Penelitian Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/category/penelitian-dan-inovasi/penelitian/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Sat, 29 Aug 2026 03:30:33 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 Peneliti UGM Ungkap Potensi Kolagen Kulit Kambing dan Domba untuk Antioksidan dan Penurun Tensi  https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-ungkap-potensi-kolagen-kulit-kambing-dan-domba-untuk-antioksidan-dan-penurun-tensi/ https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-ungkap-potensi-kolagen-kulit-kambing-dan-domba-untuk-antioksidan-dan-penurun-tensi/#respond Sat, 29 Aug 2026 03:26:26 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97073 Kulit kambing dan domba sering digunakan sebagai bahan baku bagi industri penyamakan kulit untuk diolah menjadi kulit tersamak (leather) yang diolah menjadi produk kerajinan kulit dari produk sandang, aksesoris fashion hingga furniture. Namun di tangan Dosen Peternakan UGM, kolagen yang terkandung dalam kulit tersebut mampu diolah menjadi bahan Oligopeptida yang mempunyai kemampuan sebagai agen antihipertensi […]

Artikel Peneliti UGM Ungkap Potensi Kolagen Kulit Kambing dan Domba untuk Antioksidan dan Penurun Tensi  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kulit kambing dan domba sering digunakan sebagai bahan baku bagi industri penyamakan kulit untuk diolah menjadi kulit tersamak (leather) yang diolah menjadi produk kerajinan kulit dari produk sandang, aksesoris fashion hingga furniture. Namun di tangan Dosen Peternakan UGM, kolagen yang terkandung dalam kulit tersebut mampu diolah menjadi bahan Oligopeptida yang mempunyai kemampuan sebagai agen antihipertensi dan antioksidan. “Kolagen yang diisolasi dari Kulit kambing dan domba dapat menghasilkan Oligopeptida yang mempunyai kemampuan sebagai agen antihipertensi dan antioksidan,” kata Guru Besar Fakultas Peternakan UGM bidang teknologi hasil ternak Prof. Yuny Erwanto, Sabtu (29/8).

Alsan Yuny memilih sumber kolagen dari kulit domba dan kambing dikarenakan sumber bahan tersebut populer di masyarakat karena sebagai sumber daging yang banyak dikonsumsi. Sementara pengolahan kulit kambing dan domba selama ini lebih banyak digunakan sebagai bahan baku penyamakan. “Potensi hasil ikutan berapa kulit sebagai kolagen akan memberikan nilai tambah bagi usaha pemotongan kambing dan domba,” jelasnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, untuk mendapatkan senyawa oligopeptida dari kolagen kulit kambing dan domba ini diisolasi dengan berbagai metode kemudian dilakukan proses hidrolisis dengan enzim pencernaan manusia. Selanjutnya, hasil pemotongan oligopeptida menjadi rantai pendek inilah yang kemudian mampu menghambat kerja Angiotensin Converting Enzyme yaitu Enzim yang merubah angiotensin 1 menjadi angiotensin 2 yang memicu tekanan darah tinggi. “Apabila kerja enzim ini dihambat dengan Oligopeptida maka bersamaan akan menurunkan tekanan darah,” paparnya.

Menurutnya, potensi pemurnian kolagen menjadi Oligopeptida punya peluang besar sebagai terapi gangguan tekanan darah tinggi melalui mekanisme biologis karena merupakan bahan natural yang tidak memberikan efek samping sebagaimana obat kimia selama ini.

Atas hasil penelitiannya ini, Yuny diundang oleh Jining medical University, Jining, Shandong Province, China sebagai Pembicara Utama dalam acara The 2026 International Symposium on Functional Foods and Health Promotion 25-26 Agustus 2026. Selain Yuny, Guru Besar Farmasi UGM, Prof Abdul Rohman menyampaikan presentasi terkait dengan pengembangan metode analisis untuk autentifikasi pangan.

Dekan School of Public Health Jining Medical University Prof. Leen Li menyambut baik dan mengapresiasi materi yang disampaikan oleh dua pakar UGM tersebut. Dekan Leen Li menegaskan Pemerintah Provinsi Shandong memberikan dukungan penuh untuk pengembangan pangan functional masa depan yang sangat dinantikan untuk mendukung gaya hidup sehat. Usai pelaksanaan Symposium dilanjutkan diskusi dan permintaan dukungan pada pakar UGM terkait rencana pembentukan laboratorium deteksi halal yang ingin dibangun oleh Kampus tersebut.

Seperti diketahui, Provinsi Shandong merupakan daerah pertanian di China yang menghasilkan banyak produk yang di ekspor ke Banyak Negara. Dukungan lembaga halal akan sangat bermanfaat agar market share produk produk pertanian dan peternakan mereka semakin meluas. Perintisan kerjasama ini telah diinisiasi Prof Yuny Erwanto sejak setahun lalu bersama dengan Mitra dari Korea dalam penelitian dan publikasi bersama.

Penulis : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Peneliti dan shutterstock

Artikel Peneliti UGM Ungkap Potensi Kolagen Kulit Kambing dan Domba untuk Antioksidan dan Penurun Tensi  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-ungkap-potensi-kolagen-kulit-kambing-dan-domba-untuk-antioksidan-dan-penurun-tensi/feed/ 0
Telusuri Jejak Penyelam TNI AL, Dosen Sejarah UGM Raih Brevet Kehormatan https://ugm.ac.id/id/berita/telusuri-jejak-penyelam-tni-al-dosen-sejarah-ugm-raih-brevet-kehormatan/ https://ugm.ac.id/id/berita/telusuri-jejak-penyelam-tni-al-dosen-sejarah-ugm-raih-brevet-kehormatan/#respond Fri, 28 Aug 2026 04:20:12 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97021 Di era Perang Kemerdekaan, Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) lebih banyak bertempur di palagan darat. Bahkan pasca Konferensi Meja Bundar, ALRI baru dapat melanjutkan membangun kekuatan mereka di laut. Namun tidak banyak yang mengungkap peran penyelam TNI AL dalam mempertahankan kemerdekaan hingga dalam era mengisi kemerdekaan dalam kegiatan penyelaman dan penyelamatan bawah air. Sejarawan UGM […]

Artikel Telusuri Jejak Penyelam TNI AL, Dosen Sejarah UGM Raih Brevet Kehormatan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Di era Perang Kemerdekaan, Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) lebih banyak bertempur di palagan darat. Bahkan pasca Konferensi Meja Bundar, ALRI baru dapat melanjutkan membangun kekuatan mereka di laut. Namun tidak banyak yang mengungkap peran penyelam TNI AL dalam mempertahankan kemerdekaan hingga dalam era mengisi kemerdekaan dalam kegiatan penyelaman dan penyelamatan bawah air.

Sejarawan UGM Satrio Dwicahyo, M.Sc., M.A., bergabung dalam tim riset sejarah penyelam Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Laut (TNI-AL). Tim riset ini dipimpin langsung oleh Komandan Komando Penyelam dan Penyelamatan Bawah Air (Koppeba) Komando Armada Republik Indonesia, Laksamana Pertama TNI Liber Sihombing.

Bersama tim, Satrio turut berpartisipasi dalam upaya penelusuran berbagai sumber sejarah terkait penyelam TNI-AL yang tersimpan di berbagai tempat seperti Arsip Nasional Republik Indonesia di Jakarta, Perpustakaan Universitas Leiden, dan Arsip Nasional Belanda di Den Haag. Menariknya, Satrio adalah satu-satunya akademisi di dalam tim ini.

Menurut Satrio, penelitian mengenai sejarah penyelam TNI-AL memiliki tantangan tersendiri. Namun, kerja sama di dalam tim sangat konstruktif. Dikatakan Satrio, dalam praktiknya, menulis sejarah tak ubahnya pekerjaan penyelam, yakni menyelami sumber sejarah dan melakukan pengangkatan fakta-fakta untuk menciptakan narasi sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Satrio menuturkan bahwa perlu ada penyegaran perspektif dalam sejarah militer Indonesia, yaitu perspektif yang lebih luas dari sorotan atas adegan pertempuran. “Sejarah yang hanya fokus pada pertempuran relatif tidak dapat menangkap kompleksitas masa lalu, bahkan cenderung seperti film Hollywood. Pembaca sering disuguhkan narasi ketika kapal perang beraksi, tetapi tidak banyak yang tahu bahwa sejarah angkatan laut lebih luas daripada topik tersebut” ujar Satrio, Jumat (28/8).

Dalam riset sejarah kali ini, kontribusi penyelam TNI-AL dapat dijadikan format ideal satuan militer di era modern dimana kemampuan penyelaman dan penyelamatan bawah air membuat mereka selalu relevan dalam konteks perang maupun damai” imbuhnya.

Meski begitu, dinamika organisasi dan perubahan nomenklatur satuan penyelam TNI-AL dari masa ke masa membuat proses penelusuran arsip menjadi lebih kompleks dan membutuhkan verifikasi yang cermat.

Hasil riset ini dituangkan buku berjudul “Wicak Wirèng Warih: Penyelam TNI-AL dalam Arus Sejarah Selam Indonesia”, yang untuk sementara akan mengalami pengkajian lebih lanjut sebelum menjadi sebuah bacaan publik. Dikatakan Satrio, narasi konsep buku ini mencakup sejarah penyelam TNI-AL yang turut membangun eksplorasi dunia bawah air di Indonesia dengan rentang waktu sejak tahun 1950-an hingga tahun 2025. Adapun Frasa Wicak Wirèng Warih bermakna “bijaksana dan berani di air” dan merupakan motto para penyelam TNI-AL.

Atas kontribusinya, Komandan Koppeba Koarmada RI, Laksamana Pertama TNI Liber Sihombing menganugerahkan Satrio berupa brevet kehormatan penyelam TNI-AL yang juga dikenal sebagai brevet “Wicak Wirèng Warih” atau brevet “Lumba-lumba Perkasa.” Brevet ini adalah penghargaan yang amat sakral bagi penyelam TNI-AL. Brevet yang identik dengan lambang dua lumba-lumba saling berhadapan itu sejatinya hanya dapat diperoleh prajurit TNI-AL yang telah menempuh pendidikan penyelam militer selama tujuh bulan di Sekolah Selam TNI-AL Surabaya. Adapun proses penyerahannya dilakukan oleh Wakil Komandan Koppeba Koarmada RI saat itu, Kolonel Laut (T) Kuswahyudi, S.A.P.,M.Si. di Markas Koppeba Koarmada RI, Jakarta.

Mengikuti rangkaian perayaan secara daring dari Belanda, tempat ia sedang menjalani studi doktoral di Universitas Leiden, Satrio mengaku sangat terhormat menerima penghargaan tersebut. “Saya memahami betapa berharganya sebuah brevet bagi seorang prajurit. Saya menerima penghargaan ini dengan segala kerendahan hati,” kata Satrio.

Sebagai peneliti sejarah, Satrio mengaku penghargaan terbesar bagi saya adalah dapat turut menyusun literatur sejarah dengan target pembaca kalangan profesional, seperti rekan-rekan penyelam TNI-AL.

Sekedar informasi, bertepatan dengan acara tasyakuran peringatan hari jadi Penyelam TNI-AL ke-74 yang dilaksanakan pada 26 Agustus 2026 lalu, naskah buku tersebut diserahkan kepada Panglima Komando Armada Republik Indonesia, Laksamana Madya TNI Dr. Denih Hendrata, S.E., M.M.

Penulis : Salwa

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. TNI AL

Artikel Telusuri Jejak Penyelam TNI AL, Dosen Sejarah UGM Raih Brevet Kehormatan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/telusuri-jejak-penyelam-tni-al-dosen-sejarah-ugm-raih-brevet-kehormatan/feed/ 0
Berbasis Data Geospasial, Mahasiswa UGM Petakan Potensi dan Tantangan Lingkungan Lombok Tengah https://ugm.ac.id/id/berita/berbasis-data-geospasial-mahasiswa-ugm-petakan-potensi-dan-tantangan-lingkungan-lombok-tengah/ https://ugm.ac.id/id/berita/berbasis-data-geospasial-mahasiswa-ugm-petakan-potensi-dan-tantangan-lingkungan-lombok-tengah/#respond Mon, 10 Aug 2026 04:12:21 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96448 Pertumbuhan jumlah penduduk suatu wilayah umumnya diikuti dengan meningkatnya pembangunan di suatu daerah. Namun jika tidak disertai dengan perencanaan pembangunan tata ruang dan pengelolaan lingkungan yang memadai, berpotensi mengganggu keseimbangan lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan kajian wilayah guna menghasilkan informasi atau data mengenai kondisi lokasi, letak, batas, hingga posisi koordinat sebuah daerah. Tim mahasiswa Program […]

Artikel Berbasis Data Geospasial, Mahasiswa UGM Petakan Potensi dan Tantangan Lingkungan Lombok Tengah pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pertumbuhan jumlah penduduk suatu wilayah umumnya diikuti dengan meningkatnya pembangunan di suatu daerah. Namun jika tidak disertai dengan perencanaan pembangunan tata ruang dan pengelolaan lingkungan yang memadai, berpotensi mengganggu keseimbangan lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan kajian wilayah guna menghasilkan informasi atau data mengenai kondisi lokasi, letak, batas, hingga posisi koordinat sebuah daerah.

Tim mahasiswa Program Studi Kartografi dan Penginderaan Jauh (KPJ) Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) belum lama ini melakukan kajian geospasial melalui program Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.  Terhitung selama 5 hari pelaksanaan mulai dari 1 sampai 6 Juli lalu. Tim mahasiswa berhasil melakukan berbagai penelitian lapangan yang mengangkat berbagai isu strategis guna memberikan gambaran tentang kondisi wilayah sekaligus masukan berbasis data dalam praktik pengelolaan lingkungan dan pembangunan daerah. Lewat tema “Analisis Data Lapangan untuk Pemodelan Geospasial dan Geovisualisasi di Kabupaten Lombok Tengah”, mahasiswa mempraktikkan berbagai metode kartografi, sistem informasi geografis (SIG), dan penginderaan jauh untuk mengkaji kondisi wilayah di Kabupaten Lombok Tengah dari beragam perspektif.

Ketua Tim Mahasiswa KKL, Adam Amirul Akbari, mengatakan penelitian yang dilakukan mahasiswa di wilayah Lombok Tengah ini meliputi kualitas lingkungan permukiman, kenyamanan termal kawasan perkotaan, estimasi stok karbon mangrove dan vegetasi. Selanjutnya, tim juga melakukan pemetaan biodiversitas lamun dan burung gosong, kesesuaian lahan pertanian, pemetaan kekeringan dan longsor, hingga analisis sedimentasi Waduk Batujai.

Lewat berbagai topik penelitian tersebut, kata Adam, Tim KKL berharap agar segenap informasi dan data yang telah dikumpulkan dapat bermanfaat baik bagi pemerintah daerah, akademisi, maupun masyarakat.“Kuliah Kerja Lapangan merupakan wadah bagi mahasiswa untuk menunjukkan bahwa ilmu geospasial memiliki peran yang sentral dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan,” kata Adam dalam keterangan yang dikirim Senin (10/8).

Ia menambahkan, setiap anggota kelompok KKL telah mengangkat berbagai isu penelitian guna menghasilkan informasi berbasis data yang dapat membantu memahami kondisi suatu wilayah. “Harapannya, hasil penelitian ini tidak hanya menjadi laporan akademik, tapi juga dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan,” ujar Adam.

Senada dengan Adam, Koordinator Hubungan Masyarakat KKL, Farah Setyani Daniyal, menuturkan bahwa seluruh penelitian yang dikerjakan oleh mahasiswa KKL telah sampai pada tahap akhir pengelolaan data dan penyusunan laporan ilmiah. Menurutnya, banyak temuan data dan informasi menarik yang ditemukan tim saat tengah melakukan penelitian di lokasi KKL. “Ke depannya, kami ingin agar hasil penelitian ini tidak hanya tersimpan sebagai laporan, tapi juga dapat diakses oleh masyarakat luas lewat media yang lebih mudah dipahami,”  harap Farah

Selain menjadi bagian dari proses pembelajaran, ujar Farah, KKL kali ini juga menunjukkan bagaimana pemanfaatan teknologi geospasial dapat mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Adapun informasi yang dihasilkan dari penelitian mahasiswa diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengelolaan sumber daya alam, perencanaan wilayah, mitigasi bencana, serta pengembangan kawasan yang berkelanjutan. “Sebagai bentuk diseminasi hasil penelitian, setiap kelompok akan mempublikasikan ringkasan temuan mereka secara bertahap melalui akun Instagram @kpjugm2023,” jelasnya.

Melalui publikasi di medsos tersebut, katanya, ia berharap hasil penelitian dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas sekaligus memperkenalkan peran ilmu kartografi dan penginderaan jauh dalam memberikan solusi terhadap berbagai persoalan kewilayahan.

Penulis : Agito Sitepu

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Tim KKL

Artikel Berbasis Data Geospasial, Mahasiswa UGM Petakan Potensi dan Tantangan Lingkungan Lombok Tengah pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/berbasis-data-geospasial-mahasiswa-ugm-petakan-potensi-dan-tantangan-lingkungan-lombok-tengah/feed/ 0
Tim Filsafat UGM Kembangkan Riset Pelatihan Menuju Jiwa Merdeka https://ugm.ac.id/id/berita/tim-filsafat-ugm-kembangkan-riset-pelatihan-menuju-jiwa-merdeka/ https://ugm.ac.id/id/berita/tim-filsafat-ugm-kembangkan-riset-pelatihan-menuju-jiwa-merdeka/#respond Mon, 03 Aug 2026 05:46:33 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96191 Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada dan Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA) UIN Imam Bonjol Padang memperkuat kolaborasi akademik dalam penyempurnaan model Coaching Jiwa Merdeka berbasis filsafat dan tasawuf. Kegiatan dengan tajuk Workshop Pengembangan Model Coaching Jiwa Merdeka Berbasis Filsafat dan Tasawuf ini dilaksanakan pada Selasa (28/7) lalu di Aula Mini Lantai 3 FUSA. Sebelumnya, […]

Artikel Tim Filsafat UGM Kembangkan Riset Pelatihan Menuju Jiwa Merdeka pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada dan Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA) UIN Imam Bonjol Padang memperkuat kolaborasi akademik dalam penyempurnaan model Coaching Jiwa Merdeka berbasis filsafat dan tasawuf. Kegiatan dengan tajuk Workshop Pengembangan Model Coaching Jiwa Merdeka Berbasis Filsafat dan Tasawuf ini dilaksanakan pada Selasa (28/7) lalu di Aula Mini Lantai 3 FUSA. Sebelumnya, model ini telah dikembangkan bersama Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA) Cilacap.

Dosen Filsafat UGM, Dr. Heri Santoso, M.Hum., memantik diskusi dengan mengajak peserta merefleksikan berbagai persoalan manusia kontemporer, mulai dari krisis kesehatan mental, hilangnya makna hidup, hingga dominasi teknologi yang semakin menjauhkan manusia dari dirinya sendiri. Berangkat dari kondisi tersebut, Heri menjelaskan mengapa pendekatan coaching dipilih, bukan sekadar training, mentoring, konseling, ataupun terapi. “Tantangan manusia masa kini tidak cukup dijawab dengan penambahan pengetahuan atau penyelesaian masalah, tetapi membutuhkan proses membangunkan kesadaran agar setiap orang mampu menemukan potensi dan jawaban dari dalam dirinya sendiri,” katanya dalam keterangan yang dikirim Senin (3/8).

Heri menjelaskan alasan penggunaan konsep Jiwa Merdeka sebagai tujuan coaching, yaitu membangun manusia yang berpikir jernih, mampu mengelola diri, mengambil keputusan secara sadar, dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya. Untuk itu, model ini memadukan refleksi filsafat dengan kedalaman tasawuf sebagai jalan mengenal diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebagai implementasinya, Heri memperkenalkan empat langkah coaching melalui dialog reflektif menggunakan Surah Al-Fatihah, Al-Qur’an, Asmaul Husna, dan hati nurani sebagai media refleksi dan transformasi diri.

Menanggapi pemaparan tersebut, Prof. Dr. Widia Fitri, S.Ag., M.Hum., Guru Besar Filsafat UIN Imam Bonjol Padang, menyampaikan apresiasi terhadap pengembangan model Coaching Jiwa Merdeka berbasis filsafat dan tasawuf. Menurutnya, model tersebut menghadirkan perspektif baru dalam pengembangan manusia melalui integrasi refleksi filsafat dan spiritualitas tasawuf. “Pendekatan ini menarik secara konseptual sekaligus layak dikembangkan di lingkungan Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama, khususnya melalui Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi,” ujarnya.

Senada dengan itu, Dr. Junizar Suratman, pakar tasawuf UIN Imam Bonjol Padang, mengapresiasi ikhtiar Tim Pengabdian Fakultas Filsafat UGM yang menjadikan tasawuf sebagai salah satu fondasi utama model coaching. Menurutnya, pilihan tersebut sangat tepat karena hakikat tasawuf memang berorientasi pada pembinaan dan pembebasan jiwa agar semakin dekat kepada Allah SWT. “Dalam tradisi tasawuf, perjalanan manusia diarahkan melalui proses penyucian jiwa dari nafs ammarah, nafs lawwamah, hingga nafs muthmainnah. Karena itu, model Coaching Jiwa Merdeka dinilai memiliki landasan filosofis dan spiritual yang kuat untuk terus dikembangkan,” jelasnya.

Sekedar informasi, kegiatan workshop ini ini diikuti oleh para dosen dan pakar di bidang filsafat, tasawuf, serta pengembangan manusia. Drs. Imam Wahyudi, M.Hum., selaku ketua Tim Pengabdian Fakultas Filsafat UGM menyampaikan bahwa model Coaching Jiwa Merdeka merupakan hasil pengembangan bersama Fakultas Filsafat UGM dan Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA) Cilacap yang telah diujicobakan di Institut Agama Islam KH. Sofyan Tsauri (INSIMA) Majenang. Menurutnya, melalui workshop ini menjadi momentum penting untuk memperoleh masukan, kritik, dan penyempurnaan dari para pakar filsafat dan tasawuf sebelum model tersebut dikembangkan lebih luas.

Diskusi pun berlangsung hangat dan interaktif dengan berbagai apresiasi, pertanyaan, serta pengayaan perspektif keilmuan yang disampaikan oleh para peserta, di antaranya Dr. Efendi, M.Ag., Jamaldi, M.Ag., Dr. Zulfis, S.Ag., M.Hum., dan dosen lainnya. Menutup workshop, para peserta berharap kolaborasi akademik antara Fakultas Filsafat UGM dan Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Imam Bonjol Padang semakin kuat melalui Training of Trainers (ToT), uji coba model Coaching Jiwa Merdeka bagi dosen dan mahasiswa, serta pengembangannya sebagai model pembinaan masyarakat di Sumatera Barat.

Penulis : Leony

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Filsafat UGM

Artikel Tim Filsafat UGM Kembangkan Riset Pelatihan Menuju Jiwa Merdeka pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/tim-filsafat-ugm-kembangkan-riset-pelatihan-menuju-jiwa-merdeka/feed/ 0
Kencur Hitam dan Daun Pegagan Mampu Mengurangi Radang Saraf Mata https://ugm.ac.id/id/berita/kencur-hitam-dan-daun-pegagan-mampu-mengurangi-radang-saraf-mata/ https://ugm.ac.id/id/berita/kencur-hitam-dan-daun-pegagan-mampu-mengurangi-radang-saraf-mata/#respond Tue, 28 Jul 2026 04:26:34 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95913 Daun pegagan (Centella asiatica) merupakan tanaman liar yang sering digunakan sebagai obat herbal. Sementara kencur (Kaempferia galanga) merupakan tanaman rempah yang sering digunakan untuk bahan minuman jamu. Kombinasi dari dua tanaman ini ternyata berkhasiat untuk mengobati gangguan penglihatan akibat radang pada saraf mata. Dr. Indra Tri Mahayana, Ph.D., Sp.M., FRSPH., Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK-KMK […]

Artikel Kencur Hitam dan Daun Pegagan Mampu Mengurangi Radang Saraf Mata pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Daun pegagan (Centella asiatica) merupakan tanaman liar yang sering digunakan sebagai obat herbal. Sementara kencur (Kaempferia galanga) merupakan tanaman rempah yang sering digunakan untuk bahan minuman jamu. Kombinasi dari dua tanaman ini ternyata berkhasiat untuk mengobati gangguan penglihatan akibat radang pada saraf mata.

Dr. Indra Tri Mahayana, Ph.D., Sp.M., FRSPH., Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK-KMK UGM mengatakan ia bersama anggota tim peneliti tengah melakukan penelitian terkait khasiat dari kandungan senyawa dari kedua tanaman tersebut. Penelitian ini berangkat dari potensi besar tanaman herbal lokal yang dipadukan dengan pembuktian ilmiah.

Menurutnya, kombinasi kencur hitam dan daun pegagan memiliki potensi sebagai terapi pendamping bagi penderita neuritis optik berdasarkan hasil penelitian sebelumnya. “Kencur hitam merupakan salah satu tanaman herbal khas Yogyakarta yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk unggulan yang dapat menambah nilai ekonomi,” jelasnya dalam Focus Group Discussion (FGD) penelitian tematis bertajuk “Wedang Sahaja: Formulasi Daun Pegagan dan Kencur Hitam sebagai Suplemen Pasien Saraf Mata melalui Pemberdayaan UMKM dan Komunitas Difabel di Kota Yogyakarta” pada Rabu (22/7) di Mal Pelayanan Publik (MPP) Pemerintah Kota Yogyakarta.

Selanjutnya, dr. Muhammad Taufiq Hidayat dari Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK-KMK UGM memaparkan bahwa terapi utama neuritis optik akut selama ini masih berupa pemberian kortikosteroid dosis tinggi.

Namun demikian, penelitian ini terus dikembangkan untuk menemukan terapi pendamping yang mampu memberikan efek neuroprotektif. “Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kencur hitam dan daun pegagan berpotensi memberikan manfaat yang sebanding dengan vitamin B12 dalam membantu mempertahankan fungsi penglihatan pada pasien neuritis optik akut,” katanya.

Rika Fatimah P.L., S.T., M.Sc., Ph.D., selaku Founder, Konseptor, dan Tenaga Ahli Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur sekaligus Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, mengatakan pihaknya melakukan edukasi ke konsumen untuk mengkonsumsi produk-produk lokal yang dihasilkan UMKM. Pasalnya, produk lokal dipandang memiliki karakteristik dan kapasitas produksi yang berbeda dengan industri bermodal besar, sehingga memerlukan ekosistem pasar yang mendukung pertumbuhan dan keberlanjutannya.

Melalui penelitian pemanfaatan potensi kedua tanaman ini, kata Rika, pengembangan produk herbal tidak hanya diarahkan sebagai inovasi kesehatan berbasis bukti ilmiah tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan rantai nilai yang memberikan manfaat bagi petani, UMKM, komunitas difabel, akademisi, pemerintah, hingga konsumen, sekaligus memperkuat posisi produk herbal lokal sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif dan wellness berbasis potensi daerah. “Keberhasilan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh besarnya omzet namun pada konsep rezeki melalui kemampuan membangun keunikan produk, menjaga kesejahteraan para pelaku usaha, serta menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.

Penulis: Jesi

Editor: Gusti Grehenson

Foto: alodokter

Artikel Kencur Hitam dan Daun Pegagan Mampu Mengurangi Radang Saraf Mata pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kencur-hitam-dan-daun-pegagan-mampu-mengurangi-radang-saraf-mata/feed/ 0
Riset Tanaman Herbal Galaktagog Bisa Tingkatkan Produksi ASI, Gibran Ikut Berpartisipasi di Kongres Farmakologi Dunia https://ugm.ac.id/id/berita/riset-tanaman-herbal-galaktagog-bisa-tingkatkan-produksi-asi-gibran-ikut-berpartisipasi-di-kongres-farmakologi-dunia/ https://ugm.ac.id/id/berita/riset-tanaman-herbal-galaktagog-bisa-tingkatkan-produksi-asi-gibran-ikut-berpartisipasi-di-kongres-farmakologi-dunia/#respond Mon, 27 Jul 2026 04:20:21 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95856 Malnutrisi dan stunting masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif secara optimal merupakan salah satu intervensi paling efektif untuk mendukung pertumbuhan anak sekaligus menurunkan risiko stunting. Namun, lebih dari 50% ibu pasca persalinan menghadapi tantangan berupa produksi ASI yang tidak mencukupi sehingga diperlukan berbagai pendekatan […]

Artikel Riset Tanaman Herbal Galaktagog Bisa Tingkatkan Produksi ASI, Gibran Ikut Berpartisipasi di Kongres Farmakologi Dunia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Malnutrisi dan stunting masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif secara optimal merupakan salah satu intervensi paling efektif untuk mendukung pertumbuhan anak sekaligus menurunkan risiko stunting. Namun, lebih dari 50% ibu pasca persalinan menghadapi tantangan berupa produksi ASI yang tidak mencukupi sehingga diperlukan berbagai pendekatan guna mendukung keberhasilan laktasi.

Isu tersebut kini menjadi perhatian komunitas ilmiah internasional. Muhammad Ilham Gibran, mahasiswa program fast-track Magister Ilmu Biomedik dan Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), mendapat kesempatan mempresentasikan hasil penelitiannya pada 20th World Congress of Basic and Clinical Pharmacology (WCP2026) yang berlangsung 12-17 Juli 2026 lalu di Melbourne, Australia.

Kongres yang diselenggarakan setiap tiga hingga empat tahun sekali tersebut merupakan salah satu forum ilmiah bergengsi di bidang farmakologi yang mempertemukan peneliti, klinisi, regulator, pendidik, hingga industri farmasi dari berbagai negara untuk membahas perkembangan terbaru dalam penemuan obat dan terapi berbasis bukti.

Dengan bimbingan Prof. Dr. Mustofa, Apt, M.Kes. dan drg. Fara Silvia Yuliani, M.Sc., Ph.D., Gibran mempresentasikan tinjauan berjudul “Translational Evidence for Herbal Galactagogues: A Systematic Review” yang diterima sebagai poster presentation pada tema Drug Discovery – Basic and Translational. Penelitian tersebut mengangkat pemanfaatan herbal galaktagog, yaitu tanaman yang digunakan untuk membantu meningkatkan produksi ASI, sebagai salah satu alternatif yang banyak dimanfaatkan masyarakat di berbagai negara.

Menurut Gibran, penggunaan tanaman herbal untuk membantu ibu menyusui telah berlangsung secara turun-temurun di banyak budaya, termasuk di Indonesia. Namun, efektivitas maupun keamanannya tidak selalu didukung oleh tingkat bukti ilmiah yang sama. “Penelitian ini berupaya menyusun gambaran menyeluruh mengenai bukti ilmiah yang telah tersedia sehingga dapat menjadi rujukan bagi peneliti, tenaga kesehatan, maupun pengambil kebijakan dalam mengembangkan intervensi berbasis bukti,” kata Gibran, Senin (27/7) di Kampus UGM.

Melalui sintesis puluhan penelitian dari berbagai negara, tinjauan sistematis tersebut memetakan herbal yang telah memiliki dukungan ilmiah paling kuat sekaligus mengidentifikasi kesenjangan penelitian yang masih perlu dijawab. Pendekatan seperti ini dinilai penting karena membantu menghubungkan penelitian dasar di laboratorium dengan penerapannya dalam praktik pelayanan kesehatan atau yang dikenal sebagai penelitian translasional. “Pengembangan obat herbal tidak hanya didasarkan pada pengalaman empiris, tetapi juga pada bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Bagi Indonesia, kata Gibran, penelitian ini memiliki relevan karena dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia, Indonesia memiliki berbagai tanaman yang telah lama dimanfaatkan masyarakat untuk mendukung kesehatan ibu. Namun, agar potensi tersebut dapat berkembang, diperlukan penelitian yang memenuhi standar ilmiah internasional. “Kehadiran hasil penelitian mahasiswa UGM di forum global menjadi salah satu langkah untuk memperkenalkan potensi tersebut sekaligus memperoleh masukan dari komunitas ilmiah internasional,” jelasnya.

Selain menjadi ajang diseminasi hasil penelitian, WCP2026 juga membuka ruang kolaborasi antara akademisi, klinisi, regulator, dan industri farmasi dalam mengembangkan terapi yang lebih aman, efektif, dan berbasis bukti. Selama enam hari penyelenggaraan, kongres menghadirkan berbagai simposium, presentasi ilmiah, diskusi panel, hingga kegiatan jejaring yang membahas isu-isu strategis, mulai dari penemuan obat baru, farmakologi klinis, toksikologi, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pengembangan obat.

Gibran menilai partisipasi dalam forum internasional menjadi kesempatan penting bagi peneliti muda Indonesia untuk tidak hanya mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga membangun jejaring kolaborasi yang dapat mempercepat pengembangan riset di masa mendatang. “Harapannya, penelitian mengenai bahan alam Indonesia dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kesehatan ibu dan anak melalui pendekatan yang berbasis bukti ilmiah,” ujarnya.

Keikutsertaan mahasiswa UGM dalam WCP2026 menunjukkan bahwa penelitian yang dikembangkan di lingkungan universitas tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi turut berkontribusi dalam percakapan global mengenai tantangan kesehatan masyarakat. Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap pengembangan obat berbasis bahan alam dan penguatan layanan kesehatan ibu dan anak, partisipasi ini sekaligus memperkuat posisi UGM sebagai universitas riset yang aktif membangun kolaborasi internasional dan mendorong pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Penulis : Jelita Agustine

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Gibran

Artikel Riset Tanaman Herbal Galaktagog Bisa Tingkatkan Produksi ASI, Gibran Ikut Berpartisipasi di Kongres Farmakologi Dunia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/riset-tanaman-herbal-galaktagog-bisa-tingkatkan-produksi-asi-gibran-ikut-berpartisipasi-di-kongres-farmakologi-dunia/feed/ 0
Manfaatkan Tempe dan Pisang Lokal, UGM dan BRIN Kembangkan Pangan Lokal Cegah Stunting Berbasis Komunitas  https://ugm.ac.id/id/berita/manfaatkan-tempe-dan-pisang-lokal-ugm-dan-brin-kembangkan-pangan-lokal-cegah-stunting-berbasis-komunitas/ https://ugm.ac.id/id/berita/manfaatkan-tempe-dan-pisang-lokal-ugm-dan-brin-kembangkan-pangan-lokal-cegah-stunting-berbasis-komunitas/#respond Wed, 22 Jul 2026 09:07:23 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95766 Tim peneliti UGM, BRIN dan IDI Gunungkidul serta RS Panti Rahayu Gunungkidul mendorong masyarakat Paliyan, Gunungkidul memanfaatkan sumber daya pangan lokal yang melimpah di wilayahnya sebagai upaya meningkatkan asupan gizi, khususnya bagi kelompok yang paling rentan, yaitu ibu hamil dan balita. Ibu hamil menjadi sasaran utama kegiatan ini karena pencegahan stunting harus dilakukan sejak awal […]

Artikel Manfaatkan Tempe dan Pisang Lokal, UGM dan BRIN Kembangkan Pangan Lokal Cegah Stunting Berbasis Komunitas  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Tim peneliti UGM, BRIN dan IDI Gunungkidul serta RS Panti Rahayu Gunungkidul mendorong masyarakat Paliyan, Gunungkidul memanfaatkan sumber daya pangan lokal yang melimpah di wilayahnya sebagai upaya meningkatkan asupan gizi, khususnya bagi kelompok yang paling rentan, yaitu ibu hamil dan balita. Ibu hamil menjadi sasaran utama kegiatan ini karena pencegahan stunting harus dilakukan sejak awal siklus kehidupan. Kegiatan edukasi ini diselenggarakan sebagai upaya pencegahan stunting yang tidak hanya berfokus pada anak tetapi juga pada kesehatan dan status gizi ibu.

“Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan tumbuh kembang anak, sehingga dukungan terhadap kesehatan dan kecukupan gizi ibu hamil menjadi salah satu investasi terbaik untuk mencegah stunting di masa depan,” jelas Digna Niken Purwaningrum, S.Gz., MPH., Ph.D., selaku ketua program pengabdian dari FK-KMK UGM, Rabu (22/7).

Digna memaparkan bahwa program ini memanfaatkan dua komoditas yang dekat dengan kehidupan masyarakat Paliyan, yaitu tempe dan pisang. Tempe merupakan sumber protein nabati berkualitas tinggi yang kaya protein, zat besi, kalsium, seng, folat, vitamin B, serta senyawa bioaktif seperti isoflavon dan peptida bioaktif hasil fermentasi yang memiliki aktivitas antioksidan dan mendukung pertumbuhan.  Sementara itu, pisang Utri menyediakan karbohidrat sebagai sumber energi, serat pangan, kalium, vitamin B6, vitamin C, serta senyawa fenolik yang berperan sebagai antioksidan.

Digna menuturkan, pihaknya melakukan serangkaian penelitian dan analisis kandungan gizi yang dilakukan oleh Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN, kedua bahan tersebut diformulasikan menjadi produk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang sesuai dengan kebutuhan gizi ibu hamil berisiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan anemia. “Kombinasi zat gizi makro, mikronutrien, dan senyawa bioaktif dari tempe dan pisang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan gizi ibu menyusui dan anak sebagai upaya pencegahan stunting melalui pola makan bergizi seimbang,” paparnya.

Memasuki tahun kedua pada 2026, program pengabdian ini diperluas sasarannya dengan menambah lima kalurahan baru yaitu Giring, Grogol, Mulusan, Pampang, dan Sodo. Fokus program juga berkembang dari ibu hamil menjadi ibu menyusui melalui edukasi mengenai gizi pasca persalinan, ASI eksklusif, dan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat. “Sepanjang 2025, kami berhasil mengembangkan PMT berbasis tempe dan pisang, melatih para kader, dan mendistribusikannya 24 kali kepada 51 ibu hamil di tujuh desa wilayah Puskesmas Paliyan,” ungkap Digna.

Untuk menandai dimulainya pelaksanaan tahun kedua, FK-KMK UGM bersama para mitra menyelenggarakan Kick-Off Meeting Program Pengabdian Masyarakat bertajuk “Penguatan dan Perluasan Program Gizi Berbasis Pangan Lokal: Pendekatan Peer Trainer dan Kader untuk Ibu Hamil dan Menyusui” pada 7 Mei 2026 di Balai Kapanewon Paliyan, Gunungkidul. Pada pertemuan ini, disepakati pula strategi implementasi yang akan dilakukan pada tahun ini sekaligus memperkuat komitmen lintas sektor dalam mendukung pencegahan stunting berbasis masyarakat.

Digna mengatakan bahwa salah satu inovasi utama yang dikembangkan untuk tahun kedua adalah pendekatan peer trainer. Model pembelajaran berbasis komunitas yang melibatkan kader dan ibu binaan tahun pertama sebagai pelatih bagi kader baru di wilayah perluasan. Pendekatan ini dinilai efektif karena pengetahuan disampaikan oleh sesama anggota komunitas yang memahami konteks lokal dan tantangan sehari-hari masyarakat. “Selain mempercepat transfer pengetahuan, pendekatan peer trainer juga memperkuat rasa kepemilikan masyarakat terhadap program sehingga mereka dapat menjalankan program secara mandiri, tutur Digna.

Bagi Digna keberlanjutan sebuah program akan lebih bermakna apabila dirancang berdasarkan kebutuhan nyata di masyarakat dan dilakukan melalui kolaborasi yang kuat. Oleh karena itu, tim FK-KMK siap untuk terus bekerja sama dalam berbagai upaya peningkatan status gizi ibu hamil, ibu menyusui, balita, maupun kelompok rentan lainnya melalui inovasi-inovasi berbasis masyarakat.

Kedepannya, Digna berharap kegiatan ini dapat menjadi salah satu contoh bahwa pangan lokal yang tersedia di masyarakat memiliki potensi besar untuk mendukung upaya pencegahan stunting. Melalui pengolahan yang tepat, bahan pangan lokal dapat menjadi makanan yang lezat, bergizi, dan sesuai dengan kebutuhan ibu hamil, termasuk bagi mereka yang sering mengalami penurunan nafsu makan selama kehamilan. Ia juga berharap inovasi ini dapat dimanfaatkan sebagai menu PMT, direplikasi oleh kader di wilayah lain, bahkan membuka peluang untuk mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat. “Saya berharap kolaborasi yang baik ini dapat terus berlanjut dalam berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat di masa mendatang,” harapnya.

Reportase : Nofathana Saputra dan Muhammad Ilham Gibran/FK-KMK

Penulis      : Jesi

Editor        : Gusti Grehenson

Foto           : Dok.Tim Pengabdian FK-KMK dan magnific

Artikel Manfaatkan Tempe dan Pisang Lokal, UGM dan BRIN Kembangkan Pangan Lokal Cegah Stunting Berbasis Komunitas  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/manfaatkan-tempe-dan-pisang-lokal-ugm-dan-brin-kembangkan-pangan-lokal-cegah-stunting-berbasis-komunitas/feed/ 0
Peneliti UGM Ungkap Jenis Parasit Serang Komodo di Habitat Aslinya https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-ungkap-jenis-parasit-serang-komodo-di-habitat-aslinya/ https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-ungkap-jenis-parasit-serang-komodo-di-habitat-aslinya/#respond Thu, 02 Jul 2026 08:36:23 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95119 Komodo (Varanus komodoensis) merupakan spesies kadal terbesar di dunia yang hanya ditemukan di beberapa pulau di Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Sebagai predator puncak sekaligus satwa endemik yang berstatus rentan punah (Vulnerable), upaya konservasi selama beberapa dekade terakhir lebih banyak berfokus pada dinamika populasi dan ekologi habitat. Sementara itu, aspek kesehatan, khususnya penyakit parasit pada komodo […]

Artikel Peneliti UGM Ungkap Jenis Parasit Serang Komodo di Habitat Aslinya pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Komodo (Varanus komodoensis) merupakan spesies kadal terbesar di dunia yang hanya ditemukan di beberapa pulau di Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Sebagai predator puncak sekaligus satwa endemik yang berstatus rentan punah (Vulnerable), upaya konservasi selama beberapa dekade terakhir lebih banyak berfokus pada dinamika populasi dan ekologi habitat. Sementara itu, aspek kesehatan, khususnya penyakit parasit pada komodo liar, masih relatif sedikit diteliti.

Menurut hasil penelitian tim Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM,  menemukan cacing pita endemik Kapsulotaenia sandgroundi dengan prevalensi 6,67 persen. Parasit ini memiliki adaptasi berupa kapsul pelindung ganda pada telurnya sehingga mampu bertahan hidup pada lingkungan sabana semi-arid yang menjadi habitat komodo.

Guru Besar Bidang Parasitologi FKH UGM, Prof. Wisnu Nurcahyo, mengatakan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa parasit tidak hanya dipandang sebagai penyebab penyakit, tetapi juga dapat menjadi indikator kesehatan ekosistem, dan itu merupakan tonggak penting bagi kedokteran hewan satwa liar. “Parasit bukan sekadar patogen, melainkan indikator integritas ekologis. Ledakan populasi ektoparasit dan interaksinya dengan lingkungan serta manusia memproyeksikan perlunya manajemen biosekuriti yang lebih strategik,” ungkapnya, Kamis (2/7).

Wisnu menyebutkan hasil penelitian didapat oleh mahasiswa jenjang doktor Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM), drh. Aji Winarso, M.Sc., yang melakukan penelitian disertasi mengenai keragaman parasit pada komodo liar di habitat alaminya melalui pendekatan multidisiplin yang memadukan parasitologi klasik, taksonomi molekuler, dan ekologi lanskap dalam kerangka One Health. Penelitian disertasi melalui skema Joint Supervision ini dibimbing oleh Prof. Dr. med. vet. drh. Raden Wisnu Nurcahyo, Dr. drh. Dwi Priyowidodo, M.P., serta Assoc. Prof. MVDr. Ivona Foitová, Ph.D., dari Masaryk University, Republik Ceko.

Dihubungi secara terpisah, Aji Winarso menuturkan penelitian dilakukannya menyoroti dari sisi aspek kesehatan komodo liar masih menjadi bagian yang belum banyak dikaji dalam upaya konservasi. Selama ini, sebagian besar penelitian lebih menitikberatkan pada populasi dan ekologi, padahal penyakit dapat menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup satwa endemik yang hidup di pulau-pulau kecil. “Kami ingin membangun baseline data mengenai patogen dan parasit komodo sebagai dasar untuk mendeteksi ancaman penyakit sejak dini, terutama di tengah meningkatnya interaksi komodo dengan manusia akibat aktivitas pariwisata,” ujarnya.

Penelitian diawali dengan pemenuhan aspek legal melalui ethical clearance dan perizinan akses sumber daya genetik dari Kementerian Kehutanan. Selanjutnya, tim berkoordinasi dengan Balai Taman Nasional Komodo sebagai mitra penelitian sebelum melakukan observasi habitat dan pengambilan sampel biologis berupa feses, darah, serta ektoparasit komodo liar.

Sampel yang diperoleh kemudian diidentifikasi secara morfologis menggunakan mikroskop. Untuk memastikan identitas setiap parasit, tim melanjutkan analisis menggunakan metode molekuler sehingga hasil identifikasi dapat dipastikan secara lebih akurat.

Dari hasil penelitian, Aji mengatakan keberadaan cacing di saluran pencernaan maupun caplak pada kulit komodo merupakan kondisi yang lazim ditemukan di alam liar. Namun, peningkatan beban parasit akibat perubahan habitat atau stres lingkungan dapat mengancam daya tahan hidup komodo.

Ia juga menyoroti temuan caplak komodo yang menggigit manusia di Pulau Rinca sebagai sinyal penting bagi pengelola kawasan konservasi. Caplak berpotensi menjadi vektor berbagai mikroorganisme patogen sehingga interaksi yang terlalu dekat antara komodo, satwa mangsa seperti rusa dan babi, serta manusia di kawasan wisata dapat meningkatkan risiko spillover atau lompatan penyakit. “Jika terjadi interaksi yang terlalu dekat tanpa batas antara komodo, satwa mangsa (seperti rusa dan babi), dan manusia di zona wisata, risiko lompatan penyakit sangat nyata,” ungkapnya.

Dengan begitu, Aji menyarankan kepada pengelola Taman Nasional Komodo (TNK) dan pemerintah agar segera membangun sistem cegah dini kesehatan berbasis one health. Ia mengatakan bahwa pengelola arus rutin memantau tren parasit pada komodo secara berkala, memastikan satwa mangsanya bebas dari penyakit menular, dan memperkuat biosekuriti bagi petugas dan wisatawan agar rantai penularan zoonosis bisa terputus.

Penulis : Zabrina Kumara

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Aji Winarso

Artikel Peneliti UGM Ungkap Jenis Parasit Serang Komodo di Habitat Aslinya pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-ungkap-jenis-parasit-serang-komodo-di-habitat-aslinya/feed/ 0
Dosen UGM Ungkap Pengaruh Belanja Lingkungan Daerah Terhadap Tingkat Polusi https://ugm.ac.id/id/berita/dosen-ugm-ungkap-pengaruh-belanja-lingkungan-daerah-terhadap-tingkat-polusi/ https://ugm.ac.id/id/berita/dosen-ugm-ungkap-pengaruh-belanja-lingkungan-daerah-terhadap-tingkat-polusi/#respond Wed, 24 Jun 2026 01:19:28 +0000 https://ugm.ac.id/?p=94813 Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada Data Avicenna, S.E., M.Ec.Pol., ikut terlibat dalam penulisan buku internasional bertajuk Accelerating Climate Action in Asia and the Pacific: Fiscal Policy Solutions yang diterbitkan oleh Asian Development Bank Institute (ADBI) bekerja sama dengan School of Oriental and African Studies (SOAS) University of London. […]

Artikel Dosen UGM Ungkap Pengaruh Belanja Lingkungan Daerah Terhadap Tingkat Polusi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada Data Avicenna, S.E., M.Ec.Pol., ikut terlibat dalam penulisan buku internasional bertajuk Accelerating Climate Action in Asia and the Pacific: Fiscal Policy Solutions yang diterbitkan oleh Asian Development Bank Institute (ADBI) bekerja sama dengan School of Oriental and African Studies (SOAS) University of London.

Tim penulis menelaah pengaruh belanja lingkungan pemerintah daerah terhadap upaya pengurangan pencemaran udara di Indonesia dengan memanfaatkan data satelit untuk mengukur kualitas udara. Penelitian ini tergolong menjadi salah satu yang pertama di Indonesia dengan secara sistematis menelusuri hubungan antara pengeluaran lingkungan daerah dan tingkat polusi di level kabupaten/kota.

Menggunakan data longitudinal dari 474 kabupaten/kota sepanjang 2012–2019, hasil penelitian memperlihatkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kenaikan belanja lingkungan dan laju pertumbuhan polusi nitrogen dioksida (NO₂). Lebih lanjut, Data Avicenna mengungkapkan bahwa hubungan tersebut terutama terlihat pada polusi yang berasal dari aktivitas pembakaran bahan bakar. “Temuan ini menunjukkan adanya keterkaitan antara peningkatan belanja lingkungan daerah dan perlambatan pertumbuhan polusi NO₂ yang umumnya berkaitan dengan aktivitas pembakaran bahan bakar, termasuk dari sektor transportasi,” jelas Data Avicenna, Rabu (24/6).

Meski demikian, penelitian ini tidak menemukan hubungan signifikan terhadap penurunan polusi sulfur dioksida (SO₂). Menurut Data Avicenna, temuan ini mengindikasikan bahwa pengaruh belanja lingkungan terhadap polusi udara dapat bervariasi tergantung jenis polutannya. “Artinya, belanja lingkungan daerah cenderung lebih efektif menekan pertumbuhan polusi yang berasal dari aktivitas transportasi, sementara dampaknya terhadap pencemaran dari sektor industri belum tampak signifikan,” jelasnya.

Selain mengungkap efektivitas kebijakan lingkungan, penelitian ini juga menggarisbawahi pentingnya pemanfaatan teknologi satelit dalam mendukung evaluasi kebijakan publik. “Saya kira ini salah satu pendekatan yang dinilai cocok bagi negara berkembang seperti Indonesia, yang masih memiliki keterbatasan jaringan pemantauan kualitas udara berbasis darat,” ujarnya.

Buku Accelerating Climate Action in Asia and the Pacific: Fiscal Policy Solutions memuat berbagai hasil riset mengenai peran kebijakan fiskal dalam mempercepat aksi iklim di kawasan Asia dan Pasifik. Partisipasi Data Avicenna dalam publikasi ini merupakan salah satu bentuk kontribusi akademisi FEB UGM dalam menyediakan bukti ilmiah yang dapat memperkuat perumusan kebijakan lingkungan yang lebih efektif, sekaligus mendukung upaya Indonesia mencapai target emisi nol bersih (net zero emission).

Dalam buku tersebut, Data Avicenna menulis Chapter 10 berjudul “Assessing Local Environmental Spending and Air Pollution Reduction in Indonesia: A Satellite Data Approach” bersama tiga peneliti lain, yaitu Ega Kurnia Yazid (Research Fellow di Decarbonization and Development Lab, CSIS Indonesia), Kelvin Ramadhan Hidayat (peneliti independen), dan Muhammad Faiz Zaidan Alharkan (mahasiswa Magister Program Studi Mineral and Energy Economics di Colorado School of Mines).

Reportase     : Kurnia Ekaptiningrum/Humas FEB

Penulis          : Cyntia Noviana

Foto              : Media Indonesia dan Dok. FEB UGM

Artikel Dosen UGM Ungkap Pengaruh Belanja Lingkungan Daerah Terhadap Tingkat Polusi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dosen-ugm-ungkap-pengaruh-belanja-lingkungan-daerah-terhadap-tingkat-polusi/feed/ 0
Peneliti UGM Kembangkan Alas Dalam Sepatu untuk Kesehatan https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-kembangkan-alas-dalam-sepatu-untuk-kesehatan/ https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-kembangkan-alas-dalam-sepatu-untuk-kesehatan/#respond Thu, 18 Jun 2026 01:33:30 +0000 https://ugm.ac.id/?p=94605 Insole atau alas dalam sepatu sering kali dianggap sebagai komponen pelengkap yang kurang mendapat perhatian. Padahal, keberadaan insole memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan kaki dan bahkan dapat memengaruhi kondisi lutut, pinggul, hingga punggung bawah. Sayangnya, sepatu lokal yang dilengkapi insole dengan standar kenyamanan dan kesehatan yang baik masih relatif terbatas. Kalaupun tersedia, produk tersebut […]

Artikel Peneliti UGM Kembangkan Alas Dalam Sepatu untuk Kesehatan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Insole atau alas dalam sepatu sering kali dianggap sebagai komponen pelengkap yang kurang mendapat perhatian. Padahal, keberadaan insole memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan kaki dan bahkan dapat memengaruhi kondisi lutut, pinggul, hingga punggung bawah. Sayangnya, sepatu lokal yang dilengkapi insole dengan standar kenyamanan dan kesehatan yang baik masih relatif terbatas. Kalaupun tersedia, produk tersebut umumnya dibanderol dengan harga yang cukup tinggi karena masih bergantung pada material maupun teknologi impor.

Melihat tantangan tersebut, Fakultas Teknik UGM (FT UGM) menjalin kerja sama dengan Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) untuk mendistribusikan insole sepatu lokal yang mendukung kesehatan. Kerja sama ini ditandai melalui penandatanganan Nota Kesepahaman yang dilaksanakan di Ruang Jepara, lantai 2 SGLC FT UGM, Selasa (10/6). Penandatanganan dilakukan oleh Dekan FT UGM, Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc, Ph.D., IPU, ASEAN Eng. bersama Kepala BPIP, Syukur Idayati. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang dihadiri oleh jajaran pimpinan FT UGM, peneliti, perwakilan BPIP, serta mahasiswa doktoral yang terlibat dalam riset pengembangan insole.

Sebelum kerja sama ini berjalan, tim peneliti FT UGM tengah mengembangkan insole kesehatan berbasis teknologi 3D printing menggunakan material Thermoplastic Polyurethane. Berbeda dengan insole konvensional, produk yang dikembangkan mampu menyesuaikan bentuk kaki setiap pengguna sehingga memberikan dukungan yang lebih optimal terhadap kenyamanan dan kesehatan. “Kita membuat ekosistem dan teknologinya sendiri. Nanti 3D printer-nya akan kita buat sendiri, podoskopnya buat sendiri,” ujar Prof. Herianto, Manajer Layanan Penelitian dan Hilirisasi FT UGM dalam keterangan yang dikirim Kamis (18/6).

Menurutnya, pengembangan teknologi tersebut tidak hanya berfokus pada produk akhir, tetapi juga pada pembangunan sistem pendukung yang terintegrasi. Tim peneliti menargetkan terbentuknya database bentuk kaki masyarakat Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan insole dan sepatu yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan penggunanya. “Insyaallah kita akan punya database sehingga orang membeli sepatu itu bentuknya sesuai dan bisa membantu menanggulangi masalah kesehatannya,” tambahnya.

Untuk memastikan keamanan dan efektivitas produk, tim peneliti saat ini juga tengah mengkaji berbagai standar teknis dan hasil penelitian terkait desain serta performa insole kesehatan. Langkah tersebut dilakukan agar produk yang dihasilkan tidak hanya nyaman digunakan, tetapi juga memenuhi aspek ilmiah dan ergonomi yang diperlukan.

Herianto menjelaskan bahwa tujuan utama pengembangan ini adalah menghadirkan sepatu kesehatan buatan lokal dengan harga yang lebih terjangkau. Selama ini, sepatu kesehatan umumnya memiliki harga tinggi karena penggunaan material khusus yang masih harus diimpor. “Kita mengejar supaya ada sepatu lokal yang bisa kita brand dengan insole kami yang kemudian dipasarkan untuk orang-orang tertentu, khususnya yang memiliki masalah kesehatan,” ungkapnya.

Sebagai tahap awal implementasi, FT UGM berencana memberikan dukungan sepatu dan insole kepada sekitar 50 pegawai yang memiliki aktivitas berjalan cukup tinggi. Selain itu, dalam waktu dekat tim juga akan melakukan uji coba terhadap 300 pasang sepatu yang akan dievaluasi selama tiga hingga empat bulan sebelum dipasarkan.“Rencananya, sebelum dipasarkan sepatu tersebut akan dites oleh saya sendiri serta beberapa pegawai kami,” kata Herianto.

Menariknya, teknologi yang dikembangkan memungkinkan proses pembuatan insole dilakukan dalam waktu relatif singkat. Dengan pemindaian bentuk kaki menggunakan perangkat khusus, pengguna dapat memperoleh insole yang telah dipersonalisasi hanya dalam hitungan jam. Konsep ini bahkan membuka peluang pengembangan wisata berbasis teknologi kesehatan. “Pagi datang, scan kaki, jalan-jalan, sore selesai bisa diambil,” ujarnya.

Di sisi lain, Kepala BPIPI, Syukur Idayati, menyambut baik kolaborasi tersebut. Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan industri alas kaki nasional adalah minimnya standar ergonomi yang spesifik untuk masyarakat Indonesia.

Perkembangan industri sepatu lokal yang semakin pesat turut menjadi alasan optimisme dalam pengembangan teknologi ini. Saat ini berbagai merek sepatu lokal terus bermunculan dengan desain menarik dan harga yang kompetitif. Kehadiran teknologi insole kesehatan buatan dalam negeri diharapkan dapat menjadi nilai tambah sekaligus memperkuat daya saing produk lokal. “Sekarang sepatu lokal sedang tumbuh banyak sekali, dengan harga bersaing dan model yang bagus-bagus. Makanya kita pun optimis,” tutur Herianto.

Melalui semangat “Indonesia Melangkah”, kolaborasi FT UGM dan BPIPI diharapkan mampu menghadirkan teknologi insole kesehatan yang andal, terjangkau, dan sepenuhnya dikembangkan di Indonesia. Tidak hanya mendorong kemandirian teknologi nasional, inovasi ini juga diharapkan dapat membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk memperoleh sepatu kesehatan berkualitas tanpa harus bergantung pada produk impor.

Reportase : Radaevaerrisyasyam/Humas Fakultas Teknik

Penulis      : Salwa

Editor        : Gusti Grehenson

Foto          : Misterminit dan Dok. Fakultas Teknik

Artikel Peneliti UGM Kembangkan Alas Dalam Sepatu untuk Kesehatan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-kembangkan-alas-dalam-sepatu-untuk-kesehatan/feed/ 0