Kerja Sama Internasional Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/kerja-sama-internasional/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Wed, 26 Aug 2026 09:09:30 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 UGM dan University of Melbourne Resmi Buka Tiga Program Double Degree https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-university-of-melbourne-resmi-buka-tiga-program-double-degree/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-university-of-melbourne-resmi-buka-tiga-program-double-degree/#respond Wed, 26 Aug 2026 09:09:30 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96941 Universitas Gadjah Mada bersama The University of Melbourne meluncurkan tiga program Master’s Double Degree dalam rangka pengembangan Transnational Education (TNE), Rabu (26/8). Peluncuran ini menjadi babak baru dalam kemitraan kedua universitas yang telah berlangsung selama puluhan tahun dan berkembang melalui berbagai kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, serta mobilitas akademik. Tiga program yang diluncurkan mencakup bidang […]

Artikel UGM dan University of Melbourne Resmi Buka Tiga Program Double Degree pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada bersama The University of Melbourne meluncurkan tiga program Master’s Double Degree dalam rangka pengembangan Transnational Education (TNE), Rabu (26/8). Peluncuran ini menjadi babak baru dalam kemitraan kedua universitas yang telah berlangsung selama puluhan tahun dan berkembang melalui berbagai kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, serta mobilitas akademik. Tiga program yang diluncurkan mencakup bidang teknologi agroindustri, ilmu komunikasi, serta kebijakan dan manajemen kesehatan. Ketiganya menjadi bagian dari upaya memperluas bentuk kemitraan UGM dan University of Melbourne melalui pendidikan transnasional.

Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., mengatakan pertemuan kedua institusi menjadi momentum strategis untuk memperluas dan memperkuat kerja sama yang telah berjalan. Danang berujar kerja sama kedua universitas dalam lima tahun terakhir telah menghasilkan berbagai capaian, baik dalam pendidikan maupun penelitian. Kolaborasi tersebut mencakup mobilitas profesor, mobilitas mahasiswa, serta lebih dari 150 publikasi bersama. Selain itu, saat ini terdapat 17 perjanjian kerja sama aktif antara kedua institusi yang menjadi bagian dari fondasi pengembangan kemitraan. “Kami benar-benar mengapresiasi kehadiran dari University of Melbourne, karena ini menunjukkan bahwa kita memiliki semangat yang sama untuk membangun kerja sama yang semakin kuat di masa depan,” tutur Danang.

Lebih lanjut Danang menyebut pengembangan kerja sama berikutnya perlu diarahkan pada keterlibatan mahasiswa yang lebih luas, peningkatan kolaborasi penelitian, serta penyusunan agenda bersama yang dapat dikembangkan oleh kedua institusi. Ia berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada diskusi, tetapi menghasilkan topik, kegiatan, dan sumber daya bersama yang dapat ditindaklanjuti. Penguatan tersebut juga diharapkan dapat memperluas manfaat kemitraan bagi kedua negara dan wilayah yang terhubung melalui kerja sama UGM dan University of Melbourne.

Dari perspektif University of Melbourne, pengembangan TNE tersebut menjadi bagian dari hubungan yang telah terbangun dalam jangka panjang. Pro-Vice Chancellor Global University of Melbourne, Professor Frank Vetere, menyampaikan bahwa kedua universitas telah bekerja sama selama lebih dari 30 tahun dengan kolaborasi yang mencakup hampir seluruh disiplin ilmu. Hubungan tersebut juga berkembang melalui publikasi bersama, forum akademik, mobilitas mahasiswa, serta berbagai bentuk kolaborasi pendidikan dan penelitian. “Dalam lingkungan yang semakin tidak pasti dan dibentuk oleh kompleksitas geopolitik, peran universitas tidak pernah menjadi lebih penting,” ucapnya.

Vetere menilai peluncuran tiga program double degree, meliputi Master of Agro-industrial Technology UGM dan Master of Agricultural Sciences University of Melbourne, Master of Communication Science UGM dan Master of Global Media Communications University of Melbourne, serta Master of Health Policy and Management UGM dan Master of Public Health University of Melbourne menjadi bagian dari perkembangan bentuk baru pendidikan transnasional dalam hubungan UGM dan University of Melbourne. Ia menekankan pentingnya co-design atau perancangan bersama dalam membangun program sehingga kedua institusi dapat merespons kebutuhan lokal sekaligus menciptakan peluang baru bagi mahasiswa. Menurutnya, kemitraan yang kuat akan menjadi dasar bagi pengembangan program pendidikan yang berkelanjutan dan berdampak. “Melalui kemitraan yang benar-benar dibangun bersama, kita dapat merespons persoalan lokal dengan lebih baik sekaligus menciptakan peluang baru bagi mahasiswa,” ujarnya.

Associate Dean Global Engagement Faculty of Science University of Melbourne, Professor Willa Huston, menjelaskan bahwa TNE tidak semata-mata dipandang sebagai penyelenggaraan pendidikan di dua negara. Bagi University of Melbourne, pengembangan TNE perlu menempatkan mahasiswa sebagai bagian penting dari pengalaman belajar, sekaligus membangun hubungan akademik yang kuat dan kemitraan yang dapat berkembang menjadi kolaborasi lebih luas. Pendekatan tersebut kemudian menjadi dasar dalam pengembangan program bersama mitra.

Huston mengatakan kemitraan pendidikan transnasional juga membuka peluang untuk mempertemukan pendidikan dengan penelitian dan keterlibatan industri. Menurutnya, hubungan yang dibangun melalui program pendidikan dapat berkembang menjadi penelitian yang dirancang bersama dan diarahkan untuk menghasilkan dampak nyata, baik bagi komunitas lokal maupun mitra industri. Dengan demikian, mahasiswa pascasarjana dapat menjadi bagian dari ekosistem yang menghubungkan pendidikan, penelitian, dan kebutuhan masyarakat. “Bagi kami, pertukaran dua arah menjadi salah satu titik temu antara pendidikan transnasional, penelitian, dan industri,” tutur Huston.

Perspektif serupa terlihat dalam pengalaman kerja sama FISIPOL UGM dan Faculty of Arts University of Melbourne. Prof. Dr. Poppy Sulistyaning Winanti, S.I.P., M.P.P., M.Sc., menjelaskan bahwa kemitraan tersebut juga mencakup pertukaran akademisi, visiting scholars, joint courses, forum akademik, serta berbagai kegiatan pengembangan kapasitas dan pengetahuan. Selama sekitar satu dekade, berbagai kegiatan bersama telah mempertemukan akademisi, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat untuk membahas isu strategis, mulai dari pandemi, lingkungan, demokrasi, dan keragaman hingga ketegangan geopolitik, pengetahuan masyarakat adat, dan kecerdasan artifisial. Pengalaman tersebut menjadi fondasi bagi kedua institusi untuk membuka babak kolaborasi berikutnya, termasuk melalui pengembangan inisiatif baru di bidang ilmu komunikasi.

Pengalaman kemitraan multidimensi tersebut juga terlihat dalam bidang kesehatan yang telah menghubungkan UGM dan University of Melbourne. Associate Dean International Faculty of Medicine, Dentistry and Health Sciences University of Melbourne, Professor Margie Danchin, menyoroti kolaborasi penelitian kesehatan anak yang antara lain menghasilkan pengembangan vaksin rotavirus dan transfer teknologi untuk produksi vaksin di Indonesia. Kolaborasi tersebut menjadi contoh bagaimana kerja sama akademik dapat berkembang dari penelitian bersama menjadi penguatan kapasitas dan menghasilkan manfaat yang lebih luas. “Ini merupakan kisah luar biasa tentang bagaimana sebuah vaksin dikembangkan oleh institusi akademik, bukan oleh perusahaan farmasi,” tuturnya.

Setelah panel diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi informasi bagi calon mahasiswa yang membahas pengenalan program, kurikulum, proses penerimaan, serta jalur mobilitas mahasiswa. Sesi tersebut menjadi ruang bagi calon mahasiswa untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai peluang mengikuti tiga program double degree yang baru diluncurkan. Ke depan, pengembangan TNE juga diharapkan tidak berhenti pada tiga program yang diluncurkan. Kedua universitas melihat peluang untuk memperluas mobilitas mahasiswa non-gelar, joint lectures, kolaborasi penelitian, hingga pengembangan program doktoral sebagai bagian dari kelanjutan kemitraan. Penguatan pendidikan transnasional dengan demikian menjadi salah satu pijakan untuk membawa hubungan UGM dan University of Melbourne menuju bentuk kolaborasi yang semakin luas dan berdampak.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Donnie

Artikel UGM dan University of Melbourne Resmi Buka Tiga Program Double Degree pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-university-of-melbourne-resmi-buka-tiga-program-double-degree/feed/ 0
UGM dan ACU Sepakat Bangun Riset Kesejahteraan Manusia dan Etika AI https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-acu-sepakat-bangun-riset-kesejahteraan-manusia-dan-etika-ai/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-acu-sepakat-bangun-riset-kesejahteraan-manusia-dan-etika-ai/#respond Fri, 21 Aug 2026 06:16:18 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96829 Universitas Gadjah Mada dan Australian Catholic University (ACU) memperkuat kolaborasi pengembangan Human Flourishing Center atau Pusat Penelitian Kesejahteraan Manusia. Pengembangan pusat penelitian ini  diarahkan untuk menghasilkan riset, inovasi, serta solusi berbasis masyarakat yang dapat memberikan dampak sosial terukur. Dalam konteks pengembangan kecerdasan artifisial, UGM menekankan pentingnya memastikan teknologi tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. Hal itu […]

Artikel UGM dan ACU Sepakat Bangun Riset Kesejahteraan Manusia dan Etika AI pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada dan Australian Catholic University (ACU) memperkuat kolaborasi pengembangan Human Flourishing Center atau Pusat Penelitian Kesejahteraan Manusia. Pengembangan pusat penelitian ini  diarahkan untuk menghasilkan riset, inovasi, serta solusi berbasis masyarakat yang dapat memberikan dampak sosial terukur. Dalam konteks pengembangan kecerdasan artifisial, UGM menekankan pentingnya memastikan teknologi tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan.

Hal itu mengemuka dalam UGM–ACU Human Flourishing Dialogue dan Indonesia–Australia AI Roundtable di Balai Senat UGM, Kamis (20/8). Forum ini membahas pengembangan Human Flourishing Center sekaligus mendiskusikan peluang, risiko, etika, dan tata kelola kecerdasan artifisial yang berorientasi pada manusia. Dialog ini menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya dalam merumuskan agenda kolaborasi yang berdampak bagi masyarakat.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menyampaikan Human Flourishing Center menjadi platform yang menghubungkan pendidikan, penelitian, inovasi, pengabdian kepada masyarakat, dan kebijakan publik.Rektor menyinggung soal pengembangan AI dalam memperkuat kapasitas dan kompetensi manusia. Menurutnya, teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti penilaian maupun tanggung jawab manusia, melainkan sebagai instrumen untuk mendukung kehidupan manusia secara lebih baik. Indonesia dan Australia memiliki peluang untuk berkontribusi dalam membangun model pengembangan AI yang bertanggung jawab, etis, dan inklusif di kawasan. “AI yang berpusat pada manusia harus berfungsi untuk meningkatkan kemampuan manusia, bukan menggantikan penilaian manusia dan bukan pula mengurangi tanggung jawab manusia,” tegasnya.

Vice-Chancellor and President ACU, Prof. Zlatko Skrbis, mengajak peserta melihat human flourishing sebagai gagasan yang telah menjadi pertanyaan manusia selama ribuan tahun. Ia mengutip pemikiran filsuf Yunani, Socrates dan Aristoteles, tentang kehidupan yang baik serta pentingnya hubungan manusia dengan orang lain. Kehidupan yang berkembang secara utuh, menurut Zlatko, tidak dapat dilepaskan dari relasi, persahabatan, komunitas, serta kondisi material yang memungkinkan manusia menjalani kehidupan dengan baik. “Tidak ada satu model global tentang human flourishing yang dapat begitu saja diterapkan. Setiap tradisi dan setiap tempat membawa pemahamannya sendiri,” tuturnya.

Pengalaman Indonesia juga dinilai memberikan perspektif penting dalam memahami human flourishing. Zlatko menyoroti kuatnya relasi sosial dan rasa kebersamaan yang ia temukan ketika berkunjung ke Indonesia, dibandingkan kecenderungan individualisasi yang berkembang di sejumlah masyarakat Barat. Hubungan sosial, kepercayaan, dan koneksi antarmanusia menjadi bagian penting dalam menciptakan masyarakat yang stabil, kreatif, dan tangguh. Kolaborasi UGM dan ACU diharapkan menjadi ruang bagi kedua institusi untuk saling belajar mengenai faktor-faktor yang memungkinkan manusia dan masyarakat berkembang secara utuh.

Pembahasan human flourishing kemudian berlanjut pada pertanyaan mengenai posisi manusia di tengah perkembangan kecerdasan artifisial. Zlatko menilai AI tidak semata-mata merupakan persoalan teknologi, melainkan juga menyentuh cara manusia memahami dirinya sendiri serta bagaimana hubungan sosial dibentuk. Perkembangan AI membawa pertanyaan yang lebih mendasar mengenai tujuan dan peran manusia dalam dunia yang semakin dipengaruhi teknologi. “Yang menjadi inti persoalan bukan teknologinya, melainkan sisi antropologis dari integrasi teknologi,” jelasnya.

Perspektif tersebut diperkuat dalam diskusi akademik yang menghadirkan Prof. Michael Champion dari ACU. Pengembangan AI perlu ditempatkan dalam kerangka yang mempertimbangkan dampaknya terhadap pendidikan, institusi, dan kehidupan masyarakat. Diskusi juga menyoroti pentingnya melihat perubahan yang dibawa AI secara sistemik, termasuk bagaimana teknologi memengaruhi proses pengambilan keputusan dan hubungan manusia dengan institusi. Dalam forum tersebut, pengembangan AI ditempatkan sebagai bagian dari agenda yang lebih luas untuk memastikan teknologi memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.

Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, dalam penutupannya, menegaskan kembali pentingnya menempatkan manusia sebagai pusat pengembangan teknologi. AI dan teknologi perlu digunakan untuk mempermudah kehidupan manusia serta memperkuat kualitas hidup dan kesempatan yang setara. Dalam konteks Indonesia, nilai-nilai Pancasila dapat menjadi kompas moral dalam memastikan perkembangan AI tetap memperhatikan martabat manusia, tanggung jawab, partisipasi, dan keadilan sosial. “AI dan teknologi seharusnya membuat kehidupan manusia lebih mudah, bukan bersaing dengan atau menggantikan kemanusiaan,” ujarnya.

Forum tersebut selanjutnya mengarahkan pembahasan pada sejumlah agenda kolaborasi yang dapat dikembangkan UGM dan ACU. Beberapa bidang yang disebut dalam penutupan kegiatan meliputi kesehatan mental, smart farming, digital agriculture, serta pengembangan human-centred AI. Agenda tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan keahlian akademik dengan berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat. “Area-area ini memberikan kesempatan untuk menggabungkan keahlian akademik dengan tantangan sosial yang nyata dan menguji apakah kolaborasi kita dapat menghasilkan perubahan publik yang terukur,” kata Danang.

UGM–ACU Human Flourishing Dialogue dan Indonesia–Australia AI Roundtable menjadi bagian dari upaya memperkuat Human Flourishing Center sebagai platform kolaborasi lintas disiplin dan lintas sektor. Hasil forum diarahkan untuk ditindaklanjuti melalui pengembangan agenda pendidikan dan penelitian bersama, penguatan jejaring, serta identifikasi prioritas kolaborasi yang memiliki dampak nyata. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempertemukan perspektif akademik, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan organisasi keagamaan dalam menjawab tantangan perkembangan teknologi dan pembangunan manusia.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Donnie

 

Artikel UGM dan ACU Sepakat Bangun Riset Kesejahteraan Manusia dan Etika AI pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-acu-sepakat-bangun-riset-kesejahteraan-manusia-dan-etika-ai/feed/ 0
UGM Berpartisipasi dalam Forum Internasional Konsorsium Universitas Jalur Sutra Maritim https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-berpartisipasi-dalam-forum-internasional-konsorsium-universitas-jalur-sutra-maritim/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-berpartisipasi-dalam-forum-internasional-konsorsium-universitas-jalur-sutra-maritim/#respond Wed, 17 Jun 2026 04:42:35 +0000 https://ugm.ac.id/?p=94577 Universitas Gadjah Mada berpartisipasi dalam The Second University Presidents Forum of the University Consortium of the 21st Century Maritime Silk Road (UCMSR) atau Konsorsium Universitas Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 yang diselenggarakan oleh Xiamen University, Tiongkok, pada 11–13 Juni lalu. Forum internasional ini mempertemukan pimpinan perguruan tinggi dari berbagai negara untuk membahas penguatan kerja sama […]

Artikel UGM Berpartisipasi dalam Forum Internasional Konsorsium Universitas Jalur Sutra Maritim pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada berpartisipasi dalam The Second University Presidents Forum of the University Consortium of the 21st Century Maritime Silk Road (UCMSR) atau Konsorsium Universitas Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 yang diselenggarakan oleh Xiamen University, Tiongkok, pada 11–13 Juni lalu. Forum internasional ini mempertemukan pimpinan perguruan tinggi dari berbagai negara untuk membahas penguatan kerja sama pendidikan tinggi, pengembangan talenta global, serta peran universitas dalam menjawab berbagai tantangan dunia melalui inovasi dan transformasi digital. Kegiatan tersebut menjadi ruang strategis bagi perguruan tinggi untuk berbagi praktik baik sekaligus memperluas kolaborasi lintas negara. Berbagai isu mengenai masa depan pendidikan tinggi dan pengembangan ekosistem inovasi turut menjadi fokus pembahasan.

Delegasi UGM dipimpin oleh Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia,Ph.D. Turut bergabung dalam delegasi tersebut Dekan Fakultas Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Jaka Widada, M.P., serta pimpinan Fakultas Biologi UGM yang diwakili oleh Dekan Fakultas Biologi, Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., dan Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia, Dr. Slamet Widiyanto, M.Sc. Kehadiran delegasi lintas fakultas mencerminkan upaya UGM untuk memperluas kolaborasi internasional di berbagai bidang keilmuan. Forum ini juga membuka peluang kerja sama yang lebih luas dalam bidang pendidikan, penelitian, dan inovasi. Partisipasi aktif UGM diharapkan dapat memperkuat posisi universitas dalam jejaring akademik global.

Forum yang diikuti puluhan universitas dari berbagai negara ini mengangkat beragam isu strategis terkait masa depan pendidikan tinggi. Pembahasan mencakup pengembangan tata kelola global, pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pendidikan, hingga penguatan kemitraan internasional. Selain pidato utama dari para pemimpin universitas dunia, kegiatan juga menghadirkan diskusi mengenai pembangunan ekosistem inovasi dan hilirisasi teknologi melalui kolaborasi perguruan tinggi, industri, dan pemerintah. Berbagai perspektif yang disampaikan memberikan gambaran mengenai arah transformasi pendidikan tinggi di tengah perubahan global yang semakin dinamis. “Forum ini membuka ruang yang sangat strategis bagi UGM, khususnya Fakultas Biologi, untuk memperluas jejaring dan menjajaki peluang kolaborasi riset serta pendidikan bertaraf internasional,” ujar Budi Setiadi Daryono, Rabu (17/6).

Dalam forum tersebut, delegasi UGM turut berpartisipasi pada sesi diskusi bertajuk Connecting the World: Shaping New Paradigms for Global Higher Education Cooperation. Sesi ini membahas berbagai praktik baik dalam pengembangan kemitraan akademik lintas negara, mobilitas mahasiswa dan dosen, serta inovasi dalam pendidikan internasional. Diskusi menyoroti pentingnya kolaborasi yang lebih inklusif dan adaptif untuk menjawab tantangan global. Perguruan tinggi dinilai memiliki peran penting dalam membangun ekosistem pembelajaran yang semakin terbuka dan terhubung. Forum tersebut juga menjadi wadah untuk memperkuat sinergi antaruniversitas dalam mengembangkan talenta global.

Selain membahas kerja sama pendidikan, forum juga menyoroti hubungan antara dunia akademik dan industri melalui sesi Linking Industry and Academia: Building a New Ecosystem for University Technology Transfer. Dalam sesi ini, peserta mendiskusikan berbagai strategi untuk mempercepat hilirisasi hasil riset dan mendorong inovasi yang berdampak bagi masyarakat. Perguruan tinggi didorong untuk membangun kolaborasi yang lebih erat dengan sektor industri dalam pengembangan teknologi. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk meningkatkan relevansi riset sekaligus memperkuat kontribusi universitas terhadap pembangunan berkelanjutan. Pembahasan ini sejalan dengan komitmen UGM dalam mendorong inovasi yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia industri.

Pada hari terakhir kegiatan, delegasi Fakultas Biologi UGM berkesempatan mengunjungi Tan Kah Kee Innovation Laboratory dan Biomarine Research Institute. Kedua institusi tersebut dikenal sebagai pusat inovasi dan riset unggulan yang berfokus pada pengembangan teknologi strategis dan kolaborasi multidisiplin. Kunjungan ini memberikan gambaran mengenai pengelolaan riset yang terintegrasi dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Delegasi juga memperoleh wawasan mengenai pengembangan ekosistem inovasi yang mampu mendorong hilirisasi hasil penelitian secara berkelanjutan.

Selain itu, delegasi UGM juga mengunjungi Xian An Biomedical Laboratory yang berfokus pada pengembangan dan produksi vaksin untuk kesehatan masyarakat. Kunjungan ini memperlihatkan bagaimana penelitian dasar dapat dikembangkan menjadi produk yang memberikan manfaat luas bagi publik. Fasilitas riset tersebut menunjukkan pentingnya sinergi antara akademisi, industri, dan pemerintah dalam mempercepat inovasi kesehatan. Melalui kunjungan lapangan ini, delegasi memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai praktik pengelolaan riset berstandar internasional. “Kunjungan ke laboratorium-laboratorium unggulan di Xiamen University memberikan inspirasi nyata tentang bagaimana ekosistem inovasi dibangun secara kolaboratif antara universitas, industri, dan pemerintah,” tambah Budi.

Keikutsertaan UGM dalam forum UCMSR menjadi bagian dari upaya berkelanjutan universitas untuk memperkuat jejaring internasional dan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Melalui berbagai forum global, UGM terus membuka peluang kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Sinergi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset internasional diharapkan dapat menghasilkan berbagai inisiatif yang berdampak luas bagi masyarakat. Penguatan kemitraan global juga menjadi langkah strategis dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan yang semakin kompleks. Dengan kolaborasi yang semakin erat, UGM terus memperkuat kontribusinya dalam pembangunan global yang berkelanjutan.

Penulis     : Triya Andriyani

Foto.         : Dok. Budi Setiadi Daryono

Artikel UGM Berpartisipasi dalam Forum Internasional Konsorsium Universitas Jalur Sutra Maritim pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-berpartisipasi-dalam-forum-internasional-konsorsium-universitas-jalur-sutra-maritim/feed/ 0
UGM dan Agri-animal Husbandry Vocational College Jajaki Kolaborasi Pengembangan Pendidikan dan Industri Peternakan  https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-agri-animal-husbandry-vocational-college-jajaki-kolaborasi-pengembangan-pendidikan-dan-industri-peternakan/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-agri-animal-husbandry-vocational-college-jajaki-kolaborasi-pengembangan-pendidikan-dan-industri-peternakan/#respond Thu, 11 Jun 2026 08:20:08 +0000 https://ugm.ac.id/?p=94444 Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan delegasi Jiangsu Agri-animal Husbandry Vocational College (JSAHVC), Tiongkok, dalam rangka penjajakan kerja sama pengembangan pendidikan tinggi dan industri peternakan di kawasan ASEAN. Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat kolaborasi internasional di bidang peternakan, kesehatan hewan, teknologi agroindustri, serta pengembangan sumber daya manusia. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memperkenalkan sekaligus mengundang […]

Artikel UGM dan Agri-animal Husbandry Vocational College Jajaki Kolaborasi Pengembangan Pendidikan dan Industri Peternakan  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan delegasi Jiangsu Agri-animal Husbandry Vocational College (JSAHVC), Tiongkok, dalam rangka penjajakan kerja sama pengembangan pendidikan tinggi dan industri peternakan di kawasan ASEAN. Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat kolaborasi internasional di bidang peternakan, kesehatan hewan, teknologi agroindustri, serta pengembangan sumber daya manusia.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memperkenalkan sekaligus mengundang UGM bergabung dalam Project Construction Plan for the Jiangsu Agri-animal Husbandry Vocational College–ASEAN College of Animal Husbandry Engineering Technology. Program ini dirancang sebagai platform pendidikan terpadu yang menghubungkan perguruan tinggi di negara-negara ASEAN dengan industri peternakan melalui pengembangan talenta, layanan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pertukaran budaya.

Melalui kerja sama dengan Indonesia Haida Agriculture Co., Ltd., JSAHVC berupaya membangun ekosistem pendidikan dan industri yang mampu menjawab kebutuhan pengembangan sektor peternakan di kawasan ASEAN. Program ini mengedepankan prinsip berbagi sumber daya, saling melengkapi keunggulan, dan pengembangan kolaboratif antar institusi pendidikan tinggi.

Wakil Presiden JSAHVC, Jundong Liu, menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan UGM kepada delegasi mereka. “Terima kasih atas jamuan yang luar biasa. Meskipun ini merupakan kunjungan pertama kami ke UGM, sambutan yang diberikan sungguh luar biasa,” ujarnya. Jundong menjelaskan bahwa JSAHVC telah berdiri sejak tahun 1958 dan memiliki fokus pengembangan pada sektor peternakan, kesehatan hewan, biomedis, serta farmasi veteriner. “JSAHVC memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan pendidikan vokasional yang berfokus pada industri peternakan, kesehatan hewan, biomedis, dan farmasi hewan. Kami berharap dapat membangun kerja sama yang kuat dengan UGM dan perguruan tinggi lain di ASEAN untuk menciptakan platform pendidikan dan inovasi yang memberikan manfaat bersama,” katanya.

Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Danang Sri Hadmoko. Dalam kesempatan tersebut, Danang menyampaikan bahwa UGM memiliki perhatian besar terhadap pengembangan inovasi di bidang agroindustri, termasuk sektor peternakan. “Kami menyambut baik inisiatif kerja sama ini dan berharap dapat menjalin kolaborasi yang produktif dengan JSAHVC. Saat ini UGM memiliki fokus yang kuat pada pengembangan inovasi agroindustri, khususnya di bidang peternakan yang menjadi salah satu sektor strategis bagi ketahanan pangan,” ujarnya.

Menurut Danang, UGM juga terus berupaya mengembangkan berbagai teknologi yang mendukung peningkatan produktivitas dan efisiensi sektor peternakan nasional. “UGM saat ini berupaya memenuhi kebutuhan pengembangan peternakan secara mandiri. Ke depan, kami berharap berbagai teknologi peternakan, termasuk teknologi pengolahan dan pemotongan unggas, dapat dikembangkan bersama dan diintegrasikan dengan program pendidikan di Sekolah Vokasi,” katanya.

Selain pengembangan pendidikan dan teknologi, kerja sama yang dijajaki juga diharapkan membuka peluang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman industri melalui program magang. “Kami juga melihat peluang besar untuk melibatkan mitra industri seperti PT Haida dalam penguatan program magang mahasiswa sehingga mereka memperoleh pengalaman langsung di dunia industri internasional,” tambah Danang.

Melalui kolaborasi ini, kata Danang, UGM dan JSAHVC diharapkan dapat membangun sinergi yang memperkuat pengembangan pendidikan tinggi, riset terapan, inovasi teknologi peternakan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia di kawasan ASEAN. “Kerja sama tersebut juga menjadi bagian dari upaya UGM memperluas jejaring internasional sekaligus mendukung transformasi sektor peternakan yang lebih modern, berkelanjutan, dan berbasis ilmu pengetahuan,” pungkasnya.

Penulis : Jelita Agustine

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel UGM dan Agri-animal Husbandry Vocational College Jajaki Kolaborasi Pengembangan Pendidikan dan Industri Peternakan  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-agri-animal-husbandry-vocational-college-jajaki-kolaborasi-pengembangan-pendidikan-dan-industri-peternakan/feed/ 0
Dubes Belanda dan Jerman Kunjungi UGM, Dorong Kolaborasi Pendidikan Tinggi  https://ugm.ac.id/id/berita/dubes-belanda-dan-jerman-kunjungi-ugm-dorong-kolaborasi-pendidikan-tinggi/ https://ugm.ac.id/id/berita/dubes-belanda-dan-jerman-kunjungi-ugm-dorong-kolaborasi-pendidikan-tinggi/#respond Thu, 21 May 2026 00:58:04 +0000 https://ugm.ac.id/?p=93711 Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, dan Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia pada Rabu (20/5) di Gedung Pusat UGM. Kunjungan ini menjadi momentum dalam rencana memperkuat kerja sama di bidang pendidikan, riset, inovasi, serta pertukaran mahasiswa dan akademisi antara UGM dengan institusi pendidikan dan penelitian di kedua […]

Artikel Dubes Belanda dan Jerman Kunjungi UGM, Dorong Kolaborasi Pendidikan Tinggi  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, dan Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia pada Rabu (20/5) di Gedung Pusat UGM. Kunjungan ini menjadi momentum dalam rencana memperkuat kerja sama di bidang pendidikan, riset, inovasi, serta pertukaran mahasiswa dan akademisi antara UGM dengan institusi pendidikan dan penelitian di kedua negara.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia menyambut baik kunjungan tersebut. Ia menilai bahwa masih banyak peluang dalam memperluas kolaborasi riset antara UGM dengan institusi di Belanda dan Jerman, terkhusus pada pendanaan riset skala kecil sebagai langkah awal membangun kerja sama yang lebih besar. “Adapun kolaborasi yang telah terjalin dapat terus diperkuat melalui diskusi lanjutan dan inisiatif konkret di berbagai bidang strategis,” jelasnya.

Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, menilai bahwa UGM merupakan salah satu universitas paling prestisius di Indonesia yang memiliki pondasi kuat untuk memperluas kerja sama akademik dan ilmiah dengan Belanda. Tidak hanya itu, menurut Marc, UGM menunjukkan lingkungan kampus yang dinamis, di mana ilmu pengetahuan, seni, dan inovasi berkembang tidak hanya untuk mencapai standar akademik tertinggi, tetapi juga untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. “Pengetahuan idealnya tidak berhenti di kampus, tetapi juga harus diperkenalkan dan memberi dampak nyata bagi masyarakat,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa Belanda bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dalam memberikan beasiswa di bidang-bidang strategis seperti hortikultura, pertanian, pangan, serta pengelolaan dan kualitas air. Bidang tersebut merupakan kekuatan utama Belanda yang dinilai sangat relevan dengan kebutuhan pembangunan Indonesia. “Kami ingin talenta Indonesia belajar di universitas seperti Wageningen University & Research dan Delft University of Technology, kemudian membawa kembali pengetahuan itu untuk menjawab tantangan di Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, menegaskan bahwa kerja sama dalam bidang pendidikan merupakan pondasi yang sangat penting dalam membangun hubungan jangka panjang antarnegara. Adapun program German Academic Exchange Service menjadi salah satu instrumen utama pemerintah Jerman dalam membangun hubungan pendidikan dan riset dengan Indonesia. “Program ini merupakan mesin pertukaran people-to-people yang telah berjalan selama lebih dari satu abad dan menjadi fondasi hubungan akademik yang bermakna,” ujarnya.

Ia memberikan contoh mengenai Presiden ke-3 Republik Indonesia, B. J. Habibie, sebagai bukti bahwa pengalaman belajar di Jerman dapat memberikan dampak besar, tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi pembangunan bangsa. Menurutnya, sistem pendidikan tinggi Jerman terus membutuhkan energi baru melalui mobilitas mahasiswa dan peneliti. Karena itu, pemerintah Jerman secara konsisten berinvestasi dalam program pertukaran dan kerja sama universitas ke universitas. “Oleh karena itu kami akan terus mendukung kerja sama akademik dan riset dengan Indonesia, termasuk dengan UGM, sebagai bagian dari komitmen jangka panjang dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan sumber daya manusia,” ucapnya.

Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menyampaikan optimismenya terhadap keberlanjutan kerja sama UGM dengan universitas-universitas di Belanda dan Jerman, baik dalam bidang publikasi ilmiah, mobilitas mahasiswa, maupun pendanaan riset bersama. Ia menjelaskan bahwa UGM telah mencatat lebih dari 600 publikasi bersama dengan universitas di Belanda dan hampir 500 publikasi dengan perguruan tinggi di Jerman. Menurutnya, capaian tersebut merupakan investasi akademik yang sangat berharga bagi semua pihak. “Ini merupakan investasi yang sangat baik bagi UGM dan universitas-universitas di Eropa,” katanya.

Ia menambahkan bahwa negara Belanda dan Jerman merupakan dua destinasi studi yang paling diminati oleh mahasiswa UGM. Oleh sebab itu, UGM berupaya mendorong penguatan kerja sama yang lebih konkret, termasuk dengan melalui skema joint funding yang tengah dibahas bersama mitra dari Jerman. Selain itu, UGM terus memperluas kemitraan dengan berbagai institusi di Belanda, termasuk Wageningen University & Research, serta melalui program Erasmus+ yang mendukung mobilitas mahasiswa dan dosen. “Mobilitas mahasiswa sangat penting, selain tentu manfaat dari berbagai proyek riset dan kerja sama profesional,” ujarnya.

CEO Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Alfatika Aunuriella Dini, turut menyampaikan peluang kolaborasi dengan Belanda dan Jerman melalui program magang mahasiswa internasional, residensi seniman, serta pengembangan ekosistem inovasi yang melibatkan industri dan investor. “GIK merupakan pusat kreativitas dan inovasi baru yang dibangun UGM untuk mempertemukan industri, inkubator, akselerator, dan modal ventura dalam mempercepat lahirnya inovasi,” ungkapnya.

Menurutnya kerja sama ini tidak hanya dapat dikembangkan di bidang riset, tetapi juga terdapat peluang dalam kerja sama seni dan budaya. Ia menuturkan bahwa GIK UGM memiliki galeri seni serta ekosistem inovasi yang dapat menjadi ruang kolaborasi bagi mahasiswa, seniman, dan pelaku industri dari berbagai negara. “Kami berharap dapat menerima lebih banyak mahasiswa internasional untuk magang di salah satu pusat kreativitas dan inovasi terbesar di kawasan ini,” katanya.

Penulis : Cyntia Noviana

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Dubes Belanda dan Jerman Kunjungi UGM, Dorong Kolaborasi Pendidikan Tinggi  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dubes-belanda-dan-jerman-kunjungi-ugm-dorong-kolaborasi-pendidikan-tinggi/feed/ 0
UGM Perkuat Kerja Sama Strategis dengan Universitas di Taiwan https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-perkuat-kerja-sama-strategis-dengan-universitas-di-taiwan/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-perkuat-kerja-sama-strategis-dengan-universitas-di-taiwan/#respond Sun, 17 May 2026 14:20:19 +0000 https://ugm.ac.id/?p=93537 Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K), Ph.D., melakukan kunjungan kerja ke Taiwan pada tanggal 4–8 Mei 2026, sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjalin dan memperkuat kemitraan strategis dengan universitas dan lembaga terkemuka di Taiwan. Kunjungan ini juga merupakan tindak lanjut atas undangan yang dikirimkan oleh Kementerian Pendidikan Taiwan, dengan dukungan […]

Artikel UGM Perkuat Kerja Sama Strategis dengan Universitas di Taiwan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K), Ph.D., melakukan kunjungan kerja ke Taiwan pada tanggal 4–8 Mei 2026, sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjalin dan memperkuat kemitraan strategis dengan universitas dan lembaga terkemuka di Taiwan. Kunjungan ini juga merupakan tindak lanjut atas undangan yang dikirimkan oleh Kementerian Pendidikan Taiwan, dengan dukungan dari Kantor Ekonomi dan Perdagangan Taipei (Taipei Economic and Trade Office/TETO).

Rektor UGM bersama jajaran pimpinan universitas dan Fakultas mengunjungi beberapa universitas terkemuka di Taiwan, termasuk Universitas Nasional Yang Ming Chiao Tung, Universitas Feng Chia, Universitas Tatung, Universitas Nasional Chung Hsing, Universitas Sains dan Teknologi Nasional Taiwan, Universitas Teknologi Ming Chi, Universitas Nasional Chengchi, dan Universitas Nasional Tsing Hua.

Melalui kunjungan ini, UGM menegaskan komitmen untuk memperluas keterlibatan dalam membangun reputasi global dan membangun kemitraan internasional yang berkelanjutan. “Penguatan kerja sama dengan berbagai universitas di Taiwan ini diharapkan dapat membuka peluang yang lebih luas bagi pertukaran akademik, kerja sama riset, dan inovasi yang akan berkontribusi pada kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia maupun di Taiwan,” ujar Ova Emilia dalam keterangan yang dikirim Minggu (17/5).

Dikatakan Ova, sebagian besar universitas yang dikunjungi telah menjalin kerja sama yang erat dengan UGM dan diakui secara internasional sebagai institusi pendidikan tinggi terkemuka di Taiwan. Berdasarkan QS World University Rankings 2026, National Tsing Hua University (peringkat 176) dan National Yang Ming Chiao Tung University (peringkat 199) masuk dalam jajaran universitas terbaik di Taiwan, khususnya pada bidang teknik dan ilmu komputer. Sementara itu, National Chengchi University (peringkat 604) dikenal akan keunggulannya dalam bidang ilmu sosial, bisnis, dan hubungan internasional, serta National Taiwan University of Science and Technology (peringkat 345) yang ternama atas keunggulannya dalam ilmu terapan dan kolaborasi industri.

Dalam pertemuan tersebut pula, perwakilan dari kedua belah pihak bertukar pikiran mengenai upaya penguatan internasionalisasi dan penciptaan kerja sama yang lebih berdampak yang dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa, peneliti, maupun komunitas akademik. Diskusi ini juga menyoroti peran penting dari kerja sama pendidikan tinggi antara Indonesia dan Taiwan yang terus berkembang, khususnya di bidang sains, teknologi, teknik, bisnis, serta bidang-bidang yang berkaitan dengan inovasi. “Kita berupaya memperkuat kemitraan yang telah ada, tetapi juga menjajaki peluang kerja sama yang lebih luas di berbagai bidang, seperti mobilitas mahasiswa, riset bersama, pertukaran akademik, program gelar ganda (dual degree), kemitraan industri, dan inovasi teknologi,” jelasnya.

Direktur Direktorat Kemitraan dan Relasi Global (DKRG) UGM Prof. Puji Astuti menyatakan UGM telah menjalin kemitraan jangka panjang dengan berbagai institusi di Taiwan sejak tahun 2006. Hingga saat ini, tercatat UGM telah berkolaborasi dengan 36 universitas, 7 perusahaan, 5 organisasi, dan 2 rumah sakit yang tersebar di seluruh Taiwan. Untuk semakin mempererat hubungan tersebut, UGM mendirikan Taiwan Center di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) pada tahun 2022. “Pusat ini berfungsi sebagai layanan dan pusat informasi bagi para mahasiswa yang tertarik untuk mencari peluang studi di Taiwan,”  kata Puji.

Penulis : Leony

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. DKRG

Artikel UGM Perkuat Kerja Sama Strategis dengan Universitas di Taiwan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-perkuat-kerja-sama-strategis-dengan-universitas-di-taiwan/feed/ 0
RI dan Tiongkok Jadi Motor Pendidikan Vokasi di Asia https://ugm.ac.id/id/berita/ri-dan-tiogkok-jadi-motor-pendidikan-vokasi-di-asia/ https://ugm.ac.id/id/berita/ri-dan-tiogkok-jadi-motor-pendidikan-vokasi-di-asia/#respond Mon, 27 Apr 2026 07:43:50 +0000 https://ugm.ac.id/?p=92900 Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc., menekankan pentingnya integrasi antara pendidikan dan industri dalam menghadapi berbagai disrupsi global. Pratikno menyebut perkembangan teknologi, perubahan iklim, serta dinamika geopolitik sebagai tantangan yang harus direspons secara adaptif. Dalam konteks tersebut, kolaborasi antarnegara menjadi semakin krusial untuk memperkuat daya saing. Ia juga menyoroti bahwa […]

Artikel RI dan Tiongkok Jadi Motor Pendidikan Vokasi di Asia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc., menekankan pentingnya integrasi antara pendidikan dan industri dalam menghadapi berbagai disrupsi global. Pratikno menyebut perkembangan teknologi, perubahan iklim, serta dinamika geopolitik sebagai tantangan yang harus direspons secara adaptif. Dalam konteks tersebut, kolaborasi antarnegara menjadi semakin krusial untuk memperkuat daya saing. Ia juga menyoroti bahwa kawasan Asia kini berada dalam momentum kebangkitan global. “Sekarang ini adalah Asian Century, saatnya Indonesia dan China menjadi motor kepemimpinan Asia di kawasan ini,” ujarnya saat membuka Annual Conference of China–Indonesia TVET Industry–Education Alliance (CITIEA) yang digelar pada 27–28 April 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM.

Pratikno menegaskan disrupsi yang terjadi saat ini perlu dipandang sebagai peluang untuk melakukan lompatan kemajuan. Menurutnya, kerja sama yang terbangun harus berorientasi pada aksi nyata dan dampak langsung bagi masyarakat. Keterlibatan industri dalam pendidikan juga perlu diperkuat agar menghasilkan solusi atas berbagai persoalan sosial. Pratikno turut menekankan pentingnya menghadirkan makna dalam konsep keterhubungan pendidikan dan industri. “Kerja sama ini harus melahirkan aksi nyata, dengan melihat disrupsi sebagai peluang untuk melompat lebih jauh,” tuturnya.

sejalan dengan itu, Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG (K), Ph.D., menilai kolaborasi internasional menjadi kunci dalam menjawab perubahan industri yang berlangsung cepat. Ova menyoroti pentingnya penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri serta penguatan riset terapan. Transformasi digital dan tuntutan keberlanjutan disebut sebagai faktor yang mendorong perubahan tersebut. Karena itu, perguruan tinggi perlu beradaptasi melalui kemitraan lintas negara yang konkret. “Forum ini menjadi ruang untuk menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan industri yang terus berkembang,” ungkapnya.

Ova menambahkan bahwa forum ini membawa pesan kuat tentang pentingnya membangun ekosistem masa depan yang terintegrasi. Keterhubungan antara talenta, teknologi, dan industri menjadi fondasi utama dalam menghadapi persaingan global. Menurutnya, kolaborasi tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan yang harus diupayakan bersama. Dari Yogyakarta, UGM ingin menunjukkan peran aktif dalam mendorong kerja sama global yang berdampak nyata. “Kita sedang membangun ekosistem masa depan yang menghubungkan talenta, teknologi, dan industri lintas negara,” tegasnya.

Seperti diketahui, CITIEA memasuki tahun ketiganya dan Universitas Gadjah Mada menjadi tuan rumah forum internasional ini. CITIEA menjadi ruang pertemuan strategis antara pemerintah, perguruan tinggi vokasi, dan mitra industri dari Indonesia dan Tiongkok. Agenda ini sekaligus memperkuat sinergi pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri global yang terus berkembang. Selain itu, konferensi ini juga menjadi momentum evaluasi sekaligus pengembangan program kolaboratif lintas negara. Melalui forum ini, Indonesia didorong memperkuat perannya dalam jejaring pendidikan vokasi di kawasan ASEAN.

Dekan Sekolah Vokasi UGM, Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM, ASEAN Eng., menyampaikan bahwa konferensi ini diikuti lebih dari 300 peserta yang berasal dari puluhan institusi vokasi Indonesia dan Tiongkok serta berbagai perusahaan internasional. Keterlibatan berbagai pihak tersebut menunjukkan tingginya perhatian terhadap penguatan pendidikan vokasi berbasis kolaborasi global. Ia menilai forum ini menjadi ruang bertemunya kepentingan pendidikan, industri, dan inovasi teknologi dalam satu ekosistem. Upaya ini diarahkan untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja yang semakin dinamis di tingkat global. “Kami ingin membangun keterhubungan dari hulu ke hilir, mulai dari proses belajar hingga penyerapan tenaga kerja di industri,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pendekatan yang diusung dalam forum ini berfokus pada keterhubungan menyeluruh antara pendidikan, pelatihan, hingga dunia kerja. Skema tersebut diharapkan mampu membuka peluang lebih luas bagi mahasiswa dan lulusan vokasi untuk mengakses pasar kerja internasional. Selain itu, kolaborasi ini juga diarahkan pada penguatan riset terapan dan pengembangan teknologi bersama. Dengan demikian, hubungan antara institusi pendidikan dan industri dapat berjalan lebih relevan dan adaptif. “Forum ini diharapkan memperluas akses magang, rekrutmen global, serta kolaborasi riset yang berdampak nyata bagi kedua negara,” tutur Agus.

Mitra penyelenggara, perwakilan China–Indonesia TVET Industry–Education Alliance (CITIEA), Prof. Qiu Fuming, Ph.D., turut menegaskan pentingnya kolaborasi internasional dalam pengembangan pendidikan vokasi. Ia menyampaikan bahwa kemitraan ini terus berkembang dan melibatkan berbagai institusi pendidikan serta industri dari kedua negara. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat kualitas pendidikan vokasi yang relevan dengan kebutuhan global. Selain itu, pertukaran pengetahuan dan pengalaman menjadi bagian penting dalam kerja sama ini.

Fuming juga menekankan bahwa pengembangan pendidikan vokasi membutuhkan dukungan ekosistem global yang saling terhubung. Melalui aliansi ini, berbagai program kolaboratif terus dikembangkan untuk menjawab tantangan industri masa depan. Kemitraan ini dinilai mampu memperluas peluang bagi mahasiswa dan tenaga kerja untuk beradaptasi di tingkat internasional. Dengan dukungan kedua negara, kolaborasi ini diharapkan terus tumbuh secara berkelanjutan. “Kemitraan ini akan terus kami dorong agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi kedua negara,” jelasnya.

Staf Khusus Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Oki Earlivan Sampurno S.Mn, M.B.A., M.Sc., Ph.D., turut menyoroti pentingnya akses global bagi lulusan vokasi Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa masih terdapat kesenjangan antara jumlah lulusan dan kebutuhan industri. Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan sistem pendidikan vokasi yang lebih adaptif. Pemerintah, menurutnya, berperan sebagai penghubung antara dunia pendidikan dan industri.

Ia menambahkan bahwa peningkatan daya saing tenaga kerja harus didukung dengan sertifikasi  profesional dan kolaborasi internasional. Kedua aspek tersebut menjadi faktor penting dalam menghadapi persaingan global. Selain itu, sinergi antara perguruan tinggi dan industri perlu diperkuat agar lulusan lebih siap kerja. Upaya ini juga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional berbasis industri. “Kolaborasi global dan sertifikasi menjadi kunci agar lulusan kita mampu bersaing di pasar kerja internasional,” imbuh Oki.

Penulis  : Triya Andriyani

Foto      : Firsto

Artikel RI dan Tiongkok Jadi Motor Pendidikan Vokasi di Asia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ri-dan-tiogkok-jadi-motor-pendidikan-vokasi-di-asia/feed/ 0
UGM dan Vrije University of Amsterdam Perluas Kerja Sama di Bidang Pendidikan dan Penelitian https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-vrije-university-of-amsterdam-perluas-kerja-sama-di-bidang-pendidikan-dan-penelitian/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-vrije-university-of-amsterdam-perluas-kerja-sama-di-bidang-pendidikan-dan-penelitian/#respond Mon, 25 Aug 2025 02:14:20 +0000 https://ugm.ac.id/?p=82519 Universitas Gadjah Mada dan Vrije University of Amsterdam menandatangani nota kesepakatan terkait kolaborasi dalam kegiatan akademik dan penelitian, Kamis (21/8/) di Ruang Sidang Pimpinan, Gedung Pusat UGM, Lt 2, Sayap Utara. Penandatanganan ini mencakup kerja sama dalam bidang pertukaran mahasiswa, konferensi internasional, penelitian dan publikasi bersama, pengembangan budaya, penjaminan mutu, pengembangan inisiatif mahasiswa, pemanfaatan fasilitas […]

Artikel UGM dan Vrije University of Amsterdam Perluas Kerja Sama di Bidang Pendidikan dan Penelitian pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada dan Vrije University of Amsterdam menandatangani nota kesepakatan terkait kolaborasi dalam kegiatan akademik dan penelitian, Kamis (21/8/) di Ruang Sidang Pimpinan, Gedung Pusat UGM, Lt 2, Sayap Utara.

Penandatanganan ini mencakup kerja sama dalam bidang pertukaran mahasiswa, konferensi internasional, penelitian dan publikasi bersama, pengembangan budaya, penjaminan mutu, pengembangan inisiatif mahasiswa, pemanfaatan fasilitas laboratorium, pertukaran sumber daya akademik, dan bentuk kerjasama lainnya.

Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, menyambut baik kerja sama ini bisa mendorong kemajuan akademik dan riset bagi kedua universitas. “Saya rasa dengan  Vrije University of Amsterdam, kami memiliki kolaborasi yang sudah berlangsung lama. Kami akan memperkuat dan juga mengintensifkan kerjasama ini,” jelasnya.

Prof. Jacqueline van Muijlwijk selaku Wakil Rektor Bidang Akademik Vrije University of Amsterdam menginginkan adanya kolaborasi yang luas di tingkat fakultas, tidak hanya sains dan kesehatan, tetapi juga dengan bidang sosial humaniora. “Kita harapkan melalui kerja sama ini akan tumbuh bersama dengan konsep baru untuk lima tahun kedepan,” ujarnya.

Ketua Departemen Sejarah FIB UGM Dr. Abdul Wahid berharap dengan penandatanganan ini kolaborasi dapat diperluas, terutama di bidang sejarah dan humaniora.

Penulis : Salwa

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel UGM dan Vrije University of Amsterdam Perluas Kerja Sama di Bidang Pendidikan dan Penelitian pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-vrije-university-of-amsterdam-perluas-kerja-sama-di-bidang-pendidikan-dan-penelitian/feed/ 0
UGM dan Central Mindanao University Sepakat Jalin Kerjasama Pendidikan dan Riset https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-central-mindanao-university-sepakat-jalin-kerjasama-pendidikan-dan-riset/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-central-mindanao-university-sepakat-jalin-kerjasama-pendidikan-dan-riset/#respond Wed, 06 Aug 2025 06:56:29 +0000 https://ugm.ac.id/?p=81655 Universitas Gadjah Mada dan Central Mindanao University (CMU) sepakat untuk menjalin kerjasama dalam Memorandum of Understanding (MoU) untuk melaksanakan kegiatan akademik dan penelitian antara kedua universitas, yang mencakup beberapa area. Penandatanganan MoU ini kemudian dilakukan oleh Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Wening Udasmoro, dan President of CMU, Dr. Rolito G. Eballe, di […]

Artikel UGM dan Central Mindanao University Sepakat Jalin Kerjasama Pendidikan dan Riset pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada dan Central Mindanao University (CMU) sepakat untuk menjalin kerjasama dalam Memorandum of Understanding (MoU) untuk melaksanakan kegiatan akademik dan penelitian antara kedua universitas, yang mencakup beberapa area. Penandatanganan MoU ini kemudian dilakukan oleh Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Wening Udasmoro, dan President of CMU, Dr. Rolito G. Eballe, di Ruang Sidang Pimpinan UGM, Rabu (6/8).

Penandatanganan ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama sebelumnya, yakni Summer Course 2023 yang diselenggarakan oleh Departemen Teknologi Sumberdaya Hayati dan Veteriner (DTHV), Sekolah Vokasi UGM yang diikuti oleh dosen serta staf dari Filipina termasuk dari CMU, serta Webinar Internasional pada tahun 2025 dengan pembicara dan peserta dari UGM dan CMU.

Wening mengatakan bahwa kerjasama ini merupakan kesempatan yang besar bagi UGM untuk dapat berkolaborasi lebih luas dalam berbagai isu. Tidak hanya terbatas pada bidang pertanian, tetapi juga untuk bisa menjawab berbagai persoalan global yang dihadapi saat ini. “Saya yakin kedepannya kita dapat terus memperluas diskusi, untuk memikirkan langkah konkret dalam menjalankan kolaborasi setelah penandatanganan MoU ini,” ujar Wening.

Ia juga menyampaikan bahwa di UGM, seluruh fakultas didorong untuk melakukan riset dan publikasi secara kolaboratif. Maka dari itu, dengan kolaborasi internasional antara UGM dan CMU ini, Wening berharap bisa memulai dengan adanya joint teaching, kuliah umum bersama, lalu dikembangkan lebih lanjut menjadi riset kolaboratif ataupun publikasi ilmiah bersama. “Ini tentu sangat baik untuk kita. Saya pikir rekan-rekan dari fakultas nantinya juga dapat menjelaskan lebih banyak tentang berbagai inovasi lain yang telah dikembangkan, yang bisa sangat berguna dalam kerja sama ke depan,” katanya.

Sementara itu, President of CMU menekankan bahwa ia meyakini kerjasama antar keduanya akan menghasilkan kegiatan-kegiatan nyata dan bermanfaat yang akan disepakati oleh kedua belah pihak. Rolito juga berharap agar keduanya dapat menghasilkan bentuk kerja sama yang lebih spesifik. “Kami melihat ini sebagai peluang yang sangat baik bagi kedua institusi. Kami mengetahui bahwa UGM adalah salah satu universitas terbaik di Indonesia. Di sisi lain, kami juga terus meningkatkan kualitas pendidikan kami agar mampu bersaing dalam pemeringkatan internasional,” ungkapnya.

CMU sendiri merupakan salah satu universitas terkemuka di bagian utara Pulau Mindanao, Filipina yang memainkan peran penting dalam pendidikan tinggi dan penelitian, khususnya di bidang pertanian, sains, dan teknologi. Ke depannya, akan dilaksanakan berbagai kegiatan untuk memperkuat kerja sama antara UGM dan CMU, antara lain melalui program pertukaran mahasiswa, dosen tamu (adjunct professor), riset bersama, serta program pengabdian kepada masyarakat dan perluasan penelitian internasional.

Penulis : Lintang Andwyna

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel UGM dan Central Mindanao University Sepakat Jalin Kerjasama Pendidikan dan Riset pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-central-mindanao-university-sepakat-jalin-kerjasama-pendidikan-dan-riset/feed/ 0
UGM dan San Pedro College Philippines Jalin Kerja Sama Pendidikan https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-san-pedro-college-philippines-jalin-kerja-sama-pendidikan/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-san-pedro-college-philippines-jalin-kerja-sama-pendidikan/#respond Thu, 24 Jul 2025 13:56:22 +0000 https://ugm.ac.id/?p=81131 Universitas Gadjah Mada dan San Pedro College Philippines melakukan kerja sama di bidang pendidikan dan pengembangan. Kesepakatan ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pada Selasa (22/7) di ruang Tamu Rektor Gedung Pusat UGM. Penandatanganan MoU dilakukan oleh Dr. Danang Sri Hadmoko, selaku Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama dengan Genaro F. Alderite, […]

Artikel UGM dan San Pedro College Philippines Jalin Kerja Sama Pendidikan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada dan San Pedro College Philippines melakukan kerja sama di bidang pendidikan dan pengembangan. Kesepakatan ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pada Selasa (22/7) di ruang Tamu Rektor Gedung Pusat UGM.

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Dr. Danang Sri Hadmoko, selaku Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama dengan Genaro F. Alderite, Jr., LPT, Ph.D., selaku Dekan School of Business San Pedro College University.

Danang mengungkapkan bahwa kerja sama ini dapat mempererat kolaborasi di Asia Tenggara. Tak hanya bekerja sama di bidang sosio humaniora, mereka juga dapat menjalin kerja sama di bidang sains teknologi, kesehatan, dan agrokompleks. Menurutnya, ada banyak potensi-potensi kolaborasi yang akan didiskusikan di masa depan. “Secara kultural, Indonesia dekat dengan Filipina. Kita lihat bahwa penguatan kolaborasi antarnegara Asia Tenggara itu penting, sebab itu kami senang dapat berkolaborasi,” ujar Danang.

Kerja sama tersebut disambut baik oleh Genaro. Pihaknya meyakini bahwa UGM sebagai kampus prestisius di Indonesia dapat menyediakan ruang untuk memperkaya pengalaman belajar mahasiswa, utamanya di bidang penelitian dan pengabdian masyarakat. Ia meyakini bahwa UGM dan San Pedro College memiliki kualitas di bidang pendidikan, baik dalam negeri maupun luar negeri. “Saya yakin kerja sama ini menjadi wadah pengembangan sumber daya kita, sehingga kita mampu mencapai daya saing global, tidak hanya di Asia, tetapi di seluruh dunia,” pungkas Genaro.

Sekedar informasi, ruang lingkup kerja sama ini meliputi pertukaran mahasiswa, profesor, dan peneliti, menyelenggarakan konferensi kolaboratif, menyelenggarakan kuliah bersama, seminar, simposium, pertukaran dosen tamu, serta pertukaran informasi dan materi akademik.

Penulis : Tiefany

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel UGM dan San Pedro College Philippines Jalin Kerja Sama Pendidikan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-san-pedro-college-philippines-jalin-kerja-sama-pendidikan/feed/ 0