SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/sdg-3-kehidupan-sehat-dan-sejahtera/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Mon, 31 Aug 2026 02:48:51 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 Menghidupkan Budaya, Merawat Warga https://ugm.ac.id/id/berita/menghidupkan-budaya-merawat-warga/ https://ugm.ac.id/id/berita/menghidupkan-budaya-merawat-warga/#respond Mon, 31 Aug 2026 02:48:51 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97080 Kebudayaan Yogyakarta terus berkembang di tengah perubahan kota dan semakin kuatnya industri kreatif. Berbagai praktik seni dan budaya kini hadir dalam ruang publik, kegiatan kreatif, hingga produk yang memiliki nilai ekonomi. Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai batas antara merawat kebudayaan dan menjadikannya sebagai komoditas. Di tengah kebutuhan seniman untuk terus berkarya dan kebutuhan masyarakat […]

Artikel Menghidupkan Budaya, Merawat Warga pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kebudayaan Yogyakarta terus berkembang di tengah perubahan kota dan semakin kuatnya industri kreatif. Berbagai praktik seni dan budaya kini hadir dalam ruang publik, kegiatan kreatif, hingga produk yang memiliki nilai ekonomi. Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai batas antara merawat kebudayaan dan menjadikannya sebagai komoditas. Di tengah kebutuhan seniman untuk terus berkarya dan kebutuhan masyarakat untuk mempertahankan ruang hidupnya, arah kebudayaan perlu memberi tempat bagi seniman dan warga sebagai pelaku utamanya

Hal itu mengemuka dalam Diskusi Pojok Bulaksumur yang bertajuk “Nyawa yang Dijual? Seni, Kuasa, dan Wajah Baru Kebudayaan Jogja” yang berlangsung di selasar Gelanggang Inovasi Kreativitas (GIK) UGM, Sabtu (29/8. Diskusi tersebut menghadirkan Seniman Anang Saptoto; Anggota Dewan Kebudayaan Yogyakarta,  Ishari Sahida (Ari Wulu); Dosen Antropologi FIB UGM Dr. Muhammad Zamzam Fauzanafi, S.Ant., M.A., dan sastrawan UGM Prof. Faruk. Keempat pembicara membahas hubungan antara seni, industri kreatif, komodifikasi kebudayaan, serta posisi masyarakat dalam menentukan wajah kebudayaan Yogyakarta.

Anang Saptoto menilai kehadiran praktik kebudayaan dalam berbagai ruang tidak serta-merta dapat dipahami sebagai bentuk menjual kebudayaan. Menurutnya, dalam perspektif seni rupa, praktik kebudayaan dapat dihadirkan dalam ruang kampung, kota, nasional, hingga internasional dengan tujuan yang beragam. Karena itu, perlu dilihat terlebih dahulu konteks dan tujuan dari praktik tersebut sebelum menyimpulkan bahwa kebudayaan sedang dikomersialisasikan.

Anang menjelaskan, praktik seni dapat menjadi sarana untuk mengangkat persoalan atau isu yang selama ini kurang mendapatkan perhatian. Dengan demikian, ketika sebuah karya hadir dalam ruang publik, hal yang ditawarkan tidak selalu berupa kebudayaan sebagai komoditas, tetapi juga gagasan yang ingin disampaikan oleh seniman. “Jangan-jangan praktik-praktik kebudayaan itu memang dilakukan untuk mengamplifikasi sesuatu yang biasanya enggak didengar,” ujarnya.

Menurut Anang, praktik yang dilakukan oleh para seniman sangat beragam. Ia mengakui terdapat konteks ketika karya seni dan produk kreatif memang diperjualbelikan, seperti dalam bursa seni rupa maupun pameran produk kreatif. Namun, hal tersebut tidak dapat secara otomatis disamakan dengan menjual kebudayaan. “Tidak semua konteksnya itu menjual dalam konteks kebudayaan. Karena itu praktiknya aja. Yang dijual justru yang disajikan di sini isunya,” ungkapnya.

Sementara itu, Ishari Sahida atau Ari Wulu menyoroti persoalan dari sudut pandang musisi yang berhadapan langsung dengan industri kreatif. Menurutnya, perlu ada pembedaan antara aktivitas berkarya sebagai bentuk ekspresi seni dengan aktivitas seni yang dilakukan sebagai pekerjaan dalam industri. Perbedaan tersebut berpengaruh terhadap sejauh mana seorang seniman harus melakukan kompromi ketika berhadapan dengan pasar maupun pihak yang menggunakan jasanya.

Ari menjelaskan, dalam berkarya untuk kepentingan ekspresi, seorang seniman memiliki ruang yang lebih bebas untuk mengolah gagasan dan pengalaman yang dimilikinya. Sementara itu, ketika masuk ke industri, terdapat pertimbangan ekonomi dan kebutuhan pasar. Kondisi yang berbeda juga muncul ketika seniman mendapatkan pesanan dari klien dan harus menghasilkan karya sesuai kebutuhan pihak tersebut. “Kamu memang sedang mencari uang, kemudian membuat sesuatu yang kamu tahu metodenya, produk ini menjadi laku. Nah, itu hal-hal yang berbeda. Yang kedua, kamu dapat order dari klien, membuat produk sesuai kebutuhannya si klien dengan kemampuan kita,” jelasnya.

Menurut Ari, perbedaan antara seni sebagai ekspresi dan seni sebagai pekerjaan tersebut masih belum dipahami secara tegas di Yogyakarta. Akibatnya, seniman terkadang berada dalam posisi yang dilematis ketika harus memenuhi kebutuhan ekonomi sekaligus mempertahankan identitas dan idealisme sebagai seniman. Ia menilai realitas ekonomi menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan pelaku seni.

Berbeda dengan kedua pembicara sebelumnya, Dr. Muhammad Zamzam Fauzanafi menyoroti persoalan komodifikasi dari cara masyarakat mendefinisikan kebudayaan. Menurutnya, kebudayaan selama ini cenderung dipahami sebagai benda atau sesuatu yang dapat dilihat dan disentuh. Cara pandang tersebut membuat kebudayaan lebih mudah ditempatkan sebagai komoditas yang dapat dipindahkan, diberi harga, dan diperjualbelikan.

Zamzam menawarkan cara pandang lain dengan melihat kebudayaan sebagai “kata kerja” atau laku manusia. Menurutnya, kebudayaan tidak hanya terletak pada produk yang dihasilkan, tetapi pada proses manusia dalam melakukan dan menciptakan praktik kebudayaan. “Harusnya kebudayaan itu dilihat sebagai kata kerja. Tadi ini disebutnya laku. Jadi kebudayaan itu bukan bendanya, tapi kerjanya,” tuturnya.

Lebih jauh, Zamzam menilai praktik kebudayaan seharusnya dikembangkan secara horizontal dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku. Seniman, menurutnya, tidak harus ditempatkan sebagai sosok yang paling tinggi atau paling jenius dalam praktik kebudayaan, tetapi dapat berperan sebagai fasilitator bagi warga. Dengan demikian, kerja kebudayaan dapat dilakukan bersama dan tidak hanya berpusat pada individu tertentu.

Ia mencontohkan keterlibatan seniman dalam bekerja bersama kelompok tani dan masyarakat sebagai salah satu bentuk praktik kebudayaan yang dapat dilakukan secara kolaboratif. Menurutnya, karya maupun kerja kebudayaan dapat dihasilkan oleh banyak orang dengan tetap memberikan ruang bagi keahlian seniman. “Seniman itu jangan dikompakkan sebagai sesuatu yang langka dan dia dirakit sebagai paling jenius dari semuanya, tetapi seniman adalah orang yang memfasilitasi warga,” katanya.

Sementara itu, Prof. Faruk melihat persoalan komodifikasi kebudayaan melalui konsep pertukaran. Menurutnya, pertukaran merupakan bagian dari kehidupan manusia dan telah berlangsung jauh sebelum berkembangnya industri modern. Karena itu, persoalan kebudayaan tidak dapat hanya dilihat dari apakah sesuatu diperjualbelikan atau tidak, melainkan dari bagaimana pertukaran tersebut berlangsung dan untuk kepentingan siapa.

Faruk menjelaskan, pertukaran yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menjaga keberlangsungan karya masih merupakan sesuatu yang wajar. Persoalan muncul ketika pertukaran berubah menjadi praktik yang serakah atau “gragas”. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi monopoli, penguasaan akses, serta pengambilan ruang yang seharusnya dapat dimanfaatkan oleh pihak lain. “Bukan dijual atau tidak dijual, tapi serakah atau tidak,” tegasnya.

Menurut Faruk, logika pasar yang tidak terbatas dapat mendorong seseorang untuk terus memperbesar keuntungan hingga berupaya menguasai ruang ekonomi dan politik. Dalam kondisi tersebut, pertukaran tidak lagi sekadar menjadi sarana memenuhi kebutuhan, tetapi berkembang menjadi praktik industrial dan kapitalistik yang berpotensi menghilangkan kesempatan pihak lain.

Pandangan tersebut sekaligus memberikan perspektif terhadap slogan “Jogja Ora Didol”. Menurut Faruk, slogan tersebut tidak harus dimaknai sebagai penolakan terhadap seluruh bentuk pertukaran ekonomi dalam kebudayaan. “Yang lebih penting adalah memastikan agar pertukaran berlangsung secara wajar dan tidak berkembang menjadi keserakahan, monopoli, maupun penguasaan ruang oleh segelintir pihak,” tegasnya.

Perbedaan pandangan keempat pembicara menunjukkan bahwa persoalan kebudayaan Yogyakarta tidak dapat dilihat secara hitam putih sebagai sesuatu yang sekadar “dijual” atau “dirawat”. Seni dapat menjadi ekspresi sekaligus pekerjaan, kebudayaan dapat memiliki nilai ekonomi sekaligus menjadi medium untuk menyuarakan isu, sementara pertukaran dapat menopang keberlangsungan hidup sekaligus berpotensi menjadi sarana monopoli. Pada akhirnya, pembahasan mengenai “Nyawa yang Dijual?” mengajak publik untuk melihat kembali siapa yang memiliki ruang dan kewenangan dalam menentukan arah kebudayaan Yogyakarta, serta bagaimana memastikan perkembangan kebudayaan tetap memberi tempat bagi seniman dan warga sebagai pelaku utamanya.

Penulis : M. Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Menghidupkan Budaya, Merawat Warga pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/menghidupkan-budaya-merawat-warga/feed/ 0
Peneliti UGM Ungkap Potensi Kolagen Kulit Kambing dan Domba untuk Antioksidan dan Penurun Tensi  https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-ungkap-potensi-kolagen-kulit-kambing-dan-domba-untuk-antioksidan-dan-penurun-tensi/ https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-ungkap-potensi-kolagen-kulit-kambing-dan-domba-untuk-antioksidan-dan-penurun-tensi/#respond Sat, 29 Aug 2026 03:26:26 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97073 Kulit kambing dan domba sering digunakan sebagai bahan baku bagi industri penyamakan kulit untuk diolah menjadi kulit tersamak (leather) yang diolah menjadi produk kerajinan kulit dari produk sandang, aksesoris fashion hingga furniture. Namun di tangan Dosen Peternakan UGM, kolagen yang terkandung dalam kulit tersebut mampu diolah menjadi bahan Oligopeptida yang mempunyai kemampuan sebagai agen antihipertensi […]

Artikel Peneliti UGM Ungkap Potensi Kolagen Kulit Kambing dan Domba untuk Antioksidan dan Penurun Tensi  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kulit kambing dan domba sering digunakan sebagai bahan baku bagi industri penyamakan kulit untuk diolah menjadi kulit tersamak (leather) yang diolah menjadi produk kerajinan kulit dari produk sandang, aksesoris fashion hingga furniture. Namun di tangan Dosen Peternakan UGM, kolagen yang terkandung dalam kulit tersebut mampu diolah menjadi bahan Oligopeptida yang mempunyai kemampuan sebagai agen antihipertensi dan antioksidan. “Kolagen yang diisolasi dari Kulit kambing dan domba dapat menghasilkan Oligopeptida yang mempunyai kemampuan sebagai agen antihipertensi dan antioksidan,” kata Guru Besar Fakultas Peternakan UGM bidang teknologi hasil ternak Prof. Yuny Erwanto, Sabtu (29/8).

Alsan Yuny memilih sumber kolagen dari kulit domba dan kambing dikarenakan sumber bahan tersebut populer di masyarakat karena sebagai sumber daging yang banyak dikonsumsi. Sementara pengolahan kulit kambing dan domba selama ini lebih banyak digunakan sebagai bahan baku penyamakan. “Potensi hasil ikutan berapa kulit sebagai kolagen akan memberikan nilai tambah bagi usaha pemotongan kambing dan domba,” jelasnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, untuk mendapatkan senyawa oligopeptida dari kolagen kulit kambing dan domba ini diisolasi dengan berbagai metode kemudian dilakukan proses hidrolisis dengan enzim pencernaan manusia. Selanjutnya, hasil pemotongan oligopeptida menjadi rantai pendek inilah yang kemudian mampu menghambat kerja Angiotensin Converting Enzyme yaitu Enzim yang merubah angiotensin 1 menjadi angiotensin 2 yang memicu tekanan darah tinggi. “Apabila kerja enzim ini dihambat dengan Oligopeptida maka bersamaan akan menurunkan tekanan darah,” paparnya.

Menurutnya, potensi pemurnian kolagen menjadi Oligopeptida punya peluang besar sebagai terapi gangguan tekanan darah tinggi melalui mekanisme biologis karena merupakan bahan natural yang tidak memberikan efek samping sebagaimana obat kimia selama ini.

Atas hasil penelitiannya ini, Yuny diundang oleh Jining medical University, Jining, Shandong Province, China sebagai Pembicara Utama dalam acara The 2026 International Symposium on Functional Foods and Health Promotion 25-26 Agustus 2026. Selain Yuny, Guru Besar Farmasi UGM, Prof Abdul Rohman menyampaikan presentasi terkait dengan pengembangan metode analisis untuk autentifikasi pangan.

Dekan School of Public Health Jining Medical University Prof. Leen Li menyambut baik dan mengapresiasi materi yang disampaikan oleh dua pakar UGM tersebut. Dekan Leen Li menegaskan Pemerintah Provinsi Shandong memberikan dukungan penuh untuk pengembangan pangan functional masa depan yang sangat dinantikan untuk mendukung gaya hidup sehat. Usai pelaksanaan Symposium dilanjutkan diskusi dan permintaan dukungan pada pakar UGM terkait rencana pembentukan laboratorium deteksi halal yang ingin dibangun oleh Kampus tersebut.

Seperti diketahui, Provinsi Shandong merupakan daerah pertanian di China yang menghasilkan banyak produk yang di ekspor ke Banyak Negara. Dukungan lembaga halal akan sangat bermanfaat agar market share produk produk pertanian dan peternakan mereka semakin meluas. Perintisan kerjasama ini telah diinisiasi Prof Yuny Erwanto sejak setahun lalu bersama dengan Mitra dari Korea dalam penelitian dan publikasi bersama.

Penulis : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Peneliti dan shutterstock

Artikel Peneliti UGM Ungkap Potensi Kolagen Kulit Kambing dan Domba untuk Antioksidan dan Penurun Tensi  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-ungkap-potensi-kolagen-kulit-kambing-dan-domba-untuk-antioksidan-dan-penurun-tensi/feed/ 0
Dukung Eliminasi TB, Dosen UGM Hadirkan Rumah Skrining dan Layanan Radiografi Keliling https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-eliminasi-tb-dosen-ugm-hadirkan-rumah-skrining-dan-layanan-radiografi-keliling/ https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-eliminasi-tb-dosen-ugm-hadirkan-rumah-skrining-dan-layanan-radiografi-keliling/#respond Sat, 29 Aug 2026 02:22:23 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97061 Hasil riset tim peneliti Universitas Gadjah Mada dalam pengembangan alat radiografi sinar-X digital mulai diterapkan untuk layanan pemeriksaan radiologi kesehatan berbasis masyarakat. Riset bertajuk Alat Radiografi Sinar-X Digital Keliling untuk Layanan Skrining Tuberculosis dan Medical Check Up tersebut merupakan bagian dari Program Riset Sinergi 2025–2026 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Hasil riset kemudian […]

Artikel Dukung Eliminasi TB, Dosen UGM Hadirkan Rumah Skrining dan Layanan Radiografi Keliling pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Hasil riset tim peneliti Universitas Gadjah Mada dalam pengembangan alat radiografi sinar-X digital mulai diterapkan untuk layanan pemeriksaan radiologi kesehatan berbasis masyarakat. Riset bertajuk Alat Radiografi Sinar-X Digital Keliling untuk Layanan Skrining Tuberculosis dan Medical Check Up tersebut merupakan bagian dari Program Riset Sinergi 2025–2026 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Hasil riset kemudian dikembangkan melalui Rumah Skrining yang mengintegrasikan teknologi radiografi digital dengan sistem pengelolaan layanan kesehatan. Layanan tersebut mulai dioperasikan pada 27–28 Agustus 2026 di lingkungan CV Prestige Furniture, Yogyakarta.

Riset tersebut dipimpin Prof. Drs. Gede Bayu Suparta, M.Si., Ph.D. dari FMIPA UGM dan dikembangkan melalui sinergi dengan PT Madeena Karya Indonesia, CV Prestige Furniture, serta RSKIA Permata Bunda Yogyakarta. Rumah Skrining dirancang untuk membawa hasil pengembangan teknologi radiografi ke dalam layanan yang lebih dekat dengan masyarakat. Model ini juga diarahkan untuk memperluas akses pemeriksaan kesehatan, khususnya layanan yang membutuhkan pemeriksaan radiologi. “Rumah Skrining adalah start-up yang bertujuan untuk menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan radiologi berbasis masyarakat,” ujar Bayu, Sabtu (29/8).

Dalam pengembangannya, Rumah Skrining tidak berdiri sebagai fasilitas radiologi yang terpisah dari sistem pelayanan kesehatan. Layanan ini dipandu oleh fasilitas pelayanan kesehatan seperti klinik atau rumah sakit, sekaligus memanfaatkan perangkat radiologi yang dikelola melalui Madeena Health Care System (MHCS) atau Madeena Solution. Platform tersebut mencakup tata kelola data DICOM, PACS, teleradiologi, dan pembacaan citra radiologi dengan bantuan AI. “Kehadiran Rumah Skrining diharapkan dapat membantu Pemerintah mempercepat capaian Program Eliminasi TB 2030 dan memperluas keterjangkauan masyarakat pada layanan Cek Kesehatan plus Radiografi Sinar-x,” ujar Bayu.

Bayu menjelaskan teknologi radiografi yang digunakan memiliki fitur untuk pemeriksaan badan dan dada dengan dosis radiasi rendah. Citra yang dihasilkan kemudian dapat dianalisis dengan dukungan perangkat lunak AI, sementara proses pemeriksaan hingga pembacaan hasil disebut dapat dilakukan dalam waktu sekitar 15 menit untuk setiap pasien. Informasi mengenai status kesehatan pasien juga dapat disimpan ke dalam platform SatuSehat yang dikelola pemerintah.

Pengembangan layanan selanjutnya diarahkan agar Rumah Skrining dapat hadir di berbagai lingkungan, mulai dari perguruan tinggi, kawasan industri, pesantren, sekolah, rumah sakit pratama, hingga puskesmas. Bayu berujar perluasan titik layanan diharapkan dapat membuka peluang keterlibatan masyarakat dalam pengembangan fasilitas skrining kesehatan. Di sisi lain, teknologi radiografi juga terus berkembang dengan perangkat yang semakin ringan, hemat energi, dan dapat menggunakan baterai isi ulang. “Teknologi pesawat sinar-x cenderung semakin maju, canggih, aman, ringan, hemat energi, dan rechargeable,” ungkapnya.

Direktur Operasional Rumah Skrining Annisa Fitriana, S.Ant., menjelaskan bahwa pengelolaan layanan dilakukan dengan memanfaatkan ekosistem teknologi yang telah disiapkan untuk mendukung pemeriksaan radiologi. Rumah Skrining dapat mengelola perangkat radiologi produk PT Madeena Karya Indonesia maupun alat radiologi impor yang telah terpasang di rumah sakit di Indonesia. Sistem tersebut memungkinkan proses tata kelola data dan layanan radiologi terhubung dalam satu platform. “MHCS juga disebut Madeena Solution, telah dilengkapi sistem tata kelola data DICOM, PACS, Teleradiologi, dan pembacaan citra radiologi menggunakan bantuan Kecerdasan Buatan AI,” jelas Annisa.

Implementasi perdana dilakukan di lingkungan CV Prestige Furniture yang merupakan mitra produksi alat radiografi DDR Madeena. Pimpinan CV Prestige Furniture Wahyudi Ganda Wijaya menyampaikan komitmen perusahaan untuk memeriksa dan menjaga kesehatan 40 karyawannya melalui fasilitas Rumah Skrining. Kehadiran fasilitas tersebut juga diharapkan dapat dimanfaatkan oleh keluarga karyawan dan masyarakat di sekitar pabrik. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan layanan radiografi di lingkungan yang sebelumnya dinilai masih sulit memperoleh akses layanan formal yang terjangkau.

Layanan perdana Rumah Skrining berlangsung selama dua hari dengan pemeriksaan berupa radiografi thorax. Pada Kamis (27/8), sebanyak 35 orang mengikuti pemeriksaan, sedangkan pada Jumat (28/8) tercatat 42 peserta. Pelaksanaan tersebut menjadi tahap awal penerapan model layanan radiologi berbasis masyarakat yang dikembangkan melalui kolaborasi perguruan tinggi, industri, dan fasilitas pelayanan kesehatan. Hasil penerapan awal ini sekaligus menjadi pengalaman lapangan dalam pengembangan layanan Rumah Skrining berikutnya.

Selain layanan berbasis lokasi, pengembangan Rumah Skrining diarahkan pada penggunaan radiografi keliling yang ditempatkan di atas truk niaga ringan. Kendaraan tersebut dirancang untuk menjangkau lingkungan permukiman yang sempit maupun wilayah dengan medan yang lebih berat, sehingga pemeriksaan tidak harus selalu dilakukan di fasilitas kesehatan. Konsep ini menggabungkan layanan radiografi keliling dengan teleradiologi dan pembacaan AI melalui platform Madeena Health Care System untuk mendukung program Active Case Finding TBC bersama fasyankes tingkat pratama maupun puskesmas. Pendekatan tersebut dirangkum melalui konsep “Serve at everywhere, Read from Anywhere”.

Bayu berharap pengembangan teknologi tersebut dapat didukung oleh terbentuknya ekosistem radiografi sinar-X digital yang melibatkan pemerintah, fasilitas kesehatan, industri, perguruan tinggi, dan masyarakat. Ia juga mendorong adanya regulasi yang mampu memberikan ruang bagi pemanfaatan teknologi radiografi untuk kebutuhan pelayanan kesehatan. Baginya perluasan akses terhadap informasi kesehatan merupakan bagian penting dalam membangun masyarakat yang sehat sekaligus mendukung kekuatan ekonomi dan industri nasional.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Dokumentasi Peneliti

Artikel Dukung Eliminasi TB, Dosen UGM Hadirkan Rumah Skrining dan Layanan Radiografi Keliling pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-eliminasi-tb-dosen-ugm-hadirkan-rumah-skrining-dan-layanan-radiografi-keliling/feed/ 0
TVS Motor Company Buka Peluang Karier Mahasiswa UGM Lewat Program Magang Strategis https://ugm.ac.id/id/berita/tvs-motor-company-buka-peluang-karier-mahasiswa-ugm-lewat-program-magang-strategis/ https://ugm.ac.id/id/berita/tvs-motor-company-buka-peluang-karier-mahasiswa-ugm-lewat-program-magang-strategis/#respond Fri, 28 Aug 2026 09:28:48 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97055 Universitas Gadjah Mada bersama dengan PT TVS Motor Company resmi menjalin kerja sama di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat serta peningkatan Sumber Daya Manusia. Nota Kesepahaman ditandatangani langsung oleh Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., dan Direktur PT TVS Motor Company Indonesia, R. Rajesh Ramani […]

Artikel TVS Motor Company Buka Peluang Karier Mahasiswa UGM Lewat Program Magang Strategis pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada bersama dengan PT TVS Motor Company resmi menjalin kerja sama di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat serta peningkatan Sumber Daya Manusia. Nota Kesepahaman ditandatangani langsung oleh Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., dan Direktur PT TVS Motor Company Indonesia, R. Rajesh Ramani pada Kamis (27/8) di Gedung Pusat UGM. Salah satu bentuk kerja sama ini yaitu program magang mahasiswa yang terbuka bagi mahasiswa UGM dari program studi Manajemen, Teknik Elektro dan Teknik Mesin.

Direktur PT TVS Motor Company Indonesia, Rajesh Ramani mengaku gembira dengan adanya perjanjian kerja sama bersama pihak universitas. Ia berharap, kerja sama ini dapat memberikan keuntungan dan manfaat bagi kedua belah pihak. Banyak alumni dari lembaga pendidikan yang sudah bekerja di TVS, tetapi supaya setiap generasinya memiliki kompetensi yang sama, maka skill-nya harus di tingkatkan. Oleh karena itu, program magang menjadi salah satu cara di mana mahasiswa yang akan dikenalkan dengan lingkungan industri yang profesional. “Saya gembira adanya kerja sama ini dan semoga kedepannya dapat menjadi lebih baik lagi,” ungkap Rajesh.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., turut menyampaikan apresiasi atas kerja sama membuka peluang magang dan beasiswa bagi mahasiswa yang akan mendapatkan manfaat langsung dengan terjun ke industri. “Industri saat ini banyak yang menggunakan mekanisme beasiswa agar mahasiswa memiliki pengalaman mendalam dengan industri yang akan menjadi tempatnya berkarier nantinya,” katanya.

Menurut Wening, sejak awal, mahasiswa UGM memang sudah dikenalkan dengan perusahaan, terjun langsung dalam projek, dan bekerja langsung di perusahaan tersebut. Selain itu, ia menyampaikan bahwa mahasiswa UGM memiliki keunggulan dalam attitude  dan sekitar 80-87 persen mahasiswa teknik UGM bekerja sesuai dengan bidang kompetensi masing-masing.

Aryo Gusdawar selaku Senior General Manager HR PT TVS Motor Company Indonesia memaparkan bahwa PT TVS Motor Company merupakan perusahaan yang dimulai dari jasa penyedia transportasi di India yang mengutamakan ketepatan waktu. Pada tahun 1980an, mereka baru memproduksi motor yang berjalan hingga sekarang. Pada 2006, mereka melakukan ekspansi di Indonesia dan secara resmi mulai beroperasi pada 2007. Pada tahun lalu, mereka berhasil memproduksi 200 ribu motor dan sebesar 98% dari total produksi pabrik di Indonesia dialokasikan untuk pasar ekspor (seperti Afrika, Amerika Latin, Asia Selatan, Timur Tengah, dan ASEAN), sementara pasar domestik Indonesia hanya menyerap sekitar 2%. TVS berada di urutan ketiga secara global dan menunjukkan tren pertumbuhan positif sebesar 0,8% pada tahun 2025–2026 di tengah kelesuan industri otomotif global.

Penulis : Jesi

Editor : Gusti Grehenson

Foto. : Donnie

Artikel TVS Motor Company Buka Peluang Karier Mahasiswa UGM Lewat Program Magang Strategis pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/tvs-motor-company-buka-peluang-karier-mahasiswa-ugm-lewat-program-magang-strategis/feed/ 0
Dukung Pengelolaan Lingkungan Berbasis Data, Tim KKN UGM kembangkan WebGIS  https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-pengelolaan-lingkungan-berbasis-data-tim-kkn-ugm-kembangkan-webgis/ https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-pengelolaan-lingkungan-berbasis-data-tim-kkn-ugm-kembangkan-webgis/#respond Fri, 28 Aug 2026 09:12:40 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97049 Tim KKN-PPM UGM Winongo Warawangsa mengembangkan dua Web Geographic Information System (WebGIS) untuk mendukung pengelolaan lingkungan berbasis data di Kelurahan Kricak, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Sistem informasi geografis atau pemetaan digital yang dapat diakses secara online ini memuat informasi kondisi bantaran Sungai Winongo dan Kali Buntung, titik permasalahan sampah, serta sebaran dan kondisi bank sampah […]

Artikel Dukung Pengelolaan Lingkungan Berbasis Data, Tim KKN UGM kembangkan WebGIS  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Tim KKN-PPM UGM Winongo Warawangsa mengembangkan dua Web Geographic Information System (WebGIS) untuk mendukung pengelolaan lingkungan berbasis data di Kelurahan Kricak, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Sistem informasi geografis atau pemetaan digital yang dapat diakses secara online ini memuat informasi kondisi bantaran Sungai Winongo dan Kali Buntung, titik permasalahan sampah, serta sebaran dan kondisi bank sampah dalam bentuk peta interaktif.

Program ini digagas karena Kelurahan Kricak merupakan wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di Kemantren Tegalrejo, yaitu 15.879 jiwa per kilometer persegi dari total 13.478 jiwa di lahan seluas 84,88 hektare. Sebagian permukiman di bantaran Sungai Winongo juga termasuk kawasan kumuh berdasarkan SK Wali Kota Yogyakarta Nomor 158 Tahun 2021. Observasi awal menunjukkan bahwa titik sampah liar serta kondisi bantaran Sungai Winongo dan Kali Buntung belum dipetakan secara sistematis, sehingga belum tersedia alat bantu visual untuk menentukan prioritas penanganan.

Diandra Keisya Jihan Feriska dari Program Studi S1 Teknik Geodesi, Fakultas Teknik UGM, selaku penanggung jawab program, mengatakan bahwa WebGIS dikembangkan agar informasi lingkungan dapat dihimpun dalam satu basis data spasial yang mudah diakses dan diperbarui. “Kami ingin membantu masyarakat maupun kelurahan melihat kondisi lingkungan secara lebih menyeluruh, mulai dari kondisi bantaran sungai dan titik permasalahan sampah hingga sebaran bank sampah. Harapannya, data ini tidak hanya menjadi dokumentasi selama KKN, tetapi juga dapat terus diperbarui sebagai pertimbangan dalam menentukan tindak lanjut pengelolaan lingkungan di Kelurahan Kricak,” jelasnya dalam rilis yang dikirimkan pada Jumat (28/8).

Survei dilaksanakan pada akhir Juni hingga awal Juli 2026 di bantaran Sungai Winongo dan Kali Buntung secara partisipatif bersama warga. Dari survei ini, ditemukan data mengenai lokasi dan tingkat penumpukan sampah, kondisi fisik bantaran, akses menuju sungai, aktivitas masyarakat, serta dokumentasi foto yang dihimpun menggunakan ODK Collect, kemudian divalidasi dan diolah dengan QGIS serta qgis2web. Tantangan terbesar muncul pada segmen selatan Sungai Winongo dan Kali Buntung karena beberapa titik sempit, menurun, tertutup vegetasi, serta berbatasan langsung dengan permukiman padat. Warga pun turut mendampingi dan menunjukkan lokasi penumpukan sampah sehingga data lebih akurat. WebGIS ini dilengkapi statistik ringkas, heatmap, klasifikasi prioritas penanganan, dokumentasi foto, fasilitas pengunduhan data, serta formulir pelaporan titik sampah baru dan dipublikasikan melalui GitHub Pages.

Setelah itu, Tim KKN-PPM UGM pun turut mengembangkan WebGIS Pemetaan dan Optimalisasi Sebaran Bank Sampah Kelurahan Kricak. Selesai penelusuran informasi publik dan koordinasi dengan Ketua Forum Bank Sampah serta pengelola di tiap RW, survei dilaksanakan di 13 RW menggunakan QField. Survei menemukan satu unit bank sampah di RW 6 sudah tidak aktif sejak awal 2026. Sementara itu, sejumlah bank sampah lain aktif mengembangkan inovasi, seperti pengolahan sampah organik menjadi eco enzyme dan biopori serta kerajinan dari sampah anorganik. Bank sampah RW 5 juga memperoleh bantuan mesin pencacah sampah organik berkat prestasinya dalam berbagai lomba pengelolaan sampah.

Data dari 15 unit bank sampah meliputi lokasi, status operasional, jadwal pelayanan, jenis sampah yang diterima, fasilitas, cakupan layanan, serta potensi pengembangan. Data tersebut dilengkapi dokumentasi foto dan tautan Google Maps serta diintegrasikan dengan batas administrasi 13 RW. WebGIS Sebaran Bank Sampah dipublikasikan melalui GitHub Pages pada 23 Juli 2026 dan dilengkapi dengan ikon bank sampah, heatmap, statistik, serta rekomendasi lokasi. Data bank sampah dapat diperbarui melalui QField, sedangkan data titik sampah dan kondisi bantaran sungai melalui ODK Collect.

Untuk memperluas akses masyarakat, hasil pemetaan disosialisasikan melalui poster ber-QR Code yang memuat petunjuk singkat penggunaan WebGIS. Poster dipasang di enam titik strategis di Kampung Jatimulyo, Kricak Kidul, dan Bangunrejo agar mudah dilihat dan diakses oleh warga. Program ini pun menjadi bagian dari upaya KKN-PPM UGM Winongo Warawangsa dalam mendorong pengelolaan lingkungan yang berbasis data, partisipatif, dan berkelanjutan di Kelurahan Kricak. Warga setempat pun mengapresiasi pengembangan tersebut, seperti yang diungkapkan oleh Bapak Yuri, perangkat Kelurahan Kricak. “WebGIS ini membantu melihat kondisi lingkungan, titik sampah, dan sebaran bank sampah dalam satu platform. Kami berharap data ini dapat terus diperbarui dan dimanfaatkan untuk mendukung dalam menentukan prioritas penanganan lingkungan di Kelurahan Kricak,” harapnya.

Reportase : Diandra Keisya Jihan Feriska/Tim KKN

Penulis : Leony

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Tim KKN-PPM UGM

Artikel Dukung Pengelolaan Lingkungan Berbasis Data, Tim KKN UGM kembangkan WebGIS  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dukung-pengelolaan-lingkungan-berbasis-data-tim-kkn-ugm-kembangkan-webgis/feed/ 0
Gagas Pertanian Urban Hemat Energi, Tim Mahasiswa UGM Manfaatkan Surya dan Kelembapan Udara https://ugm.ac.id/id/berita/gagas-pertanian-urban-hemat-energi-tim-mahasiswa-ugm-manfaatkan-surya-dan-kelembapan-udara/ https://ugm.ac.id/id/berita/gagas-pertanian-urban-hemat-energi-tim-mahasiswa-ugm-manfaatkan-surya-dan-kelembapan-udara/#respond Fri, 28 Aug 2026 08:31:11 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97045 Praktik bercocok tanam di kawasan kota besar dengan memanfaatkan lahan yang terbatas menjadi tantangan tersendiri dalam menjalan konsep pertanian urban. Di tengah menjamurnya gedung bertingkat dan pencakar langit menyebabkan pertanian urban ini membutuhkan pasokan air dan listrik yang tidak sedikit. Lima mahasiswa UGM menawarkan gagasan inovasi yang mereka namakan Aurora yang merupakan kependekan dari Autonomous […]

Artikel Gagas Pertanian Urban Hemat Energi, Tim Mahasiswa UGM Manfaatkan Surya dan Kelembapan Udara pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Praktik bercocok tanam di kawasan kota besar dengan memanfaatkan lahan yang terbatas menjadi tantangan tersendiri dalam menjalan konsep pertanian urban. Di tengah menjamurnya gedung bertingkat dan pencakar langit menyebabkan pertanian urban ini membutuhkan pasokan air dan listrik yang tidak sedikit.

Lima mahasiswa UGM menawarkan gagasan inovasi yang mereka namakan Aurora yang merupakan kependekan dari Autonomous Utility for Renewable Resources, sebuah alat atau sistem yang terintegrasi dengan panel surya dan alat kondensasi air untuk menghadirkan sistem pertanian vertikal yang lebih mandiri, efisien, dan terintegrasi.

Inovasi tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas disiplin mahasiswa UGM yang terbentuk dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Video Gagasan Konstruktif (PKM-VKG). Tim tersebut terdiri dari Orva Linnisa Husaina (S1 Teknik Fisika) sebagai ketua tim bersama keempat rekan lintas jurusannya, yakni Rayhana Azzahra Kusmana (S1 Farmasi), Arfa Fadilah Ramadhan (S1 Teknik Kimia), Nayaka Sandya Kesuma (D4 Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan kontrol), dan Faqih Zulfikar Alkaha (S1 Teknik Elektro) yang dibimbing oleh Budi Sumanto, S.Si, M.Eng, dosen Teknik Elektro dan Informatika, SV, UGM.

Orva mengatakan ide besar di balik pengembangan Aurora bermula dari keprihatinan mendalam mereka atas persoalan yang kerap ditemui dalam sektor pertanian modern saat ini. Menurutnya, pertanian urban masih bergantung pada pasokan air dan listrik dari luar, sementara itu pengelolaan kondisi tanaman, seperti mengukur kadar pH, nutrisi, suhu, kualitas air, hingga kondisi tanaman, juga banyak dilakukan secara manual.

Lebih jauh ia menjelaskan mekanisme kerja dari gagasan inovasi Aurora dengan penyediaan energi terbarukan melalui panel surya bifacial berdaya guna tinggi, produksi air mandiri lewat Atmospheric Water Generator (AWG) berbasis kondensasi, hingga pemanfaatan struktur bangunan melalui konsep green passive building guna mengoptimalkan ruang di tengah menjamurnya gedung-gedung pencakar langit. “Distribusi energi dan irigasi dikelola secara real-time berbasis AI-IoT, lengkap dengan kontrol otomatis untuk kapasitas, nutrisi, pH, suhu air, hingga kesehatan tanaman,” jelas Orva, Jumat (28/8).

Rayhana, anggota tim lainnya, menuturkan bahwa inovasi ini dikemas dan disampaikan melalui sebuah Video Gagasan Konstruktif. Format visual ini dipilih agar konsep gagasan dapat divisualisasikan dengan lebih mudah dan menarik bagi masyarakat luas maupun dewan juri. Dalam video tersebut, pihaknya memadukan teknik sinematografi dan storytelling yang kuat, serta didukung oleh visualisasi animasi 3D dan tracking augmented reality (AR) game user interface (UI). “Melalui perpaduan ini, penonton bisa melihat cara kerja Aurora secara visual,” ujar Rayhana.

Rayhan pun berharap inovasi Aurora ini tidak berhenti sekadar sebagai sebuah gagasan kompetisi, melainkan menjadi pemantik semangat bagi generasi muda untuk terus menghadirkan solusi nyata bagi permasalahan bangsa. “Ketahanan pangan, air, dan energi Indonesia kelak berada di tangan inovasi-inovasi yang inklusif dan berkelanjutan.” pungkasnya.

Penulis : Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Tim PKM

Artikel Gagas Pertanian Urban Hemat Energi, Tim Mahasiswa UGM Manfaatkan Surya dan Kelembapan Udara pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/gagas-pertanian-urban-hemat-energi-tim-mahasiswa-ugm-manfaatkan-surya-dan-kelembapan-udara/feed/ 0
Bantu Petani, Mahasiswa UGM Kembangkan Inovasi Deteksi Cepat Penyakit Cabai https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-petani-mahasiswa-ugm-kembangkan-inovasi-deteksi-cepat-penyakit-cabai/ https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-petani-mahasiswa-ugm-kembangkan-inovasi-deteksi-cepat-penyakit-cabai/#respond Fri, 28 Aug 2026 04:38:24 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97027 Permasalahan gagal panen para petani cabai kerap disebabkan oleh virus yang menyerang tanaman saat dewasa. Virus kuning atau Pepper Yellow Leaf Curl Indonesian Virus (PYLCIV) merupakan virus yang menyerang tanaman cabai dan meninggalkan ciri-ciri mencolok berupa daun berwarna kekuningan. Penanganan yang dilakukan sering kali terlambat karena gejala muncul saat tanaman cabai akan dipanen. Berangkat dari […]

Artikel Bantu Petani, Mahasiswa UGM Kembangkan Inovasi Deteksi Cepat Penyakit Cabai pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Permasalahan gagal panen para petani cabai kerap disebabkan oleh virus yang menyerang tanaman saat dewasa. Virus kuning atau Pepper Yellow Leaf Curl Indonesian Virus (PYLCIV) merupakan virus yang menyerang tanaman cabai dan meninggalkan ciri-ciri mencolok berupa daun berwarna kekuningan. Penanganan yang dilakukan sering kali terlambat karena gejala muncul saat tanaman cabai akan dipanen.

Berangkat dari hal tersebut, lima mahasiswa UGM yang tergabung dalam Tim SPECTRA dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) mengembangkan inovasi deteksi dini pada tanaman cabai sebagai langkah awal untuk mengetahui status penyakit menggunakan sensor multispektral dan analisis machine learning. Kelima mahasiswa yang berasal dari berbagai jurusan tersebut yaitu Hasan Rabbani (S1 Fisika) sebagai ketua tim, beserta empat anggota lainnya, yaitu Nur Johan Pratama (S1 Proteksi Tanaman), Priamitra Aditiya Satriamukti (S1 Proteksi Tanaman), Saktian Hutama (S1 Biologi), dan Zaskia Fakhira Priatna (S1 Biologi), dengan Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si., dosen sekaligus dekan FMIPA UGM sebagai pembimbing.

Di tahap awal penelitian ini adalah dengan menumbuhkan 30 buah tanaman cabai sebagai sampel di wilayah Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta. Lokasi ini dipilih karena letaknya berada di kaki Gunung Merapi, sehingga sangat cocok untuk pertumbuhan tanaman. “Cabai harus ditanam di lingkungan dengan suhu harian yang normal, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, agar menghasilkan daun sehat dan dapat dianalisis sebagai sampel. Hal ini bertujuan agar hasil penelitian akurat,” ujar Priamitra, selaku anggota tim dalam rilis yang dikirimkan Jumat (28/8).

Sebanyak setengah dari total tanaman tersebut ditumbuhkan secara sehat di dalam kandang dengan perawatan rutin seperti penyiraman dan pemberian pupuk. Sedangkan sisanya akan dijadikan sampel yang akan diuji ke dalam tiga tahapan pokok. Selanjutnya, tim melakukan pemeliharaan kutu kebul di dalam kandang, dilanjutkan dengan penularan dengan virus kuning yang dibawa oleh kutu kebul. Kemudian, setelah kedua tahapan itu selesai, tahap terakhir adalah analisis menggunakan sensor multispektral dan machine learning.

Hasil sementara penelitian ini menunjukkan bahwa kutu kebul membawa virus kuning dan dapat menularkan tanaman cabai sehat. Selanjutnya daun dari masing-masing tanaman cabai, baik yang tertular virus maupun tidak, selanjutnya diuji menggunakan polymerase chain reactions (PCR) untuk mengetahui status penyakit secara valid. Setelah dipastikan, langkah berikutnya adalah pengambilan data dari daun tanaman cabai menggunakan sensor multispektral dan dilanjutkan dengan machine learning.

Cara kerja sensor ini sebenarnya cukup mudah, yaitu dengan menjepit daun menggunakan alat multispektral selama lima detik hingga keluar grafik pembacaan. Karakteristik cahaya yang dipantulkan oleh daun dapat digunakan untuk membedakan kondisi tanaman cabai yang sehat (tidak tertular virus kuning) atau sakit (tertular virus kuning). “Model yang dikembangkan juga mampu mencapai tingkat ketepatan hampir 80% untuk membedakan dua kondisi tersebut,” katanya.

Hasan selaku ketua tim menyebutkan bahwa penelitian ini penting dilakukan mengingat cara deteksi penyakit pada tanaman cabai, khususnya virus kuning, masih dilakukan secara sederhana dengan melihat langsung kondisi daun. Sekalipun bisa dilakukan analisis PCR, tidak dapat dipungkiri bahwa biaya yang dikeluarkan relatif besar dan perlu kemampuan khusus untuk mengoperasikannya. Terlebih, para petani memerlukan terobosan yang efisien, fleksibel, dan tentunya terjangkau. “Tujuan dari penelitian selama empat bulan ini sebenarnya untuk mengetahui sejauh mana sensor multispektral mampu mendeteksi tanaman cabai yang terserang virus kuning. Uji PCR dilakukan untuk memvalidasi bahwa sensor multispektral yang digunakan bekerja dengan baik,” pungkasnya.

Luaran penelitian ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara sensor multispektral dan machine learning berpotensi menjadi cara baru untuk mendeteksi serangan virus pada tanaman cabai secara lebih cepat tanpa merusak tanaman. Hasan dan tim pun berharap agar ke depannya inovasi ini dapat berkembang lebih baik dan dapat dimanfaatkan oleh  seluruh lapisan masyarakat, khususnya para petani.

Penulis: Leony

Editor: Gusti Grehenson

Foto: Dok. PKM

Artikel Bantu Petani, Mahasiswa UGM Kembangkan Inovasi Deteksi Cepat Penyakit Cabai pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-petani-mahasiswa-ugm-kembangkan-inovasi-deteksi-cepat-penyakit-cabai/feed/ 0
Gelanggang Expo Resmi Dibuka, Yuk Kenali Ragam UKM dan Komunitas Kampus https://ugm.ac.id/id/berita/gelanggang-expo-resmi-dibuka-yuk-kenali-ragam-ukm-dan-komunitas-kampus/ https://ugm.ac.id/id/berita/gelanggang-expo-resmi-dibuka-yuk-kenali-ragam-ukm-dan-komunitas-kampus/#respond Fri, 28 Aug 2026 03:30:24 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97015 Rangkaian kegiatan Gelanggang Expo (Gelex) Universitas Gadjah Mada resmi dibuka pada Kamis (27/8) di Lapangan Pancasila. Mengusung tema Gelora Imaji Gelanggang, Gelex tahun 2026 membawa ragam inovasi yang menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal, mengeksplorasi, dan mengembangkan minat, bakat, serta potensi diri melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan komunitas di lingkungan UGM. Pelaksanaan Gelex 2026 […]

Artikel Gelanggang Expo Resmi Dibuka, Yuk Kenali Ragam UKM dan Komunitas Kampus pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Rangkaian kegiatan Gelanggang Expo (Gelex) Universitas Gadjah Mada resmi dibuka pada Kamis (27/8) di Lapangan Pancasila. Mengusung tema Gelora Imaji Gelanggang, Gelex tahun 2026 membawa ragam inovasi yang menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal, mengeksplorasi, dan mengembangkan minat, bakat, serta potensi diri melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan komunitas di lingkungan UGM.

Pelaksanaan Gelex 2026 melibatkan berbagai unsur dalam ekosistem kegiatan kemahasiswaan UGM. Sebanyak 224 panitia terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan yang diikuti 54 UKM, 24 komunitas, dan 635 penampil. Keterlibatan tersebut menunjukkan kolaborasi berbagai pihak dalam menghadirkan ruang bagi mahasiswa untuk berinteraksi dan mengenal lebih dekat kehidupan kemahasiswaan di luar ruang kelas.

Ketua Pelaksana Gelex 2026, Muhammad Bintang Arrizki, mengatakan Gelex tidak hanya diselenggarakan sebagai agenda pengenalan UKM kepada mahasiswa. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang bagi UKM dan komunitas untuk bertemu, bersinergi, dan berkolaborasi dalam menciptakan pengalaman yang dapat mendukung proses pengembangan diri mahasiswa. “Gelanggang Expo bukan hanya acara pengenalan UKM. Gelanggang Expo adalah tempat teman-teman UKM dan komunitas bersinergi dan berkolaborasi,” ujarnya.

Menurutnya, sinergi dan kolaborasi yang dibangun dalam Gelex diharapkan dapat membantu mahasiswa, khususnya mahasiswa baru, dalam menemukan jati diri, minat dan bakat, serta mengembangkan keterampilan sosial. Kehadiran berbagai UKM dan komunitas sekaligus memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menemukan lingkungan yang sesuai dengan ketertarikan dan potensi masing-masing. “Harapannya sinergi dan kolaborasi itu dapat membantu mahasiswa, terkhususnya mahasiswa baru, untuk dapat menemukan jati diri, minat bakat, social skill, dan juga membantu untuk menjunjung tinggi nilai kebogeman, yaitu mengakar kuat menjulang tinggi,” katanya.

Bintang menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan. Ia berharap kolaborasi yang telah dibangun dalam Gelex dapat terus memberikan manfaat dan menjadi bagian dari ingatan kolektif mahasiswa UGM. “Harapannya nilai-nilai kegelanggangan dapat terus menjadi ingatan kolektif, yang terus membanggakan, yang terus menjadi kenangan ke generasi-generasi mendatang,” pungkasnya.

Ketua Forum Komunikasi Unit Kegiatan Mahasiswa (Forkom UKM) UGM, Muhammad Arief Maulana, dalam sambutannya menyampaikan jika UKM tidak hanya menjadi organisasi pendukung kegiatan kampus. Menurutnya, berbagai proses yang berlangsung di dalam UKM memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran akademik. “Di dalamnya banyak proses berpikir, menelaah, dan menelisik banyak pengetahuan dan pengalaman secara aktual,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwasannya kehidupan kampus tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga mencakup pengalaman mahasiswa dalam menghadapi perbedaan, membangun kerja sama, mempertanggungjawabkan keputusan, serta menjalani peran sebagai pemimpin maupun anggota.

Menurutnya, keterampilan yang kerap disebut sebagai soft skill tidak selalu diperoleh melalui pelatihan atau seminar. Pengalaman tersebut justru dapat tumbuh melalui berbagai persoalan dan situasi nyata yang dihadapi mahasiswa ketika terlibat dalam organisasi.

Dalam konteks tersebut, Gelex menjadi titik awal bagi mahasiswa untuk mengenal berbagai pilihan kegiatan kemahasiswaan yang tersedia di UGM. Mahasiswa tidak hanya dapat melihat dan mengenali UKM, tetapi juga memiliki kesempatan untuk bertanya dan menemukan lingkungan yang dapat menjadi ruang untuk berkembang. “Gelanggang Expo menjadi wadah pertama untuk teman-teman memulai perjalanan tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr. Hempri Suyatna, S.Sos., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada Forkom UKM dan panitia Gelex 2026 yang telah mempersiapkan kegiatan tersebut. Ia mengatakan Gelex merupakan agenda rutin yang diselenggarakan sebagai bagian dari upaya mengenalkan UKM dan komunitas kepada mahasiswa UGM. “Acara Gelanggang Expo adalah acara rutinitas yang memang digelar oleh teman-teman Forkom UKM sebagai bagian upaya dari pengenalan unit-unit kegiatan mahasiswa dan juga komunitas yang ada di lingkungan Universitas Gadjah Mada,” jelasnya.

Ia menyebut UGM memiliki 76 UKM dan komunitas dengan bidang kegiatan yang beragam, mulai dari kerohanian, olahraga, seni, hingga kegiatan khusus serta berbagai aktivitas yang berkaitan dengan prestasi maupun nonprestasi. Keberagaman tersebut, menurutnya, memberikan banyak pilihan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan di luar bidang akademik. “Artinya ini menjadi sebuah wadah penting bagi teman-teman, khususnya mahasiswa baru, untuk kemudian menempuh student journey soft skill yang akan ditempuh di Universitas Gadjah Mada ini,” katanya.

Hempri menekankan proses belajar mahasiswa tidak terbatas pada capaian akademik. Pengalaman berinteraksi dengan orang lain, mengenal lingkungan, serta terlibat dalam organisasi juga menjadi bagian dari proses pembentukan mahasiswa selama berada di UGM. “Belajar tidak harus di kelas, belajar saya kira bisa kemudian di luar arena kelas,” ungkapnya.

Menurutnya, mahasiswa tidak hanya perlu mengukur keberhasilan melalui indeks prestasi. Pengalaman sosial yang diperoleh melalui organisasi juga penting untuk membentuk kemampuan mahasiswa dalam mengenal sesama, memahami lingkungan, serta mengembangkan karakter.

Bagi mahasiswa baru, Gelex menjadi salah satu tahap lanjutan setelah mengikuti rangkaian PIONIR. Melalui Gelex, mahasiswa dapat mengenali lebih jauh berbagai organisasi kemahasiswaan, UKM, dan komunitas yang ada di lingkungan UGM sebelum menentukan kegiatan yang ingin diikuti. “Gelanggang Expo ini menjadi sebuah wadah teman-teman untuk mengenali dan nanti menjadi anggota bagi UKM dan komunitas yang ada di Universitas Gadjah Mada yang ada saat ini,” tutur Hempri.

Ia juga mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan berbagai UKM dan komunitas sebagai ruang pengembangan soft skill dan karakter. UGM, lanjutnya, tengah mengarahkan pengembangan karakter mahasiswa melalui karakter “BERANI”, yang mencakup bernalar, etis, relasional, adaptif, nyata berdampak, serta inklusif dan inisiatif.

Selain menjadi ruang pengenalan UKM dan komunitas, Gelex 2026 juga menghadirkan sejumlah kegiatan yang dirancang lebih interaktif. Berdasarkan penjelasan pembawa acara, rangkaian kegiatan selama tiga hari, 27–29 Agustus 2026, menghadirkan sejumlah inovasi yang memungkinkan mahasiswa berinteraksi secara langsung dengan UKM maupun komunitas.

Pada hari pertama dan ketiga, Gelex menghadirkan panggung olahraga yang menampilkan UKM dari bidang olahraga. Mahasiswa dapat menyaksikan berbagai penampilan sekaligus berinteraksi dengan anggota UKM untuk mengetahui lebih jauh kegiatan yang mereka jalankan.

Sementara itu, pada hari kedua akan digelar parade UKM yang melibatkan 162 peserta dari 54 UKM. Parade tersebut menjadi salah satu inovasi Gelex 2026 untuk menghadirkan UKM secara lebih interaktif kepada mahasiswa dengan mengelilingi area penyelenggaraan Gelex.

Selain parade dan panggung olahraga, Gelex 2026 juga menghadirkan Bingkai Kelana dan Kolase Imaji yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk menikmati rangkaian acara Gelex 2026.  Lalu, berbagai tenant komunitas turut hadir untuk melengkapi kegiatan. Area makanan dan minuman atau F&B dan sejumlah sekber UKM tersebar di beberapa bagian venue. Kehadiran berbagai ruang dan aktivitas tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pengunjung, tetapi juga terlibat secara langsung dalam proses mengenal UKM dan komunitas. Mahasiswa dapat bertanya mengenai kegiatan, pengalaman, maupun kesempatan bergabung sebelum menentukan pilihan sesuai dengan minat dan bakatnya.

Aspek keamanan dan kenyamanan pengunjung juga menjadi bagian dari pelaksanaan Gelex. Panitia menyediakan sistem sinyal SOS dengan tiga penanda warna untuk membantu pengunjung ketika menghadapi situasi tertentu. Sinyal merah digunakan untuk kendala medis, hijau untuk laporan pelecehan seksual, dan biru untuk kondisi yang berkaitan dengan kejahatan.

Penulis : Zabrina Kumara

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Gelanggang Expo Resmi Dibuka, Yuk Kenali Ragam UKM dan Komunitas Kampus pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/gelanggang-expo-resmi-dibuka-yuk-kenali-ragam-ukm-dan-komunitas-kampus/feed/ 0
Sokong Laju Ekonomi, Peneliti UGM Petakan 3 Kategori UMKM Paling Potensial https://ugm.ac.id/id/berita/sokong-laju-ekonomi-peneliti-ugm-petakan-3-kategori-umkm-paling-potensial/ https://ugm.ac.id/id/berita/sokong-laju-ekonomi-peneliti-ugm-petakan-3-kategori-umkm-paling-potensial/#respond Fri, 28 Aug 2026 03:02:45 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97012 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia dengan jumlah sekitar 64,2 juta unit usaha, berkontribusi 60,51 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja nasional. Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan strategisnya UMKM bagi penghidupan masyarakat sekaligus perekonomian nasional. Tetapi dibalik angka tersebut, masih banyak UMKM […]

Artikel Sokong Laju Ekonomi, Peneliti UGM Petakan 3 Kategori UMKM Paling Potensial pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia dengan jumlah sekitar 64,2 juta unit usaha, berkontribusi 60,51 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja nasional. Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan strategisnya UMKM bagi penghidupan masyarakat sekaligus perekonomian nasional. Tetapi dibalik angka tersebut, masih banyak UMKM yang tumbuh bukan karena melihat peluang usaha, melainkan sebagai pilihan untuk bertahan di tengah keterbatasan pekerjaan dan tekanan ekonomi.

Peneliti Senior Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM, Dr. Eddy Kiswanto, S.Si., M.Si., menuturkan bahwa UMKM memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia karena menjadi salah satu sektor yang relatif mampu bertahan ketika terjadi guncangan ekonomi. Kemunculan usaha-usaha baru, termasuk setelah terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), kerap menjadi strategi masyarakat untuk mempertahankan penghidupan rumah tangga. “Ketika terjadi masalah perekonomian, akan memunculkan usaha-usaha baru. Menjadi jalan keluar untuk tetap bisa menghidupi rumah tangganya. Pilihannya adalah di sektor informal, dalam hal ini UMKM,” jelas Eddy dalam podcast Popcorn Population Corner PSKK UGM bertajuk Tantangan UMKM: dari Survival Net menuju Wealth Creator, Kamis (27/8).

Ia menjelaskan bahwa UMKM tidak dapat dipandang sebagai kelompok usaha yang seragam. Berdasarkan karakteristiknya, terdapat tiga lapisan UMKM, yakni UMKM sebagai pilihan karena melihat peluang, UMKM sebagai strategi bertahan karena keterbatasan memperoleh pekerjaan formal, serta UMKM sebagai mesin pencipta kekayaan.

Menurutnya, UMKM yang telah masuk dalam kategori wealth creator atau mesin pencipta kekayaan tidak hanya berorientasi pada besarnya omzet. Usaha tersebut mampu menghasilkan laba, mengakumulasi aset, meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, serta menciptakan lapangan pekerjaan. Sebaliknya, UMKM yang masih berada pada tahap survival cenderung menggunakan pendapatan usaha untuk memenuhi kebutuhan operasional dan rumah tangga sehingga surplus yang tersedia untuk investasi masih terbatas. “Kalau survival itu mengejar omzet, sementara wealth creator itu mengejar profit dan nilai. Dari sisi pemilik, survival masih bekerja dalam usaha, sedangkan wealth creator membangun sistem usaha,” jelasnya.

Perubahan tersebut, kata Eddy, juga ditandai dengan kemampuan pelaku usaha untuk menginvestasikan kembali laba, memperluas pasar, meningkatkan produktivitas, serta membangun sistem yang memungkinkan bisnis tetap berjalan tanpa ketergantungan penuh kepada pemilik. Tenaga kerja tidak lagi dipandang semata sebagai biaya, tetapi sebagai human capital yang berperan dalam meningkatkan kapasitas usaha. Karena itu, ia menilai keberhasilan kebijakan UMKM tidak cukup diukur dari jumlah pelaku usaha yang memperoleh pembiayaan, pelatihan, sertifikasi, maupun akses promosi. “Ukuran yang lebih penting adalah dampak intervensi tersebut terhadap pertumbuhan usaha,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah sebenarnya telah memiliki berbagai program untuk mendukung UMKM, mulai dari pembiayaan, pengembangan kapasitas, akses pasar, penyederhanaan regulasi hingga digitalisasi. Akan tetapi, ia menyebut bahwa berbagai program tersebut perlu terintegrasi dan diikuti pemantauan jangka panjang untuk memastikan UMKM benar-benar mengalami peningkatan omzet, laba, produktivitas, aset, tenaga kerja, maupun kenaikan kelas usaha. “Ketika UMKM mendapatkan kredit, pelatihan, sertifikat, masuk marketplace, atau mengikuti pameran, biasanya sudah dikategorikan berhasil. Tetapi itu baru output. Pertanyaan pentingnya adalah bagaimana outcome nya?,” ujarnya.

Ia pun mendorong agar pemerintah dapat membangun jalur pertumbuhan bagi UMKM yang dimulai dari formalisasi usaha, peningkatan kapasitas, akses pembiayaan, peningkatan produktivitas, perluasan pasar, kemitraan, hingga ekspansi dan kenaikan kelas. Kebijakan juga perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tahap perkembangan UMKM, bukan menggunakan pendekatan one size fits all. “Pertanyaannya jangan lagi berapa banyak UMKM yang dibantu, tetapi berapa banyak UMKM yang telah dibantu dan benar-benar tumbuh,” tuturnya.

Lalu pada para pelaku usaha, ia mendorong perubahan orientasi dari sekadar mempertahankan usaha menjadi membangun usaha yang tumbuh dan menciptakan nilai. Menurutnya, pelaku UMKM perlu mengenali pasar sebelum meningkatkan produksi, mengelola keuangan secara profesional, memanfaatkan teknologi, menginvestasikan kembali sebagian keuntungan, serta membangun sistem usaha yang tidak bergantung sepenuhnya pada pemilik. Sementara itu, pemerintah perlu memastikan dukungan pembiayaan berjalan bersama penciptaan pasar. “Pemerintah tidak hanya memberikan modal, tetapi juga harus memastikan adanya pasar. Ada istilah market first, finance follow. Artinya, ciptakan pasar terlebih dahulu, uang akan mengikuti,” ucapnya.

Eddy menegaskan, perlunya perubahan paradigma dalam memandang UMKM. Ia memandang bahwa UMKM tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai objek pemberdayaan, tetapi sebagai subjek pembangunan sekaligus mesin pertumbuhan ekonomi. “Kita tidak ingin UMKM di Indonesia hanya menjadi orang yang bekerja untuk usahanya sendiri dan untuk kebutuhannya sendiri. Kita menginginkan UMKM tumbuh menjadi bisnis yang mampu menciptakan pekerjaan, membangun aset, menciptakan nilai, dan pada akhirnya menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat yang bergerak di bidang UMKM,” pungkas Eddy.

Penulis : Cyntia Noviana

Editor : Gusti Grehenson

Foto : iStock

Artikel Sokong Laju Ekonomi, Peneliti UGM Petakan 3 Kategori UMKM Paling Potensial pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/sokong-laju-ekonomi-peneliti-ugm-petakan-3-kategori-umkm-paling-potensial/feed/ 0
Kisah Ayyub Rizqullah, Lulus Sarjana Terapan UGM di Usia 20 Tahun  https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-ayyub-rizqullah-lulus-sarjana-terapan-ugm-di-usia-20-tahun/ https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-ayyub-rizqullah-lulus-sarjana-terapan-ugm-di-usia-20-tahun/#respond Thu, 27 Aug 2026 07:45:25 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96992 Usianya baru 20 tahun 3 bulan 10 hari ketika Ayyub Rizqullah menyabet gelar Sarjana Terapan dari Program Studi Perbankan, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada (UGM). Pada usia tersebut, ia tercatat sebagai lulusan termuda di antara 672 lulusan program Sarjana Terapan yang diwisuda pada Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM, Rabu […]

Artikel Kisah Ayyub Rizqullah, Lulus Sarjana Terapan UGM di Usia 20 Tahun  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Usianya baru 20 tahun 3 bulan 10 hari ketika Ayyub Rizqullah menyabet gelar Sarjana Terapan dari Program Studi Perbankan, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada (UGM). Pada usia tersebut, ia tercatat sebagai lulusan termuda di antara 672 lulusan program Sarjana Terapan yang diwisuda pada Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM, Rabu (19/8). Padahal usia rata-rata lulusan Program Sarjana Terapan yang diwisuda kalli ini adalah 22 tahun 6 bulan 15 hari

Ayyub, panggilan akrabnya, menceritakan bahwa capaian tersebut merupakan buah dari komitmen dan motivasi yang ia pegang selama duduk di bangku perkuliahan. Baginya, dukungan penuh dari keluarga menjadi salah satu dorongan terbesarnya demi memberikan yang terbaik selama menjalani studi di Prodi Perbankan UGM.

Berkat dorongan orang tua, Ayyub berusaha menentukan prioritas selama kuliah. Meski ia paham betul bahwa perjalanan perkuliahannya tak selalu berjalan mulus. Ada kalanya ia menghadapi berbagai tantangan dan merasa kewalahan, terutama saat menyusun tugas akhir. Ayyub menceritakan, ia bahkan mulai mencari referensi lebih awal agar memiliki gambaran mengenai tahapan yang perlu dilalui dalam penyusunan tugas akhir. “Aku tahu tujuan awalku. Aku mau lulus tepat waktu, jadi aku harus dedikasikan waktuku lebih, khususnya dalam penyusunan tugas akhir,” katanya, Kamis (27/8).

Meski menargetkan lulus tepat waktu, Ayyub tak lantas membatasi dirinya berkutat hanya pada kegiatan di ruang kuliah. Ketertarikannya pada bidang finansial juga membawanya bergabung dengan Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) di Departemen Ekonomika dan Bisnis SV UGM. Tak hanya itu, ia juga mengambil pekerjaan paruh waktu di Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) dan bergabung pada divisi yang berfokus pada pemberdayaan UMKM.

Tak berhenti di situ, Ayyub juga sempat mengikuti Trading Competition yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2023. Bersama seorang rekannya, ia berhasil meraih juara tiga dalam kompetisi tersebut. “Selama bangku perkuliahan, kita kan hanya mendapat teori. Lewat ikut kegiatan-kegiatan seperti ini, aku bisa mendapat pengalaman praktis,” kenangnya.

Kini, setelah menyelesaikan pendidikan di Program Studi Perbankan, Ayyub ingin segera terjun ke dunia kerja untuk merasakan pengalaman bekerja secara langsung, khususnya di bidang perpajakan. Ketertarikannya pada bidang tersebut turut didukung oleh sertifikasi perpajakan yang telah ia ambil sebelum lulus. Berbekal pengetahuan yang diperoleh selama bangku kuliah serta sertifikasi tersebut, Ayyub mantap mendaftar pekerjaan yang berkaitan dengan bidang perpajakan. “Sekarang, aku ingin mencoba pengalaman bekerja di bidang perpajakan secara langsung terlebih dahulu,” sambungnya.

Di akhir wawancara, Ayyub berpesan kepada mahasiswa yang masih menjalani studi agar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang dimiliki selama berkuliah. Baginya, kesempatan menempuh pendidikan di UGM merupakan sebuah privilege lantaran tidak banyak orang yang berpeluang untuk studi di UGM.  Karena itu, waktu yang ada semestinya dimanfaatkan sebaik mungkin, termasuk dengan memilih lingkungan pertemanan yang mendukung sekaligus tetap menikmati proses perkuliahan. “Jangan sia-siakan waktu yang berharga ini. Pandai-pandai pilih teman, gunakan waktu sebaik mungkin, dan juga nikmati perkuliahannya,” pesannya.

Penulis : Agito Sitepu

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Ayyub

Artikel Kisah Ayyub Rizqullah, Lulus Sarjana Terapan UGM di Usia 20 Tahun  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-ayyub-rizqullah-lulus-sarjana-terapan-ugm-di-usia-20-tahun/feed/ 0