Pengukuran tinggi badan balita di Posyandu sering kali masih mengandalkan alat ukur manual yang membutuhkan ketelitian tinggi dari para kader. Kendala teknis ini terkadang menimbulkan kesalahan pengukuran sehingga dapat menghambat deteksi dini stunting di daerah pedesaan. Menanggapi tantangan tersebut, tim KKN-PPM UGM Merapah Sambirejo 2026 yang ada di Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah menawarkan solusi melalui pemanfaatan teknologi tepat guna untuk mempermudah pemantauan tumbuh kembang anak. Alat telah diserahkan secara formal kepada Kepala Desa Dawung, Senin (10/8) lalu.
Solusi tersebut hadir dalam wujud “Stadiometer Cerdas Pendeteksi Stunting”. Inovasi ini merupakan alat ukur tinggi badan otomatis yang dikembangkan oleh mahasiswa Elektronika dan Instrumentasi 2023, Julio Pradipa Anandika. Berbeda dari meteran biasa, Julio menyebutkan alat ini memiliki fungsi ganda untuk mengukur tinggi badan balita secara presisi dan otomatis. Selain itu alatnya juga sekaligus mendeteksi status pertumbuhannya ke dalam tiga kategori, yakni normal, stunted (kerdil), dan severely stunted (sangat kerdil).
Secara fisik, Julio menjelaskan alat ini dirakit dari material sederhana seperti pipa paralon dan stiker polos sebagai casing luar. Di bagian dalam, terdapat sensor ultrasonik yang bekerja dengan menembakkan gelombang suara untuk mengukur jarak antara titik atas tiang dengan papan ukur sehingga kemudian tinggi badan dapat diinterpretasikan.
Ia menjelaskan pengaplikasiannya ialah subjek yang diukur hanya perlu melaporkan berdiri di depan tiang dengan posisi kepala menghadap depan. Kemudian, petugas pengukuran akan menekan tombol ‘klik’ yang terhubung pada layar tampilan untuk mengunci angka tinggi badan secara akurat, setelah memasukkan usia (dalam tahun dan bulan) serta jenis kelamin balita. “Hasil ukur lalu akan langsung timbul di layar beserta dengan interpretasinya terkait stunting,” ungkapnya, Kamis (13/8).
Untuk mendukung keberlanjutan pemakaian di Posyandu, tim KKN-PPM UGM lain, Jovita Muliowidjojo, menjelaskan bahwa inovasinya juga melengkapi inovasi ini dengan buku panduan operasional. Selain itu, dilampirkan pula dokumen rekomendasi tindak lanjut bagi anak yang terdeteksi stunting, serta tabel batas ambang tinggi badan berdasarkan jenis kelamin sebagai referensi tambahan bagi kader kesehatan.
Melalui inovasi ini, Jovita menyebutkan harapannya bahwa monitoring antropometri bulanan balita di posyandu dapat berjalan dengan semakin lancar dan praktis. Ia menjelaskan para perangkat desa menyambut inovasi ini dengan sangat antusias karena merasa sangat terbantu dalam efisiensi waktu pengukuran. “Alat ini diharapkan dapat terus disempurnakan dari segi desain dan direplikasi secara massal agar manfaatnya dapat terasa di lebih banyak Posyandu pada berbagai daerah,” sebutnya.
Selain daripada inovasi tersebut, Jovita menjabarkan keterlibatan tim dalam bermasyarakat. Tim KKN-PPM UGM Merapah Sambirejo 2026 berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan kegiatan “Subuh Ceria” di Masjid Garut 2, Desa Dawung, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen, Rabu (26/7). Ia menjelaskan bahwa kegiatan dihadiri oleh ratusan warga yang berasal dari lima kebayanan, yaitu Garut 1, Garut 2, Dawung, Jebugan, dan Daren. Rangkaian acara diawali dengan salat subuh berjamaah dan ceramah keagamaan, kemudian dilanjutkan dengan pembagian paket bahan pangan gratis berbasis voucher kepada para peserta.
Jovita menceritakan antusiasme, semangat, dan keceriaan warga setempat terlihat sepanjang kegiatan sosial keagamaan ini. Bahkan, sebagai bentuk apresiasi atas keterlibatan mahasiswa, panitia lokal turut menyuguhkan konsumsi serta membagikan paket bahan pangan kepada tim mahasiswa KKN. “Tim KKN kami juga membantu dalam pengemasan dan penataan ratusan paket bahan pangan yang berisi sayur-sayuran, telur, tempe, tahu, kerupuk, mie kering, bawang-bawangan, lain-lain,” sebutnya.
Menurutnya, peran aktif mahasiswa dalam kegiatan ini menjadi bentuk sinergi nyata antara pihak akademisi dan masyarakat desa, sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan pangan warga melalui kegiatan berbasis kemasyarakatan. Ke depannya, diharapkan bahwa kegiatan seperti ini dapat terus terlaksana dan menjangkau lebih banyak warga lokal untuk mempererat solidaritas dan kebersamaan, sekaligus memupuk semangat dan kepedulian sosial masyarakat.
Kontributor : Jovita Muliowidjojo/Tim KKN
Penulis : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Tim KKN Merapah Sambirejo
