Pengabdian Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/category/seputar-kampus/pengabdian/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Fri, 28 Aug 2026 05:29:45 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 UGM dan Pemda DIY Dorong Regenerasi Petani melalui Tandur Muda https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-pemda-diy-dorong-regenerasi-petani-muda-melalui-tandur-muda/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-pemda-diy-dorong-regenerasi-petani-muda-melalui-tandur-muda/#respond Fri, 28 Aug 2026 05:25:50 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97031 Universitas Gadjah Mada bersama Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta mendorong penguatan regenerasi petani melalui program Tandur Muda DIY. Program ini dirancang untuk mengajak generasi muda kembali melihat pertanian sebagai bidang yang dapat dikembangkan sekaligus memperkuat perekonomian desa. Upaya tersebut menjadi bagian dari kolaborasi antara pemerintah daerah dan UGM dalam menyiapkan keberlanjutan sektor pertanian di Yogyakarta. […]

Artikel UGM dan Pemda DIY Dorong Regenerasi Petani melalui Tandur Muda pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada bersama Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta mendorong penguatan regenerasi petani melalui program Tandur Muda DIY. Program ini dirancang untuk mengajak generasi muda kembali melihat pertanian sebagai bidang yang dapat dikembangkan sekaligus memperkuat perekonomian desa. Upaya tersebut menjadi bagian dari kolaborasi antara pemerintah daerah dan UGM dalam menyiapkan keberlanjutan sektor pertanian di Yogyakarta. Hal tersebut disampaikan dalam audiensi Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan Rektor UGM, Kamis (27/8) di Kantor Kepatihan Yogyakarta.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., mengatakan perhatian terhadap pertanian dan generasi muda menjadi salah satu gagasan yang dibahas dalam audiensi tersebut. UGM telah menyiapkan konsep bersama sejumlah pihak di lingkungan universitas untuk merespons gagasan tersebut. Konsep itu kemudian dilaporkan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai bagian dari pembahasan pengembangan program. “Beliau punya keinginan untuk pertanian, untuk generasi muda, itu beliau konsepnya di situ,” ujar Ova.

Ova menjelaskan, pengembangan program tersebut juga menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai unsur. Selain pemerintah daerah dan universitas, UGM melibatkan alumni, komunitas masyarakat, serta korporasi dalam mendukung pelaksanaan program di lapangan. Keterlibatan berbagai pihak diharapkan dapat memperkuat ekosistem program sekaligus membuka peluang pengembangan yang lebih luas. “Jadi ini saya kira salah satu bukti kerjasama yang real ya, di lapangan antara pemerintah daerah dengan universitas, bahkan dengan alumni, kemudian juga dengan komunitas masyarakat dan korporat,” kata Ova.

Dekan Fakultas Filsafat UGM, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum., mengatakan program tersebut berangkat dari keinginan Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk mengubah cara pandang generasi muda terhadap pertanian. UGM bersama Pemda DIY kemudian merancang program yang tidak hanya mendorong minat anak muda, tetapi juga memperkuat proses regenerasi di sektor pertanian. Desain tersebut diarahkan untuk menghidupkan kembali semangat generasi muda agar melihat pertanian sebagai bidang yang layak dikembangkan. “Sultan HB X ini menghendaki untuk bagaimana merubah mindset para pemuda-pemuda di Yogyakarta untuk mencintai kembali ke pertanian,” tutur Siti.

 

Dekan Fakultas Pertanian UGM, Prof. Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D., mengatakan dukungan bagi petani muda juga disiapkan melalui aspek pendanaan dan kepastian pasar. Pendanaan dapat bersumber dari pemerintah daerah maupun dana keistimewaan, sedangkan jejaring alumni melalui Kagama diharapkan dapat berperan sebagai offtaker bagi hasil pertanian. Skema tersebut diharapkan memberi kepastian kepada petani muda untuk terus mengembangkan kegiatan pertaniannya. “Dan mudah-mudahan ini nanti terus bergilir dan juga menular ke yang lain, sehingga regenerasi petani juga bisa berhasil,” kata Jaka.

Pengembangan petani muda juga diarahkan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berangkat dari desa. Dengan berkembangnya aktivitas ekonomi di tingkat desa, generasi muda diharapkan memiliki peluang untuk bekerja dan mengembangkan usaha tanpa harus berpindah ke kota. Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mempertahankan generasi muda agar tetap memiliki keterikatan ekonomi dengan wilayah perdesaan. “Harapan Sultan adalah ekonomi desa itu berkembang dari desa, bukan di kota,” tegas Jaka.

Lebih lanjut, dalam pelaksanaan program, UGM akan mengambil peran supervisi terhadap kegiatan yang dijalankan Pemda DIY. Peran tersebut diperlukan untuk memastikan program berjalan sesuai rencana dan memiliki mekanisme pengawasan dalam pelaksanaannya. Kolaborasi ini juga diharapkan dapat melengkapi pelaksanaan program pemerintah daerah yang sebelumnya belum memiliki pendampingan supervisi dari universitas. “Jadi ini tugas universitas akan menjadi supervisi, bisa memastikan bahwa programnya berjalan, programnya sesuai rencana,” ucap Jaka.

Kini, program Tandur Muda DIY telah melalui tahap pilot dan selanjutnya akan dikembangkan ke skala yang lebih luas. Pengembangan tersebut juga mencakup penyiapan struktur organisasi agar kerja sama antara pemerintah daerah dan UGM memiliki kerangka yang lebih formal. Struktur tersebut diperlukan, antara lain, agar dukungan pendanaan dari pemerintah daerah dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Program ini nantinya dirancang dengan pendekatan pertanian holistik yang mempertimbangkan berbagai aspek dalam pengembangan kegiatan pertanian. Jaka menjelaskan pendekatan tersebut memungkinkan berbagai potensi persoalan diperhitungkan sejak awal sehingga risiko kegagalan dapat diantisipasi dalam pelaksanaan program. Keberlanjutan program menjadi salah satu perhatian agar manfaatnya tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi dapat berdampak pada kesejahteraan masyarakat desa. “Nah inilah yang menjadi hal baru, bagaimana Tandur Muda DIY ini bisa berkelanjutan dan mengangkat kesejahteraan di tingkat desa,” katanya.

Pengembangan kapasitas generasi muda juga menjadi bagian dari program Tandur Muda DIY. Pemuda akan mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan dan sertifikasi sebagai bagian dari penguatan kemampuan dalam bidang pertanian. Dukungan tersebut juga dapat diperluas melalui berbagai kegiatan promosi dan pengembangan jejaring pertanian yang melibatkan pemuda Yogyakarta.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Firsto

Artikel UGM dan Pemda DIY Dorong Regenerasi Petani melalui Tandur Muda pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-pemda-diy-dorong-regenerasi-petani-muda-melalui-tandur-muda/feed/ 0
Perkuat Jejaring Global, Mahasiswa UGM Ikut Project Pemberdayaan Masyarakat dari AUS https://ugm.ac.id/id/berita/perkuat-jejaring-global-mahasiswa-ugm-ikut-project-pemberdayaan-masyarakat-dari-aus/ https://ugm.ac.id/id/berita/perkuat-jejaring-global-mahasiswa-ugm-ikut-project-pemberdayaan-masyarakat-dari-aus/#respond Thu, 27 Aug 2026 04:26:13 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96973 Sebanyak enam mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengikuti Asian Undergraduate Symposium (AUS) 2026 yang diselenggarakan oleh NUS College di National University of Singapore (NUS) pada 6–18 Juli 2026. Program dua pekan ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara Asia untuk berkolaborasi menyelesaikan isu sosial dan keberlanjutan. Dari program tersebut, tiga proyek yang melibatkan mahasiswa UGM berhasil meraih […]

Artikel Perkuat Jejaring Global, Mahasiswa UGM Ikut Project Pemberdayaan Masyarakat dari AUS pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sebanyak enam mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengikuti Asian Undergraduate Symposium (AUS) 2026 yang diselenggarakan oleh NUS College di National University of Singapore (NUS) pada 6–18 Juli 2026. Program dua pekan ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara Asia untuk berkolaborasi menyelesaikan isu sosial dan keberlanjutan. Dari program tersebut, tiga proyek yang melibatkan mahasiswa UGM berhasil meraih Seed Grant untuk merealisasikan ide yang telah mereka kembangkan.

Delegasi UGM terdiri atas Clairina Elvina Indriani, Fazmi Rizki Al Ghifari, dan Jovita Melinda Susanti dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB); Dhio Amirul Muqsith Fajriyan dan Elizabeth Tyasayu Auradina dari Fakultas Psikologi; serta Zalfa Syahira dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB).

Selama dua pekan, keenam mahasiswa ini bersama peserta dari berbagai negara Asia mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari diskusi, pembelajaran langsung bersama komunitas, hingga pengembangan proyek yang berfokus pada isu sosial dan keberlanjutan.

Dhio menuturkan, salah satu pengalaman paling berkesan sekaligus mengubah cara pandangnya selama AUS adalah rangkaian kegiatan learning journey–sesi belajar bersama komunitas–yang dijalani bersama peserta lain. “Saya jadi lebih memahami bahwa meskipun pemerintah punya peran yang krusial bagi kemajuan bangsa, kekuatan komunitas juga sama pentingnya. Jadi, kita tidak selalu harus menunggu pemerintah bergerak, tapi bisa untuk mengambil inisiatif dan berkontribusi untuk lingkungan sekitar ” ujarnya, Kamis (27/8).

AUS 2026 mengusung tema Communities in Action dengan tiga subtema, yakni Sustainability and Innovation, Inclusivity and Resilience, serta Heritage and Culture. Para peserta mengikuti sesi diskusi akademik, lokakarya, kunjungan lapangan, hingga interaksi langsung dengan komunitas.

Peserta mengunjungi sejumlah komunitas di Singapura, seperti CREUSE, Vidacity, Skillseed, Growthbeans, dan Orang Laut SG, untuk memperoleh wawasan mengenai praktik keberlanjutan, pelestarian budaya, serta pemberdayaan masyarakat. Berbekal pengalaman tersebut, peserta kemudian membentuk kelompok berisi mahasiswa dari berbagai negara dan latar belakang studi untuk mengembangkan proyek berbasis komunitas. Setiap proyek disempurnakan melalui bimbingan mentor NUSC dan sesi Project World Cafe, sebelum tim melakukan kunjungan lapangan untuk memastikan kesediaan mitra dan relevansi proyek dengan kebutuhan komunitas.

Dari 15 proyek yang memperoleh Seed Grant sebesar SG$5.000, tiga di antaranya melibatkan mahasiswa UGM. Fazmi Rizki Al Ghifari tergabung dalam tim AlirCita yang memberdayakan komunitas di Majalaya untuk menangani permasalahan banjir dan kesiapsiagaannya. Elizabeth Tyasayu Auradina tergabung dalam tim E-MOTION, yang mengembangkan board game interaktif berbasis social-emotional learning bagi anak usia 9–12 tahun di Filipina untuk membantu mereka mengenali emosi serta mengurangi stigma terhadap kesehatan mental. Adapun Clairina Elvina Indriani tergabung dalam tim Piring Ijo yang mengolah pelepah pinang dari Riau menjadi piring biodegradable dan kerajinan budaya sebagai pengganti plastik sekali pakai di Yogyakarta, sekaligus memberdayakan warga Mendungan melalui pelatihan produksi dan pengelolaan usaha.

Clairina berharap, tim Piring Ijo dapat menciptakan peluang kerja dan sumber pendapatan tambahan bagi komunitas sasaran, khususnya ibu-ibu PKK, petani, dan pemuda lokal. “Selain memberikan manfaat ekonomi, proyek ini juga diharapkan dapat meningkatkan keterampilan masyarakat dalam proses produksi, pengelolaan usaha, dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan. Masyarakat juga bisa melihat bahwa material yang selama ini dianggap sampah, seperti pelepah pinang, sebenarnya memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.

Dalam jangka panjang, ia berharap Piring Ijo mampu menumbuhkan kesadaran lingkungan, memperkuat kemandirian komunitas, serta mendorong terbentuknya ekonomi sirkular yang manfaatnya kembali kepada masyarakat. Pendanaan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk mewujudkan ide-ide proyek yang telah dikembangkan selama program berlangsung. “Keikutsertaan keenam mahasiswa UGM dalam AUS 2026 menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa UGM dalam kolaborasi internasional dan penyelesaian isu sosial serta keberlanjutan lintas negara,” pungkasnya.

Penulis : Jelita Agustine

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok Tim

Artikel Perkuat Jejaring Global, Mahasiswa UGM Ikut Project Pemberdayaan Masyarakat dari AUS pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/perkuat-jejaring-global-mahasiswa-ugm-ikut-project-pemberdayaan-masyarakat-dari-aus/feed/ 0
Lepas dari Ketergantungan Bantuan, Warga Bumirejo Diajak Olah Jagung dari Keripik Hingga Briket https://ugm.ac.id/id/berita/lepas-dari-ketergantungan-bantuan-warga-bumirejo-diajak-olah-jagung-dari-keripik-hingga-briket/ https://ugm.ac.id/id/berita/lepas-dari-ketergantungan-bantuan-warga-bumirejo-diajak-olah-jagung-dari-keripik-hingga-briket/#respond Thu, 27 Aug 2026 01:38:07 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96961 Persoalan kemiskinan struktural masih dihadapi masyarakat Kalurahan Bumirejo, Kulon Progo. Sekitar 70% dari 9.000 warga masyarakat masih bergantung pada bantuan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi tersebut juga dipengaruhi ketidakpastian pendapatan karena sebagian besar masyarakat bekerja di sektor informal. Di sisi lain, Bumirejo memiliki potensi pertanian yang cukup besar, salah satunya komoditas jagung. Selama ini, […]

Artikel Lepas dari Ketergantungan Bantuan, Warga Bumirejo Diajak Olah Jagung dari Keripik Hingga Briket pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Persoalan kemiskinan struktural masih dihadapi masyarakat Kalurahan Bumirejo, Kulon Progo. Sekitar 70% dari 9.000 warga masyarakat masih bergantung pada bantuan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi tersebut juga dipengaruhi ketidakpastian pendapatan karena sebagian besar masyarakat bekerja di sektor informal. Di sisi lain, Bumirejo memiliki potensi pertanian yang cukup besar, salah satunya komoditas jagung. Selama ini, jagung masih banyak dijual dalam bentuk mentah dengan harga yang fluktuatif.

Kondisi tersebut mendorong sekelompok mahasiswa UGM yang tergabung dalam Tim PPK Ormawa  Keluarga Mahasiswa Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (Kapstra) mengembangkan diversifikasi produk berbasis jagung dengan pendekatan ekonomi sirkular dan zero waste. Beberapa produk yang dikembangkan dalam bentuk keripik jagung, sereal jagung, teh serabut jagung, dan briket bonggol jagung.“Terdapat potensi pertanian melimpah, yaitu jagung. Jagung biasanya dijual secara mentah dengan harga yang fluktuatif,” ujar Koordinator Kiara Nadya, Kamis (27/8).

Kiara menuturkan tim Kapstra menginisiasi program Synergy Corn Innovation for Rural Empowerment (Syncorn) dalam memperkuat pemberdayaan masyarakat, peningkatan kapasitas, penguatan kelembagaan, hingga perluasan akses pasar. Pengembangan usaha tersebut dilakukan melalui Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang melibatkan sejumlah kelompok masyarakat di Kalurahan Bumirejo. Kelompok yang terlibat di antaranya Kelompok Tani (KT), Kelompok Wanita Tani (KWT), Kelompok Disabilitas Kalurahan (KDK), Bina Keluarga Remaja (BKR), dan Karang Taruna.

Selain itu, tim mengajak mahasiswa dari sejumlah program studi di UGM untuk terlibat sebagai relawan. Diantaranya UKM Peduli Difabel juga menjadi mitra pendampingan bagi KDK yang tergabung dalam KUB Syncorn. Kolaborasi tersebut dilakukan seiring meningkatnya kapasitas produksi masyarakat. “Kehadiran relawan dan mitra diharapkan dapat membantu proses produksi berjalan lebih efektif sekaligus mendukung pendampingan kelompok,” ujarnya.

Selain penguatan dari sisi eksternal, tim juga melakukan monitoring dan evaluasi bersama melalui kegiatan coaching bersama Belmawa. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk melaporkan perkembangan program sekaligus memperoleh masukan bagi perbaikan pelaksanaan kegiatan.

Serangkaian agenda juga dilakukan sebagai pelengkap, seperti konsultasi bersama PLUT KUMKM Yogyakarta dan Dinas Kesehatan Kulonprogo terkait legalitas produk, serta diskusi kolaboratif bersama Rumah Zakat Yogyakarta sebagai mitra. Agenda lainnya juga berbentuk upaya pengenalan program dan pemasaran produk untuk memperluas exposure melalui penjualan daring menggunakan live shopping Tiktok dan luring dalam pop-up store Perayaan Jumat Sore yang bertempat di GIK UGM.

Salah satu tantangan yang dihadapi tim dalam pengembagnan Syncorn ini, Kiara mengungkapkan bahwa penyusunan legalitas menjadi salah satu kendala. Tahapan pengurusan yang cukup kompleks serta server yang kerap mengalami gangguan sempat menghambat proses tersebut. Namun, setelah berkolaborasi dengan Rumah Zakat, LP3H UINSUKA, dan LPPT UGM, pengurusan legalitas dapat berjalan lebih lancar. “Setelah konsultasi dan bermitra dengan Rumah Zakat, LP3H UINSUKA, dan LPPT UGM, pengurusan legalitas jadi lebih mudah karena ada pendampingan,” ungkapnya.

Menuju Kemandirian KUB

Setelah dua bulan pelaksanaan, Syncorn menunjukkan perkembangan pada kapasitas produksi dan kemampuan masyarakat dalam mengelola usaha. Aktivitas produksi berlangsung lebih konsisten dengan kapasitas yang meningkat, sementara penerapan quality control mulai diperkuat. “Proses administrasi dan legalitas sejumlah produk juga telah memasuki tahap akhir. Perkembangan tersebut menjadi salah satu modal bagi KUB untuk melanjutkan kegiatan usaha setelah program berakhir,” katanya.

Setelah memasuki exit strategy, Tim PPK Ormawa KAPSTRA berharap KUB Syncorn dapat terus berkembang tanpa bergantung pada pendampingan tim. Keberlanjutan tersebut diharapkan dapat memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Bumirejo. “Setelah exit strategy, kami berharap KUB dapat terus berjalan secara mandiri dan berkembang lebih baik untuk mengasilkan perubahan yang lebih berkelanjutan bagi peningkatan pendapatan, kemandirian, dan kesejahteraan di Kalurahan Bumirejo,” kata Kiara.

Sukarni selaku Lurah Bumirejo sekaligus Ketua KUB Syncorn berharap produk olahan jagung yang dikembangkan melalui program tersebut dapat menjadi identitas bagi wilayahnya. Menurutnya, produk seperti keripik jagung, sereal jagung, teh serabut jagung, dan briket bonggol jagung dapat memperkenalkan potensi jagung lokal kepada masyarakat yang lebih luas.“Semoga produk dapat menjadi ikon Kalurahan Bumirejo,” ujar Sukarni.

Rangkaian kegiatan pada Juli menjadi bagian dari proses membangun kemandirian masyarakat melalui penguatan kapasitas, kelembagaan, produksi, legalitas, dan pemasaran. Dengan kolaborasi yang terus diperluas, Syncorn diharapkan dapat berkembang menjadi ekosistem usaha masyarakat yang mandiri, inklusif, dan berkelanjutan di Kalurahan Bumirejo.

Penulis : Zabrina Kumara

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Kapstra

Artikel Lepas dari Ketergantungan Bantuan, Warga Bumirejo Diajak Olah Jagung dari Keripik Hingga Briket pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/lepas-dari-ketergantungan-bantuan-warga-bumirejo-diajak-olah-jagung-dari-keripik-hingga-briket/feed/ 0
UGM Kembangkan Demplot Padi Gamagora di Lahan Tadah Hujan Merauke https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-kembangkan-demplot-padi-gamagora-di-lahan-tadah-hujan-merauke/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-kembangkan-demplot-padi-gamagora-di-lahan-tadah-hujan-merauke/#respond Wed, 26 Aug 2026 09:06:54 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96947 Kawasan Transmigrasi Muting, Merauke, Papua Selatan telah dihuni oleh transmigran dari berbagai wilayah khususnya pulau Jawa sejak sekitar tahun 1990. Hingga kini, kawasan ini telah berkembang menjadi kawasan yang semakin ramai dengan segala potensinya di sektor pertanian, perkebunan dan peternakan. Memiliki curah hujan yang cukup tinggi, dengan kondisi tanah yang relatif subur, berbagai tanaman tropis […]

Artikel UGM Kembangkan Demplot Padi Gamagora di Lahan Tadah Hujan Merauke pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kawasan Transmigrasi Muting, Merauke, Papua Selatan telah dihuni oleh transmigran dari berbagai wilayah khususnya pulau Jawa sejak sekitar tahun 1990. Hingga kini, kawasan ini telah berkembang menjadi kawasan yang semakin ramai dengan segala potensinya di sektor pertanian, perkebunan dan peternakan. Memiliki curah hujan yang cukup tinggi, dengan kondisi tanah yang relatif subur, berbagai tanaman tropis asli papua dan tanaman luar dapat tumbuh dengan baik. Meskipun demikian, beberapa jenis tanaman seperti padi mempunyai produktivitas yang belum optimal. Menurut masyarakat sekitar, produktivitas tanaman padi yang merupakan salah satu makanan pokok hanya berkisar 2 ton/ha/musim gabah kering panen (GKP), termasuk kategori rendah dibandingkan dengan produktivitas optimal yang bisa mencapai 8 ton/ha/musim. Tidak hanya itu, penanaman padi pada umumnya hanya satu kali saja dalam satu tahun. Produksi yang belum optimal ini pada umumnya hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja.

Adanya gap produksi ini perlu diatasi supaya produktivitasnya dapat meningkat dan memberikan manfaat ekonomi lebih bagi masyarakat sekitar. Identifikasi permasalahan di sektor produksi dan penilaian kesesuaian lahan diperlukan untuk dapat mengetahui penyebab belum optimalnya produktivitas tanaman padi di Muting. Berdasarkan hasil identifikasi awal dari  Tim Ekspedisi Patriot (TEP) diketahui praktek budidaya dan kualitas bibit padi diduga menjadi salah satu penyebabnya.

Hasil komunikasi TEP 1 UGM KT Muting dengan Ir. Supriyanta, M.P., Dosen Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian UGM sekaligus peneliti dan pemulia (breeder) padi varietas Gamagora 7, diperoleh informasi bahwa Gamagora cocok dikembangkan di lahan pertanian tadah hujan dengan hasil yang baik seperti yang telah diuji coba di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Demplot padi Gamagora ini merupakan bagian dari demplot terpadu tanaman pangan-pakan ternak dan konservasi air di area seluas 2.500 m² di muting. Demplot terpadu ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga mendukung ketersediaan pakan ternak, efisiensi pemanfaatan air, serta keberlanjutan lahan pertanian,” terang Supriyanta dalam keterangan yang dikirim Rabu (26/8).

Program ini menjadi bagian dari penerapan ekonomi hijau di Kawasan Transmigrasi Muting dengan mengintegrasikan sektor pangan, peternakan, dan lingkungan. Selain itu, ia meminta tim TEP UGM juga memperhatikan bahwa konservasi air sangat diperlukan untuk mengoptimalkan pemanenan air hujan, sehingga pengisian air tanah menjadi lebih optimal dan keberadaan sumber air permukaan untuk pertanian tetap tersedia di sepanjang musim kemarau. Ketersediaan air permukaan yang optimal, dapat mendukung budidaya tanaman padi sebanyak dua kali dalam setahun.

Selain itu, air juga berperan penting dalam mendukung pengembangan komoditas lainnya yaitu peternakan dan perkebunan. “Keberadaan sumber air yang melimpah dapat mendukung produksi komoditas perkebunan dan peternakan melalui penyediaan pakan ternak yang mencukupi,” jelasnya.

Sebagai upaya untuk memperkuat hasil identifikasi tersebut, dilakukan lah uji coba pembuatan demplot padi Gamagora di kampung Bouwer, Distrik Elikobel, Muting oleh Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 1 Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diketuai oleh Chandra Setyawan, S.T.P., M.Eng., Ph.D., dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Sedangkan anggota TEP terdiri dari Tri Ariani, S.T.P. (Bidang ekonomi pertanian), Khulaimi, S.P. (Bidang agronomi), Ilham Mubarok, S.T.P. (Bidang sumber daya air dan perkebunan), Ariqonitahanif Putri Rahim, S.Si. (bidang geografi dan pemetaan lahan), dan Fariz Jordan Fadillah, S.Pt., M.Sc. (bidang peternakan), yang merupakan salah satu di antara 20 TEP yang diterjunkan oleh UGM di KT Muting.

Penanaman padi Gamagora diakui Chandra diarahkan  menyesuaikan karakteristik wilayah Muting yang terbiasa  menggunakan sistem tabela (tanam benih langsung) pada lahan. Sistem tabela ini sudah umum dilakukan oleh masyarakat setempat. Karakteristik topografi yang relatif bergelompang dan sungai-sungai yang mudah mengering menjadikan pertanian tadah hujan sebagai pilihan utama Masyarakat setempat. “Pemilihan kampung Bouwer dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan air permukaan yang cukup baik yaitu pada cekungan alami dan juga pada penampungan air buatan memanjang yang telah dibuat oleh pemerintah setempat,” kata Chandra Setyawan.

Dengan sistem tabela diperkirakan memerlukan waktu panen sekitar 100-120 dari hari setelah tanam benih. Penanaman padi Gamagora dilaksanakan pada Hari Minggu, 23 Agustus lalu oleh TEP UGM bersama dengan Masyarakat dan tokoh-tokoh setempat termasuk kepala kampung dan ketua kelompok taniu setempat.

Bagi Chandra, penanaman Gamagora di Muting ini tidak hanya sekedar untuk mengatasi permasalahan produktivitas padi varietas lokal yang rendah, namun juga merupakan upaya transfer pengetahuan tentang teknik atau praktik budidaya pertanian yang baik dari UGM untuk masyarakat setempat.

Lebih jauh ia menjelaskan,terdapat tiga pelakukan pada benih padi yang ditanam yakni pertama, melakukan perlakuan kontrol dengan menanam varietas lokal, dodok erok dan gamagora menggunakan cara dan praktek konvensional yang biasa dilakukan Masyarakat setempat. Kedua, memberikan perlakuan penambahan bahan organik pembenah tanah pada varietas gamagora untuk meningkatkan dan mempertahankan kandungan lengas tanah dalam waktu yang lebih lama dan ketiga, perlakuan penambahan bahan organik dengan menerapkan konsep sistem of rice intensification (SRI) melalui pemberian irigasi intermitten sesuai dengan kebutuhan air. “Melalui pemodelan kebutuhan air tanaman, maka akan diketahui berapa lama durasi penyiraman air irigasi yang optimal sehingga tanaman padi tidak mencapai kondisi titik layu permanen dan dapat menghasilkan produktivitas yang optimal,” pungkasnya.

Penulis : Jelita Agustine

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Tim Patriot

Artikel UGM Kembangkan Demplot Padi Gamagora di Lahan Tadah Hujan Merauke pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-kembangkan-demplot-padi-gamagora-di-lahan-tadah-hujan-merauke/feed/ 0
Remaja Aktif, Generasi Sehat https://ugm.ac.id/id/berita/remaja-aktif-generasi-sehat/ https://ugm.ac.id/id/berita/remaja-aktif-generasi-sehat/#respond Thu, 20 Aug 2026 06:00:09 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96818 Rutin melakukan aktivitas fisik menjadi satu fondasi utama menopang kesehatan para remaja. Sebab, aktivitas fisik bermanfaat dalam menjaga pertumbuhan, kebugaran, kesehatan mental, hingga pencegahan penyakit tidak menular. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), melaporkan 1 dari 4 orang dewasa dan 3 dari 4 remaja umur 11-17 tahun tidak memenuhi standar aktivitas fisik yang dianjurkan. Sementara hasil […]

Artikel Remaja Aktif, Generasi Sehat pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Rutin melakukan aktivitas fisik menjadi satu fondasi utama menopang kesehatan para remaja. Sebab, aktivitas fisik bermanfaat dalam menjaga pertumbuhan, kebugaran, kesehatan mental, hingga pencegahan penyakit tidak menular. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), melaporkan 1 dari 4 orang dewasa dan 3 dari 4 remaja umur 11-17 tahun tidak memenuhi standar aktivitas fisik yang dianjurkan. Sementara hasil survei Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, diketahui sebanyak 33,5% masyarakat kurang melakukan aktivitas fisik.

Untuk mengenalkan pentingnya manfaat aktivitas fisik bagi kesehatan di kalangan remaja, Departemen Fisiologi bersama Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial,  FK-KMK UGM,  mengenalkan program Be Active Be Healthy bagi Guru SMA/SMK di Kabupaten Sleman” yang berlangsung di Laboratorium Praktikum Terpadu FK-KMK UGM. Sebanyak 35 orang guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) dari SMA dan SMK di Kabupaten Sleman mengikuti pelatihan ini dengan antusias.

Asisten Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Alumni, dan Pengabdian kepada Masyarakat FK-KMK UGM, Dr. dr. Muhammad Nurhadi Rahman, Sp.OG., Subsp. Urogin-RE. menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam membangun ekosistem pendidikan yang mampu mendukung kesehatan peserta didik melalui penerapan gaya hidup aktif dan sehat. “Saya berharap sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan sekolah dalam mengembangkan program promosi kesehatan berbasis bukti ilmiah semakin kuat kedepannya,” kata Nurhadi dalam keterangan yang dikirim kamis (20/8).

Dosen Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial (HBES) FK-KMK UGM, Dr. Supriyati, S.Sos., M.Kes., mengatakan program Be Active Be Healthy ini dirancang untuk menginspirasi dan memotivasi guru serta seluruh warga sekolah dalam menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas fisik secara berkelanjutan. “Budaya hidup aktif dapat menjadi bagian dari keseharian semua Masyarakat sekolah, baik, siswa maupun guru,” katanya.

Melalui interaksi dan diskusi aktif antar peserta diharapkan para guru PJOK tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan, tetapi juga memiliki keterampilan untuk mengimplementasikan Program Be Active Be Healthy secara berkelanjutan sehingga mampu menjadi agen perubahan dalam membangun budaya hidup aktif dan sehat di lingkungan sekolah. Selanjutnya, agen perubahan juga akan dibentuk dari unsur siswa. “Saya berharap implementasi program ini mampu meningkatkan aktivitas fisik remaja, membentuk kebiasaan hidup sehat sejak usia sekolah, serta mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang lebih memungkinkan untuk hidup  lebih sehat, aktif, dan produktif,” harap Supriyati.

Ketua pelaksana kegiatan pelatihan, Prof. Dr. dr. Denny Agustiningsih, mengatakan kegiatan pengabdian ini merupakan hasil kerja sama antara FK-KMK UGM dengan Balai Pendidikan Menengah Kabupaten Sleman sebagai upaya memperkuat peran sekolah dalam membangun budaya hidup aktif dan sehat di kalangan remaja. “Kita memperkenalkan rekomendasi aktivitas fisik bagi remaja berdasarkan pedoman internasional serta strategi implementasinya di lingkungan sekolah,” jelasnya.

Sementara Dosen Departemen Fisiologi, FK-KMK UGM,  Dr. dr. Rahmaningsih Mara Sabirin, M.Sc., menuturkan para remaja sebaiknya mampu membangun kebiasaan hidup sehat sejak melalui penerapan pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik yang cukup, istirahat yang memadai, serta pengelolaan kesehatan secara menyeluruh sebagai bekal menuju kehidupan yang produktif di masa depan.

Penulis: Jesi

Editor: Gusti Grehenson

Foto: Magnific

Artikel Remaja Aktif, Generasi Sehat pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/remaja-aktif-generasi-sehat/feed/ 0
Respons Gempa NTT, UGM Kerahkan Tim Medis dan Bantuan Obat  https://ugm.ac.id/id/berita/respons-gempa-ntt-ugm-kerahkan-tim-medis-dan-bantuan-obat/ https://ugm.ac.id/id/berita/respons-gempa-ntt-ugm-kerahkan-tim-medis-dan-bantuan-obat/#respond Wed, 19 Aug 2026 08:30:22 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96780 Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM melepas enam personel Tim Tanggap Bencana untuk merespons dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), sekaligus menyerahkan bantuan obat-obatan dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) yang akan didistribusikan kepada masyarakat terdampak bencana. Kegiatan tersebut dipimpin oleh Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., […]

Artikel Respons Gempa NTT, UGM Kerahkan Tim Medis dan Bantuan Obat  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM melepas enam personel Tim Tanggap Bencana untuk merespons dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), sekaligus menyerahkan bantuan obat-obatan dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) yang akan didistribusikan kepada masyarakat terdampak bencana. Kegiatan tersebut dipimpin oleh Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, dan berlangsung di Kantor Pusat Tata Usaha (KPTU) FK-KMK UGM, Rabu (19/8), dengan turut dihadiri Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi, M.P.H., serta Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Bencana FK-KMK UGM, Sutono, S.Kp., M.Sc., M.Kep

Pengiriman tim merupakan bagian dari respons FK-KMK UGM bersama Academic Health System UGM (AHS UGM) dan jejaring kesehatan untuk mendukung penanganan bencana di wilayah terdampak. Tim akan menjalankan misi mulai 19 hingga 30 Agustus 2026 dengan fokus pada asesmen kebutuhan dan penguatan pelayanan kesehatan di sejumlah wilayah di NTT.

Ketua Pokja Bencana FK-KMK UGM, Sutono, menjelaskan bahwa pengiriman tim dilakukan sebagai bentuk respons cepat setelah memperoleh informasi mengenai kondisi bencana di NTT. Menurutnya, respons tersebut dilakukan melalui koordinasi lintas jejaring agar kebutuhan di lapangan dapat diidentifikasi dan ditangani secara tepat. “Ketika ada info bencana di sana (NTT), sebagai respons tercepat, kami tim tanggap respons bencana bekerja sama dengan Academic Health System UGM (AHS UGM) dan jejaring dengan Dinas Kesehatan, berkoordinasi dan memutuskan mengirimkan tim bencana ke wilayah-wilayah yang memang saat ini dibutuhkan,” jelas Sutono.

Dekan FK-KMK UGM, Prof. Yodi, secara simbolis melepas enam personel yang terdiri atas tim manajemen bencana dari FK-KMK UGM dan tim medis dari Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM.

Tiga personel dari tim manajemen bencana FK-KMK UGM terdiri atas Happy R. Pangaribuan, MPH, Vina Yulia Anhar, MPH, dan Gde Yulian Yogadhita, Apt., M.Epid. Sementara itu, tim medis dari RSA UGM terdiri atas dr. Rizki Fitria Febrianti (dokter umum), Andhika Robbi Nugraha, S.Kep., Ns. (perawat), dan Agus Damar Septiaji, S.Tr.Kep., Ners (perawat).

“Kita melepas keberangkatan enam personel terbaik dari FK-KMK dan RSA UGM yang tergabung dalam tim manajemen bencana dan tim medis. Misi kali ini kita merespons permintaan dari pusat krisis untuk memperkuat tata kelola penanganan bencana di tiga daerah di NTT yang ditugaskan mulai 19–30 Agustus,” ujar Prof. Yodi.

Ia menjelaskan, keberangkatan tim tidak hanya ditujukan untuk memberikan pelayanan medis, tetapi juga melakukan asesmen terhadap kebutuhan masyarakat terdampak. Asesmen menjadi penting agar bantuan dan dukungan lanjutan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan. “Timnya akan melakukan asesmen di lapangan dan dari situ kita akan bisa mengidentifikasi kebutuhan realnya apa. Karena ini kan butuh informasi dari lapangan. Dan juga butuh koordinasi karena banyak pihak yang terlibat. Supaya lebih tepat sasaran, maka kita menyiapkan tim asesmen ini,” jelasnya.

Hasil asesmen tersebut nantinya akan menjadi dasar bagi FK-KMK UGM dalam menentukan bentuk dukungan berikutnya. Tim di lapangan akan berkoordinasi dengan berbagai pihak, baik pemerintah daerah maupun jejaring kesehatan setempat, untuk memastikan respons yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Selain mengirimkan personel, FK-KMK UGM juga membawa bantuan obat-obatan yang dititipkan oleh Pemda DIY. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi, kepada FK-KMK UGM untuk selanjutnya didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Sejumlah obat dan perlengkapan kesehatan yang dikirimkan antara lain parasetamol tablet, parasetamol sirup, multivitamin, ibuprofen, antasida, cetirizine, serta cairan infus. Bantuan juga dilengkapi dengan masker dan sarung tangan medis. “Di sana ada parasetamol tablet, parasetamol sirup, kemudian multivitamin, kemudian ada ibuprofen, antasida, cetirizine, bahkan infus juga kami siapkan. Selain itu, masker dan handscoon juga kami sertakan,” ujar Anung.

Anung mengatakan, Pemda DIY secara keseluruhan telah menyiapkan sekitar 240 kilogram bantuan obat-obatan untuk mendukung penanganan masyarakat terdampak bencana. Namun, pada tahap awal, sekitar 40 kilogram bantuan diserahkan kepada tim FK-KMK UGM untuk segera dibawa ke NTT. “Terima kasih kepada FK-KMK UGM yang sudah bersedia untuk berkolaborasi atas nama Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta. Tim UGM ini termasuk yang pertama yang kami titipkan bantuan obat-obatan dari Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta,” tutur Anung.

Ia menambahkan, keterbatasan waktu dan kapasitas angkutan membuat bantuan yang dikirim pada tahap pertama belum mencakup seluruh logistik yang telah disiapkan. Meski demikian, Pemda DIY mengapresiasi kesediaan FK-KMK UGM untuk membawa bantuan tersebut bersamaan dengan keberangkatan tim tanggap bencana.

“Jadi memang ada sekitar 240 kg yang kami siapkan. Dalam tahap pertama ini, kami kirimkan mungkin 40 kg dulu kepada FK-KMK UGM karena keterbatasan waktu dan persiapan. Tapi kami ucapkan terima kasih, di sela-sela keterbatasan angkutan dan bagasi pun FK-KMK UGM masih bisa menyampaikan bantuan obat-obatan tersebut agar bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat yang terdampak,” jelasnya.

Yodi menegaskan bahwa bantuan obat-obatan tersebut merupakan amanah yang harus dipastikan sampai kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Oleh karena itu, pendistribusian obat akan disesuaikan dengan hasil asesmen dan koordinasi tim di lapangan. “Kita juga mengemban amanah logistik yang sangat penting. Sudah ada penyerahan simbolis tadi untuk pengobatan. Ini yang harus saya pastikan nanti sampai dan didistribusikan dengan tepat pada masyarakat yang membutuhkan,” ungkap Prof. Yodi.

Dari sisi pelayanan kesehatan, tim medis akan menjalankan fungsi sebagai tim awal yang melakukan rapid health assessment atau penilaian cepat kondisi kesehatan masyarakat terdampak. Salah satu lokasi yang menjadi sasaran awal tim adalah Kabupaten Ngada.

Dokter umum RSA UGM, dr. Rizki Fitria Febrianti, salah satu anggota tim medis, menjelaskan bahwa asesmen dilakukan untuk mengetahui kebutuhan prioritas di lapangan, baik berupa dukungan logistik maupun pelayanan medis. “Jadi kami akan jadi tim pertama yang berangkat ke NTT. Nanti sasaran kami di Kabupaten Ngada. Kemudian di sana kami akan melakukan rapid health assessment karena kami tim awal yang berangkat. Jadi kami mau asesmen dulu kebutuhan-kebutuhan apa yang akan diperlukan di sana, apakah lebih ke logistik atau ke tim medis,” jelas Rizki.

Selain melakukan asesmen, tim medis juga akan menjalankan fungsi sebagai Emergency Medical Team (EMT) untuk membantu pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.

Menurut dr. Rizki, kondisi pascagempa memiliki sejumlah risiko kesehatan yang perlu menjadi perhatian, khususnya kasus trauma dan luka. Terlebih, adanya informasi mengenai fasilitas kesehatan yang turut terdampak membuat penilaian ulang terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan menjadi penting. “Kalau di sana kan kasusnya saat ini gempa. Jadi kalau gempa itu banyaknya kasus trauma, luka. Perawatan luka di sana juga dibutuhkan. Kemudian karena beberapa rumah sakit juga diinfokan collapse, jadi nanti kita tetap ada rapid health assessment awal. Jadi di sana nanti kita asesmen ulang,” ungkapnya.

Hasil asesmen tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi kesehatan masyarakat dan kapasitas pelayanan kesehatan yang tersedia. Informasi tersebut selanjutnya akan dikoordinasikan dengan FK-KMK UGM dan pihak-pihak terkait sebagai dasar untuk menentukan bentuk respons dan dukungan berikutnya.

Dalam pelepasan tersebut, Yodi berpesan agar seluruh personel mengedepankan fleksibilitas dan kesiapsiagaan selama menjalankan misi kemanusiaan. Menurutnya, kondisi di lokasi bencana dapat berubah dengan cepat sehingga tim harus mampu menyesuaikan diri berdasarkan kebutuhan lapangan.

Ia juga menekankan pentingnya keselamatan personel sebagai prioritas utama selama menjalankan tugas.“Fleksibilitas dan kesiapsiagaan dalam pergerakan tim. Kedua, utamakan keselamatan, safety first. Pastikan keselamatan diri Anda dan tim terjaga dengan baik dalam setiap pergerakan,” pesan Yodi.

Selain keselamatan, koordinasi menjadi aspek penting dalam memastikan efektivitas respons bencana. Tim lapangan diharapkan menjaga komunikasi dengan perwakilan di tingkat provinsi maupun berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam penanganan bencana.

Melalui pengiriman tim manajemen bencana dan tim medis serta pendistribusian bantuan obat-obatan tersebut, FK-KMK UGM berupaya memperkuat respons kesehatan pascabencana di NTT. Pendekatan berbasis asesmen diharapkan memastikan setiap dukungan yang diberikan tidak hanya cepat, tetapi juga tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak.

Penulis : M. Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Respons Gempa NTT, UGM Kerahkan Tim Medis dan Bantuan Obat  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/respons-gempa-ntt-ugm-kerahkan-tim-medis-dan-bantuan-obat/feed/ 0
Kiprah Dosen UGM, Mengubah Wajah Kampung Kumuh Menjadi Bersih dan Lestari https://ugm.ac.id/id/berita/kiprah-dosen-ugm-mengubah-wajah-kampung-kumuh-menjadi-bersih-dan-lestari/ https://ugm.ac.id/id/berita/kiprah-dosen-ugm-mengubah-wajah-kampung-kumuh-menjadi-bersih-dan-lestari/#respond Tue, 18 Aug 2026 06:07:20 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96729 Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Terpilihnya sebagai bagian dari 32 nominasi Program Kampung Iklim (ProKlim) Lestari 2026 yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup. Program kampung iklim Lestari ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemerintah daerah dalam memitigasi dampak dari perubahan iklim dan efek gas rumah kaca. Dosen Fakultas Kehutanan […]

Artikel Kiprah Dosen UGM, Mengubah Wajah Kampung Kumuh Menjadi Bersih dan Lestari pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Terpilihnya sebagai bagian dari 32 nominasi Program Kampung Iklim (ProKlim) Lestari 2026 yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup. Program kampung iklim Lestari ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemerintah daerah dalam memitigasi dampak dari perubahan iklim dan efek gas rumah kaca.

Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Ir. Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D., IPU, atau kerap disapa sebagai Atus, terlibat secara langsung dalam pengembangan program kampung iklim di padukuhan Sangurejo. Pasalnya, padukuhan ini sebelumnya dikenal sebagai kawasan kumuh namun kemudian memulai perjalanan panjangnya sebagai salah satu kampung ProKlim melalui berbagai upaya pembenahan lingkungan.

Menurut Atus, pembenahan dilakukan melalui berbagai aspek, mulai dari pengelolaan lingkungan, konservasi air, pengembangan desa wisata, dan pengelolaan sampah hingga kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. “Berbagai pembenahan melalui pengelolaan lingkungan, konservasi air, pengembangan desa wisata, pengelolaan sampah, serta kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dilakukan oleh Sangurejo,” katanya, Sekasa (18/8).

Maka dari itu, pendampingan ProKlim Sangurejo difokuskan oleh Atus pada penguatan kolaborasi akademik, penelitian, pemberdayaan masyarakat, pembekalan mahasiswa KKN, serta praktikum kurator keanekaragaman hayati di kampung iklim. Bagi Atus, perjalanan Sangurejo menuju ProKlim Lestari merupakan sebuah bukti jika pengelolaan lingkungan yang dibarengi oleh keterlibatan masyarakat dapat berkembang bila didukung oleh beberapa sektor. Partisipasi pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, dan organisasi kemasyarakatan, menempatkan kekuatan Sangurejo tak hanya pada program lingkungannya tetapi juga melalui kemahiran dalam berjejaring.  “Ini bukan pekerjaan satu orang. Banyak potensi dan banyak pihak yang selama ini sudah bergerak. Energi dan semangat tersebut perlu disatukan agar gerakan lingkungan di Sangurejo semakin kuat dan berkelanjutan,” ujar Atus.

Salah satu pengembangan yang dilakukan UGM untuk Sangurejo adalah pembekalan mahasiswa KKN oleh Atus selaku Dosen Pembimbing Lapangan. Status Sangurejo sebagai ProKlim menjadikan mahasiswa tidak hanya berfokus pada kegiatan pengabdiannya, tetapi belajar untuk mengidentifikasi potensi lokal, mendokumentasikan praktik pengelolaan lingkungan, mengembangkan edukasi masyarakat, serta mendukung kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Pendekatan tersebut mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman masyarakat. Potensi keanekaragaman hayati, pengelolaan sampah, konservasi tanah dan air, penghijauan, pengembangan ekonomi berbasis lingkungan, serta penguatan kelembagaan masyarakat menjadi bagian dari proses pembelajaran dan pemberdayaan.

Menurut Atus, keterlibatan mahasiswa dalam ProKlim juga menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk memastikan bahwa pengetahuan yang dikembangkan di kampus dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.“Program KKN menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dan praktik di masyarakat. Mahasiswa dapat belajar dari masyarakat, sementara masyarakat memperoleh dukungan pengetahuan, dokumentasi, dan inovasi yang dapat memperkuat program lingkungan yang sudah berjalan,” jelasnya.

Lebih lanjut, kiprah Sangurejo sebagai ProKlim  kemudian diperkuat dengan pengembangan jejaring mitra binaan. Berdasarkan Surat Keputusan DLH Kabupaten Sleman, Sangurejo memiliki 12 lokasi mitra binaan, yakni Padukuhan Kuwang, Gondangan, Banjeng, Nganggring, Parakan Kulon, Kranggan II, Sedogan, Dayakan, Koroulon Lor, Kloposawit, Krasaan, Sindon, dan Plosorejo. Jejaring tersebut turut menjadi bukti praktik adaptasi perubahan iklim di Sangurejo diperluas ke wilayah lainnya yang juga melibatkan berbagai unsur.

Atus menilai jejaring merupakan  modal sosial penting untuk menjaga keberlanjutan ProKlim. “Perguruan tinggi memiliki peran dalam memperkuat basis pengetahuan dan inovasi, sedangkan masyarakat menjadi aktor utama yang menjalankan praktik lingkungan secara berkelanjutan,” tambah Atus.

Tak hanya itu, salah satu inovasi yang dikembangkan di perjalanan menuju ProKlim adalah pemanfaatan limbah kulit salak sebagai bahan ecoprint. Produk yang dikembangkan masyarakat melalui ECSA (Ecoprint & Craft Sangurejo) tersebut telah mengikuti berbagai pameran dan menjadi koleksi Hortus Botanicus Leiden, Belanda.

Pengelolaan sampah juga menjadi bagian penting dari gerakan masyarakat. Berbagai kegiatan dilakukan melalui edukasi, pengurangan dan pemanfaatan sampah, serta penguatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan lingkungan dari tingkat rumah tangga.

Tak hanya pendekatan teknis, pengembangan ProKlim Sangurejo juga mengintegrasikan pendekatan sosial dan keagamaan. Nilai-nilai ekoteologi atau dakwah ekologi digunakan untuk mendorong kesadaran menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia. Pendekatan tersebut menempatkan prinsip amanah, keseimbangan (mizan), dan larangan melakukan kerusakan (fasad) sebagai landasan moral dalam pengelolaan lingkungan. “Implementasinya dilakukan melalui edukasi, penanaman pohon, pengelolaan sampah, konservasi air, dan berbagai aksi lingkungan berbasis masyarakat,” ujarnya.

Pembina ProKlim Sangurejo, Agus Kurniawan, mengatakan proses menuju ProKlim Lestari merupakan bagian dari perjalanan panjang masyarakat dalam mengembangkan berbagai kegiatan lingkungan. Persiapan verifikasi dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan masyarakat dan berbagai mitra.

Menurutnya, penguatan keanekaragaman hayati lokal, pengelolaan lingkungan, dokumentasi kegiatan, hingga penataan kawasan menjadi bagian dari persiapan Sangurejo.

Sementara itu, Ketua ProKlim Sangurejo, M. Chairul Huda, mengatakan capaian ProKlim Utama pada 2024 merupakan hasil kerja bersama masyarakat dan pemerintah, seperti yang diketahui jika Sangurejo sebelumnya juga memperoleh penghargaan sebagai Padukuhan Tangguh Iklim tingkat Provinsi DIY.

Atus menegaskan, capaian ProKlim Lestari bukan semata-mata tujuan akhir berupa penghargaan. Lebih dari itu, proses tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat model pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat yang dapat dipelajari, dikembangkan, dan direplikasi di wilayah lain. “Yang terpenting bukan hanya predikatnya, tetapi bagaimana pengetahuan, praktik baik, dan jejaring yang sudah dibangun dapat terus tumbuh. Di sinilah perguruan tinggi, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat dapat bekerja bersama untuk menjaga keberlanjutan lingkungan,” pungkas Atus.

Penulis: Zabrina Kumara

Editor: Gusti Grehenson

Foto: Dok. Atus

Artikel Kiprah Dosen UGM, Mengubah Wajah Kampung Kumuh Menjadi Bersih dan Lestari pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kiprah-dosen-ugm-mengubah-wajah-kampung-kumuh-menjadi-bersih-dan-lestari/feed/ 0
Sulap Lahan Terbengkalai Jadi Sumber Ketahanan Pangan https://ugm.ac.id/id/berita/sulap-lahan-terbengkalai-jadi-sumber-ketahanan-pangan/ https://ugm.ac.id/id/berita/sulap-lahan-terbengkalai-jadi-sumber-ketahanan-pangan/#respond Thu, 13 Aug 2026 06:38:33 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96606 Universitas Gadjah Mada terus mendorong penguatan ketahanan pangan masyarakat melalui program pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan secara berkelanjutan. Salah satunya melalui kegiatan pengabdian Dusun Kledokan, Kelurahan Caturtunggal, Sleman, yang mana telah memasuki tahun ketiga. Program penguatan ketahanan pangan ini dilaksanakan dengan menggandeng Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat yang dinilai aktif dalam mengelola dan memanfaatkan lahan. […]

Artikel Sulap Lahan Terbengkalai Jadi Sumber Ketahanan Pangan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada terus mendorong penguatan ketahanan pangan masyarakat melalui program pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan secara berkelanjutan. Salah satunya melalui kegiatan pengabdian Dusun Kledokan, Kelurahan Caturtunggal, Sleman, yang mana telah memasuki tahun ketiga. Program penguatan ketahanan pangan ini dilaksanakan dengan menggandeng Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat yang dinilai aktif dalam mengelola dan memanfaatkan lahan. Kegiatan ini berangkat dari semangat untuk memberikan manfaat bagi masyarakat di lingkungan sekitar kampus sekaligus mendorong pemanfaatan lahan yang sebelumnya belum optimal.

Dr. Dra. Raden Roro Upiek Ngesti Wibawaning Astuti, B.Sc., DAP&E. M.Biomed,  ketua tim pengabdian dari Fakultas Biologi UGM ini mengatakan, dusun Kledokan dipilih karena memiliki KWT yang aktif dan memiliki semangat tinggi dalam mengembangkan pemanfaatan lahan. “Kolaborasi kita arahkan untuk mengubah lahan yang sebelumnya terbengkalai menjadi lahan produktif yang dapat mendukung kebutuhan pangan masyarakat,” katanya, Rabu (13/8).

Memasuki tahun ketiga, program tersebut telah berkembang dengan berbagai fasilitas pendukung, seperti rumah hidroponik dan kolam lele. Pemanfaatan lahan juga tidak hanya dilakukan pada lahan bersama, tetapi juga diterapkan di lingkungan rumah warga dengan menggunakan polybag. “Harapannya, dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan, Dusun Kledokan bisa mandiri pangan nantinya,” tuturnya.

Kegiatan pengabdian tidak hanya berorientasi pada produksi tanaman, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat dan generasi muda mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan outing class sebagai bentuk sinergi edukasi wisata. Melalui kegiatan tersebut, anak-anak diperkenalkan pada berbagai tanaman pangan yang dapat dibudidayakan di lingkungan sekitar, seperti cabai, terong, ketela, sawi, kacang tanah, serta berbagai tanaman sayuran lainnya. Selain tanaman, terdapat pula kolam kecil yang dimanfaatkan untuk budidaya lele.

Menurut Upiek, edukasi bagi anak-anak ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa lingkungan di sekitar rumah dapat dimanfaatkan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga. “Setidaknya, hal tersebut bisa membantu meningkatkan ekonomi keluarga. Jadi, keluarga bisa memenuhi sebagian kebutuhannya sendiri dari lingkungan sekitar,” jelasnya.

Jenis tanaman yang dibudidayakan juga disesuaikan dengan kebutuhan dan waktu panen. Program lebih banyak memilih tanaman yang dapat dipanen dalam waktu relatif singkat, sekitar tiga bulan. Beberapa di antaranya adalah bayam, kangkung, singkong, cabai, terong, kol, kubis, dan berbagai tanaman sayuran lainnya.

Selain tanaman pangan, kawasan tersebut juga memiliki Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang dikenal sebagai “Tanaman Surga”. Di dalamnya terdapat berbagai tanaman obat seperti jahe, kencur, dan tanaman lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga.

Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Dusun Kledokan, Martin Sumarahayu, menyampaikan bahwa dalam tiga tahun KWT Kledokan mengalami perkembangan yang sangat baik. Disini para anggota dibimbing dan diberi pelatihan oleh tim Pengabdian untuk dapat berdaya pangan. “Kami berterima kasih kepada UGM dan Fakultas Biologi, kelompok Wanita Tani kami ini semakin maju dan semakin banyak anggota. Manfaatnya ibu-ibu itu bisa membantu perekonomian anggota,” terangnya.

Keberlanjutan program tidak terlepas dari peran aktif KWT yang secara rutin merawat lahan. Para anggota KWT yang tinggal di sekitar lokasi bergiliran melakukan perawatan tanaman, termasuk menyiram pada pagi dan sore hari. Sistem yang digunakan adalah piket harian dengan pembagian kelompok-kelompok setiap harinya. “Misal Hari Senin adalah jadwa kelompok A untuk membersihkan rumput kemudian Hari Selasa untuk kelompok B untuk menyirami tanaman, begitu seterusnya,” jelasnya. Ia juga menambahkan, dengan kerja sama yang kompak para anggota bisa merasakan panen dengan hasil yang bagus dan melimpah. “Ibu-Ibu senang apabila hasil panennya melimpah, selain bisa mencukupi kebutuhan di rumah, hasilnya juga bisa dijual sehingga menambah pemasukan Ibu-ibu,” ungkapnya.

Lahan yang digunakan saat ini merupakan tanah kas desa dengan luas sekitar 800 meter persegi. Dukungan pemerintah kelurahan menjadi salah satu faktor penting dalam keberlanjutan program. Kelurahan menyediakan lahan yang dapat dimanfaatkan KWT untuk kegiatan budidaya tanaman pangan.

Selain pendampingan, program juga diawali dengan sosialisasi dan berbagai pelatihan. Tim pengabdian menggandeng sejumlah pihak, termasuk penyuluh pertanian, penyuluh lingkungan, dinas terkait, serta pihak lainnya. “Alhamdulillah, kami juga didukung oleh Kelurahan dan Pemerintah Kabupaten Sleman, sehingga program ini bisa berkelanjutan,” ungkap Upiek.

Dukungan juga dilakukan dalam penyediaan bibit tanaman. Tim pengabdian memanfaatkan jejaring yang telah terbangun dari kegiatan pengabdian sebelumnya di Kulon Progo untuk memperoleh bibit yang kemudian dikembangkan oleh KWT di Kledoan.

Kepala Dukuh Kledokan, Punjul Santoso, menyampaikan rasa terima kasih atas terjalinnya kesempatan kolaborasi antara UGM dan Dusun Kledokan. “Harapan untuk kedepan berkaitan dengan UGM dan Fakultas Biologi ini, saya berharap selalu terus berkelanjutan. Tentunya semua ini sangat bermanfaat untuk kita semua warga Padukuhan Kledokan. Dan juga dengan kegiatan outing class ini bisa memberikan semangat untuk anak-anak belajar mengenai tanaman pangan disekitar. Tentunya untuk mengenal berbagai macam sayuran dan juga obat keluarga, itu sangat memberikan manfaat untuk kita semua di lingkungan masyarakat padukuhan,” ucap Punjul.

Selain memenuhi kebutuhan keluarga, hasil kebun yang berlebih juga mulai memiliki nilai ekonomi. Hasil panen seperti cabai, kangkung, dan terong dapat dipasarkan kepada warung makan dan pedagang sayur di sekitar lokasi.

Pemasaran dilakukan dengan memanfaatkan WhatsApp dan Instagram. Ketika tanaman memasuki masa panen, informasi disampaikan kepada calon pembeli. Dengan demikian, sebagian hasil panen bahkan telah memiliki calon pembeli sebelum dipanen. “Kalau mau panen, cara penjualannya sudah melalui WhatsApp dan Instagram. Misalnya kami menginformasikan, ‘Kami mau panen cabai.’ Nanti warung-warung langsung mengambil,” jelasnya. Meski demikian, pemanfaatan untuk kebutuhan keluarga tetap menjadi prioritas. Hasil panen yang berlebih kemudian baru dipasarkan kepada masyarakat sekitar.

Tidak hanya tanaman sayuran, program juga mengembangkan potensi tanaman pisang yang dinilai memiliki hasil baik. Pisang yang dipanen kemudian diolah menjadi keripik oleh anggota KWT. Produk tersebut tersedia dalam berbagai varian rasa, seperti asin dan manis. Untuk saat ini, produk olahan tersebut masih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga besar PKK di Kledoan maupun kegiatan tertentu. Namun, pengembangan produk tersebut menjadi salah satu potensi ekonomi yang dapat terus dikembangkan ke depan.

Ke depan, kegiatan pengabdian di Kledokan diharapkan dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam mendukung ketahanan pangan dan penyediaan bahan pangan dari lingkungan sekitar.

Selain manfaat ekonomi, keberadaan kebun pangan dan TOGA juga diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan tanaman untuk kebutuhan keluarga. “Harapannya kegiatan ini bisa terus berlanjut. Yang pasti, kegiatan ini mendukung ketahanan pangan dan menyiapkan berbagai bahan yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar, khususnya masyarakat di sekitar lokasi kegiatan,” ujar Upiek.

Lebih jauh, praktik yang dikembangkan di Kledokan diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain untuk mengoptimalkan potensi lingkungan masing-masing. Keterbatasan lahan tidak harus menjadi hambatan dalam membangun ketahanan pangan, karena pemanfaatan lahan dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah dan dilakukan mulai dari lingkungan rumah.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kelurahan, KWT, dan masyarakat, program pengabdian tersebut menunjukkan bahwa upaya membangun ketahanan pangan dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Keberlanjutan program menjadi kunci agar lahan yang tersedia tidak hanya produktif dalam jangka pendek, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat secara berkelanjutan.

Penulis : Jelita Agustine

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Hanifah

Artikel Sulap Lahan Terbengkalai Jadi Sumber Ketahanan Pangan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/sulap-lahan-terbengkalai-jadi-sumber-ketahanan-pangan/feed/ 0
UGM Bekali Tim Ekspedisi Patriot 2026 untuk Pengabdian di Papua Selatan dan Maluku Utara https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-bekali-tim-ekspedisi-patriot-2026-untuk-pengabdian-di-papua-selatan-dan-maluku-utara/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-bekali-tim-ekspedisi-patriot-2026-untuk-pengabdian-di-papua-selatan-dan-maluku-utara/#respond Sat, 01 Aug 2026 00:45:45 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96089 Universitas Gadjah Mada melalui Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) membekali Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 sebelum diterjunkan ke kawasan transmigrasi di Provinsi Papua Selatan dan Maluku Utara. Melalui workshop yang diselenggarakan pada 23 Juli 2026 silam, peserta memperoleh pembekalan mengenai kesehatan mental, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), manajemen risiko, hingga pemahaman sosial budaya sebagai bekal […]

Artikel UGM Bekali Tim Ekspedisi Patriot 2026 untuk Pengabdian di Papua Selatan dan Maluku Utara pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada melalui Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) membekali Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 sebelum diterjunkan ke kawasan transmigrasi di Provinsi Papua Selatan dan Maluku Utara. Melalui workshop yang diselenggarakan pada 23 Juli 2026 silam, peserta memperoleh pembekalan mengenai kesehatan mental, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), manajemen risiko, hingga pemahaman sosial budaya sebagai bekal menjalankan program pengabdian di lapangan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian persiapan bagi alumni UGM dan mitra dari berbagai perguruan tinggi yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot 2026.

Workshop dirancang untuk memperkuat kesiapan peserta, baik dari aspek teknis maupun kemampuan beradaptasi dengan masyarakat di wilayah penugasan. Selain mengikuti berbagai materi pembekalan, peserta juga berdiskusi dengan perwakilan pemerintah daerah agar program yang dijalankan mampu menjawab kebutuhan masyarakat setempat. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendukung pelaksanaan pengabdian yang lebih tepat sasaran sekaligus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan di daerah.

Ketua Tim Ekspedisi Patriot UGM, Muklis, mengatakan workshop menjadi pelengkap dari berbagai persiapan yang telah dilakukan sebelum keberangkatan. Menurutnya, selain memperkuat pemahaman mengenai materi teknis, peserta juga memperoleh simulasi penanganan kondisi darurat dan perlengkapan kesehatan yang akan mendukung pelaksanaan tugas di lapangan. “Pembekalan ini sangat lengkap karena tidak hanya membahas materi, tetapi juga memberikan simulasi menghadapi situasi darurat. Kami juga mendapatkan perlengkapan kesehatan yang tentu sangat bermanfaat sebagai bekal di lapangan,” ujarnya.

Bagi peserta, pembekalan tersebut memberikan gambaran mengenai tantangan yang akan dihadapi selama menjalankan pengabdian. Tri Nuryati, anggota Tim Ekspedisi Patriot 2026 yang akan bertugas di Kawasan Transmigrasi Muting, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, menilai materi yang diberikan relevan dengan kebutuhan di lapangan. “Workshop ini sangat bermanfaat dan relevan untuk kami, terutama karena mendapatkan materi mulai dari kesehatan hingga manajemen risiko. Harapannya teman-teman Patriot dapat menjalankan program dengan lancar dan selalu diberikan kesehatan,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan peserta Tim Ekspedisi Patriot UGM 2026, Bima Aditya, yang juga akan ditempatkan di Muting, Kabupaten Merauke. Ia berharap seluruh peserta dapat menjalankan pengabdian dengan baik serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat di wilayah penempatan. “Saya berharap kami dari Tim Ekspedisi Patriot UGM dapat memberikan kebermanfaatan, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi masyarakat di daerah penempatan. Seperti pepatah Jawa urip iku urup, semoga apa yang kami lakukan dapat memberi manfaat bagi sesama,” tutur Bima.

Melalui Workshop Pembekalan Tim Ekspedisi Patriot 2026, DPkM UGM berharap seluruh peserta memiliki kesiapan yang lebih komprehensif sebelum diterjunkan ke wilayah transmigrasi. Bekal pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan beradaptasi yang diperoleh selama pembekalan diharapkan mendukung pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan sekaligus memperkuat kontribusi UGM dalam pembangunan kawasan transmigrasi di Indonesia.

Reportase: Humas DPkM UGM

Penulis: Triya Andriyani

Artikel UGM Bekali Tim Ekspedisi Patriot 2026 untuk Pengabdian di Papua Selatan dan Maluku Utara pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-bekali-tim-ekspedisi-patriot-2026-untuk-pengabdian-di-papua-selatan-dan-maluku-utara/feed/ 0
UGM Bantu Pasang Gigi Tiruan untuk Buruh Pemetik Daun Teh https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-bantu-pasang-gigi-tiruan-untuk-buruh-pemetik-daun-teh/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-bantu-pasang-gigi-tiruan-untuk-buruh-pemetik-daun-teh/#respond Thu, 30 Jul 2026 04:18:52 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96025 Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Gadjah Mada melaksanakan program pelayanan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut untuk kalangan buruh pemetik teh di kawasan perkebunan teh Pagilaran, Batang, Jawa Tengah. Selain periksa kesehatan gigi dan mulut, para buruh yang mengalami kerusakan pada gigi. “Hingga akhir bulan Juni, sebanyak 43 masyarakat telah mendapatkan pemasangan gigi tiruan, sedangkan sekitar […]

Artikel UGM Bantu Pasang Gigi Tiruan untuk Buruh Pemetik Daun Teh pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Gadjah Mada melaksanakan program pelayanan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut untuk kalangan buruh pemetik teh di kawasan perkebunan teh Pagilaran, Batang, Jawa Tengah. Selain periksa kesehatan gigi dan mulut, para buruh yang mengalami kerusakan pada gigi. “Hingga akhir bulan Juni, sebanyak 43 masyarakat telah mendapatkan pemasangan gigi tiruan, sedangkan sekitar 100 orang telah mengikuti pemeriksaan kesehatan gigi. Capaian ini menunjukkan bahwa kebutuhan pelayanan kesehatan gigi di masyarakat memang cukup tinggi sehingga program seperti ini sangat diperlukan untuk terus dilanjutkan,” ucapnya Ketua Spesialis Prodi Prostodonsia, Dr. drg. Sri Budi Barunawati, M.Kes., Sp.Pros., dalam keterangan yang dikirim Kamis (30/7).

Ia menyebutkan program pelayanan pemasangan gigi tiruan telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar. Program tersebut dilaksanakan melalui empat kali kunjungan selama dalam satu tahun terakhir.

Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan SDM FKG UGM, drg. Heribertus Dedy Kusuma Yulianto, M.Biotech., Ph.D., menuturkan bahwa yang telah berlangsung selama satu tahun tersebut berawal dari adanya program pengabdian berbasis riset. “Program ini diawali dari kegiatan pengabdian berbasis riset. Setelah kami melakukan kunjungan ke PT Pagilaran, kami melihat adanya potensi yang bisa dikembangkan bersama berbagai program studi di FKG UGM. Salah satunya Departemen Prostodonsia yang menemukan cukup banyak masyarakat membutuhkan pelayanan gigi tiruan,” jelasnya.

Adapun hasil identifikasi kebutuhan tersebut kemudian akan ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan PT Pagilaran hingga pada akhirnya lahir kolaborasi dengan mengintegrasikan program pengabdian dari FKG UGM dengan program Kuliah Kerja Nyata (KKN). “Dari situlah kami berkoordinasi dengan pihak PT Pagilaran dan akhirnya menyusun kolaborasi yang menggabungkan kegiatan pengabdian FKG UGM dengan program KKN,” ujarnya.

Melalui kolaborasi tersebut, mahasiswa turut dilibatkan dalam mendukung pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Selain itu, FKG UGM juga melakukan revitalisasi balai kesehatan di kawasan PT Pagilaran yang sebelumnya telah lama tidak aktif. Program ini semakin diperkuat melalui kerja sama dengan mitra FKG UGM untuk mendukung pemeriksaan kesehatan gigi bagi masyarakat maupun para pekerja di lingkungan PT Pagilaran.

Ketua Tim Pengabdian FKG UGM, drg. Lisdrianto Hanindriyo, MPH., Ph.D., menjelaskan bahwa kegiatan monitoring dan evaluasi tahun ini akan difokuskan pada penyegaran kompetensi kader kesehatan gigi yang sebelumnya telah memperoleh pelatihan bagi 27 kader kesehatan. Menurutnya, pembekalan keterampilan pemeriksaan gigi sederhana kepada para kader agar mampu melakukan deteksi dini terhadap berbagai permasalahan kesehatan gigi. “Kompetensi tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam kegiatan Posyandu maupun pelayanan kesehatan dasar di masyarakat,” ucapnya.

Selain memberikan pelatihan, tim FKG UGM juga melakukan evaluasi untuk melihat sejauh mana materi yang telah diberikan benar-benar diterapkan di lapangan. Ke depan, setiap kader diharapkan dapat mendampingi satu RT dan berperan aktif dalam kegiatan Posyandu balita maupun lansia yang rutin diselenggarakan setiap bulan. Ia menuturkan bahwa kerja sama dengan PT Pagilaran merupakan langkah strategis sebagai salah satu unit usaha milik UGM, sekaligus representasi universitas di tengah masyarakat. “FKG UGM berharap masyarakat sekitar dapat merasakan secara langsung kehadiran UGM melalui berbagai program pengabdian yang memberikan manfaat nyata, khususnya dalam meningkatkan kesehatan gigi dan mulut,” jelasnya.

Direktur Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM, Dr. dr. Rustamaji, M.Kes., menyambut baik terjalinnya kolaborasi antara FKG UGM dan PT Pagilaran. Menurutnya, adanya sinergi antara perguruan tinggi, dunia industri, dan masyarakat merupakan salah satu bentuk implementasi nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Kerja sama yang terjalin diharapkan dapat menjadi implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam memberikan manfaat langsung pada masyarakat melalui program pengabdian yang berkelanjutan,” tuturnya.

Reportase : Widodo dan Ayyub Rizqullah/DPkM

Penulis : Cyntia Noviana

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Humas UGM dan Dok. DPkM

Artikel UGM Bantu Pasang Gigi Tiruan untuk Buruh Pemetik Daun Teh pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-bantu-pasang-gigi-tiruan-untuk-buruh-pemetik-daun-teh/feed/ 0