Universitas Gadjah Mada terus mendorong penguatan ketahanan pangan masyarakat melalui program pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan secara berkelanjutan. Salah satunya melalui kegiatan pengabdian Dusun Kledokan, Kelurahan Caturtunggal, Sleman, yang mana telah memasuki tahun ketiga. Program penguatan ketahanan pangan ini dilaksanakan dengan menggandeng Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat yang dinilai aktif dalam mengelola dan memanfaatkan lahan. Kegiatan ini berangkat dari semangat untuk memberikan manfaat bagi masyarakat di lingkungan sekitar kampus sekaligus mendorong pemanfaatan lahan yang sebelumnya belum optimal.
Dr. Dra. Raden Roro Upiek Ngesti Wibawaning Astuti, B.Sc., DAP&E. M.Biomed, ketua tim pengabdian dari Fakultas Biologi UGM ini mengatakan, dusun Kledokan dipilih karena memiliki KWT yang aktif dan memiliki semangat tinggi dalam mengembangkan pemanfaatan lahan. “Kolaborasi kita arahkan untuk mengubah lahan yang sebelumnya terbengkalai menjadi lahan produktif yang dapat mendukung kebutuhan pangan masyarakat,” katanya, Rabu (13/8).
Memasuki tahun ketiga, program tersebut telah berkembang dengan berbagai fasilitas pendukung, seperti rumah hidroponik dan kolam lele. Pemanfaatan lahan juga tidak hanya dilakukan pada lahan bersama, tetapi juga diterapkan di lingkungan rumah warga dengan menggunakan polybag. “Harapannya, dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan, Dusun Kledokan bisa mandiri pangan nantinya,” tuturnya.
Kegiatan pengabdian tidak hanya berorientasi pada produksi tanaman, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat dan generasi muda mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan outing class sebagai bentuk sinergi edukasi wisata. Melalui kegiatan tersebut, anak-anak diperkenalkan pada berbagai tanaman pangan yang dapat dibudidayakan di lingkungan sekitar, seperti cabai, terong, ketela, sawi, kacang tanah, serta berbagai tanaman sayuran lainnya. Selain tanaman, terdapat pula kolam kecil yang dimanfaatkan untuk budidaya lele.
Menurut Upiek, edukasi bagi anak-anak ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa lingkungan di sekitar rumah dapat dimanfaatkan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga. “Setidaknya, hal tersebut bisa membantu meningkatkan ekonomi keluarga. Jadi, keluarga bisa memenuhi sebagian kebutuhannya sendiri dari lingkungan sekitar,” jelasnya.
Jenis tanaman yang dibudidayakan juga disesuaikan dengan kebutuhan dan waktu panen. Program lebih banyak memilih tanaman yang dapat dipanen dalam waktu relatif singkat, sekitar tiga bulan. Beberapa di antaranya adalah bayam, kangkung, singkong, cabai, terong, kol, kubis, dan berbagai tanaman sayuran lainnya.
Selain tanaman pangan, kawasan tersebut juga memiliki Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang dikenal sebagai “Tanaman Surga”. Di dalamnya terdapat berbagai tanaman obat seperti jahe, kencur, dan tanaman lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga.
Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Dusun Kledokan, Martin Sumarahayu, menyampaikan bahwa dalam tiga tahun KWT Kledokan mengalami perkembangan yang sangat baik. Disini para anggota dibimbing dan diberi pelatihan oleh tim Pengabdian untuk dapat berdaya pangan. “Kami berterima kasih kepada UGM dan Fakultas Biologi, kelompok Wanita Tani kami ini semakin maju dan semakin banyak anggota. Manfaatnya ibu-ibu itu bisa membantu perekonomian anggota,” terangnya.
Keberlanjutan program tidak terlepas dari peran aktif KWT yang secara rutin merawat lahan. Para anggota KWT yang tinggal di sekitar lokasi bergiliran melakukan perawatan tanaman, termasuk menyiram pada pagi dan sore hari. Sistem yang digunakan adalah piket harian dengan pembagian kelompok-kelompok setiap harinya. “Misal Hari Senin adalah jadwa kelompok A untuk membersihkan rumput kemudian Hari Selasa untuk kelompok B untuk menyirami tanaman, begitu seterusnya,” jelasnya. Ia juga menambahkan, dengan kerja sama yang kompak para anggota bisa merasakan panen dengan hasil yang bagus dan melimpah. “Ibu-Ibu senang apabila hasil panennya melimpah, selain bisa mencukupi kebutuhan di rumah, hasilnya juga bisa dijual sehingga menambah pemasukan Ibu-ibu,” ungkapnya.
Lahan yang digunakan saat ini merupakan tanah kas desa dengan luas sekitar 800 meter persegi. Dukungan pemerintah kelurahan menjadi salah satu faktor penting dalam keberlanjutan program. Kelurahan menyediakan lahan yang dapat dimanfaatkan KWT untuk kegiatan budidaya tanaman pangan.
Selain pendampingan, program juga diawali dengan sosialisasi dan berbagai pelatihan. Tim pengabdian menggandeng sejumlah pihak, termasuk penyuluh pertanian, penyuluh lingkungan, dinas terkait, serta pihak lainnya. “Alhamdulillah, kami juga didukung oleh Kelurahan dan Pemerintah Kabupaten Sleman, sehingga program ini bisa berkelanjutan,” ungkap Upiek.
Dukungan juga dilakukan dalam penyediaan bibit tanaman. Tim pengabdian memanfaatkan jejaring yang telah terbangun dari kegiatan pengabdian sebelumnya di Kulon Progo untuk memperoleh bibit yang kemudian dikembangkan oleh KWT di Kledoan.
Kepala Dukuh Kledokan, Punjul Santoso, menyampaikan rasa terima kasih atas terjalinnya kesempatan kolaborasi antara UGM dan Dusun Kledokan. “Harapan untuk kedepan berkaitan dengan UGM dan Fakultas Biologi ini, saya berharap selalu terus berkelanjutan. Tentunya semua ini sangat bermanfaat untuk kita semua warga Padukuhan Kledokan. Dan juga dengan kegiatan outing class ini bisa memberikan semangat untuk anak-anak belajar mengenai tanaman pangan disekitar. Tentunya untuk mengenal berbagai macam sayuran dan juga obat keluarga, itu sangat memberikan manfaat untuk kita semua di lingkungan masyarakat padukuhan,” ucap Punjul.
Selain memenuhi kebutuhan keluarga, hasil kebun yang berlebih juga mulai memiliki nilai ekonomi. Hasil panen seperti cabai, kangkung, dan terong dapat dipasarkan kepada warung makan dan pedagang sayur di sekitar lokasi.
Pemasaran dilakukan dengan memanfaatkan WhatsApp dan Instagram. Ketika tanaman memasuki masa panen, informasi disampaikan kepada calon pembeli. Dengan demikian, sebagian hasil panen bahkan telah memiliki calon pembeli sebelum dipanen. “Kalau mau panen, cara penjualannya sudah melalui WhatsApp dan Instagram. Misalnya kami menginformasikan, ‘Kami mau panen cabai.’ Nanti warung-warung langsung mengambil,” jelasnya. Meski demikian, pemanfaatan untuk kebutuhan keluarga tetap menjadi prioritas. Hasil panen yang berlebih kemudian baru dipasarkan kepada masyarakat sekitar.
Tidak hanya tanaman sayuran, program juga mengembangkan potensi tanaman pisang yang dinilai memiliki hasil baik. Pisang yang dipanen kemudian diolah menjadi keripik oleh anggota KWT. Produk tersebut tersedia dalam berbagai varian rasa, seperti asin dan manis. Untuk saat ini, produk olahan tersebut masih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga besar PKK di Kledoan maupun kegiatan tertentu. Namun, pengembangan produk tersebut menjadi salah satu potensi ekonomi yang dapat terus dikembangkan ke depan.
Ke depan, kegiatan pengabdian di Kledokan diharapkan dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam mendukung ketahanan pangan dan penyediaan bahan pangan dari lingkungan sekitar.
Selain manfaat ekonomi, keberadaan kebun pangan dan TOGA juga diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan tanaman untuk kebutuhan keluarga. “Harapannya kegiatan ini bisa terus berlanjut. Yang pasti, kegiatan ini mendukung ketahanan pangan dan menyiapkan berbagai bahan yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar, khususnya masyarakat di sekitar lokasi kegiatan,” ujar Upiek.
Lebih jauh, praktik yang dikembangkan di Kledokan diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain untuk mengoptimalkan potensi lingkungan masing-masing. Keterbatasan lahan tidak harus menjadi hambatan dalam membangun ketahanan pangan, karena pemanfaatan lahan dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah dan dilakukan mulai dari lingkungan rumah.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kelurahan, KWT, dan masyarakat, program pengabdian tersebut menunjukkan bahwa upaya membangun ketahanan pangan dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Keberlanjutan program menjadi kunci agar lahan yang tersedia tidak hanya produktif dalam jangka pendek, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat secara berkelanjutan.
Penulis : Jelita Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Hanifah
