University of Melbourne Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/university-of-melbourne/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Wed, 26 Aug 2026 09:09:30 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.12 UGM dan University of Melbourne Resmi Buka Tiga Program Double Degree https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-university-of-melbourne-resmi-buka-tiga-program-double-degree/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-university-of-melbourne-resmi-buka-tiga-program-double-degree/#respond Wed, 26 Aug 2026 09:09:30 +0000 https://ugm.ac.id/?p=96941 Universitas Gadjah Mada bersama The University of Melbourne meluncurkan tiga program Master’s Double Degree dalam rangka pengembangan Transnational Education (TNE), Rabu (26/8). Peluncuran ini menjadi babak baru dalam kemitraan kedua universitas yang telah berlangsung selama puluhan tahun dan berkembang melalui berbagai kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, serta mobilitas akademik. Tiga program yang diluncurkan mencakup bidang […]

Artikel UGM dan University of Melbourne Resmi Buka Tiga Program Double Degree pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada bersama The University of Melbourne meluncurkan tiga program Master’s Double Degree dalam rangka pengembangan Transnational Education (TNE), Rabu (26/8). Peluncuran ini menjadi babak baru dalam kemitraan kedua universitas yang telah berlangsung selama puluhan tahun dan berkembang melalui berbagai kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, serta mobilitas akademik. Tiga program yang diluncurkan mencakup bidang teknologi agroindustri, ilmu komunikasi, serta kebijakan dan manajemen kesehatan. Ketiganya menjadi bagian dari upaya memperluas bentuk kemitraan UGM dan University of Melbourne melalui pendidikan transnasional.

Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., mengatakan pertemuan kedua institusi menjadi momentum strategis untuk memperluas dan memperkuat kerja sama yang telah berjalan. Danang berujar kerja sama kedua universitas dalam lima tahun terakhir telah menghasilkan berbagai capaian, baik dalam pendidikan maupun penelitian. Kolaborasi tersebut mencakup mobilitas profesor, mobilitas mahasiswa, serta lebih dari 150 publikasi bersama. Selain itu, saat ini terdapat 17 perjanjian kerja sama aktif antara kedua institusi yang menjadi bagian dari fondasi pengembangan kemitraan. “Kami benar-benar mengapresiasi kehadiran dari University of Melbourne, karena ini menunjukkan bahwa kita memiliki semangat yang sama untuk membangun kerja sama yang semakin kuat di masa depan,” tutur Danang.

Lebih lanjut Danang menyebut pengembangan kerja sama berikutnya perlu diarahkan pada keterlibatan mahasiswa yang lebih luas, peningkatan kolaborasi penelitian, serta penyusunan agenda bersama yang dapat dikembangkan oleh kedua institusi. Ia berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada diskusi, tetapi menghasilkan topik, kegiatan, dan sumber daya bersama yang dapat ditindaklanjuti. Penguatan tersebut juga diharapkan dapat memperluas manfaat kemitraan bagi kedua negara dan wilayah yang terhubung melalui kerja sama UGM dan University of Melbourne.

Dari perspektif University of Melbourne, pengembangan TNE tersebut menjadi bagian dari hubungan yang telah terbangun dalam jangka panjang. Pro-Vice Chancellor Global University of Melbourne, Professor Frank Vetere, menyampaikan bahwa kedua universitas telah bekerja sama selama lebih dari 30 tahun dengan kolaborasi yang mencakup hampir seluruh disiplin ilmu. Hubungan tersebut juga berkembang melalui publikasi bersama, forum akademik, mobilitas mahasiswa, serta berbagai bentuk kolaborasi pendidikan dan penelitian. “Dalam lingkungan yang semakin tidak pasti dan dibentuk oleh kompleksitas geopolitik, peran universitas tidak pernah menjadi lebih penting,” ucapnya.

Vetere menilai peluncuran tiga program double degree, meliputi Master of Agro-industrial Technology UGM dan Master of Agricultural Sciences University of Melbourne, Master of Communication Science UGM dan Master of Global Media Communications University of Melbourne, serta Master of Health Policy and Management UGM dan Master of Public Health University of Melbourne menjadi bagian dari perkembangan bentuk baru pendidikan transnasional dalam hubungan UGM dan University of Melbourne. Ia menekankan pentingnya co-design atau perancangan bersama dalam membangun program sehingga kedua institusi dapat merespons kebutuhan lokal sekaligus menciptakan peluang baru bagi mahasiswa. Menurutnya, kemitraan yang kuat akan menjadi dasar bagi pengembangan program pendidikan yang berkelanjutan dan berdampak. “Melalui kemitraan yang benar-benar dibangun bersama, kita dapat merespons persoalan lokal dengan lebih baik sekaligus menciptakan peluang baru bagi mahasiswa,” ujarnya.

Associate Dean Global Engagement Faculty of Science University of Melbourne, Professor Willa Huston, menjelaskan bahwa TNE tidak semata-mata dipandang sebagai penyelenggaraan pendidikan di dua negara. Bagi University of Melbourne, pengembangan TNE perlu menempatkan mahasiswa sebagai bagian penting dari pengalaman belajar, sekaligus membangun hubungan akademik yang kuat dan kemitraan yang dapat berkembang menjadi kolaborasi lebih luas. Pendekatan tersebut kemudian menjadi dasar dalam pengembangan program bersama mitra.

Huston mengatakan kemitraan pendidikan transnasional juga membuka peluang untuk mempertemukan pendidikan dengan penelitian dan keterlibatan industri. Menurutnya, hubungan yang dibangun melalui program pendidikan dapat berkembang menjadi penelitian yang dirancang bersama dan diarahkan untuk menghasilkan dampak nyata, baik bagi komunitas lokal maupun mitra industri. Dengan demikian, mahasiswa pascasarjana dapat menjadi bagian dari ekosistem yang menghubungkan pendidikan, penelitian, dan kebutuhan masyarakat. “Bagi kami, pertukaran dua arah menjadi salah satu titik temu antara pendidikan transnasional, penelitian, dan industri,” tutur Huston.

Perspektif serupa terlihat dalam pengalaman kerja sama FISIPOL UGM dan Faculty of Arts University of Melbourne. Prof. Dr. Poppy Sulistyaning Winanti, S.I.P., M.P.P., M.Sc., menjelaskan bahwa kemitraan tersebut juga mencakup pertukaran akademisi, visiting scholars, joint courses, forum akademik, serta berbagai kegiatan pengembangan kapasitas dan pengetahuan. Selama sekitar satu dekade, berbagai kegiatan bersama telah mempertemukan akademisi, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat untuk membahas isu strategis, mulai dari pandemi, lingkungan, demokrasi, dan keragaman hingga ketegangan geopolitik, pengetahuan masyarakat adat, dan kecerdasan artifisial. Pengalaman tersebut menjadi fondasi bagi kedua institusi untuk membuka babak kolaborasi berikutnya, termasuk melalui pengembangan inisiatif baru di bidang ilmu komunikasi.

Pengalaman kemitraan multidimensi tersebut juga terlihat dalam bidang kesehatan yang telah menghubungkan UGM dan University of Melbourne. Associate Dean International Faculty of Medicine, Dentistry and Health Sciences University of Melbourne, Professor Margie Danchin, menyoroti kolaborasi penelitian kesehatan anak yang antara lain menghasilkan pengembangan vaksin rotavirus dan transfer teknologi untuk produksi vaksin di Indonesia. Kolaborasi tersebut menjadi contoh bagaimana kerja sama akademik dapat berkembang dari penelitian bersama menjadi penguatan kapasitas dan menghasilkan manfaat yang lebih luas. “Ini merupakan kisah luar biasa tentang bagaimana sebuah vaksin dikembangkan oleh institusi akademik, bukan oleh perusahaan farmasi,” tuturnya.

Setelah panel diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi informasi bagi calon mahasiswa yang membahas pengenalan program, kurikulum, proses penerimaan, serta jalur mobilitas mahasiswa. Sesi tersebut menjadi ruang bagi calon mahasiswa untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai peluang mengikuti tiga program double degree yang baru diluncurkan. Ke depan, pengembangan TNE juga diharapkan tidak berhenti pada tiga program yang diluncurkan. Kedua universitas melihat peluang untuk memperluas mobilitas mahasiswa non-gelar, joint lectures, kolaborasi penelitian, hingga pengembangan program doktoral sebagai bagian dari kelanjutan kemitraan. Penguatan pendidikan transnasional dengan demikian menjadi salah satu pijakan untuk membawa hubungan UGM dan University of Melbourne menuju bentuk kolaborasi yang semakin luas dan berdampak.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Donnie

Artikel UGM dan University of Melbourne Resmi Buka Tiga Program Double Degree pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-university-of-melbourne-resmi-buka-tiga-program-double-degree/feed/ 0
UGM dan University of Melbourne Riset Soal Masa Depan AI dari Perspektif Humaniora https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-university-of-melbourne-riset-soal-masa-depan-ai-dari-perspektif-humaniora/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-university-of-melbourne-riset-soal-masa-depan-ai-dari-perspektif-humaniora/#respond Tue, 21 Jul 2026 09:10:47 +0000 https://ugm.ac.id/?p=95702 Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat tidak hanya menghadirkan kemajuan teknologi, tetapi juga memunculkan pertanyaan baru mengenai etika, relasi kekuasaan, hingga masa depan kehidupan manusia. Berangkat dari isu tersebut, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada bersama Faculty of Arts, The University of Melbourne kembali menggelar The 6th Australia–Indonesia in […]

Artikel UGM dan University of Melbourne Riset Soal Masa Depan AI dari Perspektif Humaniora pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat tidak hanya menghadirkan kemajuan teknologi, tetapi juga memunculkan pertanyaan baru mengenai etika, relasi kekuasaan, hingga masa depan kehidupan manusia. Berangkat dari isu tersebut, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada bersama Faculty of Arts, The University of Melbourne kembali menggelar The 6th Australia–Indonesia in Conversation (AIC) 2026 bertajuk Is AI the Game-Changer? Intelligence Unbound: Ethics, Power, and the Imagination of Life in the Digital Age, Senin (20/7). Forum akademik tahunan ini mempertemukan akademisi dari Indonesia dan Australia untuk mendiskusikan AI melalui perspektif humaniora dan ilmu sosial, mulai dari etika, politik pengetahuan, kreativitas, hingga keberlanjutan kehidupan manusia.

Dekan FISIPOL UGM, Wawan Mas’udi, S.IP., MPA., Ph.D menjelaskan hubungan antara UGM dan The University of Melbourne telah terjalin lebih dari 15 tahun melalui berbagai bentuk kerja sama, mulai dari joint degree, double degree, pertukaran mahasiswa dan dosen, hingga riset kolaboratif. Menurutnya, Australia–Indonesia in Conversation menjadi salah satu tonggak penting yang memperkuat kemitraan kedua institusi karena menghadirkan ruang dialog untuk saling bertukar pengetahuan, pengalaman, dan perspektif dalam merespons berbagai tantangan global.

Wawan menuturkan forum ini lahir pada masa pandemi COVID-19 sebagai ruang conversation yang berbeda dari konferensi akademik pada umumnya. Melalui forum tersebut, para akademisi dari kedua negara diajak berdiskusi secara setara untuk membangun kolaborasi lintas disiplin sekaligus memperkuat jejaring akademik internasional. “Australia–Indonesia in Conversation merupakan salah satu milestone strategis dari hubungan kami dengan teman-teman di The University of Melbourne. Di dalam conversation ini artinya ada exchange of knowledge, exchange of experience, dan upaya saling menginspirasi terkait berbagai dinamika sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, termasuk tata kelola perguruan tinggi,” ujarnya.

Perwakilan The University of Melbourne, Assoc. Prof. Edwin Jurriëns, mengungkapkan pemilihan AI sebagai tema AIC 2026 didorong oleh besarnya pengaruh teknologi tersebut terhadap kehidupan manusia. Namun, pembahasan AI dalam forum ini tidak berfokus pada aspek teknologi semata, melainkan bagaimana AI memengaruhi identitas manusia, relasi sosial, budaya, hingga cara masyarakat memaknai perubahan yang berlangsung begitu cepat.

Edwin mengajak masyarakat untuk tidak hanya memahami kecanggihan teknologi AI, tetapi juga bersikap kritis terhadap berbagai kepentingan politik dan ekonomi yang memengaruhi perkembangannya. Ia menekankan bahwa masyarakat perlu mempertanyakan apakah perkembangan AI benar-benar ditujukan untuk kepentingan publik dan membawa manfaat yang adil bagi semua. “Yang penting bukan hanya teknologinya, tetapi juga pengambilan keputusan politik di baliknya, kepentingan ekonomi di baliknya,” tuturnya.

Melalui panel pertama bertajuk Governing Intelligence: Ethics, Power, and the Politics of Knowing, para pembicara membahas AI dari perspektif tata kelola, etika, distribusi kekuasaan, hingga akuntabilitas dalam pengambilan keputusan berbasis algoritma. Diskusi menegaskan bahwa pengembangan AI perlu disertai tata kelola yang transparan, inklusif, dan berorientasi pada kepentingan publik. Dalam paparannya, Prof. Robert Hassan memperkenalkan konsep Homo Analogicus yang menggambarkan manusia sebagai makhluk yang berkembang melalui interaksi nyata dengan lingkungan dan sesama. “Fakta bahwa kita berhenti berevolusi secara fisik ketika menjadi manusia modern adalah karena teknologi telah mengambil alih begitu banyak peran, sehingga kita tidak perlu lagi beradaptasi dengan lingkungan kita,” ujarnya.

Sementara itu, panel kedua bertajuk Sustaining Imagination: Eco-Aesthetics, Creativity, and the Ethics of Intelligent Futures mengajak peserta melihat AI dari perspektif kreativitas, budaya, dan keberlanjutan. Diskusi menyoroti bahwa AI tidak semestinya diposisikan sebagai pengganti kreativitas manusia, melainkan sebagai teknologi yang memperluas kapasitas manusia untuk berinovasi dan menyelesaikan berbagai persoalan sosial. Dalam sesi tersebut, Edwin Jurriëns mengingatkan ahwa pembahasan AI tidak boleh berhenti pada kecanggihan teknologinya, tetapi juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap manusia dan lingkungan. “Yang menjadi pertanyaan bukan hanya bagaimana teknologi berkembang, tetapi juga bagaimana masa depan manusia, relasi antarmanusia, dan posisi kita di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat,” pesannya.

Sebagai tindak lanjut, UGM dan The University of Melbourne berkomitmen memperkuat kolaborasi akademik melalui luaran yang lebih konkret. Hasil diskusi dalam AIC 2026 direncanakan tidak berhenti sebagai forum tahunan, tetapi akan ditindaklanjuti dalam bentuk publikasi bersama, seperti edited volume maupun karya ilmiah lainnya yang menjadi bagian dari pengembangan riset kolaboratif kedua institusi. Melalui kolaborasi tersebut, kedua universitas berharap AIC tidak hanya menjadi ruang bertukar gagasan, tetapi juga melahirkan kontribusi akademik yang dapat memperkaya diskursus mengenai pemanfaatan AI yang etis, inklusif, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Donnie

Artikel UGM dan University of Melbourne Riset Soal Masa Depan AI dari Perspektif Humaniora pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-university-of-melbourne-riset-soal-masa-depan-ai-dari-perspektif-humaniora/feed/ 0