Dosen Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada, Prof. Sony Warsono, MAFIS, Ph.D.,CA, Ak., dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Pendidikan Akuntansi, Kamis (6/8), di Balai Senat, Gedung Pusat UGM. Pidato pengukuhan yang berjudul “Pengembangan Akuntansi Sebagai Ilmu Transdisiplin Di Era Digital: Prinsip Dualitas”, Sony mengatakan terdapat polarisasi dalam domain keilmuan akuntansi terutama dalam bidang penelitian dan pendidikan akuntansi, Selain itu, terdapat perbedaan pandangan terkait peran akuntansi, yakni antara sekadar alat teknis pencatatan dan instrumen sosial-politik.
Ia menambahkan, di ranah pendidikan, perdebatan mengenai status akuntansi, apakah murni disiplin ilmu sosial atau bagian dari STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika), juga menjadi isu polarisasi kuat yang mendorong munculnya tuntutan reformasi di bidang tersebut. “Berbagai inisiatif telah dilakukan untuk memitigasi terjadinya polarisasi di akuntansi meskipun penyelesaiannya tidak semudah membalikkan telapak tangan,” imbuhnya.
Salah satu upaya untuk mengatasi polaritas ini adalah dengan menerapkan prinsip dualitas. Sony berharap prinsip ini juga dapat diterapkan sebagai pijakan dalam melanjutkan perjalanan hidup bermasyarakat dan juga pengembangan akuntansi di era digital.
Sony pun menyoroti bahwa konsep dualitas ini ada dalam banyak sudut pandang keilmuan, seperti filosofis dan teologis, ilmu matematika, hukum, sampai akuntansi. “Dalam disiplin sendiri, dualitas melekat erat pada sistem pencatatan berpasangan (double-entry bookkeeping system) dan terwujud secara nyata melalui pengetahuan debit dan kredit yang tetap kokoh berlaku hingga saat ini, bahkan diprediksi akan terus andal dan relevan di masa mendatang,” jelasnya.
Debit dan kredit dalam dunia akuntansi, dinilai Sony, tak hanya perihal hapalan dan keseimbangan angka di atas kertas saja. Lebih jauh dari itu, debit dan kredit menjadi gambaran dari prinsip keseimbangan universal yang mengubah posisi kanan dan kiri menjadi sebuah timbangan integritas. “Dalam perspektif ini, ekuilibrium bukan sekadar target klerikal agar target seimbang. Melainkan manifestasi moral untuk menjaga keadilan dan transparansi,” ingatnya.
Sony pun mengharapkan bahwa dari perspektif transdisiplin, akuntansi dapat menyelesaikan permasalahan global yang super kompleks, yakni kesehatan keuangan yang menjadi kebutuhan mutlak bagi setiap lapisan masyarakat, baik yang miskin maupun yang kaya. Menurutnya, peran akuntansi tak lagi sekadar alat pencatat transaksi atau ilmu hitung belaka. Namun, akuntansi pun kini dituntut untuk hadir sebagai instrumen strategis lintas disiplin untuk menjaga kesehatan keuangan masyarakat dari berbagai kelas sosial.” Melalui kacamata psikologi perilaku, sosiologi, hingga teknologi, literasi akuntansi diharapkan mampu menyelamatkan masyarakat dari ancaman defisit, judi online dan jeratan pinjaman online,” ujarnya.
Meski berakar kuat sebagai ilmu sosial, esensi teknis akuntansi tetap menjadi fondasi utama. Sistem debit dan kredit diibaratkan sebagai “logika biner” yang rasional. Puncak keilmuan ini baru bisa tercapai ketika ketajaman teknis tersebut disinergikan dengan pemahaman lintas disiplin dan perspektif kemanusiaan, sehingga melahirkan inovasi teknologi informasi keuangan yang tidak hanya akurat, tetapi juga berdampak sosial.
Di sisi lain, pergeseran ini menjadi peringatan keras bagi dunia pendidikan akuntansi. Masa depan akademisi diprediksi akan suram jika mereka masih bertahan pada pendekatan konvensional dan aturan normatif yang statis. Oleh karena itu, transformasi ini menuntut akademisi untuk memposisikan kembali debit dan kredit bukan sekadar sebagai peninggalan intelektual yang akan usang ditelan dinamika zaman, melainkan sebagai algoritma dinamis yang siap dikembangkan menjadi fondasi teknologi informasi keuangan masa depan melalui riset dan pembelajaran yang lebih progresif,i.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., menyebutkan bahwa Prof. Sony merupakan salah satu dari 539 guru besar aktif di tingkat universitas dan di tingkat fakultas merupakan salah satu dari 32 guru besar aktif dari 51 guru besar yang pernah dimiliki oleh FEB UGM.
Penulis : Leony
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
