Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada kembali memperkuat kerja sama dengan Yanmar Environmental Sustainability Support Association (YESSA), Jepang, melalui kolaborasi selama lima tahun untuk mengembangkan sistem agroekologi dan ekonomi sirkular berbasis kawasan karst berkelanjutan di Kalurahan Umbulrejo, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Operation Room FTP UGM, Jumat (21/8).
Guru Besar FTP UGM, Prof. Lilik Soetiarso mengatakan pemilihan Umbulrejo sebagai lokasi program pengembangan agroekologi karst mempertimbangkan karakteristik wilayah Ponjong yang memiliki potensi sekaligus tantangan dalam pengembangan pertanian. Selain didominasi lahan persawahan dengan sistem irigasi, wilayah tersebut juga memiliki kawasan perbukitan kapur yang menjadi karakteristik khas kawasan karst.
“Di Ponjong, kami melihat sebagian besar wilayahnya berupa sawah dengan sistem irigasi. Namun, terdapat pula kawasan perbukitan kapur yang menjadi karakteristik khas wilayah ini. Keunikan tersebut menjadi salah satu hal yang kami pertimbangkan karena sekaligus menghadirkan tantangan dan potensi tersendiri. Kami kemudian memutuskan untuk melakukan diversifikasi komoditas,” jelasnya.
Menurut Lilik, melalui kerja sama ini diharapkan mampu mengangkat potensi sumber daya yang ada di Umbulrejo dari pengelolaan lahan untuk pertanian terpadu hingga potensi kawasan karst hingga menghasilkan produk yang dapat dikonsumsi. “Melalui penelitian teknologi pertanian tepat guna dan pengabdian kepada masyarakat. Program tersebut sekaligus ditujukan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia serta mengembangkan potensi lokal secara berkelanjutan,” ujarnya.
Dekan FTP UGM, Prof. Eni Harmayani, menuturkan kerja sama dengan YESSA ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Kolaborasi tersebut juga menjadi ruang untuk mengembangkan model pengabdian yang tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi mendorong pemberdayaan dan inovasi yang berkelanjutan. “Kemitraan ini sangat relevan dengan misi kami untuk menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi dengan tantangan nyata yang dihadapi masyarakat dan sektor pertanian,” kata Eni.
Executive Secretary YESSA, Kamikubo Keita, mengatakan Kolaborasi FTP UGM dan YESSA bukan merupakan kerja sama pertama. Kedua pihak telah membangun kemitraan selama sembilan tahun melalui berbagai program di sejumlah desa, di antaranya di Desa Sambak, Magelang, Desa Selopamioro dan Sriharjo, Bantul. Keberlanjutan kerja sama tersebut menjadi dasar bagi kedua pihak untuk memasuki tahap kolaborasi berikutnya selama lima tahun.
Sebagai bagian dari pelaksanaan program, pihaknya menyerahkan hibah untuk mendukung pelaksanaan program di tahun pertama, untuk membangun fondasi proyek, terutama dalam memahami kondisi awal di lapangan yang akan menentukan kualitas dan akurasi penelitian selanjutnya. “Kami akan terus mendampingi tim sebagai mitra agar proyek ini menghasilkan penelitian berkualitas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal,” ujar Kamikubo.
Dalam kesempatan itu, Kamikubo Keita menyampaikan apresiasi terhadap capaian program yang telah dilakukan bersama FTP UGM. Menurutnya, pembaruan MoU menjadi langkah untuk membawa kemitraan tersebut ke tahap berikutnya dengan fokus pengembangan ekonomi sirkular berkelanjutan dan sistem agro-sosio-ekologis terpadu di Umbulrejo.
Dr. Arifin Dwi Saputro, selaku Ketua Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem FTP UGM, menegaskan bahwa keberlanjutan kerja sama tersebut menjadi kesempatan untuk memperpanjang perjalanan kemitraan yang telah dibangun selama hampir satu dekade. Ia berharap penelitian dan pengabdian ini tidak berhenti pada laporan atau kajian akademik semata, tetapi menghasilkan inovasi teknologi tepat guna, model pengelolaan sumber daya, dan praktik pertanian yang benar-benar dapat diterapkan serta dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. “Melalui konsep ekonomi sirkular dan sistem agroekologi, kami berharap potensi pertanian, peternakan, dan lingkungan dapat dikelola secara terpadu sehingga limbah dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi,” ungkapnya.
Lurah Umbulrejo, Wakimin, mengaku pemerintah Kalurahan siap mendukung pelaksanaan program sekaligus menjadi penghubung antara tim akademisi dan masyarakat. “Kami juga siap menjadi penghubung antara tim akademisi dan masyarakat, dengan menempatkan masyarakat bukan sebagai objek penelitian, melainkan sebagai subjek dan mitra utama,” lanjutnya.
Hal senada juga disampaikan oleh KPH Yudonegoro selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil DIY. Ia mengharapkan kerja sama ini mampu mendorong lahirnya para petani milenial di masa mendatang. “Di Yogyakarta terdapat petani milenial yang potensial untuk dikolaborasikan dalam program ini. Namun, mereka tidak cukup hanya memiliki tenaga, tetapi juga membutuhkan pendampingan dan mentoring agar memiliki arah yang jelas,” katanya.
Yudonegoro menuturkan, Pemerintah DIY melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY menyatakan siap mendukung program-program yang diusulkan tim pengabdian UGM untuk Kalurahan Umbulrejo. Dukungan pemerintah daerah juga diharapkan dapat memperluas dampak program sehingga praktik baik yang dikembangkan di Umbulrejo berpotensi menjadi pembelajaran bagi kalurahan lain di DIY.
Bagi UGM, keberlanjutan kolaborasi ini menjadi bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran UGM di Umbulrejo juga menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi bagi pembangunan wilayah DIY. Melalui kolaborasi tersebut, FTP UGM dan YESSA berharap pengembangan Umbulrejo tidak hanya menghasilkan inovasi di bidang pertanian, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat, menciptakan praktik pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, serta menghadirkan model pemberdayaan yang dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan pembangunan pertanian di DIY.
Penulis/Foto : M. Aidil Syahputra
Editor : Gusti Grehenson
