Seminar/Workshop Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/category/seminar-workshop-2/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Mon, 31 Aug 2026 02:48:51 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 Menghidupkan Budaya, Merawat Warga https://ugm.ac.id/id/berita/menghidupkan-budaya-merawat-warga/ https://ugm.ac.id/id/berita/menghidupkan-budaya-merawat-warga/#respond Mon, 31 Aug 2026 02:48:51 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97080 Kebudayaan Yogyakarta terus berkembang di tengah perubahan kota dan semakin kuatnya industri kreatif. Berbagai praktik seni dan budaya kini hadir dalam ruang publik, kegiatan kreatif, hingga produk yang memiliki nilai ekonomi. Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai batas antara merawat kebudayaan dan menjadikannya sebagai komoditas. Di tengah kebutuhan seniman untuk terus berkarya dan kebutuhan masyarakat […]

Artikel Menghidupkan Budaya, Merawat Warga pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kebudayaan Yogyakarta terus berkembang di tengah perubahan kota dan semakin kuatnya industri kreatif. Berbagai praktik seni dan budaya kini hadir dalam ruang publik, kegiatan kreatif, hingga produk yang memiliki nilai ekonomi. Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai batas antara merawat kebudayaan dan menjadikannya sebagai komoditas. Di tengah kebutuhan seniman untuk terus berkarya dan kebutuhan masyarakat untuk mempertahankan ruang hidupnya, arah kebudayaan perlu memberi tempat bagi seniman dan warga sebagai pelaku utamanya

Hal itu mengemuka dalam Diskusi Pojok Bulaksumur yang bertajuk “Nyawa yang Dijual? Seni, Kuasa, dan Wajah Baru Kebudayaan Jogja” yang berlangsung di selasar Gelanggang Inovasi Kreativitas (GIK) UGM, Sabtu (29/8. Diskusi tersebut menghadirkan Seniman Anang Saptoto; Anggota Dewan Kebudayaan Yogyakarta,  Ishari Sahida (Ari Wulu); Dosen Antropologi FIB UGM Dr. Muhammad Zamzam Fauzanafi, S.Ant., M.A., dan sastrawan UGM Prof. Faruk. Keempat pembicara membahas hubungan antara seni, industri kreatif, komodifikasi kebudayaan, serta posisi masyarakat dalam menentukan wajah kebudayaan Yogyakarta.

Anang Saptoto menilai kehadiran praktik kebudayaan dalam berbagai ruang tidak serta-merta dapat dipahami sebagai bentuk menjual kebudayaan. Menurutnya, dalam perspektif seni rupa, praktik kebudayaan dapat dihadirkan dalam ruang kampung, kota, nasional, hingga internasional dengan tujuan yang beragam. Karena itu, perlu dilihat terlebih dahulu konteks dan tujuan dari praktik tersebut sebelum menyimpulkan bahwa kebudayaan sedang dikomersialisasikan.

Anang menjelaskan, praktik seni dapat menjadi sarana untuk mengangkat persoalan atau isu yang selama ini kurang mendapatkan perhatian. Dengan demikian, ketika sebuah karya hadir dalam ruang publik, hal yang ditawarkan tidak selalu berupa kebudayaan sebagai komoditas, tetapi juga gagasan yang ingin disampaikan oleh seniman. “Jangan-jangan praktik-praktik kebudayaan itu memang dilakukan untuk mengamplifikasi sesuatu yang biasanya enggak didengar,” ujarnya.

Menurut Anang, praktik yang dilakukan oleh para seniman sangat beragam. Ia mengakui terdapat konteks ketika karya seni dan produk kreatif memang diperjualbelikan, seperti dalam bursa seni rupa maupun pameran produk kreatif. Namun, hal tersebut tidak dapat secara otomatis disamakan dengan menjual kebudayaan. “Tidak semua konteksnya itu menjual dalam konteks kebudayaan. Karena itu praktiknya aja. Yang dijual justru yang disajikan di sini isunya,” ungkapnya.

Sementara itu, Ishari Sahida atau Ari Wulu menyoroti persoalan dari sudut pandang musisi yang berhadapan langsung dengan industri kreatif. Menurutnya, perlu ada pembedaan antara aktivitas berkarya sebagai bentuk ekspresi seni dengan aktivitas seni yang dilakukan sebagai pekerjaan dalam industri. Perbedaan tersebut berpengaruh terhadap sejauh mana seorang seniman harus melakukan kompromi ketika berhadapan dengan pasar maupun pihak yang menggunakan jasanya.

Ari menjelaskan, dalam berkarya untuk kepentingan ekspresi, seorang seniman memiliki ruang yang lebih bebas untuk mengolah gagasan dan pengalaman yang dimilikinya. Sementara itu, ketika masuk ke industri, terdapat pertimbangan ekonomi dan kebutuhan pasar. Kondisi yang berbeda juga muncul ketika seniman mendapatkan pesanan dari klien dan harus menghasilkan karya sesuai kebutuhan pihak tersebut. “Kamu memang sedang mencari uang, kemudian membuat sesuatu yang kamu tahu metodenya, produk ini menjadi laku. Nah, itu hal-hal yang berbeda. Yang kedua, kamu dapat order dari klien, membuat produk sesuai kebutuhannya si klien dengan kemampuan kita,” jelasnya.

Menurut Ari, perbedaan antara seni sebagai ekspresi dan seni sebagai pekerjaan tersebut masih belum dipahami secara tegas di Yogyakarta. Akibatnya, seniman terkadang berada dalam posisi yang dilematis ketika harus memenuhi kebutuhan ekonomi sekaligus mempertahankan identitas dan idealisme sebagai seniman. Ia menilai realitas ekonomi menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan pelaku seni.

Berbeda dengan kedua pembicara sebelumnya, Dr. Muhammad Zamzam Fauzanafi menyoroti persoalan komodifikasi dari cara masyarakat mendefinisikan kebudayaan. Menurutnya, kebudayaan selama ini cenderung dipahami sebagai benda atau sesuatu yang dapat dilihat dan disentuh. Cara pandang tersebut membuat kebudayaan lebih mudah ditempatkan sebagai komoditas yang dapat dipindahkan, diberi harga, dan diperjualbelikan.

Zamzam menawarkan cara pandang lain dengan melihat kebudayaan sebagai “kata kerja” atau laku manusia. Menurutnya, kebudayaan tidak hanya terletak pada produk yang dihasilkan, tetapi pada proses manusia dalam melakukan dan menciptakan praktik kebudayaan. “Harusnya kebudayaan itu dilihat sebagai kata kerja. Tadi ini disebutnya laku. Jadi kebudayaan itu bukan bendanya, tapi kerjanya,” tuturnya.

Lebih jauh, Zamzam menilai praktik kebudayaan seharusnya dikembangkan secara horizontal dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku. Seniman, menurutnya, tidak harus ditempatkan sebagai sosok yang paling tinggi atau paling jenius dalam praktik kebudayaan, tetapi dapat berperan sebagai fasilitator bagi warga. Dengan demikian, kerja kebudayaan dapat dilakukan bersama dan tidak hanya berpusat pada individu tertentu.

Ia mencontohkan keterlibatan seniman dalam bekerja bersama kelompok tani dan masyarakat sebagai salah satu bentuk praktik kebudayaan yang dapat dilakukan secara kolaboratif. Menurutnya, karya maupun kerja kebudayaan dapat dihasilkan oleh banyak orang dengan tetap memberikan ruang bagi keahlian seniman. “Seniman itu jangan dikompakkan sebagai sesuatu yang langka dan dia dirakit sebagai paling jenius dari semuanya, tetapi seniman adalah orang yang memfasilitasi warga,” katanya.

Sementara itu, Prof. Faruk melihat persoalan komodifikasi kebudayaan melalui konsep pertukaran. Menurutnya, pertukaran merupakan bagian dari kehidupan manusia dan telah berlangsung jauh sebelum berkembangnya industri modern. Karena itu, persoalan kebudayaan tidak dapat hanya dilihat dari apakah sesuatu diperjualbelikan atau tidak, melainkan dari bagaimana pertukaran tersebut berlangsung dan untuk kepentingan siapa.

Faruk menjelaskan, pertukaran yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menjaga keberlangsungan karya masih merupakan sesuatu yang wajar. Persoalan muncul ketika pertukaran berubah menjadi praktik yang serakah atau “gragas”. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi monopoli, penguasaan akses, serta pengambilan ruang yang seharusnya dapat dimanfaatkan oleh pihak lain. “Bukan dijual atau tidak dijual, tapi serakah atau tidak,” tegasnya.

Menurut Faruk, logika pasar yang tidak terbatas dapat mendorong seseorang untuk terus memperbesar keuntungan hingga berupaya menguasai ruang ekonomi dan politik. Dalam kondisi tersebut, pertukaran tidak lagi sekadar menjadi sarana memenuhi kebutuhan, tetapi berkembang menjadi praktik industrial dan kapitalistik yang berpotensi menghilangkan kesempatan pihak lain.

Pandangan tersebut sekaligus memberikan perspektif terhadap slogan “Jogja Ora Didol”. Menurut Faruk, slogan tersebut tidak harus dimaknai sebagai penolakan terhadap seluruh bentuk pertukaran ekonomi dalam kebudayaan. “Yang lebih penting adalah memastikan agar pertukaran berlangsung secara wajar dan tidak berkembang menjadi keserakahan, monopoli, maupun penguasaan ruang oleh segelintir pihak,” tegasnya.

Perbedaan pandangan keempat pembicara menunjukkan bahwa persoalan kebudayaan Yogyakarta tidak dapat dilihat secara hitam putih sebagai sesuatu yang sekadar “dijual” atau “dirawat”. Seni dapat menjadi ekspresi sekaligus pekerjaan, kebudayaan dapat memiliki nilai ekonomi sekaligus menjadi medium untuk menyuarakan isu, sementara pertukaran dapat menopang keberlangsungan hidup sekaligus berpotensi menjadi sarana monopoli. Pada akhirnya, pembahasan mengenai “Nyawa yang Dijual?” mengajak publik untuk melihat kembali siapa yang memiliki ruang dan kewenangan dalam menentukan arah kebudayaan Yogyakarta, serta bagaimana memastikan perkembangan kebudayaan tetap memberi tempat bagi seniman dan warga sebagai pelaku utamanya.

Penulis : M. Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Menghidupkan Budaya, Merawat Warga pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/menghidupkan-budaya-merawat-warga/feed/ 0
Merawat Asa Penyintas SMA dan Penyakit Langka  https://ugm.ac.id/id/berita/merawat-asa-penyintas-sma-dan-penyakit-langka/ https://ugm.ac.id/id/berita/merawat-asa-penyintas-sma-dan-penyakit-langka/#respond Wed, 26 Aug 2026 07:56:17 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96925 Kasus  Spinal Muscular Atrophy (SMA) atau gangguan saraf dan otot yang mengalami pelemahan pada anak relatif jarang ditemui tetapi dapat dijumpai saat pasien memerlukan tindakan koreksi skoliosis yang membutuhkan persiapan dan dukungan medis secara komprehensif. Oleh karena itu, penanganan SMA dan penyakit langka merupakan perjuangan jangka panjang yang membutuhkan dukungan banyak pihak sejak diagnosis hingga […]

Artikel Merawat Asa Penyintas SMA dan Penyakit Langka  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Kasus  Spinal Muscular Atrophy (SMA) atau gangguan saraf dan otot yang mengalami pelemahan pada anak relatif jarang ditemui tetapi dapat dijumpai saat pasien memerlukan tindakan koreksi skoliosis yang membutuhkan persiapan dan dukungan medis secara komprehensif. Oleh karena itu, penanganan SMA dan penyakit langka merupakan perjuangan jangka panjang yang membutuhkan dukungan banyak pihak sejak diagnosis hingga pengobatan. Hal itu mengemuka dalam Temu Teman SMA 2026: Gathering Spinal Muscular Atrophy dan Rare Disease bertajuk Stronger Together, Brighter Tomorrow yang digelar di GIK UGM, Selasa (25/8).

Ketua Program Studi Magister Ilmu Kedokteran Klinis FK-KMK UGM, dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, M.Sc., Ph.D., menekankan bahwa penanganan SMA dan penyakit langka merupakan perjuangan jangka panjang yang membutuhkan banyak pihak sejak diagnosis hingga pengobatan. Menurutnya, dukungan terhadap pasien juga perlu mencakup aspek sosial dan ekonomi keluarga. Salah satunya melalui program Rencang Massage, inisiatif kerja sama Yayasan Untuk Teman Indonesia dan FK-KMK UGM dalam bentuk wirausaha sosial yang memberdayakan orang tua anak berkebutuhan khusus. Program tersebut dirancang agar orang tua tetap dapat memperoleh penghasilan sembari mendampingi anak yang membutuhkan perawatan secara intensif. “Dengan inisiatif Rencang Massage ini, harapannya mereka tetap bisa menjaga situasi ekonomi mereka sambil menjaga anaknya,” jelasnya.

Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Alumni, dan Pengabdian kepada Masyarakat FK-KMK UGM, Dr. dr. Sudadi, SpAn-TI., Subsp.N.An(K)., menyampaikan kolaborasi berbagai lintas disiplin ilmu menjadi kunci dalam memberikan dukungan yang lebih komprehensif bagi anak-anak penyandang SMA dan penyakit langka. “Kita bisa memadukan multidisiplin ilmu untuk hadir disini membantu dan menyelenggarakan acara bersama-sama untuk mensupport anak-anak kita,” ucapnya, Selasa (25/8).

Pendiri Yayasan Untuk Teman Indonesia, Febfi Setyawati, menceritakan pengalaman pribadi sebagai orang tua anak dengan kebutuhan khusus yang kemudian bergabung dengan komunitas penyakit langka dan bersama sejumlah pihak mendirikan Yayasan Untuk Teman Indonesia. Selain dukungan layanan, Yayasan Untuk Teman mengembangkan program pemberdayaan ekonomi seperti Rencang Massage dan Teman Resik. Program tersebut memberikan kesempatan kepada orang tua untuk memperoleh penghasilan dengan waktu kerja yang relatif fleksibel sehingga tetap dapat mendampingi anak. “Kita ciptakan lapangan usaha yang kalau pergi cuma sejam, dua jam tapi penghasilannya bisa setara UMR,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Spinal Muscular Atrophy Indonesia, Sylvia Sumargi, menyampaikan bahwa layanan bagi pasien SMA selama ini lebih banyak berfokus pada pediatri dan rehabilitasi medik, sehingga keterlibatan berbagai disiplin dalam kegiatan tersebut menjadi langkah penting. Ia juga menekankan pentingnya deteksi dini karena keterlambatan diagnosis masih menjadi salah satu tantangan dalam penanganan penyakit langka. “Semakin cepat penyakit diketahui, semakin besar peluang intervensi dapat diberikan secara tepat, meskipun belum semua penyakit langka memiliki terapi definitif,” ucapnya.

Salah satu pendiri Komunitas Indonesia Rare Disorders (IRD), dr. Widya Eka Nugraha, M.Si.Med., menyebut bahwa pengembangan layanan terpadu perlu diarahkan menjadi bagian dari sistem pelayanan di rumah sakit. Ia membagikan pengalaman saat menempuh pendidikan Human Genetics di Belanda, ketika pasien penyakit langka dapat memperoleh layanan dalam satu poliklinik dan dokter dari berbagai bidang yang mendatangi pasien. “Mudah-mudahan ke depannya adalah layanan terpadu di dalam poliklinik rumah sakit kita yang juga bisa mewujudkan layanan seperti ini,” tuturnya.

Ia juga menyoroti tantangan pemeriksaan genetik di Indonesia, terutama dari sisi biaya dan keterbatasan tenaga yang mampu menginterpretasikan hasil pemeriksaan secara mendalam. Padahal, hasil pemeriksaan genetik memiliki peran penting untuk memahami perjalanan penyakit pasien sekaligus mendukung penelitian pengembangan terapi. “Satu hasil dari variasi genetik itu bisa menentukan bagaimana penyakit ke depan dari pasien. Lalu yang kedua, dari situ kita juga bisa melakukan riset untuk menemukan obatnya,” pungkasnya.

Sekedar informasi, kegiatan  Temu Teman SMA ini bertujuan untuk mempertemukan keluarga penyintas SMA dan anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan tenaga kesehatan, komunitas, relawan, dan mitra. Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk menghadirkan akses pemeriksaan kesehatan gratis, edukasi, dukungan bagi keluarga, serta diseminasi Rencang Massage 2.0 sebagai upaya memperkuat kemandirian ekonomi orang tua ABK.

Penulis : Cyntia Noviana

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Jesi

Artikel Merawat Asa Penyintas SMA dan Penyakit Langka  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/merawat-asa-penyintas-sma-dan-penyakit-langka/feed/ 0
Kailash Satyarthi Ajak UGM Bawa KKN ke Kancah Global https://ugm.ac.id/id/berita/kailash-satyarthi-ajak-ugm-bawa-kkn-ke-kancah-global/ https://ugm.ac.id/id/berita/kailash-satyarthi-ajak-ugm-bawa-kkn-ke-kancah-global/#respond Fri, 21 Aug 2026 09:45:37 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96854 Peraih Nobel Laureate 2014, Kailash Satyarthi, menilai dunia saat ini memiliki banyak pengetahuan, data, hukum, deklarasi, lembaga internasional, hingga berbagai pembahasan mengenai persoalan global. Namun, di sisi lain, dunia juga menghadapi persoalan seperti keterpecahan, ketidakamanan, dan kesulitan manusia untuk hidup bersama. Persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan pengetahuan. Menurutnya, ketika dunia berada dalam kegelapan, […]

Artikel Kailash Satyarthi Ajak UGM Bawa KKN ke Kancah Global pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Peraih Nobel Laureate 2014, Kailash Satyarthi, menilai dunia saat ini memiliki banyak pengetahuan, data, hukum, deklarasi, lembaga internasional, hingga berbagai pembahasan mengenai persoalan global. Namun, di sisi lain, dunia juga menghadapi persoalan seperti keterpecahan, ketidakamanan, dan kesulitan manusia untuk hidup bersama. Persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan pengetahuan.

Menurutnya, ketika dunia berada dalam kegelapan, sekecil apapun cahaya dapat mengubah cara seseorang melihat keadaan dan membuat solusi menjadi mungkin. “Dalam situasi kegelapan, setiap tindakan kebaikan, setiap hal yang telah lakukan untuk perbaikan dan membawa cahaya harapan, kepastian, membuat kita memahami bahwa kebangkitan itu mungkin,” katanya dalam UGM Annual Lecture Nobel Laureate Series dengan tema “Global Leadership for Humanity: Advancing Impactful Community Engagement”. Kegiatan ini dihadiri oleh peraih Nobel Laureate 2014, Jumat (21/8), di Balai Senat UGM.

Secara khusus ia menyebutkan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilakukan mahasiswa sebagai salah satu bentuk “cahaya” di tengah berbagai persoalan dunia. Dirinya terkesan dengan pengalaman ketika masyarakat tidak menyebut mahasiswa sebagai pihak yang datang untuk membantu, melainkan sebagai mitra. Menurutnya, mahasiswa tidak datang untuk menggurui masyarakat, tetapi belajar bersama dan bekerja sebagai mitra. Menurutnya, kemitraan merupakan kunci dalam pelaksanaan program pengabdian masyarakat. Mahasiswa tidak seharusnya datang sebagai akademisi atau pelajar yang merasa lebih tahu daripada masyarakat. “Sebaliknya, mahasiswa juga perlu belajar dari masyarakat, termasuk dari orang-orang yang mungkin tidak pernah bersekolah atau hanya memperoleh sedikit pendidikan,” katanya.

Ia kemudian menggarisbawahi tiga prinsip yang menurutnya penting dalam menciptakan perubahan, yakni disebutnya 3D dream, discover, and do. Kailash menyampaikan bahwa setiap orang harus berani bermimpi, menemukan kekuatan dan potensi dalam dirinya sekaligus memahami tantangan di sekitarnya, kemudian melakukan tindakan. Namun, ia menekankan bahwa manusia tidak boleh hanya bermimpi untuk dirinya sendiri. Menurutnya, mimpi juga harus diarahkan untuk memberikan manfaat bagi keluarga, universitas, bangsa, dan masyarakat dunia.

Kalish kemudian menceritakan pengalaman masa kecilnya ketika melihat seorang anak dari keluarga miskin yang tidak dapat bersekolah. Momen tersebut membuatnya menyadari bahwa pendidikan seharusnya dapat diakses oleh semua anak. Selain itu juga ia menceritakan pengalaman ketika sejumlah anak berhenti sekolah karena orang tua tidak mampu membeli buku dan membayar biaya sekolah. Bersama temannya, ia kemudian mengumpulkan buku dari masyarakat untuk diberikan kepada anak-anak yang membutuhkan sehingga menjadikannya sebuah book bank. “Dari situ lahir gerakan global melawan pekerja anak dan gerakan global untuk pendidikan ialah Global March Against Child Labour dan Global Campaign for Education. Ini menjadi pembangun gerakan untuk pendidikan dan anak–anak,” pungkasnya.

Dari pengalaman tersebut, Kailash kemudian mengajak UGM untuk mengembangkan pengalaman KKN menjadi pembelajaran yang dapat dibagikan secara global. Menurutnya, berbagai pengalaman mahasiswa dan masyarakat tidak berhenti sebagai kegiatan pengabdian, tetapi perlu dikembangkan menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari dan diterapkan di tempat lain. Menurutnya, keberhasilan tidak hanya dilihat dari berapa banyak orang yang mendapatkan manfaat, tetapi juga dari berapa banyak pemimpin baru yang lahir di masyarakat dan anak muda yang mampu menemukan solusi inovatif bagi komunitasnya.

Lebih lanjut, Kailash menekankan pentingnya konsep compassion atau rasa peduli dalam menjalankan pengabdian. Menurutnya, empati saja belum cukup untuk menyelesaikan persoalan sistemik seperti diskriminasi gender, diskriminasi, kemiskinan, ketimpangan geopolitik, dan ketidakadilan ekonomi. Ia menyampaikan bahwa welas asih bukan sekadar merasakan penderitaan orang lain, tetapi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang mengambil tindakan secara sadar untuk menyelesaikan persoalan. “Compassion merupakan kekuatan yang dapat mendorong perubahan berkelanjutan. Bukan perubahan yang hanya terjadi sekali, melainkan perubahan yang terus berkembang karena setiap orang merasa menjadi bagian dari persoalan dan penyelesaiannya,” ujarnya.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., mengatakan program Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) secara aktif melibatkan mahasiswa dan memperluas keterlibatan pengabdian kepada masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. “KKN-PPM merupakan mekanisme yang menempatkan mahasiswa secara langsung untuk menangani berbagai persoalan nyata, termasuk akses pendidikan, kesehatan masyarakat, pengembangan ekonomi lokal, infrastruktur, dan pengelolaan lingkungan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan terdapat tiga hal yang menjadi dasar kemanusiaan dalam pengabdian kepada masyarakat melalui KKN-PPM. Pertama, kehadiran, sebagaimana mengirimkan sumber daya ke tempat yang benar-benar membutuhkan. Kedua, responsivitas, kemampuan universitas untuk dengan cepat mengerahkan mahasiswa, dosen, dan sumber daya yang dimiliki. Ketiga, keberlanjutan, yaitu tetap terlibat dalam waktu yang cukup sehingga dapat berkontribusi terhadap proses pemulihan masyarakat

Selain itu, Ova menyebut terdapat pula bentuk KKN yang secara langsung merespons masyarakat yang menghadapi kondisi sulit, yakni KKN Peduli Bencana. Seperti halnya sejak gempa Yogyakarta, erupsi Gunung Semeru, hingga banjir bandang dan tanah longsor di Provinsi Aceh lalu. “Kehadiran mahasiswa tidak hanya difokuskan untuk membantu masyarakat memulihkan dampak langsung bencana, tetapi juga mendukung pemulihan kehidupan masyarakat. Upaya tersebut dilakukan melalui pembangunan hunian sementara serta penguatan ekonomi lokal melalui pelatihan UMKM,” ujarnya.

Sejalan dengan visi misi KKN-PPM, Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Arif Havas Oegroseno, S,H., LL.M., dalam sambutan yang disampaikan melalui rekaman video menyampaikan pengalamannya ketika menjadi mahasiswa dan mengikuti program KKN. Ia menceritakan bahwa saat itu dirinya ditempatkan di sebuah desa terpencil Jawa Tengah. Desa tersebut menghadapi persoalan air bersih dan banjir. “Sebagai mahasiswa saat itu kami diminta untuk kreatif dan mencoba menemukan solusi terhadap persoalan desa,” sebutnya.

Arif mengapresiasi UGM yang telah menyelenggarakan program pengabdian kepada masyarakat selama lebih dari tujuh dekade. Menurutnya, KKN menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar mendengarkan sebelum berbicara, memahami persoalan sebelum menawarkan solusi, serta bekerja sama dengan masyarakat. Ia menegaskan bahwa pengalaman tersebut merupakan pembelajaran yang tidak dapat sepenuhnya diperoleh di ruang kuliah. “Tidak ada ruang kuliah yang dapat mengajarkan selama satu bulan atau tiga bulan apa yang dapat diajarkan sebuah desa tentang kerendahan hati,” tuturnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Prof. Dr. Todung Mulya Lubis, S.H., LL.M., Duta Besar Indonesia untuk Norwegia menyampaikan bahwa program KKN memiliki peran penting dalam menghubungkan perguruan tinggi dengan masyarakat. Terutama melalui keterlibatan mahasiswa yang mendengarkan kebutuhan masyarakat dan bersama-sama menyusun program untuk memperbaiki kondisi mereka. “KKN tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai bagian dari pemenuhan kewajiban akademik, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab sosial mahasiswa dan universitas untuk menjaga bumi dan kemanusiaan,” ucapnya.

Dari sisi ekonomi, Dato’ Sri Prof. Dr. Tahir, Founder Mayapada menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya perlu dilihat dari persentase pertumbuhan GDP, tetapi juga dari dampaknya terhadap masyarakat. Ia menilai universitas memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja. Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu kunci untuk mewujudkan keadilan sosial karena melalui pendidikan masyarakat dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik, pendapatan yang lebih tinggi, serta status sosial yang lebih baik. “Ketika masyarakat dapat menikmati kehidupan yang lebih baik, pendidikan yang lebih baik, dan status sosial yang lebih baik, maka kita dapat mulai berbicara tentang keadilan sosial,” katanya.

Ova Emilia menilai kehadiran Kailash Satyarthi tidak hanya menjadi kesempatan untuk menyambut seorang peraih nobel, tetapi juga mempertemukan dua pengalaman dan pendekatan dalam memajukan kemanusiaan. “Kehadiran dalam acara ini menjadi kesempatan untuk merefleksikan bagaimana pendidikan dan keterlibatan masyarakat dapat menjadi kekuatan dalam menciptakan perubahan yang bermakna dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Penulis : Hanifah

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie, Jesi

Artikel Kailash Satyarthi Ajak UGM Bawa KKN ke Kancah Global pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kailash-satyarthi-ajak-ugm-bawa-kkn-ke-kancah-global/feed/ 0
Menjaga Marwah Demokrasi di Benteng Moral Terakhir https://ugm.ac.id/id/berita/menjaga-marwah-demokrasi-di-benteng-moral-terakhir/ https://ugm.ac.id/id/berita/menjaga-marwah-demokrasi-di-benteng-moral-terakhir/#respond Tue, 18 Aug 2026 04:00:44 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96714 Delapan puluh satu tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan, Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks dalam mempertahankan dan mengembangkan kehidupan demokrasi. Sosiolog UGM UGM, Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., mengatakan bahwa perjalanan demokrasi Indonesia selama hampir tiga dekade telah menghasilkan berbagai capaian pascaotoritarianisme. Namun, Arie mengakui,  bangunan demokrasi yang dirancang sejak awal Reformasi tidak selalu mudah dijalankan […]

Artikel Menjaga Marwah Demokrasi di Benteng Moral Terakhir pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Delapan puluh satu tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan, Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks dalam mempertahankan dan mengembangkan kehidupan demokrasi. Sosiolog UGM UGM, Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., mengatakan bahwa perjalanan demokrasi Indonesia selama hampir tiga dekade telah menghasilkan berbagai capaian pascaotoritarianisme. Namun, Arie mengakui,  bangunan demokrasi yang dirancang sejak awal Reformasi tidak selalu mudah dijalankan di tengah perubahan situasi kebangsaan.

Menurut Arie, berbagai persoalan Republik perlu ditempatkan sebagai persoalan bersama. Forum akademik, sambungnya, menjadi salah satu ruang untuk menghimpun kembali gagasan-gagasan yang tersebar di berbagai kelompok masyarakat dan mendiskusikannya sebagai bagian dari upaya membaca masa depan Indonesia. “Sehari-hari kita berdiskusi tentang persoalan-persoalan Republik yang tentu menjadi perhatian kita bersama. Perlu kita ingat, kampus adalah benteng moral terakhir dalam menjaga marwah demokrasi. Kampus harus berani mengatakan mana yang benar dan tidak,” kata Arie dalam diskusi Panel Republik yang bertajuk Krisis, Transisi, dan Masa Depan Republik yang diselenggarakan di Auditorium Lantai 4 FISIPOL UGM, Jumat (14/8).

Kepala Laboratorium Indonesia 2045 (LAB 45), Jaleswari Pramodhawardani, M.Hum., menilai kondisi demokrasi Indonesia melalui gagasan tentang pembusukan politik. Meminjam pemikiran Francis Fukuyama, Jaleswari menggambarkan bahwa Indonesia hari ini sedang dalam kondisi pelemahan institusi yang berlangsung secara perlahan, sementara prosedur demokrasi tetap berjalan secara normal.

Ia mencontohkan,  pemilu tetap diselenggarakan, pidato kenegaraan tetap dibacakan, dan berbagai prosedur demokrasi tetap berlangsung. Namun, bersamaan dengan itu, kemampuan Republik untuk melakukan koreksi terhadap dirinya sendiri justru mengalami pelemahan. “Republik ini tidak kekurangan program, ia kehilangan kemampuan mengoreksi dirinya sendiri,” ujar Jaleswari.

Tak lupa, ia juga kemudian menyimpulkan bahwa persoalan Indonesia saat ini bukanlah krisis pada satu sektor. Baginya, krisis ekonomi, relasi sipil militer, media, lingkungan, dan generasi mendatang saling berkelindan, sementara prosedur demokrasi tetap terlihat berjalan normal. “Ini pembusukan yang berjalan sistematis di lima organ, yakni ekonomi, sipil-militer, kondisi media sekarang, lingkungan, dan generasi yang akan datang tentu bakal mewarisi ini semuanya,” jelasnya.

Sementara itu, Dosen Departemen Sosiologi FISIPOL UGM, Dr. Andreas Budi Widyanta, S.Sos., M.A., mengatakan persoalan yang terjadi hari ini, lanjutnya, berkaitan dengan akumulasi kekuasaan dan konsentrasi sumber daya di tangan segelintir elite politik dan bisnis. Dampaknya jelas terlihat melalui ketimpangan ekonomi, politik, dan ekologis yang semakin berat ditanggung masyarakat. Untuk merespons hal ini, Andreas menunjukkan bahwa penting untuk membangun kekuatan counter-hegemony agar masyarakat memiliki kapasitas untuk mempertahankan Republik sebagai ruang bersama. “Republik ini dibangun oleh usaha bersama banyak orang,” kata Andreas.

Guru Besar Politik dan Pemerintahan UGM, Prof. Dr. Amalinda Savirani, S.IP., M.A., menilai kondisi demokrasi Indonesia saat ini tidak dapat dipahami semata-mata sebagai transisi dari sistem lama menuju sistem baru. Menurutnya,  Indonesia saat ini tengah menghadapi polikrisis, yakni berbagai krisis yang berlangsung secara bersamaan. Situasi tersebut juga direspons melalui kebijakan-kebijakan populis yang dapat membuat masyarakat terbelah. “Contohnya MBG. Kalau saya kritik MBG, tetangga saya akan marah karena dia bekerja di MBG. Belum lagi kalo KDMP. Situasi inilah yang membuat kita sendiri terpecah,” papar Amalinda.

Di kondisi tersebut, Amalinda berpendapat bahwa masyarakat sipil memiliki peran penting. Ia melanjutkan, masyarakat sipil merupakan ruang untuk melakukan kontestasi, negosiasi, dan perjuangan dalam menghadapi berbagai persoalan. Namun, masyarakat sipil juga bukan entitas tunggal karena di dalamnya terdapat berbagai kepentingan dan kelompok yang saling berkompetisi. “Kita itu punya peran kunci. Karena itu, penting bagi kita untuk membangun koneksi antar kelompok,” tutupnya.

Penulis : Agito Sitepu

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Magnific

Artikel Menjaga Marwah Demokrasi di Benteng Moral Terakhir pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/menjaga-marwah-demokrasi-di-benteng-moral-terakhir/feed/ 0
Menabung Air Saat Hujan, Menyambung Hidup Saat Kemarau Panjang  https://ugm.ac.id/id/berita/menabung-air-saat-hujan-menyambung-hidup-saat-kemarau-panjang/ https://ugm.ac.id/id/berita/menabung-air-saat-hujan-menyambung-hidup-saat-kemarau-panjang/#respond Sat, 15 Aug 2026 04:18:05 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96672 Sebagian besar wilayah di Indonesia tengah menghadapi kekeringan dan berkurangnya ketersediaan air akibat dampak El-Nino. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan dampak terbesar terjadi di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatera bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, dan Papua bagian selatan. Bahkan curah hujan di wilayah tersebut akan berada di bawah normal sehingga […]

Artikel Menabung Air Saat Hujan, Menyambung Hidup Saat Kemarau Panjang  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Sebagian besar wilayah di Indonesia tengah menghadapi kekeringan dan berkurangnya ketersediaan air akibat dampak El-Nino. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan dampak terbesar terjadi di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatera bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, dan Papua bagian selatan. Bahkan curah hujan di wilayah tersebut akan berada di bawah normal sehingga ketersediaan air berkurang dan produksi pertanian terancam. Tidak hanya itu, terdapat potensi peningkatan risiko kebakaran hutan dan gangguan kesehatan masyarakat, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan penyakit lainnya.

Pakar Hidrologi UGM Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM., ASEAN Eng., mengatakan kenaikan temperatur dan perubahan iklim yang terjadi sekarang ini membuat risiko banjir dan kekeringan semakin dirasakan di berbagai wilayah di Indonesia. Menurut Agus, penanganan kekeringan perlu dilakukan secara preventif, terutama pada saat musim hujan. Ia menyebut kekeringan sebagai dampak dari kelalaian dalam melakukan sesuatu pada musim hujan sehingga ketika musim kemarau tiba masyarakat kebingungan menghadapi keterbatasan air. “Preventif pada saat musim hujan. Kekeringan itu adalah dampak daripada kelalaian kita melakukan sesuatu di musim hujan. Sehingga pada musim kering bingung,” ujarnya dalam workshop Sekolah Wartawan yang bertajuk “Metode dan Teknologi Mitigasi Kekeringan”, Jumat (14/8), di Ruang Fortakgama, Gedung Pusat UGM.

Agus menyatakan bahwa El Nino sebenarnya telah terjadi secara berkala, hampir setiap lima tahun sekali. Namun, perubahan iklim membuat dampaknya semakin dirasakan. Di sisi lain, menurutnya, tingkat kesadaran masyarakat dalam menghadapi perubahan tersebut masih cenderung datar karena masih banyak yang menggunakan cara-cara biasa. Karena itu, Agus menekankan pentingnya memanen air hujan ketika musim hujan untuk digunakan pada musim kemarau. Menurutnya, kualitas air hujan sangat baik dan dapat melebihi kualitas air permukaan lainnya. Menurutnya, air hujan secara legal dapat diolah menjadi air minum setelah adanya aturan terkait keamanan dan mutu air baku serta air minum yang berasal dari air hujan. “Semua orang Indonesia itu memahami tentang bagaimana manajemen hujan, bagaimana hujan kualitasnya sangat baik. Kualitasnya itu melebihi kualitas air sungai, melebihi kualitas air permukaan mana pun,” katanya.

Agus juga menjelaskan bahwa penelitian mengenai teknologi pemanenan air hujan menunjukkan adanya penerimaan dari masyarakat. Ia membandingkan kualitas air hujan dengan air sumur dan menyebut air hujan memiliki kualitas yang lebih baik dalam beberapa parameter. “Masyarakat perlu mulai memanfaatkan air hujan secara maksimal,” ujarnya.

Ia mencontohkan sumur-sumur di perkotaan yang sudah tidak digunakan dapat dimanfaatkan sebagai tempat memasukkan air hujan setelah melalui penyaringan. Menurut Agus, air hujan dapat membantu memperbaiki kualitas air di dalam sumur sekaligus menjaga cadangan air tanah. “Kalau itu menjadi gerakan perkotaan untuk memanen air yang masuk ke sumur, itu sudah bisa menyelesaikan masalah penurunan muka air tanah. Di samping juga mengurangi banjirnya,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa penggunaan air hujan bukanlah praktik tradisional yang tertinggal. Agus mencontohkan Australia yang telah banyak memanfaatkan air hujan, baik di perkotaan maupun pedesaan. Ia juga menyebut berbagai praktik pemanenan air hujan yang telah dilakukan di Indonesia, salah satunya di daerah kering Bojonegoro.

Selain skala rumah tangga, Agus menyoroti perlunya industri, hotel, dan kantor ikut menampung air hujan. Menurutnya, penggunaan air tanah oleh sektor-sektor tersebut turut menyumbang penurunan muka air tanah. Karena itu, air hujan perlu dimanfaatkan sekaligus sebagai upaya mengisi kembali cadangan air tanah.

Agus juga memberikan contoh pemanfaatan air hujan untuk pertanian dan perikanan di Bantul. Menurutnya, air hujan tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai sumber air, tetapi juga untuk memelihara ikan. Ia menyebut adanya pengalaman masyarakat yang memelihara ikan mujair dan lele dengan memanfaatkan air hujan.

Ia menjelaskan bahwa air hujan memiliki molekul yang lebih kecil karena belum terkontaminasi atau tertempel mineral lain. Menurutnya, kondisi tersebut membuat air hujan lebih cepat masuk dalam metabolisme tumbuhan maupun hewan yang meminumnya. “Kalau kita minum air hujan itu lebih cepat segar daripada minum air biasa,” ujar Agus.

Dalam konteks pertanian, Agus juga menyoroti keberadaan kolam tampung air hujan yang menurutnya merupakan tradisi yang mulai hilang. Ia mendorong agar kolam-kolam pertanian kembali dikembangkan sebagai tempat menyimpan air pada musim hujan. Menurutnya, konsep drainase yang hanya membuang air hujan secepat mungkin perlu diubah.

Agus menyebut program embung desa sebagai salah satu upaya yang dapat dilakukan. Menurutnya, setiap desa dapat memiliki embung, tidak harus berukuran besar, tetapi dapat berupa kolam-kolam kecil yang berfungsi menampung air hujan agar tidak langsung mengalir keluar desa. “Program yang harus dilakukan adalah embung desa, mengupayakan supaya air hujan itu tidak keluar secepat-cepatnya. Kalau banjir memang harus keluar, tapi kalau tidak, harus mengisi desa ini. Nanti kekeringan tidak terjadi,” jelasnya.

Selain embung, ia menjelaskan teknologi injeksi air hujan ke dalam tanah. Air hujan dapat dialirkan dari talang melalui pipa atau lubang bor untuk mengisi kembali air tanah. Agus juga menyebut sistem resapan air hujan ke sumur dengan terlebih dahulu menyaring air yang masuk. Ia mencontohkan penggunaan bak tampung di setiap rumah tangga untuk menampung air hujan yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan. Kelebihan air kemudian dapat dimasukkan kembali ke sumur melalui sistem injeksi.

Sementara ketika musim kemarau tiba, Agus mendorong masyarakat untuk aktif mencari sumber air yang masih tersedia. Ia menyebut sumber air dapat ditemukan di sepanjang aliran sungai, mata air, sungai bawah tanah, daerah sekitar danau, rawa, saluran irigasi, hingga sumur-sumur tua yang sudah tidak digunakan. Menurutnya, masyarakat dapat membuat sumuran di sekitar sungai untuk mendapatkan air yang masih berada di bawah permukaan. Mata air juga perlu dicari, ditandai, dan dirawat.

Menurut Agus, upaya menghadapi kekeringan merupakan kewajiban bersama dan tidak semata-mata bergantung pada pemerintah. Masyarakat perlu melakukan berbagai langkah secara mandiri, mulai dari memperbaiki alat pemanen hujan, merawat sumur dan kolam, hingga mencari sumber air yang masih tersedia. “Orang harus berpikir hujan sama kemarau itu jadi satu, kesatuan sistem. Kalau tidak ingin bermasalah pada musim kemarau, pada musim hujannya harus banyak menampung air,” pungkas Agus.

Penulis : Hanifah

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Menabung Air Saat Hujan, Menyambung Hidup Saat Kemarau Panjang  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/menabung-air-saat-hujan-menyambung-hidup-saat-kemarau-panjang/feed/ 0
Koperasi Jangan Cuma Urus Administrasi, Saatnya Jadi Motor Penggerak UMKM  https://ugm.ac.id/id/berita/koperasi-jangan-cuma-urus-administrasi-saatnya-jadi-motor-penggerak-umkm/ https://ugm.ac.id/id/berita/koperasi-jangan-cuma-urus-administrasi-saatnya-jadi-motor-penggerak-umkm/#respond Sat, 15 Aug 2026 03:45:54 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96667 Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan aset strategis yang berperan dalam mendorong kesejahteraan rumah tangga sehingga perlu didukung melalui ekosistem yang inklusif dan memperkuat ketahanan ekonomi lokal. Oleh karena itu, upaya peningkatan daya saing UMKM perlu dilakukan melalui hilirisasi yang mencakup inovasi produk, pembiayaan, peningkatan kapasitas, digitalisasi, dan akses pasar. Di sisi lain, keberadaan […]

Artikel Koperasi Jangan Cuma Urus Administrasi, Saatnya Jadi Motor Penggerak UMKM  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan aset strategis yang berperan dalam mendorong kesejahteraan rumah tangga sehingga perlu didukung melalui ekosistem yang inklusif dan memperkuat ketahanan ekonomi lokal. Oleh karena itu, upaya peningkatan daya saing UMKM perlu dilakukan melalui hilirisasi yang mencakup inovasi produk, pembiayaan, peningkatan kapasitas, digitalisasi, dan akses pasar. Di sisi lain, keberadaan koperasi didorong menjadi pusat hilirisasi produk unggulan dan pengembangan UMKM. Sebab, koperasi berperan menghubungkan produsen, konsumen, dan sektor swasta dalam ekosistem usaha yang terintegrasi guna meningkatkan daya saing, efisiensi rantai nilai, dan keberlanjutan ekonomi lokal.

Hal itu mengemuka dalam Workshop Nasional UMKM yang bertajuk “Potensi Produk Unggulan UMKM Mendukung Kekuatan Ekonomi Masyarakat melalui Koperasi”, Rabu (12/8), di auditorium Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM dalam rangka memperingati Hari UMKM Nasional sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis FTP UGM ke-63.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., menekankan pentingnya penguatan peran koperasi dalam mendukung perkembangan UMKM dan kesejahteraan masyarakat.“Koperasi perlu dipandang sebagai salah satu kekuatan ekonomi Indonesia dalam memperkuat UMKM dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FTP UGM, Prof. Dr. Yudi Pranoto, S.T.P., M.P., yang mewakili FTP UGM sebagai tempat pelaksanaan kegiatan, menilai sinergi antara UMKM, koperasi, dan pemerintah perlu terus diperkuat agar UMKM mampu berkembang dan meningkatkan daya saing.“UMKM memiliki potensi untuk berkembang menjadi usaha berskala besar dengan kontribusi ekonomi yang semakin signifikan. Karena itu, diperlukan upaya untuk leveling up UMKM melalui penguatan kapasitas, jejaring, dan ekosistem usaha,” jelas Yudi.

Ekonom UGM, Amirullah Setya Hardi, Ph.D. dari FEB UGM menyoroti perlunya transformasi koperasi agar tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga mampu mengintegrasikan berbagai kebutuhan pelaku UMKM. “Koperasi perlu bertransformasi dari sekadar lembaga administratif menjadi business hub yang mampu mengintegrasikan fungsi produksi, pemasaran, pembiayaan, pendampingan, serta inovasi bagi UMKM,” ungkap Amirullah.

Sementara pengembangan produk unggulan UMKM perlu didasarkan pada analisis kebutuhan pasar, pemanfaatan potensi sumber daya, dan uji pasar.

Selanjutnya, Dosen Fakultas Peternakan UGM, Dr. Muhsin Al Anas, membahas inovasi produk peternakan melalui penerapan sistem cage-free layer. Sistem tersebut tidak hanya memperhatikan kesejahteraan hewan, tetapi juga berpotensi meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk. Penguatan standar operasional, sertifikasi, keamanan pangan, serta strategi pemasaran melalui pendekatan Business to Business (B2B) dan Business to Consumer (B2C) menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha.

Tak hanya itu, Herdiana Dewi Utari dari CV. Dewi Makmur membagikan perspektif mengenai transformasi jamu sebagai produk modern berbasis budaya. Menurutnya, inovasi dapat dilakukan tanpa menghilangkan nilai kearifan lokal, contohnya pengembangan nilai jamu. Pengembangan produk tersebut, imbuh Herdiana, perlu didukung strategi pemasaran melalui media sosial, influencer, marketplace, dan penguatan branding untuk memperluas pasar hingga membuka peluang ekspor.

“Jamu memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai produk modern tanpa kehilangan nilai kearifan lokal. Inovasi formulasi, kemasan, serta pemanfaatan Design Thinking menjadi strategi penting dalam menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen,” jelas Herdiana.

Sementara itu, Juni Noor Hastuti dari Matahari Craft membagikan pengalaman mengolah limbah alam, khususnya klobot jagung, menjadi produk bernilai ekonomi. “Inovasi produk dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat melalui pelibatan ibu rumah tangga dalam proses produksi,” ungkap Juni Noor Hastuti.

Ia juga turut menambahkan jika keberhasilan UMKM juga ditentukan oleh konsistensi kualitas, legalitas usaha, pemasaran digital, pemahaman pasar, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan tren konsumen.

Pengalaman pengembangan UMKM kreatif yang disampaikan Lenny oleh Tursia Vristhina dari Evanz Store menekankan pentingnya produk inovatif dan berkualitas yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan melalui layanan custom. Diversifikasi produk, pemanfaatan marketplace dan media sosial, serta pengendalian kualitas menjadi strategi untuk mempertahankan daya saing. Baginya, selain aspek bisnis, UMKM juga memiliki potensi untuk memberikan dampak sosial melalui pelibatan berbagai kelompok masyarakat.“UMKM juga dapat memberikan dampak sosial melalui pemberdayaan ibu rumah tangga, penyandang disabilitas, pelajar, dan masyarakat sekitar sebagai bagian dari pengembangan bisnis yang inklusif,” jelasnya.

Pada sesi terakhir, Dr. Ir. Devi Yuni Susanti, S.TP., M.Sc., IPU., ASEAN Eng. dari FTP UGM membahas pentingnya standarisasi proses produksi melalui pemilihan alat dan mesin serta penerapan Good Manufacturing Practices (GMP). Peningkatan kapasitas produksi perlu disertai standar higienitas, penggunaan material food grade, dokumentasi operasional, kalibrasi, dan validasi mesin. Penerapan standar tersebut diperlukan untuk menghasilkan produk yang konsisten, aman, dan memenuhi standar mutu sekaligus meningkatkan daya saing UMKM di pasar nasional maupun internasional.

Reportase : Widodo, Ayyub Rizqullah, dan Sekar Ayu Anindiarani/DPkM UGM

Penulis      : Zabrina Kumara

Editor        : Gusti Grehenson

Foto          : Dok. DPkM

Artikel Koperasi Jangan Cuma Urus Administrasi, Saatnya Jadi Motor Penggerak UMKM  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/koperasi-jangan-cuma-urus-administrasi-saatnya-jadi-motor-penggerak-umkm/feed/ 0
Sengketa Laut Cina Selatan, Arena Menguji Efektivitas Norma Hukum Internasional https://ugm.ac.id/id/berita/sengketa-laut-cina-selatan-arena-menguji-efektivitas-norma-hukum-internasional/ https://ugm.ac.id/id/berita/sengketa-laut-cina-selatan-arena-menguji-efektivitas-norma-hukum-internasional/#respond Thu, 13 Aug 2026 00:55:20 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96589 Laut Cina Selatan bukan semata kawasan yang dipenuhi sengketa teritorial, melainkan juga arena yang menguji efektivitas aturan dan norma hukum internasional dalam menghadapi tantangan geopolitik kontemporer. Sebab kawasan ini selalu menjadi pusat perhatian global, dengan isu tata kelola, keamanan, hukum, keberlanjutan, dan diplomasi yang saling beririsan. Hal itu mengemuka dalam kursus singkat yang bertajuk “ASEAN […]

Artikel Sengketa Laut Cina Selatan, Arena Menguji Efektivitas Norma Hukum Internasional pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Laut Cina Selatan bukan semata kawasan yang dipenuhi sengketa teritorial, melainkan juga arena yang menguji efektivitas aturan dan norma hukum internasional dalam menghadapi tantangan geopolitik kontemporer. Sebab kawasan ini selalu menjadi pusat perhatian global, dengan isu tata kelola, keamanan, hukum, keberlanjutan, dan diplomasi yang saling beririsan.

Hal itu mengemuka dalam kursus singkat yang bertajuk “ASEAN dan Laut Tiongkok Selatan: Ruang yang Diperebutkan, Diplomasi, dan Tatanan Kawasan” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Sosial Asia Tenggara, Universitas Gadjah Mada (PSSAT UGM), bekerja sama dengan Departemen Hubungan Internasional dan ASEAN Studies Center, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM; Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik UGM; serta Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) belum lama ini.

Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Arif Havas Oegroseno,memperkenalkan konsep Responsible Freedom of Navigation sebagai kerangka normatif baru dalam memahami dinamika Laut Cina Selatan. Menurutnya, ada enam prinsip yang perlu diutamakan dalam kebebasan navigasi di laut china selatan, yaitu pelestarian kebebasan navigasi, pengakuan terhadap kepentingan keamanan negara pantai, konservasi lingkungan laut, langkah-langkah defensif sesuai hukum internasional, penyelesaian sengketa secara damai, serta kerja sama dan pembagian tanggung jawab antarnegara.

Akademisi UGM sekaligus ketua program kursus singkat ini, I Made Andi Arsana, S.T., M.E., Ph.D., mendorong peserta untuk melihat Laut Cina Selatan dalam konteks regional dan global yang lebih luas. Andi menekankan bahwa sengketa di kawasan tersebut terus menjadi isu sentral dalam diskursus domestik, regional, dan internasional.

Prof. Dr. Xue Song dari Institute of International Studies, Fudan University, Tiongkok, memaparkan bahwa kompleksitas sengketa di Laut Cina Selatan tidak selalu menghalangi negara-negara untuk membangun kerja sama. Berangkat dari pandangan tersebut, beliau memperkenalkan konsep joint development sebagai pendekatan pragmatis yang memungkinkan pengelolaan bersama sumber daya di wilayah yang masih dipersengketakan tanpa harus menunggu penyelesaian klaim kedaulatan. “Hal ini bukanlah penyelesaian akhir terkait status kedaulatan, melainkan kesepakatan sementara yang pragmatis untuk mengelola sumber daya sekaligus menjaga perdamaian,”ujarnya.

Selaras dengan hal ini, peneliti PSSAT UGM, Dr. phil. Vissia Ita Yulianto, mengatakan kursus singkat soal Diplomasi Asean dalam diplomasi kawasan kawasan Laut China Selatan ini bagian dari upaya mengembangkan kajian Asia Tenggara serta mendorong dialog kritis mengenai dinamika sosial, politik, dan budaya yang membentuk kawasan ini.

Melalui rangkaian pembelajaran dan diskusi tersebut, katanya, program ini menunjukkan komitmen PSSAT UGM dalam mendorong dialog yang berbasis pengetahuan, memperkuat jaringan akademik internasional, serta membekali peserta dengan wawasan yang lebih mendalam mengenai salah satu isu regional paling mendesak di Asia Tenggara.

Penulis : Leony

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Reuters dan Dok. PSSAT

Artikel Sengketa Laut Cina Selatan, Arena Menguji Efektivitas Norma Hukum Internasional pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/sengketa-laut-cina-selatan-arena-menguji-efektivitas-norma-hukum-internasional/feed/ 0
Aset Kekayaan Intelektual Bisa Dijadikan Jaminan Fidusia Bagi Pelaku Ekonomi Kreatif https://ugm.ac.id/id/berita/aset-kekayaan-intelektual-bisa-dijadikan-jaminan-fidusia-bagi-pelaku-ekonomi-kreatif/ https://ugm.ac.id/id/berita/aset-kekayaan-intelektual-bisa-dijadikan-jaminan-fidusia-bagi-pelaku-ekonomi-kreatif/#respond Wed, 12 Aug 2026 01:06:43 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96518 Di era digital, kekayaan intelektual perlu dilakukan reformasi kebijakan, adaptasi, dan pengelolaan kembali agar relevan dengan perkembangan teknologi serta integrasi dengan lintas industri. Pasalnya, kekayaan intelektual juga tidak lagi dipandang sebatas hak eksklusif untuk membatasi akses, tetapi harus diposisikan sebagai infrastruktur investasi dan lembaga hukum kolektif yang menghubungkan inovator, industri, dan masyarakat demi kesejahteraan bersama. […]

Artikel Aset Kekayaan Intelektual Bisa Dijadikan Jaminan Fidusia Bagi Pelaku Ekonomi Kreatif pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Di era digital, kekayaan intelektual perlu dilakukan reformasi kebijakan, adaptasi, dan pengelolaan kembali agar relevan dengan perkembangan teknologi serta integrasi dengan lintas industri. Pasalnya, kekayaan intelektual juga tidak lagi dipandang sebatas hak eksklusif untuk membatasi akses, tetapi harus diposisikan sebagai infrastruktur investasi dan lembaga hukum kolektif yang menghubungkan inovator, industri, dan masyarakat demi kesejahteraan bersama. Hal itu mengemuka dalam Seminar dan Konferensi Internasional “Intellectual Property in Cross-Industry: Connect, Innovate, Grow!” di Gedung B Fakultas Hukum UGM, Selasa (11/8).

Wakil Menteri Hukum RI, Prof. Edward Omar Sharif Hiariej, S.H., M.H., mengatakan kekayaan intelektual sebenarnya banyak bersinggungan dengan lintas sektor, seperti karya digital yang memiliki hak cipta bersinggungan dengan regulasi e-commerce, paten bioteknologi berkaitan dengan regulasi pangan dan kesehatan, serta menjadi aset utama dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Ia menegaskan, pemerintah kini berupaya untuk memperkuat kebijakan pembiayaan yang memungkinkan aset kekayaan intelektual, seperti merek dagang, paten, dan hak cipta digunakan sebagai jaminan fidusia (collateral) bagi pelaku ekonomi kreatif. “Dalam hal ini Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) sebagai validator hukum atas aset kekayaan intelektual yang terdaftar,” jelasnya.

Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Yudi Dharma, menyoroti bahwa porsi kepemilikan dari kekayaan intelektual di Indonesia sangat tidak proporsional, di mana 96% didominasi oleh hak cipta, sementara hak paten sederhana yang berdampak tinggi hanya mencakup 4%. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah pusat kekayaan intelektual yang mapan hanya sekitar 18% di seluruh universitas di Indonesia.

Yudi menambahkan jika di Indonesia juga masih lemah dalam perolehan kekayaan intelektual, yang mana di Indonesia masih berada di peringkat 75. “Indonesia berada di peringkat ke-55 dari 139 ekonomi pada Global Innovation Index 2023, hal ini menunjukkan penurunan satu peringkat dibanding tahun sebelumnya di posisi 54,” jelasnya.

Guru Besar Fakultas Hukum UGM, Prof. Muhammad Hawin menerangkan di era modern ini, pembelian barang digital, seperti e-book seringkali dimaknai sebagai transfer pemberian lisensi akses, bukan berupa transfer kepemilikan. Sebagai contoh, pengadilan di Uni Eropa memutuskan bahwa e-book tidak dapat dijual kembali karena dianggap sebagai komunikasi publik, sementara software diperbolehkan untuk dijual kembali selama lisensinya bersifat permanen.

Berangkat dari hal tersebut, Hawin menyarankan agar pemerintah Indonesia mengatur prinsip habisnya hak pada Pasal 11.1 UU Hak Cipta yang mengadopsi pendekatan netral. “Jika secara substansi transaksi digital memberikan hak penggunaan tanpa batas waktu dengan pembayaran satu kali di muka, maka hal tersebut harus dianggap sebagai penjualan bukan sekadar lisensi,” jelasnya.

Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Harmoko menyebutkan bahwa kekayaan intelektual bukan lagi sekedar permasalahan dalam bidang hukum, melainkan fondasi strategis untuk inovasi, kompetisi yang sehat, penciptaan nilai ekonomi, dan pembangunan berkelanjutan. Oleh karenanya, ia menegaskan peran penting universitas dalam pendidikan, penelitian, advokasi, dan pemanfaatan kekayaan ilmiah secara bertanggung jawab. “Pentingnya literasi kekayaan intelektual di lingkungan universitas agar seluruh peneliti, dosen, mahasiswa, dan pelaku usaha memahami bahwa perlindungan kekayaan intelektual bukan untuk membatasi akses pengetahuan, melainkan menciptakan ekosistem yang adil,” tegasnya.

Penulis : Fatihah Salwa Rasyid

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Aset Kekayaan Intelektual Bisa Dijadikan Jaminan Fidusia Bagi Pelaku Ekonomi Kreatif pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/aset-kekayaan-intelektual-bisa-dijadikan-jaminan-fidusia-bagi-pelaku-ekonomi-kreatif/feed/ 0
Wamenhut Ajak Rimbawan Muda UGM Terjun Pulihkan Hutan https://ugm.ac.id/id/berita/wamenhut-ajak-rimbawan-muda-ugm-terjun-pulihkan-hutan/ https://ugm.ac.id/id/berita/wamenhut-ajak-rimbawan-muda-ugm-terjun-pulihkan-hutan/#respond Thu, 06 Aug 2026 04:16:12 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96326 Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Republik Indonesia, Rohmat Marzuki, memberikan wejangan kepada 314 mahasiswa baru dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada dalam mewujudkan pengelolaan hutan yang lestari di Indonesia, Kamis (6/8), di Selasar Gedung IFFLC Fakultas Kehutanan. Rohmat yang hadir sebagai Wakil Menteri Kehutanan Republik Indonesia sekaligus alumnus Fakultas Kehutanan UGM yang mengenang kembali masa-masa awal […]

Artikel Wamenhut Ajak Rimbawan Muda UGM Terjun Pulihkan Hutan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Republik Indonesia, Rohmat Marzuki, memberikan wejangan kepada 314 mahasiswa baru dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada dalam mewujudkan pengelolaan hutan yang lestari di Indonesia, Kamis (6/8), di Selasar Gedung IFFLC Fakultas Kehutanan. Rohmat yang hadir sebagai Wakil Menteri Kehutanan Republik Indonesia sekaligus alumnus Fakultas Kehutanan UGM yang mengenang kembali masa-masa awal perkuliahannya ketika melihat antusiasme para rimbawan muda yang mengikuti kegiatan PIONIR Pelestari.

Semasa menempuh pendidikan di Fakultas Kehutanan UGM, Rohmat mengaku dirinya saat jadi mahasiswa yang sangat aktif, tidak hanya dalam kegiatan akademik, tetapi juga berbagai organisasi kemahasiswaan. Keterlibatannya di himpunan mahasiswa, organisasi tingkat nasional maupun internasional, perlombaan, serta kepanitiaan berbagai kegiatan turut membentuk jiwa kepemimpinannya, meningkatkan soft skill, sekaligus memperluas jejaring dan relasi yang bermanfaat bagi perjalanan kariernya. Kendati demikian, Rohmat berpesan kepada rimbawan muda untuk tetap menyeimbangkan kewajibannya dalam menimba ilmu, meskipun mengikuti berbagai macam agenda di luarnya.

Ketertarikannya pada bidang kehutanan diakui Rohmat telah terbentuk sejak menjadi mahasiswa. Ia aktif terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari penelitian, praktik di Perhutani, hingga organisasi non pemerintah (LSM). Pengalaman tersebut membuatnya telah akrab dengan kondisi lapangan ketika memulai karier di kementerian. “Pengen tahu dan ingin mencoba, sehingga ketika saya masuk kementerian sudah familiar dengan lapangan,” ujarnya.

Dikatakan oleh Rohmat, hutan Indonesia menempati urutan ketiga terbesar di dunia setelah Brazil dan Kongo, serta urutan kedua terkaya dari segi flora dan faunanya. Dengan demikian, Rohmat menegaskan bahwa hutan Indonesia merupakan pusat perhatian mancanegara sehingga ramai berdatangan tawaran kerjasama untuk mengelola dan melestarikan hutan Indonesia. “Atensi dari dunia itu banyak sekali sehingga kerja sama internasional juga banyak,” tuturnya.

Tingginya perhatian masyarakat internasional terhadap isu kehutanan membuka peluang karir yang semakin luas bagi lulusan kehutanan. Kebutuhan akan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang ini pun terus meningkat, baik di sektor pemerintahan, industri, lembaga swadaya masyarakat, maupun organisasi internasional. “Jadi sangat banyak, ya, peluang untuk lulusan kehutanan,” tambahnya.

Kekayaan sumber daya kehutanan yang sangat besar, terutama ekosistem hutan mangrove dan gambut berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim. Menurutnya, kedua ekosistem tersebut memiliki kemampuan menyerap karbon yang lebih besar dibandingkan ekosistem daratan sehingga perlu dikelola secara berkelanjutan. Pengelolaan tersebut tidak dapat hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, mulai dari masyarakat hingga akademisi. “Mangrove, gambut, menyerap karbon lebih besar daripada di daratan. Luar biasa kekayaan kehutanan di Indonesia. Kita harus kelola dan tidak bisa sendiri, melainkan harus berkolaborasi dengan masyarakat dan berbagai pihak,” ujarnya.

Rohmat menambahkan dampak perubahan iklim kini semakin nyata sehingga pengelolaan hutan di masa depan harus lebih adaptif dan berorientasi pada pemulihan ekosistem, contohnya perihal karbon.  “Sekarang ini perubahan iklim sangat nyata. Kita butuh pengelolaan hutan yang tahan terhadap iklim. Kedepannya kita fokuskan kepada restoratif. Pesan saya, teman-teman bisa belajar soal karbon juga,” pesannya.

Rohmat juga menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi sebagai bekal bagi mahasiswa kehutanan. Menurutnya, penguasaan teknologi informasi, teknologi spasial, penginderaan jauh, hingga kecerdasan buatan (AI) menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan dalam dunia kehutanan. “Kalian mahasiswa harus adaptif. Bukan hanya terhadap lingkungan kampus, tetapi juga adaptif dengan perkembangan teknologi yang ada. Teknologi informasi, teknologi spasial, penginderaan jauh, AI. Itu harus kalian pelajari, kalian kuasai,” ujarnya.

Ia mencontohkan penerapan teknologi di Kementerian Kehutanan melalui sistem early warning untuk mendeteksi pembukaan lahan di kawasan hutan dengan memanfaatkan citra satelit dari BRIN dan Badan Informasi Geospasial (BIG). Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada unit pelaksana teknis di lapangan untuk memverifikasi penyebab pembukaan lahan, baik akibat kebakaran hutan, pembalakan liar, perambahan, maupun faktor lainnya. Selain itu, kementerian juga memanfaatkan drone untuk mendukung pemantauan satwa liar, mulai dari mengidentifikasi populasi, habitat, hingga wilayah jelajahnya.

Menjawab pertanyaan para mahasiswa baru mengenai peran rimbawan muda dalam mengatasi deforestasi, Rohmat menjelaskan deforestasi tidak mencakup kegiatan penebangan pada hutan tanaman industri yang disertai penanaman kembali sesuai siklus produksi. Menurut definisi internasional dan kementrian, lanjut Rohmat, deforestasi lebih mengacu pada hilangnya tutupan hutan akibat aktivitas ilegal, seperti pembalakan liar, perambahan, dan kebakaran hutan.

Rohmat mengatakan Indonesia masih memiliki sekitar 6,6 juta hektare lahan kritis di dalam kawasan hutan dan sekitar 5,6 juta hektare di luar kawasan hutan. Melalui program rehabilitasi yang dijalankan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS), mahasiswa dapat berkontribusi secara langsung dalam pemulihan hutan dan lahan. “Adik-adik mahasiswa yang mau belajar ilmu, kalian ingin berkontribusi nyata, mari bersama dengan Kementerian Kehutanan melalui BPDAS untuk ikut terlibat dalam penanaman,” pungkasnya.

Penulis : Zabrina Kumara

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Wamenhut Ajak Rimbawan Muda UGM Terjun Pulihkan Hutan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/wamenhut-ajak-rimbawan-muda-ugm-terjun-pulihkan-hutan/feed/ 0
Anies Baswedan Ajak Maba UGM Fokus Tajamkan Gagasan, Bukan Cuma Kejar Gelar https://ugm.ac.id/id/berita/anies-baswedan-ajak-maba-ugm-fokus-tajamkan-gagasan-bukan-cuma-kejar-gelar/ https://ugm.ac.id/id/berita/anies-baswedan-ajak-maba-ugm-fokus-tajamkan-gagasan-bukan-cuma-kejar-gelar/#respond Thu, 06 Aug 2026 01:32:13 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96309 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan, S.E., M.P.P., Ph.D. dan Direktur PT JANZZ Technology Indonesia, Hesti Aryani, S.S., M.A., memberi motivasi pada mahasiswa baru (maba) dari Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Gadjah Mada, Rabu (5/8) di ruang Auditorium Fakultas Pertanian. Salah satu rangkaian kegiatan PIONIR Organik ini dikemas dalam bentuk seminar yang bertajuk “Harmoni Amarta […]

Artikel Anies Baswedan Ajak Maba UGM Fokus Tajamkan Gagasan, Bukan Cuma Kejar Gelar pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan, S.E., M.P.P., Ph.D. dan Direktur PT JANZZ Technology Indonesia, Hesti Aryani, S.S., M.A., memberi motivasi pada mahasiswa baru (maba) dari Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Gadjah Mada, Rabu (5/8) di ruang Auditorium Fakultas Pertanian. Salah satu rangkaian kegiatan PIONIR Organik ini dikemas dalam bentuk seminar yang bertajuk “Harmoni Amarta Muda dalam Peran Smart Eco Bioproduction untuk Transformasi  Ekonomi Hijau dan Biru yang Berkelanjutan”.

Anies memantik diskusi dengan mengingatkan para mahasiswa baru UGM memiliki tugas moral karena berhasil lolos dari sekian ribu peminat. Sebab, rentang kuliah itu masa perkembangan diri yang luar biasa. Oleh karena itu, ia menggarisbawahi bahwa mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang sibuk dalam kegiatan akademik dan non akademik. “Sibuknya dari berbagai macam kegiatan seperti di kelas dan luar kelas untuk perkembangan diri dengan memanfaatkan waktu sesuai minat dan bidangnya,” sebutnya.

Bagi Anies,  mahasiswa menuntut ilmu tidak hanya sekedar mengejar gelar, tetapi juga menajamkan gagasan. Ia menyebutkan gelar bisa diraih, tetapi gagasan harus dimulai dari sekarang dengan berbagai diskusi. Menurutnya, hari ini Indonesia tidak kekurangan sarjana, tetapi langka untuk memiliki sumber pemikiran otentik yang bisa menyelesaikan masalah. “Lihatlah kampus bukan sebagai tempat sang juara, tetapi pintu berubah. Niatkan bahwa dapat kesempatan untuk mengebangkan diri, diskusi, mencari solusi atas persoalan. Kampus ini menjadi tempat berangkat untuk gagasan lainnya,” ujarnya.

Ia mengajak Amarta Muda, sebutan mahasiswa baru Faperta UGM,  untuk membawa selalu misi kemanusiaan serta target yang ingin dicapai. Selama proses pembelajaran, mahasiswa sebaiknya memanfaatkan waktu dan kesempatan karena berada di lingkungan yang banyak inovator luar biasa. “Kampus ini memiliki ekosistem besar untuk pengembangan diri,” ujarnya.

Selain itu, Anies juga mengajak mahasiswa memanfaatkan kesempatan kuliah untuk mencicipi berbagai tanggung jawab untuk melatih mahasiswa untuk terbiasa berkomitmen untuk memegang berbagai peran dalam satu waktu. Menurutnya, kesempatan ini akan membuat mengasah kemampuan menjalani tugas yang bervariasi.

Anies sempat menyinggung soal persoalan integritas yang masih menjadi tugas termasuk dunia pendidikan. Disebutkannya bahwa integritas perlu sejalan antara kejujuran dengan nilai kebenaran dan kebaikan. Ia menekankan untuk latihan dari masa perkuliahan, seperti ketika menulis, berkarya, mahasiswa perlu memastikan kejujuran itu harus hadir. “Salah satu cara menjaga integritas dengan memiliki semangat mengedepankan transparansi,” jelasnya.

Terkait kepemimpinan, ia menyebutkan bahwa yang membuat seseorang menjadi pemimpin adalah adanya pengikut. Menurutnya, kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dari kemampuan menghargai orang lain karena seorang pemimpin dipercaya oleh orang-orang yang dipimpinnya. Ia kemudian memperkenalkan rumus membangun kepercayaan, yakni Trust = Competence + Integrity + Intimacy – Self Interest.

Menurutnya, kompetensi, integritas dan kedekatan akan meningkatkan kepercayaan, sedangkan kepentingan pribadi (self interest) justru menurunkannya. Ketiga aspek pertama dapat terus dikembangkan, sementara kepentingan pribadi harus mampu dikendalikan.

Ia juga menyoroti pemanfaatan teknologi sekarang ini harus selalu disertai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya, teknologi tanpa nilai keadilan, inovasi justru dapat memperbesar ketimpangan. Karena itu, setiap penggunaan teknologi perlu mempertimbangkan siapa yang akan tertinggal, diuntungkan, dan dirugikan. Menurutnya, pengembangan ilmu pengetahuan juga tidak boleh kehilangan kepekaan sosial. “Ilmu pertanian merupakan alat, sedangkan kepekaan sosial adalah arah. Dengan demikian, ilmu yang dikembangkan tidak hanya mampu meningkatkan nilai tambah, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama kelompok yang paling kecil dan rentan,” pesannya.

Membahas pertanian di dunia futuristik, Direktur PT JANZZ Technology Indonesia, Hesti Aryani, S.S., M.A., mengatakan masa depan pertanian tidak lagi hanya berbicara tentang panen raya, tetapi juga terkait memanen dan memanfaatkan data. “Mahasiswa di UGM ini harus sudah bisa berpikir jauh dan kritis secara statistik yaitu data. Data kalau tanamannya ini rusak bisa diidentifikasi bagaimana,” ujarnya.

Menurut Hesti, teknologi kecerdasan buatan yang berkembang pesat sekarang ini pada dasarnya diciptakan untuk menjawab persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, AI tidak akan menggantikan peran petani, tetapi akan menjadi teknologi yang bekerja berdampingan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Ia juga mengingatkan bahwa peluang kerja di masa mendatang 2030 didominasi oleh sektor pangan dan pertanian khususnya. Oleh karena itu, menurutnya, tiga hingga empat tahun ke depan bagi mahasiswa baru menjadi waktu yang penting untuk mulai memetakan masa depan sejak sekarang.

Penulis : Hanifah

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Anies Baswedan Ajak Maba UGM Fokus Tajamkan Gagasan, Bukan Cuma Kejar Gelar pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/anies-baswedan-ajak-maba-ugm-fokus-tajamkan-gagasan-bukan-cuma-kejar-gelar/feed/ 0