SDG 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Kuat Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/sdg-16-perdamaian-keadilan-dan-kelembagaan-yang-kuat/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Sat, 29 Aug 2026 02:12:42 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 Ekonom UGM: Koperasi Butuh Integritas, Bukan Sekadar Kuantitas  https://ugm.ac.id/id/berita/ekonom-ugm-koperasi-butuh-integritas-bukan-sekadar-kuantitas/ https://ugm.ac.id/id/berita/ekonom-ugm-koperasi-butuh-integritas-bukan-sekadar-kuantitas/#respond Sat, 29 Aug 2026 01:36:56 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97065 Pemerintah berencana ingin membentuk 80.000 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai alat untuk mewujudkan amanat Pasal 33 ayat (1) UUD 1945 sekaligus mendorong perekonomian nasional yang lebih inklusif. Namun begitu, pertumbuhan jumlah koperasi perlu diikuti penguatan kapasitas, tata kelola, serta kemampuan koperasi dalam memenuhi kebutuhan anggotanya. Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM, Amirullah Setya Hardi, […]

Artikel Ekonom UGM: Koperasi Butuh Integritas, Bukan Sekadar Kuantitas  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pemerintah berencana ingin membentuk 80.000 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai alat untuk mewujudkan amanat Pasal 33 ayat (1) UUD 1945 sekaligus mendorong perekonomian nasional yang lebih inklusif. Namun begitu, pertumbuhan jumlah koperasi perlu diikuti penguatan kapasitas, tata kelola, serta kemampuan koperasi dalam memenuhi kebutuhan anggotanya.

Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM, Amirullah Setya Hardi, Ph.D., menilai tujuan pendirian KDMP untuk mendorong peningkatan kesejahteraan desa, penciptaan lapangan kerja, hingga penekanan inflasi bagi Amirullah sangat cukup membebani pengelola Koperasi. Padahal, koperasi semestinya hanya memiliki satu tujuan utama. “Tujuan Koperasi Desa Merah Putih itu terlalu banyak. Padahal seharusnya tidak begitu, karena tujuan koperasi itu tunggal, yaitu mencukupi kebutuhan anggota. Itu saja. Kalau kebutuhan anggota terpenuhi, maka dengan sendirinya mereka akan sejahtera,” ujarnya, Sabtu (29/8).

Amirullah menyebutkan bahwa data kinerja koperasi nasional menunjukkan anomali antara kuantitas dan kualitas. Data Kementerian Koperasi mencatat modal sendiri koperasi nasional naik dari Rp105 triliun pada 2024 menjadi Rp113,46 triliun pada 2025 dan total aset naik dari Rp293,14 triliun menjadi Rp325,87 triliun. Namun, peningkatan tersebut belum diikuti pertumbuhan Sisa Hasil Usaha (SHU) yang sebanding. SHU hanya meningkat dari Rp8,1 triliun menjadi Rp8,8 triliun pada periode yang sama.

“SHU kita hanya naik dari Rp8,1 triliun menjadi Rp8,8 triliun. Coba bandingkan dengan dana yang sudah digelontorkan, kenaikannya sangat kecil. Yang justru berubah secara signifikan itu jumlah tenaga kerja dan jumlah Nomor Induk Berusahanya,” paparnya.

Kesenjangan juga terlihat dari pertumbuhan jumlah koperasi dan anggotanya. Jumlah koperasi meningkat dari 131.617 unit pada 2024 menjadi 222.462 unit pada 2025. Namun, jumlah anggota hanya bertambah dari 29.819.216 menjadi 31.850.469 orang. Sementara itu, jumlah tenaga kerja melonjak dari 669.164 menjadi 1.189.176 orang, sedangkan jumlah manajer dan karyawan relatif tidak mengalami perubahan signifikan.

Target Besar, Proses Sangat Cepat
Amirullah turut menyoroti proses pembentukan KDMP yang berlangsung dalam waktu relatif singkat. Inisiasi program dimulai pada retreat kepala daerah di Akademi Militer Magelang tanggal 21-28 Februari 2025, lalu dilanjutkan pengumuman peluncuran 80.000 koperasi desa pada Rapat Terbatas di Istana Negara tanggal 3 Maret 2025.

Tahapan legal formal pembentukan KDMP berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, dimulai dari terbitnya Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) pada 27 Maret 2025, disusul Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 2025 tentang Satuan Tugas Percepatan Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih pada 2 Mei 2025, hingga peresmian yang bertepatan dengan Hari Koperasi Nasional pada 12 Juli 2025. Dalam kurun waktu tersebut, tercatat 20.000 koperasi baru terbentuk. Jika dirata-ratakan, sekitar 666 koperasi baru terbentuk setiap hari. ‎

Menurut Amirullah, kecepatan proses tersebut nampaknya tidak diimbangi dengan kajian akademik yang memadai. Ia mengaitkan dengan  kebutuhan pembangunan infrastruktur dalam skala besar. Dari 38.064 pengajuan lahan gerai koperasi desa, biaya pembangunan rata-rata mencapai Rp3,8 miliar per unit.“Sejauh yang saya tahu dari pernyataan pejabat terkait dari berbagai media, tentang minimnya kajian yang mendasari pembentukan 80.000 koperasi desa itu. Pertanyaannya, atas dasar apa penetapan target sebesar itu, sementara di lapangan setiap unit membutuhkan biaya pembangunan gerai fisik hingga Rp3,8 miliar,” terangnya.

Aktivitas Kelembagaan Perlu Diperkuat
Data dashboard simkopdes.go.id per Juli 2026 menunjukkan dari 83.382 total koperasi yang terdaftar sebanyak 79.707 telah memiliki akun, 80.978 memiliki NPWP, dan 60.792 telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB). Dari 38.064 pengajuan lahan untuk gerai fisik, sebanyak 35.861 telah terverifikasi dengan rincian 17.462 unit sudah rampung dibangun 100 persen dan 17.933 unit lainnya masih dalam proses pembangunan.

Kendati begitu, Amirullah menyampaikan bahwa capaian administratif tersebut belum sepenuhnya diikuti aktivitas kelembagaan di lapangan. Dari 83.382 koperasi yang terdaftar, baru 50.255 unit yang tercatat telah melaksanakan Rapat Anggota Tahunan, sementara 18.750 unit lainnya belum melaksanakannya..

Amirullah juga menyoroti penentuan lokasi koperasi desa yang menurutnya perlu lebih didasarkan pada kajian kebutuhan masyarakat. Ia melihat terdapat kecenderungan lokasi koperasi ditentukan dengan logika persaingan usaha, menyerupai pola penempatan gerai ritel modern. Ia mencontohkan ada desa yang sempat menolak pembentukan koperasi karena dinilai tidak efisien secara ekonomi bagi warganya.

“Kalau kita lihat pola lokasinya, ini logikanya sama seperti minimarket yang bersaing berdekatan, bukan hasil kajian kebutuhan masyarakat. Ada desa yang menolak karena mereka sadar itu tidak efisien secara ekonomi buat mereka,” katanya.

Dorong Tata Kelola Berbasis Penta Helix
Meski terdapat sejumlah catatan, Amirullah tidak menampik bahwa program KDMP tetap memiliki potensi memberikan pada perekonomian secara agregat. Merujuk teori Keynes, pendapatan nasional terbentuk dari konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, dan ekspor neto. Ia menjelaskan kenaikan pengeluaran pemerintah untuk program koperasi desa berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi meski komponen konsumsi dan investasi belum tentu ikut naik akibat kondisi ekonomi domestik yang belum stabil.

Untuk memperkuat tata kelola, ia menawarkan konsep penta helix yang melibatkan lima pemangku kepentingan yaitu pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan media. Kelima unsur ini menurutnya idealnya berperan setara, meski dalam praktiknya interaksi tersebut dapat pula berjenjang tergantung konteks penerapannya.

Amirullah menegaskan bahwa integritas dan profesionalisme dalam menjalankan peran masing-masing pihak menjadi kunci utama keberlanjutan koperasi, jauh lebih penting daripada sekadar mengejar target jumlah.“Tercapainya kesejahteraan anggota koperasi menjadi cara untuk mencapai kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Reportase : Dwi Zhafirah Meiliani dan Kurnia Ekaptiningrum/Humas FEB

Editor       : Gusti Greheneson

Foto         : CNBC

Artikel Ekonom UGM: Koperasi Butuh Integritas, Bukan Sekadar Kuantitas  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ekonom-ugm-koperasi-butuh-integritas-bukan-sekadar-kuantitas/feed/ 0
Telusuri Jejak Penyelam TNI AL, Dosen Sejarah UGM Raih Brevet Kehormatan https://ugm.ac.id/id/berita/telusuri-jejak-penyelam-tni-al-dosen-sejarah-ugm-raih-brevet-kehormatan/ https://ugm.ac.id/id/berita/telusuri-jejak-penyelam-tni-al-dosen-sejarah-ugm-raih-brevet-kehormatan/#respond Fri, 28 Aug 2026 04:20:12 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97021 Di era Perang Kemerdekaan, Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) lebih banyak bertempur di palagan darat. Bahkan pasca Konferensi Meja Bundar, ALRI baru dapat melanjutkan membangun kekuatan mereka di laut. Namun tidak banyak yang mengungkap peran penyelam TNI AL dalam mempertahankan kemerdekaan hingga dalam era mengisi kemerdekaan dalam kegiatan penyelaman dan penyelamatan bawah air. Sejarawan UGM […]

Artikel Telusuri Jejak Penyelam TNI AL, Dosen Sejarah UGM Raih Brevet Kehormatan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Di era Perang Kemerdekaan, Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) lebih banyak bertempur di palagan darat. Bahkan pasca Konferensi Meja Bundar, ALRI baru dapat melanjutkan membangun kekuatan mereka di laut. Namun tidak banyak yang mengungkap peran penyelam TNI AL dalam mempertahankan kemerdekaan hingga dalam era mengisi kemerdekaan dalam kegiatan penyelaman dan penyelamatan bawah air.

Sejarawan UGM Satrio Dwicahyo, M.Sc., M.A., bergabung dalam tim riset sejarah penyelam Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Laut (TNI-AL). Tim riset ini dipimpin langsung oleh Komandan Komando Penyelam dan Penyelamatan Bawah Air (Koppeba) Komando Armada Republik Indonesia, Laksamana Pertama TNI Liber Sihombing.

Bersama tim, Satrio turut berpartisipasi dalam upaya penelusuran berbagai sumber sejarah terkait penyelam TNI-AL yang tersimpan di berbagai tempat seperti Arsip Nasional Republik Indonesia di Jakarta, Perpustakaan Universitas Leiden, dan Arsip Nasional Belanda di Den Haag. Menariknya, Satrio adalah satu-satunya akademisi di dalam tim ini.

Menurut Satrio, penelitian mengenai sejarah penyelam TNI-AL memiliki tantangan tersendiri. Namun, kerja sama di dalam tim sangat konstruktif. Dikatakan Satrio, dalam praktiknya, menulis sejarah tak ubahnya pekerjaan penyelam, yakni menyelami sumber sejarah dan melakukan pengangkatan fakta-fakta untuk menciptakan narasi sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Satrio menuturkan bahwa perlu ada penyegaran perspektif dalam sejarah militer Indonesia, yaitu perspektif yang lebih luas dari sorotan atas adegan pertempuran. “Sejarah yang hanya fokus pada pertempuran relatif tidak dapat menangkap kompleksitas masa lalu, bahkan cenderung seperti film Hollywood. Pembaca sering disuguhkan narasi ketika kapal perang beraksi, tetapi tidak banyak yang tahu bahwa sejarah angkatan laut lebih luas daripada topik tersebut” ujar Satrio, Jumat (28/8).

Dalam riset sejarah kali ini, kontribusi penyelam TNI-AL dapat dijadikan format ideal satuan militer di era modern dimana kemampuan penyelaman dan penyelamatan bawah air membuat mereka selalu relevan dalam konteks perang maupun damai” imbuhnya.

Meski begitu, dinamika organisasi dan perubahan nomenklatur satuan penyelam TNI-AL dari masa ke masa membuat proses penelusuran arsip menjadi lebih kompleks dan membutuhkan verifikasi yang cermat.

Hasil riset ini dituangkan buku berjudul “Wicak Wirèng Warih: Penyelam TNI-AL dalam Arus Sejarah Selam Indonesia”, yang untuk sementara akan mengalami pengkajian lebih lanjut sebelum menjadi sebuah bacaan publik. Dikatakan Satrio, narasi konsep buku ini mencakup sejarah penyelam TNI-AL yang turut membangun eksplorasi dunia bawah air di Indonesia dengan rentang waktu sejak tahun 1950-an hingga tahun 2025. Adapun Frasa Wicak Wirèng Warih bermakna “bijaksana dan berani di air” dan merupakan motto para penyelam TNI-AL.

Atas kontribusinya, Komandan Koppeba Koarmada RI, Laksamana Pertama TNI Liber Sihombing menganugerahkan Satrio berupa brevet kehormatan penyelam TNI-AL yang juga dikenal sebagai brevet “Wicak Wirèng Warih” atau brevet “Lumba-lumba Perkasa.” Brevet ini adalah penghargaan yang amat sakral bagi penyelam TNI-AL. Brevet yang identik dengan lambang dua lumba-lumba saling berhadapan itu sejatinya hanya dapat diperoleh prajurit TNI-AL yang telah menempuh pendidikan penyelam militer selama tujuh bulan di Sekolah Selam TNI-AL Surabaya. Adapun proses penyerahannya dilakukan oleh Wakil Komandan Koppeba Koarmada RI saat itu, Kolonel Laut (T) Kuswahyudi, S.A.P.,M.Si. di Markas Koppeba Koarmada RI, Jakarta.

Mengikuti rangkaian perayaan secara daring dari Belanda, tempat ia sedang menjalani studi doktoral di Universitas Leiden, Satrio mengaku sangat terhormat menerima penghargaan tersebut. “Saya memahami betapa berharganya sebuah brevet bagi seorang prajurit. Saya menerima penghargaan ini dengan segala kerendahan hati,” kata Satrio.

Sebagai peneliti sejarah, Satrio mengaku penghargaan terbesar bagi saya adalah dapat turut menyusun literatur sejarah dengan target pembaca kalangan profesional, seperti rekan-rekan penyelam TNI-AL.

Sekedar informasi, bertepatan dengan acara tasyakuran peringatan hari jadi Penyelam TNI-AL ke-74 yang dilaksanakan pada 26 Agustus 2026 lalu, naskah buku tersebut diserahkan kepada Panglima Komando Armada Republik Indonesia, Laksamana Madya TNI Dr. Denih Hendrata, S.E., M.M.

Penulis : Salwa

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. TNI AL

Artikel Telusuri Jejak Penyelam TNI AL, Dosen Sejarah UGM Raih Brevet Kehormatan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/telusuri-jejak-penyelam-tni-al-dosen-sejarah-ugm-raih-brevet-kehormatan/feed/ 0
Gelanggang Expo Resmi Dibuka, Yuk Kenali Ragam UKM dan Komunitas Kampus https://ugm.ac.id/id/berita/gelanggang-expo-resmi-dibuka-yuk-kenali-ragam-ukm-dan-komunitas-kampus/ https://ugm.ac.id/id/berita/gelanggang-expo-resmi-dibuka-yuk-kenali-ragam-ukm-dan-komunitas-kampus/#respond Fri, 28 Aug 2026 03:30:24 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97015 Rangkaian kegiatan Gelanggang Expo (Gelex) Universitas Gadjah Mada resmi dibuka pada Kamis (27/8) di Lapangan Pancasila. Mengusung tema Gelora Imaji Gelanggang, Gelex tahun 2026 membawa ragam inovasi yang menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal, mengeksplorasi, dan mengembangkan minat, bakat, serta potensi diri melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan komunitas di lingkungan UGM. Pelaksanaan Gelex 2026 […]

Artikel Gelanggang Expo Resmi Dibuka, Yuk Kenali Ragam UKM dan Komunitas Kampus pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Rangkaian kegiatan Gelanggang Expo (Gelex) Universitas Gadjah Mada resmi dibuka pada Kamis (27/8) di Lapangan Pancasila. Mengusung tema Gelora Imaji Gelanggang, Gelex tahun 2026 membawa ragam inovasi yang menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal, mengeksplorasi, dan mengembangkan minat, bakat, serta potensi diri melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan komunitas di lingkungan UGM.

Pelaksanaan Gelex 2026 melibatkan berbagai unsur dalam ekosistem kegiatan kemahasiswaan UGM. Sebanyak 224 panitia terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan yang diikuti 54 UKM, 24 komunitas, dan 635 penampil. Keterlibatan tersebut menunjukkan kolaborasi berbagai pihak dalam menghadirkan ruang bagi mahasiswa untuk berinteraksi dan mengenal lebih dekat kehidupan kemahasiswaan di luar ruang kelas.

Ketua Pelaksana Gelex 2026, Muhammad Bintang Arrizki, mengatakan Gelex tidak hanya diselenggarakan sebagai agenda pengenalan UKM kepada mahasiswa. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang bagi UKM dan komunitas untuk bertemu, bersinergi, dan berkolaborasi dalam menciptakan pengalaman yang dapat mendukung proses pengembangan diri mahasiswa. “Gelanggang Expo bukan hanya acara pengenalan UKM. Gelanggang Expo adalah tempat teman-teman UKM dan komunitas bersinergi dan berkolaborasi,” ujarnya.

Menurutnya, sinergi dan kolaborasi yang dibangun dalam Gelex diharapkan dapat membantu mahasiswa, khususnya mahasiswa baru, dalam menemukan jati diri, minat dan bakat, serta mengembangkan keterampilan sosial. Kehadiran berbagai UKM dan komunitas sekaligus memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menemukan lingkungan yang sesuai dengan ketertarikan dan potensi masing-masing. “Harapannya sinergi dan kolaborasi itu dapat membantu mahasiswa, terkhususnya mahasiswa baru, untuk dapat menemukan jati diri, minat bakat, social skill, dan juga membantu untuk menjunjung tinggi nilai kebogeman, yaitu mengakar kuat menjulang tinggi,” katanya.

Bintang menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan. Ia berharap kolaborasi yang telah dibangun dalam Gelex dapat terus memberikan manfaat dan menjadi bagian dari ingatan kolektif mahasiswa UGM. “Harapannya nilai-nilai kegelanggangan dapat terus menjadi ingatan kolektif, yang terus membanggakan, yang terus menjadi kenangan ke generasi-generasi mendatang,” pungkasnya.

Ketua Forum Komunikasi Unit Kegiatan Mahasiswa (Forkom UKM) UGM, Muhammad Arief Maulana, dalam sambutannya menyampaikan jika UKM tidak hanya menjadi organisasi pendukung kegiatan kampus. Menurutnya, berbagai proses yang berlangsung di dalam UKM memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran akademik. “Di dalamnya banyak proses berpikir, menelaah, dan menelisik banyak pengetahuan dan pengalaman secara aktual,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwasannya kehidupan kampus tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga mencakup pengalaman mahasiswa dalam menghadapi perbedaan, membangun kerja sama, mempertanggungjawabkan keputusan, serta menjalani peran sebagai pemimpin maupun anggota.

Menurutnya, keterampilan yang kerap disebut sebagai soft skill tidak selalu diperoleh melalui pelatihan atau seminar. Pengalaman tersebut justru dapat tumbuh melalui berbagai persoalan dan situasi nyata yang dihadapi mahasiswa ketika terlibat dalam organisasi.

Dalam konteks tersebut, Gelex menjadi titik awal bagi mahasiswa untuk mengenal berbagai pilihan kegiatan kemahasiswaan yang tersedia di UGM. Mahasiswa tidak hanya dapat melihat dan mengenali UKM, tetapi juga memiliki kesempatan untuk bertanya dan menemukan lingkungan yang dapat menjadi ruang untuk berkembang. “Gelanggang Expo menjadi wadah pertama untuk teman-teman memulai perjalanan tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr. Hempri Suyatna, S.Sos., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada Forkom UKM dan panitia Gelex 2026 yang telah mempersiapkan kegiatan tersebut. Ia mengatakan Gelex merupakan agenda rutin yang diselenggarakan sebagai bagian dari upaya mengenalkan UKM dan komunitas kepada mahasiswa UGM. “Acara Gelanggang Expo adalah acara rutinitas yang memang digelar oleh teman-teman Forkom UKM sebagai bagian upaya dari pengenalan unit-unit kegiatan mahasiswa dan juga komunitas yang ada di lingkungan Universitas Gadjah Mada,” jelasnya.

Ia menyebut UGM memiliki 76 UKM dan komunitas dengan bidang kegiatan yang beragam, mulai dari kerohanian, olahraga, seni, hingga kegiatan khusus serta berbagai aktivitas yang berkaitan dengan prestasi maupun nonprestasi. Keberagaman tersebut, menurutnya, memberikan banyak pilihan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan di luar bidang akademik. “Artinya ini menjadi sebuah wadah penting bagi teman-teman, khususnya mahasiswa baru, untuk kemudian menempuh student journey soft skill yang akan ditempuh di Universitas Gadjah Mada ini,” katanya.

Hempri menekankan proses belajar mahasiswa tidak terbatas pada capaian akademik. Pengalaman berinteraksi dengan orang lain, mengenal lingkungan, serta terlibat dalam organisasi juga menjadi bagian dari proses pembentukan mahasiswa selama berada di UGM. “Belajar tidak harus di kelas, belajar saya kira bisa kemudian di luar arena kelas,” ungkapnya.

Menurutnya, mahasiswa tidak hanya perlu mengukur keberhasilan melalui indeks prestasi. Pengalaman sosial yang diperoleh melalui organisasi juga penting untuk membentuk kemampuan mahasiswa dalam mengenal sesama, memahami lingkungan, serta mengembangkan karakter.

Bagi mahasiswa baru, Gelex menjadi salah satu tahap lanjutan setelah mengikuti rangkaian PIONIR. Melalui Gelex, mahasiswa dapat mengenali lebih jauh berbagai organisasi kemahasiswaan, UKM, dan komunitas yang ada di lingkungan UGM sebelum menentukan kegiatan yang ingin diikuti. “Gelanggang Expo ini menjadi sebuah wadah teman-teman untuk mengenali dan nanti menjadi anggota bagi UKM dan komunitas yang ada di Universitas Gadjah Mada yang ada saat ini,” tutur Hempri.

Ia juga mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan berbagai UKM dan komunitas sebagai ruang pengembangan soft skill dan karakter. UGM, lanjutnya, tengah mengarahkan pengembangan karakter mahasiswa melalui karakter “BERANI”, yang mencakup bernalar, etis, relasional, adaptif, nyata berdampak, serta inklusif dan inisiatif.

Selain menjadi ruang pengenalan UKM dan komunitas, Gelex 2026 juga menghadirkan sejumlah kegiatan yang dirancang lebih interaktif. Berdasarkan penjelasan pembawa acara, rangkaian kegiatan selama tiga hari, 27–29 Agustus 2026, menghadirkan sejumlah inovasi yang memungkinkan mahasiswa berinteraksi secara langsung dengan UKM maupun komunitas.

Pada hari pertama dan ketiga, Gelex menghadirkan panggung olahraga yang menampilkan UKM dari bidang olahraga. Mahasiswa dapat menyaksikan berbagai penampilan sekaligus berinteraksi dengan anggota UKM untuk mengetahui lebih jauh kegiatan yang mereka jalankan.

Sementara itu, pada hari kedua akan digelar parade UKM yang melibatkan 162 peserta dari 54 UKM. Parade tersebut menjadi salah satu inovasi Gelex 2026 untuk menghadirkan UKM secara lebih interaktif kepada mahasiswa dengan mengelilingi area penyelenggaraan Gelex.

Selain parade dan panggung olahraga, Gelex 2026 juga menghadirkan Bingkai Kelana dan Kolase Imaji yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk menikmati rangkaian acara Gelex 2026.  Lalu, berbagai tenant komunitas turut hadir untuk melengkapi kegiatan. Area makanan dan minuman atau F&B dan sejumlah sekber UKM tersebar di beberapa bagian venue. Kehadiran berbagai ruang dan aktivitas tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pengunjung, tetapi juga terlibat secara langsung dalam proses mengenal UKM dan komunitas. Mahasiswa dapat bertanya mengenai kegiatan, pengalaman, maupun kesempatan bergabung sebelum menentukan pilihan sesuai dengan minat dan bakatnya.

Aspek keamanan dan kenyamanan pengunjung juga menjadi bagian dari pelaksanaan Gelex. Panitia menyediakan sistem sinyal SOS dengan tiga penanda warna untuk membantu pengunjung ketika menghadapi situasi tertentu. Sinyal merah digunakan untuk kendala medis, hijau untuk laporan pelecehan seksual, dan biru untuk kondisi yang berkaitan dengan kejahatan.

Penulis : Zabrina Kumara

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Gelanggang Expo Resmi Dibuka, Yuk Kenali Ragam UKM dan Komunitas Kampus pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/gelanggang-expo-resmi-dibuka-yuk-kenali-ragam-ukm-dan-komunitas-kampus/feed/ 0
Sinergi Reposisi Brand, MarkPlus Corporate Beri Penghargaan ke Rektor UGM https://ugm.ac.id/id/berita/sinergi-reposisi-brand-markplus-corporate-beri-penghargaan-ke-rektor-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/sinergi-reposisi-brand-markplus-corporate-beri-penghargaan-ke-rektor-ugm/#respond Thu, 27 Aug 2026 08:55:12 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97005 MarkPlus Corporate memberikan sertifikat penghargaan kepada Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., sebagai bentuk apresiasi atas kepercayaannya kepada Mcorp dalam mendukung reposisi Universitas Gadjah Mada dalam mengusung slogan “Merakyat, Mandiri, dan Berkelanjutan”. Pemberian penghargaan ini diberikan langsung oleh Pendiri MarkPlus Corporation, Hermawan Kartajaya, Kamis (27/8), di sela rangkaian Indonesia Marketing Festival 2026: […]

Artikel Sinergi Reposisi Brand, MarkPlus Corporate Beri Penghargaan ke Rektor UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
MarkPlus Corporate memberikan sertifikat penghargaan kepada Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., sebagai bentuk apresiasi atas kepercayaannya kepada Mcorp dalam mendukung reposisi Universitas Gadjah Mada dalam mengusung slogan “Merakyat, Mandiri, dan Berkelanjutan”. Pemberian penghargaan ini diberikan langsung oleh Pendiri MarkPlus Corporation, Hermawan Kartajaya, Kamis (27/8), di sela rangkaian Indonesia Marketing Festival 2026: Winning The Competition in The Age of AI yang berlangsung di Hotel Santika Premiere Yogyakarta.

Rektor UGM, Ova Emilia, menceritakan bahwa dulunya universitas memiliki slogan mengakar kuat menjulang tinggi, tetapi untuk istilah baru ini menguatkan makna yang lebih dalam. Ia menyebutkan penggalian slogan baru yang berupa “Merakyat, Mandiri, dan Berkelanjutan” ini merupakan sinergi dari berbagai pihak baik melalui bantuan MCorp, mahasiswa, dosen, serta segenap sivitas akademika.

Ova menggarisbawahi sedari dulu universitas ini senantiasa menonjolkan karakteristik kerakyatannya. Ia menyebut kemanapun UGM bergerak bersama dengan alumni di belahan daerah senantiasa tidak menjadi pihak yang memonopoli. Sebaliknya, UGM melalui kurang lebih 400 ribu alumninya senantiasa bisa menjadi pihak yang memberdayakan masyarakat untuk maju bersama.

Hermawan Kartajaya mengapresiasi kerja sama MarkPlus dengan pihak UGM yang sudah terjalin selama ini. Selain perubahan slogan, di bidang edukasi pihaknya ikut menginisiasi jurusan Doktor Administrasi Bisnis (DBA) pertama di Indonesia bersama Fakultas Pertanian UGM. Jurusan ini berkaitan dengan agrikultur internasional marketing. “Luar biasa UGM ini tetap menjalankan repositioning di kala masa sulit. Setuju menjadi universitas yang merakyat, mandiri, dan berkelanjutan,” sebutnya.

Sementara Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam pidato sambutannya menyoroti konsep pemasaran yang berpusat pada pelanggan perlu dilakukan selangkah lebih maju. Pasalnya, konsep isu kepatuhan menjadi strategi pertumbuhan karena kepercayaan menjadi bernilai sebagai sumber keunggulan. Sultan menyebutkan kecerdasan AI dapat memenangkan perhatian atau meningkatkan transaksi, tetapi hanya kepercayaan yang dapat memenangkan masa depan. “Bukan hanya menjadi lebih cepat, akurat, canggih, tetapi kemenangan sejati kemajuan teknologi bersamaan dengan kemajuan moral. Tidak menghilangkan empati, tidak mengorbankan kepercayaan, dan ketika AI tetap berada di bimbingan kebijaksanaan manusia,” pesannya.

Ia menyebutkan bahwa persaingan AI telah menempatkan teknologi yang semakin mampu membaca pilihan manusia. Menurutnya, hal yang perlu digaris bawahi adalah bagaimana kemenangan diraih dan nilai yang tetap dijaga ketika teknologi memberi pengaruh besar. “Dalam budaya Jawa adanya ungkapan tuna satak bathi sanak yang artinya kebijaksanaan mengajarkan kehilangan sedikit untuk memperoleh sesuatu yang lebih bernilai seperti hubungan baik, kepercayaan, persaudaraan,” ungkapnya.

Penulis : Hanifah

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Sinergi Reposisi Brand, MarkPlus Corporate Beri Penghargaan ke Rektor UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/sinergi-reposisi-brand-markplus-corporate-beri-penghargaan-ke-rektor-ugm/feed/ 0
Ratusan Mahasiswa Asing dari 53 Negara Ikuti Orientasi PIONEER UGM https://ugm.ac.id/id/berita/ratusan-mahasiswa-asing-dari-53-negara-ikuti-orientasi-pioneer-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/ratusan-mahasiswa-asing-dari-53-negara-ikuti-orientasi-pioneer-ugm/#respond Thu, 27 Aug 2026 01:46:56 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96966 Sebanyak 424 mahasiswa internasional dari belahan 53 negara yang tengah menempuh studi di kampus UGM mengikuti rangkaian PIONEER (Program for International Orientation and New-student Empowerment to Enhance Readiness). Rangkaian ini merupakan orientasi bagi mahasiswa internasional baru dalam mengenal kampus UGM. Kegiatan PIONEER resmi dibuka pada Rabu (26/8) di Grha Sabha Pramana UGM. Wakil Rektor UGM […]

Artikel Ratusan Mahasiswa Asing dari 53 Negara Ikuti Orientasi PIONEER UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sebanyak 424 mahasiswa internasional dari belahan 53 negara yang tengah menempuh studi di kampus UGM mengikuti rangkaian PIONEER (Program for International Orientation and New-student Empowerment to Enhance Readiness). Rangkaian ini merupakan orientasi bagi mahasiswa internasional baru dalam mengenal kampus UGM. Kegiatan PIONEER resmi dibuka pada Rabu (26/8) di Grha Sabha Pramana UGM.

Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., menyampaikan bahwa salah satu kekuatan dari UGM adalah program internasionalnya. Ia menyebutkan adanya mahasiswa dari berbagai belahan dunia dan kebudayaan yang berbeda akan memperkaya lingkungan akademik yang ada. “Mahasiswa asing membawa perspektif baru, pengalaman, ide-ide, dan pertemanan yang membuat kampus semakin terhubung secara global,” ujarnya pada saat sambutan.

Ia menjabarkan peserta PIONEER di antaranya datang dari program gelar dan non-gelar karena terdiri dari tingkat Sarjana, Magister, dan Doktoral. Selain itu, Wening mengenalkan bahwa adanya pertukaran mahasiswa internasional serta program Indonesian Language and Culture Learning Service (INCULS). Ia menyebutkan dari beragamnya mahasiswa asing, kegiatan PIONEER ini menjadi salah satu fasilitas untuk mengenalkan lingkungan kampus UGM. “Harapannya, waktu kalian di UGM bermakna di ranah akademik, pribadi, serta berkesan secara budaya. Selamat datang di keluarga besar UGM, semoga kalian mendapat pengalaman luar biasa dan meraih sukses dalam perjalanan ke depan,” pesannya.

Dalam sesi selanjutnya, dosen UGM, I Made Andi Arsana, Ph.D., menyampaikan materi terkait ke-UGM-an dan pemahaman lintas budaya. Ia menyambut mahasiswa internasional baru di UGM dan mengenalkan Yogyakarta sebagai daerah istimewa yang memiliki berbagai keunikan. Ia menjelaskan bahwa Yogyakarta merupakan daerah dengan Sumbu Filosofis Yogyakarta yang menggambarkan perjalanan kehidupan manusia. Selain itu, ia juga mengenalkan mahasiswa baru terkait dengan tempat wisata dan bersejarah lainnya.

Lebih lanjut, Andi mengenalkan nilai-nilai UGM yang terdiri atas lima identitas, yaitu universitas perjuangan, universitas nasional, universitas Pancasila, universitas kerakyatan, dan pusat kebudayaan. Ia menjelaskan bahwa UGM sebagai universitas perjuangan memiliki sejarah dalam perjalanan bangsa dan menjadi ruang bagi sivitas akademika untuk menyampaikan pendapat. “Di UGM kebebasan berpendapat diperbolehkan seperti adanya gerakan demonstrasi selama dilaksanakan sesuai aturan,” sebutnya.

Andi kemudian menjelaskan UGM sebagai universitas Pancasila yang mengedepankan keberagaman. Ia mengenalkan keberadaan pusat-pusat keagamaan bagi berbagai agama di lingkungan UGM sebagai salah satu bentuk penghargaan terhadap keberagaman. Menurutnya, keberadaan berbagai pusat keagamaan tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa dari latar belakang yang berbeda dapat hidup dan belajar bersama di lingkungan UGM.

Selanjutnya, ia mengenalkan UGM sebagai universitas kerakyatan melalui program pengabdian kepada masyarakat. Ia menjelaskan bahwa sejak awal berdirinya, UGM telah mengirimkan mahasiswa ke berbagai daerah di Indonesia untuk membantu masyarakat. Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi program KKN yang mewajibkan mahasiswa untuk tinggal dan belajar bersama masyarakat, sekaligus memahami dan memberdayakan masyarakat.

Ia juga menekankan bahwa salah satu hal terpenting dari UGM adalah mahasiswa. Menurut Andi, berbagai fasilitas, gedung, dan simbol yang ada di kampus memang penting, tetapi mahasiswa merupakan bagian paling penting karena sivitas akademika ini yang nantinya membawa nilai-nilai UGM ke masyarakat dan dunia. “Ini bukan hanya tentang pembelajaran, tetapi dampak nyata terhadap dunia. Hal terpenting adalah tentang kesuksesan diri sendiri dan juga bersama,” ujarnya.

Salah satu peserta asal Lithuania, Eropa, Rapolas, menyatakan bahwa kesempatan belajar di UGM merupakan hal yang sangat menyenangkan. Ia menilai UGM sebagai universitas yang sangat terbuka, maju, dan ramah bagi mahasiswa asing. Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, Rapolas mengaku sangat penasaran dengan mata kuliah yang berkaitan dengan perfilman. Meski demikian, ia meyakini bahwa proses belajar akan terasa jauh lebih menyenangkan jika dibersamai oleh pembawaan dosen yang interaktif.

Sebagai pendatang, ia juga menyampaikan antusiasmenya untuk menjelajahi berbagai tempat di Indonesia. Setelah menyelesaikan studi, Rapolas bermimpi untuk membawa pulang seluruh ilmu yang didapatkan ke negara asalnya. Ia berharap dapat mempraktikkan pengetahuan tersebut demi berkontribusi langsung pada perkembangan dan pertumbuhan negaranya. “Harapannya ingin kembali dengan membawa perubahan dan pertumbuhan baik ke negara asal,” ucapnya.

Penulis : Hanifah

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Ratusan Mahasiswa Asing dari 53 Negara Ikuti Orientasi PIONEER UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ratusan-mahasiswa-asing-dari-53-negara-ikuti-orientasi-pioneer-ugm/feed/ 0
Bantu Optimalisasi Penanganan Bencana di NTT, UGM Luncurkan Portal Teknologi AI Tech4Disaster https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-optimalisasi-penanganan-bencana-di-ntt-ugm-luncurkan-portal-teknologi-ai-tech4disaster/ https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-optimalisasi-penanganan-bencana-di-ntt-ugm-luncurkan-portal-teknologi-ai-tech4disaster/#respond Mon, 24 Aug 2026 03:58:38 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96885 Tim peneliti Universitas Gadjah Mada mengembangkan portal yang berbasis AI untuk mendukung proses penanganan pascabencana di Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui portal UGM AI Tech4disaster, menyediakan layanan pelaporan kebutuhan logistik masyarakat sekaligus memetakan lokasi yang membutuhkan bantuan. Bahkan masyarakat dapat menyampaikan informasi mengenai kondisi dan kebutuhan di wilayahnya, yang kemudian dihimpun sebagai data spasial untuk […]

Artikel Bantu Optimalisasi Penanganan Bencana di NTT, UGM Luncurkan Portal Teknologi AI Tech4Disaster pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Tim peneliti Universitas Gadjah Mada mengembangkan portal yang berbasis AI untuk mendukung proses penanganan pascabencana di Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui portal UGM AI Tech4disaster, menyediakan layanan pelaporan kebutuhan logistik masyarakat sekaligus memetakan lokasi yang membutuhkan bantuan. Bahkan masyarakat dapat menyampaikan informasi mengenai kondisi dan kebutuhan di wilayahnya, yang kemudian dihimpun sebagai data spasial untuk membantu melihat sebaran wilayah terdampak dan kebutuhan di lapangan melalui link https://geoportal.science/gik/.

Dr. Nur Mohammad Farda selaku ketua tim pengembang, mengatakan pemanfaatan portal tersebut mendapat respons dari masyarakat. Hingga 21 Agustus 2026, Farda menyebut terdapat sekitar 1.400 laporan masyarakat yang masuk melalui platform tersebut. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan laporan pada penanganan bencana di Sumatera yang disebut berada di kisaran 300 laporan. “Hampir sekitar  1.400 an laporan,” tuturnya, Senin (24/8).

Teknologi AI dimanfaatkan pada portal ini diakui Farda untuk membantu merapikan dan menganalisis laporan masyarakat. Data yang telah dihimpun kemudian dapat digunakan untuk melihat wilayah yang terdampak lebih banyak serta mengidentifikasi kebutuhan yang perlu menjadi prioritas dalam penanganan logistik.

“Kalau data sudah rapi, ketika diposting dan disimpan, itu akan mempermudah tim logistik. Kemudian, ada juga proses analisis. Dari peta-peta yang tersedia, sistem dapat menganalisis daerah mana yang terdampak paling banyak dan apa saja yang menjadi prioritas logistik. Jadi, data tersebut dapat dikelompokkan untuk membantu proses penanganan,” ungkapnya.

Meski demikian, penggunaan AI dalam sistem ini tetap dibatasi. AI digunakan untuk membantu merapikan data dan melakukan analisis, sementara data awal berasal dari masyarakat dan relawan. Tim UGM juga tetap melakukan cleaning untuk memastikan data dan lokasi yang dilaporkan sesuai. “Data yang digunakan berasal dari warga atau volunteer. Kemudian, kami melakukan cleaning terhadap data, terutama untuk memastikan lokasi-lokasi yang dilaporkan sesuai. Jadi, dari sisi risiko AI, penggunaannya dibatasi pada proses perapian data dan analisis. Untuk analisis pun, AI hanya mengambil dan merangkum informasi dari peta-peta yang tersedia,” jelas Farda.

Salah satu tantangan dalam penggunaan portal adalah ketersediaan jaringan internet. Ketika terjadi gangguan jaringan akibat bencana, proses pengiriman laporan dapat ikut terkendala. Solusi sementara, data dapat disimpan terlebih dahulu dan dikirimkan ketika perangkat kembali mendapatkan sinyal. “Bagaimanapun,  dukungan konektivitas juga dapat diberikan melalui mobile tower atau menara jaringan bergerak,” imbuhnya.

Selain menghimpun laporan masyarakat, data pemetaan yang dikumpulkan UGM juga dapat ditampilkan dalam sistem BNPB melalui map services. Menurut Farda, mekanisme tersebut memungkinkan informasi yang dihimpun UGM dapat tersinkron dengan informasi kebencanaan yang digunakan BNPB.

Pengembangan UGM AI Tech4Disaster sendiri tidak berhenti pada pemetaan laporan masyarakat. Ke depan, teknologi tersebut masih akan dikembangkan untuk berbagai kebutuhan kebencanaan, termasuk analisis citra satelit, pemetaan longsor, manajemen shelter, manajemen logistik, hingga pemanfaatan IoT dan pengembangan berbagai model AI.

Farda berharap semakin banyak riset UGM yang memanfaatkan AI sehingga UGM dapat berkembang menjadi AI Factory dan menjadi salah satu institusi terdepan dalam pengembangan AI. Dalam konteks kebencanaan, pengembangan Tech4Disaster diharapkan dapat terus diperluas untuk mendukung penanganan berbagai jenis bencana. “Kontribusi UGM melalui teknologi tersebut merupakan bagian dari semangat UGm untuk kemanusiaan,” pungkasnya.

Penulis : M. Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Antara dan Dok.Portal AI Tech4disaster

Artikel Bantu Optimalisasi Penanganan Bencana di NTT, UGM Luncurkan Portal Teknologi AI Tech4Disaster pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-optimalisasi-penanganan-bencana-di-ntt-ugm-luncurkan-portal-teknologi-ai-tech4disaster/feed/ 0
Kailash Satyarthi Ajak UGM Bawa KKN ke Kancah Global https://ugm.ac.id/id/berita/kailash-satyarthi-ajak-ugm-bawa-kkn-ke-kancah-global/ https://ugm.ac.id/id/berita/kailash-satyarthi-ajak-ugm-bawa-kkn-ke-kancah-global/#respond Fri, 21 Aug 2026 09:45:37 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96854 Peraih Nobel Laureate 2014, Kailash Satyarthi, menilai dunia saat ini memiliki banyak pengetahuan, data, hukum, deklarasi, lembaga internasional, hingga berbagai pembahasan mengenai persoalan global. Namun, di sisi lain, dunia juga menghadapi persoalan seperti keterpecahan, ketidakamanan, dan kesulitan manusia untuk hidup bersama. Persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan pengetahuan. Menurutnya, ketika dunia berada dalam kegelapan, […]

Artikel Kailash Satyarthi Ajak UGM Bawa KKN ke Kancah Global pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Peraih Nobel Laureate 2014, Kailash Satyarthi, menilai dunia saat ini memiliki banyak pengetahuan, data, hukum, deklarasi, lembaga internasional, hingga berbagai pembahasan mengenai persoalan global. Namun, di sisi lain, dunia juga menghadapi persoalan seperti keterpecahan, ketidakamanan, dan kesulitan manusia untuk hidup bersama. Persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan pengetahuan.

Menurutnya, ketika dunia berada dalam kegelapan, sekecil apapun cahaya dapat mengubah cara seseorang melihat keadaan dan membuat solusi menjadi mungkin. “Dalam situasi kegelapan, setiap tindakan kebaikan, setiap hal yang telah lakukan untuk perbaikan dan membawa cahaya harapan, kepastian, membuat kita memahami bahwa kebangkitan itu mungkin,” katanya dalam UGM Annual Lecture Nobel Laureate Series dengan tema “Global Leadership for Humanity: Advancing Impactful Community Engagement”. Kegiatan ini dihadiri oleh peraih Nobel Laureate 2014, Jumat (21/8), di Balai Senat UGM.

Secara khusus ia menyebutkan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilakukan mahasiswa sebagai salah satu bentuk “cahaya” di tengah berbagai persoalan dunia. Dirinya terkesan dengan pengalaman ketika masyarakat tidak menyebut mahasiswa sebagai pihak yang datang untuk membantu, melainkan sebagai mitra. Menurutnya, mahasiswa tidak datang untuk menggurui masyarakat, tetapi belajar bersama dan bekerja sebagai mitra. Menurutnya, kemitraan merupakan kunci dalam pelaksanaan program pengabdian masyarakat. Mahasiswa tidak seharusnya datang sebagai akademisi atau pelajar yang merasa lebih tahu daripada masyarakat. “Sebaliknya, mahasiswa juga perlu belajar dari masyarakat, termasuk dari orang-orang yang mungkin tidak pernah bersekolah atau hanya memperoleh sedikit pendidikan,” katanya.

Ia kemudian menggarisbawahi tiga prinsip yang menurutnya penting dalam menciptakan perubahan, yakni disebutnya 3D dream, discover, and do. Kailash menyampaikan bahwa setiap orang harus berani bermimpi, menemukan kekuatan dan potensi dalam dirinya sekaligus memahami tantangan di sekitarnya, kemudian melakukan tindakan. Namun, ia menekankan bahwa manusia tidak boleh hanya bermimpi untuk dirinya sendiri. Menurutnya, mimpi juga harus diarahkan untuk memberikan manfaat bagi keluarga, universitas, bangsa, dan masyarakat dunia.

Kalish kemudian menceritakan pengalaman masa kecilnya ketika melihat seorang anak dari keluarga miskin yang tidak dapat bersekolah. Momen tersebut membuatnya menyadari bahwa pendidikan seharusnya dapat diakses oleh semua anak. Selain itu juga ia menceritakan pengalaman ketika sejumlah anak berhenti sekolah karena orang tua tidak mampu membeli buku dan membayar biaya sekolah. Bersama temannya, ia kemudian mengumpulkan buku dari masyarakat untuk diberikan kepada anak-anak yang membutuhkan sehingga menjadikannya sebuah book bank. “Dari situ lahir gerakan global melawan pekerja anak dan gerakan global untuk pendidikan ialah Global March Against Child Labour dan Global Campaign for Education. Ini menjadi pembangun gerakan untuk pendidikan dan anak–anak,” pungkasnya.

Dari pengalaman tersebut, Kailash kemudian mengajak UGM untuk mengembangkan pengalaman KKN menjadi pembelajaran yang dapat dibagikan secara global. Menurutnya, berbagai pengalaman mahasiswa dan masyarakat tidak berhenti sebagai kegiatan pengabdian, tetapi perlu dikembangkan menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari dan diterapkan di tempat lain. Menurutnya, keberhasilan tidak hanya dilihat dari berapa banyak orang yang mendapatkan manfaat, tetapi juga dari berapa banyak pemimpin baru yang lahir di masyarakat dan anak muda yang mampu menemukan solusi inovatif bagi komunitasnya.

Lebih lanjut, Kailash menekankan pentingnya konsep compassion atau rasa peduli dalam menjalankan pengabdian. Menurutnya, empati saja belum cukup untuk menyelesaikan persoalan sistemik seperti diskriminasi gender, diskriminasi, kemiskinan, ketimpangan geopolitik, dan ketidakadilan ekonomi. Ia menyampaikan bahwa welas asih bukan sekadar merasakan penderitaan orang lain, tetapi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang mengambil tindakan secara sadar untuk menyelesaikan persoalan. “Compassion merupakan kekuatan yang dapat mendorong perubahan berkelanjutan. Bukan perubahan yang hanya terjadi sekali, melainkan perubahan yang terus berkembang karena setiap orang merasa menjadi bagian dari persoalan dan penyelesaiannya,” ujarnya.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., mengatakan program Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) secara aktif melibatkan mahasiswa dan memperluas keterlibatan pengabdian kepada masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. “KKN-PPM merupakan mekanisme yang menempatkan mahasiswa secara langsung untuk menangani berbagai persoalan nyata, termasuk akses pendidikan, kesehatan masyarakat, pengembangan ekonomi lokal, infrastruktur, dan pengelolaan lingkungan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan terdapat tiga hal yang menjadi dasar kemanusiaan dalam pengabdian kepada masyarakat melalui KKN-PPM. Pertama, kehadiran, sebagaimana mengirimkan sumber daya ke tempat yang benar-benar membutuhkan. Kedua, responsivitas, kemampuan universitas untuk dengan cepat mengerahkan mahasiswa, dosen, dan sumber daya yang dimiliki. Ketiga, keberlanjutan, yaitu tetap terlibat dalam waktu yang cukup sehingga dapat berkontribusi terhadap proses pemulihan masyarakat

Selain itu, Ova menyebut terdapat pula bentuk KKN yang secara langsung merespons masyarakat yang menghadapi kondisi sulit, yakni KKN Peduli Bencana. Seperti halnya sejak gempa Yogyakarta, erupsi Gunung Semeru, hingga banjir bandang dan tanah longsor di Provinsi Aceh lalu. “Kehadiran mahasiswa tidak hanya difokuskan untuk membantu masyarakat memulihkan dampak langsung bencana, tetapi juga mendukung pemulihan kehidupan masyarakat. Upaya tersebut dilakukan melalui pembangunan hunian sementara serta penguatan ekonomi lokal melalui pelatihan UMKM,” ujarnya.

Sejalan dengan visi misi KKN-PPM, Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Arif Havas Oegroseno, S,H., LL.M., dalam sambutan yang disampaikan melalui rekaman video menyampaikan pengalamannya ketika menjadi mahasiswa dan mengikuti program KKN. Ia menceritakan bahwa saat itu dirinya ditempatkan di sebuah desa terpencil Jawa Tengah. Desa tersebut menghadapi persoalan air bersih dan banjir. “Sebagai mahasiswa saat itu kami diminta untuk kreatif dan mencoba menemukan solusi terhadap persoalan desa,” sebutnya.

Arif mengapresiasi UGM yang telah menyelenggarakan program pengabdian kepada masyarakat selama lebih dari tujuh dekade. Menurutnya, KKN menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar mendengarkan sebelum berbicara, memahami persoalan sebelum menawarkan solusi, serta bekerja sama dengan masyarakat. Ia menegaskan bahwa pengalaman tersebut merupakan pembelajaran yang tidak dapat sepenuhnya diperoleh di ruang kuliah. “Tidak ada ruang kuliah yang dapat mengajarkan selama satu bulan atau tiga bulan apa yang dapat diajarkan sebuah desa tentang kerendahan hati,” tuturnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Prof. Dr. Todung Mulya Lubis, S.H., LL.M., Duta Besar Indonesia untuk Norwegia menyampaikan bahwa program KKN memiliki peran penting dalam menghubungkan perguruan tinggi dengan masyarakat. Terutama melalui keterlibatan mahasiswa yang mendengarkan kebutuhan masyarakat dan bersama-sama menyusun program untuk memperbaiki kondisi mereka. “KKN tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai bagian dari pemenuhan kewajiban akademik, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab sosial mahasiswa dan universitas untuk menjaga bumi dan kemanusiaan,” ucapnya.

Dari sisi ekonomi, Dato’ Sri Prof. Dr. Tahir, Founder Mayapada menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya perlu dilihat dari persentase pertumbuhan GDP, tetapi juga dari dampaknya terhadap masyarakat. Ia menilai universitas memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja. Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu kunci untuk mewujudkan keadilan sosial karena melalui pendidikan masyarakat dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik, pendapatan yang lebih tinggi, serta status sosial yang lebih baik. “Ketika masyarakat dapat menikmati kehidupan yang lebih baik, pendidikan yang lebih baik, dan status sosial yang lebih baik, maka kita dapat mulai berbicara tentang keadilan sosial,” katanya.

Ova Emilia menilai kehadiran Kailash Satyarthi tidak hanya menjadi kesempatan untuk menyambut seorang peraih nobel, tetapi juga mempertemukan dua pengalaman dan pendekatan dalam memajukan kemanusiaan. “Kehadiran dalam acara ini menjadi kesempatan untuk merefleksikan bagaimana pendidikan dan keterlibatan masyarakat dapat menjadi kekuatan dalam menciptakan perubahan yang bermakna dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Penulis : Hanifah

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie, Jesi

Artikel Kailash Satyarthi Ajak UGM Bawa KKN ke Kancah Global pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kailash-satyarthi-ajak-ugm-bawa-kkn-ke-kancah-global/feed/ 0
Pendataan Kesejahteraan, Pemerintah Perlu Buka Variabel Desil dan Sediakan Kanal Sanggah https://ugm.ac.id/id/berita/pendataan-kesejahteraan-pemerintah-perlu-buka-variabel-desil-dan-sediakan-kanal-sanggah/ https://ugm.ac.id/id/berita/pendataan-kesejahteraan-pemerintah-perlu-buka-variabel-desil-dan-sediakan-kanal-sanggah/#respond Thu, 20 Aug 2026 03:58:49 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96795 Belakangan ini, hasil pengecekan desil pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) ramai diperbincangkan masyarakat. Sejumlah rumah tangga yang tercatat dalam desil 9 atau 10 merasa kondisi ekonominya belum mencerminkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan tinggi. Perbedaan tersebut, menurut Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) Wisnu Setiadi Nugroho, […]

Artikel Pendataan Kesejahteraan, Pemerintah Perlu Buka Variabel Desil dan Sediakan Kanal Sanggah pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Belakangan ini, hasil pengecekan desil pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) ramai diperbincangkan masyarakat. Sejumlah rumah tangga yang tercatat dalam desil 9 atau 10 merasa kondisi ekonominya belum mencerminkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan tinggi. Perbedaan tersebut, menurut Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) Wisnu Setiadi Nugroho, S.E., M.Sc., M.A., Ph.D, tidak serta-merta menunjukkan bahwa masyarakat keliru menilai kondisi ekonominya maupun data pemerintah sepenuhnya salah. Masyarakat menilai kesejahteraan dari pendapatan dan pengeluaran sehari-hari, sedangkan pemerintah menggunakan sejumlah indikator sosial dan ekonomi rumah tangga.

Menurut Wisnu, masyarakat umumnya menilai kondisi ekonominya berdasarkan pendapatan yang diterima setiap bulan, besarnya pengeluaran, serta kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, penilaian kesejahteraan dalam DTSEN menggunakan sejumlah indikator yang menggambarkan kondisi rumah tangga, seperti aset, kondisi dan kepemilikan rumah, kendaraan bermotor, serta karakteristik rumah tangga lainnya. Perbedaan pendekatan tersebut dapat membuat hasil penilaian masyarakat dan posisi desil tidak selalu bertemu. “Seseorang bisa masuk desil 9 atau 10, tetapi bisa jadi hidup memang pas-pasan dan dua-duanya tetap benar,” ujarnya, Kamis (20/8).

Posisi Kesejahteraan

Wisnu menjelaskan, desil perlu dipahami sebagai posisi relatif dalam distribusi kesejahteraan, bukan ukuran kekayaan secara absolut. Apabila desil yang ditampilkan merupakan peringkat secara nasional, ambang untuk masuk kelompok 10 persen teratas tidak selalu setinggi yang dibayangkan masyarakat. Kondisi distribusi kesejahteraan Indonesia membuat seseorang dapat berada di desil 9 atau 10 meskipun kehidupan sehari-harinya masih memiliki keterbatasan. Karena status desil dapat berimplikasi pada akses masyarakat terhadap berbagai program pemerintah, Wisnu menilai wajar apabila masyarakat mempertanyakan hasil pendataan. Ia menyebut masyarakat perlu memiliki ruang untuk mengetahui sekaligus memeriksa dasar penetapan posisi desilnya.

Meski demikian, perbedaan antara kondisi yang dirasakan masyarakat dan hasil kategorisasi desil tidak otomatis menunjukkan kesalahan data secara keseluruhan. Wisnu menjelaskan, pendekatan Proxy Means Test (PMT) yang digunakan untuk memperkirakan tingkat kesejahteraan berdasarkan sejumlah indikator, pada dasarnya merupakan metode prediksi sehingga tetap memiliki kemungkinan kesalahan. Selain itu, kualitas data dapat dipengaruhi oleh informasi rumah tangga yang belum diperbarui, seperti perubahan jumlah anggota keluarga. Kondisi tersebut dapat membuat perhitungan kesejahteraan per kapita tidak lagi menggambarkan keadaan rumah tangga terkini.

Menurutnya, terdapat dua hal yang menurut Wisnu penting dilakukan pemerintah. Pertama, meningkatkan transparansi dengan menjelaskan variabel yang membentuk desil serta alasan indikator tertentu digunakan untuk menggambarkan tingkat kesejahteraan. Kedua, menyediakan mekanisme sanggah yang jelas agar masyarakat dapat menyampaikan aduan, melakukan pembaruan data, dan memperoleh kepastian atas hasil pendataan. “Masyarakat bisa melakukan respons, aduan, sehingga masyarakat bisa percaya dan kemudian puas dengan hasil yang didapatkan, bukan sekadar hanya di atas kertas lalu kemudian menerima saja penentuan dari pemerintah tersebut,” katanya.

Kualitas data menjadi semakin penting ketika desil digunakan sebagai dasar pelaksanaan kebijakan yang berdampak langsung pada masyarakat. Jika pemerintah telah yakin bahwa metodologi dan pendataan yang digunakan mampu merefleksikan daya beli serta tingkat kesejahteraan masyarakat secara mutakhir, desil dapat digunakan dengan catatan dasar dan cara penggunaannya dikomunikasikan secara terbuka. Sebaliknya, apabila masih terdapat persoalan pada kualitas, pembaruan, maupun integrasi data, pemerintah perlu memperbaikinya terlebih dahulu sebelum menjadikan data tunggal sebagai dasar eksekusi kebijakan yang membatasi hak masyarakat. “Semakin besar konsekuensi dari sebuah garis batas yang diterapkan oleh pemerintah, semakin tinggi standar akurasi yang harus dipenuhi sebelum garis itu digunakan,” tegasnya.

Risiko tersebut menjadi penting diperhatikan ketika desil digunakan untuk menentukan penerima atau nonpenerima subsidi. Wisnu menyebut setidaknya terdapat dua risiko, yaitu exclusion error ketika rumah tangga yang sebenarnya masih membutuhkan bantuan justru dikeluarkan dari kelompok penerima, serta cliff effect ketika dua rumah tangga dengan kondisi ekonomi yang hampir sama mendapatkan perlakuan kebijakan yang berbeda karena berada di sisi batas desil yang berbeda. “Dua rumah tangga yang kondisi ekonominya hampir sama persis bisa mendapatkan perlakuan kebijakan yang sangat berbeda karena yang satu di ujung desil 8, yang satunya lagi di awal mula desil 9,” jelasnya.

Desil dan Risiko Salah Sasaran Kebijakan

Untuk mengurangi risiko tersebut, Wisnu menilai pembagian kesejahteraan dapat dipertimbangkan dengan tingkat granularitas yang lebih halus. Desil tidak perlu ditinggalkan, tetapi pemerintah dapat melihat posisi rumah tangga secara lebih rinci dan mempertimbangkan zona transisi di sekitar batas kelompok. Pada saat yang sama, mekanisme sanggah dan pembaruan data perlu dibuat cepat sehingga masyarakat yang merasa mengalami kesalahan klasifikasi memiliki jalan keluar tanpa harus menunggu pendataan berikutnya. “Mungkin membuat granularitas yang lebih halus, lebih jelas, misalkan pembagiannya dalam bentuk persentil,” katanya.

Wisnu juga mengingatkan agar desil 9 dan 10 tidak diperlakukan sebagai kelompok ekonomi yang homogen. Rentang kondisi ekonomi di dalam dua desil teratas dapat sangat lebar. Rumah tangga dengan pendapatan Rp10 juta per bulan, misalnya, dapat berada dalam kelompok yang sama dengan rumah tangga berpenghasilan Rp100 juta, meskipun ketahanan ekonomi keduanya berbeda jauh. Perbedaan tersebut semakin terlihat ketika mempertimbangkan jumlah anggota rumah tangga dan berbagai beban pengeluaran struktural, seperti cicilan rumah, biaya pendidikan, biaya kesehatan, dan jumlah tanggungan. “Menyamaratakan seluruh anggota desil 9 dan 10 itu sebagai kelompok yang sama adalah asumsi yang sangat keliru dan cukup fatal,” tegasnya.

Dalam hal ini, Wisnu menyoroti pentingnya melihat sisi kewajiban rumah tangga. Data kesejahteraan dapat menggambarkan kepemilikan aset, tetapi kondisi ekonomi keluarga juga dipengaruhi oleh beban pengeluaran yang harus ditanggung. Pencabutan subsidi secara mendadak pada kelompok yang berada dalam kondisi rentan berisiko mendorong sebagian rumah tangga turun kelas ketika menghadapi guncangan ekonomi. “Desil membaca sisi aset, tetapi tidak membaca sisi kewajiban,” kata Wisnu.

Karena itu, Wisnu menilai data desil sebaiknya berfungsi sebagai alat penyaring awal, bukan menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan hak masyarakat. Pemerintah dapat mengombinasikannya dengan data lain, seperti data perpajakan, kepemilikan dan spesifikasi kendaraan, konsumsi listrik, serta jumlah tanggungan riil dalam rumah tangga. Data kendaraan, misalnya, perlu mempertimbangkan karakteristik kendaraan karena kepemilikan kendaraan yang sama belum tentu menunjukkan kondisi ekonomi yang sama. “Data desil sebaiknya tidak berjalan sendirian. Jadi dia alat penyaring awal, screening tools, bukan semacam vonis tunggal bahwa ini adalah hitam dan putih,” jelas Wisnu.

Selain itu, data konsumsi listrik dinilai dapat menjadi salah satu sumber informasi yang membantu menggambarkan pola konsumsi rumah tangga. Pemerintah juga perlu memperhatikan kondisi rumah tangga yang tidak selalu tercermin hanya dari data administrasi keluarga, karena dalam praktiknya satu rumah dapat dihuni oleh orang tua, saudara, atau anggota keluarga lain yang turut menjadi bagian dari beban ekonomi rumah tangga. Dengan memadukan berbagai indikator tersebut, penargetan kebijakan diharapkan dapat lebih mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat secara nyata.

Dalam konteks subsidi BBM, Wisnu mengatakan pemerintah juga memiliki pilihan kebijakan yang lebih bertahap dibandingkan sekadar membuat batas hitam-putih berdasarkan desil. Pembatasan volume BBM berdasarkan kebutuhan kendaraan atau rumah tangga dapat menjadi salah satu alternatif, disertai periode transisi dan mekanisme pembaruan data. “Harusnya kebijakan itu bukan langsung seperti menyalakan lampu, on-off, lalu kemudian selesai,” ujarnya.

Wisnu berpandangan, pendekatan tersebut penting agar kebijakan subsidi dapat tetap tepat sasaran sekaligus responsif terhadap perubahan kondisi masyarakat. Data sosial dan ekonomi pada dasarnya bersifat dinamis sehingga kebijakan yang menggunakannya juga perlu memiliki ruang untuk pembaruan dan koreksi. “Kebijakan subsidi itu lebih presisi, responsif terhadap perubahan kondisi warga dan tidak sekadar mengorbankan kelas menengah yang saat ini memang sudah cukup rentan hanya demi mengedepankan efisiensi administrasi,” pungkasnya.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Dok FEB UGM dan Antara

Artikel Pendataan Kesejahteraan, Pemerintah Perlu Buka Variabel Desil dan Sediakan Kanal Sanggah pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/pendataan-kesejahteraan-pemerintah-perlu-buka-variabel-desil-dan-sediakan-kanal-sanggah/feed/ 0
Tingkatkan Daya Saing, Fakultas Filsafat UGM Dorong Penguatan Mutu Akademik dan Tata Kelola https://ugm.ac.id/id/berita/tingkatkan-daya-saing-fakultas-filsafat-ugm-dorong-penguatan-mutu-akademik-dan-tata-kelola/ https://ugm.ac.id/id/berita/tingkatkan-daya-saing-fakultas-filsafat-ugm-dorong-penguatan-mutu-akademik-dan-tata-kelola/#respond Wed, 19 Aug 2026 00:38:22 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96764 Fakultas Filsafat UGM terus memperkuat kualitas institusi melalui peningkatan mutu akademik, tata kelola, serta perluasan pengakuan di tingkat nasional maupun internasional. Upaya tersebut, menjadi fondasi penting bagi pengembangan fakultas yang adaptif terhadap perubahan sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai keilmuan yang kritis dan humanis. Hal itu dikemukakan oleh Dekan Fakultas Filsafat UGM, Prof. Dr. Rr. Siti […]

Artikel Tingkatkan Daya Saing, Fakultas Filsafat UGM Dorong Penguatan Mutu Akademik dan Tata Kelola pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Filsafat UGM terus memperkuat kualitas institusi melalui peningkatan mutu akademik, tata kelola, serta perluasan pengakuan di tingkat nasional maupun internasional. Upaya tersebut, menjadi fondasi penting bagi pengembangan fakultas yang adaptif terhadap perubahan sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai keilmuan yang kritis dan humanis.

Hal itu dikemukakan oleh Dekan Fakultas Filsafat UGM, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum., dalam Rapat Senat Terbuka Dies Natalis ke-59 yang berlangsung di Ruang Rapat Persatuan, Lantai 3 Fakultas Filsafat UGM, Selasa (18/8).

Murtiningsih juga mengungkapkan bahwa Fakultas Filsafat UGM berhasil mempertahankan predikat Unggul dari BAN-PT serta diakui memiliki kualitas pendidikan standar internasional oleh FIBAA (Foundation for International Business Administration Accreditation). “Capaian ini menjadi pijakan bagi fakultas kita untuk terus memperluas pengakuan global,”ujarnya.

Dalam bidang akademik, Fakultas Filsafat UGM kini memiliki 828 mahasiswa aktif, yang terdiri atas 698 mahasiswa Program Sarjana, 71 mahasiswa Program Magister, dan 59 mahasiswa Program Doktor. Murtiningsih melanjutkan, admisi jumlah mahasiswa baru Program Sarjana dan Doktor pada lima tahun terakhir relatif stabil, sementara Program Magister menunjukkan perkembangan yang cukup positif. “Perkembangan ini tentunya tak lepas dari berbagai inovasi akademik yang telah dikembangkan, termasuk program Fast Track Sarjana-Magister yang dimulai pada tahun 2025,” jelas Murtiningsih.

Sementara itu, pencapaian strategis Fakultas Filsafat UGM juga tampak dari peningkatan produktivitas riset, baik dalam jumlah publikasi ilmiah, publikasi bereputasi internasional, maupun perolehan hibah penelitian. Murtiningsih menyebut, dalam empat tahun terakhir, jumlah publikasi yang terindeks Scopus meningkat lebih dari tiga kali lipat. Pada 2025, tercatat ada sebanyak 179 publikasi, 19 publikasi terindeks Scopus, 6 riset kolaboratif, dan 6 hibah penelitian. “Hal ini mencerminkan semakin kuatnya daya saing riset Fakultas Filsafat di tingkat internasional,” ujarnya.

Di akhir laporannya, Murtiningsih mengatakan bahwa segenap capaian Fakultas Filsafat UGM merupakan hasil dari kerja sama antar segenap sivitas akademika. Berbagai capaian tersebut juga merupakan fondasi sekaligus refleksi selama satu periode kepemimpinan yang telah dijalani. “Sebagaimana semangat Dies Natalis ke-59, marilah kita terus membangun jembatan, antara gagasan dan tindakan, antara tradisi dan pembaruan, antara kampus dan masyarakat, serta antara apa yang telah kita wariskan dan masa depan yang hendak kita wujudkan,” tutupnya.

Penulis : Agito Sitepu

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Tingkatkan Daya Saing, Fakultas Filsafat UGM Dorong Penguatan Mutu Akademik dan Tata Kelola pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/tingkatkan-daya-saing-fakultas-filsafat-ugm-dorong-penguatan-mutu-akademik-dan-tata-kelola/feed/ 0
Hadapi Era AI, Lulusan Perguruan Tinggi Didorong Perkuat Kompetensi dan Pengalaman Kerja https://ugm.ac.id/id/berita/hadapi-era-ai-lulusan-perguruan-tinggi-didorong-perkuat-kompetensi-dan-pengalaman-kerja/ https://ugm.ac.id/id/berita/hadapi-era-ai-lulusan-perguruan-tinggi-didorong-perkuat-kompetensi-dan-pengalaman-kerja/#respond Wed, 19 Aug 2026 00:22:44 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96759 Perkembangan kecerdasan artifisial, digitalisasi, transisi energi hijau, serta perubahan demografi membawa perubahan besar terhadap dunia kerja. Kondisi tersebut menuntut calon tenaga kerja untuk tidak hanya mengandalkan latar belakang pendidikan, tetapi juga memperkuat keterampilan dan pengalaman kerja. Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum IV PP KAGAMA, Prof. Drs. Anwar Sanusi, M.P.A., Ph.D., sekaligus Kepala Badan Perencanaan […]

Artikel Hadapi Era AI, Lulusan Perguruan Tinggi Didorong Perkuat Kompetensi dan Pengalaman Kerja pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Perkembangan kecerdasan artifisial, digitalisasi, transisi energi hijau, serta perubahan demografi membawa perubahan besar terhadap dunia kerja. Kondisi tersebut menuntut calon tenaga kerja untuk tidak hanya mengandalkan latar belakang pendidikan, tetapi juga memperkuat keterampilan dan pengalaman kerja.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum IV PP KAGAMA, Prof. Drs. Anwar Sanusi, M.P.A., Ph.D., sekaligus Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan (Barenbang) Kemnaker, dalam sesi talkshow Pembekalan ribuan Calon Wisudawan Sarjana dan Sarjana Terapan Periode IV 2026 mengenai tantangan memenangkan pasar kerja di era AI, Selasa (18/8) di Grha Sabha Pramana UGM.

Ia menyampaikan, berdasarkan data yang dipaparkan, jumlah penduduk bekerja di Indonesia saat ini mencapai sekitar 147 juta orang. Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka berada pada angka 4,68 persen atau sekitar 7,4 juta orang. “Sebagai bagian dari pemerintah, kami terus berupaya melakukan berbagai hal dalam rangka menekan tingkat pengangguran tersebut,” ujarnya.

Ia menjelaskan, jika dilihat berdasarkan tingkat pendidikan, kelompok lulusan SMA dan SMK menjadi penyumbang terbesar pengangguran, disusul lulusan perguruan tinggi. Di sisi lain, tingkat pendidikan juga berkorelasi dengan tingkat upah. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tinggi pula tingkat penggajian.

Menurutnya, terdapat setidaknya tiga faktor utama yang mendorong perubahan dunia kerja saat ini, yakni disrupsi AI dan digitalisasi, transisi energi hijau dan keberlanjutan, serta perubahan demografi dan pergeseran care economy. Perubahan tersebut akan menyebabkan sejumlah pekerjaan hilang, tetapi pada saat yang sama menciptakan berbagai jenis pekerjaan baru. Ia mengutip perhitungan World Economic Forum yang memperkirakan 92 juta pekerjaan akan hilang, sementara 170 juta pekerjaan baru akan muncul. “Adanya pekerjaan-pekerjaan baru tersebut membutuhkan sebuah modalitas, yaitu reskilling dan upskilling,” jelasnya.

Reskilling merupakan proses mengubah orientasi keterampilan dari keterampilan sebelumnya menuju keterampilan baru, sedangkan upskilling merupakan upaya meningkatkan keterampilan yang telah dimiliki. Perubahan tersebut juga terlihat dari munculnya berbagai profesi yang sebelumnya belum dikenal. Ia mencontohkan pekerjaan seperti social media manager, data scientist, dan AI engineer yang berkembang seiring perubahan teknologi.

Di tengah perubahan tersebut, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan keterampilan digital tenaga kerja. Ia menyebutkan bahwa jumlah pekerja yang memiliki keterampilan digital masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara lain. Indonesia berada pada peringkat 51 dari 69 negara dan peringkat 12 dari 14 negara di kawasan Asia Pasifik berdasarkan data yang dipaparkan. “PR besar kita adalah bagaimana kita meng-upgrade, meningkatkan digital skill kita dalam penguasaan AI, pengembangan teknologi, serta komersialisasi riset untuk mendukung transformasi Indonesia,” katanya.

Selain keterampilan digital, pola rekrutmen tenaga kerja juga mengalami perubahan. Perusahaan kini semakin mempertimbangkan kompetensi dibandingkan sekadar latar belakang pendidikan.

Ia mengingatkan para mahasiswa dan calon lulusan UGM agar tidak hanya mengandalkan reputasi almamater ketika memasuki dunia kerja. “Kita patut berbangga sebagai alumni dari universitas yang selalu menjadi yang terbaik di Indonesia. Tapi itu tidak cukup,” tegasnya.

Menurutnya, calon tenaga kerja perlu membekali diri dengan keterampilan yang relevan serta pengalaman kerja lapangan. Ia menyebut pengalaman kerja dan pengalaman di lapangan menjadi nilai tambah dalam proses memasuki pasar kerja.

Meskipun AI semakin banyak mengambil alih pekerjaan rutin, ia menekankan bahwa keterampilan manusia tetap menjadi pondasi penting dalam dunia kerja. Kemampuan seperti judgment, membangun hubungan, berpikir kritis, dan empati tetap menjadi keunggulan manusia yang tidak dapat begitu saja digantikan oleh AI. “Human skill sebagai fondasi tetap menjadi fondasi kemampuan AI. AI tidak bisa berkembang tanpa keterampilan manusia,” ujarnya.

Untuk menghadapi persaingan kerja, ia memperkenalkan konsep triple skilling yang terdiri atas tiga kesiapan utama, yakni technical skill readiness, human skill readiness, dan market entry readiness. Adapun technical skill readiness berkaitan dengan penguasaan kompetensi teknis sesuai bidang masing-masing. Sementara itu, human skill readiness mencakup kemampuan berbahasa, berkomunikasi, serta menyampaikan ide dan gagasan. Adapun market entry readiness merupakan kemampuan untuk memasuki dan beradaptasi dengan pasar kerja.

Salah satu cara untuk memperkuat pengalaman kerja adalah melalui program pemagangan yang disiapkan pemerintah bagi fresh graduate. Ia menyampaikan, pada 2026 pemerintah menargetkan perekrutan hingga 150 ribu peserta pemagangan. Program tersebut tidak hanya memberikan pengalaman kerja, tetapi juga menyediakan mentor dari perusahaan, industri, maupun instansi pemerintah. Peserta juga memperoleh uang saku setara upah minimum, perlindungan BPJS Ketenagakerjaan, serta kesempatan mengikuti uji kompetensi pada akhir program.

Ia menyebutkan, pada pelaksanaan sebelumnya terdapat sekitar 102 ribu peserta yang mengikuti program dari sekitar 500 ribu pendaftar. Sekitar 8.000 perusahaan dan instansi terlibat dalam program tersebut. Dari peserta yang mengikuti program, 66 persen dilaporkan mengalami peningkatan kompetensi, sedangkan sekitar 30 persen langsung direkrut menjadi karyawan tetap. “Kompetisi untuk mengikuti program ini tidak mudah. Namun, jika terpilih, ini menjadi pengalaman yang sangat berarti untuk merasakan bagaimana dunia kerja,” katanya.

Menutup paparannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi tiga pihak dalam membangun talenta tenaga kerja Indonesia, yaitu pemerintah, dunia usaha dan industri, serta perguruan tinggi. Pemerintah berperan menyediakan regulasi dan program, dunia usaha dan industri menyediakan kesempatan kerja serta mentoring, sedangkan perguruan tinggi berperan menyiapkan talenta yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. “Kalau tiga pilar ini betul-betul berkolaborasi, h kita bisa memanfaatkan bonus demografi yang saat ini terjadi untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik,” pungkasnya.

Penulis : Jelita Agustine

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Hadapi Era AI, Lulusan Perguruan Tinggi Didorong Perkuat Kompetensi dan Pengalaman Kerja pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/hadapi-era-ai-lulusan-perguruan-tinggi-didorong-perkuat-kompetensi-dan-pengalaman-kerja/feed/ 0