SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/sdg-8-pekerjaan-layak-dan-pertumbuhan-ekonomi/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Sat, 29 Aug 2026 01:36:56 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 Ekonom UGM: Koperasi Butuh Integritas, Bukan Sekadar Kuantitas  https://ugm.ac.id/id/berita/ekonom-ugm-koperasi-butuh-integritas-bukan-sekadar-kuantitas/ https://ugm.ac.id/id/berita/ekonom-ugm-koperasi-butuh-integritas-bukan-sekadar-kuantitas/#respond Sat, 29 Aug 2026 01:36:56 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97065 Pemerintah berencana ingin membentuk 80.000 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai alat untuk mewujudkan amanat Pasal 33 ayat (1) UUD 1945 sekaligus mendorong perekonomian nasional yang lebih inklusif. Namun begitu, pertumbuhan jumlah koperasi perlu diikuti penguatan kapasitas, tata kelola, serta kemampuan koperasi dalam memenuhi kebutuhan anggotanya. Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM, Amirullah Setya Hardi, […]

Artikel Ekonom UGM: Koperasi Butuh Integritas, Bukan Sekadar Kuantitas  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pemerintah berencana ingin membentuk 80.000 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai alat untuk mewujudkan amanat Pasal 33 ayat (1) UUD 1945 sekaligus mendorong perekonomian nasional yang lebih inklusif. Namun begitu, pertumbuhan jumlah koperasi perlu diikuti penguatan kapasitas, tata kelola, serta kemampuan koperasi dalam memenuhi kebutuhan anggotanya.

Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM, Amirullah Setya Hardi, Ph.D., menilai tujuan pendirian KDMP untuk mendorong peningkatan kesejahteraan desa, penciptaan lapangan kerja, hingga penekanan inflasi bagi Amirullah sangat cukup membebani pengelola Koperasi. Padahal, koperasi semestinya hanya memiliki satu tujuan utama. “Tujuan Koperasi Desa Merah Putih itu terlalu banyak. Padahal seharusnya tidak begitu, karena tujuan koperasi itu tunggal, yaitu mencukupi kebutuhan anggota. Itu saja. Kalau kebutuhan anggota terpenuhi, maka dengan sendirinya mereka akan sejahtera,” ujarnya, Sabtu (29/8).

Amirullah menyebutkan bahwa data kinerja koperasi nasional menunjukkan anomali antara kuantitas dan kualitas. Data Kementerian Koperasi mencatat modal sendiri koperasi nasional naik dari Rp105 triliun pada 2024 menjadi Rp113,46 triliun pada 2025 dan total aset naik dari Rp293,14 triliun menjadi Rp325,87 triliun. Namun, peningkatan tersebut belum diikuti pertumbuhan Sisa Hasil Usaha (SHU) yang sebanding. SHU hanya meningkat dari Rp8,1 triliun menjadi Rp8,8 triliun pada periode yang sama.

“SHU kita hanya naik dari Rp8,1 triliun menjadi Rp8,8 triliun. Coba bandingkan dengan dana yang sudah digelontorkan, kenaikannya sangat kecil. Yang justru berubah secara signifikan itu jumlah tenaga kerja dan jumlah Nomor Induk Berusahanya,” paparnya.

Kesenjangan juga terlihat dari pertumbuhan jumlah koperasi dan anggotanya. Jumlah koperasi meningkat dari 131.617 unit pada 2024 menjadi 222.462 unit pada 2025. Namun, jumlah anggota hanya bertambah dari 29.819.216 menjadi 31.850.469 orang. Sementara itu, jumlah tenaga kerja melonjak dari 669.164 menjadi 1.189.176 orang, sedangkan jumlah manajer dan karyawan relatif tidak mengalami perubahan signifikan.

Target Besar, Proses Sangat Cepat
Amirullah turut menyoroti proses pembentukan KDMP yang berlangsung dalam waktu relatif singkat. Inisiasi program dimulai pada retreat kepala daerah di Akademi Militer Magelang tanggal 21-28 Februari 2025, lalu dilanjutkan pengumuman peluncuran 80.000 koperasi desa pada Rapat Terbatas di Istana Negara tanggal 3 Maret 2025.

Tahapan legal formal pembentukan KDMP berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, dimulai dari terbitnya Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) pada 27 Maret 2025, disusul Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 2025 tentang Satuan Tugas Percepatan Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih pada 2 Mei 2025, hingga peresmian yang bertepatan dengan Hari Koperasi Nasional pada 12 Juli 2025. Dalam kurun waktu tersebut, tercatat 20.000 koperasi baru terbentuk. Jika dirata-ratakan, sekitar 666 koperasi baru terbentuk setiap hari. ‎

Menurut Amirullah, kecepatan proses tersebut nampaknya tidak diimbangi dengan kajian akademik yang memadai. Ia mengaitkan dengan  kebutuhan pembangunan infrastruktur dalam skala besar. Dari 38.064 pengajuan lahan gerai koperasi desa, biaya pembangunan rata-rata mencapai Rp3,8 miliar per unit.“Sejauh yang saya tahu dari pernyataan pejabat terkait dari berbagai media, tentang minimnya kajian yang mendasari pembentukan 80.000 koperasi desa itu. Pertanyaannya, atas dasar apa penetapan target sebesar itu, sementara di lapangan setiap unit membutuhkan biaya pembangunan gerai fisik hingga Rp3,8 miliar,” terangnya.

Aktivitas Kelembagaan Perlu Diperkuat
Data dashboard simkopdes.go.id per Juli 2026 menunjukkan dari 83.382 total koperasi yang terdaftar sebanyak 79.707 telah memiliki akun, 80.978 memiliki NPWP, dan 60.792 telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB). Dari 38.064 pengajuan lahan untuk gerai fisik, sebanyak 35.861 telah terverifikasi dengan rincian 17.462 unit sudah rampung dibangun 100 persen dan 17.933 unit lainnya masih dalam proses pembangunan.

Kendati begitu, Amirullah menyampaikan bahwa capaian administratif tersebut belum sepenuhnya diikuti aktivitas kelembagaan di lapangan. Dari 83.382 koperasi yang terdaftar, baru 50.255 unit yang tercatat telah melaksanakan Rapat Anggota Tahunan, sementara 18.750 unit lainnya belum melaksanakannya..

Amirullah juga menyoroti penentuan lokasi koperasi desa yang menurutnya perlu lebih didasarkan pada kajian kebutuhan masyarakat. Ia melihat terdapat kecenderungan lokasi koperasi ditentukan dengan logika persaingan usaha, menyerupai pola penempatan gerai ritel modern. Ia mencontohkan ada desa yang sempat menolak pembentukan koperasi karena dinilai tidak efisien secara ekonomi bagi warganya.

“Kalau kita lihat pola lokasinya, ini logikanya sama seperti minimarket yang bersaing berdekatan, bukan hasil kajian kebutuhan masyarakat. Ada desa yang menolak karena mereka sadar itu tidak efisien secara ekonomi buat mereka,” katanya.

Dorong Tata Kelola Berbasis Penta Helix
Meski terdapat sejumlah catatan, Amirullah tidak menampik bahwa program KDMP tetap memiliki potensi memberikan pada perekonomian secara agregat. Merujuk teori Keynes, pendapatan nasional terbentuk dari konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, dan ekspor neto. Ia menjelaskan kenaikan pengeluaran pemerintah untuk program koperasi desa berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi meski komponen konsumsi dan investasi belum tentu ikut naik akibat kondisi ekonomi domestik yang belum stabil.

Untuk memperkuat tata kelola, ia menawarkan konsep penta helix yang melibatkan lima pemangku kepentingan yaitu pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan media. Kelima unsur ini menurutnya idealnya berperan setara, meski dalam praktiknya interaksi tersebut dapat pula berjenjang tergantung konteks penerapannya.

Amirullah menegaskan bahwa integritas dan profesionalisme dalam menjalankan peran masing-masing pihak menjadi kunci utama keberlanjutan koperasi, jauh lebih penting daripada sekadar mengejar target jumlah.“Tercapainya kesejahteraan anggota koperasi menjadi cara untuk mencapai kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Reportase : Dwi Zhafirah Meiliani dan Kurnia Ekaptiningrum/Humas FEB

Editor       : Gusti Greheneson

Foto         : CNBC

Artikel Ekonom UGM: Koperasi Butuh Integritas, Bukan Sekadar Kuantitas  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ekonom-ugm-koperasi-butuh-integritas-bukan-sekadar-kuantitas/feed/ 0
TVS Motor Company Buka Peluang Karier Mahasiswa UGM Lewat Program Magang Strategis https://ugm.ac.id/id/berita/tvs-motor-company-buka-peluang-karier-mahasiswa-ugm-lewat-program-magang-strategis/ https://ugm.ac.id/id/berita/tvs-motor-company-buka-peluang-karier-mahasiswa-ugm-lewat-program-magang-strategis/#respond Fri, 28 Aug 2026 09:28:48 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97055 Universitas Gadjah Mada bersama dengan PT TVS Motor Company resmi menjalin kerja sama di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat serta peningkatan Sumber Daya Manusia. Nota Kesepahaman ditandatangani langsung oleh Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., dan Direktur PT TVS Motor Company Indonesia, R. Rajesh Ramani […]

Artikel TVS Motor Company Buka Peluang Karier Mahasiswa UGM Lewat Program Magang Strategis pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada bersama dengan PT TVS Motor Company resmi menjalin kerja sama di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat serta peningkatan Sumber Daya Manusia. Nota Kesepahaman ditandatangani langsung oleh Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., dan Direktur PT TVS Motor Company Indonesia, R. Rajesh Ramani pada Kamis (27/8) di Gedung Pusat UGM. Salah satu bentuk kerja sama ini yaitu program magang mahasiswa yang terbuka bagi mahasiswa UGM dari program studi Manajemen, Teknik Elektro dan Teknik Mesin.

Direktur PT TVS Motor Company Indonesia, Rajesh Ramani mengaku gembira dengan adanya perjanjian kerja sama bersama pihak universitas. Ia berharap, kerja sama ini dapat memberikan keuntungan dan manfaat bagi kedua belah pihak. Banyak alumni dari lembaga pendidikan yang sudah bekerja di TVS, tetapi supaya setiap generasinya memiliki kompetensi yang sama, maka skill-nya harus di tingkatkan. Oleh karena itu, program magang menjadi salah satu cara di mana mahasiswa yang akan dikenalkan dengan lingkungan industri yang profesional. “Saya gembira adanya kerja sama ini dan semoga kedepannya dapat menjadi lebih baik lagi,” ungkap Rajesh.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., turut menyampaikan apresiasi atas kerja sama membuka peluang magang dan beasiswa bagi mahasiswa yang akan mendapatkan manfaat langsung dengan terjun ke industri. “Industri saat ini banyak yang menggunakan mekanisme beasiswa agar mahasiswa memiliki pengalaman mendalam dengan industri yang akan menjadi tempatnya berkarier nantinya,” katanya.

Menurut Wening, sejak awal, mahasiswa UGM memang sudah dikenalkan dengan perusahaan, terjun langsung dalam projek, dan bekerja langsung di perusahaan tersebut. Selain itu, ia menyampaikan bahwa mahasiswa UGM memiliki keunggulan dalam attitude  dan sekitar 80-87 persen mahasiswa teknik UGM bekerja sesuai dengan bidang kompetensi masing-masing.

Aryo Gusdawar selaku Senior General Manager HR PT TVS Motor Company Indonesia memaparkan bahwa PT TVS Motor Company merupakan perusahaan yang dimulai dari jasa penyedia transportasi di India yang mengutamakan ketepatan waktu. Pada tahun 1980an, mereka baru memproduksi motor yang berjalan hingga sekarang. Pada 2006, mereka melakukan ekspansi di Indonesia dan secara resmi mulai beroperasi pada 2007. Pada tahun lalu, mereka berhasil memproduksi 200 ribu motor dan sebesar 98% dari total produksi pabrik di Indonesia dialokasikan untuk pasar ekspor (seperti Afrika, Amerika Latin, Asia Selatan, Timur Tengah, dan ASEAN), sementara pasar domestik Indonesia hanya menyerap sekitar 2%. TVS berada di urutan ketiga secara global dan menunjukkan tren pertumbuhan positif sebesar 0,8% pada tahun 2025–2026 di tengah kelesuan industri otomotif global.

Penulis : Jesi

Editor : Gusti Grehenson

Foto. : Donnie

Artikel TVS Motor Company Buka Peluang Karier Mahasiswa UGM Lewat Program Magang Strategis pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/tvs-motor-company-buka-peluang-karier-mahasiswa-ugm-lewat-program-magang-strategis/feed/ 0
Sokong Laju Ekonomi, Peneliti UGM Petakan 3 Kategori UMKM Paling Potensial https://ugm.ac.id/id/berita/sokong-laju-ekonomi-peneliti-ugm-petakan-3-kategori-umkm-paling-potensial/ https://ugm.ac.id/id/berita/sokong-laju-ekonomi-peneliti-ugm-petakan-3-kategori-umkm-paling-potensial/#respond Fri, 28 Aug 2026 03:02:45 +0000 https://ugm.ac.id/?p=97012 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia dengan jumlah sekitar 64,2 juta unit usaha, berkontribusi 60,51 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja nasional. Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan strategisnya UMKM bagi penghidupan masyarakat sekaligus perekonomian nasional. Tetapi dibalik angka tersebut, masih banyak UMKM […]

Artikel Sokong Laju Ekonomi, Peneliti UGM Petakan 3 Kategori UMKM Paling Potensial pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia dengan jumlah sekitar 64,2 juta unit usaha, berkontribusi 60,51 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja nasional. Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan strategisnya UMKM bagi penghidupan masyarakat sekaligus perekonomian nasional. Tetapi dibalik angka tersebut, masih banyak UMKM yang tumbuh bukan karena melihat peluang usaha, melainkan sebagai pilihan untuk bertahan di tengah keterbatasan pekerjaan dan tekanan ekonomi.

Peneliti Senior Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM, Dr. Eddy Kiswanto, S.Si., M.Si., menuturkan bahwa UMKM memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia karena menjadi salah satu sektor yang relatif mampu bertahan ketika terjadi guncangan ekonomi. Kemunculan usaha-usaha baru, termasuk setelah terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), kerap menjadi strategi masyarakat untuk mempertahankan penghidupan rumah tangga. “Ketika terjadi masalah perekonomian, akan memunculkan usaha-usaha baru. Menjadi jalan keluar untuk tetap bisa menghidupi rumah tangganya. Pilihannya adalah di sektor informal, dalam hal ini UMKM,” jelas Eddy dalam podcast Popcorn Population Corner PSKK UGM bertajuk Tantangan UMKM: dari Survival Net menuju Wealth Creator, Kamis (27/8).

Ia menjelaskan bahwa UMKM tidak dapat dipandang sebagai kelompok usaha yang seragam. Berdasarkan karakteristiknya, terdapat tiga lapisan UMKM, yakni UMKM sebagai pilihan karena melihat peluang, UMKM sebagai strategi bertahan karena keterbatasan memperoleh pekerjaan formal, serta UMKM sebagai mesin pencipta kekayaan.

Menurutnya, UMKM yang telah masuk dalam kategori wealth creator atau mesin pencipta kekayaan tidak hanya berorientasi pada besarnya omzet. Usaha tersebut mampu menghasilkan laba, mengakumulasi aset, meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, serta menciptakan lapangan pekerjaan. Sebaliknya, UMKM yang masih berada pada tahap survival cenderung menggunakan pendapatan usaha untuk memenuhi kebutuhan operasional dan rumah tangga sehingga surplus yang tersedia untuk investasi masih terbatas. “Kalau survival itu mengejar omzet, sementara wealth creator itu mengejar profit dan nilai. Dari sisi pemilik, survival masih bekerja dalam usaha, sedangkan wealth creator membangun sistem usaha,” jelasnya.

Perubahan tersebut, kata Eddy, juga ditandai dengan kemampuan pelaku usaha untuk menginvestasikan kembali laba, memperluas pasar, meningkatkan produktivitas, serta membangun sistem yang memungkinkan bisnis tetap berjalan tanpa ketergantungan penuh kepada pemilik. Tenaga kerja tidak lagi dipandang semata sebagai biaya, tetapi sebagai human capital yang berperan dalam meningkatkan kapasitas usaha. Karena itu, ia menilai keberhasilan kebijakan UMKM tidak cukup diukur dari jumlah pelaku usaha yang memperoleh pembiayaan, pelatihan, sertifikasi, maupun akses promosi. “Ukuran yang lebih penting adalah dampak intervensi tersebut terhadap pertumbuhan usaha,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah sebenarnya telah memiliki berbagai program untuk mendukung UMKM, mulai dari pembiayaan, pengembangan kapasitas, akses pasar, penyederhanaan regulasi hingga digitalisasi. Akan tetapi, ia menyebut bahwa berbagai program tersebut perlu terintegrasi dan diikuti pemantauan jangka panjang untuk memastikan UMKM benar-benar mengalami peningkatan omzet, laba, produktivitas, aset, tenaga kerja, maupun kenaikan kelas usaha. “Ketika UMKM mendapatkan kredit, pelatihan, sertifikat, masuk marketplace, atau mengikuti pameran, biasanya sudah dikategorikan berhasil. Tetapi itu baru output. Pertanyaan pentingnya adalah bagaimana outcome nya?,” ujarnya.

Ia pun mendorong agar pemerintah dapat membangun jalur pertumbuhan bagi UMKM yang dimulai dari formalisasi usaha, peningkatan kapasitas, akses pembiayaan, peningkatan produktivitas, perluasan pasar, kemitraan, hingga ekspansi dan kenaikan kelas. Kebijakan juga perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tahap perkembangan UMKM, bukan menggunakan pendekatan one size fits all. “Pertanyaannya jangan lagi berapa banyak UMKM yang dibantu, tetapi berapa banyak UMKM yang telah dibantu dan benar-benar tumbuh,” tuturnya.

Lalu pada para pelaku usaha, ia mendorong perubahan orientasi dari sekadar mempertahankan usaha menjadi membangun usaha yang tumbuh dan menciptakan nilai. Menurutnya, pelaku UMKM perlu mengenali pasar sebelum meningkatkan produksi, mengelola keuangan secara profesional, memanfaatkan teknologi, menginvestasikan kembali sebagian keuntungan, serta membangun sistem usaha yang tidak bergantung sepenuhnya pada pemilik. Sementara itu, pemerintah perlu memastikan dukungan pembiayaan berjalan bersama penciptaan pasar. “Pemerintah tidak hanya memberikan modal, tetapi juga harus memastikan adanya pasar. Ada istilah market first, finance follow. Artinya, ciptakan pasar terlebih dahulu, uang akan mengikuti,” ucapnya.

Eddy menegaskan, perlunya perubahan paradigma dalam memandang UMKM. Ia memandang bahwa UMKM tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai objek pemberdayaan, tetapi sebagai subjek pembangunan sekaligus mesin pertumbuhan ekonomi. “Kita tidak ingin UMKM di Indonesia hanya menjadi orang yang bekerja untuk usahanya sendiri dan untuk kebutuhannya sendiri. Kita menginginkan UMKM tumbuh menjadi bisnis yang mampu menciptakan pekerjaan, membangun aset, menciptakan nilai, dan pada akhirnya menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat yang bergerak di bidang UMKM,” pungkas Eddy.

Penulis : Cyntia Noviana

Editor : Gusti Grehenson

Foto : iStock

Artikel Sokong Laju Ekonomi, Peneliti UGM Petakan 3 Kategori UMKM Paling Potensial pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/sokong-laju-ekonomi-peneliti-ugm-petakan-3-kategori-umkm-paling-potensial/feed/ 0
Lepas dari Ketergantungan Bantuan, Warga Bumirejo Diajak Olah Jagung dari Keripik Hingga Briket https://ugm.ac.id/id/berita/lepas-dari-ketergantungan-bantuan-warga-bumirejo-diajak-olah-jagung-dari-keripik-hingga-briket/ https://ugm.ac.id/id/berita/lepas-dari-ketergantungan-bantuan-warga-bumirejo-diajak-olah-jagung-dari-keripik-hingga-briket/#respond Thu, 27 Aug 2026 01:38:07 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96961 Persoalan kemiskinan struktural masih dihadapi masyarakat Kalurahan Bumirejo, Kulon Progo. Sekitar 70% dari 9.000 warga masyarakat masih bergantung pada bantuan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi tersebut juga dipengaruhi ketidakpastian pendapatan karena sebagian besar masyarakat bekerja di sektor informal. Di sisi lain, Bumirejo memiliki potensi pertanian yang cukup besar, salah satunya komoditas jagung. Selama ini, […]

Artikel Lepas dari Ketergantungan Bantuan, Warga Bumirejo Diajak Olah Jagung dari Keripik Hingga Briket pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Persoalan kemiskinan struktural masih dihadapi masyarakat Kalurahan Bumirejo, Kulon Progo. Sekitar 70% dari 9.000 warga masyarakat masih bergantung pada bantuan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi tersebut juga dipengaruhi ketidakpastian pendapatan karena sebagian besar masyarakat bekerja di sektor informal. Di sisi lain, Bumirejo memiliki potensi pertanian yang cukup besar, salah satunya komoditas jagung. Selama ini, jagung masih banyak dijual dalam bentuk mentah dengan harga yang fluktuatif.

Kondisi tersebut mendorong sekelompok mahasiswa UGM yang tergabung dalam Tim PPK Ormawa  Keluarga Mahasiswa Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (Kapstra) mengembangkan diversifikasi produk berbasis jagung dengan pendekatan ekonomi sirkular dan zero waste. Beberapa produk yang dikembangkan dalam bentuk keripik jagung, sereal jagung, teh serabut jagung, dan briket bonggol jagung.“Terdapat potensi pertanian melimpah, yaitu jagung. Jagung biasanya dijual secara mentah dengan harga yang fluktuatif,” ujar Koordinator Kiara Nadya, Kamis (27/8).

Kiara menuturkan tim Kapstra menginisiasi program Synergy Corn Innovation for Rural Empowerment (Syncorn) dalam memperkuat pemberdayaan masyarakat, peningkatan kapasitas, penguatan kelembagaan, hingga perluasan akses pasar. Pengembangan usaha tersebut dilakukan melalui Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang melibatkan sejumlah kelompok masyarakat di Kalurahan Bumirejo. Kelompok yang terlibat di antaranya Kelompok Tani (KT), Kelompok Wanita Tani (KWT), Kelompok Disabilitas Kalurahan (KDK), Bina Keluarga Remaja (BKR), dan Karang Taruna.

Selain itu, tim mengajak mahasiswa dari sejumlah program studi di UGM untuk terlibat sebagai relawan. Diantaranya UKM Peduli Difabel juga menjadi mitra pendampingan bagi KDK yang tergabung dalam KUB Syncorn. Kolaborasi tersebut dilakukan seiring meningkatnya kapasitas produksi masyarakat. “Kehadiran relawan dan mitra diharapkan dapat membantu proses produksi berjalan lebih efektif sekaligus mendukung pendampingan kelompok,” ujarnya.

Selain penguatan dari sisi eksternal, tim juga melakukan monitoring dan evaluasi bersama melalui kegiatan coaching bersama Belmawa. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk melaporkan perkembangan program sekaligus memperoleh masukan bagi perbaikan pelaksanaan kegiatan.

Serangkaian agenda juga dilakukan sebagai pelengkap, seperti konsultasi bersama PLUT KUMKM Yogyakarta dan Dinas Kesehatan Kulonprogo terkait legalitas produk, serta diskusi kolaboratif bersama Rumah Zakat Yogyakarta sebagai mitra. Agenda lainnya juga berbentuk upaya pengenalan program dan pemasaran produk untuk memperluas exposure melalui penjualan daring menggunakan live shopping Tiktok dan luring dalam pop-up store Perayaan Jumat Sore yang bertempat di GIK UGM.

Salah satu tantangan yang dihadapi tim dalam pengembagnan Syncorn ini, Kiara mengungkapkan bahwa penyusunan legalitas menjadi salah satu kendala. Tahapan pengurusan yang cukup kompleks serta server yang kerap mengalami gangguan sempat menghambat proses tersebut. Namun, setelah berkolaborasi dengan Rumah Zakat, LP3H UINSUKA, dan LPPT UGM, pengurusan legalitas dapat berjalan lebih lancar. “Setelah konsultasi dan bermitra dengan Rumah Zakat, LP3H UINSUKA, dan LPPT UGM, pengurusan legalitas jadi lebih mudah karena ada pendampingan,” ungkapnya.

Menuju Kemandirian KUB

Setelah dua bulan pelaksanaan, Syncorn menunjukkan perkembangan pada kapasitas produksi dan kemampuan masyarakat dalam mengelola usaha. Aktivitas produksi berlangsung lebih konsisten dengan kapasitas yang meningkat, sementara penerapan quality control mulai diperkuat. “Proses administrasi dan legalitas sejumlah produk juga telah memasuki tahap akhir. Perkembangan tersebut menjadi salah satu modal bagi KUB untuk melanjutkan kegiatan usaha setelah program berakhir,” katanya.

Setelah memasuki exit strategy, Tim PPK Ormawa KAPSTRA berharap KUB Syncorn dapat terus berkembang tanpa bergantung pada pendampingan tim. Keberlanjutan tersebut diharapkan dapat memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Bumirejo. “Setelah exit strategy, kami berharap KUB dapat terus berjalan secara mandiri dan berkembang lebih baik untuk mengasilkan perubahan yang lebih berkelanjutan bagi peningkatan pendapatan, kemandirian, dan kesejahteraan di Kalurahan Bumirejo,” kata Kiara.

Sukarni selaku Lurah Bumirejo sekaligus Ketua KUB Syncorn berharap produk olahan jagung yang dikembangkan melalui program tersebut dapat menjadi identitas bagi wilayahnya. Menurutnya, produk seperti keripik jagung, sereal jagung, teh serabut jagung, dan briket bonggol jagung dapat memperkenalkan potensi jagung lokal kepada masyarakat yang lebih luas.“Semoga produk dapat menjadi ikon Kalurahan Bumirejo,” ujar Sukarni.

Rangkaian kegiatan pada Juli menjadi bagian dari proses membangun kemandirian masyarakat melalui penguatan kapasitas, kelembagaan, produksi, legalitas, dan pemasaran. Dengan kolaborasi yang terus diperluas, Syncorn diharapkan dapat berkembang menjadi ekosistem usaha masyarakat yang mandiri, inklusif, dan berkelanjutan di Kalurahan Bumirejo.

Penulis : Zabrina Kumara

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Kapstra

Artikel Lepas dari Ketergantungan Bantuan, Warga Bumirejo Diajak Olah Jagung dari Keripik Hingga Briket pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/lepas-dari-ketergantungan-bantuan-warga-bumirejo-diajak-olah-jagung-dari-keripik-hingga-briket/feed/ 0
Cerita Ramzy Membagi Waktu di Dua Kampus hingga Sabet IPK Tertinggi https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-ramzy-membagi-waktu-di-dua-kampus-hingga-sabet-ipk-tertinggi/ https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-ramzy-membagi-waktu-di-dua-kampus-hingga-sabet-ipk-tertinggi/#respond Mon, 24 Aug 2026 09:33:01 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96917 Ramzy Izza Wardhana, wisudawan program studi S1 Ilmu Komputer FMIPA UGM dinobatkan menjadi lulusan terbaik pada penghelatan wisuda program Sarjana dan Sarjana Terapan UGM yang berlangsung di Grha Sabha Pramana UGM, Jumat (21/8). Ramzy berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi yakni 3,99. Sementara  IPK rata-rata 3.193 wisudawan program sarjana adalah 3,57. Ramzi mengaku merasa […]

Artikel Cerita Ramzy Membagi Waktu di Dua Kampus hingga Sabet IPK Tertinggi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Ramzy Izza Wardhana, wisudawan program studi S1 Ilmu Komputer FMIPA UGM dinobatkan menjadi lulusan terbaik pada penghelatan wisuda program Sarjana dan Sarjana Terapan UGM yang berlangsung di Grha Sabha Pramana UGM, Jumat (21/8). Ramzy berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi yakni 3,99. Sementara  IPK rata-rata 3.193 wisudawan program sarjana adalah 3,57.

Ramzi mengaku merasa terkejut sekaligus bersyukur karena awalnya tidak mengetahui bahwa dirinya menjadi salah satu lulusan dengan IPK tertinggi. Ia justru mengetahui kabar tersebut setelah namanya disebut saat penghelatan wisuda. “Saya merasa campur aduk. Ada rasa kaget, sekaligus bersyukur karena ternyata pencapaian itu benar-benar saya raih, ” ungkapnya bahagia, Senin (24/8).

Ramzy merupakan mahasiswa International Undergraduate Program (IUP) di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE) FMIPA UGM yang juga melakukan international exposure di program studi Artificial Intelligence and Computer Science, University of Birmingham, Inggris.

Alih-alih menempuh studi dalam empat tahun seperti jalur reguler, Ramzy menghabiskan lima tahun dalam perjalanan pendidikan sarjananya. Tambahan satu tahun tersebut menjadi bagian dari program extension yang memungkinkannya menjalani pengalaman akademik di luar negeri. Selama periode itu, ia membagi masa studinya antara UGM dan Inggris.“Saya sebenarnya tiga tahun di Inggris, dua tahun kuliah dan satu tahun kerja. Satu tahun kerja itu namanya industrial placement, yang bisa dijalankan bersamaan dengan program MBKM di sini dan dikonversikan menjadi SKS,” jelasnya.

Selama kuliah, Ramzi tidak hanya berfokus pada perkuliahan. Ia aktif di sejumlah organisasi, antara lain Omah TI, KOMATIK, HIMAKOM, dan Google Developer Program on Campus UGM. Pengalaman organisasi memberinya kesempatan bertemu praktisi industri dari berbagai perusahaan dan memperluas wawasan mengenai dunia profesional.

Ramzy membagi fokus kuliahnya berdasarkan tahapan. Pada tahun-tahun awal, ia lebih banyak membangun soft skill, pengalaman organisasi, volunteering, dan networking, sementara pada tahun ketiga dan keempat ia mulai meningkatkan kompetensi teknis dan mempersiapkan karier profesional. “Karena itu, ketika sampai di Inggris, alokasi waktu saya lebih banyak untuk belajar teknikal, mengikuti perkuliahan, sekaligus mempersiapkan diri untuk magang di sana. Saya memberikan waktu sekitar dua sampai tiga jam setiap hari untuk belajar. Yang penting konsisten.” tuturnya

Ia mengungkapkan cara belajar yang berbeda dengan ketika mulai menjalani perkuliahan. Memasuki dunia kuliah, khususnya pada mata kuliah yang bersifat teknis, ia mulai lebih banyak mengandalkan latihan dan pemahaman materi. “Cara belajar saya juga berubah-ubah. Waktu SMA mungkin saya masih banyak menghafal, kemudian ketika kuliah mulai lebih banyak latihan soal dan memahami konsep. Ketika di Inggris, karena sistemnya lebih banyak self-study, saya harus lebih mandiri mengatur bagaimana saya belajar.” ungkapnya.

Di balik pencapaiannya, Ramzy mengakui ada kompromi yang harus dilakukan. Pada fase tertentu, ia harus mengurangi porsi waktu untuk kehidupan sosial dan aktivitas lain demi mengejar target akademik maupun profesional.  “Pasti selalu ada kompromi di sini kalau kita pengen achieve semuanya. Kita sendiri lah itu adalah choice (pilihan). Orang memilih apa yang kita inginkan. Dan memang dalam periode-periode tertentu saya juga harus mengendalikan social life saya. Saya sendiri pribadi suka berteman. Saya di situ juga berteman. Cuman di kala-kala waktu saya harus fokus, misalnya mau ujian atau mau ada interview, di situ saya lebih sering berteman dengan diri sendiri,”  kata Ramzy.

Bagi Ramzy, lima tahun masa perkuliahan bukan sekadar perjalanan menuju gelar dan IPK tertinggi. “Life changing,” katanya singkat. Pengalaman merantau, belajar di dua negara, hidup mandiri, hingga mengenal dunia profesional menjadi bagian yang membentuk dirinya hari ini. Namun, perjalanan itu tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Ia berharap pengalaman yang diperolehnya dapat menjadi bekal untuk ikut memperbaiki persoalan di Indonesia.

“Saya berharap pengalaman dan kesempatan yang saya dapatkan di luar negeri bisa saya gunakan untuk memperbaiki gap yang masih ada di Indonesia. Kita bisa belajar dari negara-negara yang sudah berhasil menyelesaikan berbagai persoalan, seperti sustainability, korupsi, dan tata lingkungan. Pada akhirnya, semua itu membutuhkan kontribusi kolektif dari banyak orang. Karena by the end of the day, ya, kita yang bakal meneruskan pemerintah.” pungkasnya.

Penulis : M. Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Ramzi

Artikel Cerita Ramzy Membagi Waktu di Dua Kampus hingga Sabet IPK Tertinggi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-ramzy-membagi-waktu-di-dua-kampus-hingga-sabet-ipk-tertinggi/feed/ 0
UGM Tingkatkan Keamanan Digital UMKM Lokal https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-tingkatkan-keamanan-digital-umkm-lokal/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-tingkatkan-keamanan-digital-umkm-lokal/#respond Mon, 24 Aug 2026 05:02:07 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96900 Potensi ekonomi digital di Indonesia tumbuh luar biasa dengan 235 juta pengguna internet, sekitar 81.72 persen dari populasi. Namun belum dibarengi dengan keamanan siber yang kuat terutama untuk pelaku UMKM. Untuk memperkuat kompetensi UMKM dalam meningkatkan keamanan digital, Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan APAC Cybersecurity Clinics Academics Champions Convening yang berlangsung di Ruang Multimedia Lantai 3, […]

Artikel UGM Tingkatkan Keamanan Digital UMKM Lokal pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Potensi ekonomi digital di Indonesia tumbuh luar biasa dengan 235 juta pengguna internet, sekitar 81.72 persen dari populasi. Namun belum dibarengi dengan keamanan siber yang kuat terutama untuk pelaku UMKM. Untuk memperkuat kompetensi UMKM dalam meningkatkan keamanan digital, Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan APAC Cybersecurity Clinics Academics Champions Convening yang berlangsung di Ruang Multimedia Lantai 3, Gedung Pusat UGM, Kamis (20/8).

Adapun kegiatan ini dihadiri oleh para akademisi, mitra internasional, mahasiswa, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) guna memperkuat kolaborasi dalam bidang keamanan siber. Dalam kegiatan tersebut, para peserta diajak mengamati secara langsung pelaksanaan cybersecurity clinic dan belajar dari pengalaman mahasiswa, mitra, serta UMKM yang terlibat dalam program.

Perwakilan Cyberclinic UGM, Siti Baroroh, menjelaskan bahwa program cybersecurity clinic dirancang untuk meningkatkan keamanan digital sekaligus mengurangi risiko serangan siber. Program tersebut juga diarahkan untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, empati, dan presentasi mahasiswa, sekaligus memberikan pengalaman praktis kepada mereka dalam mendampingi UMKM. “Ya, program ini kami tujukan untuk meningkatkan keamanan digital dan mengurangi risiko serangan siber,” ujar Siti.

Lebih lanjut, Siti memaparkan bahwa program ini melibatkan 15 mahasiswa dan 30 UMKM dalam proyek percontohan. Sebelum diterjunkan ke UMKM, mahasiswa mendapatkan pelatihan yang mencakup keterampilan komunikasi, keterampilan teknis, serta pemahaman mengenai keamanan digital. Mereka kemudian memberikan edukasi dan asistensi kepada UMKM melalui sejumlah metode, seperti focus group discussion, interactive learning, serta outreach and education. “Di sini (Cyberclinic UGM), kami ingin mengembangkan kemampuan komunikasi, presentasi, sekaligus memberikan mereka pengalaman dalam pendidikan digital dan UMKM,” paparnya lebih lanjut.

Director of Community Services The Asia Foundation, Nadya Subramaniam, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terbangun melalui program tersebut. Menurutnya, pertemuan akademisi, mahasiswa, dan UMKM menjadi bagian penting untuk memperkuat jejaring dan keberlanjutan program keamanan siber di kawasan Asia-Pasifik.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi UGM, , Arief Setiawan Budi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D., menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi tantangan keamanan siber yang semakin kompleks. Menurutnya, transformasi digital memberikan berbagai peluang bagi UMKM, tetapi sekaligus menghadirkan risiko baru yang perlu dipahami dan dikelola. “Keamanan siber menjadi semakin penting ketika perusahaan mikro, kecil, dan menengah terus mengadopsi teknologi digital dalam kegiatan bisnis mereka,” tuturnya.

Ia berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan program, tetapi dapat berkembang melalui berbagai kerja sama baru dan penguatan Network Cyber Security Clinics di kawasan Asia-Pasifik.

Penulis : Agito Sitepu

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Jesi

Artikel UGM Tingkatkan Keamanan Digital UMKM Lokal pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-tingkatkan-keamanan-digital-umkm-lokal/feed/ 0
Mahasiswa UGM Ungkap Cara Warga Kauman Solo Bertahan di Tengah Arus Gentrifikasi https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-ungkap-cara-warga-kauman-solo-bertahan-di-tengah-arus-gentrifikasi/ https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-ungkap-cara-warga-kauman-solo-bertahan-di-tengah-arus-gentrifikasi/#respond Mon, 24 Aug 2026 04:33:24 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96896 Perubahan fungsi kawasan yang terjadi dari ruang usaha batik di Kampung Batik Kauman Solo menjadi ruang wisata dan hiburan (gentrifikasi), seperti kafe dan tempat swafoto dengan gaya klasik tradisional, memberikan tekanan bagi masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan dari kawasan dengan tingkat sosial dan ekonomi berpenghasilan rendah menjadi kawasan kelas atas. Lima mahasiswa UGM yang tergabung […]

Artikel Mahasiswa UGM Ungkap Cara Warga Kauman Solo Bertahan di Tengah Arus Gentrifikasi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Perubahan fungsi kawasan yang terjadi dari ruang usaha batik di Kampung Batik Kauman Solo menjadi ruang wisata dan hiburan (gentrifikasi), seperti kafe dan tempat swafoto dengan gaya klasik tradisional, memberikan tekanan bagi masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan dari kawasan dengan tingkat sosial dan ekonomi berpenghasilan rendah menjadi kawasan kelas atas.

Lima mahasiswa UGM yang tergabung dalam Tim Gentriset dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) meneliti sejauh mana respons masyarakat setempat terhadap tekanan perubahan sosial dan ekonomi tersebut.  Riset ini digagas oleh lima mahasiswa lintas disiplin, yaitu Hanel Aulia Afro (S1 Sosiologi) sebagai ketua tim, bersama Nasywa Izzati Firdaus (S1 Politik dan Pemerintahan), Elang Gading Permana (D4 Sistem Informasi Geografis), Laras Dwi Anggraeny (S1 Politik dan Pemerintahan), dan Nasywa Adinda Ibrahim (S1 Antropologi Budaya). Tim ini dibimbing oleh Odam A. Artosa, M.A., dosen Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

Hasil penelitian yang mereka temukan saat ini, masyarakat setempat memilih beradaptasi untuk bisa bertahan. Hal itu berdasarkan data yang dikumpulkan dari lapangan. “Terlihat jelas bahwa masyarakat Kauman tidak hanya diam menghadapi tekanan gentrifikasi. Mereka melakukan adaptasi usaha melalui digitalisasi pemasaran dan inovasi motif batik, tetapi ada juga yang memilih menyewakan lahan atau beralih ke usaha kuliner,” ujar Nasywa Adinda Ibrahim selaku anggota tim, Senin (24/8).

Soal strategi ekonomi yang warga setempat lakukan menghadapi perubahan tersebut dengan melakukan digitalisasi pemasaran melalui media sosial untuk membangun branding kawasan. Bahkan sebaran pelaku usaha yang mulai memasarkan diri secara daring ini dapat dipetakan melalui pergeseran jumlah retail. “Kami juga meneliti untuk melihat apakah adaptasi digital ini berkorelasi dengan ketahanan usaha di titik-titik tertentu di kawasan Kauman,” kata Elang Gading Permana, anggota tim yang lainnya.

Menurut Elang,  kehadiran paguyuban dan koperasi di Kampung Kauman ini ternyata memiliki kontribusi penting terhadap adaptasi yang dilakukan sebab warga setempat  karena berperan sebagai penguat ekosistem permodalan, menyediakan akses modal dan pelatihan peningkatan skill bagi anggota, termasuk modal bagi mereka yang memilih beralih usaha dari batik ke kuliner sehingga transisi ekonomi warga tetap terfasilitasi meski keluar dari sektor batik.

Menariknya, kata Elang,  untuk menjaga revitalisasi tidak sepenuhnya menggeser identitas lokal Kauman, paguyuban tersebut dan warga setempat melakukan kesepakatan sosial berupa pembatasan kepemilikan lahan oleh orang nonlokal.

Tidak hanya itu, masyarakat Kauman tidak hanya berusaha mempertahankan usaha batik dan identitas lokalnya, tetapi juga berusaha mempertahankan budaya dan tradisi mereka supaya tidak hilang ketika kawasan semakin menjadi tempat wisata melalui regenerasi pengrajin muda lewat komunitas Pengusaha Muda Kauman serta pengenalan kembali tradisi Pambiworo kepada generasi muda. “Masyarakat Kauman tidak hanya beradaptasi secara ekonomi, tetapi juga berupaya memastikan identitas dan budaya lokal tetap terjaga,” ungkap Laras.

Dari hasil publikasi penelitian ini, Laras berharap nantinya ada program penguatan kompetensi pemasaran pariwisata yang bersinergi antar Dinas di Pemerintah daerah dengan Kampung Batik Kauman bahkan penyelenggaraan dan event bertaraf nasional atau internasional. Dengan begitu, kampung Batik Kauman menjadi pariwisata unggulan di Solo sekaligus sebagai contoh kawasan wisata berbasis kampung.

Penulis : M. Aidil Syahputra
Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Tim PKM

Artikel Mahasiswa UGM Ungkap Cara Warga Kauman Solo Bertahan di Tengah Arus Gentrifikasi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-ungkap-cara-warga-kauman-solo-bertahan-di-tengah-arus-gentrifikasi/feed/ 0
UGM dan YESSA Jepang Dorong Pengembangan Agroekologi Kawasan Karst Gunungkidul https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-yessa-jepang-dorong-pengembangan-agroekologi-kawasan-karst-gunungkidul/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-yessa-jepang-dorong-pengembangan-agroekologi-kawasan-karst-gunungkidul/#respond Sat, 22 Aug 2026 02:10:43 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96869 Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada kembali memperkuat kerja sama dengan Yanmar Environmental Sustainability Support Association (YESSA), Jepang, melalui kolaborasi selama lima tahun untuk mengembangkan sistem agroekologi dan ekonomi sirkular berbasis kawasan karst berkelanjutan di Kalurahan Umbulrejo, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding […]

Artikel UGM dan YESSA Jepang Dorong Pengembangan Agroekologi Kawasan Karst Gunungkidul pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada kembali memperkuat kerja sama dengan Yanmar Environmental Sustainability Support Association (YESSA), Jepang, melalui kolaborasi selama lima tahun untuk mengembangkan sistem agroekologi dan ekonomi sirkular berbasis kawasan karst berkelanjutan di Kalurahan Umbulrejo, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Operation Room FTP UGM, Jumat (21/8).

Guru Besar FTP UGM, Prof. Lilik Soetiarso mengatakan pemilihan Umbulrejo sebagai lokasi program pengembangan agroekologi karst mempertimbangkan karakteristik wilayah Ponjong yang memiliki potensi sekaligus tantangan dalam pengembangan pertanian. Selain didominasi lahan persawahan dengan sistem irigasi, wilayah tersebut juga memiliki kawasan perbukitan kapur yang menjadi karakteristik khas kawasan karst.

“Di Ponjong, kami melihat sebagian besar wilayahnya berupa sawah dengan sistem irigasi. Namun, terdapat pula kawasan perbukitan kapur yang menjadi karakteristik khas wilayah ini. Keunikan tersebut menjadi salah satu hal yang kami pertimbangkan karena sekaligus menghadirkan tantangan dan potensi tersendiri. Kami kemudian memutuskan untuk melakukan diversifikasi komoditas,” jelasnya.

Menurut Lilik, melalui kerja sama ini diharapkan mampu mengangkat potensi sumber daya yang ada di Umbulrejo dari pengelolaan lahan untuk pertanian terpadu hingga potensi kawasan karst hingga menghasilkan produk yang dapat dikonsumsi. “Melalui penelitian teknologi pertanian tepat guna dan pengabdian kepada masyarakat. Program tersebut sekaligus ditujukan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia serta mengembangkan potensi lokal secara berkelanjutan,” ujarnya.

Dekan FTP UGM, Prof. Eni Harmayani, menuturkan kerja sama dengan YESSA ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Kolaborasi tersebut juga menjadi ruang untuk mengembangkan model pengabdian yang tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi mendorong pemberdayaan dan inovasi yang berkelanjutan. “Kemitraan ini sangat relevan dengan misi kami untuk menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi dengan tantangan nyata yang dihadapi masyarakat dan sektor pertanian,” kata Eni.

Executive Secretary YESSA, Kamikubo Keita, mengatakan  Kolaborasi FTP UGM dan YESSA bukan merupakan kerja sama pertama. Kedua pihak telah membangun kemitraan selama sembilan tahun melalui berbagai program di sejumlah desa, di antaranya di Desa Sambak, Magelang, Desa Selopamioro dan Sriharjo, Bantul. Keberlanjutan kerja sama tersebut menjadi dasar bagi kedua pihak untuk memasuki tahap kolaborasi berikutnya selama lima tahun.

Sebagai bagian dari pelaksanaan program, pihaknya menyerahkan hibah untuk mendukung pelaksanaan program di tahun pertama, untuk membangun fondasi proyek, terutama dalam memahami kondisi awal di lapangan yang akan menentukan kualitas dan akurasi penelitian selanjutnya. “Kami akan terus mendampingi tim sebagai mitra agar proyek ini menghasilkan penelitian berkualitas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal,” ujar Kamikubo.

Dalam kesempatan itu, Kamikubo Keita menyampaikan apresiasi terhadap capaian program yang telah dilakukan bersama FTP UGM. Menurutnya, pembaruan MoU menjadi langkah untuk membawa kemitraan tersebut ke tahap berikutnya dengan fokus pengembangan ekonomi sirkular berkelanjutan dan sistem agro-sosio-ekologis terpadu di Umbulrejo.

Dr. Arifin Dwi Saputro, selaku Ketua Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem FTP UGM, menegaskan bahwa keberlanjutan kerja sama tersebut menjadi kesempatan untuk memperpanjang perjalanan kemitraan yang telah dibangun selama hampir satu dekade. Ia berharap penelitian dan pengabdian ini tidak berhenti pada laporan atau kajian akademik semata, tetapi menghasilkan inovasi teknologi tepat guna, model pengelolaan sumber daya, dan praktik pertanian yang benar-benar dapat diterapkan serta dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. “Melalui konsep ekonomi sirkular dan sistem agroekologi, kami berharap potensi pertanian, peternakan, dan lingkungan dapat dikelola secara terpadu sehingga limbah dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi,” ungkapnya.

Lurah Umbulrejo, Wakimin, mengaku pemerintah Kalurahan siap mendukung pelaksanaan program sekaligus menjadi penghubung antara tim akademisi dan masyarakat. “Kami juga siap menjadi penghubung antara tim akademisi dan masyarakat, dengan menempatkan masyarakat bukan sebagai objek penelitian, melainkan sebagai subjek dan mitra utama,” lanjutnya.

Hal senada juga disampaikan oleh KPH Yudonegoro selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil DIY. Ia mengharapkan kerja sama ini mampu mendorong lahirnya para petani milenial di masa mendatang. “Di Yogyakarta terdapat petani milenial yang potensial untuk dikolaborasikan dalam program ini. Namun, mereka tidak cukup hanya memiliki tenaga, tetapi juga membutuhkan pendampingan dan mentoring agar memiliki arah yang jelas,” katanya.

Yudonegoro menuturkan, Pemerintah DIY melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY menyatakan siap mendukung program-program yang diusulkan tim pengabdian UGM untuk Kalurahan Umbulrejo. Dukungan pemerintah daerah juga diharapkan dapat memperluas dampak program sehingga praktik baik yang dikembangkan di Umbulrejo berpotensi menjadi pembelajaran bagi kalurahan lain di DIY.

Bagi UGM, keberlanjutan kolaborasi ini menjadi bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran UGM di Umbulrejo juga menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi bagi pembangunan wilayah DIY. Melalui kolaborasi tersebut, FTP UGM dan YESSA berharap pengembangan Umbulrejo tidak hanya menghasilkan inovasi di bidang pertanian, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat, menciptakan praktik pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, serta menghadirkan model pemberdayaan yang dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan pembangunan pertanian di DIY.

Penulis/Foto : M. Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Artikel UGM dan YESSA Jepang Dorong Pengembangan Agroekologi Kawasan Karst Gunungkidul pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-yessa-jepang-dorong-pengembangan-agroekologi-kawasan-karst-gunungkidul/feed/ 0
Kailash Satyarthi Ajak UGM Bawa KKN ke Kancah Global https://ugm.ac.id/id/berita/kailash-satyarthi-ajak-ugm-bawa-kkn-ke-kancah-global/ https://ugm.ac.id/id/berita/kailash-satyarthi-ajak-ugm-bawa-kkn-ke-kancah-global/#respond Fri, 21 Aug 2026 09:45:37 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96854 Peraih Nobel Laureate 2014, Kailash Satyarthi, menilai dunia saat ini memiliki banyak pengetahuan, data, hukum, deklarasi, lembaga internasional, hingga berbagai pembahasan mengenai persoalan global. Namun, di sisi lain, dunia juga menghadapi persoalan seperti keterpecahan, ketidakamanan, dan kesulitan manusia untuk hidup bersama. Persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan pengetahuan. Menurutnya, ketika dunia berada dalam kegelapan, […]

Artikel Kailash Satyarthi Ajak UGM Bawa KKN ke Kancah Global pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Peraih Nobel Laureate 2014, Kailash Satyarthi, menilai dunia saat ini memiliki banyak pengetahuan, data, hukum, deklarasi, lembaga internasional, hingga berbagai pembahasan mengenai persoalan global. Namun, di sisi lain, dunia juga menghadapi persoalan seperti keterpecahan, ketidakamanan, dan kesulitan manusia untuk hidup bersama. Persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan pengetahuan.

Menurutnya, ketika dunia berada dalam kegelapan, sekecil apapun cahaya dapat mengubah cara seseorang melihat keadaan dan membuat solusi menjadi mungkin. “Dalam situasi kegelapan, setiap tindakan kebaikan, setiap hal yang telah lakukan untuk perbaikan dan membawa cahaya harapan, kepastian, membuat kita memahami bahwa kebangkitan itu mungkin,” katanya dalam UGM Annual Lecture Nobel Laureate Series dengan tema “Global Leadership for Humanity: Advancing Impactful Community Engagement”. Kegiatan ini dihadiri oleh peraih Nobel Laureate 2014, Jumat (21/8), di Balai Senat UGM.

Secara khusus ia menyebutkan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilakukan mahasiswa sebagai salah satu bentuk “cahaya” di tengah berbagai persoalan dunia. Dirinya terkesan dengan pengalaman ketika masyarakat tidak menyebut mahasiswa sebagai pihak yang datang untuk membantu, melainkan sebagai mitra. Menurutnya, mahasiswa tidak datang untuk menggurui masyarakat, tetapi belajar bersama dan bekerja sebagai mitra. Menurutnya, kemitraan merupakan kunci dalam pelaksanaan program pengabdian masyarakat. Mahasiswa tidak seharusnya datang sebagai akademisi atau pelajar yang merasa lebih tahu daripada masyarakat. “Sebaliknya, mahasiswa juga perlu belajar dari masyarakat, termasuk dari orang-orang yang mungkin tidak pernah bersekolah atau hanya memperoleh sedikit pendidikan,” katanya.

Ia kemudian menggarisbawahi tiga prinsip yang menurutnya penting dalam menciptakan perubahan, yakni disebutnya 3D dream, discover, and do. Kailash menyampaikan bahwa setiap orang harus berani bermimpi, menemukan kekuatan dan potensi dalam dirinya sekaligus memahami tantangan di sekitarnya, kemudian melakukan tindakan. Namun, ia menekankan bahwa manusia tidak boleh hanya bermimpi untuk dirinya sendiri. Menurutnya, mimpi juga harus diarahkan untuk memberikan manfaat bagi keluarga, universitas, bangsa, dan masyarakat dunia.

Kalish kemudian menceritakan pengalaman masa kecilnya ketika melihat seorang anak dari keluarga miskin yang tidak dapat bersekolah. Momen tersebut membuatnya menyadari bahwa pendidikan seharusnya dapat diakses oleh semua anak. Selain itu juga ia menceritakan pengalaman ketika sejumlah anak berhenti sekolah karena orang tua tidak mampu membeli buku dan membayar biaya sekolah. Bersama temannya, ia kemudian mengumpulkan buku dari masyarakat untuk diberikan kepada anak-anak yang membutuhkan sehingga menjadikannya sebuah book bank. “Dari situ lahir gerakan global melawan pekerja anak dan gerakan global untuk pendidikan ialah Global March Against Child Labour dan Global Campaign for Education. Ini menjadi pembangun gerakan untuk pendidikan dan anak–anak,” pungkasnya.

Dari pengalaman tersebut, Kailash kemudian mengajak UGM untuk mengembangkan pengalaman KKN menjadi pembelajaran yang dapat dibagikan secara global. Menurutnya, berbagai pengalaman mahasiswa dan masyarakat tidak berhenti sebagai kegiatan pengabdian, tetapi perlu dikembangkan menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari dan diterapkan di tempat lain. Menurutnya, keberhasilan tidak hanya dilihat dari berapa banyak orang yang mendapatkan manfaat, tetapi juga dari berapa banyak pemimpin baru yang lahir di masyarakat dan anak muda yang mampu menemukan solusi inovatif bagi komunitasnya.

Lebih lanjut, Kailash menekankan pentingnya konsep compassion atau rasa peduli dalam menjalankan pengabdian. Menurutnya, empati saja belum cukup untuk menyelesaikan persoalan sistemik seperti diskriminasi gender, diskriminasi, kemiskinan, ketimpangan geopolitik, dan ketidakadilan ekonomi. Ia menyampaikan bahwa welas asih bukan sekadar merasakan penderitaan orang lain, tetapi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang mengambil tindakan secara sadar untuk menyelesaikan persoalan. “Compassion merupakan kekuatan yang dapat mendorong perubahan berkelanjutan. Bukan perubahan yang hanya terjadi sekali, melainkan perubahan yang terus berkembang karena setiap orang merasa menjadi bagian dari persoalan dan penyelesaiannya,” ujarnya.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., mengatakan program Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) secara aktif melibatkan mahasiswa dan memperluas keterlibatan pengabdian kepada masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. “KKN-PPM merupakan mekanisme yang menempatkan mahasiswa secara langsung untuk menangani berbagai persoalan nyata, termasuk akses pendidikan, kesehatan masyarakat, pengembangan ekonomi lokal, infrastruktur, dan pengelolaan lingkungan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan terdapat tiga hal yang menjadi dasar kemanusiaan dalam pengabdian kepada masyarakat melalui KKN-PPM. Pertama, kehadiran, sebagaimana mengirimkan sumber daya ke tempat yang benar-benar membutuhkan. Kedua, responsivitas, kemampuan universitas untuk dengan cepat mengerahkan mahasiswa, dosen, dan sumber daya yang dimiliki. Ketiga, keberlanjutan, yaitu tetap terlibat dalam waktu yang cukup sehingga dapat berkontribusi terhadap proses pemulihan masyarakat

Selain itu, Ova menyebut terdapat pula bentuk KKN yang secara langsung merespons masyarakat yang menghadapi kondisi sulit, yakni KKN Peduli Bencana. Seperti halnya sejak gempa Yogyakarta, erupsi Gunung Semeru, hingga banjir bandang dan tanah longsor di Provinsi Aceh lalu. “Kehadiran mahasiswa tidak hanya difokuskan untuk membantu masyarakat memulihkan dampak langsung bencana, tetapi juga mendukung pemulihan kehidupan masyarakat. Upaya tersebut dilakukan melalui pembangunan hunian sementara serta penguatan ekonomi lokal melalui pelatihan UMKM,” ujarnya.

Sejalan dengan visi misi KKN-PPM, Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Arif Havas Oegroseno, S,H., LL.M., dalam sambutan yang disampaikan melalui rekaman video menyampaikan pengalamannya ketika menjadi mahasiswa dan mengikuti program KKN. Ia menceritakan bahwa saat itu dirinya ditempatkan di sebuah desa terpencil Jawa Tengah. Desa tersebut menghadapi persoalan air bersih dan banjir. “Sebagai mahasiswa saat itu kami diminta untuk kreatif dan mencoba menemukan solusi terhadap persoalan desa,” sebutnya.

Arif mengapresiasi UGM yang telah menyelenggarakan program pengabdian kepada masyarakat selama lebih dari tujuh dekade. Menurutnya, KKN menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar mendengarkan sebelum berbicara, memahami persoalan sebelum menawarkan solusi, serta bekerja sama dengan masyarakat. Ia menegaskan bahwa pengalaman tersebut merupakan pembelajaran yang tidak dapat sepenuhnya diperoleh di ruang kuliah. “Tidak ada ruang kuliah yang dapat mengajarkan selama satu bulan atau tiga bulan apa yang dapat diajarkan sebuah desa tentang kerendahan hati,” tuturnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Prof. Dr. Todung Mulya Lubis, S.H., LL.M., Duta Besar Indonesia untuk Norwegia menyampaikan bahwa program KKN memiliki peran penting dalam menghubungkan perguruan tinggi dengan masyarakat. Terutama melalui keterlibatan mahasiswa yang mendengarkan kebutuhan masyarakat dan bersama-sama menyusun program untuk memperbaiki kondisi mereka. “KKN tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai bagian dari pemenuhan kewajiban akademik, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab sosial mahasiswa dan universitas untuk menjaga bumi dan kemanusiaan,” ucapnya.

Dari sisi ekonomi, Dato’ Sri Prof. Dr. Tahir, Founder Mayapada menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya perlu dilihat dari persentase pertumbuhan GDP, tetapi juga dari dampaknya terhadap masyarakat. Ia menilai universitas memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja. Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu kunci untuk mewujudkan keadilan sosial karena melalui pendidikan masyarakat dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik, pendapatan yang lebih tinggi, serta status sosial yang lebih baik. “Ketika masyarakat dapat menikmati kehidupan yang lebih baik, pendidikan yang lebih baik, dan status sosial yang lebih baik, maka kita dapat mulai berbicara tentang keadilan sosial,” katanya.

Ova Emilia menilai kehadiran Kailash Satyarthi tidak hanya menjadi kesempatan untuk menyambut seorang peraih nobel, tetapi juga mempertemukan dua pengalaman dan pendekatan dalam memajukan kemanusiaan. “Kehadiran dalam acara ini menjadi kesempatan untuk merefleksikan bagaimana pendidikan dan keterlibatan masyarakat dapat menjadi kekuatan dalam menciptakan perubahan yang bermakna dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Penulis : Hanifah

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie, Jesi

Artikel Kailash Satyarthi Ajak UGM Bawa KKN ke Kancah Global pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kailash-satyarthi-ajak-ugm-bawa-kkn-ke-kancah-global/feed/ 0
Tempuh Beragam Jalur Karier, Lulusan UGM Diminta Tetap Jaga Integritas https://ugm.ac.id/id/berita/tempuh-beragam-jalur-karier-lulusan-ugm-diminta-tetap-jaga-integritas/ https://ugm.ac.id/id/berita/tempuh-beragam-jalur-karier-lulusan-ugm-diminta-tetap-jaga-integritas/#respond Fri, 21 Aug 2026 06:37:01 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96836 Universitas Gadjah Mada meluluskan sebanyak 3.865 wisudawan dan wisudawati pada periode ini, dengan 952 lulusan diantaranya mengikuti prosesi wisuda hari ketiga dari Fakultas Geografi, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Jumat (21/8). Dari jumlah tersebut, 37,88% merupakan wisudawan dan 62,12% merupakan wisudawati. Lebih dari sekadar […]

Artikel Tempuh Beragam Jalur Karier, Lulusan UGM Diminta Tetap Jaga Integritas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada meluluskan sebanyak 3.865 wisudawan dan wisudawati pada periode ini, dengan 952 lulusan diantaranya mengikuti prosesi wisuda hari ketiga dari Fakultas Geografi, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Jumat (21/8). Dari jumlah tersebut, 37,88% merupakan wisudawan dan 62,12% merupakan wisudawati.

Lebih dari sekadar seremoni penanda berakhirnya masa studi, wisuda menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang yang telah dilalui sekaligus meneguhkan tanggung jawab lulusan setelah kembali ke tengah masyarakat. Semangat tersebut turut tercermin dalam pesan yang disampaikan Anissa Dini Kamila, wisudawan Fakultas Ilmu Budaya, saat mewakili para wisudawan menyampaikan sambutan.

Di hadapan pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, orang tua, serta sesama wisudawan, Anissa mengajak para lulusan untuk memaknai gelar yang diperoleh bukan semata sebagai pencapaian pribadi, melainkan sebagai buah dari perjuangan dan pengorbanan yang turut melibatkan keluarga. “Gelar ini seutuhnya adalah milik ayah dan ibu,” ujar Anissa.

Ia menuturkan, bagi sebagian mahasiswa, bertahan dan menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi bukanlah hal yang mudah. Menurutnya, berbagai pengorbanan orang tua menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan para wisudawan. Ia pun menyampaikan apresiasi kepada orang tua yang terus mendukung anak-anak mereka, bahkan dalam kondisi penuh keterbatasan.“Di Universitas Gadjah Mada, kita selalu menggaungkan semboyan kampus kerakyatan. Tapi kawan-kawan, rakyat yang paling nyata menderita demi pendidikan kita adalah orang tua kita sendiri,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Anissa mengingatkan jika perjalanan para lulusan tidak berhenti setelah prosesi wisuda. Para lulusan UGM nantinya akan menempuh beragam jalur profesi, mulai dari akademisi, pengusaha, birokrat, hingga pemangku kebijakan di tingkat nasional dan internasional. Keragaman pilihan tersebut, menurutnya, perlu diiringi dengan komitmen untuk tetap memahami persoalan masyarakat dan menjunjung tinggi integritas. “Kita butuh orang-orang yang pernah merasakan kelaparan, di tengah memperjuangkan pendidikan, yang mengerti penderitaan rakyat kecil untuk merancang kebijakan di negeri ini. Tapi dengan satu syarat mutlak, yaitu jangan pernah tinggalkan integritas,” tegasnya.

Ia juga berpesan agar para lulusan tidak menggunakan pengetahuan dan posisi yang kelak diperoleh untuk menciptakan bentuk penindasan baru. Bagi Annisa, kekuasaan dan materi tidak semestinya menggeser nilai-nilai yang telah dibangun selama menempuh pendidikan. “Jangan menjadi mesin penindas yang baru. Jika suatu saat nanti kekuasaan dan setumpuk uang mencoba menyuap nurani kalian, ingatlah bahwa kita lahir dari rahim Universitas Gadjah Mada,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Anissa juga mengajak para lulusan untuk mempertahankan nalar kritis sebagai bagian dari identitas mereka setelah meninggalkan kampus. Ia menilai, pendidikan di perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan dengan kompetensi akademik, tetapi juga individu yang mampu melihat persoalan secara kritis dan memiliki kepedulian terhadap kehidupan masyarakat.

Amalia Susilowati, alumni UGM tahun 1987 yang juga merupakan Ketua Departemen Kemitraan dan Bisnis PP KAGAMA, menyampaikan penghormatan kepada para orang tua yang telah mendampingi perjalanan para wisudawan hingga hari ini. Ia menilai, di balik setiap pencapaian wisudawan, terdapat pengorbanan, kekhawatiran, dan dukungan orang tua yang kerap diberikan tanpa terlihat. “Saya yakin, semua orang tua hanya ingin anaknya melihat harapan, bukan kesulitan,” ungkap Amalia.

Amalia juga mengingatkan para wisudawan bahwa kelulusan menjadi awal dari perjalanan baru sebagai bagian dari keluarga besar KAGAMA. “Mulai hari ini, nama Universitas Gadjah Mada akan selalu melekat di belakang perjalanan kalian semua,” tuturnya.

Ia mengajak para alumni memanfaatkan jejaring KAGAMA untuk belajar, berkolaborasi, dan membuka kesempatan bersama, bukan untuk mencari jalan pintas maupun keistimewaan. Lebih lanjut, Amalia memperkenalkan tiga nilai yang menjadi napas KAGAMA, yakni Guyub, Rukun, dan Migunani. “Guyub berarti kita tidak berjalan sendiri. Rukun berarti kita mampu menjaga persaudaraan di tengah perbedaan. Migunani berarti keberadaan kita harus memberikan manfaat bagi orang lain, negara, dan Ibu Pertiwi,” jelasnya.

Ia berharap para wisudawan kelak mampu menjadi profesional yang berintegritas, ilmuwan yang menghadirkan terobosan, serta pemimpin yang amanah dan memberikan solusi bagi masyarakat dan bangsa.

Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, mengucapkan selamat kepada para wisudawan yang telah menyelesaikan pendidikan sarjana dan meraih berbagai prestasi. Ia mendorong para lulusan menjadikan kelulusan sebagai awal untuk melangkah ke dunia profesional dengan penuh keyakinan. “Jadikan kelulusan dari program Sarjana ini sebagai point of departure untuk terjun ke dunia profesional dengan penuh percaya diri,” tuturnya.

Wening juga mengingatkan para lulusan untuk membawa keberanian dan keuletan dalam menapaki perjalanan setelah lulus. Menurutnya, para wisudawan telah memiliki bekal yang kuat sebagai lulusan universitas berkelas dunia sekaligus perguruan tinggi kerakyatan yang dikenal rendah hati dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat. “Kalian harus memiliki audacity, keberanian, dan keuletan karena kalian telah memiliki bekal yang sangat lengkap dan kuat sebagai seorang Sarjana yang lulus dari Universitas berkelas dunia,” ujarnya.

Lebih lanjut, Wening mendorong para wisudawan memanfaatkan reputasi dan jejaring sosial yang dimiliki UGM sebagai modal untuk memasuki dunia yang mereka cita-citakan. “Gunakanlah social capital ini sebagai pintu masuk ke dunia yang kalian cita-citakan,” pesannya.

Penulis : Zabrina Kumara

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Tempuh Beragam Jalur Karier, Lulusan UGM Diminta Tetap Jaga Integritas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/tempuh-beragam-jalur-karier-lulusan-ugm-diminta-tetap-jaga-integritas/feed/ 0