Promosi Doktor Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/category/promosi-doktor-2/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Thu, 18 Jun 2026 03:28:12 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 Manungsa Tanpa Tenger, Melepaskan Kemelekatan Ego dan Identitas  https://ugm.ac.id/id/berita/manungsa-tanpa-tenger-melepaskan-kemelekatan-ego-dan-identitas/ https://ugm.ac.id/id/berita/manungsa-tanpa-tenger-melepaskan-kemelekatan-ego-dan-identitas/#respond Thu, 18 Jun 2026 03:28:12 +0000 https://ugm.ac.id/?p=94619 Manungsa tanpa tenger merupakan konsep manusia yang mampu mengambil jarak dari kemelekatan tenger (identitas) dalam ajaran Kawruh Jiwa yang dicetuskan oleh Ki Ageng Suryomentaram. Sebab ego atau keakuan manusia yang dapat menjadi sumber penderitaan batin apabila tidak disadari dan dikendalikan. Namun perjalanan untuk menuju manungsa tanpa tenger bersifat fluktuatif dan tidak pernah berhenti pada satu […]

Artikel Manungsa Tanpa Tenger, Melepaskan Kemelekatan Ego dan Identitas  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Manungsa tanpa tenger merupakan konsep manusia yang mampu mengambil jarak dari kemelekatan tenger (identitas) dalam ajaran Kawruh Jiwa yang dicetuskan oleh Ki Ageng Suryomentaram. Sebab ego atau keakuan manusia yang dapat menjadi sumber penderitaan batin apabila tidak disadari dan dikendalikan. Namun perjalanan untuk menuju manungsa tanpa tenger bersifat fluktuatif dan tidak pernah berhenti pada satu titik tertentu. Proses tersebut terus berubah dan sangat dipengaruhi oleh rasa, relasi sosial, serta lingkungan tempat seseorang berada. “Proses menuju manungsa tanpa tenger ini selalu naik turun. Artinya, prosesnya tidak berhenti pada satu titik tertentu, tetapi terus berubah-ubah sehingga tidak berada pada titik yang sama,” ujar Ryan Sugiarto, mahasiswa Program Doktor Fakultas Psikologi UGM, dalam ujian terbuka disertasinya yang berjudul “Manungsa Tanpa Tenger: Konsep dan Proses” di Ruang A-203 Fakultas Psikologi UGM, Rabu (17/6).

Ryan menjelaskan bahwa konsep manungsa tanpa tenger dioperasionalkan melalui tujuh aspek, yakni pengendalian dan pembebasan diri, keberanian mengambil jarak dari kemelekatan identitas dan ekspektasi sosial, keseimbangan jiwa dan kematangan diri, kesadaran sebagai pengamat sekaligus pelepasan ego, keutuhan hidup dan empati mendalam, fleksibilitas dalam menjalani kehidupan, serta struktur kesadaran dalam Kawruh Jiwa.

Menurut Ryan, proses menuju kondisi manungsa tanpa tenger berlangsung melalui empat tahapan, yaitu weruh dewe, krasa dewe, ngerti dewe, dan ngelakoni. “Ini adalah proses internal yang terjadi pada pelajar Kawruh Jiwa. Pada posisi ini, seseorang dapat bergerak menuju apa yang disebut sebagai perwujudan potensi dirinya,” katanya.

Karena itu, seseorang yang telah mencapai kondisi tertentu dalam manungsa tanpa tenger tetap berpotensi kembali terjebak dalam kemelekatan identitas maupun konflik sosial apabila tidak terus melakukan pengolahan diri. “Posisi manungsa tanpa tenger bisa saja tergelincir pada kelompok-kelompok tertentu atau masuk ke dalam konflik apabila proses pengolahan dirinya tidak dilakukan secara terus-menerus,” jelasnya.

Ryan menjelaskan bahwa perjalanan menuju manungsa tanpa tenger berlangsung melalui dua jalur yang saling melengkapi, yaitu proses lahir dan proses batin. Proses lahir dilakukan dengan mempelajari berbagai ajaran dan catatan Kawruh Jiwa, seperti Kondotak dan Lengcu Gelingan, serta melalui praktik menulis sebagai sarana refleksi diri. Sementara itu, proses batin dijalani melalui tahapan weruh dewe, krasa dewe, ngerti dewe, dan ngelakoni.

Lebih lanjut, Ryan mengungkapkan bahwa penelitiannya menghasilkan sebuah tawaran konseptual baru yang disebut post identity theory. Teori ini dikembangkan untuk melengkapi berbagai teori identitas yang telah ada, baik yang berfokus pada identitas sosial maupun identitas personal. Identitas dalam lanskap sosial kontemporer menjadi sebuah kebutuhan sekaligus tanggung jawab yang kerap membebani individu. 

Di satu sisi, identitas memberikan kerangka orientasi yang meneguhkan rasa diri serta memperkuat posisi seseorang dalam kehidupan sosial. Namun, pada saat yang sama, identitas juga bekerja sebagai mekanisme pembeda yang tegas antara “aku” dan “yang lain”. Pada titik inilah identitas menjadi problematis. Ketika identitas sepenuhnya dilekatkan pada keberadaan diri, kritik terasa sebagai ancaman, perbedaan dipandang sebagai serangan, dan perubahan dianggap sebagai kehilangan.

Dalam penelitian ini, ia menawarkan sebuah konsep teoritik baru yang disebut post identity theory, yaitu ruang untuk mengambil jarak dari berbagai kemelekatan identitas. Menurut Ryan, teori tersebut menawarkan perspektif baru mengenai bagaimana individu dapat membangun hubungan yang lebih sehat dengan identitas yang dimilikinya tanpa harus sepenuhnya melekat pada identitas tersebut.

Selain itu, penelitian ini juga menghasilkan konsep psiko-spiritual-kontekstual yang memandang spiritualitas sebagai sesuatu yang hidup dan terjaga dalam keseharian. “Kami juga merumuskan konsep psiko-spiritual-kontekstual, yaitu spiritualitas yang tetap terjaga dalam relasi kehidupan sehari-hari, bukan spiritualitas yang lahir karena menyendiri atau menjauh dari kehidupan sosial,” tuturnya.

Melalui penelitian ini, Ryan menyimpulkan bahwa manungsa tanpa tenger merupakan manusia yang mampu mengambil jarak dari kemelekatan identitas atau ego melalui proses lahir dan batin yang berlangsung secara terus-menerus. “Manusia tanpa tenger adalah manusia yang berjarak dari kemelekatan tenger atau kemelekatan identitas, yang prosesnya dilakukan melalui proses lahir maupun proses batin,” pungkas Ryan.

Pada ujian terbuka tersebut, Ryan dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude setelah menempuh masa studi selama 3 tahun 8 bulan 2 hari dan meraih IPK 3,86. Dengan capaian tersebut, Ryan resmi menjadi doktor ke-7.306 yang diluluskan oleh UGM.

Penulis/Foto : Zabrina Kumara 

Editor     : Gusti Grehenson

Foto     : Magnific

Artikel Manungsa Tanpa Tenger, Melepaskan Kemelekatan Ego dan Identitas  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/manungsa-tanpa-tenger-melepaskan-kemelekatan-ego-dan-identitas/feed/ 0
Mahasiswa UGM Kembangkan Inovasi Terapi Pengobatan Luka dengan Harga Lebih Terjangkau https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-kembangkan-inovasi-terapi-pengobatan-luka-dengan-harga-lebih-terjangkau/ https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-kembangkan-inovasi-terapi-pengobatan-luka-dengan-harga-lebih-terjangkau/#respond Sat, 11 Apr 2026 09:24:57 +0000 https://ugm.ac.id/?p=92349 Perawatan luka masih menjadi tantangan besar dalam dunia kedokteran modern karena karakteristik luka yang bervariasi dan hasil penyembuhan yang tidak selalu dapat diprediksi. Beban perawatan luka, terutama luka kronis, terus meningkat seiring dengan bertambahnya angka harapan hidup. Studi menunjukkan sekitar 3% penduduk usia di atas 65 tahun memiliki luka terbuka yang memerlukan perawatan. Luka kronis […]

Artikel Mahasiswa UGM Kembangkan Inovasi Terapi Pengobatan Luka dengan Harga Lebih Terjangkau pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Perawatan luka masih menjadi tantangan besar dalam dunia kedokteran modern karena karakteristik luka yang bervariasi dan hasil penyembuhan yang tidak selalu dapat diprediksi. Beban perawatan luka, terutama luka kronis, terus meningkat seiring dengan bertambahnya angka harapan hidup. Studi menunjukkan sekitar 3% penduduk usia di atas 65 tahun memiliki luka terbuka yang memerlukan perawatan. Luka kronis lebih sering ditemukan pada perempuan dan usia lanjut, dengan prevalensi 1,67 kasus per 1.000 penduduk. Jika dikaitkan dengan populasi Indonesia, diperkirakan terdapat sekitar 278 ribu kasus luka kronis yang menjadi beban sistem kesehatan nasional.

Vacuum Assisted Closure (VAC) yang telah lama diperkenalkan terbukti efektif mempercepat penyembuhan, namun biayanya tinggi sehingga terbatas di negara berkembang seperti Indonesia. Meski banyak inovasi dilakukan, belum ada inovasi yang mendasar pada komponen utama VAC.

Mahasiswa program doktor Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada, Meirizal, mengembangkan inovasi terapi tekanan negatif atau Reverse Aqua Pump-Vacuum Assisted Closure (RAP-VAC) memunculkan solusi yang lebih murah dan efikasi yang setara dengan VAC komersial.

Dalam penelitian disertasinya yang berjudul “Perawatan Luka yang Ekonomis dan Efektif sebagai Proses Persiapan Cangkok Kulit Bedah Lanjut dengan Menggunakan Inovasi Reverse Aqua Pump–Vacuum Assisted Closure: Studi Klinis Acak Non-Inferioritas”, ia menghadirkan solusi alternatif terapi luka yang lebih terjangkau tanpa mengurangi efektivitas klinis.

Di Ujian terbuka promosi doktor, Kamis (9/4), di ruang auditorium FK-KMK UGM, Meirizal menyampaikan penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya beban perawatan luka, khususnya luka kompleks yang membutuhkan terapi tekanan negatif atau Vacuum Assisted Closure (VAC), sementara biaya penggunaan VAC komersial masih menjadi kendala utama di negara berkembang seperti Indonesia. “Kebutuhan terapi luka dengan VAC cukup tinggi, tetapi akses terhadap teknologi ini masih terbatas karena biaya. Oleh karena itu, kami mengembangkan RAP-VAC sebagai alternatif yang lebih terjangkau namun tetap efektif secara klinis,” ujarnya.

Melalui inovasi Reverse Aqua Pump–VAC (RAP-VAC), penelitian ini menggunakan desain uji klinis acak non-inferioritas untuk membandingkan efektivitas RAP-VAC dengan VAC komersial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RAP-VAC memiliki efektivitas yang setara dengan metode konvensional.

Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr. Sardjito, D.I. Yogyakarta pada instalasi rawat jalan, instalasi rawat inap dan kamar operasi, Orthopaedi dan Traumatologi. Penelitian ini berlangsung selama 5 bulan dari April 2025 hinggga Agustus 2025. Subjek penelitian adalah pasien dengan defek luka yang membutuhkan rekonstruksi lanjutan pada Sub Divisi Bedah Tangan dan Rekonstruksi Mikro dan dikumpulkan secara konsekutif dari instalasi rawat jalan, instalasi rawat inap, dan instalasi rawat darurat hingga jumlah sampel yang dibutuhkan terpenuhi.

Penelitian yang melibatkan 26 subjek yang memenuhi kriteria inklusi, namun dua di antaranya tereksklusi karena membutuhkan tindakan bedah lanjutan berupa flap rekonstruksi, sehingga total sampel yang dianalisis berjumlah 24 subjek. “Subjek dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Reverse Aqua Pump-VAC (RAP- VAC) dan kelompok VAC komersial, masing-masing terdiri dari 12 pasien,” paparnya.

Dari hasil penelitian diketahui tidak terdapat perbedaan bermakna derajat granulasi luka antara pasien yang dirawat dengan RAP-VAC dan VAC komersial.  Bahkan tidak terdapat perbedaan bermakna pada durasi tunggu untuk rekonstruksi lanjutan antara RAP-VAC dan VAC komersial. “Terdapat perbedaan bermakna pada status infeksi luka antara pasien yang dirawat dengan RAP-VAC dan VAC komersial. Namun tidak terdapat perbedaan bermakna pada tingkat kenyamanan pasien antara penggunaan RAP-VAC dan VAC komersial. Yang lebih penting, terdapat perbedaan signifikan pada biaya perawatan, di mana RAPVAC lebih rendah dibandingkan VAC komersial,” ungkapnya.

Menurutnya RAP-VAC menghasilkan efek penyembuhan yang sama atau lebih baik dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan VAC komersial. Oleh karena itu, RAP-VAC dapat dianggap sebagai alternatif terapi tekanan negatif yang lebih hemat biaya sekaligus non-inferior dalam efektivitas penyembuhan luka. “Temuan kami menunjukkan bahwa RAP-VAC tidak hanya setara secara efektivitas, tetapi juga jauh lebih efisien dari sisi biaya. Ini membuka peluang penerapan yang lebih luas, terutama di fasilitas kesehatan dengan keterbatasan sumber daya,” tambah Meirizal.

Berdasarkan hasil tersebut, RAP-VAC dinilai berpotensi menjadi alternatif yang efektif dan efisien dalam perawatan luka kompleks, khususnya dalam persiapan cangkok kulit pada bedah rekonstruksi. “Harapannya, inovasi ini dapat menjadi solusi aplikatif bagi pelayanan kesehatan di Indonesia, sehingga terapi luka yang optimal dapat diakses lebih luas oleh masyarakat,” pungkasnya.

Penelitian ini diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi ilmiah, tetapi juga berdampak nyata dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan, khususnya di bidang bedah tangan dan rekonstruksi mikro.

Penulis     : Jelita Agustine

Editor       : Gusti Grehenson

Foto         : Freepik dan Jelita

Artikel Mahasiswa UGM Kembangkan Inovasi Terapi Pengobatan Luka dengan Harga Lebih Terjangkau pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-kembangkan-inovasi-terapi-pengobatan-luka-dengan-harga-lebih-terjangkau/feed/ 0
Direktur Pakan Kementan RI Raih Doktor Cumlaude di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/direktur-pakan-kementan-ri-raih-doktor-cumlaude-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/direktur-pakan-kementan-ri-raih-doktor-cumlaude-di-ugm/#respond Mon, 27 Oct 2025 06:18:59 +0000 https://ugm.ac.id/?p=85922 Tri Melasari, S.Pt., M.Si., Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian RI, berhasil meraih gelar doktor dari Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Keberhasilan meraih gelar tersebut ia raih berkat desertasi penelitian berjudul Efektivitas Keberadaan Kapal Ternak Camara Nusantara dan Penerapan Prinsip Kesejahteraan Ternak Dalam Distribusi Ternak Sapi di Indonesia yang ia […]

Artikel Direktur Pakan Kementan RI Raih Doktor Cumlaude di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Tri Melasari, S.Pt., M.Si., Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian RI, berhasil meraih gelar doktor dari Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Keberhasilan meraih gelar tersebut ia raih berkat desertasi penelitian berjudul Efektivitas Keberadaan Kapal Ternak Camara Nusantara dan Penerapan Prinsip Kesejahteraan Ternak Dalam Distribusi Ternak Sapi di Indonesia yang ia pertahankan pada hari di Fakultas Peternakan UGM, Sabtu (25/10).

Dalam ujian terbukanya, promovenda dinyatakan lulus doktor dari Fakultas Peternakan (Fapet) UGM dengan predikat cumlaude dengan lama studi 2 tahun 7 bulan 17 hari serta IPK 3,99. Melalui desertasi Efektivitas Keberadaan Kapal Ternak Camara Nusantara dan Penerapan Prinsip Kesejahteraan Ternak Dalam Distribusi Ternak Sapi di Indonesia, dalam kajiannya ia menyoroti pentingnya transportasi laut khusus ternak dalam mendukung distribusi sapi antar pulau, sekaligus penerapan prinsip kesejahteraan hewan.

“Hasil penelitian memperlihatkan kapal ternak Camara Nusantara berperan signifikan dalam menekan disparitas harga antara daerah produsen dan konsumen. Meskipun volatilitas harga belum sepenuhnya terkendali, keberadaan kapal ternak terbukti mampu menjaga stabilitas distribusi sapi antarwilayah,” ujarnya.

Dari aspek kesejahteraan hewan, kata Tri Melasari, kapal Camara Nusantara telah memenuhi standar yang baik. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan susut bobot badan sapi rata-rata hanya 6,27 persen, lebih rendah dibanding transportasi konvensional. Faktor yang mendukung antara lain ketersediaan pakan dan air, ventilasi yang memadai, serta pengaturan kepadatan ternak. Sementara dari sisi ekonomi, hasil analisis menunjukkan bahwa kapal Camara Nusantara layak secara finansial dengan rasio manfaat-biaya sebesar 1,243. “Keberadaan kapal ternak ini juga mendorong pertumbuhan usaha sapi potong di Nusa Tenggara Timur (NTT), memperluas akses pasar, dan meningkatkan kesejahteraan peternak,” terangnya.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementerian Pertanian, Dr. Drh. Agung Suganda, M.Si yang turut hadir dan menyaksikan ujian terbuka berharap agar kerja sama Kementerian Pertanian dengan Kementerian Perhubungan terkait dengan keberadaan kapal ternak Camara Nusantara (CN) bisa diteruskan untuk existing trayek yang sudah ada. Ia juga mendorong penambahan trayek baru untuk memenuhi kebutuhan lalu lintas ternak.

”Indonesia itu adalah negara kepulauan sehingga membutuhkan tol laut yang lebih efisien. Untuk itu selain SOP teknis perlu dipikirkan pola distribusi yang mendorong adanya efisiensi,” paparnya.

Melalui desertasi Tri Melasari, ia juga berharap munculnya peran swasta dalam pengadaan kapal angkut ternak selain dari pemerintah. Di tingkat ASEAN, katanya, baru Indonesia yang bisa mengirimkan ayam hidup dari Bintan ke Singapura dengan kapal angkut ternak oleh pihak swasta. :”Tingkat keberhasilan dan kesejahteraan hewan (animal welfare)-nya juga terjaga karena dalam pengiriman yang memerlukan waktu selama 8 jam tersebut hanya 1 ekor ayam yang mati. Kondisi atau pola semacam ini perlu terus kita dorong termasuk di ternak ruminansia, baik ruminansia besar dan kecil,”katanya.

Reportase : Satria/ Humas Fakultas Peternakan UGM

Penulis : Agung Nugroho

Foto: Margiyono

Artikel Direktur Pakan Kementan RI Raih Doktor Cumlaude di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/direktur-pakan-kementan-ri-raih-doktor-cumlaude-di-ugm/feed/ 0
Pembahasan HAM oleh Media Alami Stagnasi Sejak Tahun 1998 https://ugm.ac.id/id/berita/pembahasan-ham-oleh-media-alami-stagnasi-sejak-tahun-1998/ https://ugm.ac.id/id/berita/pembahasan-ham-oleh-media-alami-stagnasi-sejak-tahun-1998/#respond Fri, 29 Sep 2023 06:46:47 +0000 https://ugm.ac.id/?p=59841 Berkembangnya disrupsi pada media komunikasi menyebabkan perubahan sistem media. Idealnya, media berperan sebagai pembawa wacana di tengah masyarakat melalui informasi. Namun, yang terjadi saat ini media justru cenderung mengikuti perkembangan topik-topik yang muncul di masyarakat, hingga memengaruhi independensi media itu sendiri. Salah satu wacana yang tidak banyak dibahas media adalah persoalan HAM. Padahal, isu tersebut […]

Artikel Pembahasan HAM oleh Media Alami Stagnasi Sejak Tahun 1998 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Berkembangnya disrupsi pada media komunikasi menyebabkan perubahan sistem media. Idealnya, media berperan sebagai pembawa wacana di tengah masyarakat melalui informasi. Namun, yang terjadi saat ini media justru cenderung mengikuti perkembangan topik-topik yang muncul di masyarakat, hingga memengaruhi independensi media itu sendiri. Salah satu wacana yang tidak banyak dibahas media adalah persoalan HAM. Padahal, isu tersebut memerlukan perhatian lebih karena berkaitan dengan perkembangan realitas HAM di Indonesia.

Melalu disertasinya, Dr. Senja Yustitia, S.Sos., M.Si. meneliti perkembangan sistem media dalam menyajikan informasi tentang HAM. 

“Selama ini Hak Asasi Manusia (HAM) hanya dijadikan sebagai latar peristiwa semata. Tapi dalam penelitian ini, terlihat dari evolusi bingkai yang sudah saya jelaskan termasuk konsistensi bingkai dan perkembangannya. Riset ini menempatkan HAM sebagai situs yang tidak remeh temeh. Kemudian di sini juga tidak hanya menekankan pada wartawan saja, namun juga bagaimana media itu tumbuh dan beradaptasi dengan lingkungan yang ada,” ucapnya. 

Posisi media sebagai pembentuk konstruksi realitas di masyarakat menjadi penting untuk memilah informasi dan meningkatkan urgensi atas isu tertentu. Wacana akan HAM sendiri mulai marak dibahas pada masa awal reformasi. Sayangnya, menurut Senja isu HAM semakin lama semakin hilang dari pembahasan masyarakat karena media tidak lagi membawa isu tersebut sebagai informasi yang intens. Bahkan, menjelang Pemilu 2024, HAM tidak menjadi topik pembahasan yang diprioritaskan masyarakat jika dibandingkan topik tentang kesejahteraan dan ekonomi. 

“Saya rasa kita harus memberikan tekanan bahwa media itu secara umum harus bisa memanggil banyak suara dan banyak keresahan baru. Ada banyak isu-isu HAM yang sifatnya mendasar dan itu tidak pernah mendapatkan ruang di media. Ini cukup berbahaya, karena kita semua tahu HAM itu secara takut-takut dibicarakan dan memang tidak dibuka selebar-lebarnya karena dianggap terlalu liberal, merusak, dan sebagainya,” ujar Promovenda. Penelitian ini digali dengan cara menganalisa 241 artikel berita dari media yang dirilis sejak tahun 1998-2019. Hasilnya menunjukkan pola konsistensi dan framing (bingkai) berita yang dibangun dalam media dari tahun ke tahun. 

Bingkai yang paling banyak muncul tentang HAM adalah bingkai tanggung jawab pihak tertentu akan kejadian pelanggaran HAM, dan amanat serta cita-cita reformasi. Pembahasan HAM muncul dengan intens ketika dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa pelanggaran HAM yang belum terselesaikan hingga kini. Namun selebihnya, pembahasan HAM secara lebih luas tidak banyak terjadi. Senja juga mengungkapkan, pembahasan HAM di media beberapa kali mengalami stagnasi dan kurangnya inisiatif media untuk menghadirkan kebaruan. 

“Wacana-wacana yang muncul itu seringkali justru menengahkan bahwa hak asasi manusia itu harus diimbangi dengan tanggung jawab, toleransi, atau harmonisasi. Pada saat wacana itu muncul, sebenarnya ada sebuah kegelisahan yang teramat dalam. Wacana itu membuat orang yang kritis terhadap hal ini secara tidak langsung terpolarisasi. Maka media harusnya kemudian mengangkat media tersebut untuk memberikan wacana yang berimbang, sehingga topik-topik komunikasi itu hidup di tengah kita,” tambah Senja. 

Penulis: Tasya

Artikel Pembahasan HAM oleh Media Alami Stagnasi Sejak Tahun 1998 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/pembahasan-ham-oleh-media-alami-stagnasi-sejak-tahun-1998/feed/ 0
Raih Doktor Usai Meneliti Pengaruh Sifat Fisis Fluida Aliran Stratified https://ugm.ac.id/id/berita/raih-doktor-usai-meneliti-pengaruh-sifat-fisis-fluida-aliran-stratified/ https://ugm.ac.id/id/berita/raih-doktor-usai-meneliti-pengaruh-sifat-fisis-fluida-aliran-stratified/#respond Thu, 15 Jun 2023 14:30:47 +0000 https://ugm.ac.id/?p=56684 Mahasiswa Program Studi Doktor Teknik Mesin, Departemen Teknik Mesin dan Industri, Fakultas Teknik UGM, Setya Wijayanta, berhasil meraih gelar doktor usai mempertahankan disertasinya pada ujian terbuka promosi doktor di Fakultas Teknik, Kamis (15/6). Dalam disertasinya yang berjudul Studi Pengaruh Sifat Fisis Fluida Terhadap Karakteristik Aliran Stratified Udara-Air Searah pada Pipa Horizontal, Setya mengatakan pada aliran stratified […]

Artikel Raih Doktor Usai Meneliti Pengaruh Sifat Fisis Fluida Aliran Stratified pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mahasiswa Program Studi Doktor Teknik Mesin, Departemen Teknik Mesin dan Industri, Fakultas Teknik UGM, Setya Wijayanta, berhasil meraih gelar doktor usai mempertahankan disertasinya pada ujian terbuka promosi doktor di Fakultas Teknik, Kamis (15/6). Dalam disertasinya yang berjudul Studi Pengaruh Sifat Fisis Fluida Terhadap Karakteristik Aliran Stratified Udara-Air Searah pada Pipa Horizontal, Setya mengatakan pada aliran stratified gas-cair searah pada pipa horizontal banyak dijumpai pada sistem perpipaan didesain untuk beroperasi pada pola atau rezim aliran stratified karena memiliki fluktuasi tekanan yang rendah.

Sedangkan pada aliran slug yang tidak stabil dengan fluktuasi tekanan yang tinggi dan berbahaya jika terjadi pada jaringan perpipaan bisa menyebabkan pipa pecah. Oleh karena itu, pemahaman yang baik tentang karakteristik gelombang antarmuka pada pola aliran stratified sangat membantu memahami dan mengembangkan model-model pola aliran di dekatnya seperti slug dan annular.

Pada penelitiannya untuk mengetahui pengaruh sifat fisis fluida, Setya menggunakan udara dan air pada tekanan atmosfer yang digunakan sebagai fluida uji. Selanjutnya untuk memvariasikan viskositas liquid, maka air dicampur dengan gliserin. Persentase gliserin di dalam campuran adalah 30 persen dan 50 persen. Sementara untuk memvariasikan tegangan permukaan liquid, maka air dicampur dengan butanol dengan persentase 2 dan 5 persen.

Dari hasil penelitiannya terhadap enam sub pola yang teridentifikasi dari aliran stratified yaitu stratified smooth, 2-D wave, 3-D wave, roll wave, entrained droplet plus disturbance wave, dan pseudo slug. Lalu, kenaikan viskositas dan penurunan tegangan permukaan cairan menyebabkan pergeseran garis transisi dan perubahan luas wilayah dari masing-masing sub rezim.

Selain itu, juga diketahui bahwa peningkatan viskositas liquid menyebabkan peningkatan gradien tekanan liquid film thickness dan liquid holdup. Perubahan tegangan permukaan menyebabkan peningkatan gradien tekanan dan pengaruhnya sangat kecil terhadap perubahan liquid film thickness dan liquid holdup.

Sedangkan pada aliran stratified pada posisi melintang aliran diketahui wetted wall fraction semakin berkurang dengan peningkatan viskositas liquid dan semakin bertambah dengan penurunan tegangan permukaan liquid.

Penulis : Gusti Grehenson

Artikel Raih Doktor Usai Meneliti Pengaruh Sifat Fisis Fluida Aliran Stratified pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/raih-doktor-usai-meneliti-pengaruh-sifat-fisis-fluida-aliran-stratified/feed/ 0