Seminar/Workshop Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/category/seminar-workshop-3/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Mon, 24 Aug 2026 05:02:07 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 UGM Tingkatkan Keamanan Digital UMKM Lokal https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-tingkatkan-keamanan-digital-umkm-lokal/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-tingkatkan-keamanan-digital-umkm-lokal/#respond Mon, 24 Aug 2026 05:02:07 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96900 Potensi ekonomi digital di Indonesia tumbuh luar biasa dengan 235 juta pengguna internet, sekitar 81.72 persen dari populasi. Namun belum dibarengi dengan keamanan siber yang kuat terutama untuk pelaku UMKM. Untuk memperkuat kompetensi UMKM dalam meningkatkan keamanan digital, Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan APAC Cybersecurity Clinics Academics Champions Convening yang berlangsung di Ruang Multimedia Lantai 3, […]

Artikel UGM Tingkatkan Keamanan Digital UMKM Lokal pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Potensi ekonomi digital di Indonesia tumbuh luar biasa dengan 235 juta pengguna internet, sekitar 81.72 persen dari populasi. Namun belum dibarengi dengan keamanan siber yang kuat terutama untuk pelaku UMKM. Untuk memperkuat kompetensi UMKM dalam meningkatkan keamanan digital, Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan APAC Cybersecurity Clinics Academics Champions Convening yang berlangsung di Ruang Multimedia Lantai 3, Gedung Pusat UGM, Kamis (20/8).

Adapun kegiatan ini dihadiri oleh para akademisi, mitra internasional, mahasiswa, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) guna memperkuat kolaborasi dalam bidang keamanan siber. Dalam kegiatan tersebut, para peserta diajak mengamati secara langsung pelaksanaan cybersecurity clinic dan belajar dari pengalaman mahasiswa, mitra, serta UMKM yang terlibat dalam program.

Perwakilan Cyberclinic UGM, Siti Baroroh, menjelaskan bahwa program cybersecurity clinic dirancang untuk meningkatkan keamanan digital sekaligus mengurangi risiko serangan siber. Program tersebut juga diarahkan untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, empati, dan presentasi mahasiswa, sekaligus memberikan pengalaman praktis kepada mereka dalam mendampingi UMKM. “Ya, program ini kami tujukan untuk meningkatkan keamanan digital dan mengurangi risiko serangan siber,” ujar Siti.

Lebih lanjut, Siti memaparkan bahwa program ini melibatkan 15 mahasiswa dan 30 UMKM dalam proyek percontohan. Sebelum diterjunkan ke UMKM, mahasiswa mendapatkan pelatihan yang mencakup keterampilan komunikasi, keterampilan teknis, serta pemahaman mengenai keamanan digital. Mereka kemudian memberikan edukasi dan asistensi kepada UMKM melalui sejumlah metode, seperti focus group discussion, interactive learning, serta outreach and education. “Di sini (Cyberclinic UGM), kami ingin mengembangkan kemampuan komunikasi, presentasi, sekaligus memberikan mereka pengalaman dalam pendidikan digital dan UMKM,” paparnya lebih lanjut.

Director of Community Services The Asia Foundation, Nadya Subramaniam, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terbangun melalui program tersebut. Menurutnya, pertemuan akademisi, mahasiswa, dan UMKM menjadi bagian penting untuk memperkuat jejaring dan keberlanjutan program keamanan siber di kawasan Asia-Pasifik.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi UGM, , Arief Setiawan Budi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D., menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi tantangan keamanan siber yang semakin kompleks. Menurutnya, transformasi digital memberikan berbagai peluang bagi UMKM, tetapi sekaligus menghadirkan risiko baru yang perlu dipahami dan dikelola. “Keamanan siber menjadi semakin penting ketika perusahaan mikro, kecil, dan menengah terus mengadopsi teknologi digital dalam kegiatan bisnis mereka,” tuturnya.

Ia berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan program, tetapi dapat berkembang melalui berbagai kerja sama baru dan penguatan Network Cyber Security Clinics di kawasan Asia-Pasifik.

Penulis : Agito Sitepu

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Jesi

Artikel UGM Tingkatkan Keamanan Digital UMKM Lokal pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-tingkatkan-keamanan-digital-umkm-lokal/feed/ 0
Alissa Wahid Ajak Mahasiswa Kenali Potensi Diri demi Masa Depan https://ugm.ac.id/id/berita/alissa-wahid-ajak-mahasiswa-kenali-potensi-diri-demi-masa-depan/ https://ugm.ac.id/id/berita/alissa-wahid-ajak-mahasiswa-kenali-potensi-diri-demi-masa-depan/#respond Fri, 07 Aug 2026 06:10:07 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96399 Mahasiswa baru Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada diajak memanfaatkan masa kuliah sebagai kesempatan untuk mengenali diri dan membangun nilai-nilai hidup. Pesan tersebut disampaikan psikolog keluarga, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, S.Psi., M.Sc., Psikolog, dalam sesi Cerita Citta, salah satu rangkaian pembekalan pada hari kedua PIONIR Psikologi Rumah Kita (PRK) 2026, Kamis (6/8). Menurut Alissa, kesempatan mengembangkan […]

Artikel Alissa Wahid Ajak Mahasiswa Kenali Potensi Diri demi Masa Depan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mahasiswa baru Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada diajak memanfaatkan masa kuliah sebagai kesempatan untuk mengenali diri dan membangun nilai-nilai hidup. Pesan tersebut disampaikan psikolog keluarga, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, S.Psi., M.Sc., Psikolog, dalam sesi Cerita Citta, salah satu rangkaian pembekalan pada hari kedua PIONIR Psikologi Rumah Kita (PRK) 2026, Kamis (6/8).

Menurut Alissa, kesempatan mengembangkan potensi diri selama di bangku perkuliahan perlu dimanfaatkan sejak awal masa perkuliahan. Ia mengingatkan bahwa pengalaman belajar di perguruan tinggi tidak hanya bertujuan memperoleh nilai akademik, tetapi juga menjadi ruang untuk mengasah keterampilan mengenali dan mengelola diri sebagai bekal menghadapi berbagai peran di masa depan. “Jadikan masa di UGM ini bukan hanya masa untuk sekadar dapat nilai bagus, tapi gunakan justru untuk betul-betul menajamkan nurani, menajamkan keterampilan diri dan menajamkan pengelolaan diri,” ujar putri Presiden Republik Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) .

Dalam pemaparannya, Alissa mengingatkan bahwa pencapaian tidak akan berarti apabila seseorang tidak memiliki arah yang jelas. Ia mengibaratkan banyak orang baru menyadari tangga yang dipanjat bersandar pada tembok yang salah setelah berhasil mencapai puncaknya. Menurutnya, nilai-nilai hidup menjadi pegangan agar setiap langkah yang diambil memiliki arah dan tujuan yang jelas. “Yang akan bisa membuat temboknya itu benar adalah nilai-nilai yang kalian pegang. Itu yang akan membuat kita bisa bergerak ke mana-mana,” ujarnya.

Melalui analogi lain, Alissa menggambarkan manusia seperti seekor burung yang bertengger di atas ranting. Burung tersebut tidak bergantung pada ranting yang dipijaknya, melainkan pada sayap yang dimilikinya untuk tetap terbang ketika ranting itu patah. Begitu pula seseorang perlu membangun kepercayaan terhadap diri sendiri dengan berpegang pada nilai-nilai yang diyakini. “Percayalah pada diri sendiri, kenali diri sendiri, pahami nilai-nilai apa yang memandu kehidupan teman-teman, dan itulah yang akan jadi sayap teman-teman,” katanya.

Usai menyampaikan materi, Alissa menilai mahasiswa Fakultas Psikologi UGM memiliki peluang lebih besar untuk mengenali dirinya melalui proses pembelajaran. Menurutnya, materi yang dipelajari selama perkuliahan, mulai dari kepribadian, karakter, hingga dinamika psikologi manusia dan lingkungannya, dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami dirinya sendiri sekaligus mempersiapkan masa depan. “Mahasiswa Fakultas Psikologi UGM harus mampu memanfaatkan ruang-ruang belajar yang kita sebetulnya belajar secara teoritis, tetapi sangat bisa kita gunakan untuk mengenali diri kita. Mengenali diri kita itu adalah kunci untuk membuka pintu-pintu kemajuan dalam perjalanan kehidupan kita ke depan,” ungkapnya.

Bagi Alissa, kemampuan mengenali diri merupakan bekal yang akan selalu relevan, apapun profesi yang kelak dijalani. Karena itu, ia berharap mahasiswa memanfaatkan setiap proses belajar di Fakultas Psikologi UGM bukan hanya untuk memahami orang lain, tetapi juga untuk semakin memahami dirinya sendiri. “Di mana pun itu, apakah kita memilih menjadi ibu rumah tangga, maupun menjadi pemimpin di perusahaan multinasional, atau menjadi menteri, atau bahkan menjadi presiden. Selamat berjuang!” tuturnya.

Reportase : Erna Tri Nofiyana/Humas Psikologi

Penulis : Jelita Agustine

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Fakultas Psikologi

Artikel Alissa Wahid Ajak Mahasiswa Kenali Potensi Diri demi Masa Depan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/alissa-wahid-ajak-mahasiswa-kenali-potensi-diri-demi-masa-depan/feed/ 0
Mahfud MD Ajak Mahasiswa Berinovasi Tanpa Mengabaikan Hukum dan Moral https://ugm.ac.id/id/berita/mahfud-md-ajak-mahasiswa-berinovasi-tanpa-mengabaikan-hukum-dan-moral/ https://ugm.ac.id/id/berita/mahfud-md-ajak-mahasiswa-berinovasi-tanpa-mengabaikan-hukum-dan-moral/#respond Fri, 07 Aug 2026 05:43:06 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96391 Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan RI, Prof. Dr. Moh. Mahfud MD., S.H., mengajak 1.803 Kesatria Muda, sebutan mahasiswa baru Fakultas Teknik UGM,  untuk terus berinovasi guna meningkatkan nilai ekonomi dari berbagai produk maupun teknologi. Menurutnya, inovasi tidak boleh berhenti karena tantangan di masa depan akan terus berubah. “Inovasi itu sangat penting. Kalau […]

Artikel Mahfud MD Ajak Mahasiswa Berinovasi Tanpa Mengabaikan Hukum dan Moral pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan RI, Prof. Dr. Moh. Mahfud MD., S.H., mengajak 1.803 Kesatria Muda, sebutan mahasiswa baru Fakultas Teknik UGM,  untuk terus berinovasi guna meningkatkan nilai ekonomi dari berbagai produk maupun teknologi. Menurutnya, inovasi tidak boleh berhenti karena tantangan di masa depan akan terus berubah. “Inovasi itu sangat penting. Kalau Anda tidak bisa berinovasi, tidak bisa berkreasi, itu artinya kita mandek, tidak ada kemajuan. Justru yang terjadi adalah kemunduran,” ujarnya saat mengisi sesi talkshow bertajuk “Governing Innovation with Law and Moral” pada rangkaian Pionir Kesatria hari kedua yang berlangsung di halaman depan Smart Green Learning Center (SGLC) FT UGM, Kamis (6/8).

Mahfud menegaskan bahwa inovasi harus berjalan seiring dengan hukum dan tata tertib yang berlaku. Menurutnya, hukum hadir untuk menciptakan ketertiban di tengah masyarakat yang memiliki beragam kepentingan. “Hukum itu ada untuk mengatur agar masyarakat tertib, sebab setiap orang memiliki kepentingannya sendiri-sendiri baik secara ekonomi maupun biologis. Sama halnya seperti inovasi, itu harus menuruti aturan-aturan hukum,” tambahnya.

Mengutip pemikiran Sun Tzu, Mahfud mengatakan bahwa keberlangsungan sebuah bangsa ditopang oleh tiga hal, yakni pangan, tempat tinggal, dan hukum. Menurutnya, apabila dihadapkan pada pilihan antara hukum dan pangan, hukum harus didahulukan karena keberadaannya menjamin hak setiap orang untuk mencari nafkah dan melindungi kepemilikan. Sebaliknya, tanpa hukum, segala yang dimiliki seseorang dapat dengan mudah dirampas. “Begitu pula dengan kreativitas. Kita tidak mungkin bisa berkreasi dan berinovasi tanpa ada hukum. Kita bisa berinovasi karena ada hukum yang mengatur dan menjaga kebebasan itu,” tutur Mahfud.

Meski demikian, Mahfud mengakui bahwa hari ini Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan dalam penegakan hukum. Ia mengatakan bahwa sebagai bangsa besar, Indonesia akan mampu berkembang jauh lebih baik apabila diiringi dengan sistem penegakan hukum yang adil dan kuat. “Kita bangsa besar, tapi andaikan itu diiringi dengan penegakan hukum yang baik, kita akan jauh lebih baik dari sekarang,” katanya.

Tidak hanya sampai di situ, tambahnya, penegakan hukum saat ini masih kerap disalahgunakan melalui rekayasa perkara maupun praktik suap. Akibatnya, sambung Mahfud, tidak sedikit orang yang tidak bersalah justru diputus bersalah, sementara hak-hak masyarakat juga dapat terabaikan. “Ada banyak sekarang orang yang tidak bersalah justru dijatuhi bersalah. Ada orang desa yang sudah tinggal turun-temurun di sebuah tempat justru disita karena tidak punya sertifikat,” paparnya.

Merespons permasalahan ini, Mahfud menyoroti masih adanya aparat penegak hukum yang mengabaikan nilai-nilai moral meski memiliki latar belakang pendidikan tinggi. Menurutnya, kecerdasan dan kemampuan berinovasi tidak akan berarti apabila tidak disertai moral yang kuat dan watak yang mulia. “Oke, Anda cerdas, jago berinovasi, berkreasi, tapi tidak bermoral? Anda adalah gelombang baru masa depan. Perkuat moral Anda, miliki watak yang mulia. Jadilah sarjana yang sujana” tegasnya.

Di akhir pemaparannya, Mahfud mengingatkan mahasiswa baru Fakultas Teknik UGM untuk terus berinovasi dan berkreasi tanpa mengabaikan hukum yang berlandaskan moral. Menurutnya, setiap tindakan harus berpijak pada hati nurani dan nilai-nilai moral. “Seperti yang saya katakan di awal, setiap tindakan kita harus berlandaskan hati nurani dan bisikan moral. Kita harus berbagi, jangan serakah. Orang lain juga memiliki hak dan kesempatan untuk menikmati kekayaan yang ada hari ini. Dan kemauan untuk berbagi ini tak luput dari yang namanya moral,” tuturnya.

Tak lupa, Mahfud juga mengajak mahasiswa baru untuk mempertahankan tradisi pengabdian yang telah lama menjadi identitas UGM. Ia mencontohkan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang pertama kali digagas di UGM sebagai sarana bagi mahasiswa untuk memahami kehidupan masyarakat sekaligus berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan di tengah masyarakat. “Dulu, KKN itu lahir pertama kali di UGM. Tujuannya adalah agar mahasiswa bisa tahu kehidupan masyarakat sesungguhnya, dan menaruh hati pada masyarakat dengan cara membantu mengatasi persoalan yang terjadi,” tutupnya.

Penulis/Foto : Agito Sitepu

Editor     : Gusti Grehenson

Artikel Mahfud MD Ajak Mahasiswa Berinovasi Tanpa Mengabaikan Hukum dan Moral pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mahfud-md-ajak-mahasiswa-berinovasi-tanpa-mengabaikan-hukum-dan-moral/feed/ 0
Wamen Stella Ungkap Lulusan Vokasi Paling Laris di Dunia Kerja https://ugm.ac.id/id/berita/wamen-stella-ungkap-lulusan-vokasi-paling-laris-di-dunia-kerja/ https://ugm.ac.id/id/berita/wamen-stella-ungkap-lulusan-vokasi-paling-laris-di-dunia-kerja/#respond Thu, 06 Aug 2026 09:22:18 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96351 Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Stella Christie, menyatakan tingkat penyerapan tenaga kerja lulusan dari Vokasi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan lulusan akademik. Ia menyebutkan dari hasil tracer study yang dilakukan sejak 2021 hingga 2024, sekitar 77% tingkat penyerapan tenaga kerja lulusan vokasi, sementara lulusan pendidikan akademik hanya sebesar 72%. “Jadi […]

Artikel Wamen Stella Ungkap Lulusan Vokasi Paling Laris di Dunia Kerja pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Stella Christie, menyatakan tingkat penyerapan tenaga kerja lulusan dari Vokasi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan lulusan akademik. Ia menyebutkan dari hasil tracer study yang dilakukan sejak 2021 hingga 2024, sekitar 77% tingkat penyerapan tenaga kerja lulusan vokasi, sementara lulusan pendidikan akademik hanya sebesar 72%. “Jadi penyerapan ke tenaga kerja vokasi lebih tinggi dari pada lulusan akademik S1,” jelasnya pada sesi Talkshow Pionir Permadani di Grha Sabha Pramana UGM lantai 2, Kamis (6/8).

Di hadapan 1.945 mahasiswa baru Sekolah Vokasi UGM, Stella menepis anggapan terhadap pendidikan vokasi sulit diterima di dunia kerja. Sebaliknya, Stella menegaskan pendidikan vokasi memiliki peran krusial dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia. “Per hari ini, industri dan pasar membutuhkan tenaga kerja terampil yang siap kerja,” imbuhnya.

Dikatakan Stella, pendidikan vokasi memiliki peran utama dalam merespons kebutuhan industri secara cepat dengan menghasilkan talenta terampil dan berkualitas. Jika tidak ada suplai tenaga kerja terampil, industri akan mati dan investor enggan berinvestasi. “Perguruan tinggi vokasi paling utama perannya untuk merespon  pasar kerja,” ungkapnya.

Stella memberikan contoh pendidikan vokasi di Tiongkok, Shenzhen Polytechnic University yang bekerja sama erat dengan industri lokal yang telah mendunia seperti Huawei dan BYD. Stella menjelaskan bahwa pendapatan dari Greater Bay Area (Shenzhen, Hong Kong, Guangzhou) mencapai 2,15 triliun USD, lebih besar dari output ekonomi seluruh Indonesia yang berada di kisaran 1,55 triliun USD. Hal tersebut menjadi bukti nyata bahwa begitu besarnya peran vokasi, begitu banyaknya yang dihasilkan oleh sekolah vokasi di daerah Shenzhen, Guangzhou dan Hong Kong untuk industri sehingga menghasilkan perekonomian yang bahkan lebih besar dari yang ada di Hong Kong. “Inilah mengapa saya sebut vokasi kunci masa depan Indonesia,” tegasnya.

Selain di negara Asia Timur, di negara Eropa seperti Swiss juga memiliki keunggulan pada pendidikan vokasi. Stella menerangkan di Swiss sendiri, lulusan sarjana terapan mampu menghasilkan gaji sebesar 102.114 Swiss Franc atau jika dirupiahkan akan mencapai Rp2 miliar. Di Korea Selatan juga turut memperkuat pendidikan vokasi, karena menyadari perekonomian negara tidak dapat maju karena vokasi. “Karena mereka tahu perekonomian mereka tidak akan bisa maju tanpa vokasinya yang kuat,” terangnya.

Menanggapi fenomena ini, Kemdiktisaintek RI berkomitmen memperkuat vokasi melalui tiga pilar utama: industry match curriculum, industry match instructors, dan industry match infrastructure. Salah satu program kerja sama yang telah berjalan adalah Kerja Sama dengan LiuGong, perusahaan produsen alat berat multinasional Tiongkok. Bentuk dari kerja sama ini berupa pemberian beasiswa kepada mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) untuk belajar dan magang selama 1 tahun di perusahaan alat berat Liugong, baik di Tiongkok maupun Indonesia.

Sementara Mantan Direktur Utama PT Semen Gresik, Muchammad Supriyadi turut berpesan kepada seluruh mahasiswa baru Sekolah Vokasi untuk harus berani mengambil tanggung jawab atas setiap keputusan dan risiko yang diambil, serta tidak melemparkan kesalahan kepada orang lain. Selain itu, ia berpesan untuk selalu menjaga nama baik almamater. “Jagalah integritas, keyakinan, dan karakter UGM di mana pun berada agar dapat membawa nama almamater terbang lebih tinggi,” pungkasnya.

Penulis : Fatihah Salwa Rasyid

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Wamen Stella Ungkap Lulusan Vokasi Paling Laris di Dunia Kerja pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/wamen-stella-ungkap-lulusan-vokasi-paling-laris-di-dunia-kerja/feed/ 0
Tumiran Soroti Transformasi Sistem Kelistrikan dalam Memperkuat Industri Nasional https://ugm.ac.id/id/berita/tumiran-soroti-transformasi-sistem-kelistrikan-dalam-memperkuat-industri-nasional/ https://ugm.ac.id/id/berita/tumiran-soroti-transformasi-sistem-kelistrikan-dalam-memperkuat-industri-nasional/#respond Tue, 04 Aug 2026 01:38:41 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96226 Transformasi sistem ketenagalistrikan menjadi salah satu agenda penting dalam mendukung ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan listrik, penetrasi energi terbarukan, dan tantangan perubahan iklim. Dalam kondisi tersebut, keandalan sistem saja dinilai tidak lagi memadai untuk menjawab kebutuhan masa depan. Hal itu mengemuka dalam Webinar “Beyond Reliability: Membangun Sistem Kelistrikan Indonesia Modern yang Andal, Tangguh, […]

Artikel Tumiran Soroti Transformasi Sistem Kelistrikan dalam Memperkuat Industri Nasional pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Transformasi sistem ketenagalistrikan menjadi salah satu agenda penting dalam mendukung ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan listrik, penetrasi energi terbarukan, dan tantangan perubahan iklim. Dalam kondisi tersebut, keandalan sistem saja dinilai tidak lagi memadai untuk menjawab kebutuhan masa depan.

Hal itu mengemuka dalam Webinar “Beyond Reliability: Membangun Sistem Kelistrikan Indonesia Modern yang Andal, Tangguh, dan Berkelanjutan” merupakan bagian dari ENMA Webinar Series yang diselenggarakan oleh Pusat Riset Teknologi Ketenagalistrikan BRIN pada Selasa (28/7). Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pakar dari berbagai institusi, termasuk Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Prof. Cuk Supriyadi Ali Nandar; CEO Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa; Guru Besar Sistem Tenaga dan Energi Universitas Gadjah Mada, Prof. Tumiran; serta Kepala Pusat Riset Teknologi Ketenagalistrikan BRIN, Eka Rakhman Priandana, yang berbagi perspektif mengenai transformasi sistem ketenagalistrikan Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Guru Besar Sistem Tenaga dan Energi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada sekaligus pakar energi, Prof. Ir. Tumiran, M.Eng., Ph.D., IPU., menyoroti pentingnya transformasi sistem ketenagalistrikan Indonesia dari sekadar mengejar keandalan menuju sistem yang lebih tangguh, fleksibel, dan berkelanjutan. Dalam paparannya, Tumiran menjelaskan bahwa sistem kelistrikan masa depan perlu dibangun dengan sejumlah pilar utama, yaitu ketangguhan, fleksibilitas, keberlanjutan, serta perencanaan yang terintegrasi. Transformasi tersebut juga perlu didukung oleh pengembangan teknologi dan penciptaan permintaan listrik yang produktif sebagai bagian dari agenda prioritas pengembangan sistem kelistrikan Indonesia pada periode 2027–2035.

Ia menilai bahwa perubahan lanskap energi menuntut kesiapan sistem yang lebih baik. Menurutnya, muncul pertanyaan mendasar mengenai kesiapan sistem kelistrikan nasional dalam menghadapi berbagai tantangan baru. “Sistem seolah-olah tidak siap,” ungkapnya, saat menjelaskan urgensi transformasi sistem ketenagalistrikan Indonesia.

Tumiran juga menekankan pentingnya perencanaan pembangunan pembangkit (Generation Expansion Planning/GEP) dan jaringan transmisi (Transmission Expansion Planning/TEP) yang saling terintegrasi agar pengembangan sistem kelistrikan dapat berlangsung secara efektif dan berkelanjutan.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa pengembangan permintaan (demand formation) memiliki peran penting dalam menentukan arah pertumbuhan sistem kelistrikan. Menurutnya, permintaan listrik yang produktif akan menentukan kapan dan sejauh mana sistem mampu melayani pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan masyarakat.

Menutup pemaparannya, Tumiran menegaskan bahwa Indonesia tidak cukup hanya membangun sistem ketenagalistrikan dengan kapasitas yang lebih besar. Yang lebih penting adalah membangun sistem yang semakin tangguh, fleksibel, digital, produktif, berkelanjutan, dan mandiri. “Listrik bukan sekadar komoditas kWh. Listrik adalah infrastruktur strategis untuk membangun ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, memperkuat industri nasional, dan menjaga kedaulatan energi Indonesia,” tegasnya.

Bagi Tumiran, transformasi sistem ketenagalistrikan tidak hanya berorientasi pada penyediaan energi, tetapi juga menjadi fondasi bagi pembangunan nasional yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Reportase : Rasya Swarnasta/FT UGM

Penulis :  Fatihah Salwa Rasyid

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Listrikindonesia

Artikel Tumiran Soroti Transformasi Sistem Kelistrikan dalam Memperkuat Industri Nasional pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/tumiran-soroti-transformasi-sistem-kelistrikan-dalam-memperkuat-industri-nasional/feed/ 0
Bangun Fondasi Ketahanan Nasional, UGM Dorong Pendidikan Adaptif dengan Perubahan Situasi Global https://ugm.ac.id/id/berita/bangun-fondasi-ketahana-nasional-ugm-dorong-pendidikan-adaptif-dengan-perubahan-situasi-global/ https://ugm.ac.id/id/berita/bangun-fondasi-ketahana-nasional-ugm-dorong-pendidikan-adaptif-dengan-perubahan-situasi-global/#respond Wed, 29 Jul 2026 08:15:26 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95958 Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional Kementerian Pertahanan RI, Sabrang Mowo Damar Panuluh, menilai pendidikan ketahanan nasional perlu mendorong lahirnya pemikiran yang lebih adaptif terhadap perubahan situasi global. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk membangun cara berpikir strategis yang tidak berhenti pada pemahaman normatif mengenai negara. “Kita harus menemukan akar. Kenapa harus mempertahankan Indonesia? Apa yang dipertahankan? […]

Artikel Bangun Fondasi Ketahanan Nasional, UGM Dorong Pendidikan Adaptif dengan Perubahan Situasi Global pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional Kementerian Pertahanan RI, Sabrang Mowo Damar Panuluh, menilai pendidikan ketahanan nasional perlu mendorong lahirnya pemikiran yang lebih adaptif terhadap perubahan situasi global. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk membangun cara berpikir strategis yang tidak berhenti pada pemahaman normatif mengenai negara. “Kita harus menemukan akar. Kenapa harus mempertahankan Indonesia? Apa yang dipertahankan? Baru kemudian kita bisa mengidentifikasi ancaman,” kata Sabrang dalam Seminar Nasional Transformasi Kurikulum yang bertajuk Membangun Ekosistem Ilmu Ketahanan Strategis Bangsa untuk Meneguhkan Kejayaan Indonesia Raya Menuju Abad Kedua Kemerdekaan di ruang seminar Sekolah Pascasarjana (SPs) UGM, Senin (27/7).

Sabrang menyebutkan, ancaman terhadap bangsa terus berkembang, mulai dari aspek politik, ekonomi, teknologi, hingga kecerdasan artifisial yang memengaruhi cara masyarakat berpikir dan mengambil keputusan. Kondisi tersebut menuntut perguruan tinggi menyiapkan lulusan yang mampu membaca perubahan secara cepat melalui sistem pendidikan yang adaptif. Ia berpandangan kurikulum harus terus berkembang mengikuti percepatan ilmu pengetahuan dan teknologi agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman. “Kalau cara pendidikannya tidak berubah, saya jamin ketinggalan. Satu-satunya hukum untuk survival adalah adaptasi,” tegasnya.

Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Darat, Mayjen TNI Dr. Agustinus Purboyo, memaparkan bahwa konsep pertahanan telah berkembang menjadi tanggung jawab seluruh elemen bangsa. Perubahan geopolitik, perang informasi, hingga ancaman nonmiliter menuntut hadirnya pendekatan yang lebih menyeluruh dalam membangun ketahanan nasional. Karena itu, pendidikan memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi berbagai bentuk ancaman tersebut. “Pertahanan modern bukan hanya kekuatan militer, tetapi kemampuan mengintegrasikan seluruh instrumen nasional untuk bisa diorkestrasi menjadi satu harmoni yang indah agar kita bisa mempertahankan Indonesia dan survive di abad kedua kemerdekaan,” paparnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kemampuan beradaptasi menjadi faktor utama dalam menjaga keberlangsungan bangsa di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat. Menurutnya, Indonesia perlu meninggalkan ego sektoral dan memperkuat kolaborasi antarlembaga melalui pendekatan whole of government dan whole of society. Upaya tersebut akan memperkuat daya tahan nasional dalam menghadapi berbagai tantangan strategis di masa depan. “Hapus ego sektoral, mulai kita berpikir Bhinneka Tunggal Ika itu diwujudkan dan diimplementasikan. Berbeda tetapi tetap satu,” ujarnya.

Ketua Umum Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Indonesia, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet, menambahkan bahwa kerukunan merupakan fondasi penting dalam membangun ketahanan nasional. Nilai-nilai persatuan menjadi modal utama untuk menjaga keutuhan bangsa sekaligus memastikan pembangunan dapat berlangsung secara berkelanjutan. Ia berharap transformasi kurikulum Ilmu Ketahanan Nasional mampu memperkuat ekosistem pengetahuan yang melahirkan pemimpin dan ilmuwan dengan perspektif strategis bagi Indonesia. “Dengan kerukunan kita akan bisa menjaga persatuan kita. Dengan kerukunan yang kokoh barulah kita bisa membangun bangsa,” pungkasnya.

Seminar yang diselenggarakan Program Studi Magister dan Doktor Ilmu Ketahanan Nasional SPS UGM ini menghadirkan akademisi, pemerintah, TNI, dan tokoh masyarakat untuk merumuskan arah pengembangan kurikulum yang adaptif terhadap tantangan masa depan. Dekan Sekolah Pascasarjana UGM, Prof. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., Ph.D., mengatakan transformasi kurikulum menjadi langkah penting untuk memperkuat kapasitas bangsa melalui pendidikan tinggi. “Kurikulum tidak boleh dipahami sebagai susunan materi. Kurikulum harus menjadi arsitektur pembentukan ilmu, riset, kepemimpinan, sistem peringatan dini, dan jejaring kebijakan,” ujarnya.

Ketua Program Studi Magister dan Doktor Ilmu Ketahanan Nasional Sekolah Pascasarjana UGM, Prof. Dr. Priyono Suryanto, menyampaikan bahwa transformasi kurikulum dilakukan untuk menjaga relevansi keilmuan sekaligus memperkuat mandat strategis program studi. Proses penyusunannya dilakukan melalui kajian terhadap berbagai teori, perkembangan lingkungan strategis, dan kurikulum di sejumlah perguruan tinggi dunia. Hasil kajian tersebut menjadi dasar penyusunan arah baru pendidikan Ilmu Ketahanan Nasional yang lebih responsif terhadap tantangan global. “Momentum strategis ini kita gunakan dalam rangka transformasi kurikulum,” ungkapnya.

Ia menjelaskan kurikulum baru dirancang untuk menghasilkan lulusan yang mampu menjadi pemikir strategis sekaligus pengembang pengetahuan di bidang ketahanan nasional. Program magister akan diperkuat melalui laboratorium intelijen dan strategi untuk membangun kemampuan antisipasi krisis, sedangkan program doktor difokuskan pada pengembangan paradigma dan konstruksi ilmu pengetahuan baru. Penguatan ekosistem tersebut diharapkan mampu menghasilkan solusi preventif bagi berbagai persoalan strategis bangsa. “Di laboratorium intelijen itulah ekosistem dibangun sehingga navigator crisis bisa dihadirkan,” jelasnya.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Dwi Purwanto/Humas SPs

Artikel Bangun Fondasi Ketahanan Nasional, UGM Dorong Pendidikan Adaptif dengan Perubahan Situasi Global pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/bangun-fondasi-ketahana-nasional-ugm-dorong-pendidikan-adaptif-dengan-perubahan-situasi-global/feed/ 0
UGM Bersama Jaringan Universitas ASEAN Dorong Pendidikan Inklusif dan Berdaya Saing https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-bersama-jaringan-universitas-asean-dorong-pendidikan-inklusif-dan-berdaya-saing/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-bersama-jaringan-universitas-asean-dorong-pendidikan-inklusif-dan-berdaya-saing/#respond Wed, 29 Jul 2026 05:08:14 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95978 Perguruan tinggi yang tergabung dalam Jaringan Universitas ASEAN atau ASEAN University Network (AUN) melakukan pertemuan Rektor dan Pertemuan Dewan Pengawas AUN di Grand Hyatt, Singapura, pada 23–24 Juli lalu. Pertemuan ini menjadi ajang mempertemukan para pemimpin universitas-universitas terkemuka di ASEAN untuk membahas prioritas strategis dalam memperkuat kerja sama pendidikan tinggi di kawasan. Dalam pertemuan tersebut, […]

Artikel UGM Bersama Jaringan Universitas ASEAN Dorong Pendidikan Inklusif dan Berdaya Saing pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Perguruan tinggi yang tergabung dalam Jaringan Universitas ASEAN atau ASEAN University Network (AUN) melakukan pertemuan Rektor dan Pertemuan Dewan Pengawas AUN di Grand Hyatt, Singapura, pada 23–24 Juli lalu. Pertemuan ini menjadi ajang mempertemukan para pemimpin universitas-universitas terkemuka di ASEAN untuk membahas prioritas strategis dalam memperkuat kerja sama pendidikan tinggi di kawasan.

Dalam pertemuan tersebut, Rektor Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., berperan sebagai fasilitator utama dalam lokakarya strategis mengenai Kebijakan Strategis dan Rekomendasi yang Dapat Ditindaklanjuti dalam pertemuan tersebut. “Kita merumuskan rekomendasi kebijakan konkret guna memperkuat kepemimpinan berorientasi mahasiswa, mempererat kerja sama regional, dan meningkatkan daya saing global institusi pendidikan tinggi ASEAN,” kata Ova dalam keterangan yang dikirim Rabu (29/7).

Selama dua hari pertemuan berlangsung, kata Ova, para pemimpin universitas ASEAN membahas berbagai isu strategis, termasuk transformasi digital dalam pendidikan tinggi, penjaminan mutu, kesejahteraan mahasiswa, keberlanjutan, universitas berbasis hak asasi manusia, kampus inklusif, kecerdasan buatan dalam pendidikan, kolaborasi riset, serta penguatan keterlibatan global ASEAN.

Selain itu, Dewan Pengawas AUN juga meninjau perkembangan terkini di Sekretariat AUN, mengesahkan program-program AUN ke depan, dan mempertimbangkan usulan pembentukan jaringan tematik baru guna memperkuat kolaborasi regional lebih lanjut.

Keterlibatan aktif UGM dalam Pertemuan ini menurut Ova mencerminkan komitmen strategis universitas dalam membentuk masa depan pendidikan tinggi di Asia Tenggara. “Melalui kontribusinya dalam diskusi kebijakan regional dan inisiatif kolaboratif, UGM terus memperkuat perannya sebagai universitas terkemuka yang berdedikasi pada keunggulan akademik, inovasi, keberlanjutan, serta kemitraan internasional yang berdampak,” paparnya.

Ova menambahkan, hasil dari pertemuan-pertemuan ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas kolektif ASEAN dalam menghadapi tantangan global yang terus berkembang, melalui kerja sama antar universitas yang lebih kuat, pendidikan yang berorientasi pada mahasiswa, dan pengembangan kebijakan berbasis bukti. “Sebagai anggota aktif Jaringan Universitas ASEAN, UGM tetap berkomitmen mendukung inisiatif yang mendorong pendidikan tinggi yang inklusif, tangguh, dan terhubung secara global di seluruh kawasan,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., ditunjuk sebagai pelapor (rapporteur) untuk mewakili diskusi kelompok, bertugas merangkum hasil pembahasan menjadi rekomendasi strategis yang dipresentasikan dalam sesi pleno. “Saya turut memastikan bahwa berbagai perspektif dari universitas-universitas peserta dapat diterjemahkan menjadi prioritas regional yang nyata bagi Jaringan Universitas ASEAN,” ungkapnya.

Selain Rektor Ova Emilia dan Wakil Rektor Wening Udasmoro, delegasi UGM lainnya yang ikut hadir dalam pertemuan ini adalah Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., serta Kepala Kantor Urusan Internasional Tyas Ikhsan Hikmawan, M.S., Ph.D.

Penulis : Leony

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. AUN

Artikel UGM Bersama Jaringan Universitas ASEAN Dorong Pendidikan Inklusif dan Berdaya Saing pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-bersama-jaringan-universitas-asean-dorong-pendidikan-inklusif-dan-berdaya-saing/feed/ 0
UGM Perkuat Ekosistem Pembelajaran AI Melalui Kolaborasi dan Riset Multidisiplin  https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-perkuat-ekosistem-pembelajaran-ai-melalui-kolaborasi-dan-riset-multidisiplin/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-perkuat-ekosistem-pembelajaran-ai-melalui-kolaborasi-dan-riset-multidisiplin/#respond Mon, 27 Jul 2026 09:13:20 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95901 Kehadiran Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk aspek pendidikan. Dalam dunia pendidikan, khususnya di perguruan tinggi, teknologi AI kini dimanfaatkan untuk beragam keperluan akademik, mulai dari pencarian referensi, perumusan ide riset, hingga mendukung proses pembelajaran dan penelitian. Adapun Universitas Gadjah Mada terus memperkuat ekosistem AI di lingkungan kampus lewat […]

Artikel UGM Perkuat Ekosistem Pembelajaran AI Melalui Kolaborasi dan Riset Multidisiplin  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kehadiran Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk aspek pendidikan. Dalam dunia pendidikan, khususnya di perguruan tinggi, teknologi AI kini dimanfaatkan untuk beragam keperluan akademik, mulai dari pencarian referensi, perumusan ide riset, hingga mendukung proses pembelajaran dan penelitian. Adapun Universitas Gadjah Mada terus memperkuat ekosistem AI di lingkungan kampus lewat pengembangan riset dan kolaborasi dengan berbagai mitra strategis.

Kepala Biro Transformasi Digital UGM, Dr. Mardhani Riasetiawan, SE Ak, M.T., mengatakan pengembangan ekosistem AI menjadi salah satu langkah strategis UGM dalam mendorong inovasi, memperkuat kapasitas riset, sekaligus menjawab kebutuhan transformasi digital di dunia pendidikan tinggi. “Tahun lalu kami berhasil mencapai salah satu milestone, yaitu peluncuran UGM AI Center of Excellence. Kemudian kami juga memperoleh kesempatan yang sangat berharga untuk menjalin kolaborasi dengan Indosat Ooredoo Hutchison,” ujar Mardhani dalam seminar seminar UGM AI bertajuk “Riset dengan Artificial Intelligence (AI)” yang digelar di Ruang Multimedia, Lantai 3 Gedung Pusat UGM, Senin (27/7).

Mardhani mengungkapkan, tim dari Indosat dan NVIDIA sudah beberapa kali melakukan site visit serta evaluasi langsung ke UGM sebelum akhirnya menyatakan UGM memenuhi persyaratan untuk bergabung dalam jaringan NVIDIA AI Technology Center (NVAITC). Menurutnya, kolaborasi tersebut akan memperkuat kapasitas riset AI di UGM melalui dukungan teknologi NVIDIA.  “Persoalan terbesar dalam pengembangan AI selama ini memang terletak pada keterbatasan sumber daya komputasi. Melalui kerja sama ini, mudah-mudahan para peneliti UGM dapat memanfaatkan kapasitas komputasi dalam skala yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya,” jelasnya sembari memaparkan program-program yang telah digulirkan.

Selain memperkuat kolaborasi dengan mitra industri, UGM juga tengah menyiapkan sejumlah program untuk memperluas ekosistem AI di lingkungan kampus. Salah satunya melalui program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) yang dirancang sebagai program pengembangan selama tiga tahun serta pembentukan Faculty Member UGM AI sebagai jejaring akademik lintas fakultas. “Yang paling kami dorong dalam kerja sama dengan NVIDIA adalah kekuatan utama UGM sebagai universitas multidisiplin. Pendekatan yang kami bangun tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga melibatkan berbagai disiplin ilmu lainnya seperti sosial humaniora,” tuturnya.

Menurut Mardhani, jejaring tersebut dapat menjadi ruang kolaborasi bagi para peneliti dari berbagai disiplin ilmu untuk mengembangkan riset AI secara bersama-sama. Ke depan, kata Mardhani, UGM AI juga ditargetkan berkembang menjadi pusat riset yang mampu mengelola pendanaan penelitian, menyediakan program beasiswa, merekrut mahasiswa magister dan doktor, serta memperluas kolaborasi di tingkat internasional. “Kami ingin membangun ekosistem ini secara bersama-sama. Karena pada akhirnya, tidak ada keberhasilan besar yang dapat dicapai sendirian,” pungkasnya.

Memasuki diskusi sesi seminar, Dosen Fakultas Hukum UGM, Dr. Rimawati, S.H., M.Hum., menjelaskan bahwa Artificial Intelligence (AI) telah membuka peluang baru dalam mendukung penelitian hukum, khususnya pada tahapan penelusuran regulasi, putusan pengadilan, hingga penyusunan matriks analisis. Menurutnya, pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual dan memerlukan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu, kini dapat diselesaikan jauh lebih cepat dengan bantuan AI. “Dengan bantuan AI, proses penelusuran tersebut menjadi jauh lebih efisien. Dahulu pekerjaan tersebut dapat memakan waktu hingga satu bulan, sekarang proses yang sama dapat diselesaikan hanya dalam beberapa jam,” ujar Rimawati.

Kendati demikian, lanjut Rimawati, AI hanya berfungsi sebagai alat bantu untuk mempercepat pencarian dan pengorganisasian data hukum. Analisis, penafsiran norma, hingga justifikasi hukum tetap menjadi tanggung jawab peneliti. Ia menambahkan, setiap hasil yang diberikan AI harus diverifikasi kembali dengan membandingkannya terhadap peraturan perundang-undangan maupun putusan pengadilan yang menjadi sumber aslinya. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memastikan keakuratan informasi sekaligus menjaga kualitas dan integritas akademik dalam penelitian hukum.

Senada dengan Rimawati, pemateri kedua, Prof. Dr. Ir. Ferian Anggara, S.T., M.Eng., IPM., Guru Besar Fakultas Teknik UGM, menjelaskan bahwa pemanfaatan artificial intelligence (AI) dan machine learning mampu meningkatkan efisiensi penelitian, dalam hal ini eksplorasi sumber daya mineral serta energi. Menurutnya, teknologi tersebut memungkinkan peneliti mengolah data dalam jumlah besar untuk mengidentifikasi potensi sumber daya secara lebih cepat dan akurat sehingga proses analisis yang sebelumnya memerlukan waktu lama dapat dipersingkat.  “Pemanfaatan artificial intelligence maupun machine learning yang kami lakukan tujuannya untuk mendukung efisiensi proses kerja. Ketika proses kerja menjadi lebih efisien, setidaknya ada dua manfaat yang kita dapatkan, yakni penghematan waktu dan penghematan biaya,” ujar dosen Departemen Teknik Geologi UGM tersebut.

Implementasi AI berikutnya dipaparkan oleh Dr. Nur Mohammad Farda dari Fakultas Geografi melalui pengembangan Tech4Disaster, sebuah platform GeoAI yang mengintegrasikan teknologi geospasial, Internet of Things (IoT), big data, citra satelit, drone, dan Artificial Intelligence untuk mendukung seluruh siklus manajemen bencana, mulai dari mitigasi, kesiapsiagaan, respons darurat, hingga pemulihan pascabencana.

Platform tersebut memanfaatkan berbagai sumber data spasial yang diproses menggunakan model AI untuk menghasilkan informasi secara real time, seperti rapid mapping, identifikasi bangunan terdampak menggunakan deep learning, pemetaan kebutuhan masyarakat terdampak, hingga geoportal informasi kebencanaan yang mendukung pengambilan keputusan secara cepat dan akurat. Pengembangan Tech4Disaster juga menjadi contoh bagaimana AI dapat memberikan manfaat nyata dalam meningkatkan ketangguhan masyarakat menghadapi bencana melalui kolaborasi antara teknologi, data, dan berbagai disiplin ilmu.

Rangkaian presentasi dalam Seminar UGM AI menunjukkan bahwa pemanfaatan Artificial Intelligence di UGM telah berkembang melampaui penggunaan sebagai alat bantu penelitian. Berbagai penelitian yang dipresentasikan memperlihatkan implementasi AI pada beragam bidang strategis, mulai dari hukum, energi, pertanian, kesehatan, hingga kebencanaan. Hal tersebut sekaligus mencerminkan kekuatan UGM sebagai universitas multidisiplin yang mampu menghubungkan keilmuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat dalam satu ekosistem inovasi.

Melalui kolaborasi bersama Indosat Ooredoo Hutchison dan NVIDIA, UGM tidak hanya memperkuat kapasitas komputasi untuk penelitian, tetapi juga mempercepat lahirnya berbagai inovasi berbasis Artificial Intelligence yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dukungan AI Infrastructure as a Service menjadi fondasi penting bagi pengembangan riset-riset AI di lingkungan UGM sekaligus mempertegas komitmen universitas dalam membangun ekosistem AI nasional yang kolaboratif, berkelanjutan, dan berdampak.

Penulis : Agito Sitepu

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel UGM Perkuat Ekosistem Pembelajaran AI Melalui Kolaborasi dan Riset Multidisiplin  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-perkuat-ekosistem-pembelajaran-ai-melalui-kolaborasi-dan-riset-multidisiplin/feed/ 0
Memperkuat Ketahanan Pangan, UGM Dorong Pengembangan Pangan Biru Berkelanjutan  https://ugm.ac.id/id/berita/memperkuat-ketahanan-pangan-ugm-dorong-pengembangan-pangan-biru-berkelanjutan/ https://ugm.ac.id/id/berita/memperkuat-ketahanan-pangan-ugm-dorong-pengembangan-pangan-biru-berkelanjutan/#respond Sun, 26 Jul 2026 04:25:50 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95853 Keberagaman sumber daya pangan tidak hanya berasal dari daratan, tetapi juga dari laut dan perairan yang masih perlu dieksplorasi secara berkelanjutan. Apalagi sekitar 70 persen atau dua pertiga wilayah wilayah Indonesia adalah laut. Di tengah ancaman krisis pangan, dampak perubahan iklim serta jumlah penduduk yang semakin meningkat, pengembangan sektor perikanan menjadi salah solusi dalam penyediaan […]

Artikel Memperkuat Ketahanan Pangan, UGM Dorong Pengembangan Pangan Biru Berkelanjutan  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Keberagaman sumber daya pangan tidak hanya berasal dari daratan, tetapi juga dari laut dan perairan yang masih perlu dieksplorasi secara berkelanjutan. Apalagi sekitar 70 persen atau dua pertiga wilayah wilayah Indonesia adalah laut. Di tengah ancaman krisis pangan, dampak perubahan iklim serta jumlah penduduk yang semakin meningkat, pengembangan sektor perikanan menjadi salah solusi dalam penyediaan pangan biru atau blue food. Seperti diketahui, pangan biru adalah semua jenis makanan yang berasal dari perairan, seperti ikan, kerang, dan rumput laut, yang ditangkap atau dibudidayakan di laut maupun air tawar.

Dekan Fakultas Pertanian UGM, Prof. Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D., menuturkan pengembangan blue food menjadi suatu langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan di Indonesia. Ia menuturkan jika masa depan ketahanan pangan tidak hanya bertumpu pada sektor pertanian di daratan, tetapi juga pada potensi sumber daya perairan yang harus dikelola secara bijaksana, inovatif, dan berkelanjutan. Karena itu, ia mendorong ilmu pengetahuan, teknologi, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menghadirkan solusi yang mampu menjawab tantangan pangan di masa depan. “Kekayaan perairan juga harus dikelola secara bijaksana, inovatif, dan berkelanjutan. Di sinilah ilmu pengetahuan, teknologi, dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menghasilkan solusi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Jaka Widada dalam Seminar Nasional Tahunan XXIII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan (SEMNASKAN-UGM XXIII) dengan mengusung tema bertajuk “Blue Foods: Potensi dan Pengelolaan Berkelanjutan Sistem Pangan Biru Berbasis Perairan Lokal” pada Sabtu (25/7) di Auditorium Harjono Danoesastro.

Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menegaskan blue food memegang peran penting dalam mendukung program ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat, terutama sebagai sumber protein bagi lebih dari 280 juta penduduk Indonesia. Danang mendorong penguatan kampanye konsumsi ikan di tengah masyarakat yang selama ini lebih akrab dengan sumber protein lain seperti daging dan telur. “Dukungan kebijakan, riset maupun teknologi, blue food nantinya benar-benar menjadi salah satu tulang punggung ekonomi kita,” harap Danang.

Direktur Pemasaran Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Erwin Dwiyana, S.Pi., M.Sc., menjelaskan bahwa transformasi sistem blue food menjadi suatu kebutuhan mendesak seiring proyeksi pertumbuhan populasi dunia menjadi 9,66 miliar jiwa pada 2050. Kondisi tersebut diperkirakan berdampak pada kebutuhan protein ikan naik hingga 67 persen. Di sisi lain, sistem pangan berbasis daratan menghadapi tantangan berupa keterbatasan lahan, perubahan iklim, degradasi lingkungan, hingga alih fungsi lahan pertanian. Oleh sebab itu, ia menegaskan bahwa pengembangan blue food perlu didasari atas lima dimensi utama, yakni ketersediaan, keterjangkauan, pemenuhan gizi, mutu dan keamanan pangan, serta keberlanjutan, sehingga mampu menciptakan sistem pangan yang tangguh dari hulu hingga hilir. “Transformasi blue food harus diarahkan pada peningkatan produktivitas, pengembangan produk bernilai tambah, kolaborasi lintas sektor, serta pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.

Sedangkan Dosen Departemen Perikanan UGM, Dr. Nurfitri Ekantari, S.Pi., M.P., dalam pemaparan hasil risetnya memperkenalkan strategi inkorporasi mikroalga dan makroalga dalam matriks pangan sebagai kunci dalam mendukung keberhasilan blue food agar dapat diterima oleh masyarakat luas.

Menurutnya, alga tidak lagi hanya dikonsumsi sebagai suplemen atau obat, melainkan diintegrasikan ke dalam produk pangan harian, seperti mie, mochi, dan es krim. “Mari kita beraksi dengan kolaborasi untuk menciptakan makanan yang lezat, karena tidak akan ada artinya makanan yang kita buat dengan macam-macam kalau tidak lezat dan meningkatkan minat masyarakat,” pungkasnya.

Ketua panitia Seminar, Dr. Susana Endah Ratnawati, S.Pi., M.Si menyampaikan seminar kali ini menjadi forum dalam mempertemukan hasil-hasil riset perikanan dan kelautan sekaligus mendorong lahirnya gagasan baru bagi pengembangan sektor perikanan Indonesia. Seminar ini diikuti oleh 109 pemakalah, 4 peserta non pemakalah, serta perwakilan dari 15 institusi dan perguruan tinggi di Indonesia. Melalui penyelenggaraan seminar perikanan ini diharapkan dapat menjadi wujud komitmen bersama dalam membangun sistem pangan akuatik yang berdaya saing, berbasis sains, dan berkelanjutan.

Penulis : Cyntia Noviana

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Magnific

Artikel Memperkuat Ketahanan Pangan, UGM Dorong Pengembangan Pangan Biru Berkelanjutan  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/memperkuat-ketahanan-pangan-ugm-dorong-pengembangan-pangan-biru-berkelanjutan/feed/ 0
Menelaah Sejarah Panjang Konflik di Kawasan Timur Tengah https://ugm.ac.id/id/berita/menelaah-sejarah-panjang-konflik-di-kawasan-timur-tengah/ https://ugm.ac.id/id/berita/menelaah-sejarah-panjang-konflik-di-kawasan-timur-tengah/#respond Fri, 24 Jul 2026 09:16:05 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95837 Konflik timur tengah yang terus berlangsung hingga saat ini merupakan konflik yang sudah diturunkan dari zaman dahulu. Konflik yang terjadi ini tidak pernah sepenuhnya selesai hanya berubah bentuk atau bermetamorfosa dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pada era globalisasi saat ini, konflik di timur tengah ini tentu saja berdampak ke negara-negara di seluruh dunia. Sebab […]

Artikel Menelaah Sejarah Panjang Konflik di Kawasan Timur Tengah pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Konflik timur tengah yang terus berlangsung hingga saat ini merupakan konflik yang sudah diturunkan dari zaman dahulu. Konflik yang terjadi ini tidak pernah sepenuhnya selesai hanya berubah bentuk atau bermetamorfosa dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pada era globalisasi saat ini, konflik di timur tengah ini tentu saja berdampak ke negara-negara di seluruh dunia. Sebab geografi timur tengah yang sangat strategis yang mana merupakan jalur energi, jalur perdagangan, dan rivalitas perdagangan regional.

Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Yaman dan Suriah, Dr. Wajid Fauzi, M,PM., menyampaikan bahwa geografi bukan hanya tentang letak suatu negara tetapi faktor yang membentuk distribusi kekuasaan, kepentingan ekonomis, strategi militer, dan kebijakan luar negeri suatu negara lain terhadap negara tersebut. “Geografi bukan hal yang netral tetapi menjadi sumber keunggulan sekaligus terkadang sumber dari konflik,” terangnya dalam kuliah umum yang bertajuk Amerika, Konflik di Timur Tengah dan Implikasi bagi Indonesia, Senin (20/7), di Gedung Soegondo FIB UGM.

Menurutnya, kawasan tersebut menyimpan kompleksitas sejarah, politik, ekonomi, dan keamanan yang harus dipahami secara utuh. Ia menyebutkan, konflik Palestina, misalnya, disebut sebagai salah satu konflik tertua di dunia modern yang berakar sejak runtuhnya Kekhalifahan Utsmaniyah pada 1924, dilanjutkan mandat Inggris atas Palestina, Deklarasi Balfour, hingga berdirinya negara Israel. Bagi masyarakat Palestina, peristiwa tersebut dikenal sebagai Nakba atau malapetaka karena jutaan warga Palestina kehilangan tempat tinggal dan terusir dari tanah kelahirannya. “Konflik Palestina tidak hanya berkaitan dengan perebutan wilayah, melainkan juga menyangkut persoalan kedaulatan, legitimasi, hukum internasional, hingga status Yerusalem yang memiliki dimensi sejarah, politik, dan keagamaan,” paparnya.

Di Indonesia, konflik Palestina umumnya dipahami sebagai isu penjajahan dan kemanusiaan sehingga solidaritas masyarakat terhadap Palestina sangat kuat. Meski demikian, dalam perspektif akademik terdapat berbagai kontestasi narasi, seperti penggunaan istilah occupation (pendudukan) atau self-defense (pembelaan diri), serta perbedaan pandangan terhadap Hamas sebagai kelompok teroris maupun pejuang pembebasan (freedom fighter). “Konflik Palestina memiliki banyak lapisan persoalan. Di dalamnya terdapat kontestasi narasi yang digunakan oleh masing-masing pihak untuk memperoleh legitimasi atas posisi mereka,” ujarnya.

Selain Palestina, ia menyoroti konflik di Yaman yang awalnya merupakan perang domestik, tetapi kemudian berkembang menjadi proxy war antara Arab Saudi dan Iran. Konflik tersebut memiliki dampak strategis karena berlangsung di dekat Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran internasional yang vital. Ia menggambarkan perang bukan sekadar angka statistik, melainkan pengalaman kemanusiaan yang menyedihkan. Menurutnya, masyarakat yang belum pernah berada di wilayah konflik sering kali membayangkan suara ledakan bom seperti petasan malam tahun baru, padahal setiap ledakan membawa ancaman nyata terhadap kehidupan.

Kemudian, konflik Suriah sendiri dijelaskan mengalami eskalasi bertahap, mulai dari demonstrasi lokal pada 2011, berkembang menjadi konflik domestik, kemudian konflik regional, hingga akhirnya menjadi arena persaingan kekuatan global. Perubahan penting terjadi pada akhir 2024 ketika pemerintahan Suriah berganti. Bersamaan dengan itu, sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, mengubah arah kebijakan luar negerinya dengan memberikan dukungan terhadap pemerintahan baru, berbeda dengan sikap terhadap rezim sebelumnya.

Selain Suriah, konflik Sudan dinilai memiliki arti strategis karena negara tersebut berada di pesisir Laut Merah. Perebutan wilayah pantai antara Angkatan Bersenjata Sudan dan kelompok Rapid Support Forces (RSF) berpotensi mengganggu stabilitas keamanan maritim internasional apabila konflik terus berlanjut. Sementara itu, hubungan Iran dan Israel disebut lebih tepat dipahami sebagai rivalitas dibandingkan perang tunggal. Rivalitas tersebut mencakup perang intelijen, perang siber, hingga penggunaan kelompok-kelompok proksi.

Menurutnya, Iran dituduh membangun jaringan Axis of Resistance atau Poros Perlawanan (Mahwar al-Muqawamah), yang meliputi Hizbullah di Lebanon, sejumlah kelompok milisi di Irak, serta Hamas di Palestina. Karena itu, Amerika Serikat dan Israel memandang Iran sebagai ancaman keamanan yang bersifat eksistensial. “Keterhubungan inilah yang menjelaskan teori Regional Security Complex, yaitu bahwa konflik-konflik di Timur Tengah saling memengaruhi dan tidak dapat dipahami secara terpisah,” jelasnya.

Ia menambahkan, kawasan Timur Tengah tetap menjadi pusat perhatian dunia karena bukan hanya kaya sumber energi, tetapi juga berada di persimpangan jalur perdagangan internasional dan kepentingan strategis berbagai negara besar.

Mengacu pada pemikiran Muhammad Rabie dalam buku US-Arab Relations in the New Millennium, ia menjelaskan bahwa terdapat lima kepentingan utama Amerika Serikat di Timur Tengah. Kelima kepentingan tersebut meliputi memastikan akses terhadap sumber energi, melindungi keamanan Israel, mengamankan jalur perdagangan internasional, mencegah munculnya kekuatan regional yang bertentangan dengan kepentingan Amerika Serikat, serta mempertahankan sistem ekonomi-politik global yang menopang posisi ekonomi Amerika.

Menurutnya, perhatian Amerika Serikat terhadap Timur Tengah telah berlangsung sejak Presiden Harry S. Truman memberikan pengakuan terhadap berdirinya negara Israel pada 1948, hanya beberapa jam setelah proklamasi dilakukan. Kebijakan tersebut kemudian berlanjut melalui Doktrin Eisenhower pada 1957 yang berfokus pada upaya membendung pengaruh komunisme di Timur Tengah. Selanjutnya, Doktrin Carter pada akhir 1970-an menegaskan bahwa setiap upaya menguasai kawasan Teluk Persia akan dianggap sebagai ancaman terhadap kepentingan vital Amerika Serikat dan dapat direspons, termasuk melalui penggunaan kekuatan militer.

Pasca serangan 11 September 2001, kepentingan Amerika kembali berkembang melalui agenda perang melawan terorisme, yang turut memperkuat kehadiran militer Amerika Serikat di berbagai jalur strategis seperti Selat Hormuz, Bab el-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Persia. Menurutnya, dari perspektif Amerika Serikat, kehadiran tersebut bertujuan menjaga freedom of navigation atau kebebasan pelayaran internasional. Namun, bagi sebagian pihak lain, kebijakan itu juga dipandang sebagai bentuk proyeksi kekuatan militer Amerika di kawasan Timur Tengah.

Pada akhir pemaparannya, Wajid menyampaikan bahwa menurutnya pembelajaran terpenting adalah bahwa Timur Tengah tidak hanya dipahami sebagai wilayah yang sedang berkonflik, tapi di balik semua konflik itu terdapat secara panjang. “Di balik setiap keputusan politik, terdapat kepentingan nasional. Di balik setiap intervensi, terdapat pertimbangan-pertimbangan strategi. Di balik setiap narasi, terdapat upaya membangun legitimasi dan di balik setiap peta yang kita lihat, terdapat pergulatan mengenai kekuasaan, identitas, ideologi, keamanan, dan masa depan,” jelasnya.

Untuk memahami konflik di Timur Tengah menurutnya bukan berarti mencari siapa yang salah dan yang benar. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan untuk memahami kompleksitas ini, melihat persoalan dari berbagai perspektif, serta membedakan antara fakta dan opini, antara kepentingan dan propaganda. “Mempelajari Timur Tengah bukan sederhana mempelajari kawasan lain, tapi sebenarnya mempelajari tentang diri kita, apa yang harus kita persiapkan untuk menjaga kemandirian bangsa,” pungkasnya.

Penulis/Foto : Jelita Agustine

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Menelaah Sejarah Panjang Konflik di Kawasan Timur Tengah pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/menelaah-sejarah-panjang-konflik-di-kawasan-timur-tengah/feed/ 0