Kumpulan Artikel Penelitian dan Inovasi - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/category/penelitian-dan-inovasi/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Sat, 29 Aug 2026 03:30:33 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 Peneliti UGM Ungkap Potensi Kolagen Kulit Kambing dan Domba untuk Antioksidan dan Penurun Tensi  https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-ungkap-potensi-kolagen-kulit-kambing-dan-domba-untuk-antioksidan-dan-penurun-tensi/ https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-ungkap-potensi-kolagen-kulit-kambing-dan-domba-untuk-antioksidan-dan-penurun-tensi/#respond Sat, 29 Aug 2026 03:26:26 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97073 Kulit kambing dan domba sering digunakan sebagai bahan baku bagi industri penyamakan kulit untuk diolah menjadi kulit tersamak (leather) yang diolah menjadi produk kerajinan kulit dari produk sandang, aksesoris fashion hingga furniture. Namun di tangan Dosen Peternakan UGM, kolagen yang terkandung dalam kulit tersebut mampu diolah menjadi bahan Oligopeptida yang mempunyai kemampuan sebagai agen antihipertensi […]

Artikel Peneliti UGM Ungkap Potensi Kolagen Kulit Kambing dan Domba untuk Antioksidan dan Penurun Tensi  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kulit kambing dan domba sering digunakan sebagai bahan baku bagi industri penyamakan kulit untuk diolah menjadi kulit tersamak (leather) yang diolah menjadi produk kerajinan kulit dari produk sandang, aksesoris fashion hingga furniture. Namun di tangan Dosen Peternakan UGM, kolagen yang terkandung dalam kulit tersebut mampu diolah menjadi bahan Oligopeptida yang mempunyai kemampuan sebagai agen antihipertensi dan antioksidan. “Kolagen yang diisolasi dari Kulit kambing dan domba dapat menghasilkan Oligopeptida yang mempunyai kemampuan sebagai agen antihipertensi dan antioksidan,” kata Guru Besar Fakultas Peternakan UGM bidang teknologi hasil ternak Prof. Yuny Erwanto, Sabtu (29/8).

Alsan Yuny memilih sumber kolagen dari kulit domba dan kambing dikarenakan sumber bahan tersebut populer di masyarakat karena sebagai sumber daging yang banyak dikonsumsi. Sementara pengolahan kulit kambing dan domba selama ini lebih banyak digunakan sebagai bahan baku penyamakan. “Potensi hasil ikutan berapa kulit sebagai kolagen akan memberikan nilai tambah bagi usaha pemotongan kambing dan domba,” jelasnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, untuk mendapatkan senyawa oligopeptida dari kolagen kulit kambing dan domba ini diisolasi dengan berbagai metode kemudian dilakukan proses hidrolisis dengan enzim pencernaan manusia. Selanjutnya, hasil pemotongan oligopeptida menjadi rantai pendek inilah yang kemudian mampu menghambat kerja Angiotensin Converting Enzyme yaitu Enzim yang merubah angiotensin 1 menjadi angiotensin 2 yang memicu tekanan darah tinggi. “Apabila kerja enzim ini dihambat dengan Oligopeptida maka bersamaan akan menurunkan tekanan darah,” paparnya.

Menurutnya, potensi pemurnian kolagen menjadi Oligopeptida punya peluang besar sebagai terapi gangguan tekanan darah tinggi melalui mekanisme biologis karena merupakan bahan natural yang tidak memberikan efek samping sebagaimana obat kimia selama ini.

Atas hasil penelitiannya ini, Yuny diundang oleh Jining medical University, Jining, Shandong Province, China sebagai Pembicara Utama dalam acara The 2026 International Symposium on Functional Foods and Health Promotion 25-26 Agustus 2026. Selain Yuny, Guru Besar Farmasi UGM, Prof Abdul Rohman menyampaikan presentasi terkait dengan pengembangan metode analisis untuk autentifikasi pangan.

Dekan School of Public Health Jining Medical University Prof. Leen Li menyambut baik dan mengapresiasi materi yang disampaikan oleh dua pakar UGM tersebut. Dekan Leen Li menegaskan Pemerintah Provinsi Shandong memberikan dukungan penuh untuk pengembangan pangan functional masa depan yang sangat dinantikan untuk mendukung gaya hidup sehat. Usai pelaksanaan Symposium dilanjutkan diskusi dan permintaan dukungan pada pakar UGM terkait rencana pembentukan laboratorium deteksi halal yang ingin dibangun oleh Kampus tersebut.

Seperti diketahui, Provinsi Shandong merupakan daerah pertanian di China yang menghasilkan banyak produk yang di ekspor ke Banyak Negara. Dukungan lembaga halal akan sangat bermanfaat agar market share produk produk pertanian dan peternakan mereka semakin meluas. Perintisan kerjasama ini telah diinisiasi Prof Yuny Erwanto sejak setahun lalu bersama dengan Mitra dari Korea dalam penelitian dan publikasi bersama.

Penulis : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Peneliti dan shutterstock

Artikel Peneliti UGM Ungkap Potensi Kolagen Kulit Kambing dan Domba untuk Antioksidan dan Penurun Tensi  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-ungkap-potensi-kolagen-kulit-kambing-dan-domba-untuk-antioksidan-dan-penurun-tensi/feed/ 0
Dukung Eliminasi TB, Dosen UGM Hadirkan Rumah Skrining dan Layanan Radiografi Keliling https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-eliminasi-tb-dosen-ugm-hadirkan-rumah-skrining-dan-layanan-radiografi-keliling/ https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-eliminasi-tb-dosen-ugm-hadirkan-rumah-skrining-dan-layanan-radiografi-keliling/#respond Sat, 29 Aug 2026 02:22:23 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97061 Hasil riset tim peneliti Universitas Gadjah Mada dalam pengembangan alat radiografi sinar-X digital mulai diterapkan untuk layanan pemeriksaan radiologi kesehatan berbasis masyarakat. Riset bertajuk Alat Radiografi Sinar-X Digital Keliling untuk Layanan Skrining Tuberculosis dan Medical Check Up tersebut merupakan bagian dari Program Riset Sinergi 2025–2026 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Hasil riset kemudian […]

Artikel Dukung Eliminasi TB, Dosen UGM Hadirkan Rumah Skrining dan Layanan Radiografi Keliling pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Hasil riset tim peneliti Universitas Gadjah Mada dalam pengembangan alat radiografi sinar-X digital mulai diterapkan untuk layanan pemeriksaan radiologi kesehatan berbasis masyarakat. Riset bertajuk Alat Radiografi Sinar-X Digital Keliling untuk Layanan Skrining Tuberculosis dan Medical Check Up tersebut merupakan bagian dari Program Riset Sinergi 2025–2026 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Hasil riset kemudian dikembangkan melalui Rumah Skrining yang mengintegrasikan teknologi radiografi digital dengan sistem pengelolaan layanan kesehatan. Layanan tersebut mulai dioperasikan pada 27–28 Agustus 2026 di lingkungan CV Prestige Furniture, Yogyakarta.

Riset tersebut dipimpin Prof. Drs. Gede Bayu Suparta, M.Si., Ph.D. dari FMIPA UGM dan dikembangkan melalui sinergi dengan PT Madeena Karya Indonesia, CV Prestige Furniture, serta RSKIA Permata Bunda Yogyakarta. Rumah Skrining dirancang untuk membawa hasil pengembangan teknologi radiografi ke dalam layanan yang lebih dekat dengan masyarakat. Model ini juga diarahkan untuk memperluas akses pemeriksaan kesehatan, khususnya layanan yang membutuhkan pemeriksaan radiologi. “Rumah Skrining adalah start-up yang bertujuan untuk menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan radiologi berbasis masyarakat,” ujar Bayu, Sabtu (29/8).

Dalam pengembangannya, Rumah Skrining tidak berdiri sebagai fasilitas radiologi yang terpisah dari sistem pelayanan kesehatan. Layanan ini dipandu oleh fasilitas pelayanan kesehatan seperti klinik atau rumah sakit, sekaligus memanfaatkan perangkat radiologi yang dikelola melalui Madeena Health Care System (MHCS) atau Madeena Solution. Platform tersebut mencakup tata kelola data DICOM, PACS, teleradiologi, dan pembacaan citra radiologi dengan bantuan AI. “Kehadiran Rumah Skrining diharapkan dapat membantu Pemerintah mempercepat capaian Program Eliminasi TB 2030 dan memperluas keterjangkauan masyarakat pada layanan Cek Kesehatan plus Radiografi Sinar-x,” ujar Bayu.

Bayu menjelaskan teknologi radiografi yang digunakan memiliki fitur untuk pemeriksaan badan dan dada dengan dosis radiasi rendah. Citra yang dihasilkan kemudian dapat dianalisis dengan dukungan perangkat lunak AI, sementara proses pemeriksaan hingga pembacaan hasil disebut dapat dilakukan dalam waktu sekitar 15 menit untuk setiap pasien. Informasi mengenai status kesehatan pasien juga dapat disimpan ke dalam platform SatuSehat yang dikelola pemerintah.

Pengembangan layanan selanjutnya diarahkan agar Rumah Skrining dapat hadir di berbagai lingkungan, mulai dari perguruan tinggi, kawasan industri, pesantren, sekolah, rumah sakit pratama, hingga puskesmas. Bayu berujar perluasan titik layanan diharapkan dapat membuka peluang keterlibatan masyarakat dalam pengembangan fasilitas skrining kesehatan. Di sisi lain, teknologi radiografi juga terus berkembang dengan perangkat yang semakin ringan, hemat energi, dan dapat menggunakan baterai isi ulang. “Teknologi pesawat sinar-x cenderung semakin maju, canggih, aman, ringan, hemat energi, dan rechargeable,” ungkapnya.

Direktur Operasional Rumah Skrining Annisa Fitriana, S.Ant., menjelaskan bahwa pengelolaan layanan dilakukan dengan memanfaatkan ekosistem teknologi yang telah disiapkan untuk mendukung pemeriksaan radiologi. Rumah Skrining dapat mengelola perangkat radiologi produk PT Madeena Karya Indonesia maupun alat radiologi impor yang telah terpasang di rumah sakit di Indonesia. Sistem tersebut memungkinkan proses tata kelola data dan layanan radiologi terhubung dalam satu platform. “MHCS juga disebut Madeena Solution, telah dilengkapi sistem tata kelola data DICOM, PACS, Teleradiologi, dan pembacaan citra radiologi menggunakan bantuan Kecerdasan Buatan AI,” jelas Annisa.

Implementasi perdana dilakukan di lingkungan CV Prestige Furniture yang merupakan mitra produksi alat radiografi DDR Madeena. Pimpinan CV Prestige Furniture Wahyudi Ganda Wijaya menyampaikan komitmen perusahaan untuk memeriksa dan menjaga kesehatan 40 karyawannya melalui fasilitas Rumah Skrining. Kehadiran fasilitas tersebut juga diharapkan dapat dimanfaatkan oleh keluarga karyawan dan masyarakat di sekitar pabrik. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan layanan radiografi di lingkungan yang sebelumnya dinilai masih sulit memperoleh akses layanan formal yang terjangkau.

Layanan perdana Rumah Skrining berlangsung selama dua hari dengan pemeriksaan berupa radiografi thorax. Pada Kamis (27/8), sebanyak 35 orang mengikuti pemeriksaan, sedangkan pada Jumat (28/8) tercatat 42 peserta. Pelaksanaan tersebut menjadi tahap awal penerapan model layanan radiologi berbasis masyarakat yang dikembangkan melalui kolaborasi perguruan tinggi, industri, dan fasilitas pelayanan kesehatan. Hasil penerapan awal ini sekaligus menjadi pengalaman lapangan dalam pengembangan layanan Rumah Skrining berikutnya.

Selain layanan berbasis lokasi, pengembangan Rumah Skrining diarahkan pada penggunaan radiografi keliling yang ditempatkan di atas truk niaga ringan. Kendaraan tersebut dirancang untuk menjangkau lingkungan permukiman yang sempit maupun wilayah dengan medan yang lebih berat, sehingga pemeriksaan tidak harus selalu dilakukan di fasilitas kesehatan. Konsep ini menggabungkan layanan radiografi keliling dengan teleradiologi dan pembacaan AI melalui platform Madeena Health Care System untuk mendukung program Active Case Finding TBC bersama fasyankes tingkat pratama maupun puskesmas. Pendekatan tersebut dirangkum melalui konsep “Serve at everywhere, Read from Anywhere”.

Bayu berharap pengembangan teknologi tersebut dapat didukung oleh terbentuknya ekosistem radiografi sinar-X digital yang melibatkan pemerintah, fasilitas kesehatan, industri, perguruan tinggi, dan masyarakat. Ia juga mendorong adanya regulasi yang mampu memberikan ruang bagi pemanfaatan teknologi radiografi untuk kebutuhan pelayanan kesehatan. Baginya perluasan akses terhadap informasi kesehatan merupakan bagian penting dalam membangun masyarakat yang sehat sekaligus mendukung kekuatan ekonomi dan industri nasional.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Dokumentasi Peneliti

Artikel Dukung Eliminasi TB, Dosen UGM Hadirkan Rumah Skrining dan Layanan Radiografi Keliling pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-eliminasi-tb-dosen-ugm-hadirkan-rumah-skrining-dan-layanan-radiografi-keliling/feed/ 0
Gagas Pertanian Urban Hemat Energi, Tim Mahasiswa UGM Manfaatkan Surya dan Kelembapan Udara https://ugm.ac.id/id/berita/gagas-pertanian-urban-hemat-energi-tim-mahasiswa-ugm-manfaatkan-surya-dan-kelembapan-udara/ https://ugm.ac.id/id/berita/gagas-pertanian-urban-hemat-energi-tim-mahasiswa-ugm-manfaatkan-surya-dan-kelembapan-udara/#respond Fri, 28 Aug 2026 08:31:11 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97045 Praktik bercocok tanam di kawasan kota besar dengan memanfaatkan lahan yang terbatas menjadi tantangan tersendiri dalam menjalan konsep pertanian urban. Di tengah menjamurnya gedung bertingkat dan pencakar langit menyebabkan pertanian urban ini membutuhkan pasokan air dan listrik yang tidak sedikit. Lima mahasiswa UGM menawarkan gagasan inovasi yang mereka namakan Aurora yang merupakan kependekan dari Autonomous […]

Artikel Gagas Pertanian Urban Hemat Energi, Tim Mahasiswa UGM Manfaatkan Surya dan Kelembapan Udara pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Praktik bercocok tanam di kawasan kota besar dengan memanfaatkan lahan yang terbatas menjadi tantangan tersendiri dalam menjalan konsep pertanian urban. Di tengah menjamurnya gedung bertingkat dan pencakar langit menyebabkan pertanian urban ini membutuhkan pasokan air dan listrik yang tidak sedikit.

Lima mahasiswa UGM menawarkan gagasan inovasi yang mereka namakan Aurora yang merupakan kependekan dari Autonomous Utility for Renewable Resources, sebuah alat atau sistem yang terintegrasi dengan panel surya dan alat kondensasi air untuk menghadirkan sistem pertanian vertikal yang lebih mandiri, efisien, dan terintegrasi.

Inovasi tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas disiplin mahasiswa UGM yang terbentuk dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Video Gagasan Konstruktif (PKM-VKG). Tim tersebut terdiri dari Orva Linnisa Husaina (S1 Teknik Fisika) sebagai ketua tim bersama keempat rekan lintas jurusannya, yakni Rayhana Azzahra Kusmana (S1 Farmasi), Arfa Fadilah Ramadhan (S1 Teknik Kimia), Nayaka Sandya Kesuma (D4 Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan kontrol), dan Faqih Zulfikar Alkaha (S1 Teknik Elektro) yang dibimbing oleh Budi Sumanto, S.Si, M.Eng, dosen Teknik Elektro dan Informatika, SV, UGM.

Orva mengatakan ide besar di balik pengembangan Aurora bermula dari keprihatinan mendalam mereka atas persoalan yang kerap ditemui dalam sektor pertanian modern saat ini. Menurutnya, pertanian urban masih bergantung pada pasokan air dan listrik dari luar, sementara itu pengelolaan kondisi tanaman, seperti mengukur kadar pH, nutrisi, suhu, kualitas air, hingga kondisi tanaman, juga banyak dilakukan secara manual.

Lebih jauh ia menjelaskan mekanisme kerja dari gagasan inovasi Aurora dengan penyediaan energi terbarukan melalui panel surya bifacial berdaya guna tinggi, produksi air mandiri lewat Atmospheric Water Generator (AWG) berbasis kondensasi, hingga pemanfaatan struktur bangunan melalui konsep green passive building guna mengoptimalkan ruang di tengah menjamurnya gedung-gedung pencakar langit. “Distribusi energi dan irigasi dikelola secara real-time berbasis AI-IoT, lengkap dengan kontrol otomatis untuk kapasitas, nutrisi, pH, suhu air, hingga kesehatan tanaman,” jelas Orva, Jumat (28/8).

Rayhana, anggota tim lainnya, menuturkan bahwa inovasi ini dikemas dan disampaikan melalui sebuah Video Gagasan Konstruktif. Format visual ini dipilih agar konsep gagasan dapat divisualisasikan dengan lebih mudah dan menarik bagi masyarakat luas maupun dewan juri. Dalam video tersebut, pihaknya memadukan teknik sinematografi dan storytelling yang kuat, serta didukung oleh visualisasi animasi 3D dan tracking augmented reality (AR) game user interface (UI). “Melalui perpaduan ini, penonton bisa melihat cara kerja Aurora secara visual,” ujar Rayhana.

Rayhan pun berharap inovasi Aurora ini tidak berhenti sekadar sebagai sebuah gagasan kompetisi, melainkan menjadi pemantik semangat bagi generasi muda untuk terus menghadirkan solusi nyata bagi permasalahan bangsa. “Ketahanan pangan, air, dan energi Indonesia kelak berada di tangan inovasi-inovasi yang inklusif dan berkelanjutan.” pungkasnya.

Penulis : Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Tim PKM

Artikel Gagas Pertanian Urban Hemat Energi, Tim Mahasiswa UGM Manfaatkan Surya dan Kelembapan Udara pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/gagas-pertanian-urban-hemat-energi-tim-mahasiswa-ugm-manfaatkan-surya-dan-kelembapan-udara/feed/ 0
Bantu Petani, Mahasiswa UGM Kembangkan Inovasi Deteksi Cepat Penyakit Cabai https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-petani-mahasiswa-ugm-kembangkan-inovasi-deteksi-cepat-penyakit-cabai/ https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-petani-mahasiswa-ugm-kembangkan-inovasi-deteksi-cepat-penyakit-cabai/#respond Fri, 28 Aug 2026 04:38:24 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97027 Permasalahan gagal panen para petani cabai kerap disebabkan oleh virus yang menyerang tanaman saat dewasa. Virus kuning atau Pepper Yellow Leaf Curl Indonesian Virus (PYLCIV) merupakan virus yang menyerang tanaman cabai dan meninggalkan ciri-ciri mencolok berupa daun berwarna kekuningan. Penanganan yang dilakukan sering kali terlambat karena gejala muncul saat tanaman cabai akan dipanen. Berangkat dari […]

Artikel Bantu Petani, Mahasiswa UGM Kembangkan Inovasi Deteksi Cepat Penyakit Cabai pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Permasalahan gagal panen para petani cabai kerap disebabkan oleh virus yang menyerang tanaman saat dewasa. Virus kuning atau Pepper Yellow Leaf Curl Indonesian Virus (PYLCIV) merupakan virus yang menyerang tanaman cabai dan meninggalkan ciri-ciri mencolok berupa daun berwarna kekuningan. Penanganan yang dilakukan sering kali terlambat karena gejala muncul saat tanaman cabai akan dipanen.

Berangkat dari hal tersebut, lima mahasiswa UGM yang tergabung dalam Tim SPECTRA dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) mengembangkan inovasi deteksi dini pada tanaman cabai sebagai langkah awal untuk mengetahui status penyakit menggunakan sensor multispektral dan analisis machine learning. Kelima mahasiswa yang berasal dari berbagai jurusan tersebut yaitu Hasan Rabbani (S1 Fisika) sebagai ketua tim, beserta empat anggota lainnya, yaitu Nur Johan Pratama (S1 Proteksi Tanaman), Priamitra Aditiya Satriamukti (S1 Proteksi Tanaman), Saktian Hutama (S1 Biologi), dan Zaskia Fakhira Priatna (S1 Biologi), dengan Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si., dosen sekaligus dekan FMIPA UGM sebagai pembimbing.

Di tahap awal penelitian ini adalah dengan menumbuhkan 30 buah tanaman cabai sebagai sampel di wilayah Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta. Lokasi ini dipilih karena letaknya berada di kaki Gunung Merapi, sehingga sangat cocok untuk pertumbuhan tanaman. “Cabai harus ditanam di lingkungan dengan suhu harian yang normal, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, agar menghasilkan daun sehat dan dapat dianalisis sebagai sampel. Hal ini bertujuan agar hasil penelitian akurat,” ujar Priamitra, selaku anggota tim dalam rilis yang dikirimkan Jumat (28/8).

Sebanyak setengah dari total tanaman tersebut ditumbuhkan secara sehat di dalam kandang dengan perawatan rutin seperti penyiraman dan pemberian pupuk. Sedangkan sisanya akan dijadikan sampel yang akan diuji ke dalam tiga tahapan pokok. Selanjutnya, tim melakukan pemeliharaan kutu kebul di dalam kandang, dilanjutkan dengan penularan dengan virus kuning yang dibawa oleh kutu kebul. Kemudian, setelah kedua tahapan itu selesai, tahap terakhir adalah analisis menggunakan sensor multispektral dan machine learning.

Hasil sementara penelitian ini menunjukkan bahwa kutu kebul membawa virus kuning dan dapat menularkan tanaman cabai sehat. Selanjutnya daun dari masing-masing tanaman cabai, baik yang tertular virus maupun tidak, selanjutnya diuji menggunakan polymerase chain reactions (PCR) untuk mengetahui status penyakit secara valid. Setelah dipastikan, langkah berikutnya adalah pengambilan data dari daun tanaman cabai menggunakan sensor multispektral dan dilanjutkan dengan machine learning.

Cara kerja sensor ini sebenarnya cukup mudah, yaitu dengan menjepit daun menggunakan alat multispektral selama lima detik hingga keluar grafik pembacaan. Karakteristik cahaya yang dipantulkan oleh daun dapat digunakan untuk membedakan kondisi tanaman cabai yang sehat (tidak tertular virus kuning) atau sakit (tertular virus kuning). “Model yang dikembangkan juga mampu mencapai tingkat ketepatan hampir 80% untuk membedakan dua kondisi tersebut,” katanya.

Hasan selaku ketua tim menyebutkan bahwa penelitian ini penting dilakukan mengingat cara deteksi penyakit pada tanaman cabai, khususnya virus kuning, masih dilakukan secara sederhana dengan melihat langsung kondisi daun. Sekalipun bisa dilakukan analisis PCR, tidak dapat dipungkiri bahwa biaya yang dikeluarkan relatif besar dan perlu kemampuan khusus untuk mengoperasikannya. Terlebih, para petani memerlukan terobosan yang efisien, fleksibel, dan tentunya terjangkau. “Tujuan dari penelitian selama empat bulan ini sebenarnya untuk mengetahui sejauh mana sensor multispektral mampu mendeteksi tanaman cabai yang terserang virus kuning. Uji PCR dilakukan untuk memvalidasi bahwa sensor multispektral yang digunakan bekerja dengan baik,” pungkasnya.

Luaran penelitian ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara sensor multispektral dan machine learning berpotensi menjadi cara baru untuk mendeteksi serangan virus pada tanaman cabai secara lebih cepat tanpa merusak tanaman. Hasan dan tim pun berharap agar ke depannya inovasi ini dapat berkembang lebih baik dan dapat dimanfaatkan oleh  seluruh lapisan masyarakat, khususnya para petani.

Penulis: Leony

Editor: Gusti Grehenson

Foto: Dok. PKM

Artikel Bantu Petani, Mahasiswa UGM Kembangkan Inovasi Deteksi Cepat Penyakit Cabai pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-petani-mahasiswa-ugm-kembangkan-inovasi-deteksi-cepat-penyakit-cabai/feed/ 0
Telusuri Jejak Penyelam TNI AL, Dosen Sejarah UGM Raih Brevet Kehormatan https://ugm.ac.id/id/berita/telusuri-jejak-penyelam-tni-al-dosen-sejarah-ugm-raih-brevet-kehormatan/ https://ugm.ac.id/id/berita/telusuri-jejak-penyelam-tni-al-dosen-sejarah-ugm-raih-brevet-kehormatan/#respond Fri, 28 Aug 2026 04:20:12 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97021 Di era Perang Kemerdekaan, Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) lebih banyak bertempur di palagan darat. Bahkan pasca Konferensi Meja Bundar, ALRI baru dapat melanjutkan membangun kekuatan mereka di laut. Namun tidak banyak yang mengungkap peran penyelam TNI AL dalam mempertahankan kemerdekaan hingga dalam era mengisi kemerdekaan dalam kegiatan penyelaman dan penyelamatan bawah air. Sejarawan UGM […]

Artikel Telusuri Jejak Penyelam TNI AL, Dosen Sejarah UGM Raih Brevet Kehormatan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Di era Perang Kemerdekaan, Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) lebih banyak bertempur di palagan darat. Bahkan pasca Konferensi Meja Bundar, ALRI baru dapat melanjutkan membangun kekuatan mereka di laut. Namun tidak banyak yang mengungkap peran penyelam TNI AL dalam mempertahankan kemerdekaan hingga dalam era mengisi kemerdekaan dalam kegiatan penyelaman dan penyelamatan bawah air.

Sejarawan UGM Satrio Dwicahyo, M.Sc., M.A., bergabung dalam tim riset sejarah penyelam Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Laut (TNI-AL). Tim riset ini dipimpin langsung oleh Komandan Komando Penyelam dan Penyelamatan Bawah Air (Koppeba) Komando Armada Republik Indonesia, Laksamana Pertama TNI Liber Sihombing.

Bersama tim, Satrio turut berpartisipasi dalam upaya penelusuran berbagai sumber sejarah terkait penyelam TNI-AL yang tersimpan di berbagai tempat seperti Arsip Nasional Republik Indonesia di Jakarta, Perpustakaan Universitas Leiden, dan Arsip Nasional Belanda di Den Haag. Menariknya, Satrio adalah satu-satunya akademisi di dalam tim ini.

Menurut Satrio, penelitian mengenai sejarah penyelam TNI-AL memiliki tantangan tersendiri. Namun, kerja sama di dalam tim sangat konstruktif. Dikatakan Satrio, dalam praktiknya, menulis sejarah tak ubahnya pekerjaan penyelam, yakni menyelami sumber sejarah dan melakukan pengangkatan fakta-fakta untuk menciptakan narasi sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Satrio menuturkan bahwa perlu ada penyegaran perspektif dalam sejarah militer Indonesia, yaitu perspektif yang lebih luas dari sorotan atas adegan pertempuran. “Sejarah yang hanya fokus pada pertempuran relatif tidak dapat menangkap kompleksitas masa lalu, bahkan cenderung seperti film Hollywood. Pembaca sering disuguhkan narasi ketika kapal perang beraksi, tetapi tidak banyak yang tahu bahwa sejarah angkatan laut lebih luas daripada topik tersebut” ujar Satrio, Jumat (28/8).

Dalam riset sejarah kali ini, kontribusi penyelam TNI-AL dapat dijadikan format ideal satuan militer di era modern dimana kemampuan penyelaman dan penyelamatan bawah air membuat mereka selalu relevan dalam konteks perang maupun damai” imbuhnya.

Meski begitu, dinamika organisasi dan perubahan nomenklatur satuan penyelam TNI-AL dari masa ke masa membuat proses penelusuran arsip menjadi lebih kompleks dan membutuhkan verifikasi yang cermat.

Hasil riset ini dituangkan buku berjudul “Wicak Wirèng Warih: Penyelam TNI-AL dalam Arus Sejarah Selam Indonesia”, yang untuk sementara akan mengalami pengkajian lebih lanjut sebelum menjadi sebuah bacaan publik. Dikatakan Satrio, narasi konsep buku ini mencakup sejarah penyelam TNI-AL yang turut membangun eksplorasi dunia bawah air di Indonesia dengan rentang waktu sejak tahun 1950-an hingga tahun 2025. Adapun Frasa Wicak Wirèng Warih bermakna “bijaksana dan berani di air” dan merupakan motto para penyelam TNI-AL.

Atas kontribusinya, Komandan Koppeba Koarmada RI, Laksamana Pertama TNI Liber Sihombing menganugerahkan Satrio berupa brevet kehormatan penyelam TNI-AL yang juga dikenal sebagai brevet “Wicak Wirèng Warih” atau brevet “Lumba-lumba Perkasa.” Brevet ini adalah penghargaan yang amat sakral bagi penyelam TNI-AL. Brevet yang identik dengan lambang dua lumba-lumba saling berhadapan itu sejatinya hanya dapat diperoleh prajurit TNI-AL yang telah menempuh pendidikan penyelam militer selama tujuh bulan di Sekolah Selam TNI-AL Surabaya. Adapun proses penyerahannya dilakukan oleh Wakil Komandan Koppeba Koarmada RI saat itu, Kolonel Laut (T) Kuswahyudi, S.A.P.,M.Si. di Markas Koppeba Koarmada RI, Jakarta.

Mengikuti rangkaian perayaan secara daring dari Belanda, tempat ia sedang menjalani studi doktoral di Universitas Leiden, Satrio mengaku sangat terhormat menerima penghargaan tersebut. “Saya memahami betapa berharganya sebuah brevet bagi seorang prajurit. Saya menerima penghargaan ini dengan segala kerendahan hati,” kata Satrio.

Sebagai peneliti sejarah, Satrio mengaku penghargaan terbesar bagi saya adalah dapat turut menyusun literatur sejarah dengan target pembaca kalangan profesional, seperti rekan-rekan penyelam TNI-AL.

Sekedar informasi, bertepatan dengan acara tasyakuran peringatan hari jadi Penyelam TNI-AL ke-74 yang dilaksanakan pada 26 Agustus 2026 lalu, naskah buku tersebut diserahkan kepada Panglima Komando Armada Republik Indonesia, Laksamana Madya TNI Dr. Denih Hendrata, S.E., M.M.

Penulis : Salwa

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. TNI AL

Artikel Telusuri Jejak Penyelam TNI AL, Dosen Sejarah UGM Raih Brevet Kehormatan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/telusuri-jejak-penyelam-tni-al-dosen-sejarah-ugm-raih-brevet-kehormatan/feed/ 0
Inovasi Mahasiswa UGM, Sagu dan Ubi Ungu Disulap Jadi Indikator Kesegaran Daging Ayam https://ugm.ac.id/id/berita/inovasi-mahasiswa-ugm-sagu-dan-ubi-ungu-disulap-jadi-indikator-kesegaran-daging-ayam/ https://ugm.ac.id/id/berita/inovasi-mahasiswa-ugm-sagu-dan-ubi-ungu-disulap-jadi-indikator-kesegaran-daging-ayam/#respond Mon, 24 Aug 2026 05:21:36 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96906 Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengembangkan inovasi yang dinamakan SEFTIN, edible film indikator kesegaran pangan berbahan alami yang dapat mendeteksi kesegaran daging ayam melalui perubahan warna. Inovasi yang dikembangkan mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) ini memanfaatkan pati sagu dan ekstrak antosianin dari ubi ungu sebagai bahan utama. SEFTIN dikembangkan untuk membantu masyarakat memantau kesegaran […]

Artikel Inovasi Mahasiswa UGM, Sagu dan Ubi Ungu Disulap Jadi Indikator Kesegaran Daging Ayam pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengembangkan inovasi yang dinamakan SEFTIN, edible film indikator kesegaran pangan berbahan alami yang dapat mendeteksi kesegaran daging ayam melalui perubahan warna. Inovasi yang dikembangkan mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) ini memanfaatkan pati sagu dan ekstrak antosianin dari ubi ungu sebagai bahan utama. SEFTIN dikembangkan untuk membantu masyarakat memantau kesegaran daging ayam secara lebih objektif, praktis, dan mudah digunakan.

Adapun pengembangan inovasi SEFTIN ini dilatarbelakangi oleh tingginya konsumsi daging ayam ras di Indonesia. Pada tahun 2025, tercatat konsumsi daging ayam ras mencapai 13,60 kg per kapita per tahun, sementara ketersediaannya mencapai 15,29 kg per kapita per tahun. Tingginya konsumsi dan ketersediaan tersebut perlu diimbangi dengan pengawasan mutu yang baik mengingat daging ayam merupakan bahan pangan yang mudah rusak. Sebab selama ini, penilaian kesegaran daging masih kerap dilakukan secara subjektif berdasarkan pengamatan indrawi.

Di bawah bimbingan Purwanto, M.Sc., Ph.D., Apt., SEFTIN dikembangkan oleh Novita Nurul Latifa, Nabila Aurora Banuwati, Nabila Putri Herviana, dan Andinar Zahranayla Y., merupakan mahasiswa dari Fakultas Farmasi, serta Asa Nanda Fitria mahasiswa dari Fakultas Teknologi Pertanian. Inovasi tersebut memanfaatkan sifat antosianin yang peka terhadap perubahan pH untuk memberikan indikator visual terhadap perubahan kondisi kimiawi pada permukaan daging selama penyimpanan.

Ketua tim, Novita Nurul Latifa, menuturkan bahwa mekanisme kerja untuk mengetahui tingkat kesegaran daging ayam cukup sederhana, yakni dengan melihat perubahan warna pada edible film yang kemudian dicocokkan dengan stiker skala warna yang telah terintegrasi pada indikator. “Tingkat kesegaran pangan dapat dideteksi melalui perubahan warna pada edible film, kemudian warna tersebut dicocokkan dengan stiker skala warna yang sudah terintegrasi pada indikator. Jadi, pengguna bisa mengetahui kondisi kesegaran pangan secara real time hanya dengan melihat perubahan warnanya,” ujarnya pada keterangan yang dibagikan, Senin (24/8).

Pengembangan inovasi ini dilakukan secara bertahap melalui rangkaian kegiatan PKM-K. Proses tersebut diawali dengan studi literatur sebagai landasan riset, kemudian dilanjutkan dengan survei pendahuluan kepada responden dari berbagai latar belakang profesi untuk memperoleh gambaran mengenai kebutuhan pasar. “Tim selanjutnya melakukan uji formulasi secara berulang hingga memperoleh formula yang dinilai efektif, dilanjutkan dengan produksi, pengujian produk, serta pengenalan dan pemasaran kepada masyarakat,” katanya.

Untuk meningkatkan kepraktisan dan kemudahan penggunaan, SEFTIN dikembangkan dalam bentuk stiker. Stiker tersebut dapat ditempelkan pada tutup kemasan, seperti kemasan thinwall, sehingga indikator perubahan warna dapat tetap terlihat dari luar tanpa pengguna perlu membuka kemasan.

Hasil pengujian menunjukkan edible film berbasis pati sagu dengan penambahan ekstrak antosianin ubi ungu mampu menunjukkan perubahan warna secara konsisten seiring dengan menurunnya tingkat kesegaran daging ayam. Perubahan warna tersebut terjadi karena antosianin memiliki sifat yang peka terhadap perubahan pH sehingga dapat merespons secara visual perubahan kondisi kimiawi pada permukaan daging selama penyimpanan.

Novita mengatakan, pada tahap pengembangan saat ini SEFTIN masih difokuskan untuk mendeteksi tingkat kesegaran daging ayam. Namun, inovasi tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan pada berbagai jenis pangan berprotein tinggi lainnya. “Saat ini, SEFTIN baru dapat digunakan untuk mendeteksi tingkat kesegaran daging ayam, tetapi berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut ke jenis pangan berprotein tinggi lainnya,” tuturnya.

Secara keseluruhan, proses produksi SEFTIN terdiri atas tiga tahap utama. Tahap pertama berupa maserasi ubi ungu untuk memperoleh ekstrak antosianin. Tahap kedua merupakan pembuatan edible film dengan pati sagu sebagai matriks pembentuk film. Tahap terakhir adalah integrasi edible film dengan stiker untuk memudahkan penggunaan produk.

Pengembangan inovasi ini diharapkan dapat membantu mencegah konsumsi daging ayam yang sudah tidak layak melalui pemantauan kesegaran yang lebih objektif dan mudah digunakan oleh masyarakat. Mengusung slogan “See Freshness, Trust Quality”, tim berharap inovasi SEFTIN dapat terus dikembangkan menjadi produk komersial yang praktis, terjangkau, dan mudah digunakan oleh masyarakat maupun pelaku usaha pangan. “Pengembangan lebih lanjut juga diarahkan untuk meningkatkan kesiapan teknologi serta memperluas penerapan SEFTIN sebagai inovasi pemantauan kesegaran daging yang lebih objektif, berkelanjutan, dan terpercaya,” pungkasnya.

Penulis : Cyntia Noviana

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Tim PKM

Artikel Inovasi Mahasiswa UGM, Sagu dan Ubi Ungu Disulap Jadi Indikator Kesegaran Daging Ayam pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/inovasi-mahasiswa-ugm-sagu-dan-ubi-ungu-disulap-jadi-indikator-kesegaran-daging-ayam/feed/ 0
Mahasiswa UGM Ungkap Cara Warga Kauman Solo Bertahan di Tengah Arus Gentrifikasi https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-ungkap-cara-warga-kauman-solo-bertahan-di-tengah-arus-gentrifikasi/ https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-ungkap-cara-warga-kauman-solo-bertahan-di-tengah-arus-gentrifikasi/#respond Mon, 24 Aug 2026 04:33:24 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96896 Perubahan fungsi kawasan yang terjadi dari ruang usaha batik di Kampung Batik Kauman Solo menjadi ruang wisata dan hiburan (gentrifikasi), seperti kafe dan tempat swafoto dengan gaya klasik tradisional, memberikan tekanan bagi masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan dari kawasan dengan tingkat sosial dan ekonomi berpenghasilan rendah menjadi kawasan kelas atas. Lima mahasiswa UGM yang tergabung […]

Artikel Mahasiswa UGM Ungkap Cara Warga Kauman Solo Bertahan di Tengah Arus Gentrifikasi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Perubahan fungsi kawasan yang terjadi dari ruang usaha batik di Kampung Batik Kauman Solo menjadi ruang wisata dan hiburan (gentrifikasi), seperti kafe dan tempat swafoto dengan gaya klasik tradisional, memberikan tekanan bagi masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan dari kawasan dengan tingkat sosial dan ekonomi berpenghasilan rendah menjadi kawasan kelas atas.

Lima mahasiswa UGM yang tergabung dalam Tim Gentriset dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) meneliti sejauh mana respons masyarakat setempat terhadap tekanan perubahan sosial dan ekonomi tersebut.  Riset ini digagas oleh lima mahasiswa lintas disiplin, yaitu Hanel Aulia Afro (S1 Sosiologi) sebagai ketua tim, bersama Nasywa Izzati Firdaus (S1 Politik dan Pemerintahan), Elang Gading Permana (D4 Sistem Informasi Geografis), Laras Dwi Anggraeny (S1 Politik dan Pemerintahan), dan Nasywa Adinda Ibrahim (S1 Antropologi Budaya). Tim ini dibimbing oleh Odam A. Artosa, M.A., dosen Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

Hasil penelitian yang mereka temukan saat ini, masyarakat setempat memilih beradaptasi untuk bisa bertahan. Hal itu berdasarkan data yang dikumpulkan dari lapangan. “Terlihat jelas bahwa masyarakat Kauman tidak hanya diam menghadapi tekanan gentrifikasi. Mereka melakukan adaptasi usaha melalui digitalisasi pemasaran dan inovasi motif batik, tetapi ada juga yang memilih menyewakan lahan atau beralih ke usaha kuliner,” ujar Nasywa Adinda Ibrahim selaku anggota tim, Senin (24/8).

Soal strategi ekonomi yang warga setempat lakukan menghadapi perubahan tersebut dengan melakukan digitalisasi pemasaran melalui media sosial untuk membangun branding kawasan. Bahkan sebaran pelaku usaha yang mulai memasarkan diri secara daring ini dapat dipetakan melalui pergeseran jumlah retail. “Kami juga meneliti untuk melihat apakah adaptasi digital ini berkorelasi dengan ketahanan usaha di titik-titik tertentu di kawasan Kauman,” kata Elang Gading Permana, anggota tim yang lainnya.

Menurut Elang,  kehadiran paguyuban dan koperasi di Kampung Kauman ini ternyata memiliki kontribusi penting terhadap adaptasi yang dilakukan sebab warga setempat  karena berperan sebagai penguat ekosistem permodalan, menyediakan akses modal dan pelatihan peningkatan skill bagi anggota, termasuk modal bagi mereka yang memilih beralih usaha dari batik ke kuliner sehingga transisi ekonomi warga tetap terfasilitasi meski keluar dari sektor batik.

Menariknya, kata Elang,  untuk menjaga revitalisasi tidak sepenuhnya menggeser identitas lokal Kauman, paguyuban tersebut dan warga setempat melakukan kesepakatan sosial berupa pembatasan kepemilikan lahan oleh orang nonlokal.

Tidak hanya itu, masyarakat Kauman tidak hanya berusaha mempertahankan usaha batik dan identitas lokalnya, tetapi juga berusaha mempertahankan budaya dan tradisi mereka supaya tidak hilang ketika kawasan semakin menjadi tempat wisata melalui regenerasi pengrajin muda lewat komunitas Pengusaha Muda Kauman serta pengenalan kembali tradisi Pambiworo kepada generasi muda. “Masyarakat Kauman tidak hanya beradaptasi secara ekonomi, tetapi juga berupaya memastikan identitas dan budaya lokal tetap terjaga,” ungkap Laras.

Dari hasil publikasi penelitian ini, Laras berharap nantinya ada program penguatan kompetensi pemasaran pariwisata yang bersinergi antar Dinas di Pemerintah daerah dengan Kampung Batik Kauman bahkan penyelenggaraan dan event bertaraf nasional atau internasional. Dengan begitu, kampung Batik Kauman menjadi pariwisata unggulan di Solo sekaligus sebagai contoh kawasan wisata berbasis kampung.

Penulis : M. Aidil Syahputra
Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Tim PKM

Artikel Mahasiswa UGM Ungkap Cara Warga Kauman Solo Bertahan di Tengah Arus Gentrifikasi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-ungkap-cara-warga-kauman-solo-bertahan-di-tengah-arus-gentrifikasi/feed/ 0
Bantu Optimalisasi Penanganan Bencana di NTT, UGM Luncurkan Portal Teknologi AI Tech4Disaster https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-optimalisasi-penanganan-bencana-di-ntt-ugm-luncurkan-portal-teknologi-ai-tech4disaster/ https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-optimalisasi-penanganan-bencana-di-ntt-ugm-luncurkan-portal-teknologi-ai-tech4disaster/#respond Mon, 24 Aug 2026 03:58:38 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96885 Tim peneliti Universitas Gadjah Mada mengembangkan portal yang berbasis AI untuk mendukung proses penanganan pascabencana di Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui portal UGM AI Tech4disaster, menyediakan layanan pelaporan kebutuhan logistik masyarakat sekaligus memetakan lokasi yang membutuhkan bantuan. Bahkan masyarakat dapat menyampaikan informasi mengenai kondisi dan kebutuhan di wilayahnya, yang kemudian dihimpun sebagai data spasial untuk […]

Artikel Bantu Optimalisasi Penanganan Bencana di NTT, UGM Luncurkan Portal Teknologi AI Tech4Disaster pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Tim peneliti Universitas Gadjah Mada mengembangkan portal yang berbasis AI untuk mendukung proses penanganan pascabencana di Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui portal UGM AI Tech4disaster, menyediakan layanan pelaporan kebutuhan logistik masyarakat sekaligus memetakan lokasi yang membutuhkan bantuan. Bahkan masyarakat dapat menyampaikan informasi mengenai kondisi dan kebutuhan di wilayahnya, yang kemudian dihimpun sebagai data spasial untuk membantu melihat sebaran wilayah terdampak dan kebutuhan di lapangan melalui link https://geoportal.science/gik/.

Dr. Nur Mohammad Farda selaku ketua tim pengembang, mengatakan pemanfaatan portal tersebut mendapat respons dari masyarakat. Hingga 21 Agustus 2026, Farda menyebut terdapat sekitar 1.400 laporan masyarakat yang masuk melalui platform tersebut. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan laporan pada penanganan bencana di Sumatera yang disebut berada di kisaran 300 laporan. “Hampir sekitar  1.400 an laporan,” tuturnya, Senin (24/8).

Teknologi AI dimanfaatkan pada portal ini diakui Farda untuk membantu merapikan dan menganalisis laporan masyarakat. Data yang telah dihimpun kemudian dapat digunakan untuk melihat wilayah yang terdampak lebih banyak serta mengidentifikasi kebutuhan yang perlu menjadi prioritas dalam penanganan logistik.

“Kalau data sudah rapi, ketika diposting dan disimpan, itu akan mempermudah tim logistik. Kemudian, ada juga proses analisis. Dari peta-peta yang tersedia, sistem dapat menganalisis daerah mana yang terdampak paling banyak dan apa saja yang menjadi prioritas logistik. Jadi, data tersebut dapat dikelompokkan untuk membantu proses penanganan,” ungkapnya.

Meski demikian, penggunaan AI dalam sistem ini tetap dibatasi. AI digunakan untuk membantu merapikan data dan melakukan analisis, sementara data awal berasal dari masyarakat dan relawan. Tim UGM juga tetap melakukan cleaning untuk memastikan data dan lokasi yang dilaporkan sesuai. “Data yang digunakan berasal dari warga atau volunteer. Kemudian, kami melakukan cleaning terhadap data, terutama untuk memastikan lokasi-lokasi yang dilaporkan sesuai. Jadi, dari sisi risiko AI, penggunaannya dibatasi pada proses perapian data dan analisis. Untuk analisis pun, AI hanya mengambil dan merangkum informasi dari peta-peta yang tersedia,” jelas Farda.

Salah satu tantangan dalam penggunaan portal adalah ketersediaan jaringan internet. Ketika terjadi gangguan jaringan akibat bencana, proses pengiriman laporan dapat ikut terkendala. Solusi sementara, data dapat disimpan terlebih dahulu dan dikirimkan ketika perangkat kembali mendapatkan sinyal. “Bagaimanapun,  dukungan konektivitas juga dapat diberikan melalui mobile tower atau menara jaringan bergerak,” imbuhnya.

Selain menghimpun laporan masyarakat, data pemetaan yang dikumpulkan UGM juga dapat ditampilkan dalam sistem BNPB melalui map services. Menurut Farda, mekanisme tersebut memungkinkan informasi yang dihimpun UGM dapat tersinkron dengan informasi kebencanaan yang digunakan BNPB.

Pengembangan UGM AI Tech4Disaster sendiri tidak berhenti pada pemetaan laporan masyarakat. Ke depan, teknologi tersebut masih akan dikembangkan untuk berbagai kebutuhan kebencanaan, termasuk analisis citra satelit, pemetaan longsor, manajemen shelter, manajemen logistik, hingga pemanfaatan IoT dan pengembangan berbagai model AI.

Farda berharap semakin banyak riset UGM yang memanfaatkan AI sehingga UGM dapat berkembang menjadi AI Factory dan menjadi salah satu institusi terdepan dalam pengembangan AI. Dalam konteks kebencanaan, pengembangan Tech4Disaster diharapkan dapat terus diperluas untuk mendukung penanganan berbagai jenis bencana. “Kontribusi UGM melalui teknologi tersebut merupakan bagian dari semangat UGm untuk kemanusiaan,” pungkasnya.

Penulis : M. Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Antara dan Dok.Portal AI Tech4disaster

Artikel Bantu Optimalisasi Penanganan Bencana di NTT, UGM Luncurkan Portal Teknologi AI Tech4Disaster pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-optimalisasi-penanganan-bencana-di-ntt-ugm-luncurkan-portal-teknologi-ai-tech4disaster/feed/ 0
Tanpa Kartu dan Ponsel, Mahasiswa UGM Kembangkan Pembayaran Digital Lewat Sidik Jari  https://ugm.ac.id/id/berita/tanpa-kartu-dan-ponsel-mahasiswa-ugm-kembangkan-pembayaran-digital-lewat-sidik-jari/ https://ugm.ac.id/id/berita/tanpa-kartu-dan-ponsel-mahasiswa-ugm-kembangkan-pembayaran-digital-lewat-sidik-jari/#respond Sat, 15 Aug 2026 05:02:23 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96676 Mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) mengembangkan karya inovasi sistem pembayaran digital berbasis biometrik sidik jari yang memungkinkan konsumen melakukan transaksi tanpa menggunakan kartu maupun telepon genggam, melainkan dengan mengedepankan aspek keamanan, kenyamanan, dan efisiensi. Karya inovasi yang dinamakan Polpay ini,  mengintegrasikan sensor sidik jari dengan perangkat Electronic Data […]

Artikel Tanpa Kartu dan Ponsel, Mahasiswa UGM Kembangkan Pembayaran Digital Lewat Sidik Jari  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) mengembangkan karya inovasi sistem pembayaran digital berbasis biometrik sidik jari yang memungkinkan konsumen melakukan transaksi tanpa menggunakan kartu maupun telepon genggam, melainkan dengan mengedepankan aspek keamanan, kenyamanan, dan efisiensi.

Karya inovasi yang dinamakan Polpay ini,  mengintegrasikan sensor sidik jari dengan perangkat Electronic Data Capture (EDC) yang memungkinkan pengguna melakukan autentikasi biometrik secara langsung saat bertransaksi. Data biometrik selanjutnya diproses menggunakan teknologi edge computing, kemudian dienkripsi dengan algoritma Advanced Encryption Standard 256-bit (AES-256) sebelum dikirimkan ke server melalui protokol SSL/TLS untuk pemrosesan lebih lanjut.

Ketua tim Polpay, Tiara Ramadhani, menjelaskan bahwa Polpay dikembangkan sebagai alternatif sistem pembayaran biometrik yang lebih terjangkau dibandingkan teknologi biometrik lainnya yang umumnya membutuhkan infrastruktur dengan biaya tinggi. Selain menawarkan transaksi yang cepat dan aman, Polpay dirancang sejalan dengan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030 yang dicanangkan Bank Indonesia untuk mewujudkan ekosistem pembayaran digital yang modern, inklusif, dan terpercaya.

“Melalui inovasi ini, diharapkan masyarakat dapat menikmati pengalaman pembayaran yang lebih praktis dan aman, serta tidak lagi bergantung pada kartu maupun perangkat seluler,” ujar Tiara Ramadhani selaku ketua tim PKM, Sabtu (15/8).

Tiara bercerita dalam proses pengembangannya, Tim Polpay menghadapi berbagai tantangan dalam merancang dan menyempurnakan inovasi tersebut. Tim yang terdiri atas Tiara Ramadhani, Al Farabi Obiansyah, Marcelino Budi Prakasya, M. Fakhri Ghonim Setyanda, dan M. Rakhma Aifil Indira tersebut terus melakukan pengembangan untuk menghasilkan sistem pembayaran biometrik yang aman, praktis, dan terjangkau.

Bagi Farabi, tantangan utama yang mereka temukan pada saat pengembangan ide Polpay ini adalah proses untuk memastikan jika seluruh sistem yang digunakan oleh Polpay memiliki tingkat keamanan yang tinggi. “Tantangan utama dalam pembuatan Polpay adalah memastikan seluruh sistem yang ada memiliki tingkat keamanan yang tinggi,” katanya.

Lanjut Farabi, ide pengembangan inovasi ini berangkat dari persoalan bahwa Indonesia belum menerapkan pembayaran via sidik jari. Meskipun telah melalui berbagai proses, masih terdapat beberapa celah di dalam perlindungan data yang harus dikembangkan.

Berbicara mengenai pengembangan sistem, Marcelino mengatakan bahwa Tim Polpay terus menemukan berbagai hal yang dapat disempurnakan selama proses perancangan. Menurutnya, penerapan privacy-preserved architecture dan edge computing architecture menjadi bagian penting dalam memastikan keamanan serta privasi pengguna. “Pengembangan sistem ini membutuhkan riset yang mendalam dan waktu yang cukup panjang. Setiap hari, kami masih menemukan berbagai celah yang dapat diinovasikan, baik melalui pembaruan cara kerja software maupun penggunaan komponen yang lebih optimal,” ujar Marcelino

Selain aspek keamanan, Polpay juga dirancang untuk memenuhi kebutuhan pengguna akan proses pembayaran yang cepat. Untuk itu, sistem ini memanfaatkan teknologi edge computing guna mengurangi beban enkripsi pada server pusat sehingga proses transaksi dapat berlangsung lebih cepat.

Fakhri, anggota tim PKM, menjelaskan penerapan teknologi tersebut juga menjadi tantangan tersendiri bagi tim, terutama dalam menekan biaya agar Polpay tetap menjadi sistem pembayaran biometrik yang terjangkau. “Kami harus memutar otak untuk mencari solusi agar teknologi edge computing yang kami gunakan tetap dapat diterapkan dengan biaya yang terjangkau,” ujar Fakhri.

Sementara itu, Rakhma mengatakan  pengembangan Polpay saat ini telah membawa tim tersebut berhasil memperoleh pendanaan dalam PKM bidang Karsa Cipta. Ke depan, Tim Polpay akan mempersiapkan perjalanan mereka ke ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang akan diselenggarakan di Universitas Diponegoro pada November mendatang.

Sejauh ini, Polpay telah berhasil lolos pendanaan PKM bidang Karsa Cipta dan tengah mempersiapkan diri menuju PIMNAS yang diselenggarakan di Universitas Diponegoro pada November mendatang.

Penulis : Zabrina Kumara

Editor   : Gusti Grehenson

Foto     : Magnific dan Dok.Tim PKM

Artikel Tanpa Kartu dan Ponsel, Mahasiswa UGM Kembangkan Pembayaran Digital Lewat Sidik Jari  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/tanpa-kartu-dan-ponsel-mahasiswa-ugm-kembangkan-pembayaran-digital-lewat-sidik-jari/feed/ 0
Berbasis Data Geospasial, Mahasiswa UGM Petakan Potensi dan Tantangan Lingkungan Lombok Tengah https://ugm.ac.id/id/berita/berbasis-data-geospasial-mahasiswa-ugm-petakan-potensi-dan-tantangan-lingkungan-lombok-tengah/ https://ugm.ac.id/id/berita/berbasis-data-geospasial-mahasiswa-ugm-petakan-potensi-dan-tantangan-lingkungan-lombok-tengah/#respond Mon, 10 Aug 2026 04:12:21 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96448 Pertumbuhan jumlah penduduk suatu wilayah umumnya diikuti dengan meningkatnya pembangunan di suatu daerah. Namun jika tidak disertai dengan perencanaan pembangunan tata ruang dan pengelolaan lingkungan yang memadai, berpotensi mengganggu keseimbangan lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan kajian wilayah guna menghasilkan informasi atau data mengenai kondisi lokasi, letak, batas, hingga posisi koordinat sebuah daerah. Tim mahasiswa Program […]

Artikel Berbasis Data Geospasial, Mahasiswa UGM Petakan Potensi dan Tantangan Lingkungan Lombok Tengah pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pertumbuhan jumlah penduduk suatu wilayah umumnya diikuti dengan meningkatnya pembangunan di suatu daerah. Namun jika tidak disertai dengan perencanaan pembangunan tata ruang dan pengelolaan lingkungan yang memadai, berpotensi mengganggu keseimbangan lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan kajian wilayah guna menghasilkan informasi atau data mengenai kondisi lokasi, letak, batas, hingga posisi koordinat sebuah daerah.

Tim mahasiswa Program Studi Kartografi dan Penginderaan Jauh (KPJ) Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) belum lama ini melakukan kajian geospasial melalui program Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.  Terhitung selama 5 hari pelaksanaan mulai dari 1 sampai 6 Juli lalu. Tim mahasiswa berhasil melakukan berbagai penelitian lapangan yang mengangkat berbagai isu strategis guna memberikan gambaran tentang kondisi wilayah sekaligus masukan berbasis data dalam praktik pengelolaan lingkungan dan pembangunan daerah. Lewat tema “Analisis Data Lapangan untuk Pemodelan Geospasial dan Geovisualisasi di Kabupaten Lombok Tengah”, mahasiswa mempraktikkan berbagai metode kartografi, sistem informasi geografis (SIG), dan penginderaan jauh untuk mengkaji kondisi wilayah di Kabupaten Lombok Tengah dari beragam perspektif.

Ketua Tim Mahasiswa KKL, Adam Amirul Akbari, mengatakan penelitian yang dilakukan mahasiswa di wilayah Lombok Tengah ini meliputi kualitas lingkungan permukiman, kenyamanan termal kawasan perkotaan, estimasi stok karbon mangrove dan vegetasi. Selanjutnya, tim juga melakukan pemetaan biodiversitas lamun dan burung gosong, kesesuaian lahan pertanian, pemetaan kekeringan dan longsor, hingga analisis sedimentasi Waduk Batujai.

Lewat berbagai topik penelitian tersebut, kata Adam, Tim KKL berharap agar segenap informasi dan data yang telah dikumpulkan dapat bermanfaat baik bagi pemerintah daerah, akademisi, maupun masyarakat.“Kuliah Kerja Lapangan merupakan wadah bagi mahasiswa untuk menunjukkan bahwa ilmu geospasial memiliki peran yang sentral dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan,” kata Adam dalam keterangan yang dikirim Senin (10/8).

Ia menambahkan, setiap anggota kelompok KKL telah mengangkat berbagai isu penelitian guna menghasilkan informasi berbasis data yang dapat membantu memahami kondisi suatu wilayah. “Harapannya, hasil penelitian ini tidak hanya menjadi laporan akademik, tapi juga dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan,” ujar Adam.

Senada dengan Adam, Koordinator Hubungan Masyarakat KKL, Farah Setyani Daniyal, menuturkan bahwa seluruh penelitian yang dikerjakan oleh mahasiswa KKL telah sampai pada tahap akhir pengelolaan data dan penyusunan laporan ilmiah. Menurutnya, banyak temuan data dan informasi menarik yang ditemukan tim saat tengah melakukan penelitian di lokasi KKL. “Ke depannya, kami ingin agar hasil penelitian ini tidak hanya tersimpan sebagai laporan, tapi juga dapat diakses oleh masyarakat luas lewat media yang lebih mudah dipahami,”  harap Farah

Selain menjadi bagian dari proses pembelajaran, ujar Farah, KKL kali ini juga menunjukkan bagaimana pemanfaatan teknologi geospasial dapat mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Adapun informasi yang dihasilkan dari penelitian mahasiswa diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengelolaan sumber daya alam, perencanaan wilayah, mitigasi bencana, serta pengembangan kawasan yang berkelanjutan. “Sebagai bentuk diseminasi hasil penelitian, setiap kelompok akan mempublikasikan ringkasan temuan mereka secara bertahap melalui akun Instagram @kpjugm2023,” jelasnya.

Melalui publikasi di medsos tersebut, katanya, ia berharap hasil penelitian dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas sekaligus memperkenalkan peran ilmu kartografi dan penginderaan jauh dalam memberikan solusi terhadap berbagai persoalan kewilayahan.

Penulis : Agito Sitepu

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Tim KKL

Artikel Berbasis Data Geospasial, Mahasiswa UGM Petakan Potensi dan Tantangan Lingkungan Lombok Tengah pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/berbasis-data-geospasial-mahasiswa-ugm-petakan-potensi-dan-tantangan-lingkungan-lombok-tengah/feed/ 0