Wisuda Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/category/pendidikan/wisuda/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Fri, 28 Aug 2026 09:30:34 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 Kisah Ayyub Rizqullah, Lulus Sarjana Terapan UGM di Usia 20 Tahun  https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-ayyub-rizqullah-lulus-sarjana-terapan-ugm-di-usia-20-tahun/ https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-ayyub-rizqullah-lulus-sarjana-terapan-ugm-di-usia-20-tahun/#respond Thu, 27 Aug 2026 07:45:25 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96992 Usianya baru 20 tahun 3 bulan 10 hari ketika Ayyub Rizqullah menyabet gelar Sarjana Terapan dari Program Studi Perbankan, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada (UGM). Pada usia tersebut, ia tercatat sebagai lulusan termuda di antara 672 lulusan program Sarjana Terapan yang diwisuda pada Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM, Rabu […]

Artikel Kisah Ayyub Rizqullah, Lulus Sarjana Terapan UGM di Usia 20 Tahun  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Usianya baru 20 tahun 3 bulan 10 hari ketika Ayyub Rizqullah menyabet gelar Sarjana Terapan dari Program Studi Perbankan, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada (UGM). Pada usia tersebut, ia tercatat sebagai lulusan termuda di antara 672 lulusan program Sarjana Terapan yang diwisuda pada Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM, Rabu (19/8). Padahal usia rata-rata lulusan Program Sarjana Terapan yang diwisuda kalli ini adalah 22 tahun 6 bulan 15 hari

Ayyub, panggilan akrabnya, menceritakan bahwa capaian tersebut merupakan buah dari komitmen dan motivasi yang ia pegang selama duduk di bangku perkuliahan. Baginya, dukungan penuh dari keluarga menjadi salah satu dorongan terbesarnya demi memberikan yang terbaik selama menjalani studi di Prodi Perbankan UGM.

Berkat dorongan orang tua, Ayyub berusaha menentukan prioritas selama kuliah. Meski ia paham betul bahwa perjalanan perkuliahannya tak selalu berjalan mulus. Ada kalanya ia menghadapi berbagai tantangan dan merasa kewalahan, terutama saat menyusun tugas akhir. Ayyub menceritakan, ia bahkan mulai mencari referensi lebih awal agar memiliki gambaran mengenai tahapan yang perlu dilalui dalam penyusunan tugas akhir. “Aku tahu tujuan awalku. Aku mau lulus tepat waktu, jadi aku harus dedikasikan waktuku lebih, khususnya dalam penyusunan tugas akhir,” katanya, Kamis (27/8).

Meski menargetkan lulus tepat waktu, Ayyub tak lantas membatasi dirinya berkutat hanya pada kegiatan di ruang kuliah. Ketertarikannya pada bidang finansial juga membawanya bergabung dengan Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) di Departemen Ekonomika dan Bisnis SV UGM. Tak hanya itu, ia juga mengambil pekerjaan paruh waktu di Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) dan bergabung pada divisi yang berfokus pada pemberdayaan UMKM.

Tak berhenti di situ, Ayyub juga sempat mengikuti Trading Competition yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2023. Bersama seorang rekannya, ia berhasil meraih juara tiga dalam kompetisi tersebut. “Selama bangku perkuliahan, kita kan hanya mendapat teori. Lewat ikut kegiatan-kegiatan seperti ini, aku bisa mendapat pengalaman praktis,” kenangnya.

Kini, setelah menyelesaikan pendidikan di Program Studi Perbankan, Ayyub ingin segera terjun ke dunia kerja untuk merasakan pengalaman bekerja secara langsung, khususnya di bidang perpajakan. Ketertarikannya pada bidang tersebut turut didukung oleh sertifikasi perpajakan yang telah ia ambil sebelum lulus. Berbekal pengetahuan yang diperoleh selama bangku kuliah serta sertifikasi tersebut, Ayyub mantap mendaftar pekerjaan yang berkaitan dengan bidang perpajakan. “Sekarang, aku ingin mencoba pengalaman bekerja di bidang perpajakan secara langsung terlebih dahulu,” sambungnya.

Di akhir wawancara, Ayyub berpesan kepada mahasiswa yang masih menjalani studi agar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang dimiliki selama berkuliah. Baginya, kesempatan menempuh pendidikan di UGM merupakan sebuah privilege lantaran tidak banyak orang yang berpeluang untuk studi di UGM.  Karena itu, waktu yang ada semestinya dimanfaatkan sebaik mungkin, termasuk dengan memilih lingkungan pertemanan yang mendukung sekaligus tetap menikmati proses perkuliahan. “Jangan sia-siakan waktu yang berharga ini. Pandai-pandai pilih teman, gunakan waktu sebaik mungkin, dan juga nikmati perkuliahannya,” pesannya.

Penulis : Agito Sitepu

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Ayyub

Artikel Kisah Ayyub Rizqullah, Lulus Sarjana Terapan UGM di Usia 20 Tahun  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-ayyub-rizqullah-lulus-sarjana-terapan-ugm-di-usia-20-tahun/feed/ 0
Kuliah Double Degree di UGM dan University of Leeds, Kezia Uenike Teliti Mutasi Protein Kanker Ovarium https://ugm.ac.id/id/berita/kuliah-double-degree-di-ugm-dan-university-of-leeds-kezia-uineke-teliti-mutasi-protein-kanker-ovarium/ https://ugm.ac.id/id/berita/kuliah-double-degree-di-ugm-dan-university-of-leeds-kezia-uineke-teliti-mutasi-protein-kanker-ovarium/#respond Thu, 27 Aug 2026 01:00:33 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96955 Sebanyak 129 mahasiswa dari Fakultas Biologi mengikuti upacara Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan UGM pada Rabu (19/8) lalu di Grha  Sabha Pramana. Dari 129 lulusan sarjana tersebut, 6 diantaranya lulusan dari Program Double Degree S1 IUP Biologi UGM dengan Leeds University, Inggris. Kezia  Uenike salah satu wisudawan yang memperoleh gelar ganda. Bagi Kezia, menempuh […]

Artikel Kuliah Double Degree di UGM dan University of Leeds, Kezia Uenike Teliti Mutasi Protein Kanker Ovarium pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sebanyak 129 mahasiswa dari Fakultas Biologi mengikuti upacara Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan UGM pada Rabu (19/8) lalu di Grha  Sabha Pramana. Dari 129 lulusan sarjana tersebut, 6 diantaranya lulusan dari Program Double Degree S1 IUP Biologi UGM dengan Leeds University, Inggris.

Kezia  Uenike salah satu wisudawan yang memperoleh gelar ganda. Bagi Kezia, menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada dan University of Leeds, Inggris, bukan sekadar kesempatan untuk belajar di dua negara. Namun menjadi ajang untuk bisa belajar lebih mandiri, hingga membentuk cara pandangnya terhadap ilmu dan rencana pendidikan yang akan ditempuhnya.

Ia mengaku bersyukur bisa menyelesaikan program gelar ganda ini. Ketertarikan Kezia untuk mengikuti program double degree sudah ada sebelum dirinya menjadi mahasiswa UGM. Saat mencari informasi mengenai UGM, ia menemukan berbagai kerja sama dengan universitas di luar negeri dan sejak saat itu mulai mengincar kesempatan untuk mengikuti program itu. “Aku dari sebelum masuk UGM sudah merencanakan dan memang mengincar double degree-nya,” ujar Kezia, Kamis (27/8).

Ketertarikannya semakin kuat karena minat Kezia pada bidang bioteknologi. Menurutnya, bioteknologi memiliki banyak hal yang masih dapat dikembangkan, terutama untuk menghasilkan penerapan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. “Aku memang minatnya sebenarnya dari awal itu di biotek. Dan kebetulan waktu itu ada pilihan Biotech with Enterprise. Berarti kan ada biologinya, bioteknya, sama ada segi bisnisnya juga,” jelasnya.

Menurut Kezia, perpaduan antara ilmu biologi, bioteknologi, dan bisnis memberikan perspektif baru mengenai bagaimana ilmu pengetahuan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih aplikatif.

Menemukan Cara Belajar yang Berbeda

Selama menjalani studi di University of Leeds, Kezia menemukan perbedaan dalam sistem pembelajaran yang ia jalani di UGM. Salah satu perbedaan paling terasa adalah kegiatan laboratorium. Jika di UGM praktikum dapat berlangsung dalam beberapa sesi pada berbagai mata kuliah, di Leeds kegiatan laboratorium cenderung lebih terfokus. Mahasiswa diberikan waktu lebih panjang untuk mengembangkan eksperimen dan menentukan sendiri bagian yang ingin mereka dalami. “Kalau di sana itu semuanya fokus. Cuma ada satu atau dua lab tergantung mata kuliahnya ada lab atau enggak. Dan dari situ dikasih waktu biasanya satu bulan karena benar-benar kita disuruh mikir sendiri,” katanya.

Menurutnya, pembelajaran di Leeds tidak hanya berfokus pada pengetahuan atau aspek kognitif. Mahasiswa juga dilatih untuk mengembangkan berbagai keterampilan yang mendukung proses penelitian, seperti melakukan eksperimen, membuat tulisan ilmiah, serta mempresentasikan hasil penelitian. Ia juga mendapatkan pengalaman untuk belajar bagaimana menjelaskan penelitian dengan bahasa yang dapat dipahami oleh masyarakat luas. “Yang dipelajarin di situ bukan cuma yang kognitifnya, tapi juga skills-nya,” tuturnya.

Bagi Kezia, pengalaman tinggal di Leeds juga memberikan kesenangan sederhana. Ia menikmati lingkungan kota yang memungkinkan dirinya berjalan kaki dan mengamati perubahan musim. Ia mengaku senang melihat perubahan tumbuhan sepanjang tahun, termasuk ketika bunga mulai bermekaran dan lingkungan berubah mengikuti musim. “Musim dan tumbuhan yang berubah itu menarik banget untuk dilihat,” ungkapnya.

Skripsi Berbasis Penelitian 

Pengalaman akademik di Leeds kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan skripsi Kezia. Di kampus University of Leeds memilih supervisor yang telah memiliki laboratorium dan penelitian yang sedang berjalan. “Kalau di sana sistemnya kita milih supervisor. Jadi nanti dari supervisor itu, dia yang nentuin kita penelitiannya apa,” jelasnya.

Setiap dosen di Leeds, menurut Kezia, memiliki laboratorium dengan penelitian yang sedang berlangsung. Mahasiswa kemudian bergabung dalam penelitian itu. Meskipun topik penelitian ditentukan oleh supervisor, proses penelitian dan penulisannya tetap dikerjakan oleh mahasiswa. “Makanya mereka yang langsung keluarkan topiknya apa, tapi keseluruhannya seperti riset dan penulisannya itu kita yang ngelakuin,” katanya.

Melalui sistem itu, Kezia mengerjakan skripsi berjudul Bioinformatics Analysis of AHNAK2 and PIK3CA Protein Mutations in Ovarian Cancer. Skripsinya dikerjakan berbasis penelitian di University of Leeds, menggunakan pendekatan bioinformatika untuk mempelajari mutasi protein yang berkaitan dengan kanker ovarium. Penelitian itu berangkat dari sebuah dataset yang memuat sejumlah protein yang mengalami mutasi pada kanker ovarium. Kezia kemudian memilih dua protein untuk dianalisis, yakni AHNAK2 dan PIK3CA.

Secara sederhana, ia membandingkan sekuens protein normal dengan sekuens yang mengalami mutasi. Dari perbandingan itu, ia mengamati perubahan yang terjadi, mulai dari lokasi mutasi, perubahan struktur protein, hingga kemungkinan dampaknya terhadap fungsi protein. “Intinya aku melihat perubahan di situ dan aku melihat dari strukturnya juga, kira-kira berubahnya bagaimana,” jelasnya.

Meski harus beradaptasi dengan lingkungan baru, Kezia tetap merasakan dukungan dari lingkungan UGM. Ia menyebut para dosen di UGM memberikan perhatian dan bantuan selama menjalani program double degree. Hubungan itu, menurutnya, terasa lebih dekat dibandingkan dengan hubungan mahasiswa dan dosen di Leeds yang cenderung lebih formal. Mulai dari sistem administrasi hingga kendala akademik, Kezia menuturkan jika dosen dan tendik UGM sangat terbuka kepadanya. “Dosen-dosen yang di UGM benar-benar supportive dan siap membantu kapanpun,” ujarnya.

Setelah menyelesaikan program double degree, Kezia berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Ia merasa pengalaman belajar di UGM dan University of Leeds justru saling melengkapi. Pengetahuan yang diperoleh di UGM menjadi dasar akademik, sedangkan pengalaman di Leeds memberinya keterampilan untuk berpikir dan melakukan penelitian secara lebih mandiri.

Bagi Kezia, kesempatan menjalani pendidikan di dua negara memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar tambahan pengalaman akademik. Ia memperoleh kesempatan untuk melihat bagaimana sistem pendidikan yang berbeda bekerja dan kemudian membandingkannya secara langsung. “Menurutku, bisa merasakan dua-duanya di waktu yang sama itu hal yang pastinya bantu aku buat berkembang banget,” ungkapnya.

Kezia mendorong mahasiswa yang memiliki kesempatan untuk mengikuti program double degree agar tidak ragu mencobanya.Menurutnya, pengalaman semacam ini membuka perspektif baru mengenai pendidikan sekaligus kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya belum terpikirkan.“Itu tidak cuma membuka perspektif baru, tapi juga kesempatan baru,” pungkas Kezia.

Penulis : Zabrina Kumara

Editor   : Gusti Grehenson

Foto     : Dok. Kezia

Artikel Kuliah Double Degree di UGM dan University of Leeds, Kezia Uenike Teliti Mutasi Protein Kanker Ovarium pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kuliah-double-degree-di-ugm-dan-university-of-leeds-kezia-uineke-teliti-mutasi-protein-kanker-ovarium/feed/ 0
Cerita Ramzy Membagi Waktu di Dua Kampus hingga Sabet IPK Tertinggi https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-ramzy-membagi-waktu-di-dua-kampus-hingga-sabet-ipk-tertinggi/ https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-ramzy-membagi-waktu-di-dua-kampus-hingga-sabet-ipk-tertinggi/#respond Mon, 24 Aug 2026 09:33:01 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96917 Ramzy Izza Wardhana, wisudawan program studi S1 Ilmu Komputer FMIPA UGM dinobatkan menjadi lulusan terbaik pada penghelatan wisuda program Sarjana dan Sarjana Terapan UGM yang berlangsung di Grha Sabha Pramana UGM, Jumat (21/8). Ramzy berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi yakni 3,99. Sementara  IPK rata-rata 3.193 wisudawan program sarjana adalah 3,57. Ramzi mengaku merasa […]

Artikel Cerita Ramzy Membagi Waktu di Dua Kampus hingga Sabet IPK Tertinggi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Ramzy Izza Wardhana, wisudawan program studi S1 Ilmu Komputer FMIPA UGM dinobatkan menjadi lulusan terbaik pada penghelatan wisuda program Sarjana dan Sarjana Terapan UGM yang berlangsung di Grha Sabha Pramana UGM, Jumat (21/8). Ramzy berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi yakni 3,99. Sementara  IPK rata-rata 3.193 wisudawan program sarjana adalah 3,57.

Ramzi mengaku merasa terkejut sekaligus bersyukur karena awalnya tidak mengetahui bahwa dirinya menjadi salah satu lulusan dengan IPK tertinggi. Ia justru mengetahui kabar tersebut setelah namanya disebut saat penghelatan wisuda. “Saya merasa campur aduk. Ada rasa kaget, sekaligus bersyukur karena ternyata pencapaian itu benar-benar saya raih, ” ungkapnya bahagia, Senin (24/8).

Ramzy merupakan mahasiswa International Undergraduate Program (IUP) di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE) FMIPA UGM yang juga melakukan international exposure di program studi Artificial Intelligence and Computer Science, University of Birmingham, Inggris.

Alih-alih menempuh studi dalam empat tahun seperti jalur reguler, Ramzy menghabiskan lima tahun dalam perjalanan pendidikan sarjananya. Tambahan satu tahun tersebut menjadi bagian dari program extension yang memungkinkannya menjalani pengalaman akademik di luar negeri. Selama periode itu, ia membagi masa studinya antara UGM dan Inggris.“Saya sebenarnya tiga tahun di Inggris, dua tahun kuliah dan satu tahun kerja. Satu tahun kerja itu namanya industrial placement, yang bisa dijalankan bersamaan dengan program MBKM di sini dan dikonversikan menjadi SKS,” jelasnya.

Selama kuliah, Ramzi tidak hanya berfokus pada perkuliahan. Ia aktif di sejumlah organisasi, antara lain Omah TI, KOMATIK, HIMAKOM, dan Google Developer Program on Campus UGM. Pengalaman organisasi memberinya kesempatan bertemu praktisi industri dari berbagai perusahaan dan memperluas wawasan mengenai dunia profesional.

Ramzy membagi fokus kuliahnya berdasarkan tahapan. Pada tahun-tahun awal, ia lebih banyak membangun soft skill, pengalaman organisasi, volunteering, dan networking, sementara pada tahun ketiga dan keempat ia mulai meningkatkan kompetensi teknis dan mempersiapkan karier profesional. “Karena itu, ketika sampai di Inggris, alokasi waktu saya lebih banyak untuk belajar teknikal, mengikuti perkuliahan, sekaligus mempersiapkan diri untuk magang di sana. Saya memberikan waktu sekitar dua sampai tiga jam setiap hari untuk belajar. Yang penting konsisten.” tuturnya

Ia mengungkapkan cara belajar yang berbeda dengan ketika mulai menjalani perkuliahan. Memasuki dunia kuliah, khususnya pada mata kuliah yang bersifat teknis, ia mulai lebih banyak mengandalkan latihan dan pemahaman materi. “Cara belajar saya juga berubah-ubah. Waktu SMA mungkin saya masih banyak menghafal, kemudian ketika kuliah mulai lebih banyak latihan soal dan memahami konsep. Ketika di Inggris, karena sistemnya lebih banyak self-study, saya harus lebih mandiri mengatur bagaimana saya belajar.” ungkapnya.

Di balik pencapaiannya, Ramzy mengakui ada kompromi yang harus dilakukan. Pada fase tertentu, ia harus mengurangi porsi waktu untuk kehidupan sosial dan aktivitas lain demi mengejar target akademik maupun profesional.  “Pasti selalu ada kompromi di sini kalau kita pengen achieve semuanya. Kita sendiri lah itu adalah choice (pilihan). Orang memilih apa yang kita inginkan. Dan memang dalam periode-periode tertentu saya juga harus mengendalikan social life saya. Saya sendiri pribadi suka berteman. Saya di situ juga berteman. Cuman di kala-kala waktu saya harus fokus, misalnya mau ujian atau mau ada interview, di situ saya lebih sering berteman dengan diri sendiri,”  kata Ramzy.

Bagi Ramzy, lima tahun masa perkuliahan bukan sekadar perjalanan menuju gelar dan IPK tertinggi. “Life changing,” katanya singkat. Pengalaman merantau, belajar di dua negara, hidup mandiri, hingga mengenal dunia profesional menjadi bagian yang membentuk dirinya hari ini. Namun, perjalanan itu tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Ia berharap pengalaman yang diperolehnya dapat menjadi bekal untuk ikut memperbaiki persoalan di Indonesia.

“Saya berharap pengalaman dan kesempatan yang saya dapatkan di luar negeri bisa saya gunakan untuk memperbaiki gap yang masih ada di Indonesia. Kita bisa belajar dari negara-negara yang sudah berhasil menyelesaikan berbagai persoalan, seperti sustainability, korupsi, dan tata lingkungan. Pada akhirnya, semua itu membutuhkan kontribusi kolektif dari banyak orang. Karena by the end of the day, ya, kita yang bakal meneruskan pemerintah.” pungkasnya.

Penulis : M. Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Ramzi

Artikel Cerita Ramzy Membagi Waktu di Dua Kampus hingga Sabet IPK Tertinggi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-ramzy-membagi-waktu-di-dua-kampus-hingga-sabet-ipk-tertinggi/feed/ 0
Tempuh Beragam Jalur Karier, Lulusan UGM Diminta Tetap Jaga Integritas https://ugm.ac.id/id/berita/tempuh-beragam-jalur-karier-lulusan-ugm-diminta-tetap-jaga-integritas/ https://ugm.ac.id/id/berita/tempuh-beragam-jalur-karier-lulusan-ugm-diminta-tetap-jaga-integritas/#respond Fri, 21 Aug 2026 06:37:01 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96836 Universitas Gadjah Mada meluluskan sebanyak 3.865 wisudawan dan wisudawati pada periode ini, dengan 952 lulusan diantaranya mengikuti prosesi wisuda hari ketiga dari Fakultas Geografi, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Jumat (21/8). Dari jumlah tersebut, 37,88% merupakan wisudawan dan 62,12% merupakan wisudawati. Lebih dari sekadar […]

Artikel Tempuh Beragam Jalur Karier, Lulusan UGM Diminta Tetap Jaga Integritas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada meluluskan sebanyak 3.865 wisudawan dan wisudawati pada periode ini, dengan 952 lulusan diantaranya mengikuti prosesi wisuda hari ketiga dari Fakultas Geografi, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Jumat (21/8). Dari jumlah tersebut, 37,88% merupakan wisudawan dan 62,12% merupakan wisudawati.

Lebih dari sekadar seremoni penanda berakhirnya masa studi, wisuda menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang yang telah dilalui sekaligus meneguhkan tanggung jawab lulusan setelah kembali ke tengah masyarakat. Semangat tersebut turut tercermin dalam pesan yang disampaikan Anissa Dini Kamila, wisudawan Fakultas Ilmu Budaya, saat mewakili para wisudawan menyampaikan sambutan.

Di hadapan pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, orang tua, serta sesama wisudawan, Anissa mengajak para lulusan untuk memaknai gelar yang diperoleh bukan semata sebagai pencapaian pribadi, melainkan sebagai buah dari perjuangan dan pengorbanan yang turut melibatkan keluarga. “Gelar ini seutuhnya adalah milik ayah dan ibu,” ujar Anissa.

Ia menuturkan, bagi sebagian mahasiswa, bertahan dan menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi bukanlah hal yang mudah. Menurutnya, berbagai pengorbanan orang tua menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan para wisudawan. Ia pun menyampaikan apresiasi kepada orang tua yang terus mendukung anak-anak mereka, bahkan dalam kondisi penuh keterbatasan.“Di Universitas Gadjah Mada, kita selalu menggaungkan semboyan kampus kerakyatan. Tapi kawan-kawan, rakyat yang paling nyata menderita demi pendidikan kita adalah orang tua kita sendiri,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Anissa mengingatkan jika perjalanan para lulusan tidak berhenti setelah prosesi wisuda. Para lulusan UGM nantinya akan menempuh beragam jalur profesi, mulai dari akademisi, pengusaha, birokrat, hingga pemangku kebijakan di tingkat nasional dan internasional. Keragaman pilihan tersebut, menurutnya, perlu diiringi dengan komitmen untuk tetap memahami persoalan masyarakat dan menjunjung tinggi integritas. “Kita butuh orang-orang yang pernah merasakan kelaparan, di tengah memperjuangkan pendidikan, yang mengerti penderitaan rakyat kecil untuk merancang kebijakan di negeri ini. Tapi dengan satu syarat mutlak, yaitu jangan pernah tinggalkan integritas,” tegasnya.

Ia juga berpesan agar para lulusan tidak menggunakan pengetahuan dan posisi yang kelak diperoleh untuk menciptakan bentuk penindasan baru. Bagi Annisa, kekuasaan dan materi tidak semestinya menggeser nilai-nilai yang telah dibangun selama menempuh pendidikan. “Jangan menjadi mesin penindas yang baru. Jika suatu saat nanti kekuasaan dan setumpuk uang mencoba menyuap nurani kalian, ingatlah bahwa kita lahir dari rahim Universitas Gadjah Mada,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Anissa juga mengajak para lulusan untuk mempertahankan nalar kritis sebagai bagian dari identitas mereka setelah meninggalkan kampus. Ia menilai, pendidikan di perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan dengan kompetensi akademik, tetapi juga individu yang mampu melihat persoalan secara kritis dan memiliki kepedulian terhadap kehidupan masyarakat.

Amalia Susilowati, alumni UGM tahun 1987 yang juga merupakan Ketua Departemen Kemitraan dan Bisnis PP KAGAMA, menyampaikan penghormatan kepada para orang tua yang telah mendampingi perjalanan para wisudawan hingga hari ini. Ia menilai, di balik setiap pencapaian wisudawan, terdapat pengorbanan, kekhawatiran, dan dukungan orang tua yang kerap diberikan tanpa terlihat. “Saya yakin, semua orang tua hanya ingin anaknya melihat harapan, bukan kesulitan,” ungkap Amalia.

Amalia juga mengingatkan para wisudawan bahwa kelulusan menjadi awal dari perjalanan baru sebagai bagian dari keluarga besar KAGAMA. “Mulai hari ini, nama Universitas Gadjah Mada akan selalu melekat di belakang perjalanan kalian semua,” tuturnya.

Ia mengajak para alumni memanfaatkan jejaring KAGAMA untuk belajar, berkolaborasi, dan membuka kesempatan bersama, bukan untuk mencari jalan pintas maupun keistimewaan. Lebih lanjut, Amalia memperkenalkan tiga nilai yang menjadi napas KAGAMA, yakni Guyub, Rukun, dan Migunani. “Guyub berarti kita tidak berjalan sendiri. Rukun berarti kita mampu menjaga persaudaraan di tengah perbedaan. Migunani berarti keberadaan kita harus memberikan manfaat bagi orang lain, negara, dan Ibu Pertiwi,” jelasnya.

Ia berharap para wisudawan kelak mampu menjadi profesional yang berintegritas, ilmuwan yang menghadirkan terobosan, serta pemimpin yang amanah dan memberikan solusi bagi masyarakat dan bangsa.

Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, mengucapkan selamat kepada para wisudawan yang telah menyelesaikan pendidikan sarjana dan meraih berbagai prestasi. Ia mendorong para lulusan menjadikan kelulusan sebagai awal untuk melangkah ke dunia profesional dengan penuh keyakinan. “Jadikan kelulusan dari program Sarjana ini sebagai point of departure untuk terjun ke dunia profesional dengan penuh percaya diri,” tuturnya.

Wening juga mengingatkan para lulusan untuk membawa keberanian dan keuletan dalam menapaki perjalanan setelah lulus. Menurutnya, para wisudawan telah memiliki bekal yang kuat sebagai lulusan universitas berkelas dunia sekaligus perguruan tinggi kerakyatan yang dikenal rendah hati dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat. “Kalian harus memiliki audacity, keberanian, dan keuletan karena kalian telah memiliki bekal yang sangat lengkap dan kuat sebagai seorang Sarjana yang lulus dari Universitas berkelas dunia,” ujarnya.

Lebih lanjut, Wening mendorong para wisudawan memanfaatkan reputasi dan jejaring sosial yang dimiliki UGM sebagai modal untuk memasuki dunia yang mereka cita-citakan. “Gunakanlah social capital ini sebagai pintu masuk ke dunia yang kalian cita-citakan,” pesannya.

Penulis : Zabrina Kumara

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Tempuh Beragam Jalur Karier, Lulusan UGM Diminta Tetap Jaga Integritas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/tempuh-beragam-jalur-karier-lulusan-ugm-diminta-tetap-jaga-integritas/feed/ 0
Rektor UGM Ajak Lulusan Jadi Pribadi Berkarakter dan Berdampak https://ugm.ac.id/id/berita/rektor-ugm-ajak-lulusan-jadi-pribadi-berkarakter-dan-berdampak/ https://ugm.ac.id/id/berita/rektor-ugm-ajak-lulusan-jadi-pribadi-berkarakter-dan-berdampak/#respond Thu, 20 Aug 2026 08:54:14 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96821 Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 untuk hari kedua, pada Kamis (20/8) di Grha Sabha Pramana UGM. Pada periode ini, UGM mewisuda 3.865 mahasiswa yang terdiri atas 3.193 lulusan program sarjana, 672 lulusan program sarjana terapan, dan 5 lulusan warga negara asing. Sebanyak 1.486 lulusan […]

Artikel Rektor UGM Ajak Lulusan Jadi Pribadi Berkarakter dan Berdampak pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 untuk hari kedua, pada Kamis (20/8) di Grha Sabha Pramana UGM. Pada periode ini, UGM mewisuda 3.865 mahasiswa yang terdiri atas 3.193 lulusan program sarjana, 672 lulusan program sarjana terapan, dan 5 lulusan warga negara asing. Sebanyak 1.486 lulusan mengikuti prosesi wisuda hari kedua yang berasal dari tujuh fakultas, yakni Fakultas Farmasi, Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Filsafat, Fakultas Hukum, dan Fakultas Teknik.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menyampaikan selamat kepada para wisudawan yang telah menyelesaikan pendidikan di UGM. Ia berharap, ilmu dan pengalaman yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan dapat menjadi bekal bagi para lulusan untuk terus menghasilkan inovasi dan karya yang dapat memberikan dampak bagi masyarakat luas. “Perjuangan panjang tapi yang jelas tidak sia-sia. Perjuangan itu menjadi bekal yang telah didapatkan, tentunya harapannya dapat menghasilkan karya-karya dan inovasi yang nyata untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berdampak bagi bangsa,” tuturnya.

Ova juga menekankan pentingnya kesiapan lulusan dalam menghadapi perubahan dan perkembangan teknologi. Ia menyebut, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan bangsa, terutama melalui pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI). Sejak tahun 2023, kata Ova, UGM terus mengoptimalkan pemanfaatan AI dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Upaya tersebut juga terwujud dalam pengembangan UGM AI Society, serta pembukaan UGM Indosat NVIDIA AI Technology Center. “Pengembangan ekosistem AI di UGM merupakan upaya yang terus dilakukan dalam meningkatkan pengembangan keilmuan dan inovasi, serta mengembangkan talenta berbasis AI dalam menjawab persoalan bangsa,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mendorong para lulusan untuk dapat memperluas peluang kerja, serta memiliki keberanian dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Adapun penguatan karakter kewirausahaan, memperkuat jejaring kolaborasi dengan industri, hingga pengembangan industri kreatif dinilai penting dalam mendukung kemandirian bangsa. Sehingga, ia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari diperolehnya ijazah maupun pekerjaan ketika lulus. Para lulusan juga diharapkan memiliki karakter dan mampu memberikan kontribusi nyata. “Menjadi lulusan UGM tidak hanya sekadar mengantongi ijazah dan sukses mendapat pekerjaan. Tetapi, perlu juga menjadi pribadi yang berkarakter serta berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.

Ova turut mengajak para lulusan untuk meningkatkan kompetensi dan keahlian setelah menyelesaikan pendidikan. Menurutnya, pendidikan merupakan proses yang terus membuka cakrawala pengetahuan, sehingga lulusan diharapkan mampu memetakan persoalan sekaligus menemukan solusi tepat. Setelah resmi menjadi alumni UGM, Ova berharap lulusan dapat terus membangun jejaring melalui KAGAMA serta berkolaborasi dengan almamater dalam berbagai kegiatan. “Dengan syukur dan rasa bangga, saya turut mendoakan semoga seluruh lulusan UGM yang diwisuda hari ini menjadi pribadi yang memiliki integritas, karakter, dan berdaya saing dalam menjawab tantangan masa depan,” harap Ova.

Senada dengan Rektor UGM, Ketua Departemen Kerjasama Kementerian atau Lembaga Pengurus Pusat KAGAMA, Dr. Ir. Arnanto Nurprabowo, M.P., mengajak para wisudawan untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia kerja di tengah pesatnya perkembangan AI. Menurutnya, AI kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan dapat membawa perubahan besar terhadap kebutuhan tenaga kerja. Walaupun begitu, ia menuturkan meskipun puluhan juta pekerjaan rutin dan administratif diproyeksikan rentan tergantikan otomatisasi menjelang 2030, pada saat yang sama akan muncul lapangan pekerjaan baru di bidang big data, fintech, AI, dan software development. “Sekarang kita sudah masuk pada zaman di mana AI sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, ia mendorong agar perubahan tersebut dapat direspons dengan peningkatan kompetensi dan kemampuan berkolaborasi dengan teknologi. Adapun inovasi AI Technology Center yang telah diluncurkan UGM bersama Indosat dan NVIDIA dapat menjadi fasilitas yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan talenta dalam bidang AI. Ia juga mengajak para wisudawan memanfaatkan berbagai program upskilling digital gratis yang disediakan pemerintah serta berkontribusi melalui KAGAMA setelah menyelesaikan studi.

Perwakilan wisudawan dari Fakultas Teknik, Kayla Zahra Ramadhany, menyadari bahwa perjuangan dan perjalanan dalam menempuh masa studi selama empat tahun kebelakang ini tidak semata hanya berakhir mendapatkan gelar. Banyak pembelajaran yang jauh lebih besar tidak hanya melalui teori, buku, dan ujian di kelas. Lebih dari itu, ia menuturkan bahwa pembelajaran bisa diperoleh di mana saja, seperti melalui kuliah kerja nyata, bertemu dengan orang lain dengan sudut pandang berbeda, hingga dari pengalaman akan kegagalan. “Karena pada akhirnya, ilmu yang kita dapatkan di UGM tidak seharusnya berhenti di ruang kelas, ilmu itu akan kita bawa keluar. Disanalah perjalanan belajar yang sebenarnya akan kita mulai,” pungkas Kayla.

Penulis : Cyntia Noviana

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie Tristan

Artikel Rektor UGM Ajak Lulusan Jadi Pribadi Berkarakter dan Berdampak pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/rektor-ugm-ajak-lulusan-jadi-pribadi-berkarakter-dan-berdampak/feed/ 0
UGM Wisuda 3.865 Lulusan, Terbanyak Sepanjang Sejarah Kampus https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-wisuda-3-865-lulusan-terbanyak-sepanjang-sejarah-kampus/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-wisuda-3-865-lulusan-terbanyak-sepanjang-sejarah-kampus/#respond Wed, 19 Aug 2026 08:06:36 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96770 Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 pada Rabu (19/8) yang diikuti 3.865 lulusan. Jumlah tersebut menjadi periode wisuda sarjana dan sarjana terapan terbesar dalam sejarah UGM, terdiri atas 3.193 lulusan program sarjana dan 672 lulusan program sarjana terapan. Prosesi dilaksanakan selama tiga hari, dengan hari pertama […]

Artikel UGM Wisuda 3.865 Lulusan, Terbanyak Sepanjang Sejarah Kampus pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 pada Rabu (19/8) yang diikuti 3.865 lulusan. Jumlah tersebut menjadi periode wisuda sarjana dan sarjana terapan terbesar dalam sejarah UGM, terdiri atas 3.193 lulusan program sarjana dan 672 lulusan program sarjana terapan. Prosesi dilaksanakan selama tiga hari, dengan hari pertama diikuti 1.427 lulusan dari Fakultas Peternakan, Fakultas Kehutanan, Fakultas Kedokteran Hewan, FKKMK, Fakultas Biologi, Fakultas Psikologi, serta Sekolah Vokasi. Dari keseluruhan lulusan, 62,12 persen merupakan perempuan dan 37,8 persen laki-laki. Pada program sarjana, rerata masa studi tercatat 4 tahun 1 bulan dengan IPK rata-rata 3,57, sementara program sarjana terapan memiliki rerata masa studi 4 tahun dan IPK rata-rata 3,7.

Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D. menyampaikan bahwa perjalanan akademik para lulusan perlu dilanjutkan dengan kontribusi setelah mereka meninggalkan kampus. Pendidikan yang ditempuh di UGM diharapkan memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi persoalan sekaligus membaca peluang yang hadir di tengah perubahan. Ia menekankan pentingnya mengubah bekal akademik menjadi karya yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Bagi UGM, capaian pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan upaya menghadirkan pembangunan yang berkelanjutan dan berdampak. “Saya meyakini bahwa lulusan UGM senantiasa memiliki perspektif sebagai calon pemimpin, memiliki paradigma dan perubahan baru, juga memiliki ide serta karya inovasi yang mampu mengoptimalkan potensi diri dalam lingkup profesi yang ditekuni,” ungkap Rektor.

Momentum kelulusan juga dimanfaatkan Rektor untuk menyampaikan simpati kepada masyarakat yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus. UGM bersama jejaring alumni telah berkoordinasi untuk mengambil bagian dalam gerakan solidaritas selama masa tanggap darurat. Upaya tersebut mencakup penanganan terpadu, pemetaan dampak, serta penyaluran dukungan bagi mahasiswa dan alumni UGM yang terdampak bencana. Rektor menempatkan kepedulian terhadap masyarakat sebagai bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi yang perlu terus dihidupkan melalui jejaring dan kolaborasi. “Bersama alumni, UGM sudah berkoordinasi untuk segera menjadi bagian dari gerakan solidaritas untuk membantu saudara kita yang terdampak dalam masa tanggap darurat,” ujarnya.

Upaya merespons persoalan masyarakat juga berjalan melalui pengembangan teknologi di lingkungan UGM. Sejak 2023, UGM mengoptimalkan pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian melalui UGM AI Society sebagai wadah kolaborasi lintas disiplin. Pengembangan AI Technology Center di GIK UGM kemudian memperluas ruang pemanfaatan teknologi untuk kebutuhan masyarakat, termasuk melalui AI Technology for Disaster. Teknologi tersebut telah digunakan sejak hari pertama bencana untuk membantu memetakan kebutuhan di lapangan dan terhubung dengan BNPB serta BPBD. “AI Technology for Disaster telah membantu sejak hari pertama kejadian bencana yang berfungsi untuk memetakan kebutuhan di lapangan,” jelas Rektor.

Sejalan dengan itu, Wakil Ketua Umum IV Pengurus Pusat KAGAMA Prof. Anwar Sanusi, M.Sc., Ph.D. mengingatkan para lulusan bahwa hari kelulusan menjadi awal dari perjalanan baru di dunia kerja dan pengabdian. Perubahan teknologi, kecerdasan artifisial, transisi hijau, serta dinamika demografi akan mengubah jenis pekerjaan sekaligus kompetensi yang dibutuhkan. Ia menyebut proyeksi World Economic Forum hingga 2030 memperkirakan 92 juta pekerjaan akan terdampak atau tergantikan, sementara 170 juta pekerjaan baru diproyeksikan tercipta. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa lulusan perlu terus mengembangkan kompetensi agar mampu mengambil peluang dalam pasar kerja yang semakin terbuka. “Tantangannya adalah apakah kita memiliki kompetensi untuk mengisi peluang tersebut dan apakah kita bisa memenangkan persaingan dalam pasar kerja yang terbuka dan kompetitif,” jelasnya.

Anwar kemudian mengajak lulusan menjadikan proses belajar sebagai kebiasaan yang terus berlangsung setelah memperoleh ijazah. Ia melihat bonus demografi Indonesia dapat menjadi kekuatan pembangunan apabila diiringi sumber daya manusia yang kompeten, adaptif, produktif, dan berkarakter. Pengetahuan yang diperoleh di perguruan tinggi perlu dibawa ke berbagai ruang pengabdian, baik di industri, pemerintahan, pendidikan, penelitian, maupun kewirausahaan. Di setiap bidang, integritas dan nilai yang menjadi bekal selama berada di UGM perlu tetap dijaga. “Jadilah pembelajar sepanjang hayat, adaptif terhadap perubahan tetapi teguh pada nilai dan prinsip,” tuturnya.

Bagi Faradila Azzahra Destriyanti, wakil wisudawan dari Fakultas Kedokteran Hewan, perjalanan menuju hari kelulusan juga menjadi proses untuk mengenali dan mengembangkan keberanian dalam diri. Ia mengenang masa awal kuliah ketika berbicara di depan banyak orang masih menjadi hal yang membuatnya berpikir berulang kali. Berbagai kesempatan di UGM kemudian membawanya keluar dari zona nyaman melalui kegiatan kampus, pengalaman berbicara di depan publik, serta tanggung jawab yang sebelumnya belum pernah ia bayangkan. Kegagalan dan kekurangan yang ditemui sepanjang perjalanan ia terima sebagai bagian dari proses pembentukan diri. “Saya yakin teman-teman di ruangan ini juga memiliki ceritanya masing-masing tentang hal-hal yang dulu terasa sulit, kemudian kita beranikan diri untuk mencoba,” ungkap Faradila.

Faradila juga mengajak para lulusan untuk menghargai setiap orang yang telah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan mereka. Ia menyampaikan apresiasi kepada orang tua, keluarga, dosen, tenaga kependidikan, serta seluruh pihak yang memberikan dukungan hingga para lulusan mencapai hari kelulusan. Setelah meninggalkan kampus, para lulusan akan menempuh jalan yang berbeda, baik melanjutkan pendidikan, bekerja, menjalani pendidikan profesi, maupun menentukan langkah berikutnya. Perbedaan pilihan dan waktu pencapaian tidak perlu menjadi alasan untuk membandingkan perjalanan satu sama lain. “Semoga setelah hari ini langkah kita selalu membawa kebermanfaatan, membanggakan orang-orang yang telah mendukung kita, dan membawa nama baik almamater yang kita cintai,” tutupnya.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Donnie

Artikel UGM Wisuda 3.865 Lulusan, Terbanyak Sepanjang Sejarah Kampus pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-wisuda-3-865-lulusan-terbanyak-sepanjang-sejarah-kampus/feed/ 0
Kisah Made Sarmita, Lulus S3 UGM dengan IPK 4.00 dalam Waktu 2 Tahun 10 Bulan https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-made-sarmita-lulus-s3-ugm-dengan-ipk-4-00-dalam-waktu-2-tahun-10-bulan/ https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-made-sarmita-lulus-s3-ugm-dengan-ipk-4-00-dalam-waktu-2-tahun-10-bulan/#respond Thu, 30 Jul 2026 03:34:19 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96020 Universitas Gadjah Mada mewisuda sebanyak 90 lulusan Program Doktor dari total 1.054 lulusan program pascasarjana, Rabu (22/7) lalu. Untuk program Doktor, rerata IPK periode ini adalah 3,89, dengan 28 wisudawan memiliki IPK 4,00. Salah satu dari wisudawan yang meraih IPK sempurna tersebut adalah I Made Sarmita (37), lulusan Program Studi Doktor Kependudukan, Sekolah Pascasarjana (SPs) […]

Artikel Kisah Made Sarmita, Lulus S3 UGM dengan IPK 4.00 dalam Waktu 2 Tahun 10 Bulan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada mewisuda sebanyak 90 lulusan Program Doktor dari total 1.054 lulusan program pascasarjana, Rabu (22/7) lalu. Untuk program Doktor, rerata IPK periode ini adalah 3,89, dengan 28 wisudawan memiliki IPK 4,00. Salah satu dari wisudawan yang meraih IPK sempurna tersebut adalah I Made Sarmita (37), lulusan Program Studi Doktor Kependudukan, Sekolah Pascasarjana (SPs) UGM, berhasil menyelesaikan pendidikan dengan masa studi 2 tahun 10 bulan.

Pria asal Kabupaten Badung, Bali ini mengaku dirinya tidak menyangka bisa lulus doktor dengan predikat pujian. Ia menuturkan semakin meyakini kebenaran sebuah ungkapan bahwa hasil tidak menghianati usaha yang sungguh-sungguh. Menurutnya, usaha tersebut tentu perlu diiringi oleh doa dari orang tersayang. “Teriring dengan doa dan dukungan semua pihak, baik keluarga, dosen promotor dan ko-promotor, serta kolega yang lain,” katanya, Kamis (30/7).

Perjalanan untuk menuju jenjang pendidikan doktor diakui Made tidaklah mudah. Made bercerita latar belakang pendidikannya dimulai dari sarjana Pendidikan Geografi Undiksha Bali dari tahun 2006 hingga 2010. Merantau ke Yogyakarta, ia menempuh pendidikan S2 di Kependudukan UGM pada tahun 2011 hingga 2013. Lalu dilanjutkan ke jenjang S3 di prodi yang sama dari tahun 2023 hingga 2026.

Ketertarikannya mengambil program studi Kependudukan diakuinya datang dari disiplin ilmu yang menurutnya sangat menarik dan dinamik.  Menurutnya, berbagai persoalan empiris yang ada di masyarakat tidak terlepas dari kajian kependudukan dan demografi. saya memilih S3 Kependudukan karena linier dengan S2 saya sebelumnya, dan juga masih linier dengan studi S1,” ujarnya.

Pada awal kuliah, motivasi dan komitmen Made dalam melanjutkan studi cukup diuji. Sebab, ia sempat menghadapi kegalauan kepastian beasiswa yang sedang ia perjuangkan. Namun, komitmen dan keyakinannya yang tinggi membawanya tetap menjalankan studi dan akhirnya berhasil memperoleh beasiswa.

Selama perkuliahan, Made mengaku merasa sangat terbantu oleh fasilitas yang diberikan oleh UGM. Ia mengapresiasi dosen dan tenaga kependidikan yang ada karena memberikan perkuliahan dengan mode fleksibel. Meski tugas kuliah yang diberikan terlihat berat, imbuhnya, ia mengaku hampir tidak menemukan kendala berarti selama proses kuliah. “Promotor dan ko-promotor selalu memantau, berkomunikasi secara aktif, dan selalu menanyakan progress research. Merasa dikejar-kejar, tetapi memang hasilnya untuk kebaikan saya dan juga prodi,” ungkapnya.

Made turut memberikan pesan untuk tetap percaya dengan kemampuan diri dan doa sebagai modal utama dalam menyelesaikan studi dan memperoleh IPK 4.00. Menurutnya, tidak ada sesuatu tanpa jalan keluar. Ia menekankan bahwa semua akan terasa mudah kalau dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Begitu sebaliknya, kata Made, semua akan terasa sulit kalau hanya dipikirkan saja dan tidak dikerjakan. “Kita perlu mengikuti dan menikmati proses, mengerjakan semampunya, dan menyerahkan hasil pada Yang Kuasa,” pesannya.

Ia turut berpesan kepada calon mahasiswa S3 untuk lulus dengan predikat pujian sebaiknya untuk mempersiapkan rencana riset sejak sebelum kuliah. Ketika memasuki semester pertama, sebut Made, mahasiswa perlu mendiskusikan rencana riset bersama dosen, kaprodi, atau pengampu mata kuliah. “Jika sudah setengah matang, minta kepada prodi terkait calon promotor dan ko-promotor yang keilmuannya sesuai dengan rencana riset. Dipertimbangkan juga kesibukan, gaya komunikasi, dan karakteristik lain dari calon promotor dan ko-promotor,” lengkapnya.

Lebih lanjut, Made menyarankan pada semester 2 mahasiswa bisa mengupayakan untuk ujian komprehensif dalam mendapat masukan konstruktif sedari awal. Pada semester yang sama, langkah tersebut ia sinyalir sudah memudahkan mendapat gambaran terkait publikasi sehingga ketika melakukan penelitian bisa langsung dipublikasikan. Ia menerangkan bahwa banyak rekan-rekan yang terkendala publikasi. Menurutnya, mahasiswa perlu selektif dalam memilih jurnal yang sesuai ketentuan di masing-masing program studi.

Selain itu, Made menekankan untuk terus fokus, konsisten, dan tetap menjaga motivasi dalam menggapai capaian akademik tertinggi. Ia menceritakan selama menempuh pendidikan S3 prodi Kependudukan Sekolah Pascasarjana UGM, semua mahasiswa saling berkolaborasi agar bisa lulus tepat waktu. Made menaruh harapan bagi rekan-rekan yang akan dan tengah melanjutkan studi agar selalu tetap optimis bahwa segala sesuatu itu bisa dikerjakan asal tekun dan tidak setengah hati.

Penulis : Hanifah

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Made

Artikel Kisah Made Sarmita, Lulus S3 UGM dengan IPK 4.00 dalam Waktu 2 Tahun 10 Bulan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-made-sarmita-lulus-s3-ugm-dengan-ipk-4-00-dalam-waktu-2-tahun-10-bulan/feed/ 0
Cerita Yesita, Wisudawan S3 Termuda UGM Melakukan Riset Potensi Genetik Ayam Lokal https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-yesita-wisudawan-s3-termuda-ugm-melakukan-riset-potensi-genetik-ayam-lokal/ https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-yesita-wisudawan-s3-termuda-ugm-melakukan-riset-potensi-genetik-ayam-lokal/#respond Tue, 28 Jul 2026 07:58:08 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95927 Perasaan penuh haru diungkapkan oleh Yesita Vera Saraswati setelah dinobatkan menjadi wisudawan termuda untuk Program Doktor pada wisuda pascasarjana periode IV. Ia tak menyangka perjalanannya selama 3 tahun 9 bulan 10 hari terbayarkan dengan meraih IPK 3,99. Berhasil menyelesaikan Program Studi Doktor Ilmu Peternakan dengan predikat Cumlaude di usia 27 tahun 10 bulan 8 hari. […]

Artikel Cerita Yesita, Wisudawan S3 Termuda UGM Melakukan Riset Potensi Genetik Ayam Lokal pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Perasaan penuh haru diungkapkan oleh Yesita Vera Saraswati setelah dinobatkan menjadi wisudawan termuda untuk Program Doktor pada wisuda pascasarjana periode IV. Ia tak menyangka perjalanannya selama 3 tahun 9 bulan 10 hari terbayarkan dengan meraih IPK 3,99. Berhasil menyelesaikan Program Studi Doktor Ilmu Peternakan dengan predikat Cumlaude di usia 27 tahun 10 bulan 8 hari. Ia dinobatkan sebagai lulusan termuda pada wisuda program pascasarjana UGM pada Rabu (23/7) lalu di Grha Sabha Pramana. Padahal rerata usia 90 lulusan Program Doktor termasuk satu warga negara asing, serta 19 lulusan periode sebelumnya.adalah 42 tahun 6 bulan 16 hari.

Perjalanan yang ditempuh oleh gadis asal Klaten ini untuk meraih gelar Doktor tidaklah mudah. Ia mengaku selama menyelesaikan studinya, banyak menghabiskan emosi, energi, dan tenaga sehingga perjuangan tersebut tidaklah mudah. “Rasanya luar biasa. Ada perasaan lega ketika segala sesuatu yang dulunya terasa sangat berat akhirnya terbayar setelah lulus,” ungkapnya, Selasa (28/7).

Perempuan yang akrab disapa Sita ini mengungkapkan jika selama ia melakukan penelitian disertasi yang harus dilakukan di lapangan, ia juga  meng-handle sekitar 70-80 mahasiswa S1 dan S2 yang dikelola sejak awal ia  masuk tim sampai sekarang. “Dinamikanya tidak hanya pada diri saya sendiri, tetapi bagaimana saya melakukan manajerial tim dari berbagai laboratorium, sementara di sisi lain saya juga harus tetap menyusun disertasi untuk keperluan studi pribadi saya,” terangnya.

Program doktor yang Sita jalani ini merupakan program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Sebelumnya, tidak terlintas dalam pikiran Sita untuk melanjutkan studi melalui program ini, sebab pada waktu itu masih masa pandemi. “Sebenarnya saya tidak kepikiran sebelumnya karena waktu itu masih masa Covid. Akhirnya saya melanjutkan S2 dan S3 melalui program PMDSU di Fakultas Peternakan UGM,” jelasnya.

Menuntaskan studinya dengan disertasi yang berjudul “Studi Karakteristik Eksterior dan Genetik Ayam Lokal dan Persilangannya”, fokus penelitian ini adalah mengenai pembentukan ayam lokal Galur Baru.

Dalam riset ini, Sita dan tim melihat potensi genetik dari ayam-ayam lokal di Indonesia yang saat ini ada segmen pasar tersendiri yang bisa dimanfaatkan. Karena menjadi salah satu sumber protein hewani dibandingkan dengan daging lain, sehingga kedepannya mampu membantu program pemerintah dalam menyokong kebutuhan protein hewani di Indonesia. “Jadi kami berusaha untuk melakukan perbaikan mutu genetik ayam lokal melalui persilangan dan seleksi sampai saat ini sudah mencapai generasi kelima,” jelasnya. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat dilakukan hilirisasi untuk dikomersialisasikan di masyarakat.

Sita mengaku penelitian tersebut bukanlah suatu hal yang mudah. Data penelitian yang sangat banyak serta berbagai trial and error yang terjadi merupakan kesulitan yang harus dihadapi selama masa penelitian. Ia mengungkapkan bahwa proses pengambilan datanya juga cukup panjang. Sita dan tim harus mengawinkan dan menyilangkan ayam, memeliharanya sampai umur sekitar 32 minggu, lalu mengawinkannya kembali untuk generasi selanjutnya. Proses dari telur hingga ayam dewasa ini dilakukan sampai generasi kedua untuk kebutuhan datanya. Selain itu, tantangan lainnya adalah manajerial tim dari berbagai minat lain, seperti daging, telur, susu, dan nutrisi yang turut diambil datanya. “Jadi saya bisa belajar bagaimana memanajemen waktu sekaligus orang-orang yang bergabung di dalam tim, sembari juga tetap menjalin relasi dan mencari pendanaan dan sebagainya,” ungkap Sita.

Selama menempuh studi doktor ini, Sita tak hanya menjalankan kuliah saja. Banyak penelitian dan kegiatan sosial, seperti organisasi di kampus, turut dijalankan secara bersamaan. Dari menghasilkan publikasi dan hak cipta dalam bentuk poster hingga mengikuti kegiatan kesenian seperti karawitan dilakukan oleh Sita selama ia menjadi mahasiswa pascasarjana. “Bagi saya, di samping studi, kita harus tetap menjalin relasi sosial yang baik dengan orang lain dan menyeimbangkan kesenangan agar hidup tetap seimbang,” ungkapnya.

Untuk rencana kedepan, Sita berkeinginan menjadi akademisi atau dosen. Ia mengungkapkan bahwa keinginan ini telah muncul sejak SMA. Sebab, di lingkungan kampung halamannya banyak anak kecil dan ia senang mengumpulkan dan mengajak mereka untuk belajar bersama. Dari situ lah keinginannya untuk menjadi pengajar tumbuh. Ia berharap setelah mendapat gelar doktor ini, ia dapat menjadi pribadi yang lebih baik, mampu menjaga integritas dan loyalitas saat mendaftar menjadi dosen, serta terus memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. “Bagi saya, pembelajaran tidak akan pernah putus meskipun sudah menyelesaikan jenjang S3,” pungkasnya.

Penulis : Fatihah Salwa Rasyid

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Yesita

Artikel Cerita Yesita, Wisudawan S3 Termuda UGM Melakukan Riset Potensi Genetik Ayam Lokal pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-yesita-wisudawan-s3-termuda-ugm-melakukan-riset-potensi-genetik-ayam-lokal/feed/ 0
Disiplin dan Menjaga Konsistensi, Martin Lulus S2 UGM 1 Tahun 1 Bulan  https://ugm.ac.id/id/berita/disiplin-dan-menjaga-konsistensi-martin-lulus-s2-ugm-1-tahun-1-bulan/ https://ugm.ac.id/id/berita/disiplin-dan-menjaga-konsistensi-martin-lulus-s2-ugm-1-tahun-1-bulan/#respond Mon, 27 Jul 2026 05:38:28 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95876 Martin Anggiat Tampubolon, lulusan Pascasarjana dari Program Studi Magister Manajemen (Kampus Jakarta), Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM tak pernah menyangka bahwa dirinya akan menjadi lulusan tercepat dengan masa studi 1 tahun 1 bulan 22 hari. Padahal masa studi rata-rata untuk 821 lulusan magister pada wisuda program pascasarjana, Rabu (22/7), di Grha Sabha Oranab Pramana […]

Artikel Disiplin dan Menjaga Konsistensi, Martin Lulus S2 UGM 1 Tahun 1 Bulan  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Martin Anggiat Tampubolon, lulusan Pascasarjana dari Program Studi Magister Manajemen (Kampus Jakarta), Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM tak pernah menyangka bahwa dirinya akan menjadi lulusan tercepat dengan masa studi 1 tahun 1 bulan 22 hari. Padahal masa studi rata-rata untuk 821 lulusan magister pada wisuda program pascasarjana, Rabu (22/7), di Grha Sabha Oranab Pramana adalah 2 tahun 0 bulan.

Martin mengaku jika dirinya tak pernah terbesit di dalam pikirannya akan mendapatkan predikat tersebut. Selama ini, yang ia lakukan hanya berusaha untuk disiplin terhadap studi dan menjaga konsistensi selama berkuliah. Selain itu, Martin juga turut bersyukur mendapatkan lingkungan yang suportif, mulai dari instansi tempat ia bekerja, keluarga, hingga dosen pembimbing.  “Selain itu karena memiliki tanggung jawab sebagai Pegawai yang diberikan kesempatan Tugas Belajar dari Instansi tempat saya bekerja, serta dukungan penuh dari keluarga membuat saya perlu menjalankan amanah ini dengan sebaik mungkin dan berusaha menyelesaikan masa studi dengan tepat waktu,” tutur Martin, Senin (27/7).

Selama masa studi, Martin mengungkapkan jika dirinya mengalami beberapa tantangan yang ternyata juga menjadi sesuatu yang paling berkesan baginya. Dikatakan Martin, tantangan terbesarnya saat berkuliah di MM UGM adalah menjaga konsistensi dan menyeimbangkan antara pengerjaan tesis serta immersion atau sebuah metode pembelajaran di pascasarjana yang menempatkan mahasiswa di lingkungan nyata. Dengan membuat target-target realistis setiap minggunya dan selalu terbuka dalam menerima kritik dari dosen pembimbing dan teman seperjuangan, Martin berhasil untuk menyelesaikan penelitiannya secara maksimal.

Kendati demikian, di lain sisi, tantangan yang dialami oleh Martin juga merupakan salah satu pengalaman berkesan saat berkuliah di MM UGM. Baginya, budaya akademik di UGM sangat mendukung mahasiswanya dalam  berpikir kritis, tetapi tetap rendah hati dan berkelanjutan. Lalu, diskusi di dalam kelas juga menghadirkan mahasiswa dari berbagai macam latar belakang dan profesi yang menanamkan pemikiran baru kepada Martin tentang melihat suatu permasalahan yang tidak hanya berdasar pada sudut pandangnya, tetapi orang lain. “Perbedaan perspektif tersebut membuat saya belajar melihat suatu permasalahan secara lebih luas dan tidak hanya dari sudut pandang pekerjaan saya sendiri,” lanjutnya.

Di samping itu, Martin juga memiliki lingkungan teman belajar yang sangat suportif. Teman-teman seperjuangannya di UGM Kampus Jakarta,  seringkali melakukan diskusi, kolaborasi, dan menguatkan satu sama lain sehingga perjalanan Martin selama berkuliah di Kampus Jakarta terasa lebih mudah. “Kebersamaan dengan teman-teman satu angkatan juga menjadi pengalaman yang sangat berharga. Kami saling mendukung, berdiskusi, dan menguatkan satu sama lain hingga akhirnya dapat menyelesaikan studi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Martin memaparkan tesis penelitiannya yang mengambil fokus HRO (Human Resources & Organizations) bertajuk “Pengaruh Kepemimpinan Etis terhadap Perilaku Kerja Inovatif dengan Keterikatan Kerja sebagai Pemediasi” dengan latar belakang pekerjaannya di bidang organisasi menjadi alasan utamanya memilih fokus dan topik tersebut.

 

Bagi Martin, suatu organisasi berkemampuan untuk mewujudkan sustainability di dalamnya dengan strategi yang tepat serta SDM yang mumpuni. SDM harus mampu untuk berinovasi secara terus menerus melalui Perilaku Kerja Inovatif yang dikelola oleh organisasi. Martin mengungkapkan jika perilaku tersebut sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan yang dirasakan oleh para SDM dan kemampuan untuk mendukung penciptaan iklim inovatif yang nantinya berpengaruh kepada perilaku masing-masing SDM.

Melalui beberapa tahapan, Martin mendapatkan hasil yang menunjukkan jika suatu kepemimpinan yang etis berkemampuan untuk meningkatkan perilaku kerja inovatif pegawai. Dengan demikian, seorang pemimpin yang mampu menunjukkan integritas, keadilan, dan kepedulian terhadap pegawai akan membuat pegawai terlibat lebih jauh di dalam pekerjaannya dan terdorong untuk menghasilkan inovasi. “Artinya, ketika pemimpin mampu menunjukkan integritas, keadilan, dan kepedulian terhadap pegawai, maka pegawai akan lebih terlibat dalam pekerjaannya dan terdorong untuk menghasilkan ide-ide inovatif,” paparnya.

Martin mengaku sangat ingin untuk mengimplementasikan ilmu yang didapat selama kuliah untuk mendukung kemajuan organisasi dan pengembangan SDM yang nantinya akan berdampak kepada kepuasan masyarakat. Ia berharap penelitiannya tidak hanya menjadi bagian akademiknya, tetapi juga referensi dalam pembuatan suatu kebijakan. “Saya juga berharap hasil penelitian yang saya lakukan tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat menjadi salah satu referensi dalam merancang kebijakan maupun program pengembangan kepemimpinan dan peningkatan keterikatan pegawai di sektor publik,” kata Martin.

Menutup pemaparannya, Martin menuturkan jika hal yang berharga bukan hanya ilmu, tetapi juga cara berpikir yang mengajarkannya untuk melihat hal secara komprehensif, mengambil keputusan berdasarkan data, dan menghubungkan teorinya dengan dunia nyata. Kemampuan berpikir kritis yang ia asah semasa studi dan berkolaborasi dengan banyak pihak merupakan dua hal yang sangat ia rasakan manfaatnya selama berkuliah di UGM. “Bagi saya, menyelesaikan studi tercepat bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting adalah memastikan setiap proses pembelajaran benar-benar membentuk cara berpikir, karakter, dan kemampuan untuk memberikan manfaat yang lebih besar bagi organisasi dan masyarakat. Gelar adalah akhir dari sebuah perjalanan akademik, tetapi awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk terus berkarya,” pungkasnya.

Penulis : Zabrina Kumara

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Martin

Artikel Disiplin dan Menjaga Konsistensi, Martin Lulus S2 UGM 1 Tahun 1 Bulan  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/disiplin-dan-menjaga-konsistensi-martin-lulus-s2-ugm-1-tahun-1-bulan/feed/ 0
Cerita Rieska Indah Astuti Jadi Wisudawan S2 Terbaik FEB UGM  https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-rieska-indah-astuti-jadi-wisudawan-s2-terbaik-feb-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-rieska-indah-astuti-jadi-wisudawan-s2-terbaik-feb-ugm/#respond Thu, 23 Jul 2026 03:04:31 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95780 Lulusan Program Studi Magister Sains Ilmu Ekonomi (MSIE), Rieska Indah Astuti, dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM pada Wisuda Program Pascasarjana UGM Periode IV, Rabu ( 22/7). Ia merupakan salah satu dari 24 lulusan program Magister (S2) periode ini memiliki IPK tertinggi 4,00 sekaligus berpredikat pujian. Selain raih IPK tertinggi, ia […]

Artikel Cerita Rieska Indah Astuti Jadi Wisudawan S2 Terbaik FEB UGM  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Lulusan Program Studi Magister Sains Ilmu Ekonomi (MSIE), Rieska Indah Astuti, dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM pada Wisuda Program Pascasarjana UGM Periode IV, Rabu ( 22/7). Ia merupakan salah satu dari 24 lulusan program Magister (S2) periode ini memiliki IPK tertinggi 4,00 sekaligus berpredikat pujian. Selain raih IPK tertinggi, ia juga berhasil menyelesaikan studi selama 1 tahun 9 bulan 27 hari.

Lulus dengan prestasi IPK tertinggi ini menurut Rieska sebagai hasil dari buah dari keberaniannya keluar dari zona nyaman setelah bertahun-tahun berkarier, sekaligus bukti bahwa usia dan padatnya tanggung jawab bukanlah penghalang untuk terus belajar. Sebelum melanjutkan studi magister, Rieska telah 13 tahun berkarier di BI dan terlibat dalam berbagai proses analisis serta perumusan kebijakan. Menariknya, latar belakang sarjananya bukan berasal dari bidang ekonomi, melainkan matematika, sebuah jarak yang membentuk cara memandang ilmu ekonomi hingga hari ini.

“Saya sudah memiliki pengalaman kerja 13 tahun, tapi saya sadar itu tidak cukup. Saya butuh fondasi akademik yang kuat supaya keputusan yang saya ambil tidak hanya berdasarkan pengalaman, tapi juga teori, metodologi, dan bukti empiris,” ujarnya, Kamis (23/7).

Keputusan untuk melanjutkan studi tidak datang tanpa pertimbangan yang panjang. Rieska sempat merasa dilema antara melanjutkan pendidikan di luar negeri dan di dalam negeri. Ia pernah diterima di Nanyang Technological University (NTU) dan sudah sampai tahap wawancara akhir di National University of Singapore (NUS), dua kampus dengan reputasi kuat di Asia.

Namun, Rieska akhirnya memantapkan pilihan pada FEB UGM, bukan karena keterbatasan pilihan, melainkan karena ia menilai lingkungan pendidikannya paling sesuai dengan apa yang sebenarnya ia butuhkan, yaitu keseimbangan antara ruang untuk memadukan pengalaman kerja dengan fondasi akademik yang kokoh serta keluarga yang senantiasa menjadi prioritas.“Saya ingin perjalanan baru saya bisa menjembatani pengalaman dengan ilmu pengetahuan, sehingga saya nggak cuma mampu menjawab apa yang terjadi, tapi juga mengapa itu terjadi dan bagaimana seharusnya kita bereaksi,” jelasnya.

Ketertarikan Rieska pada topik tesisnya bahkan telah muncul sebelum ia resmi memulai studi magister. Ia mengkaji peran bank BUMN dalam menjaga penyaluran kredit kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) selama periode tekanan ekonomi di Indonesia.

Penelitian ini menyoroti peran instrumen Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dalam membantu bank BUMN mempertahankan fungsinya di tengah krisis. Topik ini lahir dari pengamatannya selama krisis COVID-19 ketika UMKM sebagai tulang punggung perekonomian negara justru menjadi sektor yang paling terdampak akibat tekanan ekonomi.

“UMKM ini kan tulang punggung ekonomi Indonesia, tapi kita lihat kemarin saat terjadi tekanan, UMKM ini yang paling severe, yang paling parah jatuhnya. Salah satunya karena saat krisis, bank-bank cenderung mengerem; mereka sangat berhati-hati dalam memberikan pembiayaan kepada UMKM untuk membatasi risiko, padahal UMKM sangat membutuhkan pembiayaan,” ungkapnya.

Rieska menjelaskan bahwa bank BUMN memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan bank swasta maupun bank asing, yaitu adanya mandat sosial atau mandat pembangunan di samping motif mencari keuntungan semata. Mandat ini mencakup keberpihakan terhadap kelompok rentan, seperti UMKM. “Saya mau melihat, di tengah krisis, apakah bank BUMN ini benar-benar bisa menjalankan mandat sosialnya, tapi di sisi lain juga tetap bisa menjaga prudensialitasnya. Karena kalau lagi krisis, tetap menyalurkan pembiayaan ke sektor yang rentan seperti UMKM tentu ada risikonya, salah satunya kredit macet,” jelasnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bank BUMN tetap menjalankan mandat sosialnya dengan menjaga penyaluran kredit UMKM selama masa krisis COVID-19. Kondisi ini berbeda dengan bank swasta yang cenderung menahan penyaluran kredit pada periode yang sama.

Temuan lain dari penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan CKPN turut memengaruhi kepercayaan diri bank dalam menyalurkan kredit selama krisis. Bank yang memiliki cadangan memadai cenderung lebih percaya diri dalam menyalurkan kredit saat ekonomi tertekan.

Namun demikian, pengaruh CKPN ini tidak seragam pada semua bank tergantung pada kekuatan modal, likuiditas, kapasitas pendanaan dan tingkat risiko kredit masing-masing, sebuah temuan yang menurut Rieska penting untuk diingat oleh perumus kebijakan agar tidak menyamaratakan pendekatan bagi semua bank.

Dalam proses penyusunan tesis, Rieska dibimbing oleh Eny Sulistiyaningrum, S.E., M.A., Ph.D. Ia sempat menganggap proses penulisan tesis akan menjadi hal yang relatif mudah baginya, mengingat pengalamannya yang sudah terbiasa melakukan riset selama bekerja di BI. Namun, anggapan itu berubah seiring proses bimbingan yang ia jalani.

“Peran dosen pembimbing ini mengajarkan hal yang sangat berharga bagi saya. Melakukan penelitian ini bukan untuk mempertahankan pendapat pribadi. Saya belajar bahwa saya perlu memiliki kerendahan hati untuk terus memperbaiki argumen berdasarkan data dan masukan,” ungkapnya.

Selama menempuh studi di FEB UGM, Rieska mengaku menemukan tiga hal yang menurutnya sulit didapatkan di tempat lain, yaitu keluarga, keseimbangan, dan kebahagiaan. Lingkungan yang suportif dari dosen, staf akademik, dan sahabat seperjuangan menjadi salah satu alasan ia tidak menyesali pilihannya untuk berkuliah di FEB UGM.

“Dosennya inspiratif dan terbuka untuk diskusi, staf akademik responsif dan membantu dengan tulus, serta sahabat-sahabat seperjuangan saling mendukung meski usia kami jauh berbeda. Saya sama sekali tidak merasa ada jarak dengan mereka,” ujarnya.

Di tengah tuntutan menjalankan tiga peran sekaligus, ada satu prinsip yang terus Rieska pegang setiap kali merasa ragu, terutama saat harus belajar bersama teman-teman baru yang usianya jauh lebih muda dan proses berpikirnya lebih segar.
“Dream big, learn forever, and grow beyond limits. Kita harus berani bermimpi lebih tinggi, terus belajar sepanjang hayat, dan tumbuh melebihi batas yang kita kira ada pada diri kita,” ujarnya.

Prinsip itulah yang menurutnya menjawab keraguan di awal perjalanan bahwa kembali belajar setelah bertahun-tahun berkarier merupakan bentuk lain dari keberanian untuk terus bertumbuh.

Reportase : Dwi Zhafirah Meiliani dan Kurnia Ekaptiningrum/Humas FEB

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Humas FEB

Artikel Cerita Rieska Indah Astuti Jadi Wisudawan S2 Terbaik FEB UGM  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-rieska-indah-astuti-jadi-wisudawan-s2-terbaik-feb-ugm/feed/ 0