Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Mon, 31 Aug 2026 02:48:51 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 Menghidupkan Budaya, Merawat Warga https://ugm.ac.id/id/berita/menghidupkan-budaya-merawat-warga/ https://ugm.ac.id/id/berita/menghidupkan-budaya-merawat-warga/#respond Mon, 31 Aug 2026 02:48:51 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97080 Kebudayaan Yogyakarta terus berkembang di tengah perubahan kota dan semakin kuatnya industri kreatif. Berbagai praktik seni dan budaya kini hadir dalam ruang publik, kegiatan kreatif, hingga produk yang memiliki nilai ekonomi. Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai batas antara merawat kebudayaan dan menjadikannya sebagai komoditas. Di tengah kebutuhan seniman untuk terus berkarya dan kebutuhan masyarakat […]

Artikel Menghidupkan Budaya, Merawat Warga pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kebudayaan Yogyakarta terus berkembang di tengah perubahan kota dan semakin kuatnya industri kreatif. Berbagai praktik seni dan budaya kini hadir dalam ruang publik, kegiatan kreatif, hingga produk yang memiliki nilai ekonomi. Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai batas antara merawat kebudayaan dan menjadikannya sebagai komoditas. Di tengah kebutuhan seniman untuk terus berkarya dan kebutuhan masyarakat untuk mempertahankan ruang hidupnya, arah kebudayaan perlu memberi tempat bagi seniman dan warga sebagai pelaku utamanya

Hal itu mengemuka dalam Diskusi Pojok Bulaksumur yang bertajuk “Nyawa yang Dijual? Seni, Kuasa, dan Wajah Baru Kebudayaan Jogja” yang berlangsung di selasar Gelanggang Inovasi Kreativitas (GIK) UGM, Sabtu (29/8. Diskusi tersebut menghadirkan Seniman Anang Saptoto; Anggota Dewan Kebudayaan Yogyakarta,  Ishari Sahida (Ari Wulu); Dosen Antropologi FIB UGM Dr. Muhammad Zamzam Fauzanafi, S.Ant., M.A., dan sastrawan UGM Prof. Faruk. Keempat pembicara membahas hubungan antara seni, industri kreatif, komodifikasi kebudayaan, serta posisi masyarakat dalam menentukan wajah kebudayaan Yogyakarta.

Anang Saptoto menilai kehadiran praktik kebudayaan dalam berbagai ruang tidak serta-merta dapat dipahami sebagai bentuk menjual kebudayaan. Menurutnya, dalam perspektif seni rupa, praktik kebudayaan dapat dihadirkan dalam ruang kampung, kota, nasional, hingga internasional dengan tujuan yang beragam. Karena itu, perlu dilihat terlebih dahulu konteks dan tujuan dari praktik tersebut sebelum menyimpulkan bahwa kebudayaan sedang dikomersialisasikan.

Anang menjelaskan, praktik seni dapat menjadi sarana untuk mengangkat persoalan atau isu yang selama ini kurang mendapatkan perhatian. Dengan demikian, ketika sebuah karya hadir dalam ruang publik, hal yang ditawarkan tidak selalu berupa kebudayaan sebagai komoditas, tetapi juga gagasan yang ingin disampaikan oleh seniman. “Jangan-jangan praktik-praktik kebudayaan itu memang dilakukan untuk mengamplifikasi sesuatu yang biasanya enggak didengar,” ujarnya.

Menurut Anang, praktik yang dilakukan oleh para seniman sangat beragam. Ia mengakui terdapat konteks ketika karya seni dan produk kreatif memang diperjualbelikan, seperti dalam bursa seni rupa maupun pameran produk kreatif. Namun, hal tersebut tidak dapat secara otomatis disamakan dengan menjual kebudayaan. “Tidak semua konteksnya itu menjual dalam konteks kebudayaan. Karena itu praktiknya aja. Yang dijual justru yang disajikan di sini isunya,” ungkapnya.

Sementara itu, Ishari Sahida atau Ari Wulu menyoroti persoalan dari sudut pandang musisi yang berhadapan langsung dengan industri kreatif. Menurutnya, perlu ada pembedaan antara aktivitas berkarya sebagai bentuk ekspresi seni dengan aktivitas seni yang dilakukan sebagai pekerjaan dalam industri. Perbedaan tersebut berpengaruh terhadap sejauh mana seorang seniman harus melakukan kompromi ketika berhadapan dengan pasar maupun pihak yang menggunakan jasanya.

Ari menjelaskan, dalam berkarya untuk kepentingan ekspresi, seorang seniman memiliki ruang yang lebih bebas untuk mengolah gagasan dan pengalaman yang dimilikinya. Sementara itu, ketika masuk ke industri, terdapat pertimbangan ekonomi dan kebutuhan pasar. Kondisi yang berbeda juga muncul ketika seniman mendapatkan pesanan dari klien dan harus menghasilkan karya sesuai kebutuhan pihak tersebut. “Kamu memang sedang mencari uang, kemudian membuat sesuatu yang kamu tahu metodenya, produk ini menjadi laku. Nah, itu hal-hal yang berbeda. Yang kedua, kamu dapat order dari klien, membuat produk sesuai kebutuhannya si klien dengan kemampuan kita,” jelasnya.

Menurut Ari, perbedaan antara seni sebagai ekspresi dan seni sebagai pekerjaan tersebut masih belum dipahami secara tegas di Yogyakarta. Akibatnya, seniman terkadang berada dalam posisi yang dilematis ketika harus memenuhi kebutuhan ekonomi sekaligus mempertahankan identitas dan idealisme sebagai seniman. Ia menilai realitas ekonomi menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan pelaku seni.

Berbeda dengan kedua pembicara sebelumnya, Dr. Muhammad Zamzam Fauzanafi menyoroti persoalan komodifikasi dari cara masyarakat mendefinisikan kebudayaan. Menurutnya, kebudayaan selama ini cenderung dipahami sebagai benda atau sesuatu yang dapat dilihat dan disentuh. Cara pandang tersebut membuat kebudayaan lebih mudah ditempatkan sebagai komoditas yang dapat dipindahkan, diberi harga, dan diperjualbelikan.

Zamzam menawarkan cara pandang lain dengan melihat kebudayaan sebagai “kata kerja” atau laku manusia. Menurutnya, kebudayaan tidak hanya terletak pada produk yang dihasilkan, tetapi pada proses manusia dalam melakukan dan menciptakan praktik kebudayaan. “Harusnya kebudayaan itu dilihat sebagai kata kerja. Tadi ini disebutnya laku. Jadi kebudayaan itu bukan bendanya, tapi kerjanya,” tuturnya.

Lebih jauh, Zamzam menilai praktik kebudayaan seharusnya dikembangkan secara horizontal dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku. Seniman, menurutnya, tidak harus ditempatkan sebagai sosok yang paling tinggi atau paling jenius dalam praktik kebudayaan, tetapi dapat berperan sebagai fasilitator bagi warga. Dengan demikian, kerja kebudayaan dapat dilakukan bersama dan tidak hanya berpusat pada individu tertentu.

Ia mencontohkan keterlibatan seniman dalam bekerja bersama kelompok tani dan masyarakat sebagai salah satu bentuk praktik kebudayaan yang dapat dilakukan secara kolaboratif. Menurutnya, karya maupun kerja kebudayaan dapat dihasilkan oleh banyak orang dengan tetap memberikan ruang bagi keahlian seniman. “Seniman itu jangan dikompakkan sebagai sesuatu yang langka dan dia dirakit sebagai paling jenius dari semuanya, tetapi seniman adalah orang yang memfasilitasi warga,” katanya.

Sementara itu, Prof. Faruk melihat persoalan komodifikasi kebudayaan melalui konsep pertukaran. Menurutnya, pertukaran merupakan bagian dari kehidupan manusia dan telah berlangsung jauh sebelum berkembangnya industri modern. Karena itu, persoalan kebudayaan tidak dapat hanya dilihat dari apakah sesuatu diperjualbelikan atau tidak, melainkan dari bagaimana pertukaran tersebut berlangsung dan untuk kepentingan siapa.

Faruk menjelaskan, pertukaran yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menjaga keberlangsungan karya masih merupakan sesuatu yang wajar. Persoalan muncul ketika pertukaran berubah menjadi praktik yang serakah atau “gragas”. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi monopoli, penguasaan akses, serta pengambilan ruang yang seharusnya dapat dimanfaatkan oleh pihak lain. “Bukan dijual atau tidak dijual, tapi serakah atau tidak,” tegasnya.

Menurut Faruk, logika pasar yang tidak terbatas dapat mendorong seseorang untuk terus memperbesar keuntungan hingga berupaya menguasai ruang ekonomi dan politik. Dalam kondisi tersebut, pertukaran tidak lagi sekadar menjadi sarana memenuhi kebutuhan, tetapi berkembang menjadi praktik industrial dan kapitalistik yang berpotensi menghilangkan kesempatan pihak lain.

Pandangan tersebut sekaligus memberikan perspektif terhadap slogan “Jogja Ora Didol”. Menurut Faruk, slogan tersebut tidak harus dimaknai sebagai penolakan terhadap seluruh bentuk pertukaran ekonomi dalam kebudayaan. “Yang lebih penting adalah memastikan agar pertukaran berlangsung secara wajar dan tidak berkembang menjadi keserakahan, monopoli, maupun penguasaan ruang oleh segelintir pihak,” tegasnya.

Perbedaan pandangan keempat pembicara menunjukkan bahwa persoalan kebudayaan Yogyakarta tidak dapat dilihat secara hitam putih sebagai sesuatu yang sekadar “dijual” atau “dirawat”. Seni dapat menjadi ekspresi sekaligus pekerjaan, kebudayaan dapat memiliki nilai ekonomi sekaligus menjadi medium untuk menyuarakan isu, sementara pertukaran dapat menopang keberlangsungan hidup sekaligus berpotensi menjadi sarana monopoli. Pada akhirnya, pembahasan mengenai “Nyawa yang Dijual?” mengajak publik untuk melihat kembali siapa yang memiliki ruang dan kewenangan dalam menentukan arah kebudayaan Yogyakarta, serta bagaimana memastikan perkembangan kebudayaan tetap memberi tempat bagi seniman dan warga sebagai pelaku utamanya.

Penulis : M. Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Menghidupkan Budaya, Merawat Warga pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/menghidupkan-budaya-merawat-warga/feed/ 0
Peneliti UGM Ungkap Potensi Kolagen Kulit Kambing dan Domba untuk Antioksidan dan Penurun Tensi  https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-ungkap-potensi-kolagen-kulit-kambing-dan-domba-untuk-antioksidan-dan-penurun-tensi/ https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-ungkap-potensi-kolagen-kulit-kambing-dan-domba-untuk-antioksidan-dan-penurun-tensi/#respond Sat, 29 Aug 2026 03:26:26 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97073 Kulit kambing dan domba sering digunakan sebagai bahan baku bagi industri penyamakan kulit untuk diolah menjadi kulit tersamak (leather) yang diolah menjadi produk kerajinan kulit dari produk sandang, aksesoris fashion hingga furniture. Namun di tangan Dosen Peternakan UGM, kolagen yang terkandung dalam kulit tersebut mampu diolah menjadi bahan Oligopeptida yang mempunyai kemampuan sebagai agen antihipertensi […]

Artikel Peneliti UGM Ungkap Potensi Kolagen Kulit Kambing dan Domba untuk Antioksidan dan Penurun Tensi  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kulit kambing dan domba sering digunakan sebagai bahan baku bagi industri penyamakan kulit untuk diolah menjadi kulit tersamak (leather) yang diolah menjadi produk kerajinan kulit dari produk sandang, aksesoris fashion hingga furniture. Namun di tangan Dosen Peternakan UGM, kolagen yang terkandung dalam kulit tersebut mampu diolah menjadi bahan Oligopeptida yang mempunyai kemampuan sebagai agen antihipertensi dan antioksidan. “Kolagen yang diisolasi dari Kulit kambing dan domba dapat menghasilkan Oligopeptida yang mempunyai kemampuan sebagai agen antihipertensi dan antioksidan,” kata Guru Besar Fakultas Peternakan UGM bidang teknologi hasil ternak Prof. Yuny Erwanto, Sabtu (29/8).

Alsan Yuny memilih sumber kolagen dari kulit domba dan kambing dikarenakan sumber bahan tersebut populer di masyarakat karena sebagai sumber daging yang banyak dikonsumsi. Sementara pengolahan kulit kambing dan domba selama ini lebih banyak digunakan sebagai bahan baku penyamakan. “Potensi hasil ikutan berapa kulit sebagai kolagen akan memberikan nilai tambah bagi usaha pemotongan kambing dan domba,” jelasnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, untuk mendapatkan senyawa oligopeptida dari kolagen kulit kambing dan domba ini diisolasi dengan berbagai metode kemudian dilakukan proses hidrolisis dengan enzim pencernaan manusia. Selanjutnya, hasil pemotongan oligopeptida menjadi rantai pendek inilah yang kemudian mampu menghambat kerja Angiotensin Converting Enzyme yaitu Enzim yang merubah angiotensin 1 menjadi angiotensin 2 yang memicu tekanan darah tinggi. “Apabila kerja enzim ini dihambat dengan Oligopeptida maka bersamaan akan menurunkan tekanan darah,” paparnya.

Menurutnya, potensi pemurnian kolagen menjadi Oligopeptida punya peluang besar sebagai terapi gangguan tekanan darah tinggi melalui mekanisme biologis karena merupakan bahan natural yang tidak memberikan efek samping sebagaimana obat kimia selama ini.

Atas hasil penelitiannya ini, Yuny diundang oleh Jining medical University, Jining, Shandong Province, China sebagai Pembicara Utama dalam acara The 2026 International Symposium on Functional Foods and Health Promotion 25-26 Agustus 2026. Selain Yuny, Guru Besar Farmasi UGM, Prof Abdul Rohman menyampaikan presentasi terkait dengan pengembangan metode analisis untuk autentifikasi pangan.

Dekan School of Public Health Jining Medical University Prof. Leen Li menyambut baik dan mengapresiasi materi yang disampaikan oleh dua pakar UGM tersebut. Dekan Leen Li menegaskan Pemerintah Provinsi Shandong memberikan dukungan penuh untuk pengembangan pangan functional masa depan yang sangat dinantikan untuk mendukung gaya hidup sehat. Usai pelaksanaan Symposium dilanjutkan diskusi dan permintaan dukungan pada pakar UGM terkait rencana pembentukan laboratorium deteksi halal yang ingin dibangun oleh Kampus tersebut.

Seperti diketahui, Provinsi Shandong merupakan daerah pertanian di China yang menghasilkan banyak produk yang di ekspor ke Banyak Negara. Dukungan lembaga halal akan sangat bermanfaat agar market share produk produk pertanian dan peternakan mereka semakin meluas. Perintisan kerjasama ini telah diinisiasi Prof Yuny Erwanto sejak setahun lalu bersama dengan Mitra dari Korea dalam penelitian dan publikasi bersama.

Penulis : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Peneliti dan shutterstock

Artikel Peneliti UGM Ungkap Potensi Kolagen Kulit Kambing dan Domba untuk Antioksidan dan Penurun Tensi  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-ungkap-potensi-kolagen-kulit-kambing-dan-domba-untuk-antioksidan-dan-penurun-tensi/feed/ 0
Dukung Eliminasi TB, Dosen UGM Hadirkan Rumah Skrining dan Layanan Radiografi Keliling https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-eliminasi-tb-dosen-ugm-hadirkan-rumah-skrining-dan-layanan-radiografi-keliling/ https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-eliminasi-tb-dosen-ugm-hadirkan-rumah-skrining-dan-layanan-radiografi-keliling/#respond Sat, 29 Aug 2026 02:22:23 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97061 Hasil riset tim peneliti Universitas Gadjah Mada dalam pengembangan alat radiografi sinar-X digital mulai diterapkan untuk layanan pemeriksaan radiologi kesehatan berbasis masyarakat. Riset bertajuk Alat Radiografi Sinar-X Digital Keliling untuk Layanan Skrining Tuberculosis dan Medical Check Up tersebut merupakan bagian dari Program Riset Sinergi 2025–2026 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Hasil riset kemudian […]

Artikel Dukung Eliminasi TB, Dosen UGM Hadirkan Rumah Skrining dan Layanan Radiografi Keliling pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Hasil riset tim peneliti Universitas Gadjah Mada dalam pengembangan alat radiografi sinar-X digital mulai diterapkan untuk layanan pemeriksaan radiologi kesehatan berbasis masyarakat. Riset bertajuk Alat Radiografi Sinar-X Digital Keliling untuk Layanan Skrining Tuberculosis dan Medical Check Up tersebut merupakan bagian dari Program Riset Sinergi 2025–2026 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Hasil riset kemudian dikembangkan melalui Rumah Skrining yang mengintegrasikan teknologi radiografi digital dengan sistem pengelolaan layanan kesehatan. Layanan tersebut mulai dioperasikan pada 27–28 Agustus 2026 di lingkungan CV Prestige Furniture, Yogyakarta.

Riset tersebut dipimpin Prof. Drs. Gede Bayu Suparta, M.Si., Ph.D. dari FMIPA UGM dan dikembangkan melalui sinergi dengan PT Madeena Karya Indonesia, CV Prestige Furniture, serta RSKIA Permata Bunda Yogyakarta. Rumah Skrining dirancang untuk membawa hasil pengembangan teknologi radiografi ke dalam layanan yang lebih dekat dengan masyarakat. Model ini juga diarahkan untuk memperluas akses pemeriksaan kesehatan, khususnya layanan yang membutuhkan pemeriksaan radiologi. “Rumah Skrining adalah start-up yang bertujuan untuk menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan radiologi berbasis masyarakat,” ujar Bayu, Sabtu (29/8).

Dalam pengembangannya, Rumah Skrining tidak berdiri sebagai fasilitas radiologi yang terpisah dari sistem pelayanan kesehatan. Layanan ini dipandu oleh fasilitas pelayanan kesehatan seperti klinik atau rumah sakit, sekaligus memanfaatkan perangkat radiologi yang dikelola melalui Madeena Health Care System (MHCS) atau Madeena Solution. Platform tersebut mencakup tata kelola data DICOM, PACS, teleradiologi, dan pembacaan citra radiologi dengan bantuan AI. “Kehadiran Rumah Skrining diharapkan dapat membantu Pemerintah mempercepat capaian Program Eliminasi TB 2030 dan memperluas keterjangkauan masyarakat pada layanan Cek Kesehatan plus Radiografi Sinar-x,” ujar Bayu.

Bayu menjelaskan teknologi radiografi yang digunakan memiliki fitur untuk pemeriksaan badan dan dada dengan dosis radiasi rendah. Citra yang dihasilkan kemudian dapat dianalisis dengan dukungan perangkat lunak AI, sementara proses pemeriksaan hingga pembacaan hasil disebut dapat dilakukan dalam waktu sekitar 15 menit untuk setiap pasien. Informasi mengenai status kesehatan pasien juga dapat disimpan ke dalam platform SatuSehat yang dikelola pemerintah.

Pengembangan layanan selanjutnya diarahkan agar Rumah Skrining dapat hadir di berbagai lingkungan, mulai dari perguruan tinggi, kawasan industri, pesantren, sekolah, rumah sakit pratama, hingga puskesmas. Bayu berujar perluasan titik layanan diharapkan dapat membuka peluang keterlibatan masyarakat dalam pengembangan fasilitas skrining kesehatan. Di sisi lain, teknologi radiografi juga terus berkembang dengan perangkat yang semakin ringan, hemat energi, dan dapat menggunakan baterai isi ulang. “Teknologi pesawat sinar-x cenderung semakin maju, canggih, aman, ringan, hemat energi, dan rechargeable,” ungkapnya.

Direktur Operasional Rumah Skrining Annisa Fitriana, S.Ant., menjelaskan bahwa pengelolaan layanan dilakukan dengan memanfaatkan ekosistem teknologi yang telah disiapkan untuk mendukung pemeriksaan radiologi. Rumah Skrining dapat mengelola perangkat radiologi produk PT Madeena Karya Indonesia maupun alat radiologi impor yang telah terpasang di rumah sakit di Indonesia. Sistem tersebut memungkinkan proses tata kelola data dan layanan radiologi terhubung dalam satu platform. “MHCS juga disebut Madeena Solution, telah dilengkapi sistem tata kelola data DICOM, PACS, Teleradiologi, dan pembacaan citra radiologi menggunakan bantuan Kecerdasan Buatan AI,” jelas Annisa.

Implementasi perdana dilakukan di lingkungan CV Prestige Furniture yang merupakan mitra produksi alat radiografi DDR Madeena. Pimpinan CV Prestige Furniture Wahyudi Ganda Wijaya menyampaikan komitmen perusahaan untuk memeriksa dan menjaga kesehatan 40 karyawannya melalui fasilitas Rumah Skrining. Kehadiran fasilitas tersebut juga diharapkan dapat dimanfaatkan oleh keluarga karyawan dan masyarakat di sekitar pabrik. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan layanan radiografi di lingkungan yang sebelumnya dinilai masih sulit memperoleh akses layanan formal yang terjangkau.

Layanan perdana Rumah Skrining berlangsung selama dua hari dengan pemeriksaan berupa radiografi thorax. Pada Kamis (27/8), sebanyak 35 orang mengikuti pemeriksaan, sedangkan pada Jumat (28/8) tercatat 42 peserta. Pelaksanaan tersebut menjadi tahap awal penerapan model layanan radiologi berbasis masyarakat yang dikembangkan melalui kolaborasi perguruan tinggi, industri, dan fasilitas pelayanan kesehatan. Hasil penerapan awal ini sekaligus menjadi pengalaman lapangan dalam pengembangan layanan Rumah Skrining berikutnya.

Selain layanan berbasis lokasi, pengembangan Rumah Skrining diarahkan pada penggunaan radiografi keliling yang ditempatkan di atas truk niaga ringan. Kendaraan tersebut dirancang untuk menjangkau lingkungan permukiman yang sempit maupun wilayah dengan medan yang lebih berat, sehingga pemeriksaan tidak harus selalu dilakukan di fasilitas kesehatan. Konsep ini menggabungkan layanan radiografi keliling dengan teleradiologi dan pembacaan AI melalui platform Madeena Health Care System untuk mendukung program Active Case Finding TBC bersama fasyankes tingkat pratama maupun puskesmas. Pendekatan tersebut dirangkum melalui konsep “Serve at everywhere, Read from Anywhere”.

Bayu berharap pengembangan teknologi tersebut dapat didukung oleh terbentuknya ekosistem radiografi sinar-X digital yang melibatkan pemerintah, fasilitas kesehatan, industri, perguruan tinggi, dan masyarakat. Ia juga mendorong adanya regulasi yang mampu memberikan ruang bagi pemanfaatan teknologi radiografi untuk kebutuhan pelayanan kesehatan. Baginya perluasan akses terhadap informasi kesehatan merupakan bagian penting dalam membangun masyarakat yang sehat sekaligus mendukung kekuatan ekonomi dan industri nasional.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Dokumentasi Peneliti

Artikel Dukung Eliminasi TB, Dosen UGM Hadirkan Rumah Skrining dan Layanan Radiografi Keliling pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-eliminasi-tb-dosen-ugm-hadirkan-rumah-skrining-dan-layanan-radiografi-keliling/feed/ 0
Ekonom UGM: Koperasi Butuh Integritas, Bukan Sekadar Kuantitas  https://ugm.ac.id/id/berita/ekonom-ugm-koperasi-butuh-integritas-bukan-sekadar-kuantitas/ https://ugm.ac.id/id/berita/ekonom-ugm-koperasi-butuh-integritas-bukan-sekadar-kuantitas/#respond Sat, 29 Aug 2026 01:36:56 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97065 Pemerintah berencana ingin membentuk 80.000 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai alat untuk mewujudkan amanat Pasal 33 ayat (1) UUD 1945 sekaligus mendorong perekonomian nasional yang lebih inklusif. Namun begitu, pertumbuhan jumlah koperasi perlu diikuti penguatan kapasitas, tata kelola, serta kemampuan koperasi dalam memenuhi kebutuhan anggotanya. Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM, Amirullah Setya Hardi, […]

Artikel Ekonom UGM: Koperasi Butuh Integritas, Bukan Sekadar Kuantitas  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pemerintah berencana ingin membentuk 80.000 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai alat untuk mewujudkan amanat Pasal 33 ayat (1) UUD 1945 sekaligus mendorong perekonomian nasional yang lebih inklusif. Namun begitu, pertumbuhan jumlah koperasi perlu diikuti penguatan kapasitas, tata kelola, serta kemampuan koperasi dalam memenuhi kebutuhan anggotanya.

Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM, Amirullah Setya Hardi, Ph.D., menilai tujuan pendirian KDMP untuk mendorong peningkatan kesejahteraan desa, penciptaan lapangan kerja, hingga penekanan inflasi bagi Amirullah sangat cukup membebani pengelola Koperasi. Padahal, koperasi semestinya hanya memiliki satu tujuan utama. “Tujuan Koperasi Desa Merah Putih itu terlalu banyak. Padahal seharusnya tidak begitu, karena tujuan koperasi itu tunggal, yaitu mencukupi kebutuhan anggota. Itu saja. Kalau kebutuhan anggota terpenuhi, maka dengan sendirinya mereka akan sejahtera,” ujarnya, Sabtu (29/8).

Amirullah menyebutkan bahwa data kinerja koperasi nasional menunjukkan anomali antara kuantitas dan kualitas. Data Kementerian Koperasi mencatat modal sendiri koperasi nasional naik dari Rp105 triliun pada 2024 menjadi Rp113,46 triliun pada 2025 dan total aset naik dari Rp293,14 triliun menjadi Rp325,87 triliun. Namun, peningkatan tersebut belum diikuti pertumbuhan Sisa Hasil Usaha (SHU) yang sebanding. SHU hanya meningkat dari Rp8,1 triliun menjadi Rp8,8 triliun pada periode yang sama.

“SHU kita hanya naik dari Rp8,1 triliun menjadi Rp8,8 triliun. Coba bandingkan dengan dana yang sudah digelontorkan, kenaikannya sangat kecil. Yang justru berubah secara signifikan itu jumlah tenaga kerja dan jumlah Nomor Induk Berusahanya,” paparnya.

Kesenjangan juga terlihat dari pertumbuhan jumlah koperasi dan anggotanya. Jumlah koperasi meningkat dari 131.617 unit pada 2024 menjadi 222.462 unit pada 2025. Namun, jumlah anggota hanya bertambah dari 29.819.216 menjadi 31.850.469 orang. Sementara itu, jumlah tenaga kerja melonjak dari 669.164 menjadi 1.189.176 orang, sedangkan jumlah manajer dan karyawan relatif tidak mengalami perubahan signifikan.

Target Besar, Proses Sangat Cepat
Amirullah turut menyoroti proses pembentukan KDMP yang berlangsung dalam waktu relatif singkat. Inisiasi program dimulai pada retreat kepala daerah di Akademi Militer Magelang tanggal 21-28 Februari 2025, lalu dilanjutkan pengumuman peluncuran 80.000 koperasi desa pada Rapat Terbatas di Istana Negara tanggal 3 Maret 2025.

Tahapan legal formal pembentukan KDMP berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, dimulai dari terbitnya Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) pada 27 Maret 2025, disusul Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 2025 tentang Satuan Tugas Percepatan Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih pada 2 Mei 2025, hingga peresmian yang bertepatan dengan Hari Koperasi Nasional pada 12 Juli 2025. Dalam kurun waktu tersebut, tercatat 20.000 koperasi baru terbentuk. Jika dirata-ratakan, sekitar 666 koperasi baru terbentuk setiap hari. ‎

Menurut Amirullah, kecepatan proses tersebut nampaknya tidak diimbangi dengan kajian akademik yang memadai. Ia mengaitkan dengan  kebutuhan pembangunan infrastruktur dalam skala besar. Dari 38.064 pengajuan lahan gerai koperasi desa, biaya pembangunan rata-rata mencapai Rp3,8 miliar per unit.“Sejauh yang saya tahu dari pernyataan pejabat terkait dari berbagai media, tentang minimnya kajian yang mendasari pembentukan 80.000 koperasi desa itu. Pertanyaannya, atas dasar apa penetapan target sebesar itu, sementara di lapangan setiap unit membutuhkan biaya pembangunan gerai fisik hingga Rp3,8 miliar,” terangnya.

Aktivitas Kelembagaan Perlu Diperkuat
Data dashboard simkopdes.go.id per Juli 2026 menunjukkan dari 83.382 total koperasi yang terdaftar sebanyak 79.707 telah memiliki akun, 80.978 memiliki NPWP, dan 60.792 telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB). Dari 38.064 pengajuan lahan untuk gerai fisik, sebanyak 35.861 telah terverifikasi dengan rincian 17.462 unit sudah rampung dibangun 100 persen dan 17.933 unit lainnya masih dalam proses pembangunan.

Kendati begitu, Amirullah menyampaikan bahwa capaian administratif tersebut belum sepenuhnya diikuti aktivitas kelembagaan di lapangan. Dari 83.382 koperasi yang terdaftar, baru 50.255 unit yang tercatat telah melaksanakan Rapat Anggota Tahunan, sementara 18.750 unit lainnya belum melaksanakannya..

Amirullah juga menyoroti penentuan lokasi koperasi desa yang menurutnya perlu lebih didasarkan pada kajian kebutuhan masyarakat. Ia melihat terdapat kecenderungan lokasi koperasi ditentukan dengan logika persaingan usaha, menyerupai pola penempatan gerai ritel modern. Ia mencontohkan ada desa yang sempat menolak pembentukan koperasi karena dinilai tidak efisien secara ekonomi bagi warganya.

“Kalau kita lihat pola lokasinya, ini logikanya sama seperti minimarket yang bersaing berdekatan, bukan hasil kajian kebutuhan masyarakat. Ada desa yang menolak karena mereka sadar itu tidak efisien secara ekonomi buat mereka,” katanya.

Dorong Tata Kelola Berbasis Penta Helix
Meski terdapat sejumlah catatan, Amirullah tidak menampik bahwa program KDMP tetap memiliki potensi memberikan pada perekonomian secara agregat. Merujuk teori Keynes, pendapatan nasional terbentuk dari konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, dan ekspor neto. Ia menjelaskan kenaikan pengeluaran pemerintah untuk program koperasi desa berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi meski komponen konsumsi dan investasi belum tentu ikut naik akibat kondisi ekonomi domestik yang belum stabil.

Untuk memperkuat tata kelola, ia menawarkan konsep penta helix yang melibatkan lima pemangku kepentingan yaitu pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan media. Kelima unsur ini menurutnya idealnya berperan setara, meski dalam praktiknya interaksi tersebut dapat pula berjenjang tergantung konteks penerapannya.

Amirullah menegaskan bahwa integritas dan profesionalisme dalam menjalankan peran masing-masing pihak menjadi kunci utama keberlanjutan koperasi, jauh lebih penting daripada sekadar mengejar target jumlah.“Tercapainya kesejahteraan anggota koperasi menjadi cara untuk mencapai kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Reportase : Dwi Zhafirah Meiliani dan Kurnia Ekaptiningrum/Humas FEB

Editor       : Gusti Greheneson

Foto         : CNBC

Artikel Ekonom UGM: Koperasi Butuh Integritas, Bukan Sekadar Kuantitas  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ekonom-ugm-koperasi-butuh-integritas-bukan-sekadar-kuantitas/feed/ 0
TVS Motor Company Buka Peluang Karier Mahasiswa UGM Lewat Program Magang Strategis https://ugm.ac.id/id/berita/tvs-motor-company-buka-peluang-karier-mahasiswa-ugm-lewat-program-magang-strategis/ https://ugm.ac.id/id/berita/tvs-motor-company-buka-peluang-karier-mahasiswa-ugm-lewat-program-magang-strategis/#respond Fri, 28 Aug 2026 09:28:48 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97055 Universitas Gadjah Mada bersama dengan PT TVS Motor Company resmi menjalin kerja sama di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat serta peningkatan Sumber Daya Manusia. Nota Kesepahaman ditandatangani langsung oleh Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., dan Direktur PT TVS Motor Company Indonesia, R. Rajesh Ramani […]

Artikel TVS Motor Company Buka Peluang Karier Mahasiswa UGM Lewat Program Magang Strategis pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada bersama dengan PT TVS Motor Company resmi menjalin kerja sama di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat serta peningkatan Sumber Daya Manusia. Nota Kesepahaman ditandatangani langsung oleh Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., dan Direktur PT TVS Motor Company Indonesia, R. Rajesh Ramani pada Kamis (27/8) di Gedung Pusat UGM. Salah satu bentuk kerja sama ini yaitu program magang mahasiswa yang terbuka bagi mahasiswa UGM dari program studi Manajemen, Teknik Elektro dan Teknik Mesin.

Direktur PT TVS Motor Company Indonesia, Rajesh Ramani mengaku gembira dengan adanya perjanjian kerja sama bersama pihak universitas. Ia berharap, kerja sama ini dapat memberikan keuntungan dan manfaat bagi kedua belah pihak. Banyak alumni dari lembaga pendidikan yang sudah bekerja di TVS, tetapi supaya setiap generasinya memiliki kompetensi yang sama, maka skill-nya harus di tingkatkan. Oleh karena itu, program magang menjadi salah satu cara di mana mahasiswa yang akan dikenalkan dengan lingkungan industri yang profesional. “Saya gembira adanya kerja sama ini dan semoga kedepannya dapat menjadi lebih baik lagi,” ungkap Rajesh.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., turut menyampaikan apresiasi atas kerja sama membuka peluang magang dan beasiswa bagi mahasiswa yang akan mendapatkan manfaat langsung dengan terjun ke industri. “Industri saat ini banyak yang menggunakan mekanisme beasiswa agar mahasiswa memiliki pengalaman mendalam dengan industri yang akan menjadi tempatnya berkarier nantinya,” katanya.

Menurut Wening, sejak awal, mahasiswa UGM memang sudah dikenalkan dengan perusahaan, terjun langsung dalam projek, dan bekerja langsung di perusahaan tersebut. Selain itu, ia menyampaikan bahwa mahasiswa UGM memiliki keunggulan dalam attitude  dan sekitar 80-87 persen mahasiswa teknik UGM bekerja sesuai dengan bidang kompetensi masing-masing.

Aryo Gusdawar selaku Senior General Manager HR PT TVS Motor Company Indonesia memaparkan bahwa PT TVS Motor Company merupakan perusahaan yang dimulai dari jasa penyedia transportasi di India yang mengutamakan ketepatan waktu. Pada tahun 1980an, mereka baru memproduksi motor yang berjalan hingga sekarang. Pada 2006, mereka melakukan ekspansi di Indonesia dan secara resmi mulai beroperasi pada 2007. Pada tahun lalu, mereka berhasil memproduksi 200 ribu motor dan sebesar 98% dari total produksi pabrik di Indonesia dialokasikan untuk pasar ekspor (seperti Afrika, Amerika Latin, Asia Selatan, Timur Tengah, dan ASEAN), sementara pasar domestik Indonesia hanya menyerap sekitar 2%. TVS berada di urutan ketiga secara global dan menunjukkan tren pertumbuhan positif sebesar 0,8% pada tahun 2025–2026 di tengah kelesuan industri otomotif global.

Penulis : Jesi

Editor : Gusti Grehenson

Foto. : Donnie

Artikel TVS Motor Company Buka Peluang Karier Mahasiswa UGM Lewat Program Magang Strategis pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/tvs-motor-company-buka-peluang-karier-mahasiswa-ugm-lewat-program-magang-strategis/feed/ 0
Dukung Pengelolaan Lingkungan Berbasis Data, Tim KKN UGM kembangkan WebGIS  https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-pengelolaan-lingkungan-berbasis-data-tim-kkn-ugm-kembangkan-webgis/ https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-pengelolaan-lingkungan-berbasis-data-tim-kkn-ugm-kembangkan-webgis/#respond Fri, 28 Aug 2026 09:12:40 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97049 Tim KKN-PPM UGM Winongo Warawangsa mengembangkan dua Web Geographic Information System (WebGIS) untuk mendukung pengelolaan lingkungan berbasis data di Kelurahan Kricak, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Sistem informasi geografis atau pemetaan digital yang dapat diakses secara online ini memuat informasi kondisi bantaran Sungai Winongo dan Kali Buntung, titik permasalahan sampah, serta sebaran dan kondisi bank sampah […]

Artikel Dukung Pengelolaan Lingkungan Berbasis Data, Tim KKN UGM kembangkan WebGIS  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Tim KKN-PPM UGM Winongo Warawangsa mengembangkan dua Web Geographic Information System (WebGIS) untuk mendukung pengelolaan lingkungan berbasis data di Kelurahan Kricak, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Sistem informasi geografis atau pemetaan digital yang dapat diakses secara online ini memuat informasi kondisi bantaran Sungai Winongo dan Kali Buntung, titik permasalahan sampah, serta sebaran dan kondisi bank sampah dalam bentuk peta interaktif.

Program ini digagas karena Kelurahan Kricak merupakan wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di Kemantren Tegalrejo, yaitu 15.879 jiwa per kilometer persegi dari total 13.478 jiwa di lahan seluas 84,88 hektare. Sebagian permukiman di bantaran Sungai Winongo juga termasuk kawasan kumuh berdasarkan SK Wali Kota Yogyakarta Nomor 158 Tahun 2021. Observasi awal menunjukkan bahwa titik sampah liar serta kondisi bantaran Sungai Winongo dan Kali Buntung belum dipetakan secara sistematis, sehingga belum tersedia alat bantu visual untuk menentukan prioritas penanganan.

Diandra Keisya Jihan Feriska dari Program Studi S1 Teknik Geodesi, Fakultas Teknik UGM, selaku penanggung jawab program, mengatakan bahwa WebGIS dikembangkan agar informasi lingkungan dapat dihimpun dalam satu basis data spasial yang mudah diakses dan diperbarui. “Kami ingin membantu masyarakat maupun kelurahan melihat kondisi lingkungan secara lebih menyeluruh, mulai dari kondisi bantaran sungai dan titik permasalahan sampah hingga sebaran bank sampah. Harapannya, data ini tidak hanya menjadi dokumentasi selama KKN, tetapi juga dapat terus diperbarui sebagai pertimbangan dalam menentukan tindak lanjut pengelolaan lingkungan di Kelurahan Kricak,” jelasnya dalam rilis yang dikirimkan pada Jumat (28/8).

Survei dilaksanakan pada akhir Juni hingga awal Juli 2026 di bantaran Sungai Winongo dan Kali Buntung secara partisipatif bersama warga. Dari survei ini, ditemukan data mengenai lokasi dan tingkat penumpukan sampah, kondisi fisik bantaran, akses menuju sungai, aktivitas masyarakat, serta dokumentasi foto yang dihimpun menggunakan ODK Collect, kemudian divalidasi dan diolah dengan QGIS serta qgis2web. Tantangan terbesar muncul pada segmen selatan Sungai Winongo dan Kali Buntung karena beberapa titik sempit, menurun, tertutup vegetasi, serta berbatasan langsung dengan permukiman padat. Warga pun turut mendampingi dan menunjukkan lokasi penumpukan sampah sehingga data lebih akurat. WebGIS ini dilengkapi statistik ringkas, heatmap, klasifikasi prioritas penanganan, dokumentasi foto, fasilitas pengunduhan data, serta formulir pelaporan titik sampah baru dan dipublikasikan melalui GitHub Pages.

Setelah itu, Tim KKN-PPM UGM pun turut mengembangkan WebGIS Pemetaan dan Optimalisasi Sebaran Bank Sampah Kelurahan Kricak. Selesai penelusuran informasi publik dan koordinasi dengan Ketua Forum Bank Sampah serta pengelola di tiap RW, survei dilaksanakan di 13 RW menggunakan QField. Survei menemukan satu unit bank sampah di RW 6 sudah tidak aktif sejak awal 2026. Sementara itu, sejumlah bank sampah lain aktif mengembangkan inovasi, seperti pengolahan sampah organik menjadi eco enzyme dan biopori serta kerajinan dari sampah anorganik. Bank sampah RW 5 juga memperoleh bantuan mesin pencacah sampah organik berkat prestasinya dalam berbagai lomba pengelolaan sampah.

Data dari 15 unit bank sampah meliputi lokasi, status operasional, jadwal pelayanan, jenis sampah yang diterima, fasilitas, cakupan layanan, serta potensi pengembangan. Data tersebut dilengkapi dokumentasi foto dan tautan Google Maps serta diintegrasikan dengan batas administrasi 13 RW. WebGIS Sebaran Bank Sampah dipublikasikan melalui GitHub Pages pada 23 Juli 2026 dan dilengkapi dengan ikon bank sampah, heatmap, statistik, serta rekomendasi lokasi. Data bank sampah dapat diperbarui melalui QField, sedangkan data titik sampah dan kondisi bantaran sungai melalui ODK Collect.

Untuk memperluas akses masyarakat, hasil pemetaan disosialisasikan melalui poster ber-QR Code yang memuat petunjuk singkat penggunaan WebGIS. Poster dipasang di enam titik strategis di Kampung Jatimulyo, Kricak Kidul, dan Bangunrejo agar mudah dilihat dan diakses oleh warga. Program ini pun menjadi bagian dari upaya KKN-PPM UGM Winongo Warawangsa dalam mendorong pengelolaan lingkungan yang berbasis data, partisipatif, dan berkelanjutan di Kelurahan Kricak. Warga setempat pun mengapresiasi pengembangan tersebut, seperti yang diungkapkan oleh Bapak Yuri, perangkat Kelurahan Kricak. “WebGIS ini membantu melihat kondisi lingkungan, titik sampah, dan sebaran bank sampah dalam satu platform. Kami berharap data ini dapat terus diperbarui dan dimanfaatkan untuk mendukung dalam menentukan prioritas penanganan lingkungan di Kelurahan Kricak,” harapnya.

Reportase : Diandra Keisya Jihan Feriska/Tim KKN

Penulis : Leony

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Tim KKN-PPM UGM

Artikel Dukung Pengelolaan Lingkungan Berbasis Data, Tim KKN UGM kembangkan WebGIS  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-pengelolaan-lingkungan-berbasis-data-tim-kkn-ugm-kembangkan-webgis/feed/ 0
Gagas Pertanian Urban Hemat Energi, Tim Mahasiswa UGM Manfaatkan Surya dan Kelembapan Udara https://ugm.ac.id/id/berita/gagas-pertanian-urban-hemat-energi-tim-mahasiswa-ugm-manfaatkan-surya-dan-kelembapan-udara/ https://ugm.ac.id/id/berita/gagas-pertanian-urban-hemat-energi-tim-mahasiswa-ugm-manfaatkan-surya-dan-kelembapan-udara/#respond Fri, 28 Aug 2026 08:31:11 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97045 Praktik bercocok tanam di kawasan kota besar dengan memanfaatkan lahan yang terbatas menjadi tantangan tersendiri dalam menjalan konsep pertanian urban. Di tengah menjamurnya gedung bertingkat dan pencakar langit menyebabkan pertanian urban ini membutuhkan pasokan air dan listrik yang tidak sedikit. Lima mahasiswa UGM menawarkan gagasan inovasi yang mereka namakan Aurora yang merupakan kependekan dari Autonomous […]

Artikel Gagas Pertanian Urban Hemat Energi, Tim Mahasiswa UGM Manfaatkan Surya dan Kelembapan Udara pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Praktik bercocok tanam di kawasan kota besar dengan memanfaatkan lahan yang terbatas menjadi tantangan tersendiri dalam menjalan konsep pertanian urban. Di tengah menjamurnya gedung bertingkat dan pencakar langit menyebabkan pertanian urban ini membutuhkan pasokan air dan listrik yang tidak sedikit.

Lima mahasiswa UGM menawarkan gagasan inovasi yang mereka namakan Aurora yang merupakan kependekan dari Autonomous Utility for Renewable Resources, sebuah alat atau sistem yang terintegrasi dengan panel surya dan alat kondensasi air untuk menghadirkan sistem pertanian vertikal yang lebih mandiri, efisien, dan terintegrasi.

Inovasi tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas disiplin mahasiswa UGM yang terbentuk dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Video Gagasan Konstruktif (PKM-VKG). Tim tersebut terdiri dari Orva Linnisa Husaina (S1 Teknik Fisika) sebagai ketua tim bersama keempat rekan lintas jurusannya, yakni Rayhana Azzahra Kusmana (S1 Farmasi), Arfa Fadilah Ramadhan (S1 Teknik Kimia), Nayaka Sandya Kesuma (D4 Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan kontrol), dan Faqih Zulfikar Alkaha (S1 Teknik Elektro) yang dibimbing oleh Budi Sumanto, S.Si, M.Eng, dosen Teknik Elektro dan Informatika, SV, UGM.

Orva mengatakan ide besar di balik pengembangan Aurora bermula dari keprihatinan mendalam mereka atas persoalan yang kerap ditemui dalam sektor pertanian modern saat ini. Menurutnya, pertanian urban masih bergantung pada pasokan air dan listrik dari luar, sementara itu pengelolaan kondisi tanaman, seperti mengukur kadar pH, nutrisi, suhu, kualitas air, hingga kondisi tanaman, juga banyak dilakukan secara manual.

Lebih jauh ia menjelaskan mekanisme kerja dari gagasan inovasi Aurora dengan penyediaan energi terbarukan melalui panel surya bifacial berdaya guna tinggi, produksi air mandiri lewat Atmospheric Water Generator (AWG) berbasis kondensasi, hingga pemanfaatan struktur bangunan melalui konsep green passive building guna mengoptimalkan ruang di tengah menjamurnya gedung-gedung pencakar langit. “Distribusi energi dan irigasi dikelola secara real-time berbasis AI-IoT, lengkap dengan kontrol otomatis untuk kapasitas, nutrisi, pH, suhu air, hingga kesehatan tanaman,” jelas Orva, Jumat (28/8).

Rayhana, anggota tim lainnya, menuturkan bahwa inovasi ini dikemas dan disampaikan melalui sebuah Video Gagasan Konstruktif. Format visual ini dipilih agar konsep gagasan dapat divisualisasikan dengan lebih mudah dan menarik bagi masyarakat luas maupun dewan juri. Dalam video tersebut, pihaknya memadukan teknik sinematografi dan storytelling yang kuat, serta didukung oleh visualisasi animasi 3D dan tracking augmented reality (AR) game user interface (UI). “Melalui perpaduan ini, penonton bisa melihat cara kerja Aurora secara visual,” ujar Rayhana.

Rayhan pun berharap inovasi Aurora ini tidak berhenti sekadar sebagai sebuah gagasan kompetisi, melainkan menjadi pemantik semangat bagi generasi muda untuk terus menghadirkan solusi nyata bagi permasalahan bangsa. “Ketahanan pangan, air, dan energi Indonesia kelak berada di tangan inovasi-inovasi yang inklusif dan berkelanjutan.” pungkasnya.

Penulis : Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Tim PKM

Artikel Gagas Pertanian Urban Hemat Energi, Tim Mahasiswa UGM Manfaatkan Surya dan Kelembapan Udara pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/gagas-pertanian-urban-hemat-energi-tim-mahasiswa-ugm-manfaatkan-surya-dan-kelembapan-udara/feed/ 0
KKN UGM Inisiasi Budidaya Ayam Petelur Pakan Maggot https://ugm.ac.id/id/berita/kkn-ugm-inisiasi-budidaya-ayam-petelur-pakan-maggot/ https://ugm.ac.id/id/berita/kkn-ugm-inisiasi-budidaya-ayam-petelur-pakan-maggot/#respond Fri, 28 Aug 2026 08:09:14 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97038 Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada memberikan pelatihan budidaya ayam petelur skala rumah tangga terintegrasi dengan maggot Black Soldier Fly (BSF) kepada ibu-ibu PKK Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kegiatan yang berlangsung saat masa KKN pada 24 Juli 2026 silam tersebut diarahkan untuk […]

Artikel KKN UGM Inisiasi Budidaya Ayam Petelur Pakan Maggot pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada memberikan pelatihan budidaya ayam petelur skala rumah tangga terintegrasi dengan maggot Black Soldier Fly (BSF) kepada ibu-ibu PKK Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kegiatan yang berlangsung saat masa KKN pada 24 Juli 2026 silam tersebut diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan keluarga sekaligus membuka peluang usaha berbasis peternakan yang ramah lingkungan. Program ini memanfaatkan potensi pekarangan rumah yang belum optimal serta sampah organik rumah tangga yang dapat diolah kembali.

Dalam pelatihan, mahasiswa mengenalkan budidaya ayam petelur menggunakan sistem kandang baterai yang dinilai memudahkan pemeliharaan pada skala rumah tangga. Materi mencakup pemilihan bibit, desain kandang, pemberian pakan dan air minum, pengendalian kesehatan ternak, hingga teknik pemanenan telur. Peserta juga mendapatkan pengenalan mengenai budidaya maggot BSF mulai dari penetasan telur hingga menjadi lalat BSF. Penanggung jawab program, Nafi’atush Sholikhah, mahasiswa Fakultas Peternakan UGM angkatan 2023, menjelaskan bahwa praktik langsung menjadi bagian penting dalam pelatihan agar peserta memperoleh gambaran penerapan sistem secara nyata. “Kami menghadirkan percontohan budidaya ayam petelur skala rumah tangga dengan sistem baterai beserta budidaya maggot BSF yang lengkap dengan kandang maggot agar ibu-ibu PKK dapat melihat langsung bagaimana sistem integrasi ini diterapkan serta dapat memperoleh gambaran jelas terkait budidaya di pekarangan rumah masing-masing,” ujar Nafi’.

Integrasi ayam petelur dan maggot BSF menjadi bagian penting dari konsep pemanfaatan kembali limbah di tingkat rumah tangga. Sampah organik dari sisa makanan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan maggot BSF, sedangkan maggot yang dihasilkan dapat digunakan sebagai pakan tambahan bagi ayam petelur. Dari budidaya ayam, telur yang dihasilkan dapat dikonsumsi keluarga maupun dijual sehingga memberikan nilai tambah bagi rumah tangga. Rangkaian tersebut membentuk siklus pemanfaatan sumber daya yang dapat membantu menekan biaya produksi sekaligus mengurangi limbah organik rumah tangga.

Antusiasme peserta terlihat selama pelatihan melalui berbagai pertanyaan dan diskusi mengenai pemeliharaan ayam maupun budidaya maggot. Ketua PKK sekaligus Ibu Kepala Desa Sumber Sari, Wantini, menyambut baik kegiatan yang diberikan mahasiswa KKN-PPM UGM. Menurutnya, pengetahuan dan praktik yang diperoleh dapat menjadi bekal bagi ibu-ibu PKK untuk mencoba budidaya ayam petelur di lingkungan rumah masing-masing. “Kami sangat senang ada KKN mahasiswa UGM yang dapat memberikan pelatihan budidaya ayam petelur sehingga harapannya ibu-ibu dapat mempraktikkannya di rumah,” tuturnya.

Pelatihan tersebut diharapkan dapat memberikan alternatif bagi keluarga dalam memenuhi kebutuhan pangan, khususnya sumber protein hewani dari telur. Pemanfaatan pekarangan untuk budidaya ayam petelur juga membuka peluang bagi keluarga untuk mengembangkan kegiatan produktif dari lingkungan rumah. Di sisi lain, pemanfaatan sampah organik untuk budidaya maggot dapat membantu mengurangi limbah sekaligus menyediakan pakan tambahan bagi ayam. Pendekatan ini memberikan gambaran mengenai pengelolaan usaha peternakan skala rumah tangga yang menghubungkan aspek pangan, lingkungan, dan ekonomi.

Melalui program tersebut, mahasiswa KKN-PPM UGM berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat diterapkan setelah pelatihan selesai. Budidaya ayam petelur dan maggot BSF diharapkan dapat dikembangkan secara bertahap sesuai dengan kondisi pekarangan dan kemampuan masing-masing keluarga. Hasilnya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga maupun dikembangkan sebagai peluang usaha yang memberikan nilai ekonomi. Dengan pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekitar rumah, program ini diharapkan dapat mendukung ketahanan pangan keluarga sekaligus mendorong kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.

Reportase : Nafi’atush Sholikhah/Tim KKN

Penulis      : Triya Andriyani

Artikel KKN UGM Inisiasi Budidaya Ayam Petelur Pakan Maggot pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kkn-ugm-inisiasi-budidaya-ayam-petelur-pakan-maggot/feed/ 0
UGM dan Pemda DIY Dorong Regenerasi Petani melalui Tandur Muda https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-pemda-diy-dorong-regenerasi-petani-muda-melalui-tandur-muda/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-pemda-diy-dorong-regenerasi-petani-muda-melalui-tandur-muda/#respond Fri, 28 Aug 2026 05:25:50 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97031 Universitas Gadjah Mada bersama Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta mendorong penguatan regenerasi petani melalui program Tandur Muda DIY. Program ini dirancang untuk mengajak generasi muda kembali melihat pertanian sebagai bidang yang dapat dikembangkan sekaligus memperkuat perekonomian desa. Upaya tersebut menjadi bagian dari kolaborasi antara pemerintah daerah dan UGM dalam menyiapkan keberlanjutan sektor pertanian di Yogyakarta. […]

Artikel UGM dan Pemda DIY Dorong Regenerasi Petani melalui Tandur Muda pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada bersama Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta mendorong penguatan regenerasi petani melalui program Tandur Muda DIY. Program ini dirancang untuk mengajak generasi muda kembali melihat pertanian sebagai bidang yang dapat dikembangkan sekaligus memperkuat perekonomian desa. Upaya tersebut menjadi bagian dari kolaborasi antara pemerintah daerah dan UGM dalam menyiapkan keberlanjutan sektor pertanian di Yogyakarta. Hal tersebut disampaikan dalam audiensi Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan Rektor UGM, Kamis (27/8) di Kantor Kepatihan Yogyakarta.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., mengatakan perhatian terhadap pertanian dan generasi muda menjadi salah satu gagasan yang dibahas dalam audiensi tersebut. UGM telah menyiapkan konsep bersama sejumlah pihak di lingkungan universitas untuk merespons gagasan tersebut. Konsep itu kemudian dilaporkan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai bagian dari pembahasan pengembangan program. “Beliau punya keinginan untuk pertanian, untuk generasi muda, itu beliau konsepnya di situ,” ujar Ova.

Ova menjelaskan, pengembangan program tersebut juga menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai unsur. Selain pemerintah daerah dan universitas, UGM melibatkan alumni, komunitas masyarakat, serta korporasi dalam mendukung pelaksanaan program di lapangan. Keterlibatan berbagai pihak diharapkan dapat memperkuat ekosistem program sekaligus membuka peluang pengembangan yang lebih luas. “Jadi ini saya kira salah satu bukti kerjasama yang real ya, di lapangan antara pemerintah daerah dengan universitas, bahkan dengan alumni, kemudian juga dengan komunitas masyarakat dan korporat,” kata Ova.

Dekan Fakultas Filsafat UGM, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum., mengatakan program tersebut berangkat dari keinginan Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk mengubah cara pandang generasi muda terhadap pertanian. UGM bersama Pemda DIY kemudian merancang program yang tidak hanya mendorong minat anak muda, tetapi juga memperkuat proses regenerasi di sektor pertanian. Desain tersebut diarahkan untuk menghidupkan kembali semangat generasi muda agar melihat pertanian sebagai bidang yang layak dikembangkan. “Sultan HB X ini menghendaki untuk bagaimana merubah mindset para pemuda-pemuda di Yogyakarta untuk mencintai kembali ke pertanian,” tutur Siti.

 

Dekan Fakultas Pertanian UGM, Prof. Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D., mengatakan dukungan bagi petani muda juga disiapkan melalui aspek pendanaan dan kepastian pasar. Pendanaan dapat bersumber dari pemerintah daerah maupun dana keistimewaan, sedangkan jejaring alumni melalui Kagama diharapkan dapat berperan sebagai offtaker bagi hasil pertanian. Skema tersebut diharapkan memberi kepastian kepada petani muda untuk terus mengembangkan kegiatan pertaniannya. “Dan mudah-mudahan ini nanti terus bergilir dan juga menular ke yang lain, sehingga regenerasi petani juga bisa berhasil,” kata Jaka.

Pengembangan petani muda juga diarahkan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berangkat dari desa. Dengan berkembangnya aktivitas ekonomi di tingkat desa, generasi muda diharapkan memiliki peluang untuk bekerja dan mengembangkan usaha tanpa harus berpindah ke kota. Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mempertahankan generasi muda agar tetap memiliki keterikatan ekonomi dengan wilayah perdesaan. “Harapan Sultan adalah ekonomi desa itu berkembang dari desa, bukan di kota,” tegas Jaka.

Lebih lanjut, dalam pelaksanaan program, UGM akan mengambil peran supervisi terhadap kegiatan yang dijalankan Pemda DIY. Peran tersebut diperlukan untuk memastikan program berjalan sesuai rencana dan memiliki mekanisme pengawasan dalam pelaksanaannya. Kolaborasi ini juga diharapkan dapat melengkapi pelaksanaan program pemerintah daerah yang sebelumnya belum memiliki pendampingan supervisi dari universitas. “Jadi ini tugas universitas akan menjadi supervisi, bisa memastikan bahwa programnya berjalan, programnya sesuai rencana,” ucap Jaka.

Kini, program Tandur Muda DIY telah melalui tahap pilot dan selanjutnya akan dikembangkan ke skala yang lebih luas. Pengembangan tersebut juga mencakup penyiapan struktur organisasi agar kerja sama antara pemerintah daerah dan UGM memiliki kerangka yang lebih formal. Struktur tersebut diperlukan, antara lain, agar dukungan pendanaan dari pemerintah daerah dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Program ini nantinya dirancang dengan pendekatan pertanian holistik yang mempertimbangkan berbagai aspek dalam pengembangan kegiatan pertanian. Jaka menjelaskan pendekatan tersebut memungkinkan berbagai potensi persoalan diperhitungkan sejak awal sehingga risiko kegagalan dapat diantisipasi dalam pelaksanaan program. Keberlanjutan program menjadi salah satu perhatian agar manfaatnya tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi dapat berdampak pada kesejahteraan masyarakat desa. “Nah inilah yang menjadi hal baru, bagaimana Tandur Muda DIY ini bisa berkelanjutan dan mengangkat kesejahteraan di tingkat desa,” katanya.

Pengembangan kapasitas generasi muda juga menjadi bagian dari program Tandur Muda DIY. Pemuda akan mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan dan sertifikasi sebagai bagian dari penguatan kemampuan dalam bidang pertanian. Dukungan tersebut juga dapat diperluas melalui berbagai kegiatan promosi dan pengembangan jejaring pertanian yang melibatkan pemuda Yogyakarta.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Firsto

Artikel UGM dan Pemda DIY Dorong Regenerasi Petani melalui Tandur Muda pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-pemda-diy-dorong-regenerasi-petani-muda-melalui-tandur-muda/feed/ 0
Bantu Petani, Mahasiswa UGM Kembangkan Inovasi Deteksi Cepat Penyakit Cabai https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-petani-mahasiswa-ugm-kembangkan-inovasi-deteksi-cepat-penyakit-cabai/ https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-petani-mahasiswa-ugm-kembangkan-inovasi-deteksi-cepat-penyakit-cabai/#respond Fri, 28 Aug 2026 04:38:24 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97027 Permasalahan gagal panen para petani cabai kerap disebabkan oleh virus yang menyerang tanaman saat dewasa. Virus kuning atau Pepper Yellow Leaf Curl Indonesian Virus (PYLCIV) merupakan virus yang menyerang tanaman cabai dan meninggalkan ciri-ciri mencolok berupa daun berwarna kekuningan. Penanganan yang dilakukan sering kali terlambat karena gejala muncul saat tanaman cabai akan dipanen. Berangkat dari […]

Artikel Bantu Petani, Mahasiswa UGM Kembangkan Inovasi Deteksi Cepat Penyakit Cabai pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Permasalahan gagal panen para petani cabai kerap disebabkan oleh virus yang menyerang tanaman saat dewasa. Virus kuning atau Pepper Yellow Leaf Curl Indonesian Virus (PYLCIV) merupakan virus yang menyerang tanaman cabai dan meninggalkan ciri-ciri mencolok berupa daun berwarna kekuningan. Penanganan yang dilakukan sering kali terlambat karena gejala muncul saat tanaman cabai akan dipanen.

Berangkat dari hal tersebut, lima mahasiswa UGM yang tergabung dalam Tim SPECTRA dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) mengembangkan inovasi deteksi dini pada tanaman cabai sebagai langkah awal untuk mengetahui status penyakit menggunakan sensor multispektral dan analisis machine learning. Kelima mahasiswa yang berasal dari berbagai jurusan tersebut yaitu Hasan Rabbani (S1 Fisika) sebagai ketua tim, beserta empat anggota lainnya, yaitu Nur Johan Pratama (S1 Proteksi Tanaman), Priamitra Aditiya Satriamukti (S1 Proteksi Tanaman), Saktian Hutama (S1 Biologi), dan Zaskia Fakhira Priatna (S1 Biologi), dengan Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si., dosen sekaligus dekan FMIPA UGM sebagai pembimbing.

Di tahap awal penelitian ini adalah dengan menumbuhkan 30 buah tanaman cabai sebagai sampel di wilayah Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta. Lokasi ini dipilih karena letaknya berada di kaki Gunung Merapi, sehingga sangat cocok untuk pertumbuhan tanaman. “Cabai harus ditanam di lingkungan dengan suhu harian yang normal, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, agar menghasilkan daun sehat dan dapat dianalisis sebagai sampel. Hal ini bertujuan agar hasil penelitian akurat,” ujar Priamitra, selaku anggota tim dalam rilis yang dikirimkan Jumat (28/8).

Sebanyak setengah dari total tanaman tersebut ditumbuhkan secara sehat di dalam kandang dengan perawatan rutin seperti penyiraman dan pemberian pupuk. Sedangkan sisanya akan dijadikan sampel yang akan diuji ke dalam tiga tahapan pokok. Selanjutnya, tim melakukan pemeliharaan kutu kebul di dalam kandang, dilanjutkan dengan penularan dengan virus kuning yang dibawa oleh kutu kebul. Kemudian, setelah kedua tahapan itu selesai, tahap terakhir adalah analisis menggunakan sensor multispektral dan machine learning.

Hasil sementara penelitian ini menunjukkan bahwa kutu kebul membawa virus kuning dan dapat menularkan tanaman cabai sehat. Selanjutnya daun dari masing-masing tanaman cabai, baik yang tertular virus maupun tidak, selanjutnya diuji menggunakan polymerase chain reactions (PCR) untuk mengetahui status penyakit secara valid. Setelah dipastikan, langkah berikutnya adalah pengambilan data dari daun tanaman cabai menggunakan sensor multispektral dan dilanjutkan dengan machine learning.

Cara kerja sensor ini sebenarnya cukup mudah, yaitu dengan menjepit daun menggunakan alat multispektral selama lima detik hingga keluar grafik pembacaan. Karakteristik cahaya yang dipantulkan oleh daun dapat digunakan untuk membedakan kondisi tanaman cabai yang sehat (tidak tertular virus kuning) atau sakit (tertular virus kuning). “Model yang dikembangkan juga mampu mencapai tingkat ketepatan hampir 80% untuk membedakan dua kondisi tersebut,” katanya.

Hasan selaku ketua tim menyebutkan bahwa penelitian ini penting dilakukan mengingat cara deteksi penyakit pada tanaman cabai, khususnya virus kuning, masih dilakukan secara sederhana dengan melihat langsung kondisi daun. Sekalipun bisa dilakukan analisis PCR, tidak dapat dipungkiri bahwa biaya yang dikeluarkan relatif besar dan perlu kemampuan khusus untuk mengoperasikannya. Terlebih, para petani memerlukan terobosan yang efisien, fleksibel, dan tentunya terjangkau. “Tujuan dari penelitian selama empat bulan ini sebenarnya untuk mengetahui sejauh mana sensor multispektral mampu mendeteksi tanaman cabai yang terserang virus kuning. Uji PCR dilakukan untuk memvalidasi bahwa sensor multispektral yang digunakan bekerja dengan baik,” pungkasnya.

Luaran penelitian ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara sensor multispektral dan machine learning berpotensi menjadi cara baru untuk mendeteksi serangan virus pada tanaman cabai secara lebih cepat tanpa merusak tanaman. Hasan dan tim pun berharap agar ke depannya inovasi ini dapat berkembang lebih baik dan dapat dimanfaatkan oleh  seluruh lapisan masyarakat, khususnya para petani.

Penulis: Leony

Editor: Gusti Grehenson

Foto: Dok. PKM

Artikel Bantu Petani, Mahasiswa UGM Kembangkan Inovasi Deteksi Cepat Penyakit Cabai pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-petani-mahasiswa-ugm-kembangkan-inovasi-deteksi-cepat-penyakit-cabai/feed/ 0