahkamah Agung) atau bahkan Peraturan Pemerintah,” tekan Jupriyadi.

Menurut Jupriyadi, sebaiknya batas maksimal adanya PK hanya terjadi satu kali kecuali alasan novum atau bukti baru yang menentukan. Hal ini juga sudah ditetapkan dalam KUHAP baru. “Setiap perkara harus ada akhirnya. PK hanya dapat terjadi satu kali kecuali alasan novum,” kata Jupriyadi.

Penulis : Jesi

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Humas Fakultas Hukum UGM

Artikel Fenomena PK Tanpa Lewat Banding dan Kasasi, Hakim Agung Jupriyadi Sebut Kesalahan Penerapan Hukum pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/fenomena-pk-tanpa-lewat-banding-dan-kasasi-hakim-agung-jupriyadi-sebut-kesalahan-penerapan-hukum/feed/ 0
Trauma Bisa Muncul dari Lingkungan Keluarga https://ugm.ac.id/id/berita/trauma-bisa-muncul-dari-lingkungan-keluarga/ https://ugm.ac.id/id/berita/trauma-bisa-muncul-dari-lingkungan-keluarga/#respond Mon, 09 Mar 2026 07:34:14 +0000 https://ugm.ac.id/?p=91540 Trauma bisa datang dari mana saja, termasuk dari lingkungan terdekat yang seharusnya menjadi tempat untuk berlindung. Meskipun trauma tidak selalu berakhir dengan gangguan psikologis, masih terdapat resiko bagi seorang penyintas sering kali masih mengalami distress pascatrauma atau menampilkan ilusi pertumbuhan. Hasil studi yang dilakukan oleh mahasiswa jenjang doktor di Fakultas Psikologi UGM, Amalia Rahmandani, S.Psi., […]

Artikel Trauma Bisa Muncul dari Lingkungan Keluarga pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Trauma bisa datang dari mana saja, termasuk dari lingkungan terdekat yang seharusnya menjadi tempat untuk berlindung. Meskipun trauma tidak selalu berakhir dengan gangguan psikologis, masih terdapat resiko bagi seorang penyintas sering kali masih mengalami distress pascatrauma atau menampilkan ilusi pertumbuhan.

Hasil studi yang dilakukan oleh mahasiswa jenjang doktor di Fakultas Psikologi UGM, Amalia Rahmandani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, melakukan riset terkait dampak trauma pada usia emerging adult atau dewasa muda (18 – 25 tahun). Menurutnya, trauma kompleks merujuk pada pengalaman traumatis yang berulang dan kronis, mayoritas bersifat relasional, sering kali terjadi dalam konteks keluarga atau sistem pengasuhan primer. “Tuntutan kepada anak untuk memberikan hal istimewa sering kali menjadi salah satu faktor timbulnya trauma kompleks, disamping kekerasan baik fisik, psikologis, maupun seksual,” kata Amalia dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor yang berlangsung pada Jumat (6/3) di Fakultas Psikologi UGM.

Dalam ujian mempertahankan disertasinya, Amalia menjelaskan trauma yang timbul merupakan akumulasi tumpukan permasalahan yang tidak terselesaikan sehingga masih terdapat kemungkinan menjadi faktor adanya trauma kompleks. “Hubungan struktural antara penyintas trauma kompleks menyebabkan luka mendalam bagi penyintas dan berpengaruh terhadap pertumbuhan pascatrauma,” ujarnya.

Dikatakan Amalia, penyintas trauma kompleks justru memiliki kesadaran dan kecenderungan untuk memperbaiki. Pasalnya, penyintas trauma kompleks dalam keluarga berjuang untuk dirinya daripada bergantung pada orang lain, sehingga dukungan sosial sangat berpengaruh dalam proses penyembuhan. “Diperlukan upaya penyembuhan trust issue terlebih dahulu. Dengan kata lain bahwa penyintas memiliki kesempatan untuk tumbuh,” ujarnya.

Dari hasil penelitiannya, kata Amalia, kondisi pertumbuhan pascatrauma pada penyintas trauma kompleks relasional merupakan sebuah proses dinamis, multidimensional, dan bersifat spiral progresif, dimana pertumbuhan dan distress termasuk gangguan stress pascatrauma kompleks  dapat berkoeksistensi. Namun pertumbuhan pascatrauma tidak muncul dari ketiadaan penderitaan, tetapi melalui refleksi mendalam, rekonstruksi makna diri dan relasi serta dukungan dari fleksibilitas koping (mengatasi masalah) yang bersifat proaktif, bersyukur, dan harapan realistis. “Kemampuan individu mengelola tekanan melalui fleksibilitas koping terbukti memainkan peran penting dalam proses Posttraumatic Growth,” pungkasnya.

Penulis : Jelita Agustine

Editor   : Gusti Grehenson

Foto : Freepik

Artikel Trauma Bisa Muncul dari Lingkungan Keluarga pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/trauma-bisa-muncul-dari-lingkungan-keluarga/feed/ 0
Kaji Model Pengembangan dan Validasi Game-Based Assessment, Fadillah Raih Doktor Psikologi UGM https://ugm.ac.id/id/berita/kaji-model-pengembangan-dan-validasi-game-based-assessment-fadillah-raih-doktor-psikologi-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/kaji-model-pengembangan-dan-validasi-game-based-assessment-fadillah-raih-doktor-psikologi-ugm/#respond Wed, 18 Feb 2026 03:56:07 +0000 https://ugm.ac.id/?p=90603 Fadillah, S.Psi., M.Psi., Psikolog, staf pengajar Institut Teknologi Bandung dinyatakan lulus Program Doktor Fakultas Psikologi UGM. Dalam ujian terbuka yang berlangsung di Fakultas Piskologi UGM, Jum’at (13/2), ia berhasil mempertahankan desertasi berjudul Dari Teori ke Permainan: Model Pengembangan dan Validasi Game-Based Assessment Conscientiousness dengan didampingi promotor Rahmat Hidayat, M.Sc., Ph.D., dan ko-promotor Agung Santoso, M.A., […]

Artikel Kaji Model Pengembangan dan Validasi Game-Based Assessment, Fadillah Raih Doktor Psikologi UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fadillah, S.Psi., M.Psi., Psikolog, staf pengajar Institut Teknologi Bandung dinyatakan lulus Program Doktor Fakultas Psikologi UGM. Dalam ujian terbuka yang berlangsung di Fakultas Piskologi UGM, Jum’at (13/2), ia berhasil mempertahankan desertasi berjudul Dari Teori ke Permainan: Model Pengembangan dan Validasi Game-Based Assessment Conscientiousness dengan didampingi promotor Rahmat Hidayat, M.Sc., Ph.D., dan ko-promotor Agung Santoso, M.A., Ph.D.

Secara keseluruhan disertasi Fadillah berhasil menyediakan landasan konseptual dan metodologis bagi pengembangan Game Based Assesment (GBA) yang lebih transparan secara inferensial, kokoh secara arsitektural, dan akuntabel secara empiris sehingga meningkatkan relevansinya dalam menjawab tantangan asesmen psikologis yang terus berkembang di era digital. Dari disertasinya berhasil menunjukkan bahwa pengembangan GBA yang valid secara konstruk tidak dapat dipisahkan dari perumusan mekanisme inferensi perilaku yang jelas dan eksplisit.

Dalam Conceptual Three-Model Framework of GBA Evaluation, disebutnya, validitas dipahami sebagai sesuatu yang muncul dari keselarasan struktural antara spesifikasi teoretis konstruk yang diukur, pemicu perilaku yang dimediasi oleh desain permainan, dan evaluasi psikometris terhadap kualitas inferensi yang dihasilkan. Temuan empiris dari ketiga studi menunjukkan bahwa gangguan atau ketidaksinkronan pada salah satu komponen tersebut, terutama pada tingkat desain tugas dan pengendalian pengalaman pengguna, secara langsung mengurangi keterinterpretasian perilaku yang teramati, bahkan ketika indikator psikometris agregat tampak berada pada tingkat yang dapat diterima.

“Penelitian ini merumuskan model theory-driven pengembangan Game-Based Assessment untuk mengukur conscientiousness melalui tiga studi melalui meta-analisis, pengembangan prototipe, dan evaluasi empiris,” terangnya.

Studi pertama memberikan bukti bahwa GBA memiliki potensi signifikan sebagai metode pengukuran aspek kepribadian. Meta-analisis terhadap penelitian sebelumnya menunjukkan validitas konvergen yang moderat dan signifikan antara GBA dan alat ukur self-report (r = 0,516; p < 0,001). Studi kedua memperluas pemahaman tentang bagaimana atribut ukur psikologis dapat dioperasionalkan ke dalam desain permainan melalui integrasi design thinking dan kerangka DPE. Hasil penelitian menunjukkan design thinking dan kerangka DPE membantu proses pengembangan GBA menjadi lebih terstruktur dan tersistematis serta memiliki landasan konsep pengukuran yang jelas. Studi ketiga memberikan bukti empiris bahwa prototipe GBA menghasilkan korelasi positif dengan skor conscientiousness (r = 0,350; p < 0,001).

Sementara itu, analisis Teori Respons Butir (IRT) mengidentifikasi beberapa item dengan daya diskriminasi baik, meskipun beberapa item lain membutuhkan perbaikan. Wawancara kognitif menguatkan bahwa skenario awal permainan lebih konsisten memunculkan perilaku conscientiousness dibanding skenario lanjutan yang terpengaruh kompleksitas visual sehingga membutuhkan revisi lebih lanjut. “Secara keseluruhan, temuan dari ketiga studi menghasilkan model theory-driven yang mengintegrasikan teori kepribadian, desain permainan, dan prinsip psikometrika modern untuk mendukung pengembangan GBA yang lebih terstandar, valid secara konstruk, dan dapat direplikasi,” imbuhnya.

Penulis : Agung Nugroho

Artikel Kaji Model Pengembangan dan Validasi Game-Based Assessment, Fadillah Raih Doktor Psikologi UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kaji-model-pengembangan-dan-validasi-game-based-assessment-fadillah-raih-doktor-psikologi-ugm/feed/ 0
Perawatan Penderita Diabetes Membutuhkan Pengelolaan Emosi dan dan Manajemen Diri  https://ugm.ac.id/id/berita/perawatan-penderita-diabetes-membutuhkan-pengelolaan-emosi-dan-dan-manajemen-diri/ https://ugm.ac.id/id/berita/perawatan-penderita-diabetes-membutuhkan-pengelolaan-emosi-dan-dan-manajemen-diri/#respond Thu, 15 Jan 2026 08:20:22 +0000 https://ugm.ac.id/?p=89487 Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit yang perlu diwaspadai, tak hanya oleh orang-orang dengan usia lanjut, namun juga oleh kelompok muda. Pasalnya, kini Indonesia masuk dalam 10 besar negara dengan kasus diabetes tertinggi di dunia. Selain dari aspek medis, perawatan diabetes juga memerlukan perawatan hipnosis klinis pada aspek psikologisnya, karena individu dengan DM membutuhkan perawatan jangka […]

Artikel Perawatan Penderita Diabetes Membutuhkan Pengelolaan Emosi dan dan Manajemen Diri  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit yang perlu diwaspadai, tak hanya oleh orang-orang dengan usia lanjut, namun juga oleh kelompok muda. Pasalnya, kini Indonesia masuk dalam 10 besar negara dengan kasus diabetes tertinggi di dunia. Selain dari aspek medis, perawatan diabetes juga memerlukan perawatan hipnosis klinis pada aspek psikologisnya, karena individu dengan DM membutuhkan perawatan jangka panjang.

“Faktanya, individu dengan DM sering mengalami masalah psikologis seperti emosi negatif, stres, kecemasan, dan kelelahan emosional. Namun, jumlah tenaga psikolog terbatas,” kata mahasiswa program doktoral Fakultas Psikologi UGM, Martaria Rizky Rinaldi, S.Psi., M.Psi., Psikolog, pada ujian terbukanya untuk mendapatkan gelar doktor, Rabu (14/1), di  Ruang A-203 Fakultas Psikologi UGM.

Dalam disertasinya yang berjudul ‘Hypnodiacare untuk Individu dengan Diabetes Mellitus Tipe 2: dari Pemetaan Bukti dan Pengembangan Intervensi Hingga Uji Terkontrol Acak dan Evaluasi Psikofisiologis’, Kiky menjelaskan bahwa pasien diabetes melitus tipe 2 membutuhkan pengelolaan diri, regulasi emosi, serta manajemen diri yang sangat ketat. “Sementara ini penanganan diabetes lebih banyak ke edukasi manajemen diri, diketahui bermanfaat secara kognitif (pengetahuan), tetapi tidak menyasar aspek psikologis atau emosi secara mendalam,”paparnya.

Lebih lanjut, Kiky mengungkapkan melalui metode Clinical Hypnosis, diketahui dapat meningkatkan relaksasi, emosi positif, serta menurunkan kecemasan dan stres. Namun, ia menggaris bawahi bahwa masih terdapat kesenjangan karena belum adanya integrasi antara Clinical Hypnosis dengan edukasi manajemen diri.

Penelitiannya soal hypnodiacare yang merupakan gabungan atas integrasi edukasi manajemen diri dan Clinical Hypnosis. Edukasi diri yang dimaksud adalah pengetahuan tentang cara merawat diri seperti perilaku diet, konsumsi obat, dan aktivitas. Sedangkan Clinical Hypnosis atau Hipnosis Klinis, merupakan terapi yang menggunakan teknik relaksasi dan sugesti untuk mengatasi masalah emosi dan motivasi.

Ada pun hasil yang diperolehnya dari penelitian ini adalah, secara mental, pasien merasa lebih tenang, emosi lebih stabil, dan motivasi untuk berobat dan semangat untuk hidup sehat meningkat. “Secara fisik pun terjadi perubahan nyata pada gelombang otak baik alpha, beta, theta yang menandakan relaksasi dalam, serta perbaikan regulasi jantung,” ungkapnya.

Dari penelitian ini, Kiky menarik kesimpulan bahwa Hypnodiacare terbukti bermanfaat sebagai pendamping pengobatan medis untuk membantu pasien diabetes mengelola penyakitnya dengan lebih baik. “Clinical Hypnosis yang dikombinasikan dengan edukasi manajemen diri menawarkan model intervensi baru sebagai pendamping perawatan medis,” pungkasnya.

Penulis : Leony

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Humas Fakultas Psikologi

Artikel Perawatan Penderita Diabetes Membutuhkan Pengelolaan Emosi dan dan Manajemen Diri  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/perawatan-penderita-diabetes-membutuhkan-pengelolaan-emosi-dan-dan-manajemen-diri/feed/ 0
Dukungan Psikososial Berbasis Kearifan Lokal Mampu Meningkatkan Kesehatan Mental Penyintas Bencana https://ugm.ac.id/id/berita/dukungan-psikososial-berbasis-kearifan-lokal-mampu-meningkatkan-kesehatan-mental-penyintas-bencana/ https://ugm.ac.id/id/berita/dukungan-psikososial-berbasis-kearifan-lokal-mampu-meningkatkan-kesehatan-mental-penyintas-bencana/#respond Wed, 14 Jan 2026 01:36:05 +0000 https://ugm.ac.id/?p=89346 Di tengah meningkatnya risiko kebencanaan, perhatian terhadap isu kesehatan mental dan psikososial menjadi kebutuhan mendesak agar penanganan bencana tidak hanya berfokus pada aspek fisik semata. Namun secara empiris, dukungan psikososial dalam penanganan kebencanaan masih kerap kurang diprioritaskan. Padahal, dukungan ini penting karena setiap komunitas memiliki unsur lokal yang khas serta hidup di wilayah dengan potensi […]

Artikel Dukungan Psikososial Berbasis Kearifan Lokal Mampu Meningkatkan Kesehatan Mental Penyintas Bencana pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Di tengah meningkatnya risiko kebencanaan, perhatian terhadap isu kesehatan mental dan psikososial menjadi kebutuhan mendesak agar penanganan bencana tidak hanya berfokus pada aspek fisik semata. Namun secara empiris, dukungan psikososial dalam penanganan kebencanaan masih kerap kurang diprioritaskan. Padahal, dukungan ini penting karena setiap komunitas memiliki unsur lokal yang khas serta hidup di wilayah dengan potensi multibencana.

Hal itu mengemuka dalam ujian terbuka promosi doktor Nevi Kurnia Arianti, S.Psi., M.Si., Psikolog.,di Ruang A-203 Fakultas Psikologi UGM, Selasa (13/1). Dalam Ujian Terbuka tersebut, promovendus mempertahankan penelitian disertasinya yang berjudul “Profil dan Strategi Dukungan Psikososial Berbasis Komunitas pada Relawan di Daerah Rawan Beragam Tipe Bencana di Yogyakarta”.

Dalam disertasinya, Nevi menggunakan pendekatan psikologi kebencanaan yang memandang manusia sebagai bagian dari sistem yang terus berjalan, mulai dari pra, saat bencana, hingga pascabencana, sebagai satu kesatuan utuh. Ia menempatkan dukungan psikososial ialah dalam konteks kebijakan dan regulasi pemerintah, perilaku serta kultur komunitas, ketersediaan sumber daya, hingga pengurangan risiko. “Dampak bencana dan proses pemulihannya melebur dengan dinamika psikologi, sosial, dan interaksi antaraktor,” ujarnya

Penelitian ini dilakukan sejak 9 Oktober 2023 hingga 18 Agustus 2024 di tiga lokasi dengan karakter ancaman bencana berbeda. Lokasi pertama berada di Purwosari, Kulon Progo, dengan ancaman tanah longsor. Lokasi kedua di Girikerto, Sleman, dengan ancaman erupsi Gunung Api Merapi. Sementara lokasi ketiga di Girikarto, Gunungkidul, yang rawan gempa bumi dan tsunami. Menurutnya, Ketiga lokasi tersebut memiliki perbedaan yang kental akan adat budaya sehingga penguatan psikososial berbasis kearifan lokal ini sangat nyata dan diperlukan.

Nevi mencontohkan konsep Cakra Manggilingan dalam filosofi Jawa yang memaknai kehidupan sebagai sebuah siklus, ada awal, proses, dan akhir, yang kemudian dapat diperbaiki untuk memulai siklus yang lebih baik. Nilai ini tercermin dalam sikap keikhlasan para relawan, yang ketika menghadapi tekanan tidak selalu larut dalam kecemasan, tetapi mampu melihat apa yang masih bisa dilakukan. “Di Girikerto, Sleman, relawan juga sangat aktif memantau informasi resmi dari pemerintah, sekaligus berperan sebagai pendukung data melalui jaringan komunikasi radio (frekom),” tambahnya.

Menurutnya, penelitian ini memperluas sudut pandang bahwa sistem pemulihan pascabencana tidak bersifat netral karena melibatkan relasi kuasa dan pertarungan epistemologi. Ia menekankan pengetahuan lokal tidak sekadar budaya, melainkan pondasi penting dalam siklus sosial masyarakat. “Relawan dipandang sebagai aktor penghasil pengetahuan, bukan sekadar pelengkap sistem,” katanya.

Menurut Nevi, pendekatan kearifan lokal dan sains modern sama-sama memiliki kelebihan dan keterbatasan sehingga integrasi keduanya bukan hanya mungkin, tetapi mendesak untuk mengurangi risiko bencana serta menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat dan lingkungan.

Nevi juga memberikan sejumlah catatan bagi para pemangku kepentingan. Bagi komunitas relawan, ia menekankan pentingnya keberlanjutan melalui regenerasi internal, misalnya dengan membentuk divisi registrasi relawan muda. Untuk instansi pemerintah, ia mendorong penyesuaian peraturan daerah agar lebih mengakomodasi siklus sosial berbasis kearifan lokal, program mentoring, serta penyusunan modul pelatihan literasi keuangan dan pengelolaan emosi bagi relawan. Sementara bagi perguruan tinggi dan lembaga riset, Nevi menyoroti pentingnya riset geospasial dan etnografis yang mampu menjembatani proses relokasi masyarakat ke wilayah yang lebih aman tanpa mengabaikan nilai yang mereka yakini.

Menanggapi konteks kebencanaan di Sumatra, Nevi menjelaskan bahwa strategi dukungan psikososial perlu mengombinasikan pengetahuan lokal, saintifik, dan profesional. Morfologi dan topologi wilayah turut memengaruhi dinamika komunitas sehingga setiap daerah memiliki karakter khusus yang perlu dikaji.

Meski disertasinya berfokus pada kekuatan relawan komunitas lokal, Nevi menegaskan bahwa pada kondisi tertentu seperti di Sumatra, dukungan relawan dari luar tetap diperlukan, terutama ketika masyarakat berada pada fase paling rentan. “Ketika individu berada pada tahap sangat lemah, mereka belum bisa diajak untuk ‘berlari’. Mereka perlu dibantu dari luar terlebih dahulu, kemudian secara bertahap dilibatkan agar kembali berdaya,” jelasnya.

Sebagai contoh, Nevi menuturkan bahwa pendekatan psikososial dapat diwujudkan melalui penguatan kembali praktik budaya dan aktivitas keseharian yang akrab bagi masyarakat terdampak. Di Palu, misalnya, terdapat tradisi seni ketika ada konflik itu tari-tarian yang membuat mereka menjadi akrab.

Sementara di Aceh, kata Nevi, pendekatan serupa dapat dilakukan melalui kegiatan memasak bersama makanan khas yang sarat bumbu dan cita rasa lokal. Menurutnya, dukungan dari relawan luar daerah sebaiknya tidak datang dengan membawa praktik asing semata, melainkan diawali dengan pemetaan tradisi lokal yang pernah ada atau sempat hilang akibat bencana, lalu menghidupkannya kembali sebagai bagian dari proses pemulihan komunitas. “Misal mengucapkan terima kasih dalam bahasa Aceh ataupun apa sehingga relawan yang melayani ini juga bisa berbaur dengan korban,” ucapnya.

Ujian terbuka ini didukung oleh Tim Promotor yang terdiri atas Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph.D., Psikolog, sebagai promotor, serta Prof. Dr. Mohammad Baiquni, M.A., sebagai ko-promotor. Nevi berhasil menyelesaikan studi doktoralnya dalam waktu 4 tahun 3 bulan 11 hari dengan IPK 3,93.

Penulis/Foto : Hanifah

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Dukungan Psikososial Berbasis Kearifan Lokal Mampu Meningkatkan Kesehatan Mental Penyintas Bencana pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dukungan-psikososial-berbasis-kearifan-lokal-mampu-meningkatkan-kesehatan-mental-penyintas-bencana/feed/ 0
Raih Doktor Usai Teliti Pengembangan VR untuk Penanganan Perdarahan Pascasalin https://ugm.ac.id/id/berita/raih-doktor-usai-teliti-pengembangan-vr-untuk-penanganan-perdarahan-pascasalin/ https://ugm.ac.id/id/berita/raih-doktor-usai-teliti-pengembangan-vr-untuk-penanganan-perdarahan-pascasalin/#respond Wed, 07 Jan 2026 04:57:14 +0000 https://ugm.ac.id/?p=88974 Perkembangan teknologi seperti virtual reality menjadi angin segar dalam teknologi kesehatan, salah satunya dalam penanganan perdarahan yang dialami oleh ibu sehabis melahirkan. Melalui virtual reality (VR), bidan dan tenaga kesehatan dapat melakukan simulasi secara lebih nyata sebelum bertemu pasien sesungguhnya, terlebih pada kasus-kasus yang jarang terjadi di lapangan dalam kondisi aman dan tanpa mencederai pasien. […]

Artikel Raih Doktor Usai Teliti Pengembangan VR untuk Penanganan Perdarahan Pascasalin pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Perkembangan teknologi seperti virtual reality menjadi angin segar dalam teknologi kesehatan, salah satunya dalam penanganan perdarahan yang dialami oleh ibu sehabis melahirkan. Melalui virtual reality (VR), bidan dan tenaga kesehatan dapat melakukan simulasi secara lebih nyata sebelum bertemu pasien sesungguhnya, terlebih pada kasus-kasus yang jarang terjadi di lapangan dalam kondisi aman dan tanpa mencederai pasien.

Hal itu mengemuka dalam ujian terbuka promosi doktor dr. Ide Pustaka Setiawan, M.Sc.(HPE)., Sp.OG., FFRI yang dilaksanakan di ruang auditorium FK-KMK UGM, Selasa (6/1). Penelitian disertasi dengan judul “Pengembangan Virtual Reality dalam Penanganan Perdarahan Pasca Salin untuk Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Bidan Praktik Klinik”. Bertindak sebagai promotor adalah Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., dan Ko-Promotor dr. Yoyo Suhoyo, M.Med.Ed. Ph.D.

Dalam pemaparannya, Ide Pustaka Setiawan menjelaskan bahwa para pengguna virtual reality ini merasakan adanya peningkatan focus of learning, dan learning experience yang signifikan dalam proses belajar mereka. Lebih lanjut ia bersama tim, melalui VR mengembangkan proyek ini agar para partisipan dapat merasakan keterlibatan yang mendalam (immersive), bahkan semirip mungkin dengan apa yang ada di lapangan. “Kami mengembangkan untuk prototype VR yang betul-betul orang bisa masuk ke dalam dunia virtual (3D) dan bisa melihat, immersive. Betul-betul bertemu seperti pasien perdarahan, dan itu yang bisa menjadi kelebihan dibandingkan produk lain,” ungkapnya.

Ia pun menceritakan bahwa penelitiannya pada tahap pertama, pada awalnya adalah untuk mengukur tingkat kompetensi bidan yang ada di daerah DIY melalui online survey, karena ia merasa sampai dari literatur literatur sebelumnya sampai saat ini belum ada data yang benar-benar akurat menangkap hal tersebut. Ide menjelaskan ada 3 pertanyaan utama, pengetahuan, persepsi kesiapan, dan persepsi kemampuan. Dari hal tersebut, ia menemukan bahwa hasil yang didapat sekitar 57.5% pengetahuan, 60% persepsi kemampuan, dengan 90% persepsi kesiapan.

Melalui metode pembelajaran VR, kata Ide, pengguna mendapatkan pengalaman baru melalui VR terlebih pada kasus-kasus yang jarang terjadi. Ia menyebutkan bahwa kasus perdarahan sendiri merupakan kasus yang jarang, bahkan ada yang sudah menjadi nakes namun belum pernah melihat kasus ini. “Paparan pengalaman yang dapat dibuat melalui VR. Dari hasil riset, terdapat peningkatan skill dan kesiapan yang terjadi karena metode ini,” katanya.

Selain itu, melalui VR ini materi dapat dilihat berkali-kali dan dapat mendukung pembelajaran yang lebih mandiri. “Kami ingin memaparkan hal itu dengan suasana yang aman, terstandar, dan tidak mencederai pasien, dan semoga hal tersebut dapat betul terjadi,” harapnya.

Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa road map dari penelitian ini masih panjang. Selain hal ini membutuhkan sosialisasi yang masif, harapannya ke depan tak hanya ditujukan untuk bidan namun sangat memungkinkan siapa pun yang bisa menolong persalinan, seperti dokter maupun tenaga kesehatan lain.

Penulis : Leony

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. FK-KMK

Artikel Raih Doktor Usai Teliti Pengembangan VR untuk Penanganan Perdarahan Pascasalin pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/raih-doktor-usai-teliti-pengembangan-vr-untuk-penanganan-perdarahan-pascasalin/feed/ 0