Pemanfaatan sapi Jaliteng sebagai sumber genetik alternatif berpotensi meningkatkan produktivitas sapi Bali. Sebagai informasi, sapi Jaliteng merupakan hasil perkawinan antara sapi Bali dan banteng Jawa. Program perkawinan tersebut mulai dilakukan pada 2011 oleh Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur bersama Taman Safari Indonesia II Prigen-Pasuruan. Program tersebut kemudian menghasilkan keturunan yang dikenal sebagai sapi Jaliteng. Seiring perkembangannya, semen beku dari pejantan Jaliteng dikembangkan untuk mendukung program inseminasi buatan.
Dari hasil penelitian menunjukkan penggunaan semen Jaliteng pada induk sapi Bali menghasilkan conception rate (CR) sebesar 95,50 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan penggunaan semen sapi Bali yang menghasilkan CR sebesar 70 persen. Selain itu, nilai service per conception juga tercatat lebih rendah pada kelompok yang menggunakan semen Jaliteng.
Hal itu disampaikan mahasiswa Program Doktor Ilmu Peternakan, Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Adi Tiya Warman, melalui disertasinya berjudul “Peningkatan Produktivitas Sapi Bali Melalui Perkawinan dengan Sapi Jaliteng di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat”.
Disertasi tersebut dipertahankan dalam sidang ujian tertutup pada Jumat (21/8). Bertindak sebagai promotor Prof. Ir. Panjono, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., ASEAN Eng, serta Prof. Ir. Tri Satya Mastuti Widi, S.Pt., M.P., M.Sc., Ph.D., ASEAN Eng dan Prof. Dr. Ir. Sigit Bintara, M.Si., IPU., ASEAN Eng sebagai ko-promotor.
Adi menuturkan, penelitian yang dilakukannya di Lombok Tengah dan Jawa Timur tersebut membandingkan produktivitas sapi Bali dengan sapi hasil perkawinan sapi Bali dan Jaliteng melalui metode inseminasi buatan. Selain dari sisi performa reproduksi, potensi lainnya pada pertumbuhan pedet hasil persilangan. Pedet hasil perkawinan Jaliteng dan sapi Bali diketahui memiliki sejumlah ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan pedet Bali murni. Saat sapih, panjang badan pedet dari hasil persilangan Jaliteng dan Bali mencapai rata-rata 88,15 cm, sedangkan pedet Bali memiliki rata-rata panjang badan 82,59 cm.
Di sisi lain, persilangan tersebut tetap mempertahankan sebagian besar karakter fenotipik khas sapi Bali. Beberapa karakter tersebut antara lain warna kaus kaki putih, cermin pantat putih, dan garis punggung hitam. Tentu, hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan sapi Jaliteng sebagai sumber genetik alternatif tetap memungkinkan dipertahankannya sejumlah karakteristik khas sapi Bali. “Sapi Jaliteng potensial menjadi pejantan alternatif dalam program pembibitan sapi Bali, terutama melalui pemanfaatan semen beku dalam program inseminasi buatan,”kata Adi.
Meski menunjukkan hasil yang menjanjikan, Adi menekankan perlunya penelitian lanjutan untuk melihat performa keturunan hasil persilangan setelah melewati masa sapih hingga mencapai usia dewasa. Kajian tersebut diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai produktivitas dan karakteristik keturunan sapi hasil perkawinan Jaliteng dan Sapi Bali.
Reportase : Satria/Humas Fapet
Penulis. : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto. : Detik dan Dok. Tim Pascasarjana Fapet
