Inovasi Teknologi Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/category/penelitian-dan-inovasi/inovasi-teknologi/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Sat, 29 Aug 2026 02:22:23 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 Dukung Eliminasi TB, Dosen UGM Hadirkan Rumah Skrining dan Layanan Radiografi Keliling https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-eliminasi-tb-dosen-ugm-hadirkan-rumah-skrining-dan-layanan-radiografi-keliling/ https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-eliminasi-tb-dosen-ugm-hadirkan-rumah-skrining-dan-layanan-radiografi-keliling/#respond Sat, 29 Aug 2026 02:22:23 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97061 Hasil riset tim peneliti Universitas Gadjah Mada dalam pengembangan alat radiografi sinar-X digital mulai diterapkan untuk layanan pemeriksaan radiologi kesehatan berbasis masyarakat. Riset bertajuk Alat Radiografi Sinar-X Digital Keliling untuk Layanan Skrining Tuberculosis dan Medical Check Up tersebut merupakan bagian dari Program Riset Sinergi 2025–2026 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Hasil riset kemudian […]

Artikel Dukung Eliminasi TB, Dosen UGM Hadirkan Rumah Skrining dan Layanan Radiografi Keliling pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Hasil riset tim peneliti Universitas Gadjah Mada dalam pengembangan alat radiografi sinar-X digital mulai diterapkan untuk layanan pemeriksaan radiologi kesehatan berbasis masyarakat. Riset bertajuk Alat Radiografi Sinar-X Digital Keliling untuk Layanan Skrining Tuberculosis dan Medical Check Up tersebut merupakan bagian dari Program Riset Sinergi 2025–2026 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Hasil riset kemudian dikembangkan melalui Rumah Skrining yang mengintegrasikan teknologi radiografi digital dengan sistem pengelolaan layanan kesehatan. Layanan tersebut mulai dioperasikan pada 27–28 Agustus 2026 di lingkungan CV Prestige Furniture, Yogyakarta.

Riset tersebut dipimpin Prof. Drs. Gede Bayu Suparta, M.Si., Ph.D. dari FMIPA UGM dan dikembangkan melalui sinergi dengan PT Madeena Karya Indonesia, CV Prestige Furniture, serta RSKIA Permata Bunda Yogyakarta. Rumah Skrining dirancang untuk membawa hasil pengembangan teknologi radiografi ke dalam layanan yang lebih dekat dengan masyarakat. Model ini juga diarahkan untuk memperluas akses pemeriksaan kesehatan, khususnya layanan yang membutuhkan pemeriksaan radiologi. “Rumah Skrining adalah start-up yang bertujuan untuk menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan radiologi berbasis masyarakat,” ujar Bayu, Sabtu (29/8).

Dalam pengembangannya, Rumah Skrining tidak berdiri sebagai fasilitas radiologi yang terpisah dari sistem pelayanan kesehatan. Layanan ini dipandu oleh fasilitas pelayanan kesehatan seperti klinik atau rumah sakit, sekaligus memanfaatkan perangkat radiologi yang dikelola melalui Madeena Health Care System (MHCS) atau Madeena Solution. Platform tersebut mencakup tata kelola data DICOM, PACS, teleradiologi, dan pembacaan citra radiologi dengan bantuan AI. “Kehadiran Rumah Skrining diharapkan dapat membantu Pemerintah mempercepat capaian Program Eliminasi TB 2030 dan memperluas keterjangkauan masyarakat pada layanan Cek Kesehatan plus Radiografi Sinar-x,” ujar Bayu.

Bayu menjelaskan teknologi radiografi yang digunakan memiliki fitur untuk pemeriksaan badan dan dada dengan dosis radiasi rendah. Citra yang dihasilkan kemudian dapat dianalisis dengan dukungan perangkat lunak AI, sementara proses pemeriksaan hingga pembacaan hasil disebut dapat dilakukan dalam waktu sekitar 15 menit untuk setiap pasien. Informasi mengenai status kesehatan pasien juga dapat disimpan ke dalam platform SatuSehat yang dikelola pemerintah.

Pengembangan layanan selanjutnya diarahkan agar Rumah Skrining dapat hadir di berbagai lingkungan, mulai dari perguruan tinggi, kawasan industri, pesantren, sekolah, rumah sakit pratama, hingga puskesmas. Bayu berujar perluasan titik layanan diharapkan dapat membuka peluang keterlibatan masyarakat dalam pengembangan fasilitas skrining kesehatan. Di sisi lain, teknologi radiografi juga terus berkembang dengan perangkat yang semakin ringan, hemat energi, dan dapat menggunakan baterai isi ulang. “Teknologi pesawat sinar-x cenderung semakin maju, canggih, aman, ringan, hemat energi, dan rechargeable,” ungkapnya.

Direktur Operasional Rumah Skrining Annisa Fitriana, S.Ant., menjelaskan bahwa pengelolaan layanan dilakukan dengan memanfaatkan ekosistem teknologi yang telah disiapkan untuk mendukung pemeriksaan radiologi. Rumah Skrining dapat mengelola perangkat radiologi produk PT Madeena Karya Indonesia maupun alat radiologi impor yang telah terpasang di rumah sakit di Indonesia. Sistem tersebut memungkinkan proses tata kelola data dan layanan radiologi terhubung dalam satu platform. “MHCS juga disebut Madeena Solution, telah dilengkapi sistem tata kelola data DICOM, PACS, Teleradiologi, dan pembacaan citra radiologi menggunakan bantuan Kecerdasan Buatan AI,” jelas Annisa.

Implementasi perdana dilakukan di lingkungan CV Prestige Furniture yang merupakan mitra produksi alat radiografi DDR Madeena. Pimpinan CV Prestige Furniture Wahyudi Ganda Wijaya menyampaikan komitmen perusahaan untuk memeriksa dan menjaga kesehatan 40 karyawannya melalui fasilitas Rumah Skrining. Kehadiran fasilitas tersebut juga diharapkan dapat dimanfaatkan oleh keluarga karyawan dan masyarakat di sekitar pabrik. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan layanan radiografi di lingkungan yang sebelumnya dinilai masih sulit memperoleh akses layanan formal yang terjangkau.

Layanan perdana Rumah Skrining berlangsung selama dua hari dengan pemeriksaan berupa radiografi thorax. Pada Kamis (27/8), sebanyak 35 orang mengikuti pemeriksaan, sedangkan pada Jumat (28/8) tercatat 42 peserta. Pelaksanaan tersebut menjadi tahap awal penerapan model layanan radiologi berbasis masyarakat yang dikembangkan melalui kolaborasi perguruan tinggi, industri, dan fasilitas pelayanan kesehatan. Hasil penerapan awal ini sekaligus menjadi pengalaman lapangan dalam pengembangan layanan Rumah Skrining berikutnya.

Selain layanan berbasis lokasi, pengembangan Rumah Skrining diarahkan pada penggunaan radiografi keliling yang ditempatkan di atas truk niaga ringan. Kendaraan tersebut dirancang untuk menjangkau lingkungan permukiman yang sempit maupun wilayah dengan medan yang lebih berat, sehingga pemeriksaan tidak harus selalu dilakukan di fasilitas kesehatan. Konsep ini menggabungkan layanan radiografi keliling dengan teleradiologi dan pembacaan AI melalui platform Madeena Health Care System untuk mendukung program Active Case Finding TBC bersama fasyankes tingkat pratama maupun puskesmas. Pendekatan tersebut dirangkum melalui konsep “Serve at everywhere, Read from Anywhere”.

Bayu berharap pengembangan teknologi tersebut dapat didukung oleh terbentuknya ekosistem radiografi sinar-X digital yang melibatkan pemerintah, fasilitas kesehatan, industri, perguruan tinggi, dan masyarakat. Ia juga mendorong adanya regulasi yang mampu memberikan ruang bagi pemanfaatan teknologi radiografi untuk kebutuhan pelayanan kesehatan. Baginya perluasan akses terhadap informasi kesehatan merupakan bagian penting dalam membangun masyarakat yang sehat sekaligus mendukung kekuatan ekonomi dan industri nasional.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Dokumentasi Peneliti

Artikel Dukung Eliminasi TB, Dosen UGM Hadirkan Rumah Skrining dan Layanan Radiografi Keliling pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-eliminasi-tb-dosen-ugm-hadirkan-rumah-skrining-dan-layanan-radiografi-keliling/feed/ 0
Bantu Optimalisasi Penanganan Bencana di NTT, UGM Luncurkan Portal Teknologi AI Tech4Disaster https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-optimalisasi-penanganan-bencana-di-ntt-ugm-luncurkan-portal-teknologi-ai-tech4disaster/ https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-optimalisasi-penanganan-bencana-di-ntt-ugm-luncurkan-portal-teknologi-ai-tech4disaster/#respond Mon, 24 Aug 2026 03:58:38 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96885 Tim peneliti Universitas Gadjah Mada mengembangkan portal yang berbasis AI untuk mendukung proses penanganan pascabencana di Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui portal UGM AI Tech4disaster, menyediakan layanan pelaporan kebutuhan logistik masyarakat sekaligus memetakan lokasi yang membutuhkan bantuan. Bahkan masyarakat dapat menyampaikan informasi mengenai kondisi dan kebutuhan di wilayahnya, yang kemudian dihimpun sebagai data spasial untuk […]

Artikel Bantu Optimalisasi Penanganan Bencana di NTT, UGM Luncurkan Portal Teknologi AI Tech4Disaster pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Tim peneliti Universitas Gadjah Mada mengembangkan portal yang berbasis AI untuk mendukung proses penanganan pascabencana di Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui portal UGM AI Tech4disaster, menyediakan layanan pelaporan kebutuhan logistik masyarakat sekaligus memetakan lokasi yang membutuhkan bantuan. Bahkan masyarakat dapat menyampaikan informasi mengenai kondisi dan kebutuhan di wilayahnya, yang kemudian dihimpun sebagai data spasial untuk membantu melihat sebaran wilayah terdampak dan kebutuhan di lapangan melalui link https://geoportal.science/gik/.

Dr. Nur Mohammad Farda selaku ketua tim pengembang, mengatakan pemanfaatan portal tersebut mendapat respons dari masyarakat. Hingga 21 Agustus 2026, Farda menyebut terdapat sekitar 1.400 laporan masyarakat yang masuk melalui platform tersebut. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan laporan pada penanganan bencana di Sumatera yang disebut berada di kisaran 300 laporan. “Hampir sekitar  1.400 an laporan,” tuturnya, Senin (24/8).

Teknologi AI dimanfaatkan pada portal ini diakui Farda untuk membantu merapikan dan menganalisis laporan masyarakat. Data yang telah dihimpun kemudian dapat digunakan untuk melihat wilayah yang terdampak lebih banyak serta mengidentifikasi kebutuhan yang perlu menjadi prioritas dalam penanganan logistik.

“Kalau data sudah rapi, ketika diposting dan disimpan, itu akan mempermudah tim logistik. Kemudian, ada juga proses analisis. Dari peta-peta yang tersedia, sistem dapat menganalisis daerah mana yang terdampak paling banyak dan apa saja yang menjadi prioritas logistik. Jadi, data tersebut dapat dikelompokkan untuk membantu proses penanganan,” ungkapnya.

Meski demikian, penggunaan AI dalam sistem ini tetap dibatasi. AI digunakan untuk membantu merapikan data dan melakukan analisis, sementara data awal berasal dari masyarakat dan relawan. Tim UGM juga tetap melakukan cleaning untuk memastikan data dan lokasi yang dilaporkan sesuai. “Data yang digunakan berasal dari warga atau volunteer. Kemudian, kami melakukan cleaning terhadap data, terutama untuk memastikan lokasi-lokasi yang dilaporkan sesuai. Jadi, dari sisi risiko AI, penggunaannya dibatasi pada proses perapian data dan analisis. Untuk analisis pun, AI hanya mengambil dan merangkum informasi dari peta-peta yang tersedia,” jelas Farda.

Salah satu tantangan dalam penggunaan portal adalah ketersediaan jaringan internet. Ketika terjadi gangguan jaringan akibat bencana, proses pengiriman laporan dapat ikut terkendala. Solusi sementara, data dapat disimpan terlebih dahulu dan dikirimkan ketika perangkat kembali mendapatkan sinyal. “Bagaimanapun,  dukungan konektivitas juga dapat diberikan melalui mobile tower atau menara jaringan bergerak,” imbuhnya.

Selain menghimpun laporan masyarakat, data pemetaan yang dikumpulkan UGM juga dapat ditampilkan dalam sistem BNPB melalui map services. Menurut Farda, mekanisme tersebut memungkinkan informasi yang dihimpun UGM dapat tersinkron dengan informasi kebencanaan yang digunakan BNPB.

Pengembangan UGM AI Tech4Disaster sendiri tidak berhenti pada pemetaan laporan masyarakat. Ke depan, teknologi tersebut masih akan dikembangkan untuk berbagai kebutuhan kebencanaan, termasuk analisis citra satelit, pemetaan longsor, manajemen shelter, manajemen logistik, hingga pemanfaatan IoT dan pengembangan berbagai model AI.

Farda berharap semakin banyak riset UGM yang memanfaatkan AI sehingga UGM dapat berkembang menjadi AI Factory dan menjadi salah satu institusi terdepan dalam pengembangan AI. Dalam konteks kebencanaan, pengembangan Tech4Disaster diharapkan dapat terus diperluas untuk mendukung penanganan berbagai jenis bencana. “Kontribusi UGM melalui teknologi tersebut merupakan bagian dari semangat UGm untuk kemanusiaan,” pungkasnya.

Penulis : M. Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Antara dan Dok.Portal AI Tech4disaster

Artikel Bantu Optimalisasi Penanganan Bencana di NTT, UGM Luncurkan Portal Teknologi AI Tech4Disaster pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-optimalisasi-penanganan-bencana-di-ntt-ugm-luncurkan-portal-teknologi-ai-tech4disaster/feed/ 0
Dobrak Keterbatasan Akses, UGM Kembangkan Teknologi Skrining Tuberkulosis untuk Wilayah 3T https://ugm.ac.id/id/berita/dobrak-keterbatasan-akses-ugm-kembangkan-teknologi-skrining-tuberkulosis-untuk-wilayah-3t/ https://ugm.ac.id/id/berita/dobrak-keterbatasan-akses-ugm-kembangkan-teknologi-skrining-tuberkulosis-untuk-wilayah-3t/#respond Fri, 07 Aug 2026 05:54:36 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96395 Tim peneliti Universitas Gadjah Mada bersama sejumlah mitra nasional dan internasional mengembangkan TBScreen.AI, sebuah inovasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang berpotensi mendukung percepatan skrining tuberkulosis (TB), khususnya di wilayah terpencil Indonesia. Inovasi ini dinilai mampu memberikan performa awal yang menjanjikan sebagai alat bantu deteksi dini TB melalui analisis foto X-ray dada. Adapun hasil penelitian […]

Artikel Dobrak Keterbatasan Akses, UGM Kembangkan Teknologi Skrining Tuberkulosis untuk Wilayah 3T pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Tim peneliti Universitas Gadjah Mada bersama sejumlah mitra nasional dan internasional mengembangkan TBScreen.AI, sebuah inovasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang berpotensi mendukung percepatan skrining tuberkulosis (TB), khususnya di wilayah terpencil Indonesia. Inovasi ini dinilai mampu memberikan performa awal yang menjanjikan sebagai alat bantu deteksi dini TB melalui analisis foto X-ray dada.

Adapun hasil penelitian TBScreen.AI dipaparkan dalam kegiatan Diseminasi Penelitian bertajuk TBScreen.AI: Pengembangan Kecerdasan Buatan untuk Skrining Tuberkulosis dengan X-ray Dada di Daerah Terpencil di Indonesia yang berlangsung pada Senin (3/8) di Jakarta. Dalam kegiatan tersebut, tim peneliti menyampaikan capaian pengembangan teknologi sekaligus rekomendasi untuk tahapan validasi lanjutan sebelum sistem dapat diterapkan secara lebih luas.

Peneliti utama dr. Antonia Morita Iswari Saktiawati, Ph.D., menyampaikan bahwa hasil penelitian menunjukkan performa sistem dengan tingkat sensitivitas sebesar 83 persen dan spesifisitas mencapai 87 persen. Menurut Antonia, capaian tersebut menunjukkan bahwa TBScreen.AI memiliki potensi sebagai alat bantu skrining TB. Namun, teknologi ini masih memerlukan proses validasi lebih lanjut agar dapat memastikan tingkat akurasi dan kesiapan penerapannya dalam mendukung pelayanan kesehatan di masyarakat. “Capaian tersebut menunjukkan TBScreen.AI berpotensi dimanfaatkan sebagai alat bantu skrining tuberkulosis, meski masih memerlukan proses validasi lanjutan sebelum dapat diterapkan secara lebih luas dalam pelayanan kesehatan,” tuturnya, Jumat (6/8).

Penelitian yang berlangsung selama dua tahun ini merupakan hasil kolaborasi UGM dengan University of Melbourne, Universitas Sebelas Maret, Monash University Indonesia, Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Sentra Advokasi Perempuan, Difabel, dan Anak (SAPDA), serta Yayasan Pengembangan Kesehatan dan Masyarakat Papua dengan dukungan program KONEKSI Indonesia-Australia. Riset ini bertujuan mengembangkan sekaligus memvalidasi sistem AI berbasis foto rontgen dada sebagai alat bantu skrining TB.

Kolaborasi tersebut dilakukan untuk mengembangkan sekaligus memvalidasi sistem kecerdasan buatan berbasis foto X-ray dada yang dapat membantu proses skrining TB. Pengembangan teknologi ini diharapkan mampu menjawab tantangan penemuan kasus TB, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan dan tenaga medis.

Salah satu anggota tim peneliti TBScreen.AI, Wahyono, S.Kom., Ph.D., menjelaskan bahwa pengembangan TBScreen.AI dilakukan melalui tahapan pengumpulan, validasi, hingga anotasi foto rontgen dada. Sistem kemudian menghasilkan confidence score atau tingkat keyakinan model dalam rentang 0-100 persen. Meski demikian, skor tersebut tidak dimaksudkan sebagai dasar penetapan diagnosis akhir. “Hasil skrining tetap harus dipadukan dengan gejala klinis, faktor risiko pasien, penilaian dokter, serta pemeriksaan penunjang lainnya,” ujarnya.

Diseminasi hasil penelitian di Jakarta yang dihadiri berbagai pemangku kepentingan, antara lain Kementerian Kesehatan RI, Bappenas, Komite Ahli Tuberkulosis (Komli TB), Jejaring Riset Tuberkulosis (Jetset TB), Koalisi Organisasi Profesi Indonesia untuk Penanggulangan Tuberkulosis (KOPI TB), Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), serta organisasi yang bergerak di bidang tuberkulosis dan disabilitas.  Dalam forum tersebut, salah satu rekomendasi yang dihasilkan adalah perlunya validasi lanjutan menggunakan hingga 40.000 foto rontgen dada agar akurasi sistem semakin optimal. Tim peneliti juga didorong untuk berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan RI yang saat ini tengah memperluas program active case finding (ACF) untuk meningkatkan penemuan kasus TB di berbagai daerah.

Staf Tim Kerja Tuberkulosis Kementerian Kesehatan RI, Rita Aryati, SKM., MM., menyampaikan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam menemukan dan melaporkan seluruh kasus tuberkulosis. Menurutnya, Indonesia hingga kini masih menjadi negara dengan beban kasus TB tertinggi kedua di dunia. Karena itu, hasil penelitian TBScreen.AI dinilai sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 yang mendorong pemanfaatan hasil riset dan inovasi teknologi untuk mendukung skrining, diagnosis, serta penatalaksanaan tuberkulosis. “Indonesia masih menduduki peringkat kedua sebagai negara dengan beban kasus TB tertinggi di dunia. Karena itu, pemanfaatan hasil riset dan teknologi ini menjadi salah satu bagian penting dalam upaya memperkuat penanggulangan tuberkulosis di Indonesia, mulai dari skrining, diagnosis, hingga tatalaksana pasien TB,” ucapnya.

Selain mengembangkan inovasi berbasis AI, penelitian ini juga mengkaji berbagai faktor yang mempengaruhi akses masyarakat terhadap layanan skrining maupun diagnosis TB. Hasil penelitian mengidentifikasi empat kelompok hambatan utama, yakni keterbatasan fasilitas dan layanan kesehatan, kendala ekonomi dan kepesertaan asuransi, faktor sosial budaya termasuk stigma berlapis (multiple stigma), serta hambatan transportasi, aksesibilitas, dan dukungan sosial. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi perlu diiringi penguatan sistem layanan kesehatan agar seluruh masyarakat, termasuk kelompok rentan, dapat memperoleh akses skrining secara setara.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI, dr. Imran Pambudi, MPH, berharap teknologi AI seperti TBScreen.AI dapat mendukung upaya percepatan skrining tuberkulosis, khususnya bagi penyandang disabilitas yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar TB. Ia juga mendorong agar skrining berbasis AI ke depan dapat diintegrasikan dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sehingga jangkauan layanan semakin luas dan penemuan kasus dapat dilakukan lebih dini untuk menekan risiko penularan di masyarakat. “Dengan skrining yang lebih cepat, penemuan kasus dapat dilakukan lebih dini sehingga pasien bisa segera mendapatkan pengobatan dan risiko penularan dapat ditekan,” pungkasnya.

Penulis : Cyntia Noviana

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Tim Peneliti

Artikel Dobrak Keterbatasan Akses, UGM Kembangkan Teknologi Skrining Tuberkulosis untuk Wilayah 3T pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dobrak-keterbatasan-akses-ugm-kembangkan-teknologi-skrining-tuberkulosis-untuk-wilayah-3t/feed/ 0
UGM dan BWS Papua Barat Dorong Pemanfaatan Digitalisasi Monitoring Jaringan Irigasi https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-bws-papua-barat-dorong-pemanfaatan-digitalisasi-monitoring-jaringan-irigasi/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-bws-papua-barat-dorong-pemanfaatan-digitalisasi-monitoring-jaringan-irigasi/#respond Fri, 24 Jul 2026 04:59:28 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95810 Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada mulai mengembangkan sistem digital untuk memantau Daerah Irigasi Oransbari di Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. Inovasi yang dikembangkan bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Papua Barat ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pengelolaan jaringan irigasi melalui pemanfaatan teknologi digital. Program tersebut ditandai dengan kick-off meeting dan penandatanganan perjanjian kerja sama […]

Artikel UGM dan BWS Papua Barat Dorong Pemanfaatan Digitalisasi Monitoring Jaringan Irigasi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada mulai mengembangkan sistem digital untuk memantau Daerah Irigasi Oransbari di Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. Inovasi yang dikembangkan bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Papua Barat ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pengelolaan jaringan irigasi melalui pemanfaatan teknologi digital. Program tersebut ditandai dengan kick-off meeting dan penandatanganan perjanjian kerja sama di Kantor BWS Papua Barat pada Sabtu (18/7) silam. Kegiatan ini sekaligus menandai dimulainya implementasi Program Digitalisasi Monitoring Daerah Irigasi Oransbari Tahun Anggaran 2026.

Pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya air di tengah kebutuhan irigasi yang semakin kompleks. Melalui sistem tersebut, pemantauan debit air, distribusi irigasi, hingga kondisi jaringan dapat dilakukan secara lebih cepat dan akurat. Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., menilai sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah menjadi fondasi penting dalam menghadirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat. “Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mendorong modernisasi pengelolaan irigasi berbasis teknologi sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam mendukung ketahanan pangan,” ujarnya.

Pelaksanaan program turut didukung koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan di Papua Barat, di antaranya Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Papua Barat. Koordinasi tersebut dilakukan untuk menyelaraskan implementasi program dengan kebijakan pengelolaan sumber daya air di daerah. Pemerintah daerah menyatakan kesiapannya mendukung pelaksanaan program melalui penyediaan data, informasi, dan berbagai fasilitas pendukung. Sinergi antarlembaga diharapkan memperkuat keberhasilan modernisasi irigasi di wilayah tersebut.

Sebagai tahap awal implementasi, tim ahli UGM dari Pusat Kajian Modernisasi Irigasi dan Pertanian (PKMIP) melakukan survei di Daerah Irigasi Oransbari. Kegiatan tersebut mencakup pemetaan jaringan irigasi mulai dari bendung hingga saluran tersier, identifikasi kondisi eksisting, serta penentuan lokasi pemasangan perangkat digital. Tahapan ini memastikan teknologi yang dikembangkan sesuai dengan karakteristik wilayah dan kebutuhan pengelolaan irigasi. Survei lapangan menjadi fondasi penting sebelum sistem digital diterapkan secara menyeluruh.

Tim yang dikoordinasikan Prof. Dr. Ir. Sigit Supadmo Arif, M.Eng. bersama Dr.Eng. Ansita Gupitakingkin Pradipta, S.T., M.Eng. juga mengukur Indeks Kesiapan Modernisasi Irigasi (IKMI) melalui wawancara dengan pengelola irigasi, petugas operasi dan pemeliharaan, serta para petani. Hasil penilaian tersebut menjadi dasar penyusunan strategi penerapan teknologi yang sesuai dengan kesiapan kelembagaan maupun masyarakat setempat. Proses ini diharapkan dapat memperlancar implementasi sistem digital sekaligus meningkatkan efektivitas pengelolaan jaringan irigasi. “Digitalisasi monitoring ini nantinya tidak hanya memasang perangkat, tetapi memastikan sistem irigasi, kelembagaan, dan masyarakat siap mengadopsi teknologi agar pengelolaan air menjadi lebih efektif dan berkelanjutan,” tutur Sigit.

Melalui sistem digital yang dikembangkan, kondisi jaringan irigasi dapat dipantau secara lebih efisien dan transparan. Informasi mengenai debit air, distribusi, maupun kondisi saluran tersedia lebih cepat sehingga potensi gangguan dapat segera diidentifikasi dan ditangani. Ketersediaan data secara real time juga diharapkan membantu pengelola mengambil keputusan yang lebih tepat sesuai kondisi di lapangan. Pengelolaan irigasi berbasis data tersebut menjadi bagian dari transformasi menuju layanan irigasi yang semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Modernisasi irigasi yang dikembangkan UGM mencakup penerapan teknologi digital, penguatan kelembagaan, penyempurnaan tata kelola, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Program Digitalisasi Monitoring Daerah Irigasi Oransbari diharapkan menjadi model penerapan modernisasi irigasi berbasis teknologi di Indonesia bagian timur sekaligus menjadi rujukan bagi pengembangan sistem serupa di daerah irigasi lain yang memiliki karakteristik berbeda. Kolaborasi UGM dan BWS Papua Barat menunjukkan peran perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk mendukung pengelolaan sumber daya air yang lebih efektif dan berkelanjutan. Melalui inovasi tersebut, UGM berharap modernisasi irigasi dapat meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan pangan di Papua Barat, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi pembangunan pertanian nasional.

Reportase: Humas FTP UGM

Penulis: Triya Andriyani

Artikel UGM dan BWS Papua Barat Dorong Pemanfaatan Digitalisasi Monitoring Jaringan Irigasi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-bws-papua-barat-dorong-pemanfaatan-digitalisasi-monitoring-jaringan-irigasi/feed/ 0
Mahasiswa UGM Kembangkan Aplikasi Pemantau Isu Publik dan Konten Viral Berbasis AI https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-kembangkan-aplikasi-pemantau-isu-publik-dan-konten-viral-berbasis-ai/ https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-kembangkan-aplikasi-pemantau-isu-publik-dan-konten-viral-berbasis-ai/#respond Fri, 26 Jun 2026 09:42:46 +0000 https://ugm.ac.id/?p=94962 Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang tengah mengikuti program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) yang difasilitasi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI dan Universitas Gadjah Mada berhasil mengembangkan aplikasi sistem pemantauan isu publik berbasis kecerdasan buatan (AI). Aplikasi  yang dinamakan Use case ini mampu menampilkan sistem pemantauan isu publik berbasis AI dengan melakukan crawling berita […]

Artikel Mahasiswa UGM Kembangkan Aplikasi Pemantau Isu Publik dan Konten Viral Berbasis AI pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang tengah mengikuti program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) yang difasilitasi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI dan Universitas Gadjah Mada berhasil mengembangkan aplikasi sistem pemantauan isu publik berbasis kecerdasan buatan (AI). Aplikasi  yang dinamakan Use case ini mampu menampilkan sistem pemantauan isu publik berbasis AI dengan melakukan crawling berita dan media sosial, mengklasifikasikan isu dan sentimen, menganalisis narasi pemberitaan, serta menghasilkan brief harian untuk mendukung pengambilan keputusan.  Sistem ini diyakini mampu mengumpulkan data dari berbagai platform, mengolah teks, gambar, dan audio, melakukan analisis sentimen, menyusun narasi isu dan daily brief, serta menyediakan fasilitas chatbot pendukung pengambil keputusan

Gevan, sebagai salah satu anggota tim pengembang, mengungkapkan bahwa awalnya use case ini berangkat dari keresahan yang cukup besar bahwa di era perkembangan ekonomi digital saat ini, jumlah konten media sosial sangat masif, baik dari segi volume, variasi, maupun kecepatan kemunculannya. “Sistem ini memudahkan pemantauan, analisis, dan perumusan strategi komunikasi menjadi mustahil atau sangat sulit dilakukan secara manual,” jelasnya dalam Demo Day dan Graduation Program Artificial Intelligence Talent Factory 2026 Batch 1 di Ruang Multimedia, Gedung Pusat UGM pada Rabu (24/6).

Ia menjelaskan bagaimana sistem monitoring cerdas ini bekerja dan dirancang dengan alur kerja terintegrasi yang dimulai dari deteksi tren terkini melalui platform Google Trends dan Trends 24, serta mengakomodasi input kata kunci manual spesifik sesuai kebutuhan. Berangkat dari pemantauan tersebut, teknologi keyword generator akan mengembangkan kata kunci turunan yang relevan untuk menggerakkan mesin crawling dalam menghimpun konten multimodal, baik teks, gambar, maupun audio, dari media sosial dan media online.

Konten yang terkumpul kemudian diperkaya lewat sentuhan AI, di mana gambar diproses menggunakan image captioning dan audio ditranskrip secara otomatis melalui fitur speech-to-text. Tak berhenti di situ, sistem langsung melakukan pelabelan, kategorisasi sub-isu, dan analisis sentimen secara otomatis pada seluruh data, sebelum akhirnya disimpan ke dalam database untuk divisualisasikan secara interaktif pada dashboard monitoring guna mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan tepat.

Melalui dashboard ini pula, sistem akan merangkum artikel dengan isu-isu serupa dan membuatnya menjadi ringkasan yang berisi 5W+1H dan juga mendeteksi aktor-aktor yang berperan di sana, serta pernyataan mereka. “Sistem pun dapat membuat daily briefing yang berisi dokumen berisi isu-isu viral pada H-1 untuk menjadi panduan bagi pihak berwenang untuk menanggapi itu,” ujarnya.

Secara singkat, sistem ini menggunakan model AI untuk memantau isu publik dan sentimen secara real-time, kemudian memberikan peringatan dini atau early warning system (EWS) ketika ada isu-isu yang menjadi viral atau jumlah kontennya meningkat secara signifikan. “Dengan model LLM, kita dapat memetakan narasi dan percakapan di ruang digital, lalu merumuskan strategi komunikasi yang proaktif berdasarkan analisis data artikel terbaru yang di-crawl,” jelasnya.

Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Dr. Said Mirza Pahlevi, M.Eng., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas inovasi yang dikembangkan peserta. Menurutnya, karya inovasi ini tidak lepas dari kegiatan AITF yang dilaksanakan sejak empat bulan lalu memberikan pengalaman praktik secara langsung kepada para mahasiswa. Ia pun menjelaskan bahwa kegiatan ini  merupakan kolaborasi antara universitas, pemerintah, serta industri dalam menghadapi perkembangan teknologi AI. “Saya berharap, Demo Day dan Graduation ini tidak hanya menjadi ajang presentasi hasil kerja, tetapi juga menjadi forum diskusi yang konstruktif. Melalui solusi AI yang ditampilkan, kita dapat melihat sejauh mana teknologi AI dapat dimanfaatkan, khususnya dalam membaca dinamika opini publik dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat berbasis data,” pungkasnya.

Penulis : Leony

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Jesi

Artikel Mahasiswa UGM Kembangkan Aplikasi Pemantau Isu Publik dan Konten Viral Berbasis AI pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-kembangkan-aplikasi-pemantau-isu-publik-dan-konten-viral-berbasis-ai/feed/ 0
Memanen Hujan dan Mengelola Sumber Mata Air https://ugm.ac.id/id/berita/memanen-hujan-dan-mengelola-sumber-mata-air/ https://ugm.ac.id/id/berita/memanen-hujan-dan-mengelola-sumber-mata-air/#respond Tue, 23 Jun 2026 05:42:04 +0000 https://ugm.ac.id/?p=94776 Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada ikut mendukung penyediaan akses air bersih berkelanjutan bagi masyarakat Padukuhan Gemawang, Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, melalui program HK WASH Infra (Water, Sanitation, and Hygiene Infrastructure). Program ini merupakan bagian dari inisiatif “Nandur Tuk Banyu” ini dilaksanakan melalui kolaborasi antara Yayasan Kinarya Anak Bangsa, PT Hutama Karya (Persero), dan […]

Artikel Memanen Hujan dan Mengelola Sumber Mata Air pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada ikut mendukung penyediaan akses air bersih berkelanjutan bagi masyarakat Padukuhan Gemawang, Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, melalui program HK WASH Infra (Water, Sanitation, and Hygiene Infrastructure). Program ini merupakan bagian dari inisiatif “Nandur Tuk Banyu” ini dilaksanakan melalui kolaborasi antara Yayasan Kinarya Anak Bangsa, PT Hutama Karya (Persero), dan tim teknis UGM sebagai upaya mendukung akses air bersih sekaligus konservasi sumber daya air.

Program HK WASH Infra secara resmi diserahterimakan kepada masyarakat Padukuhan Gemawang oleh Kepala Unit Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Hutama Karya (Persero), Dianita Saraswati. Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Sleman Harda Kiswaya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman Junaidi, perwakilan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Serayu Opak Progo, Pemerintah Kapanewon Mlati, Pemerintah Kalurahan Sinduadi, serta Founder Yayasan Kinarya Anak Bangsa Rosita Yuwanasari Suwardi Wibawa.

Dalam program ini, UGM melalui Departemen Teknik Sipil Sekolah Vokasi berperan memberikan dukungan teknis mulai dari tahap perencanaan hingga pendampingan pelaksanaan. Sistem yang dikembangkan mencakup Instalasi Pemanen Air Hujan (IPAH) Gama Rain Filter yang dikombinasikan dengan teknologi Reverse Osmosis (RO), sinar ultraviolet (UV), serta pengelolaan sumber mata air yang selama ini dimanfaatkan masyarakat setempat.

Tim teknis UGM yang terlibat dalam program ini terdiri atas Prof. Agus Maryono, Pratama Tirza Surya Sembada, M.Sc., Hendra Agus Herlambang, serta mahasiswa yang tergabung dalam Teaching Factory (TeFa) Water Resources and Rainwater Harvesting melalui skema Project Based Learning, yaitu Sandhy, Wichak, dan Aji.

Pratama Tirza Surya Sembada, M.Sc., Asisten Laboratorium dan Bengkel Kerja Hidrolika dan Lingkungan Departemen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM, menjelaskan bahwa program ini berangkat dari hasil kajian mengenai kondisi sumber daya air di kawasan Gemawang. “Selama ini masyarakat memanfaatkan sumber mata air yang berada di Sungai Code untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, saat musim kemarau panjang, debit air cenderung menurun sehingga berdampak pada ketersediaan air bagi warga,” kata Tirza, Selasa (23/6).

Dikatakan Tirza, dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa air yang selama ini dikelola masyarakat telah terindikasi mengandung besi (Fe). Kondisi tersebut mendorong perlunya pengenalan sumber air alternatif yang memiliki kualitas baik dan tersedia secara berkelanjutan.“Secara perlahan, masyarakat diberi edukasi sumber air alternatif yang memiliki kualitas baik untuk mencukupi kebutuhan air sehari-hari mereka, yaitu dengan air hujan,” katanya.

Selain mendorong ketersediaan air bersih ketika memanen air hujan di wilayah dengan penduduk yang padat, tim UGM juga mengajak untuk mengurangi run off sehingga banjir dapat dimitigasi.  Menurut Tirza, pemilihan teknologi IPAH Gama Rain Filter didasarkan pada pertimbangan ilmiah bahwa air hujan pada dasarnya memiliki kualitas yang baik apabila media penangkapnya, seperti atap bangunan, berada dalam kondisi bersih. Oleh karena itu, sistem IPAH Gama Rain Filter dilengkapi tiga tahapan filtrasi utama, yaitu penyaring daun, penyaring debu kasar, dan penyaring debu halus untuk memastikan kualitas air yang dihasilkan memenuhi standar air bersih. Dalam pengembangannya, sistem tersebut kemudian dikombinasikan dengan teknologi Reverse Osmosis (RO) dan sinar ultraviolet (UV) untuk menghilangkan bakteri serta partikel-partikel berukuran sangat kecil yang belum tersaring pada proses filtrasi awal.

“Air hujan sudah memiliki kualitas air yang bersih jika media tangkapnya, seperti atap, bersih. Oleh sebab itu, IPAH Gama Rain Filter dilengkapi tiga filtrasi utama, yaitu saringan penghalau daun, saringan debu kasar, dan saringan debu halus yang mampu membersihkan air hujan sehingga masuk dalam baku mutu air bersih hingga air minum,” jelas Tirza.

Tirza menuturkan bahwa optimalisasi pemanenan air hujan merupakan salah satu strategi penting untuk menciptakan ketersediaan sumber daya air yang berkelanjutan. Selain itu, program konservasi yang dijalankan melalui Nandur Tuk Banyu juga mencakup pembangunan sumur resapan, biopori, jogangan air, serta penanaman vegetasi konservasi guna menjaga keseimbangan siklus hidrologi.“Program nandur tuk banyu selaras dengan program SDGs no 6 yaitu Penyediaan Akses Air Bersih. Mengoptimalkan potensi air hujan dapat menjadi salah satu upaya dalam menciptakan ketersediaan sumber daya air yang berkelanjutan,” kata Tirza.

Sebagai pelopor Gerakan Memanen Hujan Indonesia (GMHI), UGM memandang program seperti HK WASH Infra sebagai bentuk implementasi nyata inovasi berbasis ilmu pengetahuan yang dapat menjawab tantangan pengelolaan sumber daya air di tingkat masyarakat.“Ke depan, tidak ada lagi daerah yang ketika musim penghujan mengalami banjir, tetapi ketika kemarau butuh bantuan air,” tambah Tirza.

Founder Yayasan Kinarya Anak Bangsa, Rosita Yuwanasari Suwardi Wibawa, mengatakan bahwa program ini membawa semangat inisiatif “Nandur Tuk Banyu” yang terdaftar sebagai SDGs Action #51577. Menurutnya, program tersebut tidak hanya berfokus pada penyediaan akses air bersih, tetapi juga pada upaya konservasi lingkungan melalui perlindungan dan pemeliharaan sumber mata air serta penanaman pohon di kawasan hulu dan hilir.

Sementara itu, Kepala Unit TJSL PT Hutama Karya (Persero), Dianita Saraswati, menegaskan bahwa program HK WASH Infra merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menghadirkan infrastruktur yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.

Bupati Sleman Harda Kiswaya mengapresiasi kolaborasi yang terjalin antara dunia pendidikan, sektor industri, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadirkan solusi atas kebutuhan dasar warga. “Program ini sejalan dengan upaya Pemerintah Kabupaten Sleman dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui penyediaan infrastruktur dasar yang memadai,” ujarnya.

Melalui kolaborasi multipihak tersebut, program HK WASH Infra di Padukuhan Gemawang menjadi contoh penerapan inovasi berbasis ilmu pengetahuan untuk mendukung akses air bersih, konservasi lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Penulis : Zabrina Kumara

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Yayasan Kinarya Anak Bangsa

Artikel Memanen Hujan dan Mengelola Sumber Mata Air pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/memanen-hujan-dan-mengelola-sumber-mata-air/feed/ 0
Hadirkan Teknologi SWRO, UGM Dorong Peningkatan Kualitas Produksi Garam Pantai Selatan https://ugm.ac.id/id/berita/hadirkan-teknologi-swro-ugm-dorong-peningkatan-kualitas-produksi-garam-pantai-selatan/ https://ugm.ac.id/id/berita/hadirkan-teknologi-swro-ugm-dorong-peningkatan-kualitas-produksi-garam-pantai-selatan/#respond Thu, 18 Jun 2026 04:41:04 +0000 https://ugm.ac.id/?p=94633 Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam mengembangkan swasembada garam. Padahal, memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Persoalan garam tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, tetap juga dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti teknologi produksi, iklim, distribusi, hingga kondisi ekonomi sosial masyarakat pesisir. “Ternyata tidak mudah untuk meningkatkan produksi garam sehingga kita masih separuh dari kebutuhan garam […]

Artikel Hadirkan Teknologi SWRO, UGM Dorong Peningkatan Kualitas Produksi Garam Pantai Selatan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam mengembangkan swasembada garam. Padahal, memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Persoalan garam tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, tetap juga dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti teknologi produksi, iklim, distribusi, hingga kondisi ekonomi sosial masyarakat pesisir. “Ternyata tidak mudah untuk meningkatkan produksi garam sehingga kita masih separuh dari kebutuhan garam kita masih impor,” ujar Guru Besar Fakultas Pertanian UGM Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Integrasi Pemanfaatan Air Tawar pada Produksi Garam Laut dengan Teknologi SWRO (Seawater Reverse Osmosis) sebagai Air Minum”, Rabu (17/6), di Kulon Progo.

Sebagai upaya dalam menjawab persoalan tersebut, ia memperkenalkan teknologi Seawater Reverse Osmosis (SWRO) dengan mengintegrasikan produksi garam dengan penyediaan air tawar. Dengan pemanfaatan teknologi ini, ia berharap air laut tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan baku garam, tetapi dapat diolah menjadi air bersih yang bermanfaat bagi masyarakat pesisir yang masih terkendala akses air bersih. “Semoga kita bisa membantu meningkatkan produksi garam baik kuantitas maupun kualitas, kemudian memanfaatkan air tawar dan juga kita bisa meningkatkan kondisi sosial dan kondisi ekonomi, meningkatkan taraf hidup masyarakat yang berkecimpung di usaha garam,” tuturnya.

Direktur Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM), Dr. dr. Rustamadji, M.Kes., menuturkan bahwa program pengembangan garam nasional telah menjadi perhatian UGM sejak lama dan terus dilanjutkan sebagai program prioritas. Meskipun berbagai macam upaya telah dilakukan, pengembangan industri garam masih menghadapi berbagai macam tantangan untuk memenuhi kebutuhan garam secara mandiri. Oleh sebab itu, ia menuturkan bahwa UGM mendukung upaya pengembangan teknologi dan pemberdayaan masyarakat yang dapat meningkatkan kapasitas produksi garam nasional. “Kami sangat mensupport kegiatan yang ada di Pantai Selatan karena kami berharap garam Pantai Selatan ini akan menjadi pola yang sama yang bisa kita bawa ke pulau-pulau kecil,” tuturnya.

Sebagai bagian dari pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, ia menilai forum diskusi ini dapat menjadi sarana untuk mempertemukan hasil riset perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat pesisir. Melalui kolaborasi dari akademisi, pemerintah, kelompok petani garam, serta pelaku usaha, ia berharap inovasi ini dapat diterapkan langsung untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. “Mudah-mudahan nanti dari diskusi ini kita bisa mengetahui permasalahannya dan kemudian bisa memberikan solusi untuk pengembangan garam di masa yang akan datang,” jelasnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan Purworejo, Wiyoto Harjono, S.T., menyampaikan apresiasi kepada UGM atas pengembangan teknologi SWRO yang diintegrasikan dengan produksi garam di kawasan pesisir selatan Purworejo. Meski kualitas garam Purworejo sudah cukup baik, ia menekankan bahwa tantangan utama yang masih dihadapi adalah meningkatkan kuantitas dan kontinuitas produksi agar mampu memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan. Ia menilai selama ini potensi garam lokal belum berkembang optimal karena belum terbangunnya keterhubungan yang kuat antara produsen dan pasar.  “Selama ini pengembangan garam di pantai selatan ibarat ‘sing tuku ora teko-teko, sing teko ora tuku-tuku’. Oleh sebab itu, saya harap forum ini dapat membuka peluang kerja sama yang lebih luas dalam memperkuat ekosistem garam mulai dari produksi, pengolahan, pemasaran, hingga pengembangan investasi berbasis potensi pesisir selatan,” jelasnya.

Dalam sesi diskusi, Guru Besar bidang Teknologi Perikanan Universitas Diponegoro, Prof. Ir. Tri Winarni Agustini, M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa saat ini kebutuhan garam nasional terus meningkat untuk kebutuhan berbagai sektor, seperti industri pangan, farmasi, hingga kosmetik. Akan tetapi, kualitas garam nasional masih menjadi tantangan serius akibat belum memenuhi standar yang dibutuhkan oleh industri. Karena standar kualitas domestik belum terpenuhi, Indonesia masih melakukan impor secara selektif untuk memenuhi kebutuhan industri tersebut. “Kenyataannya dalam perkembangan produksi garam, mayoritas masih digawangi oleh para petambak garam mikro kecil secara konvensional. Kita masih prihatin karena masih melakukan impor,” jelasnya.

Sebagai solusi, ia mendorong transformasi teknologi penggunaan geomembran (HDPE) dan sistem rumah kaca dalam meningkatkan kualitas dan produksi garam nasional. Selain itu, ia menilai perlu mengaplikasikan konsep zero waste dengan memanfaatkan limbah pekat menjadi produk turunan guna mendukung target swasembada nasional pada tahun 2029 nanti.

Sementara itu, Koordinator Pemanfaatan Air Laut dan Farmakologi Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut, Dr. Mohammad Zaki Mahasin, S.Pi., M.Pi., menegaskan persoalan garam nasional tidak lepas dari adanya faktor geografis dan iklim Indonesia. Sehingga, saat ini produksi garam nasional masih menghadapi kesenjangan antara kebutuhan dan kemampuan produksi. Oleh sebab itu, ia menilai teknologi pengolahan garam yang dikembangkan UGM dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas garam rakyat sekaligus membuka peluang diversifikasi produk turunan berbasis garam. “Dengan pemanfaatan teknologi SWRO, produk dapat didiversifikasi sehingga menghasilkan produk turunan berbasis garam yang meningkatkan potensi ekonomi para petani garam,” jelasnya.

Ketua Kelompok Usaha Garam (KUGAR) Pandowo Limo, Marsino, menceritakan upaya kelompok petani garam dalam mengembangkan produk olahan garam, mulai dari pengembangan garam konsumsi, garam organik, garam terapi, hingga pengembangan ekstrak garam yang memiliki beragam khasiat. Meskipun kualitas garam yang dihasilkan telah memenuhi persyaratan, akan tetapi pengembangan produk garam ini masih terdapat kendala pada sertifikasi yang masih membutuhkan biaya yang tidak sedikit. “Saya berharap adanya bantuan kerja sama ini dapat mendukung produk garam lokal agar dapat bersaing di pasar yang lebih besar lagi,” katanya.

Penulis : Cyntia Noviana

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Jesi

Artikel Hadirkan Teknologi SWRO, UGM Dorong Peningkatan Kualitas Produksi Garam Pantai Selatan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/hadirkan-teknologi-swro-ugm-dorong-peningkatan-kualitas-produksi-garam-pantai-selatan/feed/ 0
Inovasi Agrovoltaic dari Peneliti UGM untuk Pengembangan Smart Farming https://ugm.ac.id/id/berita/inovasi-agrovoltaic-dari-peneliti-ugm-untuk-pengembangan-smart-farming/ https://ugm.ac.id/id/berita/inovasi-agrovoltaic-dari-peneliti-ugm-untuk-pengembangan-smart-farming/#respond Wed, 10 Jun 2026 09:41:40 +0000 https://ugm.ac.id/?p=94396 Tim peneliti Universitas Gadjah Mada memasang teknologi panel surya Agrovoltaic di Desa Pandowoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemasangan teknologi dilakukan dalam mendukung pengembangan inovasi smart farming yang dikelola oleh BUMDes dan kelompok wanita tani. “Program ini dilaksanakan sebagai upaya pengembangan desa berbasis energi terbarukan melalui penerapan teknologi PLTS Hybrid dan konsep agrivoltaic yang terintegrasi dengan […]

Artikel Inovasi Agrovoltaic dari Peneliti UGM untuk Pengembangan Smart Farming pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Tim peneliti Universitas Gadjah Mada memasang teknologi panel surya Agrovoltaic di Desa Pandowoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemasangan teknologi dilakukan dalam mendukung pengembangan inovasi smart farming yang dikelola oleh BUMDes dan kelompok wanita tani. “Program ini dilaksanakan sebagai upaya pengembangan desa berbasis energi terbarukan melalui penerapan teknologi PLTS Hybrid dan konsep agrivoltaic yang terintegrasi dengan pemberdayaan masyarakat,” ungkap Ahmad Agus Setiawan, ST., M.Sc., Ph.D., selaku ketua tim peneliti kepada wartawan, Rabu (10/6).

Pakar energi terbarukan sekaligus Kepala Laboratorium Energi Terbarukan (RELab) Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika, Fakultas Teknik kegiatan implementasi pemanfaatan teknologi tepat guna ini bagian dadu pengembangan desa berbasis teknologi energi terbarukan melalui riset aplikatif oleh akademisi. Harapannya, penerapan agrovoltaic yang dihadirkan dapat menjadi solusi terhadap permasalahan keterbatasan akses energi yang dihadapi BUMDes Amarta dan Kelompok Wanita Tani Wastajap Bersinar di Desa Pandowoharjo.

Aas, demikian ia akrab disapa, menuturkan BUMDesa Amarta mengelola lahan pertanian kas desa seluar 1.376 meter persegi. Tidak jauh dari sana, KWT Wastajap Bersinar mengelola lahan pertanian seluas 587 meter persegi. Usaha desa tersebut turut mengelola dua unit green house yang aktif memproduksi melon dan berbagai komoditas perkebunan seperti pepaya, cabai, jagung, kacang tanah, ubi jalar, talas, dan  terong. Sebagai sektor vital penyangga perekonomian masyarakat, BUMDes Amarta menargetkan gelar Desa Mandiri Hijau untuk memperkuat fondasi unit usaha. “Produktivitas tersebut turut menuntut standar operasional yang memadai, dengan tetap menyesuaikan kemampuan pengelola dan kelompok tani,” katanya.

Peran PLTS Hybrid Agrovoltaic hadir untuk membantu mengoptimasi biaya energi, meskipun terdapat penyesuaian dari rencana awal yang mulai sebesar 3,3 kWp menjadi 2,6 kWp. Hal ini dilakukan guna menekan pengeluaran yang melonjak akibat dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga komponen energi surya di pasar global akibat kenaikan nilai tukar dollar terhadap rupiah.

Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, pakar agrometeorologi, perubahan iklim, dan inovasi smart farming, dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM, salah satu anggota tim peneliti lainnya, menyebutkan teknologi agrovoltaic ini berpotensi menghadirkan solusi aplikatif untuk BUMDes Amarta yang didominasi oleh petani milenial dan KWT Wastajap Bersinar. Guna memperluas dampak dan potensi berbagai kolaborasi lainnya, inisiatif tersebut turut menggandeng mitra internasional dari Solar Research Institute (SRI) Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia.

Bayu mengatakan pihaknya bersama tim yang terdiri para dosen dan mahasiswa sebelumnya sudah melakukan serangkaian observasi dan evaluasi peluang penerapan model PLTS Hybrid agar cocok untuk ditanam di atas lahan perkebunan tersebut. Dibandingkan dengan model PLTS On-Grid yang terhubung langsung dengan jaringan listrik, cadangan baterai pada PLTS Hybrid membantu menekan biaya konsumsi listrik karena hanya menyerap listrik ketika daya baterai habis.

Sementara itu, tim juga menilai model PLTS Off-Grid yang sumber dayanya bergantung pada baterai secara penuh, kurang cocok diimplementasikan untuk kondisi lahan dan kapasitas BUMDes Amarta. “Terdapat lonjakan harga komponen di tengah dinamika politik global dan melemahnya nilai tukar rupiah,” jelasnya.

Sebagai teknologi yang belum banyak diadopsi, kata Bayu, eksistensi PLTS Hybrid perlu mendapat perhatian khusus, baik dari segi penggunaan maupun pemeliharaan. Dari sini, tim turut melibatkan masyarakat, pemuda karang taruna, dan unit teknis BUMDes Amarta dalam proses perakitan. Lebih lanjut, monitoring akan memanfaatkan modul pemantauan berbasis IoT (RiTx) yang memanfaatkan sensor untuk mencatat data real-time mengenai kondisi tanah dan cuaca agar dapat dipantau dari jarak jauh. “Kita mengikutsertakan BUMDes Amarta dalam penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) sederhana, sehingga keberlanjutan program dapat terjamin,” paparnya.

Bagi Bayu, program pengabdian kepada masyarakat Menghadirkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang mengintegrasikan praktik Agro-Voltaic ini menjadi salah satu upaya mitigasi dampak perubahan iklim di sektor pertanian yang menuntut kemampuan adaptasi tingkat tinggi pada petani guna memastikan hasil panen tetap optimal.

Penulis : Ika Agustine

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Tim Agrovoltaic

Artikel Inovasi Agrovoltaic dari Peneliti UGM untuk Pengembangan Smart Farming pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/inovasi-agrovoltaic-dari-peneliti-ugm-untuk-pengembangan-smart-farming/feed/ 0
Wujudkan Desa Mandiri Hijau, UGM Kembangkan Agrivoltaic Smart Farming di Pandowoharjo Sleman https://ugm.ac.id/id/berita/wujudkan-desa-mandiri-hijau-ugm-kembangkan-agrivoltaic-smart-farming-di-pandowoharjo-sleman/ https://ugm.ac.id/id/berita/wujudkan-desa-mandiri-hijau-ugm-kembangkan-agrivoltaic-smart-farming-di-pandowoharjo-sleman/#respond Tue, 12 May 2026 08:54:04 +0000 https://ugm.ac.id/?p=93472 Universitas Gadjah Mada terus memperkuat komitmennya dalam hilirisasi riset berbasis pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan penerapan teknologi agro-voltaic hybrid untuk mewujudkan desa mandiri hijau Pandowoharjo, Sleman Yogyakarta. Berkolaborasi dengan Solar Research Institute (SRI) UiTM, kerja sasama ini berfokus pada pengembangan teknologi berbasis pemberdayaan masyarakat dengan energi berkelanjutan. Program ini juga mengusung misi kesetaraan gender dengan keterlibatan […]

Artikel Wujudkan Desa Mandiri Hijau, UGM Kembangkan Agrivoltaic Smart Farming di Pandowoharjo Sleman pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada terus memperkuat komitmennya dalam hilirisasi riset berbasis pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan penerapan teknologi agro-voltaic hybrid untuk mewujudkan desa mandiri hijau Pandowoharjo, Sleman Yogyakarta. Berkolaborasi dengan Solar Research Institute (SRI) UiTM, kerja sasama ini berfokus pada pengembangan teknologi berbasis pemberdayaan masyarakat dengan energi berkelanjutan.

Program ini juga mengusung misi kesetaraan gender dengan keterlibatan aktif Kelompok Wanita Tani (KWT), Pemerintah Kalurahan, BUMKal Amarta, Babinsa, Babinkamtibmas, hingga Badan Perwakilan Kalurahan. Bahkan pihak Kalurahan telah menyatakan komitmennya dengan menyediakan personel untuk proses perakitan, pengoperasian, hingga perawatan alat pasca instalasi.

Dalam pelaksanaannya, kapasitas PLTS Hybrid yang akan diinstal adalah 2,6 kWp untuk menyesuaikan kebutuhan beban irigasi cerdas dan mesin hilirisasi desa. Proses perakitan prototype dilakukan di Laboratorium Energi Terbarukan Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM dengan melibatkan perwakilan warga desa untuk menjamin adanya transfer pengetahuan. “Untuk menjamin keberlanjutan, sistem ini rencananya akan dilengkapi dengan pemasangan kamera pengawas berbasis internet oleh pihak kalurahan, integrasi sensor RiTx untuk pemantauan kondisi tanah dan cuaca secara real-time, serta pelatihan deteksi anomali sistem menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk meminimalisir biaya perawatan,” kata ketua tim, Ahmad Agus Setiawan, Ph.D, Selasa (12/5).

Selain Ahmad Agus, tim ini beranggotakan Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, Ph.D., dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM, serta kolaborator internasional, Prof.  Nofri Yenita Dahlan, selaku Direktur Solar Research Institute (SRI) UiTM. Dalam kesempatan yang sama, Bayu Dwi Apri Nugroho, Ph.D., anggota tim sekaligus pakar teknologi pertanian dari Fakultas Teknologi Pertanian dan tenaga ahli di BAPPENAS, menekankan pentingnya integrasi data iklim dalam pengembangan agrivoltaic dalam proyek ini. “Optimalisasi mikroklimat menjadi kunci agar panel surya tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan tanaman hortikultura di bawahnya,”  tuturnya.

Agus menuturkan pihaknya baru saja menyelesaikan rangkaian kunjungan strategis ke Malaysia pada tanggal 5–9 Mei lalu guna memperkuat kolaborasi internasional dalam pengembangan teknologi agrivoltaic di Kalurahan Pandowoharjo. Kunjungan tersebut bertujuan untuk melakukan transfer pengetahuan terkait manajemen energi surya pada berbagai skala dan aplikasinya di sektor pertanian. “Kami ingin memastikan sistem yang kita bangun di Pandowoharjo memiliki standar global,” ungkap Agus.

Selama di Malaysia, kata Agus, tim mengunjungi UiTM Large Solar Scale (LSS) Park 2 di Gambang, Pahang, untuk mempelajari tata kelola sistem surya berkapasitas besar. Dengan didampingi oleh SRI UiTM, tim UGM juga melakukan kunjungan ke Universiti Putra Malaysia (UPM). Kunjungan tersebut membuka wawasan baru mengenai potensi integrasi panel tata surya dengan peternakan dan tanaman pangan.

Dalam pertemuan dengan tim UGM, Prof. Mohammad Effendy bin Yaacob, seorang akademisi dari UPM menekankan agar teknologi ini dapat memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan petani. Sementara Nofri Yenita Dahlan, Direktur SRI UiTM menghimbau agar perencanaan agrivoltaic dilakukan secara lebih matang. “Perencanaan agrivoltaic dilakukan secara matang melalui simulasi energy yield dan analisis shading agar produktivitas tanaman tetap terjaga,” jelasnya.

Penulis : Diyana Khoirunnisa

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Ahmad Agus Setiawan

Artikel Wujudkan Desa Mandiri Hijau, UGM Kembangkan Agrivoltaic Smart Farming di Pandowoharjo Sleman pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/wujudkan-desa-mandiri-hijau-ugm-kembangkan-agrivoltaic-smart-farming-di-pandowoharjo-sleman/feed/ 0
Dosen UGM Kembangkan “Denteksi”, Platform Skrining Kesehatan Gigi Berbasis AI https://ugm.ac.id/id/berita/dosen-ugm-kembangkan-denteksi-platform-skrining-kesehatan-gigi-berbasis-ai/ https://ugm.ac.id/id/berita/dosen-ugm-kembangkan-denteksi-platform-skrining-kesehatan-gigi-berbasis-ai/#respond Tue, 28 Apr 2026 05:04:37 +0000 https://ugm.ac.id/?p=92979 Dosen Prodi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak, Sekolah Vokasi UGM, Muhammad Fakhurrifqi, S.Com., M.Cs., berhasil mengembangkan platform skrining kesehatan gigi berbasis Artificial Intelligence (AI). Hasil inovasi yang dinamakan Denteksi ini, cukup membutuhkan hasil jepretan foto kamera ponsel dari berbagai sisi yang kemudian dianalisis untuk mengetahui tingkat kesehatan gigi pasien secara keseluruhan. Platform ini memiliki tingkat akurasi […]

Artikel Dosen UGM Kembangkan “Denteksi”, Platform Skrining Kesehatan Gigi Berbasis AI pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Dosen Prodi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak, Sekolah Vokasi UGM, Muhammad Fakhurrifqi, S.Com., M.Cs., berhasil mengembangkan platform skrining kesehatan gigi berbasis Artificial Intelligence (AI). Hasil inovasi yang dinamakan Denteksi ini, cukup membutuhkan hasil jepretan foto kamera ponsel dari berbagai sisi yang kemudian dianalisis untuk mengetahui tingkat kesehatan gigi pasien secara keseluruhan. Platform ini memiliki tingkat akurasi hasil pemeriksaan mencapai 90 persen untuk skrining gigi sehat. Sementara itu, pada skrining karies, akurasi juga telah mencapai lebih dari 80 persen.

Rifqi menyampaikan kisah di balik pengembangan Denteksi  mengaku idenya digagas pada tahun 2021 saat pandemi covid-19. Pembatasan sosial berskala besar di kala itu menjadi tantangan tersendiri dalam proses konsultasi dan pemeriksaan gigi, yang membatasi intensitas interaksi antara dokter gigi dan pasien.

Menggandeng dua orang rekan dari Puskesmas Kebayoran Baru, Jakarta Selatan,  Rifqi bersama drg. Dewi Arifahni, MHPM dan drg. Dhinintya Hyta Narissi bersama tim mengembangkan Teledentistry menggunakan aplikasi chat, dimana pasien dapat berkonsultasi dengan dokter. Seiring meningkatnya jumlah peminat, Rifqi dan tim mengembangkan aplikasi computer vision. Penyesuain tersebut meliputi kurasi jumlah foto hanya menjadi tiga sisi, penambahan arahan standar pengambilan foto, hingga pengembangan Odontogram yang menyajikan rekam medis dan rekomendasi tindakan bagi pasien, yang baru dirilis di awal tahun ini. “Kalau dulu periksa gigi itu kan harus ketemu dokter gigi, diperiksa satu per satu. Nah kalau di Denteksi, cukup foto bagian depan, atas, sama bawah, langsung kelihatan. Versi sekarang, kita menambahkan beberapa algoritma untuk menghadirkan rekam medis, Odontogram. Posisi nomor (gigi) berapa, sakit apa, udah langsung dibuat hasil laporannya dan tingkat akurasi jauh lebih tinggi,” paparnya, Selasa (28/4).

Denteksi AI dental screening platform analyzing smartphone images for oral health assessmentHasil skrining gigi sehat maupun karies telah terbukti akurat dan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Meski demikian, Rifqi juga menegaskan bahwa dalam berbagai bidang, AI masih berada di bawah level profesional, sehingga ia tetap menyarankan validasi pakar untuk pengambilan tindakan lebih lanjut. “Setiap saya ketemu pakar, mereka sudah menerima dan selalu mandukung. Tetapi, skrining kan gunanya untuk mengetahui level awal saja. Kalau ada perlu tindakan lebih lanjut silahkan ketemu dokter gigi. Untuk penegakan diagnosis masih tetap butuh expert,” ujarnya.

Sejak dirilis pada Agustus 2022, Denteksi telah menyabet pengakuan dari berbagai kompetisi inovasi maupun lembaga resmi. Denteksi, yang saat itu masih bernama Senyumin, bersama Puskesmas Kebayoran Baru Jakarta meraih penghargaan untuk kategori mutu pelayanan kesehatan pada Indonesia Health Inovation Award (IHIA) tahun 2022. Masih di tahun yang sama, Juara 1 pada Konvensi Mutu Tingkat Provinsi DKI Jakarta 2022 tidak luput dari bidikan. Tahun selanjutnya, eksistensi Denteksi semakin diakui dengan award Jakarta Innovation Awards (JIA) 2023 yang diselenggarakan oleh Bappeda Provinsi DKI Jakarta pada September 2023.

Tentu sederet prestasi ini tidak akan diraih tanpa kredibilitas produk yang dihadirkan. Pemanfaatan Denteksi sendiri beroperasi di bawah naungan PT Senyum Cerdas Indonesia. Diketahui, dalam satu kali praktik, Denteksi dapat melakukan pemeriksaan pada sekitar 100 orang anak dalam kurun waktu kurang dari 3 jam. Beberapa pihak yang telah bekerja sama menyelenggarakan praktik skrining meliputi Jakarta, Jogja, hingga NTB. Meskipun kolaborator pengguna masih terbatas, laman telah dapat diakses dan digunakan secara terbuka oleh publik melalui tautan https://denteksi.senyumcerdas.id/

Sebagai inisiator, Rifqi menuturkan pihaknya membuka diri untuk kesempatan kolaborasi dengan berbagai pihak. Kepercayaan dan pengakuan dari berbagai pakar tentu menjadikan potensi Denteksi sebagai asisten AI masa depan yang dapat membantu kinerja dan menjawab keterbatasan jumlah dokter gigi di Indonesia demi mengupayakan kesehatan gigi generasi yang lebih optimal.

Penulis : Ika Agustin

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Tim Denteksi

Artikel Dosen UGM Kembangkan “Denteksi”, Platform Skrining Kesehatan Gigi Berbasis AI pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dosen-ugm-kembangkan-denteksi-platform-skrining-kesehatan-gigi-berbasis-ai/feed/ 0