Ekosistem Perairan Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/ekosistem-perairan/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Fri, 21 Aug 2026 07:58:13 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 Jaga Ekosistem Perairan, Dosen dan Mahasiswa UGM Aksi Bersih Embung Tambakboyo https://ugm.ac.id/id/berita/jaga-ekosistem-perairan-dosen-dan-mahasiswa-ugm-aksi-bersih-embung-tambakboyo/ https://ugm.ac.id/id/berita/jaga-ekosistem-perairan-dosen-dan-mahasiswa-ugm-aksi-bersih-embung-tambakboyo/#respond Fri, 21 Aug 2026 07:58:13 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96842 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui aksi Bersih Embung Tambakboyo pada Kamis (20/8) di Kabupaten Sleman. Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-63 Departemen Perikanan UGM ini menjadi bentuk kepedulian civitas universitas terhadap kebersihan dan keberlanjutan ekosistem perairan tawar. Aksi tersebut melibatkan sekitar 70 peserta […]

Artikel Jaga Ekosistem Perairan, Dosen dan Mahasiswa UGM Aksi Bersih Embung Tambakboyo pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui aksi Bersih Embung Tambakboyo pada Kamis (20/8) di Kabupaten Sleman. Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-63 Departemen Perikanan UGM ini menjadi bentuk kepedulian civitas universitas terhadap kebersihan dan keberlanjutan ekosistem perairan tawar. Aksi tersebut melibatkan sekitar 70 peserta yang terdiri atas dosen Departemen Perikanan UGM, pengelola Embung Tambakboyo, serta mahasiswa di semua jenjang. Melalui kegiatan ini, peserta terlibat langsung dalam menjaga kebersihan kawasan embung sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan perairan.

Embung Tambakboyo merupakan kawasan perairan yang secara geografis mencakup wilayah Desa Wedomartani, Desa Condongcatur, dan Desa Maguwoharjo, Kabupaten Sleman. Embung tersebut berada dalam kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWS Serayu Opak) dan memiliki fungsi ekologis serta sosial bagi masyarakat sekitar. Ketua Departemen Perikanan UGM, Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., menyampaikan bahwa menjaga kondisi perairan tawar memerlukan kepedulian bersama dari perguruan tinggi, pengelola, mahasiswa, dan masyarakat. “Embung ini memiliki fungsi ekologis dan sosial bagi masyarakat, sehingga menjaga kebersihannya menjadi tanggung jawab bersama. Harapannya kegiatan ini dapat menumbuhkan kepedulian dan mendorong semakin banyak pihak untuk ikut menjaga ekosistem perairan,” ujarnya.

Aksi bersih embung dilakukan dengan mengumpulkan berbagai jenis sampah yang ditemukan di kawasan tersebut. Para peserta membersihkan sampah plastik maupun sampah organik yang tersebar di sekitar embung. Rangkaian kegiatan juga mencakup pemasangan papan anjuran serta sosialisasi kepada masyarakat mengenai penanganan ikan dan pentingnya menjaga ekosistem perairan. Dari kegiatan pembersihan, peserta berhasil mengumpulkan lebih dari 25 trashbag sampah.

Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari pengelola Embung Tambakboyo. Pengelola Embung Tambakboyo, Sumaryanto, menyampaikan bahwa sampah masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi di kawasan embung sehingga kegiatan pembersihan perlu dilakukan secara rutin. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pihak agar kebersihan dan kelestarian embung tetap terjaga. “Sampah masih menjadi salah satu persoalan di kawasan embung. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa dilakukan secara rutin dan berkelanjutan supaya kebersihan dan kelestarian Embung Tambakboyo tetap terjaga,” ungkapnya.

Bagi mahasiswa, keterlibatan dalam Bersih Embung Tambakboyo menjadi kesempatan untuk belajar mengenai pengelolaan lingkungan perairan melalui pengalaman langsung di lapangan. Kegiatan tersebut mempertemukan proses pembelajaran akademik dengan aksi nyata dalam menjaga ekosistem perairan tawar. Pengalaman ini diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian mahasiswa terhadap keberlanjutan lingkungan sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pengabdian kepada masyarakat.

Bersih Embung Tambakboyo menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM sekaligus bentuk kontribusi akademisi dalam menjaga lingkungan perairan. Pembersihan kawasan, pemasangan papan anjuran, dan sosialisasi mengenai penanganan ikan menjadi rangkaian kegiatan yang diarahkan untuk meningkatkan kesadaran bersama. Kolaborasi dengan pengelola embung juga diharapkan dapat menjaga keberlanjutan upaya pemeliharaan kawasan setelah kegiatan selesai. Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM berharap sinergi dengan pengelola embung dan masyarakat dapat terus berkembang untuk mewujudkan ekosistem perairan tawar yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Reportase: Departemen Perikanan UGM

Editor: Triya Andriyani

Artikel Jaga Ekosistem Perairan, Dosen dan Mahasiswa UGM Aksi Bersih Embung Tambakboyo pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/jaga-ekosistem-perairan-dosen-dan-mahasiswa-ugm-aksi-bersih-embung-tambakboyo/feed/ 0
Ancaman Spesies Ikan Asing Invasif terhadap Ekosistem Perairan https://ugm.ac.id/id/berita/ancaman-spesies-ikan-asing-invasif-terhadap-ekosistem-perairan/ https://ugm.ac.id/id/berita/ancaman-spesies-ikan-asing-invasif-terhadap-ekosistem-perairan/#respond Fri, 22 May 2026 09:19:11 +0000 https://ugm.ac.id/?p=93818 Keberadaan spesies ikan asing invasif di Indonesia semakin menjadi perhatian serius karena berpotensi mengancam keseimbangan ekosistem, keanekaragaman hayati, hingga kesehatan lingkungan. Berdasarkan laporan Platform Antarpemerintah tentang Keanekaragaman Hayati dan Jasa Ekosistem (IPBES), lebih dari 37.000 spesies asing telah dibawa oleh banyak aktivitas manusia ke wilayah dan bioma baru di seluruh dunia. Lebih dari 3.500 di […]

Artikel Ancaman Spesies Ikan Asing Invasif terhadap Ekosistem Perairan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Keberadaan spesies ikan asing invasif di Indonesia semakin menjadi perhatian serius karena berpotensi mengancam keseimbangan ekosistem, keanekaragaman hayati, hingga kesehatan lingkungan. Berdasarkan laporan Platform Antarpemerintah tentang Keanekaragaman Hayati dan Jasa Ekosistem (IPBES), lebih dari 37.000 spesies asing telah dibawa oleh banyak aktivitas manusia ke wilayah dan bioma baru di seluruh dunia. Lebih dari 3.500 di antaranya spesies asing invasif berbahaya yang bisa mengancam alam dan manusia. Hasil riset dan pemetaan dari BRIN menunjukkan, ada sekitar 247 jenis ikan asing di Indonesia dan 50 jenis diantaranya diduga berada di perairan umum. Dari jumlah tersebut, sekitar 20 jenis diantaranya telah dikategorikan sebagai spesies invasif dengan potensi penyebaran yang tinggi. Beberapa contoh yang umum ditemukan di Indonesia antara lain ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys sp.), kelompok ikan siklid seperti red devil, ikan cere (Gambusia affinis), nila,  hingga ikan arapaima dan aligator gar.

Dosen Fakultas Biologi UGM, mengatakan spesies asing invasif merupakan organisme non lokal yang masuk ke ekosistem baru dan berkembang secara masif hingga mengancam spesies asli. Menurutnya, spesies tersebut disebut “asing” karena berasal dari luar habitat aslinya dan disebut “invasif” karena mampu berkembang pesat, mendominasi, serta mengganggu ekosistem baru yang ditempatinya.

Donan menambahkan bahwa tidak semua spesies asing otomatis bersifat invasif. Namun demikian, potensi tersebut tetap harus diwaspadai. “Meskipun tidak semua spesies asing berpotensi invasif, misalnya ikan koi, namun potensi tersebut tetap ada tergantung dari kemampuan adaptasi spesies dan kondisi lingkungannya. Sehingga tetap harus waspada dan dimitigasi,” ujarnya, Jumat (22/5).

Ia mengutip Berdasarkan kajian literatur yang diterbitkan dalam jurnal Sains Malaysiana tahun 2022, ditemukan sedikitnya 50 spesies ikan asing di 72 danau dan 57 sungai pada 28 provinsi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 18 spesies termasuk kategori invasif. Ikan siklid tercatat mendominasi ekosistem danau, sementara ikan sapu-sapu lebih banyak ditemukan di wilayah sungai. Masuknya spesies asing invasif ke Indonesia sebagian besar dipicu oleh aktivitas manusia. Jalur yang paling umum ialah perdagangan ikan hias dan ikan budidaya konsumsi. “Banyak ikan dilepas ke perairan umum ketika pemilik tidak lagi mampu merawatnya atau ketika ikan budidaya terbawa banjir dari kolam pemeliharaan,” ujarnya.

Selain itu, introduksi ikan asing juga terjadi melalui pelepasan seremonial maupun program pengendalian biologis pada masa kolonial. Salah satu contohnya ialah introduksi ikan cere (Gambusia affinis) untuk mengendalikan jentik nyamuk malaria. Para peneliti Fakultas Biologi UGM menilai spesies invasif berbahaya karena mampu mengubah rantai makanan dan menciptakan kompetisi sumber daya dengan spesies lokal. Ikan sapu-sapu misalnya, dapat merusak habitat ikan lokal dengan memakan tumbuhan air dan alga serta membuat lubang di dasar perairan. Donan juga mencontohkan dampak lain dari spesies invasif terhadap fauna lokal. “Ikan cere akan menyerang dan menggerogoti ekor larva salamander api sehingga banyak larva yang tidak dapat tumbuh dewasa hingga mengalami kematian,” jelasnya.

Sementara itu, ikan nila dinilai dapat memicu eutrofikasi atau ledakan pertumbuhan alga di perairan akibat peningkatan nitrogen dan fosfor dari ekskresi ikan tersebut. “Kondisi ini berpotensi meningkatkan kematian ikan lain di habitat yang sama,” katanya.

Akbar Reza, M.Sc., Dosen Fakultas Biologi UGM dari Laboratorium Ekologi Konservasi menuturkan bahwa salah satu alasan ikan invasif sulit diberantas adalah kemampuan adaptasinya yang sangat tinggi. “Secara ekologis, beberapa jenis ikan invasif seperti ikan sapu-sapu memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, bahkan sangat toleran pada logam berat sehingga terdistribusi luas. Terlebih tidak ada predator yang mampu mengontrol populasinya,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Dr. Luthfi Nurhidayat, Dosen Fakultas Biologi UGM dari Laboratorium Struktur dan Perkembangan Hewan,menyoroti kemampuan reproduksi ikan invasif yang sangat cepat. “Ketika ikan-ikan invasif tersebut masuk ke dalam perairan terbuka umum di Indonesia yang tidak terlalu keras kompetisinya, maka pertumbuhan populasinya menjadi tidak terkendali,” jelas Luthfi.

Kendari demikian, ia menyanyikan masih banyak sebagian masyarakat yang belum memahami dampak pelepasan ikan invasif ke alam bebas. Bahkan aktivitas pelepasan ikan untuk kebutuhan konsumsi maupun seremonial masih sering dilakukan tanpa mempertimbangkan dampak ekologis jangka panjang.

Dalam upaya pengendalian, Akbar menekankan pentingnya pendekatan terintegrasi yang melibatkan regulasi, riset, pengendalian lapangan, serta edukasi publik. Karenanya, pengendalian spesies invasif harus dilakukan secara terintegrasi, mencakup tiga pilar utama, legalitas dan riset, pengendalian fisik maupun biologis, dan pencegahan melalui kolaborasi.

Akbar mengungkapkan daftar Jenis Asing Invasif (JAI) perlu terus diperbarui dan didukung penelitian jangka panjang agar kebijakan penindakan lebih efektif. Selain itu, koordinasi antarinstansi seperti BRIN, perguruan tinggi, Dinas Kelautan dan Perikanan, hingga Badan Karantina perlu diperkuat.

Luthfi menambahkan bahwa pengendalian di lapangan dapat dilakukan melalui penangkapan intensif, isolasi perairan, pengeringan, hingga restorasi spesies lokal berbasis ekologi. Pemanfaatan ekonomi ikan invasif juga dapat menjadi salah satu strategi untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pengendalian populasi. Saat ini, Indonesia telah memiliki sejumlah regulasi terkait pengendalian spesies invasif, di antaranya Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.94 tentang Jenis Invasif serta Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020 mengenai larangan pemasukan dan peredaran ikan yang membahayakan ekosistem.

Meski demikian, Luthfi menilai regulasi tersebut perlu terus diperbarui menyesuaikan perubahan kondisi ekosistem yang berlangsung cepat. “Dengan penguatan kebijakan, edukasi, serta kolaborasi lintas sektor, diharapkan ancaman spesies asing invasif terhadap keanekaragaman hayati Indonesia dapat ditekan secara lebih efektif,” pungkasnya.

Penulis : Jelita Agustine

Editor   : Gusti Grehenson

Foto     : Alodokter dan wikipedia

Artikel Ancaman Spesies Ikan Asing Invasif terhadap Ekosistem Perairan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ancaman-spesies-ikan-asing-invasif-terhadap-ekosistem-perairan/feed/ 0