SDG 2: Tanpa Kelaparan Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/sdg-2-tanpa-kelaparan/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Fri, 28 Aug 2026 08:31:11 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 Gagas Pertanian Urban Hemat Energi, Tim Mahasiswa UGM Manfaatkan Surya dan Kelembapan Udara https://ugm.ac.id/id/berita/gagas-pertanian-urban-hemat-energi-tim-mahasiswa-ugm-manfaatkan-surya-dan-kelembapan-udara/ https://ugm.ac.id/id/berita/gagas-pertanian-urban-hemat-energi-tim-mahasiswa-ugm-manfaatkan-surya-dan-kelembapan-udara/#respond Fri, 28 Aug 2026 08:31:11 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97045 Praktik bercocok tanam di kawasan kota besar dengan memanfaatkan lahan yang terbatas menjadi tantangan tersendiri dalam menjalan konsep pertanian urban. Di tengah menjamurnya gedung bertingkat dan pencakar langit menyebabkan pertanian urban ini membutuhkan pasokan air dan listrik yang tidak sedikit. Lima mahasiswa UGM menawarkan gagasan inovasi yang mereka namakan Aurora yang merupakan kependekan dari Autonomous […]

Artikel Gagas Pertanian Urban Hemat Energi, Tim Mahasiswa UGM Manfaatkan Surya dan Kelembapan Udara pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Praktik bercocok tanam di kawasan kota besar dengan memanfaatkan lahan yang terbatas menjadi tantangan tersendiri dalam menjalan konsep pertanian urban. Di tengah menjamurnya gedung bertingkat dan pencakar langit menyebabkan pertanian urban ini membutuhkan pasokan air dan listrik yang tidak sedikit.

Lima mahasiswa UGM menawarkan gagasan inovasi yang mereka namakan Aurora yang merupakan kependekan dari Autonomous Utility for Renewable Resources, sebuah alat atau sistem yang terintegrasi dengan panel surya dan alat kondensasi air untuk menghadirkan sistem pertanian vertikal yang lebih mandiri, efisien, dan terintegrasi.

Inovasi tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas disiplin mahasiswa UGM yang terbentuk dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Video Gagasan Konstruktif (PKM-VKG). Tim tersebut terdiri dari Orva Linnisa Husaina (S1 Teknik Fisika) sebagai ketua tim bersama keempat rekan lintas jurusannya, yakni Rayhana Azzahra Kusmana (S1 Farmasi), Arfa Fadilah Ramadhan (S1 Teknik Kimia), Nayaka Sandya Kesuma (D4 Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan kontrol), dan Faqih Zulfikar Alkaha (S1 Teknik Elektro) yang dibimbing oleh Budi Sumanto, S.Si, M.Eng, dosen Teknik Elektro dan Informatika, SV, UGM.

Orva mengatakan ide besar di balik pengembangan Aurora bermula dari keprihatinan mendalam mereka atas persoalan yang kerap ditemui dalam sektor pertanian modern saat ini. Menurutnya, pertanian urban masih bergantung pada pasokan air dan listrik dari luar, sementara itu pengelolaan kondisi tanaman, seperti mengukur kadar pH, nutrisi, suhu, kualitas air, hingga kondisi tanaman, juga banyak dilakukan secara manual.

Lebih jauh ia menjelaskan mekanisme kerja dari gagasan inovasi Aurora dengan penyediaan energi terbarukan melalui panel surya bifacial berdaya guna tinggi, produksi air mandiri lewat Atmospheric Water Generator (AWG) berbasis kondensasi, hingga pemanfaatan struktur bangunan melalui konsep green passive building guna mengoptimalkan ruang di tengah menjamurnya gedung-gedung pencakar langit. “Distribusi energi dan irigasi dikelola secara real-time berbasis AI-IoT, lengkap dengan kontrol otomatis untuk kapasitas, nutrisi, pH, suhu air, hingga kesehatan tanaman,” jelas Orva, Jumat (28/8).

Rayhana, anggota tim lainnya, menuturkan bahwa inovasi ini dikemas dan disampaikan melalui sebuah Video Gagasan Konstruktif. Format visual ini dipilih agar konsep gagasan dapat divisualisasikan dengan lebih mudah dan menarik bagi masyarakat luas maupun dewan juri. Dalam video tersebut, pihaknya memadukan teknik sinematografi dan storytelling yang kuat, serta didukung oleh visualisasi animasi 3D dan tracking augmented reality (AR) game user interface (UI). “Melalui perpaduan ini, penonton bisa melihat cara kerja Aurora secara visual,” ujar Rayhana.

Rayhan pun berharap inovasi Aurora ini tidak berhenti sekadar sebagai sebuah gagasan kompetisi, melainkan menjadi pemantik semangat bagi generasi muda untuk terus menghadirkan solusi nyata bagi permasalahan bangsa. “Ketahanan pangan, air, dan energi Indonesia kelak berada di tangan inovasi-inovasi yang inklusif dan berkelanjutan.” pungkasnya.

Penulis : Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Tim PKM

Artikel Gagas Pertanian Urban Hemat Energi, Tim Mahasiswa UGM Manfaatkan Surya dan Kelembapan Udara pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/gagas-pertanian-urban-hemat-energi-tim-mahasiswa-ugm-manfaatkan-surya-dan-kelembapan-udara/feed/ 0
KKN UGM Inisiasi Budidaya Ayam Petelur Pakan Maggot https://ugm.ac.id/id/berita/kkn-ugm-inisiasi-budidaya-ayam-petelur-pakan-maggot/ https://ugm.ac.id/id/berita/kkn-ugm-inisiasi-budidaya-ayam-petelur-pakan-maggot/#respond Fri, 28 Aug 2026 08:09:14 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97038 Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada memberikan pelatihan budidaya ayam petelur skala rumah tangga terintegrasi dengan maggot Black Soldier Fly (BSF) kepada ibu-ibu PKK Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kegiatan yang berlangsung saat masa KKN pada 24 Juli 2026 silam tersebut diarahkan untuk […]

Artikel KKN UGM Inisiasi Budidaya Ayam Petelur Pakan Maggot pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada memberikan pelatihan budidaya ayam petelur skala rumah tangga terintegrasi dengan maggot Black Soldier Fly (BSF) kepada ibu-ibu PKK Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kegiatan yang berlangsung saat masa KKN pada 24 Juli 2026 silam tersebut diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan keluarga sekaligus membuka peluang usaha berbasis peternakan yang ramah lingkungan. Program ini memanfaatkan potensi pekarangan rumah yang belum optimal serta sampah organik rumah tangga yang dapat diolah kembali.

Dalam pelatihan, mahasiswa mengenalkan budidaya ayam petelur menggunakan sistem kandang baterai yang dinilai memudahkan pemeliharaan pada skala rumah tangga. Materi mencakup pemilihan bibit, desain kandang, pemberian pakan dan air minum, pengendalian kesehatan ternak, hingga teknik pemanenan telur. Peserta juga mendapatkan pengenalan mengenai budidaya maggot BSF mulai dari penetasan telur hingga menjadi lalat BSF. Penanggung jawab program, Nafi’atush Sholikhah, mahasiswa Fakultas Peternakan UGM angkatan 2023, menjelaskan bahwa praktik langsung menjadi bagian penting dalam pelatihan agar peserta memperoleh gambaran penerapan sistem secara nyata. “Kami menghadirkan percontohan budidaya ayam petelur skala rumah tangga dengan sistem baterai beserta budidaya maggot BSF yang lengkap dengan kandang maggot agar ibu-ibu PKK dapat melihat langsung bagaimana sistem integrasi ini diterapkan serta dapat memperoleh gambaran jelas terkait budidaya di pekarangan rumah masing-masing,” ujar Nafi’.

Integrasi ayam petelur dan maggot BSF menjadi bagian penting dari konsep pemanfaatan kembali limbah di tingkat rumah tangga. Sampah organik dari sisa makanan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan maggot BSF, sedangkan maggot yang dihasilkan dapat digunakan sebagai pakan tambahan bagi ayam petelur. Dari budidaya ayam, telur yang dihasilkan dapat dikonsumsi keluarga maupun dijual sehingga memberikan nilai tambah bagi rumah tangga. Rangkaian tersebut membentuk siklus pemanfaatan sumber daya yang dapat membantu menekan biaya produksi sekaligus mengurangi limbah organik rumah tangga.

Antusiasme peserta terlihat selama pelatihan melalui berbagai pertanyaan dan diskusi mengenai pemeliharaan ayam maupun budidaya maggot. Ketua PKK sekaligus Ibu Kepala Desa Sumber Sari, Wantini, menyambut baik kegiatan yang diberikan mahasiswa KKN-PPM UGM. Menurutnya, pengetahuan dan praktik yang diperoleh dapat menjadi bekal bagi ibu-ibu PKK untuk mencoba budidaya ayam petelur di lingkungan rumah masing-masing. “Kami sangat senang ada KKN mahasiswa UGM yang dapat memberikan pelatihan budidaya ayam petelur sehingga harapannya ibu-ibu dapat mempraktikkannya di rumah,” tuturnya.

Pelatihan tersebut diharapkan dapat memberikan alternatif bagi keluarga dalam memenuhi kebutuhan pangan, khususnya sumber protein hewani dari telur. Pemanfaatan pekarangan untuk budidaya ayam petelur juga membuka peluang bagi keluarga untuk mengembangkan kegiatan produktif dari lingkungan rumah. Di sisi lain, pemanfaatan sampah organik untuk budidaya maggot dapat membantu mengurangi limbah sekaligus menyediakan pakan tambahan bagi ayam. Pendekatan ini memberikan gambaran mengenai pengelolaan usaha peternakan skala rumah tangga yang menghubungkan aspek pangan, lingkungan, dan ekonomi.

Melalui program tersebut, mahasiswa KKN-PPM UGM berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat diterapkan setelah pelatihan selesai. Budidaya ayam petelur dan maggot BSF diharapkan dapat dikembangkan secara bertahap sesuai dengan kondisi pekarangan dan kemampuan masing-masing keluarga. Hasilnya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga maupun dikembangkan sebagai peluang usaha yang memberikan nilai ekonomi. Dengan pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekitar rumah, program ini diharapkan dapat mendukung ketahanan pangan keluarga sekaligus mendorong kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.

Reportase : Nafi’atush Sholikhah/Tim KKN

Penulis      : Triya Andriyani

Artikel KKN UGM Inisiasi Budidaya Ayam Petelur Pakan Maggot pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kkn-ugm-inisiasi-budidaya-ayam-petelur-pakan-maggot/feed/ 0
Antisipasi Ancaman Krisis Pangan 2050, Kerja Sama Riset Pertanian Lintas Negara Perlu Ditingkatkan https://ugm.ac.id/id/berita/antisipasi-ancaman-krisis-pangan-2050-kerja-sama-riset-pertanian-lintas-negara-perlu-ditingkatkan/ https://ugm.ac.id/id/berita/antisipasi-ancaman-krisis-pangan-2050-kerja-sama-riset-pertanian-lintas-negara-perlu-ditingkatkan/#respond Thu, 27 Aug 2026 08:21:45 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96999 Dunia diprediksi akan menghadapi ancaman krisis ketahanan pangan pada tahun 2050 dimana proyeksi populasi mencapai 9,7 miliar jiwa. Kondisi ini menuntut peningkatan produksi pangan hingga 70 persen tanpa memperluas lahan pertanian demi menjaga keanekaragaman hayati. Untuk menjawab tantangan tersebut sekaligus merespons perubahan pola diet masyarakat global yang semakin tinggi proteinnya, diperlukan kolaborasi riset internasional yang […]

Artikel Antisipasi Ancaman Krisis Pangan 2050, Kerja Sama Riset Pertanian Lintas Negara Perlu Ditingkatkan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Dunia diprediksi akan menghadapi ancaman krisis ketahanan pangan pada tahun 2050 dimana proyeksi populasi mencapai 9,7 miliar jiwa. Kondisi ini menuntut peningkatan produksi pangan hingga 70 persen tanpa memperluas lahan pertanian demi menjaga keanekaragaman hayati.

Untuk menjawab tantangan tersebut sekaligus merespons perubahan pola diet masyarakat global yang semakin tinggi proteinnya, diperlukan kolaborasi riset internasional yang strategis. Fokus solusi didorong mencakup intensifikasi pertanian berkelanjutan bagi petani kecil, pemanfaatan teknologi cerdas dan rekayasa genetika, penutupan kesenjangan hasil panen, serta penekanan angka kehilangan pangan sebelum dan sesudah panen yang saat ini masih mencapai 50 persen.

Hal itu mengemuka dalam Diskusi Research Talk yang bertajuk “Improving Food Security through Sustainable Agriculture and Global Partnerships”, sebagai rangkaian dari peluncuran Double Degree Program Master in Agro-Industrial Technology UGM and Master of Agricultural Sciences University of Melbourne pada Rabu (26/8) di Operation Room Lt 2, FTP UGM.

Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., mengungkapkan UGM dan Universitas Melbourne sepakat membuka program double degree agar mahasiswa untuk memperoleh pengalaman berkuliah di dua tempat, namun lebih dari itu, program ini mencerminkan komitmen bersama untuk terus mengembangkan talenta yang memiliki wawasan global, memperkuat kolaborasi penelitian, serta menjawab tantangan masa depan di bidang pangan, pertanian, dan keberlanjutan melalui ilmu pengetahuan dan inovasi. “Kolaborasi ini merupakan kesempatan yang sangat berarti untuk mempertemukan kekuatan dan keunggulan yang kita miliki, memperluas wawasan akademik, serta membangun wadah bagi mahasiswa dan akademisi untuk belajar, berkolaborasi, dan berinovasi lintas batas,”katanya.

Sementara Direktur Riset Pascasarjana, School of Agriculture, Food and Ecosystem Sciences, Faculty of Science, University of Melbourne, Associate Professor Dorin Gupta, pun turut menyampaikan hal yang selaras. Disebutkan bahwa perguruan tinggi ikut berkontribusi membangun bangsa yang lebih baik ketika kita mampu berkolaborasi dengan melampaui batas-batas negara.

Ia pun menyoroti bagaimana Australia dan Indonesia memiliki sejarah yang panjang dalam membangun komitmen bersama demi masa depan yang lebih baik, dalam konteks ini, untuk mewujudkan masa depan yang aman dan berkelanjutan, di mana setiap orang dapat memperoleh pangan yang cukup. “Kami juga berharap dapat terus mengembangkan sistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan di masa depan,” ujarnya.

Dorin Gupta menambahkan pendekatan inovasi yang dirancang langsung bersama petani serta perluasan program kolaborasi akademis, kemitraan lintas negara ini diharapkan mampu menciptakan sistem produksi pertanian yang lebih efisien, tangguh terhadap perubahan iklim, dan memastikan ketersediaan pangan untuk generasi mendatang. “Kolaborasi internasional semacam ini memberikan dampak yang sangat luas. Kita bisa bekerja sama untuk meningkatkan kualitas penyimpanan pascapanen, memastikan keamanan pangan, menciptakan nilai tambah, menjaga kesehatan tanah dan siklus hara (nutrisi), serta menerapkan pengelolaan air yang cerdas,” jelasnya.

Dalam sesi selanjutnya, Dr. Antanas Spokevicius sebagai Direktur Pendidikan Pascasarjana, School of Agriculture, Food and Ecosystem Sciences, University of Melbourne mengatakan saat ini dunia dihadapkan pada tingginya kebutuhan material bangunan berbahan kayu tanpa harus mengorbankan lahan ketahanan pangan atau merusak fungsi hutan alam. Ia mendorong pengembangan hutan tanaman yang sebaiknya diakselerasi melalui pemuliaan molekuler genetik dan kecerdasan buatan (AI). Mengingat pohon memiliki siklus tumbuh dan pemuliaan yang sangat panjang dibandingkan dengan tanaman pangan, teknologi genetika dan model prediktif AI digunakan untuk mengidentifikasi serta menyeleksi sifat fisik kayu unggul, seperti kepadatan dan kecepatan tumbuh, sejak usia dini.

Menurutnya, inovasi ini telah sukses diimplementasikan pada proyek kehutanan yang dikelola masyarakat adat di Kepulauan Tiwi, Australia, di mana pemetaan DNA pada spesies Eucalyptus tropis berhasil mengurai struktur genetik yang kompleks untuk menghasilkan benih unggul dengan pertumbuhan sangat cepat yakni mencapai 2,5 meter dalam beberapa bulan. Terobosan ini tidak hanya mempercepat proses domestikasi pohon sebagai solusi pemenuhan kebutuhan papan yang ramah energi, tetapi juga membuka peluang ekonomi mandiri bagi masyarakat adat sekaligus menjadi model produksi kayu yang efisien untuk wilayah tropis secara global. “Secara lebih luas, jenis Eucalyptus tropis ini dapat dikembangkan di berbagai wilayah tropis lainnya sebagai tanaman budidaya untuk memenuhi kebutuhan produksi kayu dan bahan bangunan. Hal ini menjadi keberhasilan besar bagi Kehutanan Tiwi, sebuah inisiatif yang dikelola oleh masyarakat adat, karena mampu membuka peluang ekonomi, menyediakan kayu untuk kebutuhan rumah tangga, sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk sejahtera di kawasan tropis,” jelasnya.

Sementara Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Logistik dan Rantai Pasok FTP UGM Prof. Kuncoro Harto Widodo menyoroti rantai pasok dan logistik distribusi pangan di Indonesia sebagai negara kepulauan menghadirkan tantangan besar akibat ketimpangan sebaran penduduk dan pusat industri yang masih didominasi oleh Pulau Jawa. Kondisi geografis ini memicu empat masalah utama, yaitu ketidakseimbangan pasokan dan permintaan antarpulau, disparitas volume kargo perdagangan antara wilayah barat dan timur, kendala infrastruktur, serta hambatan birokrasi antarpelaku logistik.

Meskipun demikian, Indonesia mencatat kemajuan signifikan dengan menurunnya rasio biaya logistik nasional terhadap PDB secara drastis dari 24 persen menjadi 14,29 persen pada tahun 2023. Untuk terus menekan inefisiensi dan meningkatkan daya saing global, pemerintah kini memfokuskan perbaikan melalui dua kebijakan strategis, yaitu Cetak Biru Sistem Logistik Nasional (Sislognas) yang berfokus pada penguatan enam pilar utama, termasuk infrastruktur, teknologi informasi, dan sumber daya manusia, serta National Logistic Ecosystem (NLE) yang mengintegrasikan alur dokumen dan pergerakan barang secara digital.

Transformasi ini juga membuka peluang kolaborasi internasional yang menjanjikan, termasuk dengan Australia, khususnya dalam pengembangan teknologi pelacakan dan sistem informasi logistik yang lebih mumpuni. “Peraturan ini bertujuan untuk memperkuat dan memperluas kebijakan sebelumnya dengan menciptakan ekosistem digital terintegrasi. Ekosistem ini dirancang untuk menyelaraskan arus pergerakan barang, dokumen logistik internasional, dan sistem operasional, mulai dari kedatangan awal armada pengangkut hingga tiba di gudang atau pabrik tujuan.,” ujarnya.

Penulis : Leony

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Antisipasi Ancaman Krisis Pangan 2050, Kerja Sama Riset Pertanian Lintas Negara Perlu Ditingkatkan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/antisipasi-ancaman-krisis-pangan-2050-kerja-sama-riset-pertanian-lintas-negara-perlu-ditingkatkan/feed/ 0
UGM Kembangkan Demplot Padi Gamagora di Lahan Tadah Hujan Merauke https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-kembangkan-demplot-padi-gamagora-di-lahan-tadah-hujan-merauke/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-kembangkan-demplot-padi-gamagora-di-lahan-tadah-hujan-merauke/#respond Wed, 26 Aug 2026 09:06:54 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96947 Kawasan Transmigrasi Muting, Merauke, Papua Selatan telah dihuni oleh transmigran dari berbagai wilayah khususnya pulau Jawa sejak sekitar tahun 1990. Hingga kini, kawasan ini telah berkembang menjadi kawasan yang semakin ramai dengan segala potensinya di sektor pertanian, perkebunan dan peternakan. Memiliki curah hujan yang cukup tinggi, dengan kondisi tanah yang relatif subur, berbagai tanaman tropis […]

Artikel UGM Kembangkan Demplot Padi Gamagora di Lahan Tadah Hujan Merauke pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kawasan Transmigrasi Muting, Merauke, Papua Selatan telah dihuni oleh transmigran dari berbagai wilayah khususnya pulau Jawa sejak sekitar tahun 1990. Hingga kini, kawasan ini telah berkembang menjadi kawasan yang semakin ramai dengan segala potensinya di sektor pertanian, perkebunan dan peternakan. Memiliki curah hujan yang cukup tinggi, dengan kondisi tanah yang relatif subur, berbagai tanaman tropis asli papua dan tanaman luar dapat tumbuh dengan baik. Meskipun demikian, beberapa jenis tanaman seperti padi mempunyai produktivitas yang belum optimal. Menurut masyarakat sekitar, produktivitas tanaman padi yang merupakan salah satu makanan pokok hanya berkisar 2 ton/ha/musim gabah kering panen (GKP), termasuk kategori rendah dibandingkan dengan produktivitas optimal yang bisa mencapai 8 ton/ha/musim. Tidak hanya itu, penanaman padi pada umumnya hanya satu kali saja dalam satu tahun. Produksi yang belum optimal ini pada umumnya hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja.

Adanya gap produksi ini perlu diatasi supaya produktivitasnya dapat meningkat dan memberikan manfaat ekonomi lebih bagi masyarakat sekitar. Identifikasi permasalahan di sektor produksi dan penilaian kesesuaian lahan diperlukan untuk dapat mengetahui penyebab belum optimalnya produktivitas tanaman padi di Muting. Berdasarkan hasil identifikasi awal dari  Tim Ekspedisi Patriot (TEP) diketahui praktek budidaya dan kualitas bibit padi diduga menjadi salah satu penyebabnya.

Hasil komunikasi TEP 1 UGM KT Muting dengan Ir. Supriyanta, M.P., Dosen Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian UGM sekaligus peneliti dan pemulia (breeder) padi varietas Gamagora 7, diperoleh informasi bahwa Gamagora cocok dikembangkan di lahan pertanian tadah hujan dengan hasil yang baik seperti yang telah diuji coba di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Demplot padi Gamagora ini merupakan bagian dari demplot terpadu tanaman pangan-pakan ternak dan konservasi air di area seluas 2.500 m² di muting. Demplot terpadu ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga mendukung ketersediaan pakan ternak, efisiensi pemanfaatan air, serta keberlanjutan lahan pertanian,” terang Supriyanta dalam keterangan yang dikirim Rabu (26/8).

Program ini menjadi bagian dari penerapan ekonomi hijau di Kawasan Transmigrasi Muting dengan mengintegrasikan sektor pangan, peternakan, dan lingkungan. Selain itu, ia meminta tim TEP UGM juga memperhatikan bahwa konservasi air sangat diperlukan untuk mengoptimalkan pemanenan air hujan, sehingga pengisian air tanah menjadi lebih optimal dan keberadaan sumber air permukaan untuk pertanian tetap tersedia di sepanjang musim kemarau. Ketersediaan air permukaan yang optimal, dapat mendukung budidaya tanaman padi sebanyak dua kali dalam setahun.

Selain itu, air juga berperan penting dalam mendukung pengembangan komoditas lainnya yaitu peternakan dan perkebunan. “Keberadaan sumber air yang melimpah dapat mendukung produksi komoditas perkebunan dan peternakan melalui penyediaan pakan ternak yang mencukupi,” jelasnya.

Sebagai upaya untuk memperkuat hasil identifikasi tersebut, dilakukan lah uji coba pembuatan demplot padi Gamagora di kampung Bouwer, Distrik Elikobel, Muting oleh Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 1 Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diketuai oleh Chandra Setyawan, S.T.P., M.Eng., Ph.D., dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Sedangkan anggota TEP terdiri dari Tri Ariani, S.T.P. (Bidang ekonomi pertanian), Khulaimi, S.P. (Bidang agronomi), Ilham Mubarok, S.T.P. (Bidang sumber daya air dan perkebunan), Ariqonitahanif Putri Rahim, S.Si. (bidang geografi dan pemetaan lahan), dan Fariz Jordan Fadillah, S.Pt., M.Sc. (bidang peternakan), yang merupakan salah satu di antara 20 TEP yang diterjunkan oleh UGM di KT Muting.

Penanaman padi Gamagora diakui Chandra diarahkan  menyesuaikan karakteristik wilayah Muting yang terbiasa  menggunakan sistem tabela (tanam benih langsung) pada lahan. Sistem tabela ini sudah umum dilakukan oleh masyarakat setempat. Karakteristik topografi yang relatif bergelompang dan sungai-sungai yang mudah mengering menjadikan pertanian tadah hujan sebagai pilihan utama Masyarakat setempat. “Pemilihan kampung Bouwer dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan air permukaan yang cukup baik yaitu pada cekungan alami dan juga pada penampungan air buatan memanjang yang telah dibuat oleh pemerintah setempat,” kata Chandra Setyawan.

Dengan sistem tabela diperkirakan memerlukan waktu panen sekitar 100-120 dari hari setelah tanam benih. Penanaman padi Gamagora dilaksanakan pada Hari Minggu, 23 Agustus lalu oleh TEP UGM bersama dengan Masyarakat dan tokoh-tokoh setempat termasuk kepala kampung dan ketua kelompok taniu setempat.

Bagi Chandra, penanaman Gamagora di Muting ini tidak hanya sekedar untuk mengatasi permasalahan produktivitas padi varietas lokal yang rendah, namun juga merupakan upaya transfer pengetahuan tentang teknik atau praktik budidaya pertanian yang baik dari UGM untuk masyarakat setempat.

Lebih jauh ia menjelaskan,terdapat tiga pelakukan pada benih padi yang ditanam yakni pertama, melakukan perlakuan kontrol dengan menanam varietas lokal, dodok erok dan gamagora menggunakan cara dan praktek konvensional yang biasa dilakukan Masyarakat setempat. Kedua, memberikan perlakuan penambahan bahan organik pembenah tanah pada varietas gamagora untuk meningkatkan dan mempertahankan kandungan lengas tanah dalam waktu yang lebih lama dan ketiga, perlakuan penambahan bahan organik dengan menerapkan konsep sistem of rice intensification (SRI) melalui pemberian irigasi intermitten sesuai dengan kebutuhan air. “Melalui pemodelan kebutuhan air tanaman, maka akan diketahui berapa lama durasi penyiraman air irigasi yang optimal sehingga tanaman padi tidak mencapai kondisi titik layu permanen dan dapat menghasilkan produktivitas yang optimal,” pungkasnya.

Penulis : Jelita Agustine

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Tim Patriot

Artikel UGM Kembangkan Demplot Padi Gamagora di Lahan Tadah Hujan Merauke pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-kembangkan-demplot-padi-gamagora-di-lahan-tadah-hujan-merauke/feed/ 0
Lebih Unggul dan Tangguh, Persilangan Sapi Jaliteng Perkuat Mutu Genetik Sapi Bali https://ugm.ac.id/id/berita/lebih-unggul-dan-tangguh-persilangan-sapi-jaliteng-perkuat-mutu-genetik-sapi-bali/ https://ugm.ac.id/id/berita/lebih-unggul-dan-tangguh-persilangan-sapi-jaliteng-perkuat-mutu-genetik-sapi-bali/#respond Mon, 24 Aug 2026 08:57:07 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96913 Pemanfaatan sapi Jaliteng sebagai sumber genetik alternatif berpotensi meningkatkan produktivitas sapi Bali. Sebagai informasi, sapi Jaliteng merupakan hasil perkawinan antara sapi Bali dan banteng Jawa. Program perkawinan tersebut mulai dilakukan pada 2011 oleh Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur bersama Taman Safari Indonesia II Prigen-Pasuruan. Program tersebut kemudian menghasilkan keturunan yang dikenal sebagai sapi Jaliteng. Seiring […]

Artikel Lebih Unggul dan Tangguh, Persilangan Sapi Jaliteng Perkuat Mutu Genetik Sapi Bali pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pemanfaatan sapi Jaliteng sebagai sumber genetik alternatif berpotensi meningkatkan produktivitas sapi Bali. Sebagai informasi, sapi Jaliteng merupakan hasil perkawinan antara sapi Bali dan banteng Jawa. Program perkawinan tersebut mulai dilakukan pada 2011 oleh Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur bersama Taman Safari Indonesia II Prigen-Pasuruan. Program tersebut kemudian menghasilkan keturunan yang dikenal sebagai sapi Jaliteng. Seiring perkembangannya, semen beku dari pejantan Jaliteng dikembangkan untuk mendukung program inseminasi buatan. 

Dari hasil penelitian menunjukkan penggunaan semen Jaliteng pada induk sapi Bali menghasilkan conception rate (CR) sebesar 95,50 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan penggunaan semen sapi Bali yang menghasilkan CR sebesar 70 persen. Selain itu, nilai service per conception juga tercatat lebih rendah pada kelompok yang menggunakan semen Jaliteng.

Hal itu disampaikan  mahasiswa Program Doktor Ilmu Peternakan, Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Adi Tiya Warman, melalui disertasinya berjudul “Peningkatan Produktivitas Sapi Bali Melalui Perkawinan dengan Sapi Jaliteng di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat”. 

Disertasi tersebut dipertahankan dalam sidang ujian tertutup pada Jumat (21/8). Bertindak sebagai promotor Prof. Ir. Panjono, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., ASEAN Eng, serta Prof. Ir. Tri Satya Mastuti Widi, S.Pt., M.P., M.Sc., Ph.D., ASEAN Eng dan Prof. Dr. Ir. Sigit Bintara, M.Si., IPU., ASEAN Eng sebagai ko-promotor.

Adi menuturkan, penelitian yang dilakukannya di Lombok Tengah dan Jawa Timur tersebut membandingkan produktivitas sapi Bali dengan sapi hasil perkawinan sapi Bali dan Jaliteng melalui metode inseminasi buatan. Selain dari sisi performa reproduksi, potensi lainnya pada pertumbuhan pedet hasil persilangan. Pedet hasil perkawinan Jaliteng dan sapi Bali diketahui memiliki sejumlah ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan pedet Bali murni. Saat sapih, panjang badan pedet dari hasil persilangan Jaliteng dan Bali mencapai rata-rata 88,15 cm, sedangkan pedet Bali memiliki rata-rata panjang badan 82,59 cm.

Di sisi lain, persilangan tersebut tetap mempertahankan sebagian besar karakter fenotipik khas sapi Bali. Beberapa karakter tersebut antara lain warna kaus kaki putih, cermin pantat putih, dan garis punggung hitam. Tentu, hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan sapi Jaliteng sebagai sumber genetik alternatif tetap memungkinkan dipertahankannya sejumlah karakteristik khas sapi Bali. “Sapi Jaliteng potensial menjadi pejantan alternatif dalam program pembibitan sapi Bali, terutama melalui pemanfaatan semen beku dalam program inseminasi buatan,”kata Adi.

Meski menunjukkan hasil yang menjanjikan, Adi menekankan perlunya penelitian lanjutan untuk melihat performa keturunan hasil persilangan setelah melewati masa sapih hingga mencapai usia dewasa. Kajian tersebut diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai produktivitas dan karakteristik keturunan sapi hasil perkawinan Jaliteng dan Sapi Bali.

Reportase : Satria/Humas Fapet

Penulis.     : Zabrina Kumara

Editor        : Gusti Grehenson
Foto.         : Detik dan Dok. Tim Pascasarjana Fapet

Artikel Lebih Unggul dan Tangguh, Persilangan Sapi Jaliteng Perkuat Mutu Genetik Sapi Bali pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/lebih-unggul-dan-tangguh-persilangan-sapi-jaliteng-perkuat-mutu-genetik-sapi-bali/feed/ 0
Atasi Stunting, KKN UGM Olah Potensi Lele Jadi Abon Sangrai https://ugm.ac.id/id/berita/atasi-stunting-kkn-ugm-olah-potensi-lele-jadi-abon-sangrai/ https://ugm.ac.id/id/berita/atasi-stunting-kkn-ugm-olah-potensi-lele-jadi-abon-sangrai/#respond Mon, 24 Aug 2026 04:13:01 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96890 Potensi budidaya lele yang melimpah di Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, mendorong mahasiswa KKN-PPM UGM menghadirkan inovasi produk pangan berupa abon lele sangrai sebagai upaya mendukung program pencegahan stunting. “Kami menggabungkan dua persoalan menjadi program kerja, yaitu pembuatan inovasi produk pangan untuk pencegahan stunting yang berkolaborasi dengan ibu-ibu Kelompok Wanita Tani,” ujar Doni Ananda […]

Artikel Atasi Stunting, KKN UGM Olah Potensi Lele Jadi Abon Sangrai pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Potensi budidaya lele yang melimpah di Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, mendorong mahasiswa KKN-PPM UGM menghadirkan inovasi produk pangan berupa abon lele sangrai sebagai upaya mendukung program pencegahan stunting. “Kami menggabungkan dua persoalan menjadi program kerja, yaitu pembuatan inovasi produk pangan untuk pencegahan stunting yang berkolaborasi dengan ibu-ibu Kelompok Wanita Tani,” ujar Doni Ananda Pangestu dari Program Studi Teknologi Industri Pertanian saat ditemui, Senin (24/8).

Ia menjelaskan bahwa lele dipilih sebagai bahan baku karena Desa Tampo memiliki potensi budidaya yang cukup besar. Selain itu, masih terdapat ikan lele afkir atau induk tidak produktif yang belum dimanfaatkan secara optimal sehingga memiliki peluang untuk diolah menjadi produk bernilai tambah. “Sejauh ini cuma dijual mentahan, sehingga mungkin dalam penjualannya masih kurang. Kita berusaha untuk masuk ke situ agar produk lelenya juga memiliki nilai tambah,” katanya.

Melalui program tersebut, mahasiswa KKN mengembangkan abon lele sangrai, yakni abon yang diolah tanpa proses penggorengan menggunakan minyak. Doni menjabarkan metode sangrai dipilih agar produk lebih sesuai untuk mendukung pencegahan stunting. Selain abon sangrai, tim juga mengembangkan produk turunan berupa cookies dan brownies berbahan dasar lele.

Menurut Doni, protein hewani menjadi salah satu komponen penting dalam pencegahan stunting karena mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh. Oleh karena itu, disebutkan Doni, pemanfaatan lele diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pemenuhan gizi.

Selain mengembangkan produk pangan, KKN-PPM UGM Kerincing Cluring juga memanfaatkan limbah hasil pengolahan. Doni menceritakan bahwa tulang lele diolah menjadi pupuk organik cair (POC) sehingga seluruh bagian ikan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal. “Sebenarnya programnya ada pengolahan limbahnya juga. Tulang lele menjadi POC,” ujarnya.

Lebih lanjut, Doni menyatakan bahwa produk abon lele yang dihasilkan akan didistribusikan. Ia menyebutkan selanjutnya hasil disalurkan melalui kader Posyandu untuk diberikan kepada sasaran program di Desa Tampo. Saat ini distribusi masih difokuskan pada satu desa dengan harapan dapat dikembangkan lebih luas pada masa mendatang.

Sementara itu, Pendiri Kelompok Pengolah dan Pemasar Ikan (Poklahsar) Desa Tampo, Irma Yunita, mengapresiasi inovasi yang dibawa mahasiswa KKN-PPM UGM. Menurutnya, sebelum adanya program tersebut, kelompoknya telah memproduksi abon lele dengan metode penggorengan. Kehadiran mahasiswa menghadirkan alternatif baru berupa abon lele sangrai. “Kalau yang sangrai itu miliknya anak KKN. Kalau produk kami yang lama itu digoreng pakai minyak, kemudian di-spin. Anak-anak KKN membuat model sangrai,” jelasnya.

Irma menilai abon lele sangrai memiliki keunggulan karena diolah tanpa minyak sehingga lebih sesuai dikonsumsi anak-anak, khususnya balita. Terlebih, ia menyebutkan pencegahan stunting itu merupakan program Pemerintah Banyuwangi. “Kalau sangrai itu tanpa minyak, lebih non kolesterol. Cocok untuk anak-anak, banyak anak balita yang suka,” ujarnya.

Ia berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan dan diproduksi dalam jumlah lebih besar. Selama ini, pemasaran produk Poklahsar banyak dilakukan melalui Posyandu sehingga produk baru tersebut juga akan mulai diperkenalkan kepada masyarakat melalui Taman Posyandu.

Irma turut menyatakan bahwa Poklahsar Desa Tampo sendiri merupakan kelompok pengolah dan pemasar hasil perikanan di bawah binaan Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi. Kelompok ini memberdayakan perempuan di desa dengan kegiatan produksi yang dilakukan setiap akhir pekan. Dalam sekali produksi, sekitar 15–20 kilogram lele diolah menjadi sekitar 2,5 kilogram abon dengan kisaran Rp25.000 per 100 gram.

Penulis : Hanifah

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Atasi Stunting, KKN UGM Olah Potensi Lele Jadi Abon Sangrai pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/atasi-stunting-kkn-ugm-olah-potensi-lele-jadi-abon-sangrai/feed/ 0
UGM dan YESSA Jepang Dorong Pengembangan Agroekologi Kawasan Karst Gunungkidul https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-yessa-jepang-dorong-pengembangan-agroekologi-kawasan-karst-gunungkidul/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-yessa-jepang-dorong-pengembangan-agroekologi-kawasan-karst-gunungkidul/#respond Sat, 22 Aug 2026 02:10:43 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96869 Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada kembali memperkuat kerja sama dengan Yanmar Environmental Sustainability Support Association (YESSA), Jepang, melalui kolaborasi selama lima tahun untuk mengembangkan sistem agroekologi dan ekonomi sirkular berbasis kawasan karst berkelanjutan di Kalurahan Umbulrejo, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding […]

Artikel UGM dan YESSA Jepang Dorong Pengembangan Agroekologi Kawasan Karst Gunungkidul pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada kembali memperkuat kerja sama dengan Yanmar Environmental Sustainability Support Association (YESSA), Jepang, melalui kolaborasi selama lima tahun untuk mengembangkan sistem agroekologi dan ekonomi sirkular berbasis kawasan karst berkelanjutan di Kalurahan Umbulrejo, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Operation Room FTP UGM, Jumat (21/8).

Guru Besar FTP UGM, Prof. Lilik Soetiarso mengatakan pemilihan Umbulrejo sebagai lokasi program pengembangan agroekologi karst mempertimbangkan karakteristik wilayah Ponjong yang memiliki potensi sekaligus tantangan dalam pengembangan pertanian. Selain didominasi lahan persawahan dengan sistem irigasi, wilayah tersebut juga memiliki kawasan perbukitan kapur yang menjadi karakteristik khas kawasan karst.

“Di Ponjong, kami melihat sebagian besar wilayahnya berupa sawah dengan sistem irigasi. Namun, terdapat pula kawasan perbukitan kapur yang menjadi karakteristik khas wilayah ini. Keunikan tersebut menjadi salah satu hal yang kami pertimbangkan karena sekaligus menghadirkan tantangan dan potensi tersendiri. Kami kemudian memutuskan untuk melakukan diversifikasi komoditas,” jelasnya.

Menurut Lilik, melalui kerja sama ini diharapkan mampu mengangkat potensi sumber daya yang ada di Umbulrejo dari pengelolaan lahan untuk pertanian terpadu hingga potensi kawasan karst hingga menghasilkan produk yang dapat dikonsumsi. “Melalui penelitian teknologi pertanian tepat guna dan pengabdian kepada masyarakat. Program tersebut sekaligus ditujukan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia serta mengembangkan potensi lokal secara berkelanjutan,” ujarnya.

Dekan FTP UGM, Prof. Eni Harmayani, menuturkan kerja sama dengan YESSA ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Kolaborasi tersebut juga menjadi ruang untuk mengembangkan model pengabdian yang tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi mendorong pemberdayaan dan inovasi yang berkelanjutan. “Kemitraan ini sangat relevan dengan misi kami untuk menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi dengan tantangan nyata yang dihadapi masyarakat dan sektor pertanian,” kata Eni.

Executive Secretary YESSA, Kamikubo Keita, mengatakan  Kolaborasi FTP UGM dan YESSA bukan merupakan kerja sama pertama. Kedua pihak telah membangun kemitraan selama sembilan tahun melalui berbagai program di sejumlah desa, di antaranya di Desa Sambak, Magelang, Desa Selopamioro dan Sriharjo, Bantul. Keberlanjutan kerja sama tersebut menjadi dasar bagi kedua pihak untuk memasuki tahap kolaborasi berikutnya selama lima tahun.

Sebagai bagian dari pelaksanaan program, pihaknya menyerahkan hibah untuk mendukung pelaksanaan program di tahun pertama, untuk membangun fondasi proyek, terutama dalam memahami kondisi awal di lapangan yang akan menentukan kualitas dan akurasi penelitian selanjutnya. “Kami akan terus mendampingi tim sebagai mitra agar proyek ini menghasilkan penelitian berkualitas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal,” ujar Kamikubo.

Dalam kesempatan itu, Kamikubo Keita menyampaikan apresiasi terhadap capaian program yang telah dilakukan bersama FTP UGM. Menurutnya, pembaruan MoU menjadi langkah untuk membawa kemitraan tersebut ke tahap berikutnya dengan fokus pengembangan ekonomi sirkular berkelanjutan dan sistem agro-sosio-ekologis terpadu di Umbulrejo.

Dr. Arifin Dwi Saputro, selaku Ketua Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem FTP UGM, menegaskan bahwa keberlanjutan kerja sama tersebut menjadi kesempatan untuk memperpanjang perjalanan kemitraan yang telah dibangun selama hampir satu dekade. Ia berharap penelitian dan pengabdian ini tidak berhenti pada laporan atau kajian akademik semata, tetapi menghasilkan inovasi teknologi tepat guna, model pengelolaan sumber daya, dan praktik pertanian yang benar-benar dapat diterapkan serta dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. “Melalui konsep ekonomi sirkular dan sistem agroekologi, kami berharap potensi pertanian, peternakan, dan lingkungan dapat dikelola secara terpadu sehingga limbah dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi,” ungkapnya.

Lurah Umbulrejo, Wakimin, mengaku pemerintah Kalurahan siap mendukung pelaksanaan program sekaligus menjadi penghubung antara tim akademisi dan masyarakat. “Kami juga siap menjadi penghubung antara tim akademisi dan masyarakat, dengan menempatkan masyarakat bukan sebagai objek penelitian, melainkan sebagai subjek dan mitra utama,” lanjutnya.

Hal senada juga disampaikan oleh KPH Yudonegoro selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil DIY. Ia mengharapkan kerja sama ini mampu mendorong lahirnya para petani milenial di masa mendatang. “Di Yogyakarta terdapat petani milenial yang potensial untuk dikolaborasikan dalam program ini. Namun, mereka tidak cukup hanya memiliki tenaga, tetapi juga membutuhkan pendampingan dan mentoring agar memiliki arah yang jelas,” katanya.

Yudonegoro menuturkan, Pemerintah DIY melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY menyatakan siap mendukung program-program yang diusulkan tim pengabdian UGM untuk Kalurahan Umbulrejo. Dukungan pemerintah daerah juga diharapkan dapat memperluas dampak program sehingga praktik baik yang dikembangkan di Umbulrejo berpotensi menjadi pembelajaran bagi kalurahan lain di DIY.

Bagi UGM, keberlanjutan kolaborasi ini menjadi bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran UGM di Umbulrejo juga menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi bagi pembangunan wilayah DIY. Melalui kolaborasi tersebut, FTP UGM dan YESSA berharap pengembangan Umbulrejo tidak hanya menghasilkan inovasi di bidang pertanian, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat, menciptakan praktik pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, serta menghadirkan model pemberdayaan yang dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan pembangunan pertanian di DIY.

Penulis/Foto : M. Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Artikel UGM dan YESSA Jepang Dorong Pengembangan Agroekologi Kawasan Karst Gunungkidul pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-yessa-jepang-dorong-pengembangan-agroekologi-kawasan-karst-gunungkidul/feed/ 0
Kailash Satyarthi Ajak UGM Bawa KKN ke Kancah Global https://ugm.ac.id/id/berita/kailash-satyarthi-ajak-ugm-bawa-kkn-ke-kancah-global/ https://ugm.ac.id/id/berita/kailash-satyarthi-ajak-ugm-bawa-kkn-ke-kancah-global/#respond Fri, 21 Aug 2026 09:45:37 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96854 Peraih Nobel Laureate 2014, Kailash Satyarthi, menilai dunia saat ini memiliki banyak pengetahuan, data, hukum, deklarasi, lembaga internasional, hingga berbagai pembahasan mengenai persoalan global. Namun, di sisi lain, dunia juga menghadapi persoalan seperti keterpecahan, ketidakamanan, dan kesulitan manusia untuk hidup bersama. Persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan pengetahuan. Menurutnya, ketika dunia berada dalam kegelapan, […]

Artikel Kailash Satyarthi Ajak UGM Bawa KKN ke Kancah Global pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Peraih Nobel Laureate 2014, Kailash Satyarthi, menilai dunia saat ini memiliki banyak pengetahuan, data, hukum, deklarasi, lembaga internasional, hingga berbagai pembahasan mengenai persoalan global. Namun, di sisi lain, dunia juga menghadapi persoalan seperti keterpecahan, ketidakamanan, dan kesulitan manusia untuk hidup bersama. Persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan pengetahuan.

Menurutnya, ketika dunia berada dalam kegelapan, sekecil apapun cahaya dapat mengubah cara seseorang melihat keadaan dan membuat solusi menjadi mungkin. “Dalam situasi kegelapan, setiap tindakan kebaikan, setiap hal yang telah lakukan untuk perbaikan dan membawa cahaya harapan, kepastian, membuat kita memahami bahwa kebangkitan itu mungkin,” katanya dalam UGM Annual Lecture Nobel Laureate Series dengan tema “Global Leadership for Humanity: Advancing Impactful Community Engagement”. Kegiatan ini dihadiri oleh peraih Nobel Laureate 2014, Jumat (21/8), di Balai Senat UGM.

Secara khusus ia menyebutkan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilakukan mahasiswa sebagai salah satu bentuk “cahaya” di tengah berbagai persoalan dunia. Dirinya terkesan dengan pengalaman ketika masyarakat tidak menyebut mahasiswa sebagai pihak yang datang untuk membantu, melainkan sebagai mitra. Menurutnya, mahasiswa tidak datang untuk menggurui masyarakat, tetapi belajar bersama dan bekerja sebagai mitra. Menurutnya, kemitraan merupakan kunci dalam pelaksanaan program pengabdian masyarakat. Mahasiswa tidak seharusnya datang sebagai akademisi atau pelajar yang merasa lebih tahu daripada masyarakat. “Sebaliknya, mahasiswa juga perlu belajar dari masyarakat, termasuk dari orang-orang yang mungkin tidak pernah bersekolah atau hanya memperoleh sedikit pendidikan,” katanya.

Ia kemudian menggarisbawahi tiga prinsip yang menurutnya penting dalam menciptakan perubahan, yakni disebutnya 3D dream, discover, and do. Kailash menyampaikan bahwa setiap orang harus berani bermimpi, menemukan kekuatan dan potensi dalam dirinya sekaligus memahami tantangan di sekitarnya, kemudian melakukan tindakan. Namun, ia menekankan bahwa manusia tidak boleh hanya bermimpi untuk dirinya sendiri. Menurutnya, mimpi juga harus diarahkan untuk memberikan manfaat bagi keluarga, universitas, bangsa, dan masyarakat dunia.

Kalish kemudian menceritakan pengalaman masa kecilnya ketika melihat seorang anak dari keluarga miskin yang tidak dapat bersekolah. Momen tersebut membuatnya menyadari bahwa pendidikan seharusnya dapat diakses oleh semua anak. Selain itu juga ia menceritakan pengalaman ketika sejumlah anak berhenti sekolah karena orang tua tidak mampu membeli buku dan membayar biaya sekolah. Bersama temannya, ia kemudian mengumpulkan buku dari masyarakat untuk diberikan kepada anak-anak yang membutuhkan sehingga menjadikannya sebuah book bank. “Dari situ lahir gerakan global melawan pekerja anak dan gerakan global untuk pendidikan ialah Global March Against Child Labour dan Global Campaign for Education. Ini menjadi pembangun gerakan untuk pendidikan dan anak–anak,” pungkasnya.

Dari pengalaman tersebut, Kailash kemudian mengajak UGM untuk mengembangkan pengalaman KKN menjadi pembelajaran yang dapat dibagikan secara global. Menurutnya, berbagai pengalaman mahasiswa dan masyarakat tidak berhenti sebagai kegiatan pengabdian, tetapi perlu dikembangkan menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari dan diterapkan di tempat lain. Menurutnya, keberhasilan tidak hanya dilihat dari berapa banyak orang yang mendapatkan manfaat, tetapi juga dari berapa banyak pemimpin baru yang lahir di masyarakat dan anak muda yang mampu menemukan solusi inovatif bagi komunitasnya.

Lebih lanjut, Kailash menekankan pentingnya konsep compassion atau rasa peduli dalam menjalankan pengabdian. Menurutnya, empati saja belum cukup untuk menyelesaikan persoalan sistemik seperti diskriminasi gender, diskriminasi, kemiskinan, ketimpangan geopolitik, dan ketidakadilan ekonomi. Ia menyampaikan bahwa welas asih bukan sekadar merasakan penderitaan orang lain, tetapi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang mengambil tindakan secara sadar untuk menyelesaikan persoalan. “Compassion merupakan kekuatan yang dapat mendorong perubahan berkelanjutan. Bukan perubahan yang hanya terjadi sekali, melainkan perubahan yang terus berkembang karena setiap orang merasa menjadi bagian dari persoalan dan penyelesaiannya,” ujarnya.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., mengatakan program Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) secara aktif melibatkan mahasiswa dan memperluas keterlibatan pengabdian kepada masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. “KKN-PPM merupakan mekanisme yang menempatkan mahasiswa secara langsung untuk menangani berbagai persoalan nyata, termasuk akses pendidikan, kesehatan masyarakat, pengembangan ekonomi lokal, infrastruktur, dan pengelolaan lingkungan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan terdapat tiga hal yang menjadi dasar kemanusiaan dalam pengabdian kepada masyarakat melalui KKN-PPM. Pertama, kehadiran, sebagaimana mengirimkan sumber daya ke tempat yang benar-benar membutuhkan. Kedua, responsivitas, kemampuan universitas untuk dengan cepat mengerahkan mahasiswa, dosen, dan sumber daya yang dimiliki. Ketiga, keberlanjutan, yaitu tetap terlibat dalam waktu yang cukup sehingga dapat berkontribusi terhadap proses pemulihan masyarakat

Selain itu, Ova menyebut terdapat pula bentuk KKN yang secara langsung merespons masyarakat yang menghadapi kondisi sulit, yakni KKN Peduli Bencana. Seperti halnya sejak gempa Yogyakarta, erupsi Gunung Semeru, hingga banjir bandang dan tanah longsor di Provinsi Aceh lalu. “Kehadiran mahasiswa tidak hanya difokuskan untuk membantu masyarakat memulihkan dampak langsung bencana, tetapi juga mendukung pemulihan kehidupan masyarakat. Upaya tersebut dilakukan melalui pembangunan hunian sementara serta penguatan ekonomi lokal melalui pelatihan UMKM,” ujarnya.

Sejalan dengan visi misi KKN-PPM, Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Arif Havas Oegroseno, S,H., LL.M., dalam sambutan yang disampaikan melalui rekaman video menyampaikan pengalamannya ketika menjadi mahasiswa dan mengikuti program KKN. Ia menceritakan bahwa saat itu dirinya ditempatkan di sebuah desa terpencil Jawa Tengah. Desa tersebut menghadapi persoalan air bersih dan banjir. “Sebagai mahasiswa saat itu kami diminta untuk kreatif dan mencoba menemukan solusi terhadap persoalan desa,” sebutnya.

Arif mengapresiasi UGM yang telah menyelenggarakan program pengabdian kepada masyarakat selama lebih dari tujuh dekade. Menurutnya, KKN menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar mendengarkan sebelum berbicara, memahami persoalan sebelum menawarkan solusi, serta bekerja sama dengan masyarakat. Ia menegaskan bahwa pengalaman tersebut merupakan pembelajaran yang tidak dapat sepenuhnya diperoleh di ruang kuliah. “Tidak ada ruang kuliah yang dapat mengajarkan selama satu bulan atau tiga bulan apa yang dapat diajarkan sebuah desa tentang kerendahan hati,” tuturnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Prof. Dr. Todung Mulya Lubis, S.H., LL.M., Duta Besar Indonesia untuk Norwegia menyampaikan bahwa program KKN memiliki peran penting dalam menghubungkan perguruan tinggi dengan masyarakat. Terutama melalui keterlibatan mahasiswa yang mendengarkan kebutuhan masyarakat dan bersama-sama menyusun program untuk memperbaiki kondisi mereka. “KKN tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai bagian dari pemenuhan kewajiban akademik, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab sosial mahasiswa dan universitas untuk menjaga bumi dan kemanusiaan,” ucapnya.

Dari sisi ekonomi, Dato’ Sri Prof. Dr. Tahir, Founder Mayapada menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya perlu dilihat dari persentase pertumbuhan GDP, tetapi juga dari dampaknya terhadap masyarakat. Ia menilai universitas memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja. Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu kunci untuk mewujudkan keadilan sosial karena melalui pendidikan masyarakat dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik, pendapatan yang lebih tinggi, serta status sosial yang lebih baik. “Ketika masyarakat dapat menikmati kehidupan yang lebih baik, pendidikan yang lebih baik, dan status sosial yang lebih baik, maka kita dapat mulai berbicara tentang keadilan sosial,” katanya.

Ova Emilia menilai kehadiran Kailash Satyarthi tidak hanya menjadi kesempatan untuk menyambut seorang peraih nobel, tetapi juga mempertemukan dua pengalaman dan pendekatan dalam memajukan kemanusiaan. “Kehadiran dalam acara ini menjadi kesempatan untuk merefleksikan bagaimana pendidikan dan keterlibatan masyarakat dapat menjadi kekuatan dalam menciptakan perubahan yang bermakna dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Penulis : Hanifah

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie, Jesi

Artikel Kailash Satyarthi Ajak UGM Bawa KKN ke Kancah Global pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kailash-satyarthi-ajak-ugm-bawa-kkn-ke-kancah-global/feed/ 0
Respons Gempa NTT, UGM Kerahkan Tim Medis dan Bantuan Obat  https://ugm.ac.id/id/berita/respons-gempa-ntt-ugm-kerahkan-tim-medis-dan-bantuan-obat/ https://ugm.ac.id/id/berita/respons-gempa-ntt-ugm-kerahkan-tim-medis-dan-bantuan-obat/#respond Wed, 19 Aug 2026 08:30:22 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96780 Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM melepas enam personel Tim Tanggap Bencana untuk merespons dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), sekaligus menyerahkan bantuan obat-obatan dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) yang akan didistribusikan kepada masyarakat terdampak bencana. Kegiatan tersebut dipimpin oleh Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., […]

Artikel Respons Gempa NTT, UGM Kerahkan Tim Medis dan Bantuan Obat  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM melepas enam personel Tim Tanggap Bencana untuk merespons dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), sekaligus menyerahkan bantuan obat-obatan dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) yang akan didistribusikan kepada masyarakat terdampak bencana. Kegiatan tersebut dipimpin oleh Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, dan berlangsung di Kantor Pusat Tata Usaha (KPTU) FK-KMK UGM, Rabu (19/8), dengan turut dihadiri Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi, M.P.H., serta Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Bencana FK-KMK UGM, Sutono, S.Kp., M.Sc., M.Kep

Pengiriman tim merupakan bagian dari respons FK-KMK UGM bersama Academic Health System UGM (AHS UGM) dan jejaring kesehatan untuk mendukung penanganan bencana di wilayah terdampak. Tim akan menjalankan misi mulai 19 hingga 30 Agustus 2026 dengan fokus pada asesmen kebutuhan dan penguatan pelayanan kesehatan di sejumlah wilayah di NTT.

Ketua Pokja Bencana FK-KMK UGM, Sutono, menjelaskan bahwa pengiriman tim dilakukan sebagai bentuk respons cepat setelah memperoleh informasi mengenai kondisi bencana di NTT. Menurutnya, respons tersebut dilakukan melalui koordinasi lintas jejaring agar kebutuhan di lapangan dapat diidentifikasi dan ditangani secara tepat. “Ketika ada info bencana di sana (NTT), sebagai respons tercepat, kami tim tanggap respons bencana bekerja sama dengan Academic Health System UGM (AHS UGM) dan jejaring dengan Dinas Kesehatan, berkoordinasi dan memutuskan mengirimkan tim bencana ke wilayah-wilayah yang memang saat ini dibutuhkan,” jelas Sutono.

Dekan FK-KMK UGM, Prof. Yodi, secara simbolis melepas enam personel yang terdiri atas tim manajemen bencana dari FK-KMK UGM dan tim medis dari Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM.

Tiga personel dari tim manajemen bencana FK-KMK UGM terdiri atas Happy R. Pangaribuan, MPH, Vina Yulia Anhar, MPH, dan Gde Yulian Yogadhita, Apt., M.Epid. Sementara itu, tim medis dari RSA UGM terdiri atas dr. Rizki Fitria Febrianti (dokter umum), Andhika Robbi Nugraha, S.Kep., Ns. (perawat), dan Agus Damar Septiaji, S.Tr.Kep., Ners (perawat).

“Kita melepas keberangkatan enam personel terbaik dari FK-KMK dan RSA UGM yang tergabung dalam tim manajemen bencana dan tim medis. Misi kali ini kita merespons permintaan dari pusat krisis untuk memperkuat tata kelola penanganan bencana di tiga daerah di NTT yang ditugaskan mulai 19–30 Agustus,” ujar Prof. Yodi.

Ia menjelaskan, keberangkatan tim tidak hanya ditujukan untuk memberikan pelayanan medis, tetapi juga melakukan asesmen terhadap kebutuhan masyarakat terdampak. Asesmen menjadi penting agar bantuan dan dukungan lanjutan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan. “Timnya akan melakukan asesmen di lapangan dan dari situ kita akan bisa mengidentifikasi kebutuhan realnya apa. Karena ini kan butuh informasi dari lapangan. Dan juga butuh koordinasi karena banyak pihak yang terlibat. Supaya lebih tepat sasaran, maka kita menyiapkan tim asesmen ini,” jelasnya.

Hasil asesmen tersebut nantinya akan menjadi dasar bagi FK-KMK UGM dalam menentukan bentuk dukungan berikutnya. Tim di lapangan akan berkoordinasi dengan berbagai pihak, baik pemerintah daerah maupun jejaring kesehatan setempat, untuk memastikan respons yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Selain mengirimkan personel, FK-KMK UGM juga membawa bantuan obat-obatan yang dititipkan oleh Pemda DIY. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi, kepada FK-KMK UGM untuk selanjutnya didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Sejumlah obat dan perlengkapan kesehatan yang dikirimkan antara lain parasetamol tablet, parasetamol sirup, multivitamin, ibuprofen, antasida, cetirizine, serta cairan infus. Bantuan juga dilengkapi dengan masker dan sarung tangan medis. “Di sana ada parasetamol tablet, parasetamol sirup, kemudian multivitamin, kemudian ada ibuprofen, antasida, cetirizine, bahkan infus juga kami siapkan. Selain itu, masker dan handscoon juga kami sertakan,” ujar Anung.

Anung mengatakan, Pemda DIY secara keseluruhan telah menyiapkan sekitar 240 kilogram bantuan obat-obatan untuk mendukung penanganan masyarakat terdampak bencana. Namun, pada tahap awal, sekitar 40 kilogram bantuan diserahkan kepada tim FK-KMK UGM untuk segera dibawa ke NTT. “Terima kasih kepada FK-KMK UGM yang sudah bersedia untuk berkolaborasi atas nama Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta. Tim UGM ini termasuk yang pertama yang kami titipkan bantuan obat-obatan dari Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta,” tutur Anung.

Ia menambahkan, keterbatasan waktu dan kapasitas angkutan membuat bantuan yang dikirim pada tahap pertama belum mencakup seluruh logistik yang telah disiapkan. Meski demikian, Pemda DIY mengapresiasi kesediaan FK-KMK UGM untuk membawa bantuan tersebut bersamaan dengan keberangkatan tim tanggap bencana.

“Jadi memang ada sekitar 240 kg yang kami siapkan. Dalam tahap pertama ini, kami kirimkan mungkin 40 kg dulu kepada FK-KMK UGM karena keterbatasan waktu dan persiapan. Tapi kami ucapkan terima kasih, di sela-sela keterbatasan angkutan dan bagasi pun FK-KMK UGM masih bisa menyampaikan bantuan obat-obatan tersebut agar bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat yang terdampak,” jelasnya.

Yodi menegaskan bahwa bantuan obat-obatan tersebut merupakan amanah yang harus dipastikan sampai kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Oleh karena itu, pendistribusian obat akan disesuaikan dengan hasil asesmen dan koordinasi tim di lapangan. “Kita juga mengemban amanah logistik yang sangat penting. Sudah ada penyerahan simbolis tadi untuk pengobatan. Ini yang harus saya pastikan nanti sampai dan didistribusikan dengan tepat pada masyarakat yang membutuhkan,” ungkap Prof. Yodi.

Dari sisi pelayanan kesehatan, tim medis akan menjalankan fungsi sebagai tim awal yang melakukan rapid health assessment atau penilaian cepat kondisi kesehatan masyarakat terdampak. Salah satu lokasi yang menjadi sasaran awal tim adalah Kabupaten Ngada.

Dokter umum RSA UGM, dr. Rizki Fitria Febrianti, salah satu anggota tim medis, menjelaskan bahwa asesmen dilakukan untuk mengetahui kebutuhan prioritas di lapangan, baik berupa dukungan logistik maupun pelayanan medis. “Jadi kami akan jadi tim pertama yang berangkat ke NTT. Nanti sasaran kami di Kabupaten Ngada. Kemudian di sana kami akan melakukan rapid health assessment karena kami tim awal yang berangkat. Jadi kami mau asesmen dulu kebutuhan-kebutuhan apa yang akan diperlukan di sana, apakah lebih ke logistik atau ke tim medis,” jelas Rizki.

Selain melakukan asesmen, tim medis juga akan menjalankan fungsi sebagai Emergency Medical Team (EMT) untuk membantu pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.

Menurut dr. Rizki, kondisi pascagempa memiliki sejumlah risiko kesehatan yang perlu menjadi perhatian, khususnya kasus trauma dan luka. Terlebih, adanya informasi mengenai fasilitas kesehatan yang turut terdampak membuat penilaian ulang terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan menjadi penting. “Kalau di sana kan kasusnya saat ini gempa. Jadi kalau gempa itu banyaknya kasus trauma, luka. Perawatan luka di sana juga dibutuhkan. Kemudian karena beberapa rumah sakit juga diinfokan collapse, jadi nanti kita tetap ada rapid health assessment awal. Jadi di sana nanti kita asesmen ulang,” ungkapnya.

Hasil asesmen tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi kesehatan masyarakat dan kapasitas pelayanan kesehatan yang tersedia. Informasi tersebut selanjutnya akan dikoordinasikan dengan FK-KMK UGM dan pihak-pihak terkait sebagai dasar untuk menentukan bentuk respons dan dukungan berikutnya.

Dalam pelepasan tersebut, Yodi berpesan agar seluruh personel mengedepankan fleksibilitas dan kesiapsiagaan selama menjalankan misi kemanusiaan. Menurutnya, kondisi di lokasi bencana dapat berubah dengan cepat sehingga tim harus mampu menyesuaikan diri berdasarkan kebutuhan lapangan.

Ia juga menekankan pentingnya keselamatan personel sebagai prioritas utama selama menjalankan tugas.“Fleksibilitas dan kesiapsiagaan dalam pergerakan tim. Kedua, utamakan keselamatan, safety first. Pastikan keselamatan diri Anda dan tim terjaga dengan baik dalam setiap pergerakan,” pesan Yodi.

Selain keselamatan, koordinasi menjadi aspek penting dalam memastikan efektivitas respons bencana. Tim lapangan diharapkan menjaga komunikasi dengan perwakilan di tingkat provinsi maupun berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam penanganan bencana.

Melalui pengiriman tim manajemen bencana dan tim medis serta pendistribusian bantuan obat-obatan tersebut, FK-KMK UGM berupaya memperkuat respons kesehatan pascabencana di NTT. Pendekatan berbasis asesmen diharapkan memastikan setiap dukungan yang diberikan tidak hanya cepat, tetapi juga tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak.

Penulis : M. Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Respons Gempa NTT, UGM Kerahkan Tim Medis dan Bantuan Obat  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/respons-gempa-ntt-ugm-kerahkan-tim-medis-dan-bantuan-obat/feed/ 0
BSN Resmikan SNI G2R Tetrapreneur, Dorong Wirausaha Berbasis Gotong Royong https://ugm.ac.id/id/berita/bsn-resmikan-sni-g2r-tetrapreneur-dorong-wirausaha-berbasis-gotong-royong/ https://ugm.ac.id/id/berita/bsn-resmikan-sni-g2r-tetrapreneur-dorong-wirausaha-berbasis-gotong-royong/#respond Mon, 17 Aug 2026 01:49:46 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96692 Badan Standardisasi Nasional (BSN) menetapkan SNI 9445:2026 Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur, sebuah standar yang menerjemahkan nilai gotong royong ke dalam ekosistem kewirausahaan. SNI ini sekaligus mencetak sejarah sebagai standar nasional pertama di Indonesia yang secara khusus mengatur penguatan ekosistem wirausaha berbasis gotong royong yang penetapannya bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik […]

Artikel BSN Resmikan SNI G2R Tetrapreneur, Dorong Wirausaha Berbasis Gotong Royong pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Badan Standardisasi Nasional (BSN) menetapkan SNI 9445:2026 Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur, sebuah standar yang menerjemahkan nilai gotong royong ke dalam ekosistem kewirausahaan. SNI ini sekaligus mencetak sejarah sebagai standar nasional pertama di Indonesia yang secara khusus mengatur penguatan ekosistem wirausaha berbasis gotong royong yang penetapannya bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.

Dosen FEB UGM, Rika Fatimah P.L., S.T., M.Sc., Ph.D., menjadi salah satu penggagas, Founder, Konseptor dan Tenaga Ahli G2R Tetrapreneur mengatakan SNI G2R Tetrapreneur adalah model kewirausahaan yang mengajak pelaku usaha untuk tidak berjalan sendiri, tetapi membangun usaha melalui gotong royong dan kolaborasi dalam satu ekosistem. “SNI G2R Tetrapreneur merupakan sebuah inovasi kebijakan nasional yang menerjemahkan abstraksi yang bersifat intangible, yaitu gotong royong, menjadi pedoman mutu yang tangible dalam proses berwirausaha,” katanya, Senin (17/8).

Rika juga menegaskan hadirnya SNI ini memberikan semangat dan kepastian untuk membangun kelembagaan serta ekosistem usaha secara bersama sehingga pelaku usaha tidak lagi bergerak sendiri-sendiri. Pendekatan ini sekaligus menjadi salah satu ikhtiar untuk mewujudkan praktik Ekonomi Pancasila yang berkeTuhanan, berkemanusiaan, bersatu, berkebijakan, dan berkeadilan.

Lebih jauh ia menambahkan, G2R Tetrapreneur dikembangkan melalui empat pilar yang mencakup rantai, pasar, kualitas, dan merek wirausaha. Keempatnya dirancang untuk menghubungkan potensi lokal dengan rantai usaha, akses pasar, peningkatan kualitas, hingga penguatan identitas produk agar mampu bersaing lebih luas. “Masing-masing Tetra memiliki peran yang saling melengkapi. Rantai Wirausaha berfokus pada bagaimana kita mengidentifikasi potensi lokal dan membangun rantai usaha di sekitarnya agar potensi tersebut dapat menciptakan aktivitas ekonomi dan lapangan pekerjaan,” katanya.

Selanjutnya, Pasar Wirausaha mendorong terciptanya ruang kerja sama antarpelaku usaha agar mereka dapat saling melengkapi, bukan hanya saling berebut konsumen. Setelah itu, Kualitas Wirausaha diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pelaku usaha agar mampu memenuhi standar dan bersaing di pasar. Sementara itu, Merek Wirausaha berupaya membangun identitas produk yang kuat sehingga produk lokal tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga memiliki peluang untuk menembus pasar global.” Ujar Rika

Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, Dr. Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagar, turut mengapresiasi ditetapkannya SNI tersebut. Mneurutnya, SNI G2R Tetrapreneur memberikan arah yang lebih jelas mengenai bagaimana potensi lokal dapat dikelola secara bersama, ditingkatkan mutunya, diberi nilai tambah, serta dihubungkan dengan akses pasar yang lebih luas” tuturnya.

Hal tersebut sejalan dengan agenda transformasi transmigrasi oleh Kementerian Transmigrasi RI. “Menempatkan pembangunan kawasan tidak semata-mata sebagai proses penempatan penduduk, tetapi sebagai upaya membangun ekosistem ekonomi, sosial, dan kewilayahan yang produktif dan berkelanjutan.” tambah Iftitah. “Jangan biarkan standar ini berhenti sebagai dokumen. Jadikan ia sebagai gerakan bersama untuk mendorong usaha rakyat naik kelas, membawa produk lokal menembus pasar global, membuka lebih banyak lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan menjadikan kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif, mandiri, dan berdaya saing,” pungkasnya.

Direktur Perencanaan Perwujudan Kawasan Transmigrasi Kementerian Transmigrasi; sekaligus Ketua Komite Teknis 03 – 13 Manajemen Ekonomi Kolaboratif , Dr. R. Bambang Widyatmiko, S.Si., M.T.  menegaskan bahwa pekerjaan utama setelah SNI ditetapkan adalah memastikan standar tersebut dapat diterapkan secara terukur dan berkelanjutan hingga menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.

Kemudian, Dr. Heru Suseno, Direktur Pengembangan Standar Agro, Kimia, Kesehatan dan Penilaian Kesesuaian, Badan Standardisasi Nasional juga turut menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih  kepada Kementerian Transmigrasi, Universitas Gadjah Mada, Badan Standardisasi Nasional, Komite Teknis 03–13 Manajemen Ekonomi Kolaboratif, para konseptor, serta seluruh pihak dan masyarakat yang telah memberikan pemikiran, tenaga, dukungan, dan gotong royong selama proses penyusunan hingga ditetapkannya SNI ini. “Semoga SNI 9445:2026 tidak berhenti sebagai dokumen standardisasi, tetapi menjadi gerakan bersama, memperkuat ekonomi yang berkeadilan, dan mengantarkan produk unggulan Indonesia menjadi ikon yang mampu berjaya di pasar global.” harapnya.

Senada dengan Pak Heru, Rika berharap SNI G2R Tetrapreneur tidak berhenti sebagai standar, tetapi dapat diimplementasikan dan direplikasi di berbagai daerah melalui kolaborasi lintas pihak. Menurutnya, pengembangan tersebut menjadi langkah untuk menghadirkan model kewirausahaan berbasis gotong royong yang berakar pada nilai-nilai Indonesia, mampu memperkuat ekonomi masyarakat, sekaligus menjadi praktik yang dapat menginspirasi dunia.

“Salah satu visionernya SNI G2R Tetrapreneur adalah menjadi bagian seri Manajemen Mutu ISO 9000 sehingga kemudahan dan ‘kewajaran’ kemuliaan berwirausahanya Ekonomi Pancasila masyarakat Indonesia pula mendapatkan penerimaan askes pasar global serta menginspirasi warga dunia secara lebih bersesuaian.” pungkasnya.

Penulis : Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Tim

Artikel BSN Resmikan SNI G2R Tetrapreneur, Dorong Wirausaha Berbasis Gotong Royong pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/bsn-resmikan-sni-g2r-tetrapreneur-dorong-wirausaha-berbasis-gotong-royong/feed/ 0