PKM Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/category/penelitian-dan-inovasi/pkm/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Fri, 28 Aug 2026 08:31:11 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 Gagas Pertanian Urban Hemat Energi, Tim Mahasiswa UGM Manfaatkan Surya dan Kelembapan Udara https://ugm.ac.id/id/berita/gagas-pertanian-urban-hemat-energi-tim-mahasiswa-ugm-manfaatkan-surya-dan-kelembapan-udara/ https://ugm.ac.id/id/berita/gagas-pertanian-urban-hemat-energi-tim-mahasiswa-ugm-manfaatkan-surya-dan-kelembapan-udara/#respond Fri, 28 Aug 2026 08:31:11 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97045 Praktik bercocok tanam di kawasan kota besar dengan memanfaatkan lahan yang terbatas menjadi tantangan tersendiri dalam menjalan konsep pertanian urban. Di tengah menjamurnya gedung bertingkat dan pencakar langit menyebabkan pertanian urban ini membutuhkan pasokan air dan listrik yang tidak sedikit. Lima mahasiswa UGM menawarkan gagasan inovasi yang mereka namakan Aurora yang merupakan kependekan dari Autonomous […]

Artikel Gagas Pertanian Urban Hemat Energi, Tim Mahasiswa UGM Manfaatkan Surya dan Kelembapan Udara pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Praktik bercocok tanam di kawasan kota besar dengan memanfaatkan lahan yang terbatas menjadi tantangan tersendiri dalam menjalan konsep pertanian urban. Di tengah menjamurnya gedung bertingkat dan pencakar langit menyebabkan pertanian urban ini membutuhkan pasokan air dan listrik yang tidak sedikit.

Lima mahasiswa UGM menawarkan gagasan inovasi yang mereka namakan Aurora yang merupakan kependekan dari Autonomous Utility for Renewable Resources, sebuah alat atau sistem yang terintegrasi dengan panel surya dan alat kondensasi air untuk menghadirkan sistem pertanian vertikal yang lebih mandiri, efisien, dan terintegrasi.

Inovasi tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas disiplin mahasiswa UGM yang terbentuk dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Video Gagasan Konstruktif (PKM-VKG). Tim tersebut terdiri dari Orva Linnisa Husaina (S1 Teknik Fisika) sebagai ketua tim bersama keempat rekan lintas jurusannya, yakni Rayhana Azzahra Kusmana (S1 Farmasi), Arfa Fadilah Ramadhan (S1 Teknik Kimia), Nayaka Sandya Kesuma (D4 Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan kontrol), dan Faqih Zulfikar Alkaha (S1 Teknik Elektro) yang dibimbing oleh Budi Sumanto, S.Si, M.Eng, dosen Teknik Elektro dan Informatika, SV, UGM.

Orva mengatakan ide besar di balik pengembangan Aurora bermula dari keprihatinan mendalam mereka atas persoalan yang kerap ditemui dalam sektor pertanian modern saat ini. Menurutnya, pertanian urban masih bergantung pada pasokan air dan listrik dari luar, sementara itu pengelolaan kondisi tanaman, seperti mengukur kadar pH, nutrisi, suhu, kualitas air, hingga kondisi tanaman, juga banyak dilakukan secara manual.

Lebih jauh ia menjelaskan mekanisme kerja dari gagasan inovasi Aurora dengan penyediaan energi terbarukan melalui panel surya bifacial berdaya guna tinggi, produksi air mandiri lewat Atmospheric Water Generator (AWG) berbasis kondensasi, hingga pemanfaatan struktur bangunan melalui konsep green passive building guna mengoptimalkan ruang di tengah menjamurnya gedung-gedung pencakar langit. “Distribusi energi dan irigasi dikelola secara real-time berbasis AI-IoT, lengkap dengan kontrol otomatis untuk kapasitas, nutrisi, pH, suhu air, hingga kesehatan tanaman,” jelas Orva, Jumat (28/8).

Rayhana, anggota tim lainnya, menuturkan bahwa inovasi ini dikemas dan disampaikan melalui sebuah Video Gagasan Konstruktif. Format visual ini dipilih agar konsep gagasan dapat divisualisasikan dengan lebih mudah dan menarik bagi masyarakat luas maupun dewan juri. Dalam video tersebut, pihaknya memadukan teknik sinematografi dan storytelling yang kuat, serta didukung oleh visualisasi animasi 3D dan tracking augmented reality (AR) game user interface (UI). “Melalui perpaduan ini, penonton bisa melihat cara kerja Aurora secara visual,” ujar Rayhana.

Rayhan pun berharap inovasi Aurora ini tidak berhenti sekadar sebagai sebuah gagasan kompetisi, melainkan menjadi pemantik semangat bagi generasi muda untuk terus menghadirkan solusi nyata bagi permasalahan bangsa. “Ketahanan pangan, air, dan energi Indonesia kelak berada di tangan inovasi-inovasi yang inklusif dan berkelanjutan.” pungkasnya.

Penulis : Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Tim PKM

Artikel Gagas Pertanian Urban Hemat Energi, Tim Mahasiswa UGM Manfaatkan Surya dan Kelembapan Udara pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/gagas-pertanian-urban-hemat-energi-tim-mahasiswa-ugm-manfaatkan-surya-dan-kelembapan-udara/feed/ 0
Bantu Petani, Mahasiswa UGM Kembangkan Inovasi Deteksi Cepat Penyakit Cabai https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-petani-mahasiswa-ugm-kembangkan-inovasi-deteksi-cepat-penyakit-cabai/ https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-petani-mahasiswa-ugm-kembangkan-inovasi-deteksi-cepat-penyakit-cabai/#respond Fri, 28 Aug 2026 04:38:24 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97027 Permasalahan gagal panen para petani cabai kerap disebabkan oleh virus yang menyerang tanaman saat dewasa. Virus kuning atau Pepper Yellow Leaf Curl Indonesian Virus (PYLCIV) merupakan virus yang menyerang tanaman cabai dan meninggalkan ciri-ciri mencolok berupa daun berwarna kekuningan. Penanganan yang dilakukan sering kali terlambat karena gejala muncul saat tanaman cabai akan dipanen. Berangkat dari […]

Artikel Bantu Petani, Mahasiswa UGM Kembangkan Inovasi Deteksi Cepat Penyakit Cabai pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Permasalahan gagal panen para petani cabai kerap disebabkan oleh virus yang menyerang tanaman saat dewasa. Virus kuning atau Pepper Yellow Leaf Curl Indonesian Virus (PYLCIV) merupakan virus yang menyerang tanaman cabai dan meninggalkan ciri-ciri mencolok berupa daun berwarna kekuningan. Penanganan yang dilakukan sering kali terlambat karena gejala muncul saat tanaman cabai akan dipanen.

Berangkat dari hal tersebut, lima mahasiswa UGM yang tergabung dalam Tim SPECTRA dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) mengembangkan inovasi deteksi dini pada tanaman cabai sebagai langkah awal untuk mengetahui status penyakit menggunakan sensor multispektral dan analisis machine learning. Kelima mahasiswa yang berasal dari berbagai jurusan tersebut yaitu Hasan Rabbani (S1 Fisika) sebagai ketua tim, beserta empat anggota lainnya, yaitu Nur Johan Pratama (S1 Proteksi Tanaman), Priamitra Aditiya Satriamukti (S1 Proteksi Tanaman), Saktian Hutama (S1 Biologi), dan Zaskia Fakhira Priatna (S1 Biologi), dengan Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si., dosen sekaligus dekan FMIPA UGM sebagai pembimbing.

Di tahap awal penelitian ini adalah dengan menumbuhkan 30 buah tanaman cabai sebagai sampel di wilayah Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta. Lokasi ini dipilih karena letaknya berada di kaki Gunung Merapi, sehingga sangat cocok untuk pertumbuhan tanaman. “Cabai harus ditanam di lingkungan dengan suhu harian yang normal, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, agar menghasilkan daun sehat dan dapat dianalisis sebagai sampel. Hal ini bertujuan agar hasil penelitian akurat,” ujar Priamitra, selaku anggota tim dalam rilis yang dikirimkan Jumat (28/8).

Sebanyak setengah dari total tanaman tersebut ditumbuhkan secara sehat di dalam kandang dengan perawatan rutin seperti penyiraman dan pemberian pupuk. Sedangkan sisanya akan dijadikan sampel yang akan diuji ke dalam tiga tahapan pokok. Selanjutnya, tim melakukan pemeliharaan kutu kebul di dalam kandang, dilanjutkan dengan penularan dengan virus kuning yang dibawa oleh kutu kebul. Kemudian, setelah kedua tahapan itu selesai, tahap terakhir adalah analisis menggunakan sensor multispektral dan machine learning.

Hasil sementara penelitian ini menunjukkan bahwa kutu kebul membawa virus kuning dan dapat menularkan tanaman cabai sehat. Selanjutnya daun dari masing-masing tanaman cabai, baik yang tertular virus maupun tidak, selanjutnya diuji menggunakan polymerase chain reactions (PCR) untuk mengetahui status penyakit secara valid. Setelah dipastikan, langkah berikutnya adalah pengambilan data dari daun tanaman cabai menggunakan sensor multispektral dan dilanjutkan dengan machine learning.

Cara kerja sensor ini sebenarnya cukup mudah, yaitu dengan menjepit daun menggunakan alat multispektral selama lima detik hingga keluar grafik pembacaan. Karakteristik cahaya yang dipantulkan oleh daun dapat digunakan untuk membedakan kondisi tanaman cabai yang sehat (tidak tertular virus kuning) atau sakit (tertular virus kuning). “Model yang dikembangkan juga mampu mencapai tingkat ketepatan hampir 80% untuk membedakan dua kondisi tersebut,” katanya.

Hasan selaku ketua tim menyebutkan bahwa penelitian ini penting dilakukan mengingat cara deteksi penyakit pada tanaman cabai, khususnya virus kuning, masih dilakukan secara sederhana dengan melihat langsung kondisi daun. Sekalipun bisa dilakukan analisis PCR, tidak dapat dipungkiri bahwa biaya yang dikeluarkan relatif besar dan perlu kemampuan khusus untuk mengoperasikannya. Terlebih, para petani memerlukan terobosan yang efisien, fleksibel, dan tentunya terjangkau. “Tujuan dari penelitian selama empat bulan ini sebenarnya untuk mengetahui sejauh mana sensor multispektral mampu mendeteksi tanaman cabai yang terserang virus kuning. Uji PCR dilakukan untuk memvalidasi bahwa sensor multispektral yang digunakan bekerja dengan baik,” pungkasnya.

Luaran penelitian ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara sensor multispektral dan machine learning berpotensi menjadi cara baru untuk mendeteksi serangan virus pada tanaman cabai secara lebih cepat tanpa merusak tanaman. Hasan dan tim pun berharap agar ke depannya inovasi ini dapat berkembang lebih baik dan dapat dimanfaatkan oleh  seluruh lapisan masyarakat, khususnya para petani.

Penulis: Leony

Editor: Gusti Grehenson

Foto: Dok. PKM

Artikel Bantu Petani, Mahasiswa UGM Kembangkan Inovasi Deteksi Cepat Penyakit Cabai pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-petani-mahasiswa-ugm-kembangkan-inovasi-deteksi-cepat-penyakit-cabai/feed/ 0
Inovasi Mahasiswa UGM, Sagu dan Ubi Ungu Disulap Jadi Indikator Kesegaran Daging Ayam https://ugm.ac.id/id/berita/inovasi-mahasiswa-ugm-sagu-dan-ubi-ungu-disulap-jadi-indikator-kesegaran-daging-ayam/ https://ugm.ac.id/id/berita/inovasi-mahasiswa-ugm-sagu-dan-ubi-ungu-disulap-jadi-indikator-kesegaran-daging-ayam/#respond Mon, 24 Aug 2026 05:21:36 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96906 Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengembangkan inovasi yang dinamakan SEFTIN, edible film indikator kesegaran pangan berbahan alami yang dapat mendeteksi kesegaran daging ayam melalui perubahan warna. Inovasi yang dikembangkan mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) ini memanfaatkan pati sagu dan ekstrak antosianin dari ubi ungu sebagai bahan utama. SEFTIN dikembangkan untuk membantu masyarakat memantau kesegaran […]

Artikel Inovasi Mahasiswa UGM, Sagu dan Ubi Ungu Disulap Jadi Indikator Kesegaran Daging Ayam pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengembangkan inovasi yang dinamakan SEFTIN, edible film indikator kesegaran pangan berbahan alami yang dapat mendeteksi kesegaran daging ayam melalui perubahan warna. Inovasi yang dikembangkan mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) ini memanfaatkan pati sagu dan ekstrak antosianin dari ubi ungu sebagai bahan utama. SEFTIN dikembangkan untuk membantu masyarakat memantau kesegaran daging ayam secara lebih objektif, praktis, dan mudah digunakan.

Adapun pengembangan inovasi SEFTIN ini dilatarbelakangi oleh tingginya konsumsi daging ayam ras di Indonesia. Pada tahun 2025, tercatat konsumsi daging ayam ras mencapai 13,60 kg per kapita per tahun, sementara ketersediaannya mencapai 15,29 kg per kapita per tahun. Tingginya konsumsi dan ketersediaan tersebut perlu diimbangi dengan pengawasan mutu yang baik mengingat daging ayam merupakan bahan pangan yang mudah rusak. Sebab selama ini, penilaian kesegaran daging masih kerap dilakukan secara subjektif berdasarkan pengamatan indrawi.

Di bawah bimbingan Purwanto, M.Sc., Ph.D., Apt., SEFTIN dikembangkan oleh Novita Nurul Latifa, Nabila Aurora Banuwati, Nabila Putri Herviana, dan Andinar Zahranayla Y., merupakan mahasiswa dari Fakultas Farmasi, serta Asa Nanda Fitria mahasiswa dari Fakultas Teknologi Pertanian. Inovasi tersebut memanfaatkan sifat antosianin yang peka terhadap perubahan pH untuk memberikan indikator visual terhadap perubahan kondisi kimiawi pada permukaan daging selama penyimpanan.

Ketua tim, Novita Nurul Latifa, menuturkan bahwa mekanisme kerja untuk mengetahui tingkat kesegaran daging ayam cukup sederhana, yakni dengan melihat perubahan warna pada edible film yang kemudian dicocokkan dengan stiker skala warna yang telah terintegrasi pada indikator. “Tingkat kesegaran pangan dapat dideteksi melalui perubahan warna pada edible film, kemudian warna tersebut dicocokkan dengan stiker skala warna yang sudah terintegrasi pada indikator. Jadi, pengguna bisa mengetahui kondisi kesegaran pangan secara real time hanya dengan melihat perubahan warnanya,” ujarnya pada keterangan yang dibagikan, Senin (24/8).

Pengembangan inovasi ini dilakukan secara bertahap melalui rangkaian kegiatan PKM-K. Proses tersebut diawali dengan studi literatur sebagai landasan riset, kemudian dilanjutkan dengan survei pendahuluan kepada responden dari berbagai latar belakang profesi untuk memperoleh gambaran mengenai kebutuhan pasar. “Tim selanjutnya melakukan uji formulasi secara berulang hingga memperoleh formula yang dinilai efektif, dilanjutkan dengan produksi, pengujian produk, serta pengenalan dan pemasaran kepada masyarakat,” katanya.

Untuk meningkatkan kepraktisan dan kemudahan penggunaan, SEFTIN dikembangkan dalam bentuk stiker. Stiker tersebut dapat ditempelkan pada tutup kemasan, seperti kemasan thinwall, sehingga indikator perubahan warna dapat tetap terlihat dari luar tanpa pengguna perlu membuka kemasan.

Hasil pengujian menunjukkan edible film berbasis pati sagu dengan penambahan ekstrak antosianin ubi ungu mampu menunjukkan perubahan warna secara konsisten seiring dengan menurunnya tingkat kesegaran daging ayam. Perubahan warna tersebut terjadi karena antosianin memiliki sifat yang peka terhadap perubahan pH sehingga dapat merespons secara visual perubahan kondisi kimiawi pada permukaan daging selama penyimpanan.

Novita mengatakan, pada tahap pengembangan saat ini SEFTIN masih difokuskan untuk mendeteksi tingkat kesegaran daging ayam. Namun, inovasi tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan pada berbagai jenis pangan berprotein tinggi lainnya. “Saat ini, SEFTIN baru dapat digunakan untuk mendeteksi tingkat kesegaran daging ayam, tetapi berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut ke jenis pangan berprotein tinggi lainnya,” tuturnya.

Secara keseluruhan, proses produksi SEFTIN terdiri atas tiga tahap utama. Tahap pertama berupa maserasi ubi ungu untuk memperoleh ekstrak antosianin. Tahap kedua merupakan pembuatan edible film dengan pati sagu sebagai matriks pembentuk film. Tahap terakhir adalah integrasi edible film dengan stiker untuk memudahkan penggunaan produk.

Pengembangan inovasi ini diharapkan dapat membantu mencegah konsumsi daging ayam yang sudah tidak layak melalui pemantauan kesegaran yang lebih objektif dan mudah digunakan oleh masyarakat. Mengusung slogan “See Freshness, Trust Quality”, tim berharap inovasi SEFTIN dapat terus dikembangkan menjadi produk komersial yang praktis, terjangkau, dan mudah digunakan oleh masyarakat maupun pelaku usaha pangan. “Pengembangan lebih lanjut juga diarahkan untuk meningkatkan kesiapan teknologi serta memperluas penerapan SEFTIN sebagai inovasi pemantauan kesegaran daging yang lebih objektif, berkelanjutan, dan terpercaya,” pungkasnya.

Penulis : Cyntia Noviana

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Tim PKM

Artikel Inovasi Mahasiswa UGM, Sagu dan Ubi Ungu Disulap Jadi Indikator Kesegaran Daging Ayam pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/inovasi-mahasiswa-ugm-sagu-dan-ubi-ungu-disulap-jadi-indikator-kesegaran-daging-ayam/feed/ 0
Mahasiswa UGM Ungkap Cara Warga Kauman Solo Bertahan di Tengah Arus Gentrifikasi https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-ungkap-cara-warga-kauman-solo-bertahan-di-tengah-arus-gentrifikasi/ https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-ungkap-cara-warga-kauman-solo-bertahan-di-tengah-arus-gentrifikasi/#respond Mon, 24 Aug 2026 04:33:24 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96896 Perubahan fungsi kawasan yang terjadi dari ruang usaha batik di Kampung Batik Kauman Solo menjadi ruang wisata dan hiburan (gentrifikasi), seperti kafe dan tempat swafoto dengan gaya klasik tradisional, memberikan tekanan bagi masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan dari kawasan dengan tingkat sosial dan ekonomi berpenghasilan rendah menjadi kawasan kelas atas. Lima mahasiswa UGM yang tergabung […]

Artikel Mahasiswa UGM Ungkap Cara Warga Kauman Solo Bertahan di Tengah Arus Gentrifikasi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Perubahan fungsi kawasan yang terjadi dari ruang usaha batik di Kampung Batik Kauman Solo menjadi ruang wisata dan hiburan (gentrifikasi), seperti kafe dan tempat swafoto dengan gaya klasik tradisional, memberikan tekanan bagi masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan dari kawasan dengan tingkat sosial dan ekonomi berpenghasilan rendah menjadi kawasan kelas atas.

Lima mahasiswa UGM yang tergabung dalam Tim Gentriset dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) meneliti sejauh mana respons masyarakat setempat terhadap tekanan perubahan sosial dan ekonomi tersebut.  Riset ini digagas oleh lima mahasiswa lintas disiplin, yaitu Hanel Aulia Afro (S1 Sosiologi) sebagai ketua tim, bersama Nasywa Izzati Firdaus (S1 Politik dan Pemerintahan), Elang Gading Permana (D4 Sistem Informasi Geografis), Laras Dwi Anggraeny (S1 Politik dan Pemerintahan), dan Nasywa Adinda Ibrahim (S1 Antropologi Budaya). Tim ini dibimbing oleh Odam A. Artosa, M.A., dosen Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

Hasil penelitian yang mereka temukan saat ini, masyarakat setempat memilih beradaptasi untuk bisa bertahan. Hal itu berdasarkan data yang dikumpulkan dari lapangan. “Terlihat jelas bahwa masyarakat Kauman tidak hanya diam menghadapi tekanan gentrifikasi. Mereka melakukan adaptasi usaha melalui digitalisasi pemasaran dan inovasi motif batik, tetapi ada juga yang memilih menyewakan lahan atau beralih ke usaha kuliner,” ujar Nasywa Adinda Ibrahim selaku anggota tim, Senin (24/8).

Soal strategi ekonomi yang warga setempat lakukan menghadapi perubahan tersebut dengan melakukan digitalisasi pemasaran melalui media sosial untuk membangun branding kawasan. Bahkan sebaran pelaku usaha yang mulai memasarkan diri secara daring ini dapat dipetakan melalui pergeseran jumlah retail. “Kami juga meneliti untuk melihat apakah adaptasi digital ini berkorelasi dengan ketahanan usaha di titik-titik tertentu di kawasan Kauman,” kata Elang Gading Permana, anggota tim yang lainnya.

Menurut Elang,  kehadiran paguyuban dan koperasi di Kampung Kauman ini ternyata memiliki kontribusi penting terhadap adaptasi yang dilakukan sebab warga setempat  karena berperan sebagai penguat ekosistem permodalan, menyediakan akses modal dan pelatihan peningkatan skill bagi anggota, termasuk modal bagi mereka yang memilih beralih usaha dari batik ke kuliner sehingga transisi ekonomi warga tetap terfasilitasi meski keluar dari sektor batik.

Menariknya, kata Elang,  untuk menjaga revitalisasi tidak sepenuhnya menggeser identitas lokal Kauman, paguyuban tersebut dan warga setempat melakukan kesepakatan sosial berupa pembatasan kepemilikan lahan oleh orang nonlokal.

Tidak hanya itu, masyarakat Kauman tidak hanya berusaha mempertahankan usaha batik dan identitas lokalnya, tetapi juga berusaha mempertahankan budaya dan tradisi mereka supaya tidak hilang ketika kawasan semakin menjadi tempat wisata melalui regenerasi pengrajin muda lewat komunitas Pengusaha Muda Kauman serta pengenalan kembali tradisi Pambiworo kepada generasi muda. “Masyarakat Kauman tidak hanya beradaptasi secara ekonomi, tetapi juga berupaya memastikan identitas dan budaya lokal tetap terjaga,” ungkap Laras.

Dari hasil publikasi penelitian ini, Laras berharap nantinya ada program penguatan kompetensi pemasaran pariwisata yang bersinergi antar Dinas di Pemerintah daerah dengan Kampung Batik Kauman bahkan penyelenggaraan dan event bertaraf nasional atau internasional. Dengan begitu, kampung Batik Kauman menjadi pariwisata unggulan di Solo sekaligus sebagai contoh kawasan wisata berbasis kampung.

Penulis : M. Aidil Syahputra
Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Tim PKM

Artikel Mahasiswa UGM Ungkap Cara Warga Kauman Solo Bertahan di Tengah Arus Gentrifikasi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-ungkap-cara-warga-kauman-solo-bertahan-di-tengah-arus-gentrifikasi/feed/ 0
Tanpa Kartu dan Ponsel, Mahasiswa UGM Kembangkan Pembayaran Digital Lewat Sidik Jari  https://ugm.ac.id/id/berita/tanpa-kartu-dan-ponsel-mahasiswa-ugm-kembangkan-pembayaran-digital-lewat-sidik-jari/ https://ugm.ac.id/id/berita/tanpa-kartu-dan-ponsel-mahasiswa-ugm-kembangkan-pembayaran-digital-lewat-sidik-jari/#respond Sat, 15 Aug 2026 05:02:23 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96676 Mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) mengembangkan karya inovasi sistem pembayaran digital berbasis biometrik sidik jari yang memungkinkan konsumen melakukan transaksi tanpa menggunakan kartu maupun telepon genggam, melainkan dengan mengedepankan aspek keamanan, kenyamanan, dan efisiensi. Karya inovasi yang dinamakan Polpay ini,  mengintegrasikan sensor sidik jari dengan perangkat Electronic Data […]

Artikel Tanpa Kartu dan Ponsel, Mahasiswa UGM Kembangkan Pembayaran Digital Lewat Sidik Jari  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) mengembangkan karya inovasi sistem pembayaran digital berbasis biometrik sidik jari yang memungkinkan konsumen melakukan transaksi tanpa menggunakan kartu maupun telepon genggam, melainkan dengan mengedepankan aspek keamanan, kenyamanan, dan efisiensi.

Karya inovasi yang dinamakan Polpay ini,  mengintegrasikan sensor sidik jari dengan perangkat Electronic Data Capture (EDC) yang memungkinkan pengguna melakukan autentikasi biometrik secara langsung saat bertransaksi. Data biometrik selanjutnya diproses menggunakan teknologi edge computing, kemudian dienkripsi dengan algoritma Advanced Encryption Standard 256-bit (AES-256) sebelum dikirimkan ke server melalui protokol SSL/TLS untuk pemrosesan lebih lanjut.

Ketua tim Polpay, Tiara Ramadhani, menjelaskan bahwa Polpay dikembangkan sebagai alternatif sistem pembayaran biometrik yang lebih terjangkau dibandingkan teknologi biometrik lainnya yang umumnya membutuhkan infrastruktur dengan biaya tinggi. Selain menawarkan transaksi yang cepat dan aman, Polpay dirancang sejalan dengan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030 yang dicanangkan Bank Indonesia untuk mewujudkan ekosistem pembayaran digital yang modern, inklusif, dan terpercaya.

“Melalui inovasi ini, diharapkan masyarakat dapat menikmati pengalaman pembayaran yang lebih praktis dan aman, serta tidak lagi bergantung pada kartu maupun perangkat seluler,” ujar Tiara Ramadhani selaku ketua tim PKM, Sabtu (15/8).

Tiara bercerita dalam proses pengembangannya, Tim Polpay menghadapi berbagai tantangan dalam merancang dan menyempurnakan inovasi tersebut. Tim yang terdiri atas Tiara Ramadhani, Al Farabi Obiansyah, Marcelino Budi Prakasya, M. Fakhri Ghonim Setyanda, dan M. Rakhma Aifil Indira tersebut terus melakukan pengembangan untuk menghasilkan sistem pembayaran biometrik yang aman, praktis, dan terjangkau.

Bagi Farabi, tantangan utama yang mereka temukan pada saat pengembangan ide Polpay ini adalah proses untuk memastikan jika seluruh sistem yang digunakan oleh Polpay memiliki tingkat keamanan yang tinggi. “Tantangan utama dalam pembuatan Polpay adalah memastikan seluruh sistem yang ada memiliki tingkat keamanan yang tinggi,” katanya.

Lanjut Farabi, ide pengembangan inovasi ini berangkat dari persoalan bahwa Indonesia belum menerapkan pembayaran via sidik jari. Meskipun telah melalui berbagai proses, masih terdapat beberapa celah di dalam perlindungan data yang harus dikembangkan.

Berbicara mengenai pengembangan sistem, Marcelino mengatakan bahwa Tim Polpay terus menemukan berbagai hal yang dapat disempurnakan selama proses perancangan. Menurutnya, penerapan privacy-preserved architecture dan edge computing architecture menjadi bagian penting dalam memastikan keamanan serta privasi pengguna. “Pengembangan sistem ini membutuhkan riset yang mendalam dan waktu yang cukup panjang. Setiap hari, kami masih menemukan berbagai celah yang dapat diinovasikan, baik melalui pembaruan cara kerja software maupun penggunaan komponen yang lebih optimal,” ujar Marcelino

Selain aspek keamanan, Polpay juga dirancang untuk memenuhi kebutuhan pengguna akan proses pembayaran yang cepat. Untuk itu, sistem ini memanfaatkan teknologi edge computing guna mengurangi beban enkripsi pada server pusat sehingga proses transaksi dapat berlangsung lebih cepat.

Fakhri, anggota tim PKM, menjelaskan penerapan teknologi tersebut juga menjadi tantangan tersendiri bagi tim, terutama dalam menekan biaya agar Polpay tetap menjadi sistem pembayaran biometrik yang terjangkau. “Kami harus memutar otak untuk mencari solusi agar teknologi edge computing yang kami gunakan tetap dapat diterapkan dengan biaya yang terjangkau,” ujar Fakhri.

Sementara itu, Rakhma mengatakan  pengembangan Polpay saat ini telah membawa tim tersebut berhasil memperoleh pendanaan dalam PKM bidang Karsa Cipta. Ke depan, Tim Polpay akan mempersiapkan perjalanan mereka ke ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang akan diselenggarakan di Universitas Diponegoro pada November mendatang.

Sejauh ini, Polpay telah berhasil lolos pendanaan PKM bidang Karsa Cipta dan tengah mempersiapkan diri menuju PIMNAS yang diselenggarakan di Universitas Diponegoro pada November mendatang.

Penulis : Zabrina Kumara

Editor   : Gusti Grehenson

Foto     : Magnific dan Dok.Tim PKM

Artikel Tanpa Kartu dan Ponsel, Mahasiswa UGM Kembangkan Pembayaran Digital Lewat Sidik Jari  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/tanpa-kartu-dan-ponsel-mahasiswa-ugm-kembangkan-pembayaran-digital-lewat-sidik-jari/feed/ 0
Kenalkan ChewMelo, Permen Karet Bisa Menjaga Kesehatan Gigi Karya Mahasiswa UGM https://ugm.ac.id/id/berita/kenalkan-chewmelo-permen-karet-untuk-bisa-menjaga-kesehatan-gigi-karya-mahasiswa-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/kenalkan-chewmelo-permen-karet-untuk-bisa-menjaga-kesehatan-gigi-karya-mahasiswa-ugm/#respond Mon, 27 Jul 2026 08:04:18 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95882 Mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) 2026 mengembangkan permen karet fungsional berbasis eritritol dan nano-fluorapatit (nFAp) sebagai inovasi untuk menjaga kesehatan gigi. Inovasi bernama ChewMelo tersebut dirancang sebagai media penghantaran bahan aktif yang berpotensi membantu proses remineralisasi email gigi sekaligus menghambat pertumbuhan bakteri penyebab karies. Dalam pengembangannya, […]

Artikel Kenalkan ChewMelo, Permen Karet Bisa Menjaga Kesehatan Gigi Karya Mahasiswa UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) 2026 mengembangkan permen karet fungsional berbasis eritritol dan nano-fluorapatit (nFAp) sebagai inovasi untuk menjaga kesehatan gigi. Inovasi bernama ChewMelo tersebut dirancang sebagai media penghantaran bahan aktif yang berpotensi membantu proses remineralisasi email gigi sekaligus menghambat pertumbuhan bakteri penyebab karies. Dalam pengembangannya, tim memanfaatkan alga coklat sebagai sumber alginat untuk sintesis hijau nano-fluorapatit serta eritritol sebagai pemanis yang ramah bagi kesehatan gigi dan sistem pencernaan. Melalui inovasi ini, mahasiswa UGM menawarkan pendekatan preventif yang lebih praktis dan dekat dengan kebiasaan masyarakat dalam menjaga kesehatan gigi.

Pengembangan ChewMelo berangkat dari tingginya angka karies gigi di Indonesia, terutama pada kelompok usia remaja dan dewasa muda. Kondisi tersebut mendorong tim untuk menghadirkan inovasi yang tidak hanya mudah digunakan, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan rongga mulut. Ketua Tim ChewMelo, Achmad Musa Nurhadi, menuturkan bahwa permen karet dipilih karena telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat sehingga lebih mudah diterima sebagai media penghantaran bahan aktif. “Kami ingin menghadirkan solusi yang dekat dengan kebiasaan masyarakat sehingga mudah diterapkan. Permen karet merupakan produk yang disukai dan sering dikonsumsi remaja, sehingga memiliki potensi menjadi sarana penghantaran bahan aktif untuk menjaga kesehatan gigi secara lebih praktis,” ujarnya, Senin (27/7).

Berbeda dengan permen karet pada umumnya, ChewMelo mengombinasikan nano-fluorapatit dan eritritol untuk memberikan manfaat ganda bagi kesehatan gigi. Nano-fluorapatit berperan sebagai sumber ion kalsium, fosfat, dan fluorida yang dibutuhkan dalam proses remineralisasi email gigi, sedangkan eritritol diketahui mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab karies. Kombinasi kedua bahan tersebut diharapkan mampu membantu menjaga kesehatan gigi sekaligus mengurangi risiko kerusakan email akibat proses demineralisasi. Pendekatan ini menjadi salah satu keunggulan inovasi yang dikembangkan tim PKM-RE UGM.

Untuk menguji efektivitas produk, tim melakukan serangkaian pengujian di laboratorium. Uji antibakteri yang dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Farmasi UGM menunjukkan adanya penurunan pertumbuhan Streptococcus mutans, bakteri utama penyebab karies gigi. Sementara itu, pengujian remineralisasi di Laboratorium Bahan dan Produksi Sekolah Vokasi UGM menunjukkan peningkatan kekerasan email gigi setelah aplikasi eluen permen karet selama tujuh hari serta kemampuan mempertahankan kekerasan email setelah melalui proses pH cycling. “Temuan ini menunjukkan bahwa permen karet tidak hanya berpotensi menghambat pertumbuhan bakteri penyebab karies, tetapi justru membantu mendukung proses remineralisasi gigi,” kata Achmad.

Penelitian ini melibatkan mahasiswa lintas disiplin ilmu, yakni Achmad Musa Nurhadi (Kedokteran Gigi), Dimar Raihan Ganendra Putra (Farmasi), Fajar Sindu Aji (Kedokteran), Najwa Laili Fajri (Teknik Kimia), dan Tsabita Puan Najla (Kedokteran Gigi) di bawah bimbingan Dr. drg. Dyah Anindya Widyasrini, M.D.Sc. Selama proses pengembangan, tim melalui berbagai tahapan mulai dari sintesis hijau nano-fluorapatit, karakterisasi material, formulasi permen karet, hingga pengujian aktivitas biologis. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah menghasilkan permen karet yang tetap elastis dan nyaman dikunyah tanpa mengurangi efektivitas bahan aktif yang dikandungnya. Kolaborasi lintas bidang tersebut menjadi kekuatan dalam menghasilkan inovasi yang memadukan aspek kesehatan, farmasi, dan rekayasa material.

Saat ini tim ChewMelo masih menyempurnakan penelitian melalui pengujian lanjutan terhadap pelepasan ion kalsium, fosfat, dan fluorida untuk mengevaluasi lebih jauh potensi remineralisasi produk. Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan alternatif produk kesehatan gigi preventif yang praktis, berbasis sumber daya lokal, dan mudah diterapkan oleh masyarakat. Inovasi ini sekaligus menunjukkan kontribusi mahasiswa UGM dalam menghadirkan solusi berbasis riset untuk menjawab tantangan di bidang kesehatan. Penelitian tersebut juga dipersiapkan untuk mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2026.

Reportase: Tim ChewMelo PKM-RE 2026

Penulis: Triya Andriyani

Artikel Kenalkan ChewMelo, Permen Karet Bisa Menjaga Kesehatan Gigi Karya Mahasiswa UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kenalkan-chewmelo-permen-karet-untuk-bisa-menjaga-kesehatan-gigi-karya-mahasiswa-ugm/feed/ 0
Mahasiswa PKM UGM Gandeng PKK Jurugsari Kelola Sampah Organik https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-pkm-ugm-gandeng-pkk-jurugsari-kelola-sampah-organik/ https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-pkm-ugm-gandeng-pkk-jurugsari-kelola-sampah-organik/#respond Thu, 25 Jun 2026 08:41:02 +0000 https://ugm.ac.id/?p=94908 Universitas Gadjah Mada melalui Tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Tumandur mengembangkan inovasi pengolahan sampah organik rumah tangga berbasis Smart Compost Vessel di Kampung Jurugsari, Condongcatur, Sleman. Program ini bertujuan membantu masyarakat mengelola limbah organik menjadi pupuk organik cair (liquid biofertilizer) yang dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan lahan pekarangan. Melalui pemanfaatan teknologi sederhana, masyarakat […]

Artikel Mahasiswa PKM UGM Gandeng PKK Jurugsari Kelola Sampah Organik pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada melalui Tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Tumandur mengembangkan inovasi pengolahan sampah organik rumah tangga berbasis Smart Compost Vessel di Kampung Jurugsari, Condongcatur, Sleman. Program ini bertujuan membantu masyarakat mengelola limbah organik menjadi pupuk organik cair (liquid biofertilizer) yang dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan lahan pekarangan. Melalui pemanfaatan teknologi sederhana, masyarakat didorong untuk mengurangi timbunan sampah rumah tangga sekaligus meningkatkan produktivitas kebun keluarga. Kegiatan sosialisasi yang digelar pada Senin (22/6) silam ini diikuti oleh 16 anggota PKK Kampung Jurugsari bersama perangkat wilayah dan perwakilan Kalurahan Condongcatur. Program ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa UGM dalam mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga.

Program ini dilaksanakan oleh Siti Nur Khasanah, Rayhan Arva Pradipa, Nafi’atush Sholikhah, Vina Ayu Lestari, dan Naafianda Ra’uuf Prastya di bawah bimbingan Dr. Ir. Miftahush Shirothul Haq, S.Pt., IPP., dari Fakultas Peternakan UGM. Salah satu inovasi yang diperkenalkan berupa Smart Compost Vessel, yakni komposter berbentuk ember bertingkat yang dilengkapi sensor suhu dan sensor pH untuk memantau kualitas pupuk organik cair selama proses pengomposan. Pupuk organik cair yang dihasilkan selanjutnya dimanfaatkan sebagai penyubur tanah di pekarangan rumah sehingga dapat mendukung budidaya sayuran untuk kebutuhan rumah tangga. Menurut Miftahush sebagai pembimbing PKM, inovasi ini diharapkan mampu menjadi solusi sederhana yang dapat diterapkan masyarakat dalam mengurangi sampah organik sekaligus meningkatkan nilai manfaatnya. “Kami berharap inovasi ini tidak berhenti pada pengolahan sampah, tetapi juga mampu mendorong kemandirian masyarakat dalam membangun ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan pekarangan rumah,” ujarnya.

Ketua Tim PKM-PM Tumandur, Siti Nur Khasanah, menjelaskan bahwa program ini dirancang sebagai proses belajar bersama antara mahasiswa dan masyarakat. Selain memperkenalkan teknologi pengolahan sampah organik, tim juga memberikan pendampingan mengenai pemanfaatan pupuk organik cair untuk budidaya tanaman pangan di lingkungan rumah. Menurutnya, pengelolaan sampah rumah tangga akan lebih efektif apabila disertai dengan perubahan kebiasaan masyarakat dalam memanfaatkan limbah organik. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan siklus pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan di tingkat keluarga. “Kami ingin masyarakat melihat bahwa sampah organik bukan lagi limbah yang harus dibuang, tetapi sumber daya yang bisa dimanfaatkan kembali untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” jelasnya.

Selama kegiatan berlangsung, peserta tampak antusias mengikuti pemaparan materi dan sesi diskusi mengenai mekanisme pengolahan sampah organik menggunakan Smart Compost Vessel. Berbagai pertanyaan diajukan terkait proses pengomposan, penggunaan sensor, hingga cara memanfaatkan pupuk organik cair untuk tanaman pekarangan. Ketua PKK Kampung Jurugsari, Ikhwani, mengapresiasi persiapan dan koordinasi yang dilakukan tim mahasiswa sebelum pelaksanaan program. Pendekatan yang dilakukan membuat masyarakat lebih mudah memahami manfaat pengelolaan sampah organik secara mandiri. “Harapan kami program ini dapat terus berlanjut sehingga sampah organik di Jurugsari semakin termanfaatkan dan memberikan manfaat nyata bagi warga,” katanya.

Program Tumandur juga mendapat dukungan dari berbagai unsur masyarakat dan pemerintah setempat. Ketua RW 57 Kampung Jurugsari, Purwoko, menilai kegiatan tersebut selaras dengan upaya pengembangan lingkungan yang sedang dilakukan di wilayahnya. Dukuh Joho, Retnaningsih, menyampaikan bahwa inovasi yang diperkenalkan mahasiswa memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat. Dukungan serupa juga datang dari Kalurahan Condongcatur yang mendorong terjalinnya komunikasi dan kolaborasi yang baik selama program berlangsung. “Program ini sangat tepat diterapkan di Kampung Jurugsari dan kami siap mendukung pelaksanaannya agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara berkelanjutan,” tutur Retnaningsih.

Melalui Program Tumandur, mahasiswa UGM berharap masyarakat tidak hanya mampu mengurangi volume sampah organik rumah tangga, tetapi memperoleh manfaat ekonomi dan lingkungan dari hasil pengolahannya. Pendampingan yang dilakukan akan berlanjut melalui berbagai kegiatan edukasi mengenai pengelolaan sampah dan pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga. Model pemberdayaan ini diharapkan dapat mendorong lahirnya kebiasaan baru dalam mengelola sampah secara mandiri sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Inovasi sederhana berbasis teknologi tersebut menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat menghasilkan solusi yang aplikatif bagi persoalan lingkungan. Dengan pendekatan yang berkelanjutan, Program Tumandur diharapkan mampu menjadi model pemberdayaan masyarakat yang dapat direplikasi di wilayah lain.

Reportase: Nafi’atush Sholikhah

Penulis: Triya Andriyani

Artikel Mahasiswa PKM UGM Gandeng PKK Jurugsari Kelola Sampah Organik pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-pkm-ugm-gandeng-pkk-jurugsari-kelola-sampah-organik/feed/ 0
Mahasiswa UGM Teliti Manfaat Daun Kirinyuh Atasi Dampak Mikroplastik pada Ternak Unggas https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-teliti-manfaat-daun-kirinyuh-atasi-dampak-mikroplastik-pada-ternak-unggas/ https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-teliti-manfaat-daun-kirinyuh-atasi-dampak-mikroplastik-pada-ternak-unggas/#respond Tue, 09 Jun 2026 05:00:38 +0000 https://ugm.ac.id/?p=94344 Pencemaran mikroplastik yang telah ditemukan pada air minum hingga bahan baku pakan komersial ayam broiler. Partikel mikroplastik yang masuk ke tubuh ternak diketahui dapat memicu stres oksidatif, merusak saluran pencernaan, mengganggu penyerapan nutrisi, hingga menurunkan performa pertumbuhan ternak. Selain berdampak pada kesehatan hewan, kondisi ini juga berpotensi membahayakan manusia melalui transfer trofik ketika produk ternak […]

Artikel Mahasiswa UGM Teliti Manfaat Daun Kirinyuh Atasi Dampak Mikroplastik pada Ternak Unggas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pencemaran mikroplastik yang telah ditemukan pada air minum hingga bahan baku pakan komersial ayam broiler. Partikel mikroplastik yang masuk ke tubuh ternak diketahui dapat memicu stres oksidatif, merusak saluran pencernaan, mengganggu penyerapan nutrisi, hingga menurunkan performa pertumbuhan ternak. Selain berdampak pada kesehatan hewan, kondisi ini juga berpotensi membahayakan manusia melalui transfer trofik ketika produk ternak dikonsumsi.

Tim Mahasiswa UGM mengembangkan inovasi feed additive alami berbasis nanopartikel dari daun kirinyuh (Chromolaena odorata). Produk ini dirancang memiliki mekanisme kerja ganda, yakni sebagai adsorben alami untuk mengikat mikroplastik di saluran pencernaan sekaligus sebagai sumber senyawa antioksidan alami.

Inovasi ini dikembangkan oleh tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) yang diketuai oleh Fauzan Akbar Nugroho dari Program Studi S1 Ilmu dan Industri Peternakan angkatan 2024. Dalam pelaksanaan risetnya, tim ini turut melibatkan kolaborasi lintas disiplin bersama mahasiswa dari berbagai fakultas di UGM di bawah bimbingan Dr. Moh. Sofi’ul Anam, S.Pt., M.Sc.

Tim tersebut terdiri atas Fauzan Akbar Nugroho dan Dhiaz Larasati dari Fakultas Peternakan, Dimas Jati dari Sekolah Vokasi, Muhammad Fazli dari Fakultas Biologi, serta Nabilla Saver dari Fakultas Farmasi.

Fauzan mengatakan inovasi dari hasil kolaborasi lintas bidang ini dilakukan untuk menghadirkan solusi inovatif terhadap permasalahan mikroplastik yang kini menjadi ancaman serius bagi rantai makanan terestrial. “Ukuran partikel berskala nano pada produk dari daun Kirinyuh ini memungkinkan peningkatan luas permukaan sehingga mampu mengikat mikroplastik secara lebih efektif dan membantu proses ekskresi melalui feses,” katanya, Selasa (9/6).

Selain itu, kata Fauzan, kandungan flavonoid dan senyawa fenolik pada daun kirinyuh berperan dalam menekan stres oksidatif serta membantu menjaga kesehatan jaringan usus ternak.

Fauzan mengharapkan riset yang dikembangkan diharapkan dapat menjadi salah satu langkah inovatif dalam mendukung keamanan pangan dan produktivitas peternakan berkelanjutan. “Riset kolaborasi lintas bidang ilmu bisa mendukung SDGs dari aspek ketahanan pangan, kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.

Kontributor : Satria/Humas Peternakan

Penulis        : Jelita Agustine

Editor          : Gusti Grehenson

Foto            : Tim PKM dan Pixabay

Artikel Mahasiswa UGM Teliti Manfaat Daun Kirinyuh Atasi Dampak Mikroplastik pada Ternak Unggas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-teliti-manfaat-daun-kirinyuh-atasi-dampak-mikroplastik-pada-ternak-unggas/feed/ 0
UGM Raih Pendanaan Riset PKM Terbanyak Nasional  https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-raih-pendanaan-riset-pkm-terbanyak-nasional/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-raih-pendanaan-riset-pkm-terbanyak-nasional/#respond Tue, 02 Jun 2026 09:16:22 +0000 https://ugm.ac.id/?p=94066 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek )RI kembali mengalokasikan insentif untuk mendukung hasil riset mahasiswa pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, pada tahun 2026 terdapat 1.121 proposal yang dihimpun dari perwakilan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di seluruh Indonesia. Universitas Gadjah Mada berhasil […]

Artikel UGM Raih Pendanaan Riset PKM Terbanyak Nasional  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek )RI kembali mengalokasikan insentif untuk mendukung hasil riset mahasiswa pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, pada tahun 2026 terdapat 1.121 proposal yang dihimpun dari perwakilan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di seluruh Indonesia. Universitas Gadjah Mada berhasil mencapai jumlah proposal lolos pendanaan terbanyak, yakni 56 proposal. Prestasi tersebut menjadi gerbang pembuka bagi setiap tim yang dinyatakan lolos pendanaan untuk melangkah lebih jauh, berlaga di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 yang akan diselenggarakan di Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang, Jawa Tengah, pada awal November mendatang.

Dilansir dari laman SIMBELMAWA Kemdiktisaintek, terdapat pemangkasan kuota proposal yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2025, ada 1.590 judul proposal PKM dinyatakan lolos. Sementara itu, pada tahun 2026 jumlah proposal yang lolos skema pendanaan turun sekitar 400 proposal menjadi 1.121 proposal. Meski pemangkasan kuota pendanaan mencapai hampir satu per tiga kuota tahun sebelumnya, hal tersebut tidak mempengaruhi performa mahasiswa UGM untuk memperjuangkan kesempatan mendapat pendanaan PKM. Justru, UGM unggul memimpin dengan jumlah proposal lolos terbanyak, melangkahi PTN dan PTS lain di Indonesia.

Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr. Hempri Suyatna, S.Sos., M.Si, menyatakan capaian ini sebagai modal positif bagi UGM untuk terus mendukung ekosistem riset, inovasi, dan kreativitas mahasiswa. Lebih lanjut, Hempri memaparkan strategi yang akan ditempuh oleh UGM setelah pengumuman lolos pendanaan tersebut resmi dirilis. Ia menekankan pentingnya konsolidasi dan koordinasi antara pembina, tim mahasiswa, dan PKM Center selaku fasilitator yang saling bahu-membahu. “Setelah pengumuman dirilis, akan langsung dilaksanakan konsolidasi resmi, yakni mulai minggu depan. Harapannya bimbingan akan terus intens menyertai tim selama proses evaluasi hingga hasil akhir final,” ujarnya, Selasa (2/6).

Menurut Hempri, jumlah proposal yang lolos ini tidak lepas dari konsistensi sinergi dan kerja sama dari berbagai pihak. Direktorat Kemahasiswaan melalui Sub Direktorat Pengelolaan Kreativitas Mahasiswa dan PKM Center UGM berkontribusi besar dalam memberikan fasilitasi kegiatan, pendampingan, dan pembinaan penyusunan proposal. Proses seleksi yang kompetitif menurutnya menuntut pengawalan ekstra dari  kampus kepada perwakilan tim, khususnya ketika melalui seleksi administrasi. “Kami selalu memastikan sportivitas dan menghasilkan karya terbaik yang diajukan untuk menghadapi puluhan ribu proposal inovasi. Selain itu, ide-ide kreatif dan semangat riset mahasiswa yang didampingi oleh dosen pembina turut menjadi tonggak utama dalam keberhasilan UGM di tahun ini,” katanya.

Kasubdit Kreativitas Mahasiswa, Ditmawa UGM, Suprijani, S.IP., M.P.A berharap meningkatnya jumlah proposal lolos pendanaan ini dapat menjadi penyemangat seluruh tim perwakilan untuk memaksimalkan upaya hingga pelaksanaan PIMNAS tiba. “Prestasi ini menunjukkan bahwa ide besar lahir dari kerja keras, kolaborasi, dan semangat pantang menyerah,“katanya.

Suprijani menyebutkan 56 proposal tersebut terdiri atas beberapa kategori yang meliputi PKM K (3), PKM KC (14), PKM KI (2), PKM PI (4), PKM PM (5), PKM RE (14), PKM RSH (11) dan PKM VGK (3). Berbagai kategori yang berhasil dibidik ini berasal dari kolaborasi lintas disiplin yang ditandai dengan sebaran perwakilan dari seluruh fakultas dan sekolah yang ada di Universitas Gadjah Mada. “Proposal-proposal tersebut turut menggabungkan unsur teknologi, sosial, dan lingkungan, yang diharapkan dapat menjawab dan memberikan solusi untuk berbagai tantangan yang dihadapi oleh masyarakat,” pungkasnya.

Penulis : Ika Agustine

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Humas

Artikel UGM Raih Pendanaan Riset PKM Terbanyak Nasional  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-raih-pendanaan-riset-pkm-terbanyak-nasional/feed/ 0
13 Tim PKM UGM Siap Adu Inovasi di PIMNAS ke-38 https://ugm.ac.id/id/berita/13-tim-pkm-ugm-siap-adu-inovasi-di-pimnas-ke-38/ https://ugm.ac.id/id/berita/13-tim-pkm-ugm-siap-adu-inovasi-di-pimnas-ke-38/#respond Wed, 26 Nov 2025 03:20:00 +0000 https://ugm.ac.id/?p=87242 Pembukaan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-38 telah digelar di Baruga Andi Pangerang Pettarani, Universitas Hasanuddin, Makassar, pada Senin (24/11). Tahun ini tercatat sebagai penyelenggaraan dengan jumlah peserta perguruan tinggi terbanyak sepanjang sejarah, yaitu 170 perguruan tinggi dengan total 420 tim mahasiswa. Universitas Gadjah Mada hadir sebagai salah satu kontingen dengan mengirimkan 13 tim Program […]

Artikel 13 Tim PKM UGM Siap Adu Inovasi di PIMNAS ke-38 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pembukaan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-38 telah digelar di Baruga Andi Pangerang Pettarani, Universitas Hasanuddin, Makassar, pada Senin (24/11). Tahun ini tercatat sebagai penyelenggaraan dengan jumlah peserta perguruan tinggi terbanyak sepanjang sejarah, yaitu 170 perguruan tinggi dengan total 420 tim mahasiswa. Universitas Gadjah Mada hadir sebagai salah satu kontingen dengan mengirimkan 13 tim Program Kreativitas Mahasiswa yang telah lolos ke tahap final nasional. Seluruh peserta mengikuti rangkaian pembukaan yang berlangsung meriah dan penuh semangat kolaborasi.

Dalam kesempatan tersebut, UGM menurunkan tim dari berbagai skema PKM, yaitu PKM-K (Kewirausahaan), PKM-KC (Karsa Cipta), PKM-KI (Karya Inovatif), PKM-PI (Penerapan Iptek), PKM-RE (Riset Eksakta), PKM-RSH (Riset Sosial Humaniora), PKM-VGK (Video Gagasan Konstruktif), dan PKM-GFT (Gagasan Futuristik Tertulis). Setiap skema membawa fokus pengembangan yang meliputi teknologi, sosial, lingkungan, kesehatan, hingga mitigasi bencana. Keikutsertaan lintas disiplin ini menunjukkan keluasan ruang kreasi mahasiswa UGM dalam merumuskan gagasan berbasis riset. Hadirnya 13 tim tersebut menjadi representasi keragaman inovasi yang dikembangkan di kampus.

Pada sesi defile, UGM menugaskan dua mahasiswa sebagai pembawa bendera universitas. Ata Beckham De Porras dari PKM-KI tampil mewakili tim yang mengembangkan Inkupets, inkubator cerdas perawatan intensif hewan kesayangan berbasis Internet of Things. Sementara Maureen Arsa Sanda Cantika dari PKM-K membawa WormiBox, inovasi budidaya cacing tanah berbasis sensor dan pemantauan digital. Keduanya mewakili UGM dalam seremoni pembukaan yang diikuti ratusan kontingen dari berbagai perguruan tinggi.

Tim-tim UGM tahun ini menghadirkan beragam inovasi yang mengangkat isu aktual dan berbasis kebutuhan masyarakat. Inovasi tersebut mencakup teknologi kesehatan seperti detektor lesi pra-kanker dan perangkat wearable pendeteksi henti jantung. Ada pula solusi energi dan lingkungan seperti insinerator sampah portable serta sistem aerasi panel surya untuk budidaya lele. Selain itu, mahasiswa UGM juga mengangkat isu tata kelola, ruang sosial digital, ruminansia, kehutanan, hingga penanggulangan bencana.

Rangkaian pembukaan PIMNAS ke-38 menampilkan suasana kebersamaan yang kuat di antara seluruh peserta. Para mahasiswa dari berbagai daerah bertemu dalam satu ruang untuk memperkuat jejaring akademik dan memperluas kolaborasi riset. Kontingen UGM mengikuti seluruh sesi pembukaan dengan harapan dapat kembali membawa Piala Adikarta Kertawidya melalui karya-karya yang mereka bawa.

Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., menyampaikan apresiasi kepada para peserta dan menegaskan bahwa PIMNAS merupakan bagian penting dari ekosistem riset nasional. Beliau menyoroti bahwa para mahasiswa membawa gagasan yang kuat dan relevan dengan tantangan masyarakat. Rektor Unhas juga berharap inovasi yang muncul dari PIMNAS dapat berkembang dan berkontribusi pada penelitian jangka panjang. Pesan tersebut memperlihatkan komitmen Unhas dalam memperkuat budaya riset lintas kampus.

Pada akhir sambutannya, Rektor Unhas menyampaikan pesan filosofis yang menekankan pentingnya keteguhan dalam menuntut ilmu. Gagasan tersebut disampaikan melalui filosofi Makassar tentang semangat pantang menyerah dalam menghadapi tantangan. Beliau menegaskan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan syarat utama untuk bersaing di tingkat global. “Sekali layar terkembang, pantang biduk, surut ke pantai,” ujarnya.

Perwakilan Kemendikti Sains dan Teknologi, Dr. Beni Bandanadjaja, S.T., M.T., memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan PIMNAS serta pencapaian mahasiswa dari seluruh Indonesia. Ia menegaskan bahwa PIMNAS adalah forum intelektual yang kompetitif dan layak mendapatkan penghargaan setara beban studi. Dr. Beni menyampaikan dukungannya pada kebijakan konversi SKS bagi mahasiswa yang lolos PKM sampai level PIMNAS atau meraih medali. “PIMNAS bisa jadi lebih sulit daripada tugas akhir atau skripsi biasa, jadi selamat berkompetisi dan berikan hasil yang terbaik,” pungkasnya.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Direktorat Kemahasiswaan

Artikel 13 Tim PKM UGM Siap Adu Inovasi di PIMNAS ke-38 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/13-tim-pkm-ugm-siap-adu-inovasi-di-pimnas-ke-38/feed/ 0