Pola pengasuhan yang kasar (abusive) terhadap anak dapat berpengaruh terhadap perkembangan struktur otak. Sebab, orang tua yang dulunya mengalami trauma seperti dipukul, dikunci berhari-hari dapat memperlakukan anaknya dengan cara yang sama dan mewajarkannya. Sebaliknya, apabila orang tua yang mampu berefleksi ternyata akan mampu memutus cara asuh yang dulu didapatkannya.
Hal itu mengemuka dalam hasil riset mahasiswa S3 Fakultas psikologi UGM, Radhiatul Fitri, S.Psi., M.Psi., Psikolog dalam ujian mempertahankan disertasi berjudul “Trauma Masa Kanak-Kanak dan Pengasuhan Ibu: Peran Reflective Functioning Spesifik Trauma (RF-T) pada Pemrosesan Neural Emosi Anak dan Kompetensi Pengasuhan” di Fakultas Psikologi UGM, Jumat (8/8). Bertindak sebagai promotor, Supra Wimbarti, M.Sc., Ph.D., Psikolog dan ko-promotor Dr. Nita Handayani, S.Si., M.Si., dari Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Dari hasil penelitian Fitri, berdasarkan pemetaan konektivitas fungsionalnya, orang tua yang fungsi refleksinya terhadap trauma rendah, maka mereka akan terlalu waspada terhadap ekspresi emosi yang muncul dari anak-anak. “Kemampuan orang tua ini dalam meregulasi emosinya mengalami pelemahan,” ujarnya.
Sebaliknya, orang tua yang fungsi refleksinya tinggi itu justru memperlihatkan fleksibilitas neural yang lebih bagus. Sehingga dalam merespon rangsangan dari anak lebih fleksibel sehingga lebih mampu meregulasi emosi. “Trauma itu tidak serta-merta langsung membuat seseorang itu tidak kompeten dalam mengasuh anak. Reflective functioning trauma inilah yang menjadi mediator terhadap kemampuan dia dalam mengasuh anak,” ungkap Fitri.
Menurutnya, diperlukan variabel yang menjadi pemotong siklus trauma antar generasi yaitu fungsi refleksi spesifik trauma. Untuk membuktikannya, terdapat tiga upaya yang dilakukan yaitu adaptasi dan validasi psikometri dari failure to mentalize trauma (FMTQ), pengembangan dan validasi AI generated Indonesian child facial expression khususnya berusia 2 sampai dengan 8 tahun, terakhir eksperimen elektrofisiologis dengan analisis event-related potentials (ERP) dan functional connectivity EEG dengan matriks koherensi dan WPLI. “FMTQ ini bisa secara valid digunakan untuk mengukur apakah tingkat seseorang mampu move on atau berefleksi terhadap traumanya ataupun tidak,” paparnya.
Melalui penelitian ini, Fitri menyatakan bahwa ketika trauma anak-anak dihubungkan langsung dengan kompetensi pengasuhan menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Namun, ketika variabel fungsi refleksi traumanya dimasukkan menjadi signifikan.
Ia berkesimpulan bahwa orang tua yang dulunya mengalami trauma seperti dipukul, dikunci berhari-hari dapat memperlakukan anaknya dengan cara yang sama dan mewajarkannya. Sebaliknya, orang tua yang mampu berefleksi akan mampu memutus cara asuh yang dulu didapatkannya.
Penulis/Foto : Jesi
Editor : Gusti Grehenson
