Penyakit Kardiovaskular Aterosklerosis masih menjadi penyebab kesakitan dan kematian nomor satu di dunia termasuk Indonesia. Namun pelayanan kesehatan jantung dan pembuluh darah di Indonesia saat ini masih mendominasi aspek kuratif atau pengobatan di tahap akhir. Penyakit ini meliputi penyakit arteri koroner, penyakit pembuluh darah otak atau stroke, dan penyakit arteri perifer. Rentang waktu yang panjang dari faktor-faktor risiko, sampai dengan diagnosis klinis sebenarnya penyakit ini bisa dilakukan upaya pencegahan atau prevensi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
“Prevensi Kardiovaskular bukan lagi pilihan melainkan keharusan untuk melindungi generasi mendatang,” kata Dosen FK-KMK UGM Prof. dr. Anggoro Budi Hartopo, M.Sc., Sp.PD, KKV, Ph.D., Sp.JP(K)., dalam pidato pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar dalam Bidang Jantung dan Pembuluh Darah Prevensi dan Rehabilitasi Kardiovaskular, Kamis (6/8).
Dalam pidato pengukuhan yang berjudul “Prevensi dan Rehabilitasi Kardiovaskular Sebagai Daya Upaya Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat,” ia menyampaikan terdapat empat pilar pelayanan kesehatan yaitu promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, sebagai satu kesatuan untuk mendapatkan hasil berupa peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan penurunan penyakit kardiovaskular.
Upaya pencegahan penyakit kardiovaskuler ini harus dimulai sedini mungkin dengan mengidentifikasi faktor risiko seperti hipertensi, merokok, dan diabetes. “Peran identifikasi faktor-faktor risiko penyakit ini pada individu penilaian stratifikasi risiko dan penurunan risiko sejak dini merupakan daya upaya besar yang harus terus dilakukan sebagai arus utama program prevensi primer,” tuturnya.
Selanjutnya, Ia menekankan salah satu komponen dalam Prevensi Sekunder yaitu rehabilitasi kardiovaskular dapat berperan dalam penurunan 25% angka kematian. Sedangkan upaya rehabilitasi diarahkan pada latihan fisik pada pasien gagal jantung terbukti aman untuk dilaksanakan, dan mampu meningkatkan kemampuan fisik dan kapasitas fungsional pasien. “Pada pasien-pasien gagal jantung di Rumah Sakit Dr. Sardjito, baik program Rehabilitasi Kardiovaskular di rumah sakit dengan supervisi ahli, maupun kombinasi dengan latihan fisik di rumah dengan supervisi jarak jauh telah terbukti manfaatnya meningkatkan kemampuan fisik dan menurunkan kadar NT-proBNP suatu tanda perbaikan klinik,” ungkapnya.
Meski demikian, pelayanan rehabilitasi kardiovaskular belum merata di Pusat Pelayanan Kesehatan di Indonesia, padahal pasien dengan penyakit kardiovaskuler terus bertambah jumlahnya. Ia mengharapkan kemajuan dan inovasi teknologi dapat mendekatkan pelayanan rehabilitasi kardiovaskular kepada masyarakat. Upaya tersebut bisa dilakukan dengan memperluas akses pelayanan, investasi pengembangan layanan dengan penelitian, dan pendidikan. “Hingga saat ini dengan berkembangnya teknologi, prevensi dan rehabilitasi kardiovaskular semakin besar perannya dalam upaya menurunkan angka kesakitan dan kematian,” pungkasnya.
Penulis: Jesi
Editor: Gusti Grehenson
Foto: Donnie
