Potensi budidaya lele yang melimpah di Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, mendorong mahasiswa KKN-PPM UGM menghadirkan inovasi produk pangan berupa abon lele sangrai sebagai upaya mendukung program pencegahan stunting. “Kami menggabungkan dua persoalan menjadi program kerja, yaitu pembuatan inovasi produk pangan untuk pencegahan stunting yang berkolaborasi dengan ibu-ibu Kelompok Wanita Tani,” ujar Doni Ananda Pangestu dari Program Studi Teknologi Industri Pertanian saat ditemui, Senin (24/8).
Ia menjelaskan bahwa lele dipilih sebagai bahan baku karena Desa Tampo memiliki potensi budidaya yang cukup besar. Selain itu, masih terdapat ikan lele afkir atau induk tidak produktif yang belum dimanfaatkan secara optimal sehingga memiliki peluang untuk diolah menjadi produk bernilai tambah. “Sejauh ini cuma dijual mentahan, sehingga mungkin dalam penjualannya masih kurang. Kita berusaha untuk masuk ke situ agar produk lelenya juga memiliki nilai tambah,” katanya.
Melalui program tersebut, mahasiswa KKN mengembangkan abon lele sangrai, yakni abon yang diolah tanpa proses penggorengan menggunakan minyak. Doni menjabarkan metode sangrai dipilih agar produk lebih sesuai untuk mendukung pencegahan stunting. Selain abon sangrai, tim juga mengembangkan produk turunan berupa cookies dan brownies berbahan dasar lele.
Menurut Doni, protein hewani menjadi salah satu komponen penting dalam pencegahan stunting karena mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh. Oleh karena itu, disebutkan Doni, pemanfaatan lele diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pemenuhan gizi.
Selain mengembangkan produk pangan, KKN-PPM UGM Kerincing Cluring juga memanfaatkan limbah hasil pengolahan. Doni menceritakan bahwa tulang lele diolah menjadi pupuk organik cair (POC) sehingga seluruh bagian ikan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal. “Sebenarnya programnya ada pengolahan limbahnya juga. Tulang lele menjadi POC,” ujarnya.
Lebih lanjut, Doni menyatakan bahwa produk abon lele yang dihasilkan akan didistribusikan. Ia menyebutkan selanjutnya hasil disalurkan melalui kader Posyandu untuk diberikan kepada sasaran program di Desa Tampo. Saat ini distribusi masih difokuskan pada satu desa dengan harapan dapat dikembangkan lebih luas pada masa mendatang.
Sementara itu, Pendiri Kelompok Pengolah dan Pemasar Ikan (Poklahsar) Desa Tampo, Irma Yunita, mengapresiasi inovasi yang dibawa mahasiswa KKN-PPM UGM. Menurutnya, sebelum adanya program tersebut, kelompoknya telah memproduksi abon lele dengan metode penggorengan. Kehadiran mahasiswa menghadirkan alternatif baru berupa abon lele sangrai. “Kalau yang sangrai itu miliknya anak KKN. Kalau produk kami yang lama itu digoreng pakai minyak, kemudian di-spin. Anak-anak KKN membuat model sangrai,” jelasnya.
Irma menilai abon lele sangrai memiliki keunggulan karena diolah tanpa minyak sehingga lebih sesuai dikonsumsi anak-anak, khususnya balita. Terlebih, ia menyebutkan pencegahan stunting itu merupakan program Pemerintah Banyuwangi. “Kalau sangrai itu tanpa minyak, lebih non kolesterol. Cocok untuk anak-anak, banyak anak balita yang suka,” ujarnya.
Ia berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan dan diproduksi dalam jumlah lebih besar. Selama ini, pemasaran produk Poklahsar banyak dilakukan melalui Posyandu sehingga produk baru tersebut juga akan mulai diperkenalkan kepada masyarakat melalui Taman Posyandu.
Irma turut menyatakan bahwa Poklahsar Desa Tampo sendiri merupakan kelompok pengolah dan pemasar hasil perikanan di bawah binaan Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi. Kelompok ini memberdayakan perempuan di desa dengan kegiatan produksi yang dilakukan setiap akhir pekan. Dalam sekali produksi, sekitar 15–20 kilogram lele diolah menjadi sekitar 2,5 kilogram abon dengan kisaran Rp25.000 per 100 gram.
Penulis : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
