Tim KKN-PPM UGM Bentangan Bawean 2026 menghadirkan media informasi digital Desa Telukjatidawang, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, melalui StoryMap berbasis ArcGIS. Lewat informasi ini masyarakat dapat memperoleh informasi terkait dengan profil dan potensi desa dalam bentuk peta interaktif. “StoryMap yang kami kembangkan ini merupakan upaya mendukung digitalisasi informasi Desa Telukjatidawang dengan menghimpun berbagai informasi desa yang sebelumnya tersebar ke dalam satu platform,” kata Arindra Najwa Nafasari dari Program Studi D4 Sistem Informasi Geografi, Sekolah Vokasi UGM, Selasa (18/8).
Ia menambahkan informasi yang disajikan meliputi profil dan sejarah desa, kondisi geografis dan demografi. Selain itu, lingkup informasinya juga mencakup profil serta potensi tujuh dusun, fasilitas umum, UMKM, objek wisata, perikanan, pertanian, peternakan, budaya dan tradisi, hingga berbagai aktivitas masyarakat. Informasi tersebut dilengkapi dengan peta, foto, dan titik lokasi sehingga kondisi serta potensi desa dapat dikenali secara lebih kontekstual. Untuk memperluas akses, tim juga membuat poster yang dilengkapi QR Code menuju StoryMap untuk ditempatkan di lokasi strategis seperti balai desa.
Najwa menjelaskan dalam proses pembuatannya, mahasiswa KKN melakukan observasi, wawancara, dan survei ke setiap dusun untuk mengumpulkan data spasial maupun informasi mengenai kondisi dan potensi desa. Data tersebut kemudian diolah menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan disusun menjadi StoryMap. Sebelum dipublikasikan, informasi yang telah dihimpun juga melalui proses validasi bersama pemerintah desa.
Lebih lanjut, ia mengatakan pembuatan StoryMap berangkat dari kebutuhan akan media yang dapat menghimpun informasi Desa Telukjatidawang secara terpusat. Menurutnya, laman ini memudahkan desa memiliki identitas digital yang diakses siapa dan kapan saja. Dijelaskannya bahwa prosesnya kami lakukan bersama masyarakat sejak awal, mulai dari menggali informasi hingga memvalidasi hasilnya, supaya benar-benar mencerminkan kondisi dan kebutuhan desa. “Semoga dengan adanya WebGIS ini, potensi Desa Telukjatidawang dapat lebih dikenal khalayak luas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, baik dari sisi informasi maupun promosi desa,” jelasnya, Selasa (18/8).
Kepala Desa Telukjatidawang, Fahrurazi mengapresiasi karya para mahasiswa KKN tersebut. Ia menambahkan, sebelumnya sudah ada beberapa mahasiswa KKN di Desa Telukjatidawang, namun belum ada yang membuat profil desa secara digital. “Saya sangat bangga dengan hasil KKN UGM, terutama dengan adanya profil Desa Telukjatidawang ini. Sebelumnya sudah beberapa kali ada KKN di sini, tetapi belum ada yang membuat profil desa seperti ini. Atas nama pribadi, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada mahasiswa KKN UGM yang sudah membantu membuat sekaligus mengenalkan profil desa kami,” ujarnya.
Selain program StoryMap, tim KKN-PPM UGM Bentangan Bawean 2026 juga melaksanakan program pemanfaatan energi surya dan reflektor untuk menunjang aktivitas masyarakat. Program tersebut meliputi edukasi panel surya, pemasangan Penerangan Jalan Umum (PJU) tenaga surya di Dusun Pinang Gunung, serta pemasangan reflektor di keramba kawasan Pulau Cina, Dusun Dedawang, untuk membantu nelayan mengenali jalur saat berlayar pada malam hari.
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya dalam mengenalkan pemanfaatan teknologi sederhana yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Desa Telukjatidawang. Edukasi panel surya diberikan untuk memperkenalkan prinsip kerja serta pemanfaatan energi matahari sebagai sumber listrik. Materi tersebut kemudian diterapkan melalui pemasangan PJU tenaga surya yang memanfaatkan energi matahari untuk menyalakan lampu pada malam hari.
Menurut Kepala Dusun Pinang Gunung, Hamidi, menyampaikan bahwa pemasangan PJU ini sangat membantu karena di dusun masih minim penerangan. Ia menyebutkan terlebih PJU ini menggunakan energi surya sehingga tidak perlu pemasangan kabel. Poin positif yang ia sebutkan juga ialah lampunya bisa menyesuaikan kondisi terang dan redup secara otomatis. “Menurut saya, PJU ini sangat membantu sekaligus lebih hemat energi. Edukasi yang diberikan juga menambah wawasan kami tentang cara kerja dan perawatannya,” pungkasnya.
Masih sejalan, tim KKN-PPM UGM juga menggarap program pemasangan reflektor di kawasan karang di Dusun Dedawang tambak Pulau Cina yang menjadi salah satu titik yang dilalui nelayan saat beraktivitas pada malam hari. Reflektor tersebut berfungsi sebagai penanda visual yang membantu nelayan mengenali posisi keramba dan menemukan jalur pelayaran ketika kondisi sekitar minim cahaya. Data dari Kepala Dusun Dedawang, Najmuddin, menyebutkan bahwa para nelayan cukup kesulitan mencari keramba pada malam hari. “Dengan adanya reflektor ini, ketika terkena cahaya senter dari perahu, cahayanya bisa memantul sehingga keramba lebih mudah ditemukan. Setelah keramba terlihat, nelayan juga jadi lebih mudah mengenali jalur untuk menuju ke tempat melaut,” ungkapnya.
Mahasiswa KKN-PPM UGM, Alya Presilia Susanti dari program studi Elektronika dan Instrumentasi selaku penanggungjawab program menjelaskan bahwa program diambil berangkat dari kebutuhan masyarakat. Menurutnya, program ini dirancang tidak hanya untuk menghadirkan fasilitas, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai teknologi yang digunakan. Alya menjelaskan bahwa kegiatan tersebut disusun berdasarkan kebutuhan masing-masing dusun.
Alya menjelaskan bahwa PJU di Pinang Gunung ingin memberikan solusi penerangan yang sekaligus mengenalkan pemanfaatan energi surya kepada masyarakat. Karena itu, disebutkannya bahwa edukasi juga diberikan agar masyarakat tidak hanya menggunakan PJU yang sudah terpasang, tetapi memahami cara kerja dan perawatannya. “Harapannya, apabila ke depan ada kesempatan untuk menambah fasilitas dari desa, masyarakat sudah memiliki pengetahuan dasar untuk menggunakan dan merawat PJU serupa secara mandiri,” jelasnya.
Mahasiswa lain, Kalleh Nur Subekti dari program studi Teknik Sipil menjelaskan bahwa tim melihat bahwa nelayan membutuhkan penanda yang mudah terlihat saat malam hari. Ia menyebutkan bahwa tim memilih reflektor sebagai solusi yang sederhana dan tidak membutuhkan sumber listrik, tetapi tetap dapat terlihat ketika terkena cahaya senter dari perahu. “Harapannya, penanda ini bisa membantu nelayan mengenali keramba sekaligus jalur mereka saat melaut pada malam hari,” ungkapnya.
Lebih lanjut, melalui berbagai program kerja tim KKN-PPM UGM Bentangan Bawean 2026 berupaya menggabungkan edukasi teknologi dengan penerapan langsung di tengah masyarakat. Pemanfaatan energi surya untuk PJU serta reflektor sebagai penanda jalur diharapkan dapat memberikan manfaat bagi aktivitas masyarakat sekaligus memperkenalkan penerapan teknologi yang sederhana dan sesuai dengan kondisi Desa Telukjatidawang.
Kontributor : Alya Presilia Susanti/Tim KKN Bawean
Penulis : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Tim KKN
