Kegiatan Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/category/seputar-kampus/kegiatan/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Tue, 28 Jul 2026 08:22:33 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 Mahasiswa Asing dari 17 Negara Ikut Praktik Pengelolaan Sampah Berkelanjutan  https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-asing-dari-17-negara-ikut-praktik-pengelolaan-sampah-berkelanjutan/ https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-asing-dari-17-negara-ikut-praktik-pengelolaan-sampah-berkelanjutan/#respond Tue, 28 Jul 2026 08:22:33 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95932 Sebanyak 25 mahasiswa asing yang berasal dari 17 negara, diantaranya China, Ethiopia, Filipina, Gambia, Indonesia, Kamboja, Kazakhstan, Madagaskar, Malaysia, Myanmar, Nigeria, Pakistan, Rwanda, Sudan, Tanzania, Vietnam, dan Yaman mempelajari praktik pengelolaan sampah berkelanjutan berbasis masyarakat di Indonesia. Program ini merupakan tindak lanjut dari proses seleksi yang sangat kompetitif setelah menerima 408 pendaftar dari 42 negara. […]

Artikel Mahasiswa Asing dari 17 Negara Ikut Praktik Pengelolaan Sampah Berkelanjutan  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sebanyak 25 mahasiswa asing yang berasal dari 17 negara, diantaranya China, Ethiopia, Filipina, Gambia, Indonesia, Kamboja, Kazakhstan, Madagaskar, Malaysia, Myanmar, Nigeria, Pakistan, Rwanda, Sudan, Tanzania, Vietnam, dan Yaman mempelajari praktik pengelolaan sampah berkelanjutan berbasis masyarakat di Indonesia. Program ini merupakan tindak lanjut dari proses seleksi yang sangat kompetitif setelah menerima 408 pendaftar dari 42 negara.

Selama satu pekan, para peserta mengikuti rangkaian kegiatan Municipal Waste Management: Workshop and Field Trip 2026 yang berlangsung pada 20–26 Juli 2026 di Yogyakarta. Kegiatan yang diselenggarakan Departemen Mikrobiologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) mengusung tema “Empowering Communities Through Sustainable Waste Solutions,” berkolaborasi dengan kelompok KKN-PPM UGM di Kelurahan Baciro dan Terban.

Prof. Ir. Irfan Dwidya Prijambada, M.Eng., Ph.D., selaku Ketua Program EQUITY World Class University (WCU) UGM, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkenalkan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai salah satu keunggulan UGM yang telah diakui oleh UNESCO dan United Nations University (UNU). Melalui kolaborasi dengan mahasiswa KKN-PPM UGM di Kelurahan Baciro dan Terban, mahasiswa internasional dapat merasakan langsung pengalaman pengabdian kepada masyarakat yang menjadi ciri khas UGM.

Ia mengemukakan dalam kegiatan tersebut, peserta bersama mahasiswa KKN melakukan edukasi dan berbagi pengalaman mengenai pengelolaan sampah rumah tangga, pemilahan sampah dari sumbernya, serta pentingnya partisipasi masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. “Kolaborasi ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan antara mahasiswa internasional, mahasiswa UGM, dan masyarakat lokal, sekaligus memperkaya pengalaman lintas budaya bagi seluruh peserta,” sebutnya, Selasa (28/7).

Lebih jauh Irfan menyampaikan, program ini memadukan diskusi bersama para pakar, kunjungan lapangan, serta interaksi langsung dengan masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan dalam pengelolaan lingkungan. Melalui pendekatan experiential learning, peserta memperoleh pemahaman mengenai konsep pengelolaan sampah perkotaan, ekonomi sirkular, pengolahan limbah organik berbasis mikroorganisme, hingga praktik pemberdayaan masyarakat dalam mewujudkan lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Sementara dalam kegiatan lapangan menjadi salah satu daya tarik utama program ini. Peserta mengunjungi berbagai lokasi pengelolaan sampah di Yogyakarta untuk melihat langsung implementasi sistem pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat, pemerintah, akademisi, dan sektor swasta. “Selain memperoleh pengalaman teknis, para peserta juga berdiskusi mengenai tantangan pengelolaan sampah di negara masing-masing sehingga tercipta pertukaran pengetahuan dan pengalaman lintas budaya,” jelasnya.

Susanti Mugi Lestari, S.P., M.Si., Ph.D., selaku Koordinator Seksi Acara, menyampaikan program akademik bertaraf internasional ini bisa mendorong kolaborasi global, pertukaran pengetahuan, serta peningkatan kapasitas mahasiswa dan dosen, sekaligus memperkuat posisi UGM sebagai perguruan tinggi berkelas dunia yang berkontribusi dalam penyelesaian berbagai tantangan global.

Desi Utami, Ph.D., Ketua Program Studi Mikrobiologi Pertanian sekaligus PIC kegiatan, menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama program ini adalah memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh eksposur internasional tanpa harus meninggalkan kampus. “Melalui interaksi dengan puluhan mahasiswa internasional, dapat memperluas jejaring, meningkatkan kemampuan komunikasi lintas budaya, serta membuka peluang kolaborasi akademik dan profesional di masa mendatang,” paparnya.

Menurutnya, keberagaman latar belakang peserta menjadikan program ini sebagai ruang kolaborasi internasional yang dinamis. Mahasiswa dari berbagai kawasan dunia saling berbagi perspektif mengenai inovasi, kebijakan, maupun praktik terbaik dalam pengelolaan sampah berkelanjutan. Jejaring yang terbentuk selama kegiatan diharapkan dapat menjadi awal kolaborasi riset, pendidikan, maupun pengabdian masyarakat di masa mendatang. “Program ini diharapkan menginspirasi lahirnya berbagai inovasi pengelolaan sampah untuk diimplementasikan di berbagai negara,” jelasnya.

Selain itu, terselenggaranya kegiatan ini semakin memperkuat posisinya Departemen Mikrobiologi Pertanian UGM sebagai pusat pembelajaran internasional di bidang mikrobiologi lingkungan dan pengelolaan sampah berkelanjutan. “Semangat kolaborasi yang terbangun selama program diharapkan terus berkembang menjadi jejaring global yang berkontribusi nyata dalam menciptakan solusi lingkungan yang inovatif, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Penulis : Hanifah

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Faperta

Artikel Mahasiswa Asing dari 17 Negara Ikut Praktik Pengelolaan Sampah Berkelanjutan  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-asing-dari-17-negara-ikut-praktik-pengelolaan-sampah-berkelanjutan/feed/ 0
UGM dan NTU Gelar ASEAN Summer School https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-ntu-gelar-asean-summer-school/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-ntu-gelar-asean-summer-school/#respond Tue, 28 Jul 2026 05:09:22 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95922 Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) FT UGM berkolaborasi dengan Nanyang Technological University (NTU) menyelenggarakan “ASEAN Summer School” pada 13—17 Juli 2026 lalu. Didukung oleh Tanoto Foundation, DTMI x NTU ASEAN Summer School ini diikuti oleh mahasiswa dari negara-negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Myanmar, Vietnam, dan Brunei Darussalam. Selain mahasiswa asing, terdapat juga mahasiswa […]

Artikel UGM dan NTU Gelar ASEAN Summer School pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) FT UGM berkolaborasi dengan Nanyang Technological University (NTU) menyelenggarakan “ASEAN Summer School” pada 13—17 Juli 2026 lalu. Didukung oleh Tanoto Foundation, DTMI x NTU ASEAN Summer School ini diikuti oleh mahasiswa dari negara-negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Myanmar, Vietnam, dan Brunei Darussalam. Selain mahasiswa asing, terdapat juga mahasiswa dari UGM, ITB, dan UI yang mengikuti program ini.

Ketua DTMI UGM, Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., mengungkapkan program ASEAN Summer School ini sebagai sarana untuk membangun relasi antaruniversitas di negara-negara anggota ASEAN. ”Melalui kegiatan ini, semoga relasi yang kuat, baik riset maupun pendidikan, dapat terjalin dengan baik,” tuturnya dalam rilis yang dikirimkan pada Selasa (28/7).

Perwakilan dari NTU, Dr. Tan Pei Yen, menuturkan bahwa program ini dapat menjadi ruang untuk para peserta berdiskusi dan bertukar ide. ”Sebuah kesempatan yang baik bagi mahasiswa untuk dapat melihat langsung dinamika masyarakat dan berdiskusi untuk membentuk ide solusi,” tambahnya.

Mengawali kegiatan dengan mengikuti perkuliahan di Ruang Sidang A1 DTMI, para peserta memperoleh pemaparan mengenai transportasi listrik sebagai materi bertema Renewable Energy yang dibawakan oleh dosen Teknik Mesin UGM, Dr. Eng. Ir. Adhika Widyaparaga, ST, M. Biomed.E.  dan dilanjutkan dengan pemaparan dasar dan pelatihan teknis mengenai rangkaian panel dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) oleh Irawan Eko Prabowo, S.T., M.Eng. dari Pusat Studi Energi (PSE) UGM. Dasar dan wawasan teknis PLTS nantinya akan membantu para peserta saat melakukan pemasangan panel PLTS di Kretek, Kabupaten Bantul.

Selain Renewable Energy, Smart City juga menjadi salah satu tema dari program ini, dengan pemaparan yang disampaikan oleh Zulfikar Dinar Wahidayat Putra, S.T., M.Sc., dari Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan (DTAP) UGM. Pemaparan ini berfokus pada konsep dasar dan penerapan dalam konteks Indonesia, terkhusus di Yogyakarta. Pemahaman peserta diperkuat dengan kunjungan ke Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) guna memberikan wawasan pengelolaan Smart City oleh pemerintah daerah.

Di luar kampus, peserta dibawa menuju Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Brama Muda di Ngaglik, Sleman, serta Jogja Life Cycle di Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Mengangkat tema Circular Economy, melalui kunjungan ke TPS3R Brama Muda dan Jogja Life Cycle, peserta diajak untuk melihat secara langsung bagaimana sampah yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga diolah dan dijadikan sebagai sarana pemenuhan kebutuhan ekonomi warga.

Praktik penerapan Renewable Energy dilaksanakan di Kretek, Bantul melalui pemasangan panel PLTS di beberapa titik, yaitu gedung Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), balai padukuhan, masjid, sistem pengairan untuk tanaman sayur warga, dan poskamling. Peserta diharapkan dapat memasang panel ke jaringan PLTS yang telah terlebih dahulu dipasang agar tiap kebutuhan warga akan listrik dapat dipenuhi melalui PLTS jalur off-grid tersebut. “Setelah menyelesaikan pemasangan, peserta diharuskan menuntaskan prosesnya dengan melakukan pengujian untuk memastikan fungsionalitas panel,” kata Muslim Mahardika.

Kunjungan terakhir dilaksanakan dalam bentuk River Trip Sungai Code, sebuah aktivitas yang mengenalkan mahasiswa pada komunitas masyarakat di bantaran Sungai Code. Dalam aktivitas River Trip tersebut, masyarakat memberikan wawasan tentang aktivitas yang dikerjakan dan program-program yang dimiliki, antara lain pengolahan sampah plastik, budidaya ikan lele, pengenalan kuliner lokal, materi tanggap bencana, serta pengenalan biodiversitas yang ada di lingkungan tersebut. “Hasil dari perkuliahan dan kegiatan luar kampus nantinya akan menjadi dasar informasi peserta dalam membuat poster mengenai ide-ide mereka dalam menuntaskan permasalahan yang mereka temui secara langsung,” katanya.

Dr. Akmal Irfan Majid, S.T., M.Eng., selaku penanggung jawab acara pun berharap peserta memperoleh wawasan mengenai Yogyakarta secara luas dan mendalam. ”Ke depannya kami harap program ini akan terus berjalan dan bahkan lebih baik dan lebih banyak yang dapat kita lakukan,” pungkasnya.

Reportase : Gusti Purbo Darpitojati/Humas FT UGM

Penulis : Leony

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. FT UGM

Artikel UGM dan NTU Gelar ASEAN Summer School pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-ntu-gelar-asean-summer-school/feed/ 0
UGM, UTS dan ANU Gelar International Summer Course Biodiversitas Tropis https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-uts-dan-anu-gelar-international-summer-course-biodiversitas-tropis/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-uts-dan-anu-gelar-international-summer-course-biodiversitas-tropis/#respond Wed, 22 Jul 2026 03:31:24 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95730 Sebanyak 57 mahasiswa dan akademisi yang berasal University of Technology Sydney (UTS), Australian National University (ANU) dan Universitas Gadjah Mada, mengikuti International Summer Course on Tropical Biodiversity and Sustainable Development 2026 bertajuk From Ecosystems to Repositories: Data-Driven Insights into Tropical Biodiversity yang berlangsung pada 6–24 Juli 2026 di Kampus UGM. Para peserta dalam kegiatan ini […]

Artikel UGM, UTS dan ANU Gelar International Summer Course Biodiversitas Tropis pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sebanyak 57 mahasiswa dan akademisi yang berasal University of Technology Sydney (UTS), Australian National University (ANU) dan Universitas Gadjah Mada, mengikuti International Summer Course on Tropical Biodiversity and Sustainable Development 2026 bertajuk From Ecosystems to Repositories: Data-Driven Insights into Tropical Biodiversity yang berlangsung pada 6–24 Juli 2026 di Kampus UGM.

Para peserta dalam kegiatan ini akan mempelajari pemanfaatan teknologi berbasis data dalam riset, konservasi, dan pengelolaan biodiversitas tropis secara berkelanjutan. Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Eko Agus Suyono, mengatakan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas akademik peserta, melainkan juga memperkuat kolaborasi global dalam upaya konservasi biodiversitas.

“Program ini bukan hanya tentang memperoleh pengetahuan ilmiah, tetapi juga membangun persahabatan internasional, bertukar gagasan lintas budaya, serta memperkuat kolaborasi global dalam menjawab tantangan konservasi biodiversitas dan pembangunan berkelanjutan,” ujarnya, Rabu (22/7).

Menurut Eko, para peserta akan mengikuti kegiatan pembelajaran berbasis pengalaman yang menjadi bagian dari rangkaian program. Sebagai bagian dari experiential learning, peserta juga mengikuti field trip selama dua hari di Stasiun Geologi Bayat, Klaten, dan Pantai Porok, Gunungkidul. “Dalam kegiatan tersebut, peserta memadukan teori yang diperoleh di kelas dengan praktik lapangan melalui eksplorasi biodiversitas, penerapan teknologi geospasial, hingga teknik dokumentasi dan preservasi spesimen,” ujarnya.

Selama kegiatan lapangan, peserta mempelajari penggunaan unmanned aerial vehicle (UAV) atau drone untuk memperoleh data spasial dan mendukung pemetaan habitat serta pemantauan ekosistem. Mereka juga melakukan eksplorasi biodiversitas, pengambilan sampel di kawasan pesisir, diskusi kelompok, serta mengintegrasikan data biologis dan geospasial untuk mendukung analisis ekosistem.

Lebih lanjut, seluruh hasil pengamatan lapangan kemudian didokumentasikan dan diunggah ke platform iNaturalist sebagai bagian dari penguatan konsep open science dan citizen science. Melalui pendekatan ini, data biodiversitas yang diperoleh peserta dapat menjadi bagian dari basis data global yang mendukung penelitian maupun upaya konservasi.

Selain memperkaya pengalaman belajar mahasiswa, Eko menyebutkan penyelenggaraan International Summer Course juga menjadi momentum untuk memperkuat kemitraan internasional. Sebab, di sela penyelenggaraan program, Head of the School of Life Sciences University of Technology Sydney, Prof. Ian Menz, turut mendampingi mahasiswa UTS selama mengikuti rangkaian kegiatan akademik dan lapangan. “Kunjungan tersebut juga dimanfaatkan untuk membahas penguatan kerja sama antara UTS dan Fakultas Biologi UGM, termasuk pengembangan mobilitas mahasiswa, perluasan program pertukaran, penjajakan program double degree, serta kolaborasi akademik dan riset lainnya,” paparnya.

Bagi Eko, program ini tidak hanya memperluas wawasan akademik peserta, tetapi juga memperkuat jejaring riset, pertukaran pengetahuan, dan kemitraan jangka panjang antara Indonesia dan Australia

Sekretaris Direktorat Kemitraan dan Relasi Global UGM, Prof. Suherman, M.Sc., Ph.D., menekankan bahwa perkembangan genomik, bioinformatika, teknologi geospasial, dan ilmu data telah mengubah cara para ilmuwan mempelajari, melestarikan, dan mengelola keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.

“Kemajuan di bidang genomik, bioinformatika, teknologi geospasial, dan ilmu data telah mengubah cara kita mempelajari, melestarikan, dan mengelola keanekaragaman hayati secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Seperti diketahui kegiatan International Summer Course on Tropical Biodiversity and Sustainable Development merupakan hasil kolaborasi Fakultas Biologi UGM, Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM, University of Technology Sydney (UTS), dan Australian National University (ANU) melalui dukungan pendanaan New Colombo Plan (NCP) Australia, Hibah EQUITY Inovasi dan Internasionalisasi Akademik, serta PT Dynata Inovasi Corporalab.

Penulis : Zabrina Kumara

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Fakultas Biologi

Artikel UGM, UTS dan ANU Gelar International Summer Course Biodiversitas Tropis pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-uts-dan-anu-gelar-international-summer-course-biodiversitas-tropis/feed/ 0
Tingkatkan Literasi, Anak Muda Diajak Baca Buku di Ruang Terbuka https://ugm.ac.id/id/berita/95674-2/ https://ugm.ac.id/id/berita/95674-2/#respond Mon, 20 Jul 2026 09:41:06 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95674 Ada yang unik di pelataran hutan pinus Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Jumat (17/7) sore. Puluhan anak muda duduk lesehan di atas tikar atau kain selendang. Mereka khidmat membaca buku yang dipegang masing-masing. Barangkali situasi ini jamak kita temukan di ruang perpustakaan. Namun kali ini, mereka memilih membaca buku di bawah rindang pohon pinus. […]

Artikel Tingkatkan Literasi, Anak Muda Diajak Baca Buku di Ruang Terbuka pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Ada yang unik di pelataran hutan pinus Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Jumat (17/7) sore. Puluhan anak muda duduk lesehan di atas tikar atau kain selendang. Mereka khidmat membaca buku yang dipegang masing-masing. Barangkali situasi ini jamak kita temukan di ruang perpustakaan. Namun kali ini, mereka memilih membaca buku di bawah rindang pohon pinus.

Kegiatan baca buku bareng ini menjadi bagian dari acara membaca secara senyap (silent reading) bertajuk “Hening” (Healing Through Nature and Reading) yang diinisiasi pengelola GIK yang berkolaborasi dengan dibukumoerah.id, @bacabarengjogja, dan brilliantbookscorner. Momen ini, peserta tidak hanya berkesempatan diajak menikmati waktu membaca di ruang terbuka, tetapi juga menghadirkan sesi berbagi hasil bacaan serta meditasi ringan.

Kegiatan silent reading bertajuk Hening ini dinilai sebagai upaya positif untuk menumbuhkan budaya membaca di tengah masyarakat. Salah seorang peserta asal Bandung, Irhamna, mengaku terkesan dengan iklim literasi di Yogyakarta sejak melanjutkan studinya di kota tersebut. Menurutnya, berbagai kegiatan literasi yang rutin digelar di banyak tempat menjadi salah satu alasan Yogyakarta layak menyandang predikat sebagai Kota Pelajar. “Wajar kalau Yogyakarta disebut Kota Pelajar. Kegiatan seperti ini ramai dan mudah kita temui,” ujar mahasiswa Magister Sejarah FIB UGM tersebut.

Meski baru pertama kali mengikuti kegiatan membaca bersama di ruang terbuka, Irhamna menilai konsep tersebut mampu menghadirkan pengalaman yang berbeda sekaligus mendorong masyarakat memandang membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan dan penting. “Membaca itu tidak bisa dipaksakan karena harus tumbuh dari diri sendiri. Harapannya, ketika masyarakat melihat kegiatan seperti ini di ruang publik, mereka akan semakin sadar bahwa membaca merupakan kebiasaan yang penting,” tutupnya

Marketing Communication GIK UGM, Cham Husein, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mengoptimalkan pemanfaatan ruang terbuka di kawasan paling selatan GIK UGM, tepatnya di Hutan Pinus A. Menurutnya, kegiatan silent reading dipilih sebagai respons terhadap semakin berkembangnya komunitas literasi di Yogyakarta yang mulai rutin mengadakan kegiatan serupa untuk menumbuhkan minat baca masyarakat. “Kami melihat sudah banyak komunitas di Yogyakarta yang menyelenggarakan kegiatan silent reading sebagai upaya membangun semangat literasi. Karena itu, kami ingin mewadahi kegiatan tersebut melalui acara Hening yang diselenggarakan di Hutan Pinus GIK UGM,” ujar Cham.

Cham menambahkan, kegiatan tersebut tidak hanya menyediakan ruang bagi masyarakat untuk menikmati pengalaman membaca di alam terbuka, tetapi juga menjadi wadah untuk membangun jejaring antarsesama pembaca. Selain itu, sesi meditasi ringan turut dihadirkan sebagai sarana untuk menemukan ketenangan bagi peserta setelah menjalani rutinitas pekerjaan di hari-hari sibuk sebelumnya.  “Kami berencana menyelenggarakan acara ini secara rutin setiap bulan, antara hari Jumat, Sabtu, atau Minggu. Harapannya, Hening bisa menjadi ruang bagi masyarakat untuk melepas penat setelah menjalani hari-hari yang padat dengan pekerjaan,” ujarnya.

Tak lupa, Cham juga mengatakan bahwa penyelenggaraan perdana Hening akan menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan kegiatan selanjutnya. GIK UGM, kata dia, membuka ruang bagi peserta untuk memberikan masukan mengenai konsep maupun rangkaian acara yang dapat ditambahkan, seperti lokakarya, diskusi, atau kegiatan literasi lainnya. “Kami terbuka terhadap berbagai masukan dari teman-teman mengenai konsep kegiatan berikutnya. Harapannya, Hening dapat terus bertumbuh menjadi wadah yang menarik bagi masyarakat,” harap Cham.

Di sisi lain, inisiator komunitas @bacabarengjogja, Aditya Hernawan, mengatakan bahwa kolaborasi tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kebiasaan membaca di tengah masyarakat. Menurutnya, kegiatan silent reading dirancang agar lebih santai dan inklusif sehingga siapa pun dapat mulai membangun kebiasaan membaca tanpa dibatasi oleh jenis bacaan. “Kegiatan ini adalah gerbang awal untuk memulai kebiasaan baru, yaitu membaca. Karena itu, saya sampaikan sejak awal bahwa peserta bebas membaca apa saja, mulai dari koran, komik, hingga buku lainnya. Yang terpenting adalah mulai membaca,” kata pria yang akrab disapa Adit tersebut.

Adit menambahkan, kegiatan ini juga ditujukan bagi masyarakat yang baru ingin memulai kebiasaan membaca. Setelah kebiasaan tersebut terbentuk, sambung Adit,  peserta dapat bergabung dengan komunitas literasi lain yang memiliki kegiatan membaca dan diskusi dengan pembahasan yang lebih mendalam. “Kalau nanti kebiasaan membacanya sudah terbentuk dan ingin mengikuti kegiatan yang lebih serius, silahkan bergabung dengan komunitas-komunitas literasi lainnya,” tuturnya.

Penulis : Agito Sitepu

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Salwa

Artikel Tingkatkan Literasi, Anak Muda Diajak Baca Buku di Ruang Terbuka pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/95674-2/feed/ 0
FKH UGM Gelar Summer Course Konservasi Satwa Liar https://ugm.ac.id/id/berita/fkh-ugm-gelar-summer-course-konservasi-satwa-liar/ https://ugm.ac.id/id/berita/fkh-ugm-gelar-summer-course-konservasi-satwa-liar/#respond Wed, 15 Jul 2026 04:32:51 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95551 Sebanyak 26 peserta dari 11 negara terpilih untuk mengikuti program The 1st Gadjah Mada Veterinary Medicine International Summer Course 2026 di Yogyakarta pada 12–15 Juli 2026. Para peserta ini berasal dari Filipina, Malaysia, Vietnam, Brunei Darussalam, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Hong Kong, Sri Lanka, dan Britania Raya. Mereka mewakili beragam latar belakang akademik dan […]

Artikel FKH UGM Gelar Summer Course Konservasi Satwa Liar pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sebanyak 26 peserta dari 11 negara terpilih untuk mengikuti program The 1st Gadjah Mada Veterinary Medicine International Summer Course 2026 di Yogyakarta pada 12–15 Juli 2026. Para peserta ini berasal dari Filipina, Malaysia, Vietnam, Brunei Darussalam, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Hong Kong, Sri Lanka, dan Britania Raya. Mereka mewakili beragam latar belakang akademik dan profesi, mulai dari mahasiswa sarjana, magister, doktor, peneliti, hingga profesional yang berasal dari bidang kedokteran hewan, biologi, zoologi, ilmu lingkungan, serta disiplin ilmu lainnya. Keberagaman tersebut menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif, multidisipliner, dan multikultural. Hal ini sejalan dengan semangat kolaborasi global yang menjadi fondasi utama program ini.

Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menyambut baik pelaksanaan summer course yang melibatkan peserta dari berbagai negara. Menurutnya, UGM mendorong kolaborasi internasional untuk menjawab berbagai tantangan global yang semakin kompleks, termasuk konservasi keanekaragaman hayati, perubahan iklim, kesehatan satwa liar, dan ancaman penyakit zoonosis. “Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun jejaring internasional, menghasilkan inovasi berbasis ilmu pengetahuan, serta menyiapkan sumber daya manusia yang mampu memberikan solusi bagi berbagai persoalan global,” tegasnya, Rabu (15/7).

Ketua Pelaksana Program, Dr. drh. Berlin Pandapotan Pardede, M.Si., menjelaskan bahwa tema “Guardians of Forest Wildlife” sepanjang pelaksanaan summer course dipilih sebagai respons terhadap meningkatnya tantangan konservasi satwa liar di tingkat global. Deforestasi, fragmentasi habitat, perubahan iklim, peningkatan konflik manusia dan satwa liar, serta ancaman penyakit infeksi baru yang telah menyebabkan penurunan populasi berbagai spesies di berbagai belahan dunia. Kondisi tersebut menuntut hadirnya pendekatan konservasi yang lebih inovatif, kolaboratif, dan berbasis ilmu pengetahuan.

Ia menyampaikan saat ini banyak spesies mengalami penurunan populasi secara drastis akibat hilangnya habitat, perubahan iklim, dan berbagai tekanan antropogenik lainnya. Oleh karena itu, konservasi tidak lagi dapat mengandalkan pendekatan konvensional semata. “Kita membutuhkan inovasi melalui bioteknologi reproduksi, seperti assisted reproductive technologies (ART), biobanking, preservasi sel, teknologi stem cell, serta berbagai pendekatan ilmiah lainnya untuk mendukung peningkatan populasi satwa liar yang terancam punah. Namun, kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan kolaborasi internasional yang kuat, karena tantangan konservasi merupakan tanggung jawab bersama masyarakat global,” ujar Berlin.

Ia menambahkan bahwa program yang didukung oleh LPDP melalui Hibah Inovasi merupakan bagian dari upaya FKH UGM untuk memperkuat internasionalisasi akademik melalui pendidikan yang berkualitas, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi lintas disiplin. Program ini diharapkan mampu menjadi ruang bagi lahirnya jejaring ilmiah internasional yang mempertemukan generasi muda, akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara untuk bersama-sama menghasilkan inovasi dalam bidang konservasi satwa liar, kesehatan, dan kesejahteraan satwa. “Kami percaya bahwa masa depan konservasi turut ditentukan oleh kemampuan kita membangun kolaborasi global. Melalui program ini, kami ingin melahirkan generasi baru Guardians of Forest Wildlife yang memiliki perspektif internasional, kompetensi ilmiah yang kuat, serta komitmen untuk menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati dunia,” tutupnya.

Sementara ketua Program Summer Course, Dr. drh. Hery Wijayanto, M.P., mengatakan berbagai tantangan global seperti penyakit zoonosis, degradasi habitat, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga perubahan iklim tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu disiplin ilmu, melainkan membutuhkan kolaborasi yang erat antara kedokteran hewan, biologi, zoologi, ilmu lingkungan, bioteknologi, kesehatan masyarakat, hingga ilmu sosial. “Konservasi satwa liar bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem yang pada akhirnya akan berdampak pada kesehatan manusia dan keberlanjutan lingkungan. Karena itu, kami mengembangkan program ini berdasarkan pendekatan One Health, sehingga peserta dapat memahami bahwa solusi terhadap berbagai tantangan konservasi harus dibangun melalui kolaborasi lintas disiplin dan lintas sektor,” jelas Hery.

Lebih lanjut, Hery menambahkan bahwa seluruh rangkaian kegiatan dirancang menggunakan pendekatan experiential learning, yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk belajar secara aktif melalui pengalaman nyata. Selain memperoleh pembelajaran di ruang kelas, peserta diajak mengamati secara langsung berbagai praktik konservasi, manajemen kesehatan satwa liar, teknologi reproduksi, hingga pengelolaan biodiversitas di beberapa lokasi strategis di Yogyakarta, seperti Gembira Loka Zoo hingga Taman Nasional Gunung Merapi.

Pengalaman belajar yang diperoleh selama program memberikan kesan mendalam bagi para peserta. Bagi Minami Ayane, mahasiswa program Veterinary Medicine dari Azabu University, Jepang, summer course ini memberikan kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana ilmu kedokteran hewan berperan penting dalam konservasi satwa liar melalui pendekatan reproduksi, kesejahteraan satwa, dan pengelolaan populasi spesies yang terancam punah. “Selama ini saya banyak mempelajari teori di kampus, tetapi di UGM saya dapat melihat secara langsung bagaimana dokter hewan berkontribusi dalam pemeriksaan kesehatan satwa liar, teknologi reproduksi, hingga upaya konservasi spesies yang terancam punah,” ujar Minami.

Melalui penyelenggaraan summer course program ini, FKH UGM dapat memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat unggulan dalam pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu kedokteran hewan, konservasi satwa liar, kesehatan satwa, dan kesejahteraan satwa di tingkat global. Program ini juga sebagai bukti nyata komitmen FKH UGM dalam menghasilkan pendidikan yang relevan dengan tantangan dunia, mendorong lahirnya inovasi berbasis ilmu pengetahuan, serta mempersiapkan generasi muda yang mampu menjadi pemimpin masa depan dalam konservasi biodiversitas.

Program ini diharapkan dapat menjadi agenda akademik internasional yang berkelanjutan dan semakin berkembang setiap tahunnya. Melalui penguatan kemitraan dengan universitas, lembaga penelitian, organisasi konservasi, kebun binatang, serta berbagai pemangku kepentingan dari berbagai negara, program ini diharapkan terus menjadi katalis lahirnya kolaborasi pendidikan, penelitian, dan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi pelestarian keanekaragaman hayati dunia.

Penulis : Salwa

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. FKH UGM

Artikel FKH UGM Gelar Summer Course Konservasi Satwa Liar pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/fkh-ugm-gelar-summer-course-konservasi-satwa-liar/feed/ 0
UGM Gelar Summer Course, Perkuat Kapasitas Calon Nakes Tangguh Bencana https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-gelar-summer-course-perkuat-kapasitas-calon-nakes-tangguh-bencana/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-gelar-summer-course-perkuat-kapasitas-calon-nakes-tangguh-bencana/#respond Tue, 14 Jul 2026 01:43:22 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95493 Kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan cincin api pasifik dan jalur sabuk alpide sehingga menjadikan hampir seluruh wilayah rawan terhadap bencana erupsi gunung api dan gempa bumi. Belum lagi, dampak perubahan iklim yang menyebabkan bencana tanah longsor, banjir dan kekeringan. Berbagai potensi bencana dan pandemi global seperti covid-19 lalu, memerlukan adanya sistem resiliensi terhadap […]

Artikel UGM Gelar Summer Course, Perkuat Kapasitas Calon Nakes Tangguh Bencana pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan cincin api pasifik dan jalur sabuk alpide sehingga menjadikan hampir seluruh wilayah rawan terhadap bencana erupsi gunung api dan gempa bumi. Belum lagi, dampak perubahan iklim yang menyebabkan bencana tanah longsor, banjir dan kekeringan.

Berbagai potensi bencana dan pandemi global seperti covid-19 lalu, memerlukan adanya sistem resiliensi terhadap bencana alam tersebut melalui penguatan sistem kesehatan yang tangguh dan mampu memberikan layanan secara berkesinambungan. Penguatan kapasitas tersebut memerlukan kolaborasi tingkat lintas profesi, lintas sektor, dan lintas negara agar upaya mitigasi, respons darurat, hingga pemulihan dapat dilakukan secara lebih efektif dan berkelanjutan.

Berangkat dari persoalan tersebut, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM UGM menyelenggarakan  kegiatan Kegiatan Summer Course 2026 on Interprofessional Healthcare untuk mendukung peningkatan kapasitas dalam kesiapan menghadapi bencana. Mengambil tema Health and Disaster Management: Before, During, and After Emergencies, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi wadah pembelajaran Internasional yang mempertemukan mahasiswa dan akademisi dari berbagai disiplin ilmu untuk memperkuat kapasitas kolaboratif dalam menghadapi tantangan kesehatan pada situasi bencana.

Program ini diikuti oleh sekitar 81 mahasiswa dari jenjang sarjana, profesi, dan pascasarjana dari UGM, perguruan tinggi negeri, serta berbagai universitas mitra internasional yang berasal dari bidang kesehatan maupun disiplin ilmu lain yang relevan, seperti teknik, biologis, dan filsafat. “Nah, keberagaman academic background ini bisa menggambarkan ya, bahwa tadi bencana itu penanganannya tidak bisa hanya ditanggung oleh satu professional saja. Harapannya dengan membawa global dan juga multidisiplin, pendekatan multidisiplin, sejak di bangku kuliah, mahasiswa kita sudah sangat aware, bahwa ini adalah kerja kita bersama,” jelas Ketua Panitia Summer Course 2026, Melyza Perdana, S.Kep., Ns., MS., Ph.D., kepada wartawan, Senin (13/7) di ruang eksekutif Graha Wiyata FK-KMK UGM.

Selama dua minggu pelaksanaan, peserta akan mengikuti berbagai kegiatan akademik yang mengkombinasikan pembelajaran sinkron dan asinkron. Kegiatan meliputi kuliah pakar, diskusi panel, simulasi kebencanaan, role play, praktikum, latihan tanggap darurat, kunjungan lapangan, hingga presentasi kelompok. Materi yang disampaikan mencakup penguatan sistem kesehatan tangguh, kesiapsiagaan bencana, layanan kesehatan darurat, manajemen tempat pengungsian, dan dukungan kesehatan jiwa hingga pemulihan pasca bencana. “Targetnya mahasiswa menjadi aware terhadap berbagai resiko bencana yang ada di sekitar sehingga mahasiswa mengetahui peran yang bisa diambil ketika bencana terjadi,” kata Melyza.

Melihat bahwa ancaman bencana tidak hanya dihadapi oleh Indonesia tetapi juga seluruh masyarakat global, salah satunya negara Taiwan dengan tingkat ancaman bencana yang tinggi. Akademisi dari Taipei Medical University, Assoc. Prof. Fu-Chih Lai, RN., Ph.D., memaparkan bagaimana sistem tanggap bencana di Taiwan menekankan pentingnya early notification terutama di negara rawan bencana gempa bumi dan gunung meletus. “Di Taiwan, meskipun Anda adalah pendatang, Anda akan mendapatkan notifikasi awal atas ancaman bencana seperti gunung meletus,” sebutnya.

Selain itu, masyarakat didorong untuk mempersiapkan resiliensi saat bencana terjadi. Sebagai contoh yakni di Taiwan terdapat disaster management center untuk membagi korban bencana ke rumah sakit terdekat dan selalu memastikan bahwa communication channel dari berbagai pihak seperti rumah sakit, Badan Penanggulangan Bencana, dan setiap pihak yang berkaitan untuk tetap aktif setiap harinya.

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D., menyampaikan pentingnya kesiapan masyarakat, pemerintah dan tenaga kesehatan (nakes) dalam menghadapi resiko dampak bencana. “Karena kalau ada bencana kita seperti orang yang bingung, kaget, dan selalu kurang koordinasi di antara berbagai pihak, dan itu menjadi concern juga,” ujarnya.

Melalui kegiatan summer course ini, kata Hamim, tidak hanya memperkuat jejaring akademik internasional, tetapi juga menghasilkan calon tenaga kesehatan dan profesional lintas disiplin. Program ini sekaligus menjadi bagian dari kontribusi Universitas Gadjah Mada dalam mendukung pembangunan sistem kesehatan yang berkelanjutan serta peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi resiko bencana.

Penulis : Jelita Agustine

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Salwa

Artikel UGM Gelar Summer Course, Perkuat Kapasitas Calon Nakes Tangguh Bencana pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-gelar-summer-course-perkuat-kapasitas-calon-nakes-tangguh-bencana/feed/ 0
62 Mahasiswa dari 5 Negara Ikut Global Summer Week UGM https://ugm.ac.id/id/berita/62-mahasiswa-dari-5-negara-ikut-global-summer-week-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/62-mahasiswa-dari-5-negara-ikut-global-summer-week-ugm/#respond Mon, 13 Jul 2026 09:35:09 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95466 Sebanyak 62 mahasiswa dari University of Canterbury, Selandia Baru; Universiti Brunei Darussalam,  Brunei Darussalam; University of Glasgow, Inggris Raya; WU Vienna, Austria; Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Mulawarman, Politeknik Negeri Malang, Universitas Negeri Surabaya, dan Universitas Gadjah Mada mengikuti Global Summer Week (GSW) yang diselenggarakan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM pada 13–24 Juli […]

Artikel 62 Mahasiswa dari 5 Negara Ikut Global Summer Week UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sebanyak 62 mahasiswa dari University of Canterbury, Selandia Baru; Universiti Brunei Darussalam,  Brunei Darussalam; University of Glasgow, Inggris Raya; WU Vienna, Austria; Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Mulawarman, Politeknik Negeri Malang, Universitas Negeri Surabaya, dan Universitas Gadjah Mada mengikuti Global Summer Week (GSW) yang diselenggarakan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM pada 13–24 Juli 2026. Tahun ini, GSW mengusung tema Inclusivity and Innovation in Sustainable Entrepreneurship.

Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Didi Achjari, S.E., M.Com., AK., CA., mengatakan program Global Summer Week yang berawal dari kolaborasi dengan WU Vienna tersebut kini telah berkembang menjadi wadah pembelajaran internasional yang mempertemukan mahasiswa dan akademisi dari berbagai negara. “Tahun ini, GSW diikuti 62 peserta, terdiri atas 13 peserta internasional dari Austria, Brunei Darussalam, Selandia Baru, dan Britania Raya, serta 49 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia,” ujarnya, Senin (13/7).

Didi menjelaskan bahwa tema inklusivitas menjadi benang merah penyelenggaraan GSW 2026. Selama dua pekan, peserta akan mempelajari berbagai isu seperti kewirausahaan sosial, pembiayaan berdampak, teknologi asistif, ekonomi yang aksesibel, hingga pengelolaan keberagaman di lingkungan kerja global melalui kuliah, lokakarya, diskusi bersama akademisi dan praktisi, serta kunjungan ke sejumlah usaha di Yogyakarta yang menerapkan praktik bisnis inklusif. Ia berharap para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga membangun jejaring internasional dan membawa pulang gagasan yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Ketua GSW 2026, Dr. Annisa Hayatun Nazmi Burhan, mengatakan GSW 2026 merefleksikan semangat generasi muda sebagai pemikir, pembangun, dan agen perubahan dalam menjawab berbagai tantangan global melalui perspektif bisnis dan kewirausahaan.

“GSW 2026 mewujudkan semangat bagaimana kita, sebagai generasi penerus yang berpikir kritis, membangun, dan menjadi agen perubahan, memilih untuk merespons tantangan global melalui perspektif bisnis dan kewirausahaan,” ujarnya.

Annisa menjelaskan jika program ini dirancang untuk menjawab dinamika perkembangan strategi bisnis dan pertumbuhan ekonomi sekaligus mendorong terciptanya dampak sosial yang nyata. Melalui pendekatan tersebut, GSW diharapkan mampu menginspirasi lahirnya para pemimpin masa depan yang berkontribusi dalam mewujudkan masyarakat yang lebih berkelanjutan.

“Melalui pendekatan ini, kami berharap dapat menginspirasi para pemimpin masa depan untuk memberikan kontribusi yang bermakna dalam mewujudkan dunia yang lebih berkelanjutan secara sosial,” tuturnya.

Salah satu peserta GSW 2026 dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ghevira, mengaku antusias mengikuti program tersebut karena memberikan kesempatan untuk membangun jejaring dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia maupun mancanegara. Menurutnya, GSW menjadi ruang yang tepat untuk bertukar pengalaman sekaligus memperluas wawasan dalam lingkungan pembelajaran yang berskala internasional.

Selain memperluas relasi, Ghevira menilai interaksi dengan peserta yang berasal dari beragam latar belakang akan membuka perspektif baru serta memperkaya pengalaman akademik maupun personal. Kesempatan untuk berdiskusi dan berkolaborasi dengan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu juga menjadi salah satu hal yang paling dinantikannya selama mengikuti program.

“Saya senang sekali bisa mengikuti program ini karena dapat bertemu teman-teman baru, baik dari UGM maupun peserta internasional. Pengalaman seperti ini tentu sangat berharga untuk memperluas relasi dan wawasan saya,” ujarnya.

Ghevira menambahkan keikutsertaannya dalam GSW 2026 juga didorong oleh keinginannya untuk mempelajari bidang bisnis dan kewirausahaan yang belum banyak ia pelajari selama kuliah. Ia berharap berbagai sesi yang diselenggarakan dapat memberikan pemahaman baru mengenai strategi bisnis dan penerapannya dalam menjawab tantangan global. “Saya bukan berasal dari jurusan bisnis, sehingga saya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar lebih banyak mengenai dunia bisnis dan kewirausahaan,” katanya.

Selain diikuti peserta dari berbagai negara, GSW 2026 juga menghadirkan observer dari University of Lublin, Polandia. Salah satunya, Mateusz Rozwalka, mengatakan jika keikutsertaannya bertujuan untuk mengamati pelaksanaan program sekaligus mengenal budaya Indonesia, khususnya Yogyakarta. Ia mengungkapkan, dirinya mengetahui GSW setelah mencari informasi mengenai universitas-universitas ternama di Asia dan menemukan UGM beserta program Global Summer Week.“Kami ingin memahami sebanyak mungkin tentang budaya di sini. Budaya Eropa dan Asia sangat berbeda, sehingga kami ingin melihat perbedaannya sekaligus mempelajari bagaimana nilai inklusivitas dan keberlanjutan diterapkan dalam program ini,” ujarnya.

Menurut Mateusz, sebagai observer, dirinya tidak terlibat secara langsung dalam seluruh rangkaian kegiatan. Perannya lebih berfokus pada mengamati jalannya program serta mendokumentasikan berbagai praktik penyelenggaraan yang dapat menjadi pembelajaran.

Senada dengan itu, observer lainnya dari University of Lublin, Kamil Mormoll, mengaku antusias mengikuti rangkaian kegiatan GSW 2026. Menurutnya, program tersebut memberikan kesempatan untuk mengenal budaya Indonesia secara lebih dekat melalui pengalaman langsung. “Saya sangat menantikan seluruh agenda yang telah disiapkan. Upacara pembukaan saja sudah memberikan pengalaman baru bagi saya, dan saya ingin merasakan langsung perbedaan budaya yang ada di Indonesia,” pungkasnya.

Selama 11 hari pelaksanaan, para peserta akan mengikuti berbagai kuliah, diskusi, dan lokakarya yang dipandu oleh akademisi UGM maupun universitas mitra. Beragam sesi tersebut membahas isu-isu bisnis, kewirausahaan, inovasi, kepemimpinan, inklusivitas, hingga social impact. Sebagai bagian dari program, setiap kelompok peserta akan mengembangkan gagasan bisnis yang dipresentasikan dalam bentuk e-poster. Sepanjang proses penyusunan proyek, peserta juga memperoleh kesempatan untuk berkonsultasi dengan para pemateri mengenai penyusunan Business Model Canvas (BMC).

Penulis : Zabrina Kumara dan Ika/Humas FEB

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. FEB

Artikel 62 Mahasiswa dari 5 Negara Ikut Global Summer Week UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/62-mahasiswa-dari-5-negara-ikut-global-summer-week-ugm/feed/ 0
150 Mahasiswa Asing Ikut INCITe Summer School Program di UGM  https://ugm.ac.id/id/berita/150-mahasiswa-asing-ikut-incite-summer-school-program-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/150-mahasiswa-asing-ikut-incite-summer-school-program-di-ugm/#respond Mon, 13 Jul 2026 04:11:34 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95445 Sebanyak 150 mahasiswa asing dari tujuh institusi pendidikan tinggi di berbagai negara mengikuti Intercultural Competency, Innovation, and Entrepreneurship (INCiTE)  Summer School Program 2026 di kampus UGM. Beberapa peserta berasal dari institusi terkemuka di dunia yakni University of Edinburgh, University of Sydney, University of Toronto, Nanyang Technological University, National University of Management Cambodia, dan CUBEL UK. […]

Artikel 150 Mahasiswa Asing Ikut INCITe Summer School Program di UGM  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sebanyak 150 mahasiswa asing dari tujuh institusi pendidikan tinggi di berbagai negara mengikuti Intercultural Competency, Innovation, and Entrepreneurship (INCiTE)  Summer School Program 2026 di kampus UGM. Beberapa peserta berasal dari institusi terkemuka di dunia yakni University of Edinburgh, University of Sydney, University of Toronto, Nanyang Technological University, National University of Management Cambodia, dan CUBEL UK. Program kolaborasi internasional tersebut  berlangsung pada 9–24 Juli 2026 ini dirancang untuk memperkuat kompetensi lintas budaya sekaligus menumbuhkan pola pikir kewirausahaan melalui pengalaman belajar yang komprehensif.

Pembukaan program dilaksanakan pada Kamis (9/7) di Mezzanine Student Centre, Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM. Direktur Direktorat Kemitraan dan Relasi Global UGM, Prof. Dr. Puji Astuti, menekankan pentingnya kolaborasi global dan penguatan pola pikir kewirausahaan dalam menghadapi berbagai tantangan dunia saat ini. Melalui program ini, sambung Puji, para peserta diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan belajar lintas negara secara optimal lewat program INCiTE Summer School 2026. “Melalui berbagai tantangan interaktif yang telah disediakan, para peserta diajak untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kerja sama tim, dan pemecahan masalah,” kata Puji dalam keterangan yang dikirim ke wartawan, Senin (13/3).

Dikatakan Puji, sebelum mengikuti seremoni pembukaan, para peserta terlebih dahulu mengikuti INCiTE Quest, sebuah kegiatan eksplorasi kampus yang memperkenalkan lingkungan UGM sekaligus mengenalkan sejarah, budaya, dan karakter khas Yogyakarta. Rangkaian kegiatan pada hari pertama dilanjutkan dengan dua sesi Local Insight yang menghadirkan akademisi UGM untuk memperkenalkan sejarah modern Indonesia, budaya, politik, dan kehidupan masyarakat Indonesia.

Selanjutnya, peserta mengikuti kelas bahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh Indonesian Culture and Language Learning Service (INCULS) sebagai bekal memahami bahasa dan budaya Indonesia sebelum masuk ke rangkaian program akademik lebih lanjut. Menjelang berakhirnya hari pertama, UGM menggelar Welcome Dinner di Westlake Resto & Resort. Kegiatan tersebut menjadi ajang bagi peserta, perwakilan universitas mitra, dan panitia untuk membangun jejaring, mempererat hubungan antarinstitusi, serta menjalin persahabatan.

Selama lebih dari dua pekan, kata Puji, peserta akan mengikuti berbagai kegiatan akademik yang disampaikan oleh dosen dari universitas-universitas mitra INCiTE maupun akademisi UGM. “Materi yang diberikan difokuskan pada pengembangan kompetensi lintas budaya, inovasi, dan kewirausahaan sebagai bekal menghadapi tantangan global,” jelasnya.

Selain pembelajaran di kelas, peserta juga dijadwalkan mengunjungi berbagai industri di Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui kunjungan tersebut, harapannya, mereka dapat memperoleh pengalaman langsung mengenai ekosistem kewirausahaan, praktik bisnis berkelanjutan, serta perkembangan industri kreatif lokal. Praktik langsung ke lapangan ini diharapkan dapat membantu peserta menghubungkan konsep akademik dengan kondisi di lapangan sekaligus memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai inovasi dan dinamika dunia usaha di Indonesia. “Di akhir program, seluruh peserta akan bekerja dalam kelompok yang terdiri atas peserta dari berbagai negara untuk mengembangkan dan mempresentasikan gagasan proyek inovatif,” pungkasnya.

Penulis : Agito Sitepu

Editor : Gusti Grehenson

Foto : DKRG UGM

Artikel 150 Mahasiswa Asing Ikut INCITe Summer School Program di UGM  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/150-mahasiswa-asing-ikut-incite-summer-school-program-di-ugm/feed/ 0
45 Tahun Merekam Indonesia, Jalan Persemaian Sineas Garin Nugroho https://ugm.ac.id/id/berita/45-tahun-merekam-indonesia-jalan-persemaian-sineas-garin-nugroho/ https://ugm.ac.id/id/berita/45-tahun-merekam-indonesia-jalan-persemaian-sineas-garin-nugroho/#respond Fri, 26 Jun 2026 08:39:39 +0000 https://ugm.ac.id/?p=94950 Sutradara sekaligus seniman kenamaan Indonesia, Garin Nugroho, sudah hampir 45 tahun menekuni perjalanan kariernya dalam bidang  dalam bidang industri kreatif. Sebagai pembuat film yang berhasil membawa sinema Indonesia ke panggung dunia, Garin Nugroho turut menjadi seniman lintas disiplin yang menjelajahi seni pertunjukan, teater, tari, musik, seni rupa, media baru, pendidikan, hingga pembangunan ekosistem kebudayaan dan […]

Artikel 45 Tahun Merekam Indonesia, Jalan Persemaian Sineas Garin Nugroho pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sutradara sekaligus seniman kenamaan Indonesia, Garin Nugroho, sudah hampir 45 tahun menekuni perjalanan kariernya dalam bidang  dalam bidang industri kreatif. Sebagai pembuat film yang berhasil membawa sinema Indonesia ke panggung dunia, Garin Nugroho turut menjadi seniman lintas disiplin yang menjelajahi seni pertunjukan, teater, tari, musik, seni rupa, media baru, pendidikan, hingga pembangunan ekosistem kebudayaan dan regenerasi lintas generasi. Karya-karyanya telah hadir di berbagai festival film, museum, dan panggung internasional, sekaligus melahirkan berbagai ruang kreatif, festival, dan komunitas yang menjadi bagian penting dalam perkembangan seni dan budaya Indonesia.

kali ini, Garin mencoba merefleksikan perjalanan kreatifnya dalam pameran ARCHIVEPELAGO: Jalan Persemaian Garin Nugroho – 45 Tahun Merekam Indonesia, yang berlangsung pada 25 Juni–14 Juli 2026 di Galeri Bulaksumur, Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM), Yogyakarta. Menjadi salah satu pameran arsip maestro seni dan budaya yang  menghadirkan arsip, foto, poster, artefak, instalasi, karya audio visual, serta berbagai jejak pemikiran dan praktik kebudayaan yang merekam perjalanan kreatif Garin Nugroho selama lebih dari empat dekade.

Pameran ini tidak hanya menjadi perayaan perjalanan kreatif seorang seniman, melainkan sebuah upaya membaca Indonesia melalui jejak karya, gagasan, dan ekosistem yang tumbuh selama 45 tahun. Bagi Garin, perjalanan berkarya tersebut merupakan perjalanan seorang “peladang berpindah”, sebuah cara bekerja yang lahir dari perjumpaan dengan berbagai wilayah budaya di negeri kepulauan. “Kerja peladang berpindah senantiasa melahirkan dan menemukan tanaman baru sekaligus menjadikan pertemuan dengan beragam maestro dari berbagai bentuk seni melahirkan perluasan karya, tidak saja film, tetapi teater, tari, rupa hingga mix media. Sebuah kerja menumbuhkan karya, merawat, namun juga persemaian tak henti bibit-bibit baru,” tutur Garin Nugroho, Kamis (25/6) di GIK UGM.

Kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo, melihat arsip sebagai bagian penting dari pembangunan pengetahuan dan kesadaran kebudayaan. Ia menambahkan bahwa pameran ini merupakan upaya untuk merangkum perjalanan intelektual dan kreatif Garin Nugroho, serta bagaimana karya-karyanya memposisikan diri dalam lanskap estetik, artistik, intelektual, dan kebudayaan Indonesia maupun dunia. “Pameran ini merupakan upaya meringkas dan meringkus perjalanan intelektual dan kreatifnya. Bagaimana Garin Nugroho memandang dan dipandang oleh banyak pihak; dan bagaimana memosisikan dirinya dalam lanskap intelektual, estetik, artistik, dan kebudayaan Indonesia dan dunia,” jelasnya.

Direktur Utama GIK UGM, Alfatika Aunuriella Dini, S.H., M.Kn., Ph.D. menjelaskan GIK UGM akan terus berupaya dalam memberikan ruang untuk berkreativitas dan berinovasi, salah satunya melalui pameran dari maestro Garin Nugroho ini. Ia mengharapkan bahwa pameran ini diharapkan menjadi awal mula bagi pameran maestro-maestro lainnya di lingkungan UGM, baik di bidang seni maupun ilmu pengetahuan. “Jadi harapannya pameran dari Mas Garin ini menjadi awal mula pameran maestro di lingkungan kampus Universitas Gadjah Mada,” ungkapnya  dalam sambutan pada soft opening pameran di GIK.

Sekda Yogyakarta, Dedi Budiono, M.Pd. menegaskan bahwa kesenian dan kebudayaan, termasuk perfilman, merupakan kekuatan utama dalam menggerakkan sektor perekonomian kota Yogyakarta. Karya-karya dari Garin Nugroho tersebut membuktikan bahwa seni dan budaya mampu membawa Kota Yogyakarta di kancah Internasional yang menjadi urat nadi kehidupan kota ini. “Bahkan harus kita sadari bersama, sektor ekonomi pun digerakkan dari sektor budaya, kesenian, termasuk juga perfilman. Oleh karenanya tentu saja mewakili pemerintah kota, kami ingin mengajak kita semua untuk berkolaborasi memajukan Kota Jogja melalui seni dan budaya,” ajaknya.

Salah satu pengunjung pameran ini yang juga penikmat dari karya Garin Nugroho, Agung, mengungkapkan bahwa ketika melihat pameran ini, ia seperti memasuki lorong waktu perjalanan karir, spiritual, dan kecintaan Garin Nugroho terhadap sinema. “Sebagai pecinta film dan familiar dengan karya Garin Nugroho tentu pameran ini sangat menarik bagi saya pribadi, saya dibawa masuk ke dalam isi kepala Garin yang dituangkan dalam medium film dan teater dari waktu ke waktu, juga melihat bagaimana kontribusi dan kecintaan beliau terhadap sinema tanah air,” terang Agung.

Sebagai penikmat karya sang maestro, menurutnya Garin adalah salah satu sutradara terbaik yang dimiliki Indonesia, bukan hanya karena film-filmnya sering mendapatkan penghargaan nasional atau internasional, tetapi bagaimana ia merevolusi wajah sinema Indonesia melalui karya dan kontribusi besarnya.

Selain menghadirkan pameran arsip, ARCHIVEPELAGO juga akan diramaikan oleh berbagai program aktivasi yang melibatkan seniman, sineas, akademisi, kurator, komunitas, dan generasi muda. Berbagai diskusi, workshop, kelas, dan pemutaran film akan berlangsung sepanjang pameran sebagai bagian dari semangat persemaian yang menjadi fondasi perjalanan Garin Nugroho. Pada pembukaan pameran kali ini, dihadiri Sutradara Film Riri Reza, aktris senior Christine Hakim⁠ dan Dekan Sekolah Vokasi UGM Agus Maryono.

Penulis/Foto : Fatihah Salwa Rasyid

Editor            : Gusti Grehenson

Artikel 45 Tahun Merekam Indonesia, Jalan Persemaian Sineas Garin Nugroho pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/45-tahun-merekam-indonesia-jalan-persemaian-sineas-garin-nugroho/feed/ 0
Mahasiswa UGM Gelar Aksi Tanam Mangrove dan Lepas Tukik di Pesisir Bantul https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-gelar-aksi-tanam-mangrove-dan-lepas-tukik-di-pesisir-bantul/ https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-gelar-aksi-tanam-mangrove-dan-lepas-tukik-di-pesisir-bantul/#respond Mon, 08 Jun 2026 08:38:26 +0000 https://ugm.ac.id/?p=94294 Alumni dan mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam Yayasan Inisiasi Berkelanjutan Indonesia (Insive) menggelar serangkaian aksi konservasi dan restorasi ekosistem pesisir di kawasan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 4–5 Juni 2026. Kegiatan dua hari ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia sebagai respons nyata terhadap ancaman pencemaran sampah plastik di pesisir serta […]

Artikel Mahasiswa UGM Gelar Aksi Tanam Mangrove dan Lepas Tukik di Pesisir Bantul pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Alumni dan mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam Yayasan Inisiasi Berkelanjutan Indonesia (Insive) menggelar serangkaian aksi konservasi dan restorasi ekosistem pesisir di kawasan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 4–5 Juni 2026. Kegiatan dua hari ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia sebagai respons nyata terhadap ancaman pencemaran sampah plastik di pesisir serta kepunahan satwa laut yang dilindungi. Rangkaian program mencakup tiga pilar aksi utama, yakni pelepasan tukik lekang, bersih-bersih pantai, dan penanaman bibit mangrove secara kolaboratif. Yayasan Insive menegaskan bahwa kepedulian lingkungan tidak cukup berhenti pada wacana, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan yang konsisten dan terukur.

Salah satu momen paling emosional dalam kegiatan ini adalah pelepasan 20 ekor tukik lekang atau anak penyu abu-abu yang termasuk satwa dilindungi ke habitat alaminya di Pantai Goa Cemara. Dengan menggunakan batok kelapa sebagai media proteksi, para peserta melepas satu per satu tukik tersebut secara perlahan menuju laut bebas. Aldina Himmarila M., Alumnus Fakultas Biologi UGM sekaligus Program Manager Yayasan Insive menyatakan langkah ini menjadi simbol harapan sekaligus pengingat bahwa perlindungan fauna laut membutuhkan sinergi multipihak yang berkelanjutan. “Kegiatan ini dilaksanakan sebagai salah satu bentuk aksi nyata dan kepedulian generasi muda dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir,” tuturnya.

Yayasan Insive juga menggelar aksi bersih-bersih pantai di kawasan Pantai Baros guna menekan dampak sampah anorganik di wilayah pesisir. Dalam aksi ini, tim berhasil mengumpulkan total 300 kilogram sampah yang didominasi plastik sekali pakai, styrofoam, popok sekali pakai, dan material non-organik lainnya. Seluruh sampah yang terkumpul kemudian diserahterimakan kepada pengelola Pantai Baros untuk diproses dan didaur ulang. Angka 300 kilogram itu menjadi cerminan nyata betapa besarnya tekanan sampah yang menghantam ekosistem pesisir Bantul setiap harinya.

Sebagai puncak kegiatan, Yayasan Insive bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Baros menanam 100 bibit pohon mangrove di kawasan Pantai Baros. Mangrove berperan sebagai penahan abrasi, peredam erosi, dan habitat vital bagi ikan, udang, kepiting, hingga burung pesisir, sekaligus membuka peluang ekowisata yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Di tengah ancaman kenaikan permukaan air laut global, penanaman ini menjadi investasi ekologis jangka panjang yang manfaatnya akan dirasakan oleh generasi mendatang. “Mangrove yang ditanam diharapkan mampu tumbuh secara optimal untuk menyerap dan menyimpan karbon dalam jangka waktu yang lama, serta berkontribusi dalam pengurangan CO₂ di atmosfer,” harapnya.

Melalui integrasi tiga pilar aksi ini, Yayasan Insive menegaskan bahwa esensi Hari Lingkungan Hidup Sedunia terletak pada tindakan konkret yang berkelanjutan, bukan sekadar perayaan seremonial tahunan. Sinergi antara alumni dan mahasiswa yang diwadahi Yayasan Insive diharapkan terus tumbuh sebagai model kolaborasi generasi muda yang berorientasi pada keberlanjutan. Dengan langkah yang konsisten seperti ini, kontribusi nyata terhadap pemulihan ekosistem pesisir Indonesia dapat terus diperluas ke depannya.

Reportase/Foto: Azarine Malika Zayyan

Penulis: Triya Andriyani

Artikel Mahasiswa UGM Gelar Aksi Tanam Mangrove dan Lepas Tukik di Pesisir Bantul pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-gelar-aksi-tanam-mangrove-dan-lepas-tukik-di-pesisir-bantul/feed/ 0