Memiliki pekarangan rumah yang luas, sebaiknya tidak hanya sekedar menjadi halaman namun bisa dimanfaatkan sebagai sumber tanaman obat untuk keluarga. Tim KKN-PPM UGM Bentangan Bawean mengajak warga masyarakat di Desa Tanjungori, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean untuk mengenal dan mengolah Tanaman Obat Keluarga.
Annisa Nurhidayati, mengatakan program ini tidak hanya berfokus pada pengenalan manfaat tanaman obat tetapi juga mendorong masyarakat untuk mampu mengelolanya secara mandiri. Annisa berharap jika pengetahuan dan keterampilan dari kegiatan ini dapat dikembangkan oleh warga di kemudian hari.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya mengetahui bahwa tanaman di sekitar mereka memiliki manfaat sebagai obat herbal, tetapi juga memahami bagaimana cara menanam, merawat, menjaga kualitasnya setelah panen, hingga mengolahnya menjadi produk yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya, Kamis (27/8).
Melalui kegiatan edukasi pemanfaatan apotek hidup ini, Annisa berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari kegiatan ini dapat terus diterapkan dan dikembangkan oleh masyarakat secara mandiri. “Kita mengajak masyarakat secara bersamaan untuk mengetahui seluk beluk tanaman obat hingga pengalaman praktek sebagai bentuk respon yang dapat diterapkan di lingkungan tempat tinggal,” jelasnya.
Inisiasi program kerja KKN yang beranggotakan Annisa Nurhidayati, Dearvita Wulandari, Dwi Rivayanti, dan Annas Akhtar ini memberikan materi soal pengenalan manfaat Tanaman Obat Keluarga (TOGA), teknik penanaman dan perawatan, penerapan SOP serta Quality Control (QC) pascapanen. “Penyampaian materi turut dilengkapi dengan demonstrasi penanaman TOGA serta praktik pembuatan spray antinyamuk berbahan serai,” kata Dwi, anggota KKN lainnya.
Lebih jauh ia menjelaskan, Program ini dirancang sebagai bentuk dorongan kepada masyarakat agar dapat membudidayakan lingkungan sekitar dan memanfaatkannya secara tepat guna. Tak hanya sinergi, sejumlah integrasi antara edukasi, teknik penanaman, pengelolaan sesuai SOP, dan pengendalian mutu, dlakukan untuk mengajak para warga memanfaatkan TOGA mereka sebagai produk yang lebih memiliki daya guna, contohnya seperti spray anti nyamuk dari serai.
Musdalifah, warga Desa Tanjungori yang mengikuti praktik pembuatan spray antinyamuk,memberikan tanggapan terhadap produk spray anti nyamuk setelah pemakaian. Menurutnya, nyamuk yang berdatangan dengan jumlah minim dibandingkan sebelum disemprotkan. “Spray enak dipakai, setelah disemprot nyamuk jadi nggak terlalu banyak datang. Ternyata serai yang ada di sekitar rumah bisa dibuat jadi spray seperti ini,” ujarnya.
Reportase : Nok Annisa Nurhidayati/Tim KKN
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Tim KKN PPM
