Seputar Kampus Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/category/seputar-kampus/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Fri, 28 Aug 2026 09:16:48 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 Dukung Pengelolaan Lingkungan Berbasis Data, Tim KKN UGM kembangkan WebGIS  https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-pengelolaan-lingkungan-berbasis-data-tim-kkn-ugm-kembangkan-webgis/ https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-pengelolaan-lingkungan-berbasis-data-tim-kkn-ugm-kembangkan-webgis/#respond Fri, 28 Aug 2026 09:12:40 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97049 Tim KKN-PPM UGM Winongo Warawangsa mengembangkan dua Web Geographic Information System (WebGIS) untuk mendukung pengelolaan lingkungan berbasis data di Kelurahan Kricak, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Sistem informasi geografis atau pemetaan digital yang dapat diakses secara online ini memuat informasi kondisi bantaran Sungai Winongo dan Kali Buntung, titik permasalahan sampah, serta sebaran dan kondisi bank sampah […]

Artikel Dukung Pengelolaan Lingkungan Berbasis Data, Tim KKN UGM kembangkan WebGIS  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Tim KKN-PPM UGM Winongo Warawangsa mengembangkan dua Web Geographic Information System (WebGIS) untuk mendukung pengelolaan lingkungan berbasis data di Kelurahan Kricak, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Sistem informasi geografis atau pemetaan digital yang dapat diakses secara online ini memuat informasi kondisi bantaran Sungai Winongo dan Kali Buntung, titik permasalahan sampah, serta sebaran dan kondisi bank sampah dalam bentuk peta interaktif.

Program ini digagas karena Kelurahan Kricak merupakan wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di Kemantren Tegalrejo, yaitu 15.879 jiwa per kilometer persegi dari total 13.478 jiwa di lahan seluas 84,88 hektare. Sebagian permukiman di bantaran Sungai Winongo juga termasuk kawasan kumuh berdasarkan SK Wali Kota Yogyakarta Nomor 158 Tahun 2021. Observasi awal menunjukkan bahwa titik sampah liar serta kondisi bantaran Sungai Winongo dan Kali Buntung belum dipetakan secara sistematis, sehingga belum tersedia alat bantu visual untuk menentukan prioritas penanganan.

Diandra Keisya Jihan Feriska dari Program Studi S1 Teknik Geodesi, Fakultas Teknik UGM, selaku penanggung jawab program, mengatakan bahwa WebGIS dikembangkan agar informasi lingkungan dapat dihimpun dalam satu basis data spasial yang mudah diakses dan diperbarui. “Kami ingin membantu masyarakat maupun kelurahan melihat kondisi lingkungan secara lebih menyeluruh, mulai dari kondisi bantaran sungai dan titik permasalahan sampah hingga sebaran bank sampah. Harapannya, data ini tidak hanya menjadi dokumentasi selama KKN, tetapi juga dapat terus diperbarui sebagai pertimbangan dalam menentukan tindak lanjut pengelolaan lingkungan di Kelurahan Kricak,” jelasnya dalam rilis yang dikirimkan pada Jumat (28/8).

Survei dilaksanakan pada akhir Juni hingga awal Juli 2026 di bantaran Sungai Winongo dan Kali Buntung secara partisipatif bersama warga. Dari survei ini, ditemukan data mengenai lokasi dan tingkat penumpukan sampah, kondisi fisik bantaran, akses menuju sungai, aktivitas masyarakat, serta dokumentasi foto yang dihimpun menggunakan ODK Collect, kemudian divalidasi dan diolah dengan QGIS serta qgis2web. Tantangan terbesar muncul pada segmen selatan Sungai Winongo dan Kali Buntung karena beberapa titik sempit, menurun, tertutup vegetasi, serta berbatasan langsung dengan permukiman padat. Warga pun turut mendampingi dan menunjukkan lokasi penumpukan sampah sehingga data lebih akurat. WebGIS ini dilengkapi statistik ringkas, heatmap, klasifikasi prioritas penanganan, dokumentasi foto, fasilitas pengunduhan data, serta formulir pelaporan titik sampah baru dan dipublikasikan melalui GitHub Pages.

Setelah itu, Tim KKN-PPM UGM pun turut mengembangkan WebGIS Pemetaan dan Optimalisasi Sebaran Bank Sampah Kelurahan Kricak. Selesai penelusuran informasi publik dan koordinasi dengan Ketua Forum Bank Sampah serta pengelola di tiap RW, survei dilaksanakan di 13 RW menggunakan QField. Survei menemukan satu unit bank sampah di RW 6 sudah tidak aktif sejak awal 2026. Sementara itu, sejumlah bank sampah lain aktif mengembangkan inovasi, seperti pengolahan sampah organik menjadi eco enzyme dan biopori serta kerajinan dari sampah anorganik. Bank sampah RW 5 juga memperoleh bantuan mesin pencacah sampah organik berkat prestasinya dalam berbagai lomba pengelolaan sampah.

Data dari 15 unit bank sampah meliputi lokasi, status operasional, jadwal pelayanan, jenis sampah yang diterima, fasilitas, cakupan layanan, serta potensi pengembangan. Data tersebut dilengkapi dokumentasi foto dan tautan Google Maps serta diintegrasikan dengan batas administrasi 13 RW. WebGIS Sebaran Bank Sampah dipublikasikan melalui GitHub Pages pada 23 Juli 2026 dan dilengkapi dengan ikon bank sampah, heatmap, statistik, serta rekomendasi lokasi. Data bank sampah dapat diperbarui melalui QField, sedangkan data titik sampah dan kondisi bantaran sungai melalui ODK Collect.

Untuk memperluas akses masyarakat, hasil pemetaan disosialisasikan melalui poster ber-QR Code yang memuat petunjuk singkat penggunaan WebGIS. Poster dipasang di enam titik strategis di Kampung Jatimulyo, Kricak Kidul, dan Bangunrejo agar mudah dilihat dan diakses oleh warga. Program ini pun menjadi bagian dari upaya KKN-PPM UGM Winongo Warawangsa dalam mendorong pengelolaan lingkungan yang berbasis data, partisipatif, dan berkelanjutan di Kelurahan Kricak. Warga setempat pun mengapresiasi pengembangan tersebut, seperti yang diungkapkan oleh Bapak Yuri, perangkat Kelurahan Kricak. “WebGIS ini membantu melihat kondisi lingkungan, titik sampah, dan sebaran bank sampah dalam satu platform. Kami berharap data ini dapat terus diperbarui dan dimanfaatkan untuk mendukung dalam menentukan prioritas penanganan lingkungan di Kelurahan Kricak,” harapnya.

Reportase : Diandra Keisya Jihan Feriska/Tim KKN

Penulis : Leony

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Tim KKN-PPM UGM

Artikel Dukung Pengelolaan Lingkungan Berbasis Data, Tim KKN UGM kembangkan WebGIS  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-pengelolaan-lingkungan-berbasis-data-tim-kkn-ugm-kembangkan-webgis/feed/ 0
UGM dan Pemda DIY Dorong Regenerasi Petani melalui Tandur Muda https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-pemda-diy-dorong-regenerasi-petani-muda-melalui-tandur-muda/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-pemda-diy-dorong-regenerasi-petani-muda-melalui-tandur-muda/#respond Fri, 28 Aug 2026 05:25:50 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97031 Universitas Gadjah Mada bersama Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta mendorong penguatan regenerasi petani melalui program Tandur Muda DIY. Program ini dirancang untuk mengajak generasi muda kembali melihat pertanian sebagai bidang yang dapat dikembangkan sekaligus memperkuat perekonomian desa. Upaya tersebut menjadi bagian dari kolaborasi antara pemerintah daerah dan UGM dalam menyiapkan keberlanjutan sektor pertanian di Yogyakarta. […]

Artikel UGM dan Pemda DIY Dorong Regenerasi Petani melalui Tandur Muda pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada bersama Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta mendorong penguatan regenerasi petani melalui program Tandur Muda DIY. Program ini dirancang untuk mengajak generasi muda kembali melihat pertanian sebagai bidang yang dapat dikembangkan sekaligus memperkuat perekonomian desa. Upaya tersebut menjadi bagian dari kolaborasi antara pemerintah daerah dan UGM dalam menyiapkan keberlanjutan sektor pertanian di Yogyakarta. Hal tersebut disampaikan dalam audiensi Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan Rektor UGM, Kamis (27/8) di Kantor Kepatihan Yogyakarta.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., mengatakan perhatian terhadap pertanian dan generasi muda menjadi salah satu gagasan yang dibahas dalam audiensi tersebut. UGM telah menyiapkan konsep bersama sejumlah pihak di lingkungan universitas untuk merespons gagasan tersebut. Konsep itu kemudian dilaporkan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai bagian dari pembahasan pengembangan program. “Beliau punya keinginan untuk pertanian, untuk generasi muda, itu beliau konsepnya di situ,” ujar Ova.

Ova menjelaskan, pengembangan program tersebut juga menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai unsur. Selain pemerintah daerah dan universitas, UGM melibatkan alumni, komunitas masyarakat, serta korporasi dalam mendukung pelaksanaan program di lapangan. Keterlibatan berbagai pihak diharapkan dapat memperkuat ekosistem program sekaligus membuka peluang pengembangan yang lebih luas. “Jadi ini saya kira salah satu bukti kerjasama yang real ya, di lapangan antara pemerintah daerah dengan universitas, bahkan dengan alumni, kemudian juga dengan komunitas masyarakat dan korporat,” kata Ova.

Dekan Fakultas Filsafat UGM, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum., mengatakan program tersebut berangkat dari keinginan Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk mengubah cara pandang generasi muda terhadap pertanian. UGM bersama Pemda DIY kemudian merancang program yang tidak hanya mendorong minat anak muda, tetapi juga memperkuat proses regenerasi di sektor pertanian. Desain tersebut diarahkan untuk menghidupkan kembali semangat generasi muda agar melihat pertanian sebagai bidang yang layak dikembangkan. “Sultan HB X ini menghendaki untuk bagaimana merubah mindset para pemuda-pemuda di Yogyakarta untuk mencintai kembali ke pertanian,” tutur Siti.

 

Dekan Fakultas Pertanian UGM, Prof. Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D., mengatakan dukungan bagi petani muda juga disiapkan melalui aspek pendanaan dan kepastian pasar. Pendanaan dapat bersumber dari pemerintah daerah maupun dana keistimewaan, sedangkan jejaring alumni melalui Kagama diharapkan dapat berperan sebagai offtaker bagi hasil pertanian. Skema tersebut diharapkan memberi kepastian kepada petani muda untuk terus mengembangkan kegiatan pertaniannya. “Dan mudah-mudahan ini nanti terus bergilir dan juga menular ke yang lain, sehingga regenerasi petani juga bisa berhasil,” kata Jaka.

Pengembangan petani muda juga diarahkan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berangkat dari desa. Dengan berkembangnya aktivitas ekonomi di tingkat desa, generasi muda diharapkan memiliki peluang untuk bekerja dan mengembangkan usaha tanpa harus berpindah ke kota. Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mempertahankan generasi muda agar tetap memiliki keterikatan ekonomi dengan wilayah perdesaan. “Harapan Sultan adalah ekonomi desa itu berkembang dari desa, bukan di kota,” tegas Jaka.

Lebih lanjut, dalam pelaksanaan program, UGM akan mengambil peran supervisi terhadap kegiatan yang dijalankan Pemda DIY. Peran tersebut diperlukan untuk memastikan program berjalan sesuai rencana dan memiliki mekanisme pengawasan dalam pelaksanaannya. Kolaborasi ini juga diharapkan dapat melengkapi pelaksanaan program pemerintah daerah yang sebelumnya belum memiliki pendampingan supervisi dari universitas. “Jadi ini tugas universitas akan menjadi supervisi, bisa memastikan bahwa programnya berjalan, programnya sesuai rencana,” ucap Jaka.

Kini, program Tandur Muda DIY telah melalui tahap pilot dan selanjutnya akan dikembangkan ke skala yang lebih luas. Pengembangan tersebut juga mencakup penyiapan struktur organisasi agar kerja sama antara pemerintah daerah dan UGM memiliki kerangka yang lebih formal. Struktur tersebut diperlukan, antara lain, agar dukungan pendanaan dari pemerintah daerah dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Program ini nantinya dirancang dengan pendekatan pertanian holistik yang mempertimbangkan berbagai aspek dalam pengembangan kegiatan pertanian. Jaka menjelaskan pendekatan tersebut memungkinkan berbagai potensi persoalan diperhitungkan sejak awal sehingga risiko kegagalan dapat diantisipasi dalam pelaksanaan program. Keberlanjutan program menjadi salah satu perhatian agar manfaatnya tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi dapat berdampak pada kesejahteraan masyarakat desa. “Nah inilah yang menjadi hal baru, bagaimana Tandur Muda DIY ini bisa berkelanjutan dan mengangkat kesejahteraan di tingkat desa,” katanya.

Pengembangan kapasitas generasi muda juga menjadi bagian dari program Tandur Muda DIY. Pemuda akan mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan dan sertifikasi sebagai bagian dari penguatan kemampuan dalam bidang pertanian. Dukungan tersebut juga dapat diperluas melalui berbagai kegiatan promosi dan pengembangan jejaring pertanian yang melibatkan pemuda Yogyakarta.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Firsto

Artikel UGM dan Pemda DIY Dorong Regenerasi Petani melalui Tandur Muda pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-pemda-diy-dorong-regenerasi-petani-muda-melalui-tandur-muda/feed/ 0
Perkuat Jejaring Global, Mahasiswa UGM Ikut Project Pemberdayaan Masyarakat dari AUS https://ugm.ac.id/id/berita/perkuat-jejaring-global-mahasiswa-ugm-ikut-project-pemberdayaan-masyarakat-dari-aus/ https://ugm.ac.id/id/berita/perkuat-jejaring-global-mahasiswa-ugm-ikut-project-pemberdayaan-masyarakat-dari-aus/#respond Thu, 27 Aug 2026 04:26:13 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96973 Sebanyak enam mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengikuti Asian Undergraduate Symposium (AUS) 2026 yang diselenggarakan oleh NUS College di National University of Singapore (NUS) pada 6–18 Juli 2026. Program dua pekan ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara Asia untuk berkolaborasi menyelesaikan isu sosial dan keberlanjutan. Dari program tersebut, tiga proyek yang melibatkan mahasiswa UGM berhasil meraih […]

Artikel Perkuat Jejaring Global, Mahasiswa UGM Ikut Project Pemberdayaan Masyarakat dari AUS pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sebanyak enam mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengikuti Asian Undergraduate Symposium (AUS) 2026 yang diselenggarakan oleh NUS College di National University of Singapore (NUS) pada 6–18 Juli 2026. Program dua pekan ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara Asia untuk berkolaborasi menyelesaikan isu sosial dan keberlanjutan. Dari program tersebut, tiga proyek yang melibatkan mahasiswa UGM berhasil meraih Seed Grant untuk merealisasikan ide yang telah mereka kembangkan.

Delegasi UGM terdiri atas Clairina Elvina Indriani, Fazmi Rizki Al Ghifari, dan Jovita Melinda Susanti dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB); Dhio Amirul Muqsith Fajriyan dan Elizabeth Tyasayu Auradina dari Fakultas Psikologi; serta Zalfa Syahira dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB).

Selama dua pekan, keenam mahasiswa ini bersama peserta dari berbagai negara Asia mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari diskusi, pembelajaran langsung bersama komunitas, hingga pengembangan proyek yang berfokus pada isu sosial dan keberlanjutan.

Dhio menuturkan, salah satu pengalaman paling berkesan sekaligus mengubah cara pandangnya selama AUS adalah rangkaian kegiatan learning journey–sesi belajar bersama komunitas–yang dijalani bersama peserta lain. “Saya jadi lebih memahami bahwa meskipun pemerintah punya peran yang krusial bagi kemajuan bangsa, kekuatan komunitas juga sama pentingnya. Jadi, kita tidak selalu harus menunggu pemerintah bergerak, tapi bisa untuk mengambil inisiatif dan berkontribusi untuk lingkungan sekitar ” ujarnya, Kamis (27/8).

AUS 2026 mengusung tema Communities in Action dengan tiga subtema, yakni Sustainability and Innovation, Inclusivity and Resilience, serta Heritage and Culture. Para peserta mengikuti sesi diskusi akademik, lokakarya, kunjungan lapangan, hingga interaksi langsung dengan komunitas.

Peserta mengunjungi sejumlah komunitas di Singapura, seperti CREUSE, Vidacity, Skillseed, Growthbeans, dan Orang Laut SG, untuk memperoleh wawasan mengenai praktik keberlanjutan, pelestarian budaya, serta pemberdayaan masyarakat. Berbekal pengalaman tersebut, peserta kemudian membentuk kelompok berisi mahasiswa dari berbagai negara dan latar belakang studi untuk mengembangkan proyek berbasis komunitas. Setiap proyek disempurnakan melalui bimbingan mentor NUSC dan sesi Project World Cafe, sebelum tim melakukan kunjungan lapangan untuk memastikan kesediaan mitra dan relevansi proyek dengan kebutuhan komunitas.

Dari 15 proyek yang memperoleh Seed Grant sebesar SG$5.000, tiga di antaranya melibatkan mahasiswa UGM. Fazmi Rizki Al Ghifari tergabung dalam tim AlirCita yang memberdayakan komunitas di Majalaya untuk menangani permasalahan banjir dan kesiapsiagaannya. Elizabeth Tyasayu Auradina tergabung dalam tim E-MOTION, yang mengembangkan board game interaktif berbasis social-emotional learning bagi anak usia 9–12 tahun di Filipina untuk membantu mereka mengenali emosi serta mengurangi stigma terhadap kesehatan mental. Adapun Clairina Elvina Indriani tergabung dalam tim Piring Ijo yang mengolah pelepah pinang dari Riau menjadi piring biodegradable dan kerajinan budaya sebagai pengganti plastik sekali pakai di Yogyakarta, sekaligus memberdayakan warga Mendungan melalui pelatihan produksi dan pengelolaan usaha.

Clairina berharap, tim Piring Ijo dapat menciptakan peluang kerja dan sumber pendapatan tambahan bagi komunitas sasaran, khususnya ibu-ibu PKK, petani, dan pemuda lokal. “Selain memberikan manfaat ekonomi, proyek ini juga diharapkan dapat meningkatkan keterampilan masyarakat dalam proses produksi, pengelolaan usaha, dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan. Masyarakat juga bisa melihat bahwa material yang selama ini dianggap sampah, seperti pelepah pinang, sebenarnya memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.

Dalam jangka panjang, ia berharap Piring Ijo mampu menumbuhkan kesadaran lingkungan, memperkuat kemandirian komunitas, serta mendorong terbentuknya ekonomi sirkular yang manfaatnya kembali kepada masyarakat. Pendanaan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk mewujudkan ide-ide proyek yang telah dikembangkan selama program berlangsung. “Keikutsertaan keenam mahasiswa UGM dalam AUS 2026 menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa UGM dalam kolaborasi internasional dan penyelesaian isu sosial serta keberlanjutan lintas negara,” pungkasnya.

Penulis : Jelita Agustine

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok Tim

Artikel Perkuat Jejaring Global, Mahasiswa UGM Ikut Project Pemberdayaan Masyarakat dari AUS pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/perkuat-jejaring-global-mahasiswa-ugm-ikut-project-pemberdayaan-masyarakat-dari-aus/feed/ 0
Lepas dari Ketergantungan Bantuan, Warga Bumirejo Diajak Olah Jagung dari Keripik Hingga Briket https://ugm.ac.id/id/berita/lepas-dari-ketergantungan-bantuan-warga-bumirejo-diajak-olah-jagung-dari-keripik-hingga-briket/ https://ugm.ac.id/id/berita/lepas-dari-ketergantungan-bantuan-warga-bumirejo-diajak-olah-jagung-dari-keripik-hingga-briket/#respond Thu, 27 Aug 2026 01:38:07 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96961 Persoalan kemiskinan struktural masih dihadapi masyarakat Kalurahan Bumirejo, Kulon Progo. Sekitar 70% dari 9.000 warga masyarakat masih bergantung pada bantuan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi tersebut juga dipengaruhi ketidakpastian pendapatan karena sebagian besar masyarakat bekerja di sektor informal. Di sisi lain, Bumirejo memiliki potensi pertanian yang cukup besar, salah satunya komoditas jagung. Selama ini, […]

Artikel Lepas dari Ketergantungan Bantuan, Warga Bumirejo Diajak Olah Jagung dari Keripik Hingga Briket pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Persoalan kemiskinan struktural masih dihadapi masyarakat Kalurahan Bumirejo, Kulon Progo. Sekitar 70% dari 9.000 warga masyarakat masih bergantung pada bantuan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi tersebut juga dipengaruhi ketidakpastian pendapatan karena sebagian besar masyarakat bekerja di sektor informal. Di sisi lain, Bumirejo memiliki potensi pertanian yang cukup besar, salah satunya komoditas jagung. Selama ini, jagung masih banyak dijual dalam bentuk mentah dengan harga yang fluktuatif.

Kondisi tersebut mendorong sekelompok mahasiswa UGM yang tergabung dalam Tim PPK Ormawa  Keluarga Mahasiswa Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (Kapstra) mengembangkan diversifikasi produk berbasis jagung dengan pendekatan ekonomi sirkular dan zero waste. Beberapa produk yang dikembangkan dalam bentuk keripik jagung, sereal jagung, teh serabut jagung, dan briket bonggol jagung.“Terdapat potensi pertanian melimpah, yaitu jagung. Jagung biasanya dijual secara mentah dengan harga yang fluktuatif,” ujar Koordinator Kiara Nadya, Kamis (27/8).

Kiara menuturkan tim Kapstra menginisiasi program Synergy Corn Innovation for Rural Empowerment (Syncorn) dalam memperkuat pemberdayaan masyarakat, peningkatan kapasitas, penguatan kelembagaan, hingga perluasan akses pasar. Pengembangan usaha tersebut dilakukan melalui Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang melibatkan sejumlah kelompok masyarakat di Kalurahan Bumirejo. Kelompok yang terlibat di antaranya Kelompok Tani (KT), Kelompok Wanita Tani (KWT), Kelompok Disabilitas Kalurahan (KDK), Bina Keluarga Remaja (BKR), dan Karang Taruna.

Selain itu, tim mengajak mahasiswa dari sejumlah program studi di UGM untuk terlibat sebagai relawan. Diantaranya UKM Peduli Difabel juga menjadi mitra pendampingan bagi KDK yang tergabung dalam KUB Syncorn. Kolaborasi tersebut dilakukan seiring meningkatnya kapasitas produksi masyarakat. “Kehadiran relawan dan mitra diharapkan dapat membantu proses produksi berjalan lebih efektif sekaligus mendukung pendampingan kelompok,” ujarnya.

Selain penguatan dari sisi eksternal, tim juga melakukan monitoring dan evaluasi bersama melalui kegiatan coaching bersama Belmawa. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk melaporkan perkembangan program sekaligus memperoleh masukan bagi perbaikan pelaksanaan kegiatan.

Serangkaian agenda juga dilakukan sebagai pelengkap, seperti konsultasi bersama PLUT KUMKM Yogyakarta dan Dinas Kesehatan Kulonprogo terkait legalitas produk, serta diskusi kolaboratif bersama Rumah Zakat Yogyakarta sebagai mitra. Agenda lainnya juga berbentuk upaya pengenalan program dan pemasaran produk untuk memperluas exposure melalui penjualan daring menggunakan live shopping Tiktok dan luring dalam pop-up store Perayaan Jumat Sore yang bertempat di GIK UGM.

Salah satu tantangan yang dihadapi tim dalam pengembagnan Syncorn ini, Kiara mengungkapkan bahwa penyusunan legalitas menjadi salah satu kendala. Tahapan pengurusan yang cukup kompleks serta server yang kerap mengalami gangguan sempat menghambat proses tersebut. Namun, setelah berkolaborasi dengan Rumah Zakat, LP3H UINSUKA, dan LPPT UGM, pengurusan legalitas dapat berjalan lebih lancar. “Setelah konsultasi dan bermitra dengan Rumah Zakat, LP3H UINSUKA, dan LPPT UGM, pengurusan legalitas jadi lebih mudah karena ada pendampingan,” ungkapnya.

Menuju Kemandirian KUB

Setelah dua bulan pelaksanaan, Syncorn menunjukkan perkembangan pada kapasitas produksi dan kemampuan masyarakat dalam mengelola usaha. Aktivitas produksi berlangsung lebih konsisten dengan kapasitas yang meningkat, sementara penerapan quality control mulai diperkuat. “Proses administrasi dan legalitas sejumlah produk juga telah memasuki tahap akhir. Perkembangan tersebut menjadi salah satu modal bagi KUB untuk melanjutkan kegiatan usaha setelah program berakhir,” katanya.

Setelah memasuki exit strategy, Tim PPK Ormawa KAPSTRA berharap KUB Syncorn dapat terus berkembang tanpa bergantung pada pendampingan tim. Keberlanjutan tersebut diharapkan dapat memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Bumirejo. “Setelah exit strategy, kami berharap KUB dapat terus berjalan secara mandiri dan berkembang lebih baik untuk mengasilkan perubahan yang lebih berkelanjutan bagi peningkatan pendapatan, kemandirian, dan kesejahteraan di Kalurahan Bumirejo,” kata Kiara.

Sukarni selaku Lurah Bumirejo sekaligus Ketua KUB Syncorn berharap produk olahan jagung yang dikembangkan melalui program tersebut dapat menjadi identitas bagi wilayahnya. Menurutnya, produk seperti keripik jagung, sereal jagung, teh serabut jagung, dan briket bonggol jagung dapat memperkenalkan potensi jagung lokal kepada masyarakat yang lebih luas.“Semoga produk dapat menjadi ikon Kalurahan Bumirejo,” ujar Sukarni.

Rangkaian kegiatan pada Juli menjadi bagian dari proses membangun kemandirian masyarakat melalui penguatan kapasitas, kelembagaan, produksi, legalitas, dan pemasaran. Dengan kolaborasi yang terus diperluas, Syncorn diharapkan dapat berkembang menjadi ekosistem usaha masyarakat yang mandiri, inklusif, dan berkelanjutan di Kalurahan Bumirejo.

Penulis : Zabrina Kumara

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Kapstra

Artikel Lepas dari Ketergantungan Bantuan, Warga Bumirejo Diajak Olah Jagung dari Keripik Hingga Briket pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/lepas-dari-ketergantungan-bantuan-warga-bumirejo-diajak-olah-jagung-dari-keripik-hingga-briket/feed/ 0
UGM Kembangkan Demplot Padi Gamagora di Lahan Tadah Hujan Merauke https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-kembangkan-demplot-padi-gamagora-di-lahan-tadah-hujan-merauke/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-kembangkan-demplot-padi-gamagora-di-lahan-tadah-hujan-merauke/#respond Wed, 26 Aug 2026 09:06:54 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96947 Kawasan Transmigrasi Muting, Merauke, Papua Selatan telah dihuni oleh transmigran dari berbagai wilayah khususnya pulau Jawa sejak sekitar tahun 1990. Hingga kini, kawasan ini telah berkembang menjadi kawasan yang semakin ramai dengan segala potensinya di sektor pertanian, perkebunan dan peternakan. Memiliki curah hujan yang cukup tinggi, dengan kondisi tanah yang relatif subur, berbagai tanaman tropis […]

Artikel UGM Kembangkan Demplot Padi Gamagora di Lahan Tadah Hujan Merauke pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kawasan Transmigrasi Muting, Merauke, Papua Selatan telah dihuni oleh transmigran dari berbagai wilayah khususnya pulau Jawa sejak sekitar tahun 1990. Hingga kini, kawasan ini telah berkembang menjadi kawasan yang semakin ramai dengan segala potensinya di sektor pertanian, perkebunan dan peternakan. Memiliki curah hujan yang cukup tinggi, dengan kondisi tanah yang relatif subur, berbagai tanaman tropis asli papua dan tanaman luar dapat tumbuh dengan baik. Meskipun demikian, beberapa jenis tanaman seperti padi mempunyai produktivitas yang belum optimal. Menurut masyarakat sekitar, produktivitas tanaman padi yang merupakan salah satu makanan pokok hanya berkisar 2 ton/ha/musim gabah kering panen (GKP), termasuk kategori rendah dibandingkan dengan produktivitas optimal yang bisa mencapai 8 ton/ha/musim. Tidak hanya itu, penanaman padi pada umumnya hanya satu kali saja dalam satu tahun. Produksi yang belum optimal ini pada umumnya hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja.

Adanya gap produksi ini perlu diatasi supaya produktivitasnya dapat meningkat dan memberikan manfaat ekonomi lebih bagi masyarakat sekitar. Identifikasi permasalahan di sektor produksi dan penilaian kesesuaian lahan diperlukan untuk dapat mengetahui penyebab belum optimalnya produktivitas tanaman padi di Muting. Berdasarkan hasil identifikasi awal dari  Tim Ekspedisi Patriot (TEP) diketahui praktek budidaya dan kualitas bibit padi diduga menjadi salah satu penyebabnya.

Hasil komunikasi TEP 1 UGM KT Muting dengan Ir. Supriyanta, M.P., Dosen Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian UGM sekaligus peneliti dan pemulia (breeder) padi varietas Gamagora 7, diperoleh informasi bahwa Gamagora cocok dikembangkan di lahan pertanian tadah hujan dengan hasil yang baik seperti yang telah diuji coba di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Demplot padi Gamagora ini merupakan bagian dari demplot terpadu tanaman pangan-pakan ternak dan konservasi air di area seluas 2.500 m² di muting. Demplot terpadu ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga mendukung ketersediaan pakan ternak, efisiensi pemanfaatan air, serta keberlanjutan lahan pertanian,” terang Supriyanta dalam keterangan yang dikirim Rabu (26/8).

Program ini menjadi bagian dari penerapan ekonomi hijau di Kawasan Transmigrasi Muting dengan mengintegrasikan sektor pangan, peternakan, dan lingkungan. Selain itu, ia meminta tim TEP UGM juga memperhatikan bahwa konservasi air sangat diperlukan untuk mengoptimalkan pemanenan air hujan, sehingga pengisian air tanah menjadi lebih optimal dan keberadaan sumber air permukaan untuk pertanian tetap tersedia di sepanjang musim kemarau. Ketersediaan air permukaan yang optimal, dapat mendukung budidaya tanaman padi sebanyak dua kali dalam setahun.

Selain itu, air juga berperan penting dalam mendukung pengembangan komoditas lainnya yaitu peternakan dan perkebunan. “Keberadaan sumber air yang melimpah dapat mendukung produksi komoditas perkebunan dan peternakan melalui penyediaan pakan ternak yang mencukupi,” jelasnya.

Sebagai upaya untuk memperkuat hasil identifikasi tersebut, dilakukan lah uji coba pembuatan demplot padi Gamagora di kampung Bouwer, Distrik Elikobel, Muting oleh Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 1 Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diketuai oleh Chandra Setyawan, S.T.P., M.Eng., Ph.D., dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Sedangkan anggota TEP terdiri dari Tri Ariani, S.T.P. (Bidang ekonomi pertanian), Khulaimi, S.P. (Bidang agronomi), Ilham Mubarok, S.T.P. (Bidang sumber daya air dan perkebunan), Ariqonitahanif Putri Rahim, S.Si. (bidang geografi dan pemetaan lahan), dan Fariz Jordan Fadillah, S.Pt., M.Sc. (bidang peternakan), yang merupakan salah satu di antara 20 TEP yang diterjunkan oleh UGM di KT Muting.

Penanaman padi Gamagora diakui Chandra diarahkan  menyesuaikan karakteristik wilayah Muting yang terbiasa  menggunakan sistem tabela (tanam benih langsung) pada lahan. Sistem tabela ini sudah umum dilakukan oleh masyarakat setempat. Karakteristik topografi yang relatif bergelompang dan sungai-sungai yang mudah mengering menjadikan pertanian tadah hujan sebagai pilihan utama Masyarakat setempat. “Pemilihan kampung Bouwer dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan air permukaan yang cukup baik yaitu pada cekungan alami dan juga pada penampungan air buatan memanjang yang telah dibuat oleh pemerintah setempat,” kata Chandra Setyawan.

Dengan sistem tabela diperkirakan memerlukan waktu panen sekitar 100-120 dari hari setelah tanam benih. Penanaman padi Gamagora dilaksanakan pada Hari Minggu, 23 Agustus lalu oleh TEP UGM bersama dengan Masyarakat dan tokoh-tokoh setempat termasuk kepala kampung dan ketua kelompok taniu setempat.

Bagi Chandra, penanaman Gamagora di Muting ini tidak hanya sekedar untuk mengatasi permasalahan produktivitas padi varietas lokal yang rendah, namun juga merupakan upaya transfer pengetahuan tentang teknik atau praktik budidaya pertanian yang baik dari UGM untuk masyarakat setempat.

Lebih jauh ia menjelaskan,terdapat tiga pelakukan pada benih padi yang ditanam yakni pertama, melakukan perlakuan kontrol dengan menanam varietas lokal, dodok erok dan gamagora menggunakan cara dan praktek konvensional yang biasa dilakukan Masyarakat setempat. Kedua, memberikan perlakuan penambahan bahan organik pembenah tanah pada varietas gamagora untuk meningkatkan dan mempertahankan kandungan lengas tanah dalam waktu yang lebih lama dan ketiga, perlakuan penambahan bahan organik dengan menerapkan konsep sistem of rice intensification (SRI) melalui pemberian irigasi intermitten sesuai dengan kebutuhan air. “Melalui pemodelan kebutuhan air tanaman, maka akan diketahui berapa lama durasi penyiraman air irigasi yang optimal sehingga tanaman padi tidak mencapai kondisi titik layu permanen dan dapat menghasilkan produktivitas yang optimal,” pungkasnya.

Penulis : Jelita Agustine

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Tim Patriot

Artikel UGM Kembangkan Demplot Padi Gamagora di Lahan Tadah Hujan Merauke pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-kembangkan-demplot-padi-gamagora-di-lahan-tadah-hujan-merauke/feed/ 0
Remaja Aktif, Generasi Sehat https://ugm.ac.id/id/berita/remaja-aktif-generasi-sehat/ https://ugm.ac.id/id/berita/remaja-aktif-generasi-sehat/#respond Thu, 20 Aug 2026 06:00:09 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96818 Rutin melakukan aktivitas fisik menjadi satu fondasi utama menopang kesehatan para remaja. Sebab, aktivitas fisik bermanfaat dalam menjaga pertumbuhan, kebugaran, kesehatan mental, hingga pencegahan penyakit tidak menular. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), melaporkan 1 dari 4 orang dewasa dan 3 dari 4 remaja umur 11-17 tahun tidak memenuhi standar aktivitas fisik yang dianjurkan. Sementara hasil […]

Artikel Remaja Aktif, Generasi Sehat pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Rutin melakukan aktivitas fisik menjadi satu fondasi utama menopang kesehatan para remaja. Sebab, aktivitas fisik bermanfaat dalam menjaga pertumbuhan, kebugaran, kesehatan mental, hingga pencegahan penyakit tidak menular. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), melaporkan 1 dari 4 orang dewasa dan 3 dari 4 remaja umur 11-17 tahun tidak memenuhi standar aktivitas fisik yang dianjurkan. Sementara hasil survei Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, diketahui sebanyak 33,5% masyarakat kurang melakukan aktivitas fisik.

Untuk mengenalkan pentingnya manfaat aktivitas fisik bagi kesehatan di kalangan remaja, Departemen Fisiologi bersama Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial,  FK-KMK UGM,  mengenalkan program Be Active Be Healthy bagi Guru SMA/SMK di Kabupaten Sleman” yang berlangsung di Laboratorium Praktikum Terpadu FK-KMK UGM. Sebanyak 35 orang guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) dari SMA dan SMK di Kabupaten Sleman mengikuti pelatihan ini dengan antusias.

Asisten Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Alumni, dan Pengabdian kepada Masyarakat FK-KMK UGM, Dr. dr. Muhammad Nurhadi Rahman, Sp.OG., Subsp. Urogin-RE. menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam membangun ekosistem pendidikan yang mampu mendukung kesehatan peserta didik melalui penerapan gaya hidup aktif dan sehat. “Saya berharap sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan sekolah dalam mengembangkan program promosi kesehatan berbasis bukti ilmiah semakin kuat kedepannya,” kata Nurhadi dalam keterangan yang dikirim kamis (20/8).

Dosen Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial (HBES) FK-KMK UGM, Dr. Supriyati, S.Sos., M.Kes., mengatakan program Be Active Be Healthy ini dirancang untuk menginspirasi dan memotivasi guru serta seluruh warga sekolah dalam menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas fisik secara berkelanjutan. “Budaya hidup aktif dapat menjadi bagian dari keseharian semua Masyarakat sekolah, baik, siswa maupun guru,” katanya.

Melalui interaksi dan diskusi aktif antar peserta diharapkan para guru PJOK tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan, tetapi juga memiliki keterampilan untuk mengimplementasikan Program Be Active Be Healthy secara berkelanjutan sehingga mampu menjadi agen perubahan dalam membangun budaya hidup aktif dan sehat di lingkungan sekolah. Selanjutnya, agen perubahan juga akan dibentuk dari unsur siswa. “Saya berharap implementasi program ini mampu meningkatkan aktivitas fisik remaja, membentuk kebiasaan hidup sehat sejak usia sekolah, serta mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang lebih memungkinkan untuk hidup  lebih sehat, aktif, dan produktif,” harap Supriyati.

Ketua pelaksana kegiatan pelatihan, Prof. Dr. dr. Denny Agustiningsih, mengatakan kegiatan pengabdian ini merupakan hasil kerja sama antara FK-KMK UGM dengan Balai Pendidikan Menengah Kabupaten Sleman sebagai upaya memperkuat peran sekolah dalam membangun budaya hidup aktif dan sehat di kalangan remaja. “Kita memperkenalkan rekomendasi aktivitas fisik bagi remaja berdasarkan pedoman internasional serta strategi implementasinya di lingkungan sekolah,” jelasnya.

Sementara Dosen Departemen Fisiologi, FK-KMK UGM,  Dr. dr. Rahmaningsih Mara Sabirin, M.Sc., menuturkan para remaja sebaiknya mampu membangun kebiasaan hidup sehat sejak melalui penerapan pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik yang cukup, istirahat yang memadai, serta pengelolaan kesehatan secara menyeluruh sebagai bekal menuju kehidupan yang produktif di masa depan.

Penulis: Jesi

Editor: Gusti Grehenson

Foto: Magnific

Artikel Remaja Aktif, Generasi Sehat pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/remaja-aktif-generasi-sehat/feed/ 0
Sentuhan Teknologi KKN UGM, Ubah Air Lereng Merbabu Jadi Layak Minum https://ugm.ac.id/id/berita/sentuhan-teknologi-kkn-ugm-ubah-air-lereng-merbabu-jadi-layak-minum/ https://ugm.ac.id/id/berita/sentuhan-teknologi-kkn-ugm-ubah-air-lereng-merbabu-jadi-layak-minum/#respond Thu, 20 Aug 2026 04:54:43 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96812 Bagi masyarakat Dusun Deles, Desa Jogonayan, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, air bukanlah sesuatu yang langka atau sulit dicari. Jaringan air Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat (pamsimas) telah mengalir ke seluruh rumah dan gemercik air masih dapat ditemukan dengan mudah di ladang dan sela-sela lahan pertanian yang membentang di kaki Gunung Merbabu. Meski demikian, saat musim […]

Artikel Sentuhan Teknologi KKN UGM, Ubah Air Lereng Merbabu Jadi Layak Minum pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Bagi masyarakat Dusun Deles, Desa Jogonayan, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, air bukanlah sesuatu yang langka atau sulit dicari. Jaringan air Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat (pamsimas) telah mengalir ke seluruh rumah dan gemercik air masih dapat ditemukan dengan mudah di ladang dan sela-sela lahan pertanian yang membentang di kaki Gunung Merbabu. Meski demikian, saat musim kemarau tiba, masyarakat tetap memiliki kekhawatiran akan kelangkaan sumber air. Namun, terdapat sumber air lain yang masih bisa dimanfaatkan karena berasal dari titik yang lebih tinggi biasa disebut ‘air Merbabu’. Masalahnya adalah air Merbabu mengandung belerang sehingga masyarakat banyak memanfaatkan air ini hanya untuk pertanian dan perkebunan, jarang dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga dan konsumsi.

Melihat kondisi ini, Tim KKN UGM Ngablak Akara bersama dengan masyarakat Dusun Deles menginisiasi program pengadaan filter air. Gagasan dari program ini adalah untuk memanfaatkan air Merbabu yang berlimpah agar layak dikonsumsi melalui proses penyaringan. Agustina Herawati anggota Tim KKN, mengatakan air dari hasil penyaringan ini diharapkan dapat menjadi cadangan dan tambahan pasokan air pamsimas, terutama di musim kemarau. Bahkan pemasangan filter air ini dilakukan tepat di dekat bak pamsimas yang sudah ada. “Air hasil penyaringan dapat langsung disalurkan ke rumah-rumah melalui infrastruktur distribusi yang sudah ada tanpa harus membangun dari nol,” kata Agustina dalam keterangan yang dikirim Kamis (20/8).

Sebelum pemasangan filter, ujar Agustina, Tim KKN Ngablak Akara juga melakukan uji laboratorium terhadap sampel air sebelum dan sesudah penyaringan. Pengujian dilakukan di Labkesmas Kesehatan Lingkungan Salatiga meliputi uji E.coli, uji Coliform, uji fisika air, dan uji kimia air. “Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa air hasil penyaringan benar-benar sudah layak dikonsumsi, bukan hanya terlihat bersih secara kasat mata saja,” jelasnya.

Dalam pengadaan filter air ini berhasil dilakukan melalui kerja sama dan kolaborasi berbagai pihak, yakni masyarakat Dusun Deles, pengurus pamsimas, dan pemerintah Desa Jogonayan. Kolaborasi yang kuat ini menunjukkan bahwa persoalan air bersih bukanlah tanggung jawab satu pihak saja. “Air bersih adalah kebutuhan bersama yang harus diusahakan secara bersama-sama pula,” katanya.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Ngablak Akara, Dr. Ir. Endy Triyannanto, S.Pt., M.Eng., IPM., ASEAN Eng., mengapresiasi tinggi dedikasi mahasiswa serta partisipasi aktif seluruh elemen desa. Ia menyampaikan bahwa program ini merupakan bentuk nyata pemanfaatan sains dan teknologi tepat guna untuk menjawab permasalahan esensial masyarakat secara berkelanjutan. “Sinergi yang terjalin antara mahasiswa, warga, dan pemerintah desa menjadi bukti bahwa sains hadir memberikan solusi nyata di tengah masyarakat,” ujarnya.

Kepala Kepala Desa Jogonayan, Tumarno, turut mengungkapkan rasa syukur atas solusi inovatif yang kini menjadi cadangan air bersih andalan warga saat kemarau. Bagi masyarakat Dusun Deles, inovasi filter air Merbabu ini adalah sebuah harapan baru yang sangat dinanti-nantikan. “Kami tidak pernah terpikirkan bahwa air belerang ini dapat diolah dengan cara tertentu sehingga bermanfaat untuk rumah tangga. Kami sangat bersyukur akan inovasi yang dilakukan tim KKN UGM ini,” ungkapnya.

Penulis : Jesi

Editor   : Gusti Grehenson

Foto     : Shutterstock dan Dok. Tim KKN

Artikel Sentuhan Teknologi KKN UGM, Ubah Air Lereng Merbabu Jadi Layak Minum pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/sentuhan-teknologi-kkn-ugm-ubah-air-lereng-merbabu-jadi-layak-minum/feed/ 0
Respons Gempa NTT, UGM Kerahkan Tim Medis dan Bantuan Obat  https://ugm.ac.id/id/berita/respons-gempa-ntt-ugm-kerahkan-tim-medis-dan-bantuan-obat/ https://ugm.ac.id/id/berita/respons-gempa-ntt-ugm-kerahkan-tim-medis-dan-bantuan-obat/#respond Wed, 19 Aug 2026 08:30:22 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96780 Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM melepas enam personel Tim Tanggap Bencana untuk merespons dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), sekaligus menyerahkan bantuan obat-obatan dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) yang akan didistribusikan kepada masyarakat terdampak bencana. Kegiatan tersebut dipimpin oleh Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., […]

Artikel Respons Gempa NTT, UGM Kerahkan Tim Medis dan Bantuan Obat  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM melepas enam personel Tim Tanggap Bencana untuk merespons dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), sekaligus menyerahkan bantuan obat-obatan dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) yang akan didistribusikan kepada masyarakat terdampak bencana. Kegiatan tersebut dipimpin oleh Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, dan berlangsung di Kantor Pusat Tata Usaha (KPTU) FK-KMK UGM, Rabu (19/8), dengan turut dihadiri Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi, M.P.H., serta Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Bencana FK-KMK UGM, Sutono, S.Kp., M.Sc., M.Kep

Pengiriman tim merupakan bagian dari respons FK-KMK UGM bersama Academic Health System UGM (AHS UGM) dan jejaring kesehatan untuk mendukung penanganan bencana di wilayah terdampak. Tim akan menjalankan misi mulai 19 hingga 30 Agustus 2026 dengan fokus pada asesmen kebutuhan dan penguatan pelayanan kesehatan di sejumlah wilayah di NTT.

Ketua Pokja Bencana FK-KMK UGM, Sutono, menjelaskan bahwa pengiriman tim dilakukan sebagai bentuk respons cepat setelah memperoleh informasi mengenai kondisi bencana di NTT. Menurutnya, respons tersebut dilakukan melalui koordinasi lintas jejaring agar kebutuhan di lapangan dapat diidentifikasi dan ditangani secara tepat. “Ketika ada info bencana di sana (NTT), sebagai respons tercepat, kami tim tanggap respons bencana bekerja sama dengan Academic Health System UGM (AHS UGM) dan jejaring dengan Dinas Kesehatan, berkoordinasi dan memutuskan mengirimkan tim bencana ke wilayah-wilayah yang memang saat ini dibutuhkan,” jelas Sutono.

Dekan FK-KMK UGM, Prof. Yodi, secara simbolis melepas enam personel yang terdiri atas tim manajemen bencana dari FK-KMK UGM dan tim medis dari Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM.

Tiga personel dari tim manajemen bencana FK-KMK UGM terdiri atas Happy R. Pangaribuan, MPH, Vina Yulia Anhar, MPH, dan Gde Yulian Yogadhita, Apt., M.Epid. Sementara itu, tim medis dari RSA UGM terdiri atas dr. Rizki Fitria Febrianti (dokter umum), Andhika Robbi Nugraha, S.Kep., Ns. (perawat), dan Agus Damar Septiaji, S.Tr.Kep., Ners (perawat).

“Kita melepas keberangkatan enam personel terbaik dari FK-KMK dan RSA UGM yang tergabung dalam tim manajemen bencana dan tim medis. Misi kali ini kita merespons permintaan dari pusat krisis untuk memperkuat tata kelola penanganan bencana di tiga daerah di NTT yang ditugaskan mulai 19–30 Agustus,” ujar Prof. Yodi.

Ia menjelaskan, keberangkatan tim tidak hanya ditujukan untuk memberikan pelayanan medis, tetapi juga melakukan asesmen terhadap kebutuhan masyarakat terdampak. Asesmen menjadi penting agar bantuan dan dukungan lanjutan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan. “Timnya akan melakukan asesmen di lapangan dan dari situ kita akan bisa mengidentifikasi kebutuhan realnya apa. Karena ini kan butuh informasi dari lapangan. Dan juga butuh koordinasi karena banyak pihak yang terlibat. Supaya lebih tepat sasaran, maka kita menyiapkan tim asesmen ini,” jelasnya.

Hasil asesmen tersebut nantinya akan menjadi dasar bagi FK-KMK UGM dalam menentukan bentuk dukungan berikutnya. Tim di lapangan akan berkoordinasi dengan berbagai pihak, baik pemerintah daerah maupun jejaring kesehatan setempat, untuk memastikan respons yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Selain mengirimkan personel, FK-KMK UGM juga membawa bantuan obat-obatan yang dititipkan oleh Pemda DIY. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi, kepada FK-KMK UGM untuk selanjutnya didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Sejumlah obat dan perlengkapan kesehatan yang dikirimkan antara lain parasetamol tablet, parasetamol sirup, multivitamin, ibuprofen, antasida, cetirizine, serta cairan infus. Bantuan juga dilengkapi dengan masker dan sarung tangan medis. “Di sana ada parasetamol tablet, parasetamol sirup, kemudian multivitamin, kemudian ada ibuprofen, antasida, cetirizine, bahkan infus juga kami siapkan. Selain itu, masker dan handscoon juga kami sertakan,” ujar Anung.

Anung mengatakan, Pemda DIY secara keseluruhan telah menyiapkan sekitar 240 kilogram bantuan obat-obatan untuk mendukung penanganan masyarakat terdampak bencana. Namun, pada tahap awal, sekitar 40 kilogram bantuan diserahkan kepada tim FK-KMK UGM untuk segera dibawa ke NTT. “Terima kasih kepada FK-KMK UGM yang sudah bersedia untuk berkolaborasi atas nama Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta. Tim UGM ini termasuk yang pertama yang kami titipkan bantuan obat-obatan dari Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta,” tutur Anung.

Ia menambahkan, keterbatasan waktu dan kapasitas angkutan membuat bantuan yang dikirim pada tahap pertama belum mencakup seluruh logistik yang telah disiapkan. Meski demikian, Pemda DIY mengapresiasi kesediaan FK-KMK UGM untuk membawa bantuan tersebut bersamaan dengan keberangkatan tim tanggap bencana.

“Jadi memang ada sekitar 240 kg yang kami siapkan. Dalam tahap pertama ini, kami kirimkan mungkin 40 kg dulu kepada FK-KMK UGM karena keterbatasan waktu dan persiapan. Tapi kami ucapkan terima kasih, di sela-sela keterbatasan angkutan dan bagasi pun FK-KMK UGM masih bisa menyampaikan bantuan obat-obatan tersebut agar bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat yang terdampak,” jelasnya.

Yodi menegaskan bahwa bantuan obat-obatan tersebut merupakan amanah yang harus dipastikan sampai kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Oleh karena itu, pendistribusian obat akan disesuaikan dengan hasil asesmen dan koordinasi tim di lapangan. “Kita juga mengemban amanah logistik yang sangat penting. Sudah ada penyerahan simbolis tadi untuk pengobatan. Ini yang harus saya pastikan nanti sampai dan didistribusikan dengan tepat pada masyarakat yang membutuhkan,” ungkap Prof. Yodi.

Dari sisi pelayanan kesehatan, tim medis akan menjalankan fungsi sebagai tim awal yang melakukan rapid health assessment atau penilaian cepat kondisi kesehatan masyarakat terdampak. Salah satu lokasi yang menjadi sasaran awal tim adalah Kabupaten Ngada.

Dokter umum RSA UGM, dr. Rizki Fitria Febrianti, salah satu anggota tim medis, menjelaskan bahwa asesmen dilakukan untuk mengetahui kebutuhan prioritas di lapangan, baik berupa dukungan logistik maupun pelayanan medis. “Jadi kami akan jadi tim pertama yang berangkat ke NTT. Nanti sasaran kami di Kabupaten Ngada. Kemudian di sana kami akan melakukan rapid health assessment karena kami tim awal yang berangkat. Jadi kami mau asesmen dulu kebutuhan-kebutuhan apa yang akan diperlukan di sana, apakah lebih ke logistik atau ke tim medis,” jelas Rizki.

Selain melakukan asesmen, tim medis juga akan menjalankan fungsi sebagai Emergency Medical Team (EMT) untuk membantu pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.

Menurut dr. Rizki, kondisi pascagempa memiliki sejumlah risiko kesehatan yang perlu menjadi perhatian, khususnya kasus trauma dan luka. Terlebih, adanya informasi mengenai fasilitas kesehatan yang turut terdampak membuat penilaian ulang terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan menjadi penting. “Kalau di sana kan kasusnya saat ini gempa. Jadi kalau gempa itu banyaknya kasus trauma, luka. Perawatan luka di sana juga dibutuhkan. Kemudian karena beberapa rumah sakit juga diinfokan collapse, jadi nanti kita tetap ada rapid health assessment awal. Jadi di sana nanti kita asesmen ulang,” ungkapnya.

Hasil asesmen tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi kesehatan masyarakat dan kapasitas pelayanan kesehatan yang tersedia. Informasi tersebut selanjutnya akan dikoordinasikan dengan FK-KMK UGM dan pihak-pihak terkait sebagai dasar untuk menentukan bentuk respons dan dukungan berikutnya.

Dalam pelepasan tersebut, Yodi berpesan agar seluruh personel mengedepankan fleksibilitas dan kesiapsiagaan selama menjalankan misi kemanusiaan. Menurutnya, kondisi di lokasi bencana dapat berubah dengan cepat sehingga tim harus mampu menyesuaikan diri berdasarkan kebutuhan lapangan.

Ia juga menekankan pentingnya keselamatan personel sebagai prioritas utama selama menjalankan tugas.“Fleksibilitas dan kesiapsiagaan dalam pergerakan tim. Kedua, utamakan keselamatan, safety first. Pastikan keselamatan diri Anda dan tim terjaga dengan baik dalam setiap pergerakan,” pesan Yodi.

Selain keselamatan, koordinasi menjadi aspek penting dalam memastikan efektivitas respons bencana. Tim lapangan diharapkan menjaga komunikasi dengan perwakilan di tingkat provinsi maupun berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam penanganan bencana.

Melalui pengiriman tim manajemen bencana dan tim medis serta pendistribusian bantuan obat-obatan tersebut, FK-KMK UGM berupaya memperkuat respons kesehatan pascabencana di NTT. Pendekatan berbasis asesmen diharapkan memastikan setiap dukungan yang diberikan tidak hanya cepat, tetapi juga tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak.

Penulis : M. Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Respons Gempa NTT, UGM Kerahkan Tim Medis dan Bantuan Obat  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/respons-gempa-ntt-ugm-kerahkan-tim-medis-dan-bantuan-obat/feed/ 0
Tingkatkan Daya Saing, Fakultas Filsafat UGM Dorong Penguatan Mutu Akademik dan Tata Kelola https://ugm.ac.id/id/berita/tingkatkan-daya-saing-fakultas-filsafat-ugm-dorong-penguatan-mutu-akademik-dan-tata-kelola/ https://ugm.ac.id/id/berita/tingkatkan-daya-saing-fakultas-filsafat-ugm-dorong-penguatan-mutu-akademik-dan-tata-kelola/#respond Wed, 19 Aug 2026 00:38:22 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96764 Fakultas Filsafat UGM terus memperkuat kualitas institusi melalui peningkatan mutu akademik, tata kelola, serta perluasan pengakuan di tingkat nasional maupun internasional. Upaya tersebut, menjadi fondasi penting bagi pengembangan fakultas yang adaptif terhadap perubahan sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai keilmuan yang kritis dan humanis. Hal itu dikemukakan oleh Dekan Fakultas Filsafat UGM, Prof. Dr. Rr. Siti […]

Artikel Tingkatkan Daya Saing, Fakultas Filsafat UGM Dorong Penguatan Mutu Akademik dan Tata Kelola pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Filsafat UGM terus memperkuat kualitas institusi melalui peningkatan mutu akademik, tata kelola, serta perluasan pengakuan di tingkat nasional maupun internasional. Upaya tersebut, menjadi fondasi penting bagi pengembangan fakultas yang adaptif terhadap perubahan sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai keilmuan yang kritis dan humanis.

Hal itu dikemukakan oleh Dekan Fakultas Filsafat UGM, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum., dalam Rapat Senat Terbuka Dies Natalis ke-59 yang berlangsung di Ruang Rapat Persatuan, Lantai 3 Fakultas Filsafat UGM, Selasa (18/8).

Murtiningsih juga mengungkapkan bahwa Fakultas Filsafat UGM berhasil mempertahankan predikat Unggul dari BAN-PT serta diakui memiliki kualitas pendidikan standar internasional oleh FIBAA (Foundation for International Business Administration Accreditation). “Capaian ini menjadi pijakan bagi fakultas kita untuk terus memperluas pengakuan global,”ujarnya.

Dalam bidang akademik, Fakultas Filsafat UGM kini memiliki 828 mahasiswa aktif, yang terdiri atas 698 mahasiswa Program Sarjana, 71 mahasiswa Program Magister, dan 59 mahasiswa Program Doktor. Murtiningsih melanjutkan, admisi jumlah mahasiswa baru Program Sarjana dan Doktor pada lima tahun terakhir relatif stabil, sementara Program Magister menunjukkan perkembangan yang cukup positif. “Perkembangan ini tentunya tak lepas dari berbagai inovasi akademik yang telah dikembangkan, termasuk program Fast Track Sarjana-Magister yang dimulai pada tahun 2025,” jelas Murtiningsih.

Sementara itu, pencapaian strategis Fakultas Filsafat UGM juga tampak dari peningkatan produktivitas riset, baik dalam jumlah publikasi ilmiah, publikasi bereputasi internasional, maupun perolehan hibah penelitian. Murtiningsih menyebut, dalam empat tahun terakhir, jumlah publikasi yang terindeks Scopus meningkat lebih dari tiga kali lipat. Pada 2025, tercatat ada sebanyak 179 publikasi, 19 publikasi terindeks Scopus, 6 riset kolaboratif, dan 6 hibah penelitian. “Hal ini mencerminkan semakin kuatnya daya saing riset Fakultas Filsafat di tingkat internasional,” ujarnya.

Di akhir laporannya, Murtiningsih mengatakan bahwa segenap capaian Fakultas Filsafat UGM merupakan hasil dari kerja sama antar segenap sivitas akademika. Berbagai capaian tersebut juga merupakan fondasi sekaligus refleksi selama satu periode kepemimpinan yang telah dijalani. “Sebagaimana semangat Dies Natalis ke-59, marilah kita terus membangun jembatan, antara gagasan dan tindakan, antara tradisi dan pembaruan, antara kampus dan masyarakat, serta antara apa yang telah kita wariskan dan masa depan yang hendak kita wujudkan,” tutupnya.

Penulis : Agito Sitepu

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Tingkatkan Daya Saing, Fakultas Filsafat UGM Dorong Penguatan Mutu Akademik dan Tata Kelola pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/tingkatkan-daya-saing-fakultas-filsafat-ugm-dorong-penguatan-mutu-akademik-dan-tata-kelola/feed/ 0
Kiprah Dosen UGM, Mengubah Wajah Kampung Kumuh Menjadi Bersih dan Lestari https://ugm.ac.id/id/berita/kiprah-dosen-ugm-mengubah-wajah-kampung-kumuh-menjadi-bersih-dan-lestari/ https://ugm.ac.id/id/berita/kiprah-dosen-ugm-mengubah-wajah-kampung-kumuh-menjadi-bersih-dan-lestari/#respond Tue, 18 Aug 2026 06:07:20 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96729 Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Terpilihnya sebagai bagian dari 32 nominasi Program Kampung Iklim (ProKlim) Lestari 2026 yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup. Program kampung iklim Lestari ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemerintah daerah dalam memitigasi dampak dari perubahan iklim dan efek gas rumah kaca. Dosen Fakultas Kehutanan […]

Artikel Kiprah Dosen UGM, Mengubah Wajah Kampung Kumuh Menjadi Bersih dan Lestari pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Terpilihnya sebagai bagian dari 32 nominasi Program Kampung Iklim (ProKlim) Lestari 2026 yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup. Program kampung iklim Lestari ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemerintah daerah dalam memitigasi dampak dari perubahan iklim dan efek gas rumah kaca.

Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Ir. Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D., IPU, atau kerap disapa sebagai Atus, terlibat secara langsung dalam pengembangan program kampung iklim di padukuhan Sangurejo. Pasalnya, padukuhan ini sebelumnya dikenal sebagai kawasan kumuh namun kemudian memulai perjalanan panjangnya sebagai salah satu kampung ProKlim melalui berbagai upaya pembenahan lingkungan.

Menurut Atus, pembenahan dilakukan melalui berbagai aspek, mulai dari pengelolaan lingkungan, konservasi air, pengembangan desa wisata, dan pengelolaan sampah hingga kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. “Berbagai pembenahan melalui pengelolaan lingkungan, konservasi air, pengembangan desa wisata, pengelolaan sampah, serta kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dilakukan oleh Sangurejo,” katanya, Sekasa (18/8).

Maka dari itu, pendampingan ProKlim Sangurejo difokuskan oleh Atus pada penguatan kolaborasi akademik, penelitian, pemberdayaan masyarakat, pembekalan mahasiswa KKN, serta praktikum kurator keanekaragaman hayati di kampung iklim. Bagi Atus, perjalanan Sangurejo menuju ProKlim Lestari merupakan sebuah bukti jika pengelolaan lingkungan yang dibarengi oleh keterlibatan masyarakat dapat berkembang bila didukung oleh beberapa sektor. Partisipasi pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, dan organisasi kemasyarakatan, menempatkan kekuatan Sangurejo tak hanya pada program lingkungannya tetapi juga melalui kemahiran dalam berjejaring.  “Ini bukan pekerjaan satu orang. Banyak potensi dan banyak pihak yang selama ini sudah bergerak. Energi dan semangat tersebut perlu disatukan agar gerakan lingkungan di Sangurejo semakin kuat dan berkelanjutan,” ujar Atus.

Salah satu pengembangan yang dilakukan UGM untuk Sangurejo adalah pembekalan mahasiswa KKN oleh Atus selaku Dosen Pembimbing Lapangan. Status Sangurejo sebagai ProKlim menjadikan mahasiswa tidak hanya berfokus pada kegiatan pengabdiannya, tetapi belajar untuk mengidentifikasi potensi lokal, mendokumentasikan praktik pengelolaan lingkungan, mengembangkan edukasi masyarakat, serta mendukung kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Pendekatan tersebut mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman masyarakat. Potensi keanekaragaman hayati, pengelolaan sampah, konservasi tanah dan air, penghijauan, pengembangan ekonomi berbasis lingkungan, serta penguatan kelembagaan masyarakat menjadi bagian dari proses pembelajaran dan pemberdayaan.

Menurut Atus, keterlibatan mahasiswa dalam ProKlim juga menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk memastikan bahwa pengetahuan yang dikembangkan di kampus dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.“Program KKN menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dan praktik di masyarakat. Mahasiswa dapat belajar dari masyarakat, sementara masyarakat memperoleh dukungan pengetahuan, dokumentasi, dan inovasi yang dapat memperkuat program lingkungan yang sudah berjalan,” jelasnya.

Lebih lanjut, kiprah Sangurejo sebagai ProKlim  kemudian diperkuat dengan pengembangan jejaring mitra binaan. Berdasarkan Surat Keputusan DLH Kabupaten Sleman, Sangurejo memiliki 12 lokasi mitra binaan, yakni Padukuhan Kuwang, Gondangan, Banjeng, Nganggring, Parakan Kulon, Kranggan II, Sedogan, Dayakan, Koroulon Lor, Kloposawit, Krasaan, Sindon, dan Plosorejo. Jejaring tersebut turut menjadi bukti praktik adaptasi perubahan iklim di Sangurejo diperluas ke wilayah lainnya yang juga melibatkan berbagai unsur.

Atus menilai jejaring merupakan  modal sosial penting untuk menjaga keberlanjutan ProKlim. “Perguruan tinggi memiliki peran dalam memperkuat basis pengetahuan dan inovasi, sedangkan masyarakat menjadi aktor utama yang menjalankan praktik lingkungan secara berkelanjutan,” tambah Atus.

Tak hanya itu, salah satu inovasi yang dikembangkan di perjalanan menuju ProKlim adalah pemanfaatan limbah kulit salak sebagai bahan ecoprint. Produk yang dikembangkan masyarakat melalui ECSA (Ecoprint & Craft Sangurejo) tersebut telah mengikuti berbagai pameran dan menjadi koleksi Hortus Botanicus Leiden, Belanda.

Pengelolaan sampah juga menjadi bagian penting dari gerakan masyarakat. Berbagai kegiatan dilakukan melalui edukasi, pengurangan dan pemanfaatan sampah, serta penguatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan lingkungan dari tingkat rumah tangga.

Tak hanya pendekatan teknis, pengembangan ProKlim Sangurejo juga mengintegrasikan pendekatan sosial dan keagamaan. Nilai-nilai ekoteologi atau dakwah ekologi digunakan untuk mendorong kesadaran menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia. Pendekatan tersebut menempatkan prinsip amanah, keseimbangan (mizan), dan larangan melakukan kerusakan (fasad) sebagai landasan moral dalam pengelolaan lingkungan. “Implementasinya dilakukan melalui edukasi, penanaman pohon, pengelolaan sampah, konservasi air, dan berbagai aksi lingkungan berbasis masyarakat,” ujarnya.

Pembina ProKlim Sangurejo, Agus Kurniawan, mengatakan proses menuju ProKlim Lestari merupakan bagian dari perjalanan panjang masyarakat dalam mengembangkan berbagai kegiatan lingkungan. Persiapan verifikasi dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan masyarakat dan berbagai mitra.

Menurutnya, penguatan keanekaragaman hayati lokal, pengelolaan lingkungan, dokumentasi kegiatan, hingga penataan kawasan menjadi bagian dari persiapan Sangurejo.

Sementara itu, Ketua ProKlim Sangurejo, M. Chairul Huda, mengatakan capaian ProKlim Utama pada 2024 merupakan hasil kerja bersama masyarakat dan pemerintah, seperti yang diketahui jika Sangurejo sebelumnya juga memperoleh penghargaan sebagai Padukuhan Tangguh Iklim tingkat Provinsi DIY.

Atus menegaskan, capaian ProKlim Lestari bukan semata-mata tujuan akhir berupa penghargaan. Lebih dari itu, proses tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat model pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat yang dapat dipelajari, dikembangkan, dan direplikasi di wilayah lain. “Yang terpenting bukan hanya predikatnya, tetapi bagaimana pengetahuan, praktik baik, dan jejaring yang sudah dibangun dapat terus tumbuh. Di sinilah perguruan tinggi, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat dapat bekerja bersama untuk menjaga keberlanjutan lingkungan,” pungkas Atus.

Penulis: Zabrina Kumara

Editor: Gusti Grehenson

Foto: Dok. Atus

Artikel Kiprah Dosen UGM, Mengubah Wajah Kampung Kumuh Menjadi Bersih dan Lestari pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kiprah-dosen-ugm-mengubah-wajah-kampung-kumuh-menjadi-bersih-dan-lestari/feed/ 0