SDG 15: Ekosistem Daratan Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/sdg-15-ekosistem-daratan/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Sat, 29 Aug 2026 02:22:23 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 Dukung Eliminasi TB, Dosen UGM Hadirkan Rumah Skrining dan Layanan Radiografi Keliling https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-eliminasi-tb-dosen-ugm-hadirkan-rumah-skrining-dan-layanan-radiografi-keliling/ https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-eliminasi-tb-dosen-ugm-hadirkan-rumah-skrining-dan-layanan-radiografi-keliling/#respond Sat, 29 Aug 2026 02:22:23 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97061 Hasil riset tim peneliti Universitas Gadjah Mada dalam pengembangan alat radiografi sinar-X digital mulai diterapkan untuk layanan pemeriksaan radiologi kesehatan berbasis masyarakat. Riset bertajuk Alat Radiografi Sinar-X Digital Keliling untuk Layanan Skrining Tuberculosis dan Medical Check Up tersebut merupakan bagian dari Program Riset Sinergi 2025–2026 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Hasil riset kemudian […]

Artikel Dukung Eliminasi TB, Dosen UGM Hadirkan Rumah Skrining dan Layanan Radiografi Keliling pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Hasil riset tim peneliti Universitas Gadjah Mada dalam pengembangan alat radiografi sinar-X digital mulai diterapkan untuk layanan pemeriksaan radiologi kesehatan berbasis masyarakat. Riset bertajuk Alat Radiografi Sinar-X Digital Keliling untuk Layanan Skrining Tuberculosis dan Medical Check Up tersebut merupakan bagian dari Program Riset Sinergi 2025–2026 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Hasil riset kemudian dikembangkan melalui Rumah Skrining yang mengintegrasikan teknologi radiografi digital dengan sistem pengelolaan layanan kesehatan. Layanan tersebut mulai dioperasikan pada 27–28 Agustus 2026 di lingkungan CV Prestige Furniture, Yogyakarta.

Riset tersebut dipimpin Prof. Drs. Gede Bayu Suparta, M.Si., Ph.D. dari FMIPA UGM dan dikembangkan melalui sinergi dengan PT Madeena Karya Indonesia, CV Prestige Furniture, serta RSKIA Permata Bunda Yogyakarta. Rumah Skrining dirancang untuk membawa hasil pengembangan teknologi radiografi ke dalam layanan yang lebih dekat dengan masyarakat. Model ini juga diarahkan untuk memperluas akses pemeriksaan kesehatan, khususnya layanan yang membutuhkan pemeriksaan radiologi. “Rumah Skrining adalah start-up yang bertujuan untuk menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan radiologi berbasis masyarakat,” ujar Bayu, Sabtu (29/8).

Dalam pengembangannya, Rumah Skrining tidak berdiri sebagai fasilitas radiologi yang terpisah dari sistem pelayanan kesehatan. Layanan ini dipandu oleh fasilitas pelayanan kesehatan seperti klinik atau rumah sakit, sekaligus memanfaatkan perangkat radiologi yang dikelola melalui Madeena Health Care System (MHCS) atau Madeena Solution. Platform tersebut mencakup tata kelola data DICOM, PACS, teleradiologi, dan pembacaan citra radiologi dengan bantuan AI. “Kehadiran Rumah Skrining diharapkan dapat membantu Pemerintah mempercepat capaian Program Eliminasi TB 2030 dan memperluas keterjangkauan masyarakat pada layanan Cek Kesehatan plus Radiografi Sinar-x,” ujar Bayu.

Bayu menjelaskan teknologi radiografi yang digunakan memiliki fitur untuk pemeriksaan badan dan dada dengan dosis radiasi rendah. Citra yang dihasilkan kemudian dapat dianalisis dengan dukungan perangkat lunak AI, sementara proses pemeriksaan hingga pembacaan hasil disebut dapat dilakukan dalam waktu sekitar 15 menit untuk setiap pasien. Informasi mengenai status kesehatan pasien juga dapat disimpan ke dalam platform SatuSehat yang dikelola pemerintah.

Pengembangan layanan selanjutnya diarahkan agar Rumah Skrining dapat hadir di berbagai lingkungan, mulai dari perguruan tinggi, kawasan industri, pesantren, sekolah, rumah sakit pratama, hingga puskesmas. Bayu berujar perluasan titik layanan diharapkan dapat membuka peluang keterlibatan masyarakat dalam pengembangan fasilitas skrining kesehatan. Di sisi lain, teknologi radiografi juga terus berkembang dengan perangkat yang semakin ringan, hemat energi, dan dapat menggunakan baterai isi ulang. “Teknologi pesawat sinar-x cenderung semakin maju, canggih, aman, ringan, hemat energi, dan rechargeable,” ungkapnya.

Direktur Operasional Rumah Skrining Annisa Fitriana, S.Ant., menjelaskan bahwa pengelolaan layanan dilakukan dengan memanfaatkan ekosistem teknologi yang telah disiapkan untuk mendukung pemeriksaan radiologi. Rumah Skrining dapat mengelola perangkat radiologi produk PT Madeena Karya Indonesia maupun alat radiologi impor yang telah terpasang di rumah sakit di Indonesia. Sistem tersebut memungkinkan proses tata kelola data dan layanan radiologi terhubung dalam satu platform. “MHCS juga disebut Madeena Solution, telah dilengkapi sistem tata kelola data DICOM, PACS, Teleradiologi, dan pembacaan citra radiologi menggunakan bantuan Kecerdasan Buatan AI,” jelas Annisa.

Implementasi perdana dilakukan di lingkungan CV Prestige Furniture yang merupakan mitra produksi alat radiografi DDR Madeena. Pimpinan CV Prestige Furniture Wahyudi Ganda Wijaya menyampaikan komitmen perusahaan untuk memeriksa dan menjaga kesehatan 40 karyawannya melalui fasilitas Rumah Skrining. Kehadiran fasilitas tersebut juga diharapkan dapat dimanfaatkan oleh keluarga karyawan dan masyarakat di sekitar pabrik. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan layanan radiografi di lingkungan yang sebelumnya dinilai masih sulit memperoleh akses layanan formal yang terjangkau.

Layanan perdana Rumah Skrining berlangsung selama dua hari dengan pemeriksaan berupa radiografi thorax. Pada Kamis (27/8), sebanyak 35 orang mengikuti pemeriksaan, sedangkan pada Jumat (28/8) tercatat 42 peserta. Pelaksanaan tersebut menjadi tahap awal penerapan model layanan radiologi berbasis masyarakat yang dikembangkan melalui kolaborasi perguruan tinggi, industri, dan fasilitas pelayanan kesehatan. Hasil penerapan awal ini sekaligus menjadi pengalaman lapangan dalam pengembangan layanan Rumah Skrining berikutnya.

Selain layanan berbasis lokasi, pengembangan Rumah Skrining diarahkan pada penggunaan radiografi keliling yang ditempatkan di atas truk niaga ringan. Kendaraan tersebut dirancang untuk menjangkau lingkungan permukiman yang sempit maupun wilayah dengan medan yang lebih berat, sehingga pemeriksaan tidak harus selalu dilakukan di fasilitas kesehatan. Konsep ini menggabungkan layanan radiografi keliling dengan teleradiologi dan pembacaan AI melalui platform Madeena Health Care System untuk mendukung program Active Case Finding TBC bersama fasyankes tingkat pratama maupun puskesmas. Pendekatan tersebut dirangkum melalui konsep “Serve at everywhere, Read from Anywhere”.

Bayu berharap pengembangan teknologi tersebut dapat didukung oleh terbentuknya ekosistem radiografi sinar-X digital yang melibatkan pemerintah, fasilitas kesehatan, industri, perguruan tinggi, dan masyarakat. Ia juga mendorong adanya regulasi yang mampu memberikan ruang bagi pemanfaatan teknologi radiografi untuk kebutuhan pelayanan kesehatan. Baginya perluasan akses terhadap informasi kesehatan merupakan bagian penting dalam membangun masyarakat yang sehat sekaligus mendukung kekuatan ekonomi dan industri nasional.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Dokumentasi Peneliti

Artikel Dukung Eliminasi TB, Dosen UGM Hadirkan Rumah Skrining dan Layanan Radiografi Keliling pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-eliminasi-tb-dosen-ugm-hadirkan-rumah-skrining-dan-layanan-radiografi-keliling/feed/ 0
Dukung Pengelolaan Lingkungan Berbasis Data, Tim KKN UGM kembangkan WebGIS  https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-pengelolaan-lingkungan-berbasis-data-tim-kkn-ugm-kembangkan-webgis/ https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-pengelolaan-lingkungan-berbasis-data-tim-kkn-ugm-kembangkan-webgis/#respond Fri, 28 Aug 2026 09:12:40 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97049 Tim KKN-PPM UGM Winongo Warawangsa mengembangkan dua Web Geographic Information System (WebGIS) untuk mendukung pengelolaan lingkungan berbasis data di Kelurahan Kricak, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Sistem informasi geografis atau pemetaan digital yang dapat diakses secara online ini memuat informasi kondisi bantaran Sungai Winongo dan Kali Buntung, titik permasalahan sampah, serta sebaran dan kondisi bank sampah […]

Artikel Dukung Pengelolaan Lingkungan Berbasis Data, Tim KKN UGM kembangkan WebGIS  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Tim KKN-PPM UGM Winongo Warawangsa mengembangkan dua Web Geographic Information System (WebGIS) untuk mendukung pengelolaan lingkungan berbasis data di Kelurahan Kricak, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Sistem informasi geografis atau pemetaan digital yang dapat diakses secara online ini memuat informasi kondisi bantaran Sungai Winongo dan Kali Buntung, titik permasalahan sampah, serta sebaran dan kondisi bank sampah dalam bentuk peta interaktif.

Program ini digagas karena Kelurahan Kricak merupakan wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di Kemantren Tegalrejo, yaitu 15.879 jiwa per kilometer persegi dari total 13.478 jiwa di lahan seluas 84,88 hektare. Sebagian permukiman di bantaran Sungai Winongo juga termasuk kawasan kumuh berdasarkan SK Wali Kota Yogyakarta Nomor 158 Tahun 2021. Observasi awal menunjukkan bahwa titik sampah liar serta kondisi bantaran Sungai Winongo dan Kali Buntung belum dipetakan secara sistematis, sehingga belum tersedia alat bantu visual untuk menentukan prioritas penanganan.

Diandra Keisya Jihan Feriska dari Program Studi S1 Teknik Geodesi, Fakultas Teknik UGM, selaku penanggung jawab program, mengatakan bahwa WebGIS dikembangkan agar informasi lingkungan dapat dihimpun dalam satu basis data spasial yang mudah diakses dan diperbarui. “Kami ingin membantu masyarakat maupun kelurahan melihat kondisi lingkungan secara lebih menyeluruh, mulai dari kondisi bantaran sungai dan titik permasalahan sampah hingga sebaran bank sampah. Harapannya, data ini tidak hanya menjadi dokumentasi selama KKN, tetapi juga dapat terus diperbarui sebagai pertimbangan dalam menentukan tindak lanjut pengelolaan lingkungan di Kelurahan Kricak,” jelasnya dalam rilis yang dikirimkan pada Jumat (28/8).

Survei dilaksanakan pada akhir Juni hingga awal Juli 2026 di bantaran Sungai Winongo dan Kali Buntung secara partisipatif bersama warga. Dari survei ini, ditemukan data mengenai lokasi dan tingkat penumpukan sampah, kondisi fisik bantaran, akses menuju sungai, aktivitas masyarakat, serta dokumentasi foto yang dihimpun menggunakan ODK Collect, kemudian divalidasi dan diolah dengan QGIS serta qgis2web. Tantangan terbesar muncul pada segmen selatan Sungai Winongo dan Kali Buntung karena beberapa titik sempit, menurun, tertutup vegetasi, serta berbatasan langsung dengan permukiman padat. Warga pun turut mendampingi dan menunjukkan lokasi penumpukan sampah sehingga data lebih akurat. WebGIS ini dilengkapi statistik ringkas, heatmap, klasifikasi prioritas penanganan, dokumentasi foto, fasilitas pengunduhan data, serta formulir pelaporan titik sampah baru dan dipublikasikan melalui GitHub Pages.

Setelah itu, Tim KKN-PPM UGM pun turut mengembangkan WebGIS Pemetaan dan Optimalisasi Sebaran Bank Sampah Kelurahan Kricak. Selesai penelusuran informasi publik dan koordinasi dengan Ketua Forum Bank Sampah serta pengelola di tiap RW, survei dilaksanakan di 13 RW menggunakan QField. Survei menemukan satu unit bank sampah di RW 6 sudah tidak aktif sejak awal 2026. Sementara itu, sejumlah bank sampah lain aktif mengembangkan inovasi, seperti pengolahan sampah organik menjadi eco enzyme dan biopori serta kerajinan dari sampah anorganik. Bank sampah RW 5 juga memperoleh bantuan mesin pencacah sampah organik berkat prestasinya dalam berbagai lomba pengelolaan sampah.

Data dari 15 unit bank sampah meliputi lokasi, status operasional, jadwal pelayanan, jenis sampah yang diterima, fasilitas, cakupan layanan, serta potensi pengembangan. Data tersebut dilengkapi dokumentasi foto dan tautan Google Maps serta diintegrasikan dengan batas administrasi 13 RW. WebGIS Sebaran Bank Sampah dipublikasikan melalui GitHub Pages pada 23 Juli 2026 dan dilengkapi dengan ikon bank sampah, heatmap, statistik, serta rekomendasi lokasi. Data bank sampah dapat diperbarui melalui QField, sedangkan data titik sampah dan kondisi bantaran sungai melalui ODK Collect.

Untuk memperluas akses masyarakat, hasil pemetaan disosialisasikan melalui poster ber-QR Code yang memuat petunjuk singkat penggunaan WebGIS. Poster dipasang di enam titik strategis di Kampung Jatimulyo, Kricak Kidul, dan Bangunrejo agar mudah dilihat dan diakses oleh warga. Program ini pun menjadi bagian dari upaya KKN-PPM UGM Winongo Warawangsa dalam mendorong pengelolaan lingkungan yang berbasis data, partisipatif, dan berkelanjutan di Kelurahan Kricak. Warga setempat pun mengapresiasi pengembangan tersebut, seperti yang diungkapkan oleh Bapak Yuri, perangkat Kelurahan Kricak. “WebGIS ini membantu melihat kondisi lingkungan, titik sampah, dan sebaran bank sampah dalam satu platform. Kami berharap data ini dapat terus diperbarui dan dimanfaatkan untuk mendukung dalam menentukan prioritas penanganan lingkungan di Kelurahan Kricak,” harapnya.

Reportase : Diandra Keisya Jihan Feriska/Tim KKN

Penulis : Leony

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Tim KKN-PPM UGM

Artikel Dukung Pengelolaan Lingkungan Berbasis Data, Tim KKN UGM kembangkan WebGIS  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-pengelolaan-lingkungan-berbasis-data-tim-kkn-ugm-kembangkan-webgis/feed/ 0
Gagas Pertanian Urban Hemat Energi, Tim Mahasiswa UGM Manfaatkan Surya dan Kelembapan Udara https://ugm.ac.id/id/berita/gagas-pertanian-urban-hemat-energi-tim-mahasiswa-ugm-manfaatkan-surya-dan-kelembapan-udara/ https://ugm.ac.id/id/berita/gagas-pertanian-urban-hemat-energi-tim-mahasiswa-ugm-manfaatkan-surya-dan-kelembapan-udara/#respond Fri, 28 Aug 2026 08:31:11 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97045 Praktik bercocok tanam di kawasan kota besar dengan memanfaatkan lahan yang terbatas menjadi tantangan tersendiri dalam menjalan konsep pertanian urban. Di tengah menjamurnya gedung bertingkat dan pencakar langit menyebabkan pertanian urban ini membutuhkan pasokan air dan listrik yang tidak sedikit. Lima mahasiswa UGM menawarkan gagasan inovasi yang mereka namakan Aurora yang merupakan kependekan dari Autonomous […]

Artikel Gagas Pertanian Urban Hemat Energi, Tim Mahasiswa UGM Manfaatkan Surya dan Kelembapan Udara pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Praktik bercocok tanam di kawasan kota besar dengan memanfaatkan lahan yang terbatas menjadi tantangan tersendiri dalam menjalan konsep pertanian urban. Di tengah menjamurnya gedung bertingkat dan pencakar langit menyebabkan pertanian urban ini membutuhkan pasokan air dan listrik yang tidak sedikit.

Lima mahasiswa UGM menawarkan gagasan inovasi yang mereka namakan Aurora yang merupakan kependekan dari Autonomous Utility for Renewable Resources, sebuah alat atau sistem yang terintegrasi dengan panel surya dan alat kondensasi air untuk menghadirkan sistem pertanian vertikal yang lebih mandiri, efisien, dan terintegrasi.

Inovasi tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas disiplin mahasiswa UGM yang terbentuk dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Video Gagasan Konstruktif (PKM-VKG). Tim tersebut terdiri dari Orva Linnisa Husaina (S1 Teknik Fisika) sebagai ketua tim bersama keempat rekan lintas jurusannya, yakni Rayhana Azzahra Kusmana (S1 Farmasi), Arfa Fadilah Ramadhan (S1 Teknik Kimia), Nayaka Sandya Kesuma (D4 Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan kontrol), dan Faqih Zulfikar Alkaha (S1 Teknik Elektro) yang dibimbing oleh Budi Sumanto, S.Si, M.Eng, dosen Teknik Elektro dan Informatika, SV, UGM.

Orva mengatakan ide besar di balik pengembangan Aurora bermula dari keprihatinan mendalam mereka atas persoalan yang kerap ditemui dalam sektor pertanian modern saat ini. Menurutnya, pertanian urban masih bergantung pada pasokan air dan listrik dari luar, sementara itu pengelolaan kondisi tanaman, seperti mengukur kadar pH, nutrisi, suhu, kualitas air, hingga kondisi tanaman, juga banyak dilakukan secara manual.

Lebih jauh ia menjelaskan mekanisme kerja dari gagasan inovasi Aurora dengan penyediaan energi terbarukan melalui panel surya bifacial berdaya guna tinggi, produksi air mandiri lewat Atmospheric Water Generator (AWG) berbasis kondensasi, hingga pemanfaatan struktur bangunan melalui konsep green passive building guna mengoptimalkan ruang di tengah menjamurnya gedung-gedung pencakar langit. “Distribusi energi dan irigasi dikelola secara real-time berbasis AI-IoT, lengkap dengan kontrol otomatis untuk kapasitas, nutrisi, pH, suhu air, hingga kesehatan tanaman,” jelas Orva, Jumat (28/8).

Rayhana, anggota tim lainnya, menuturkan bahwa inovasi ini dikemas dan disampaikan melalui sebuah Video Gagasan Konstruktif. Format visual ini dipilih agar konsep gagasan dapat divisualisasikan dengan lebih mudah dan menarik bagi masyarakat luas maupun dewan juri. Dalam video tersebut, pihaknya memadukan teknik sinematografi dan storytelling yang kuat, serta didukung oleh visualisasi animasi 3D dan tracking augmented reality (AR) game user interface (UI). “Melalui perpaduan ini, penonton bisa melihat cara kerja Aurora secara visual,” ujar Rayhana.

Rayhan pun berharap inovasi Aurora ini tidak berhenti sekadar sebagai sebuah gagasan kompetisi, melainkan menjadi pemantik semangat bagi generasi muda untuk terus menghadirkan solusi nyata bagi permasalahan bangsa. “Ketahanan pangan, air, dan energi Indonesia kelak berada di tangan inovasi-inovasi yang inklusif dan berkelanjutan.” pungkasnya.

Penulis : Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Tim PKM

Artikel Gagas Pertanian Urban Hemat Energi, Tim Mahasiswa UGM Manfaatkan Surya dan Kelembapan Udara pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/gagas-pertanian-urban-hemat-energi-tim-mahasiswa-ugm-manfaatkan-surya-dan-kelembapan-udara/feed/ 0
UGM dan Pemda DIY Dorong Regenerasi Petani melalui Tandur Muda https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-pemda-diy-dorong-regenerasi-petani-muda-melalui-tandur-muda/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-pemda-diy-dorong-regenerasi-petani-muda-melalui-tandur-muda/#respond Fri, 28 Aug 2026 05:25:50 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97031 Universitas Gadjah Mada bersama Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta mendorong penguatan regenerasi petani melalui program Tandur Muda DIY. Program ini dirancang untuk mengajak generasi muda kembali melihat pertanian sebagai bidang yang dapat dikembangkan sekaligus memperkuat perekonomian desa. Upaya tersebut menjadi bagian dari kolaborasi antara pemerintah daerah dan UGM dalam menyiapkan keberlanjutan sektor pertanian di Yogyakarta. […]

Artikel UGM dan Pemda DIY Dorong Regenerasi Petani melalui Tandur Muda pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada bersama Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta mendorong penguatan regenerasi petani melalui program Tandur Muda DIY. Program ini dirancang untuk mengajak generasi muda kembali melihat pertanian sebagai bidang yang dapat dikembangkan sekaligus memperkuat perekonomian desa. Upaya tersebut menjadi bagian dari kolaborasi antara pemerintah daerah dan UGM dalam menyiapkan keberlanjutan sektor pertanian di Yogyakarta. Hal tersebut disampaikan dalam audiensi Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan Rektor UGM, Kamis (27/8) di Kantor Kepatihan Yogyakarta.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., mengatakan perhatian terhadap pertanian dan generasi muda menjadi salah satu gagasan yang dibahas dalam audiensi tersebut. UGM telah menyiapkan konsep bersama sejumlah pihak di lingkungan universitas untuk merespons gagasan tersebut. Konsep itu kemudian dilaporkan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai bagian dari pembahasan pengembangan program. “Beliau punya keinginan untuk pertanian, untuk generasi muda, itu beliau konsepnya di situ,” ujar Ova.

Ova menjelaskan, pengembangan program tersebut juga menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai unsur. Selain pemerintah daerah dan universitas, UGM melibatkan alumni, komunitas masyarakat, serta korporasi dalam mendukung pelaksanaan program di lapangan. Keterlibatan berbagai pihak diharapkan dapat memperkuat ekosistem program sekaligus membuka peluang pengembangan yang lebih luas. “Jadi ini saya kira salah satu bukti kerjasama yang real ya, di lapangan antara pemerintah daerah dengan universitas, bahkan dengan alumni, kemudian juga dengan komunitas masyarakat dan korporat,” kata Ova.

Dekan Fakultas Filsafat UGM, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum., mengatakan program tersebut berangkat dari keinginan Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk mengubah cara pandang generasi muda terhadap pertanian. UGM bersama Pemda DIY kemudian merancang program yang tidak hanya mendorong minat anak muda, tetapi juga memperkuat proses regenerasi di sektor pertanian. Desain tersebut diarahkan untuk menghidupkan kembali semangat generasi muda agar melihat pertanian sebagai bidang yang layak dikembangkan. “Sultan HB X ini menghendaki untuk bagaimana merubah mindset para pemuda-pemuda di Yogyakarta untuk mencintai kembali ke pertanian,” tutur Siti.

 

Dekan Fakultas Pertanian UGM, Prof. Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D., mengatakan dukungan bagi petani muda juga disiapkan melalui aspek pendanaan dan kepastian pasar. Pendanaan dapat bersumber dari pemerintah daerah maupun dana keistimewaan, sedangkan jejaring alumni melalui Kagama diharapkan dapat berperan sebagai offtaker bagi hasil pertanian. Skema tersebut diharapkan memberi kepastian kepada petani muda untuk terus mengembangkan kegiatan pertaniannya. “Dan mudah-mudahan ini nanti terus bergilir dan juga menular ke yang lain, sehingga regenerasi petani juga bisa berhasil,” kata Jaka.

Pengembangan petani muda juga diarahkan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berangkat dari desa. Dengan berkembangnya aktivitas ekonomi di tingkat desa, generasi muda diharapkan memiliki peluang untuk bekerja dan mengembangkan usaha tanpa harus berpindah ke kota. Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mempertahankan generasi muda agar tetap memiliki keterikatan ekonomi dengan wilayah perdesaan. “Harapan Sultan adalah ekonomi desa itu berkembang dari desa, bukan di kota,” tegas Jaka.

Lebih lanjut, dalam pelaksanaan program, UGM akan mengambil peran supervisi terhadap kegiatan yang dijalankan Pemda DIY. Peran tersebut diperlukan untuk memastikan program berjalan sesuai rencana dan memiliki mekanisme pengawasan dalam pelaksanaannya. Kolaborasi ini juga diharapkan dapat melengkapi pelaksanaan program pemerintah daerah yang sebelumnya belum memiliki pendampingan supervisi dari universitas. “Jadi ini tugas universitas akan menjadi supervisi, bisa memastikan bahwa programnya berjalan, programnya sesuai rencana,” ucap Jaka.

Kini, program Tandur Muda DIY telah melalui tahap pilot dan selanjutnya akan dikembangkan ke skala yang lebih luas. Pengembangan tersebut juga mencakup penyiapan struktur organisasi agar kerja sama antara pemerintah daerah dan UGM memiliki kerangka yang lebih formal. Struktur tersebut diperlukan, antara lain, agar dukungan pendanaan dari pemerintah daerah dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Program ini nantinya dirancang dengan pendekatan pertanian holistik yang mempertimbangkan berbagai aspek dalam pengembangan kegiatan pertanian. Jaka menjelaskan pendekatan tersebut memungkinkan berbagai potensi persoalan diperhitungkan sejak awal sehingga risiko kegagalan dapat diantisipasi dalam pelaksanaan program. Keberlanjutan program menjadi salah satu perhatian agar manfaatnya tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi dapat berdampak pada kesejahteraan masyarakat desa. “Nah inilah yang menjadi hal baru, bagaimana Tandur Muda DIY ini bisa berkelanjutan dan mengangkat kesejahteraan di tingkat desa,” katanya.

Pengembangan kapasitas generasi muda juga menjadi bagian dari program Tandur Muda DIY. Pemuda akan mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan dan sertifikasi sebagai bagian dari penguatan kemampuan dalam bidang pertanian. Dukungan tersebut juga dapat diperluas melalui berbagai kegiatan promosi dan pengembangan jejaring pertanian yang melibatkan pemuda Yogyakarta.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Firsto

Artikel UGM dan Pemda DIY Dorong Regenerasi Petani melalui Tandur Muda pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-pemda-diy-dorong-regenerasi-petani-muda-melalui-tandur-muda/feed/ 0
Kulit Semangka Kaya Nutrisi, Keamanan Konsumsinya Bergantung Praktik Budidaya https://ugm.ac.id/id/berita/kulit-semangka-kaya-nutrisi-keamanan-konsumsinya-bergantung-praktik-budidaya/ https://ugm.ac.id/id/berita/kulit-semangka-kaya-nutrisi-keamanan-konsumsinya-bergantung-praktik-budidaya/#respond Thu, 27 Aug 2026 05:18:26 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96989 Kulit semangka sering dianggap sebagai limbah yang dibuang begitu saja setelah daging buahnya dikonsumsi. Padahal, bagian putih pada kulit buah semangka memiliki komponen serat dan pektin yang cukup menonjol, serta memiliki kandungan sejumlah serat dan senyawa bioaktif. Berdasarkan profil nutrisi terbaru United States Department of Agriculture (USDA), setiap 50 gram kulit semangka mentah mengandung sekitar […]

Artikel Kulit Semangka Kaya Nutrisi, Keamanan Konsumsinya Bergantung Praktik Budidaya pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kulit semangka sering dianggap sebagai limbah yang dibuang begitu saja setelah daging buahnya dikonsumsi. Padahal, bagian putih pada kulit buah semangka memiliki komponen serat dan pektin yang cukup menonjol, serta memiliki kandungan sejumlah serat dan senyawa bioaktif. Berdasarkan profil nutrisi terbaru United States Department of Agriculture (USDA), setiap 50 gram kulit semangka mentah mengandung sekitar 10 kalori, 1 gram serat pangan, 140 miligram kalium, dan 4 miligram vitamin C. Potensi tersebut membuka peluang pemanfaatan semangka secara lebih utuh sebagai bagian dari upaya mengurangi limbah pangan.

Guru Besar Fakultas Biologi UGM sekaligus peneliti buah semangka, Prof. Dr. Budi S. Daryono, menjelaskan bahwa perbedaan kandungan antara bagian putih kulit (rind) dan daging buah (flesh) berkaitan dengan karakter jaringan yang berbeda. Bagian putih semangka memiliki komponen penyusun dinding sel dalam jumlah penting sehingga serat dan pektin menjadi bagian yang menonjol dalam komposisinya.

Ia menyebutkan, sejumlah penelitian pada beberapa kultivar semangka juga menunjukkan bahwa komposisi rind tidak selalu sama dengan daging buah. Perbedaan tersebut antara lain terlihat pada kandungan senyawa bioaktif seperti fenolik dan citrulline. “Perbedaan kandungan serat dan mineral antara kulit dan daging buah lebih tepat dipahami sebagai konsekuensi dari perbedaan struktur dan fungsi kedua jaringan tersebut, bukan sebagai indikasi bahwa salah satu bagian secara keseluruhan lebih bergizi daripada bagian lainnya,” tuturnya saat diwawancarai, kamis (27/8).

Perbedaan karakter tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan kulit semangka sebagai bahan pangan perlu dilihat secara lebih spesifik. Menurutnya, tidak semua semangka dapat diasumsikan memiliki komposisi dan karakter kulit yang sama. Penelitian terhadap enam kultivar komersial menunjukkan adanya perbedaan pada kandungan serat, gula, protein, senyawa fenolik, aktivitas antioksidan, hingga karakter fisikokimia kulit. “Ketika kulit semangka mulai dipertimbangkan sebagai bahan pangan, kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa ‘kulit semangka bisa dimakan’, tetapi juga perlu mengetahui semangka yang mana dan bagaimana bahan tersebut diproduksi,” tuturnya.

Selain kandungan nutrisi, aspek keamanan pangan menjadi perhatian karena kulit merupakan bagian terluar buah yang bersentuhan langsung dengan lingkungan. Ia menyebut residu pestisida tertentu dapat terdistribusi berbeda antara kulit dan daging buah. Pola tersebut juga dapat dipengaruhi oleh varietas serta tahap perkembangan buah.

“Pemanfaatan kulit semangka sebagai pangan perlu memperhatikan asal bahan dan praktik budidayanya. Penanganan pasca panen, pencucian, serta pengolahan yang tepat juga diperlukan agar potensi nutrisi kulit dapat dimanfaatkan tanpa mengabaikan aspek keamanan pangan,” jelasnya.

Keberadaan kulit semangka sebagai bagian yang berpotensi dimanfaatkan juga tidak terlepas dari sejarah panjang domestikasi tanaman tersebut. Ia menuturkan bahwa proses evolusi, domestikasi, dan pemuliaan semangka telah mendorong perubahan sejumlah karakter buah, antara lain ukuran, rasa pahit, akumulasi gula, dan warna daging. Namun demikian, perubahan karakter tersebut belum dapat secara langsung dikaitkan dengan perubahan kandungan nutrisi pada kulit semangka. “Domestikasi telah mengubah berbagai karakter buah, tetapi belum cukup bukti untuk menyatakan bahwa proses tersebut secara langsung mempengaruhi kandungan nutrisi pada kulit semangka. Hal ini masih menjadi pertanyaan penelitian yang terbuka,” ujarnya.

Dengan karakter kulit yang berbeda antarkultivar, pemanfaatan seluruh bagian semangka dapat diarahkan sesuai potensi masing-masing bahan. Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi bagian dari pemanfaatan sumber daya hayati secara lebih efisien sekaligus berkontribusi terhadap pengurangan limbah pangan. Pemanfaatan rind sendiri bukan merupakan hal baru karena di sejumlah negara bagian tersebut telah digunakan untuk membuat pickle, manisan, hingga pernah diteliti untuk melihat karakter rind dan varietas yang paling sesuai untuk pemanfaatan tersebut. “Inilah yang kemudian dapat dikaitkan dengan konsep whole-fruit utilization, yaitu bagaimana sebanyak mungkin bagian dari satu buah dapat dimanfaatkan sesuai dengan karakter dan potensinya. Membuka peluang untuk melihat bahwa varietas semangka yang berbeda dapat memiliki karakter rind yang berbeda dan dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang berbeda pula,” tuturnya.

Ke depan, pengembangan pemanfaatan kulit semangka tidak hanya perlu berfokus pada bagaimana membuat bagian tersebut dapat dikonsumsi. Menurutnya, tantangannya adalah mengembangkan pemanfaatan kulit semangka menjadi produk yang aman, memiliki nilai tambah, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. “Jadi tantangannya ke depan bukan lagi sekadar bagaimana membuat rind dapat dimakan, tetapi bagaimana mengembangkan pemanfaatannya menjadi sesuatu yang aman, bernilai tambah, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat,” tutup Budi.

Penulis : Cyntia Noviana

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Magnific

Artikel Kulit Semangka Kaya Nutrisi, Keamanan Konsumsinya Bergantung Praktik Budidaya pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kulit-semangka-kaya-nutrisi-keamanan-konsumsinya-bergantung-praktik-budidaya/feed/ 0
Lebih Unggul dan Tangguh, Persilangan Sapi Jaliteng Perkuat Mutu Genetik Sapi Bali https://ugm.ac.id/id/berita/lebih-unggul-dan-tangguh-persilangan-sapi-jaliteng-perkuat-mutu-genetik-sapi-bali/ https://ugm.ac.id/id/berita/lebih-unggul-dan-tangguh-persilangan-sapi-jaliteng-perkuat-mutu-genetik-sapi-bali/#respond Mon, 24 Aug 2026 08:57:07 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96913 Pemanfaatan sapi Jaliteng sebagai sumber genetik alternatif berpotensi meningkatkan produktivitas sapi Bali. Sebagai informasi, sapi Jaliteng merupakan hasil perkawinan antara sapi Bali dan banteng Jawa. Program perkawinan tersebut mulai dilakukan pada 2011 oleh Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur bersama Taman Safari Indonesia II Prigen-Pasuruan. Program tersebut kemudian menghasilkan keturunan yang dikenal sebagai sapi Jaliteng. Seiring […]

Artikel Lebih Unggul dan Tangguh, Persilangan Sapi Jaliteng Perkuat Mutu Genetik Sapi Bali pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pemanfaatan sapi Jaliteng sebagai sumber genetik alternatif berpotensi meningkatkan produktivitas sapi Bali. Sebagai informasi, sapi Jaliteng merupakan hasil perkawinan antara sapi Bali dan banteng Jawa. Program perkawinan tersebut mulai dilakukan pada 2011 oleh Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur bersama Taman Safari Indonesia II Prigen-Pasuruan. Program tersebut kemudian menghasilkan keturunan yang dikenal sebagai sapi Jaliteng. Seiring perkembangannya, semen beku dari pejantan Jaliteng dikembangkan untuk mendukung program inseminasi buatan. 

Dari hasil penelitian menunjukkan penggunaan semen Jaliteng pada induk sapi Bali menghasilkan conception rate (CR) sebesar 95,50 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan penggunaan semen sapi Bali yang menghasilkan CR sebesar 70 persen. Selain itu, nilai service per conception juga tercatat lebih rendah pada kelompok yang menggunakan semen Jaliteng.

Hal itu disampaikan  mahasiswa Program Doktor Ilmu Peternakan, Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Adi Tiya Warman, melalui disertasinya berjudul “Peningkatan Produktivitas Sapi Bali Melalui Perkawinan dengan Sapi Jaliteng di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat”. 

Disertasi tersebut dipertahankan dalam sidang ujian tertutup pada Jumat (21/8). Bertindak sebagai promotor Prof. Ir. Panjono, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., ASEAN Eng, serta Prof. Ir. Tri Satya Mastuti Widi, S.Pt., M.P., M.Sc., Ph.D., ASEAN Eng dan Prof. Dr. Ir. Sigit Bintara, M.Si., IPU., ASEAN Eng sebagai ko-promotor.

Adi menuturkan, penelitian yang dilakukannya di Lombok Tengah dan Jawa Timur tersebut membandingkan produktivitas sapi Bali dengan sapi hasil perkawinan sapi Bali dan Jaliteng melalui metode inseminasi buatan. Selain dari sisi performa reproduksi, potensi lainnya pada pertumbuhan pedet hasil persilangan. Pedet hasil perkawinan Jaliteng dan sapi Bali diketahui memiliki sejumlah ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan pedet Bali murni. Saat sapih, panjang badan pedet dari hasil persilangan Jaliteng dan Bali mencapai rata-rata 88,15 cm, sedangkan pedet Bali memiliki rata-rata panjang badan 82,59 cm.

Di sisi lain, persilangan tersebut tetap mempertahankan sebagian besar karakter fenotipik khas sapi Bali. Beberapa karakter tersebut antara lain warna kaus kaki putih, cermin pantat putih, dan garis punggung hitam. Tentu, hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan sapi Jaliteng sebagai sumber genetik alternatif tetap memungkinkan dipertahankannya sejumlah karakteristik khas sapi Bali. “Sapi Jaliteng potensial menjadi pejantan alternatif dalam program pembibitan sapi Bali, terutama melalui pemanfaatan semen beku dalam program inseminasi buatan,”kata Adi.

Meski menunjukkan hasil yang menjanjikan, Adi menekankan perlunya penelitian lanjutan untuk melihat performa keturunan hasil persilangan setelah melewati masa sapih hingga mencapai usia dewasa. Kajian tersebut diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai produktivitas dan karakteristik keturunan sapi hasil perkawinan Jaliteng dan Sapi Bali.

Reportase : Satria/Humas Fapet

Penulis.     : Zabrina Kumara

Editor        : Gusti Grehenson
Foto.         : Detik dan Dok. Tim Pascasarjana Fapet

Artikel Lebih Unggul dan Tangguh, Persilangan Sapi Jaliteng Perkuat Mutu Genetik Sapi Bali pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/lebih-unggul-dan-tangguh-persilangan-sapi-jaliteng-perkuat-mutu-genetik-sapi-bali/feed/ 0
Perkuat Sinergi Pendidikan dan Riset IKN, UGM Gandeng Universitas Balikpapan  https://ugm.ac.id/id/berita/perkuat-sinergi-pendidikan-dan-riset-ikn-ugm-gandeng-universitas-balikpapan/ https://ugm.ac.id/id/berita/perkuat-sinergi-pendidikan-dan-riset-ikn-ugm-gandeng-universitas-balikpapan/#respond Sat, 22 Aug 2026 01:35:02 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96864 Universitas Gadjah Mada dan Universitas Balikpapan (Uniba) resmi memperpanjang nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat untuk lima tahun kedepan,  Jumat(21/8), di Gedung Pusat UGM. Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat pemberdayaan perguruan tinggi lokal serta pengembangan riset yang sesuai dengan kebutuhan Kalimantan Timur dan Ibu Kota […]

Artikel Perkuat Sinergi Pendidikan dan Riset IKN, UGM Gandeng Universitas Balikpapan  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada dan Universitas Balikpapan (Uniba) resmi memperpanjang nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat untuk lima tahun kedepan,  Jumat(21/8), di Gedung Pusat UGM. Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat pemberdayaan perguruan tinggi lokal serta pengembangan riset yang sesuai dengan kebutuhan Kalimantan Timur dan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menegaskan penguatan kerja sama dengan perguruan tinggi lokal merupakan bagian dari misi UGM ketika terlibat dalam pengembangan kolaborasi pendidikan dan IKN di Kalimantan. “Kita bukan ingin memperlebar ke Kalimantan, tapi kami juga ingin ada misi yang sifatnya adalah untuk pemberdayaan dan pembinaan. Kami di UGM juga tidak bisa berjalan sendiri, kami butuh mitra-mitra lain,” tuturnya.

Dalam kerja sama ke depan, kedua universitas sepakat mendorong pengembangan riset yang berangkat dari persoalan dan kebutuhan daerah. Ova menyebut penelitian yang dikembangkan bersama sebaiknya bersifat locally needed atau benar-benar dibutuhkan masyarakat dan dapat diterapkan di lapangan. Salah satu fokus yang dinilai relevan adalah perubahan iklim (climate change), terutama dalam mendukung pengembangan IKN sebagai forest city. “Riset-riset yang dikembangkan itu adalah riset-riset yang locally needed,” terangnya.

Selain penelitian, UGM dan Universitas Balikpapan juga membuka peluang kolaborasi di bidang pendidikan melalui team teaching. Skema ini memungkinkan dosen dari kedua perguruan tinggi mengajar bersama pada program studi yang memiliki bidang keilmuan yang bersesuaian. Kolaborasi juga dapat diperluas melalui pengembangan staf serta penelitian bersama dengan dukungan hibah dan matching fund dari perguruan tinggi lokal. “Dengan begitu, nantinya kerja sama dapat diarahkan menjadi program konkret dalam memperkuat kapasitas akademik,” pungkas Ova.

Rektor Uniba, Dr. Ir. Isradi Zainal, menuturkan bahwa kerja sama dengan UGM diharapkan dapat menjadi ruang bagi perguruan tinggi di daerah untuk mendapatkan pendampingan sekaligus berkembang bersama. Ia menilai, keterlibatan kampus lokal penting agar kerja sama dan berbagai proyek yang dikembangkan di daerah tidak hanya menghadirkan keahlian dari luar, tetapi juga memperkuat kapasitas perguruan tinggi setempat. “Kampus lokal perlu mendapat kesempatan untuk berkontribusi sekaligus meningkatkan kapasitasnya melalui kolaborasi,” ujarnya.

Zainal menyoroti adanya keresahan di Kalimantan Timur ketika berbagai proyek lebih banyak melibatkan perguruan tinggi besar, sementara kampus di daerah sendiri belum selalu mendapatkan kesempatan yang memadai. Ia berharap UGM dapat memberikan bimbingan dan dukungan kepada perguruan tinggi di luar Jawa agar dapat berkembang bersama. “Jadi poin yang disampaikan yakni kami meminta bimbingannya agar perguruan tinggi di luar Jawa bisa berkembang bersama-sama,” tuturnya.

Ia juga mengapresiasi kiprah jaringan alumni Kagama yang terdapat di Kalimantan Timur. Menurutnya, jejaring tersebut dapat menjadi salah satu kekuatan dalam mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai pihak dalam pengembangan daerah.

Penulis : Cyntia Noviana

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Perkuat Sinergi Pendidikan dan Riset IKN, UGM Gandeng Universitas Balikpapan  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/perkuat-sinergi-pendidikan-dan-riset-ikn-ugm-gandeng-universitas-balikpapan/feed/ 0
Guru Besar UGM Sebut Karhutla Ancaman Serius, Dorong Penguatan Penjagaan Hutan https://ugm.ac.id/id/berita/guru-besar-ugm-sebut-karhutla-ancaman-serius-dorong-penguatan-penjagaan-hutan/ https://ugm.ac.id/id/berita/guru-besar-ugm-sebut-karhutla-ancaman-serius-dorong-penguatan-penjagaan-hutan/#respond Sat, 22 Aug 2026 01:16:02 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96861 Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di berbagai wilayah Indonesia, dengan Kalimantan menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian serius. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 9 Agustus 2026 mencatat bahwa luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas mencapai sekitar 48.889,69 hektare. Di Kalimantan, luasan terbesar tercatat di Kalimantan Barat sebesar 28.680,47 hektar, […]

Artikel Guru Besar UGM Sebut Karhutla Ancaman Serius, Dorong Penguatan Penjagaan Hutan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di berbagai wilayah Indonesia, dengan Kalimantan menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian serius. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 9 Agustus 2026 mencatat bahwa luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas mencapai sekitar 48.889,69 hektare. Di Kalimantan, luasan terbesar tercatat di Kalimantan Barat sebesar 28.680,47 hektar, disusul Kalimantan Tengah 3.069,52 hektar dan Kalimantan Selatan 383,07 hektar. Situasi tersebut menunjukkan bahwa penanganan dan pencegahan karhutla perlu diperkuat melalui sistem yang berkelanjutan.

Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, Prof. Priyono Suryanto, S.Hut., M.P., Ph.D., menyebut bahwa Indonesia sebenarnya telah memiliki kapasitas kelembagaan kuat dalam menghadapi karhutla. Ketika kebakaran terjadi, berbagai unsur seperti TNI, Polri, kementerian, BNPB, pemerintah daerah, Manggala Agni, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pihak lainnya dapat bergerak bersama. Kemampuan tersebut mampu menjadi modal sosial dan kelembagaan yang penting bagi Indonesia. Akan tetapi, ia menyebut jika kekuatan gotong royong tersebut masih lebih menonjol sebagai respons ketika terjadi krisis dibandingkan sebagai sistem penjagaan sebelum bencana terjadi. “Gotong royong Indonesia kuat sebagai respons, tetapi belum cukup kuat sebagai struktur penjagaan. Solidaritas kelembagaan mencapai puncaknya ketika kebakaran terjadi, tetapi belum selalu bertahan dengan kekuatan yang sama ketika hutan sedang tidak terbakar,” jelasnya dalam keterangan yang dibagikan, Sabtu (22/8).

Guru besar UGM yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Masyarakat Agroforestri Indonesia (MAFI) tersebut menilai titik lemah penanganan karhutla tidak semata pada absennya program pencegahan. Ia menyebut bahwa selama ini program pencegahan sebetulnya sudah terbangun. Namun, yang menjadi tantangan mendasar, yakni mempertahankan kontinuitas, integrasi, dan daya hidupnya setelah situasi darurat berakhir. “Padahal risiko kebakaran tidak pernah benar-benar hilang. Kerentanan terus berkembang melalui kondisi gambut, aktivitas ekonomi, perubahan penggunaan lahan, iklim, dan dinamika sosial. Karena itu pencegahan harus menjadi ekosistem penjagaan yang berkelanjutan,” tuturnya.

Berbeda dengan gotong royong krisis yang menekankan kemampuan berbagai institusi untuk bergerak bersama setelah ancaman muncul. Ekosistem penjagaan hutan mampu menjamin seluruh aktor tetap terhubung bahkan ketika tidak terjadi kebakaran. Dalam hal ini, pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, aparat, hingga berbagai organisasi perlu tetap berada dalam satu ekosistem yang membaca adanya risiko, memonitor perubahan bentang alam, menjaga fungsi ekologis, mengembangkan pengetahuan, dan melakukan interversi dini. “Kekuatan yang biasanya muncul ketika adanya kebakaran harus tetap hidup ketika hutan sedang tidak terbakar. Disitulah pergeseran penting dari gotong royong krisis menjadi gotong-royong penjagaan hutan,” ucapnya.

Priono pun juga menyoroti pembelajaran dari keberadaan Badan Restorasi Gambut (BRG) yang kemudian berkembang menjadi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Lembaga tersebut menjadi salah satu warisan penting dalam menumbuhkan ekosistem pengetahuan restorasi gambut. Berbagai pengalaman mulai dari percobaan, pengetahuan lapangan, praktik restorasi, pembasahan gambut, pemberdayaan masyarakat, hingga paludikultur merupakan aset lembaga yang perlu dijaga dan dikembangkan. “Karena itu, persoalannya bukan perlu atau tidak menghidupkan kembali BRGM, tetapi keberlanjutan asetnya,” katanya.

Sebagai langkah lebih lanjut, ia menyarankan tiga transformasi strategis yang perlu dilakukan dalam penanganan karhutla. Pertama, mengubah ekosistem gotong royong krisis menjadi ekosistem gotong royong penjagaan hutan. Kedua, mengubah berbagai pengalaman menjadi memori strategis nasional. Ketiga, mengubah ketahanan reaktif menjadi ketahanan antisipatif. “Ketangguhan tidak cukup diukur dari kemampuan memadamkan kebakaran besar. Ketangguhan sendiri berarti kemampuan membaca risiko lebih dini, mengurangi kerentanan, menjaga fungsi ekosistem, dan bertindak sebelum ancaman berubah jadi bencana,” ujarnya.

Ia menilai, setiap kejadian karhutla seharusnya menghasilkan peningkatan kapasitas pengetahuan dan perbaikan sistem penanganan. Terlebih lagi Indonesia sendiri telah memiliki modal yang kuat pada kemampuan gotong royong ketika terdapat krisis. Tantangannya adalah mengembangkan modal tersebut menjadi sistem yang mampu bekerja sebelum krisis terjadi. “Karena itu, transformasi paling penting bukan memperbesar mobilsasi ketika api sudah menyala, tetapi mengubah gotong royong menjadi ekosistem penjagaan hutan yang permanen,” ucapnya.

Menurutnya, keberhasilan penanganan karhutla pada akhirnya tidak semata-mata diukur dari besarnya operasi pemadaman yang mampu dilakukan. Keberhasilan tertinggi justru ketika kebutuhan terhadap operasi pemadaman berskala besar semakin berkurang karena risiko dan kerentanan telah ditangani sebelum api muncul. “Ukuran keberhasilan penanganan karhutla pada akhirnya bukan semakin besarnya operasi pemadaman yang dapat dilakukan. Keberhasilan tertinggi justru tercapai ketika operasi pemadaman besar semakin jarang diperlukan karena bentang alam telah dijaga sebelum api datang,” pungkas Priyono.

Penulis : Cyntia Noviana

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Reuters

Artikel Guru Besar UGM Sebut Karhutla Ancaman Serius, Dorong Penguatan Penjagaan Hutan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/guru-besar-ugm-sebut-karhutla-ancaman-serius-dorong-penguatan-penjagaan-hutan/feed/ 0
Jaga Ekosistem Perairan, Dosen dan Mahasiswa UGM Aksi Bersih Embung Tambakboyo https://ugm.ac.id/id/berita/jaga-ekosistem-perairan-dosen-dan-mahasiswa-ugm-aksi-bersih-embung-tambakboyo/ https://ugm.ac.id/id/berita/jaga-ekosistem-perairan-dosen-dan-mahasiswa-ugm-aksi-bersih-embung-tambakboyo/#respond Fri, 21 Aug 2026 07:58:13 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96842 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui aksi Bersih Embung Tambakboyo pada Kamis (20/8) di Kabupaten Sleman. Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-63 Departemen Perikanan UGM ini menjadi bentuk kepedulian civitas universitas terhadap kebersihan dan keberlanjutan ekosistem perairan tawar. Aksi tersebut melibatkan sekitar 70 peserta […]

Artikel Jaga Ekosistem Perairan, Dosen dan Mahasiswa UGM Aksi Bersih Embung Tambakboyo pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui aksi Bersih Embung Tambakboyo pada Kamis (20/8) di Kabupaten Sleman. Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-63 Departemen Perikanan UGM ini menjadi bentuk kepedulian civitas universitas terhadap kebersihan dan keberlanjutan ekosistem perairan tawar. Aksi tersebut melibatkan sekitar 70 peserta yang terdiri atas dosen Departemen Perikanan UGM, pengelola Embung Tambakboyo, serta mahasiswa di semua jenjang. Melalui kegiatan ini, peserta terlibat langsung dalam menjaga kebersihan kawasan embung sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan perairan.

Embung Tambakboyo merupakan kawasan perairan yang secara geografis mencakup wilayah Desa Wedomartani, Desa Condongcatur, dan Desa Maguwoharjo, Kabupaten Sleman. Embung tersebut berada dalam kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWS Serayu Opak) dan memiliki fungsi ekologis serta sosial bagi masyarakat sekitar. Ketua Departemen Perikanan UGM, Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., menyampaikan bahwa menjaga kondisi perairan tawar memerlukan kepedulian bersama dari perguruan tinggi, pengelola, mahasiswa, dan masyarakat. “Embung ini memiliki fungsi ekologis dan sosial bagi masyarakat, sehingga menjaga kebersihannya menjadi tanggung jawab bersama. Harapannya kegiatan ini dapat menumbuhkan kepedulian dan mendorong semakin banyak pihak untuk ikut menjaga ekosistem perairan,” ujarnya.

Aksi bersih embung dilakukan dengan mengumpulkan berbagai jenis sampah yang ditemukan di kawasan tersebut. Para peserta membersihkan sampah plastik maupun sampah organik yang tersebar di sekitar embung. Rangkaian kegiatan juga mencakup pemasangan papan anjuran serta sosialisasi kepada masyarakat mengenai penanganan ikan dan pentingnya menjaga ekosistem perairan. Dari kegiatan pembersihan, peserta berhasil mengumpulkan lebih dari 25 trashbag sampah.

Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari pengelola Embung Tambakboyo. Pengelola Embung Tambakboyo, Sumaryanto, menyampaikan bahwa sampah masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi di kawasan embung sehingga kegiatan pembersihan perlu dilakukan secara rutin. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pihak agar kebersihan dan kelestarian embung tetap terjaga. “Sampah masih menjadi salah satu persoalan di kawasan embung. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa dilakukan secara rutin dan berkelanjutan supaya kebersihan dan kelestarian Embung Tambakboyo tetap terjaga,” ungkapnya.

Bagi mahasiswa, keterlibatan dalam Bersih Embung Tambakboyo menjadi kesempatan untuk belajar mengenai pengelolaan lingkungan perairan melalui pengalaman langsung di lapangan. Kegiatan tersebut mempertemukan proses pembelajaran akademik dengan aksi nyata dalam menjaga ekosistem perairan tawar. Pengalaman ini diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian mahasiswa terhadap keberlanjutan lingkungan sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pengabdian kepada masyarakat.

Bersih Embung Tambakboyo menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-63 Departemen Perikanan UGM sekaligus bentuk kontribusi akademisi dalam menjaga lingkungan perairan. Pembersihan kawasan, pemasangan papan anjuran, dan sosialisasi mengenai penanganan ikan menjadi rangkaian kegiatan yang diarahkan untuk meningkatkan kesadaran bersama. Kolaborasi dengan pengelola embung juga diharapkan dapat menjaga keberlanjutan upaya pemeliharaan kawasan setelah kegiatan selesai. Melalui kegiatan ini, Departemen Perikanan UGM berharap sinergi dengan pengelola embung dan masyarakat dapat terus berkembang untuk mewujudkan ekosistem perairan tawar yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Reportase: Departemen Perikanan UGM

Editor: Triya Andriyani

Artikel Jaga Ekosistem Perairan, Dosen dan Mahasiswa UGM Aksi Bersih Embung Tambakboyo pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/jaga-ekosistem-perairan-dosen-dan-mahasiswa-ugm-aksi-bersih-embung-tambakboyo/feed/ 0
KKN UGM Petakan Potensi Desa Dawung sebagai Tujuan Wisata Agroedukasi https://ugm.ac.id/id/berita/kkn-ugm-petakan-potensi-desa-dawung-sebagai-tujuan-wisata-agroedukasi/ https://ugm.ac.id/id/berita/kkn-ugm-petakan-potensi-desa-dawung-sebagai-tujuan-wisata-agroedukasi/#respond Tue, 18 Aug 2026 06:36:43 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96725 Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada memetakan potensi Desa Dawung, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, sebagai bagian dari upaya mengembangkan desa wisata berbasis agroedukasi. Desa Dawung memiliki lanskap agraris berupa hamparan sawah, aliran sungai, serta panorama Gunung Lawu yang menjadi bagian dari potensi alam setempat. Kekayaan tersebut juga didukung sumber daya manusia […]

Artikel KKN UGM Petakan Potensi Desa Dawung sebagai Tujuan Wisata Agroedukasi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada memetakan potensi Desa Dawung, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, sebagai bagian dari upaya mengembangkan desa wisata berbasis agroedukasi. Desa Dawung memiliki lanskap agraris berupa hamparan sawah, aliran sungai, serta panorama Gunung Lawu yang menjadi bagian dari potensi alam setempat. Kekayaan tersebut juga didukung sumber daya manusia dan keterampilan masyarakat yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman wisata berbasis edukasi. Melalui program KKN, mahasiswa berupaya mengidentifikasi dan mengemas berbagai potensi yang telah dimiliki desa agar dapat dikembangkan tanpa menghilangkan karakter lokal.

Salah satu gagasan yang diusung mahasiswa KKN adalah pengembangan kawasan agroedukasi dengan memadukan potensi pertanian, lingkungan, dan keterampilan masyarakat. Mahasiswa Filsafat UGM, Michael Cosmas Hamonangan Silalahi, menggagas konsep tersebut dengan melihat Desa Dawung telah memiliki sumber daya alam dan kemampuan masyarakat yang dapat menjadi fondasi pengembangan wisata. Kawasan agroedukasi diarahkan menjadi ruang belajar langsung bagi pengunjung, terutama generasi muda, mengenai produksi pangan berkelanjutan dan keterampilan kerajinan lokal. “Kami melihat Desa Dawung sebenarnya sudah memiliki banyak modal untuk dikembangkan sebagai desa wisata. Karena itu, kami ingin mengemas potensi yang sudah ada menjadi pengalaman wisata yang juga memberi ruang belajar bagi pengunjung,” ujar Michael, Selasa (18/8).

Konsep tersebut kemudian didukung dengan upaya memperkenalkan potensi Desa Dawung melalui media digital. Mahasiswa KKN memproduksi delapan konten video visual yang dipublikasikan melalui akun Instagram Pemerintah Desa Dawung untuk memperkenalkan lanskap, potensi, dan aktivitas masyarakat kepada khalayak yang lebih luas. Perangkat desa menyambut positif inisiatif tersebut dan berharap konsep kawasan agroedukasi dapat mulai diterapkan ketika dukungan pendanaan tersedia. Publikasi digital diharapkan menjadi salah satu modal awal bagi desa untuk mengenalkan potensinya secara lebih luas.

Selain publikasi digital, mahasiswa KKN menyusun Peta Potensi Desa untuk mengidentifikasi berbagai kekayaan Desa Dawung secara spasial. Peta tersebut dirancang agar dapat membantu pemerintah desa melihat persebaran potensi wilayah sebagai dasar perencanaan pembangunan dan pengelolaan pariwisata. Proses pemetaan dilakukan oleh mahasiswa Teknik Sipil UGM, Yudhistira Zhafran Hamid, melalui survei lapangan untuk mengumpulkan titik-titik potensi desa. Data yang diperoleh kemudian diolah menggunakan lembar kerja digital dan divisualisasikan dengan QGIS hingga menghasilkan peta tata letak yang siap dicetak.

Bagi Yudhistira, proses pemetaan menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung potensi yang tersebar di Desa Dawung sekaligus menerjemahkannya ke dalam informasi yang dapat dimanfaatkan pemerintah desa. Pemetaan dilakukan dengan turun ke lapangan untuk mengumpulkan data sebelum diolah dan divisualisasikan dalam bentuk peta. Hasilnya kemudian diserahkan secara resmi kepada perangkat Desa Dawung pada 5 Agustus 2026. “Kami ingin peta ini bisa menjadi gambaran yang lebih jelas mengenai potensi yang dimiliki Desa Dawung. Harapannya, data yang sudah dikumpulkan dapat membantu desa menentukan potensi mana yang bisa dikembangkan dan menjadi dasar untuk merencanakan pengembangan wisata ke depan,” ujarnya.

Pengembangan Desa Dawung sebagai desa wisata diarahkan pada pemanfaatan potensi lokal yang telah dimiliki masyarakat. Konsep agroedukasi memberikan alternatif pengembangan wisata dengan memadukan aktivitas pertanian dan pengalaman belajar mengenai produksi pangan berkelanjutan serta keterampilan masyarakat. Peta Potensi Desa juga menjadi instrumen pendukung agar pengembangan tersebut memiliki dasar informasi mengenai kondisi dan persebaran potensi wilayah. Dengan pendekatan tersebut, pengembangan wisata diharapkan dapat berjalan secara bertahap sambil tetap mempertahankan karakter alam, aktivitas pertanian, dan keterampilan lokal Desa Dawung.

Reportase: Jovita M.

Penulis: Triya Andriyani

Artikel KKN UGM Petakan Potensi Desa Dawung sebagai Tujuan Wisata Agroedukasi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kkn-ugm-petakan-potensi-desa-dawung-sebagai-tujuan-wisata-agroedukasi/feed/ 0